CHAPTER 21

EFFECT

.

.

.

"Lama tidak bertemu denganmu Yoongi"

Wajah Yoongi mendadak berubah pucat pasi saat mengenali siapa yang barusaja mengetuk pintu, tanpa sadar tangannya sudah mengepal, pertanda amarahnya memuncak saat ini. Kim SeokJin.

"Boleh aku masuk?"

"TIDAK…!"

Dengan tegas perempuan itu menjawab dan mencoba untuk menutup pintu rumahnya, namun tampaknya si tamu menyadarinya dan buru-buru menghalangi.

"Mari bicara, bukankah kita sudah lama tidak bertemu?" SeokJin mencoba membujuk Yoongi agar mau berbicara dengannya untuk kali ini.

"Kurasa aku tidak mengenal anda" jawab Yoongi ketus

"Siapa yang datang eomm- eoh? Nyonya SeokJin?"

Dua perempuan dewasa yang berada di ambang pintu menghentikan pertikaian begitu mendengar sebuah suara dari dalam rumah. Terlihat jelas Taehyung sedang mengamati eomma dan juga Nyonya rumahnya sama-sama terdiam saat ini.

"Kau mengenalnya Tae?"

"Dia ibu Nona Jungkook"

"Jadi boleh aku masuk 'eommanya' Taehyung?

SeokJin tersenyum begitu cantik kepada Yoongi saat menekankan kata eomma, membuat si lawan bicara memalingkan muka kemudian memandang sejenak pada Taehyung yang berada di belakangnya.

.

.

~BLIND~

.

.

"Aku tak menyangka eomma akan kemari. Apa ini perintah appa?"

Jungkook menghembuskan nafas kasar sambil menyandarkan punggung pada sofa saat mengetahui ibunya berkunjung ke rumah Taehyung. Memang untuk alasan apa ibunya sampai mau repot-repot datang ke rumah seorang bodyguard, bahkan paman DongHo yang sudah lama bekerja di rumah saja eommanya tidak tau dimana tempat tinggal lelaki paruh baya itu. Apapun alasannya ini tidak masuk akal dan aneh bagi Jungkook.

"Ayolah Kookie, eomma hanya berkunjung karna mengetahui alamat Taehyung dari Paman Hooseok"

"Terserah eomma saja" Jungkook menyerah.

"Tae, bisa kau beli beberapa camilan ke supermarket? Rasanya tidak sopan apabila tidak menyuguhkan sesuatu pada tamu kita yang datang jauh-jauh kemari"

Yoongi yang baru saja dari dapur menginterupsi pembicaraan di ruang tengah. Sebenarnya apa yang dikatakan Yoongi tidak sepenuhnya bohong, isi kulkas memang sudah habis dan tidak ada yang dapat disajikan pada tamunya. Namun alasan utama Yoongi menyuruh Taehyung membeli camilan adalah karna ia ingin berbicara empat mata dengan SeokJin.

"Ikutlah dengan Taehyung sayang, eomma tau kau ingin jalan-jalan"

Seolah mengerti dengan apa yang difikirkan Yoongi, SeokJin ikut menimpali. Jungkook berseru senang dan Taehyung menerima beberapa lembar uang pemberian ibunya. Jimin yang juga berada diantara mereka pun menatap Yoongi dan mendapat isyarat untuk ikut pergi sementara dari rumah.

"Paman akan antar kalian"

Kini tinggallah Yoongi dan SeokJin di ruang tengah, kedua perempuan itu tak kunjung memulai pembicaraan. Yoongi memilih mengalihkan pandangan ke arah lain asal tidak menatap SeokJin yang ada di depannya. Sungguh setiap menatap perempuan itu, fikirannya langsung teringat pada Kim NamJoon. Yoongi begitu gentar hari ini. Sementara SeokJin, masih dengan santai mengamati setiap gerak gerik Yoongi.

"Sudah lama sekali kita tidak bertemu Min Yoongi-ssi. Sudah delapan belas tahun?"

"Langsung saja ke intinya. Aku tidak ingin berlama-lama"

SeokJin mengerti, masih dengan senyum yang mengembang ia menyodorkan sebuah foto kehadapan Yoongi dan sukses membuat perempuan itu membulatkan mata.

"Bagaimana eonni bisa memiliki ini"

"Aku senang kau masih memanggilku seperti itu"

"Kumohon jelaskan. Tidak taukah eonni setiap aku melihatmu aku selalu teringat dengan suami mu?"

"Maaf. Foto itu… Taehyung tidak sengaja menjatuhkannya. Dia bilang kau ibunya. Sebenarnya aku tidak masalah dengan hal tersebut. Namun yang membuatku terkejut adalah dua orang lain yang ada pada foto itu. Yoongi, aku tidak ingin membuka luka lama. Tapi benarkah Taehyung anakmu?"

"Dia anakku" jawaban Yoongi begitu dingin, dapat SeokJin lihat jika lawan bicaranya berusaha menahan air mata

"Sejak kapan kau menikah? Lalu dimana anak Baekhyun? Seluruh negeri ini tau kau membawa anak dari Kim Baekhyun. Jika memang Taehyung anakmu, seharusnya kau punya dua anak saat ini. Aku yakin kau tidak akan meninggalkan anak Baekhyun, jujurlah padaku Yoongi"

Air mata Yoongi sudah tidak dapat ditahan. Perempuan itu menangis sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. SeokJin yang melihatnya begitu terkejut, tidak menyangka jika reaksi yang diterimanya akan sejauh ini.

"Hei, maafkan aku. Sungguh aku tidak bermaksud-"

"Bisakah eonni berpura-pura saja tidak pernah mengenalku? Aku membesarkan Taehyung selama delapan belas tahun"

"Jadi benar jika Taehyung anak Baekhyun?" SeokJin mencoba dengan lembut berbicara dengan Yoongi

"DIA ANAKKU! TIDAKKAH KAU MENDENGAR ITU? BAEKHYUN MEMBERIKANNYA PADAKU DELAPAN BELAS TAHUN LALU, TIDAKKAH EONNI MENGERTI?"

Melihat Yoongi yang semakin tertekan, SeokJin dengan tulus memeluk perempuan yang jauh lebih muda dari dirinya itu. Dibiarkannya Yoongi menumpahkan seluruh kekesalan yang ada di hatinya. SeokJin tau ini pasti berat untuk Yoongi selama delapan belas tahun ini.

"Apa eonni pernah tau betapa kerasnya aku menghindari keluarga kalian? Tidak. Bahkan sejak kejadian itu aku sungguh tidak ingin melihat kalian lagi"

Tangisan Yoongi mulai mereda dan suaranya begitu serak ketika mengatakan hal tersebut pada SeokJin, berlahan SeokJin melepaskan pelukannya pada Yoongi.

"Kau pasti sangat kesulitan selama ini" jawab SeokJin sekenanya.

"Suara tembakan itu, dan wajah suamimu yang mengejarku selalu menghantui mimpiku selama ini. Bisakah aku berkata jujur jika begitu membenci suami mu?" tatapan Yoongi begitu sendu saat mengatakn hal tersebut.

"Semua ini tidak terjadi begitu saja Yoongi. Cepat atau lambat apa yang kau sembunyikan akan terungkap. Kau fikir hanya sebuah kebetulan Taehyung bekerja di rumahku? Ini semua takdir. Tidakkah kau ingin memperbaiki semuanya? Mengembalikan Taehyung pada posisinya. Kau tidak berniat menyembunyikan ini selamanya bukan? Taehyung harus tau siapa orang tuanya Min"

Sejenak Yoongi termenung mendengar ucapan SeokJin. Apa yang dikatakan wanita itu begitu mencubit hatinya. Benar, cepat atau lambat Taehyung akan tau. Betapa jahatnya dia jika Taehyung sampai tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya.

Dua perempuan itu masih terhanyut dalam fikiran masing-masing tidak ada yang membuka mulut. Yoongi masih setia dengan keterdiamannya, dan SeokJin yang menggenggam erat tangan Yoongi untuk menenangkan perempuan itu. Lamunan keduanya berakhir saat mendengar ponsel SeokJin berdering.

"Dimana kau SeokJin"

Sebuah suara yang familiar terdengar jelas saat SeokJin mengangkat panggilannya. Yoongi menegang, membuat SeokJin menempelkan satu jari telunjuk pada bibirnya untuk memberi instruksi agar perempuan itu tak bersuara.

"Aku mengunjungi temanku"

"Pulang sekarang juga"

Panggilan itu berakhir, membuat Yoongi yang tadinya gugup mulai bernafas lega. Tak lama kemudian SeokJin bangkit dari duduknya dan meraih tasnya yang tergeletak di atas meja.

"Hubungi aku jika kau sudah menemukan jawaban. Aku akan membantu dan kupastikan Taehyung akan aman. Aku permisi"

.

.

~BLIND~

.

.

Sebuah mobil terparkir di rapi di pintu masuk sebuah pemakaman. Suasana siang itu cukup sepi mengingat panas matahari yang sedikit terik, namun angin berhembus sedikit kencang membuat suhu panas sedikit memudar. Kacamata hitam bertengger manis di hidung Hoseok saat laki-laki itu turun dari mobil dan membuka pintu penumpang.

"Turunlah" ucapnya sabar pada seorang pemuda yang masih setia duduk di mobil

"Kenapa paman mengajakku kesini?"

Meski pikirannya dipenuhi tanda tanya JiHoon tetap saja turun dari mobil. Tak lupa dua ikat bunga lyly yang tadi dibeli Hoseok dalam perjalanan ia bawa turun. JiHoon mengikuti arah langkah Hoseok berjalan. Tempat ini sedikit familiar baginya, tapi bukan berarti dia sering datang ke pemakaman. Entah kapan terakhir kali dia berkunjung ke pemakaman karna keluarganya yang tiada hanya neneknya, itupun tidak dikuburkan di pemakaman yang sedang dikunjungi sekarang. Lalu siapa yang ingin dikunjungi Hoseok? Mungkinkah…

"Beri salam pada bibi dan pamanmu"

JiHoon terhenyak dan langkahnya terhenti saat tiba disebuah nisan bertuliskan nama yang begitu ia kenal namun terlarang untuk disebutkan. Baekhyun, Daehyun. Entah alasan apa yang membuat Hoseok justru membawa JiHoon kemari alih-alih menghiburnya setelah pertengkaran besar dengan ayahnya tadi. Namun untuk saat ini dia menuruti segala perkataan Hoseok. Setelah memberi salam diletakkannya bunga yang ia bawa tadi di makan paman dan bibinya itu. Hatinya berkecamuk dan banyak pertanyaan yang ingin sekali ia tanyakan pada Hoseok saat ini.

"Aku tau kau pasti bertanya-tanya JiHoon, kenapa paman membawamu kemari" Hoseok menarik nafas dalam sebelum memulai cerita yang ia yakini pasti akan panjang.

"Apa yang kudengar selama ini benar paman? Bahwa ayah yang membunuh bibi Baekhyun dan suaminya?"

"Tidak sepenuhnya benar JiHoon"

.

.

~BLIND~

.

.

Rumah yang tadinya tampak begitu tenang berlahan mulai timbul keributan semenjak salah satu anggota dari keluarga mereka melakukan hal yang dianggap sangat memalukan bagi pemilik utama rumah itu.

"Aku hamil ayah"

Satu kalimat tersebut mampu meruntuhkan harga diri Tuan Kim yang saat itu tengah menikmati teh hangat di ruang tamu. Cangkir teh yang tadinya terangkat seketika beradu dengan keras menghantam meja. Gadis yang berada di sisi berlawanan dengan Tuan Kim hanya mampu memejamkan mata seakan siap menerima apapun yang akan terjadi.

"Kau bilang apa? Ayolah Baekhyun ayah sedang tidak ingin bercanda"

Baekhyun mendekat ke sisi ayahnya dengan langkah takut. Berlahan Baekhyun mulai menekuk kaki dan berlutut. Dapat Baekhyun lihat dari ekor matanya kini wajah sang ayah sudah merah padam.

"Maaf"

Tuan Kim sudah tidak tau harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan perasaannya. Anak perempuan yang selalu ia banggakan selama ini sekarang datang dan bersimpuh di hadapannya sambil membawa omong kosong di siang bolong.

"Anak sialan"

Tanpa berfikir panjang Tuan Kim melepas gesper sabuk yang mengikat di perutnya dan menariknya begitu saja. Mata sipit Baekhyun membelalak saat mengetahui sabut itu sudah berayun di udara, siap untuk menampar dirinya.

PLAK

Satu ayunan berhasil mengenai tangan kiri Baekhyun, membuat kulit gadis itu terlihat memerah. Sial sekali hari ini dia memakai pakaian tanpa lengan.

"Kumohon maafkan aku ayah"

"Kau sudah membuat ayah malu Baekhyun"

PLAK

"Ampun ayah!" Tak dapat dipungkiri cambukan dari sabuk ayahnya begitu sakit, membuat Baekhyun tak tahan untuk tidak menjerit.

Para pelayan yang tadinya bekerja dengan tenang satu persatu mulai berdatangan dan mengintip dari pintu masuk. Dapat mereka lihat nona muda mereka sekarang sedang menangis histeris memohon ampun pada sang tuan besar. Hati mereka begitu pilu dan tidak sanggup menatap kala cambukan ketiga berhasil mendarat di badan Baekhyun. Hoseok yang kebetulan tidak ke kantor hari itu ikut memejamkan mata melihat apa yang terjadi pada majikannya.

"APA YANG AYAH LAKUKAN PADA BAEKHYUN"

Kerumunan pelayan itu seketika memberi jalan ketika melihat tuan muda mereka, NamJoon, datang dari arah pintu masuk. Dibelakangnya sang istri berjalan mengikuti dengan raut tak kalah khawatir.

PLAK

Cambukan ke-empat, namun kali ini Baekhyun tidak merasakan sakit apapun. Yang ia rasakan hanya seseorang yang merengkuh tubuhnya untuk melindungi Baekhyun dari amukan ayahnya.

"Oppa" Baekhyun menangis semakin kencang kala mengetahui NamJoon saat ini berusaha melindungi dirinya.

"AYAH HENTIKAN"

Peringatan yang berkali kali NamJoon ucapkan seakan tak di dengar oleh Tuan Kim, bahkan lelaki paruh baya itu semakin sering mencambukkan sabuknya kala anak perempuannya dilindungi seperti saat ini. Entah sudah berapa cambukan yang di dapat NamJoon namun lelaki itu masih bersikeras melindungi adiknya, masih berharap sang ayah menghentikan aksi brutalnya.

"Apa kau tau yang diperbuat adikmu ini? Dia hamil NamJoon. Baekhyun sudah mencoreng nama keluarga ini. Mau ditaruh dimana wajah ayah HAH?"

PLAK

"SeokJin mohon ayah, hentikan. NamJoon dan Baekhyun bisa mati jika ayah terus mencambuki mereka"

Dengan segenap tenaga SeokJin berusaha menahan gerakan ayah mertuanya itu agar tidak semakin melukai suamin dan adik iparnya. Namun SeokJin hanyalah wanita, tenaganya tidak sebanding dengan ayah mertuanya meski sudah tua. Tuan Kim tetap saja melanjutkan aksinya. Hingga tanpa sadar Tuan Kim mendorong SeokJin yang berusahan menahannya dengan begitu keras.

DUGH

SeokJin terhempas dan perutnya menghantam ujung meja yang ada di ruang tamu. Pelayan yang tadinya hanya mengintip memekik tatkala melihat kejadian itu. Ditambah SeokJin yang mulai tersadar dari keterkejutannya meringis begitu merasakan sakit luar biasa pada perutnya dan darah segar mulai mengalir di sela kakinya.

"NamJoon, sakiiiit" Suara SeokJin begitu lemah.

NamJoon segera berdiri, melepaskan Baekhyun yang sempat ia rengkuh. Sebelah bahunya menabrak bahu Tuan Kim. NamJoon sempat berhenti sebentar disana.

"Sungguh ayah, aku tidak akan pernah memaafkan ayah jika terjadi sesuatu pada istriku"

Segera saja NamJoon membopong istrinya, Baekhyun yang masih bersimpuh tanpa fikir panjang segera bangkit menyusul kakaknya. Tidak peduli lagi pada ayahnya yang masih diam mematung.

"HOSEOK, SIAPKAN MOBIL! KITA KE RUMAH SAKIT"

.

.

.

Selama di rumah sakit, NamJoon hanya dapat melihat dari celah pintu istrinya yang saat ini sedang ditangani dokter. Hatinya merasa was-was. Sungguh ia tidak tau apa yang menyebabkan istrinya hingga SeokJin mengalami pendarahan. Perempuan itu tidak punya penyakit, atau mungkin SeokJin sedang…

"Ini semua salahku"

Atensi NamJoon berganti pada Baekhyun yang duduk di kursi tunggu. Dilihatnya Hoseok berusaha menenangkan adiknya itu namun Baekhyun tetap saja menangis sejak perjalanan tadi.

"Eonni akan baik-baik saja kan oppa?"

Baekhyun kembali buka suara saat kakaknya berganti duduk di sebelahnya, menggantikan posisi Hoseok yang sebelumnya disana. Kali ini Baekhyun tidak cukup buta untuk melihat NamJoon meringis saat punggungnya menyentuh sandaran kursi. Pasti kakaknya menahan sakit karna cambukan ayahnya tadi. Tapi kali ini Baekhyun lebih khawatir pada kakak iparnya.

"SeokJin akan baik-baik saja. Dia perempuan kuat Baek"

"Maafkan aku"

Sebisa mungkin NamJoon menenangkan adiknya yang kembali menangis. Fikirannya sungguh kacau saat ini. Dua perempuan yang begitu ia sayangi terluka di saat yang bersamaan.

"Katakan. Siapa ayahnya?" Tangis Baekhyun berhenti, dapat NamJoon rasakan tubuh adiknya menegang.

"Apa oppa akan marah seperti ayah jika kukatakan yang sebenarnya?"

"Aku tidak janji"

"Daehyun"

Suara Baekhyun begitu lirih namun NamJoon masih dapat mendengarnya. Ya, sekali lagi NamJoon hanya dapat menghela nafas dalam. Saat ini dia harus bersabar dahulu. Jika keadaan sudah membaik NamJoon pastikan ia akan membuat perhitungan dengan lelaki yang berani merusak adiknya.

CEKLEK

Pintu ruangan terbuka, seorang dokter diikuti beberapa perawat keluar dari ruangan SeokJin dengan ekspresi yang tidak bisa dikatakan baik.

"Keluarga nona Kim SeokJin?"

"Saya suaminya dok" NamJoon berdiri dan menghampiri dokter itu

"Nona SeokJin sedang dalam masa pemulihan. Tapi maaf kami tidak dapat menyelamatkan kandungannya tuan"

"K-kandungan?" Apa NamJoon tidak salah dengar? Dokter bilang SeokJin tengah hamil?

"Iya tuan. Nona SeokJin tengah dalam kondisi mengandung. Benturan yang terjadi menyebabkan kandungannya tidak bisa diselamatkan"

Dokter itu berlalu. Baekhyun yang mendengar semuanya hanya dapat menutup mulutnya akan rasa keterkejutannya. Sementara NamJoon tidak bereaksi sedikitput. Siapapun dapat melihat dengan jelas gurat kemarahan di wajah lelaki itu. Tangannya berlahan mengepal seakan menahan untuk tidak melampiaskan kemarahannya.

'Aku tidak akan pernah memaafkanmu aya'

.

.

~BLIND~

.

.

"Aku bahkan baru mengetahui eomma pernah keguguran" JiHoon tersenyum kecut. Ternyata tidak hanya ayahnya yang menyembunyikan banyak rahasia, ibunya juga.

"Itu pasti menjadi luka lama untuk eomma mu. Kakekmu begitu mendesak seorang cucu pada noona SeokJin saat itu, tapi siapa sangka kakekmu juga yang membuatnya kehilangan sesuatu yang ia tunggu tanpa sempat mengetahuinya. Terlebih noona juga mengetahui jika kakekmu berniat menyingkirkan ayahmu dikemudian hari. Setidaknya, noona ingin memberikan sesuatu yang dapat menguatkan posisi ayahmu di keluarga itu"

"Lalu siapa yang harus ku salahkan saat ini paman? Apa aku harus memaafkan perbuatan ayah yang telah menyingkirkan paman Daehyun?"

Hoseok menggeleng. Bagaimanapun juga apa yang dulu NamJoon lakukan memang tidak dapat dipungkiri salah. Tapi sebagai orang yang mengenal NamJoon begitu lama Hoseok tau betul jika orang yang ia layani tidak akan berbuat nekad tanpa ada pemicu.

"Jika Tuan NamJoon tidak menyingkirkannya sekalipun, aku rasa kakekmu yang akan menyingkirkannya. Semua akan tetap sama, tapi mungkin saja nona muda masih hidup"

"Jangan terlalu marah pada Tuan NamJoon, dia sangat menyayangimu. Dia tidak seburuk yang kau kira"

"Rasanya aku ingin menyayangi paman saja"

Tangan lelaki yang lebih tua itu terulur untuk mengusak rambut JiHoon dengan gemas. Bagaimanapun juga JiHoon sudah seperti keponakannya sendiri. Ia tidak ingin salah paham mendera hati anak yang baru saja bertambah dewasa itu.

.

.

~BLIND~

Baru saja SeokJin menginjakkan kaki di ruang tamu, tangannya sudah ditarik secepat kilat. Perempuan itu hampir saja berteriak namun ditahan saat mengetahui yang menyeretnya adalah NamJoon.

"Ada apa?"

Suaminya seakan tuli ditanya baik-baik. SeokJin mulai kesal dan berusaha melepaskan cengkramannya. Tapi nihil, suaminya begitu kuat. Sekarang mereka sudah tiba di kamar dan dengan sigap NamJoon menutup pintu kamar dengan sedikit tidak pelan.

BLAM

Begitu pintu tertutup tubuh SeokJin dibalik dengan tergesa, membuat punggungnya saat ini menempel pada daun pintu yang barusaja di tutup. Belum sempat membuka suara bibir SeokJin sudah dibungkam oleh NamJoon. Lelali itu menciumnya dengan sedikit tidak sabaran, membuat dia kewalahan mengimbangi ciuman suaminya.

"Kenapa tiba-tiba?" Saat dirasa NamJoon melepaskan ciumannya, SeokJin segera buka suara.

Tetap tidak ada jawaban dari sang suami, alis SeokJin semakin berkerut saat tubuhnya direngkuh dengan rapat bersama tubuh NamJoon. Kepala lelaki itu bersandar di pundak SeokJin, seolah mengadu hal yang berat. Sadar dengan situasi, satu tangan SeokJin yang bebas membalas pelukan NamJoon.

"Biarkan seperti ini" suara NamJoon begitu parau

"Biar kutebak. Terjadi sesuatu di kantor? Dengan siapa kali ini kau mendapat masalah?"

"JiHoon?"

"Huh? Tapi kenapa…"

"Dia tau segalanya Jin" SeokJin masih tidak mengerti arah pembicaraan NamJoon

"Tentang apa?"

Berlahan SeokJin melepaskan pelukan NamJoon, menuntun lelaki itu untuk duduk di sofa yang ada pada sebrang tempat tidur.

"Kematian Baekhyun. Dia mengetahuinya saat kita berbincang di meja makan"

Jujur saja SeokJin sudah tidak dapat berfikir saat kalimat itu meluncur. Jika JiHoon mengetahuinya, lalu apa yang akan difikirkan anak itu? Bagaimana dia akan menghadapi hari-hari JiHoon kedepannya.

"Dia mengecapku sebagai pembunuh. Begitupun dengan dia, anak pembunuh katanya?" Cukup. SeokJin tidak ingin dengar lebih banyak

"Sssttt… Jangan katakana itu. Kita jelaskan baik-baik kepada JiHoon.

Kali ini SeokJin memulai lebih dulu untuk mencium NamJoon, berusaha memberikan rasa tenang pada lelaki itu. Keduanya saling berbagi ciuman tanpa ada salah satu yang menuntut, hanya menyalurkan perasaan masing-masing. Tidak ada yang lebih mengerti NamJoon selain SeokJin, begitupun sebaliknya.

.

.

.

TBC

A/N

Hai readers, semoga sehat selalu ya… Gak kerasa udah satu tahunan gak update cerita ini, Terakhir update waktu kerja praktek tahun lalu kayaknya. Daaaan sekarang alhmadulillah aku udah selesai siding skripsi. Ya semoga revisi lancar ya, doain.

Maka dari itu mungkin aku bakal sering update untuk segera menuntaskan cerita ini xixixi

Gak terasa loh book ini dulu aku kerjain pas akhir SMK dan sekarang udah akhir kuliah. 4 tahun gak kelar T_T

Akupun ngerasa gaya penulisan aku udah beda banget sama dulu… kayak apa ya, merasa kaku (?)

Tapi semoga readers sekalian tetep menikmati ceritanya ya.

Jangan lupa vote dan comment biar aku bisa memperbaiki tulisan aku kedepannya.

Happy reading ^_^