Chapter 5 – Bird Set Free
Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.
Para hewan malam telah usai mengumandangkan nyanyiannya, riuh-ramai manusia belum juga dimulai. Di antara salju lebat, di tengah heningnya pagi, sepasang permata biru kelabu menatap cakrawala yang senyap untuk waktu lama. Bulan tidak menampakkan diri, masa bintang gemintang sudah habis, hanya kumpulan awan gemawan yang menebar kepingan putih hadir sebagai pemanis. Matahari musim dingin belum jua terjaga dari pembaringannya. Tinggalah Kagome, tunggal, terbalut dingin, merengkuh sepi, mengumpulkan semua kepingan jiwanya yang terberai.
Putri kedua Higurashi yang berdiri di teras hotel dengan kepala sedikit menengadah lantas menoleh saat ada bunyi langkah kaki yang mendekat. "Biar aku panggilkan taksi untukmu, Nona." Tanpa menunggu respons darinya, pria yang memakai seragam hotel itu pun menghilang.
Prasangka buruk terus-menerus menggerogotinya. Di mata Kagome, tatapan bersahabat pria itu terlihat sinis, senyumnya lebih tampak seperti seringaian, kata-kata sopannya terasa bagai hinaan. Tawaran tulus petugas itu bak ejekan. Dalam pikirannya, bagi pria itu, mungkin ia tak lebih dari salah satu wanita penjaja tubuh yang selesai menunaikan pekerjaan. Ia tahu itu. Dan, apa yang membuat itu terasa menyakitkan adalah, mungkin itu sebuah kenyataan.
Tidak dalam tempo lama, Kagome sudah duduk di dalam kendaraan umum berwarna hitam. Semburat jingga merambat perlahan di kaki langit, sang surya mulai menebarkan kehangatannya. Berbanding terbalik dengan keindahan fajar, rintik hujan menuntut 'tuk berjatuhan dari kedua manik indahnya, mendung tak jua bergeser di air mukanya tatkala ia menatap kelebatan warna-warna di luar jendela dengan hampa. Pemandangan di balik kaca terlihat kabur seiring laju cepat kendaraan, sama seperti dunia yang tak mau ambil pusing akan keadaannya, persis seperti waktu yang selalu berjalan maju dan meninggalkannya. Tanpa jeda, roda masa akan selalu berputar, menggilas siapapun yang terseok-seok dalam kesengsaraan, juga mereka yang mencoba bertahan dalam kebahagiaan.
Dengan kekalutan yang mulai membahana dan badai yang siap memporak-porandakan jiwa, Kagome berpikir tentang kehidupan yang tak lagi ia mengerti.
Konon katanya, hidup itu adalah pilihan. Hidup dan pilihan, bila ia harus jujur, menurutnya, dua kata yang bersandingan itu kini terdengar mengerikan. Terdengar mengerikan karena membuatnya bertanya-tanya, apakah ia telah salah memilih? Sebab, kini hidupnya seakan hancur, mimpinya sudah musnah, harga dirinya telah enyah, keyakinannya lama binasa, jiwanya pun seakan tenggelam di dalam jurang gelap yang tak berdasar. Semua itu berasal dari pilihannya, pilihan yang mungkin salah.
Namun, jika pilihannya itu salah, lalu, apa yang harus dipilih olehnya? Haruskah ia yang masih memiliki daya dan upaya memilih untuk memalingkah wajah dan membiarkan sang kakak direnggut oleh Dewa Kematian dan mengambil tempat terdepan saat air mata darah sang ibu bercucuran?
Rasa-rasanya, pilihan itu pun tidaklah terasa benar.
Bukankah itu sama saja mengotori tangannya dengan darah? Parahnya lagi, itu adalah darah kakak kandungnya sendiri. Tentu saja, seperti halnya manusia lain yang memiliki hati, ia mencegah hal itu terjadi. Dan ia berhasil, tangannya memang tak ternoda oleh darah. Akan tetapi, sebagai gantinya, jiwanyalah yang tercemar.
Seharusnya, ia tahu bahwa tidak ada yang cuma-cuma. Di dalam kehidupan, semua memiliki harga. Bahkan untuk hal terkecil sekalipun, akan selalu ada pertukaran, juga konsekuensi yang harus dibayar. Dan sudah pasti, harga yang ditawarkan untuk sebuah kehidupan amatlah mahal. Pengorbanan pun mutlak dibutuhkan.
Tatkala kata 'pengorbanan' terbersit, Kagome tertawa, kering, datar, dan tanpa hasrat.
Gadis itu memejamkan matanya erat-erat. Seiring dengan berbagai pemikiran yang melintas, wajah-wajah yang ia benci dan ia cintai pun silih berganti terbayang di benaknya. Sepanjang hidupnya, sesuai dengan watak yang dimilikinya, ia telah menjadi seorang putri, adik, kakak, dan cucu yang baik bagi orang-orang yang disayanginya. Bahkan, sebagai hamba yang besar di lingkungan kuil, ia jauh lebih sering berdoa bila dibandingkan dengan masyarakat Jepang kebanyakan yang hanya berdoa setiap tahun baru atau bila sedang memiliki hajat.
Lalu, apa yang sebenarnya salah di hidupnya?
Hidup dan pilihan. Cara memandang, menjalani, dan memaknai kehidupan, serta pengorbanan. Rentetan kata yang dapat membuahkan ratusan pemikiran di dalam kepalanya itu terdengar lucu sekarang. Dan, gadis itu meledak, ia berdekah-dekah, kedua bahunya berguncang hebat. Suara tawanya parau, pahit, dan terdengar kelam. Kagome tak menghiraukan tatapan heran supir taksi yang meliriknya sekilas dari kaca spion tengah mobil.
Setelah gelaknya mereda, senyum sinis tersungging di satu sisi wajahnya. Ah, mungkin salahnya karena terlalu dalam memandang kehidupan, cetus batinnya. Mungkin saja memang hidupnya dan hidup sekumpulan manusia lain disuratkan hanya sebagai bahan hiburan bagi Para Pencipta di Takamagahara. Jika itu benar, puaskah Mereka sekarang? Melihat ia berjalan tertatih-tatih dengan tangan dan kaki yang koyak-moyak juga isi rongga dada yang tak lagi lengkap di jalur kehidupan yang Mereka pilihkan untuknya?
Mereka yang memilih.
Dan, lima kata berikutnya yang terpintas berubah menjadi anak panah berlapis api yang melesat cepat dan tepat menghujam hatinya: Ia tidak pernah memiliki pilihan.
Sama sekali tidak.
Pilihan di dalam hidupnya hanya senyata fatamorgana.
Kagome membuka kedua kelopak mata tepat ketika kendaraan berpelat hijau yang ditumpanginya berhenti karena lampu lintas berubah merah. Apapun yang ia pikirkan segera terpinggirkan, pusat perhatiannya tersedot ke aktivitas pagi di sebuah taman yang terlihat dari jendela; Sepasang suami-istri saling menyandarkan sisi tubuh dan bergenggaman tangan dengan mesra selagi mengawasi gadis kecil mereka membuat manusia salju. Tak jauh dari sana, ada seorang ibu yang berjongkok, wanita itu tersenyum lembut sambil mengelus lutut putranya yang terantuk sesuatu saat berlari. Seorang kakek dan cucu balitanya tengah berdampingan dengan nyaman di ayunan. Dan di sudut lain taman, terdapat sepasang muda-mudi yang duduk di kursi kayu panjang sedang bercakap-cakap dengan wajah tersipu.
Ia yang tidak menjadi bagian dari kegiatan bersahaja di Minggu pagi itu hanya dapat menyaksikan dengan wajah muram. Kerut-kerut getir terpahat di antara kedua alisnya, iris biru kelabunya kian suram kala menatap mereka yang saling berbagi kasih sayang. Rasa frustrasi yang melimpah-ruah dan asa yang hancur tak lagi terbendung. Kagome menyandarkan kepala ke jendela, tanpa suara, tetes demi tetes penderitaan mengalir di pelipisnya. Baginya saat itu, menyaksikan kebahagiaan bertebaran sangatlah menyakitkan.
.
Belasan menit kemudian ...
Meski jejaknya belum terhapus, air matanya telah berhenti mengalir ketika Kagome tiba di tempat yang ia ucapkan tanpa pikir panjang saat sang pengemudi taksi bertanya tempat tujuan. Tempat di mana ia memiliki sosok yang selalu dapat dijadikan tempat bersandar, yang mampu mengeringkan air mata dan memunculkan senyum di wajah sedihnya. Sebuah tempat yang ia sebut rumah.
Taksi itu segera menghilang setelah ia membayar. Tinggalah ia sendiri, di bawah langit yang benderang, mendongak, menatap puluhan anak tangga yang menuntunnya ke gerbang besar berwarna merah sebuah tempat ibadah yang bernama Kuil Higurashi.
Kenangan manis masa kecil yang lama terpendam kini menyeruak; kalimat membesarkan hati yang diiringi belaian hangat sang ibu terngiang, wajah riang Souta yang muncul dari tumpukan daun kering saat bermain petak-umpat di halaman kuil pun terbayang, senyum sang kakak di waktu-waktu terbaik mereka berdua pun terlukis diingatan, begitu pula racauan lucu sang kakek tentang Buyo maupun berbagai legenda yang orang tua itu percayai. Sebening kristal, semua tergambar dengan jelas di kepalanya.
Hanya dengan mengenang kembali potongan masa kecilnya, sudut-sudut bibir Kagome berkedut ke atas. Senyum hampir tergores, satu kakinya sudah berada di anak tangga terbawah, ia baru akan mulai menanjak jika saja ingatan lain tidak ikut terputar ulang.
Sangat disayangkan tapi sudah menjadi suatu kewajaran, memori masa kecilnya juga diisi oleh kenangan yang tak menyenangkan. Sejak ia bisa mengingat, ia tidak pernah berada di bawah lampu sorot, bahkan di dalam keluarganya sendiri, tidak selama ada Kikyou. Saat ia yang telah belajar mati-matian meraih peringkat nomor satu di kelas, kakaknya menempati posisi satu di Kota Tokyo. Ketika ia berhasil memiliki empat sahabat dekat, Kikyou memiliki satu sekolah yang memujanya. Masa peralihan dari kanak-kanak menjadi remaja pun tak membuatnya merasa lebih baik. Di Sekolah Menengah dulu, banyak pemuda yang mendekatinya hanya agar dapat berteman dengan sang kakak. Meski begitu, sebagai adik yang menyayangi saudari kandungnya dengan sepenuh hati, ia menekan semua perasaan negatif yang ada dan ikut berbahagia atas semua prestasi yang telah kakaknya raih.
Celakanya, itu hanya berlaku di masa lampau, tidak untuk saat ini.
Rasa terkalahkan di masa silam kembali menerjangnya. Perih hati yang telah mati selama bertahun-tahun seakan bangkit dan mencekiknya. Semua kekecewaan, kesedihan, juga rasa cemburu yang kembali terkuak seakan berlipat ganda. Walaupun ia sudah berusaha keras dalam hal apapun, ia kalah. Di sekolah maupun di rumah, ia selalu menjadi yang terbaik nomor dua. Kikyou yang brilian terlalu jauh untuk dilampauinya. Semua yang telah ia lakukan dan raih sejak dulu terus-menerus tertelan oleh kejeniusan sang kakak.
Kikyou akan senantiasa menjadi cahaya yang paling benderang di mata keluarganya. Dan selamanya, ia hanya akan menjadi bayang-bayang.
Hingga kini, ia telah menghabiskan hidupnya menjejak tepat di langkah sang kakak. Pada akhirnya, mereka setara, bukan dalam kecemerlangan tapi, sama menyimpang, sama hina dina. Dan itu membuatnya muak. Semua yang Kagome rasakan diperburuk oleh pelecehan yang baru-baru ini ia terima dari pria bernama Sesshoumaru, juga perbuatan semena-mena Naraku.
Emosi yang bercampur-baur kembali meletup-letup di dadanya. Kagome merasa dungu, bodoh, idiot, tolol, dan terkutuk. Layaknya sundal sial yang merasa sedih, marah, juga murka atas apa yang telah terjadi, ia mengumpat dan menyumpahi diri sendiri dengan semua sumpah-serapah yang ada di kosakatanya. Ia ingin menangis keras-keras, ia hendak berteriak pada dunia, ia ingin menyalahkan sesuatu, seseorang, atau apapun juga. Tapi tidak ada.
Yang paling mengenaskan dari semua yang ia rasakan adalah tidak ada yang dapat ia dipersalahkan. Kagome paham benar bahwa tidak ada yang dapat ia tunjuk selain dirinya. Karena faktanya, semua kesalahan memang hanya dapat dilimpahkan kepadanya seorang.
Di tengah kelabilan, hati kecilnya membisikkan sebuah nasihat yang menggiurkan.
Tiba-tiba, rentetan pikirannya diinterupsi oleh suara seorang laki-laki, "Oi!"
Kagome menoleh dan mengerjapkan matanya yang berkaca-kaca. Dia mengenali wajah itu, orang yang ada di hadapannya adalah pengacau yang ditolongnya di depan klub kemarin malam.
Ekspresi kasual lelaki itu menghilang, alisnya sedikit berkerut kala sosok yang ia sapa bertatapan dengannya. Gadis itu masih mengenakan tube dress dan heels berwarna hitam seperti yang ia lihat kemarin malam. Rambut panjangnya yang tergerai terlihat kusut. Riasan mata kucing yang malam sebelumnya terlihat elegan, kini membaur jauh dari ekor mata, berantakan. Ditambah lagi, matanya terlihat sembab dan wajahnya pucat. Kesan dinamis dan bersemangat yang ia tangkap dari gadis itu di malam sebelumnya lenyap tak bersisa. Yang sekarang ia lihat hanyalah gadis setengah sinting karena mengenakan pakaian minim di tengah embusan angin musim dingin.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya laki-laki itu. Karena yang ditanya tak lantas menjawab, ia bertanya lagi dengan suara yang dibuat agar terkesan acuh tak acuh, "Apa yang kau lakukan di sini, heh?"
"Aku ..." Bukannya menyahut, Kagome malah menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri, 'Apa yang aku lakukan di sini?'
Meski ia bukanlah orang yang ramah, demi mencairkan suasana, ia menambahkan, "Kau mau ke sana?" Dengan gerakan kepala, lelaki itu menunjuk arah kuil.
Kagome menggeleng kecil dan menurunkan kaki kanannya yang sedari tadi berada di anak tangga pertama.
Laki-laki itu menghela napas, mengeluarkan sesuatu dari kantung belakang celana jeans-nya, dan mengulurkan benda itu kepada Kagome. Sebuah sapu tangan. Tiga detik berlalu, gadis itu tak juga meraih benda yang ia berikan. Dengan gestur tidak sabar, pemuda itu meraih pergelangan tangan kanan dan meletakkan kain itu di telapak tangan sang gadis.
Kepala putri kedua Hitomi tertunduk, ia menatap saputangan itu sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Belum sempat ia berkata-kata, sebuah jaket sudah bertengger di bahunya.
"Pakai saja, aku tidak terlalu membutuhkannya," terang pemuda yang mengenakan kaos lengan panjang berwarna merah itu dengan santai.
Kagome mengangkat kepalanya yang lunglai.
Laki-laki itu memandang gadis yang ada di hadapannya, menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu meneliti air muka Kagome seakan mempertimbangkan sesuatu. Kemudian, dengan berat hati, lelaki itu bertutur, "aku harus pergi."
Kagome mengerjapkan mata, meraih kendali diri, menata ekspresi, kemudian menjawab dengan yakin, "aku baik-baik saja."
Laki-laki itu mengangguk. "Baiklah kalau begitu," sembari berjalan pergi, ia berujar, "Jaga dirimu!"
Ia berucap lirih, "Terima kasih."
Pemuda itu menoleh beberapa kali ke arahnya sebelum menghilang ditelan kerumunan.
Laki-laki asing itu memberinya sedikit perhatian yang ia benci dan syukuri disaat yang bersamaan. Dikasihani oleh orang lain tak membuat Kagome berbangga hati. Ia juga tidak mau dipandang sebelah mata oleh siapapun. Ia ingin dipandang setara. Mengikuti arah pikirannya berlabuh, dadanya membusung, kedua tangannya terkepal secara otomatis.
Sekarang, keputusannya sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat.
Kagome memutar badan, ia memunggungi anak tangga, dan bergerak menjauhi kuil yang menjadi rumahnya semenjak ia menghirup napas pertama kali di muka bumi. Tanpa satu iota keraguan, ia beranjak pergi. Pergi 'tuk memadamkan api neraka yang disulutnya, juga pergi untuk memutuskan perjanjian dengan sang Iblis. Itulah langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya, yang terbaik untuknya.
.
.
.
Tak sampai satu jam, Kagome sudah berada di depan gerbang kediaman Naraku. Di menit-menit berikutnya, ia sudah kembali ke kamarnya. Meski ia ingin cepat-cepat membasuh tubuh, tapi itu urung dilakukannya. Ia memiliki prioritas lain, mengambil tanda pengenal dan beberapa barang penting lain miliknya ke dalam satu tas besar berwarna kuning sebelum secepatnya pergi dari rumah dan hidup Naraku. Karena alasan itu jualah, ia hanya berganti pakaian dengan jeans hitam dan kaos lengan panjang yang pertama dilihatnya. Baru saja ia selesai berkemas, sang pemilik rumah memasuki ruangan.
"Kau ingin pergi?"
"Iya." Sesudah menyahut, batin Kagome malah mempertanyakan alasan keberadaannya di sana sejak semula. Apa yang sebenarnya selama ini ia lakukan di rumah itu? Mencoba menyematkan nyawa sang kakak sedikit lebih lama demi keluarganya? Surga akan terbakar tanpa sisa jika Kikyou yang bangkit dari koma lantas berbahagia. Ia teramat yakin, bila suatu saat nanti ia sadar dan melihat kondisi tubuhnya, kakaknya pun pasti akan berpikir bahwa ia lebih baik mati.
"Ke mana?" Tanpa melepas pandang pada Kagome, pria yang mengenakan jinbei tradisional berwarna abu-abu itu menutup pintu.
Pupil Kagome mengecil, jantungnya kian berdentam kencang, selaras dengan rasa takut yang mulai menelannya lamat-lamat, ia menjawab, "ke mana saja selain di sini."
"Kagome," panggil Naraku pelan. Bukannya menanggapi, gadis itu malah menyandang ransel ke bahu kanan dan kirinya. Pria itu berjalan mendekat, langkahnya tenang, wajahnya datar. Kagome mundur, satu langkah, dua langkah, hingga kakinya terhenti lantaran bagian belakang lututnya membentur sisi ranjang. "Kau tidak melupakan kakakmu, kan?"
"Tidak."
"Lalu, bagaimana dengannya?" Setelah mengambil jeda selama tiga detik, Naraku berkata lagi, "kau mengerti maksudku."
Kagome memasang wajah menantang. "Sejujurnya, aku tidak peduli." Ia merasa telah melakukan 'cukup' untuk keluarganya, terutama untuk kakaknya.
"Kikyou akan mati," tutur pria itu.
Lagi-lagi, semua tentang Kikyou, Kikyou, dan Kikyou. Tapi itu dulu, tidak sekarang. Kali ini, semua tentang dirinya. Ia tidak ingin gila karena terbelenggu oleh rasa tanggung jawab sebagai saudara kandung. Ia ingin hidup bebas, terlepas dari segala yang memberatkan. Khusus untuk hal ini, sekali ini saja, ia ingin menjadi egois. Ia ingin berjalan tanpa beban. Ia ingin mencari kebahagiaan pribadi. Ia ingin hidup demi dirinya sendiri!
Suara Kagome sinis saat membalas, "tentu, cepat atau lambat, Kikyou akan mati, begitu juga aku, kau, dan semua orang."
Mendengar itu, rahang Naraku mengeras, matanya memicing. Ada pemberontakan di biru kelabu yang sedang ia tatap lekat, tak ada takut yang tertera di wajah gadis itu. Entah mengapa, kala itu, melihat setiap bagian yang ada di diri Kagome bak pengingat akan kekalahannya dari pria culas bernama Sesshoumaru Taisho. Pria itu sengaja membuatnya menanggalkan harga diri untuk memohon bantuan. Si busuk itu memaksanya untuk menyerahkan salah satu miliknya yang berharga. Walau hanya semalam, efeknya begitu besar. Kini, burung kecilnya tak lagi bersikap manis.
Pria itu memandang gadis Higurashi itu lurus-lurus. "Apa dia melukaimu?"
"Yang benar saja," Kagome memberi tatapan tak percaya. Ia memang terluka, sekarat, tapi lebih secara psikis, bukan fisik. Menahan luapan emosi, suaranya mulai parau, "Setelah kau menyerahkanku pada orang itu tadi malam, kini kau bertanya?"
Seketika, rasa terhina, marah, dipermalukan, benci, dan terkhianati di dada gadis itu menjadi-jadi. Entah mengapa, yang terakhir itulah yang saat ini menjadi bongkahan terbesar yang menohok hatinya. Mengusir gentar yang tersisa, ia menatap balik kedua manik kelam itu dan berkata ketus, "Berhentilah berpura-pura peduli kepadaku!"
Di waktu yang sama, benak Naraku terombang-ambing. Seharusnya, momen seperti inilah yang ia tunggu-tunggu. Semestinya, inilah saat baginya untuk tertawa lantang. Saat-saat kekalahan Kagome. Sekarang, gadis itu paham bahwa tak ada lagi yang dapat ia lakukan untuk sang kakak, semua usahanya percuma, dan ia hanyalah lilin yang membakar dirinya untuk menerangi petak kecil disekitarnya.
Sepatutnya, pria itu bersuka cita. Namun, mengapa ia tak lantas berbahagia? Pada kenyataannya, tak ada kepuasan saat ia menatap ketegaran palsu yang terlukis di wajah gadis itu. Dan mungkin, tidak pula ada kesenangan yang 'kan ia rasakan bila mendengar kalimat putus asa keluar dari mulut Kagome.
Kedua alis pria itu berkumpul di tengah, wajahnya menegang, sorot matanya kian tajam menusuk. Semua yang terpancar darinya adalah kemurkaan dan mara bahaya. Naraku berusaha melepaskan tas itu dari bahu Kagome, dan gadis itu menepis tangannya. Kemudian, pria itu memerintah dengan nada yang tak terbantahkan, "Kau tidak akan pergi ke manapun!"
Gadis yang besar di lingkungan kuil itu menarik napas, mengangkat sedikit dagunya ke atas, memberanikan diri balik bertanya meski dengan suara yang bergetar, "Mengapa?"
Naraku bergeming.
Kagome melanjutkan, "lupakan saja, lagipula, aku tidak memerlukan izin darimu."
Dalam sekejap, pria itu maju; tangan kirinya melingkari punggung sebelum mencengkram lengan kiri Kagome kencang-kencang, dan tangan kanannya merenggut rambut di bagian belakang kepala gadis itu. Dengan rahang terkatup rapat dan suara penuh arogansi, Naraku mendekatkan bibirnya ke telinga Kagome. Saat itulah, ia menghirup bau tipis parfum rival pongah yang dibencinya. Otomatis, cengkramannya kian menguat, dengan geram, ia menyatakan klaimnya, "Karena kau milikku!"
Gadis itu mendesis. Demi meredam sakit, tangan kiri Kagome menahan di bagian akar rambut yang terjambak. Sedangkan tangan lain yang terimpit berusaha mendorong dada Naraku kuat-kuat. Tidak tunduk pada intimidasi pria itu, ia menyalak keras, "Kau salah, aku bukan milik siapapun! Camkan itu! Sekarang, lepaskan aku!" Naraku segera melepaskannya dan mundur selangkah.
Namun, secara mendadak, satu tangan terangkat di udara sebelum menyambar dengan cepat dan kuat. Sisi kiri wajah Kagome sontak memerah, bagian dalam pipinya robek, dan ia dapat mengecap rasa karat di mulutnya. Spontan, tangan kirinya menyentuh pipi yang terkena tamparan. Air mata mulai berkubang di permata biru kelabunya. Reaksi yang satu itu tidak diperkirakannya. Sebelumnya, tak pernah pria itu berlaku kasar dengan niat mencederainya. Naraku memang licik dan dapat melakukan segala cara demi meraih yang ia inginkan tapi, pria itu tidak pernah berkata buruk tentangnya atau melayangkan tangan. Tidak sekalipun, hingga saat ini.
Ia akan pergi, meski harus berjalan di atas bara api atau tumpukan jutaan jarum. Ia pasti akan pergi dari tempat itu.
Meski tekad Kagome kian kukuh, akan tetapi, tiba-tiba, setitik rasa mengepungnya. Hanya dengan berpikir untuk hengkang dari tempat itu, ia merasa ... berat hati?
Ia meraba-raba emosi yang baru menampakkan diri, mencoba menamakan rasa itu selain sedih, tapi gagal. Apakah rasa itu muncul karena ia akan merindukan kemewahan yang selama ini mengelilinginya? Tidak, ia lebih menyukai hidupnya yang sederhana di kuil.
Lalu, mengapa?
Apa sebabnya?
Jauh di dasar lubuk hati yang terdalam, Kagome tahu alasannya. Ia yang pada mulanya merasa tersiksa hidup dalam sangkar Naraku lebih memilih untuk berpura-pura bahagia. Begitu mahirnya, hingga terkadang dirinya sendiri lupa bahwa ia tengah bersandiwara.
'Mustahil!'
Sejak jawaban yang hadir bukanlah yang didamba, Kagome memeras otak, mencari-cari alasan yang dapat logikanya terima. Ia sangat berharap bahwa dugaannya itu tidak benar. Mungkin saja, ia salah mengartikan. Mungkin juga, tali yang mengikat tubuhnya kemarin malam menyumbat peredaran darah ke otak sehingga sel-sel kelabu di dalam kepalanya itu kini tidak berkerja sebagaimana mestinya. Atau mungkin, mulut manis pria itulah penyebab ia mengangankan omong kosong belaka?
'Itu lebih masuk akal.'
Tetapi, perdebatan mental yang berlangsung tiada berarti. Ia tak dapat membohongi diri sendiri atau menepis sanubari. Naraku tidak pernah berkata manis demi dirinya, yang pria itu lakukan hanyalah meluruhkan tembok pertahanannya, sedikit demi sedikit, secara perlahan, dan dengan cara yang janggal juga tak lazim, pria itu selalu menjejalkannya perhatian.
Jerit nalar telah lama terabaikan, layaknya virus yang menyebar lewat udara, menginfeksi, dan menelannya hidup-hidup, Taniguchi Naraku telah menuntunnya pada rasa yang berbeda. Tanpa peduli sebab-musabab, tidak hirau akan duka yang menghampiri dan luka yang terukir sendiri, tak acuh atas segala tragedi yang terjadi dan semua yang telah ia lewati, hatinya terlanjur meninggikan pria manipulatif itu.
Higurashi Kagome bukan lagi mangsa tak berdaya yang terjerat di jaring sang laba-laba licik, namun, selama ini, tanpa ia sadari, ia menjelma sebagai korban yang bersedia, patuh, dan rela menyerahkan hati pada sang pemangsa. Tak mampu lagi disangkal, ikatan menakutkan antara dirinya dengan pria itu telah lama terpintal.
Mata Kagome melebar kala kepahaman menyapu alam sadarnya, Naraku telah meraih sebagian kecil hatinya.
Pelan-pelan, gadis itu kembali mengangkat wajah dan memandang lekat sosok yang ada di depannya. Dengan suara serak dan sudut-sudut bibir yang tertarik ke bawah, ia berkata lirih, "setelah apa yang kau lakukan padaku ... " Kagome menggeleng, lalu mencemooh diri seraya tertawa sarkastis, "ini bodoh, aku sangat bodoh."
Naraku tak paham apa yang Kagome bicarakan. Pun, ia lebih tak mengerti apa yang sedang berkecamuk di dalam dirinya. Secara mental, ia bagai terhempas keras dan membentur dinding baja yang dipenuhi bilah pisau. Sejak Sesshoumaru membawa Kagome kemarin malam, harga dirinya seakan tercabik-cabik. Dan sekarang, saat gadis itu ada di hadapannya, semua tak lantas membaik. Sebesar apapun usahanya untuk menepis jauh-jauh perasaan gundah itu dan menggantikannya dengan yang lain, semua seakan tak berguna. Karena nyatanya, Kagome tak lagi menjadi obyek favorit yang bisa dikendalikan maupun mainan favorit 'tuk dihancurkan. Di hidupnya, gadis itu menjadi sesuatu yang lain.
Dada pria itu semakin asak, sesak oleh rasa asing, rasa yang ia benci, dan rasa yang teramat berat untuk ia akui.
Sebelumnya, ia telah mengenyam kekalahan.
Dan kini, ia mencicipi segelintir keputusasaan.
Namun, ia tak ingin mengecap bagaimana rasanya kehilangan.
Kala itu, Naraku merasa takut, ia takut kehilangan Kagome. Kagomenya seorang.
Pria itu berbalik badan, membuka pintu, kemudian keluar dari kamar itu. Kakinya tidak berhenti meski ia mendengar gadis itu berbisik, "kau tidak layak mendapatkannya."
Pintu tertutup. Beberapa detik berselang, suara yang memisahkan sang gadis dari dunia luar pun terdengar. Naraku tak langsung melangkah, untuk beberapa saat, ia berdiri membelakangi pintu. Dari dalam ruangan, Kagome memutar knop berkali-kali dengan panik. Seperti yang ia duga, daya upayanya tanpa hasil, pintu itu terkunci. Merasa kalah, ia menyandarkan kening ke daun pintu dengan bulir-bulir kristal yang terjun bebas dari sepasang safir kelabunya.
Setelah beberapa saat mendengarkan isak tangis yang berasal dari dalam kamar, pada akhirnya, Naraku beranjak pergi.
.
.
.
Pada malam harinya ...
Jarum panjang dan pendek jam yang ada di ruang baca menunjukkan angka kembar saat Naraku, dengan tubuh terbalut jubah tidur terbuat dari sutra yang berwarna ungu tua dan ditemani sebotol angggur berusia enam puluh tujuh tahun duduk di depan perapian, tenggelam dalam pemikiran.
Sedangkan, di ruang lain di rumah yang sama, Kagome membuka jendela lebar-lebar, udara dingin menerpa wajahnya ketika ia menjulurkan kepala keluar demi melihat keadaan. Setelah situasi dirasa aman, ia segera mengulurkan kaki kanan keluar, diikuti yang satunya lagi, kemudian ia duduk di dasar jendela. Lengannya berpegangan kuat pada kusen jendela. Dari lantai dua rumah mewah itu, ia menatap hamparan salju di halaman. Dadanya mengembang hebat sebelum mengempis dalam satu helaan napas panjang. Tak ingin membuang waktu yang berharga, ia membangun nyali, memejamkan mata, dan ... terbang.
Tak ada penghuni rumah yang curiga, suara yang terdengar kala gadis itu melompat hanya seperti bunyi gundukan salju yang terjatuh dari atap seperti biasanya.
Kagome tertelungkup dengan wajah dan rambut yang terhias oleh serpih putih. Saat berusaha bangun dan menggunakan kedua tangan sebagai tumpuan, ia mengernyit. Semua kerutan berkumpul di tengah wajahnya. Ia menatap pergelangan tangan kanannya sejenak, sumber semua sakit yang ia rasakan berasal. Susah payah, Kagome bangkit dari atas tumpukan es lembut itu dengan satu tangan.
Hanya dalam hitungan detik, kakinya sudah menjejak tanah dengan mantap. Dengan tangan kiri yang memapah tangan kanannya, ia mulai beringsut dari tempatnya. Tapak demi tapak ia ambil perlahan. Kian lama, langkahnya kian cepat. Pertukaran penjaga gerbang hanya terjadi sekali, tepat jam sebelas malam, dan itu berarti tiga menit lagi. Tidak bersedia menghancurkan rencana yang ia susun sejak siang dan menyia-nyiakan peluang terbaiknya, Kagome memaksa diri, tak mengindahkan rasa sakit, sekuat tenaga ia memacu kaki.
Mengakui rasa menyimpang yang baru-baru ini ia kenal tak lantas menggoyahkan tekadnya, asteroid sebesar bulan boleh saja menghancurkan bumi esok hari, tapi keputusannya telah final. Ia tetap akan pergi dari rumah itu.
Tatkala ia berhasil melintas pekarangan dan sembunyi di pojok taman, adrenalinnya terpacu ke titik tertinggi, mulutnya sedikit terbuka, napasnya terengah-engah, dan tubuhnya menggigil oleh antisipasi. Dari balik lentera tradisional yang terbuat dari tumpukan batu dengan tinggi seratus lima puluh sentimeter, Kagome mengintai satu-satunya penjaga yang ada.
Sesuai dugaan, penjaga keamanan itu meninggalkan tempatnya dan menuju bangunan utama tepat jam sebelas malam. Setelah punggung petugas keamanan itu tak lagi terlihat, lekas-lekas ia merangsek masuk pos dan memencet tombol untuk membuka gerbang. Bunyi halus besi yang bergesekan kala pagar itu terbuka menjamah indra pendengarannya. Tanpa membuang tempo, hanya bermodalkan pakaian yang melekat di tubuh dan dokumen-dokumen penting miliknya di saku, Kagome bergegas keluar dari sarang kebejatan dan berlari menyambut kebebasan.
Meski kedua tungkainya sudah bergetar hebat, Kagome tak menurunkan kecepatannya. Beriringan dengan degup jantung yang bertalu kencang, langkahnya kian panjang. Setelah ia keluar dari deretan perumahan mewah dan sampai di sisi jalan raya belasan menit kemudian, barulah ia menepi di bawah sorot pucat lampu jalanan.
Dengan tubuh membungkuk dan tangan gemetar, Kagome meraih ponsel yang ada di saku jaketnya. Tak lama, ia sudah tersambung dengan seseorang. Dengan napas yang masih tersengal-sengal, ia berkata, "aku akan ke sana sekarang." Setelah suara di seberang sana berpesan agar ia berhati-hati, Kagome mengakhiri panggilan itu.
Senyum tipis terpatri, menyertai harap yang berjejalan di dada gadis itu. Mulai sekarang, ia 'kan memeluk masa depan yang ia kehendaki meski di tanah hitam nan tandus yang bahkan tak ditumbuhi semak belukar sekalipun. Tak mengapa bila ia harus membanting tulang demi sesuap nasi. Ia kan berjuang, meraih martabat yang tertanggalkan, dan kehidupan yang ia inginkan.
Kagome mengeratkan jaket pemberian itu, surai kelam nan panjangnya yang dikuncir tinggi terayun ketika ia berjalan cepat. Dengan kedua punggung tangan, ia menghapus kasar genangan air di sudut mata. Kemudian, tangan kirinya bertengger di atas dada kiri, ia menikmati tiap-tiap degup jantung. Setelah semua yang telah ia lalui, ia masih bernapas, berdebar, dapat berjalan, juga berlari. Ia masih hidup!
Sejak saat ini, ia akan meraungkan lagu perjuangannya pada dunia. Ia bukan lagi manusia yang dapat dipermainkan dan menikmati penindasan. Ia akan memilih jalan hidup dan menggubah takdirnya sendiri. Bila ia dapat mencapai suatu kebahagiaan atau jika ia memang harus berlumuran dosa, maka, itu atas kehendaknya, bukan karena ia harus berkorban untuk siapapun lagi!
.
.
.
Taksi yang Kagome tumpangi berhenti di depan sebuah bangunan tiga lantai sederhana. Seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat yang berdiri di gerbang gedung itu segera menghampiri dan menyambut kedatangannya dengan pelukan erat.
"Kagome-chan, kau membuatku khawatir." Seusai meneliti keadaan sahabatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, wanita itu bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"
Kagome memaksa diri untuk tersenyum tipis, sambil meringis dan melirik bagian tubuh yang ia maksud, Kagome berkata, "kurasa aku mematahkan tanganku."
~Bersambung~
End notes: Terima kasih untuk semua yang udah baca dan review, juga fav&follow. Catatan kali ini akan panjang; Iya, beberapa bagian fic ini memang 'menjijikkan' bagi sebagian pembaca. Maaf, sekali lagi, maaf yang sebesar-besarnya untuk semua reader yang kurang berkenan. Namun, sedari awal sudah dicantumkan di peringatan. Another warnings, meski ada romance dan fluff di bab 5 ke atas, tetap akan ada lain hal yang mengganggu sebagian orang karena menyinggung tema yang cukup sensitif.
