CHAPTER 24

THE DAY HAS COME

.

.

.

Setiap hari rasanya bagai sebuah kedipan kemarin rasanya merenggangkan punggung untuk menikmati libur akhir pekan, namun tanpa dirasa matahari sudah menyingsing beberapa kali sehingga berjumpa dengan Senin kembali. Hiruk pikuk di awal minggu sudah menjadi santapan rutin bagi urusan seperti rapat di awal minggu dapat laki-laki itu lakukan dengan mata tertutup. Seperti saat ini, dirinya sudah duduk di ujung meja memimpin rapat guna membahas rencana pemasaran produk seminggu ke depan. Salah seorang pegawai dengan semangat menjabarkan segala ide yang telah disusun dalam sebuah slide presentasi, namun tampaknya apa yang dijabarkan pegawai tersebut tidak cukup mencuri atensi sang pimpinan selama rapat. Lihat laki-laki beranak dua itu justru termenung menatap layar ponsel dengan sesekali mengerutkan dahi.

"Tuan Namjoon?"

"Hmmm" tampaknya pimpinan itu belum menyadari akan situasi hening yang terjadi

"Presentasi dari Nona Cho sudah selesai"

Linglung. Begitulah gambaran Namjoon saat ini. Begitu atensinya beralih ke depan seluruh pegawai yang ikut rapat justru menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Apa ada yang salah? Kenapa menatapku?" Oh, Namjoon sungguh tak suka situasi ini

Buru-buru seluruh pegawai yang tadi berfokus pada Namjoon berusaha mengalihkan pandangan. Ada yang berlagak mengecek berkas, tertunduk lesu, bahkan ada pula yang langsung ijin ke toilet. Pengecut.

"Bagaimana tuan? Apakah anda ada pertanyaan untuk presentasi yang disampaikan Nona Cho?" Mari berterimakasih pada Hoseok yang selalu siaga menyelamatkan situasi genting seperti saat ini.

"Cukup. Kalian bisa tutup presentasinya dan kembali bekerja"

Seluruh pegawai segera undur diri ketika presentasi ditutup oleh salah seorang dari pegawai. Para pegawai tampak segera undur diri dari ruang rapat, tapi tidak dengan Namjoon yang masih betah duduk di kursinya dan kembali menatap yang tadinya berniat meninggalkan ruangan jadi menahan langkah dan memberanikan diri untuk bertanya.

"Kuperhatikan tuan hari ini tidak fokus"

Teguran Hoseok menyadarkan Namjoon dari lamunan. Jika hanya berdua merekaakan bersikap lebih santai seperti saat ini. Ingat bahwa mereka adalah senior dan junior selama sekolah dan selalu bersama kemanapun.

"Tidakkah kau merasa curiga dengan perilaku Seokjin akhir-akhir ini Hoseok-ah?" Namjoon meletakkan ponsel di genggaman dan memutar kursi agar dapat berhadapan dengan sekretarisnya. Dirasa pembicaraan akan memakan waktu yang lama, Hoseok memutuskan duduk kembali di salah satu kursi kosong.

"Nyonya sering keluar sendirian akhir-akhir ini tanpa minta diantar olehku atau Taehyung. Aku fikir Nyonya Seokjin hanya butuh waktu sendiri" Bagaimanapun posisi Hoseok harus tetap netral sebelum adanya bukti. Ia tidak mau berspekulasi macam-macam.

"Setiap kali kutanya orang-orang kemana ia pergi selalu ke rumah teman. Tapi tak satupun temannya yang mengaku di datangi oleh Seokjin" Namjoon benar-benar curiga berat kali ini

"Tuan menyelidikinya?"

"Ya tentu saja, dia istriku dan aku harus tau kemana dia pergi"

Untuk kali ini Hoseok setuju terhadap pemikiran Namjoon. Istri tuannya memang terlalu mencurigakan jika hanya sekedar pergi ke rumah teman.

"Lihat apa yang kutemukan!"

Namjoon menyerahkan ponselnya pada sang sekretaris. Dengan seksama Hoseok mengamati apa yang coba ditunjukkan oleh tuannya. Sepanjang dia tau apa yang ada pada ponsel Namjoon adalah tampilan dari aplikasi pelacak.

"Tuan melacak keberadaaan nyonya?" raut keterkejutan tidak dapat Hoseok tutupi lagi

"Tepat"

"Apa nyonya tidak curiga sama sekali jika tuan memasang aplikasi pelacak pada ponselnya?"

"Kurasa tidak. Seokjin terlalu ceroboh untuk memikirkan hal sedetail itu"

Benar juga, jika Seokjin tau jika suaminya memasang pelacak pada ponsel wanita itu mungkin sudah terjadi pertengkaran hebat antara dua majikan Hoseok.

"Aku sudah mengamati beberapa hari dan Seokjin selalu pergi ke alamat yang ada di aplikasi pelacak itu"

Ketika memperhatikan alamat yang ditunjukkan oleh titik koordinat di aplikasi pelacak, Hoseok merasa tidak asing. Dia pernah datang ke daerah tersebut tapi juga tidak begitu yakin akan firasatnya.

"Sepertinya saya pernah pergi ke daerah dimana alamat ini berada" kata Hoseok dengan mata masih terpaku pada layar ponsel

"Benarkah? Dimana itu?"

"Aku tidak begitu yakin tuan tapi kesana bersama seseorang"

"Coba kau ingat-ingat lagi"

Cukup lama Hoseok berfikir dan coba mengingat kembali kapan serta bersama siapa ia pergi saat itu. Hingga akhirnya ia teringat sesuatu.

"Daerah ini… dekat dengan rumah Taehyung"

"Kau yakin?"

"Ya tuan, aku sangat yakin. Aku pernah mengantar Taehyung ke rumahnya dan itu terletak di daerah dekat titik koordinat ini. Mungkin jika tuan ingin pergi ke lokasi nyonya Seokjin tuan dapat mengajak Taehyung"

Ide yang diutarakan Hoseok tidak buruk. Jika ia mengajak Hoseok itu hanya akan memakan waktu karna sekretarisnya kurang paham tentang daerah tersebut.

"Hubungi Taehyung sekarang dan minta ia mengantarku" titah Namjoon mutlak

"A-apa? Tuan akan mengampiri nyonya sekarang juga?" Hoseok fikir tuannya akan pergi setidaknya besok

"Lebih cepat lebih baik"

Segera setelahnya Namjoon berdiri dan merapikan setelannya lantas bergegas pergi, menyisakan Hoseok yang masih mematung di tempat.

"Dan kau juga Hoseok-"

Laki-laki itu kembali setelah beberapa saat telah menutup pintu, membuat Hoseok yang masih mematung di kursinya memutar badan.

"-jangan sekali-kali beritau Seokjin jika aku menjemputnya. Aku tau kau terkadang sekongkol dengan istriku"

"B-baik tuan aku mengerti"

Harusnya dari awal Hoseok tau jika Namjoon bukan orang yang mudah dibohongi. Jika sudah diberi ultimatum sedemikian rupa maka apa boleh buat. Menutup mulut rapat-rapat adalah salah satu cara terbaik saat ini.

Segera setelah Namjoon menutup pintu kembali, sekretaris itu meraih ponsel dan mendial sebuah nomor. Ia beritaukan kepentingan apa yang harus dikerjakan oleh orang yang baru ia hubungi itu. Setelahnya Hoseok kembali bergegas untuk melanjutkan pekerjaan hingga waktu kerja berakhir.

.

.

~BLIND~

.

.

Taehyung sedikit terkejut tatkala atasannya alias sekretaris Jung tiba-tiba meminta untuk datang ke kantor. Ia fikir hari ini telah melakukan kesalahan sehingga sekretaris Jung akan memarahi dirinya saat itu juga tanpa menunggu jam pulang kantor. Namun begitu tiba di kantor Taehyung justru diminta untuk menemani Namjoon ke suatu tempat. Sungguh ini merupakan penghargaan besar bagi dirinya ketika diminta mengantar tuannya bepergian.

"Kemana saya harus mengantar tuan?"

Yang lebih muda mencoba untu membuka pembicaraan saat keduanya telah siap dengan sabuk pengaman masing-masing

"Antar aku ke tempat ini"

Sebuah ponsel Namjoon sodorkan pada laki-laki yang lebih muda, dan reaksi terkejutnya entah hampir serupa dengan Hoseok.

"Kudengar rumahmu berada di daerah tersebut" Namjoon menimpali kembali kalimatnya

"Ya tuan, ini adalah daerah tempat ibu dan pamanku tinggal"

Mobil melaju berlahan di jalanan Kota Seoul yang tampak sepi siang itu. Karena belum memasuki jam pulang kantor, maka tidak akan butuh waktu lama untuk sampai di tujuan. Selama perjalanan Taehyung tak segan untuk mengajak Namjoon untuk mengobrol. Toh, tuannya tampak santai hari ini dan laki-laki itu menanggapi setiap pertanyaan Taehyung dengan baik alias tidak ala kadarnya.

"Apa kau memang punya kebiasaan mengobrol seperti ini saat mengemudi?"

Namjoon iseng saja bertanya karna sedari tadi bodyguard putrinya sibuk memecah keheningan. Bahkan Hoseok yang mengenalnya belasan tahun tidak secerewet anak baru ini.

"Kurasa ini memang kebiasaanku saat bersama nona Jungkook tuan, maaf jika tuan merasa terganggu" tidak sedikitpun pemuda itu tampak tersinggung

"Taka pa lanjutkan saja"

"Biasanya , nona Kookie akan mengantuk jika aku tidak mengajaknya bicara"

Lihat bahkan anak ingusan di mata Namjoon ini berani memanggil putrinya dengan sebutan khusus yang bahkan ia sendiri sebagai ayahnya tidak pernah lakukan. Namun tanpa sadar laki-laki itu merasa antusias, terlihat sekali Namjoon sedikit membenarkan duduknya agar lebih tegak.

"Anak itu memang mudah tertidur di manapun" sahut Namjoon acuh

"Pernah suatu waktu nona meminta untuk diajak jalan-jalan. Karna aku bingung harus mengajak kemana maka aku mengajaknya pergi ke rumah"

"Rumahmu?" Sialan, ternyata Namjoon melewatkan banyak hal selama ini

"Iya tuan. Tapi kumohon jangan marahi nona Kookie, ia hanya bosan saja saat itu jika berada terus di rumah"

"Aku mengerti"

"Dan apa tuan tau? Saat aku tiba disana tidak berselang lama Nyonya Seokjin juga datang. Beliau bilang tau alamatku dari sekretaris Jung. Yang membuatku heran adalah nyonya dan ibuku tampak begitu akrab saat berbincang"

Taehyung terus bercerita tanpa menyadari raut wajah Namjoon yang berubah menjadi keras. Berbagai potongan fakta yang diceritakan Taehyung membuat Namjoon mulai berfikir dan menyatukannya. Terasa janggal karna Seokjin bukan orang yang mudah akrab, namun bagaimana bisa ia datang ke rumah Taehyung dan mengobrol bersama ibunya jika tidak ada urusan.

"Apa ibumu seusia istriku Tae?" kali ini laki-laki itu berinisiatif mengorek informasi lebih dalam pada pemuda yang kelewat polos itu menurut Namjoon

"Emmm, kurasa tidak tuan. Ibuku terpaut delapan belas taun dengan ku, jadi usia eomma sekitar tiga puluh enam tahun. Sedangkan nyonya Seokjin berada di usia empat puluhan"

"Itu benar"

"Ibumu memiliki mu di usia yang sangat muda ternyata" lagi-lagi yang lebih tua menimpali

Kali ini tak ada tanggapan dari Taehyung. Laki-laki itu hanya dapat tersenyum kecut di balik kemudinya. Memang benar yang selama ini orang katakana, ibunya memiliki Taehyung di usia yang masih begitu belia. Pasti banyak kesulitan yang tidak ia ketahui selama sang ibu membesarkannya.

"Jangan tersinggung, fikiran orang tua terkadang memang rumit dan kita tidak tau apa maunya"

Kata-kata itu lebih seperti sindiran untuk Namjoon sendiri. Mendengar kisah Taehyung ia jadi teringat akan masa lalu. Dibesarkan di panti asuhan kemudian di adopsi serta dilupakan ketika orang tuanya memiliki anak sendiri. Terkadang jalan fikiran orang tua memang tidak dapat dimengerti oleh anak-anak meski anak tersebut sudah menginjak dewasa.

"Tuan Namjoon, bagaimana jika kita mampir ke rumahku saja. Mungkin nyonya Seokjin sedang berkunjung kesana"

Daripada terdiam masing-masing Taehyung memberikan sebuah ide yang langsung disetujui oleh Namjoon. Tanpa ia tau sebenarnya bahwa ide Taehyung lah yang akan membawa awal mula petaka bagi dirinya.

"Rumahku memang tidak sebagus rumah tuan, tapi cukup nyaman jika tuan ingin berkunjung"

"Aku tidak mempermasalahkan hal tersebut"

.

.

~BLIND~

.

.

Perjalanan Taehyung dan Namjoon akhirnya berhenti setelah hampir satu jam lebih menyusuri kota. Sesuai usul dari Taehyung, kini mereka berdua singgah di rumah pemuda tersebut lebih dahulu untuk memastikan apakah Seokjin ada disana. Jika tidak maka mereka akan berkeliling ke daerah lain. Meski begitu firasat Namjoon yang menatap layar ponselnya saat ini sangat yakin jika istrinya Sembilan puluh persen berada di rumah Taehyung karna titik koordinat yang tidak berpindah.

"Silakan tuan"

Laki-laki yang mengemudi sejak tadi membuka pintu untuk tuannya. Dengan langkah tegas ia berjalan melewati halaman rumah yang tidak bisa dikatakan luas itu. Rasanya tidak enak jika Taehyung jalan memimpin di depan, maka dari itu ia mempersilakan bos-nya untuk jalan di depan dan ia akan memandu dari belakang.

TOK TOK TOK

Pintu dengan aksen sederhana bercat coklat usang itu diketuk pelan oleh Namjoon. Tiga menit disana tidak ada sahutan sama sekali hingga Namjoon pun mengulangi ketukan itu. Tak berselang lama sebuah suara menyahut dari dalam, mengatakan 'ya' sebagai pertanda jika sang pemilik akan segera membukanya.

CEKLEK

"Siapa yang datang?"

Si pembuka pintu menyahut ramah lengkap dengan senyum di wajah. Rupanya itu seorang wanita. Ya, wanita yang senyumnya sangat Namjoon hafal. Sayang sekali senyum itu seketika luntur saat mengetahui siapa orang yang bertamu.

"Rupanya kau disini Seokjin"

Sapaan Namjoon yang tenang justru membuat Seokjin begidik ngeri. Mungkin laki-laki itu tampak tenang, tapi Seokjin tau pasti akan terjadi prahara besar saat mereka berdua tiba di rumah nanti. Tak ingin membuat keributan di tengah hari cerah segera saja Seokjin menutup pintu rumah itu, berharap si pemilik tak akan mendengarnya atau muncul.

"Sedang apa kau disini? Tidak bekerja?"

"Seharusnya aku yang bertanya demikian"

Seokjin mati langkah. Bodoh memang pertanyaan yang barusaja ia lontarkan. Wanita itu menautkan kedua tangan saking gugupnya. Hingga saat ini Seokjin bahkan tidak sadar jika ada seseorang di balik punggung Namjoon yang memperhatikan sedari tadi.

"Ayo kita pulang, akan aku jelaskan di rumah"

"Tidak. Jelaskan disini!" bantah Namjoon tegas

"Jangan buat keributan Namjoon"

Wanita itu menggeram halus disertai kepalan tangan. Sebenarnya ketimbang takut membuat keributan Seokjin lebih takut jika Yoongi keluar dari rumah dan bertemu dengan suaminya.

CEKLEK

"Eonni, siapa yang bertamu? Kenapa lama sekali?"

Panjang umur seorang Min Yoongi dengan segala rasa ingin taunya. Sama seperti Seokjin saat membuka pintu, awalnya wanita itu tampak baik-baik saja hingga memorinya mengenali seorang laki-laki yang berdiri di hadapan Seokjin.

"Wow lihat siapa yang muncul dihadapanku. Inikah temanmu yang selama ini selalu kau kunjungi Kim Seokjin?" sebuah smirk menakutkan mengiri kalimat sarkas Namjoon saat ia juga berhasil mengenali siapa wanita yang dikunjungi sang istri.

"Lama tidak bertemu Min Yoongi. Masih mengingatku?" lanjut Namjoon

"K-kau"

"Eomma mengenal Tuan Namjoon?"

Jantung Yoongi rasanya benar-benar merosot hingga lutut saat menyadari putranya juga berada di sana, dibalik punggung tegap Namjoon yang sedari tadi tidak ia sadari. 'Mati saja kau Min Yoongi'. Tidak hanya Yoongi yang dilanda panik, Seokjin yang juga baru menyadari keberadaan Taehyung memejamkan matanya erat.

"T-tae apa maksudmu memanggilnya tuan?" Berterimakasihlah pada pendengaran Taehyung yang tajam karna dapat menangkap suara ibunya yang lebih seperti bisikan saat ini

"Dia adalah bosku eomma. Tuan Kim Namjoon"

Kaki wanita dengan usia tiga puluhan itu seketika menjadi jelly. Lemas dan tak bertenaga. Bahkan saat ini tubuhnya sudah merosot menyentuh lantai. Taehyung yang panik melihat ibunya terjatuh segera mendekat untuk menolong.

"Eomma sakit?" kentara sekali laki-laki itu begitu khawatir

"Dia ibumu Tae?" kali ini Namjoon yang bertanya lagi

"Sudah Namjoon ayo kita pulang! Aku akan jelaskan semuanya"

"Iya tuan beliau adalah ibuku. Maaf jika pertemuan pertama kalian tidak menyenangkan"

Sungguh jawaban Taehyung yang kelewat polos semakin membuat Namjoon bersemangat membombardir anak itu dengan pertanyaan. Atau lebih tepatnya pertanyaan untuk menyudutkan orang yang dipanggilnya 'ibu'.

"Jika Taehyung adalah anakmu maka dimana anak adikku Min Yoongi-ssi"

Mata sipit Yoongi seketika menatap nyalang pada Namjoon. Rasa marah dan sedih campur aduk di hati Min Yoongi saat ini. Ia tidak menyangka jika rahasia yang ia simpan selama delapan belas tahun akan terungkap dengan cara konyol seperti ini.

"Tuan Namjoon apa yang anda maksud? Anak eomma hanyalah aku"

Taehyung tidak suka jika sang ibu disudutkan seperti ini, seolah membuat kesalahan. Lagipula bosnya ini sepertinya melantur. Dari tadi yang ia katakan kepada ibunya tak satupun Taehyung pahami.

"Ibumu ini membawa kabur bayi adikku delapan belas tahun lalu. Jika memang kau anaknya lantas dimana anak adikku?"

"A-apa? Sebenarnya apa yang tuan Namjoon katakan sedari tadi? Aku sungguh tidak mengerti"

Sebuah rematan kecil Taehyung rasakan pada tangannya, dan itu berasal dari tangan Yoongi. Kini dirinya berusaha bersikap setenang mungkin mengingat tuannya ada di sini. Namun, berbagai fikiran negative justru menggerayanginya karna pertanya konyol yang dilontarkan Namjoon sejak tadi.

"Kim Namjoon ayo kita pulang, aku akan jelaskan semuanya!" Seokjin yang sedari tadi hanya melihat dalam ketakutan kini mulai berteriak ribut.

"Dimana kau meninggalkan anak adikku Yongi-ssi?"

Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut seorang Min Yoongi tatkala nada bicara Namjoon mulai meninggi. Bulir air mata sudah jatuh mengalir pada pipi pucatnya. Matanya yang memerah akibat sembab kini hanya mampu menatap nanar Namjoon dan juga Taehyung yang berada di belakangnya.

"Perlu ku ulangi? Anak Kim Baekhyun dan Jung Daehyun, dimana dia berada sekarang?"

Kesabaran Namjoon sudah menipis. Bahkan laki-laki itu selangkah lebih dekat pada Yoongi dan mencengkram dagu si wanita meski si lawan bicara sudah seperti tikus tertangkap basah.

"APA YANG TUAN LAKUKAN PADA IBUKU!"

Melihat ibunya diperlakukan secara kasar, laki-laki delapan belas tahun itu tidak terima. Apa pedulinya kini dengan pekerjaan jika dihadapannya sang ibu ditodong seperti penjahat. Tangan Taehyung menepis lengan Namjoon kasar, membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah setelahnya. Dengan rasa gemetar Taehyung merengkuh ibunya dalam pelukan. Tidak pernah Taehyung bayangkan jika pada akhirnya ia berani melawan orang yang telah memberinya gaji selama ini.

"Tanyakan pada ibumu dimana dia sembunyikan putra adikku"

Sejurus kemudian tangan Seokjin di seret oleh Namjoon meninggalkan pertengkaran itu. Wanita itu memberontak, ingin melepaskan diri karna banyak yang harus ia luruskan dengan Yoongi terlebih dahulu. Jika tidak bisa-bisa Yoongi menganggap dirinya lah yang mengadu akan keberadaan putra Baekhyun.

"Namjoon-ssi… Sejak kapan kau peduli pada putra Baekhyun"

Namjoon yang sudah hampir meraih gagang pintu mobil kini memutar arah mendengar pertanyaan Yoongi yang cukup jelas meski jauh. Genggamannya pada Seokjin masih terasa begitu erat, membuat si wanita mau tak mau ikut menoleh.

"Dia adikku" singkat, padat, dan jelas. Begitulah jawaban laki-laki itu

"Bukankah kau ingin membunuhnya dulu?"

Kini sebuah senyum getir terpatri pada bibir Yoongi. Wanita itu memberanikan diri menatap Kim Namjoon, orang yang hampir dua puluh tahun sangat ia hindari.

"Suara pistol itu bahkan masih terdengar begitu jelas di telinga ku. Apa kau lupa Namjoon-ssi? Brengsek kau"

"Aku memang menembakkan peluru pada Daehyun tapi tidak pada Baekhyun jika kau lupa Min Yoongi-ssi. Aku tidak pernah membunuh adikku dan anaknya"

"TAPI KAU INGIN MELENYAPKAN MEREKA!" teriak Yoongi frustasi

Cukup. Ini tidak bisa diteruskan. Dengan langkah tegap Namjoon berbalik menghampiri ibu dan anak yang masih saling mendekap. Taehyung yang melihatnya segera membawa sang ibu kembali dalam pelukan.

"T-tuan hentikan. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan" rupanya pemuda itu masih berusaha menyusun puzzle dari perkataan yang orang dewasa lontarkan.

"Kau.." telunjuk Namjoon mengarah tepat pada wajah Yoongi

"Tau apa tentang keluargaku"

"Sedekat apapun kau dengan Baekhyun, kau tetap orang asing yang tidak pernah tau apa yang terjadi di keluarga kami"

Hati Yoongi mencelos mendengar setiap rentetan kata yang diucapkan kakak sahabatnya ini. Laki-laki itu tidak sepenuhnya salah. Selama ini ia hanya tau Baekhyun terkekang dan kehamilannya di tentang. Apa yang terjadi di rumah, apa cacian yang Baekhyun terima dari keluarganya saat ini Yoongi tidak pernah benar-benar tau.

"Taehyung-ah, biar aku beri tau satu hal. Kau mengingatkan ku pada adikku yang sudah meninggal" kata-kata Namjoon tenang namun terdengar dingin

"Banyak orang berkata demikian, t-tapi aku rasa kami tidak semirip itu" sungguh fikiran Taehyung ikut kacau saat ini

"Min Yoongi tau kah kau, anakmu bercerita jika usianya terpaut delapan belas tahun dengan mu. Apakah sebuah kebetulan jika kau ikut melahirkan di tahun yang sama dengan Baekhyun?"

Mata Yoongi yang tadinya berfokus pada Namjoon kini beralih menatap putranya, dan Taehyung hanya mengangguk sebagai jawaban ia bahwa semua yang dikatan Namjoon memang benar bersumber dari dirinya.

"Seharusnya kau punya dua putra bukan jika memang Taehyung putra mu?" pembicaraan dua orang dewasa itu masih berlanjut dengan panas

"Apa maksud tuan? Jika tuan melantur maka hentikan sekarang juga" tampaknya Taehyung mulai mengerti arah pembicaraan mereka

"Dan aku yakin ibumu tidak akan sanggup hati membuang putra temannya bukan Tae?"

"Ibuku bukan penjahat tuan Namjoon"

"Itu benar. Maka hanya ada dua kemungkinan. Dia memang membuang putra adikku atau-"

"Atau apa tuan?" Taehyung mungkin tau apa yang akan dikatakan tuannya itu, tapi ia bersikeras menolak fikiran negative pada dirinya

"Kau bukan anak Min Yoongi"

Apa yang ingin diutarakan Namjoon sudah ia lampiaskan semua. Dirinya tidak cukup bodoh untuk memahami ini semua maka dari itu ia berani menarik kesimpulan serta kecurigaan pada Taehyung bahwa sebenarnya anak tersebut adalah putra adiknya yang selama ini ia cari.

"Kim Namjoon-ssi"

Tanpa di duga Yoongi berdiri dan mengejar Namjoon yang mulai menjauh dari posisinya. Laki-laki itu sudah hampir tiba di hadapan Seokjin jika saja kakinya tidak ditahan oleh tangan Yoongi. Wanita itu… kini bersimpuh memohon pada Namjoon. Tak ketinggalan Taehyung dan Seokjin yang melihat adegan tersebut berusaha membantu Yoongi untuk berdiri namun si wanita bersikeras pada posisinya.

"Maaf kan aku dan juga bayi itu. Baekhyun… ia sudah menyerahkannya padaku maka sejak saat itu bayi Baekhyun sudah menjadi milikku. Kumohon lepaskan kami" buliran air mata Yoongi bahkan kini menetes membasahi setiap inci tanah dimana ia berlutut

"E-eomma apa yang eomma bicarakan. Bayi siapa eomma?" Taehyung tidak ingin menerima kenyataan saat menyadari kami yang dimaksud adalah ia dan sang ibu.

"Baekhyun.. ia tidak ingin anaknya tumbuh di keluarga itu. Jika oppa ingin mendapatkan harta keluarga itu maka ambil saja aku tidak akan menuntut. Akan aku pastikan"

"Kau kira aku gila harta hah Min Yoongi?"

"Lalu? Apalagi yang oppa inginkan. Fikirkan baik-baik, jika anak Baekhyun tidak pernah kembali maka kehidupanmu dan Seokjin eonni akan aman"

"Min Yoongi kau fikir aku sejahat itu? Bahkan selama Baekhyun hamil akulah yang melindunginya dari tua bangka keparat itu"

Nafas keduanya terengah karna emosi yang sama-sama meluap. Sementara Taehyung yang mendengar segala obrolan itu hanya mampu tertawa getir dalam hati. Jadi selama ini ia bukan anak ibunya? Lelucon orang dewasa benar-benar buruk.

"Namjoon-ah"

Kini ganti Seokjin lah yang berlutut di hadapan Namjoon. Laki-laki itu terkejut bukan main melihat sang istri ikut membela mati-matian.

"Aku sudah berjanji pada Yoongi untuk membawa Taehyung kembali pada semestinya ia berada"

Mata musang Taehyung melirik tajam "Tidak bisa kupercaya kalian semua pembohong ulung" sindirinya.

"Ini permintaan pertama dan terakhir ku. Mari akhiri segala luka lama keluarga kita. Meski ini mungkin berat Taehyung harus mendapatkan haknya kembali. Ayo bawa Taehyung kembali"

"Kau bodoh Seokjin. Berdiri!"

"Jika kita harus menyerahkan semuanya demi mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik anak Baekhyun maka aku tidak keberatan jika harus angkat kaki dari rumah itu" pembelaan Seokjin masih berlanjut

"Tidak"

Begitulah Namjoon. Sekali tidak tetap tidak. Dengan tenaganya yang kuat laki-laki itu menyeret paksa sang istri untuk ikut masuk ke dalam mobil. Tidak lupa sebelum meninggalkan dua manusia lainnya Namjoon pun meninggalkan pesan terakhir.

"Satu minggu. Bawa pergi ia dalam kurun waktu satu minggu, maka aku akan menganggap tidak akan pernah terjadi apapun delapan belas tahun lalu" pukas Namjoon sambil melirik tajam Taehyung yang juga meliriknya saat ini.

.

.

.

TBC

A/N

Annyeong, aku balik bawa kelanjutan BLIND.

Huhu pengen banget ff ini segera kelar. Sebenarnya aku udah punya gambaran endingnya mau dibawa kemana. Tapi ya gitu… Kadang mengumpulkan niat untuk menulis dan bikin tulisan yang menarik itu susah.

Aku tau mungkin tulisanku semakin lama semakin membosankan karna yah, namanya menulis kalau gak diasah secara berkala pasti bakal kehilangan feelnya. Itu yang aku rasain banget pas nulis BLIND ini. Aku ngerasa kehilangan sense nulisku pas awal awal seminggu bisa post satu chapter.

Biarpun gitu aku bakal usahain yang terbaik buat menyelesaikan ff ini karna aku gak pengen bikin readersdeul kecewa.

Oiya ditunggu vote dan commentnya ya biar aku juga bisa evaluasi tulisan aku juga. Siapa tau aku bakal dapat ide juga dari kalian.

Hope you like it. See you on next chap ^_^