Chapter 4 – The Man Who Named Sesshoumaru

Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.


Bahkan kata syok pun tak dapat menggambarkan dengan persis keadaan Kagome saat Naraku pada akhirnya menyetujui usulan tak masuk akal Sesshoumaru. Satu jam yang lalu, kekhawatiran terburuknya hanyalah pria yang dianggap sebagai Dewa Penolong oleh ibunya itu menjadi sedikit lebih kasar setelah pertemuan bisnisnya tidak membuahkan hasil. Tapi sekarang, kecemasannya itu seakan tak berarti.

"Ini gila!" Sentaknya sambil berdiri, dan Naraku pun ikut bangkit dari duduknya. Setengah menjerit ia menyuarakan penolakan, "Aku tidak mau!" Kagome menggeleng kuat-kuat. "Kau tidak dapat memaksaku! Aku su-" kata-katanya tak terselesaikan, seseorang dari belakang menutup mulut dan hidungnya dengan selembar kecil kain. Kagome meronta, berusaha menarik tangan yang melingkari kepalanya, namun, beberapa puluh detik kemudian, kesadarannya tak lagi tergapai.

.

.

.

Kagome mengerang sebelum membuka mata perlahan. Yang pertama dilihatnya adalah lampu gantung besar dengan cahaya berwarna kuning pucat. Kemudian, matanya menangkap kanopi di atas ranjang, lengkap dengan kelambu berwarna kuning keemasan yang terjuntai, seperti gaya yang digunakan oleh bangsawan Eropa di masa lampau. Ia memiringkan kepala, dinding kamar dilapisi oleh kertas dinding berwarna krem, dan sebuah jendela besar tertutup gorden tebal berwarna putih. Putri kedua dari keluarga Higurashi itu hendak merubah posisi tubuh, tapi tidak berdaya.

Setelah sadar bahwa ia terbangun di sebuah kamar yang tak dikenal, dengan tubuh terikat dan mulut tersumpal, sontak, gadis itu pun membelalakkan mata. Sedetik kemudian, ia melihat sosok itu tengah memandangnya, pria yang bernama Sesshoumaru, sedang duduk santai dengan satu lutut yang bertumpu di atas lutut lainnya di sofa dekat jendela, sambil menikmati sebuah minuman panas di cangkirnya.

Dengan nada ringan, pria itu berkomentar, "kau sudah sadar."

Panik, itulah yang Kagome rasakan. Mulutnya tersumbat, ia terentang di atas ranjang dengan tubuh terikat. Tubuh telanjangnya terikat! Dan pria itu sedang menatapnya lekat-lekat!

Meski ingin, Kagome tak dapat bergerak banyak. Kedua pergelangan tangannya terbelenggu dalam satu ikatan di punggungnya. Ia dapat merasakan tali melingkar secara horizontal di atas dan di bawah payudaranya, juga di pinggang dan di bawah bokongnya. Namun, ikatan utama adalah ikatan yang melingkar di lehernya; tali itu terentang secara vertikal, tersambung dengan ikatan yang melintang di atas dan di bawah buah dadanya sebelum turun ke arah perut, membelit dengan ikatan yang ada di pinggangnya, lalu terselip di antara area kemaluannya sebelum menghilang ke balik punggung dan terkait dengan simpul yang mengikat pergelangan tangannya.

Selain itu, masing-masing paha dan betisnya menempel dalam satu lilitan, bersamaan dengan ikatan yang ada di kanan dan kiri pergelangan kakinya, keempat ikatan itu juga terhubung dengan ikatan yang ada di pergelangan tangannya. Ia tidak dapat meluruskan kaki, dan tidak dapat merapatkan kedua pahanya di tengah. Dengan itu, semua zona pribadinya terekspos oleh mata emas Sesshoumaru.

Napas gadis itu mulai memburu, matanya mulai pedih saat semua usahanya untuk terlepas dari ikatan gagal. Ia hanya dapat sedikit memiringkan tubuh. Jika saja ia ingin membunuh diri sendiri dengan menggigit lidah pun ia tak mampu. Tapi tidak, bunuh diri tidak ada dalam daftar keinginan jangka panjangnya.

Umpatan dan ancaman Kagome terbungkam, yang terdengar dari mulutnya hanyalah gumaman. Air mata yang jatuh ke sisi mukanya menghilang, tertelan oleh tirai hitam kelam yang membingkai. Setelah beberapa belas menit lamanya, hanya sesenggukanlah yang tersisa dari perlawanannya.

Langkah kaki Sesshoumaru teredam karpet tebal, Kagome baru menyadari bahwa pria itu ada di dekatnya setelah ia merasakan ranjang sedikit bergoyang karena beban baru yang ada di tepinya.

Perlahan, Sesshoumaru mengusir semua helai rambut yang menutupi sisi kanan wajah gadis itu. Pria itu telah menanggalkan jas dan dasinya, kini, ia hanya mengenakan kemeja putih dan celana panjangnya. "Sesshoumaru ini akan melepas sumbat di mulutmu," katanya.

Kagome menatap tajam pria yang sedang menarik sebuah kain dari mulutnya, secarik kain yang ia kenali sebagai celana dalamnya. Mengabaikan detail kecil itu, ia meminta dengan suara pelan, "Lepaskan aku, kumohon!" Permohonannya tak dijawab, namun, laki-laki itu memiringkan tubuhnya, meraih tangannya, lalu melakukan sesuatu pada ikatan di lengannya. "Terima kasih," ucapnya tulus meski sedikit tersendat.

Sayangnya, prasangka baik Kagome tidak terbukti. Alih-alih melepaskan, pria itu hanya mengecek kuat atau tidaknya ikatan yang ia buat.

Diserang ketakutan, Kagome yang panik lantas meracau, "Apa yang kau lakukan? Kumohon, tidak, kumohon, lepaskan aku, kumohon, kumohon ... "

"Diam, atau mulutmu akan kembali tersumpal," nadanya monoton, tapi ada keseriusan mematikan yang tertera di sana.

'Permohonanku diabaikan.' Batinnya berbisik.

Kagome terisak, kedua matanya terpejam erat, bulu mata lentiknya yang tebal mencuat oleh air mata. Wajahnya yang basah oleh keputusasaan, berkerut-kerut sedemikian rupa karena menahan beban mental yang tak terkira. Tidak pernah ia menyangka, bahwa ia akan dipermalukan seperti itu. Iya, ia mengerti bahwa apa yang menimpanya saat itu adalah bagian dari pilihannya. Itupun bila ia memang mempunyai pilihan. Faktanya, ia tidak benar-benar memiliki pilihan.

Yang tersedia untuknya hanyalah bertahan, atau pergi. Melihat kakaknya hidup, atau mati.

Bila semua orang mengetahui kisahnya, kemungkinan besar mereka akan mengecam pilihannya. Orang-orang pasti akan mengganggapnya tolol bisa terjerumus trik Naraku dan harus dilecehkan oleh seorang pria asing seperti saat itu. Tapi, peduli setan dengan pendapat orang lain, toh, tak ada yang peduli dengan masalahnya. Ia hampir yakin, setiap orang pasti merasa masalah yang mereka miliki adalah hal yang terburuk. Oleh sebab itu, tak ada yang benar-benar peduli dengan masalah orang lain. Tidak ada!

Tidak ada yang menawarkan bantuan untuknya saat ia tidak berhasil mencari antibiotik untuk sang kakak. Meski ia sudah berlutut dan memohon sambil berurai air mata di instansi pemerintah, pada pihak asuransi, pada berbagai media, tidak ada yang peduli. Tidak satu manusia pun! Tidak juga para Kami. Tidak saat itu, dan tidak saat ini.

Ia lelah, semua permohonan yang dilisankannya terasa percuma. Keyakinannya yang telah lama terkikis kini telah habis. Oleh karena itu, ia tak lagi mau meminta. Pun, ia enggan memanjatkan doa.

Yang dapat ia lakukan sekarang hanyalah menumpulkan hati, mematikan emosi, dan menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Setelah hujan di wajahnya mereda, iris biru kelabu itu kembali terbuka. Demi meredam gemuruh dalam benaknya, Kagome memutuskan untuk memusatkan perhatiannya pada hal lain; Ia memperhatikan bahwa ranjang besar itu berlapis sprei yang terbuat dari sutra berwarna putih. Matanya menangkap sofa panjang cokelat tua tanpa sandaran yang ada di kaki ranjang, dan dua sofa lain dengan sandaran tinggi yang berada di sudut dengan warna yang sama. Secara keseluruhan, ruangan yang didominasi oleh warna cokelat, emas, dan putih itu terlihat sangat elegan. Kamar mewah itu minim barang-barang personal, kemungkinan besar ia tengah berada di sebuah hotel.

Sambil menatap hampa garis-garis di plafon putih yang ada di atasnya, gadis itu berbisik pelan, "Kau tidak harus melakukan ini."

"Kau ingin berbicara?" Jeda sejenak. Sebagai tanda persetujuan, Sesshoumaru mengangguk kecil. "Baiklah."

"Banyak wanita di luar sana yang pasti rela menyerahkan diri padamu."

"Hnn."

Titik fokus Kagome beralih ke wajah pria itu, dengan mata nanar ia bertanya, "Lalu mengapa?"

Pria yang membiarkan panjang rambutnya mencapai telinga itu tak menghiraukan pertanyaan yang diajukan, ia malah balik bertanya, "Apa kau takut?"

Bagai terkena embusan angin malam di musim dingin, rambut-rambut kecil di tengkuk Kagome lantas berdiri. Entah bagaimana, mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh laki-laki bernama Sesshoumaru itu malah menimbulkan kengerian tersendiri.

Hanya satu inci dan sedetik lamanya, penghujung bibir pria berambut silver itu tertarik ke atas dengan janggal, seakan menikmati bagaimana rasa takut tengah menjegal gadis itu. "Kau patut takut. Itu adalah hal yang wajar. Dengan semua harta dan koneksi yang kumiliki, aku bisa saja membunuhmu dan terbebas dari hukuman meski ada bukti lengkap yang mengarah padaku."

Tangan pria itu terulur, ia membelai pipi sang tawanan dengan punggung jarinya. Refleks, Kagome membuang muka, tak ingin wajahnya disentuh. Sesshoumaru pun menarik tangannya. "Kau benar-benar tidak seperti yang terlihat," gumamnya pada diri sendiri.

Kagome tak peduli bagaimana cara pria itu menilai dirinya, dari caranya berpakaian kah? Mungkin karena hubungannya dengan Naraku? Atau dari apapun juga, ia tak mau repot memikirkannya. Satu-satunya yang ia indahkan saat itu hanyalah bagaimana agar mimpi buruk itu cepat usai.

"Membunuhmu ..." ia membiarkan kalimatnya menggantung. Setelah jeda sejenak, salah satu pewaris Taisho Corporation itu menambahkan, "bukan itu yang ingin kulakukan. Bila kau bertanya mengapa? Jawabannya adalah karena kau peduli pada makhluk rendahan itu."

"Naraku?"

"Sesshoumaru ini memperhatikan bagaimana kau menggenggam tangannya."

Seakan mendengar bahwa ada manusia yang dapat menerangkan secara terperinci tentang cahaya misterius di pusat galaksi Bimasakti seperti itulah nada tak percaya Kagome terdengar, "Karena itu?"

Kata-kata penuh kebencian mengalir lancar dari mulutnya, "karena ia adalah rival yang paling kubenci dan yang paling ingin kuhancurkan."

"Dan tidak boleh ada satu jiwa pun yang boleh melebihiku di dalam ruangan yang sama denganku, tidak dalam hal apapun," intonasi pria itu monoton saat mengutarakan prinsip arogan yang telah lama ia pegang teguh. Prinsip yang juga menjadikan perusahaan yang dipimpinnya jauh lebih kuat bila dibandingkan saat ayahnya yang menjadi pemimpin dahulu.

Tapi, bagi seorang Sesshoumaru, normalnya, prinsip itu hanya berlaku dalam hal bisnis atau kekuasaan, tidak dalam hal wanita. Pada awalnya, atas nama kebencian pada sainganlah ia menjadikan wanita itu bagian dari syarat perjanjian mereka. Ia butuh menginjak-injak harga diri Naraku dengan merebut miliknya yang berharga.

Namun, entah mengapa, pada akhirnya, kenyataan lain membuat Sesshoumaru mempertanyakan keputusan yang diambilnya. Sikap Kagome sendiri mengusiknya, wanita itu seakan tidak terpengaruh akan eksistensinya, tidak seperti wanita lain yang pernah mendampingi pria itu. Kagome tak menganggap keberadaannya dan malah mempertontonkan afeksinya kepada makhluk nista seperti rival liciknya. Oleh karena itu, selain Naraku, wanita itu pun patut mendapat pelajaran darinya.

"Aku tidak mengerti." Kagome menggeleng lemah, ia sama sekali tidak bisa menerka jalan pikiran pria itu. "Apa yang telah kau katakan sama sekali tak ada hubungannya denganku."

Sesshoumaru menatap lurus wanita yang kini ada di dalam kekuasaannya. "Berita baiknya adalah, kau tidak perlu mengerti."

Ketika ia melanjutkan, suara baritone-nya yang dingin terkesan tak manusiawi. "Ikatan di paha dan kaki akan membuatmu sedikit tidak nyaman." Selagi berbicara, pria itu meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanan Kagome. "Karena ini permulaan, aku tidak ingin kau terlalu banyak meronta."

Permulaan? "Jika memang hal itu yang kau inginkan, mengapa kau tidak melakukannya ketika aku tak sadarkan diri, hah?"

Bertentangan dengan air muka Sesshoumaru yang datar, ibu jarinya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri secara lembut, berusaha memberi kenyamanan yang mustahil. "Sama seperti mengambil nyawa orang yang memilih untuk bunuh diri, tidak ada kesenangan melakukan itu denganmu saat kau pingsan tadi."

Atas pernyataannya, Kagome menatap pria yang telah menjadikannya tawanan itu dengan penuh heran dan kebencian. Bertutur dengan sopan saat terdesak seperti nasihat lama yang pernah ia dengar tak lagi dapat ia praktikkan, dua kata itu meluncur begitu saja, "Kau gila!"

Tak menggubris umpatan yang ditujukan padanya, satu sudut bibir pria itu tersungging ke atas dengan ganjil. Tangan kanan Sesshoumaru yang tadinya berada di atas lutut kini bergerak naik, melewati beberapa lilitan tali, dan mulai mengelus paha gadis itu secara halus. Kagome memalingkan wajah, dan memejamkan mata erat-erat.

Pria itu berjanji, "Sesshoumaru ini akan membuatmu merasa jauh lebih baik nanti." Saat tangan besarnya hampir mencapai area segitiga bikini, pria itu segera menarik lagi tangannya ke atas. "Percakapan kita selesai. Sekarang, mari kita mulai."

Kagome membuka mata dan melirik, saat itulah ia melihat Sesshoumaru mengendurkan dasi abu-abu muda dari lehernya. Pria itu mendekati meja kecil beroda yang tak jauh dari kaki ranjang. Berbagai macam benda tergeletak di atas meja itu; tempat lilin bercabang tiga, sebuah wadah air dan handuk tipis, sebuah botol minyak zaitun, mangkuk kaca kecil berisi lilin aromaterapi, dan beberapa benda lain.

Sesshoumaru meraih secarik kain yang ada di samping kandil, kemudian, ia menjulurkan kain penutup mata berwarna hitam itu ke arah Kagome. Dan begitulah, penglihatan gadis itu pun tertutup.

Puluhan detik terlewati dalam senyap. Situasi itu membuat saraf Kagome kian menegang. Dadanya kembang-kempis, rahangnya terkatup rapat kala ia berusaha 'tuk menepis rasa takut, melipatgandakan nyali, dan mempersiapkan diri untuk apapun yang 'kan datang nanti. Belasan bulan hidup bersama Naraku telah mengubahnya, ia bukan lagi gadis polos seperti dua tahun yang lalu. Bahkan, bila neraka naik ke permukaan bumi dan langsung menelannya saat itu juga, maka, ia siap.

Yang terjadi, biarlah terjadi.

Lima kali bunyi pemantik api mengusir keheningan. Bau sesuatu yang terbakar menyeruak, tak lama, bau lilin aromaterapi tercium. Kagome berusaha tenang dengan menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, berulang kali. Ia memusatkan perhatian pada suara yang terdengar; langkah samar, sayup-sayup embus napas, dan bunyi gesekan kain.

Namun, tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh lututnya, karena terkejut, tubuhnya mengejang sedetik secara otomatis.

Pria itu bergumam. Entah apa yang ada di wajah Sesshoumaru ketika melihat reaksinya, sebuah cengiran, atau kerutan di dahi, Kagome tak tahu, yang ia tahu adalah semua pikirannya tertinggalkan saat tangan yang sama mulai menjelajahi tubuhnya.

Dengan gerakan lambat, pria itu membelai salah satu tungkainya, meluncur turun ke kaki, kemudian ke jari-jemari, sebelum kembali ke tempatnya semula. Dan dari sana, telapak tangan yang terasa kasar saat bersentuhan dengan kulitnya itu menggerayang perlahan di paha bagian dalam, ke tulang panggulnya, lalu jeda untuk mengelus perut bagian bawahnya sejenak, sebelum ujung-ujung jarinya menyusur naik ke tali vertikal yang ada di antara kedua buah dadanya.

Tak ada lagi pergerakan, secara mendadak, tali vertikal yang ada di tengah tubuhnya ditarik dengan kuat ke atas. Apa yang Sesshoumaru lakukan membuat tali yang berada di leher dan yang ada di area pribadi Kagome ikut tertarik. Otomatis, gadis yang besar di lingkungan kuil itu melantunkan erang sakit selagi melengkungkan tubuhnya seperti huruf 'C' demi mengurangi tekanan tali yang terselip di kemaluannya.

Seraya melepaskan tali yang ditariknya, laki-laki itu tertawa. Suara tawanya berat, tertahan di dalam dada, dan terkesan jahat.

Beberapa waktu kemudian, deru napas Kagome kembali normal. Setelah kejutan yang tak menyenangkan itu berakhir, lagi-lagi, sunyi mendominasi.

Kagome dapat merasakan pria itu duduk di sisi kanannya. Satu tangan menyentuh bahu kanannya, ujung-ujung jari pria itu menyusuri tulang selangkanya, dan berhenti di leher. Secara halus, satu ibu jari merayap di rahangnya, sebelum mengelus bibir bawahnya, lalu bibir atasnya.

"Buka!" Perintah pria itu. Kagome menulikan telinga. Dan tangan pria itu pun berpindah dan melingkari lehernya, seperti hendak mencekik. "Dalam permainan ini, tidak ada pilihan untukmu selain patuh."

Sepasang bibir terpoles gincu merah muda itu pun terpisah, Kagome membuka mulut seperti yang dititahkan. Dan pria itu memasukkan jari tengah dan telunjuk tangan kanan ke mulutnya.

Sesshoumaru berujar, "Tirukan seperti yang biasa kau lakukan." Kagome mengatupkan bibirnya untuk mengimpit kedua jari yang ada di mulutnya. Indranya mengecap rasa pria itu, tapi yang ia cicipi hanyalah rasa kekalahan.

"Sesshoumaru ini akan memberimu sedikit petunjuk tentang apa yang akan terjadi nanti." Pria itu membuat gerakan masuk-keluar dengan jari di dalam mulutnya. Ia menarik perlahan hingga setengah jarinya keluar sebelum kembali merangsek masuk dengan tiba-tiba. Dan itu terus terulang untuk beberapa lama.

Entah karena lelah, tak puas, atau memang sesi kecilnya telah usai, Sesshoumaru menarik mundur kedua jarinya. Untuk yang kesekian kali, Kagome hanya dapat menanti.

Ranjang sedikit bergoyang, tanda bahwa pria itu menggeser tubuh. Kemudian ia mendengar Sesshoumaru berkomentar, "cantik." Entah bagaimana, Kagome dapat yakin bahwa pria itu tidak sedang mengomentari wajahnya, tapi bagian tubuhnya yang lain.

Tanpa aba-aba, sebuah benda yang hangat dan basah menyentuh area paling pribadinya. Kagome pun terkesiap. Sedetik kemudian, barulah ia menyadari bahwa benda itu adalah dua jari yang baru saja keluar dari mulutnya.

Karena dirasa mengganggu, pria itu memotong tali vertikal yang terselip di antara kemaluan gadis itu. Kemudian, kedua jari yang basah itu mulai membelai.

Secara bertahap, ia terlena.

Cairan berjatuhan di atas dadanya, di payudaranya, dan di perutnya. Tangan lain menyentuhnya, telapak tangan kiri yang hangat itu terasa kontras dengan likuid licin nan dingin itu. Kemudian, tangan itu bergerak lembut, membaurkan minyak berbau harum itu di leher, lengan, dan seluruh badannya. Berkali-kali, Kagome menahan napas, sentuhan di atas kulitnya terasa halus, sangat perlahan, seakan penuh penghayatan.

Secara berangsung-angsur, ia pun terhanyut. Tergiring lurus-lurus ke kubangan hasrat. Tak pelak, ia mulai terjerumus.

Benci untuk diakui, pria itu sedikit banyak telah memantik gairahnya. Meski hanya selapis tipis, cairan kebangkitan mulai mengalir dari bagian bawah tubuhnya.

Dengan sebuah gumaman, atensi yang didapatnya berakhir. Beban di sisi ranjang menghilang, Sesshoumaru bangkit dari tempatnya. Tinggalah Kagome terbaring risau sembari mengatur napasnya yang mulai kacau.

Dengan punahnya isyarat visual sementara, ia sama sekali tidak tahu apa yang diharapkan. Secara dramatis, hal itu malah meningkatkan antisipasi seksual. Dan itu pertanda buruk. Buruk dalam arti bila ia ikut menikmati.

Sebuah benda yang dingin_bila dibandingkan dengan suhu tubuh manusia_menyentuhnya lagi di bawah sana. Melalui sentuhan, Kagome dapat memperkirakan wujud benda panjang itu lebih seperti tiga buah kelereng berukuran besar yang tersula sebatang tongkat.

Dengan cara yang melenakan, benda itu bergerak. Rasa hangat di perut bagian bawahnya kian meletup-letup, dan area tertentu di tubuhnya mulai berdenyut-denyut. Meski begitu, ia mengunci mulut. Kagome masih dapat mengendalikan diri, tak serta-merta ia mau meneriakkan tanda kekalahannya lantang-lantang maupun melontarkannya dalam bentuk rintihan.

Celakanya, Sesshoumaru memiliki rencana lain yang jauh dari perkiraan gadis itu.

"Selain bernapas, kau tidak boleh bergerak. Kau tak akan menyukai hukuman yang kuberikan bila ada suara atau gerakan sekecil apapun darimu. Paham?"

Titah aneh pria itu sederhana, tapi nada normal yang digunakan tak membuat perintahnya terdengar wajar. Kagome tak bereaksi sama sekali atas pemberitahuan itu. Nyalinya kian mengerut. Ia tidak mengenal pria itu, ia sama sekali tidak dapat menerka apa yang mungkin dan akan dilakukan oleh seorang Sesshoumaru. Berada di dalam kegelapan secara fisik maupun mental sama sekali tak memberinya keuntungan.

Lamunan putri kedua Higurashi itu buyar tatkala benda itu keluar dari tubuhnya dan bergerak turun, semakin turun ke bawah dan berhenti tepat di area pembukaan lain miliknya. Di detik-detik berikutnya, waktu seakan berhenti bergerak ketika benda itu berusaha menerobos tempat terlarang miliknya.

'Ini bukanlah hal baru. Ini akan cepat berlalu.' Kagome mengulang dua kalimat itu dalam hati berkali-kali, tapi sia-sia. Walaupun seks adalah hal biasa baginya, tapi pada kenyataannya, ia tidak pernah melakukan seks anal sebelumnya sebab, Naraku pun tak sudi meliriknya di sana. Benda asing terbesar yang pernah melewati lubang itu hanyalah jari tengah Kagura.

Tak nyaman, itu adalah sebuah pernyataan yang terlalu meremehkan bila digunakan sebagai jawaban bila ada yang menanyakan perasaannya saat itu. Kepala benda itu mulai merenggangkannya, rasa sakit menyebar dengan cepat ke seluruh tubuhnya. Secara spontan, meski dengan keadaan terikat, Kagome berhasil sedikit menggeser bokongnya.

Ia menelan ludah sebelum melisankan penolakannya dengan lirih, "Tidak."

"Kau bergerak, kau berbicara. Apa pernyataanku belum cukup jelas bagimu?"

Dengan rahang terkatup ia berujar, "Jangan di sana."

"Kau tidak dalam posisi bisa bernegosisasi dengan Sesshoumaru ini." Jeda sesaat. "Sekarang," Kagome memekik kecil ketika secara mendadak, pria itu menggenggam kasar pinggangnya dan menarik tubuhnya dengan cepat ke tempat semula. "Kau akan menerima hukuman."

Kekalutan mulai mengambil tempat besar dalam pikirannya. Suara pria itu menyiratkan bahaya, mengandung ancaman, bagai menjanjikan semua hal menakutkan yang tak ingin diketahuinya jadi nyata. Dan, firasat Kagome terbukti benar ...

Jerit kecil meluncur begitu saja dari mulutnya ketika rasa panas mendarat di perutnya untuk pertama kali. "Itu karena kau bergerak," terang Sesshoumaru santai.

Dari lecutan panas yang lekas menghilang, dari lapisan tebal yang terasa di atas kulitnya, Kagome dapat menerka bahwa Sesshoumaru mengubah fungsi sumber penerangan seperti lilin menjadi alat penyiksanya. Pria itu tidak main-main dengan perkataannya. Panik dan takut lantas menjeratnya, Kagome meronta hebat, berusaha lepas dari tali-temali yang mengikat. Di saat itu, untuk kali kedua, tetes-tetes panas itu berjatuhan. Dan lagi-lagi, ia memekik sakit ketika rasa terbakar itu menyentuh kulit halus payudaranya.

"Dan kau berbicara."

Dengan berhati-hati, Sesshoumaru meletakkan kandil bercabang tiga dengan lilin-lilin yang menyala itu ke tempatnya semula. Wajahnya teramat tenang, matanya berkilat kejam, hampir seperti menikmati bagaimana kulit putih yang terkena lelehan lilin itu memerah, dan bagaimana gadis itu berjuang untuk membebaskan diri. Perjuangan yang hanya menjadi kesia-siaan belaka.

"Apakah kini kau sudah mengerti? Bila tidak, Sesshoumaru ini akan dengan senang hati memberi contoh lagi agar kau lebih memahami aturan dari permainan ini."

Napas Kagome mulai memburu, dadanya naik-turun dengan cepat, telapak tangan dan kakinya sedingin es, bulir-bulir keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya. Meski dikungkung oleh ketakutan, otaknya tak henti berjalan. Ia curiga bahwa pertanyaan pria itu tak lebih dari jebakan. Lantaran pemikirannya itulah, ia mengunci mulut dan tidak memberi jawaban dalam bentuk apapun, meski itu hanya sebuah anggukan.

Setelah waktu terentang cukup lama, Sesshoumaru berkata dengan nada bangga, "Kau sudah mengerti." Untuk kedua kalinya, pria itu tertawa pendek. "Karena kau cepat paham, Sesshoumaru ini akan bermurah hati kepadamu."

Otak Kagome langsung mengaktifkan mode siap siaga terhadap ancaman, refleks pilomotornya beraksi. Otot-otot kecil yang terhubung dengan folikel rambut pada kulitnya berkontraksi, rambut-rambut halus di permukaan kulit lengan dan kakinya tegak berdiri. Ekspresi emosi akan antisipasi bahaya yang menghampiri.

Ketegangan semakin menjadi-jadi disetiap waktu yang berlalu, dan Kagome hanya dapat menunggu. Bersamaan dengan hilangnya penglihatan untuk sementara, indra miliknya yang lain lantas meningkat. Semerbak lembut kopi yang menguar dari lilin aromaterapi terasa menusuk hidung, wanginya tercium berlebihan. Bahkan, keheningan pun terasa berlebihan baginya.

Dengan ketenangan yang mengerikan, pria itu menambahkan, "Sesshoumaru ini selalu bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya. Dan, hukuman bukanlah satu-satunya yang ia janjikan."

.

Beberapa jam kemudian, Kagome masih terentang di atas ranjang, tubuhnya hanya tertutup selimut tipis. Ia memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong, tak bergerak, hanya kembang-kempis tipis di dadanya lah yang menjadi tanda kehidupan darinya.

Sesshoumaru selesai memakai setelan jasnya ketika ketukan di pintu terdengar, satu kata darinya dan pintu itu terbuka. Dari sudut mata, Kagome dapat melihat kepala kecil, berambut tipis, dengan wajah penuh kerut karena termakan oleh usia muncul dari balik pintu. Pria pendek itu mengantarkan sebuah cup kertas berisi minuman panas sambil mengabarkan bahwa semua telah siap. Anggukan dari sang tuan cukup menjadi tanda bagi pria tua itu untuk pergi.

Seusai membetulkan letak jam tangan mahal di tangan kirinya, Sesshoumaru melemparkan sesuatu ke sisi Kagome dan berujar, "Kau boleh pergi."

Layaknya robot, Kagome bangkit. Lantas, ia mengenakan pakaian dan alas kakinya, lalu beranjak dari tempat itu, meninggalkan amplop cokelat berisi lembaran uang dan pemberinya tanpa satu patah kata.

~To be continued~


End notes: For all reader, yg review, fav, juga follow, minna saiko arigatou.