04

.

.


"Kenapa tiba-tiba Ibu harus pergi ke Olympus? Lalu kenapa kami harus tinggal di Eowyn sementara waktu?" Pertanyaan bungsu Glorfindel masih terus terulang-ulang didengar dalam ruangan kamar mereka di Lynkestis.

Setelah pertemuan antara Raja dan Ratu sebelumnya akhirnya mereka bersepakat akan mengirim Putra dan Putrinya untuk berlatih bersama di Kerajaan Eowyn dan para Ratu diharuskan untuk kembali ke Olympus bertemu dengan para leluhur mereka mengantisipasi atas ancaman Hades yang mulai terlihat belakangan ini.

"Ibu.." Rengekan kembali terdengar dari mulut sang bungsu, Sehun.

"Oh astaga Sehun! Bisakah kau diam dan ikuti saja perintah dari Ayah dan Ibumu. Bahkan kedua kakakmu pun saat ini sedang bersiap tanpa komentar bantahan sedikit pun." Teriakan sang Ratu menggema dalam kamar tersebut sambil mengemasi barang-barang mereka untuk kembali ke Istana Glorfindel.

"Yoora dan Chanyeol pasti sudah tahu ini akan terjadi.. dan Jongin dia memang senang bila jauh dari Ibu. Aku kan tidak!" Kembali bungsu Glorfindel merajuk dan kini mulai menjatuhkan badannya pada ranjang besar di kamar tersebut membuat pakaian dan gaun Raja dan Ratu terlihat berantakan.

"SEHUUUNNN!" Teriakan keras dan pukulan pada badan bungsu terdengar keras disusul suara rintihan sakit dari anak bungsu itu.

.

.

"Harusnya aku bawa anak itu sebelum terdengar teriakan Ibu." Yoora berkomentar dari kamarnya dimana letak kamar yang ia tinggali hanya berjarak 2 kamar terpisah dari karma Ayah dan Ibunya.

"Hm." sahutan terdengar dari Chanyeol yang masih saja membaca bukunya dan bersandar di ranjang kakak perempuannya.

"Bisakah kau membantu untuk menutup koperku ini?" Yoora bertolak pinggang dihadapan adiknya namun tidak ada balasan. "Ck. Apakah buku itu lebih penting dari kakakmu ini hm?" Gumaman terdengar dari mulutnya namun kini ia sudah mengerahkan tenaganya hanya untuk menutup koper yang sudah dipenuhi baju-baju yang ia bawa sebelumnya.

"Aku tahu kau bisa, jadi aku tidak membantu." Chanyeol menutup bukunya dan berjalan menuju jendela kamar.

"Seharusnya aku yang bisa menebak apa yang terjadi kedepannya. Mengapa kini jadi kau yang memiliki kekuatan itu."

"Aku hanya tahu saja." Chanyeol menjawab santai.

"Ck."

Suasana menjadi hening setelah perdebatan mereka, Yoora mengatur beberapa kopernya dan meletakkan dekat pintu kamar, setelahnya ia membereskan ranjangnya yang sempat berantakan sedikit karena Chanyeol merebahkan badannya tadi. Lalu Chanyeol? Putra Mahkota itu masih sibuk memandangi pemandangan dibawahnya bahkan kini ia serasa melihat tontonan yang menarik dibandingkan bacaan buku yang ia pegang sebelumnya.

.

.

Heechul bertolak pinggang dihadapan Baekhyun yang masih menunduk dengan tangannya menyatu pada belakang punggungnya menyembunyikan peralatan memanahnya. Yoona yang berdiri tak jauh dari Baekhyun tak berkutik dan memilih diam menunduk seperti yang dilakukan Putri Mahkota-nya.

"Siapa yang menyuruhmu berlatih?" dingin dan tegas, itulah yang didengar oleh Baekhyun saat Ibu-nya bertanya untuk kesekian kalinya. Matanya kini terpejam erta, bibirnya menyatu dan tenggelam kedalam sehingga hanya terlihat pipi gembilnya yang mulai menggembung.

"Baekhyun." masih suara dingin Ibu-nya.

"Bila kau tidak menjawab pertanyaan Ibu, kita akan berdiri di luar sampai kau menjawab."

"Tuan Puteri—

"Yoona. Aku tidak mengharapkan jawabanmu. Lebih baik kau masuk kedalam ikut membantu Puteri Mahkota yang lainnya berkemas." Heechul berbicara cepat tanpa perubahan nada dinginnya, mendengar perintah sang Ratu dengan cepat Yoona melangkah masuk kedalam Istana.

"Masih belum mau menjawab?" langkah kaki Heechul mendekat kearah tempat Baekhyun berdiri, Sang Puteri yang masih menunduk menatap ke tanah meremas tangannya karena takut akan apa yang bisa saja Ibunya lakukan padanya.

"Baekhyun!" Suara Heechul mulai terdengar sedikit keras.

Heechul sudah berada dekat dengan anaknya, bahkan ia bisa mendengar nafas anaknya yang kini mulai memburu karena gugup.

"Maafkan aku bu! Aku mohon maafkan aku! Aku yang berniat berlatih memanah sendiri sungguh aku tidak meminta bantuan Kris atau Yoona! Aku mohon bu maafkan aku kali ini." Baekhyun berlutut memeluk kaki Ibunya dan masih terus bergumam meminta maaf padanya, isakan tangis mulai terdengar darinya. Heechul tidak menduga anaknya akan meminta maaf seperti ini, biasanya Baekhyun akan kabur dengan cepat dan tidak akan keluar kamar hingga Ayahnya yang datang dan membela dia didepan Heechul, namun kini puterinya tersebut langsung meminta maaf padanya bahkan hingga berlutu dan memeluk pinggangnya.

Heechul masih menahan senyumnya sedangkan Baekhyun masih menggumamkan kata maaf tak henti-henti. "Bangunlah." Heechul mengangkat badan puterinya.

"Hapus air matamu." Baekhyun masih terisak dan menghapus air matanya dengan cepat, bibirnya masih terpoutkan dan tidak berani menatap mata sang Ibu.

Tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya Heechul membersihkan noda-noda tanah dan debu dari setelan latihan yang Bakehyun gunakan. Tangan Heechul menepuk-nepuk bagain lutut dan kemudian bagian tangan puterinya. Membenarkan ikatan dari tempat anak panah yang mengalung pada badan anaknya, beberapa tali yang kurang kencang mengikat tempat anak panaj itu Heechul kaitkan kembali. Serta ia memberikan usapan pada wajah putih Baekhyun, menghapus air matanya dan noda pada pipinya.

"Putar badanmu." Heechul memerintah dan dengan cepat Baekhyun berputar membelakangi ibunya, bibir bawahnya ia gigit dengan keras dan tangannya mengepal memegang busur panah. Matanya terpejam bersiap menerima pukulan atau apapun yang akan dilakukan oleh Ibunya namun kini matanya terbuka lebar saat merasakan bahwa tangan Ibunya membenarkan ikatan kepangan pada rambut hitamnya.

"Siapa yang mengepang rambutmu? Yoona?" Baekhyun tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala dengan cepat.

"Lalu siapa?"

"A-aku.. aku sendiri yang melakukannya." Baekhyun menjawab dengan ragu. Jujur saya ia masih takut dengan tingkah Ibunya, belum ada teriakan dan belum ada kata-kata marah yang keluar sejak ia meminta maaf tadi.

Heechul belum memberikan sahutan apapun dan masih merapikan kepangan rambut anaknya, namun ia melakukannya dengan wajah yang tersenyum sedari tadi tanpa diketahui Baekhyun.

"Putar kembali badanmu." Dengan cepat badan Puterinya berputar, tangan Heechul mengangkat dagu Baekhyun hingga ia bisa melihat dengan jelas wajahnya.

"Jangan pernah menggigit bibirmu lagi! Kau itu seorang Puteri Mahkota, jaga keindahan badan dan wajahmu! Walaupun kau berlatih berperang atau melakukan hal apapun tetap jaga penampilan dan terlihatlah cantik." Heechul menceramahinya kembali tanpa henti sambil merapikan kondisi rambut Baekhyun dari depannya. "Ingatlah selalu kalau kau itu anakku, keturunan Dewi Aphrodite, jadi jaga sikap dan penampilanmu. Kau mengerti?"

Baekhyun menganggukkan kepala dan mengucapkan maaf kembali pada Ibunya.

"Kau hanya berlatih memanah?" Heechul bertanya lagi.

"Eoh? I-iya.. aku hanya berlatih memanah."

Heechul mengumpulkan beberapa kalimat yang akan ia sampaikan pada Baekhyun mengenai keputusan para Raja dan Ratu sebelumnya.

"Kau masih ingat mengenai legenda dunia kita? Dewa dan Dewi serta Para Malaikat lainnya?"

"Uhm. Aku masih ingat." Baekhyun menjawab.

"Dengarkan omonganku baik-baik." Heechul memegang lengan Puterinya dan memberikan sedikit usapan. "Kau adalah keturunan Dewi, dan sudah sepantasnya kau mempergunakkan segala kekuatanmu untuk melindungi hal-hal buruk yang akan menimpa Kerajaan maupun duniamu." Heechul menatap Baekhyun dan mendapatkan anggukkan kepala dari Puterinya. "Keadaan saat ini tak menentu, kau ingat kejadian yang terjadi saat kau berada di dunia luar bukan? Aku tidak mau itu terjadi lagi padamu.. Ayahmu dan ibu sepakat.. oh bukan. Semua Raja dan ratu sepakat untuk mengumpulkan kalian di Istana Eowyn, disana kalian bisa berlatih perang bersama dan mengasah kekuatan yang kalian terima dari Zeus. Kau paham maksudku?"

Baekhyun masih mencoba mencerna kalimat panjang yang baru saja dikatakan oleh Ibunya, dia mendengarnya dengan jelas namun untuk memahami semua itu ia butuh waktu lebih dari setengah detik.

"Baekhyun, kau mengerti maksudku?" Heechul bertanya kembali.

"Ibu mengijinkan aku melakukannya? Maksudku.. Ibu memperbolehkan aku berlatih bersama mereka?"

"Awalnya tidak."

"Ah Ibuuu..."

"Jangan merajuk seperti itu. Oh oh ada apa dengan nada merajukmu kali ini." Heechul tertawa mendengar bagaimana suara Puterinya benar-benar merajuk dengan suara merdu seakan-akan ia akan menyanyikan sebuah lagu untuknya.

"Ibu mengijinkan aku ikut kan." Baekhyun tidak mau menjawab pertanyaan mengenai suaranya, ia langsung menggenggam kedua tangan Ibunya menantikan jawaban iya atau tidak tentang ijinnya.

"Aku mengijinkanmu sayang." Heechul mendekatkan badan Puterinya dan memeluknya sebentar. "Berjanjilah kau akan menjada dirimu baik-baik disana, belajar bagaimana menggunakan kekuatanmu, bertemanlah dengan para Puteri dan Putera Mahkota disana, kakakmu akan selalau menjagamu juga." Baekhyun membalas pelukan Ibunya dan menganggukkan kepala. "Oh kau juga harus belajar dengan Ratu Yuri! Belajarlah menjadi Puteri Mahkota yang baik!" Heechul sedikit menekankan kalimat terakhirnya hingga membuat Baekhyun menyengir kearahnya.

"Hmm.. Ibu.." Baekhyun menahan badan Heechul yang akan menjauh darinya.

"Ada apa?"

"Apakah aku masih terlihat seperti anak kecil dimatamu?"

Heechul sediit tertawa mendengar pertanyaan itu. "Kau baru menyadarinya sekarang? Setelah aku berteriak setiap harinya karena tingkahmu itu."

Baekhyun memanyunkan bibirnya hingga berkelopak, matanya mendelik kearah Ibunya namun pemikirannya teringat kepada seseorang Pria dimana mengatakannya dengan jelas bahwa ia adaalah gadis kecil.

"Sudahlah, segeralah berkemas dan persiapkan semua kebutuhanmu." Mendengar perintah itu raut wajah Baekhyun berubah menjadi sebuah senyuman dan kemudian segera berlari masuk ke Istana meninggalkan ibunya seorang diri. Heechul hanya bisa tersenyum dan kemudian menghela nafas panjang sebelum ia mengikuti sang Puteri berjalan masuk kedalam Istana.

Sementara itu,

Setelah puas memandangi tontonan dari seorang anak dan Ibu dari jendela kamarnya, Chanyeol menarik senyum pada wajahnya dan masih berusaha menahan tawanya. Yoora yang sedari tadi memperhatikan dan dapat melihat jelas apa yang dilihat Chanyeol menghampirinya dengan tangan yang terlipat didepan dadanya.

"Dia menggemaskan bukan? Aku tak percaya Kris tak pernah mengenalkannya pada kita sebelum-sebelumnya."

Chanyeol terdiam dan hanya mengedikkan bahunya untuk menjawab pertanyaan Yoora.

"Aku rasa dia akan sangat cocok dengan Sehun, mereka lahir di tahun yang sama."

Chanyeol masih terdiam dan melangkah menuju pintu kamar Yoora berniat meninggalkan Yoora yang sedari tadi terlalu banyak bertanya.

"Bisakah kau jujur padaku siapa gadis yang selalu ada dalam mimpimu? Kau selalu tersenyum padanya, kau mendapatkan penglihatan akan masa depanmu bukan?"

Pertanyaan itu berhasil membuat Chanyeol terdiam menahan tanganya untuk membuka pintu.

"Kau pasti bisa menemukannya. Percayalah padaku."

"Aku harap aku bisa percaya." Chanyeol membalas tanpa menoleh kearah kakaknya dan segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


-Loves of Tales-


Istana Eowyn adalah Istana dengan nuansa alam terindah kedua setelah Istana Lynkestis, bahkan beberapa orang menyebutkan bahwa Eowyn adalah replica kecil dari Olympus. Dan itulah istimewanya Istana Kerajaan ini, hanya terpisahkan samudera kecil dan beberapa bukit dari Langit Olympus membuat suasana Eowyn lebih terasa dekat dengan para Dewa-dewi.

Sekitaran Istana tersebut membentang hutan dan taman hijau yang luas yang dipenuhi para peri-peri bunga maupun tumbuhan, bukit hijau membentang luas disekeliling danau-danau. Begitu damai, begitu asri dan tenang. Istana Eowyn sendiri dipenuhi warna putih di setiap bangunannya, hanya terdapat warna bitu langit pada bagian atasnya seolah-seolah Istana itu terlihat menyatu dengan awan dan langit.

"Eowyn benar-benar indah." Komentar itu dilontarkan oleh Putri Mahkota I Tiranis, Luhan. Tangan terbentang keluar dari jendela mobilnya dan berusaha menggapai dedaunan disekitarnya.

"Berapa lama kita berada di Eowyn? Kapan kita kembali ke Tiranis?" kali ini Tao, Putri Mahkota II Tiranis yang bertanya setelah dalam perjalanan dari bandara hingga memasuki kawasan Istana ia tertidur. Bahkan saat di pesawat pun ia tertidur pulas.

"Kita baru saja sampai dan kau sudah menanyakkan kapan kembali ke Tiranis? Kau mau ku buatng eoh?" Suara tinggi dari Putera Mahkota Tiranis terdengar, Jongdae.

"Kau tidak dengar apa yang Papa katakan kemarin?" Luhan ikut memojokkan adiknya.

Sedangkan sang adik hanya terdiam menundukkan kepala sebentar dan bergumam dengan bahasa Tiranis mengabaikan tatapan mata dari kedua kakaknya.

Berbeda dengan kondisi kedua orang yang berada dalam mobil yang sama, Kris dan Baekhyun. Kris merangkul badan kecil adiknya dan menujukkan pemandangan indah disekeliling perjalan mereka, bahkan kini Kris menunjukkan air terjun yang terlihat membelah kedua bukit dan tampak pelangi kecil terbuat diatasnya.

"Indah sekali. Bolehkah aku kesana?" Baekhyun berucap pelan kearah Kris.

"Tentu saja. Bila ada waktu kita akan kesana." Usakkan tangan Kris pada rambut Baekhyun membuat ia tersenyum bahagia.

Mobil mereka memasuki gerbang utama Istana dimana terdapat ukiran-ukiran khas Olympus, bahkan terdapat patung Dewi Artemis dengan yang sedang memegang busur panah diantara kedua gerbang tersebut.

Yuri sebagai Ratu Kerajaan sudah berdiri di depan pintu utama Istana ditemani Putri Mahkota Eowyn, Kyungsoo serta para dayang-dayang yang siap membantu dan menyambut kedatang para Putera dan Puteri Mahkota.

Para keturunan Tiranis lebih dulu menginjakkan kaki mereka pada tanah Istana disusul Baekhyun dan Kris dibelakangnya.

"Selamat datang di Eowyn." Yuri memberikan salam kepada mereka.

Semuanya memberi hormat dan menundukkan badan kepada Sang Ratu, Kris melangkah lebih dulu dan memberikan salam secara langsung, disusul Jongdae dibelakangnya.

"Terima kasih mau menerima kami Yang Mulia."

"Terima kasih sudah mau datang kembali di Istana Putera Mahkota Lynkestis." Yuri tersenyum ramah pada Kris.

"Ini pertama kalinya untuk para Puteri Mahkota bukan?" Yuri menatap para Puteri Mahkota yang masih terdiam dibelakang Kris dan Jongdae.

"Benar Yang Mulia, ini pertama kalinya bagi kami." Luhan yang menjawab mewakili.

Senyuman kembali diberikan oleh Yuri kepada mereka semua,setelah itu ia meminta mereka untuk masuk kedalam Istana ditemani para dayang-dayang. Kris berjalan di depan menopang tangan Sang Ratu, dan Jongdae berjalan dibelakangnya menopang tangan sang Puteri Mahkota, Luhan, Tao dan Baekhyun mengikuti mereka dengan berjalan berdampingan.

Ucapan kagum pada pemandangan dalam Istana Eowyn terdengar dari mulut Puteri Mahkota, ruangan serba putih serta dengan hiasan motif bunga dan tumbuhan menghiasai seisi ruanagn tersebut.

Mereka masih melanjutkan perjalanan bersama memasuki seisi Istana, sesekali terdengar Kris dan Sang Ratu saling berbicara namun apa yang dibicarakan tidak terlalu serius didenganrkan oleh yang lain.

Saat mereka tiba di lantai 3 pada Istana tersebut, Yuri berhenti pada kamar pertama dimana tidak jauh dari ujung tangga. Dayang-dayang yang mengerti segera membuka kamar tersebut dan membiarkan pintunya terbuka.

"Ini kamar untuk Para Putera Mahkota." Yuri menunjukkan bagaimana kondisi ruangan kamar tersebut. Kris dan Jongdae langsung menikmatinya dengan duduk pada ranjang masing-masing.

"Ini sungguh luar biasa Yang Mulia." Kris memuji lebih dulu.

"Sungguh luar biasa." Jongdae menambahkan.

Dekorasi dalam kamar tersebut sama dengan dekorasi ruangan lainnya, namun terisi dengan 6 ranjang besar yang terbagi menjadi diantara 2 sisi, peralatan games lainnya dan juga satu set home theatre tersedia dalam kamar tersebut.

"Berterima kasihlah pada Raja kalian masing-masing yang membantu menyiapkan ini semua." Yuri menjelaskan. "Dan.. aku mohon jangan biarkan para Putera Mahkota Glorfindel meminta kamar yang lain karena mereka bertengkar." Mendengar kalimat itu Kris dan Jongdae hanya bisa tertawa kecil dengan saling menatap.

Selesai mengenalkan kamar untuk Para Putera Mahkota, mereka kembali berjalan menuju kamar lainnnya yang tidak jauh dari kamar pertama. Dayang-dayang kembali membukakan pintu kamr tersebut dan membuka pintunya dengan lebar.

"Ini kamar untuk kedua Puteri Mahkota Tiranis, dan juga Puteri Mahkota Lynkestis. Aku harap kalian menyukainya." Yuri masuk dan memperlihatkan isi kamar tesebut, 3 ranjang besar dalam kamar yang luas, diihiasi meja rias yang cukup besar di setiap masing-masing ranjang yang sudah terisi oleh peralatan make up yang dapat digunakkan langsung. Yuri membuka pintu di salah satu dinding ruangan tersebut dan memperlihatkan bagaiaman para gadis itu dapat meletakkan segala pakaiannya disana. Selain itu didalam kamar tersebut tetap ada satu set home theatre sebagai hiburan mereka didalam kamar. Baekhyun tak henti-hentinya menggumamkan kata wow dan wuah dari mulutnya.

"Cukup puas dengan kamar kalian Puteri?"

"Ini sungguh indah." Baekhyun menyahut lebih dulu. "Terima kasih Yang Mulia."

"Terima kasih Yang Mulia." Luhan dan Tao mengucapkan bersama-sama.

"Aku harap kamarmu ini tidak akan berantakkan dalam waktu hitungan menit Baek." Kris menyahut dan seketika yang lainnya tertawa bersama, sedangkan sang objek yang dibicarakan mendelik kearah kakaknya dengan bibirnya dipoutkan.

"Kamar kalian semua berada dalam satu lantai ini, aku harap kalian bisa mengakrabkan diri dengan baik." Yuri melihat kearah mereka semua yang kini sudah duduk pada ranjang di kamar itu, ia tahu mereka semua sudah tidak sabar untuk merasakan dan mengatu segala keperluannya masing-masing.

"Uhm, bagaiamana kamar para Puteri Mahkota Eleanor dan Puteri Mahkota Glorfindel?" Kris yang menanyakkan hal itu.

"Kamar mereka berada di lantai ini juga, tepat disebelah kamar para Puteri Mahkota." Yuri menjawab dengan menunjukkan kearah dinding pembatas pada ruangan kamar ini. "Aku tidak akan mengijinkan mereka berada di kamar dekat para Putera Mahkota, terlalu beresiko bukan?" Kedipan mata Yuri pada Kris mengundang banyak tanya bagi yang lainnya. Hanya Jongdae yang paham dan kemudian tersenyum malu kearah Yuri.

"Puteri Mahkota Yoora akan berada satu kamar dengan Puteri-ku, kamarnya berada tepat paling ujung di lantai ini." Yuri menjelaskan sambil merangkul Puterinya yang sedari tadi diam dan tak banyak bicara.

"Kalian mau melihat kamarku?" Akhirnya terdengar suara dari Sang Puteri Mahkota yang bertanya pada Luhan, Baekhyun dan Tao. Anggukkan kepala menjawab pertanyaan itu dan dengan cepat mereka mohon ijin pada Sang ratu dan berjalan bersama menuju kamar sang Puteri Mahkota.

Sementara Para Puteri Mahkota menuju kamar Kyungsoo. Kris dan Jongdae memilih kembali ke kamar mereka dan membereskan koper-koper yang sudah berada disana. Sang Ratu pun memilih untuk meninggalkan mereka.

"Aku Rasa sebaiknya kau, Chanyeol Dan Suhi berada di ranjang sebelah sini." Jongdae menunjuk sisi ranjang sebelah kiri dari posisinya dimana dekat dengan jendela kamar yang mendapatkan view bagian luar Istana dengan sangat jelas.

"Kau yakin?" wajah ragu Kris terlihat jelas.

"Uhm. Cukup yakin."

"Lebih baik aku menunggu para Putera Mahkota untuk urusan ranjang dimana aku tidur. Kau tahu 2 anak bungsu itu selalu tidak mau mengalah khususnya Sehun."

"Hahaha-ya tunggu kau mau kemana?" Jongdae tertawa keras dan sedikit melangkah cepat karena Kris sudah berlalu keluar kamarnya.

Suasana canggung masih menemani langkah kaki para Puteri Mahkota saat berjalan menuju kamar milik Puteri Mahkota Eowyn, Kyungsoo. Luhan yang berjalan tepat dibelakang Kyungsoo berkali-kali menengok kearah belakangnya dimana adiknya berada dan memberikan gestur mulut yang berucap untuk berada di sebelahnya. Sedangkan Baekhyun berjalan agak jauh dari mereka namu berada di samping kanan supaya dapat melihat langsung pemandangan dari lantai bawah Istana.

"Ini kamarku." Kyungsoo akhirnya bersuara sambil membuka pintu kamarnya.

"Huaaaa.." kalimat yang sama diucapkan oleh ketiga Puteri Mahkota yang lainnya. Kyungsoo tersenyum melihat bagaimana raut wajah mereka mengagumi isi kamarnya.

Bila semua kamar sebelumnya berhiaskan cat dinding warna putih lain halnya dengan kamar Puteri Mahkota ini, cat dindingnya adalah perpaduan warna putih dan hitam yang saling membentuk perpaduan warna yang sangat indah. Dari ranjang hingga semua peralatan yang menghiasinya adalah perpaduan warna putih dan hitam meskipun terlihat putih lebih mendominasi disemua seginya.

"Sungguh ini sangat indah, dan kamarmu lebih luas." Baekhyun berjalan dan menyusuri setiap sisi pada kama tersebut. Kyungsoo mengucapkan terima kasih atas pujiannya dan mengajak yang lainnya untuk menikmati dan melihat-lihat seisi kamarnya.

"Awalnya aku menginginkan untuk bergabung di kamar kalian, namun Mama tidak mengijinkan. Ah maksudku Yang Mulia Ratu tidak mengijinkan." Kyungsoo menutup mulutnya dan terlihat takut akan ucapannya yang salah.

"Kami mengerti Puteri Mahkota." Luhan tersenyum dengan manis kearah Kyungsoo dan aku pun memberikan senyumanku padanya.

"Sebetulnya aku masih agak canggung bertemu dengan anggota Kerajaan yang lain. Ini pertama kalinya untukku."

"Tenang saja.. aku tahu kau dan Puteri Mahkota Lynkestis baru mengalami ini pertama kalinya."

"Bisakah kita tidak memanggil dengan sebutan Puteri Mahkota?" Tao kali ini menyahut setelah Luhan selesai berbicara. "Kris dan Chanyeol tidak pernah memakai panggilan Putera Mahkota—

"Tao. Pelankan suaramu." Luhan memukul badan adiknya.

"Bolehkah aku memanggil nama kalian langsung?" kini Baekhyun mulai berbicara kearah yang lainnya. Kyungsoo memperhatikannya dan kemudian melihat kearah Luhan dan Tao untuk mendengarkan jawabannya.

"Aku rasa itu ide yang bagus. Bagaimana?" senyuman nakal pada wajah Luhan terlihat dan sontak membuat Kyungsoo dan Baekhyun tertawa lebar. Mereka kemudian berkenalan dengan menggunakan nama asli mereka, bahkan kini mulai terdengar suara tawa yang menggelikan karena Kyungsoo mencoba memanggil nama Tao berkali-kali dengan nada yang berbeda-beda.

Suara gemuruh mulai terdengar dari atas istana, sedangkan bunyi decitan dan ciri khas mobil balap yang didominasi dengan decitan ban serta jalanan yang beradu mengusik ketenangan Istana Eowyn.

"Itu pasti Glorfindel." Luhan tersenyum kecil sedangkan Kyungsoo dan Baekhyun menatapnya dengan bingung. Berbeda dengan Tao yang sudah berlari keluar dengan cepat. "Cepat turun sebelum kalian ketinggalan moment indah." Luhan menarik tangan Baekhyun dan mengajaknya berlari, disusul dengan Kyungsoo yang juga ditarik oleh tangan Baekhyun.

Gerak lari mereka tertahan setelah sampai pada lantai bawah Istana terlihat Yang Mulia Ratu berjalan anggun ditemani dengan para dayang-dayangnya, Kyungsoo yang melihat Ibunya bersiap menyambut para Putera dan Puteri Mahkota Glorfindel menyusul dan merapikan dandanan serta gaunnya yang sedikit berantakan karena berlari cepat. Luhan menarik tangan Baekhyun dan membawanya menyusul dimana Kris dan Jongdae sudah berdiri di dekat pintu Istana.

Kedua mobil yang membuat suara bising itu baru saja terparkir, sedangkan diatasnya terlihat helipkopter hitam kecil masih berputar mengelilingi langit Istana.

"Selalu datang dengan berbagai kejutan hm." Jongdae bergumam pelan kearah Kris, dan mendapatkan anggukkan kepala dengan senyuman aneh.

Baekhyun yang merasa tidak bisa melihat dengan jelas pemandangan didepannya berusaha meloncat-loncat dan berjinjit. Lelah berusaha menahan kakinya, Baekyun memutuskan untuk terdiamdi balik badan Kris, merapikan sedikit gaunnya yang sedikit berantakkan dan kemudian terdiam mencoba mendengarkan apa saja yang dibicarakan oleh Kris dan Jongdae.

Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Sang Ratu, dengan cepat ia sudah berada tepat disebelah Ratu Eowyn. Baekhyun berusaha menahan gugup dan ketakutannya, namun Yuri menggenggam tangannya dan membisikkan kalimat supaya ia tenang dan mencoba tersenyum. Baekhyun menganggukkan kepala dan sedikit melirik kearah Kyungsoo yang berada di sisi sebelah kiri dan mengikuti arahan Yang Mulia Ratu.

Setelah pendaratan helipoter hitam di pekarang Istana, Jongin dan Sehun terlihat keluar dar mobil yang mereka kendarai dan membukakan pintu helicopter dimana Yoora berada, sedangkan pada sisi lainnya terlihat Chanyeol keluar dengan menggunakkan kaca mata hitamnya yang bertengger menghiasi wajahnya. Suara Tao yang menganggumi Chanyeol terdengar dan sontak membuat yang lain memintanya untuk diam, bahkan sang Kakak, Luhan berkali-kali berusaha menutup mulut adiknya itu.

Pemandangan unik dari setiap kedatangan Putera dan Puteri Mahkota Glorfindel, mereka akan menggunakan setelan jas atau gaun dengan warna senada. Seperti kali ini mereka mengenakkan setelan perpaduan warna biru menghiasai tubuh mereka. Sang Putera Mahkota I menggandeng sang kakak, Yoora untuk berjalan menuju tempat dimana Ratu Eowyn dan yang lainnya berkumpul, diikuti oleh kedua adik lainnya, Jongin dan Sehun.

"Selamat Datang di Eowyn." Yuri berucap lebih dulu setelah Chanyeol dan Yoora membungkukkan badan dihadapannya. "Kalian selalu terlihat menawan, membuat para Puteri yang berada di Eowyn terkagum-kagum."

Yoora tersenyum mendengar ucapan sang Ratu. "Maafkan atas kegaduhan kedatangan kami Yang Mulia."

"Aku sudah terbiasa." Yuri berucap dengan nada menggoda.

Kris melangkah mendekat dan memberikan salam kepada Chanyeol dan Yoora, setelahnya ia menggandeng tangan Yoora untuk menemaninya berjalan. Chanyeol mengarahkan tangannya kepada Sang Ratu dimana dengan cepat kini ia sudah menopang tangan Yuri dan memandu perjalanan menuju dalam ruangan Istana. Jongin memberikan tangannya pada Kyungsoo, Baekhyun yang masih terdiam melihat semuanya kini dikejutkan karena tiba-tiba Sehun berada dihadapannya, mengambil tangannya dan mengajaknya berjalan, setelah itu tangan lainnya menari tangan Luhan hingga kini ia diapit oleh Baekhyun dan Luhan. Jongdae membawa Tao mengikuti mereka di barisan belakang.

"Bisakah kau bersikap lebih sopan Putera Mahkota." Luhan berbisik pelan kearah Sehun namu tetap masih bisa terdengar jelas oleh Baekhyun.

"Aku tidak sempat untuk memikirkan sikap yang sopan saat ini wahai Puteri Mahkota Tiranis." Bisikan balasan dari Sehun terdengar.

"Bisakah kau lebih tenang sedikt, bahkan Puteri Mahkota Lynkestis terlihat bahagia disebelahku."

"Dia belum mengenal sifat aslimu!" kini suara Luhan mulai terdengar jelas hingga Jongdae memintanya untuk diam dari belakang.

"Hari ini kalian masih bisa menikmati waktu senggang di Eowyn., sebelum Raja Glorfindel dan Tiranis datang memulai latihan kalian disini." Yuri menatap para Putera dan Puteri Mahkota yang masih menikmati santap siang mereka di dalam ruang makan Istana.

"Terima kasih Yang Mulia." Chanyeol dan Kris berucap bersama mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia Ratu.

"Aku akan bersiap, kalian silahkan menikmati makan siang ini." Yuri undur diri diikuti oleh Kyungsoo berjalan tepat dibelakang Ibunya.

Para Putera dan Puteri Mahkota yang lainnya melanjutkan santap makan siang mereka dengan sesekali saling berbicara dan menggoda. Kecuali Baekhyun yang tanpa pedulinya masih menikmati makan siangnya dengan caranya sendiri.

"Menikmati makananmu Puteri Mahkota?" Ucapan Yoora pada Baekhyun membuat yang lainnya terdiam. Yoora sebagai Puteri tertua dalam diantara mereka menjadi sosok yang disegani, meskipun kenyataannya dia adalah pribadi yang ramah dan riang.

"E-eoh-i—

"Jangan gugup. Bicaralah seperti kau berbicara dengan kakakmu." Yoora tersenyum manis keapda Baekhyun mengetahui puteri kecil Lynkestis itu belum terbiasa berbicara dengan orang Kerajaan.

"Tenang saja Baekhyun, Yoora bukan wanita yang dingin, dia cukup asyik!" Luhan seketika menyahut, dan Yoora memberikan anggukkan kepala menyetujui kalimat Luhan.

Para Putera Mahkota yang melihat kini kembali lagi membahas seputar kegiatan yang akan mereka lakukan setelah makan siang. Yoora kembali mengajak Baekhyun untuk saling berbicara, dengan mendengar Luhan dan Tao yang ikut dalam obrolan mereka kini Baekhyun mulai bisa mengikuti sesi pembicaraan di ruang makan.

"Baekhyun! Ku dengar kau suka menggangu Kris saat latihan memanah." Baekhyun seketika menoleh kearah Sehun yang dari tempatnya berteriak.

"Kau mau menantangnya?" Luhan yang menyahut dengan wajah tak suka.

"Aku bertanya pada Baekhyun bukan gadis bernama Luhan!"

"Sudahlah, kalian bisa saling menunjukkan kekuatan besok." Yoora menengahi dengan suaranya anggunnya. Mendengar jawaban itu Sehun kembali bergabung dengan obrolan para Putera Mahkota lainnya.

"Baekhyun, kau bisa berenang?" Luhan tiba-tiba bersuara lagi. "Kita bisa bermain di pantai setelah ini, bagaimana?" Luhan meyakinkan ke yang lain.

"Hm.. apakah pantainya dalam? Aku takut dengan air laut yang gelap." Penjelasan Baekhyun mendapat sorotan dari Tao dan Yoora.

"Kau memiliki ketakutan seperti itu?"Yoora yang bertanya langsung.

"Ketakutanmu aneh sekali." Nada suara Tao terdengar mengejek.

Baekhyun menganggukkan kepala meyakinkan kepada mereka bahwa ya memang dia memiliki ketakutan dengan air laut yang berwarna gelap, ia menjelaskan hanya berenang di siang hari dan kemudian engan untuk berada lebih jauh dari pantai.

"Huaa.. sedikit menarik." Luhan menyahut. "Kau memiliki ketakutan apa lagi. Aku harus mengetahuinya karena kita sekamar ?"

Baekhyun sedikit berpikir dengan menggigit bibir mungilnya. "Aku takut akan petir dan hujan di malam hari. Aku takut kegelapan."

"Berarti Jongdae tidak bisa mendekatinya." Suara Jongin terdengar dan beberapa tawa dari Krsi dan Sehun, sedangkan Chanyeol yang sedari tadi ikut mendengarkan pembicaraan para Puteri Mahkota hanya menatap sosok Baekhyun yang menoleh kearahnya dengan wajah polosnya.

"Jongdae memiliki kekuatan untuk mengontrol petir." Luhan menjelaskan. "Sepeti Dewa Zeus. Sedangkan aku mempunyai kekuatan ini." Luhan mengarahkan tangannya keatas dan menatap sebuh gelas yang berada di dekat Sehun. Gelas itu naik bergerak keatas dan memutar tepat diatas kepala Sehun dan jatuh mengenainya. Baekhyun sedikit kaget setelah melihat apa yang Luhan lakukan, sedangkan yang lain tertawa terbahak-bahak melihat rambut Sehun sudah basah karena air yang tumpah dari gelas itu.

Namun seketika angin bergerak didalam ruangan makan tersebut, berputar membuat Luhan yang masih duduk pada kursinya ikut berputar hingga hampir terangkat menuju langit-langit atas ruangan tersebut. Tanpa suara ataupun larang tiba-tiba angin tersebut berhenti dan Jongin menggunakkan kekuatannya untuk menangkap badan Luhan yang jatuh bebas kebawah. Smua mata tertuju pada Sehun yang kini meringis karena tangannya yang digenggam oleh Chanyeol terbakar oleh api disekelilingnya.

"Chan.. ampun ini panas! Kakak!" Sehun meringis kesakitan setelahnya api yang berada pada tangan Chanyeol meredup, sebelah matanya yang berwarna merah darah kini sudah berubah kembali menjadi biru muda. Tatapannya masih sama, dingin.

"Jadi.. itulah kekuatan yang kami bertiga miliki" Luhan yang sudah kembali duduk di kursinya berkomentar sambil merapikan tatanan rambut dan gaunnya yang sempat rusak karena putaran angin yang Sehun berikan.

"Lalu bagaimana dengan kekekuatanmu?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Tao membuat semua mata bergerak kearah Baekhyun, bahkan kakaknya sendiri kini melihat kearah adiknyan yang mulai bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan itu.

Baru saja mulut Baekhyun bergerak akan menjawab, Tao lebih dulu berkomentar. "Kau belum tahu kekuatanmu apa? Aku juga seperti itu. Tenang saja!"

"Yoora mengatakan aku akan memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu. Ah! Yoora, apakah kau bisa melihat kekuatan yang akan dimiliki Baekhyun?" Tao masih melanjutkan kalimatnya dan kini mencoba merayu Yoora untuk melihat masa depan Baekhyun.

"Ah betul—

"Aku tidak bisa." Belum selesai Luhan ikut bicara, Yoora sudah memberikan jawaban masih dengan suara lembutnya. "Baekhyun tidak mengijinkan aku untuk melihat lebih dalam tentang dirinya." Yoora memberikan senyuman dan kedipan mata kepada Baekhyun untuk menenangkan.

Setelah pembicaraan itu, semua kembali pada urusan masing-masing. Kris dan Chanyeol yang terlibat pembicaraan serius bahkan mereka kini berbicara menggunakkan bahasa Olympus tanpa memperdulikan orang lain di sekitarnya. Sehun, Jongin dan Jongdae asyik dengan portable games yang mereka bawa. Luhan dan Tao memperebutkan pudding yang masih berada di dekatnya sedangkan Baekhyun masih berusaha menghabiskan makanan yang berada di atas piringnya dengan Yoora yang berusaha membuka topik pembicaraan dengannya. Hingga beberapa saat kemudian beberapa dari mereka memutuskan untuk beranjak dari ruang makan dan kembali ke kamar untuk beristirahat. Kris mengajak Baekhyun berjalan bersama, memastikan adiknya untuk istirahat dan tidak memiliki niatan untuk berkeliling Eowyn tanpa ijin darinya.

"Masuklah. Jangan coba-coba untuk pergi tanpa ijin dariku." Sekali lagi Kris mengingatkan.

"Hm, aku memang merasa lelah." Baekhyun menganggukkan kepala dan masuk kedalam kamarnya.