-Loves of Tales-


Tubuhnya kembali tidak berwujud dari hadapan pintu ruang keluarga Istana beberapa menit lalu, tidak dapat dilihat oleh beberapa petugas Istana yang tengah berjalan disepanjang koridor tentu menguntungkan Baekhyun yang kali ini terlihat lebih berantakan.

Matanya kembali sembab oleh air mata, kedua tangannya tak berhenti untuk menghapus air mata yang keluar dan isakannya kembali menjadi lebih histeris. Ia tidak peduli bila ternyata suaranya dapat didengar oleh beberapa telinga disekitarnya. Itu bukan hal penting baginya saat ini. Yang terpenting adalah bagaimana ia bisa menghadapi semua kenyataan hidupnya sebagai pemilik Kekuatan Cahaya Abadi.

Sangat jelas ia mendengar bagaimana suara dari dalam ruangan itu mengatakan dirinya pemegang kekuatan cahaya, dan telinganya mendengar dan mengenali suara itu adalah Chanyeol, pemilik Kekuatan Api Bumi. Seseorang yang berada didekatnya beberapa jam lalu,

Chanyeol yang akan membantunya mengendalikan kekuatan yang baru saja dimiliki.

Baekhyun tentu ingat mengenai sejarah ramalan mengenai Kekuatan Cahaya Abadi dan Api Bumi, dan kali ini pemikirannya kembali mengingat-ingat pada bagian pemegang kekuatan itu harus mempertaruhkan nyawanya untuk membebaskan bangsanya dari serangan Hades yang selalu berusaha melawan kekuatan Dewa dan Sang Pencipta. Mengingat akan hal itu, semakin membuat badannya terasa lemas tak berdaya bahkan untuk melangkah lebih jauh lagi. Tubuhnya ambruk jatuh pada lantai balkon tower Timur Istana Eowyn, tangisnya semakin keluar dan bahkan ia bergumam tak henti-hentinya memohon bahwa semua yang ia dengar itu hanyalah mimpi. Baekhyun berteriak memanggil nama Ibu dan Ayahnya, berharap mereka mendengar dan membantu puteri kecil mereka yang kini terlihat rapuh.

"Ku mohon.. katakan bahwa ini hanyalah mimpi.. hiks.. Ibu.. Ayah.. hiks.. hiks."

Matanya terpejam diikuti dengan tubuhnya yang semakin lemas dan pandangannya yang semakin lama semakin terpejam.

.

.

Keputusan dari hasil perbincangan yang cukup lama didalam ruang keluarga Kerajaan Eowyn mulai mencapi titik terangnya. Sudah hampir 20 menit mereka masih saling membantah pendapat satu sama lain hingga akhirnya Chanyeol kembali bersuara dan masih memberikan jawaban yang sama bahwa ia dan Kris yang akan membimbing Baekhyun untuk memperdalam kekuatannya tidak ada siapapun yang ikut dalam pelatihan itu.

"Kau yakin ia tidak akan mencurigai hal ini?" Zhoumi kembali bertanya hal yang sama dan ini sudah ketiga kalinya ia menanyakkan hal itu.

Chanyeol memejamkan matanya mendengar pertanyaan yang sama kembali.

"Ini sudah ketiga kalinya kau menanyakkan hal itu." Yixing menyahut lebih dulu dan kemudian terkekeh melihat bagaimana raut wajah Chanyeol kali ini.

"Tenang saja Yang Mulia.." Kris menjawab kembali. "Aku akan pastikan Putra Mahkota Glorfindel mengajarkan dan membimbing adikku dengan baik. Aku akan mengawasinya juga." Terdengar kalimat yang diucapkan Kris sebenarnya tidak salah, namun bagi Yoora yang mendengar jawaban itu keluar dari mulut Kris membuat ia tersenyum kecil karena jelas ia paham makna apa yang tersirat dari kalimat itu.

"Aku akan pastikan Chanyeol tidak berbuat macam-macam kepada adikku."

"Aku?" Chanyeol menunjuk dirinya.

"Iya."

"Wow! Bisa kau jelaskan maksud dari perkataanmu Putera Mahkota Lynkestis?" suara Chanyeol sedikit naik dan mulai berjalan mendekat kearah Kris yang sudah melipat tangannya di depan dada dengan tatapan yang dingin.

"Kenapa dengan kalian berdua?" Yunho, sang Ayah menahan lengan Chanyeol dan memintanya untuk memundurkan langkahnya yang semakin dekat kearah Kris.

"Bisa kita kembali ke pokok permasalahan yang sebenarnya?" Yixing mengarahkan tangannya kepada Chanyeol yang baru saja akan mengucapkan kalimat. "Jadi, ini sudah final. Baekhyun akan tetap berlatih seperti biasa, namun Chanyeol dan Kris akan membantu ia latihan untuk mengembangkan kekuatannya. Benar bukan?" Yixing melihat satu per satu wajah yang ada di ruangan tersebut dan berakhir pada wajah Chanyeol yang menatapnya kosong.

"Yeol?" Yixing memanggil. Namun sosok Chanyeol masih terdiam karena pemikirannya dipenuhi baying-bayang mimpi yang pernah ia dapati. Ya, tepat saat Yixing mengatakan apa yang hendak ia katakan, ingatan Chanyeol masuk kedalam mimpi dimana saat itu ia mengalami kejadian serupa, mendengarkan hal yang dengan yang Yixing katakan saat ini. Tapi kali ini berbeda, dimimpi itu seharusnya ia mendengar tangisan seorang gadis yang mengalami kesedihan yang mendalam hingga hampir saja pingsan. Tidak sampai disitu, ingatan Chanyeol semakin dalam karena ia ingat saat mimpinya terjadi ia berakhir mengdengar jeritan dari gadis bercahaya itu karena terjatuh dari tower Istana.

"Baekhyun." Mulutnya menggumamkan nama gadis yang sedari tadi dibicarakan. Tapi kali ini ia memutuskan untuk berlari keluar dari ruangan dan meneriakkan nama Baekhyun berkali-kali.

Kris yang mendengar nama adiknya disebutkan kembali panik dan memutuskan untuk menyusul Chnanyeol yang entah kini sudah berlari kemana.

"Bisa jelaskan apa yan terjadi?" Yunho menghampiri Yoora yang kini masih saling menatap kearah Yixing dan sama-sama tersenyum.

"Ini sungguh mengerikan melihat mereka berdua mengerti apa yang terjadi sedangkan kita disini seperti orang bodoh." Zhoumi berbisik pada Yunho dan mendapat anggukan kepala sebagai jawabannya.

"Aku sebagai ayahnya saja merasa seperti orang bodoh melihat anakku seperti ini." Yunho berbisik kearah Zhoumi.

"Jadi.." Yixing lebih dulu berbicara.

"Kita biarkan saja mereka." Yoora merespon dengan cepat.

"Kau yakin?" Yixing terkekeh.

"Sangat yakin." Yoora meregangkan tangannya dan berjalan kearah Yunho. "Ayaaahh.. lebih baik kita beristirahat saja." Tangannya merangkul lengan Ayahnya yang masih kaku dan aneh melihat tingkah puteri sulungnya saat ini tengah bermanja bersamanya.

"Bisa jelaskan lebih dulu pada kami dengan apa yang terjadi barusan?"

"Hanya urusan antara kakak adik dan pasangan abadi yang melibatkan Chanyeol, Baekhyun dan Kris. Selebihnya biarkan mereka yang menyelesaikan." Yixing menjawab pertanyaan Zhoumi dan setelahnya mengambil mantelnya yang tergantung di kursi.

"Aku akan bersiap untuk makan malam. Kalian tahu dimana kamarku bukan?" selesai berucap itu Yixing melambaikan tangan dan keluar dari ruangan mengabaikan Zhoumi yang masih berbicara meminta penjelasan lebih detail.

Yoora dan Yunho pun terpaksa menenangkan Zhoumi dan mengajak supaya Raja Tiranis itu bisa lebih tenang dan dapat membiarkan urusan ketiga orang yang terlibat itu menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Ini sungguh sulit. Aku rasa lebih mudah menghadapi mereka saat berlatih perang." Zhoumi menggelengkan kepala dan ikut beranjak menuju kamarnya sendiri meninggalkan Yoora dan Yunho yang hanya bisa tersenyum sebagai balasannya.

"Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi dengan adikmu?" Yunho menahan puterinya untuk berjalan lebih jauh.

"Hmm.. haruskah?" Yoora masih menggoda ayahnya.

"Kau sama seperti Ibumu, selalu merahasiakan sesuatu."

Yoora tertawa sebentar dan kemudian mengusap lengan ayahnya. "Chanyeol baik-baik saja. Hanya saja siapkan kesabaran ayah saat mendengar dia tidak kembali ke Istana suatu saat nanti- ah tidak mungkin beberapa hari lagi."

"E-eh? Apa maksudmu?" suara Yunho sedikit meninggi dari suara sebelumnya.

"Ssst. Ayah sudahlah." Yoora meminta Ayahnya untuk diam dan membawanya kembali berjalan menuju kamar.

"Jelaskan padaku."

"Iya-iya.. aku akan jelaskan di kamar Ayah."

.

.

Langkah kakinya masih melebar dan bergerak hampir menyamai kecepatan angin disekitarnya deru nafas yang sangat tergesa-gesa dan tidak beraturan jelas terdengar dari mulutnya yang sedikit terbuka. Chanyeol mungkin tidak lagi meneriakkan nama gadis yang masih berada dalam pikirannya, namun dalam hatinya nama itu masih disebutkan dan berharap apa yang terjadi dalam mimpinya tidak terjadi saat ini juga. Melihat putaran tangga yang harus ia naiki kembali tidak menyurutkan semangatnya untuk berhenti, bahkan kini kaki panjangnya semakin melebar dan melewati beberapa anak tangga supaya ia dengan cepat sampai berada pada lantai teratas East Tower Istana Eowyn.

"Baekhyun.." Kalimat pertama yang ia ucapkan sesaat tiba dan melihat seorang gadis mungil dengan badannya yang terlungkup didasar lantai semakin membuat ia panik. Tangannya merangkul badan itu dan memeluknya, bahkan ia kini membuka mantel jubahnya dan memberikan pada Baekhyun sebagai selimut.

"Hey.. bangunlah.. ku mohon.." Chanyeol bergumam sambal memeriksakan denyut nadi pada pergelangan tangan Baekhyun. Tangannya yang lain memeriksa kondisi badan Baekhyun, memastikan tidak ada luka maupun goresan sedikit pun pada gadis itu.

Chanyeol menghela nafas lega setelah mendengar dengkuran halus keluar dari mulut Baekhyun, bahkan kini gadis itu kembali menjadikan badannya sebagai bantal untuk tidur sama seperti yang dilakukannya malam kemarin.

Sudut bibir Chanyeol terangkat melihat tingkah Baekhyun yang dengan tenangnya tidur pada pelukannya. "Apa kau tidur dengan kakakmu seperti ini hm?" Tangannya mencubit pipi Baekhyun dengan lembut seakan-akan takut Bakehyun akan terusik oleh apa yang diperbuat.

"Untung saja kondisimu tidak seperti apa yang terjadi dalam mimpiku. Bila itu terjadi seperti.." Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya. Ia masih menatap wajah tidur Baekhyun dan kemudian beralih pada pemandangannya didepannya yang menampilkan langit yang kini sudah mulai berubah warna untuk menyambut waktu sore.

Chanyeol menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar melihat pemandangan dihadapannya, biasan warna kuning dan jingga yang bercampur satu mengingatkan akan sosok gadis yang muncul dalam mimpinya saat itu. Selalu menampilkan warna yang sama dengan warna langit pada saat itu.

"Kenapa kau tidak pernah memperlihatkan wajahmu hm?" Chanyeol bersuara sendiri. "Kau tahu itu lebih memudahkanku untuk mencarimu bukan?" kini wajahnya kembali melihat kearah Baekhyun. Ia kembali menatap wajah gadis itu dan memperhatikan setiap detail bentuk mata, hidung, hingga bibirnya yang tipis berwarna pink.

Satu kata kembali ia ucapkan.

"Cantik."

Chanyeol mungkin berpikir hanya ia, Tuhan dan Para Dewa yang mendengar apa yang dikatakannya. Atau mungkin para peri-peri kecil dan hewan-hewan yang berterbangan bisa mendengar juga, mungkin.

Chanyeol tidak menyadari bahwa ada satu pendengar lainnya yang bersembunyi di balik anak-anak tangga yang mendengar jelas apa yang dikatakannya, Kris.


.

-Loves of Tales-


"Baekhyun belum kembali?" Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada kursi-kursi di ruang makan yang masih kosong. Luhan dan Tao yang berada didekatnya melihat kearah yang sama dan kemudian mereka hanya terdiam saling menatap satu sama lain.

"Kemana perginya dia."

"Semoga saja dia bersama Kris." Luhan menjawab pertanyaan dari adiknya dan kemudian melangkah menuju kursi kosong yang sudah menjadi tempatnya bila berada di ruang makan. Kyungsoo dan Tao mengikutinya dan membiarkan para pelayan Istana berlalu lalang didekat mereka untuk menyiapkan acara makan malam.

Mereka bertiga terlibat percakapan yang cukup seru mengenai beberapa hobi dan juga aktifitas lainnya hingga suara tinggi Jongdae terdengar dari arah luar ruangan yang berteriak memanggil Luhan dan Tao.

"Kenapa Kerajaanku memiliki Putera Mahkota seperti dirinya." Ucapan yang Luhan katakan seketika membuat Kyungsoo dan Tao tertawa terbahak-bahak bersama.

"Luhaaaeeeeennnn.." Kali ini bukan Jongdae yang memanggilnya. Tetapi Sang Putera Mahkota ke II dari Kerajaan Glorfindel, yaitu Sehun. "Hai manis." Sehun kembali menggodanya dan duduk tepat dihadapan Luhan dengan wajahnya yang tersenyum-senyum menggoda.

"Masih banyak kursi kosong lainnya. Malam ini aku ingin makan dengan tenang jadi kumohon dengan sangat. Segera enyah dari kursi itu sebelum aku memindahkan dirimu dengan cara kasar." Beberapa penakanan pada kalimat dingin yang Luhan ucapkan terdengar sangat jelas, namun bagi Sehun itu adalah kalimat biasa saja dan tidak berpengaruh untuknya.

Sehun hanya membalas semua itu dengan lambaian dan wajahnya yang datar.

Jongin dan Jongdae yang sudah berada dihadapan Kyungsoo dan Tao kini hanya menggelengkan kepala tak mengindahkan adu mulut yang masih terjadi dengan Luhan dan Sehun, bahkan bukan hanya saja adu mulut diantara mereka. Luhan sudah mengarahkan segala macam alat makan yang sebelumnya berada diatas meja dengan rapi kini sudah berada di udara dan terarahkan kehadapan Sehun.

Tentu Sehun tidak tinggal diam.

Tangannya mulai bergerak menghadap ke langit-langit Istana dan mulai terbentuk pusaran angin kecil diatas telapak tangannya, menunggu saat yang tepat untuk diarahkan pada Luhan dan membuat wanita itu terhempas oleh angin.

"Bisa kalian hentikan semua ini." Zhoumi berada tepat dibelakang Sehun dan menatap dingin Puteri sulungnya itu. Alat-alat makan yang sebelumnya berada di udara kini berjatuhan diatas meja dan meniumbulkan suara yang nyaring hingga membuat yang lainnya menutup telinga mereka. Melihat Luhan yang sudah kembali menjadi anak yang manis, Sehun melakukan hal yang sama dengan menutup tangannya diatas meja dan menunduk diam, badannya menjadi kaku karena kini Zhoumi mulai meletakkan cengkraman tangannya pada bahun lebarnya yang berhasil membuat dirinya menegang dan rasa takut menjalar masuk kedalam tubuhnya.

"Jadi.. bisa jelaskan apa yang menjadi permasalahan kalian berdua?" Zhoumi bertanya kearah Sehun dan Luhan. Suasana menjadi aneh, Kyungsoo dan Tao ikut menundukkan kepala dan menutup rapat-rapat mulut mereka untuk tidak bersuara sedikit pun, lain halnya dengan Jongdae dan Jongin yang acuh dengan situasi dekat mereka. Bagi Jongin, Sehun sudah biasa bersikap seperti itu terhadap Luhan, begitupun bagi Jongdae yang menganggap Luhan dan Sehun seperti Tom and Jerry yang tidak pernah terlepas saling menjahili satu sama lain.

Sehun dan Luhan masih terdiam dan tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk menjawab pertanyaan dari Zhoumi.

"Tidak ada yang berniat untuk menjawab?" Zhoumi kembali menanyakkan hal yang sama dan masih belum mendapatkan jawabannya dari kedua objek yang berada di depannya.

Yunho dan Yoora melangkah pelan dan saling bertatapan bingung melihat keheningan yang terjadi serta bagaimana Zhoumi yang berada di belakang Sehun dengan wajah tegasnya.

"Ada apa ini?" Yunho bertanya dengan tetap melangkah menuju kursinya. Yoora mengikuti Ayahnya dan kemudian memilih duduk disebelah Kyungsoo. Tatapannya terarah keapda Sehun dan Luhan secara bergantian dan kemudian ia tersenyum kecil dan duduk dengan tenang.

Tentu Yoora paham apa yang akan terjadi bukan?

"Aku berniat mengubah strategi latihan mulai besok." Zhoumi berjalan menuju kursi yang berada diujung tempat makan dimana langsung berhadapan dengan Yunho diseberangnya.

"Oh. Begitukah ?" Yunho mendengarkan dengan serius. "Strategi apa itu?" kembali ia melanjutkan kalimatnya.

"Kita bicarakan setelah ini." Zhoumi mengedipkan matanya dan mulai bersiap untuk menyantap makanan yang mulai berdatangan.

Makan malam anggota kerajaan kali ini lebih hening dan khidmat dibandingkan makan malam sebelumnya. Bahkan mereka tidak menghiraukan kursi kosong yang tidak terisi.

.

.

"Aku rasa ini bukan ruang makan Kris."

Kris menoleh kearah suara dari balik badannya dan mendapati Yixing dengan membawa cangkir berjalan menuju kearahnya yang kini masih berdiri dipinggir balkon jendela Istana.

"Bisakah kau tidak membuat orang lain takut saat melihatmu?" Kris menggelengkan kepala dengan tangannya yang masih berada di depan dada karena hampir saja ia terkena serangan jantung melihat Yixing dengan pakaian serba putih dan rambutnya panjangnya yang terurai bergerak tak beraturan karena tertiup angin.

"Kenapa memangnya?" Yixing dengan polosnya bertanya kembali, berharap Kris akan menjawab pertanyaannya namun yang ia dapat hanya gelengan kepala dengan mata yang beputar ke segala arah. Dan Yixing kembali masih menatap Kris dengan polos dan hanya mengedikkan bahunya kemudian melanjutkan mendekat kearah pria itu dan menyesap kembali minuman yang ia bawa di tangannya.

"Kau meniru Chanyeol sekarang?" kalimat yang diucapkannya mandapatkan kekehan dari Kris. "Menatap langit yang tak berbentuk dan juga menatap kosong pandangan didiepannya." Yixing kembali melanjutkan dan seketika mereka berdua tertawa karena kalimat yang ia ucapkan.

"Aku hanya penasaran apa yang selalu ia pikirkan saat menatap kosong pandangan didepannya."

"Hm.. setidaknya bukan pikiran tentang bentuk badan wanita ataupun pikiran mesum lainnya sepertimu."

"Cih!" ucapan Yixing seketika mendapatkan jawaban dari Kris yang mendengus kesal mendengarnya. "Jangan percaya dengan tingkahnya yang mengabaikan para wanita. Kau hanya belum tahu saja isi otaknya itu." Kris menunjuk ke sembarang arah seakan-akan Chanyeol berada disana.

"Hahaha." Yixing tertawa keras begitu pun dengan Kris yang ikut tertawa, namun akhir dari suara itu berbeda. Yixing masih tersenyum senang sedangkan Kris kembali terdiam dan hanya menarik sudut bibirnya untuk tersenyum kecil.

"Dia akan baik-baik saja."

Kris menoleh kearah Yixing dan memperhatikan wajah gadis itu saat berbicara.

"Percayakan semua pada Chanyeol. Walaupun kau merasa dia tidak cocok dengan adikmu kenyataanya mereka berdua memiliki perasaan saling menyukai. Oh, aku rasa kalimat menyukai tidak pantas."

Kris melihat kearah Yixing yang masih terdiam dan memikirkan kalimat pengganti yang akan ia ucapkan.

"mencintai?"

"Hah! Mencintai? Bisa kau jelaskan pengertian mencintai seperti apa bila berhubungan dengan mempertaruhkan nyawa mereka?" Kris berkomentar dingin menjawab kalimat Yixing.

"Penglihatan yang Yoora berikan hanya sebuah peringatan. Bila kejadian itu benar terjadi.. kita harus merelakannya bukan?"

Kris tidak menjawab dan masih menatap kosong pandangan didepannya. Pikirannya masih mengingat jelas bagaimana penglihatan yang Yoora berikan dimana nyawa adiknya direnggut oleh para kaum Hades.

"Sebaiknya kau pikirkan juga perasaanmu."

Kembali Kris tidak memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

"Bukan hanya dua wanita itu yang menahan perasaaanya, ketahuilah ada satu pria yang menunggu wanita yang kau cintai itu untuk bisa memiliki perasaanya juga."

Kris masih terdiam. Ia tahu siapa saja sosok yang dibicarakan oleh Yixing, tapi tidak untuk pria yang memiliki perasaan terhadap salah satu wanita yang ia cintai itu.

"Menurutmu.." Barulah Kris bersuara setelah hampir terdiam cukup lama. "Mana yang harus aku pilih?"

"Hah! Pria macam apa kau. Memilih wanita saja tidak bisa." Yixing memberikan pukulan pada lengan kekar Kris dimana membuat Putera Mahkota itu meringis kesakitan karenanya.

"Wuah. Tenagamu kuat juga." Kris mengejek dan masih meringis kesakitan.

"Jangan mengalihkan topik Yang Mulia." Yixing menggerakkan telunjukknya ke kanan dan ke kiri di hadapan Kris. "Cepat jawab pertanyaanku itu." Yixing menaikkan dagunya keatas.

"Mungkin aku lebih memilih yang kedua."

"Hmm.. jawabannya sangat yakin sekali eoh?" Yixing masih menggodanya dan terbukti sang Putera Mahkota kembali memberi senyuman lebar. "Relakan yang pertama. Biarkan hatinya bisa dimiliki oleh yang lain." Yixing mengedipkan matanya dan pamit meninggalkan Kris yang masih memperhatikan dirinya. "Aku baru merasakan lapar, dan kau.. tunggulah sebentar karena akan ada dua orang lagi yang menemanimu disini nanti."

Kris membiarkan Yixing berlalu masuk kedalam Istana, dan ia kini melanjutkan kembali menatap pemandangan disekitarnya dan menanti dua orang yang mungkin akan menemaninya seperti yang Yixing katakan sebelumnya.

Satu hal yang tidak Yixing ketahui saat ini, dua orang yang dimaksud akan menemani Kris masih sama-sama bergelung satu sama lain. Tidak memperdulikan angin malam yang mengusik tidur mereka, awalnya mungkin hanya si mungil yang memeluk erat tangan dan pinggang sang lelaki tinggi, namun kini lengan kekar itu menutupi badan si mungil demi memberikan kehangatan padanya.


-Loves of Tales-


Hari sudah berganti, matahari di langit Eowyn memancarkan sinar terangnya untuk menyinari semua pelosok bagian yang berada dibawah langitnya. Burung-burung berkicauan dan terdengar seperti nyanyian ucapan selamat pagi untuk membangunkan para penghuni dunia.

Suasana Eowyn pagi ini bisa dibilang cukup sibuk bagi dua kamar yang berada di dalam Istana Eowyn, kamar Putera Mahkota dan Puteri Mahkota.

"Kau tidak ikut makan malam. Lagi?" Yunho melanjutkan kembali acara pagi ini untuk menginterogasi Putera sulungnya, mengabaikan Jongdae yang berpamitan padanya untuk keluar dari kamar tersebut.

"Aku ketiduran." Chanyeol menjawab sambil mengusak kedua matanya yang masih enggan untuk terbuka.

Tentu saja pagi ini dia merasa lelah. Setelah hampir semalaman tertidur di lantai balkon Tower Istana Eowyn dengan Baekhyun, dan terbangun di pukul 4 pagi. Ia langsung membawa tubuh gadis itu kembali ke kamarnya dengan menggendongnya sendirian dan menempuh perjalanan yang bisa dibilang tidak mudah. Bayangkan saja perjalanannya turun dari puncak Tower Istana yang berada pada ketinggian hampir sama dengan gedung 10 lantai, belum lagi ia harus membawa badan Baekhyun yang memiliki berat badan hampir 45 kilo.

sungguh perjuangan sekali bukan?

"Sudah berapa kali kau mengalami ketiduran di tempat yang tak terduga Pangeran." Yunho kembali memberikan komentarnya.

Walaupun di kamar tersebut terdapat Yoora, Sehun dan Jongin. Tapi mereka tidak bisa berkomentar sedikit pun saat Ayahnya sedang menginterogasi salah satu dari mereka.

"Mulai sekarang kau harus masuk kamar ini tepat pukul sepuluh malam."

"Oh tidak!" Chanyeol membelakkan matanya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Yunho. "Oh ayolaaah! Aku bukan anak kecil seperti Sehun!" Suaranya sedikit keras dengan tangan yang menunjuk tepat kearah Sehun yang duduk di ranjangnya.

"Aku sudah besar!" Sehun menyahut.

"Kecil!" Teriakan serentak dilontarkan oleh seisi keluarga Glorfindel, yang dimaksud disini adalah Yunho, Yoora, Chanyeol dan juga Jongin. Mereka bertiga berteriak kalimat yang sama dan ditunjukkan untuk keturunan terakhir Glorfindel.

Sehun sontak menutup matanya dan kemudian menyibakkan selimut yang berada di ranjangannya guna menutupi badannya menghindari segala kalimat lain yang akan diucapkan oleh ayah dan kakak-kakaknya.

"Jadi. Ingat jam malammu Tuan Muda!" Yunho sekali lagi memberi penekanan kepada Chanyeol. "Dan kau Jongin!" Kali ini Yunho menunjuk kepada Jongin yang sibuk dengan handphonenya. "Apa yang Ayah katakan mengenai pengunaan handphone di Kerajaan?"

Jongin meletakkan handphonenya kembali dan menunduk siap mendengarkan penjelasan Yuno lebih panjang lagi.

"Kau bertugas mengawasi anak ayam itu dan juga kakakmu ini yang suka berpergian tengah malam." Tangan Yunho menunjuk Sehun yang tengah bersembunyi dalam selimut dan juga Chanyeol yang masih duduk bersandar di ranjangnya.

"Siapa yang ayah bilang anak ayam?" Sehun muncul keluar dari dalam selimut dan menengok kearah Jongin da Sehun.

"Kau bodoh!" lemparan bantal dari tangan Chanyeol tepat mengenai wajah Sehun.

Lagi-lagi Sehun mendengus kesl dan membuang bantal yang tepat mengenai wajahnya ke lantai.

"Aku akan adukan ayah pada Ibu!" Teriakannya keras mengarah untuk melawan ayahnya.

"Kau bodoh atau apa? Ibu ada di Olympus!" Kali ini Jongin yang melempar bantal kearah badan Sehun yang sudah bersembunyi kembali dalam selimut.

Yoora yang hanya terdiam sedari tadi hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah adik-adiknya.

"Dan Kau, Tuan Puteri!"

Yoora memejamkan matanya mengetahui kesalahan yang ia buat dengan menertawakan adik-adiknya dan kini dampaknya Yunho tengah menunjuk kearahnya. Bersiap memberikan perintah yang sudah pasti masih seputar dengan urusan menjaga ketiga adiknya tersebut.

"Mulai sekarang kau harus satu kamar dengan Baekhyun."

Chanyeol dan Yoora sama-sama membelakkan matanya mendengar apa yang Yunho katakan. Sedangkan Jongin mengerutkan alisnya karena apa yang dibicarakan ayahnya diluar dari yang ia bayangkan sebelumnya. Sehun mulai memunculkan kembali wajahnya sedikit demi sedikit guna mengetahui apa yang terjadi saat ayahnya mengatakan bahwa Yoora dan Baekhyun akan tidur dalam satu kamar bersama.

"K-kenapa seperti itu?" Yoora bertanya.

Bingung. Dan dia tidak menyangka dengan apa yang dikatakan ayahnya. Bagaimana tidak, Yoora memiliki kekuatan mengetahui kejadian apa saja yang akan terjadi dalam hitungan tahun, bulan, hari, jam, bahkan menit maupun detik. Kenapa ia tidak mengetahui keputusan ayahnya yang baru saja dikatakan didepan wajahnya? Bila kalian mengira ia tidak mengetahui keputusan itu kalian salah besar. Yoora sudah mengetahui kejadian apapun yang akan terjadi pada hari ini, tapi tidak secepat itu. Dalam penglihatan Yoora, ayahnya akan berkata demikian setelah Kris meminta kepada Yunho untuk membiarkan Baekhyun berada di dekat Yoora sambil berlatih menjadi Puteri yang lebih anggun dan dewasa, kejadian itu seharusnya terjadi pada waktu malam hari. Bukan pagi ini. bukan saat ini.

"Kenapa? Tentu saja kau harus membantu Baekhyun untuk tetap tenang. Ayah tidak mau ia menghilang tiba-tiba dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Yunho memberikan penjelasan lebih detail secara rinci. Bahkan ia meminta Chanyeol dan Kris untuk selalu berada di dekat Baekhyun. Yunho mengabaikan Yoora yang tidak mendengar penjelasnnya dan masih berkutat dengan pemikirannya dan juga beberapa penglihatannya yang kini mulai terasa lebih acak.

Chanyeol memperhatikan tingkah laku kakaknya itu, ia tahu apa yang dipikirkan oleh Yoora, namun ia harus berpura-pura untuk tetap mendengarkan apa yang Yunho jelaskan kepadanya terlebih dulu. Entah apa yang Yunho jelaskan panjang lebar pikrian Chanyeol masih terpaku pada Yoora yang kini mengernyitkan alisnya dan mengigit ujung jari telunjuknya dengan wajah yang nampak bingung.

Bila kamar Putera Mahkota masih dipenuhi dengan kalimat bijaksana dan berbagai perintah dari seorang Ayah, lain halnya dengan kamar Puteri Mahkota yang kini hanya ada Kris dan Baekhyun didalamnya.

"Aku sudah tahu apa yang terjadi—padamu." Kris akhirnya bersuara setelah cukup lama menahan diri karena melihat Baekhyun bersiap dan merapikan segala kekacauan pada ranjangnya. "Kau tidak sendirian Baek." Kris kini beranjak dari posisi duduknya di ranjang milik Luhan dan mendekat kearah Baekhyun.

"Aku ada untukmu sayang." Tangannya menggenggam kedua bahu Baekhyun yang mulai bergetar dan membawanya masuk dalam pelukan hangatnya. "Aku ada disini selalu."

Baekhyun kembali terisak dan membalas pelukan kakaknya dengan erat, suara tangisnya kembali terdengar keras. Luapan emosinya yang tertahan dari kemarin berhasil tersalurkan saat ini bersama kakaknya dan membuat perasaanya lebih baik dari kemarin.

"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji. Kita akan melawannya bersama-sama."

Entah berapa kali Kris mengulang-ulang ucapan itu demi menenangkan adiknya, bahkan usapan tangannya sudah berulang kali mengusap punggung kecil adiknya itu.

"A-Aku takut." Baekhyun akhirnya bersuara walaupun masih dengan suara tangisnya.

"Hei.. adikku tidak mengenal takut." Kris melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Baekhyun yang nampak sudah berubah warna merah. "Adikku pemberani bukan." Kris mengangkat dagu Baekhyun dan mengusap air matanya yang membasahi pipi dan kelopak matanya. "Adikku adalah pemberani, adikku seorang yang kuat dan pantang menyerah bukan ?"

Anggukkan kepala dan senyuman kecil menjadi jawaban yang diberikan oleh Baaekhyun untuk kakaknya.

"Kita akan berlatih bersama-sama.. kita akan menghadapi semuanya bersama-sama."

"Hm." Baekhyun mengangguk kembali.

"Yoora mengatakan bahwa kau belum sepenuhnya memiliki kekuatan itu.."

Baekhyun mengedipkan matanya masih mendengarkan dengan baik apa saja yang dikatakan oleh kakaknya. Pemikirannya sudah lebih tenang dan lagipula ia yakin kakaknya akan selalu berada bersamanya untuk berlatih bersama-sama.

"Jadi sebelum itu.." Kris melanjutkan. "Cobalah untuk menganggap kau bukan pemiliki kekuatan cahaya abadi." Suara nya semakin berbisik dan terdengar bagai desiran angin.

Baekhyun menganggukkan kepala ragu-ragu.

"Ingat kata Ibu. Jangan takut akan hal apapun yang belum terjadi." Kris mengingatkan kembali pesan-pesan yang selalu Ibunya katakan pada Baekhyun, dan terbukti kalimat itu bisa membuat Baekhyun kembali menjadi sosok adiknya yang selama ini ia kenal. Anggukkan kepala yang mantap dan juga senyumannya yang kembali cerah berhasil terlihat.

"Nah. Ini baru adikku!" Kris menepuk kedua tangannya dan mengusak rambut Baekhyun. "Bersiaplah. Aku akan menunggumu di ruang makan."

"Hm. Aku akan menyusul." Baekhyun membalas dengan senyuman hangat.

"Kau harus! Dan jangan menghilang!" Kris menggodanya dan langsung mendapatkan serbuan bantal yang terlempar kearahnya sebelum ia keluar dari pintu kamar Baekhyun.

.

Acara sarapan pagi ini sudah dimulai lebih dulu oleh Luhan, Tao, Kyungsoo, Jongdae dan juga Zhoumi. Mereka memutuskan untuk menyantap sarapan lebih dulu mengingat dua keluarga Kerajaan yang lainnya sedang mengadakan pertemuan keluarga didalam kamar.

"Papa. Apa kita akan berlatih lagi hari ini?"

Zhoumi menoleh kearah Tao yang kini tengah melahap potongan daging sosis dimulutnya.

"Kenapa kau menanyakkan itu? Berlatih sudah menjadi rutinitas kita bila perlu ku ingatkan Tao-ah." Zhoumi menjelaskan dan menunjuk garpu makannya kearah Tao.

"Kegiatan ini mulai membosankan." Luhan yang berkomentar dengan wajah datarnya.

"Itu karena kau selalu bertengkar dengan Sehun." Zhoumi menyahut dengan santai.

Jongdae dan Kyungsoo yang enggan berkomentar masih tetap melanjutkan acara sarapan mereka mengabaikan perbincangan ketiga orang tersebut.

Yunho melangkah masuk dengan Yoora yang berada disampingnya, diikuti Sehun dan juga Jongin yang berada dibelakangnya.

"Morning." Yoora menyapa dan mulai duduk dekat dengan Luhan dan Tao. Yunho kembali duduk pada posisinya seperti biasa, diikuti dengan Jongin dan Sehun yang berada didekatnya.

"Morning." Zhoumi dan Kyungsoo menjawab bersamaan.

"Kami memulai acara sarapan lebih dulu."

"Tidak apa." Yunho menjawab santai kearah Zhoumi.

"Chanyeol tidak turun?"

"Sebentar lagi." Yoora menyahut kearah Zhoumi. "Ia menunggu Kris dan Baekhyun." Yoora tersenyum ramah dan memulai santapan sarapannya.

Mereka melanjutkan acara sarapannya kembali diselingi dengan obrolan yang menghibur keluar dari mulut Sehun dan juga Jongin yang selalu ada bahan yang dibicarakan sebagai sebuah lelucon. Pemandangan berbeda kali ini terlihat pada Luhan yang lebih menutup diri dan lebih banyak diam, terfokus menyelesaikan makan paginya tanpa memperdulikan perbincangan yang terjadi. Bahkan pandangannya tidak teralihkan saat yang lain mengatakan bahwa Kris dan Chanyeol terlihat masuk kedalam ruang makan, disusul Baekhyun yang berada dibelakang kedua lelaki itu.

Baekhyun mengucapkan salam dan duduk pada kursi kosong disebelah Kris dan Yoora, kali ini ia merasa canggung kembali mengingat kejadian saat latihan kemarin yang pasti akan ditanyakkan pada dirinya tentang apa yang terjadi.

"Tidak ada pembahasan masalah kemarin." Zhoumi berbicara dengan lantang dan seketika membuat suara tawa Sehun dan Jongin mereda sebagai jawaban bahwa mereka mengerti hal yang dimaksud oleh Raja Tiranis tersebut.

Kris menyiapkan beberapa santapan untuk Baekhyun dan memintanya untuk makan dengan benar, yang Kris tidak tahu adalah kali ini adiknya tengah memperhatikan seseorang di hadapannya ynag sibuk menyiapkan sarapan dengan meletakkan berbagai buah-buahan pada piringnya.

Chanyeol.

Baekhyun menatap tangan kekar itu yang sedang mengambil beberapa buah yang berada didekatnya, kedua tangannya yang bekerja hanya untuk memetik dan mengatur letak buah tersebut berhasil membuat pikiran Baekhyun terpaku padanya. Apalagi saat tangan itu mengambil beberapa buah Strawberry dan diletakkan pada piring kecil yang kali ini ia pegang. Baekhyun menatap piring itu dan meneguk air liurnya sendiri karena tergoda akan bentuk buah berwarna merah yang menjadi kesukaannya.

"Makanlah." Chanyeol menyerahkan piring kecil itu dan menyerahkan langsung kepada Baekhyun, dan sontak membuat semua mata tertuju pada mereka berdua termasuk Kris yang berada di dekat Baekhyun. "Jangan melihatnya saja, aku tahu kau sudah menginginkannya dari tadi." Chanyeol masih menatap Baekhyun dan menunggu tangan mungil itu untuk mengambil piring yang ia serahkan.

Baekhyun mengedipkan matanya berkali-kali memandang wajah Chanyeol yang sungguh terlihat lebih menawan pagi ini. Tangannya bergerak kaku untuk mengambil piring itu, bahkan bibirnya tidak bisa mengucapkan satu kata pun hanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih padanya.

"Hyung. Kau tidak pernah menyiapkan makanan untukku." Chanyeol memejamkan matanya mendengar komentar yang dilontarkan oleh adik bungsunya.

"Oh-oh! Tumben sekali Chanyeol menyiapkan makanan untuk seorang wanita." Kali ini Jongdae yang berkomentar.

Baekhyun hanya tersenyum kaku melihat kearah mereka dan kemudian mengambil piring tersebut.

"Te-rima kasih." Baekhyun mengucapkannya dengan suara lembutnya dan hanya dibalas dengan anggukkan kepala oleh Chanyeol. Dan sosok dingin itu kembali melanjutkan sarapannya tak memperdulikan kedua adiknya yang masih berkomentar sinis.

"Ambilkan untukku juga." Kali ini Kris yang memberikan piringnya kearah Chanyeol. Semua mata melihat kemballi tingkah mereka dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Chanyeol masih terdiam dan mengambil piring tersebut dan menyusun kembali buah-buahan yang menjadi kesukaan Kris dan kemudian menyerahkan kembali padanya.

"Kau makan juga yang benar." Ucapan Chanyeol mendapat senyuman miring dari Kris.

Semua kembali melanjutkan acara sarapannya dan menganggap hal yang terjadi sebelumnya hanyalah kebetulan semata. Tidak bagi Kris, Yoora dan Chanyeol yang memiliki pemikiran yang lain akan apa yang baru saja terjadi. Bahkan Baekhyun mencoba membaca situasi tersebut dengan memperhatikan sikap kakaknya terhadap Chanyeol, dan bagaimana sikapnya sendiri terhadap pria yang berada didepannya.


-Loves of Tales-


Sesuai yang dikatakan Zhoumi sebelumnya bahwa ia akan mengubah formasi latihan mereka dengan strategi yangbaru. Dan itu berlaku pada hari ini. Baru saja Zhoumi menyebutkan bahwa kali ini mereka akan terbagi dalam tim, dan nantinya setiap tim akan bersaing untuk saling menyerang guna memenangkan sebuah permainan yang akan disebutkan nantinya. Setelah penjelasan itu, tibalah saatnya diumumkan nama-nama masing tim, tim pertama adalah Yoora dan Kris, dan tim kedua diisi oleh Baekhyun dan Chanyeol, tim ketiga diisi oleh Jongin dan Kyungsoo, tim keempat diisi oleh Tao dan Jongdae, dan yang terakhir saat nama Sehun dan Luhan disebutkan seketika luhan menolak dan membantah ucapan ayahnya.

"Aku tidak mau!" Luhan kembali menolak. Sedangkan Sehun yang meminta bantuan ayahnya untuk bisa memisahkan dirinya dan tidak tergabung bersama dalam tim yang sama dengan Luhan.

"Aku tidak mau bergabung bersamannya!" Luhan masih memberi penolakan.

"Apa yang akan kau lakukan hah? Aku tidak akan memindahkanmu pada tim yang lain. Hari ini kau akan bersama dengan Sehun! Tidak ada penolakan." Zhoumi bertolak pinggang terarah pada Puterinya.

"Aku tidak mau!" Luhan dengan kesal menghentakkan busur panah yang ia bawa.

"Ini perintah!" Zhoumi kembali berteriak.

"Hari ini kami meminta kau satu team dengannya." Yunho ikut menjelaskan memberi pengertian pada Luhan dan Sehun. "Bila kalian bisa bekerja sama hari ini dan memenangkan permainan kali ini, besok kalian bisa memilih team yang kalian inginkan."

Tawaran yang Yunho berikan berhasil membuat Luhan tidak membantah kembali namun tidak mengiyakan. Sebalikanya Sehun bersemangat dan menganggukkan kepalanya.

"Baiklah! Call!" Sehun yang menjawab lebih dulu dan mendekat kearah Luhan untuk mengajaknya bersalaman. "Kita harus bekerja sama supaya bisa terbebas satu sama lain." Sehun mengucapkan kalimat itu dan masih menunggu Luhan menerima jabatan tangannya, namun sayang sang Puteri lebih memilih memungut kembali busur panahnya dan berjalan menjauhi diirnya.

"Baiklah. Aku anggap kalian semua sudah menerima dengan baik teman satu team kalian masing-masing." Zhoumi mengusap tangannya dan berdiri tepat dihadapan para Putera dan Puteri Mahkota yng kini sudah berdiri berdampingan dengan rekanan satu timnya. "Seperti yang dikatakan oleh Yunho, bahwa setiap yang memenangkan permainan ini dapat memililih tim untuk permainan berikutnya. Ini cukup simple, kalian hanya perlu mencari tiga bendera Eowyn yang berada didalam hutan itu." Zhoumi menunjuk arah hutan Eowyn yang berada jauh dibelakangnya. "Didalam sana lah permainan kalian dimulai." Zhoumi memberikan smirk senyum yang terkesan sangat menakutkan.

"Pergunakkan kemampuan kalian.. dan mungkin kekuatan kalian." Yunho menambahkan dan memandangi satu per satu wajah-wajah para Puteri dan Putera Mahkota yang kini nampak sedikit ketakutan.

"Permainan dimulai." Zhoumi meniupkan peluit dan mereka semua berlari bersama untuk masuk kedalam hutan lebih dulu. Yoora dan Kris saling berdampingan saat berlari, bahkan mereka saling bergandengan tangan dengan erat dan melaju cepat. Chanyeol dan Baekhyun ikut berlari dibelakangnya dan berusaha mengerjar mereka Kris dan Yoora, Jongin dan Kyungsoo ikut dibelakangnya dengan posisi Kyungso berada didepan Jongin. Luhan dan Sehun ikut berlari namun mereka sama sekali tidak berada berdekatan, Luhan lebih memilih berada dibelakang Jongdae dan Tao sedangkan Sehun memutuskan untuk menjauh dari mereka semua.

Terlepas dari mereka yang masih sibuk adu lari untuk masuk kedalam hutan, Yunho dan Zhoumi berdiri berdampingan dan saling memperhatikan dari posisi mereka saat ini.

"Siapa yang akan menang kali ini?" Yunho bertanya

"Mungkin Kris? Atau Chanyeol?" Zhoumi menjawab dengan santai. "Ah harusnya kau tanyakkan terlebih dulu pada Puterimu tadi." Jentikkan tangan Zhoumi membuat Yunho terkekeh dibuatnya.

"Bagaimana bisa aku bertanya padanya bila kau sudah meniupkan peluit lebih dulu tanpa aba-aba dariku." Yunho memukul lengan Zhoumi dan mereka berdua sama-sama terkekeh dibuatnya.

"Oh. Sudah dimulai?" Suara Yixing dari belakang mereka menghentikkan suara kekehan itu.

"Nah! Siapa yang akan menang?" Zhoumi bersemangat bertanya kearah Yixing.

"Hah! Kenapa memangnya?" Yixing mengernyitkan alisnya kearah Zhoumi.

"Ayolah beri tahu kami." Yunho membantu memohon pada Yixing.

"Hmm.. ini menarik." Yixing tersenyum dengan pandangan kosongnya. "Kalian memang pintar mengatur strategi." Kedipan mata sebagai jawaban untuk Yunho dan Zhoumi yang masih berdiri tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Yixing karena wanita itu sudah berlalu pergi meningglakan mereka berdua dengan cepat.

.

"Kau lelah?" Chanyeol mencoba menanyakkan keadan Baekhyun yang kini terengah-engah berjalan masuk diantara pepohonan pinus.

Baekhyun hanya menggelengkan kepala dan masih melanjutkan perjalanannya. Tangannya dengan sigap memegang busur panah, sedangkan pandangannya terfokus pada sekelilingnya mengawasi setiap sudut yang ada untuk berjaga-jaga akan munculnya siapa saja yang akan menyerangnya. Chanyeol masih berjalan dibelakangnya dan sesekali mengawasi kondisi dibelakang mereka, telinganya terfokus pada suara-suara disekitar mereka, pedang yang berada pada tangannya bahkan sudah siap ia luncurkan untuk menyerang.

Langkah kaki Baekhyun melambat saat mereka melakukan pendakian lebih tinggi, Chanyeol yang berada dibelakangnya dengan cepat menahan Baekhyun dan membantunya untuk kembali melangkah.

"Kita istirahat dulu." Chanyeol memberikan perintah dan meminta Baekhyun untuk duduk pada batang kayu yang berada didekatnya. Baekhyun menurut dan duduk pada kayu tersebut, kakinya disejajarkan sehingga supaya otot-ototnya kembali rileks. Chanyeol berjalan kesekeliling hutan itu guna mencari sumber suara dari teman-temannya yang lain.

"Aku rasa mereka masih berada jauh dari posisi kita." Baekhyun mulai berbicara guna mengurangi kecanggungan diantara mereka berdua.

"Hm, bisa jadi. Tapi aku ragu." Chanyeol menjawab tanpa melihat kearah Baekhyun dan masih melihat kearah pepohonan yang lainnya.

"Ke-kenapa?" Baekhyun mengernyitkan alisnya mendengar keraguan dari Chanyeol.

"Yoora dan Kris tidak bisa dianggap remeh Baek." Chanyeol tersenyum dan berbalik kearah Baekhyun. "Kakakmu cukup lihai dalam urusan seperti ini."

"A-aahh.. betul." Baekhyun menganggukkan kepala setuju dengan kalimat yang Chanyeol katakan.

Mereka kembali dalam mode hening setelahnya, Baekhyun masih meregangkan otot-otot kakinya sedangkan Chanyeol kini duduk bersandara pada salah satu pohon dengan posisi duduk mengahadap kearah Baekhyun. Mereka berdua menghindari untuk saling menatap mata dan mata dan bahkan lebih memilih menatap pepohonan yang lain dan bersenandung dalam diamnya.

Tak lama Baekhtun bergerak lebih dulu untuk terbangun dari duduknya dan kemudian memasang kembali segala perlengkapan memanahnya.

"A-aku rasa—

"Sudah bisa melanjutkan?" Chanyeol memotong kalimat Baekhyun.

"Hum. Bisa kita lanjutkan." Baekhyun berjalan memimpin dan diikuti Chanyeol dibelakangnya.

Keheningan dari dalam hutan pinus itu memperparah suasan canggung antara Chanyeol dan Baekhyun, bahkan masing-masing dari mereka hanya fokus berjalan kedepan dan sesekali saling melihat pemandangan sekitarnya guna mencari ketiga bendera Eowyn yang bisa saja berada didekat mereka.

Baekhyun masih memimpin didepan dan Chanyeol kini tengah memperhatikan bagaimana sosok mungil itu mulai menyanyikan beberapa lagu walau hanya demuman dari mulutnya, tangannya meraih dedaunan sekitar dan bergerak dengan lentik menikmati pergesekan lembut yang terjadi diantaranya.

Biga naeryo hapil tto

Jamdo mot jage

Ajik ingabwa

Nan ajikdo

Neol kidarina bwa

Biga odeon keunal bam

Saranghaetdeon neowa na

Majimakkaji

Keokjeonghadeon neo

Nal anajudeon neo

Baekhyun menyanyikan beberapa petikan dari lagu yang ia demumkan dari tadi, pandangannya masih mengarah kedepan dan tidak memperdulikan bahwa kali ini dibelakangnya ada sosok pria yang terpaku melihat dan mendengar dirinya bernyanyi sedari tadi.

"Bagaimana suaraku?"

Chanyeol berusaha memandang sosok gadis yang bercahaya didekatnya. Ia tahu bahwa kali ini sang gadis tersenyum hangat padanya meskipun ia tidak melihatnya dengan jelas, tapi dari nada suaranya ia sudah mengetahui hal itu.

"Suaramu indah, lembut dan sangat merdu." Chanyeol menjawabnya dengan senyuman pula, dan kali ini ia ingin agar gadis itu tahu bahwa Chanyeol sangat menyukai kehadirannya.

"Benarkah?"

"Hm."

"kalau begitu aku akan nyanyikan lagu yang lainnya."

Biga naeryo hapil tto

Jamdo mot jage

Ajik ingabwa

Nan ajikdo

Neol kidarina bwa

Biga odeon keunal bam

Saranghaetdeon neowa na

Majimakkaji

Keokjeonghadeon neo

Nal anajudeon neo

"Menikmati pemandanganmu Putera Mahkota?"

Kecerobohan yang Chanyeol lakukan berhasil membuat salah satu pengawal Kerajaan menahan badannya dan mengarahkan pedang pada lehernya. Dan seketika dirinya terkepung oleh 5 orang pengawal yang sudah bersiap dengan segala perlengkapannya.

Chanyeol merutuki dirinya dan memejamkan matanya untuk bisa membaca situas yang terjadi, pandangannya kembali terbuka dan melihat kearah sekitarnya dimana ia tidak menemukan Baekhyun, dan kali ini ia bersyukur dengan menganggap bahwa Baekhyun sudah berada jauh dari posisinya dan tidak menyadari bahwa ia tertinggal di belakangnya.

"Cukup letakkan senjatamu dan berjalan kembali kearah Istana." Salah satu pengawal memberikan perintah dan bersiap mengambil pedang yang sedari tadi Chanyeol pegang.

Srrrtttttttt

"Akkkhhhhh!" teriakan dari dua orang yang pengawal yang kesakitan karena panah yang mengenai tangan mereka berhasil membantu Chanyeol untuk melakukan penyerangan. Dengan cepat pukulan dan tendangan ia arahkan kepada para pengawal hingga bisa terbebas dari mereka semua dan kemudian melanjutkan berlari melarikan diri dari kukungan para pengawal.

Hal yang membuatnya terkejut adalah Baekhyun yang tiba-tiba turun dari atas pohon dan membuat Chanyeol terjatuh karena hampir saja menabrak badan mungil tersebut.

"Yak! Hampir saja kita kalah!" Baekhyun membantu Chanyeol untuk bangkit dan membantunya membersihkan sedikit debu tanah pada celananya.

"Maafkan aku." Chanyeol masih mencoba menstabilkan nafasnya dan kemudian beralih ikut membersihkan debu-debu pada tanahnya. "Terima kasih.." Chanyeol mengucapkan terima kasih pada Baekhyun.

"Hm. sama-sama!" Baekhyun tersenyum bahagia. "Kau memiliki hutang nyawa padaku." Baekhyun mengedipkan matanya dan menggandeng tangan Chanyeol untuk memintanya berjalan kembali. Namun Chanyeol menahan badannya untuk berjalan dan menarik tangan Baekhyun supaya berada didekatnya.

"K-ke-napa?" Baekhyun mulai merasa gugup karena kini Chanyeol mengarahkan badannya untuk tepat berada dihadapannya.

"Aku tahu apa yang terjadi kemarin dan semalam." Chanyeol berbicara pelan dihadapan Baekhyun dengan wajah gadis itu yang kini melihatnya dengan matanya yang sudah berbinar. "Aku tahu semuanya.. dan mengenai kekuatanmu.. maafkan—

"Bejanjilah untuk melindungiku." Baekhyun memotong kalimat Chanyeol dan kini mengarahkan badannya untuk memeluk Chanyeol. "Ku mohon jangan tinggalkan aku.. hiks.. apapun yang terjadi tetaplah berada didekatku. Aku takut.. hiks.. ku mohon.." Baekhyun memeluk badan Chanyeol dengan erat dan menenggelamkan wajahnya pada dada Chanyeol. Menggumamkan beberapa kalimat yang menjadi kekhawatirannya dan rasa takutnya dari kemarin.

Chanyeol membalas pelukan Baekhyun dan mengelus tubuh mungil itu, mengucapkan beberapa kalimat penenenang dan meminta Baekhyun untuk percaya padanya. Entah sudah berapa kalimat yang ia ucapkan untuk menghilangkan kekhawatiran Baekhyun saat ini, tapi semua itu rasanya belum cukup untuk membuat gadis mungil yang tenggelam dalam pelukannya mengakhiri isakan tangisnya.

"Aku takut.. mengenai semua perlawanan yang akan terjadi.. dan mengenai pertaruhan—

"Aku berjanji semua hal buruk yang kau takutkan tidak akan terjadi."

"Kau sungguh-sungguh berjanji?" Baekhyun mendongakkan wajahnya untuk melihat lebih dalam mata Chanyeol saat mengatakan janjinya.

"Aku berjanji." Chanyeol tersenyum dan menghapus semuanya jejak air mata yang ada pada wajah Baekhyun. melihat Baekhyun seperti ini menjadi pemandangan berbeda karena ia terlihat lebih polos dan benar-benar masih terlihat seperti anak kecil dihadapannya.

"Kita akan berlatih bersama-sama. Anggaplah dirimu bukan pemilik kekuatan Cahaya Abadi, itu bisa meringankan bebanmu sedikit." Chanyeol mengelus pipi Baekhyun dengan lembut dan tersenyum kepadanya.

"Jangan menangis lagi dihadapanku. Kau terlihat seperti anak kecil." Chanyeol mengusak rambut Baekhyun dan tertawa karena gadis itu kini mengerucutkan bibirnya dan kemudian memberikannya tatapan mendelik kesal kearahnya.

"Eoh-eoh! Baru saja kau memohon padaku untuk menjagamu dan kini kau memberikanku tatapan seperti itu." Chanyeol berdecak kesal kearah Baekhyun.

"Jangan memanggilku anak kecil!" Baekhyun berteriak kesal.

"Haaaaahhh! Kau memang masih kecil Baek." Chanyeol menggelengkan kepala dan memutuskan untuk berjalan kembali.

"Aku sudah besar! Badanku saja yang kecil!" Baekhyun masih membalas pembahasan tentang itu dan mengikuti langkah kaki Chanyeol namun dengan hentakkan yang kasar untuk menunjukkan bahwa ia kini tengah marah terhadap sosok didepannya. Sedangkan Chanyeol hanya sedikit menoleh kearahnya dan kembali tertawa dengan langkahnya yang masih berjalan kedepan mengabaikan kekesalan gadis dibelakangnya.

"Kkkkyyyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Teriakan kencang Baekhyun dari belakangnya terdengar dan berhasil menghentikkan langkah kakinya. Ia berbalik dan berlari untuk melihat apa yang terjadi pada gadisnya.

"Baekhyun!"

"Chan.. tolong aku.. hiks."