CHAPTER 25

BITTERSWEET

.

.

.

Sudah puluhan kali pintu bercat putih itu digedor oleh Yoongi namun tidak ada satupun jawaban yang menyahut dari balik pintu tersebut. Mata Yoongi semakin sembab mendapati tak ada satupun tanggapan dari putranya. Saat ini hanya berbagai kemungkinan buruk yang memenuhi fikiran hingga rasanya mau pecah.

"Sudah Min, beri Taehyung waktu untuk menenangkan diri"

"Tidak. Jika tidak sekarang maka aku… bisa kehilangan segalanya"

Dasarnya Yoongi memang keras kepala, Jimin hanya mampu menghela nafas dalam. Diletakkannya air putih yang sempat ia ambil dari dapur. Berharap wanita itu mau minum sedikit agar tidak ada tragedy pingsan nantinya.

"Tae ayo bicara! Eomma janji akan menjawab semua pertanyaanmu. Tapi eomma mohon keluarlah"

PRAANGG

Bukannya jawaban justru suara benda pecah yang Yoongi terima. Perempuan itu berjengit beberapa langkah dari pintu. Selain kaget kini kakinya juga terasa perih karna tampaknya tergores beberapa serpihan kaca yang berhasil lewat dari sela-sela pintu kamar.

Menyerah. Akhirnya perempuan itu menyerah. Jimin berusaha menahan Yoongi ketika tubuh wanita itu mulai merosot di lantai. Dibantunya duduk perempuan itu di area yang sekiranya aman dari pecahan kaca. Setelahnya Jimin pergi dari sana. Selain ingin memberi waktu laki-laki itu juga ingin mencarikan obat untuk luka di kaki Yoongi.

"Tebakan kedua Namjoon oppa benar. Kau… bukan anak kandungku"

Meski lirih namun Taehyung dapat mendengar pengakuan dari orang yang selama ini ia anggap sebagai ibu. Hatinya bagai diremat kuat. Kenyataan pahit jika ia dibohongi dengan rapi selama delapan belas tahun ini membuatnya benar-benar seperti orang tolol. 'Orang dewasa memang mengerikan'.

"Malam itu… Ayahmu memanggilku. Dia bilang ibumu ingin bertemu. Aku sahabat mereka satu-satunya, meski aku tau mereka diliputi masalah selama mengandungmu bagaimana aku tega untuk mengabaikan mereka"

Taehyung berjalan gontai mendekati pintu. Genangan air dan beberapa pecahan kaca di sekitar pintu diabaikannya sehingga beberapa bagian kakiknya ikut terluka seperti kaki Yoongi. Kini tubuhnya merosot berlahan untuk kemudian bersandar pada pintu. Ingin sekali rasanya marah tapi tenaganya entah menguap kemana. Oleh karna itu mendengarkan penuturan eomma-nya adalah pilihan terbaik saat ini.

"Cinta orang tua mu memang sudah sulit sejak awal. Tidak ada satupun yang setuju baik itu Namjoon oppa maupun kakekmu. Kau tau status sosial yang berbeda? Seperti itulah"

'Jadi seperti itu? Karna ibu putri konglomerat dan ayah hanya orang biasa' Taehyung tersenyum miris. Kisah orang tuanya persis seperti novel yang sering ia baca.

"Tapi ibumu memang orang yang sedikit nekad. Sampai akhirnya kau hadir diantara mereka"

'Ibu mengandungku sebelum ada pernikahan huh?' Laki-laki itu masih setia mendengar ocehan Yoongi

"Kakekmu sangat marah mengetahui fakta tersebut meski akhirnya menyetujui pernikahan. Baekhyun.. Ya, kau tau bukan nama ibumu Baekhyun-"

'Aku tau. Nama itu secantik parasnya'

"Dia pernah bercerita jika kakekmu sering memukulinya. Pernah suatu kejadian Seokjin eonni keguguran karna melerai pertengkaran kakekmu dan anak-anaknya"

'Apa kakek orang jahat'

"Kurasa kakekmu memang orang jahat"

Banyak bercerita membuat kerongkongan Yoongi mulai mengering. Diteguknya air putih yang sempat Jimin bawa tadi sebelum melanjutkan cerita. Yoongi yakin meski tidak ada sahutan tapi Taehyung pasti mendengarnya dari balik kamar.

"Awalnya ibumu mengira jika kakaknya, Namjoon, berada di pihaknya. Dia selalu melindungi ibumu saat kakekmu berlaku kasar. Walapun ya… Namjoon oppa tidak pernah menerima ayahmu sepenuhnya"

"Entah apa yang terjadi, ibumu bilang suatu hari ia mendengar jika Namjoon akan merebut bayinya. Ibumu merasa jika tidak ada beda antara kakak dan ayahnya. Kau tau? Tuan Namjoon bukanlah kakak kandung ibumu. Itu yang membuat ibumu begitu takut jika dia akan melukaimu"

'T-tuan Namjoon bukan keturunan Keluarga Kim? Tidak. Ada apa dengan keluarga itu'

Sebuah fakta baru yang tidak pernah Taehyung ketahui bahwa orang yang berkuasa selama ini bukanlah pewaris sah. Lalu benarkah jika Namjoon ingin menyingkirkannya karna gila harta? Tapi laki-laki itu menyangkal di depan matanya beberapa waktu lalu.

"Setelah melahirkan orang tua mu memberikanmu padaku. Mereka bilang kau anakku sejak malam itu Tae. KAU ANAKKU…!"

Teriakan Yoongi menyentak seisi rumah. Kepala Taehyung berdenyut seketika mendengar kata-kata itu. Kini kedua tangannya sudah menutup erat telinga, tak ingin mendengar lebih banyak lagi.

'E-eomma… aku ingin mengatakan hal serupa. Tapi kenapa rasanya berat saat tau faktanya' jeritan itu hanya dapat Taehyung tahan dalam hati.

"Namamu adalah pemberian mereka. Dan gelang yang kau pakai.. Itu gelang ibumu. Itu gelang persahabatan kami. Aku, Baekhyun, dan Daehyun punya gelang yang sama"

Kini tatapan Taehyung teralih pada gelang di tangannya. Fikirannya sempat kosong sejenak memikirkan suatu hal. Ia teringat sesuatu.

'Jika ini gelang eomma, bagaimana Nona Kookie bisa memilikinya..'

Berbagai kemungkinan berkelebat di otaknya. Ia berusaha mengingat bagaimana gelang yang hanya ada tiga buah itu bisa sampai di tangan Jungkook.

"Ige mwo-ya"

"Eomma ku bilang ini adalah gelang keberuntungan"

"Gelang keberuntungan?"

"Aku akan meminjamkannya untukmu. Jangan menangis lagi oke?"

Sosok gadis mungil muncul dalam ingatannya. Ya, kini Taehyung ingat jika ia pernah memberikan gelangnya pada seorang gadis di toko mainan yang menangis. Taehyung ingat dia belum sempat berkenalan dengan gadis itu karena sudah lebih dahulu dibawa lari oleh sang eomma.

'Mungkinkah…'

Kenapa Taehyung baru sadar jika yang mengejarnya belasan tahun lalu adalah Tuan Namjoon. Ia yakin itu. Figur wajah laki-laki itu tidak pernah berubah bahkan rahang tegasnya sangat Taehyung ingat. Jika itu Tuan Namjoon maka bisa dipastikan jika gadis mungil yang tertabrak saat mereka berlari adalah…

'Apa kau tau Taehyung-ah? Nona muda tidak buta sejak lahir. Dia mengalami kebutaan semenjak umur 4 tahun"

Rasanya tidak ada alasan lagi untuk mengusik keraguan Taehyung akan sosok yang tertabrak saat ia dikejar Namjoon. Sudah dapat dipastikan jika gadis mungil itu adalah Jungkook. Perih. Hati Taehyung tersayat mendapati kenyataan tersebut.

'Aku yang membuatnya buta. Penyebabnya adalah aku'

BRAK

Yoongi yang masih setia duduk disamping pintu kamar Taehyung dikejutkan saat anak itu tiba-tiba membuka pintu dengan kasar. Segera perempuan itu berdiri dan ingin meraih tangan Taehyung. Terlebih ia melihat jika kaki anaknya kini bernasib sama dengan kakinya. Berdarah.

Belum sempat tangan perempuan itu menyentuh sepenuhnya, tangan pemuda itu sudah lebih dulu menghempasnya.

"Beri tau aku dimana makan mereka? Makam ayah dan ibuku"

Air mata Yoongi tidak dapat dibendung lagi. Perempuan itu kembali menangis untuk sekian kali meski rasanya sudah kering. Fakta jika suara Taehyung begitu menusuk sangat melukai hatinya. Kehangatan selama delapan belas tahun itu kini sudah lenyap entah kemana. Mungkin tidak akan pernah Yoongi temui lagi.

"A-ayo obati lukamu dulu" suara perempuan itu terbata

"Jika kau memberitauku sekarang mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu. Min Yoongi-ssi?"

.

.

~BLIND~

.

.

Seperti biasa angin bertiup pelan menyalurkan udara dingin yang sebentar lagi memasuki musim gugur. Di lahan yang terbentang luas itu berbagai gundukan tanah telah ditutupi rumput hijau. Tak ketinggalan di ujung gundukan selalu tersemat sebuah papan nama yang menandakan si pemilik.

Saat dirinya pindah kembali ke Seoul Taehyung sangat ingat jika eomma… Ah bukan, perempuan itu bukan eommanya lagi. Perempuan bernama Min Yoongi mengajak dirinya berkunjung ke makam seseorang yang ia bilang sahabatnya. Saat itu Taehyung merutuki kebodohannya karena tidak tertarik sama sekali untuk tau siapa pemilik nisan yang dikunjungi perempuan Min itu. Ternyata selama ini ia berkunjung ke makan orang tuanya sendiri. Betapa bodohnya.

"Eomma, appa maaf Taehyung datang terlambat"

Tangan laki-laki itu menyibak rerumputan yang menutupi nama di nisan tersebut. Tampaknya makan orang tuanya ini memang jarang dikunjungi. 'Kim Baekhyun´ dan 'Jung Daehyun'. Mengingat betapa tabu nama sang ibu di sebut, keluarga Kim tampaknya memang ingin melupakan bahwa Kim Baekhyun pernah menjadi bagian dari mereka.

Sebotol arak dituangkan diatas gundukan secara bergantian, disusul dengan seikat bunga seruni yang diletakkan di atas makam. Taehyung merebahkan diri di tengah makam kedua orang tuanya dengan dua tangan sebagai bantal. Satu kakinya menekuk dan kini dua kelopak mata itu terpejam menikmati semilir angin.

Selama menikmati angin, hati pemuda itu tidak berhenti berkecamuk. Membayangkan berbagai peristiwa yang mungkin terjadi jika ia tidak dibesarkan oleh Yoongi, rasa bersalah akan penglihatan Jungkook yang ia renggut secara tidak langsung, dan rasa bersalah terhadap sosok Min Yoongi dan Park Jimin.

"Apa yang harus aku lakukan eomma? Siapa yang harus kupilih?"

Setetes air mata itu akhirnya mengalir membasahi pipi Taehyung. Lihat, betapa lemah dirinya saat ini. Kini ia harus memilih antara hak atau orang yang telah merawatnya selama ini. Dia tidak bisa meninggalkan Yoongi begitu saja dan ia juga tidak bisa meninggalkan asal usulnya meski Namjoon akan melepaskannya. Terlebih anak perempuan Namjoon… Taehyung sadar jika ia mulai memiliki rasa pada gadis Kim itu.

"Haruskah aku melepasmu Jungkook?"

.

.

~ BLIND ~

.

.

Setelah mengunjungi makam orang tuanya dan merenung cukup lama akhirnya Taehyung mengambil sebuah keputusan besar. Sesuai tawaran Namjoon ia akan angkat kaki dari bayang-bayang keluarga Kim. Ia tidak butuh harta maupun kemewahan, yang ia butuhkan hanya menghabiskan siswa waktu berharganya dengan seseorang yang telah ia anggap sebagai ibu. Biarlah hanya Baekhyun yang menjadi kenangan di keluarga ini.

Butuh waktu sekitar empat hari agar Taehyung dapat menenangkan diri serta sanggup kembali ke Mansion Keluarga Kim. Selama itu pula hubungannya dengan Yoongi serta Jimin sedikit menjadi dingin. Tidak ada sapaan ataupun kata-kata yang terlontar meski mereka bertemu setiap hari di rumah. Sebenarnya Taehyung tidak ingin, namun gejolak egonya begitu menguasai.

Di rumah Keluarga Kim suasananya tidak jauh berbeda seperti biasa. Hanya ada kesepian saat hari menjelang siang. Begitu melewati ruang tamu langkah pemuda itu terhenti. Foto seseorang yang terpajang besar di sudut ruangan bersama anggota keluarga lain menarik perhatiannya. Ya, itu foto Baekhyun yang sempat membuat ia menangis saat pertama kali berkunjung. 'Jadi seperti ini ikatan ibu dan anak? Pantas saja'.

"Kau memang perempuan yang cantik"

Senyum itu begitu tipis dan mungkin hanya Taehyung yang sadar. Setelah dirasa puas ia berbalik hendak menuju kamar, mengemasi barang lalu meninggalkan surat pengunduran diri. Baru saja berbalik arah namun tubuh Taehyung sudah ditabrak seseorang.

"Aw!"

Seperti biasa gadis itu akan bereaksi berlebihan ketika sesuatu terjadi. Taehyung hanya menghela nafas mendapati Jungkook yang tidak sengaja menabrak tubuhnya ketika berjalan. Pandangannya berubah sendu mengingat apa yang sudah terjadi.

"Nona Kookie mau ke kamar?" tanya pemuda itu berusaha baik-baik saja

"TAE..!"

Bukannya menjawab gadis itu justru memekik (sekali lagi) saat mengetahui orang yang ia tabrak adalah Taehyung.

"Ya?"

"Astaga kemana saja kau. Aku mencarimu seperti orang gila empat hari ini"

"Maaf"

"Aku tidak butuh itu. Ayo ajak aku jalan-jalan"

Penyebab Jungkook uring-uringan selain karena tidak ada Taehyung adalah JiHoon yang akhir-akhir ini lebih sibuk besama Hyeoseob. Jadilah Jungkook seperti sendirian di rumah terlebih ibunya beberapa hari ini juga berubah pendiam dan sering tidak nyambung jika diajak bicara.

"Nona mau ke sauna?"

"Hmmm.. tidak buruk"

Taehyung gemas sendiri melihat Jungkook yang begitu imut dimatanya ketika berfikir. Sejenak ia bisa melupakan beban masalah di pundaknya. Bagaimanapun Jungkook tidak terlibat atas masalah orangtua mereka, maka tidak pantas jika Taehyung membenci gadis cantik ini.

Segera setelah mengambil kunci mobil dua muda mudi itu mengitari Seoul menuju sauna yang pernah mereka kunjungi waktu kabur beberapa waktu lalu. Tidak ada lagi acara curiga ataupun takut diculik. Jungkook bahkan sudah bergerak cepat meminta bantuan petugas sauna untuk berganti baju.

"Menunggu lama?"

"Tidak nona"

Selama menunggu Jungkook berganti pakaian Taehyung sudah mengupas beberapa telur untuk mereka makan. Keduanya sesekali saling memecahkan telur di dahi sambil bercerita hal-hal lucu. Gelak tawa pun tidak bisa dibendung. Bahkan tak sedikit pengunjung sauna yang salah mengira sepasang muda mudi itu adalah kekasih.

"Kau tau Tae, paman Myungsoo beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan karna coba membawa motor sport Jihoon untuk di cucikan"

"Tidak biasanya tuan muda mencuci motornya diluar"

"Entahlah, akhir-akhir ini ia suka membawa mobil sehingga malas mencuci motor sendiri seperti biasa"

Entah kenapa takdir seperti berusaha menggiring Taehyung untuk menanyakan sesuatu terkait kecelakaan saat mereka kecil. Kenapa Jungkook harus mengawali topik pembicaraan dengan kecelakaan sih.

"Emm.. nona boleh aku bertanya?-"

"Soal kecelakaan, aku pernah mendengar dari paman Myungsoo jika Nona Kookie juga pernah mengalaminya"

"Itu sudah lama sekali"

Laki-laki itu tau, sangat tau jika raut muka Jungkook mendadak muram. Siapa yang tidak akan sedih mengingat peristiwa yang merenggut cahaya dalam hidupnya. Namun gadis itu tampak berusaha tenang dengan tetap mengunyah telur yang barusaja ia kupas.

"Kenapa nona bisa kecelakaan?" astaga ingatkan Taehyung untuk berbasa basi terlebih dahulu

"Yang aku ingat hanya aku yang berlari mengejar ayah. Dan bamb… sebuah mobil menghantam diriku. Dunia ku gelap sejak itu"

Suaranya begitu pelan di akhir kalimat. Dengan berlahan si laki-laki meraih tangan si gadis, berharap memberikan sedikit ketenangan. Seolah berkata 'semua akan baik-baik saja'.

"Ada lagi yang nona ingat?"

"Kurasa tidak. Aku masih sangat kecil saat itu-"

"- kenapa kau mendadak ingin tau?"

Alis Jungkook terangkat sebelah karena curiga. Untuk apa Taehyung ingin tahu masa lalunya. Bukankah megatakan jika kecelakaan saja sudah cukup. Kenapa ingin tau lebih dalam.

"Tidak. Hanya ingin tau"

Seulas senyum Taehyung ukir. Ternyata nona mudanya ini tidak ingat tentang dirinya. Mungkin lebih baik jika Taehyung menanyakannya untuk memastikan.

"Nona tidak ingat jika sebelum kecelakaan bertemu seorang anak kecil?"

Si gadis berusaha mengingat. Seingatnya ia mengalami kecelakaan sendiri. Di toko mainan itu ia hanya ingin membelikan untuk Jihoon. Sebuah robot yang letaknya cukup tinggi. Jungkook ingat benar ia terjatuh dan menangis hingga tangisannya terhenti karena sebuah gelang yang masih ia simpan saat ini. Ah.. ia ingat sekarang.

"Anak kecil itu… laki-laki. Kau tau gelang yang kupakai? Aku baru ingat akhir-akhir ini jika itu gelang pemberiannya"

"Sepertinya gelang itu sangat berarti untuk nona mengingat saat gelang itu tidak ada kau begitu marah"

Perkataan Taehyung benar. Ia ingat saat akan ke akademi namun lupa membawa gelang itu Jungkook marah besar pada Taehyung padahal si laki-laki tidak tau menau. Dengan senyum manis di bibir, Jungkook mengangkat tangannya kehadapan Taehyung.

Gelang itu melingkar cantik di tangan gadis Kim. Tatapan sendu adalah satu-satunya ekspresi yang dapat Taehyung berikan. Hatinya merasa sakit sekaligus bahagia jika gadis yang ditemuinya beberapa tahun lalu masih menjaga pemberiannya. Pemberian yang membawa petaka.

"Kau tau Tae, anak itu bilang jika gelang ini adalah jimat keberuntungan" tidak ada beban satupun di perkataan Jungkook.

"Tapi nona mengalami kecelakaan setelahnya. Tidakkah kau membencinya?"

"Untuk apa?"

Jungkook tidak suka dengan orang yang tidak tau apapun serta terlalu ikut campur ke dalam masalahnya. Nada bicaranya jelas terdengar kesal saat ini.

"Jika saja nona tidak bertemu dia mungkin nona tidak akan buta. Anak laki-laki itu sudah merebut cahaya hidupmu Kim Jungkook"

"Siapa kau berani menghakiminya? Tau apa tentang kejadian masa laluku?"

"Aku tau nona… aku tau karna aku-"

Tidak. Taehyung tidak sanggup mengatakannya. Nafas keduanya sama-sama memburu. Entah kenapa suasana diantara mereka jadi se-emosional ini hanya karena gelang. Keduanya cukup terdiam lama dengan amarah masing-masing.

"Kau tau apa Taehyung?"

Bukannya menjawab Taehyung justru mendekatkan diri pada Jungkook. Tangan kekar pemuda itu meraih tengkuk si gadis dan memagut bibirnya dalam. Gerakannya sedikit kasar karena emosi yang meledak. Jungkook? Jangan tanya gadis itu membelalakkan matanya terkejut. Tangannya berusaha mendorong tubuh tegap Taehyung namun itu hanya terasa sia-sia.

Laki-laki itu semakin liar mencium setiap inci bibir Jungkook, bahkan sesekali menggigit bibir lawannya tipis untuk meminta akses. Jungkook tidak bisa tidak melenguh. Desahan itu lolos beberapa kali, bahkan mata si gadis sudah terpejam dan mulai mebalas ciuman Taehyung meski tidak seimbang. Keduanya sama-sama menyalurkan emosi membara yang mendadak timbul diantara mereka.

Jika saja tidak ingat mereka sedang berada di sauna mungkin Taehyung sudah melakukan hal yang lebih pada Jungkook. Keduanya baru melepaskan pagutan saat pasokan udara mulai menipis. Baik Jungkook maupun Taehyung terdiap sejenak untuk mencerna apa yang barusaja terjadi.

PLAK

Tangan Jungkook memang ajaib, seperti punya mata. Tamparannya mendarat sempurna mengenai pipi kiri Taehyung. Namun bukannya marah justru laki-laki itu mendecih dan melontarkan kalimat yang menurut Jungkook sangat menjijikkan.

"Bibirmu manis" terdengar seperti pujian sekaligus pelecehan di telinga Jungkook

"Brengsek kau Tae"

"Maaf"

Taehyung mengulurkan sebelah tangannya untuk menghapus lelehan saliva di sudut bibir Jungkook. Setelah ini mungkin gadis itu akan membenci dirinya. Tapi tidak apa. Akan lebih baik jika nona mudanya ini mengingat dirinya sebagai laki-laki brengsek daripada harus diingat sebagai orang baik padahal faktanya berlainan.

.

.

~ BLIND ~

.

.

Peristiwa yang barusaja terjadi di sauna tampaknya tidak cukup membuat Jungkook dapat membenci Taehyung. Buktinya sekarang mereka berdua sudah ada di keramaian alun-alun kota untuk melihat kembang api. Satu tangan Jungkook di genggam Taehyung dan satunya ia gunakan untuk menggenggam kembang gula yang baru dibeli.

"Apakah kembang gulanya seenak itu? Makanan manis tidak baik jika dikonsumsi berlebihan"

"Tentu saja tidak baik karna aku sudah terlalu manis. Benar kan?"

Tidak pernah Taehyung sangka jika putri Kim Namjoon memiliki tingkat narsis yang cukup tinggi. Ia hanya tertawa membenarkan perkataan Jungkook. Tidak sepenuhnya salah.

"Nona"

Pundak Jungkook sedikit ditarik untuk menghadap si laki-laki. Gadis itu masih diam menunggu apalagi kalimat aneh yang akan keluar dari mulut bodyguard kurang ajarnya ini.

"Jika suatu saat terjadi sesuatu yang menyakitkan diantara kita apa Nona Kookie mau memaafkanku?"

"Taehyung… Kau bodyguarku, walaupun harus ku akui kau sudah sangat kurang ajar. Apa yang kau harapkan dari kita berdua? Tidak akan ada sesuatu yang serius terjadi"

"Bukannya tidak, hanya belum"

"Omonganmu mulai melantur seperti eomma"

Langkah gadis itu menjadi sedikit cepat saat sedang kesal. Susah payah Taehyung berusaha mengimbangi untuk berada di sampingnya kembali.

"Biar ku akui sesuatu" Lihat? Gadis itu berhenti melangkah dengan satu kalimat

"Tidak ada banyak waktu karena kembang api akan menyala. Katakan!"

CIIIT

DUAAR

DUAAAR

DAAR

Waktu tidak memihak Taehyung. Kembang api sudah menyala. Dan lagi bukannya menjawab Taehyung justru merengkuh Jungkook dalam pelukannya. Sepertinya sudah tidak terhitung berapa kali Jungkook dibuat terkejut hari ini.

"Aku mencintaimu. Ini salah, tapi memang itu kenyataannya. Kurasa aku mulai mencintaimu Kim Jungkook"

"A-apa?"

Bibir Jungkook menjadi kelu. Sepertinya memang sudah tidak ada status majikan dan bodyguard lagi diantara mereka. Bagaimana bisa… laki-laki itu mengatakan menyukai dirinya tanpa ragu.

"Mari saling jujur. Apa nona juga mencintaiku?"

Posisi keduanya masih berpelukan di tengah kerumunan orang yang menyaksikan kembang api. Lima menit. Tidak terjadi apapun diantara mereka selama lima menit entah percakapan atau pergerakan.

"A-aku… tidak tau"

Taehyung melepas pelukannya dan memandang Jungkook sekilas. Tangan yang tadinya bertaut kini berlahan terlepas.

"Dengarkan aku baik-baik Jungkookie-"

Ah, rasanya sudah lama sekali Taehyung tidak melontarkan panggilan yang begitu Jungkook rindukan.

"Bila suatu saat kita bertemu lagi maka ingatlah aku sebagai Kim Taehyung. Bukan Taehyung"

"Apa maksudmu?"

Perasaan si gadis mendadak terasa sesak. Masalahnya adalah Taehyung tidak punya nama keluarga. Lalu, bagaimana marga Kim itu bisa tersemat? Apa ia meminta Jungkook mengingat dirinya sebagai orang lain? Apa mungkin ibu Taehyung akan menikah lagi sehingga kini anak itu memiliki nama keluarga. Sungguh Jungkook bingung setengah mati.

"Tunggu disini! Jangan pergi kemanapun barang selangkah"

Tampaknya itu adalah kalimat terakhir yang Taehyung ucapkan pada Jungkook. Meski berada di keramaian gadis itu dapat mendengar jika langkah kaki si laki-laki menjauh.

"T-tunggu. Kau akan kembali bukan?"

Sempat Taehyung berhenti sejenak membalikkan badan untuk melihat Jungkook yang mulai ketakutan dalam jangkauan sepuluh meter. Ingin ia kembali tapi tidak bisa. 'Maaf Jungkookie, aku memang mencintaimu. Namun sejenak saja biarkan ayahmu merasakan rasanya kehilangan anak yang begitu ia sayangi. Aku tidak pernah membencimu'.

"T-Taehyung!

"Ini tidak lucu. KIM TAEHYUNG!"

Tidak satupun orang yang berlalu lalang peduli pada gadis buta yang mulai khawatir itu. Sesekali mereka hanya melirik dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Kini Jungkook hanya dapat berjongkok sambil memeluk lututnya. Isakan tangis mulai terdengar dari bibir mungilnya. Ia takut ditinggalkan sendirian. Ia takut jika tidak akan bertemu orang-orang yang dicintainya lagi. Ia… tampaknya mulai hari ini Jungkook harus membenci Taehyung.

"Aku membencimu. Sungguh"

.

.

.

TBC

A/N :

Anyeong hehehe

Aku kembali bawa update an. Semoga ceritanya tidak semakin melantur ya xixixi

Mungkin cerita ini bakal tamat 3-4 chapter lagi, jadi siapin diri oke?

Have a nice day. Jangan lupa vote dan komennya ^_^