MORE THAN HEAVEN
SelfPd Present
Ost. So Far Away : Martin Garix, David Guetta, Jamie Scott, Romy. 2018.
••°••
Disclamer:
Cerita ini murni milik saya, ide jalan cerita adalah murni pemikiran saya.
Cerita ini adalah ilusi saya mengenai hubungan Chanyeol-Baekhyun. Jika tidak suka itu hak kalian dan jika kalian menikmati cerita ini tolong beri saya batang hidung kalian.
M
•
•
▬You Are?▬
•
•
"Hoi, Byun Baek!" Baekhyun membalikan tubuhnya dan mendapati Jung Jaehyun melambaikan tangannya bersama Lee Bo Ram.
"Apa Na Ra memberi kartu debitnya?"
"Ya, dia memberikan dompetnya." Baekhyun melambaikan dompet pink milik Na Ra.
"Baguslah kalau begitu. Kita menggunakan uangnya dulu—Wah, bukankah itu Park Chanyeol?" Jung Jaehyun berlagak seperti orang norak yang baru bertemu idolanya dan Baekhyun yang bodoh malah gelagapan mendengar nada bicara Jaehyun. Maklum saja, si bodoh itu tidak pernah bertemu orang penting.
"Mana-mana? Park Che—siapa tadi?"
"Yaaak! Si bodoh ini." Lee Bo Ram memukul kepala Baekhyun dengan geram. Ia melihat tingkah idiot Baekhyun menjadi kesal sendiri.
Jung Jaehyun terus menatap Park Chanyeol yang sedang berinteraksi dengan Jang Na Ra tanpa memperdulikan bagaimana interaksi memalukan Lee Bo Ram dan Byun Baekhyun. Seintens mungkin ia melihat dan memfokuskan matanya kepada dua orang itu yang nampak sedang melakukan pertengkaran. Ah… bukan, tapi ia hanya melihat Jang Na Ra yang terlihat menggebu-gebu penuh amarah, sedangkan Park Chanyeol hanya terdiam menatap jengah Na Ra.
"Kupikir Park Chanyeol tidak akan menampakkan wajahnya di bawah matahari," Park Bo Ram terkekeh atas ucapannya, sedangkan Jung Jaehyun mengedikkan bahunya. "Aku sependapat."
"Oh itu kekasih Na Ra?" Baekhyun menelengkan kepalanya kearah Lee Bo Ram dan mendapatkan decakan lidah penuh kesal, "mana mungkin, bodoh!"Byun Baekhyun mendelik menatap Bo Ram—tidak suka ketika dirinya mendapatkan cemoohan secara kasar. Kasar disini maksudnya, secara blak-blakan.
"Lihat, mana mungkin seorang kekasih memperlakukan wanitanya seperti sampah? Itu sih, wanitanya saja yang mengaku-aku. Dasar kegatelan!"
Byun Baekhyun memiliki minimnya pengetahuan tentang macam-macam kepribadian manusia. Maka dari itu, ketika ia di pertemukan dengan lelaki yang bermulut wanita, ia hanya bisa bergidik geli. Ah… lagi pula baru kali ini ia bisa dekat dengan orang terpintar dikelas, tapi sayangnya orang itu pula menjadi orang terminim attitude.
Byun Baekhyun kembali membolakan matanya ketika melihat kedua bodyguards yang menjadi tameng lelaki bernama Park Chanyeol mendorong kasar tubuh Jang Na Ra yang notabene-nya wanita dan memiliki tubuh ringkih dibalik badannya yang semok.
"Mana mau Park Chanyeol dengan wanita ular itu."
"Namanya juga siluman ular."
"Kurasa tubuh Na Ra itu cocok untuk digilir."
"Ya, kita bisa menjebaknya dilain waktu."
"Kau mau?"
"YAAAK!" Baekhyun berteriak heboh. Menghentikan ucapan ngelantur teman barunya itu. Ia dibuat mendidih sendiri mendengarnya. Apa Bo Ram dan Jaehyun calon narapidana tindakan pelecehan seksual? Ah, bisa-bisa ia ikut terjerumus.
Sejahat-jahatnya Baekhyun, tidak ada pemikiran untuk memperkosa gadis baik lalu digilir bersama teman-temannya 'sebanyak apa temanmu, Baek?' jiwa terdalamnya mengejek keras. Ternyata memiliki satu sahabat membuatnya menahan untuk melakukan kriminalitas.
"Kau bisa ikutan kalau mau," Jaehyun menaik turunkan kedua alisnya, ia tidak bermaksud menggoda Baekhyun, hanya saja ia mencoba berbaik hati untuk menawarkan kenikmatan dunia. Lagipula ia berani bertaruh jika Baekhyun yang polos ini tidak pernah melepas keperjakaannya.
"Kau pikir aku tidak bisa menyewa pelacur, hah!" hati Baekhyun akan tergores parah jika ia mengaku tidak mau untuk melakukan kerja sama sebagai penjahat. 'Atau karena ada alasan lain, Baek?'
Jung Jaehyun dan Lee Bo Ram terkekeh geli. Dipikir mereka bodoh, heh?
"Kalian tidak ingin menolong Na Ra?" Baekhyun bertanya dengan hati-hati. Ia merasa menjadi penjahat primer ketika hanya bisa melihat teman sekolahnya sedangkan disana temannya tersebut sedang dipermalukan di muka umum.
"Biarkan saja. Itu buah dari tindakannya." Jaehyun mengedikkan bahunya tidak perduli, sedangkan kedua tangannya ia lipat didepan dada dan matanya masih memandang intens Na Ra yang sedang menangis sesegukan.
"Iya, benar. Tapi, sangat disayangkan gadis secantik Na Ra dipermalukan seperti itu. Lihat, bahkan pejalan kaki berhenti disana untuk melihat drama picisan itu. Ah, jika aku menjadi Na Ra sudah dipastikan tubuhku akan mengambang di bak mandi besok pagi." Lee Bo Ram benar-benar menjengkelkan.
"Aku merasa menjadi orang bodoh hanya melihat Na Ra dijahati seperti itu," Baekhyun meringis diakhir katanya.
"Kau memang bodoh." Baekhyun akan lebih bersabar kali ini, anggap saja sebagai bentuk balas budi atas kebaikan serta kebusukan mereka secara bersamaan. 'Atau kau memang sudah menyadari jika dirimu bodoh, Baek?'
"Baek, kau harus tahu. Didunia ini tidak ada manusia yang benar-benar jahat atau benar-benar baik. Maka dari itu jangan terlalu baik kepada manusia, mereka suka memanfaatkan orang lain asal kau tahu." Baekhyun sangat menyukai Jung Jaehyun, menyukai dalam artian sebagai sesama mahluk sosial. Jaehyun baik.
Setidaknya petuah macam itu sering didendangkan oleh eomma-nya dan kemudian kembali diingatkan oleh Jaehyun. Maka dari itu, Baekhyun menjadi manusia pemilih soal teman sekalipun. Tapi, otaknya memang lelet. Ia berfikir soal pemilih akan sama dengan menjauhi. Mencegah lebih baik dari mengobati. Pengendalian preventif jauh lebih menguntungkan daripada represif.
"Aku justru suka menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Aku tak mempermasalahkan itu. Setidaknya aku miskin dan jelek ini menjadi pengendalian diri." Baekhyun berujar percaya diri lalu mendapat decakan sebal dari Bo Ram.
"Kau cantik jika pandai merawat diri." Jaehyun mengulas senyum tulusnya, seketika Baekhyun menjadi takut.
"—Aku tidak belok kalau mau tahu." Baekhyun tidak perlu siaga kali ini.
"Aku tampan jika kaya."
"Sekarang kau miskin dan jelek!" Baekhyun tidak menyukai Lee Bo Ram dengan mulut busuknya.
Byun Baekhyun memilih diam, sedangkan mulutnya merapalkan banyak sumpah-serapah. Ia berdoa semoga ada gadis cantik yang baik hati untuk mendekatinya atau menyatakan cintanya. Tanpa pikir panjang ia akan menerima gadis itu bersama sejuta kecupan di wajah bukan di bibir—itu menjijikan! Lantas ia akan mengejek Lee Bo Ram jika si baik hati Byun ini sangat beruntung. Ingat, jika Tuhan akan berbaik hati kepada orang yang memiliki hati yang bersih.
Sayangnya, Baekhyun bukan manusia yang memiliki hati yang bersih. Baru tadi pagi ia membuat kekacauan di kamar mandi lalu mencuri isi sabun wajah milik adik dan eomma-nya, pula ia suka mengambil uang simpanan eomma-nya diatas kulkas, dan suka memakan makanan jatah kedua adiknya. Mana hati yang bersih, Baek?
"Wah…wah…wah!"
Ketika Baekhyun mendengar nada kagum milik Jaehyun yang cukup menyita perhatiannya, ia pun membolakan matanya karena terkejut—tidak menyangka jika ada mahluk adam yang berani melakukan tindakan kekerasaan seperti itu dimuka umum.
Disana, Baekhyun mendapati lelaki tinggi yang tampan bernama Park Chen—Baekhyun lupa namanya. Pokoknya itulah, sedang mencengkram kerah baju sekolah milik Na Ra, membuat gadis itu hingga terangkat keatas. Tidak tanggung-tanggung wajahnya yang tadi terlihat tenang dan angkuh sekarang di selimuti aura yang membuat Baekhyun merinding seketika.
"Kalian ini bodoh atau apa, bantu Na Ra!" Baekhyun kalang-kabut sendiri. Selama ini ia tidak pernah melihat adegan kekerasan secara langsung, walaupun keluarganya orang miskin, tapi appa-nya tidak pernah melakukan kekerasan kepada eomma-nya.
"Tidak ada yang berani mengacaukan singa liar itu. Lihat seberapa tanggapnya anjing penjaga Park Chanyeol!" Lee Bo Ram menjadi geram sendiri. Baekhyun buta atau apa sebenarnya—disana antek-antek Park Chanyeol sedang mengambil ponsel yang sedari tadi berusaha merekam drama yang di perankan tuannya bersama si wanita siluman itu lalu mendorong semua orang yang mengerumuni mereka hingga terjatuh di atas aspal yang kotor.
"Tapi…tapi," Baekhyun menjadi gelagapan sendiri.
"Kau bisa membantunya sendiri dengan otak bodohmu itu. Otakmu sangat dibutuhkan disuasana yang genting ini, Baek." Mulut Jaehyun kali ini sangat pedas, namun ada benarnya juga. Baekhyun terlahir bodoh dan tidak tahu malu.
Byun Baekhyun memutar otaknya, ia harus bertindak cepat sebelum Na Ra mati di tangan lelaki brengsek itu.
"Aku minta cat akriliknya!" Lee Bo Ram memberikan selusin cat akrilik ditangannya kepada Baekhyun. Ia mencoba untuk tidak tertawa malihat wajah panik dan tergesa milik Baekhyun. Menurutnya, lumayan menggelitik.
Baekhyun menuangkan sekitar tiga buah pasta cat diatas kedua telapak tangannya. Ia yang mudah panik memang sangat menguntungkan—otaknya akan bekerja tiga kali lipat lebih cepat. Haha… cat akrilik akan membuat wajah tampan itu menjadi buruk rupa dan menyerupai wajahku sekarang—batin Baekhyun bangga.
"Tolong lipat lengan seragamku, acak acak rambutku, lalu oleskan wajahku dengan cat air—" Jaehyun melipat kedua lengan seragam Baekhyun, sedangkan Lee Bo Ram mengambil cat akrilik di tangan Baekhyun. "YAK! KAU MAU MEMBUAT WAJAHKU TAMBAH JELEK!?"
HEAVEN, COME HERE!
Mereka—Jung Jaehyun dan Lee Bo Ram menahan ledakan tawanya. Di depan pintu toko, mereka melihat Baekhyun seperti orang suku primitive yang berada di pedalaman Afrika Selatan. Ditambah lagi dengan ekspresi Baekhyun seperti banteng yang siap di cocok hidungnya hingga mengamuk.
Kedua telapak tangan Baekhyun penuh dengan cat akrilik yang mulai terasa panas di tangannya.
Baekhyun menghitung mundur dari angka tiga dengan tempo yang lambat. Kali ini tidak ada rasa takut, ia membela temannya yang memperlakukan dirinya baik. Hanya saja kali ini ia sedang menyiapkan strategi yang tepat untuk menguleni wajah sok itu dengan cat akrilik yang penuh untuk wajah si Park.
3…
2…
1…
Gotcha!
Baekhyun berlari sekencang mungkin sedangkan kedua tangannya yang penuh cat akrilik ia rentangkan ke depan. Banyak orang yang berusaha menghindar dari orang yang mereka pikir adalah orang gila. Ya, Baekhyun mulai menggila.
Park Chanyeol didepan sana tidak menyadari dalam jarak 3 meter ada seseorang yang hendak mencelakainya, sedangkan antek-anteknya masih sibuk mengurusi banyak orang yang mencoba memperburuk namanya dimuka umum. Sebenarnya Park Chanyeol sama sekali tidak memikirkan pendapat orang lain, tapi gadis menjijikan ini terus saja mengganggunya.
"HYAAA!" Park Chanyeol membolakan matanya ketika melihat orang aneh berlari kencang kearahnya dengan kecepatan ekstra. Itu bukan hanya sekedar orang aneh pikirnya, orang itu adalah orang gila dengan baluran lumpur di wajah jeleknya, pikir Chanyeol.
Tangan lentik Baekhyun yang dipenuhi cat akrilik berhasil mendarat tepat diwajah Park Chanyeol hingga mengenai kedua telinga dan anak rambut yang tadi sedikit menutupi kening indahnya. Bagai adegan slow motion, tubuh pendek Baekhyun meloncat lalu melingkarkan kedua kaki kurusnya dipinggang Park Chanyeol dan mendorong tangan lelaki tampan itu untuk melepaskan cengkramannya di kerah baju Jang Na Ra.
Jang Na Ra terduduk diatas aspal yang kotor hingga terhantuk meringis. Mata kelerengnya membola bingung melihat orang aneh yang bisa dibilang sedang menyelamatkannya, iyakah? Maksudnya tadi, ia sedang tercekik di tangan pria bajingan yang sialnya sangat ia kagumi lalu tiba-tiba orang yang tak dikenal mendorongnya dan menyerang Si Tuan Park yang agung.
Byun Baekhyun mendesis, mulutnya berkomat-kamit menguntai semua sumpah serapah untuk si Park ini. Tangan kecil Byun menepuk keras wajah Park Chanyeol yang telah di penuhi cat akrilik—memastikan jika seluruh cat yang ada di tangannya berpindah ke wajah pria brengsek ini. Lihat, bahkan karma datang lebih menyeramkan untuk si lelaki yang tidak memiliki sedikit rasa kemanusiaan, pikir Baekhyun.
Tangan kekar Park Chanyeol berusaha mendorong tubuh mungil yang menggelantung di tubuhnya. Ini gila, ia merasa benar-benar dipermalukan hingga rasanya ingin meledak, tapi sialnya mengapa tubuhnya merasakan gelenyar aneh yang ia dambakan selama ini. Park Chanyeol merasa tersentak sekaligus tubuhnya terserang panas secara mendadak dalam kurun waktu bersamaan.
TIDAK!
Pikir Chanyeol ia harus menyelamatkan harga dirinya yang tertindas. Mana mungkin ia membiarkan orang tak dikenal menindasnya sedangkan ia merencanakan pembunuhan untuk si Tua Bangka!
Anjing penjaga Tuan Muda Park yang baru menyadari jika Tuan Agung-nya diserang oleh orang gila segera berlari sekencang mungkin untuk setidaknya memukul orang tanpa otak itu dan mengabaikan jika penduduk sipil akan kembali bertindak seperti hama, maksudnya mereka akan segera memotret kesialan yang didapati gen bermarga Park. Rupanya manusia didunia ini memang suka melihat kecacatan milik orang lain— tolong jangan lupakan kata-kata 'iri, dengki, dan sirik'.
Sejenak segelintir orang akan melupakan sebab, alasan, atau bahkan latar belakang mengapa orang melakukan tindakan tidak terpuji. Melihat apa yang sedang terjadi sekarang, mayoritas orang akan menggunjing semua hal yang salah dan lebih memihak kepada hal yang benar. Nyatanya, tidak tahu apa hal benar tersebut adalah hal yang murni.
Byun Baekhyun dengan segala tingkah anehnya dan kepandaiannya dalam mengamati adalah hal yang sangat membanggakan, anggap saja begitu. Secepat yang ia bisa, Baekhyun meloncat, melepaskan tubuhnya dari si Park lalu mendorong tubuh tinggi besar yang memiliki wajah menyerupai gumpalan lumpur sebelum bodyguard Tuan Muda ini mencincang tubuhnya. Tangan lentik yang dipenuhi cat akrilik— Baekhyun menarik lengan Jang Na Ra yang masih terduduk di atas jalan.
Byun Baekhyun menyeringai di wajah cemongnya ketika bodyguards berbadan besar tidak dapat menangkap tubuhnya di tengah pelariannya yang kencang bersama Jang Na Ra yang juga berlari terseok-seok. Maklum saja, tubuh kecilnya bersama otaknya yang memiliki bibit kriminalitas sangat dibutuhkan di situasi ini. Ah… ternyata begini rasanya menjadi super hero, lain kali Baekhyun akan mencoba menyelamatkan penduduk Atlantis agar bisa melengserkan Aquaman dan menikahi wanita cantik yang seksi seperti Mera.
Baekhyun menyukai Jason Momoa omong-omong. Pft!
Byun Baek! Otakmu sangat tidak bermartabat jika dikeadaan genting ini kau justru memikirkan Jason Momoa!
Baekhyun terus berlari dengan Jang Na Ra yang terus ia tarik paksa, berlari menuju ke dalam toko tempat terakhir ia dan teman-temannya berada. Namun, nihil—tidak ada Jung Jaehyun ataupun Lee Bo Ram ketika ia berkeliling di dalam toko dengan langkah seperti orang kebakaran jenggot. Kemudian ia berlari keluar toko melewati pintu belakang yang hanya boleh dilewati oleh pekerja toko, mana mungkin ia memikirkan siapa yang boleh melewati pintu ini dalam keadaan ia sedang panik. Bukan tindakan yang bagus jika ia keluar melalui pintu depan toko ini
Ketika ia melewati pintu belakang toko, ia disuguhkan pemandangan gang sempit yang luasnya hanya dapat dilewati oleh satu buah mobil. Disana, tepat dibalik pintu belakang senyum Baekhyun merekah, Jung Jaehyun beserta Lee Bo Ram melambaikan tangannya dan tersenyum didalam mobil milik Jung Jaehyun yang kaca jendelanya terbuka.
Lihat, terkadang mulut bukan penggambaran asli sebuah tindakan nyata atau isi hati seseorang. Hari ini Baekhyun mencoba keluar dari zona nyamannya, luar biasanya banyak hal baru yang ia rasakan. Sensasinya benar-benar membuat ia penasaran untuk melakukan hal-hal baru. Biarkan saja ia bertindak bodoh, selagi urat malunya tidak ada.
Byun Baekhyun segera berlari menuju mobil BMW i8 Coupe milik Jaehyun dengan nafas terengah ia duduk di kursi belakang bersama Jang Na Ra yang wajahnya kentara sangat bingung. Namun, lima detik kemudian matanya berkaca-kaca selanjutnya ia menangis terisak dan meraung-raung.
Baekhyun hendak menenangkan Na Ra, tapi perkataan Lee Bo Ram hanya akan menambah sakit hati Na Ra.
"Itulah akibatnya jika kau bertindak seperti ular." Lee Bo Ram melirik sekilas Jang Na Ra di balik kursi depan.
Jung Jaehyun dengan tenang mengemudikan mobilnya yang mewah. Byun Baekhyun dengan tingkahnya yang norak bahkan ketika mereka berangkat menuju toko perlengkapan melukis pun ia hanya bisa membolakan mulutnya sedangkan matanya yang sipit tidak berhenti melihat kemewahan interior mobil yang tidak dimengerti Baekhyun apa merknya.
Jaehyun tiba-tiba saja menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi—belum jauh dari toko perlengkapan melukis tadi, kemudian ia mengeluarkan sebotol air mineral 1,5 liter di dashboard mobilnya lalu ia berikan kepada Baekhyun yang wajahnya masih dibalut cat air. Rasanya ketika Jung Jaehyun melihat wajah memelas milik Baekhyun ia ingin tertawa terpingkal-pingkal. Wajah Baekhyun terlalu bodoh.
"O…oh. Terimakasih." Baekhyun berkata canggung, ia mengambil sebotol air yang disodorkan Jaehyun dengan tangan yang bergetar—ini efek lapar.
Baekhyun membuka tutup botol plastik tersebut.
"Kau bodoh!? Jangan membasuh wajahmu di mobilku!" Jaehyun menjadi kesal sendiri melihat tingkah kelewat idiot milik Baekhyun. Sedangkan Lee Bo Ram tersenyum mengejek melihat tingkah Baekhyun dan Jang Na Ra yang tadi terisak merasa sedikit terhibur melihat tingkah Baekhyun yang idiot.
Baekhyun meringis akan tingkahnya, ia mulai menjadi orang yang tidak tahu diri rupanya.
Byun Baekhyun keluar dari mobil, ia membungkukkan tubuhnya dan mengguyur wajahnya dengan air. Baru tadi pagi ia melakukan perawatan untuk wajahnya menggunakan sabun cuci muka dengan tiga merk yang brbeda-beda, namun apakah setelah ia melumuri wajahnya dengan cat air khasiatnya akan hilang? Rupanya ia memang tidak diberkahi untuk melakukan perawatan muka, apa yang harus diberkahi jika cara yang digunakan adalah salah, tindakannya tadi pagi sama saja dengan tindakan pencurian. Ini karma nyata yang menimpa Baekhyun.
Setelah selesai membasuh wajah, Baekhyun mengelap wajah basahnya menggunakan seragam sekolahnya. Tidak apa, ia yakin jika seragamnya steril untuk wajahnya yang penuh jerawat dan sensitif. Baekhyun lantas masuk kedalam mobil dan mendapati Jang Na Ra yang menyodorkan sapu tangannya.
"Seragammu kotor, Baek. Tidak baik untuk mengelap wajahmu yang jelek itu." Baekhyun tahu maksud dari perkataan Na Ra adalah merendahkannya, tapi otak bodohnya meresapi jika maksud Na Ra adalah untuk memberikan perhatian kecil kepadanya—buktinya Na Ra memberikan sapu tangan merah muda kepadanya.
Baekhyun mengambil sapu tangan itu dengan senyum yang merekah, ketika benda pink itu mendarat di wajahnya semerbak bunga melati memenuhi indra penciumannya. Sangat wangi, wangi orang kaya memang berbeda, ya.
Jung Jaehyun mengemudikan mobilnya dengan santai. Selama beberapa menit tidak ada mulut yang berani mengeluarkan suara, begitupun Baekhyun. Ia merasa kecil berada di kumpulan orang-orang kaya. "Terimakasih tadi kau sudah menolongku, Baek," Itu suara pertama yang keluar dari bibir berlipstik milik Jang Na Ra.
Sudut bibir Baekhyun melengkung keatas. Ia senang ketika dirinya memiliki manfaat untuk orang lain. Ia merasakan bunga imajiner merekah di hatinya. Apalagi, ucapan terimakasih itu terdengar tulus di telinganya.
"Itu gunanya teman." Baekhyun berucap sombong sedangkan Bo Ram yang mendengarnya memutar bola matanya.
"Aksi heroik yang konyol!" ketus Lee Bo Ram membuat bibir Baekhyun melengkung kebawah.
"Sedikit menghibur." Jaehyun berusaha mengembalikan mood Baekhyun ternyata.
"Tapi, bagaimana dengan Park Chanyeol?" Jang Na Ra berusaha berfikir atas kemungkinan yang terjadi. Praduganya, Park Chanyeol akan mencari orang yang berani menyentuh tubuhnya apalagi, Baekhyun benar-benar menumpukan seluruh tubuhnya pada Chanyeol. Tadi, awal mula ia mendapatkan cekikan di kerah seragam sekolahnya adalah ia berani menyentuh lengan berotot milik Park Chanyeol.
Setahu Jang Na Ra, Park Chanyeol membenci sentuhan.
"Kurasa Park Chanyeol mengira Baekhyun adalah orang gila," Jang Na Ra membenarkan ucapan Jaehyun. Tadi saja ia benar-benar tidak mengenali Byun Baekhyun dengan sikap anarkisnya.
"Mana mungkin otak genius Park Chanyeol melupakan jika orang gila ini menggunakan seragam sekolah." Lee Bo Ram memang pantas mendapatkan julukan siswa terpandai di kelas. Hanya di kelas, bukan juara parallel.
"Bagaimana ini?" Baekhyun mulai merasa ketakutan. Otak naifnya mulai mengaitkan uang dengan kekuasaan. Setelah ia dengar percakapan tadi—ketika Jaehyun dan Bo Ram mengobrol di toko mengenai sosok Park ini dan sekarang Jang Na Ra menambah ketakutannya. Seharusnya tadi ia mulai bisa berfikir waras dengan otak udangnya. Sebelum semuanya terjadi, tapi kenyataannya kejadian nekatnya bahkan sudah berlalu 20 menit.
"Aku tidak mau ikut campur."
"Aku juga tidak berani dengan Putra Mahkota Park."
"Aku tidak tahu apa-apa, ya~"
HEAVEN, COME HERE!
Keluarga Park memiliki pendidikan tata kramanya tersendiri. Dimana salah seorang anggota keluarga yang memiliki kearoganitas yang tinggi akan di sanjung beserta dihujami banyak kehormatan. Mereka berfikir, sesuatu yang kaya atau memiliki kelas tertinggi mendapatkan rewards sebuah kekuasaan atau tindakan semena-mena.
Mereka berfikir itu adalah timbal dari nenek moyang Keluarga Park yang saat itu bersusah payah membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Siapa yang kaya itulah yang dihormati.
Park Chanyeol beserta jiwa mudanya yang liar dan pembawaan dirinya yang pantas di puja adalah sebuah aroganitas yang memiliki kelas tertinggi. Keluarganya bagaikan keluarga kanibal, saling menggigit tanpa memberi sisaan, saling membunuh tanpa jejak yang jelas.
Seorang Chanyeol bagai dewa agung di keluarganya. Cucu tersayang dan anak durhaka untuk ayahnya. Park Chanyeol tidak akan hanya diam jika ada orang yang mengusik dirinya. Bahkan jika hanya mulut busuk itu menggunjingkan namanya, ia akan bertindak seperti ikan piranha yang berada di dalam buku milik Theodore Roosevelt yang berjudul Through the Brazilian Wilderness —sosok piranha sebagai mesin pembunuh yang sempurna.
Park Chanyeol diam dalam amarahnya, mata tajamnya terus menelisik ke depan menatap keluar mobil. Wajah yang semula dipenuhi cak akrilik sudah bersih tanpa ia bersusah payah. Terlalu membuang-buang tenaga untuk mengusap wajah mengagumkannya. Ia memiliki anjing penjaga dan harimau yang siap siaga. Anjingnya sudah ia hadiahi bogeman keras di seluruh tubuhnya hingga tubuh tinggi menjulang itu dipenuhi bercak darah—untuk apa ia membayar anjing itu jika tidak bisa menjaganya dari orang bar-bar.
Harimau—asisten pribadi Tuan Muda Park yang ia maksud sedang mengemudikan mobilnya. Kim Woo Bin tidak berani melihat bahkan melirik tuan mudanya dari kaca dashboard mobilnya. Aura didalam mobil pun terasa gelap hingga membuatnya merinding dan acapkali ia mengelus tengkuknya. Ia berumur sepuluh tahun lebih tua dari Park Chanyeol, tapi ia sama sekali tidak bisa berkutik bahkan selalu berada di bawah tubuh pria muda itu.
"Cari tahu bocah tolol yang menyerangku tadi. Dia berasal dari sekolah pinggiran Seoul. Bocah tidak berguna!"
"I…iya tuan." Kim Woo Bin menganggukkan kepalanya tegas. Mendapatkan mandat dari sang bos muda, Kim Woo Bin menggunakan bluetooth handsfree untuk menelpon anak buahnya dan mencari data lengkap mengenai bocah yang tiba-tiba saja menyerang bosnya dengan alasan tidak jelas. Walaupun tanpa nama dan wajah yang jelas, si bos meminta kepuasan tugas dari anak buahnya.
Serangan tiba-tiba tersebut membuat bosnya geram bukan main. Wajah adalah hal yang sangat dielu-elukan oleh orang banyak, apalagi ketampanan tuan mudanya tidak bisa dikatakan main-main.
"Sampai apartemen aku mau data itu sudah ada di meja kerjaku."
Sial. Uang memang sangat berpengaruh di kehidupan yang modern ini.
HEAVEN, COME HERE!
Byun Baekhyun menelan segala kekesalannya. Ia suka menggerutu, tapi mengingat mulut pedas dari Lee Bo Ram ia memilih diam. Ini kali ketiga ia bolak-balik dari apartemen Jaehyun ke basement tempat lelaki itu memarkirkan mobil mewahnya hanya untuk mengambil barang belanjaan yang akan digunakan untuk melukis 3D.
Byun Baekhyun bahkan belum mengganti bajunya, namun ia sudah disuruh untuk menjadi kuli panggul tanpa diberi uang. Katanya ini adalah bentuk ganti karena ia tidak ikut patungan untuk membeli perlengkapan melukis. Orang kaya masih saja pelit! Jujur saja jika kere, tidak usah sok pura-pura kaya. Sialan!
Tiba-tiba saja ponsel butut Baekhyun berdering. Baekhyun berhenti, ia meletakkan dua kantong besar itu diatas lantai marmer yang mengkilap— saat ia berada di apartemen mewah Galleria Foret, bangunan 45 lantai yang setiap lantainya menentukan kekayaan seseorang. Omong-omong apartemen Jung Jaehyun berada di lantai 3 dan itu sudah WOW mahalnya! Kasian Baekhyun yang norak.
"YAK! Apa yang kau lakukan idiot!"
Sialan, bocah tengik ini lagi. Baekhyun menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara memekik yang sangat menyebalkan lagi-lagi mengusik waktunya. Rasanya ia ingin mematikan ponselnya, tapi Kim Taehyung tidak akan pernah puas jika rasa penasarannya tidak terpenuhi.
"Kenapa lagi?" Ucap Baekhyun malas.
"Kau tidak tahu jika sekarang kau menjadi viral. Bocah gila yang tiba-tiba menyerang ahli waris Park itu dirimu kan?" Baekhyun tidak tahu ada apa dengan bocah ini.
"Manyerang siapa?" Kim Taehyung mendengus di sebrang ponselnya, sahabatnya ini benar-benar naif.
"Aku bilang Park Chanyeol!" Kim Taehyung menjadi geram sendiri dan Baekhyun membolakan matanya. Bagaimana Taehyung tahu?
"Bagaimana kau tahu, hah!?" Byun Baekhyun mulai terserang panik. Bagaimana bisa?
"Kau ini benar-benar dikutuk. Otakmu benar-benar kutukan!"
"YAAK!" Byun Baekhyun berteriak nyaring.
"Walaupun wajah jelekmu tidak dikenal, tapi aku adalah sahabatmu sejak kecil. Aku tahu itu benar kau, Baek. Kau dalam masalah besar. Tubuh kurusmu menjadi trending topic media sosial"
Byun Baekhyun mengapit telponnya di bahu lalu menjinjing plastik besar, ia berjalan mengikuti beberapa pria bertubuh besar dan berpakaian rapi, ia menunggu pintu lift terbuka bersama sekumpulan pria itu. Rasanya ia seperti terdiskriminasi, dimana ketimpangan tinggi badan sangat jelas terlihat. Mereka benar-benar sangat tinggi
"Aku tidak kenal betul siapa Park Chanyeol itu, sialan!" Baekhyun geram, dengan suaranya yang melengking ia berkata sedikit kencang hingga menimbulkan orang berbaju rapi itu menatap kearahnya.
"Kau tahu dia yang memiliki hampir seluruh kekayaan di Korea, keluarga tersohor yang sangat di agungkan, bahkan ludahnya pun kalau dijual seharga jutaan dolar."
"Kau gila, tidak ada tokoh fiksi yang memiliki kekayaan tak berakal itu, bodoh! Jangan berusaha membodohiku!" Baekhyun menghentakkan kaki pendeknya di atas marmer berkaca.
Pintu lift terbuka lalu ia masuk bersama sekumpulan lelaki tinggi. Baekhyun sedikit kurang nyaman sebenarnya, ia merasa kapan saja kumpulan pria berbadan tinggi itu bisa menyerangnya karena badannya kelewat kecil untuk ukuran lelaki.
"Yaak! Tutup mulutmu. Aku tidak akan membantu jika kau benar-benar menjadi budak seks Park Chanyeol." Baekhyun meringis mendengar ucapan Taehyung. Mana mungkin ada gay di Korea Selatan.
"Aku bersumpah akan menendang penis Park itu hingga patah jika dia berani menjadikan aku budak seksnya. Hey, tunggu, apa mungkin dia lelaki biseksual? Kurasa tak adil jika pria setampan itu menyukai lelaki." Baekhyun membenarkan ponselnya tetapi ini sedikit susah, kedua plastik besar yang berada di tangannya benar-benar berat. Maka dari itu ia melirik pria disebelahnya untuk meminta bantuan.
"Boleh minta tolong benarkan ponselku, ahjussi." Baekhyun hanya melirik sekilas, lelaki baik itu benar menolongnya tanpa berucap.
"Ya, terserahmu sajalah. Kenapa kau menyerang Park Chanyeol, Baek?" Ujar Taehyung malas.
"Dia terlalu sombong dan tidak memiliki jiwa kemanusiaan. Kau tahu, Jang Na Ra adalah kekasih Park Chanyeol—"
"WHAT!" Kim Taehyung berteriak histeris.
"Tidak masalah, kurasa mereka cocok." Baekhyun mengedikkan bahunya.
"Kau bodoh. Menurutmu tidak ada wanita yang lebih cantik dan natural ketimbang si Gam itu? Mainmu kurang jauh, kau tahu?"
"Sudahlah. Aku tidak suka hanya berdiam diri ketika temanku dipermalukan didepan umum. Tuhan terlalu memberkati Park Chanyeol. Jika aku menjadi wanita, aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk menyukai lelaki brengsek itu. Lelaki tidak tahu diri. Harusnya dia bersyukur dikelilingi wanita cantik, sedangkan disini aku dengan wajak jelekku menunggu gadis cantik." Mengapa Baekhyun menjadi tidak tahu malu menceritakan aibnya di tempat umum ini?
"Tunggu-tunggu. Kenapa—" Mata Baekhyun membola ketika ia mendapati layar angka di samping pintu lift menunjukkan lantai 20. Astaga ia lupa menekan tombol 3 karena keasyikan mengobrol dengan Taehyung.
"Ada apa, heh?"
"Aku lupa memencet tombol 3. Sekarang aku sedang di lift." Baekhyun tidak segera menekan angka 3 karena ia pikir masih terlalu lama untuk kotak ini kembali turun.
"Kau sedang dimana?"
"Aku berada di— dimana aku ya?" Baekhyun menggulirkan matanya menatap sekeliling lift untuk mencari petunjuk nama apartemen yang ditinggali oleh Jaehyun.
"Ah… aku berada di Galleria Foret." Baekhyun membaca huruf elegan yang berada di lift bagian belakang.
"Kau—KAU MENCARI MATI HAH!"
Baekhyun menjauhkan ponsel dari telinganya, kenapa Taehyung hobi berteriak? "Kau kenapa, sih?"
"Aku baru saja membaca akun gossip. Jika Park Chanyeol tinggal disana—"
"Bodoh! Apartemen ini luas dan memiliki dua tower. Dunia ini luas!"
Baekhyun mengedikkan bahunya. Benar, dunia ini luas. Baekhyun sebenarnya berusaha untuk mengusir rasa takutnya. Jujur saja, badannya sudah mulai bergetar karena lapar? Baekhyun menutup matanya, salah satu pria bertubuh besar yang satu lift dengannya menekan angka 45— yang mana lantai ini akan berhenti di lantai 45. Saat ini kotak besi minimalis itu sedang berada di lantai 30. Secepat mungkin Baekhyun meletakkan salah satu plastik besar ke lantai lalu menekan angka 31.
Ternyata Baekhyun takut juga.
"Bagaimana ini Taehyung! AKU DALAM BAHAYA!" Baekhyun berteriak panik. Mata sipitnya bergulir memandang pria tinggi-besar berwajah datar yang mengelilinginya. Sedangkan matanya membola berlebihan ketika pengelihatannya mendapati mata tajam dari lelaki yang ia serang.
Disampingnya—lelaki yang membantu membenarkan letak ponsel di bahunya adalah Park Chanyeol yang sekarang memiliki aura yang mencekam. Seluruh aura hitam mengelilingi tubuhnya yang besar. Sedangkan wajahnya terlihat bengis menatap dirinya. Benar-benar menakutkan
"TAEHYUNG BAGAIMANA INI! PARK CHANYEOL ADA DI LIFT YANG SAMA DENGANKU!"
"Yak! Baekhyun jangan main-main denganku! Menjauh darinya!"Kim Taehyung juga diserang rasa panik.
Baekhyun memundurkan langkahnya, namun kedua lengannya yang memegang plastik besar berisi peralatan melukis sedang di cengkram erat oleh antek-antek Park Chanyeol. Secepat tanpa ia tahu, tubuh kecilnya terangkat— hampir diseret karena Baekhyun mengakukan tubuhnya untuk keluar dari lift. Baekhyun tidak mau, akan jadi apa nanti jika ia keluar dari apartemen Park Chanyel.
Jangan berharap Baekhyun bisa keluar, bahkan nyawanya pun tidak ada yang berani menanggung ia bisa keluar dalam keadaan sehat atau tidak.
"AKU TIDAK MAU! YAAAK! AKU TIDAK MAU!"
"SIALAN KAU PARK BRENGSEK!"
"BEDEBAH! Aku bersumpah jika kau menjadikan aku budak seks penismu tidak akan bisa ereksi seumur hidup!"
Cut…
•••
Temen temen sekalian, jangan espektasiin gue super nice.
Gue nulis kaya gini otodidak…
Kepuasan kalian juga bikin gue puas. Tolong kritik gue ya, jangan melambungkan gue terlalu tinggi
Rendah diatas, tinggi di bawah… artinya gue tetep seimbang.
Jujur, gue juga menulis di wattpad. Akun gue kurang terekspose… then, gue gatel pengen nulis juga di ffn… bertanya-tanya, apa tulisan gue gak sepantas ini sampe gak ada yang baca? Tapi, setelah gue post satu chapter di ffn… guys, thanks 4 ur support… aku nggak bisa berkata-kata. Tiap saat gue cek story gue, yg ngefollow, review, dan like berapa orang.
Lagi-lagi, gue gak nyangka banget!
