Telah seminggu berlalu sejak kedatangan Chanyeol di Korea. Telah seminggu juga hidupnya terusik dengan kehadiran Baekhyun. Kamar mereka yang berhadapan, membuatnya merutuki nasibnya.

Bagaimana tidak. Jika pagi datang, Baekhyun akan bangun sangat pagi, terutama saat hari libur. Setelahnya, dia akan memutar musik keras-keras dan ikut menyanyikannya. Namun jangan salah. Walaupun Baekhyun bangun pagi, dia tetap keluar dari kamar setelah dua atau tiga jam berlalu sejak nyanyiannya terdengar. Entah apa yang dilakukannya di dalam sana. Berdandan mungkin? Chanyeol tidak pernah tahu, Chanyeol hanya menebak. Dan spekulasinya ini didukung dengan Baekhyun yang memiliki meja rias dengan banyak make up dan alat-alat kecantikan diatasnya. Setidaknya itu yang Chanyeol lihat ketika tak sengaja melirik isi kamar Baekhyun. Apalagi Baekhyun tidak pernah terlihat keluar rumah tanpa eyeliner dan lipbalm. Chanyeol benar-benar meragukan gender Baekhyun.

Dan hari ini Chanyeol makin meragukannya. Bagaimana tidak? Pagi ini Baekhyun diajak pacarnya untuk jogging bersama. Bukan masalah sebenarnya. Yang menjadi masalah adalah bagaimana Baekhyun memakai celana yang terlalu pendek yang dipadukan dengan kaos tanpa lengan. God damn it! Itu adalah paha termulus yang Chanyeol pernah lihat sepanjang hidupnya. Dan jangan lupakan pantat bulat yang tercetak jelas dan hanya tertutupi oleh selembar kain tipis itu. Bagaimana pantat itu bergoyang ketika Baekhyun berjalan, apalagi Baekhyun nanti akan berlari.

"Apa kau lihat-lihat!" Sungut Baekhyun tajam.

Chanyeol mengalihkan pandangannya dengan kikuk lalu kembali memakan roti isinya. "Memangnya apa yang aku lihat!"

Baekhyun ganti memicingkan matanya. Dia cukup peka untuk mengetahui bahwa paman mudanya itu telah memperhatikannya sejak ia datang ke meja makan. "Hei Paman, mataku tidak buta untuk melihatmu sedang mencuri pandang pada pahaku! Kau terlihat sangat bernafsu!"

Chanyeol memalingkan wajahnya sambil berdecih malas. "Cih! Pahamu itu? Itu terlalu kurus untuk dapat membuatku merasa bernafsu!" Namun percayalah, Chanyeol itu sedikit munafik.

SIAL! PAHANYA MONTOK SEKALI! – isi hati sesungguhnya dari seorang Park Chanyeol.

"Baekhyun-ah, nanti temani nenek berbelanja ya?! Hanya tinggal bahan-bahan untuk membuat kue yang tersisa di rumah kita!" Ucap Yuri yang datang dari dapur sambil membawa telur mata sapi. Namun setelah melihat penampilan Baekhyun, Yuri malah mengernyitkan dahinya. "Kau mau kemana Baekhyun?"

"Oh, itu aku akan berolahraga dengan kekasihku! Tapi, aku bisa bila harus menemani nenek setelahnya!"

"Oh! baguslah kalau begitu! Karena nanti kolega Kakekmu akan makan malam di sini, jadi kita harus berbelanja cukup banyak makanan! Bibi Song anaknya sedang sakit, jadi nanti cheff Kwon yang akan kemari!"

"Kolega kakek akan makan malam disini? Apa berarti nanti Changmin Hyung juga akan datang?"

Chanyeol mendelik menatap Baekhyun sedangkan Yuri hanya mengangguk atas pertanyaan cucunya. Chanyeol pikir, kanapa harus ada Changmin yang menikuti makan malam?! Jujur saja, Chanyeol seperti antara suka dan tidak suka terhadap calon sekretarisnya itu. Alasannya? Chanyeol suka karena pria itu sungguh berkompeten, loyal, pekerja keras dan dapat diandalkan. Namun alasan tidak sukanya, Chanyeol sendiri tidak paham dengan isi hatinya.

"HOREEE!" Namun sepertinya hal ituberbeda dengan Baekhyun yang sangat bersemangat. Baekhyun bahkan langsung melompat dan memeluk nenek tersayangnya. "Boleh aku membantu memasak? Ya nek ya? Bolehkan?" Tanya Baekhyun sambil mengeluarkan puppy eyes nya.

Namun sayang neneknya menggeleng. Hal itu tentu membuat semangat Baekhyun menurun. Namun Yuri tahu, kalau Baekhyun ikut memasak yang ada Baekhyun hanya akan merepotkan chef Kwon. Memasak ramen instan saja Baekhyun tidak bisa. Menyeduh susunya sendiri saja Baekhyun juga tidak bisa. Yang bisa Baekhyun lakukan dalam hal memasak hanyalah menyeduh ramen dalam cup karena tinggal ditunggu.

"Baekhyun sayang, jangan bersedih! Kalau kau ikut memasak lalu tidak sengaja memotong tanganmu sendiri, atau menumpahkan air panas, atau kecipratan minyak bagaimana? Changmin Hyung pasti akan khawatir!"

Jelas, Yuri telah mengetahui sedekat apa hubungan Baekhyun dan Changmin. Yuri bahkan bertanya-tanya, kalau memang Changmin menyukai Baekhyun, terbuat apa sebenarnya hatinya. Karena jelas Baekhyun yang suka bergonta-ganti pacar tentu saja dapat melukai hatinya.

"Baiklah~ Baekki tidakakan ikut memasak! Nanti Baekki sakit, Changmin Hyung bisa khawatir. Kalau Changmin Hyung khawatir nanti Baekki bisa diomeli. Baekki tidak suka diomeli!" Ucap Baekhyun sambil tetap mengerucutkan bibirnya.

Namun karena pernyataan Baekhyun diatas, Chanyeol jadi sedikit penasaran sedekat apa hubungan Changmin dan Baekhyun sebenarnya.

"Baekki pergi dulu~!" Baekhyun lalu beranjak untuk menemui kekasihnya.

Yuri melirik putra semata wayangnya yang terdiam dari tadi. Tidak seperti biasa karena biasanya dia akan terus berdebat dengan Baekhyun. "ehem! Park Chanyeol!"

Chanyeol yang merasa terpanggilpun menatap ibunya dengan ekspresi wajah sama seperti sebelumnya.

"Perhatikanlah matamu! Jangan menatap pantat cucuku seperti itu!"

~UNCLE~

"Aku pulang~!" Ucap Baekhyun ketika baru memasuki rumahnya setelah terhitung tiga jam pergi.

Yuri keluar dari dapur dengan clemek sedikit ternoda oleh tepung. Baru selesai meletakkan kue ke dalam oven. "Oh! Baekhyuni sudah pulang? Kenapa cepat sekali? Nenek pikir Baekhyuni akan berkencan lebih lama dengan pacarmu!".

Baekhyun mencomot cookies yang baru saja neneknya taruh ke dalam toples. "Pacarku ada sedikit kegiatan Nek! Dia berkata harus segera menyelesaikan tugas kuliahnya karena dosennya meminta tugas itu dikumpulkan lebih cepat. Tapi Baekki tahu kok kalau alasan sebenarnya Eunni (Eunwoo) ingin mengunjungi seseorang!"

Yuri menatap kaget cucunya setelah apa yang dituturkan Baekhyun. "Pacarmu berbohong kepadamu?"

"Kkkk… Sebenarnya Baekki baru mengenalkan seseorang kepadanya minggu lalu. Baekki tahu kalau Eunni menemui orang itu!"

"Itu artinya kau memberikan pacarmu kepada orang lain? Kau itu biro jodoh atau bagaimana?" Ucap Chanyeol yang tiba-tiba datang dari dapur sambil membawa segelas jus jerus.

"Paman, kau itu tidak punya kerjaan ya? Kakekku menyuruhmu ke Korea untuk belajar menjadi CEO yang baik! Bukan malah bermalas-malasan dan menjadi pengangguran!"

"Kalau kau merasa cukup rajin untuk menceramahiku, kenapa tidak kau saja yang menjalankan perusahaan? Lagipula aku terlalu tampan untuk kau katakan sebagai pengangguran!"

"Oh, kalau begitu aku akan berkata kepada Kakek kala !" Baekhyun berbicara dengan penekanan hampir di seluruh ucapannya. Baekhyun tidak suka pada pria yang malas padahal dia sendiri adalah pria yang cukup malas. Tapikan Baekhyun itu uke yang nanti setelah menikah akan menjadi istri yang baik yang mengurus rumah tangga tanpa bersusah payah mencari uang dan hanya perlu memintanya kepada sang suami.

Chanyeol melotot menatap Baekhyun. Bagaimana mungkin Baekhyun yang bertangan halus seperti pantat bayi itu bisa menjadi CEO perusahaan? Yang ada perusahaan malah berantakan karena dia terus mendebat seluruh karyawan dan menggoda seluruh investor yang sudah beristri "Yak!..."

"Sudahlah jangan berdebat! Baekhyunna sana cepat mandi dan temani nenek ke supermarket!" Sepertinya perdebatan Chanyeol harus berhenti dulu atau lebih tepat terpaksa dihentikan oleh ibunya.

Ngomong-ngomong Chanyeol tadi tahu darimana kalau tangan Baekhyun itu halus seperti pantat bayi?

"OkiDoki Nek!" Baekhyunpun setengah berlari menaiki tangga untuk mencapai kamarnya.

Oh lihatlah pantat bulat sintal itu terpantul-pantul hampir mengintip dari balik celana olahraga pendek yang Baekhyun pakai.

'glup'

"Park Chanyeol, sudah ibu peringatkan jangan menatap pantat cucu ibu seperti itu!"

Chanyeol mengerjab polos menatap ibunya. "Memang apa yang aku lihat?" Sepertinya Chanyeol memiliki gangguan dalam mengingat kejadian jangka pendek.

Yuri menggelengkan kepalanya dan beranjak untuk mengecek kuenya. "Ck, ck, ck, ck,… Aigoo… Lihat air liurmu hampir menetes itu. Aigoo…"

~UNCLE~

"Ah,… Jadi ini putra pewaris YC Group! Kau sangat tampan dan muda. Aku dengar juga kau lulus dua tahun lebih awal dengan nilai sangat baik. Pantas saja ayahmu sangat membanggakanmu!"

Itu Tuan Lee, kolega Kakek Park. Inilah makan malam yang telah dinantikan. Dihadiri Tuan Lee dan sekretarisnya dan beberapa petinggi lain di perusahaan Tuan Lee tak lupa dari pihak YC Group ada Kakek Park, Park Chanyeol, sekretaris Kakek Park, dan calon sekretaris Chanyeol a.k.a Shim Changmin.

"Ah, Anda terlalu berlebihan Tuan Lee! Namun aku sungguh berterima kasih atas pujian anda. Bagaimanapun, aku masih awam dan perlu banyak bimbingan!" Chanyeol merendah. Kata Ayahnya, Tuan Lee adalah orang yang suka memuji dan memotivasi orang lain. Hal itulah yang menyebabkan Tuan Lee dianggap sebagai salah satu pengusaha yang banyak dijadikan panutan oleh pemuda di negeri ini.

"Makanan datang~!" Dan sepertinya Byun Baekhyun datang dengan sedikit tidak sopan membuat kesan formal yang tercipta buyar seketika.

Namun bukannya berkerut tak suka dengan ketidak sopanan Byun Baekhyun, Tuan Lee malah tersenyum cerah. "Oh, Baekhyunee!" Apakah belum ada yang bilang kalau Tuan Lee itu sebenarnya adalah paman dari Byun Jonghyun, Ayah dari Byun Baekhyun?

"Kakek Lee, harus makan yang banyak. Hari ini aku membantu Chef Kwon untuk memasak. Aku tadi membuat pudding juga untuk makanan penutup semoga Kakek Lee suka. Yang lain juga jangan sungkan-sungkan!"

Chanyeol berdecih dalam hati. Apa kata Baekhyun tadi? Membantu Chef Kwon memasak? Yang Chanyeol lihat tadi Baekhyun hanya mengacaukan pekerjaan Chef Kwon dengan bertanya ini itu, mencicipi ini itu, bercerita ini itu, dan ini itu yang lainnya. Chanyeol yakin Chef Kwon pasti terganggu dengan ocehan Baekhyun yang tidak ada habisnya. Dan apa-apaan itu! Kenapa manusia bernama Shim Changmin itu menatap Baekhyun dengan senyuman yang sungguh luar biasa lebar?! Chanyeol doakan bibir itu sobek nantinya!

"Changmin Hyung, nanti saat pulang temui aku dulu di taman belakang rumah!" Bisik Baekhyun kepada Changmin yang membuat Chanyeol berdecih. Tentu saja Chanyeol dengar, Baekhyun kan tepat berada diantara ia dan Changmin.

Changmin hanya mengangguk. Lalu saat Baekhyun pergi meninggalkan ruangan itu, Changmin terus menatap kepergian Baekhyun lekat-lekat. Aw! Rasanya ingin Chanyeol colok saja mata Changmin dengan garpu yang sedang ia pegang.

Sepertinya di masa depan nanti Chanyeol dan Changmin tidak akan menjadi partner yang damai.

Kakek Park menatap gelagat dan raut wajah anaknya dalam diam. Dalam beberapa detik ia sampai lupa bila sedang berbicara dengan salah satu rekan kerjanya yang paling berpengaruh. Kakek Park tak bodoh untuk tahu bahwa anak lelakinya itu cukup atau benar-benar tak menyukai kedekatan dengan Changmin dengan Baekhyun. Tapi Kakek Park mengurungkan pemikiran negatifnya untuk menghindari penyakitnya yang bisa tiba-tiba saja kambuh. Mungkin Chanyeol hanya risih dengan kedekatan Changmin dan Baekhyun yang notabennya sesama pria. Ya, Tuan Park yakin akan hal itu.

~UNCLE~

Makan malam telah usai dan tuan Lee serta seluruh rekan rekannya telah pulang. Chanyeol yang sudah cukup lelah dengan hari ini (padahal seharian ini dia hanya berbaring nonton tv) langsung memasuki kamarnya. Mandi, berpakaian, dan melangkah ke kasur empuknya. Tapi sebelum Chanyeol berhasil terlelap, suara dering ponsel mengganggunya dengan tiba-tiba di waktu yang tidak tepat.

Berbeda dengan Chanyeol, setelah Changmin mengantar kepulangan tuan Lee dan rekan-rekannya sampai ke pintu utama rumah itu, ia langsung ditarik oleh Baekhyun menuju halaman belakang.

"Changmin Hyung, aku merindukanmu!" Ucap Baekhyun sambil memeluk Changmin.

Changmin tak membalas pelukan Baekhyun namun malah menepuk-nepuk kepala anak itu seperti anjing kecil. "Benarkah? Aku dengar tadi pagi kau masih berkencan dengan pacarmu!"

Baekhyun mengerucutkan bibirnya sambil mendengus sebal. Bukan itu hal yang ingin didengar Baekhyun! Baekhyun lebih suka kalau Changmin membalas pelukannya dan berkata 'aku juga merindukanmu' atau semacamnya. "Balas pelukanku!" Ucap Baekhyun akhirnya.

Changmin terkekeh dan langsung memenuhi perintah Baekhyun untuk membalas pelukannya. "Puddingmu tadi sangat lezat!"

Baekhyun mengembangkan senyumnya mendengar penuturan Changmin. Melonggarkan pelukannya dan mendongak untuk menatap Changmin. "Benarkah?"

Changmin mengangguk kemudian "Dan aku juga merindukanmu!"

"Benarkah?" Tanya Baekhyun lagi.

Dan sekali lagi Changmin mengangguk. "Aku benar-benar merindukanmu!"

"Kalau kau merindukanku harusnya kau langsung menciumku!"

Changmin terkekeh. "Bolehkah?" tanyanya yang ganti dijawab Baekhyun dengan anggukan.

Changmin mulai menarik dagu Baekhyun untuk mendongak menatapnya. Baekhyun menutup matanya dan Changmin terus mendekatkan wajahnya. Semakin dekat, semakin dekat.

"EHEM!"

Sampai suara serak berat itu menginterupsi.

Baekhyun menatap nyalang asal suara itu, tepatnya di balkon lantai dua. Di sana, terlihat paman tampan Baekhyun sedang berdiri dengan apiknya bagai seorang model dengan ponsel di tangannya dan seringai di bibirnya.

"Ku rasa ini sudah terlalu malam untuk bercinta di luar ruangan!" Lanjut Chanyeol.

"Yak Park Chanyeol, bisakah kau enyah saja?" Ucap Baekhyun nyalang.

"Yah,… aku ini pamanmu! Tak sepantasnya kau berkata tak sopan seperti itu kepadaku!"

Baekhyun kepanasan dibuatnya. "Lalu apa yang kau ingin aku lakukan Paman?"

Chanyeol tersenyum menang lalu menatap tajam Changmin yang juga sedang menatapnya tak kalah tajam.

"Enyahlah dari sana! Kau merusak pemandangan malamku!"

Changmin tahu Chanyeol menujukan perkataan itu kepadanya, bukan kepada Baekhyun.

.

.

Tbc

Yeeeyy update! Aku banyak tugas akhir-akhir ini soalnya mau ukk. Maaf ya kalo capter ini ga terlalu lucu soalnya emang dari awal aku ga ada niat buat bikin ini ff lucu. Genrenya juga family bukan humor. Tapi mungkin emang pada dasarnya otak aku gesrek bin ngeres aja makanya jadi rada lawak.

Makasih buat yang udah ngefavorite, ngefollow, dan ngereview. Yang belom ya monggo di follow, favorite dan review.

Sekian cuap cuap dari anak trio bangcat sampai jumpa di next capter.