MORE THAN HEAVEN

SelfPd Present

Ost. Heaven : Julia Michaels. 2018.

••°••

Disclaimer:

Cerita ini murni milik saya, ide jalan cerita adalah murni pemikiran saya.

Cerita ini adalah ilusi saya mengenai hubungan Chanyeol-Baekhyun. Jika tidak suka itu hak kalian dan jika kalian menikmati cerita ini tolong beri saya batang hidung kalian.

M

Crazy Right Now

Byun Baekhyun ketakutan, tentu saja. Hari ini Byun Baekhyun mengikrarkan bahwa ia akan mengakhiri hidupnya. Jika benar adanya si Park Chanyeol— Tuan Muda Park yang telah ia permalukan menjadikan dirinya budak seks atau yang lebih parah menginginkan nyawanya untuk dijadikan tumbal keutuhan kekayaan keluarga tengik itu. Hey… di zaman modern ini takhayul masih berlaku, hal-hal supranatural tentu saja masih dipercayai manusia di bumi ini. Baekhyun pun mempercayai jika Keluarga Park yang kaya raya memiliki persekutuan dengan jin

Lelaki mungil yang memakai seragam kusam— Byun Baekhyun berdiri dengan tubuh bergetarnya di tengah ruangan yang megah. Lampu krystal yang besar dan kokoh menggantung tepat diatas kepalanya, Baekhyun sangat siap jika sewaktu-waktu lampu tersebut jatuh mengenai kepala berotak kecilnya. Tidak apa jika ia harus mati sekarang, karena ia mati ditempat yang sangat mewah— tempat termewah yang pernah ia datangai.

Baekhyun terus menunduk menatap kaki kusamnya yang tidak terbalut sepatu karena sepatu bututnya entah dimana. Sepatu kusam itu hilang sejak ia diseret paksa menuju tempat yang kini kian mencekam, bahkan lantai marmer yang ia pijaki kian membekukan kaki telanjangnya.

Baekhyun takut, tapi ia berusaha untuk tidak berlutut dan merendahkan diri kepada orang yang tidak pantas untuk dihormati. Tepat didepan tubuhnya yang berjarak 2 meter, lelaki adikuasa itu duduk dengan angkuh di sofa besar berwarna hitam, sedangkan di sisi kanan dan kirinya sebanyak 5 bodyguards berdiri siap siaga.

Kali ini Baekhyun benar-benar merasakan ketakutan yang teramat selama 18 tahun hidupnya. Ia seorang diri dengan tubuh kecil dan pendeknya, sedangkan mereka bersekutu untuk menghakimi dirinya. Rasanya Baekhyun ingin menangis, kalau bisa menangis darah hingga ketakutannya benar-benar terurai. Namun, tidak ada sebersit rasa penyesalan yang menyelimuti dirinya karena telah menolong Jang Na Ra. Lagi-lagi ia berani mati karena hal yang benar.

Mata tajam Park Chanyeol terus menghunus tubuh berbalut seragam kusam itu. Mata elangnya sama sekali tidak beralih dari sana, jari telunjuknya terus mengelus bibir bawahnya yang lebih tebal daripada bibir atasnya, sedangkan kedua lengannya bertumpu angkuh di atas lengan sofa tunggal dan kakinya terbuka lebar penuh kuasa.

Park Chanyeol menerima dokumen bermap yang disodorkan oleh Kim Woo Bin tanpa mengalihkan tatapannya dari bocah yang terlihat bergetar didepannya. Ia ingin tertawa melihat bocah kurang ajar itu ketakutan, tertawa menggelegar bersama suara seramnya.

Byun Baekhyun tidak pernah merasa teritimidasi sebesar ini, bahkan ketika ia dimarahi habis-habisan oleh appa-nya— tidak sampai mengeluarkan suasana semencengkam ini. Maka dari itu, Baekhyun benar-benar tidak tahan jika harus berdiam diri dan menerima bentuk itimidasi dari lelaki bejat yang sok berkuasa.

Byun Baekhyun mengalihkan rasa takutnya— mendongakkan kepalanya, menatap kearah lampu bercahaya cokelat yang memantul keseluruh ruangan dengan membawa keeleganan yang paten. Bibir tipis berwarna merahnya mencebik lucu, itulah yang ditangkap oleh mata Park Chanyeol.

WAAW…

Baekhyun berdecak kagum, ia baru meneliti lampu indah tersebut— ternyata benar-benar indah. Ouch! Baek sikap norakmu seharusnya digantikan oleh ketakutan.

Byun Baekhyun sekarang menggulirkan mata sipitnya kesegala ruangan. Matanya membola penuh keterkejutan ketika ia melihat aquarium besar yang tinggi mengelilingi tiang besar yang kokoh hingga menuju lantai tiga apartemen ini— seharusnya Baekhyun menyebutnya sebagai penthouse.

Lelaki norak itu berlari menuju aquarium besar berwarna biru laut yang mengagumkan. Park Chanyeol yang melihat tingkah Byun Baekhyun menjadi geram— maksudnya, selama 20 tahun hidupnya tidak ada orang yang berani menepis aura gelapnya atau bahkan membentuk banteng pertahanan diri untuk menghalau segala bentuk itimidasi yang berakhir mematikan.

Park Chanyeol mengangkat kelima jarinya dengan tenang, memberikan kode kepada bodyguards untuk menghentikan tingkah idiot tawanannya. Ia menekan segala bentuk amarahnya— tidak biasa menggunakan emosi yang menggebu-gebu, ia lebih menyukai segala sesuatu yang tenang namun mengejutkan.

Ketika wajah Byun Baekhyun berhasil menggapai benda berkaca tersebut ia lagi-lagi bergumam penuh kekaguman. Wajah tak tahu malunya mendekat lalu menerawang melihat kehidupan biota laut buatan, sedangkan kedua telapak tangannya membingkai sisi kanan-kiri wajah sumringahnya. Tubuh kecil itu melompat-lompat tak beraturan, sedangkan tas kusam yang dirasa memberatkan tubuhnya ia letakkan diatas lantai begitu saja.

"YAAAK!" Byun idiot itu berteriak penuh kesal ketika tubuhnya ditarik paksa untuk menjauhi benda yang membuatnya tertarik. Lain kali ia mencoba untuk berteman baik dengan mahluk hidup yang berkumpul disana lalu dengan kebaikan hatinya yang di berkati ia akan menyelamatkan ekosistem laut yang dicuri oleh si brengsek tengik.

"Bajingan!" Baekhyun mendesis lantas kemudian ia meminta maaf untuk hatinya yang kian menggelap dipenuhi dosa.

Byun Baekhyun sedikit oleng ketika dua orang berbadan besar tiba-tiba memaksanya untuk berdiri tegak tanpa bergerak setelah tubuh ringkihnya ditarik paksa tanpa belas kasih. Otak kenari Baekhyun kini terpaksa untuk memutar kejadian sejak ia tiba ditempat ini, hati lapangnya meraung ketika rakyat kecil sepertinya lagi-lagi dianggap seperti hewan—ditarik sana-sini, dihakimi tanpa tahu apa yang terjadi, lalu dipaksa untuk tunduk oleh lelaki brengsek yang tidak memiliki jiwa kemanusaan.

"Jangan membuatku semakin muak denganmu, idiot!"

Park Chanyeol menyemburkan amarahnya bertepatan dengan Baekhyun yang meratapi nasibnya. Byun Baekhyun terhenyak, walaupun ia seorang lelaki sejati, tetap saja ia menyadari dimana tubuh kecilnya berada sekarang—kandang orang utan?

Park Chanyeol marah, kesal, dan geram, namun tubuhnya tetap tenang duduk di singga-sananya. Wajah tampannya merah penuh amarah. Bocah miskin menjijikan ini benar-benar membuatnya naik pitam—menganggap jika amarahnya hanya guyonan belaka. Itu benar-benar melukai harga dirinya yang memiliki kelas tinggi.

"Tidak ada hukuman yang pantas diberikan untuk bocah dengan otak kecil sepertimu, bahkan jika potongan pantat berbisulmu membusuk di tumpukan sampah." Park Chanyeol mendesis dengan wajah tampannya yang membengis.

Bajingan tengik!

"Tahu apa kau tentang pantatku, sialan!" Baekhyun meraung dengan suaranya yang kian menyusut. Urat di lehernya terlihat nampak, sedangkan kedua lengannya yang masih digenggam erat oleh antek Park Chanyel menatap sang tuannya dengan pandangan takut.

Park Chanyeol tidak akan mentolerir segala bentuk makian untuk dirinya yang agung.

"LEPASKAN AKU DASAR HEWAN PELIHARAAN! ANJING KALIAN!" Baekhyun yang kalap benar-benar menakutkan. Tubuh kurusnya bergerak tidak beraturan— Baekhyun ingin terlepas dari belenggu pria yang mencengkram lengannya erat.

"LEPASKAN AKU DAN AKU AKAN MEMPERLIHATKAN BENTUK BISUL DI PANTATKU!"

Park Chanyeol menyunggingkan senyum miringnya— melihat bocah bodoh bertindak seperti itu membuat tubuhnya terasa terbakar penuh gairah yang membara. Tidak ada yang tahu apa yang saat ini sedang ia pikirkan, menurut Chanyeol bocah itu sedikit liar dan butuh didisiplinkan.

Park Chanyeol memberi perintah kepada dua bodyguards yang sedari tadi berdiri di sampingnya untuk ikut menahan tubuh Baekhyun yang kian tidak terkontrol. Masing-masih anak buahnya memegang kedua lengan dan kaki Baekhyun yang terus meronta.

"Kau! Bajingan tengik biadab. Aku bersumpah demi kemiskinan keluargaku, penis busukmu tidak akan pernah bisa ereksi hingga kau mati dibawah pohon beringin!"

"LEPASKAN AKU BAJINGAN DAN AKU AKAN MEMPERLIHATKAN PANTATKU YANG TELAH KAU EJEK!"

"SUMPAH ORANG MISKIN DAN TERANIAYA SELALU NYATA, BAJINGAN!"

"Lepaskan aku, bangsat!"

"Lepaskan." Suara Park Chanyeol yang lirih masih mampu didengar oleh empat anak buahnya. Secara serempak mereka melepaskan Baekhyun yang terlihat berantakan— mata sipitnya berair, tenggorokannya pun terasa kering, dan beberapa kancing seragamnya raib entah kemana.

"Keluar." Baekhyun berjalan tertatih, mengambil tasnya yang berada didekat aquarium yang besar dan mengagumkan. Ia harus cepat pulang dan minum sebelum air liurnya digantikan darah yang merembes dari tenggorokannya yang kering.

Park Chanyeol mengedikkan dagunya kearah Byun Baekhyun lantas antek-anteknya kembali menyeret Baekhyun agar berdiri di bawah lampu krystal yang menggantung anggun tepat diatas kepalanya.

"Kalian tuli?! Bajingan itu menyuruhku untuk keluar!" Di tengah tenggorokannya yang kering Baekhyun berlagak seolah-olah memiliki simpanan air liur yang berlebih.

Ketika empat pria besar itu mengembalikan Baekhyun di tempat semula, mereka tanpa bersuara meninggalkan Byun Baekhyun bersama Park Chanyeol yang terus memusatkan atensinya kepada tubuh mungil lelaki ringkih itu. Dibawah siraman sinar lampu yang berwarna cokelat membuat kulit kusam Baekhyun terlihat lebih mengkilap dengan dibaluri oleh keringat.

"Pantatmu?"

Byun Baekhyun tidak malu ketika kaum sesamanya meminta dirinya untuk menepati janji yang ia buat tadi. Kali ini ia benar-benar tidak terima jika seseorang memandangnya sebelah mata, apalagi ini mengenai fisiknya. Walaupun tubuhnya kecil sebagai seorang pria, kulitnya kusam dan hitam sebagai orang Korea, atau otaknya kecil sekecil kenari, tetap saja ia juga manusiakan!?

Park Chanyeol terus mengelus dagunya, matanya menatap lekat seenggok daging yang seharusnya tidak menarik untuk ia lihat, namun sialnya atensi yang jarang ia perlihatkan menguar begitu saja saat ini— apalagi ketika bocah idiot itu hanya berdiri dengan tubuh sedikit bergetar walau nyatanya ia berusaha tak gentar.

Gerakan mengelus dagu Chanyeol menyurutkan rasa panas yang membakar tubuhnya. Baekhyun yang menurut— melepaskan celana sekolahnya dengan gerakan pelan membuat Park Chanyeol ingin berlari kearah pemuda kecil lalu melepaskannya dengan bringas.

Chanyeol tau jika dirinya adalah seorang petualang seks sejati, dimana ia akan mencari kenikmatan dari seorang wanita maupun pria yang ia rasa menarik. Tetapi, seharusnya Baekhyun adalah pengecualian— tidak masuk kedalam kategori menarik versi Park Chanyeol. Kulitnya kusam dan kering; wajahnya dipenuhi jerawat, bekas jerawat, serta tipe kulit wajah yang berminyak; matanya sipit khas orang Korea kebanyakan; tapi, kurang ajarnya bilah bibir tipis tanpa menghilangkan warna merah segarnya membuat Chanyeol hilang akal.

Napas Park Chanyeol memburu, peluh membanjiri tubuhnya— tidak hanya wajah, bahkan seluruh kulit yang terbalut pori-pori. Tenggorokannya terasa kering, pun penisnya yang terasa sesak karena kian membengkak sedangkan benda berurat itu tertahan oleh celananya.

Park Chanyeol menghentikan napasnya ketika melihat Byun Baekhyun telah melepas celana sekolahnya, oh tidak! Byun hanya menggantungkan celananya sampai lutut, sedangkan tubuhnya sedang membelakangi Park Chanyeol dan sial sekali, pantat itu sangat bersih bahkan mulus dan berwarna putih. Terlihat menggiurkan ketika pantat itu tersiram oleh cahaya lampu, rasanya Chanyeol ingin memberikan warna baru untuk mendominasi pantat Baekhyun.

"Kau lihat pantatku? Mulus, walaupun warnanya jelek!" Baekhyun yang bodoh dan matanya hanya d ikepala memang sangat sulit untuk melihat bagian belakang tubuhnya.

"A-ah, yeah!"

Park Chanyeol menelan ludahnya susah payah. Seharusnya bukan begini reaksi yang diberikan oleh tubuhnya setelah melihat bongkahan pantat yang tidak sepenuhnya nampak, pantat itu kecil namun sangat padat, pantat itu mulus dan memiliki warna yang menakjubkan, bukan berwarna buruk.

"25 tamparan di pantat untuk hukumanmu?" Sial, Park! Kau bertindak terlalu jauh.

"TIDAK!" Si idiot Byun bergegas memakai celananya— itu bagian privasinya sebagai seorang pria. Setelahnya, ia mendudukkan pantatnya diatas marmer yang mendingin karena terpaan air conditioner, lagi-lagi si idiot ini melindungi pantatnya dengan cara yang konyol.

Park Chanyeol tersenyum miring melihat tingkah pemuda setengah otak itu, lidah besarnya menjilat bibir bawahnya seperti ular yang menakutkan. Byun dengan ketakutannya yang hanya seujung kuku benar-benar ingin menarik lidah bajingan tengik di depannya, walaupun jarak keduanya tidak bisa dikatakan dekat, Baekhyun masih bisa melihat lidah besar itu terjulur bersama wajah bengisnya.

"Stand Up." Bola hitam pekat Park Chanyeol kian menajam, seiring dengan gelengan Byun Bakehyun yang keukeh dengan pendiriannya.

Park Chanyeol menunggu Byun pendek itu berhenti menjadi keras kepala. Sebelumnya, lelaki kaya dengan baju berkulit uang itu tidak pernah bertindak sesabar ini, tidak ada waktu untuk menunggu orang lain mengeluarkan pendapat atau bahkan menunggu seseorang menghela napas untuk berfikir mengenai kata-katanya.

Manusia dihadapan Park Chanyeol adalah kaum yang sama dengannya, kalau Park itu tertarik dengan apa yang dimiliki oleh sosok yang terduduk di lantai ia pun memiliki apa yang sosok itu miliki. Kejantanan atau dada yang rata dan tidak menonjol, tapi brengseknya otak Si Park penasaran dengan ukuran penis, dada rata, dan bokongnya yang padat.

"Kau mau mati ditanganku? KEMARI!" Park Chanyeol berteriak penuh ketidaksabaran.

"Aku bilang tidak!" Si Byun justru balik berteriak.

Otak kenari Baekhyun berputar mengenai apa yang sahabat Kim-nya ucapkan bahwa pria besar di hadapannya ini adalah seorang biseksual yang akan menjadikannya sebagai budak seks. Maka, dengan rasa berat hati yang menyelimuti hati putih-bersihnya, Byun Baekhyun benar akan mematahkan penis pria itu ketika sedang ereksi.

Ternyata hanya wajahnya saja yang cantik, tapi jiwa prianya tetap merasa terlecehkan ketika ada seorang pria yang bisa ereksi karena dirinya. Baek, kau benar pria tulen, heh?

Park Chanyeol berdiri dari peraduannya, wajahnya membengis, tapi sebisa mungkin ia berusaha tenang—dirinya yang terdidik sebagai pewaris membuatnya menjadi manusia yang ahli bermain emosi, ketika orang lain melihatnya tenang disaat itulah amarah sedang memakan seluruh tubuhnya yang agung. Kedua telapak tangannya mengintip dibalik saku celana ripped jeans— tampak sekali bagaimana bengalnya pria itu.

Setiap langkah tegas yang Park Chanyeol daki berhasil membuat Baekhyun ingin benar-benar mematahkan penis pria itu. Byun Baekhyun meludah, lantas berdiri dari duduknya— ia berusaha untuk tidak menjadi konyol, lagi. Byun Baekhyun adalah seorang pria sejati, pria tulen yang juga memiliki penis dan menginginkan penisnya masuk ke lubang wanita, sekedar penegasan bahwa pria pendek itu juga masih memiliki ketertarikan kepada gadis yang anggun.

Si Byun berdiri dari duduknya, kini ia mengambil ancang-ancang teknik dasar bela diri hapkido—yang ia pelajari ketika mengikuti ekstrakurikuler di sekolahnya. Semoga teknik ini benar-benar membantu, setidaknya untuk menendang telak penis yang setengah ereksi— Baekhyun melihatnya saat ini.

"Aku benar-benar ingin mematahkan penismu yang menegang itu! Bocah ingusan!"

Baekhyun sebenarnya kalap ketika melihat senyum miring diwajah bengis pria yang seakan tuli dan masih berusaha mengambil langkah untuk mendekatinya.

"Engh," Baekhyun membolakan matanya tidak habis pikir ketika Park Chanyeol meremas penisnya sambil mendesah menjijikan. Berani-beraninya bajingan ini mempermalukan dirinya dihadapanku!?

Pria gigih itu kian mengeratkan kepalan tangannya di depan wajah, kedua kakinya berdiri tegap, namun tertekuk dan sedikit mengangkang, dan matanya menajam penuh kewaspadaan— seperti melihat predator yang akan memangsanya, tapi wajah dan gaya berdirinya sama sekali tidak membuat takut lawannya.

Park Chanyeol berhenti dari langkahnya, namun satu tangannya masih meremas pelan penisnya. Rasanya benar-benar nikmat sekaligus menyiksa. Ia masih memiliki akal dan malu untuk melakukan masturbasi di hadapan pria mungil ini, tapi tidak ada salahnya kan ia yang menyukai tantangan menginginkan Baekhyun untuk melihat dirinya yang sedang menyiksa diri? lagipula ia juga tidak tahu mengapa dirinya benar-benar berhasrat besar terhadap lelaki mungil berwajah jelek itu!

"Engh, kau yang membangunkan jiwa singaku,bocah! Uh, jadi jangan salahkan aku, angh!"

Menurut Chanyeol, dirinya saat ini benar-benar berlebihan. Ia yang tidak pernah mendesah keenakan ketika titik ternikmatnya disentuh oleh orang lain, tidak pernah menikmati ketika dirinya melakukan pemijatan ke penisanya, tidak pernah menyukai seks dengan lembut, dan tidak pernah merasa puas ketika pusat tubuhnya sedang di manjakan.

Pelipis Baekhyun basah oleh keringat, ia anggap itu bukan bentuk dari sebuah rasa ketakutan— ia panas dingin karena sejak tadi siang belum makan apapun, minum pun tidak, tapi dirinya harus dipaksa untuk mengeluarkan energi untuk melawan pria sok kaya ini.

Apa dunia adil, Baek? Kau rupanya belum benar-benar bersyukur.

"Kau! MESUM SIALAN! MENJAUH DARIKU!" Baekhyun meraung, tapi ancang-ancangnya tidak mengendur sama sekali.

Tubuh Baekhyun meremang oleh segala bentuk perasaan jijik— melihat tingkah Chanyeol yang seakan-akan dikutuk untuk menjadi penerus Eros. Ini buruk, adakah yang lebih buruk dari ini? Maka, Baekhyun benar-benar mati ditempat.

"Engh, ahh… aku tidak bisa berhenti." Park Chanyeol menatap penisnya yang kian menyesak ketika ditahan oleh celana slim fit-nya. Kening indahnya mengkilap oleh keringat, sedangkan beberapa anak rambutnya memberikan noda hitam diatas kening basah itu.

Park Chanyeol terus mengurutnya dari luar celana, matanya yang sayu menatap Byun Baekhyun yang sedang memandangnya jijik. Ugh… wajah itu benar-benar seksi. Bagaimana mungkin dirinya mastrubasi dengan keadaan berdiri sedangkan didepan sana ada seorang pria yang memandangnya rendah. Benarkah ini Chanyeol yang berasal dari Keluarga Agung Park?

"SIALAN! KAU PIKIR AKU SIAPA YANG MAU MELIHATMU BERTINGKAH LEBIH DARI SAMPAH, HAH!?"

Baekhyun melempar hiasan dinding dibelakangnya kearah penis Pak Chanyeol yang tidak ia tahu bagaimana caranya sudah mencuat menantang gravitasi. Pria menjijikan itu sebenarnya terbuat dari apa, hah?! Bagaimana bisa-bisanya tidak memiliki urat malu. Disini sebenarnya yang idiot itu Byun Baekhyun atau Park Chanyeol?

Walaupun aku idiot dan bodoh, tetapi aku tidak bertingkah seperti orang miskin yang tidak pernah melakukan seks dengan siapapun!

Kalian bisa menyimpulkan bagaimana otak dan batin Baekhyun bekerja sama untuk saling berbohong satu sama lain.

"Engh!" Cairan Chanyeol keluar tanpa disadari.

Bola mata Baekhyun terbelalak, hiasan dinding yang mahal itu berhasil mengenai penis Chanyeol, tapi bukannya berteriak penuh kemarahan yang keluar dari mulut pria mesum itu justru sebuah desahan keras dengan suaranya yang berat dan menggelegar. Apa benar pria ini dilahirkan tanpa urat malu?

Byun Baekhyun pening melihat tingkah Park Chanyeol yang benar-benar mesum. Tidak pernah ia melihat teman lelakinya melakukan masturbasi didepannya tanpa permisi. Baek, jangan lagi kau bertingkah seolah-olah memiliki banyak teman!

Park Chanyeol benar-benar simbol dari sebuah kebejatan.

Pria tak tahu malu itu mendongakkan kepalanya— menikmati pelepasannya yang intens, hanya dengan satu tangan dan memandang wajah Baekhyun yang penuh amarah rasanya bisa senikmat ini. Bagaimana jika lebih?

Byun Baekhyun berlari ketika Park Chanyeol lengah— sewaktu pria bejat itu mengambil nafas dengan mendongakkan kepalanya. Byun Baekhyun berlari kencang untuk mengambil tas kusamnya yang berada di dekat aquarium besar. Ia harus lari dari duplikat neraka ini. Setidaknya ia masih ingin merasakan ocehan eomma-nya.

Park Chanyeol melepas slim fit ripped jeans-nya dengan memandang Byun Baekhyun yang sedang lari tidak jelas. Pria mungil itu berusaha mencari celah untuk kabur— menggedor pintu jati besar, namun hasilnya nihil, membuka pintu jendela besar yang ternyata menghubungkannya dengan swimming pool, lantas tidak sampai disitu saja, Byun Baekhyun menggedor pintu lainnya dan hasilnya sama, berlari lagi menuju jendela besar yang menghubungkannya dengan balkon dan seketika ia dibuat ngilu dengan ketinggian tempatnya berada. Sial, tempat ini memberiku kode untuk bunuh diri— jalan keluar untuk menjauhi Park muda dengan cara yang tolol!

"SIALAAAAN! JIKA AKU BERADA DISINI BISA-BISA KITA KE NERAKA BERSAMA!" Byun Baekhyun menutup jendela itu dengan kasar lalu memasuki penthouse Park Chanyeol dengan suaranya yang melengking penuh kesal.

Pria bersendok emas dimulut hanya tersenyum miring melihat Baekhyun yang bertingkah seperti wanita. Celananya benar-benar terlepas, tidak ada celana dalam atau apapun itu untuk menutupi kejantanannya yang masih berdiri tegas menantang udara. Ia berdiri menjulang tinggi dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya yang bidang.

Rasa panas kembali menyusuri seluruh darah Park Chanyeol—melihat Byun kecil itu marah membuat seluruh darahnya terkumpul di penisnya. Berurat, besar, dan kuat adalah salah satu hal yang membanggakan untuknya— ia merasa jika Baekhyun akan puas ketika mereka bercinta?

"Yak! Pakai celanamu itu!" Byun Baekhyun lagi-lagi kalap dibuat.

Melihat Park Chanyeol yang berdiri dengan tanpa celana, serta penisnya yang membuat Baekhyun merasa iri memberikan rasa kesal yang teramat untuk dirinya. Ia merasa bukan pria sejati untuk kali ini. Kalau boleh bertanya dan urat malunya lebur, mungkin saja Baekhyun akan bertanya banyak hal mengenai penis kepada Park Chanyeol.

Ingat, jika Baekhyun masih memiliki dendam kesumat untuk Park Chanyeol.

Bisakah ia menemui dukun santet saja? Setidaknya ia memiliki usaha untuk mengecilkan penis itu. Pasti Park Chanyeol malu memiliki ukuran penis diatas rata-rata.

"Kemarilah," apa Baekhyun memiliki kelainan pada pendengarannya?

Park Chanyeol berujar lembut, wajahnya pun kini tidak tersirat emosi yang berakhir merugikan orang lain, tapi sikap lembut ini membuat Baekhyun harus lebih waspada. Ya, Baekhyun harus memiliki kepekaan yang berlebih untuk menjaga diri dari segala niat busuk Park Chanyeol.

Masih sama. Byun Baekhyun masih memiliki jiwa pemberontak yang akut jika mengenai Park Chanyeol. Ia berjanji untuk mengabdi menjadi pemberontak bagi Park Chanyeol.

"Baek, kemari." Kali ini suara Park Chanyeol bernada tegas, ia sebenarnya sangat benci untuk bersikap lembut, sebenarnya.

"Tidak!" Byun Baekhyun berlagak menjadi pemberontak. Pemberontak sejati hanya untuk Park Chanyeol yang tidak pantas untuk mendapatkan kehormatannya dengan tingkah semenjijikan itu.

Byun Baekhyun berhasil mengumpulkan semua bukti mengenai segala kebejatan Park Chanyeol. Bukti hasil dari hipotesisnya mengatakan jika Park Chanyeol adalah orang yang benar-benar lebih dari kata menjijikan; egois, mesum, tidak tahu malu, superior, pemaksa, sombong dan masih banyak lagi hingga kapasitas otak Byun Baekhyun tidak mampu menampungnya sehingga menjadi tumpah-ruah. Otak kecilmu memang tidak akan sanggup untuk menampung segala hal, Baek!

Park Chanyeol melangkahkan kakinya untuk kembali duduk diatas singga-sananya, menengadahkan tangannya hingga seorang pria bertubuh tinggi dengan balutas jas kantoran yang rapi membawakan kain berbahan licin dan berwarna merah maron untuk dikenakan Park Chanyeol.

Baekhyun yang melihatnya hanya berdesis, salah siapa ia hidup miskin?

Tidak. Sisi baik Baekhyun melarang Baekhyun untuk meratapi takdirnya. Memang tidak adil, tapi semuanya akan adil sebagaimana manusia yang tidak memiliki rumah selalu bersyukur akan itu. baekhyun hanya harus bersyukur, ketika waktu tiba ia akan bermandikan kebahagiaan setiap harinya. Baek kau naif sekali.

Park Chanyeol berdiri dari duduknya, melepaskan segala kain yang membalut tubuh bagian atasnya lalu Kim Woo Bin memakaikan piyama tidur bertali warna merah maron ke tubuh mengagumkan milik Tuan Mudanya. Tanpa banyak berucap Kim Woo Bin pergi entah kemana ditelah sebuah pintu besar yang bukan menjadi pintu utama untuk keluar dari penthouse.

Byun Baekhyun tercengang ketika ia melihat kain itu sama sekali tidak menutupi bagian depan tubuh Park Chanyeol, padahal disana terdapat tali untuk menutupi bagian itu. Sial, mengapa terlalu vulgar. Tambah membuat iri Baekhyun saja. Mengapa di perut pria itu memiliki eight pack dan V line juga tercetak jelas disana. Jangan lupakan pula rambut halus yang melingkupi kejantanan pria itu. Sial, kenapa pria itu benar-benar mengagumkan!

Jangan salah paham. Baekhyun hanya mengagumi tubuh itu sebagaimana ia mengagumi tubuh keren miliki Jason Momoa!

Park Chanyeol dengan percaya dirinya kembali duduk di kursi kebesarannya, ia mengambil map diatas meja lantas meletakkan kedua kakinya diatas meja tanpa melihat bahwa disana terdapat wine glass, gelas itu pecah melebur bersama kelembutan karpet hitam berbulu angsa. Tidak menunggu lama, maid yang bekerja disana berdatangan membawa peralatan kebersihan.

Semuanya terlihat jelas oleh Baekhyun. Bagaimana pria itu berlagak layaknya ia adalah penguasa alam semesta. Bagaimana pria tengik itu memperlakukan manusa seolah-olah merintih dibawah telapak kakinya. Bagaimana pria itu tidak pernah perduli dengan keadaan sekitar. Baekhyun benar-benar terperangah, apalagi dengan tubuh pria itu yang setengah telanjang dengan keadaan penis yang masih setengah tegang. Apa ia tidak malu?

Bagaimana Tuhan menciptakan mahluk berfisik sempurna yang bahkan tidak tau caranya memiliki adab? Apakah ini adil? Oke, Baek. Kau harus bersyukur atau Tuhan benar-benar akan mengutukmu!

"Aku akan mengeluarkanmu dari sini." Park Chanyeol berucap seolah-olah ia berbicara dengan kertas ditangannya.

"Ya! Keluarkan aku sekarang! Tidak ada yang aku punya, bahkan jika kau menuntut ganti rugipun keluargaku akan mengabaikan segala ancamanmu dan membiarkanku menjadi cacahan dengan pencernaanku kau jual!" Itu menjijikan, Baek!

Ketika maid itu selesai membersihkan segala kekacauan yang dibuat Tuan Mudanya yang agung, mereka bergegas pergi. Apalagi ketika mereka mendengar tuannya yang disembur orang lain, tidak ada salahnyakan mereka menjauhi zona perang dan menyelamatkan dirinya sendiri?

Park Cahnyeol mengangkat kepalanya menatap Baekhyun yang berada didepan jendela besar— tempat dimana Baekhyun manahan diri untuk tidak menjatuhkan tubuhnya ke bawah melalui balkon itu, bibir seksi itu menyunggingkan senyum miringnya, "aku ingin tinggal dirumahmu."

"Hah?!"

"Aku ingin kau membiarkanku tinggal dirumahmu." Park Chanyeol menutup mapnya lantas meletakkan map tersebut diatas lantai tanpa mau bersusah payah mencondongkan tubuhnya dan meletakkan benda itu diatas meja, seolah-olah siapapun siap memungut benda tidak berharga itu. Kau harus tau Beaek, benda mana yang kau sebut tidak berharga itu?

"Untuk apa, hah?!" Baekhyun bertanya seolah-olah ia mendengar jika Jason Momoa adalah seorang wanita.

"Ya atau oke?" ucap Park Chanyeol tenang.

"TIDAK!" Baekhyun menolah dengan menggebu-gebu.

Park Chanyeol diam, menyunggingkan senyum kejamnya dengan mata tajam menatap Baekhyun. "Oke, kalau begitu kau siap menjadi budak seks ku."

Kepala Baekhyun terasa pening, ia berharap ketika ia pingsan nanti ia ingin langsung mati saja dan masuk kedalam surga, tapi apakah surga akan memasukkan manusia yang menghirup udara terakhirnya bersama calon penghuni neraka— Park Chanyeol adalah calon penghuni neraka, bahkan sebelum Tuhan menandatangani kelahiran Park Chanyeol. Kau benar-benar idiot, Baek!

"Heaven, come here!" Park Chanyeol menjilat bibirnya menggoda dan Baekhyun benar-benar akan pingsan detik ini juga.

"Tidak!" Byun Baekhyun memundurkan tubuhnya hingga membentur jendela besar dibelakangnya. Ini lebih dari buruk. Ia masih memiliki akal untuk tidak melakukan seks dengan sesamanya. Itu lebih memalukan ketimbang dirinya harus telanjang mengelilingi gang rumahnya.

"Pilih, sayang." Bulu kuduk Byun Baekhyun meremang mendengar suara berat milik Chanyeol, 'sayang' adalah kata yang menjijikan ketika keluar dari bilah bibir Park Chanyeol.

"Aku tidak akan perduli jika kau tidak diberi makan oleh eomma ku, aku juga tidak akan perduli jika ayahku akan menendang pantatmu, kedua adikku yang nakal akan menyerangmu setiap saat, atau yang parahnya lagi aku tidak akan membiarkan dirimu tidur dengan nyenyak!"

"Ugh! Aku suka ide terakhirmu itu, kita tidak akan tidur jika kita tidak bercinta. Bagaimana? Kau suka?" Park Chanyeol menyeringai.

"BRENGSEK!"


HEAVEN, COME HERE!


Malam ini benar-benar malam petaka. Malam ketika Baekhyun percaya jika nyawanya akan habis di mulut eomma-nya. Lebih baik ia mati cepat daripada mendengar segala ocehan eomma-nya lebih lama, telinganya tidak sekuat itu. Belum lagi, pasti malam ini appa-nya berada dirumah lalu ia harus berkata apa mengenai Park Chanyeol yang berubah menjadi miskin.

Byun Baekhyun masih senantiasa berdiri di depan gang rumahnya, sedangkan Park Chanyeol berada dibelakangnya sedang menahan tawa. Mereka diturunkan didepan gang karena mobil super mewahnya tidak akan mampu untuk menghancurkan bangunan yang menyempiti gang itu.

Otak dengan kapasitas kecil itu dipaksa untuk berfikir berat dimalam yang tidak terlalu dingin ini. Park Chanyeol bukan teman dekatnya, yang ia punya sebagai teman dekat hanya Kim Taehyung yang sama melaratnya dengan keluarganya. Sangat mudah membohongi eomma-nya, tapi akan sangat sulit jika ia harus membodohi appa-nya. Kemeja yang dikenakan Park Chanyeol sangat-amat mewah, walaupun Baekhyun tidak tahu berapa banyak uang yang dipakai Chanyeol hanya untuk membeli kemeja itu.

"Apa rumahmu di gusur, Baek?"

"BISA DIAM TIDAK, SIH!"

Park Chanyeol mengatupkan bibirnya, apa pria mungil itu tidak lelah terus berdiri seperti ini di pinggir jalan dengan koper besar mengelilingi mereka?

Baekhyun membalikkan tubuhnya lalu menatap Park Chanyeol yang berdiri menjulang didepannya, lagi-lagi ia iri dengan tinggi tubuh pria mengagumkan ini. "Aku tanya sekali lagi. Rumahku sangat-sangat sempit, bahkan kau tidak akan bisa menaruh seluruh kakimu diatas kasur jika kau tidur dirumahku. Kasurnya pun sangat keras, tidak seempuk dikamarmu, sedangkan dirumahku tidak memiliki pendingin dan penghangat ruangan. Rumahku benar-benar tidak pantas untuk tempat tinggal, itu lebih mirip dengan kandang kambing. Kalau hujan rumahku akan bocor, aku tidak tahu kenapa padahal sudah aku tembel beberapa kali. Kurasa kau bisa tinggal di rumah temanmu yang lebih layak."

Baekhyun meringis, mengingat rumahnya benar-benar memalukan. Ia tidak tinggal di perkomplekan yang murah, apalagi mahal. Rumahnya hanya terletak di gang sempit yang kumuh, bahkan ia berani bertaruh jika rumahnya adalah rumah terjelek dari seluruh murid di sekolahnya.

Park Chanyeol tersenyum— semuanya hanya karena Baekhyun. "Tidak masalah, bahkan aku pernah tinggal di kandang babi."

Byun Baekhyun tidak menyangka jika pria kaya seperti Park Chanyeol pernah tinggal dikandang hewan jorok itu, tapi tetap saja kandang dirumah Park Chanyeol sama dengan rumahnya, bahkan ia berani bertaruh rumahnya lebih tak layak ketimbang kandang babi dirumah Park Chanyeol.

"Sudahlah, kau memang kepala batu!" Baekhyun jengah sendiri, lantas ia menarik satu koper milik Park Chanyeol untuk memasuki gang rumahnya yang remang dan kumuh.

Park Chanyeol menutup hidungnya ketika ia melewati tumpukan sampah di jalan itu, serta matanya mendapati kumpulan orang yang sedang bersorak memusatkan sesuatu disana, "jangan sekali-kali kau ikut dengan mereka! Mereka benar-benar manusia berbalut sampah, bener-benar bau!" Byun Baekhyun berbisik di depan mulut Park Chanyeol dan si Park itu menikmati segala tingkah Baekhyun yang tidak terduga.

"Tidak akan. Hanya ini jalan yang bisa sampai ke rumahmu?"

Byun Baekhyun dan Park Chanyeol berjalan menikmati aliran angin dimusim panas yang membelai kulit. Ternyata berbincang di perjalanan sedikit menghilangkan bosan.

"Tidak, ada jalan alternatif. Tapi aku harus melewati pasar yang ada premannya dan itu sangat berbahaya ketika aku sendirian." Mereka berjalan di jalan yang menanjak dan tangan Baekhyun mulai terasa pegal.

"Jangan! Jangan sekali-kali kau pergi sendiri, aku akan mengikutimu kemana pun kau pergi, Baek."

Rasanya Park Chanyeol ingin merengkuh pinggang sempit milik Baekhyun, tapi kedua tangannya memegang koper miliknya. Park Chanyeol membawa banyak koper karena ia benar-benar berniat untuk tinggal dirumah Baekhyun dalam jangka waktu yang lama.

"Nah! Itu rumahku." Byun Baekhyun menunjuk rumah bercat cream yang kusam. Namun, sejauh Park Chanyeol lihat, rumah itu terlihat paling rapi ketimbang rumah yang berdekatan dengan rumah Baekhyun.

Byun Baekhyun mengetuk rumahnya, tidak lama kemudian eomma-nya yang bersiap tidur membukanya dengan wajah garang. Sial, Baekhyun ketakutan seketika, "tunggu eomma, ada temanku." Baekhyun memelas memandang eomma-nya, meminta setidaknya keringanan sebelum dirinya dihujami ocehan yang memanaskan telinga.

Eomma Baekhyun membuka pintu rumahnya lebih lebar, "mana temanmu?"

Park Chanyeol memandang dingin keduanya, menanti tingkah apa yang akan Baekhyun perbuat kali ini untuk membohongi eomma-nya dan pria angkuh itu sama sekali tidak membungkuk untuk eomma Baekhyun.

"Itu dibelakangku," Baekhyun berujar lirih.

"Kau memiliki teman? Dan setampan itu?" Eomma Baekhyun menatap anaknya tidak percaya dan Baekhyun meringis mendengar pertanyaan eomma-nya yang memalukan.

Eomma Baekhyun tersenyum melihat Park Chanyeol dari atas sampai bawah. Meneliti bagaimana sempurnanya tubuh teman anaknya itu, ia merasa anaknya bagaikan pelayan ketika bersanding dengan pria sesempurna itu. Ia merasa gagal merawat anaknya yang memiliki tubuh kecil sebagai pria.

"Ah. Siapa namamu, nak?" Eomma Baekhyun bertanya ramah.

"Chanyeol." Balas Park Chanyeol dingin.

Eomma Baekhyun meremang mendengar suara berat yang bernada dingin milik anak muda bernama Park Chanyeol. Eomma Baekhyun kembali menatap anaknya dengan pandangan meneliti, bagaimana bocah ini menemukan teman setampan Chanyeol, ia berharap ketampanan Chanyeol akan menular ke anaknya. Alisnya mengernyit melihat anaknya membawa koper besar ditangannya. "Kau dapat dari mana koper ini, kau mencuri, hah!?"

Mata Baekhyun terbelalak, ia memundurkan tubuhnya ketika eomma-nya hendak memukul tubuhnya. "Itu milikku, bibi!"

Eomma Baekhyun menurunkan tangannya lantas menatap Chanyeol yang kini tersenyum tipis kearahnya lalu ia menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia percaya dengan apa yang diucapkan si Chanyeol ini. "Lho, kau mau kemana, nak?"

"Eomma, aku mohon izinkan temanku untuk tinggal disini. Aku menemukannya sedang menangis di dekat tumpukan sampah milik paman Jong Ho. Ketika aku tanya, ia ternyata hidup sebatang kara sedangkan pria itu masih harus sekolah. Uangnya habis untuk membiayai sekolahnya hingga akhir tahun, jadi ia tidak memiliki uang untuk membayar kontrakan." Baekhyun berkata semeyakinkan mungkin. Matanya pun berkaca-kaca, bukan karena cerita yang ia karang sendiri, melainkan rasa takut yang teramat jika eomma-nya akan memarahinya, apalagi ditambah masalah mengenai sabun cuci wajah.

Eomma Baekhyun merasa berempati mengenai bencana yang diderita oleh pria tampan itu, ternyata ia membesarkan anaknya dengan baik , hingga memiliki hati selapang itu.

"Oh, sayang. Kau malang sekali—" Eomma Baekhyun berjalan kearah Chanyeol, lantas memeluk pria tinggi itu.

Park Chanyeol memelototkan matanya menatap Baekhyun yang sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kau boleh tinggal disini sampai kapan pun, nak. Jangan sungkan, ya?" Baekhyun menjadi geram sendiri melihat Park Chanyeol mendapat elusan lembut di rambutnya, ia mengingat kapan terakhir kali eomma-nya bersikap selembut itu dan otak buntunya tidak mendapatkan kejadian masa lampau dengan adegan sedramatis itu.

"Baekhyun kau ajak Chanyeol untuk masuk kedalam, ya. Eomma ingin membeli makan sebentar untuknya." Eomma Baekhyun berlalu meninggalkan mereka.

"KAU—"

"Ayolah, kau tidak lihat jika ceritaku membuahkan hasil?" Byun Baekhyun tersenyum senang dan membuat segala amarah Park Chanyeol menyusut.

Park Chanyeol melangkahkan kakinya mendekati Baekhyun dan si Byun membuka pintu dengan pelan lalu mendapati jika appa-nya sedang menonton pertandingan sepak bola club kesukaannya dan duduk diatas lantai yang terlapisi karpet. Lagi-lagi satu halangan harus dilalui. Saatnya beraksi, Baek!

"APPA!" Byun Baekhyun berteriak gembira hingga membuat appa-nya terkejut. Sedetik kemudian pria paruh baya itu tersenyum melihat anaknya merangkul pundaknya dengan akrab. Ini benar-benar seorang pria!

"Kenapa baru pulang, son?"

"Temanku ingin menginap disini, tadi aku sudah mendapatkan izin dari eomma, pa." Senyum Baekhyun terukir manis.

"Oh, mana temanmu kalau begitu?" Appa Baekhyun mencari keberadaan teman anaknya itu.

"Itu appa, dibelakangmu." Appa Baekhyun menengokkan kepalanya dan mendapati pria muda bertubuh tinggi menjulang hingga membuatnya harus mendongak untuk melihat langsung rupa teman anaknya. Matanya membola tanpa disadari, hingga jantungnya berdetak tidak karuan. Untuk apa anak ini berada dirumahnya?

"Young master?"

Seringai terukir jelas di bibir Park Chanyeol.

Cut…

•••

Guysss… lagi lagi, makasih udah support gue. Makasih review kalian, makasih udah love & follow cerita gue yang newbe ini yaa…

Ayolaaah,,, komen yang panjang-panjang !