Chapter 1 :

Tetanggaku bukan Manusia? (Part 1)

Hari ini, tanggal 2 Maret, Bandara Internasional Tokyo, Jepang. Seorang gadis berjilbab terlihat keluar dari terminal kedatangan luar negeri sambil menyeret kopernya yang cukup besar.

*Yaya Pov

Perkenalkan namaku Yaya Ah, aku baru saja tiba setelah menaiki pesawat asal Kuala Lumpur. Ya walapun sempat tertunda beberapa saat karena cuaca buruk dan landasan yang tertutup oleh salju. Tapi itu bukan apa-apa dibandingkan kepentingan yang mengharuskanku pindah ke Jepang lebih awal.

Benar, Aku adalah seorang Imigran asal Malaysia. Sejak sebulan lalu aku diterima sebagai Mahasiswi baru di Universitas ternama di Jepang, Universitas Tokyo. Dan alasanku memutuskan pindah lebih awal sebelum masa perkuliahan dimulai…

Tentu saja untuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari tempat tinggal hingga membiasakan diri dengan rutinitas dari orang-orang Jepang yang katanya budaya tepat waktunya tinggi sekali.

Apa kalian heran kenapa aku hanya membawa sebuah koper besar disaat aku harus tinggal berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di luar negeri? Jangan khawatir soal itu, karena barang-barang kebutuhanku sudah lebih dulu dikirim dan sementara diletakan di kantor kedutaan luar negeri Malaysia di Jepang.

Jadi, sekarang tujuan pertamaku tentu saja adalah Kantor Kedutaan.

Ngomong-ngomong…

Kantor Kedutaan ada di mana ya?

*Normal Pov

Kemudian segera gadis berkerudung pink menuju area teras terminal dimana biasanya banyak taksi dan mobil yang lewat lalu lalang untuk menjemput penumpang.

Beruntung, ada sebuah taksi yang sedang terparkir di sana setelah menurunkan penumpangnya. Yaya pun bergegas mendatangi taksi tersebut. Namun sepertinya dia kurang cepat dan lebih dahulu dibalap oleh seorang wanita paruh baya yang juga baru tiba di bandara tersebut.

Pasrah, Yaya hanya diam dan membiarkan wanita itu menaiki taksi bandara tersebut. Apalagi kelihatannya wanita itu sangat tergesa-gesa.

Beberapa saat kemudian sebuah taksi kembali lewat, Yaya pun langsung mengibaskan tangannya untuk menghentikan taksi tersebut. Tapi kelihatannya nasib mujur sedang tidak berpihak padanya. Kali ini angkutan umum beroda empat itu sedang membawa dua orang penumpang di kursi belakang.

Yaya membuang nafas berat dengan lesu. Sekarang dia harus bagaimana? Dia baru saja tiba di Jepang. Tentu saja dia buta jalan dan tidak ada orang yang dikenalnya di sini.

Dan beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Gadis itu pun langsung mengeluarkan alat komunikasi itu dari tas selempang kecil berwarna pink dengan motif bunga yang sedang dipakainya.

Dari tulisan yang terpampang di layar ponsel itu Yaya tahu jika Ayahnya lah yang menghubunginya dengan menggunakan panggilan luar negeri. Segera gadis itu pun menjawab telepon dari orang tuanya itu.

"Halo, ayah?" ucap Gadis itu.

"Halo Nak, bagaimana? Apa kau sudah sampai disana?" sahut pria di seberang panggilan tersebut.

"Iya. Yaya sudah sampai di Jepang dengan selamat. Tapi…"

"Tapi kenapa Nak?" tanya si ayah lagi.

"Yaya kehabisan taksi dan Yaya juga nggak tahu kantor kedutaan ada dimana" jawab si gadis dengan lesu.

"Apa orang kedutaan tidak ada yang menghubungimu"

"Tidak ada…" Jawab Yaya lagi dengan nada sedikit kecewa.

Tanpa disadari gadis itu, di dekatnya ada seorang pria yang juga sedang menunggu taksi dan tanpa sengaja mencuri-curi dengar percakapan antara Ayah dan anak perempuannya. Secara perlahan pria itu mulai mendekat dan menghampiri Yaya yang tidak menyadari kehadirannya karena sibuk dengan teleponnya.

"Baiklah tunggu sebentar… Biar ayah%^*(%#..." tiba-tiba saja ucapan sang Ayah menjadi tidak jelas, entah karena kehilangan sinyal atau semacamnnya.

"Halo? Ayah?" Yaya mulai kebingungan karena tiba-tiba mendengar suara Ayahnya terputus-putus di telepon.

"Sinyalnya lem% ..."

Segera panggilan tersebut pun terputus secara total. Membuat Yaya semakin bingung dan panik. Apa iya sinyalnya bisa tiba-tiba lemah? Memang yang tadi itu telepon luar negeri tapi bukan menggunakan pulsa, melainkan internet. Apa iya sinyalnya tiba-tiba bisa hilang? Ini kan di bandara, bukan daerah terpencil. Dan sejak tadi Yaya bukan memakai Kartu Internet tapi Wifi bandara.

Jadi artinya, masalahnya ada pada sinyal handphone ayahnya ya?

"Halo Nona"

"Kya!" Tanpa disadari Yaya, pria mencurigakan itu sudah ada di sebelahnya dan menyapanya. Hingga membuat gadis itu kaget bukan kepalang.

"Wah~ Maaf. Aku membuatmu kaget ya?" ucap Pria itu agak canggung dan sedikit merasa bersalah sambil mengusap kepala belakangnya yang tidak gatal.

Yaya mengerjap bingung pada pria di depannya. Pria ini sepertinya adalah orang Jepang, tapi dia bisa berbicara dengan Yaya menggunakan bahasa Melayu dengan lancar

Singkat kata, sangat bagus. Bahkan sempurna.

"Nona ini dari luar negeri kan? Malaysia, benar?" tanya pria itu. Yaya yang kebingungan pun hanya mengangguk mengiyakan, tentu saja dengan perasaan sedikit curiga.

"Apa Nona sedang mencari tumpangan menuju kantor kedutaan?" tanya pria itu lagi.

"Kenapa anda bisa tahu?" kali ini Yaya yang bertanya. Dengan nada sedikit terkejut.

"Yah… Aku sedikit mencuri-curi dengar saat anda menelpon tadi. Maaf ya?" jelas pria itu lagi. "Ah iya. Apa nona mau menyewa mobilku, tentu saja aku yang menyupir." lanjut pria itu kembali menawarkan jasa rental nya pada gadis berusia 18 tahun itu.

"Berapa biayanya?" tanya Yaya.

"Sekitar segini" jawab pria itu sembari mengacungkan tiga jari tangannya ke depan. Yaya langsung kaget begitu mengira nilai yang diminta oleh pria itu, dalam pikirannya jumlahnya sangat besar.

"Tiga juta!? Tiga juta yen?! Aku tidak bawa uang sebanyak itu!" jerit gadis itu panik dan membuat pria itu mengerjap kebingungan.

"Aku tidak minta sebanyak itu Nona" kata pria itu.

"Kalau begitu… Tiga ratus ribu?"

Pria itu menggeleng.

"Tiga ribu. Bagaimana? Kau bisa sekalian tur keliling perfektur Tokyo lho. Dan Nona boleh bayar di akhir perjalanan" tawar Pria itu tegas dan membuat Yaya keheranan sendiri. Untuk biaya sebuah tur terhitung cukup murah juga. Kalau di konversikan ke Ringgit Malaysia sekitar 120 RM.

Awalnya dia pikir nilainya akan naik banyak karena penumpangnya hanya dirinya sendiri. Tahu kan? Orang pasti maunya cari modal balik. Kalau kata orang Banjar sih, 'meambil hujungan'. Makanya Yaya agak bingung, Tiga ribu Yen, apa itu wajar?

Yaya mengulum bibirnya dan berpikir keras. Orang ini terlihat sedikit mencurigakan, kalau dia ikut entah apa yang akan terjadi padanya tapi di satu sisi dia tidak punya pilihan lain, dia tidak membawa uang kas banyak dan ayahnya belum mentransfer ke atmnya.

"Baiklah" ucap Yaya ramah sambil menegapkan kedua bahunya. Apa boleh buat daripada dia harus susah-susah mencari Taksi dan membayar mahal, mungkin lebih baik menyewa orang ini dengan bayaran murah. Hitung-hitung dia mendapat bonus berkeliling kota Tokyo, pasti menyenangkan.

"Kalau begitu ikuti aku. Aku memarkirkan mobilku di dekat sini. Ah iya, biarku bantu membawakan barang-barangmu" kata Pria itu langsung menarik koper Yaya dan menjinjing benda besar dan berat itu dengan satu tangan. Yaya sampai heran, kuat sekali pria ini. Bahkan Ayahnya saja saat mengantarnya tadi sampai harus menyeret benda itu.

Tapi daripada berlama-lama memikirkan hal itu, dia pun langsung mengikuti kemana si pria itu membawanya.

Mereka pun melangkah pergi dari teras bandara tersebut dan berjalan menuju parkiran, kemudian berbelok ke arah pagar dimana ada sebuah jalan pintas kecil dan berakhir di daerah perumahan di belakang bandara tersebut. Lucunya, Yaya tidak merasa curiga sama sekali, bisa saja kan mereka sedang menuju rumah pria ini untuk mengambil mobilnya.

Saat tiba di depan sebuah gang kecil.

"Nona, bisa kau jalan duluan? Tinggal jalan lurus saja lagi, mobilku ada di depan sana. Aku sengaja meletakannya di luar bandara agar tidak perlu membayar biaya parkir. Aku mau membetulkan posisi koper ini dulu. Ternyata benda ini berat juga? Nona pasti membawa banyak barang dalam sini" Jelas Pria itu panjang lebar sembari cengar-cengir tak jelas.

"Oke…" sahut Yaya, dari sinilah dia mulai curiga dan sedikit was-was. Takut-takut kalau pria itu mengincar isi kopernya. Tapi kalau memang yang dia mengincar benda itu, kenapa tidak sejak awal saat mereka mulai menjauh dari orang banyak. Padahal dia hanya tinggal lari saja dan membawa koper itu bersamanya lo.

Membingungkan.

Yaya pun terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, dia masih bisa mendengar langkah kaki dari pria di belakangnya ditambah dengan suara koper yang diseret. Jadi sepertinya pria tadi memang berkata jujur. Tapi rasanya aneh, entah kenapa lama-lama gang ini semakin menyempit, menyempit dan menyempit hingga akhirnya tidak ada jalan lagi di depan mereka.

Dengan kata lain jalan buntu.

"Nah paman. Apa benar mobilmu di dekat sini?" tanya Yaya ragu.

Pria itu menyeringai. Setelah itu bayangan yang tercipta dari pantulan tubuhnya pun membesar seiring bertambahnya ukuran anggota tubuhnya.

Yaya diam, dia bisa merasakan ada yang tidak beres di belakangnya, Aura ini dia sudah sering sekali merasakannya. keringat dingin pun segera mengucur di sekitar dahi dan tenguknya. Tapi tubuhnya seperti kaku, dia tidak bisa bergerak sama sekali. Dan sesaat kemudian…

"(II Nioi) Bau~ yang enak~"

Seketika kedua mata gadis itu membulat. Dia mengenali suara, kata-kata dan cara bicara itu. Dia sudah sering berhadapan dengan makhluk-makhluk yang hanya bisa mengucapkan hal itu setiap kali bertemu dengannya. 'Baumu Wangi, Baumu Enak, Cahaya terang' itu yang selalu mereka ucapkan. Dan mereka adalah…

.

.

Siluman.

.

.

Gadis itu pun membalikkan tubuhnya dengan gemetar, wajahnya pucat pasi karena saking ketakutannya. Dan menemukan jika pria yang sejak tadi dia ikuti sudah berubah bentuk menjadi mahkluk dengan kepala raksasa dan mulut lebar, tapi tubuhnya cebol.

Sekarang Yaya sadar dia sudah ditipu dan pria itu bukan mengincar harta atau barang-barangnya, tapi dirinya. Tapi menyesal pun tidak ada gunanya sekarang, karena makhluk sudah bersiap menelan gadis itu dengan mulut besarnya yang lebar.

Gadis itu pun duduk lemas karena ketakutan. Tidak ada kah yang akan menolongnya? Sampai sini sajakah riwayatnya? Beginikah caranya mati? Ditelan oleh Makhluk mengerikan?

Pasrah, Yaya pun hanya menutup matanya dan membiarkan makhluk itu mendekat dengan cengiran lebar tersungging di wajahnya. "Ayah…" tangisnya dalam hati.

Tapi tiba-tiba…

Sebuah cahaya tiba-tiba muncul dan melesat dengan cepat seperti anak panah, tepat mengenai makhluk tersebut di kepala. Bagian tubuh yang terkena serangan itu pun langsung membengkak dan kemudian meledak. Hingga menyebabkan organ-organ di dalamnya berceceran kemana-mana dan hanya menyisakan bagian tubuh tanpa kepala milik makhluk tersebut yang seketika langsung ambruk di tempat.

(Kok aku malah jadi pengen muntah ngebayanginnya? *Author komentar)

Yaya pun syok seketika itu juga begitu menatap tubuh kecil tanpa kepala yang sekarang terbaring di tanah dan sudah tidak bernyawa itu lagi. Darah berceceran di mana-mana menambah kesan horor di sekitarnya.

Kemudian dia pun menggulirkan matanya lurus ke depan dan menemukan sosok lain yang sepertinya adalah penembak misterius yang sudah menyelamatkannya barusan.

Seorang pria berbaju putih sedang berdiri menyerong dari posisinya. Matanya berwarna abu-abu keperakan, rambut hitamnya yang lebat berayun tertiup hembusan udara dari hasil tembakannya. Dan di tangan kirinya terdapat busur yang terbuat dari besi berwarna keperakan. Dia masih memasang posisi memanahnya setelah beberapa saat berhasil menyerang Siluman tersebut dari belakang.

Setelah yakin makhluk itu tidak akan bangun lagi, dia pun menghela nafas dan menurunkan senjatanya, lalu mulai melangkah mendekati bagian badan yang masih utuh di depannya kemudian menginjaknya dengan tatapan merendahkan.

"Dasar siluman kelas teri. Pintar juga kau menyamar dan menipu manusia agar masuk jebakanmu" gerutunya dengan nada menghina.

Kemudian si pria dengan mata perak itu pun beralih menatap gadis di depannya yang terlihat masih agak syok dengan kejadian yang barusan menimpanya. Dia langsung berlutut untuk menyamakan posisinya, mata mereka saling bertemu. "Maaf kalau sudah membuatmu kaget. Kau baik-baik saja, Nona?" ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya untuk si gadis untuk membantunya berdiri.

Tentu saja Yaya yang masih trauma langsung menghindar dari pria asing yang baru ditemuinya itu. Bahkan disentuh pun dia enggan.

Dan sepertinya orang ini paham. Dia pun langsung menurunkan tangannya sembari menghela nafas berat. "Jangan khawatir. Aku bukan seperti makhluk yang barusan, dan juga aku kesini bukan untuk mengincarmu tapi mengejar siluman" dan menjelaskan semuanya.

Yaya hanya mengerjap, tampaknya dia masih kebingungan.

"Ah iya. Kau ini imigran dan baru saja datang ke Jepang kan?" lanjut pria bermanik orange itu lagi.

Membuat Yaya membelalak. "Kenapa kau bisa tahu?" tanyanya.

"Yah… Aku sudah mengikuti kalian sejak di bandara. Aku sudah curiga dengan gelagat siluman ini, makanya aku membuntutinya" jawab si pria sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Yaya hanya tertunduk diam, tak berkomentar sedikitpun. Kepalanya benar-benar penuh dengan pertanyaan yang tak bisa dicerna. Jika yang barusan tadi adalah siluman, berarti mungkinkah dia yang sudah membuat komunikasi antara dia dan ayahnya terputus. Lalu pria yang di depannya sekarang ini siapa? Apa yang sebenarnya di rencanakannya? Kenapa dia harus susah payah membuntuti hanya untuk menghabisi siluman kelas rendah?

"Ano sa…" tegur pria itu dan membuat Yaya tersentak dari lamunannya. "Aku sebenarnya ingin membantumu, tapi sekarang aku sedang sibuk. Tapi aku kenal dengan orang yang mungkin bisa membantumu. Jika kau berjalan keluar dari gang ini kemudian belok kiri, kau akan menemukan sebuah kedai kopi. Temui pemilik kartu nama ini, aku yakin dia akan membantumu" jelasnya lagi sambil menyerahkan sebuah kartu dengan nama dan alamat kepada Yaya.

Dia pun berdiri, berbalik dan memberikan salam khas dua jarinya. "Jaa. Semoga beruntung" ucapnya sambil mengedipkan satu mata sebelum akhirnya melompat ke atas tembok pembatas yang cukup tinggi tersebut.

"Tunggu! Kau siapa!? Namamu!" pekik Yaya.

Pria itu berbalik dan menatap Yaya. Kemudian menyunggingkan sebuah senyuman manis semanis permen yang bisa membuat para gadis terkena diabetes. "Kita akan bertemu lagi. Dan jika saat itu tiba, aku akan memberitahukan semuanya" begitulah kata-kata terakhirnya sebelum kemudian dia melompat dan menghilang ke belakang tembok.

Yaya hanya termenung di tempat dan menatap ke arah tembok bekas pria itu menapak. Semilir angin yang tiba-tiba berhembus kencang meniup kain yang menjadi penutup kepalanya dan membuat helain benangnya yang menjuntai keluar berayun dengan lemah lembut. Di tangannya dia menggengam dengan erat kartu nama pemberian pria tersebut.

Siapa sangka hari pertamanya berada di Jepang akan menjadi pengalaman menarik yang takkan terlupakan seumur hidupnya.

Hari ini… Dia bertemu dengan seorang pria baik hati yang memancarkan aura seperti Malaikat dan menyelamatkannya dari Siluman.

~M.A~

Setelah cukup lama berdiam di tempat, gadis itu pun akhirnya berpindah dari tempatnya berdiri. Sambil menyeret kopernya yang besar sendiri, langkah demi langkah pun dia lewati untuk pergi dari gang tersebut. Ah iya, jangan khawatir soal mayat dari siluman barusan, entah kenapa setelah beberapa menit setelah makhluk itu mati, tubuhnya yang sudah tanpa kepala itu tiba-tiba saja mengeluarkan uap lalu kemudian mencair dan lenyap hingga benar-benar tidak tersisa sama sekali.

Seperti arahan yang diberikan oleh pria bermata orange yang menolongnya sebelumnya, gadis itu pun berbelok ke arah kiri. Dan benar saja, tidak lama setelah 500 meter berjalan lurus dia pun menemukan sebuah Ruko yang tidak terlalu besar. Halamannya sangat bersih dan rapi, di sekitar tokonya di tanami berbagai tumbuhan hias berbagai jenis, dan di depan pintu masuknya terdapat papan menu sekaligus nama dari kedai kopi tersebut.

"Kedai Kopi Shinwa (Mitologi)?" gumam gadis itu pelan saat membaca nama yang tertulis di papan tersebut. "Nama yang sangat unik" lanjutnya lagi berkomentar.

Karena penasaran, akhirnya Yaya pun memutuskan untuk masuk. Dia menelan ludah sambil memegang grendel dari pintu masuk tersebut dan mempersiapkan hatinya melihat apa yang akan ditemukannya di dalam toko tersebut lalu kemudian mendorong pintu itu ke dalam.

Begitu berada di dalam, dia bisa melihat sebuah kedai kopi dengan nuansa yang cukup klasik dan sederhana. Seperti layaknya sebuah kafe, ada meja makan untuk tamu, bar untuk barista, dan para pelayan yang lalu lalang di kedai tersebut. Hampir tidak ada dinding yang digunakan sebagai penyekat antara bagian luar dan dalam dari toko tersebut, melainkan pintu kaca yang digunakan untuk melihat ke luar. Hanya sebuah kedai kopi biasa, tidak seunik namanya.

"Selamat datang, Nona." tiba-tiba saja seorang pemuda yang merupakan pelayan kafe tersebut datang menghampiri dan menyadarkan Yaya dari lamunannya. Manik berwarna ruby nya menatap lembut pada gadis itu. "Ada kursi kosong di sebelah sana, mari saya antarkan" lanjutnya menawarkan bantuan pada gadis itu sambil melemparkan sebuah senyuman manis. Sepertinya dia berpikir Yaya adalah pelanggan yang sedang mencari tempat duduk karena kafe itu sedang lumayan penuh oleh pelanggan.

"T-Tidak. Jangan repot-repot. Aku kesini karena mencari seseorang. Namanya kalau tidak salah…" Yaya pun segera mengeluarkan kartu nama yang diberikan oleh pria misterius barusan dan membaca nama yang tertulis disana. "G-Gem..pa?" gumamnya setelah membaca tulisan disana, benarkah bacaannya 'Gempa?'. Kalau iya, nama yang sungguh aneh. Maksudnya Gempa itu lebih terdengar seperti…

Bencana.

"Ah~ Kau kenalan Gempa-san?" tanya pemuda itu lagi.

"Eh? I-Iya" sahut Yaya spontan dan asal jawab saja karena panik.

"Tunggu sebentar ya? Silahkan duduk dulu" ucap Pemuda yang kelihatannya seumuran dengannya itu, sebelum akhirnya dia berbalik menuju dapur yang berada di belakang bar barista di kafe tersebut.

Sambil menunggu si waiter beriris ruby dan berambut hitam itu kembali, gadis itu pun mengambil tempat duduk yang kosong di dekat jendela. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela dan menyenderkan kepalanya dengan tangan menatap ke arah taman buatan kecil yang menjadi halaman belakang dari kedai tersebut, sambil melamun dan memikirkan hal-hal yang sudah terjadi padanya hari ini.

Siapa sebenarnya pria yang tadi itu? Kenapa dia mau menolong gadis sepertinya? Dan apa tujuan menyuruhnya menemui orang bernama Gempa? Entahlah terlalu banyak hal tidak masuk akal yang menimpanya hari ini. Bahkan… Sampai detik ini Ayahnya masih belum menghubunginya lagi setelah kehilangan kontak dengannya setelah beberapa saat.

Hingga beberapa saat kemudian suara langkah berat dari hentakan sepatu Pantofel mulai terdengar di telinga Yaya saat dia masih larut dalam lamunannya. Gadis itu membuka kedua matanya dan melihat bayangan berupa pantulan tubuh dari seseorang dari kaca yang berada di depannya.

Dengan cepat gadis itu menoleh pada sosok yang sekarang berada di sampingnya. Dan tampaklah di depan matanya seorang pria berambut hitam dan iris berwarna kuning keemasan. Dari penampilannya yang saat ini memakai seragam waiter, kelihatannya umurnya sekitar 20-an atau lebih. Dan jujur, sangat tampan.

Dari yang terlihat di matanya, sepertinya semua Waiters disini adalah laki-laki. Eh? Ada perempuannya satu. Seorang wanita muda dengan iris berwarna biru dan rambut hitam lebat yang dikepang menjadi dua bagian.

"Apa Nona mencariku?" tanya pria yang berada di sampingnya itu.

"Eh? Ja-Jadi anda yang namanya Gempa ya?" sahut Yaya sedkit kaget. Tapi kemudian tatapannya berubah jadi sedikit malu-malu karena terpesona pada penampilan Gempa sambil memainkan ujung hijabnya yang sedikit menggantung dan mencuat keluar. (Tipe cewek yang suka sama cowok yang penampilannya kelihatan dewasa, sepertinya.)

"Iya itu aku. Boleh aku duduk disini?" kata Gempa dengan senyuman lembut khasnya.

"Y-Ya, Silahkan"

"Terima kasih." Ucapnya sambil mendudukkan dirinya di kursi kosong yang berada di depan gadis berhijab pink tersebut. "Jadi, ada urusan apa Nona mencari saya?" tanya Gempa mengawali pembicaraan mereka.

"Ah.. Anu…itu…" Yaya pun kebingungan harus mulai dari mana menjelaskan kejadian dan perkara yang dihadapinya pada pria di depannya.

"Silahkan diminum~" dan entah darimana datangnya, tanpa diminta seorang pelayan pria dengan iris berwarna hijau seperti dedaunan menyela pembicaraan mereka dan membawakan dua gelas air putih. Dengan senyuman manis yang begitu lembut dan tatapan yang begitu ceria.

"Terima kasih, Thorn." balas Gempa dengan lembut pada pelayan pria yang satu itu.

"T-Terima kasih" kata Yaya ikut-ikutan menyahut Thorn dengan sedikit kikuk. Pemuda yang kira-kira seusia dengan gadis hanya mengangguk dan kemudian berbalik menuju dapur dengan menenteng ceper kayu yang sejak tadi dibawanya.

"Maaf tentang yang barusan. Jadi tadi Nona ingin bilang apa? " Gempa kembali mengubah topik pembicaraan mereka kembali ke awal.

"Ah? Oh iya! Jadi begini"

Yaya pun mulai menjelaskan kronologinya dari awal. Mulai dari saat dia tiba di bandara, kemudian ditawarkan seorang pria mencurigakan yang ternyata merupakan siluman yang sedang mencoba menipunya, lalu diselamatkan pria misterius dan hingga akhirnya berakhir di tempat ini karena mengikuti apa yang diperintahkan oleh orang tersebut. Tentu saja sedikit dimodifikasi dengan mengubah beberapa kata-katanya. Karena mana mungkin orang biasa akan percaya jika dia diserang oleh siluman dan diselamatkan oleh orang yang memiliki senjata yang bisa menembakan panah cahaya.

Mustahil.

"Hmm… Jadi sebenarnya Nona ini hanya ingin pergi ke kantor kedutaan Malaysia. Tapi di tengah jalan dihadang oleh jahat yang mengincar sesuatu darimu. Lalu kemudian ditolong oleh seseorang yang memberikan kartu namaku ini padamu" ringkas Gempa mengambil kesimpulan dari cerita yang dijelaskan oleh gadis di depannya.

"Begitulah…" jawab Yaya lesu.

"Baiklah, aku akan mengantarkanmu" Gempa langsung berdiri dan menawarkan bantuannya untuk gadis itu.

"B-Benarkah!?"

"Iya" jawab pemuda dua puluh tahunan tersebut sembari menyunggingkan senyuman terbaiknya pada Yaya.

"Te-Terima kasih!" Yaya langsung membungkukan tubuhnya untuk memberi hormat sekaligus berterima kasih pada pria di depannya karena sudah mau membantunya tanpa pamrih. Jujur, rasanya dia ingin sekali menangis terharu saat ini. Gempa yang melihat reaksi Yaya hanya menatap lembut padanya.

"Ocho!" dan kemudian menoleh ke arah dapur untuk memanggil salah satu pekerjanya.

"Ya!" kali ini seorang pria berambut pirang dan mata biru keluar dari dapur dan menyahut Gempa dengan nada bicara penuh wibawa.

"Aku akan keluar sebentar. Selama aku pergi, bisa kau gantikan aku dulu?" tanya Gempa pada pria yang kelihatannya berumur dua puluhan tersebut.

"Serahkan padaku." Jawab pria bernama Ocho tersebut tenang. "Tapi anda mau kemana?" lanjutnya lagi bertanya.

"Aku mau menemani Nona ini ke kantor kedutaan Malaysia sebentar, tolong ya" Jelas Gempa sambil meninggalkan meja dan kursi pelanggan yang sejak tadi di tempatinya dan memberikan isyarat pada Yaya untuk mengikutinya.

Yaya dengan canggung dan kikuk pun akhirnya mengikuti kemana Gempa mengajaknya sambil menyeret koper besarnya. Dia menoleh sejenak ke belakang, bisa dilihatnya dua waiters dari kafe ini, yaitu Ocho dan satu lagi si pemuda bermata ruby yang menyapanya barusan sedang menatapnya dengan tatapan tajam yang cukup menusuk dan tidak jelas maksudnya apa. Seketika gadis itu dibuat merinding dengan ekspresi dingin tersebut.

Sementara itu di depan toko, Gempa terlihat sibuk menyiapkan mobilnya. Disaat bersamaan Yaya baru saja keluar dari dalam kafe dan menemukan pemuda beriris emas itu sedang menyalakan mobil untuk memanaskan mesinnya. Sepertinya pria itu tidak bohong soal mengantarkannya ke kantor kedutaan. Berbeda jauh sekali dengan siluman yang sudah menipunya tadi.

Beberapa saat kemudian Gempa pun menoleh dan menemukan gadis itu sedang memasang wajah sendu. "Ada apa?" tanyanya.

Sontak Yaya pun kaget. "Eh? Tidak. Bukan apa-apa" dan dengan refleks langsung menjawab.

"Begitu…" Tentu saja jawaban Yaya malah membuat Gempa keheranan. Tapi dia memilih tidak menanyakannya lebih jauh "Nah Nona, kopermu itu mau ku letakan di bagasi saja?" dan kembali menawarkan bantuan.

"Nggak usah. Nanti merepotkan" tolak Yaya lembut.

"Tidak apa-apa. Aku yakin pasti berat sekali menjinjing itu kemana-mana" kata pemuda berambut hitam itu mendekat dan langsung mengambil alih koper besar yang berada di tangan Yaya. Kemudian mengangkatnya dengan satu tangan, persis seperti yang dilakukan oleh pria atau makhluk yang menipunya tadi.

Membuat Yaya bertanya-tanya, apa pria Jepang itu memang kuat kuat ya? Atau jangan-jangan- Masa sih Gempa itu- Tidak, tidak. Jangan berprasangka buruk dulu. Yaya hanya menggelengkan kepalanya, mencoba membuang pikiran jelek itu jauh-jauh. Tidak mungkinlah pemilik kafe sebagus ini adalah siluman serendah itu.

"Nona! Ayo kita berangkat!" hingga tiba-tiba Gempa memanggilnya dari dalam mobil dan membuyarkan lamunan gadis itu. Heran juga, kenapa belakangan ini Yaya suka melamun. Lebih tepatnya sejak komunikasinya dengan ayahnya terputus. Tapi daripada terus memikirkan itu, dia harus bergegas masuk ke mobil karena Gempa sudah menunggunya sejak tadi.

~MA~

Kemudian mobil yang ditumpangi oleh Yaya itu pun melaju cukup cepat di jalan raya. Gempa benar-benar menyetir dengan sangat tenang dan fokus. Mereka melalui jalanan, perumahan, gedung-gedung tinggi dan berbagai hal lainnya yang bisa ditemukan di setiap sudut kota, tanpa bicara sepatah kata pun.

"Anu… Kak…Gempa…" hingga akhirnya Yaya yang sudah tidak tahan dengan keheningan itu pun angkat bicara dan memanggil pria di sebelahnya dengan cara memanggil yang cukup sopan.

"Hmm" pria itu hanya menoleh dan lagi-lagi memasang senyuman lembut khasnya.

"Kenapa Gempa-san … mau membantuku? Maksudku kita kan baru saja bertemu. Apa kau tidak curiga sama sekali padaku?" Tanya gadis itu dengan malu-malu.

Gempa pun mengerjap beberapa saat begitu mendengar pertanyaan yang cukup aneh dari gadis di depannya. Tapi akhirnya dia tetap menjawab juga "Entahlah. Mungkin sudah menjadi tugasku untuk membantu orang yang datang padaku dengan dengan niat tulus dan bersungguh-sungguh."

"Pttt.. ahahaha!" Yaya yang mendengar jawaban yang diberikan Gempa seketika tak bisa menahan tawanya. Dan membuat Gempa disebelahnya keheranan sendiri "Apa-apaan itu? Memangnya Gempa-san itu dewa?"

Tapi disisi lain Gempa juga sangat senang bisa melihat gadis di sebelahnya itu tertawa lepas. Karena tahu saja kan? Sejak tadi gadis itu hanya diam atau melamun. "Nggak lah. Tapi memang sudah jadi tugas manusia bukan untuk menolong sesamanya" katanya sambil tersenyum dan kembali fokus pada jalanan.

"Ngomong-ngomong, aku belum tahu namamu." Sekarang gantian Gempa lah yang bertanya pada Yaya.

"Oh iya. Namaku Yaya, Yaya Yah" jawab Yaya.

"Yaya ya? Nama yang bagus." gumam Gempa. "Jadi Yaya, apa ini pertama kalinya kau datang ke Jepang?" lanjutnya lagi bertanya.

"Iya. Aku pindah ke sini karena mendapat beasiswa untuk kuliah di Universitas Tokyo" jawab Yaya bersemangat.

"Wah, hebat. Sebenarnya tetanggaku juga diterima di Universitas itu, kalau ada waktu akan ku kenalkan mereka padamu. Mereka juga seumuran denganmu loh"

"Benarkah!?" tanya gadis itu penuh semangat.

Gempa mengangguk.

"Terima kasih, Gempa-san"

~MA~

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka pun sampai di kantor kedutaan Malaysia. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan, Gempa dan Yaya pun turun dan memasuki gedung tersebut dan di dalam…

"Kyaaa! Tora~ Aku kangen padamu. Sudah satu bulan sejak berpisah, apa kau tahu aku susah tidur setiap malam karena kau tidak ada?" Yaya langsung saja memungut bonekanya yang berbentuk kucing atau macan (entahlah) diantara tumpukan barang-barang miliknya dan memeluknya dengan gemas. Persis seperti orang yang baru saja menemukan kembali belahan jiwanya yang hilang.

Sementara di Gempa belakangnya hanya bisa nyengir gaje dan bersweat drop ria melihat tingkah gadis itu. Tapi maklumlah namanya juga perempuan.

Tapi kemudian Yaya berbalik dan menghampiri Gempa. "Anu… Terima kasih banyak ya. Kalau bukan berkat bantuan Gempa-san, mungkin aku tidak akan sampai kesini" dan berterima kasih atas apa yang telah dilakukannya. Jujur, ada bagian dari dirinya yang merasa sedikit menyesal karena sempat berpikiran negatif tentang pria di depanya ini. "Aku berhutang pada Kakak. Apa yang harus kulakukan untuk menembusnya?"

"Enggak, Enggak perlu! Aku ikhlas menolongmu, tadi kan aku sudah bilang, memang sudah kewajiban untuk membantu orang lain yang sedang kesulitan" tolak Gempa keras.

"Tapi…"

"Maaf menyela pembicaraan kalian. Apa anda yang namanya Gempa?" belum selesai Yaya menyambung kata-katanya, tiba-tiba ada seorang pria yang datang dan mengajak bicara Gempa.

"Ya itu aku" jawab Gempa pada pria itu.

"Bisa ikut dengan saya sebentar, ada yang harus kita bicarakan" kata Pria itu mengajak pemuda beriris emas tersebut untuk bicara empat mata.

"Baiklah" Gempa hanya menurut dan mengikuti kemana pria dari kantor kedutaan itu mengajaknya. "Yaya, aku pergi sebentar ya? Kau istirahat saja dulu" tidak lupa meninggalkan pesan pada Yaya sebelum dia menjauh dari gadis tersebut.

Yaya hanya mengangguk dan kembali mengurusi barang-barangnya yang berada disana. Dan beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering karena telepon dari dari Ayahnya. Tapi tidak seperti sebelumnya, kali ini ayahnya menghubunginya dengan menggunakan modus panggilan SIM card biasa.

Dengan cepat Yaya langsung mengangkat dan menjawab panggilan ayahnya tersebut. "Halo, Ayah!?" katanya agak panik.

"Halo, Yaya putri ayah yang tercinta. Maaf ya yang tadi. Saat ini Ayah sedang survei ke tengah hutan belantara, disini sinyalnya sangat sulit.

Mendengar suara ayahnya, Yaya jadi merasa sedikit lega, pantas saja panggilannya terputus kalau Ayahnya kehilangan sinyal barusan. Sebagai menteri lingkungan hidup tentu saja terkadang ayahnya harus bergelut dengan hal-hal seperti barusan. Karena itu juga, dia belajar untuk tidak berpikiran negatif lebih dulu.

"Ngomong-ngomong, sekarang kau ada dimana?"

"Yaya sekarang ada di kantor kedutaan"

"Benarkah? Apa orang-orang dari sana yang menjemputmu?"

"Bukan. Ada orang baik yang mau mengantarkankan Yaya. Saat ini dia sedang diajak bicara oleh orang Kedutaan"

"Eh~ Begitu ya? Kalau begitu Ayah titip salam saja untuknya. Sudah ya sayang, Ayah masih harus lanjut survei lagi. Nanti kalau sudah selesai Ayah akan menghubungimu lagi."

"Iya. Hati-hati, Yaya sayang Ayah"

"Ayah juga"

Setelah itu panggilan itu kembali terputus. Disaat bersamaan Gempa baru saja kembali dan langsung menghampiri Yaya, dengan wajah sedikit murung. Hingga membuat gadis itu bertanya-tanya, sebenarnya apa yang baru saja mereka bicarakan hingga pria iris emas itu tiba-tiba memasang ekspresi seperti itu.

"Ada apa Gempa-san?" tanya gadis itu penasaran sekaligus cemas.

Gempa hanya menghela nafas dengan lesu "Bagaimana aku menjelaskannya ya?" gumamnya. Kemudian matanya beralih menatap wajah gadis itu, dia mencoba memberitahukan keadaannya pada Yaya. "Yaya dengar, mungkin kau akan sedikit kecewa mendengar ini. Jadi… Sebenarnya saat ini seluruh tempat yang bisa dijadikan penginapan sementara di Kedutaan sedang penuh, jadi mereka tidak bisa menampungmu. Kalaupun bisa, cuma sampai besok saja." Jelasnya.

"Kalau begitu… aku harus begaimana sekarang" Yaya pun dibuat kebingungan dengan keadaan ini. Kalau kedutaan tidak bisa menampungnya, lalu besok dia harus tinggal dimana? Mencari tempat tinggal yang sesuai dengan ukuran kantong Yaya di Jepang itu tidak gampang lo, Apalagi mendadak. Kalau dia tinggal di hotel, barang-barangnya mau di kemanakan?

Melihat ekspresi Yaya saat ini membuat Gempa pun jadi ikut-ikutan mencari solusi. "Umm… Begini saja. Aku punya sebuah apartemen kecil di dekat kedai kopi milikku, masih ada satu kamar kosong disana. Yah… sebenarnya aku hanya menawarkan tempat itu untuk orang tertentu saja, tapi karena ini darurat, jadi apa boleh buat."

"Benarkah?" Sayangnya, gadis berkerudung di depannya itu masih agak ragu, tapi sepertinya Gempa tahu apa yang dipikirkannya. Masalah harga sewanya ya?

"Kalau soal biaya sewanya, aku tidak terlalu mempermasalahkannya sih. Bahkan… kau bisa tinggal disana tanpa membayar sama sekali" kata pria bermata emas tersebut.

"Serius!?" kata Yaya kaget. Memangnya ada yang seperti itu? Apa Gempa itu orang kaya? Jadi bilang kalau Yaya tidak perlu membayar sama sekali. Tapi kalau bukan, bagaimana? Secara Gempa itu orang yang sangat baik kan? Bahkan terlalu baik.

Yaya jadi merasa tidak enak.

"Tapi kalau kau merasa tidak nyaman... Kau bisa kerja di kedai ku. Anggap saja sebagai bayaran. "Ya… itu juga kalau kau mau." sahut Gempa sambil mengusap kepala belakangnya yang tidak gatal. "Jadi bagaimana?" lanjutnya lagi bertanya sekaligus menawarkan.

"Aku mau!" pekik gadis itu kencang dengan ekspresi yang sangat bahagia plus terharu.

Gempa yang melihat raut wajah Yaya langsung menyunggingkan senyuman terbaiknya "Sudah ditentukan ya." Katanya sambil mengacungkan jempolnya.

"Jadi aku akan menelpon jasa pindahan untuk membantu mengangkut barang-barangmu. Untuk sementara, malam ini kau menginap saja disini dan besok pagi aku baru akan menjemputmu" jelasnya lagi.

"Baik! Terima kasih banyak!"

"Sama-sama"

~MA~

Kepada: Ibuku yang tersayang.

Ibu. Hari ini Yaya mulai pindah ke Jepang. Ibu sudah tahu kan? Soal beasiswa itu.

Nah, di hari pertama Yaya di Jepang ini, Yaya mengalami berbagai kejadian.

Tapi yang paling berkesan adalah, hari ini Yaya bertemu dengan orang-orang yang begitu baik. Mereka menyelamatkan Yaya begitu Yaya dalam masalah.

Bahkan menawarkan apartemen untuk Yaya. Berkat itu juga Yaya jadi percaya kalau di dunia ini masih banyak orang baik. Yaya harap bisa akrab dengan orang-orang yang tinggal disana.

Ibu…

Sekarang Ibu sedang apa disana?

Kalau Ibu membaca pesan ini. Kuharap Ibu mau segera membalasnya. Karena Yaya kangen banget sama Ibu.

Semenjak Ayah dan Ibu berpisah… Yaya sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Ibu. Karena Ayah melarang Yaya bertemu dengan Ibu.

Tapi bukan berarti Yaya jadi membenci Ayah. Walaupun terkadang kesal juga, padahal Yaya juga mau ketemu dengan Adik baru Yaya.

Ibu sudah dulu ya. Yaya mau istirahat dulu. Yaya cuma mau bilang kalau Yaya masih sayang pada Ibu, meskipun Ibu sudah menikah lagi.

Titip salam juga untuk Totoitoy ya.

Dah Ibu selamat malam~

SEND.

Kira-kira begitulah isi pesan singkat yang dikirim oleh gadis dengan kerudung pink khas (yang saat ini kerudungnya sedang dicopot dan menampilkan rambut coklat pendek sebahunya yang dibiarkan tergerai) kepada Ibunya.

Malam hari yang dingin di Tokyo, membuatnya cukup kesulitan tidur. Malam ini dia bersama dengan Imigran lain sepertinya sedang tidur di beranda kantor kedutaan, meskipun sudah beralaskan karpet bulu dan selimut yang tebal tetap saja tidak cukup untuk menahan dinginnya malam hari di musim dingin Jepang.

Gadis itu mencoba untuk tidur, dia sudah harus siap besok pagi saat Gempa menjemputnya. Semua barangnya sudah dibawa oleh mobil jasa pindahan tadi siang dan Gempa lah yang mengurus semuanya.

Benar-benar. Kurang baik apa lagi orang itu sebenarnya? Sudah membantu mengantarkan Yaya kesini, Menawarkan tempat tinggal, dan dengan baiknya mau mengurus semua kebutuhan dari seorang gadis yang bahkan baru ditemuinya hari ini.

Yaya hanya menghela nafas dan tersenyum kecil, memikirkan semua hal itu membuatnya jadi lelah sekarang. Tapi masih ada satu misteri lagi yang belum terpecahkan. Siapa sebenarnya pria yang menolongnya waktu itu?

Selagi memikirkan hal tersebut, tak lama kemudian rasa kantuk terus menyerang dirinya. Dan akhirnya Yaya pun larut dan jatuh ke dalam alam bawah sadarnya.

TBC