CHAPTER 23
WHISPER
.
.
.
Mobil audi hitam milik NamJoon memasuki pekarangan mansion keluarga Kim saat jam dinding baru menunjukkan pukul sebelas siang. Awalnya JiHoon kira itu hanya sekretaris ayahnya yang pulang lebih awal untuk mengambil berkas tertinggal, remaja itu sedikit terkejut kala melihat siluet ayahnya memasuki ruang tamu melewati dirinya yang sedang bersantai mengerjakan tugas.
"Tumben sekali sudah di rumah"
Monolog JiHoon rupanya didengar oleh NamJoon saat hendak menaiki tangga. Ayah dua anak itu berbalik dan menghampiri putranya yang masih asyik merebahkan diri bersama buku-bukunya.
"Dimana ibumu?"
JiHoon terlonjak dari acara mengerjakan tugas dan buru-buru menegakkkan diri kala ditanya oleh sang ayah.
"Eomma? Pergi ke rumah teman"
"Teman?" Satu alis NamJoon terangkat. Ini bukan pertama kalinya SeokJin menemui teman, yang jadi pertanyaan adalah siapa teman yang rutin ditemui akhir-akhir ini
"Kukira ayah tau semua teman-teman eomma"
Persetan. JiHoon tidak mau tau dan malas ikut campur dengan urusan orang tuanya. Direbahkan kembali dirinya pada karpet yang ia gelar dan kini JiHoon memilih memasang earphone pada telinganya.
Tak lama berselang Hoseok memasuki rumah. Sekilas laki-laki itu menyapa tuannya dan hendak berlalu menuju dapur sebelum akhirnya dihentikan oleh pertanyaan dari NamJoon.
"Hoseok-ah, kau tau tentang teman yang ditemui SeokJin akhir-akhir ini?"
Sejenak sekretaris itu berfikir, seingatnya istri majikannya itu tidak memiliki teman dekat. Bahkan SeokJin type orang yang malas mengunjungi teman-temannya dan hanya berkumpul ketika ada arisan. Semua teman SeokJin, Hoseok mengenalnya karna mereka satu sekolah. Namun memang aneh akhir-akhir ini ia sering melihat SeokJin pergi seorang diri padahal biasanya akan meminta dirinya untuk mengantar walaupun sedang sibuk.
"Maaf tuan, aku kurang tau. Nyonya SeokJin tidak bercerita apapun kepadaku"
NamJoon mengibaskan tangannya, memberi tanda bahwa Hoseok boleh pergi. Setelahnya laki-laki itu berinisiatif menghubungi sang istri, namun lima kali panggilan tak satupun yang dijawab oleh SeokJin. Suasana hati NamJoon menjadi sedikit buruk. Bagaimana jika terjadi sesuatu jika wanita itu pergi seorang diri? JiHoon hanya melirik sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan ayahnya yang begitu posesif pada sang ibu.
"Kim JiHoon hari ini kau ada makan malam bersama putri Tuan Ahn, jadi datanglah dan jangan buat ayah kecewa"
Bukannya menjawab JiHoon justru bergeming di tempat, menggerakkan dirinya mengikuti musik dan berpura-pura tidak mendengar.
"Cobalah temui dia. Kau boleh putuskan apakah akan menerimanya setelah bertemu putri Tuan Ahn" NamJoon masih mencoba sabar menghadapi JiHoon. Sungguh kesabarannya mulai tipis padahal hari masih beranjak siang.
"Bagaimana kalau kukenalkan putri Tuan Ahn pada WooJin? Keluarganya juga kaya raya, kurasa Tuan Ahn akan setuju"
Satu tarikan nafas dalam berhasil NamJoon ambil. Dengan langkah kaki pelan laki-laki itu mendekati putranya dan menatap tajam. JiHoon melirik sekilas.
"Baiklah, aku akan menemuinya" pasrah JiHoon
"Kurasa walaupun aku menolak ayah akan menyuruh paman Hoseok untuk menyeretku ke tempat makan malam" lanjutnya
"Bagus jika kau tau. Jaga batasanmu!"
Setelahnya NamJoon berlalu begitu saja menuju kamar, meninggalkan JiHoon yang suasana hatinya menjadi buruk. Laki-laki itupun merapikan bukunya lantas menyambar kunci motor. Dengan pakaian seadanya, alias kaos dilapisi kemeja kota-kotak dipadu ripped jeans JiHoon mengendarai motornya. DongHo si security yang menikamti es jeruk di tengah terik matahari bergegas menuju gerbang untuk membukakan pintu.
"Tuan muda mau kemana?" tanyanya basa-basi
"Menjemput Jungkook" Dari cara JiHoon bicara DongHo sudah tau jika tuan mudanya ini tengah dalam suasana hati yang suram.
"Tapi bukankah nona muda diantar Taehyung hari ini" satpam itu masih berusaha mencegah kepergian JiHoon
"Persetan"
.
.
~BLIND~
.
.
Tepat pukul empat sore Jungkook keluar dari tempat latihan piano. Taehyung yang sudah terkantuk dan menunggu di seberang jalan sedari siang mendadak segar melihat wajah nona mudanya yang ceria. Dapat Taehyung lihat dari kejauhan gadis itu membungkuk sekilas pada pelatih yang mengantarnya keluar dari gedung. Tak ingin menunggu lama, segera saja pemuda itu keluar dari mobil, menoleh kanan kiri guna memastikan bahwa jalanan sedang aman untuk disebrangi.
Baru setengah jalan Taehyung menyebrang, tak sengaja matanya menangkap sebuah motor sport yang begitu familiar dikendarai dengan begitu kencang. Jantungnya hampir saja copot tatkala motor itu semakin merapat ke pinggir jalan, tepat ke arah Jungkook berdiri.
"NONA KOOKIE AWAAAAS…!"
CKIIITTT
"ASTAGANAGA!"
Taehyung sudah tidak peduli dimaki pengguna jalan saat dirinya nekad berlari tanpa memperhatikan keselamatan lagi. Yang ada difikirannya saat ini adalah wajah Jungkook yang terkejut di ujung sana bersama motor hitam yang tadi mengebut dan mendadak berhenti tepat di depan Jungkook.
"APA KAU SUDAH GILA"
BUGH
Strike. Sebuah pukulan reflek Taehyung layangkan kepada pengemudi motor tidak tau diri itu. Jika saja pengemudi itu tidak dapat mengerem kendaraan tepat waktu bagaimana nasib nona mudanya? Bisa-bisa ia sudah dipecat Tuan NamJoon gara-gara tidak becus menjaga anak gadisnya.
"YASH!"
Tampaknya pengemudi motor itu tidak terima. Dengan kesal, dilepaskannya helm fullface yang ia kenakan dan menatap nyalang pada si pemukul. Alangkah terkejutnya Taehyung saat mengetahui siapa pengemudi ugal-ugalan yang baru saja ia pukul.
"T-Tuan JiHoon?" Tampaknya jantung Taehyung benar-benar melorot sampai kaki sekarang ini
"Kau mau kupotong gaji hah?" Tanya JiHoon sengit
"JiHoon? Kenapa kau disini?" kali ini Jungkook yang menyahut
"Tentu saja menjemputmu"
JiHoon masih tau aturan lalu lintas. Pemuda itu memarkirkan motornya sejenak sebelum akhirnya kembali ke tempat Jungkook dan Taehyung berada. Mata laki-laki itu menatap sinis ke arah Taehyung. Membuat yang ditatap membuang muka berusaha menghindar, dan diam tentunya.
"Tapi Taehyung sudah menjemputku" disini Jungkook masih merasa bingung, tidak biasa kembarannya itu mau repot-repot menjemput.
"Ayo makan"
"Kau kerasukan hah?"
PLAK
Tangan Jungkook sungguh ajaib. Tampaknya saja berayun sembarang arah di udara, namun siapa sangka refleknya itu selalu kena sasaran.
"Yash, kenapa kau dan pengawalmu ini senang sekali main tangan" Tuhan, tolong beri kesabaran pada JiHoon
"Ayo makan"
Jungkook meraba raba sekitar, bermaksud mencari posisi Taehyung. Peka dengan apa yang dilakukan oleh nona mudanya, segera saja laki-laki itu meraih tangan Jungkook.
"Mari nona Kookie"
"Tuan JiHoon. Permisi" lanjut Taehyung membungkuk canggung
Ingatkan lagi pada JiHoon untuk bersabar lebih hari ini. Dua orang ini… memangnya mereka tau kemana JiHoon akan mengajak makan? Kenapa pergi begitu saja?
"Kalian tau aku ingin makan dimana?"
Kedua anak manusia yang melangkah beberapa meter itu berbalik, mengangkat sebelah alis dengan ekspresi yang sama persis.
"Ayah memintaku untuk menemui putri Tuan Ahn. Ayo makan bersama"
Kata-kata JiHoon terdengar putus asa. Sebagai kembaran tentu Jungkook dapat merasakan betul betapa jengkelnya laki-laki itu dipaksa bertemu dengan orang yang bahkan belum dikenal. Jungkook terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian sebuah ide terlintas di benaknya. Gadis itu menarik lengang baju Taehyung. Aaah kebetulan sekali laki-laki itu berpakaian santai hari ini, hanya dengan sebuah kemeja. Tampaknya Jungkook ingin membisikkan sesuatu. Dengan gerakan santai Taehyung memberikan telinganya dan mendengarkan setiap instruksi yang diberikan.
Dari kejauhan JiHoon memicing tajam. Apa yang direncanakan kembarannya sampai berbisik-bisik seperti itu. Tak lama kemudian Taehyung berjalan kembali ke arahnya berdiri. Menyodorkan sebuah kunci yang JiHoon tau itu kunci mobil yang saat ini dibawa Taehyung.
"Mari bertukar JiHoon-ah"
"Apa?"Kedua saudara itu saling berteriak karna jarak yang lumayan jauh.
"Tidak keren jika seorang pria berkencan dengan motor. Itu panas. Jadi berikan kunci motormu pada Taehyung!"
JiHoon berfikir sejenak. Sebenarnya tidak masalah kencan mengendarai motor, itu romantis menurut JiHoon. Toh keluarganya kaya raya siapa yang akan bergosip jika dia melarat dan hanya mampu berkencan dengan motor. Tapi ide Jungkook tidak buruk juga.
"Bawa motorku dengan benar. Aku sungguh akan meminta ayah memotong gajimu jika sampai ada yang lecet pada motorku"
"Baik"
Dua lelaki itu akhirnya bertukar kunci. Sejujurnya Taehyung tidak percaya diri mengendarai motor sport milik majikannya. Motor JiHoon itu mewah, hanya sekali lihat saja ia tahu mungkin gajinya setahun tidak akan mampu membeli motor seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, nona mudanya sedang kambuh meminta hal aneh aneh.
Taehyung menstarter motor berwarna hitam itu, helm fullface pun sudah terpasang rapi. 'Tidak buruk' batinnya. Berlahan laki-laki itu mengendarai motornya, berputar arah dan mendekat ke arah Jungkook menunggu di kejauhan.
"Ayo nona"
Jungkook sempat tertawa riang mendengar deru motor kembarannya itu. Membayangkan Taehyung yang mengendarai motor besar itu pasti lebih keren ketimbang JiHoon yang notabennya banten, itu menurut Jungkook.
"Kajja"
HAP
Bokong gadis itu mendarat sempurna di jok belakang. Tak lupa ia menerima uluran helm dari Taehyung. Ah, Jungkook benar-benar berterimakasih pada Woojin si teman setia JiHoon itu. Gara-gara dia, JiHoon selalu membawa helm cadangan, takut-takut Woojin minta tebengan.
"YAAAK KIM JUNGKOOK KAU SUDAH GILA HAH?"
Orang-orang yang berlalu lalang memandang kaget saat JiHoon berteriak kencang. Ini diluar dugaan JiHoon. Ia kira adiknya itu hanya akan meminta bertukar kunci, Taehyung yang membawa motor dan gadis itu menumpangi mobil bersamanya. Tapi justru JiHoon yang dikadali disini. Bagaimana ia lupa jika kembarannya itu kadang mempunyai fikiran tengik untuk mendapat keinginannya.
"KIRIM ALAMATNYA PADA TAEHYUNG YA JIHOON !"
Ugh, rasanya JiHoon benar-benar ingin menabok bokong Jungkook setibanya di rumah nanti. Lihat saja, gadis itu melambai ke arahnya sambil menjulurkan lidah. Yaah, tapi mau bagaimana lagi. Nasi sudah terlanjur dimasak menjadi bubur. Mau tak mau JiHoon berjalan ke tempat Taehyung memarkir mobil dan mengendarainya seorang diri.
.
.
~BLIND~
.
.
Jungkook tidak menyangka Taehyung itu type orang yang suka ngebut saat mengendarai motor, tidak berbeda jauh style-nya dengan JiHoon. Saat ini mata gadis itu terpejam karna hembusan angin kencang yang menerpa wajahnya. Ingin rasanya berpegangan pada Taehyung, tapi ia sedikit ragu, dan gengsi tentunya.
"Nona Kookie pegangan"
"Hah? Aku tidak bisa dengar dengan jelas" rupanya hembusan angin dan peredam pada helm membuat suara Taehyung mauapun Jungkook tidak begitu jelas.
"Aku bilang pegangan nonaaa" Taehyung mengulangi lagi perkataannya dengan intonasi yang lebih tinggi
"Tidak jelas Tae!"
" .an!"
"Persimpangan? Mana aku tau!"
"Terserah nona saja"
Percuma juga Taehyung mengulangi, sepertinya Jungkook tetap tidak akan mendengar dengan jelas. Daripada membuang tenaga laki-laki itu memilih mempercepat laju motor. Beruntung jalanan sedikit sepi sehingga Taehyung sedikit leluasa untuk memacu kendaraan hitam itu.
Beberapa saat lalu JiHoon sudah mengirimkan alamat tempat mereka akan mengisi perut. Dari tempatnya saat ini lokasi restoran itu mungkin hanya berjarak lima menit. Ketika Taehyung berbelok pada persimpangan tanpa mengurangi kecepatan, mendadak perut laki-laki itu serasa ditarik kencang. Rupanya Jungkook sedikit terkejut sehingga refleks memeluk Taehyung untuk berpegangan. Taehyung hanya melirik sekilas. Jangan tanya bagaimana raut wajahnya dibalik helm fullface milik tuan mudanya. Tentu saja laki-laki itu tersenyum.
"Sudah sampai nona"
Gadis dalam boncengan Taehyung itu buru-buru melepas pelukannya dan turun dari motor. Tak lupa ia lepas helm milik JiHoon dan menyerahkannya pada sang bodyguard.
"Kau... benar-benar ingin menyerahkan nyawa ya Tae? Cara berkendaramu itu…"
Jungkook sibuk membenarkan anak rambut yang menghalangi wajahnya akibat tertiup angin selama berkendara. Sementara Taehyung hanya tertawa pelan menanggapi cibirannya barusan.
"Cepat juga kalian sampai? Ayo masuk!"
Entah darimana datangnya JiHoon muncul diantara mereka berdua. Ketiga orang yang beranjak dewasa itu berjalan beriringan memasuki restoran. Bagi JiHoon dan Jungkook datang ke tempat makan mewah seperti ini sudah sangat biasa, namun bagi Taehyung ini pengalaman pertama. Nuansanya memang retro, tapi banyaknya meja yang tersedia serta cara makan tamu yang begitu elegan membuat Taehyung menyimpulkan jika restoran ini adalah langganan kalangan jetset seperti tuan NamJoon.
JiHoon, sebagai orang yang mengajak dua manusia lainnya kini berhenti sejenak. Dia belum pernah bertemu dengan putri Tuan Ahn, mungkin beberapa kali melihatnya di TV. Itu sebabnya ia ragu dengan wajah wanita itu. Ingatannya sungguh buruk.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" seorang pelayan menghampiri mereka bertiga
"Reservasi atas nama Kim JiHoon"
"Mari ikut saya"
Pelayan itu memandu jalan dengan ramah. Rupanya ayah JiHoon memilih tempat yang sedikit privat pada laintai dua. Jarak meja disini lebih renggang dibanding lantai satu yang cocok untuk tempat bersantai.
"Silakan"
Saat tiba di meja reservasi, seorang wanita anggun sudah duduk sambil menyeduh segelas teh dengan anggun. Wanita itu buru-buru berdiri saat menyadari ada orang lain yang datang.
"Ahn Hyeongseob-ssi?" tanya JiHoon memastikan
"Ya. Senang bertemu denganmu JiHoon-ssi"
Meski JiHoon sangat bersikeras dengan perjodohan konyol ini, tapi ia tidak melupakan sopan satun. Dua manusia beda gender itu saling berjabat tangan sebagai tanda perkenalan. Lagipula dari pengamatan JiHoon putri Tuan Ahn ini gadis yang baik dan lemah lembut. Terlihat sekali dari cara berpakaiannya.
"Maaf, mereka berdua siapa?" wanita yang dipanggil Hyeongseob itu mencuri pandang pada dua manusia lain yang berada dibalik punggung JiHoon
"Aaah... aku akan jelaskan. Bisakah kita duduk dulu?"
"Tidak masalah"
Karena jumlah orang yang datang lebih dari yang direservasikan maka JiHoon meminta tambahan meja dan kursi. Hyeongseob pun sepakat dengan ide JiHoon dengan tagihan yang dibebankan kepada laki-laki itu.
"Kebetulan adikku pulang dari tempat ia belajar piano, jadi aku terfikir untuk mengajaknya makan sekalian bersama kita"
'Kita'? Hyeongseob tersenyum manis sambil melihat-lihat menu. Mungkin JiHoon tidak sepenuhnya bohong, tapi wanita itu tau sepertinya lelaki yang akan dijodohkan dengan dirinya ini tidak nyaman jika harus bertemu berdua saja. Tidak masalah, Hyeonseob bisa memaklumi itu.
"Namamu siapa? Aku Ahn Hyeongseob"
Hyeongseob berinisiatif memulai perkenalan terlebih dahulu karna dua orang yang diajak JiHoon ini terlihat diam saja sedari tadi. Tangan wanita itupun terulur bermaksud ingin mengajak jabat tangan.
"Aku Kim Jungkook, senang bertemu dengan eonni"
Alis Hyeongseob sedikit terangkat tatkala tangannya tak kunjung disambut. Menyadari hal tersebut Taehyung yang kebetulan duduk di sebelah Jungkook meraih tangan gadis itu dan menyerahkannya untuk bertaut dengan tangan Hyeongseob.
"M-maaf. Aku tidak bisa melihat"
Jungkook memang tersenyum, tapi siapapun dapat mengetahui jika itu hanyalah senyum hambar. 'Ah, jadi ini putri yang selalu disembunyikan Tuan Kim dari media'. Hyeongseob hanya dapat membatin dalam hati.
"Kudengar kalian kembar, pantas kau sangat mirip dengan JiHoon-ssi. Kau cantik" sungguh ini pujian tulus dari Hyeongseob
"Tidak perlu berlebihan eonni"
"Lalu kau?"
Kini atensi wanita itu beralih pada laki-laki yang duduk di sebelah Jungkook. Seingatnya adik JiHoon hanya satu. Jadi siapakah laki-laki ini? JiHoon hanya melirik sekilas dengan sifat ingin tau wanita muda itu. Masa bodoh, ia hanya ingin acara makan ini segera berakhir.
"Aku Taehyung, orang yang ditugaskan menjaga nona muda Jungkook"
"Aaa seperti itu"
Tepat setelah mereka saling memperkenalkan diri, seorang pelayan datang. Dengan telaten pelayan itu mencatat setiap pesanan yang disebutkan. Moment lucunya adalah saat Taehyung ingin memesan sebuah roti namun namanya begitu sulit.
"A-aku pesan Croissant"
Sejenak pelayan itu tampak berfikir. Sementara tiga manusia lain yang ada di dekat Taehyung terlihat berusaha menahan tawa.
"Maksud tuan kwah-song?" tanya pelayan berusaha memastikan
"Bukan. Bukan kwah apa? Kwah song? Aku tidak pesan makanan berkuah. Tapi Croissant, ini tertulis sebagai roti"
Habislah harga diri JiHoon saat ini, ingin sekali rasanya laki-laki itu menyeret pergi dan menenggelamkan Taehyung ke kolam ikan depan rumah. Sementara Jungkook yang berada disamping laki-laki itu berusaha memberi sinyal untuk berhenti berdebat. Lengan baju Taehyung ditarik sedikit kasar.
"Hentikan…" Dengar? Jungkook sudah mendesis memberi peringatan tapi Taehyung tampak tidak peka.
"Nona tapi aku pesan-"
"Tuan ini bermaksud memesan roti khas Prancis. Tolong dicatat"
Semua bernafas lega saat Hyeongseob berhasil menengahi masalah dengan bijak. Pelayan itupun pergi setelah memberi instruksi untuk menunggu beberapa saat.
"Jika kau tidak tau cara membacanya kau bisa bertanya dulu Tae" kali ini Jungkook yang membuka pembicaraan dengan perdebatan.
"Bukankah itu memang dibaca apa adanya?" dasarnya Taehyung memang polos. Bahkan Hyeongseob yang menyaksikan perdebatan itu sudah tertawa lepas.
"Itu adalah bahasa Prancis Taehyung-ssi, jadi… ya dibaca sedikit berbeda"
Taehyung jadi malu mendengar penuturan yang sangat berkelas dari calon tunangan tuan mudanya. Ternyata masih banyak hal yang belum dia ketahui selama ini. Pantas Tuan Namjoon ngotot menjodohkan JiHoon dengan wanita bermarga Ahn tersebut.
"Kalau boleh tau kesibukanmu saat ini apa JiHoon-sii?"
Hyeongseob tau pasti Taehyung akan malu jika membahas insiden salah sebut ini secara terus menerus. Maka dari itu si wanita Ahn berusaha mengalihkan topik.
"Aku hanya menyelesaikan studiku, membantu ayah diwaktu tertentu, dan bermain bersama band ku" JiHoon sedikit tertarik menceritakan tentang dirinya
"Tapi ayah kami tidak suka jika JiHoon bermain, jadi jangan katakana pada siapapun jika laki laki bantet ini masih sering main band. Ini rahasia" Ucapan Jungkook disetujui penuh oleh anggukan dari Taehyung.
"Lalu eonni apakah juga masih kuliah atau bekerja?"
"Aku masuk sekolah designer atas permintaan ayahku. Padahal ayah tau aku sangat suka memasak"
"Ironi sekali"
Entah kenapa atmosfir diantara mereka berempat menjadi suram. Taehyung paling dapat merasakan atmosfir itu. Lama mengamati, sepertinya Taehyung sadar jika pada dasarnya tiga orang disekitarnya ini adalah anak-anak yang dipaksa mengikuti keinginan orang tua. JiHoon yang menyukai musik, Jungkook yang suka bernyanyi, dan nona Hyeongseob yang suka memasak. Namun tidak ada satupun dari kesukaan mereka yang dapat dijalani dengan bebas. Kadang Taehyung menjadi bersyukur jika eomma-nya selama ini mendukung penuh keinginannya, kecuali menyanyi di pinggir jalan.
"Kau tau JiHoon-ssi, aku pernah berfikir menyetujui pernikahan ini agar aku dapat kabur bersamamu ke Prancis"
UHUK
Minuman mereka baru saja datang dan JiHoon masih dalam tahap mencicipi tapi perkataan Hyeongseob sukses membuka katub tenggorokan JiHoon terbuka dan membuatnya tersedak.
'Wanita ini tampaknya sudah gila'
.
.
~BLIND~
.
.
Seperti biasa saat tidak ada anak-anak di rumah maka NamJoon dan SeokJin akan menghabiskan waktu berdua di depan ruang keluarga, sekedar menonton TV atau menceritakan keseharian mereka. Jangan salah paham, meski kadang hubungan mereka panas tapi keduanya terlanjur dalam mencintai sehingga masalah apapun akan terlupakan setelah malam menghilang.
Tatapan NamJoon lurus ke depan memperhatikan drama picisan yang sering SeokJin ceritakan kisahnya minggu lalu. Sebenarnya ingin sekali NamJoon bertanya mengenai kemana perginya SeokJin akhir-akhri ini. Namun ia takut jika bertanya mendadak akan menimbulkan kecurigaan.
"Jin-ie boleh kupinjam handphone mu sebentar? Handphone ku lowbat. Aku harus memeriksa sesuatu"
Wanita itu tampak menggumam sejenak menanggapi permintaan suaminya. Tanpa fikir panjang diberikannya handphone dengan casing ungu itu pada NamJoon.
"Oh ya, buatkan aku teh jahe. Kurasa tenggorokanku kering"
"Benarkan? Tunggu sebentar"
SeokJin bergegas menuju dapur. Dapat NamJoon dengar suara cangkir yang beradu dengan sendok. Laki-laki itu memainkan handphone sang istri dengan santai. Password SeokJin? Tentu saja lelaki itu tau. Mereka berdua bahkan saling bertukar password sosial media. Alasannya sederhana. Kenapa harus takut jika memang tidak ada rahasia?
Tangan NamJoon bergerak lincah menelusuri isi handphone SeokJin. Ada sesuatu yang harus ia pastikan. Pertama ia memeriksa daftar kontak SeokJin namun tidak ada satupun yang mencurigakan. Saat mendengar suara langkah kaki mendekat, buru-buru NamJoon menggeser slide bar pada salah satu menu disana.
"Ini teh mu"
Lelaki itu menerima minuman buatan SeokJin dengan seulas senyum. Pada waktu bersamaan diserahkannya juga handphone yang tadi ia pinjam.
"Kudengar kau ke rumah teman hari ini? Siapa?"
Wanita yang tadinya fokus melihat drama itu mendadak seperti ditodong pisau saat sang suami bertanya.
"K-kurasa kau tidak mengenalnya Joon" jelas sekali suara SeokJin sedikit bergetar
"Benarkah?" Kali ini NamJoon akan berusaha untuk memancing pembicaran
"Ya" Tapi sepertinya SeokJin tak kalah lihai dari dirinya
"Lain kali jika ingin pergi sendiri beritau aku atau Hoseok. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu" putus NamJoon dengan nada yang bersahabat
CUP
"Aku janji"
Kalimat SeokJin menjadi penutup dari pembicaraan sepasang suami istri itu. Bagaimana tidak, kini tengkuk SeokJin sudah ditahan oleh lengan kokoh NamJoon. Bibir keduanya bahkan sudah saling memagut untuk menyalurkan perasaan masing-masing.
"Berapa kali kubilang, jika ingin bermesraan carilah tempat yang setidaknya tidak dilihat orang banyak"
NamJoon menggeram tatkala aktivitasnya lagi-lagi dikacaukan oleh anak lelakiny. Ini bukan yang pertama, tapi sudah entah keberapa. Saat mendapat tatapan maut dari NamJoon, JiHoon melengos begitu saja sambil menggandeng, atau lebih tepatnya menyeret tangan JiHoon untuk pergi ke kamar mereka.
"JiHoon-ah, apa yang dilakukan eomma dan appa?"
"Berciuman"
.
.
.
TBC
A/N
Annyeong… hehe aku balik bawa chapter baru
Bentar, masih pemanasan ya buat konfliknya. Satu persatu bakal kebongkar kok identitasnya.
Hope you like readersdeul.. Jangan lupa vote dan comment-nya ya ^_^
