Chapter 3 – Gold, Silver, and Platinum.

Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.


Kagome melewati gerbang otomatis yang dibukakan oleh salah satu penjaga dari posnya. Dengan langkah mantap ia berjalan di atas bebatuan alam yang ditata sedemikian rupa sehingga menjadi jalan setapak menuju pintu masuk utama sebuah rumah besar bercat putih yang jauh dari pusat kota. Bertentangan dengan gaya klasik modern yang menjadi konsep bangunannya, taman di rumah itu kental dengan sentuhan tradisional Jepang; kolam ikan, pojok bonsai, dan replika air mancur yang akan meneduhkan mata siapapun yang memandangnya.

Tanpa mengeluarkan banyak tenaga, Kagome mendorong salah satu daun pintu setinggi satu setengah meter itu. Ketidakhadiran satu pelayan pun yang menyambutnya pada Sabtu siang itu tak membuat Kagome kaget lagi, Kagura pasti sedang merencanakan sesuatu. Dengan tenang gadis itu menyusuri lorong di lantai dasar, melewati ruang baca dan beberapa ruang lainnya sebelum menuju dapur.

Kemewahan tempat yang menjadi kediaman Naraku itu lebih terlihat di bagian dalamnya. Langit-langit bangunan itu tinggi. Hampir di seluruh lantai, marmer yang berpola indah dilapisi oleh karpet tebal. Berbagai benda antik dan koleksi seni bernilai cukup tinggi menjadi penghias di beberapa ruangan. Megah dan mewah, adalah dua kata yang sangat tepat untuk menggambarkan tempat itu.

Baru saja Kagome melangkah ke dapur luas berbentuk 'L' dengan center island di tengah ruangan, ia sudah disuguhi oleh adegan tak senonoh antara Kagura dan Kouga yang tak memakai selembar pakaian pun. Sama persis seperti pemiliknya, rumah itu hanya tampak sangat indah bila dinilai dari luar.

Dengan tubuh bagian atas yang bertopang pada kedua sikunya, Kagura duduk di atas center island_selain Naraku, tempat itu adalah tempat favorit kebanyakan penghuni rumah menyantap makanan.

Apa yang dilihat dan didengar Kagome bukanlah sesuatu yang biasa terjadi di dapur. Tapi, apapun bisa terjadi di tempat tinggalnya yang sekarang. Sudah lebih dari sepuluh bulan Naraku memboyongnya ke rumah itu. Ia terjebak di sangkar mewah bersama Kagura, seniornya, yang seorang nymphomaniac. Jadi, apa yang dilihatnya sekarang tak lagi membuat kedua matanya terbelalak. Tak memperdulikan keduanya, Kagome memalingkan muka dan berjalan lurus menuju lemari es.

"Oi, Wanitaku." Sapa Kouga berusaha ramah meski dengan napas yang terengah-engah. Tanpa menoleh, Kagome menjawab hanya dengan gumaman dan sebuah anggukan kecil.

Kagura yang baru menyadari keberadaan gadis itu membuka mata, mendongakkan kepalanya agar dapat melihat Kagome yang ada di belakangnya dan bertanya dengan santai, "Dari mana saja kau?"

Atas nama kesopanan yang mendarah daging di dalam dirinya, Kagome menoleh dan menatap Kagura tepat di mata. "Rumah sakit."

Bibirnya terpisah, Kagura sudah siap mengatakan sesuatu seperti 'Oh, hari liburmu diisi untuk menemui kakakmu yang mayat hidup itu lagi, ya?' Tapi, kalimat tajam itu urung ia luncurkan, ada sesuatu di tatapan datar yang Kagome arahkan padanya yang membuat wanita itu menutup mulut di detik-detik terakhir. "Sebenarnya aku tak peduli, tapi kau harus tahu bahwa Naraku ingin aku mempersiapkanmu untuk malam nanti. Ia ingin kau menemaninya untuk bertemu dengan seorang rekan bisnis penting di klub!"

Kagome mengerang, bertandang ke klub striptease yang dimiliki pria itu sama sekali tidak menggugahnya. Seiring waktu, Kagome pun paham bahwa di tempat itulah Naraku melakukan perjanjian kotor dengan banyak orang demi melancarkan jalannya untuk meraih sesuatu. Dan mungkin, di tempat itu pula perjanjian yang membuat ia terbelenggu dalam neraka dunia telah tercipta.

Subsidi pemerintah Jepang dalam bentuk jaminan kesehatan yang dianggap sebagai sistem asuransi kesehatan terbaik di seluruh dunia dan banyak diadopsi oleh negara lain pun memiliki cacat. Contoh nyata adalah kasus kakaknya. Entah trik kotor apa yang dilakukan oleh Naraku sehingga instansi kesehatan dari pemerintah yang menangani penyakit langka Kikyou terkesan tak melakukan upaya semaksimal mungkin. Antibiotik yang diberikan untuk melawan infeksi dan memperkuat sistem kekebalan tubuh kakaknya tidak tersedia di Jepang. Oleh karena itulah penolakan awalnya menjadi sebuah penerimaan. Demi meraih kesembuhan sang kakak, ia membutuhkan bantuan dari Naraku.

"Hei, aku sedang berbicara denganmu!"

Setelah Kagura menegur dengan ketus barulah Kagome menyahut pendek, "Baiklah." Sebuah senyum miris mendominasi wajahnya saat sisi pesimis gadis pemilik safir biru sendu itu mengambil alih. Yang terbaik yang Kagome harapkan untuk nasibnya sendiri adalah ia tidak berakhir seperti Kagura, boneka seks yang telah lama terlupakan tapi tidak benar-benar terbebas dari belenggu sang tuan.

Gadis itu menghela napas, lalu membelakangi pasangan yang sedang bergumul layaknya hewan itu. Kagome memindai isi lemari es sejenak sebelum mengambil dua potong sandwich, membuka plastik pembungkusnya, meletakkannya di piring, memasukkan makanan itu ke dalam microwave, lalu mengatur suhu dan waktu mesin itu.

Sambil menunggu makanannya hangat, ia berdiri dekat jendela dan memandang ke taman kecil di halaman belakang. Belum sempat Kagome mengagumi keindahan yang ada, bunyi aneh yang tercipta entah karena kulit basah yang terseret di atas meja marmer atau karena posisi yang tak pas antara Kouga dan Kagura membuat wajahnya mengernyit di tengah. Saat itu, desakkan untuk memakan sandwich dingin begitu besar.

Tanpa menoleh, Kagome bertutur, "Kalian tahu bahwa aku takkan berbicara tentang apapun-hubungan-kalian pada Naraku, ya kan?" Tentu saja, pria itu takkan bahagia mendengar Kagura, salah satu bonekanya, menjalin hubungan dengan Kepala Keamanan rumahnya. "Dan aku mengerti bahwa tidak ada CCTV di dapur ini, tapi ...," gadis itu memutar badan, dengan satu tangan yang terulur, Kagome menunjuk meja kokoh berlapis marmer tempat keduanya memadu kasih. "Bisakah kalian tidak melakukannya di sana, di center island, tempat makanan disiapkan dan dihidangkan?"

Keberatan Kagome sama sekali diabaikan oleh keduanya.

"Tidakkah kau lihat bahwa kami sedang mencicipi satu sama lain? Bergabunglah dengan kami, Kagome," ajak Kouga sambil terkekeh.

Dengan keputusasaan, Kagome melipat kedua tangan di atas dada.

Keluar dari topik yang ada, Kagura pun berkicau, "Kagome, asal kau tahu saja, aku rela bertukar tempat denganmu demi menemui pria itu." Wanita itu mendesah. "Meski terkesan dingin, ia teramat tampan, tubuhnya pun sangat gagah. Hanya dengan menatap sorot matanya yang tajam saja sudah membuat celana dalamku basah." Kagura memejamkan mata. "Andai aku dapat bersamanya, walau hanya semalam." Wanita berumur dua puluh sembilan tahun itu hampir saja menjelaskan secara panjang lebar isi fantasinya sebelum menjerit sakit karena sebuah tamparan keras yang Kouga berikan pada buah dada miliknya yang terabaikan.

"Saat ini kau seharusnya hanya memusatkan perhatianmu hanya kepadaku, Jalang!" Bentak Kouga.

Tak mau kalah, Kagura membalas dengan sengit. "Kau yang lebih dulu memecah perhatian dengan menyapanya, Brengsek!" Ia menarik napas sebelum kembali menyemburkan kalimat-kalimat umpatan yang muncul begitu saja di kepalanya. "Keparat! Memangnya aku tidak tahu bahwa pria busuk seperti kau pun menginginkannya?"

Kedua alis Kagome berkumpul di tengah.

"Siapa yang tidak? Kagome masih muda! Tubuh dan wajahnya menjanjikan seks yang hebat!? Semua laki-laki normal pasti akan berpikiran sama denganku."

Gadis pemilik safir biru itu menutup mata dan menghitung satu sampai sepuluh secara lambat-lambat dalam benak.

Dengan mata terbelalak, Kagura yang tak percaya dengan apa yang didengarnya bertanya histeris, "lalu, aku?!"

Anak kedua di keluarga Higurashi itu pun kian merasa jengah.

Kesal dan tak tahu harus berkata apa, Kouga hampir menarik lepas dirinya dari wanita itu. "Kau ingin aku mengatakan apa, hah? Kau ingin aku mengatakan hal klise seperti cinta?"

Kepala Kagome mulai berdenyut.

"Aku bosan dengan semua perhatian yang ditujukan padanya, tidak kau, tidak Naraku." Satu tangan Kagura mencengkram lengan Kouga hingga kuku-kuku palsunya terbenam kian dalam, sedangkan kakinya semakin erat memeluk pinggang pria itu. "Apa yang aku inginkan adalah kau terus menyetubuhiku dengan lebih cepat!" Kagura menghentak pinggulnya dengan kuat sebelum kembali mundur ke posisi semula. Kemudian, dengan suara yang mendesah ia bertitah, "Lebih dalam!" Wanita itu merintih dan mengerang, "Ngh..., dan lebih kuat!"

Pasangan itu bertatapan. Dengan rahang terkatup rapat Kagura memerintah, "Gagahi aku seperti pria bedebah seperti kau seharusnya lakukan!"

Suara pria itu kian berat dan dalam, Kouga hampir terdengar seperti meraung saat berkata, "Dasar wanita jalang! Kau suka aku berlaku kasar, hah?" Intonasi Kouga terdengar sadis saat ia menggumamkan satu kata, "bagus." Dengan cepat, pria berkuncir kuda itu menggenggam kedua pergelangan tangan Kagura, menghentakan tubuh bagian atas wanita itu dengan keras di atas marmer. Di menit-menit berikutnya, pria itu melakukan semua yang diinginkan wanita itu. Ia menghujamnya dengan kasar, cepat, dan semakin dalam.

Suara desahan dan hentakan kulit yang berbenturan. Bunyi hisapan kuat yang terlepas, lenguh tertahan, dan desis kenikmatan saling bersahutan. Kagome merasa muak. Muak kepada Kagura dan Kouga. Muak pula kepada dirinya sendiri ketika ia merasakan celana dalamnya ikut lembab. Baru saja gadis itu berdiri dan hendak meninggalkan makanannya, di waktu yang sama denting mesin penghangat makanan itu pun terdengar. Lekas-lekas ia mengambil sandwich-nya lalu meninggalkan keduanya.

Gadis bersurai kelam itu sudah beberapa meter jauhnya dari dapur saat jeritan Kagura dan erangan Kouga yang penuh kepuasan menggema di lorong.

.

Malam harinya ...

"Kita sudah sampai," ujar Jakotsu dari balik kemudi.

"Tunggu sebentar," Kagome menunduk untuk mengaitkan tali strappy heels yang sempat ia tanggalkan ketika dalam perjalanan. Setelah yang kanan selesai, ia berkutat dengan yang satu lagi. Disaat itulah, dari jendela mobil, ia melihat beberapa orang berkerumun di depan klub milik Naraku. "Hei, tidak seperti biasanya," gumamnya.

Kouga yang duduk di bangku depan berpesan, "Lebih baik kau tunggu di sini, akan kuperiksa keadaan terlebih dahulu."

Kagome tak mengindahkan perintah dari Kouga, ia segera keluar dari mobil setelah ia selesai bergulat dengan alat penyiksa khusus wanita yang bernama high heels itu. Dari jarak lima meter jauhnya, ia dapat melihat seorang pria berambut panjang warna silver berpakaian terlalu kasual yang menjadi pusat kerumunan.

Petugas keamanan yang ada di kerumunan kian bertambah, namun kekacauan tak jua mereda. Kedatangan Kouga malah semakin memperburuk keadaan, peringatan terlalu lantang yang ia berikan tak diterima dengan baik oleh si pengunjung. Pria yang ditegurnya kian meradang, saling dorong pun terjadi, lembaran ratusan Yen berjatuhan. Kekacauan itu terhenti tatkala pria yang dituduh sebagai pembuat keonaran itu terhempas dan menabrak tubuh Kagome. Keduanya pun terjerembab di tanah.

Sambil meringis, Kagome berusaha duduk. "Maaf, bila tidak karena petugas brengsek itu yang mendorongku kau tidak akan ikut terjatuh," ucap seorang pria yang sedang mengulurkan tangan untuknya. Kagome menengadah untuk menatap wajah pemiliknya, si pembuat onar malam itu. Baru saja ia hendak meraih tangan yang terjulur, tiba-tiba saja Kouga menepis tangan pria itu. Setelah membantunya kembali berdiri, Kouga segera merenggut pakaian pemuda itu dan menghentakkannya ke dinding lalu mengusirnya secara kasar.

Tak kalah lantang, pria itu pun membalas, "Sudah kubilang, aku hanya ingin masuk. Jika uang yang kalian inginkan, aku bisa saja membayar tiga kali lipat gaji kalian sekarang juga!"

Beberapa penjaga yang tergiur mendengarnya mundur satu langkah, tapi itu tak berlaku pada Kouga. "Diam kau, Brengsek!" Tangan kanan Kouga yang terkepal sudah terangkat di udara, siap menghantam wajah itu, tapi tinjunya tak sempat melayang.

"Kouga, hentikan!" Delapan pasang mata menatap ke arah Kagome. "Dia hanya ingin masuk, di-dia, dia temanku."

Pria bermanik biru yang menjadi orang kepercayaan Naraku itu menatap si pembuat kerusuhan dengan wajah masam. "Benarkah?" Tanya Kouga tak percaya. Dan Kagome mengangguk. "Kenapa tidak bilang sejak tadi?" Timpalnya jengkel.

"Aku baru mengenalinya, ia sudah banyak berubah."

Pria yang ditolong Kagome itu bergegas melepaskan cengkraman Kouga di pakaiannya, meluruskan kerut di bajunya dengan asal, dan dengan santai menambahkan, "Keh, begitu juga denganmu." Kagome yang saat itu mengenakan mini tube dress ketat berwarna hitam sederhana namun terkesan sangat berkelas tersenyum canggung.

"Aku akan menunggu tamu bos di sini," ucap Kouga kepada Kagome. Kemudian, pria itu dan si pembuat ricuh itu saling melempar tatapan garang.

Tapi itu tidak lama, ketegangan itu kembali terurai kala Kagome berujar, "Ayo!" Pria bersurai silver itu mengangguk, meraup lembaran uangnya yang bertebaran di lantai, dan mengikuti gadis itu masuk ke dalam.

Di sepanjang lorong beralas karpet biru itu, lampu-lampu neon ditata sedemikian rupa agar membentuk kupu-kupu besar di kanan dan kiri dinding. Di lorong yang temaram, kupu-kupu artifisial itu seakan menjadi penuntun jalan.

Kala keduanya berjalan bersandingan menuju ruang utama, Kagome memberi saran, "Lain kali, bila kau ingin masuk dengan tenang mendaftarlah sebagai anggota, atau setidaknya, get dressed up."

Pria itu melirik ke kaos polosnya yang berwarna merah, jeans biru, dan kets hitam putih yang ia pakai sekilas. Dengan nada tak acuh ia lantas menyahut, "Keh, seperti aku akan datang ke tempat seperti ini lagi."

Langkah Kagome tidak terhenti, tapi badannya setengah berputar ke arah sang pria. Meski tak mau ambil pusing dengan kalimat menyinggung yang meluncur dari mulut laki-laki itu, gadis yang penasaran itu bertanya, "Lalu, apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku sedang mencari seseorang."

Kedua alis Kagome terangkat sedetik sebelum kembali ke tempatnya semula. "Jadi kau ke tempat ini bukan untuk mencari hiburan?"

"Tidak." Saat pria itu menjawab, mereka telah tiba di penghujung lorong, dentaman musik dari balik pintu sudah terdengar.

Salah seorang penjaga membukakan pintu untuk keduanya. Kagome masuk lebih dulu, dan laki-laki itu mengikuti. Mereka disambut oleh sebuah lagu nomor satu di peringkat Billboard yang membuat darah semua pendengarnya bergelora dengan gairah berpesta dan siap tenggelam dalam gemerlapnya dunia malam. Karena didukung oleh tata suara sonik kelas dunia, hentakan musik yang berasal dari gabungan hip hop, dance, dan sound electro yang menghantam rongga dada itu tetap terasa nyaman diterima oleh telinga. Seakan tidak cukup menyihir pengunjung dengan nuansa futuristik di seantero ruangan, permainan laser berbagai warna yang ditembakkan tanpa henti yang berbaur dengan tata lampu dan semburan asap pun kian melengkapi kemegahan tempat yang dapat menampung ratusan orang itu.

Akan tetapi, bar yang berada di sebelah kiri ruangan, dan deretan sofa dan meja di bagian barat telah tertinggalkan. Yang menjadi pusat perhatian dan memancing gelombang teriakan, siulan, dan tepuk tangan para penonton yang menumpuk di hall adalah kemunculan beberapa stripper bertubuh bak model yang memakai topeng masquerade dengan aksen bulu dari balik tirai di panggung. Pertunjukkan utama telah dimulai, sambil terus menari, gadis-gadis itu mencopot satu persatu bahan yang menempel di tubuh mereka. Dan sudah pasti, melihat atraksi yang ada, sorak-sorai para pria kian membahana.

Untuk sejenak, Kagome menghibur diri saat menatap ekspresi tercengang pria yang ada di sampingnya itu. Sebelum ia mulai menaiki tangga yang terletak di sudut ruangan yang akan membawanya menemui Naraku, gadis itu berkata kepada kawan barunya, "Aku harap kau tidak lupa dengan tujuan awalmu."

Pria itu seakan tersadar dari keterpukauannya dan mengangguk dengan sedikit kikuk sebelum memasang raut wajah merengut. Menahan seringaian, Kagome hanya membalas dengan seulas senyuman. Setelah kakinya sudah menjejak anak tangga pertama, di tengah musik yang meraung, ia mendengar laki-laki itu bertutur dengan sedikit canggung, "Terima kasih, telah menolongku tadi."

Kali ini Kagome yang mengangguk. Dengan itu, keduanya pun berpisah.

.

Dengan diantar oleh salah satu karyawan, Kagome memasuki ruangan VVIP yang telah ditentukan. Saat ia masuk, seorang pelayan keluar, manik biru kelabunya langsung tertumbuk pada Naraku yang mengenakan setelan jas hitam dan kemeja ungu yang tengah bersandar santai di sofa kulit berwarna cokelat kemerahan. Tanpa menunggu perintah, Kagome mengambil tempat duduk di sisi kiri pria itu. Naraku menoleh ke arahnya, mengamati pakaian yang ia kenakan sebelum menatap wajahnya selama beberapa saat dan kembali tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

Tak ada pertukaran kalimat di antara mereka. Kagome memainkan perannya dengan baik. Sama seperti pertemuan-pertemuan lampau yang telah ia hadiri, yang harus Kagome lakukan sebagai kekasih Naraku hanyalah duduk manis dan menebar senyum. Tak peduli apa yang Naraku lakukan saat mereka berdua_atau bertiga, itu bila Kagura ikut ambil bagian_sikap pria itu saat ada orang lain sangatlah bertolak belakang. Tidak membuatnya merasa seperti pelacur di ruang publik adalah salah satu alasan mengapa Kagome dapat bertahan hingga sejauh itu.

Setelah beberapa waktu lamanya, tiga orang masuk ke dalam ruangan, seorang pelayan, dan dua orang penari terpanas yang ada di klub itu. VVIP itu memang dibuat untuk pertunjukkan striptease khusus, sofa yang memanjang lengkap dengan mejanya menghadap ke sebuah panggung kecil setinggi lima puluh sentimeter dengan tiang besi yang berdiri kokoh di pusat panggung lengkap dengan tata lampu terbaik. Hidangan dan anggur tua pun tersaji, para penari telah mempersiapkan diri. Ketika waktu menuju pertemuan hanya tersisa beberapa menit lagi, kolega yang dinanti pun tiba.

Daun pintu terbuka, pria tinggi tegap bersurai silver yang mengenakan setelan jas berwarna abu-abu muda dengan wajah serius melangkah masuk. Pria itu dijamu dengan sebaik mungkin. Dengan mudah, Kagome dapat melihat bahwa Naraku sangat berhati-hati dengan apa yang ia ucapkan lebih dari biasanya. Sambil menikmati hiburan dari dua penari erotis yang cantik, keduanya bertukar percakapan pendek. Di puluhan menit berikutnya, Kagome dapat menarik kesimpulan bahwa pria berwajah dingin itu memiliki kuasa atas sesuatu yang sangat vital bagi Naraku.

Pandangan datarnya masih mengarah ke panggung, tempat dua gadis tanpa busana meliuk-liukkan tubuhnya sedemikian rupa. Suara pria itu terdengar monoton saat berkata, "Sepatutnya kau tahu bahwa Sesshoumaru ini tidak mudah berubah pikiran."

Dengan nada yang meyakinkan, Naraku menyahut, "Aku mengerti. Tapi aku pun yakin bahwa kau adalah orang yang sangat memperhitungkan segala sesuatu." Jeda sejenak. "Selain itu, aku percaya setiap orang pasti butuh hiburan," sambungnya.

"Hnn."

"Tidak ada kerugian untukmu bila setuju."

"Tidak pula ada keuntungan bagi Sesshoumaru ini bila menyetujui agenda itu."

"Pendapatan akan dibagi, kau dapat memiliki tiga puluh persen dari-"

Pria pemilik suara baritone itu memotong, "Tujuh puluh persen."

Naraku terdiam sesaat, "Bagaimana bila kita bagi dengan adil."

"Tujuh puluh."

Perundingan berjalan alot, Kagome dapat melihat tangan kiri Naraku mengepal karena berang, secara refleks ia meraih tangan pria itu lalu menautkan jari-jemari mereka. Tubuh Naraku yang tegang secara perlahan kembali santai. Dengan bijak ia menawarkan, "enam puluh dan aku yang akan mengurus semua pekerjaan."

Pada akhirnya pria bernama Sesshoumaru itu menatap lawan bicaranya. Untuk beberapa detik lamanya, perdebatan di antara mereka seakan dilanjutkan hanya dengan sorot tajam. Kepercayaan diri keduanya begitu besar. Naraku dan Sesshoumaru sama-sama benci kekalahan. Akan tetapi, kali ini Naraku harus menelan bulat-bulat keangkuhannya dan rela berada di posisi lemah. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia membutuhkan pertolongan. Demi menjaga seluruh usahanya tetap berdiri kokoh, saat itu ia butuh persetujuan penerus utama perusahaan Taisho itu.

Sedangkan Sesshoumaru? Ia sedang berada di atas angin. Telah lama ia ingin melihat raut putus asa di wajah rival bisnisnya, Taniguchi Naraku. Dan inilah waktunya. Kini ia berada di puncak, dengan wajah pongah dan tatapan yang memandang rendah, ia bisa menatap Naraku yang sedang berada di anak tangga terbawah. Ia akan dengan senang hati menyaksikan keterpurukan usaha pria itu namun, ada yang lebih menyenangkan bagi Sesshoumaru, yaitu: Membuat Naraku membutuhkan pertolongannya dan mengemis kepadanya, persis seperti saat itu.

Tatapan menusuk pria itu sejenak beralih kepada Kagome yang duduk di samping Naraku, ada kilat ganjil yang terpancar dari sepasang safir kuning keemasan milik Sesshoumaru kala itu. Dengan ketegasan tak terbantah, pria itu berkata, "Enam puluh persen dan dengan satu syarat."

Satu syarat yang menyeret Kagome ke neraka dunia lainnya.

Rela tidak rela, Naraku yang tak mempunyai pilihan lain pun menyetujuinya.

~Tsuzuku~


End notes: Hanya sedikit yang diedit dari chapter ini, tp sebaliknya, krn konten dewasa yg ada dlm cerita, next chapter yg berjudul 'The Man Who Named Sesshoumaru' bakalan di edit besar-besaran. Chapter-chapter yg ga diedit hanya ada di AO3.

Untuk semua reader yg udah mau rnr, minna saiko arigatou.