03
.
.
Istana Lynkestis sudah kembali pada kegiatan yang biasanya dilakukan setiap harinya. setelah pesta penyambutan tamu Kerajaan yang dilakukan semalam hingga menjelang pagi, ruangan Ballroom Istana kini sudah mulai dibersihkan oleh beberapa pekerja Istana. Dekorasi-dekorasi yang indah terhias pada ruangan itu mulai dibongkar untuk menampilkan suasana aslinya.
"Aku tidak melihat Chanyeol semalam. Apa ia menemuimu?" Jaejoong yang sudah duduk bersandar pada headbed di kamar Istana Lynkestis berbicara pada suaminya yang kini baru saja selesai membersihkan badan.
"Aku juga tidak menemuinya, mungkin ia sudah berkumpul dengan para Putra Mahkota yang lainnya." Yunho menjawab santai
"Kita belum mengenalkannya pada Baekhyun. Heechul pasti mengira anak itu tidak berminat untuk mengenalnya."
"Heechul bukan wanita yang memiliki pemikiran seperti itu. Tenang saja, sudah segeralah bersiap pagi ini kita akan mengikuti sarapan bersama dengan yang lainnya.
Suasana yang penuh emosi bukan hanya saja dirasakan pada kamar yang ditinggali oleh Raja dan Ratu Glorfindel ini namun suasana kamar milik Raja dan Ratu Lynkestis yang tak jauh dari kamar mereka pun merasakan yang sama. Sang Ratu sejak matanya terbuka di pagi hari ini sudah berulang kali meluapkan kekesalan dan emosinya yang memuncak-muncak pada sang Raja.
"Kris tidak menemukan Baekhyun dimanapun semalam, namun Yoona melaporkan bahwa Putrimu itu sudah tidur didalam kamarnya. Anak itu benar-benar!" Heechul menyesap teh hangatnya setelah ia berjalan bolak balik dihadapan suaminya yang masih membaca beberapa bacaan di tangannya.
"Dia lelah semalam."
"Lelah? Itu tidak sopan kau tahu! Bahkan kita belum mengenalkannya pada Chanyeol! Arrrgghhh Baekhyun! Kenapa dengan anak itu!"
"Tenanglah.. dia baru saja berusia 20 tahun, lagipula itu hal yang wajar selama ini kita tidak membiarkannya mengikuti kegiatan urusan istana sebelum-sebelumnya." Kibum masih menjawab dengan santai tanpa memperdulikan istrinya yang sudah meledak-meledak menahan emosi karena tingkah laku Putri mereka.
...
Dua orang laki-laki tinggi itu kini saling berlari mengejar satu sama lain, tubuh mereka yang atletis dengan lengan berotot dan keringat yang membasahi wajah dan badan mereka menjadi pemandangan yang sangat indah bagi siapa saja yang melihatnya. Para pekerja yang kini seharusnya sudah mulai bekerja di dalam istana terhipnotis untuk tetap memperhatikan mereka berdua yang masih saling mengejar. Bahkan beberapa jendela kamar yang terbuka dalam istana kini sudah dipenuhi dengan para Putri Mahkota yang saling meneriakan masing-masing nama kedua laki-laki tersebut.
Laki-laki pertama adalah Putra Mahkota Lynkestis, Kris. Semua pekerja dan penghuni Istana Lynkestis tahu bahwa calon Raja mereka memanglah tampan, campuran perpaduan wajah malaikat dan dewi Aphrodite jelas menciptakan sosoknya yang sangat tampan ditambah matanya yang berwarna hijau dipadukan dengan kulitnya yang putih dan warna rambutnya yang hitam kelam jelas sangat mencolok dan membuat beberapa kaum hawa terpesona melihatnya.
Laki-laki kedua adalah Putra Mahkota Glorfindel, Chanyeol. Calon Raja Glorfindel sudah diakui ketampanannya setara dengan Kris, namun bedanya bila Kris adalah sosok yang hangat terhadap kaum hawa, Chanyeol adalah es bagi kaum hawa. Menaklukan hati seorang Chanyeol tidaklah mudah, banyak yang mengatakan itu semua berkat genetika dari Dewi Athena yang terkenal dingin saat berperang. Chanyeol memiliki dua warna mata yang berbeda, sebelah kanannya berwarna merah gelap dan sebelah kirinya berwarna biru muda. Konon, itu semua terjadi karena kekuatan yang dimilikinya pemberian dari Zeus atas kelahirannya.
Kini mereka berdua masih sibuk menghabiskan waktu dengan berlari mengelilingi bangunan Istana Lynkestis mengacuhkan tatapan para gadis yang sudah bersorak dan menggoda mereka berdua sedari tadi.
"Sudah ku bilang bukan.. berlari pagi adalah kegiatan yang menarik." Kris berusaha berbicara meskipun nafasnnya terengah-engah karena berlari.
"Diam." Jawaban singkat diberikan oleh Chanyeol yang masih terfokus dengan pandangannya di depan.
"Hah sejak kapan Calon Raja menggenakkan gelang di tangannya?" Kris berusaha memegang tangan kiri Chanyeol dimana terdapat gelang silver mengelilingi tangannya.
"Bukan urusanmu!" Hentakan tangannya berhasil menjauhkan tangan Kris dan kini ia mencoba memasang penutup telinga menggunakkan earphonennya, menekan tombol play pada ipodnya dan kemudian berlari kencang meninggalkan Kris dibelakangnya.
"Dasar pria dingin!" Kris berteriak dan memilih untuk berlari kearah Yoora dan Sehun yang baru saja keluar dari pintu belakang Istana.
"Ditinggalkan lagi?" Yoora memberikan handuk kecil kepada Kris.
"Yap! Kau sudah paham bukan."
"Kemana Jongin?"
"Dia masih terlelap tidur di kamar." Sehun menjawab sambil meregangkan tangannya keatas. "Bisakah kita lanjutkan lari pagi ini?" Badannya sudah digerakkan ke kanan dan kiri begitu juga tangan dan kepalanya.
"Kau ingin para Putri meneriaki namamu bukan?" Kris menjawab dengan nada menggoda, sedangkan Yoora hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang sangat aneh.
"Kalian lanjutkan. Aku mau menikmati suasana pagi disini sebelum para Putri berisik itu berpindah mendekat dan mengganggu suasana pagi ini." Yoora dengan datar menjawab dan berjalan menuju taman bunga tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Jangan pergi ke taman bunga yang jauh!" Kris berteriak ke arah Yoora sambil berlari mengikuti Sehun yang sudah lebih dulu melakukan start.
Bila keadaan disekeliling dan luar Istana mulai ramai karena kesibukkan masing-masing, lain halnya dengan kamar Sang Putri Mahkota yang masih tertutup tirai jendela dan bahkan suasana di kamar tersebut masih sangat hening. Bukan karena Sang Putri masih tertidur, namun ia kini masih berada dalam selimut mengingat-ingat kejadian yang sungguh sangat memalukan terjadi padanya.
"Kau baik-baik saja?" Sosok Pria yang menolongnya kini melepaskan pelukannya dan membiarkan ia terduduk pada kursi di luar Istana. Ia masih sangat malu mengingat apa yang terjadi, namun kakinya juga merasakan nyeri yang sangat perih karena tergores oleh pecahan vas yang jatuh dan juga lututnya yang beradu dengan lantai marmer ruang Ballroom Istana.
"Mereka tidak melihat wajahmu.. jadi tidak usah malu." Sekali lagi sang pria mengucapkan kalimat yang menenangkan hatinya. Sosok itu masih berlutut di hadapannya dan membersihkan beberapa pecahan keramik dan kaca yang masih menempel pada gaun dan juga kulitnya. Bahkan ia dengan percaya dirinya mengangkat kaki Baekhyun dan memberikan usapan pada luka-luka goresan yang ada.
"Bagaimana bisa gadis kecil seperti dirimu ditinggal sendiri di dalam pesta. Apakah kau tersesat?"
"tunggu..APA?! kau bilang apa barusan?!" Akhirnya Baekhyun berteriak setelah mendengar bahwa pria yang menolongnya itu menganggap ia gadis kecil yang tersesat!
Pria itu jatuh ke tanah setelah dengan tiba-tiba gadis yang berada di hadapannya bangun dan berteriak kesal setelah mendengar apa yang ia katakana.
"Ahjussi! Dengar ya! Aku sudah berumur 20 tahun! 20 tahun! Aku sudah pernah hidup sendiri di Dunia luar dan juga aku adalah Putri Mahkota! Aku bukan gadis kecil yang tersesat! Ini istanaku! Sekali lagi! Aku bukan gadis kecil yang tersesat!" Baekhyun berteriak dan beranjak pergi meninggalkan sang pria yang masih saja tertegun mendengar apa yang gadis itu katakan.
"Kenapa dia.." senyuman menghiasi wajah sang Pria yang kini membersihkan setelan celana dan atasannya dari debu tanah hingga ia melihat tak jauh dari ujung sepatunya terdapat gelang yang mengkilap. Ia mengambil gelang yang memiliki motif bintang di sekelilingnya dan terdapat huruf B di tengah-tengahnya.
"Mungkin milik gadis itu." Ia memasukkan pada kantung celananya dan melangkah berusaha mengikuti kemana perginya sosok yang berada di hadapannya sebelumnya.
-Loves of Tales-
Derap bunyi langkah yang terburu-buru terdengar jelas oleh telingaku, meskipun sedari tadi pendengaranku sudah terusik dengan suara teriakan-teriakan dari luar jendelanya. Entah apa yang terjadi diluar sana aku tidak mau tahu tapi mereka sangat mengganggu suasana pagiku yang damai. Pintu kamarku terbuka dengan cepat dan terdengar langkah kaki dan deru nafasnya yang terengah-engah terdengar jelas. Dalam pikiranku sudah terbayang itu pasti Ibuku yang sudah sangat emosi karena semalam aku menghilang dan tidak menemuinya kembali dan pagi ini dia akan meluapkan semua kekesalannay seperti biasa dan berteriak menyebutkan namaku berkali-kali. Mataku sudah terpejam dan bersiap menunggu saat-saat pukulannya tiba di badanku dan hentakkan selimut yang ia tarik terbuka nantinya.
Srek.
Eh? Aku memfokuskan pendengarannya mencoba membayangkan apa yang ia lakukan. Sepertinya ia membuka tirai jendela dan beberapa jendela di kamarku karena kini aku semakin dengan jelas mendengar beberapa teriakan para wanita menyebut nama Kris dan Chanyeol bergantian.
"Aaaaahhh dia sangat sexy!"
Itu suara Yoona!
Aku mencoba mengintip melihat apakah benar Yoona yang berada di dalam kamarku, dan ternyata benar. Ia kini masih melihat keluar jendela dengan kakinya yang bergereakhentak-hentak dan tangannya memukul-mukul kedua pipinya.
"Tuan Puteri!" Yoona memanggilku dan mulai menarik-narik selimut yang menutupi badan kecilku. "Nona! Kau harus bangunnnn! Lihatlah pemandangan indah pagi ini!" Yoona masih berusaha menarik-narik badannku. "Tuan Puteri cepatlaaaahhh!" Kini ia bahkan sudah menarik kakiku hingga terjatuh di lantai untung saja tanganku dengan reflek cepat meraih tiang ranjang terdekat hingga semua badanku tidak sampai jatuh.
"Yaaa! Ada apa denganmu pagi ini?" Aku yang masih berpegangan pada tiang ranjangnya memperhatikan Yoona yang tersenyum merekah bahkan pipinya kini sudah memerah seperti tomat rebus.
"Kau harus melihat pemandangn ini! ayo ayo!" Tangannya menariku menuju jendela dan menunjukkan pemandangan indah yang ia maksud.
Aku mencoba mencari pemandangan indah yang dimaksud, dan ternyata semua itu tertuju pada tempat dimana Kris dan pria tinggi yang berdiri disampingnya mengenakkan kaos putih dan celana olahraga sedang bertolak pinggang melihat kearah Yoora yang sedang membicarakan sesuatu di tengah-tengah mereka. Terdapat juga kedua Putra Mahkota Glorfindel, Jongin dan Sehun lalu disebelahnya nampak Putera Mahkota Thalin, Suho dan sosok yang lebih pendek berdiri diantara Sehun dan Jongin menggunakkan kaos hitam polos dan celana olahraga pendek.
"Mereka pasti akan membuat permainan. Aaaahhh indah sekali pagi ini." Yoona kembali bersuara.
"Hmm.. aku masih tidak mengerti pemandangan indah apa yang kau maksud." Aku melirik kearah Yooan sebentar.
"Astaga! Tuan Puteri yang terhormat.. tidakkah menurutmu para pria dibawah itu sangat sexy, badan mereka yang sangat atletis dan keringat yang menghiasi otot-otot lengannya, wajahnya.. dan rambutnya.. aaahhhh indah sekali!" Yoona berteriak dengan tangannya yang digerakkan menuju lehernya dan gerakan bibirnya yang menurutku cukup aneh untuk ia perlihatkan kepadaku.
"Mereka sedang berdiri seperti itu bagian mana yang terlihat indah!" aku berusaha pergi kembali ke ranjang namun tangan Yoona menahanku untuk tetap disampingnya.
"Sudah perhatikan saja!"
Mau tak mau aku ikut memperhatikan mereka yang kini sudah terbagi menjadi 2 grup. Kris bersama Jongin dan Suho, sedangkan grup yang lain adalah Pria tinggi mengenakkan baju putih, Sehun dan kemudian pria yang sedikit pendek menggunakkan kaos hitam.
"Siapa kedua orang itu?" Aku menunjukkan tanganku kearah mereka.
"E-eoh? Yang mana?" Yoona menjawab bingung.
"Yang menggunakkan kaos putih dan kaos hitam, aku belum mengenal mereka."
"Kau tidak tahu yang menggunakkan baju putih? Kalian belum berkenalan?!" Yoona sedikit berteriak.
"Kalau aku mengenal dia kemarin malam aku tidak mungkin menanyakkannya padamu!"
"Oh astagaaaa.. apa yang kau lakukan semalam hingga tidak berkenalan dengannya?"
"Aku bertemu orang aneh yang mengataiku sebagai gadis kecil yang tersesat! Puas!"
Aku menjawab kesal sedangkan Yoona masih tertawa karena mengira apa yang aku ucapkan adalah lelucon biasa. Walaupun begitu ia mengatakan padaku bahwa yang menggenakkan baju putih adalah Putera Mahkota Glorfindel Chanyeol sedangkan yang baju hitam adalah Putera Mahkota Tiranis Jongdae, setelahnya ia kembali tertawa mengingat ucapanku sebelumnya namun berhasil berhenti saat melihat bagaimana Chanyeol memukul bola yang dilemparkan oleh Kris dan berhasil melambung tinggi. Yoona terkagum-kagum dan bertepuk tangan sama halnya dengan para Puteri Mahkota yang sudah berdiri dekat dengan Yoora dari bawah kamarku.
Aku kembali teralihkan melihat bagaimana permainan mereka kembali karena kini Jongin yang memiliki kekuatan teleportasi sudah berpindah tempat menuju dimana bola yang dipukul Chanyeol berada dan melemparkannya kembali pada Kris.
"Jadi.. kau mengagumi siapa.." Aku bertanya pada Yoona yang masih terfokus kepada mereka yang bermain disana.
"A-aahhh.. itu.." Yoona bertingkah gugup dan mulai melangkah mundur dan berpindah pada sisi jendela yang lain.
"Yaaa jawab pertanyaanku!" Aku mencoba mendekatinya kembali namun ia meilih kabur dari kamarku sambil berteriak akan menyiapkan kebutuhanku untuk membersihkan diri.
Geez. Bilang saja ia tidak mau aku mengetahui siapa sosok yang ia sukai, aku bergumam dalam hati dan kemudian melihat kearah Kris yang kini mendapatkan giliran akan memukul bola. Sedangkan Chanyeol yang akan melemparkan bola tersebut kearahnya.
Aku berteriak kencang saat pukulan Kris pada bola tersebut cukup kencang dan melambung tinggi jauh, tepuk tanganku terdengar hingga beberapa Puteri Mahkota berwajah dingin mulai melihat kearahku dengan tatapan dingin dan tajam, aku yang merasa tidak nyaman dengan mereka kini melangkah mundur pelan-pelan dan berpindah ke jendela yang lainnya supaya mereka tidak memperhatikanku lagi.
... ...
"Siapa dia?" Aku bertanya pada Jongin saat ia memberikan bolanya padaku.
"Aaahh dia.. adiknya Kris. Menggemaskan bukan?" Jongin terkekeh dan memukul pundakku dan kembali melangkah mundur. Sedangkan aku kini mencoba fokus kembali untuk melemparkan bola tersebut kearah Kris.
"Tertarik padanya?" Itu suara Yoora yang terdengar di pikirannku.
"Tidak." Aku menjawab singkat.
"Pandanganmu masih menuju kearahnya." Kembali Yoora mengusik
"Tidak."
"Kau tidak bisa berbohong padaku. Ngomong-ngomong siapa gadis kecil dalam pikiranmu itu?"
"Yaa Chanyeol! Cepat lempar bola itu!" Kris sudah berteriak sambil mengayunkan tongkat pukulnya.
"Ck tidak sabaran sekali. Terima ini!" Aku melemparkan bola itu kearahnya dan ia gagal memukulnya. Aku tertawa padanya dan menggelengkan kepala untuk meledeknya, dan kini ia mulai memasang wajah serius.
"Bukan urusanmu dan segeralah pergi dari pikiranku." Aku berbisik kepada Yoora sedangkan ia hanya membalasnya dengan senyuman dari jauh sana.
...
"Mereka masih menikmati permainannya?" pertanyaan dari Kibum membuat Yunho menoleh melihatnya.
"Anakmu dan Chanyeol kini sedang beradu."
"Mereka selalu seperti itu." Kibum yang sudah menyusul ketempat dimana Yunho berdiri memperhatikan kegiatan yang dilakukan para putera-puteri mereka.
Terdengar ketukan pintu yang singkat hingga membuat mereka menoleh untuk melihat siapa yang melakukannya, dan terlihat Jaejoong dan Heechul masuk kedalam ruangan diikuti Siwon, Zhoumi, yuri dan juga Jessica dibelakangnya.
"Bisa kita mulai?" Jaejoong bertanya setelah semua yang masuk kedalam ruangan tersebut sudah duduk pada meja bundar yang ada diruangan tersebut. Anggukan dari Kibum menjadi tanda bahwa Jaejoong bisa menyampaikan apa yang menjadi alasan para Raja dan Ratu Kerajaan ini diminat berkumpul.
"Pemerintahan Dunia sudah mengingatkan akan ancaman dari Hades.." Heechul yang memulai berbicara lebih dulu. "Aku mengetahuinya saat mereka mengingatkan keselamatan Puteriku saat bersekolah di dunia luar. Setahun yang lalu sebelum kami memutuskan ia untuk kembali ke Kerajaan, Pemerintah Dunia memberikan peringatan bahwa nyawa puteri kami terancam karena Hades mulai mengirimkan beberapa prajuritnya untuk menculik Baekhyun atau bahkan membunuhnya.. keadaan saat itu Baekhyun belum menerima kekuatannya sehingga Hades tidak mencium darah Malaikat dan Dewa yang ada padanya—
"Bukankah itu melanggar perjanjian?" Zhoumi bertanya memotong penjelasan Heechul.
"Itu melanggar." Kibum menganggukkan kepala menyetujinya.
"Kita bisa menjadikan alasan untuk menyerang mereka bukan?" kembali lagi Zhoumi bertanya.
"Itu bisa menjadi alasan utama.. tapi.. kita tidak bisa siap untuk berperang." Yunho menjelaskan.
"Apa maksudnya?" kini Yuri yang meminta penjelasan.
"Kekuatan yang diberika para Dewa dan Dewi belum sepenuhnya diterima oleh para Puteri dan Putera Mahkota kita.. itu menjadi hambatan kita tidak menemukan Cahaya Abadi." Jaejoong menjelaskan.
"Chanyeol adalah Api Bumi."
"APA?!/"Benarkah?!"
"Itu benar. Yixing mengatakan langsung padaku saat Chanyeol berada di Dunia luar, sama seperti Baekhyun ia menjadi target prajurit Hades, beruntung kekukatan belum tercium, dan saat ia kembali dan mulai berlatih perang kekuataan sesungguhnya baru terlihat.. awalnya aku hanya mengira kekuatannya adalah api, hanya pengontrol api. Namun bukan. Aku pernah melihatnya sosok Phoenix keluar dari badannya dan bahkan mereka bisa saling berbicara dalam bahasa Olympus, bahkan Phoenix bisa bersentuhan dengannya dan dia bisa mengontor keluarnya api bahkan dari dalam bumi. Bukan hanya dari tubuhnya saja.. saat itu Yixing mengujinya dan kemudian berkata bahwa Chanyeol adalah Api Bumi." Penjelasan Jaejoong membuat semuanya terdiam.
"Lalu dimana Cahaya Abadi? Kita hanya menemukan Cahaya Abadi bukan?" Jessica bersuara.
"Tidak semudah itu." Kini Siwon berbicara. "Cahaya Abadi dan Api Bumi bukan hanya saja harus ditemukan. Mereka harus bersatu.. yang dimaksudkan bersatu disini adalah mereka menjadi pasangan sehidup semati."
"Tunggu apa maksudnya bersatu dan sehidup semati." Heechul menatap Siwon dengan tatapan bingung.
"Mereka harus terikat. Tidakkah kalian diberi penjelasan sebelumnya?" Siwon kini menatap bingung semua yang ada.
"Seriously?"
"Bisakah kau lanjutkan penjelasanmu Putra Poseidon!" Kibum yang sudah kesal kini berbicara.
"Baiklah baiklah.. Api Bumi dan Cahayan Abadi diciptakan berpasangan.. itu artinya pemegang Cahaya Abadi adalah Wanita yang akan menikah dengan Chanyeol, bukan hanya sembarang wanita yang dipilhkan namun ini semacam cinta sejati karena kekuatan mereka adalah satu kesatuan. Mereka akan berperang nantinya bersama-sama dan bila salah satu tidak selamat maka yang lain akan ikut menghilang dari muka bumi ini hingga saatnya reinkarnasi kembali." Selesai penjelasan singkat yang Siwon katakan, mereka terdiam mencoba mencerna penjelasan panjang tersebut yang semakin membuat suasana mencekam.
"Siapa pemegang kekuatan Cahaya Abadi?" Jaejoong bertanya setelah keheningan panjang menyelimuti ruangan tersebut.
"Aku tidak mengetahui bagaimana Cahaya Abadi dan Api Bumi harus bersatu.. namun kendala yang ada saat ini kita tidak menemukan pemegang kekuatan Cahaya Abadi karena semua kekuatan dari Dewa dan Dewi belum sepenuhnya didapatkan oleh Putera-Puteri kita. Untuk itu dan Kibum menyarankan semua Putera-Puteri Mahkota akan melakukan latihan di Istana ini." Yunho memberikan penjelasan atas usulan yang sebelumnya dibicarakan dengan Kibum.
"Lynkestis terlalu mencolok." Yuri kini berbicara kembali. "Hades mungkin akan mengetahui kegiatan kalian."
"Aku setuju.. Lynkestis, Glorfindel, Tiranis dan Thalin dipimpin oleh Raja.. dan mereka pasti berpikir kalian akan bersiap untuk perang kapan pun dan dimana pun. Menurutku Eowyn dan Eleanor bisa menjadi tempat latihan." Jessica memberikan saran.
"Aku setuju." Yuri memberikan suara.
"Menurutku Eowyn tempat yang pas." Siwon memberikan suara. "Eleanor terlalu dingin, Eowyn berada di dekat Olympus, jauh dari perbatasan dunia dan Hades."
"Saat Putera-Puteri Mahkota berada di Eowyn, lebih baik para Ratu berada di Olympus. Untuk berjaga-jaga saat peperangan mungkin terpicu." Jessica kembali memberikan saran.
"Aku setuju, Olympus perlu mengetahui siapa yang lebih dulu menyebabkan perang." Kibum berbicara kembali. "Aku, Yunho dan Zhoumi bisa melatih mereka, sedangkan Siwon tetap berada pada kawasan Thalin karena terletak dekat dengan Kerajaan Poseidon." Kibum melihat kearah Siwon yang paham akan maksud dari kalimat yang dibicarakn Kibum menganggukkan kepala tanda menyetujui.
"Jadi.. kita semua sudah mengambil keputusan?" Yunho bertanya dengan melihat kepada masing-masing yang ada dalam ruangan tersebut.
"Keputusan yang tepat." Semua menganggukkan kepala.
-Loves of Tales-
Baekhyun berlari cepat setelah selesai santap siang bersama dengan para tamu Kerajaan, ia mohon undur diri dan melangkah keluar ruang makan siang. Setelahnya ia mengangkat gaun yang ia gunakkan dan berlari melewati banyak anak tangga dan ruangan dalam istana hanya untuk secepatnya sampai di kamarnya kembali.
Brak.
Pintu kamarnya dibuka kasar dan ia langsung membuka semua laci nakas dimana ia menyimpan segala perhiasan kalung gelang dan bahkan cincin pemberian dari Ratunya.
"Ku mohon.. dimana gelang itu.. ku mohon munculah.. aiissshhh.." Mulutnya tidak berhenti mengoceh dan tangannya sibuk mengobrak-abrik laci tersebut. Kemudian ia beralih mengangkat selimut dan sprei penutup ranjangnnya bahkan ia melempar bantal dan guling yang ada hingga terbuang ke lantai.
"Arrggghhh! Bodoh bodoh bodoh!" Kepala kecilnya ia pukuli dengan tangan dan kemudian kembali masuk kedalam kamar mandi guna mencarinya di dalam.
Tak kunjung mendapatkan apa yang ia cari kini ia masuk kedalam lemarinya dan membingkar semua gaun-gaun indahnya dan bahkan beberapa pakaian yang lain ia buang kelantai maupun ke atas ranjangnya. Terlalu disibukkan dalam mencari bendanya yang hilang ia tidak menyadari bahwa kakaknya kini sudah masuk kedalam kamarnya dengan wajah panik melihat isi kamar adiknya yang sungguh terlihat seperti diserang badai topan.
"Baekhyun?"
"Omg!" Baekhyun yang merasa dikejutkan dengan hadirnya sang Kakak dari belakang meloncat menubruk tembok didepannya dan kemudian memegangi dadanya untuk mencegah jantungnya lompat keluar.
"Apa yang kau lakukan hah? Kenapa kamarmu begini?" Kris menunjukkan seisi ruangan yang kini sudah tidak berbentuk.
"Aku mencari gelangku.. hiks.. aku melupakannya.." Baekhyun mulai menangis saat menatap wajah sang Kakak yang hendak memarahinya.
"Gelangmu.. gelang apa yang kau maksud?" Kris masih tidak mengerti.
"Gelang pemberian Dewi Aphrodite saat aku lahir.." Baekhyun terduduk pada lantai dan kini mulai menutup wajahnya akan menangis karena tidak berhasil menemukan gelang itu.
"Astagaaaa.. bagaimana bisa kau menghilangkannya hah!" Suara Kris kini mulai meninggi karena tahu arti gelang tersebut bagi Baekhyun. Gelang yang dibuat dari air mata Aphrodite saat mengetahui bahwa keturunannya telah lahir dan itu adalah saat Baekhyun dilahirkan di dunia ini.
Kris mulai membantu mencari gelang tersebut dengan menyusuri kamar Baekhyun yang sudah tidak berbentuk itu.
"Bagaimana bentuk gelang itu hm?"
"Ada huruf B di tengah gelang-gelang itu.. dan disekelilingnya terdapat tanda bintang disekelilingnya." Baekhyun masih duduk lemas di lantai kamarnya sedangkan Kris kini mulai berdiri terdiam mengernyitkan alisnya.
"Kau memakainya semalam?" Kris kini bertanya pada Baekhyun.
"E-eoh.. sepertinya.." Baekhyun terdiam sebentar mengingat-ingat apakah ia memakainya semalam dan dengan bodohnya ia baru saja ingat bahwa semalam Ayahnya sempat membetulakan kaitan gelang itu sebelum ia jatuh dengan tidak elitnya. Itu berarti bisa saja gelang itu jatuh di dalam istana atau saat ia dibawa keluar oleh pria yang mengatainya.
Tanpa satu kalimat yang keluar dari mulut Baekhyun, kini ia berlari keluar kamarnya meninggalkan Kris yang berdiri didekat jendela dan menghela nafas lega. Terlebih saat ia melihat sosok yang ia curigai berada di luar istana, berjalan santai dengan tangan yang dimasukkan kedalam kantung celananya dan berhenti disalah satu tampat duduk santai Istana. Sosok itu melihat kearah tempat tersebut dan kemudian senyuman terlihat pada wajahnya, tak lama ia berpindah naik keatas pohon yang berada tak jauh situ.
"Dasar bodoh." Kris bergumam melihat tangkah laku sosok tersebut dan kemudian atensinya teralih pada sang adik yang kini sudah berlari menuju tempat duduk yang sama seperti yang dilakukan sosok sebelumnya.
Baekhyun masuk kedalam tanaman yang ada dibelakangnya dan mulai mencari-cari dengan tangannya sendiri, bahkan ia mengusak tanah dibawahnya juga yang dimana sontak membuat Kris menggelengkan kepala melihat bagaimana bodohnya sang Adik.
...
Baru saja aku duduk bersandar pada dahan pohon yang berhasil aku panjat, suara helaan nafas dan gumaman seseorang terdengar mengusik ketenanganku. Aku melihat kebawah bagaimana gadis itu dengan cepat masuk kedalam semak-semak tanaman yang ada disekitarnya dan dengan tangan kosong ia merusak tanaman tersebut. Belum puas ia juga mengangkat beberapa batuan yang menutupi tanah dan kemudian menendang nendang apapun yang ada dekat dengan kakinya.
Aku masih memperhatikan tingkahnya hingga saat ia mengusak tanah dekat dengan bangku santai dibawahku dengan tangannya sendiri. Itu mengejutkan! Baru pertama kali aku melihat ada seornag gadis yang nekat melakukan hal itu tanpa merasa jijik sedikitpun.
"Aaaaahhh kemana gelang itu.." Ia akhirnya bersuara dan kemudian menekuk lututnya dan menangis sambil membenamkan wajahnya.
Kini aku tahu alasannya kenapa ia melakukan tindakan gila itu, aku mengangkat tangan kiriku dimaa terdapat gelang dengan huruf B ditengahnya.
"Baekhyun." Aku bergumam pelan dan masih memperhatikan gadis itu yang kini masih berlutut dibawah.
"Aaaaa! Kau bodoh-bodoh! Bukan disini!" Aku hampir saja jatuh dari atas pohon saat mendengar teriakannya. Ia bangun dari duduknya dan kemudian dengan cepat berlari entah kemana menghilang dari tempat itu.
Aku dengan cepat turun dari pohon tersebut dan melepaskan gelang yang berada di tangannku, pemikiran awalku adalah mengejarnya dan kemudian memberikan gelang tersebut padanya. Atau menyerahkan gelang tersebut kepada Kris, kakaknya.
"Ide kedua lebih baik." Aku berguma sebentar dan berbalik, baru saja aku hendak melangkah pergi namun gadis itu berjalan kembali kearahku dengan wajahnya yang menunduk, gaunya sudah kotor bahkan tangannya yang lentik kini sudah berlumuran tanah. Bibir meram mudanya yang kecil sudah dipoutkan dan hidungnya yang mancung sudah berwarna merah diujungnya. Menggemaskan.
Entah kenapa melihatnya seperti ini membuatku tersenyum, mengarahkan kedua kakiku berjalan kearahnya.
Bug.
Kepalanya menabrak dadaku dan ia kini mengaduh merasakan sakit pada kepalanya. Belum ada satu katapun keluar darinya hanya saja jari-jari mungilnya mulai membelai keningnya yang menabrak dadaku. Bibir bawahnya lebih dimajukan sedangkan bibir atasnya tenggelam, tatapannya kini mendelik kearahku dengan tajam, pipi mochinya menggembung dan merona merah mungkin karena ia merasa kesal yang mendalam.
"Ish! Kenapa menghalangi jalanku eoh!" Kini ia berteriak kearahku. Ingin rasanya tertawa lepas bagaimana melihat ekspresi lucunya ini namun aku cukup sadar untuk berakting dihadapannya.
"Ck. Harusnya aku yang memarahi bocah kecil sepertimu berjalan dengan benar saja tidak bisa." Kedua tanganku kumasukkan kedalam kantung celana dan kemudian mendekat kearahnya, ia yang kini tambah kesal karena ucapanku ingin membalas namun karena langkah yang kuambil membuat ia berjalan mundur dengan linglung.
"Yak awas!" Ia mencoba menyeimbangkan badannya hingga saat aku berhenti badannya malah jatuh duduk di tanah.
"Yaaaaaaaaa! Sakit!" ia mengaduh keras, bahkan kini wajahnya sudah benar-benar ingin menangis karena sakit yang ia rasakan.
Aku tidak pernah menemukan seorang gadis dengan tingkah laku sepertinya, berperilaku seperti yang ia mau bahkan tanpa memperdulikan dirinya sendiri. Menangis dimana saja dan kapan saja ia inginkan, berlari kencang seakan-akan ia bukanlah Puteri yang harus selalu bertingkah anggun. Kaki kiriku berlutut dihadapannya sedangkan kaki kananku menopang tanganku yang kini menyangga tanganku yang hendak mengangkat wajahnya yang masih menunduk menangis.
"Bisakah kau tidak seceroboh itu." Aku mengusap air matanya dengan tangan kananku. Ia menatapku bingung dengan matanya yang berkedip-kedip dengan cepat membuatku semakin memandangnya lebih dalam dan lebih lama.
Tanpa pikir panjang aku menarik tangannya dan membawanya berjalan menuju tempat duduk, tempat yang sama dimana aku mendudukkannya semalam.
"Tunggu disini." Ia lebih pendiam setelah menangis kesakitan, itu lebih baik. Aku berjalan meninggalkannya menuju ke sisi belakang istana untuk membasahi sapu tangannku. Setelahnya aku berlari cepat karena aku berpikir bodohnya meminta ia untuk menunggu sendirian, pastinya ia akan pergi masuk kembali kedalam istana, dengan tergesa-gesa aku berlari namun kemudian aku berhenti saat melihat ia masih duduk disana. Duduk terdiam dan memainkan gaun bawahnya yang penuh debu. Aku menghampirinya dengan nafas terengha-engah sedangkan ia kini menatapku dengan bingung.
"Ku kira kau akan kabur." Aku sedikit tertawa saat melihatnya yang hanya menggelengkan kepala kearahku.
"Kemarikan tanganmu." Tanpa perlawanan atau bantahan ia memberikan kedua tangannya dan menatapku dengan bingung. "Tenang saja.. aku tidak akan memukul tanganmu!" ia kembali mencibir dan dengan cepat terdiam saat memperhatikan tanganku bergerak untuk membersihkan segala kotoran yang ada pada tangannya.
"Seorang Puteri Mahkota tidak boleh mengotori tangannya yang indah. Kau perlu tahu itu! Jangan pernah mengotori tanganmu untuk hal yang tidak penting." Ia menatapku dengan ragu dan kemudian terdiam.
"Jangan pernah berteriak-teriak juga. Suara lembutmu bisa rusak nantinya." Kini tanganku membersihkan wajahnya yang terkena debu di pipinya.
"Tutup matamu." Aku memerintahkannya.
"Eoh?" Ia melihatku dengan bingung. "Haruskah?" kembali ia bertanya namun kini tatapannya sudah kembali menjadi tatapan curiga kearahku.
"Aku akan membersihkan kotoran dimatamu itu."
Baekhyun ber O dan kemudian melanjutkan menutup mata dengan kedua bibirnya yang ia rapatkan kedalam dan membuat senyuman, kaki kecilnya bergerak tak beraturan semakin membuatku ingin tertawa karenanya. Bagaimana bisa Kris memiliki adik menggemaskana seperti ini. Setelah selesai membersihkan kedua matanya kini aku mengeluarkan gelang yang berada di kantung celanaku dan kugantungkan pada tanganku tepat di depan matanya.
"Buka matamu."
Baekhyun membuka matanya dan mengedipkan berkali-kali setelah melihat gelangnya yang kini berada dihadapannya.
"Huwaaaaaa huwaaaaa! Gelangku! Kyaaaaa terima kasih!" Baekhyun berteriak histeris dan kini memeluk badannku hingga kami berdua jatuh keatas tanah bersamaan, dan aku merasakan bagaimana sakitnya jatuh dengan keras seperti yang ia rasakan tadi. Dan ini sudah kedua kalinya Baekhyun melakukan hal yang sama padaku.
"Maaf ahjussi maaf.. maaf aku terlalu senang. Ah! Maafkan aku Putera Mahkota Glorfindel, Maafkan aku." Baekhyun menunduk berkali-kali dan membantuku berdiri, bahkan ia kini mengarahkanku untuk duduk di tempat duduk sedangkan ia berdiri dan masih menunduk padaku.
"Siapa namamu?" Aku bertanya padanya sedangkan ia kini sudah sibuk untuk memasang gelang pada tangannya, berkali-kali ia coab dan masih tetap gagal hingga aku yang gemas melihatnya menarik tangannya dan memasangkan gelang itu padanya.
Wajah bahagianya terpasang saat gelang itu kembali pada tangannya bahkan ia menggerakkan tangannya yang kecil itu hingga gelang itu menimbulkan bunyi yang mengusik pendengarannku. Setelahnya aku menatap ia dengan muka dingin dan datar, dan ia yang tahu akan perubahan wajahnku kini menunduk dan memperkenalkan dirinya sebagai Puteri Mahkota Lynkestis, Baekhyun.
"Kau tetap saja gadis kecil!" Aku mengusak kepalanya dan melangkah meninggalkannya sedangkan ia mencibir dan mengataiku ku kembali.
Chanyeol yang sudah melangkah jauh meninggalkan Baekhyun yang masih mencibir dan mengumpat kekesalan terhadapnya tidak menyadari akan beberapa pasang mata yang melihat semua kejadian yang mereka lakukan tadi. Baekhyun kini meloncat senang karena Gelangnya ditemukan dan kembali berlari masuk kedalam Istana sedangkan Chanyeol entah berjalan kemana.
Sedangkan bagi mereka yang melihat kejadian antara Chanyeol dan Baekhyun kini saling menatap dan tersenyum bahagia.
"Bisa kau lihat kedepannya bagaimana?" Kris bertanya pada Yoora yang kini masih tersenyum memandang kearah depan pemandangan dari jendela kamar Baekhyun.
"Haruskah aku memberi tahukannya padamu?" Yoora menggoda.
"Ck. Kau terlalu misterius." Kris berdecak kesal.
"Aku tidak bisa mengetahui tentang adikmu, seperti yang kukatakan sebelumnya, ada perisai yang melindungi dia, mungkin kau harus mencoba kekuatamu padanya untuk mengetes."
"Hmm.. mungkin aku akan mencobanya, saat latihan perang."
"Coba saja." Yoora mengangguk setuju.
"Lalu.. bagaimana dengan Chanyeol?" rasa penasaran Kris masih ada.
"Kau mau mengetahui apa tentang Chanyeol?"
"Apakah ia memiliki perasaan terhadap adikku?" Kris bertanya langsung.
"Tidak. Ada seseorang lain yang ia sukai dan aku tidak tahu siapa karena selalu ada cahaya yang menutupi gadis itu." Yoora menjawab sendu.
"Tapi setidaknya gadis itu membuat dia bahagia."
