MORE THAN HEAVEN

SelfPd Present

Ost. Beautiful People : Ed Sheeran ft. Khalid. 2019.

••°••

Disclamer:

Cerita ini murni milik saya, ide jalan cerita adalah murni pemikiran saya dan ini adalah fiktif.

Cerita ini adalah ilusi saya mengenai hubungan Chanyeol-Baekhyun. Jika tidak suka itu hak kalian dan jika kalian menikmati cerita ini tolong beri saya batang hidung kalian.

M

Beautiful People

Semuanya tidak lagi sama, hari berganti maka kian berarti. Bahkan belum genap sehari mereka bertemu, namun Park Chanyeol kian kukuh dengan isi otaknya— pria itu memang menuhankan otak. Alih-alih menampik, si Park justru menjerumuskan dirinya ke dalam kebudayaan yang menyimpang. Kali ini otak serta hatinya bertindak sejalan, walaupun kewarasannya harus dipertanyakan saat ini. Park Chanyeol memang terbiasa bertindak semaunya— memakan segala macam kebudayaan menyimpang yang ia ciptakan sendiri tanpa berlandaskan penerimaan toleransi dalam masyarakat Korea.

Ketika itu— Park ingat dengan persis jika 6 jam, 32 menit, dan 37 detik lalu ia memaki si Byun bajingan kecil di dalam mobil serta di jam berikutnya ia mendapati si kecil didalam lift yang sama— berbagi nafas dengan aroma yang membuatnya mendidih. Sedangkan, saat ini ia justru menginjakkan kaki di tempat yang tak ubahnya kandang babi.

Park Chanyeol tersenyum— senyum pongah yang bahkan orang lain pun tidak ingin tahu. Mata bulatnya yang tajam menatap si Byun yang sedang menunduk karena sedang dihakimi oleh orang tuanya. Si keluarga besar pemilik rumah tak layak huni ini sedang berbincang penuh kepusingan di dapurnya yang kecil. Bahkan, jika ada tempat yang layak untuk menyampahkan segala rahasia atau aib pun tidak akan ada yg lebih baik daripada dapur, pikir Park Chanyeol.

Si Park seakan tak peduli tentang perdebatan keluarga miskin itu, lantas matanya yang tajam dan tak bersahabat menggulir kesepanjang rumah. Matanya yang jeli mampu memindai ke setiap sudut, rumah ini kecil jadi wajar saja.

Warna cat rumah tak layak huni ini hampir pudar ditambah beberapa coretan pensil, pen, dan krayon memanjang di sepanjang tembok bagian bawah. Tidak ada kursi atau sofa yang bisa diduduki dengan nyaman— Park Chanyeol duduk dengan bantal sebagai alasnya, ini tidak nyaman ketika sebagian kakinya harus menapak langsung diatas karpet yang lusuh dan pasti banyak kumannya.

Mata jelaga itu kembali menyusuri dengan antisipasi, matanya membola ketika ia menemukan keset yang tidak seharusnya digunakan. Bukan keset yang setidaknya dibeli di pusat perbelanjaan— itu adalah sebuah baju yang tidak terpakai. Park Chanyeol amat heran, sebenarnya semiskin apa keluarga ini. Setidaknya membeli satu keset yang layak tidak membuat keluarga ini menjadi pengemiskan?

Mata pria tinggi yang diduga sebagai anak majikan si pemilik rumah itu mengernyit. Sebelumnya, ia tidak pernah membayangkan mendapati rumah seperti ini masih bisa dihuni oleh manusia. Tidak pernah. Karena mata jelaga itu terbiasa melihat keindahan yang harus memiliki unsur mewah.

Tidak seharusnya si Tuan Muda Park melemparkan tubuh idaman sesamanya ke tempat kumuh yang bahkan sebentar lagi akan menumbukan jerawat di bahunya. Bahkan, bau rumah ini benar-benar membuatnya harus menahan nafas selama lima menit hanya untuk menyiapkan perut jika sewaktu-waktu ia akan muntah karena ya— pengelihatan pasti akan sependapat dengan pembauan.

"Ck," Park Chanyeol berdecih penuh kebosanan, kedua lengannya ia silangkan di depan dada sedangkan matanya menatap malas tarikan krayon berwarna merah yang terlihat kontras di sepanjang dinding hingga mata bulat sekelam black hole itu mendapati sebuah figura photo berukuran 4R yang menggantung miring di dinding dekat televisi 32 inchi.

Park Chanyeol berdiri, kaki panjangnya yang terbalut ripped jeans menghampiri figura photo yang tergantung di dinding samping televisi. Mata kelamnya menggelap, tapi seringainya nampak lebih menyeramkan, ia menjilat bibir bawahnya sensual, bahkan birahinya kian melonjak naik dengan hanya menatap photo tersebut.

Photo berukuran 4R yang terbingkai oleh bingkai kusam dan penuh sarang laba-laba, menampilkan seorang bocah berumur tiga tahun yang nampak bahagia dengan menampilkan senyuman lebar hingga nampak deretan gigi dan bola mata yang menyabit. Itu Baekhyun— asumsi Park Chanyeol. Baekhyun nampak bahagia berenang di ember yang hanya menenggelamkan sebatas pinggangnya dengan posisi bocah mungil itu sedang duduk sehingga menampakkan penis merah mudanya secara malu-malu.

Brengsek! Sudah seberapa banyak orang melihat photo ini?!

Sebanyak dua langkah ia ambil akibat kakinya yang panjang berhasil menggapai bingkai kotor itu, Park Chanyeol dengan tergesa mengambil lembar photo yang nampak memudar, lalu menaruh bingkai kotor itu dibelakang televisi yang berdiri diatas meja yang sama kusamnya. Park Chanyeol menganggap tindakannya bukan tindakan berdosa karena ia berpikir barang tersebut tidak bernilai penting kecuali tubuh mungil pria manis itu.

Bibir Park Chanyeol menyeringai lebar ketika tangan lebarnya berhasil menyentuh selembar photo Baekhyun kecil yang memang sudah nampak menggairahkan dengan penis merah mudanya, jempolnya yang besar berhasil menekan photo di bagian penis mungil yang menyembul dari dalam air. Benar-benar membuat libidonya mendidih hingga siap meledak.

DRTT…

Atensi Park Chanyeol meluruh ketika getaran ponsel di saku celananya terasa. Park Chanyeol lebih dulu menaruh lembaran pudar itu disaku kemeja yang ia pakai, tenggorokannya kering maka dari itu ia menjilat bilah bibirnya walaupun bayangan penis mungil berwarna merah muda itu terus menggerayangi otak emasnya. Pria gagah di usia remajanya itu merogoh saku lalu mengangkat teleponnya dengan gaya kelas tinggi.

Kaki panjangnya yang terbalut ripped jeans mendekati jendela yang bergorden putih dengan kain yang kusam dan berdebu, sejenak ia termangu— haruskah ia menyibaknya dan melihat keadaan alam yang tersaji dibalik gorden itu. Selanjutnya, ia menyibaknya dengan kasar, tanpa ragu— mendapati kaca bening retak yang menampakkan banyak bocah yang sedang berlarian saling mengejar satu sama lainnya di tengah lapangan yang tak terurus.

Park Chanyeol baru mengangkat teleponnya— "…sek! Kau dimana?!", yang diumpat bahkan sebelum telepon masuk ia angkat hanya mengernyit sambil menggeram marah. "Bisa kau perjelas umpatanmu? Aku bisa menyiram wajah burukmu dengan air keras dari sini!"

"U…um—" di seberang telepon tergugu.

"Ulangi," suara Park Chanyeol tenang, tapi itu benar-benar menakutkan untuk si seberang.

"A…aku t-idak mengumpat padamu. Sumpah! Aku berani bersumpah! Di…sini ada… sial ada siapa disini, mana bernyali a-ku mengumpat padamu, Oh! Oh Sehun! Aku mengumpati Oh Sehun yang tadi menendang pantatku. Ouch! Pantatku sakit sekali! Yak! Oh Sehun brengsek itu justru memegang sofa hitam kesayanganmu. Kau harus lihat bagaimana noraknya ia bertingkah, Park!" sudah pasti ancaman Park Chanyeol membuat seseorang menjadi blank.

"Sial! Kim Jong In, aku akan merontokkan jari idiot Oh Sehun dan merobek mulutmu jika kau berani mengumpat di depanku lebih dari ini!" Suara rendah dan berat milik Park Chanyeol berhasil menghantarkan aura suram hingga ke seberang telpon.

"Kau dengar itu , Sehun?" suara bisikan Kim Jong In mampu didengar oleh Park Chanyeol.

"Enyah!"

"Tunggu-tunggu! Aku menemukan apartemen di pinggir kota untuk kau tempati." Kali ini suara milik Oh Sehun yang terdengar panik memekikan telinga Park Chanyeol.

"Tidak perlu." Lalu Park Chanyeol berdecih.

"Ke… kenapa? A-ku sudah bersusah payah mencarikan apartemen termewah di pinggir kota." Park Chanyeol tersenyum miring. Otak bodoh Oh Sehun seharusnya tahu jika pria bermarga Park itu tidak akan pernah peduli. Cih, bocah idiot!

"Persetan!" Park Chanyeol membalasnya dengan berdesis, ketimbang ia harus mengutuk dan memaki otak bodoh itu akan lebih mengeluarkan kekuatan ekstra.

"Kau tinggal dimana kalau begitu?" Kali ini suara Kim Jong In yang terdengar khawatir tanpa memperdulikan bagaimana mirisnya Oh Sehun.

Kim Jong In dan Oh Sehun merupakan sahabat dekat Park Chanyeol— pikir keduanya. Mereka setia, tapi Park Chanyeol tampak enggan dengan kehadiran keduanya. Oh Sehun dan Kim Jong In tahu bagaimana kehidupan si Park ini tanpa diberi tahu karena intensitas bertemu keduanya yang lumayan besar. Park Chanyeol pun lebih memilih tidak memperdulikan keduanya, tapi acapkali jika ia membutuhkan kesenangan untuk keluar dari belenggu si tua bangka, ia akan mengiyakan ajakan mereka untuk sekedar minum, balapan liar, dan traveling— kecuali berhubungan intim, ia akan melakukannya sesuai jadwal yang telah ia limpahkan kepada Kim Woo Bin.

"Bukan urusanmu." Jawab Park Chanyeol ketus.

"Ck, kau kaku sekali."

"Kau mencibirku?"

"Tidak! Mana berani aku denganmu?"

"Bedebah! Pengganggu!" Park Chanyeol memang terlahir dengan mulut busuk dan kedua temannya memaklumi itu.

"Yak! Park Chanyeol bajingan teng— AWW! SAKITT!"

Park Chanyeol menoleh ke sumber suara lalu mendapati Byun Baekhyun yang meringis kesakitan dengan jemari lentiknya yang mengusap kasar telinga yang nampak memerah, sedangkan eomma-nya menatap kesal Baekhyun. Tidak tahu saja jika kedua temannya yang mendengar makian Baekhyun yang terdengar nyaring karena suara loudspeaker di ponsel milik Kim Jong In sedang memelototkan mata. Wah, ada juga yang bernyali memaki si Park itu walaupun babak-belur setelahnya, daebak!

Park Chanyeol yang amarahnya mulai meningkat mematikan sambungan teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia mulai bertanya, kapan pastinya si Byun manis ini takut kepada dirinya?

"Bisa kau lebih sopan sedikit?" Baekhyun memberenggut mendengar bisikan eomma-nya, apalagi tangan lincah si wanita paruh baya itu mencubit pantat Baekhyun.

Byun Baekhyun melangkah mendekati Park Chanyeol yang berdiri di depan jendela— omong-omong, tubuh kurus itu didorong paksa oleh ibunya. Mulutnya masih mencebik sedangkan matanya menatap malas Park Chanyeol yang menatap tajam dirinya, langkahnya berat, tapi ibunya terus mengoceh sepanjang detik ia melangkah dengan kaki yang berat, "kau harus minta maaf!"

"Tidak!" Byun Baekhyun menjauhkan tubuhnya dari sang ibu ketika kaki pendeknya berada di langkah kedua, sengaja pula untuk tidak mengambil langkah lebar karena kakinya terasa berat.

"Oh, berani?! Sekarang kau pergi dari rumah dan kamarmu akan ditempati oleh anak majikan appa-mu!" ibunya berbisik tapi nada penuh ancaman itu membuat Baekhyun merinding.

Park Chanyeol yang melihat interaksi idiot Baekhyun dengan ibunya hanya mendengus malas. Tidak dengan siapapun si bocah itu tetap saja keras kepala.

"Eomma," Si Baekhyun merengek, tapi ibunya nampak lebih kejam. Ibu Baekhyun melipat kedua lengannya didepan dada, matanya menatap sangar anak sulungnya. Wanita memang merepotkan!

Otak Baekhyun berkelana, jika ia diusir dari rumahnya sendiri hanya karena keluarganya ingin menampung si anak majikan ayahnya yang memiliki kepala yang besar serta telinga yang lebar menyerupai gajah dan hidung panjang yang besar seperti gajah— lagi. Ibunya dulu pasti memiliki dosa dengan gajah!

Byun Baekhyun merasa terjajah di rumahnya sendiri, ini tidak adil. Bahkan ibunya berniat membuang darah dagingnya sendiri hanya karena pria kaya yang jelas-jelas melakukan tindakan asusila di depan mata anaknya. Semuanya— kejadian hari ini yang menimpanya, ia adukan ke orang tuanya, tapi si ayah berkata seperti ini, "maklumkan saja, dia anak orang kaya yang bebas melakukan apa saja ketika hukum Korea Selatan berada di tangan keluarganya." Baekhyun harus meminta pembelaan kepada siapa lagi?

"Cepat minta maaf! Kau mau jika appa-mu dipecat dari pekerjaannya?" ibunya kian mendesak bahkan ketika otaknya berjalan lambat. Baekhyun sejujurnya tidak peduli jika ayahnya dipecat karena tingkah kurang ajar yang ia berikan kepada si Park itu tapi, otaknya masih waras jika ia tidak mau merasakan kehidupan yang lebih melarat daripada ini.

"MAAF!" Baekhyun meluruhkan gengsinya. Ia berteriak dengan lantang tapi, nadanya ketus dan ibunya sangat perasa jika kata maaf itu tidak tulus dari dalam hati Baekhyun. Setidaknya, bocah itu berani mengatakan maaf walau tidak tulus. Lagi pula, orang mana yang mau mengucapkan kata itu ketika bahkan ia adalah korban, jadi wanita paruh baya itu memakluminya.

Park Chanyeol berdengus melihat Baekhyun menatapnya malas sedangkan bibirnya mengucapkan kata maaf yang dibuat seketus mungkin dan itu terlihat lucu di matanya. Bagaimana kekanakannya sikap Baekhyun terhadap dirinya dan Park Chanyeol memanas melihat itu.

Hanya meminta maafkan? Tulus tidaknya tidak menjadi acuan permintaan maaf yang diajukan oleh ibunya 'kan? Maka dari itu, Baekhyun melenggang pergi ke kamarnya yang berpintu coklat dengan gantungan dream charter berwarna merah muda di pintu bagian atasnya. Lagi, Park Chanyeol menyeringai ketika Baekhyun menutup pintu kamarnya kencang hingga membuat gantungan konyol itu bergoyang mengejek dirinya untuk ikut masuk kedalam ruangan itu.

"Young Master, kau sudah makan? Maafkan anakku jika tidak sopan." Ibu Baekhyun menunduk, berubah sopan, bahkan tidak berani menatap mata jelaga milik Park Chanyeol dan pria itu yang terbiasa mendapati sikap segan dari orang lain justru senang— dalam hatinya, ini juga terdengar aneh.

Beberapa menit lalu, didepan rumah kumuh ini Park Chanyeol mendapati tatapan penuh kasih dari wanita paruh baya yang menyandang status sebagai istri si pemilik rumah tanpa tahu siapa sebenarnya Park Chanyeol itu, tapi mengapa justru aneh jika ibu ini memperlakukannya dengan sopan— terlalu sopan malah.

"Hem," Park Chanyeol hanya berdehem. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana.

"Saya tidak tahu jika anda anak dari majikan suamiku. Apa tak apa jika anda makan seadanya dulu, saya benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanannya." Ibu Baekhyun membungkuk hormat, pula hatinya mendadak tidak enak atas sambutan yang diberikan keluarganya malam ini kepada tuan muda keluarga Park. Tahu begitu ia meminta suaminya untuk merenovasi rumah agar lebih layak untuk ditinggali Tuan Park, walaupun uang yang digunakan dapat dari hutang. Itu tak masalah, pikirnya.

"Tidak masalah." Park Chanyeol berkata acuh, tapi matanya memandang jijik kearah atap rumah yang plafonnya retak di sudut ruangan serta beberapa sarang laba-laba.

"Saya akan menaruh koper anda di kamar Baekhyun," Ibu Baekhyun membungkuk dalam lantas pergi meninggalkan dirinya bersama dua koper yang ia bawa, koper yang lain masih menunggu untuk dibawa ke kamar Baekhyun, sedangkan dirinya tidak ada niat sama sekali untuk membantu ibu pemilik rumah memindahkan kopernya ke kamar Baekhyun, tangannya terlalu indah hanya untuk menarik benda kotak beroda itu.

"Jangan katakan apapun pada tua bangka itu jika aku tinggal dirumahmu." Park Chanyeol berucap dengan suaranya yang berat dan menggelegar hingga menyentak ayah Baekhyun yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Baik, tuan."

Ayah Baekhyun mengangkat meja pendek berbentuk bulat dan beberapa bantal yang mengelilingi kaki-kaki meja— di depan televisi yang masih menyela, lalu pria berumur itu mengambil peralatan makan di dapur yang mampu Park Chanyeol lihat dari tempatnya berdiri.

"Silahkan makan, tuan." Ayah Baekhyun berujar lalu membungkuk.

Park Chanyeol mendekati meja pendek itu, tanpa ragu ia meneliti tempat untuknya makan saat ini. Sebelumnya, ia belum pernah makan dalam keadaan yang menyedihkan seperti sekarang ini, pun ketika ia berkeliling dunia— traveling versi mewah.

Ia ragu, kakinya bahkan gatal setelah menyentuh karpet tempatnya duduk walaupun beralaskan bantal.

"APPA! AKU MAU MAKAN!" Baekhyun berteriak, bahkan membuat dua pria terkaget mendengar suaranya dengan tiba-tiba tanpa mengeluarkan suara derap langkah kaki atau suara pintu yang terbuka.

"Kau bisa menggoreng nugget di dalam kulkas, nak." Baekhyun kesal bukan main. Sudah diomeli habis-habisan, kini disuruh untuk menggoreng lauk fast food yang tidak sehat, bahkan ketika tamu tidak tahu diuntung itu mendapati makanan yang dibeli di kedai imo Soo Ri— Baekhyun sangat jarang dibelikan makanan di kedai itu oleh ibunya, bahkan sebulan sekali.

INI TIDAK ADIL!

"Kenapa aku tidak dibelikan makanan di kedai imo Soo Ri, juga? Ayah mau mencoba pilih kasih? Tidak adil sekali!" Baekhyun kembali berlagak seperti bocah tak tahu diuntung bahkan diusianya yang melampau umur yang diharuskan untuk merengek berisik macam bayi.

"Kalau kau tidak mau makan. Tidak usah makan! Menyusahkan saja! Banyak maunya!" suara ibunya seperti suara motor rusak. Baekhyun menatap ibunya yang baru saja keluar dari kamarnya. Tidak peduli lagi seperti apa bentuk kamarnya saat ini, Baekhyun yakin sekali jika kamarnya sendiri kembali dijajah. Baekhyun butuh makan!

"Eomma, kau jahat sekali dengan anakmu sendiri!" Byun Baekhyun mencibir, setelahnya ia melangkah ke dapur dengan kaki menghentak penuh kekesalan.

Ibu dan ayah Baekhyun menggeleng melihat tingkah anaknya, sedangkan Park Chanyeol masih berdiri tenang di tempatnya. Alis si Park itu terangkat satu, si bocah Byun memang kekanakan tapi, sungguh menggemaskan— Park Chanyeol suka itu. Seharusnya ia merasa jijik tapi, pengecualian untuk bocah menggairahkan satu itu.

"Young Master, mari makan. Silahkan duduk dan maaf jika tempatnya tidak nyaman. Hanya ini yang kita miliki." Si kepala rumah mempersilahkan anak majikannya duduk, ia menepuk pelan bantal untuk duduk Park Chanyeol. Ia paham, jika anak muda itu tidak pernah memasuki rumah dengan keadaan semenyedihkan ini. Maka dari itu, ia berusaha untuk membuat tuan mudanya nyaman.

Park Chanyeol duduk diatas bantal yang telah di persiapkan untuknya, walaupun sedikit enggan.

"Silahkan, Tuan." Ibu pemilik rumah mendorong segala lauk pauk yang sudah tertata rapi di mangkuk kearah Park Chanyeol.

"EOMMA! AKU TIDAK MAU MAKAN. TITIK!" sekumpulan manusia di depan televisi terlonjak kaget, semula keadaan tegang lalu sekarang, apa ini? Lagi-lagi tingkah Baekhyun bagaikan bayi telat bertingkah.

Wajah Byun Baekhyun memerah dan berlumuran keringat, bahkan belum ada 15 menit ia mengunjungi dapur sempit dan sedikit kotor. Ibunya yang melihat tingkah tak habis pikir Byun Baekhyun siap meledak— berdiri dari duduknya lalu mengambil raket nyamuk yang menggantung di dinding, mudah sekali menjangkaunya. Baekhyun yang tahu bagaimana tabiat ibunya itu berlari secepat mungkin menuju kamarnya, setelah itu ia menutup pintu dengan debuman yang keras dan mengunci sekaligus menahan pintu dengan tubuhnya.

INI BURUK! BENAR-BENAR BENCANA!

"BOCAH TENGIK! AKU TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN MEMBUANG TUBUH KERINGMU ITU KE TUMPUKAN SAMPAH JIKA KAU SAMPAI MEREPOTKAN AKU! JANGAN MAKAN! KARENAMU AKU MENGELUARKAN BANYAK UANG UNTUK MENGIKUTI NAFSU MAKAN BUSUKMU ITU, BOCAH GILA!"


HEAVEN, COME HERE!


Byun Baekhyun kelaparan. Aksi mogok makannya bahkan belum berjalan satu jam tapi, ini benar-benar menyiksa. Tadi pagi ia hanya makan sedikit dari bekal yang Kim Taehyung bawa— kenyataannya ia menghabiskan satu porsi bekal milik Kim Taehyung. Tadi siang, ia membeli sebungkus roti di cafeteria— roti kecil dengan harga murah serta seperti kotoran kuda. Lagi— ada harga, ada kualitas.

Byun Baekhyun miskin maka dari itu, ia tidak berkualitas serta tidak pernah mendapatkan sesuatu dengan kualitas yang tinggi.

Kamar milik Byun Baekhyun yang sempit dan memang sudah berantakan sedari awal tambah tak karuan lagi, ia tidur dengan ranjang ukuran single bed lalu dimana dirinya akan tidur mulai sekarang? Lantai terasa sangat dingin, pasti. Tumpukan koper memenuhi sudut ruangan sebelah lemari dan seluruh bajunya masih tertata berantakan di dalam lemari.

Byun Baekhyun membuka lemari plastik yang menampung seluruh pakaiannya— banyak dan lusuh, kain kain bajunya menjuntai di setiap bagian di lemari. Benar-benar tidak tertata dan cenderung berantakan. Byun Baekhyun meringis— definisi dari seorang pria sejati, malas. Remaja dengan setengah otak di kepalanya itu meringis. Kok, begini ya?

Namun, tidak begini juga!

Byun Baekhyun terlalu malas dan tak tahu diri!

Sudahlah, abaikan saja— pikir Baekhyun. Beberapa detik lalu ia menyadari keberantakan dirinya mengenai apapun, tapi di detik ini ia kembali terjangkit rasa malas. Jin pergi hanya sekedar kencing lalu kembali merasuki tubuhnya.

"Bodo amat!" Baekhyun yang aktif mengikuti tren (tanpa mengeluarkan uang) melalui media sosial instagram tahu menahu mengenai kata 'bodo amat', omong-omong baru tiga hari lalu ia mendapati kata tersebut dari comment-an akun penyanyi cantik Indonesia— Raisa, ugh Byun penggemar Raisa? Malangnya penyanyi cantik itu.

Byun Baekhyun menjatuhkan tubuhnya diatas kasur— baunya seperti kambing. Remaja mungil itu tertawa aneh, membayangkan jika hanya dirinyalah yang kuat dengan bau tubuhnya yang jarang mandi, pasti Park Brengsek Sedunia itu akan memilih tidur di lantai dan ia akan menguasai tempat tidurnya.

YEEEAY!

Bocah bau kambing itu telentang di atas kasurnya sambil memandang langit kamarnya yang berwarna pudar dan cat plafonnya yang mengelupas, matanya menampilkan wajah tampan milik Park Chanyeol secara imajiner, Baekhyun iri.

Byun Baekhyun tidak ada apa-apanya ini dan nampak seperti upil dengan segala kekotorannya mulai membandingkan diri, selain kebaikan dan kesucian hatinya tidak ada yang bisa ia banggakan. Baekhyun miskin, jelek, bau, dekil, hitam, berjerawat, bodoh, idiot, tidak tahu malu dan masih banyak keburukan lainnya yang malu untuk Baekhyun ungkap, sedangkan Park Chanyeol?

Byun Baekhyun yang pria saja mengakui jika ia iri dengan segala kesempurnaan yang dimiliki Park Chanyeol.

Park Chanyeol yang brengsek dan memiliki sikap yang buruk mampu menjadi patokan dari kesempurnaan seluruh pria yang ada di Korea Selatan. Kebaikan dan kesucian hati seakan-akan pudar dengan kesempurnaan fisik.

TIDAK BOLEH DIBIARKAN!

Bahkan ibunya yang galak dan pemarah pun segan dengan Park Chanyeol.

Byun Baekhyun mengambil ponselnya yang berada di dalam tas sekolahnya— tergeletak di depan lemari.

Bocah itu membuka mesin pencarian dan mengetikkan nama 'Park Chanyeol'. Mata sipit itu membola, Woaah! Ternyata bocah brengsek itu benar-benar terkenal. Seakan-akan ketampanannya mampu menutupi kebusukan hatinya yang kian menghitam setiap detiknya.

"Tuhan menciptakan diriku pasti ketika sedang kentut!" Byun Baekhyun mencibir, dia benar-benar tidak bersyukur.

Ketika Byun Baekhyun malas membaca banyaknya artikel di mesin pencarian, ia memilih membuka instagram yang hanya minim tulisan dan didominasi gambar. Bocah yang mulai membandingkan dirinya yang melarat ini mengetikkan nama 'Park Chanyeol' di ikon pencarian. Mulutnya kembali berdecak, banyak akun yang menggunakan nama 'Park Chanyeol' . Banyak akun fake ternyata.

Byun Baekhyun memilih untuk mengklik nama 'Park Chanyeol' yang tertera paling atas.

Tanpa diduga, akun yang ia klik paling atas itu telah mendapatkan medali dari pihak instagram— berwarna biru dan berlogo ceklis. Gambar profilnya pun adalah wajah garang milik Park Chanyeol, wajahnya beraura gelap dengan filter bold.

"Ck, pria ini benar-benar membuatku minder." Baekhyun mulai berlagak norak dan ia mencibir dirinya sendiri. Ini memuakkan, tapi ia tidak ingin berhenti mencari tahu lebih dalam mengenai pria tak tahu diri itu. Jemari lentiknya yang berwarna gelap terus men-scroll akun pria tampan itu.

"WOAAAH! Lihat-lihat, bahkan banyak artis yang mem-follow bocah berhati busuk ini. Benar-benar!" Byun Baekhyun lebih mendekatkan ponselnya dengan mata sabit miliknya— ini tidak mungkin!

Mata milik Byun Baekhyun memicing kesal, ternyata banyak teman-teman sekolahnya yang mengikuti akun milik Park Chanyeol. Baekhyun berani bertaruh bahkan tidak ada di satu pun teman sekolahnya itu yang dikenali oleh Park Chanyeol, lalu kenapa mereka yang kenal Baekhyun tidak mengikutinya di instagram? Kau siapa, Baek?

Followers milik Park Chanyeol sebanyak 5M— "Apa bocah itu membeli akun followers, yaa?"

BAEKHYUN, KENAPA KAU IDIOT SEKALI, HAH!?

"Jika aku membeli followers berapa banyak uang yang harus aku bayar? Tapi, jika si Park ini membeli followers, berapa uang yang ia bayar untuk membeli artis ini? Canti-cantik sekali." Byun Baekhyun mulai berandai-andai, bahkan ia tidak memiliki uang lebih dari 10 won. Benar-benar menyedihkan dan ia salah mengirikan seorang Park Chanyeol.

"Ck, brengsek ini benar-benar sombong." Byun Baekhyun kali ini berdecih. Tidak ada satupun following Park Chanyeol. Tandanya, Park Chanyeol tidak memiliki teman satupun— buka-bukan, sepertinya tidak ada satupun orang yang dianggap penting oleh Park Chanyeol. Tidak ada yang penting? Apa artis cantik yang seksi— banyak digilai para pria yang haus belaian, atau tampan yang macho— digandrungi oleh wanita seluruh kalangan dan usia, atau orang penting yang berkesan di hidup Park Chanyeol. Tidak ada satupun? Manusia ini belagu sekali.

"Bahkan auranya jantan sekali," Byun Baekhyun beralih melihat postingan milik Park Chanyeol. Setiap photo yang di upload oleh Park Chanyeol terkesan garang, misterius, dan sangat jantan— tidak ada satupun photo yang ber-filter soft.

"Ini benar-benar menakutkan, ewhhh!" Byun Baekhyun kali ini bergidik takut, di akun yang ia amati ini terdapat postingan yang benar-benar menunjukkan jika si pemilik akun memang jantan sekali.

Byun Baekhyun mengernyit melihat seorang Park Chanyeol yang sedang berada di ruangan fitness sedang mengangkat barbell seberat 50 kg tanpa mengenakan atasan, sehingga kulitnya yang berwarna coklat muda yang eksotis dipenuhi oleh keringat dan membuatnya mengkilap tampak menyeramkan, ditambah dengan tato-tato besar di bagian dada, perut, serta lengan atasnya. Otot tubuhnya saling berkontraksi, matanya yang tajam menatap kamera seolah-olah menggoda netizen untuk menjilati tubuhnya. EWHHH! Benar-benar menakutkan dan menjijikan.

Kali ini Baekhyun melihat comment postingan menjijikan itu, lagi-lagi Baekhyun bergidik takut sekaligus jijik— banyak yang menggodai si pemilik akun dan diantara ratusan ribu comment tidak ada satupun yang dibalas oleh Park Chanyeol. Byun Baekhyun terus menggulirkan matanya, melihat dengan jeli seanarkis apa fans dari Park Chanyeol ini, hingga matanya kian memberat dan semenit kemudian mata sipit itu benar-benar menutup. Telpon butut itupun hanya tergeletak di atas dadanya.


HEAVEN, COME HERE!


Park Chanyeol mendobrak pintu kamar Byun Baekhyun, tidak peduli jika sewaktu-waktu pintu itu lepas dari engselnya. Bahkan, ia sanggup membelikan yang baru dengan harga yang lebih fantastis, jika perlu pintu berlapis emas. Sekali dobrakan pintu rapuh itu menjeblak terbuka, mata jelaganya disajikan oleh tubuh mungil yang sudah terlelap diatas kasur dan ponsel diatas dadanya.

Park Chanyeol menutup pintunya dengan perlahan. Ia tidak ingin membangunkan si pemilik kamar, bahkan ia belum mengapa-apakan tubuh ringkih yang sedang terlelap. Park Chanyeol menyeringai melihat tubuh itu, bocah sok banyak lagak itu sedang tidak berdaya. Itu nikmat. Jika, Park Chanyeol tidak memiliki hati dan memang seorang Park Chanyeol tidak dianugerahi benda itu.

Seorang keturunan Park terbiasa menginjak orang dibawah tumitnya.

Kaki panjang yang berotot itu mendekati ranjang kecil yang kusam. Park Chanyeol menajamkan matanya melihat bibir merah yang setengah terbuka. Park Chanyeol berani jamin, jika nafas lembut itu terasa hangat ketika membelai wajahnya. Penisnya mengeras.

Park Chanyeol membelai tubuh Baekhyun menggunakan matanya. Menatap bagaimana tubuh kecil itu terbaring nyaman diatas kasur yang keras dan jelek. Bagaimana bisa? Sedangkan, Park Chanyeol sendiri akan merasakan gatal menyelimuti tubuhnya.

Bibir merah gelap berukuran tebal milik Park Chanyeol digigit pelan ketika mata jelaganya melihat pusat tubuh Baekhyun dibalik boxer bunga-bunga berwarna gelap dengan kelopak merah muda. Park Chanyeol mulai gerah.

"Ehm…" Tidak ada air conditioner di ruangan sesak ini, walaupun udara lumayan dingin dimalam ini tapi, Park Chanyeol mulai terbakar akibat matanya yang kelaparan.

Tidak ada yang menarik sebenarnya di tubuh Byun Baekhyun, hanya saja rasa penasaran Park Chanyeol yang membuat boomerang-nya sendiri. Ia tersiksa akibat ulahnya sendiri, tapi rasanya sangat mendebarkan. Park Chanyeol menyukai tantangan dan euphoria ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Park Chanyeol memilih melepas seluruh pakaiannya dengan cepat dan napas yang memburu, tanpa menyisakan satu kain pun— benar-benar bugil. Tubuhnya mendadak panas dan menggebu-gebu entah kenapa. Ia menjilat mulutnya yang kering, tapi matanya tidak pernah hengkang dari tubuh yang terbaring itu. Park Chanyeol mengacak-acak koper miliknya yang sudah tertumpuk di sudut kamar, ia tidak pernah tergesa-gesa, tapi biarkan malam ini ia memakan yang membuatnya lapar sedari tadi.

Memakai jubah tidur berkain satin yang ia temukan di koper berwarna hitam miliknya, tanpa ia ikat atau merapikan kembali pakaiannya yang berantakan.

Park Chanyeol melompat ke tempat tidur, ia mendorong tubuh Baekhyun untuk terhimpit dengan tembok. Ugh, tempat kasur ini terlalu kecil untuk tubuhnya yang besar, tapi Park Chanyeol amat suka. Alasannya sederhana, ia akan semakin membunuh jarak dengan keadaan kasurnya yang hanya seukuran gang setapak rumah butut Baekhyun.

"Enghh," Byun Baekhyun melenguh, tapi membuat Chanyeol kian mengeras— pusat tubuhnya.

"Aku bersumpah, tidak ada satu detikpun untukmu bernapas lega."

Cut…

•••

Guysss, supportnya makasiih banyaaak. Lagi-lagi diluar harapan gue sampai dapet dukungan sebnayak ini. Sorry, gue sebulan lebih nggak muncul. Gue dapet penolakan udah 5x buat masuk ptn, gue gap year dan gue ditolak lagiii tahun ini. Harusnya gue sadar diriiiiiii, duuh IQ nggak seberapa pengen masuk ugm. Ini sediiih, lebih sediiih dari gue dimaki cowok yg gue suka.

Jadiiii gue sekarang juga nggak berharap buat dapet cowok sekaya keluarga cendana, bakrie, atau tanjung.. udahlah yaaaaaaa.

Memanggg, kita sebagai manusia cuma bisa berencana dan Tuhan yang menghendaki.

Jangan nyerah buat kalian juga yang ditolak padahal punya niat baik. Eehhh iyaa, kalian yang juga punya cerita perjuangan hidup kalian, bisa shareeee. Nanti gue share ke anak lain di next chapter yaaa!