Disclaimer: I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.
Satu tahun kemudian ...
Kagome yang tidur dengan posisi menelungkup terbangun dengan cahaya putih yang menyorot tepat ke matanya. Dengan mata memicing, ia memindai sekitarnya selama sejenak. Tak ada satu jiwa pun di sampingnya, Naraku maupun Kagura. Dan itu bagus, sangat, sangat bagus. Kehadiran orang lain di sisinya tak membuat waktu pagi menjadi lebih mudah baginya.
Oh, betapa ia membenci pagi.
Mengapa? Sebab pagi hari adalah saat-saat puncak ia merasa seperti sampah; Hangover karena terlalu banyak alkohol yang ia konsumsi di malam sebelumnya, belum lagi efek samping yang ia derita atas permintaan Naraku yang seringkali meninggalkan lebih dari sekedar rasa tidak nyaman di tubuhnya.
Sambil mengerang, ia memutar kepala ke sisi yang satunya. Tanpa mau repot menutup tubuh telanjangnya dengan selimut, putri kedua keluarga Higurashi itu kembali memejamkan mata. Sayangnya, berusaha untuk kembali tertidur saat itu sama sekali bukan pilihan karena tak hanya sinar sang surya yang membencinya, tapi juga ponsel pintarnya.
Bunyi nyaring itu menusuk gendang telinganya, membuat kepalanya yang berat kian sakit. Bertekad membungkam dering yang mengganggu tidurnya, Kagome mengerahkan seluruh tenaga yang ada. Dengan mata terpejam, tangan kanannya meraba-raba ke atas nakas yang ada di samping kiri ranjang, usahanya itu tanpa hasil. Tangan kirinya pun ikut mencari di atas kasur, tapi sama saja, nihil.
'Crap!'
Mau tak mau ia membuka mata, lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai kemudian bangkit. Saat ia berdiri, seketika itu juga ruangan tempatnya berada berputar cepat. Tak kuasa menahan sakit yang menghantam kepalanya karena alkohol, Kagome memutuskan untuk berbaring miring sejenak dan menutup muka dengan bantal.
'Urgh, siapapun yang menelpon bisa menunggu sampai Gurun Sahara di kerongkonganku menghilang dan pening di kepalaku mereda.' Pikirnya.
Setelah beberapa waktu lamanya, barulah ia tersadar bahwa bunyi itu bukanlah nada dering yang ia gunakan sebagai penanda telepon masuk dan raungan yang sangat mengganggu itu adalah alarm yang ia pasang untuk mengingatkannya akan janji yang ia miliki.
Perlahan ia mengangkat badan, setelah bertumpu pada sikunya beberapa saat, barulah Kagome berani duduk tegak. Ponselnya berdering lagi, kali ini ia dapat merasakan sedikit getaran tak jauh dari kakinya. Segera ia membungkukkan tubuh tuk meraih benda yang kemungkinan besar berada di kolong ranjang itu, namun, tiba-tiba, area intimnya teregang dengan tidak menyenangkan, sengatan rasa perih di bagian tertentu seakan menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya.
Dengan wajah meringis, Kagome mendesiskan umpatan, "Kagura sialan!" Lain kali akan kusuruh, tidak, aku sendirilah yang akan mencopot kuku-kuku palsu bodohnya itu.
Dengan bertumpu pada kedua lutut dan tangannya, Kagome berhasil meraih ponselnya yang berada di kolong ranjang. Jari telunjuknya menekan layar dengan tenaga lebih dari yang diperlukan, dengan itu, dering yang sebelumnya memekakkan telinga kini telah lenyap. Untuk beberapa lamanya, mata gadis itu terpaku pada layar. Ia masih memiliki waktu empat puluh lima menit sebelum memenuhi janji. Janji untuk bertemu sang ibu.
.
.
.
Tembok bercat putih. Pintu kayu berwarna cokelat. Lorong itu minim hiasan. Satu lantai di Rumah Sakit itu minim kehidupan. Tidak ada jendela di deretan ruang perawatan khusus yang terlihat, hanya beberapa pintu yang ia lewati yang berisi kesunyian. Satu-satunya suara yang ada di lorong itu berasal dari bunyi langkahnya, dan bunyi itu terhenti tatkala Kagome sampai di depan salah satu pintu. Tangannya membeku di knop selama beberapa saat ketika secara samar ia mendengar sedu-sedan dari dalam ruangan. Mengusir ragu, ia membuka pintu itu dan melangkah masuk.
Wanita paruh baya yang duduk di samping ranjang segera menyeka wajahnya yang basah, bangkit dari duduk, lalu memeluknya sambil memasang senyum lebar. "Kagome!" Sambut sang ibu dengan riang. Pelukan terlerai, Hitomi mengajak Kagome duduk di sofa yang ada di sudut ruangan, gadis itu menurut. Setelah mereka duduk berhadap-hadapan, si ibu bertanya, "Bagaimana kabarmu di sana?"
Kagome menampilkan wajah ceria terbaiknya. "Baik, Mama."
Dan gadis itu pun balik bertanya tentang keadaan adik dan kakeknya, juga kabar sang ibu sendiri. Hitomi menjawab dengan pendek bahwa semuanya dalam keadaan baik. Setelah itu, wanita berwajah teduh itu terus menghujani sang anak dengan berbagai macam pertanyaan; Tentang makanan yang ia makan, tebalnya selimut yang ia kenakan kala malam, dan beberapa pertanyaan lain yang wajarnya seorang ibu tanyakan pada gadis kecilnya. Tak lama, pembicaraan sang ibu beralih ke sebuah merk selimut yang terkenal kualitasnya sebelum bergulir ke sebuah Departemen Store besar yang sedang mengadakan diskon besar-besaran di hari jadinya yang ke lima belas.
Pada awalnya, Kagome menjalani perannya sebagai lawan bicara yang cukup baik, ia mendengarkan, menjawab, dan mencetuskan pertanyaan yang mengundang puluhan topik menarik untuk diangkat Hitomi. Tapi itu tak bertahan lama, menatap wajah keibuan itu sedikit membuat gadis itu merapuh. Betapa ia ingin memeluk wanita itu seperti saat ia kecil dulu, menangis sejadi-jadinya dalam dekapan sang ibunda, dan tanpa beban mengungkapkan semua kekalutan jiwanya selama satu tahun terakhir ini.
"Kagome?"
Panggilan ibunya membuat gadis itu tertarik dari lamunan. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mengusir cairan kesedihan yang entah sejak kapan muncul, kemudian mengangguk, "Hai', Mama."
"Aku menyesal tidak membawakan makanan kesukaanmu." Paham dengan wajah kebingungan sang anak, Hitomi tersenyum lembut sebelum mengulangi pertanyaannya. "Tadi aku tanya apakah kau sudah makan, tapi kau tidak mendengar."
"Oh."
Belum sempat Kagome memberikan respons lengkap, sang ibu bertanya lagi. "Kau ingin kubelikan makanan?"
Kagome menghela napas diam-diam sambil menepis desakan untuk kembali tenggelam dalam lamunan dan memilih untuk fokus dengan perbincangan antara ia dan ibunya. Ia menata ekspresi dan memasang senyum manisnya sebelum menjawab. "Itu tidak perlu. Aku sudah makan, Mama."
Bukan seorang ibu namanya bila Hitomi tidak menyadari ada sesuatu yang tak biasa pada salah satu anaknya. "Apa kau tidak enak badan?" Tanya sang ibu lagi sambil menyibak poni Kagome lalu menempelkan dahinya di dahi anak gadisnya.
Setelah sang ibu kembali mundur untuk dapat menatapnya dengan jelas, Kagome berucap, "aku baik-baik saja, Mama."
"Benarkah?" Hitomi mengamati anaknya sejenak. "Kau terlihat pucat."
"Sungguh, aku tidak apa-apa." Bayangan malam sebelumnya berkelebat, salah satu perintah ganjil Naraku saat berhubungan seks membuatnya tidak bisa tidur dengan posisi terlentang nyaman di atas kasur. "Hanya kurang tidur kurasa," sambung Kagome sambil menggaruk pipinya.
"Kau harus menjaga kesehatanmu, Kagome." Sang anak mengangguk, Hitomi berkata lagi, "Tunggu di sini sebentar, tepat satu lantai di bawah kita ada deretan vending machine, kurasa di sana ada minuman segar yang mengandung vitamin C untukmu."
Hitomi baru berhenti dari racauannya setelah Kagome menyentuh lembut kedua lengan ibunya, menatapnya lekat sambil bertutur dengan serius. "Aku baik-baik saja, Mama." Setelah jeda beberapa saat, Kagome bertanya, "Apa kata sensei tentang keadaan terakhir nee-chan?"
Mengingat operasi yang di lakukan untuk mengurangi pembengkakkan otak karena koma yang dilaksanakan tadi pagi membuat bibir ibunya bergetar, sudut-sudutnya tertarik ke bawah, alisnya berkumpul di tengah, kerut-kerut kemurungan kian terlihat dalam, air kesedihan berkubang di kedua matanya. Kagome mengelus halus lengan ibunya, berusaha memberikan kenyamanan. Ia berdiri, mendekati ranjang tempat sang kakak terbaring, lalu lanjut bertanya, "Apakah ada kemajuan?"
Dua bulir air mata jatuh dari ekor mata sang ibu saat wanita paruh baya itu menggeleng, cepat-cepat Hitomi menghapus air mata dengan saputangan yang terus ia genggam. Wanita itu memalingkan wajah ke kanan, memandang putri tertuanya yang sudah sebelas bulan terbaring dalam keadaan koma. Ia menggeleng kecil. Di tengah keputusasaan dan frustrasi, pipi Hitomi kembali terbelah oleh jejak air mata yang mengalir.
Gadis itu mengikuti pandangan sang ibu, wanita yang dilihatnya berbeda dengan kakak yang dikenalnya. Kagome bangkit dari duduknya, perlahan ia mendekati kakak perempuannya yang terbaring. Lekat-lekat ia mengamati wajah itu, tak ada tatapan tajam dan tegas yang hampir selalu kakaknya perlihatkan. Bukan make-up yang menghiasi Kikyou, tapi berbagai selang penopang kehidupan. Helaian rambut hitam kelam yang indah tergantikan oleh lilitan perban. Wajah tidur itu terlihat damai namun terkesan lemah. Kekuatan yang terpancar dari kepribadian sang kakak tergerus penyakit langka yang dideritanya. Penyakit langka yang juga menjadi belenggu sang adik di dasar neraka.
Tak pernah Kagome mengira musibah seperti itu akan menimpa salah satu anggota keluarganya. Hal-hal mengerikan memang selalu terjadi setiap hari di belahan bumi lain, tapi bukan pada kakaknya sendiri. Bencana terbesar yang menimpa Higurashi berawal dari kepergian Kikyou yang menemani bosnya liburan ke benua yang berbeda. Beberapa minggu setelah kepulangannya, Kikyou mengalami demam tinggi. Bersamaan dengan itu, ia merasakan rasa sakit yang tak tertahankan pada betis kanannya. Hingga saat ini, wajah kesakitan sang kakak pada senja itu masih tergambar jelas di benak Kagome.
Di Rumah Sakit terdekat tempat pertama kali Kikyou dirawat itulah kabar mengerikan menyelimuti keluarga Higurashi. Berdasarkan gejala yang dialami, uji sampel darah, dan beberapa tes lain yang diperlukan, para dokter mendiagnosis penyakit yang menyerang Kikyou adalah infeksi Necrotizing Fasciitis. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri pemakan daging.
Bakteri yang memasuki tubuh Kikyou itu tumbuh dan berkembang biak dengan sangat cepat. Infeksi menyebar lebih dalam dan besar secara instan. Alhasil, toksin serta enzim yang dihasilkan oleh bakteri itu menyerang dan menghancurkan jaringan lunak dan selaput-selaput jaringan yang melindungi otot. Kematian dalam waktu dua puluh empat jam dapat dipastikan jika jaringan-jaringan rusak itu dibiarkan. Oleh karena itu, prosedur operasi adalah suatu kemutlakan. Amputasi pun dilakukan.
Sayangnya, kelegaan tak lantas mendekap semua anggota keluarga Higurashi. Riwayat diabetes melitus Kikyou membuatnya terjebak dalam keadaan koma. Kini ia hidup tapi seakan mati. Mati tapi bernapas. Dan selama ia tak sadarkan diri, bakteri itu terus merajai tubuhnya. Tak ada vaksin yang dapat melawan bakteri pemakan daging manusia, setidaknya, belum ditemukan. Satu-satunya harapan ada pada antibiotik yang diberikan untuk melawan infeksi dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
Tapi sepertinya harapan itu pun kian lama kian menipis. Antibiotik yang diberikan seakan hanya memperlambat perkembangbiakan bakteri tanpa menyembuhkan infeksi seutuhnya. Sudah empat kali prosedur operasi dilakukan dalam satu tahun, sang kakak telah kehilangan kaki kanan hingga lutut dan tangan kiri sebatas lengan. Meski ratusan hari telah berlalu, tak ada tanda bakteri itu menyerah, sama halnya dengan Kikyou.
Kedua tangan Kagome menggengam tangan kanan Kikyou, dengan penuh kasih sayang ia mengelus punggung tangan yang bengkak karena infus itu. Gadis itu tak sudi memikirkan hilangnya tangan sang kakak yang satu lagi, dan ia tak ingin melakukan pengandaian seperti; Jika saja ia bisa menggengam kedua tangan kakaknya seperti dulu saat mereka kecil, bermain toryanase bersama kawan lainnya di halaman kuil. Jika saja ...
Sepintas pikiran usang lagi-lagi meracuni benaknya, gadis itu menggeleng kuat-kuat. Kagome tak ingin membayangkan apa yang akan kakaknya rasakan saat ia terbangun nanti, yang pasti sekarang adalah ia harus terus berupaya mempertahankan satu nyawa orang yang dicintainya. Meski dalam keheneningan, sang kakak terus berjuang. Dan itu pula yang harus ia lakukan.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya, gadis itu menoleh. "Kagome, kau tidak akan percaya, minggu lalu adikmu~" Sang ibu menuntun Kagome untuk kembali duduk di sofa, dan detik-detik berikutnya diisi dengan kicauan panjang lebar Hitomi tentang Souta dan kakeknya dengan senyum tertoreh dan suara yang riang.
Gadis itu membalas senyum sang ibu, dibalik itu semua, Kagome tahu, semenjak kakaknya jatuh sakit, duka itu hanya terpendam dan tak pernah meninggalkan wanita yang telah melahirkannya. Ia paham, mengapa ibunya suka sekali membicarakan hal lain selain kakaknya kala berhadapan dengannya, itu karena ibunya tak ingin terlihat rapuh di matanya. Ibunya terlalu penyayang pada semua anak-anaknya sehingga ia ingin Kagome dan Souta menjalani hidup sepenuhnya tanpa dibayangi nasib tragis sang kakak. Hitomi ingin menanggung kesedihan seorang diri.
Tentu saja itu tak berlaku pada Kagome. Tabiat sang ibu mengalir deras di darahnya, ia takkan dapat berbahagia bila wajah orang-orang yang disayanginya masih basah oleh tetes air mata. Tekadnya teguh, ia 'kan menanggung apapun demi mereka yang tercinta.
Beberapa menit berlalu, pembicaraan beralih pada topik favorit sang ibu pada kebesaran hati yang dimiliki Naraku. Pria pemilik dua perusahaan besar dan beberapa bisnis properti itu telah bersedia membiayai seluruh biaya perawatan mahal anaknya, memperkerjakan putrinya yang lain, juga memberikan Kagome tempat tinggal yang berdekatan dengan kantornya. Sepanjang percakapan yang menjadikan Naraku sebagai topik utama, Kagome hanya menjawab pendek, mengangguk, tanpa pernah melepas senyum.
Mereka memang tidak tinggal di kota dengan biaya hidup termahal di dunia, tapi tetap saja, biaya hidup di tengah Kota Tokyo mengharuskan mereka mengencangkan ikat pinggang. Dan Naraku benar-benar menjadi Dewa Penolong di mata keluarganya. Sebuah kenyataan yang tak dapat Kagome sangkal. Pasalnya, dengan seluruh tanah yang dimiliki keluarganya pun takkan cukup membiayai perawatan intensif sang kakak selama satu bulan penuh.
Sejatinya, tidak seperti yang terlihat di mata keluarganya, Naraku bukanlah seorang pimpinan yang dermawan. Kedatangan Kagome tuk mengabarkan kondisi sang kakak pada awalnya hanya mendapatkan pengabaian dari pria itu. Akan tetapi, ketidakacuhan itu berubah drastis ketika wajah manis dan kemolekan tubuh khas remaja milik Kagome membetot perhatian Naraku.
Tawaran pekerjaan dicetuskan oleh pria itu. Demi pengobatan sang kakak, sudah tentu Kagome yang baru saja menyelesaikan kuliahnya segera mengiyakan tawaran itu. Setelah beberapa hari berlalu, Kagome menangkap maksud tersembunyi sang bos. Pada awalnya, ia menolak dengan halus namun tegas. Tapi penolakan itu berubah menjadi penyerahan diri ketika pada akhirnya Kagome termakan ancaman Naraku. Pria itu berniat menghentikan suntikan dana bila ia tak mau melakukan apa yang Naraku sebut sebagai pekerjaan Kikyou yang sebenarnya. Dan tentu saja penghentian bantuan hanya berarti satu hal, kematian kakaknya.
Getir kenyataan ia telan seorang diri. Kagome rela melupakan norma-norma bila itu berarti ia bisa menjaga lekuk senyum di wajah sang ibu. Dan, dengan senang hati ia pun bersedia menyangkal moral demi melihat garis penanda kehidupan sang kakak di mesin EKG tetap melonjak naik dan turun.
Pahit memang harus menyerahkan diri sepenuhnya pada laki-laki yang tak dicintai, tapi itu semua sepadan bila ia dapat melihat binar kebahagiaan dan kehidupan pada orang-orang yang ia sayangi.
Hanya kurang lebih tiga puluh menit waktu yang dihabiskan Kagome bersama sang ibunda tercinta. Setelah mentransfer sejumlah uang ke rekening ibunya untuk keperluan sehari-hari dan sekolah Souta lewat ponselnya, mereka berpisah. Tak ada keinginannya 'tuk menikmati kebersamaan dengan sang ibu lebih lama lagi. Melihat kebahagiaan wanita itu untuknya, hanya membuat hatinya tercabik-cabik. Ia tak tahu entah bagaimana reaksi ibunya bila mengetahui kisahnya yang sebenarnya. Dan ia berniat menjaga hal itu tetap menjadi sebuah rahasia. Hingga kapanpun.
Kagome melangkahkan kaki tanpa mau menengok gedung yang baru saja ditinggalkannya. Ketika membelah jalan di kota Tokyo pada musim dingin, ia mengeratkan mantelnya. Setelah melihat keadaan Kikyou, dia semakin yakin bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain menggantikan posisi sang kakak di kehidupan Naraku. Akan tetapi, tak dapat dipungkiri, sebagian dirinya yang lain bersyukur.
Hidup bersama Naraku yang hampir dapat dikatakan sebagai penderita hyper sex hanya menjadi konsekuensi ringan atas pengorbanan yang ia lakukan untuk keluarganya. Terlepas dari segala permintaan kala berhubungan yang tidak biasa, sifat arogan, otoriter, dan menuntut yang dimiliki pria itu, secara keseluruhan ia lebih dari tercukupi. Sandang, pangan, maupun papan tak pernah menjadi kekhawatiran. Rasa pedih kala terperangkap di balik jeruji emas, kepiluan sebagai boneka pemuas hasrat semata, dan sesak hati disaat ia merasa hanya menjadi sebuah properti yang dapat Naraku pamerkan pada kolega-kolega bisnisnya terpinggirkan.
Kagome yakin, tak peduli sekelam apapun garis nasib yang harus dijalaninya, akan selalu ada hal yang patut disyukuri. Ia masih dapat berjalan di kulit terluar bumi, menatap birunya langit, menghirup dalam-dalam udara yang penuh polusi. Dan yang terpenting, walau tidak dengan takdirnya, ia masih memiliki kuasa atas tubuhnya. Kedua penghujung bibir gadis itu menekuk ke atas, ia tersenyum, dan berterima kasih pada siapapun yang sedang menatapnya dari atas sana.
Sayangnya, tak lama lagi, Kagome baru akan mengerti bahwa bencana yang menimpanya hanyalah sebuah awal. Dan bagian terburuk hidupnya baru saja akan dimulai.
~Bersambung~
End notes: Special thanks to dokter INOcent Cassiopeia yg udah mau direpotin dgn banyak pertanyaan seputar medis utk chapter ini.
Terima kasih buat semua yang fav, follow, dan review. Minna saiko arigatou.
