Dahulu dunia terasa damai dan indah, Sang Pencipta merasa bahagia karena semua mahluk ciptaannya berada pada tempat yang tepat yaitu, Bumi.

Para Dewa dan Dewi menjadi penguasa langit sebagai jembatan antara dunia Manusia dan Malaikat Pencipta, sedangkan dibawah dunia Manusia terdapat kekosongan dunia yang hanya diisi oleh panasnya api dan ruang hampa. Tidak ada sebutan Neraka, hanya ada surga dan taman dunia. Kedua mahluk yang diciptakan dengan rupawan menjadi contoh ciptaan yang sangat indah, bagaimana tubuh mereka berproporsional dan juga rupawan, tidak ada kecemburuan dari setiap wajah yang terbentuk karena memang semua terlihat indah dengan seperti seharusnya.

Sang Pencipta tidak pernah memiliki ide untuk membuat lawan dari dunia yang sudah ia ciptakan begitu damai dan indah ini, semua terjadi karena adanya nafsu dan emosi yang tidak terbendung dari salah satu Dewa yang ia ciptakan, Kronos. Dewa yang ia ciptakan sebelum Zeus, salah satu Dewa terkuat yang sebanding dengan Dewa Zeus, merasakan rasa iri dan cemburu yang entah didapat darimana karena hanya ia yang merasakan semua itu. Meneriakkan kalimat perang kepada saudara dan saudarinya untuk memastikan siapa yang seharusnya diakui sebagai Dewa Terkuat yang memimpin Kerajaan mereka.

Perang saudara terjadi di atas langit, sedangkan manusia yang berada jauh dibawahnya hanya dapat mengatakan bahwa siapaun yang memenangkan peperangan itu berharap Dewa-dewi tetap mengakui keberadaan mereka di dunia manusia.

Berbeda dengan dunia surga yang berusaha membantu dengan mengirimkan malaikat kepercayaannya. Mikael, Lucifer, Gabriel dan Rafael turun dengan membawa pasukan tentara surge membantu Para Dewa-dewi melawan kekuatan Kronos, dan terjadilah hal yang sangat mengejutkan karena saat itu Lucifer berhasil tergoda dengan tawaran yang Kronos janjikan padanya. Menguasai semua dunia dan menjadi pemimpin Kerajaan, menggunakkan kekuatan mereka berdua menjadi pemimpin yang tidak terkalahkan.

Lucifer bergabung, dan menerima Rhea sebagai hadiahnya. Sang Pencipta memberikan hadiah atas keputusan salah satu malaikat kesayangannya. Pintu bawah bumi yang terisi oleh api panas dan siksaan serta jiwa-jiwa yang telah dibuang oleh Pencipta. Kerajaan Kronos diluluhlantahkan, Kronos lenyap dihadapan semua yang berada di medan perang, Kronos yang percaya kekuatannya sangat hebat dibandingkan siapapun harus menerima kekuatan yang lebih dahsyat dari penciptanya. Dihadapan Istrinya, Rhea, Kronos lenyap dengan api yang dilemparkan langsung dihadapannya. Kronos yang tersisa hanya sebuah nama dan abu.

Kerajaan mereka hancur. Jentikkan jari Sang Pencipta meratakan semuanya.

Rhea dan Lucifer menerima hadiah dari Sang Pencipta, menjalani kehidupan di bawah bumi. Tinggal bersama jiwa-jiwa terbuang, jeritan tangisan dan suara merintih meminta tolong menghiasai hari-hari mereka disana.

Rhea menyerah.

Ia memohon pada Sang Pencipta, memohon pada Zeus untuk membebaskannya. Tidak ada jawaban.

Athena mendengar permintaan Rhea, Hera sang Ibu yang mengetahui berita itu memohon pada Zeus untuk mengabulkan permintaan Rhea. Kematian.

Lucifer semakin geram mengetahui bahwa Zeus mengambil nyawa Rhea sebagai kebebasannya dan memberikan Hades, anak yang dikandung Rhea kepada Lucifer. Kemarahan itu membawa dendam, pernyataan Lucifer bahwa setiap Keturunan Zeus akan dibunuh dengan tangan dan kekuatannya sendiri.

Itulah awal mula peperangan dengan Hades terjadi.

Sesuai janjinya, setiap keturunan manusia dengan Dewa dan Malaikat, Lucifer akan memburunya. Hades yang sudah beranjak dewasa ikut menanamkan dendam atas kematian Ibunya dan mengikuti jejak ayahnya memburu setiap keturunan mereka. Perang kembali berlanjut.

Olympus tidak tinggal diam, Zeus memberikan setiap anugerah kekuatannya kepada setiap Keturunan yang terpilih untuk dapat memimpin peperangan dan mengalahkan Lucifer dan Hades, semakin banyak keturunan yang dihasilkan semakin banyak kekuatan yang tercipta namun belum dapat mengalahkan mereka berdua.

Sang Pencipta kembali turun tangan dan memenjarakan Lucifer, setiap darah yang dibunuh olehnya akan menjadi penjara baginya dan tenggelam dalam lautan api bumi, sedangkan Hades berhasil kabur dan masuk kedunia manusia. Memanipulasi pikiran manusia dan membuat dunia semakin kejam dan brutal. Sang Pencipta kembali murka, amarahnya membuat keputusan akan memusnahkan seluruh isi dunia manusia hingga Hades bisa ikut musnah didalamnya.

Tidak adil.

Zeus memberikan janjinya pada Sang Pencipta, memohon kekuatan yang dapat mengalahkan Hades dan semua pengikutnya, membiarkan dunianya yang melawan kekuatan Hades tanpa ada pertolongan dari Sang Pencipta, saat itulah Hera memohon untuk menyatukan ketiga dunia dan memberikan kekuatan yang tak terkalahkan kepada setiap Keturunan yang terpilih.

Kekuatan dari Sang Pencipta dan kekuatan Zeus, akan dianugerahkan kepada salah satu Keturunan yang ditakdirkan oleh Sang Pencipta.

Cahaya Abadi dan Api Bumi.

Zeus memberikan Cahaya Abadi dari Tongkat Petirnya, penggabungan antara Cahaya matahari, bulan dan kilatan petir di siang hari saat itu memberikan dampak kekuatan yang sangat dahsyat. Olympus dan dunia manusia bergetar hebat, kilatan itu terpecah dan kemudia membentuk alur yang bergerak membentuk bulatan perisai. Semua para Dewa dan Dewi yang menyaksikan kejadian itu ikut menyalurkan setiap kekuatannya menuju pada Perisai yang telah terbentuk, membacakan doa dan kepercayaan dimana menguatkan bahwa kekuatan itu akan mengalahkan segala ancaman Hades.

Sang Pencipta melakukan hal sama , ia menarik api dari bawah Bumi. Meneriakkan bahwa api dimana Hades berada akan menjadi kelemahannya dan kehancuran tersendiri baginya, Semua malaikat meniupkan sangkakala hingga api yang terbuat semakin besar dan terbentuk seekor burung Phoenix pada kobaran api tersebut. Mereka semua merasa kagum dengan penglihatan yang mereka lihat, sebuah cahaya perisai dari Zeus dan Api Phoenix dari Sang Pencipta. Satu hal yang tidak pernah diketahui, saat kekuatan itu bergabung, Cahay silau menutupi semua pandangan, memancarkan kekuatannya hingga semua mata terpejam dan tidak mampu untuk melihat kedahsyatan gabungan kekuatan itu.

Aneh.

Hingga saat itu Yixing, sang Peramal mengatakan kekuatan itu akan tiba pada saatnya. Kekuatan itu sendiri yang akan memilih dimana ia akan berada.


-Loves of Tales-


"Saat hal itu terjadi.."

"Kekuatan Cahaya sudah berada bersama kita di Eowyn."

Kalimat yang Chanyeol ucapkan di hari pertama mereka latihan masih memenuhi pikirannya sendiri, ia masih mengingat jelas bagaimana rasanya melihat seseorang dihadapannya memanggil namanya, merasakan kesedihan yang dirasakan yang meratapi bagaimana ia akan meninggal saat itu.

Matanya terpejam ketika mengingat dengan jelas, bahwa mereka berdua meninggal bersama, disini. Di tanah Eowyn. Kerajaan yang akan hancur karena ia gagal melindungi setiap orang yang berada didekatnya.

"Kini aku akan mengakuinya." Suara wanita terdengar dari belakangnya. Itu suara Yixing.

Seorang Peramal yang tidak dianugerahi kehidupan abadi dan juga kekuatannya sebagai penyembuh, peramal yang sudah melalui masa-masa perang sejak awal. Peramal yang menyaksikan langsung bagaimana kekuatan maha dahsyat itu terbentuk, dan kini ia berdiri melihat seseorang yang memiliki kekuatan Api Bumi.

"Kau memang tampan."

Chanyeol menggelengkan kepala dan berdecak sedikit tertawa mendengarnya.

"Tidak perlu mengakui perasaanmu, kau sendiri pun tahu aku tidak membalas cintamu." Chanyeol melemparkan pernyataan dan membuat berhasil membuat Yixing memutar kedua bola matanya.

"Maaf Putera Mahkota, aku tidak tertarik denganmu." Yixing berjalan mendekat dan mengikuti apa yang Chanyeol lakukan, menyanggah kepalanya dengan kedua tangannya dan menikmati pemandangan matahari tenggelam dari Balkon Tower Istana. "Well, kau pintar mencari tempat untuk menikmati sunset."

"Your Welcome."

"Aku tidak mengucapkan terima kasih."

"Kalimat yang kau ucapkan aku anggap sebagai itu."

"Yaa—

"Diamlah, sebentar lagi saatnya." Chanyeol memotong kalimat Yixing dengan pandangannya tertuju pada pergerakan matahari yang kini mulai masuk kedalam batas horizon langit, sedikit demi sedikit terlihat bagaimana seolah-olah laut menelan bagian-bagian matahari untuk masuk kedalam dan mulai terpecah didalam air, warna jingga dan merah bercampur dengan warna laut yang gelap. Yixing sudah paham bagaimana sifat Chanyeol, mengenalnya sejak lahir hingga ia tumbuh saat ini seakan-akan Yixing adalah kakak yang tidak sedarah dengannya, Chanyeol merasa nyaman saat berada bersama Yixing begitupun sebaliknya.

Terlebih saat Yixing mengetahui bahwa Chanyeol pemegang kekuatan Api Bumi, ia dan Yoora semakin berusaha berada di dekatnya. Membantu memberi pemahaman dan penjelasan kepada Chanyeol untuk percaya dan yakin bahwa ia memang terpilih karena ia bisa dan pantas mendapatkan kekuatan itu.

Yixing masih memandang wajah Chanyeol yang masih melihat kearah pemandangan matahari yang sudah hampir terbenam sepenuhnya. "Kau memandang sunset seakan-akan memandang wajah kekasihmu." Yixing berkomentar, Chanyeol hanya menarik senyum dan belum menoleh kearahnya.

"Dia selalu muncul dalam mimpiku seperti itu. Bila dalam mimpiku saat itu sedang sunrise, cahaya yang menutupi sama seperti cahaya sunrise di pagi hari." Yixing tertegun. Chanyeol tersenyum bahagia, dan itu membuat perasaanya sangat senang karena melihat senyum yang merekah dari seorang Putra Mahkota Glorfindel. "Dan bila saat itu sedang sunset, cahaya pada dirinya akan sama dengan cahaya sunset." Yixing masih mendengarkan namun pandangannya masih terpaku pada wajah Chanyeol yang berbinar-binar.

Keheningan sempat terjadi sesaat Chanyeol selesai menjelaskan bagaimana penglihatannya mengenai pemegang kekuatan Cahaya Abadi yang selalu datang dalam mimpinya setelah ia mendapatkan kekuatan Api Bumi. Awalnya ia merasa terganggu, namun setelah hari demi hari dan seterusnya ia merasakan kenyamanan dengan sosok itu, entah bagaimana caranya mimpinya akan selalu membuat rasa ingin tahu Chanyeol lebih besar untuk bertemu dengan sosok itu.

"Kau ingin bertemu dengannya?"

Chanyeol memandang Yixing.

...

"Yixing.."

"Ya?"

"Pertemukan aku dengan dia."

Senyum Yixing semakin tertarik dan melebar pada wajahnya. Ia tersenyum memandang langit dan memejamkan matanya. "Dia?" Yixing bertanya.

"Ya, dia."

"Aku bukan biro jodoh Putera Mahkota.. dan. Yang kau maksudkan dengan dia.. gadis sedari tadi yang kau perhatikan, atau gadis dalam mimpimu?" Yixing menepuk bahu Chanyeol dan melangkah pergi.

"Nikmati pemandanganmu."

Chanyeol kembali memandang pemandangan didepannya dan kembali tersenyum lebar. Bukan karena pemandangan sunset, tidak bukan itu. Ada pemandangan lain yang ia lihat, sejak awal. Sosok perempuan mungil yang sangat fokus mencoba berjalan dengan dengan langkah anggun dengan tumpukkan buku diatas kepalanya. Wajahnya sangat polos, benar-benar terlihat seperti anak umur 12 tahun.

Tak henti-hentinya Chanyeol kembali memandangi ia yang kini sudah berlari kencang dengan busur panah di tangannya. Chanyeol kembali memperhatikan dan mulai fokus kearah dia dan yang lainnya berada. Gadis itu sudah menghilang dan menyisakan Luhan yang menyiram Sehun dengan air tanah, Jongin yang tak henti-hentinya tertawa dan yang lainnya bersorak-sorak melihat kejadian itu.

Yoora yang berada dikamarnya saat ini ikut tersenyum meihat apa saja yang telah dilakukan oleh Chanyeol, dan mendengar apa yang baru saja dikatakan Chanyeol, ya ia menggunakkan kekuatannya untuk mengetahui segala pembicaraan dan pemikiran yang Chanyeol lakukan. Well, dengan atau tanpa sepengetahuan Chanyeol, Yoora dapat dengan bebas masuk kedalam pikiran Chanyeol dan melihat secara jelas apa yang terjadi. Dan saat ini adalah saat-saat yang Yoora dan Yixing nantikan, keinginan Chanyeol untuk mencari pemilik Cahaya Abadi akan membantu kekuatan itu terlihat dan menunjukkan siapa pemilik kekuatan sebenarnya.

Yoora baru saja memutuskan akan menutup penglihatannya dan kembali bergabung dengan para Puteri Mahkota yang saat ini sedang belajar, namun semua itu terhenti karena ia melihat bagaimana pandangan untuk hari kedepannya dimana saat itu mereka sama-sama berlatih kembali namun kali ini Chanyeol melatih kekuatannya bersama Sehun dan Jongin. Seperti biasa mereka akan sama-sama bercanda hingga beberapa saat kemudian seseorang meringis kesakitan. Chanyeol berlari menuju sosok itu dengan raut wajah khawatir.

Bunyi ketukan pintu membuyarkan pandangan itu dan disana terlihat Baekhyun dengan pakaian terusan yang ia gunakkan berwarna biru muda yang sedikit kotor, masuk memandang Yoora dan duduk disampingnya.

"Yoora-na.." suara Baekhyun terdengar sangat pelan dan takut-takut untuk melanjutkan kalimatnya. Tangan hendak merangkul namun masih tertahan, Yoora tak kuasa menahan senyumnya dan kemudian memandang Baekhyun.

"Bagaimana belajarnya?" Yoora bertanya lebih dulu.

"E-eoh? A-aahh.. itu—

"BAEKHYUN!" Suara Kris terdengar dari arah pintu, dan dengan cepat Baekhyun berlutut dan menuju kolong tempat tidur dengan cepat.

"Oh! Yoora?" Kris sudah masuk kedalam kamar dan melihat Yoora seornag diri berada duduk diranjangnya.

"O-oh.."

"Sudah lebih baik?" Kris berjalan menghampiri Yoora.

"Hm, sudah lebih baik. Kenapa kau berteriak memanggil nama adikmu?" Yoora bertanya.

"Aaaaahhh.. itu. Ya.. hanya urusan kakak adik." Kris mengelak untuk menjelaskan namun Yoora sudah memegang tangannya dan melakukan penglihatan pada pikiran Kris.

"Kriiiisssssss!" Suara Sehun berteriak.

"Yaaa Kriiisss!" kali ini Jongin ikut berteriak dengan suara tawa setelahnya.

Kris saat itu baru saja selesai membersihkan diri dan kemudian keluar dari kamar mandi, pemandangan yang ia dapatka adalah wajah Sehun yang marah, tubuhnya basah dengan air tanah, serta membawa busur panah dan anak panah ditangannya. Jongin yang berdiri tidak jauh dari Sehun hanya bisa menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan kepalan tangan.

"A-apa yang terjadi padamu hah?" Kris menatap jijik. "Cepatlah mandi! Jorok sekali!"

"Yaaaaaa! Kau tahu siapa yang membuatku seperti ini?" Sehun berteriak meluapkan emosinya.

Kris hanya menggeleng kepala dan berlalu menuju ranjangnya. "Cepat mandi sebelum Yoora dan Chanyeol melihatmu!"

Sehun mendengus kesal dan membuang busur panah itu kelantai.

"Ini ulah adikmu!" Sehun menunjukkan anak panahnya dekat dengan wajah Kris yang membelangak mendengar kalimat yang Sehun ucapkan.

"A-a-apa maksudmu?"

"Baekhyun melakukan ini padaku!" kini sisi anak-anak pada Sehun mulai terlihat, kakinya dihentak-hentakkan dan rengekkannya terdengar menjelaskan kejadian yang menimpanya barusan. Saat itu ia menggoda Luhan dan Tao yang duduk di taman dengan memegang kedua buku, sedangkan Baekhyun sedang berlatih berjalan pada seutas tali yang berada di tanah, kakinya melangkah menyilang, sedangkan di kepalanya terdapat tumpukkan tiga buku. Sehun menunggu giliran Luhan yang berlatih, ia sudah menyiapkan perlengkapan memanahnya dan mulai membidik Luhan dengan anak panahnya, menunggu saat giliran Luhan untuk berlatih. Tepat saat Luhan mulai berjalan dengan tumpukan buku-buku, Sehun melepaskan anak panahnya dan membuat buku-buku itu berserakan jatuh ke tanah.

Sehun tidak bisa berhenti tertawa karenanya, Luhan harus mencoba ulang untuk kembali berjalan, semakin ia mencoba Sehun tetap membidik buku-buku itu dan membuatnya jatuh.

"Ya! Kenapa kau mengganggunya!" Baekhyun bertolak pinggang menutupi pandangannya.

"Kenapa memang! Bukan urusanmu!" Sehun membalas dengan berteriak.

"Ish! Luhannie sedang latihan!" Baekhyun ikut berteriak.

"HAHAHAHAH! Luhannie? Nama panggilan apa itu?" Sehun tertawa keras.

"Ck!"

"Kaian baru berkenalan, sudah memiliki nama panggilan sayang.. wuah wuah.. ternyata—

"APAA?" Baekhyun memotong dan menantang kepada Sehun.

"Easy girll.."

"SEHHUUNNN!" kali ini teriakan Luhan. "Yak! Kau apakan Baekhyun?"

"Sehun mengganggumu." Baekhyun menjelaskan dan menunjuk perlengkapan memanah yang berada di tangan Sehun.

"Ckck! Baru bisa memanah sekali saja kau sudah sombong hm?" Luhan meremehkan Sehun.

"Apa maksudmu hah? Aku bisa memanah dengan target sejauh apapun!"

"Tak usah bermimpi Sehun.. kau tidak seperti Jongin dan Chanyeol. Cukup manfaatkan kekuatanmu saja, tidak usah berlebihan." Luhan menepuk-nepuk bahu Sehun dengan tatapan mengasihaninya.

"Oke kita akan coba! Dan kau sebagai korbannya!" Sehun menunjuk kening Luhan dengan telunjuk dan mendorongnya untuk mundur menjauh darinya. "Kita akan bermain. Luhan akan berdiri entah dimana letaknya, dan kita harus membidik buku yang ada diatas kepalanya. Simple bukan."

"Oke. Bagaimana kalau kau kalah?" Baekhyun menjawab santai.

"Hah.. kau terlalu percaya diri nona muda." Sehun mengusak rambut Baekhyun, namun tatapan yang Baekhyun berikan seolah-olah meminta jawaban dari pertanyaan yang ia tanyakkan sebelumnya. "Oke oke.. kalau aku kalah.. Luhan bisa menyiksaku sepuasnya.. dan.. bila KAU KALAH.. aku bisa menyiksamu sepuasnya." Penekanan dari kalimat yang Sehun katakan tidak membuat Baekhyun takut ataupun merasa down, ia semakin mendongakkan kepalanya kearah Sehun dan memandang dingin, tatapannya berubah. Bukan Baekhyun yang dikenal ceria dan seperti anak kecil, tatapan kali ini seakan-akan ia siap menyerang siapapun yang ada di hadapannya.

"Go on." Baekhyun berbisik dekat telinga Sehun, dan itu berhasil membuat Sehun bergidik ngeri. Perasaan ini sama seperti Chanyeol yang selalu mengintimidasinya, seakan-akan suaranya adalah ancaman dengan nyawanya sendiri sebagai taruhan.

"Luhannie.. berjalanlah cukup jauh.. hingga aku tidak bisa melihat tumpukan bukumu." Baekhyun berteriak pada Luhan.

"Kau yakin?" Luhan membalasnnya.

"Iya. Sangat yakin."

Luhan dan Tao saling menatap dan akhirnya berjalan menjauhi Sehun dan Baekhyun, Kyungsoo ikut dengan mereka dan membawa beberapa buku untuk diletakkan diatas kepala Luhan.

"Apa kau yakin mengenai ini?"

"Ikuti saja keinginan mereka berdua."Luhan berbisik membalas pertanyaan Tao.

Luhan memilih berdiri tepat dibawah pohon yang berada dengan jarak yang lumayan cukup jauh denagn posisi Baekhyun dan Sehun. Jongin dan Jongdae terlihat mulai mendekat kearah mereka berdua, Kyungsoo mulai meletakkan buku-buku diatas kepala Luhan dan kemudian mereka berteriak kearah Sehun dan Baekhyun bahwa Luhan sudah siap.

"BILA PANAH KALIAN MENGENAI KEPALAKU AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN BERDUA!" Teriakan Luhan terdengar sedikit menakutkan, Baekhyun hanya terdiam sedangkan Sehun mendengus meremehkan teriakan Luhan.

Sehun mengambil kesempatan pertama, ia menarik busur panah dengan sekuat tenaga. Matanya semakin terfokus pada jarak pandang melihat kearah Luhan, dan dengan cepat ia melepas busur panahnya. Anak panah nya bergerak cepat menuju kearah Luhan berdiri dan menancap padabatang pohon diatas kepala dan tumpukan buku-buku.

Sehun gagal.

"Well, mungkin matamu teralihkan oleh wajah Luhan yang merasa takut." Sindiran dari Baekhyun terdengar dengan suaranya yang sama saa beberapa waktu lalu. Dingin dan sangat mengintimidasi.

Baekhyun mengambil busur panah yang lain, ia mulai mempersiapkan anak panahnya. Matanya menatap tajam kearah Luhan dan mulai menarik tali busurnya, Sehun memandang diam kearah Baekhyun, bukan karena takut. Bukan.

Alasannya adalah.. mata Baekhyun terlihat bercahaya, wajahnya lebih putih dan symbol pada keningnya terlihat. Baekhyun tersenyum melihat jauh kearah Luhan, tangan mungilnya dengan sekuat tenaga menarik tali busur dan membebaskan anak panah itu untuk bergerak cepat menuju target yang sudah ia bidik.

Tepat.

Ujung anak panah itu dengan tepat menusuk sampul buku tebal yang berada pada urutan kedua di tumpukan atas kepala Luhan. Tao dan Kyungsoo melihat berulang kali kearah Baekhyun dan anak panah itu.

Tidak ada komentar.

Bahkan Sehun menjatuhkan busur panahnya dan melihat kearah Baekhyun yang kini sudah kembali menjadi dirinya seperti anak kecil, senyumnya melebar dan matanya berbinar-binar karena bahagia, kakinya melompta-lompat dan kemudian berlari menuju aliran sungai, mengambil salah satu tempat air yang digunakkan untuk menyiram rumput dan bunga-bunga, ia mengganti air tersebut dengan air sungai dan kemudian mencampurkan dengan sedikit tanah. Baekhyun dengan semangat berlari kembali dan menyiramkan air tersebut kearah Sehun.

"Rasakan!" suaranya terdengar nyaring dan tawanya pecah.

Jongin dan Jongdae hanya bisa menyaksikan kejadian itu tanpa mau ikut campur, apalagi setelah Sehun berteriak marah karena Baekhyun menyiramnya, dan kini Luhan dan Tao mulai mengikuti apa yang Baekhyun lakukan dan setelahnya Baekhyun berlari kencang menghindari amukan Sehun padanya.

"Yoora.." Suara Kris yang sudah memanggilnya berkali-kali baru terdengar olehnya dan kini tersneyum lebar memandang Kris yang panik dengan tangan yang memegang wajahnya menepuk-nepuk pipinya.

"Apa yang kau lihat? Apa ada masalah lagi? Apa ada masalah dengan Kerajaan—

"Yaa~ bukan itu." Yoora mengempaskan tangan Kris, ia masih tertawa mengingat apa yng ia lihat dengan kejadian antara Sehun dan Baekhyun tadi. Sedangkan saat ini dihadapannya Kris masih khwatir melihat kearahnya.

"Aku serius."

"Menurutmu aku tidak?"

"Lalu apa yang kau lihat."

"Kejadian Sehun dan Baekhyun." Kris mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Yoora.

"Tanpa seijinku?"

"Hm. itu tidak sengaja." Yoora memamerkan deretan giginya tersenyum kearah Kris dan memberikan symbol peace dengan tangannya.

"Ehm ehm." Suara lain terdengar dari arah pintu, Kris dan Yoora bersamaan emnoleh dan melihat Chanyeol berdiri disana dengan tangan tersilang didepan dadanya. "Jangan melihatku seperti itu, akau tidak menuduh kalian tengah bermesraan berdua di kamar ini."

Yoora mencibir kearah Chanyeol, ia sudah sering melihat Chanyeol selalu berusaha menjodohkan dirinya bersama Kris. Walaupun memang keputusan itu awalnya berasal dari orang tua mereka yang menginginkan Yoora akan menjadi istri seorang Putera Mahkota Lynkestis, namun rencana itu hanya sebuah rencana karena keadaan belakangan ini tidak bisa difokuskan oleh perjodohan anak-anak mereka. Ada hal yang lebih serius untuk dipikirkan.

"Aku butuh bantuanmu menenangkan Sehun." Chanyeol menunjuk keluar dimana terdengar suara Sehun dan Jongin. "Sebelum Luhan dan yang lainnya datang..kau tahu maksudku bukan?" Chanyeol menatap dalam kearah Yoora, Kris menepuk-nepuk bahu Yoora dan melangkah keluar lebih dulu.

"Kalau kau bertemu adikku. Segera beritahu." Bisikan pada telinga Chanyeol yang Kris lakukan sebelum benar-benar melangkah keluar mendapat anggukkan darinya. Yoora masih bertahan pada posisinya, ia bermaksud membiarkan Baekhyun untuk bisa keluar dari persembunyiannya, namun Chanyeol masih menunggunya didepan pintu kamar, mau tidak mau ia melangkah keluar menyusul Kris.

Satu hal yang mereka berdua tidak ketahui, Chanyeol mengetahui bahwa Baekhyun berada di kamar tersebut. Bukan dari telepati yang Yoora lakukan, bukan. Entah darimana perasaan yang ia dapatkan, Chanyeol tahu Baekhyun bersembunyi di kamar tersebut.

"Keluarlah." Chanyeol mengatakannya dengan nada yang lembut namun penuh penekanan.

Tidak ada jawaban, tidak ada suara apapun yang terdengar.

"Tidak mau keluar?" sekali lagi Chanyeol bertanya.

Belum terdengar jawaban juga.

Chanyeol melangkah masuk dan mengunci pintu kamar tersebut terlebih dahulu, ia tidak mau Baekhyun kembali kabur nantinya. Langkahnya ia bawa secara pelan-pelan, badannya membungkuk untuk melihat ke bawah ranjang yang berada di dalam kamar tersebut, langkahnya terhenti pada ranjang yang berada paling ujung, badannya semakin membungkuk dan melihat badan mungil itu sudah meringkuk dengan dengkuran halus yang terdengar. Chanyeol tidak bisa menahan tawanya, ia menggelengkan kepalanya dan menahan suara tawa dari mulutnya dengan membungkan dengan punggung tangannya sendiri.

Seharusnya Chanyeol bisa meninggalkan badan Baekhyun yang tertidur di bawah ranjang penuh debu itu dan membiarkan sosok mungil itu bangun sendiri nantinya, tapi tidak. Chanyeol dengan susah payah membawa tangan dan badannya untuk menjemput badan mungil yang sudah tertidr pula situ, membawanya dalam gendongannya dan membaringkan pada ranjangnya, ya Chanyeol dengan cepat mengetahui dimana ranjang gadis kecil itu karena melihat satu-satunya ranjang yang sedikit berantakan tidak seperti ranjang lainnya yang rapi.

Ia membaringkan Baekhyun dengan hati-hati, bahkan menyelimutinya dan membersihkan tangan-tangannya yang menempel sedikit debu. Dan lihatlah bagaimana wajah Chanyeol, tidak berhenti tersenyum melakukannya, tangannya mulai mengarah pada wajah gadis itu yang benar-benar terlihat damai di posisi tidurnya, tangannya membelai pipi mulus Baekhyun dengan lembut dan merapikan sirai rambutnya yang menutupi bagian matanya yang terpejam.

Chanyeol beranjak pelan-pelan dari sisi tempat tidurnya, tapi ia tidak tahu bahwa kini Baekhyun mengaitkan tangannya dan membawanya dalam dekapan seolah-olah tangan kekar itu adalah guling kecilnya. Chanyeol menatap Baekhyun dan merasakan bagaimana sentuhan dari gadis itu berhasil membuat jantungnya berdetak tak beraturan. Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu. Bukannya berusaha melepaskan tangannya dari dekapan Baekhyun, justru Chanyeol membiarkan hal itu, bahkan ia rela dengan susah payah berlutut di samping ranjang sedangkan matanya hanya melihat sosok Baekhyun yang masih terlelap tidur.


-Loves of Tales-


"Kurang lebih bentuk simbol yang berada pada kening Baekhyun saat itu adalah seperti ini." Zhoumi memberikan kertas yang bergambarkan simbol tersebut pada Yixing. "Baekhyun belum mendapatkan kekuatannya, dan seperti yang Yoora jelaskan sebelumnya. Mungkin Baekhyun memiliki kekuatan perisai."

Yixing menerima kertas itu dan mempelajarinya.

"Tapi ini bukan simbol untuk kekuataan perisai."

Yunho dan Zhoum terdiam.

"Ini seperti simbol krystal air, bahkan menyerupai bentuk bintang." Yixing menjelaskan dan memperlihatkan kepada mereka berdua.

"Apakah itu ada hubungannya dengan kekuatan yang akan Baekhyun dapatkan?" kini Yoora yang bertanya.

"Ya bisa saja." Yixing menjawab yakin. "Seperti Chanyeol, memiliki simbol phoenix pada tangannya. Atau Kris yang memiliki simbol naga di belakang lehernya, terkadang simbol itu menjelaskan kekuatan yang dimiliki mereka masing-masing. Hanya saja tidak semuanya terlihat jelas pada tubuh mereka."

"Lalu apa kekuatan Baekhyun." Akhirnya Yunho bersuara.

Yixing terdiam sebentar, meletakkan kertas itu pada meja dihadapan mereka. "Aku tidak bisa meramalkan setiap kekuatan yang akan dimiliki oleh semua keturunan Kerajaan. Maafkan aku Yang Mulia, hanya saja mungkin.. bila kekuatan Baekhyun mulai terlihat, aku bisa merasakannya. Saat itu tiba." Yixing memberikan jawaban pada Yunho dengan tenang. Ia tahu kedua orang tersebut sangat ingin tahu apa rahasia dibalik simbol dan perubahan yang terjadi pada Baekhyun di hari mereka latihan bersama hari ini, tapi ia memang tidak memiliki jawaban atas apa yang terjadi.

"Apa pendapatmu mengenai penglihatan Yoora?"

Yixing masih terdiam mendegar pertanyaan yang Yunho ucapkan kearahnya.

"Apakah kau juga meramalkan hal yang sama?" kali ini pertanyaan dari Zhoumi.

Yixing masih terdiam.

Yoora, Yunho dan Zhoumi masih duduk pada tempatnya menunggu jawaban dari Yixing yang saat ini berdiri di dekat jendela dan memandang langit malam diatas Eowyn.

"Penglihatan Yoora mungkin hanya sebuah peringatan." Yixing akhirnya menjawab dan membalikkan badannya untuk melihat kearah mereka bertiga yang terduduk disana. "Peringatan untuk kita bahwa Hades mengetahui posisi kita saat ini disini, bersembunyi di Eowyn."

"Apa kita harus berpindah lagi?" Zhoumi kembali bertanya sesaat Yixing terdiam selesai menjelaskan.

"Itu tidak perlu Yang Mulia." Yixing menjawab dengan cepat. "Kejadian itu masih lama akan terjadi.. pada penglihatan Yoora terlihat bahwa pemegang kekuatan Cahaya abadi sudah bergabung bersama kita di Eowyn." Yixing melihat kearah Yoora. "Bahkan saat ini kita belum mengetahui pemiliki kekuatan Cahaya abadi itu siapa."

Mereka terdiam.

"Melihat dari penglihatan yang Yoora dapatkan, kejadian itu masih cukup lama."

"Bisakah kita mengubah takdir yang aku lihat itu?" Suara lirih yang berasal dari mulut Yoora mendapatkan perhatian dari yang lainnya.

"Aku tidak bisa menjawab itu."

"Siapa pemilik Cahaya Abadi?" Yunho bertanya dengan melihat kearah Yixing dan Yoora.

"Aku tidak bisa melihatnya jelas Ayah, setiap aku berusaha fokus untuk melihat sosoknya ia akan menutupi dirinya dengan Cahaya yang sangat—

"Dia sudah dekat." Ucapan Yixing yang memotong kalimat Yoora berhasil membuat Yunho dan Zhoumi beranjak bangun dari posisi duduknya dan mendekat kearah Yixing, sedangkan Yoora mendapatkan penglihatan lagi setelah memandang Yixing, namun kali ini ia tidak merasa keatkutan, melainkan senyum bahagia dan airmatanya mengalir dari kedua matanya. Yixing tersenyum, ia bisa merasakan bagaimana perasaan Yoora yang sangat bahagia kini menadapatkan penglihatan itu.

"Yoora.. sayang.. apa yang kau lihat lagi?" Yunho mengusap air mata pada pipi puterinya berulang kali dan memberikan pelukan untuk menenangkannya.

"Jangan khawatir, ia hanya bahagia melihat pandangan beberapa hari lagi." Yixing menjawab santai dan terduduk pada kursi yan berada didekat jendela dan melihat kearah cahaya bulan purnama yang sangat terang memancarkan sinarnya malam ini.

"Chanyeol harus berterima kasih padaku kali ini." Gumaman Yixing tidak terdengar oleh Yunho dan Zhoumi, namun Yoora cukup jelas mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yixing. Belum lagi saat ini adiknya itu terlelap tidur bersama gadis mungil disebelahnya.


-Loves of Tales-


"Ayah. Chanyeol tidak tidur dikamar semalam." Ucapan Sehun berhasil membuat dentingan sendok yang Yunho pegang terjatuh beradu dengan piring makannya. Chanyeol yang mendengar ucapan adiknya itu hanya bisa memejamkan matanya menanti pertanyaan apa yang akan Yunho katakan.

"Kemana kau semalam?" Pertanyaan singkat yang Yunho katakana membuat suasana pada ruang makan lebih sunyi, bahkan para Puteri Mahkota menunduk dan tidak berkomentar sedikitpun. Hanya Zhoumi yang masih menikmati sarapannya tanpa mempedulikan drama keluarga Kerajaan Glorfindel.

"Chanyeol tertidur di balkon atas tower Istana." Yoora menjawab dan menyantap roti sandwich di tangannya.

"Apa yang kau lakukan disana?"

"Melhat bulan." Lagi-lagi Yoora yang menjawab.

"Yoora! Bisakah kau biarkan adikmu ini yang memberikan penjelasan?" Yunho berbicara sedikit keras karena mendengar Yoora yang memberikan jawaban atas setiap pertanyaan yang Yunho tanyakkan pada Chanyeol.

"Bisa kau jelaskan?" Yunho kembali meminta penjelasan dari Putera pertamanya.

"Aku hanya ketiduran disana saat melihat bulan purnama." Jawaban singkat diberikan oleh Chanyeol, tentu saja ia tidak tahu harus menjelaskan yang sebenarnya kepada Ayahnya. Bagaimana ia tertidur bersama seorang gadis disebelahnya.

"Baekhyun!" Teriakan Luhan membuat Chanyeol tersedak air minumnya.

Sedangkan yang merasa namanya dipanggil memberikan hormat pada yang lainnya dan menuju kursi kosong yang berada disebelah Luhan. Chanyeol dibantu Yoora dan Jongin untuk meredakan sedakannya yang entah kenapa bisa terjadi.

"Kau kenapa?" Kris yang baru juga datang duduk diseberang Chanyeol yang saat ini masih sibuk membersihkan mulutnya.

"Dia tersedak minumannya sendiri." Sehun berbisik menjelaskan.

"Lanjutkan sarapan kalian, setelah ini bersiap untuk memulai latihan kembali." Yunho memberikan perintah dan kemudian semuanya melanjutkan sarapan bersama mereka.

"Kau jahat Baek!" Luhan berbisik namun suaranya terdengar marah.

"Ke-ke-kenapa?" Baekhyun yang bingung menoleh kearah Luhan serta mengambil beberapa buah strawberry dan anggur yang berada didepan Luhan.

"Kenapa?" Tao yang menyahut menyela Luhan yang belum menjawab kalimat Baekhyun.

"Kau mengunci kamar tidur kami! Untung saja kamar Kyungsoo cukup menampung kami semua didalamnya!"

"E-eehh? Aku tidak!" Suara Baekhyun terdengar melengking. Hingga Kris menoleh kearahnya dan memberikan tatapan tajam pada adiknya itu, bahkan Sehun menoleh kearahnya dengan tatapan penuh dendam.

"Kecilkan suaramu!" Kali ini Kyungsoo yang berbisik.

Baekhyun menundukkan wajahnya. "Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?" kini giliran Baekhyun yang berbisik pada yang lainnya.

"Kau ini!" Tao mengarahkan sendok pada kepala Baekhyun namun tidak jadi karena Chanyeol lebih dulu menangkap pergerakan yang ia lakukan.

"Yoora-na mengatakan kau bersembunyi didalam kamar menghindari Kris, dan kau tertidur setelahnya." Penjelasan yang Luhan katakana mengingatkan Baekhyun saat ia bersembunyi dibawah ranjang dan kemudian tertidur karena terlalu lama menunggu Kris dan Yoora keluar dari kamarnya. Namun setelah itu ia tidak ingat bagaimana ia berpindah keatas ranjangnya, bahkan ia tidak ingat pintu kamarnya terkunci.

"Tapi.. pagi ini aku membuka kamar dan tidak terkunci sama sekali." Baekhyun berbisik lagi kearah mereka.

"Tentu saja. Yoora –na meminta Chanyeol dan Jongin untuk membuka pintu kamarmu." Luhan kembali memberikan penjelasan yang sebenarnya ia dapatkan dari Yoora.

"Lanjutkan sarapanmu." Baekhyun menganggukkan kepala dan melanjutkan sarapannya tanpa memperdulikan masalah itu lagi.

Semua Puteri Mahkota kembali melanjutkan kegiatan sarapan mereka, berbeda dengan sisi meja yang lain. Sehun dan Jongin saling bercanda sedangkan Kris menyantap sarapannya sambil sesekali memperhatikan adiknya. Yoora dan Chanyeol terlihat melanjutkan sarapannya masing-masing, tapi tidak dengan pikiran mereka.

"Mau mengucapkan terima kasih padaku?" Yoora masuk dalam pikiran Chanyeol.

"Haruskah?"

"Well, itu harus." Yoora memberikan jawaban dan terlihat tersenyum menghadap Chanyeol.

"Tidak penting."

"Oh, itu sangat penting adikku sayang, bagaimana bila Kris mengetahui adiknya tidur denganmu."

"Uhuk-uhuk!" Chanyeol kembali tersedak, hingga Kris yang melihatnya merasa kesal. "Yo, Dude! What's wrong with you." Kris menepuk-nepuk punggung belakang Chanyeol, Jongin kembali memberikan air minum dan mengusap-usap bahu Chanyeol.

"Ada apa denganmu hari ini." Yunho bertanya pada anaknya yang sudah dua kali tersedak.

"Well.. aku sangat yakin kemarin malam adalah malam pertamamu tidur dengan perempuan selain denganku bukan." Yoora kembali tersenyum menang.

"Bisakah kau diam? Dan aku hanya tidur dengannya bukan melakukan hal lebih, kalau bukan karena dia yang menahan tanganku untuk dijadikan guling tidurnya akau tidak akan terjebak dengannya." Chanyeol menjelaskan dan menatap kearah Yoora kesal.

"Hm, aku tidak pernah mengatakan bahwa kau melakukan lebih dengannya, memangnya apa yang kau lakukan? Hohoo alasanmu sungguh tidak masuk akal, kau memiliki kekuatan untuk membebaskan tanganmu darinya Putera Mahkota! Apa kekuatanmu tidak berlaku dengannya? Well ini aneh."

"Kau tidak mengatakannya, tapi kau menyiratkannya sedari tadi Puteri Mahkota!"

"Hanya perasaanmu saja."

"Keluar dari pikiranku."

"Kau belum menjawab pertanyaannku." Yoora masih menekan Chanyeol. "Kenapa kau tidak melepaskan pelukan Baekhyun?"

...

Tidak ada jawaban yang diberikan Chanyeol, bahkan kini isi pikirannya kembali mengingat apa yang ia lakukan semalam. Ia sendiri tidak berusaha melepaskan pelukan Baekhyun pada tangannya, ia menikmatinya. Bahkan hingga ia kedinginan karena duduk di lantai yang tidak beralaskan apapun, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur disamping Baekhyun dan memeluk gadis mungil itu yang merasakan kedinginan, Chanyeol menarik selimut dan menutup kedua tubuh mereka dan saling terlelap tidur hingga pagi menjelang.

"Kau menyukainya?" Yoora yang masih berada dalam pikiran Chanyeol menanyakkan pertanyaan yang semakin membuat Chanyeol terbengong dan menatap kosong pada Yoora.

"Aku..."

"Aku sudah tahu jawabannya." Yoora tersenyum lebar dan keluar dari pikiran Chanyeol.

.

Para Putera dan Puteri Mahkota sudah bersiap denagn setelan latihan mereka, setelah pemanasan sebelumnya yang dilakukan, kali ini mereka berkumpul di arena latihan lain berbeda dengan tempat sebelumnya. Arena kali ini dipenuhi papan panah dan juga tiang-tiang disekelilingnya, benar-benar tempat yang cocok untuk latihan fisik dan juga berperang, para petuga kerajaan membawakan beberapa perlengkapan memanah, anggar dan lainnya disiapkan disekitar mereka. Untuk para Putera Mahkota mereka mulai melihat kearah perlengkapan anggar yang sudah biasa mereka lakukan bila saling berkumpul bersama saat untuk latihan, sedangkan pandangan para Puteri Mahkota khususnya, Luhanm Tao dan Kyungsoo tidka berniat untuk bergabung dan melatih apapun dengan peralatan yang disiapkan. Berbeda dengan Baekhyun yang sudah mengincar peralatan panah itu dan kemudian mencari tempat latihan, berpikir bahwa semoga saja ia bisa memainkan busur panah itu kembali.

Yunho dan Zhoumi bergabung dengan yang lainnya dan mulai meminta mereka semua untuk berdiri berkumpul lenih dekat.

"Kita akan berlatih yang berbeda kali ini." Zhoumi memulai penjelasan. "Seperti yang kalian ketahui, saat kita berperang tentu saja tidak hanya mengandalkan kekuatan yang kita miliki, kalian juga harus bisa memanfaatkan senjata yang ada disekitar kalian untuk bisa memberikan peluang kemenangan melawan untuk itu, aku akan meminta kalian untuk berlati dengan semua alat yang ada saat ini, pedang, panah, pistol, tali atau apapun yang bisa kalian lakukan dengan alat itu semua—

"Sebelum itu." Yunho memotong. "Aku ingin kalian menunjukkan kekuatan kalian." Zhoumi mengangguk pelan mengerti apa yang Yunho maksudkan.

Jongin dan Sehun terlihat yang paling bersemangat, berbeda dengan Kris, Chanyeol dan Jongdae yang menganggap hal itu adalah hal biasa saja. Luhan dan Tao menatap kearah mereka berdua dengan sinis dan hanya bisa menggelengkan kepala. Baekhyun tidak bisa berkomentar apapun karena ia sampai saat ini tidak tahu memiliki kekuatan apa pada dirinya.

"Yoora kau bisa bergabung dengan Yixing, cukup melihat kekuatan mereka saja saat ini." Yunho mengarahkan Yoora untuk berdiri bersama Yixing yang berada dibelakang Ayahnya dan juga Zhoumi.

"Jadi, mari kita mulai," Yunho bersemangat dan menepuk-nepuk tangannya.

"Kris!" Zhoumi menunjuk pada Putera Mahkota Lynkestis untuk melangkah kedepan dan menunjukkan kekuatannya.

Baekhyun bersemangat untuk melihat kekuatan yang dimiliki Kakaknya, sebagai adiknya ia belum pernah melihat kekuatan Kris sepenuhnyakarena larangan yang diberikan oleh sang Ibu selalu menghalanginya saat melihat Kris melakukan latihan.

Kris hanya berdiri terdiam, matanya terpejam dan tangannya mulai terbuka lebar kesisi sampingnya. Beberapa detik kemudian nampak naga api keluar dari belakangnya dan melesak kesisi depannya mengeluarkan api yang membakar pepohonan dengan cepat tidak menyisakkan apapun. Baekhyun menatap takjub, sama halnya dengan Luhan dan Tao yang saling bertepuk tangan.

"Well.. perkembangan kekuatanmu cukup bagus." Yunho memberikan komentar. "Sebelumnya kau belum bisa mengarahkan kemana nagamu akan bergerak." Sedikit tawa dolontrakan Yixing dan Yoora, bahkan Zhoumi dan Yunho ikut tersenyum dan kemudian meminta Kris untuk kembali bergabung dengan yang lainnya

"Jongdae." Zhoumi memanggil lagi, Kris memberika tepukan tangannya dan memukul badan Jongdae untuk maju.

Semua mata kembali bersiap untuk menunggu kekuatan yang Jongdae miliki, tangannya saling mengait dengan mata terpejam, namun cuaca disekitar berubah menjadi lebih gelap. Suara gemuruh mulai terdengar, dan beberapa kilatan mendekat kearah mereka berkumpul. Semua mata menunggu Jongdae mengelurkan kilatan petirnya hinga tidak menyadari bahwa salah satu mereka sudah ketakutan dan mulai mencari tempat persembunyian. Baekhyun.

Langkahnya bergeser mencoba mencari sosok Kris, dengan badannya yang sudah kaku dengan perlahan-lahan ia melangkah untuk mendekat kearah Kris, kakaknya. Langkahnya terhenti saat menabrak punggung seseorang dan tepat saat itu Jongdae mengeluarkan kilatnya yang terdengar sangat nyaring dan kencang hingga tanah disekitar mereka terkoyak menuju beberapa anak pohon diujungnya, membelah pohon-pohon tersebut hingga tumbang berserakan.

Baekhyun ketakutan mendengar, namun cukup tenang karena Kris mendekap badannya sehingga ia bisa menyembunyikan wajahnya dan menutup kedua telinganya.

Samar-samar ia mendengar suara tepukan tangan dan kata-kata memuji dengan apa yang dilakukan Jongdae.

"Kembali pada tempatmu sebelum yang lain melihat." Deep voice dari seseorang yang memeluknay terdengar dan saat itulah Baekhyun membelakkan matanya, wajahnya didongakkan untuk melihat bahwa yang memeluknya tadi bukanlah kakaknya, bukan, melainkan Chanyeol. Baekhyun kaget dan tersipu malu hingga wajahnya merona, ingin rasanya dengan cepat ia menghilang dan kembali pada tempatnya namun terlambat karena Kris memanggil namanya.

"Apa yang kau lakukan dengan Chanyeol?"

Baekhyun menoleh kearah kakaknya dan melihat semua mata tertuju padanya. Ia berdiri disamping Chanyeol dengan tangannya masih memeluk pinggang lelaki itu, bahkan tangan Chanyeol sendiri masih berada di bahunya.

Ingin rasanya aku menghilang saat ini juga.