Mungkin ini Capter bakal rada gaje – author

.

.

"Eomma~ bolehkah aku memesan pizza?" Tanya Baekhyun dengan lesu menatap semangkuk nasi di hadapannya.

"Tunggulah sebentar lagi Bibi Song akan segera menyiapkan makanan! Terlalu sering makan pizza itu tidak baik Byun!" Tutur Taeyeon yang juga malas menanggapi anaknya yang manja itu.

"Aku bosan! Setiap hari memakan makanan yang sama! Kita tidak berada dalan istana pada jaman Joseon ngomong-ngomong" Oh, tentu saja Baekhyun bosan kalau setiap harinya harus memakan-makanan tradisional Korea. Karena Kakeknya benar-benar menyukai menu jaman kerajaan.

"Makanlah untuk hari ini saja. Nenekmu sudah lama tidak memakan makanan asli Korea. Besok kau bisa makan apapun yang kau mau!" Ucap Jonghyun lembut sambil mengusap surai almond milik Baekhyun.

"Ya! Manjakan saja terus sana anakmu!" Dan Jonghyun hanya meringis mendengar perkataan istrinya.

Setelahnya, beberapa pelayan yang bekerja di kediaman Park pun datang membawa berbagai hidangan khas tradisional korea.

"Selamat makan!" Ucap Baekhyun mendahului keluarganya yang lain dan langsung memakan makanan di depannya dengan lahap.

"Katanya bosan tapi kalau makan tidak ada bedanya dengan babi!" Sindir Taeyeon lagi. Yuri terkekeh karenanya.

"Sudahlah, ayo kita makan!" Ucap Kakek Park kemudian.

"Ngomong-ngomong Baekhyun-ah!" Ucap Jonghyun di tengah-tengah acara makan mereka. "Aku bertemu paman Minho kemarin, dia berkata minggu lalu bertemu denganmu di pusat perbelanjaan!"

"benarkah?! Huft! Kalau saja paman Minho belum menikahi bibi Taemin, aku mau menjadi istrinya! Tapi kalau paman Minho benar-benar bertemu denganku, kenapa dia tidak menyapaku?"

"Katanya kau bersama pacarmu! Kau merengek seperti bocah taman kanak-kanak!" Baekhyun mendecakkan bibirnya atas jawaban ayahnya. "Jangan terlalu manja! Kau tidak kasihan dengan Bobby apa?" lanjut Jonghyun.

"Bobby? Aku sudah putus dengannya! Aku yakin kalau Paman Minho bertemu denganku saat aku berkencan dengan Ravi!"

"Siapa itu Ravi? Pacarmu baru lagi? Kenapa tidak dibawa kemari?" Tanya Kakek Park.

"Percuma! Aku juga sudah putus dengan Ravi! Besok akan ku bawa pulang pacarku yang baru! Namanya Cha Eunwoo! Kalian pasti menyukainya! Dia baik, dan ramah, dan sopan, dan pengertian,…" Baekhyun tersipu sendiri membayangkan kekasihnya.

"Aku paling menyukai Hongbin!"

"Yak! Pak Tua! Aku sudah lama putus dengannya! Jangan diingatkan lagi!"

Kakek Park terkekeh, "Kenapa? Kau masih belum bisa melupakannya?"

"Ayaahh~~~ Pak Tua itu mengolok-olokku!" Adu Baekhyun kepada Ayahnya sambil menunjuk Kakeknya tanpa sopan.

"Wah! Sepertinya Baekhyun sangat populer di kalangan pria!" Celetuk Yuri.

"Dia hanya bermain-main!" – Kakek Park.

"Baekhyun-ah! Sudah berapa kali Eomma ka nada, jangan terlalu sering bergonta-ganti pasangan, itu tidak baik bagi kesehatan!"

"Aku selalu menggunakan kondom"

"Uhuk!"

"Chanyeol-ah! Kau tidak apa-apa?" Tanya Jonghyun sambil memberikan segelas air untuk Chanyeol yang duduk di depannya.

"Ah! Tidak! Aku hanya tidak terbiasa memakan makanan pedas!" jawab Chanyeol setelah menenggak habis isi gelas tadi. – tidak, Chanyeol berbohong tentang alasannya itu.

Lalu yang lainpun melanjutkan acara makan malamnya yang sempat tertuda.

Bocah ini benar-benar bukan anak baik – Chanyeol.

~UNCLE~

"Baiklah Ayah, aku pamit dulu! Besok masih ada keperluan yang harus aku urus!" Pamit Jonghyun kepada ayah mertuanya.

"Taeyeon Eonni juga ikut?" Tanya Yuri tidak semangat.

Taeyeon menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Yuri. "Aku masih punya pekerjaan besok!" Tambahnya dan Yuri langsung menunduk lesu karna belum lama melepas rasa rindunya dengan noona kesayangannya yang juga merangkap sebagai anak tirinya.

Baekhyun yang menyadari muka murung neneknya langsung merangkul lengan kiri Yuri. "Nenek jangan khawatir! Karna aku kan juga tinggal disini!" Ucap Baekhyun ringan.

"MWO!" Mendengar yang dikatakan Baekhyun, Chanyeol langsung membolakan matanya yang sudah lebar.

Baekhyun menjulurkan lidahnya untuk membalas teriakan Chanyeol yang menggema di seluruh ruangan itu. "Apa? Tidak suka? Masalah? Aku kuliah di dekat sini jadi aku TING – GAL – DI – SI – NI! Dan sebagai informasi kalau kamarmu tepat berada di depan kamarku!"

Chanyeol makin memelototkan matanya, bibirnya-pun menganga lebar. Tentu saja itu adalah masalah. Sejak insiden Chanyeol dikatai Brengsek di dalam mobil sepulang dari bandara tadi, Baekhyun benar-benar marah dan terus-terusan menjambak rambut Chanyeol sampai beberapa helainya rontok. Intinya, Chanyeol trauma.

"Apa-apaan matamu itu?! Mau ku congkel? Aku tahu aku memiliki mata sipit dan kau memiliki mata yang bulat dan besar! Aku tidak tertarik jadi percuma kau pemerkan!" Tambah Baekhyun.

"Baekhyun! Jangan bertengkar terus! Dia itu pamanmu!" Lerai Jonghyun.

"Baekhyun, besok ajak Pamanmu mengelilingi kota! Tentu saja dia baru pertama kali ada di Korea!" Titah Kakek Park yang langsung ditanggapi dengan pelototan tajam Byun Baekhyun.

"Yak Pak Tua! Enak sekali kau menyuruhku?! Kenapa harus aku? Kenapa bukan paman Kang saja? Aku tidak mau! Aku masih dendam dengan PA – MAN – CHAN – YEOL!" Jawab Baekhyun tegas sambil melirik tajam Chanyeol yang juga memelototkan matanya menatap Baekhyun. Mungkin jika ini adalah serial animasi, akan ada listrik satu juta volt yang menghubungkan mata mereka.

"Kau pikir aku mau apa mengelilingi kota denganmu!" Jawab Chanyeol ketus.

"Perbaiki dulu cara bicaramu sebelum berbicara denganku!" Debat Baekhyun.

"Aku menguasai bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, Korea, Jepang, dan China! Apalagi yang harus kuperbaiki!" Kali ini Chanyeol menjawabnya tidak kalah sengit.

"BERDEBATLAH TERUS MAKA KREDIT CARD KALIAN AKAN AKU BLOKIR!" Ancam Kakek Park yang langsung membuat Chanyeol dan Baekhyun menutup mulut mereka sambil memalingkan wajah.

"Baekhyun! Turuti kata Kakekmu! Ajak Pamanmu mengelilingi kota besok!" Ucap Jonghyun tegas tak terbantahkan.

Baekhyun menghembuskan nafasnya lalu mengangguk lemah. Memang ayahnya selalu memanjakannya dan selalu bersikap lembut namun sekalinya Jonghyun berkata-kata dengan nada tegas, Baekhyun akan langsung menjadi anak baik yang menuruti semua perintah orang tuanya – ralat, hanya perintah Jonghyun, Ayahnya.

~UNCLE~

Baekhyun mengedarkan pandangannya, dan sejauh matanya memandang hanya hamparan rumput luas yang ada di sekelilingnya. Langitnya begitu biru dengan hiasan awan putih selembut kapas sebagai pelengkap.

Baekhyun menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan "Segarnya~" Gumam Baekhyun.

Seekor kupu-kupu melewati telinga kirinya. Baekhyun tersenyum, mengejar kupu-kupu itu bagaikan anak kecil dan berusaha menangkapnya.

"Hap! Kena kau!" Ucap Baekhyun ketika berhasil menangkap kupu-kupu itu di telapak tangannya.

Baekhyun membuka kedua telapak tangannya. Baekhyun yakin telah menangkap kupu-kupu itu, namun kenapa kupu-kupu itu menghilang seolah Baekhyun hanya menangkap udara?

Pada saat yang sama, angin berhembus cukup kencang dari arah belakang Baekhyun, menerbangkan helaian bunga dandelion yang berada di samping kakinya. Baekhyun ikut menutup matanya dengan tangan kirinya.

Beberapa detik. Hanya beberapa detik sampai angin itu melewatinya dan berhenti berhembus. Baekhyun membuka matanya, namun yang didapat setelahnya malah membuatnya mengernyit bingung.

Disana, tepat lima meter dari tempatnya berdiri. Pamannya, Park Chanyeol sedang berdiri degan setelan jas putih dengan membawa tiga tangkai bunga lily. Chanyeol tersenyum menawan, apalagi dengan rambut yang gaya yang diangkat keatas membuat kadar ketampanannya semakin bertambah.

Namun sepertinya pemikiran Byun Baekhyun berbeda dengan pemikiran Author dan para pembaca.

"Heol~ kenapa manusia itu memakai pakaian serba putih? Apa dia sudah mati? Apa ini dimensi perlintasan antara alam dunia dengan alam baka? Apa dia ingin meminta maaf dulu padaku sebelum benar-benar mati? Benarkan! Dia itu terlalu banyak dosa kepadaku!" Gumam Baekhyun kepada dirinya sendiri.

Baekhyun lalu menyadari sesuatu. Baekhyun menunduk untuk memastikan apa yang ada dipikirannya. Dan benar. Ia juga memakai setelan jas putih yang sama dengan milik Chanyeol.

"Apa-apaan ini! Ya Tuhan! Aku tahu aku memiliki banyak dosa! Tapi jangan cabut nyawaku dulu! Tidak apa-apa kalau Kau ingin mencabut nyawa Paman Chanyeol tapi jangan dulu nyawaku! Aku masih belum menjadi istri yang baik untuk suami yang tampan dengan penis besar Ya Tuhan! Biarkan cita-citaku menjadi istri yang baik untuk suami yang tampan dengan penis besar terkabul dahulu lalu Kau boleh mencabut nyawaku! Aku akan rajin ke gereja setelah ini! Aku berjanji!" Begitulah doa Baekhyun panjang lebar.

Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun. Tapi senyum menawan Chanyeol bagi Baekhyun malah membuatnya terlihat makin menakutkan. Baekhyun mulai berpikir kalau yang melangkah menujunya adalah malaikat maut yang menyamar menjadi Pamannya.

"Baekhyun-ah!" Panggil Chanyeol yang telah berdiri diam dua meter dari nya.

"Apa?! Kau mau aku ikut mati bersamamu?! Kau ingin menarikku ke alam baka?! Asal kau tahu aku tidak akan mengikutimu kemanapun sebelum Justin Bieber atau Zayn Malik menjadi suamiku, mengerti!"

Chanyeol hanya terkekeh pelan dan itu membuat Baekhyun makin ketakutan.

"Baekhyun-ah!" Chanyeol memenggal kata-katanya dan itu membuat Baekhyun makin was-was. "Bangunlah!" Lanjutnya.

Baekhyun memiringkan kepalanya tidak mengerti. Namun tiba-tiba saja puluhan domba berlari melewatinya membuat tubuh Baekhyun tergoncang.

Dari mana datangnya domba-domba ini? – pikir Baekhyun namun Baekhyun tetap berusaha menyeimbangkan tubuhnya.

Baekhyun menoleh kebelakang untuk melihat seberapa banyak domba-domba itu dan pas sekali, domba paling besar sedang berlari kearahnya dan,…

'duk!'

"Astaga Baekhyun-ah!"

Baekhyun mengerjapkan matanya sambil mengelus-elus bokong seksinya yang baru saja mencium lantai. Bibi Song datang kehadapannya dan membantu Baekhyun bangun. Ini di kamarnya.

Ah,… ternyata hanya mimpi.

"Bibi! Dimana domba-domba itu! Aku benci domba yang paling gemuk jadi buat domba itu menjadi sajian utama makan malam!"

Bibi Song mengernyit heran. Perasaan tadi malam tuan mudanya ini langsung tidur dan tidak menyentuh alkohol sedikitpun.

"AKU BENCI DOMBA ITU HUEEE!" Jerit Baekhyun lalu menangis sekencang-kencangnya.

"Cup! Cup! Cup! Cup! Sudah jangan menangis! Nanti malam Bibi pastikan akan membuat domba itu menjadi menu utama makan malam! Baekki jangan menangis lagi! Sekarang Baekki cuci muka lalu turun kebawah untuk sarapan!" ucap Bibi Song sambil mengelus-elus kepala Baekhyun. Beruntung Bibi Song sudah terbiasa menghadapi tingkah ajaib Byun Baekhyun.

Baekhyun menganggukkan kepalanya lalu melangkah menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Baru beberapa langkah Baekhyun menghentikan langkahnya dan menatap Bibi Song kembali. "Bibi~ di kamar mandi tidak ada domba itu kan?"Tanya Baekhyun.

Bibi Song memutar kepalanya mencari ide. "Ah! Dombanya tadi sudah ditangkap Paman Kang! Dia harus bersiap-siap untuk dijadikan menu utama makan malam!"

Baekhyun lalu kembali melangkah ke kamar mandinya.

Usai mencuci muka, Baekhyun langsung beranjak menuju meja makan. Di sana, sudah duduk Chanyeol yang sedang membaca berita melalui tabletnya sambil sesekali meminum kopi di tangan kanannya.

Baekhyun menduduki kursi yang berseberangan dengan Chanyeol, tak lupa matanya memicing menatap Pamannya itu.

"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Chanyeol yang merasa risih ditatap seperti itu.

"Yak Paman! Katakan padaku, kau ini manusia bukan?"

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. "Aku tahu aku tampan! Tapi aku bukan malaikat atau semacamnya!"

"Aku benar-benar berpikir kalau kau itu malaikat pencabut nyawa!"Ucap Baekhyun polos.

"Apa kau bilang?! Baiklah! Mau ku cabut nyawamu itu?!"

"Yak! Sudah ku bilang aku tidak mau mati sebelum aku bisa menikahi Justin Bieber atau Zayn Malik!" Sepertinya Baekhyun masih terbawa mimpinya.

"Waahh~~ Sepertinya pagi ini sangat ramai!" Ucap Yuri yang baru bergabung.

"Byun Baekhyun, Park Chanyeol! Masih pagi! Jangan berkelahi apalagi ini adalah meja makan!" Lerai Kakek Park.

Seakan tidak mendengarkan, Baekhyun justru terfokus kepada cara jalan neneknya yang sedikit aneh. Baekhyun tidak bodoh untuk mengetahui alasan kenapa neneknya berjalan mirip penguin.

"Yak! Pak Tua! Kau apakan nenekku sampai berjalan aneh seperti itu!"Hardik Baekhyun langsung. Pipi Yuri memerah seketika.

"Tentu saja aku menyalurkan rasa rinduku kepada istriku! Menurutmu apalagi?!"

"Dasar Pak Tua!"

Dan disaat yang sama, Bibi Song dan beberapa Maid lainnya menyiapkan beberapa menu untuk sarapan. Tidak mewah, hanya nasi, jap jae, telur gulung, tempura dan beberapa jenis masakan lain tapi mampu membuat Baekhyun langsung makan dengan lahap.

"Baekhyun-ah! Berusahalah akrab dengan pamanmu! Baru dua hari dia disini dan kau sudah membuatnya selalu bertengkar denganmu!" Tutur Kakek Park berusaha bijak.

"Kau sok bijak sekali Pak Tua! Pencitraan di depan istrimu?!"

"Yak!"

Yuri berdehem kemudian berusaha menenangkan Kakek dan Cucu yang tidak pernah akur. "Ayahmu benar Chanyeol-ah! Apakah tidak ada sesuatu yang ingin kau ketahui tentang Baekhyun agar kalian bisa lebih dekat?"Tanya Yuri kepada putra semata wayangnya.

"Aku ada!" Baekhyun mengangkat tangannya antusias.

"apa?"Tanya Chanyeol tidak berminat.

"Paman, bahkan teman-temanku sangat penasaran tentang hal ini! Kau punya banyak teman pria yang asli Amerika kan?"

"Iya, kenapa?"

"Apakah pria-pria di Amerika benar-benar memiliki penis yang besar seperti di semua film porno?"

"uhuk!"

.

.

Tbc

Gimana? Panjang ga? Tapi maaf loh ya baru update kegiatan banyak soalnya hehe… gaje kan? Maaf kalo mengecewakan. Btw siapa yang juga baru dapet acara full day school? Duh, aku full day school baru seminggu capek banget. Libur dua hari rasanya masih kurang enaknya sih ga ada pr. Belom lagi ekstra kurikulernya. Duh! Ga ikut tapi udah seneng banget aku sama ekstranya. Btw lagi ciiieeeeee mamih papih di mobil duduk berdampingan uhuuuyyy kek mau berangkat bulan madu ajaaa…..

Gimana? Masih penasaran kakek Park itu siapa? Hehehehe ternyata Capter ini belom aku umumkan siapa kakek Park itu. Reviewnya ditunggu yaaaa…. ^^

P.s. kalo incest itu hubungan sedarah, paman sama keponakan itu masih termasuk incest ga?