"Kenapa kau memilihi jalan memutar ini?"

Kris masih menunggu jawaban dari Yoora yang kini masih memimpin berjalan di depannya, ia hanya bisa mengikuti langkah kaki gadis itu dan menunggu jawaban dari apa yang telah ia lakukan karena memilih jalan ini dibandingkan jalan yang tadi akan Kris ambil karena mendengar suara teriakan yang ia yakini adalah suara adiknya yang berteriak.

"Aku masih menunggu penjelasanmu." Kris kembali mengingatkan.

Yoora berbalik kearahnya dan menghela nafas sebentar. "Kau ini berisik sekali." Yoora menyikap tangannya didepan dada, tangannya menunjuk kearah salat satu pohon yang berada dibelakangnya.

"Salah satu bendera Eowyn berada disana." Kris dapat melihat dengan jelas dan tersenyum senang. "Sebelum itu perlu ku ingatkan" Yoora menahan langkah Kris yang sudah bersiap berlari menuju pohon besar itu. "Chanyeol akan mendapatkan kedua bendera itu, dan kemudian kita akan sedikit berlawan dengannya—oh maksudku dengan Baekhyun juga."

"Yak! lalu kenapa kau mengajakku ketempat ini! Kita sudah melawan banyak pengawal dan kau hanya memberiku jalan untuk satu bendera? Wuaahhh Yoora! kau memang sayang dengan adikmu ya." Kris meluapkan emosinya, kepalanya digelengkan berkali-kali tak percaya dengan apa yang baru saa terjadi padanya dan apa yang Yoora katakan.

"Aku sengaja memilih jalan ini."

"What the-!"

"Apa?! Kau mau mengatakan apa?"

"Aaaaahhh sudahlah!" Kris berlalu pergi dan memilih untuk duduk bersandar di pohon dimana Bendera Eowyn berkibar diatasnya.

"Chanyeol butuh waktu dengan Baekhyun.. hanya untuk sekedar saling mengenal. Tidak ada sikap yang berlebihan lainnya." Yoora sedikit tertawa kecil menjelaskan pada Kris mengenai penglihatannya kembali. "Ada yang ingin aku sampaikan juga padamu, ini mengenai penglihatanku yang lainnya."

Kris mulai tertarik mendengarkan. "Apa itu?"

Yoora terdiam sebentar sebelum melanjutkan ucapannya sambil memandangi wajah Kris.

"Aku rasa.. penglihatanku mengalami perubahan."

Yoora menunggu dalam diam dan memperhatikan Kris yang kini melihat kearahnya, dahinye jelas tercetak kerutan yang dalam seolah-olah sang empunya tengah berpikir keras dengan apa yang baru saja didengarnya. Namun tangannya bergerak asyik bermain dengan rumputan yang menjadi alas duduknya.

"Hmm.. baiklah." Akhirnya Kris mengeluarkan suara sebaagi respons atas ucapan Yoora.

Yoora menatap Kris dengan datar. "Baiklah?!"

"Hm.."

"Kau mau menerima pukulan atau tendangan?" Yoora menunjukkan kepalan tangannya dan bersiap dengan kuda-kuda nya untuk melakukan tendangan yang terarah apda sosok Kris yang kini sudah beranjak dari posisi duduknya.

"Yak!"

"Berikan jawaban yang benar untukku bodoh!" Yoora sedikit meninggikkan suaranya hingga Kris memejamkan matanya mendengar segala yang di ucapkan wanita itu.

"Wo-wo-wow. Tenanglah sebentar. Aku sedang berusaha berpikir disini." Kris mengarahkan kedua tangannya menahan badan Yoora yang memutuskan untuk berlalu mengninggalkannya. "Jadi.. penglihatanmu mengalami perubahan?"

"Aku tidak mau mengulanginya lagi."

"Yak! Aku mendengarnya tadi." Kris berteriak kearah Yoora yang mengacuhkannya dengan melanjutkan perjalanan. "Hey! Bantu aku mengambil bendera itu! Yooraaaa!" Kris kembali berteriak pada punggung Yoora yang kini mulai melangkah menjauh darinya.

"Akh! Dasar wanita." Ia bergumam pelan dan berlari mengejar Puteri Mahkota Glorfindel itu.

"Okey.. okey... aku mendengarkan. Ayo kita lanjutkan lagi pembahasan tadi."

"Tidak."

"Oh ayolah! Tadi aku mendengarmu sungguh." Kris masih bertahan merayu Yoora. "Jadi apa yang berubah? Chanyeol tidak akan mencium adikku bukan?"

Dan seketika kepala Kris mendapat pukulan melayang dari tangan Yoora yang entah sejak kapan sudah memegang ranting kayu yang cukup tebal.

"Akkkhh!" Kris meringis merasakan perih dan sakit pada kepalanya.

"Kau ini benar-benar! Kakak macam apa yang menanyakkan pertanyaan seperti itu terus!" Yoora melotot marah. Kekesalannya semakin menjadi dan semua yang melihat sorot mata dan raut wajahnya pasti sudah bisa mengetahui bahwa Yoora kini tengah marah besar.

"A-a-ku hanya bercanda—oh demi Dewa ini benar-benar sakit." Tangannya masih memegang tempat dimana Yoora memberinya pukulan telak, mengusap-usapkan kepalanya supaya mengurangi rasa sakit yang benar-benar terasa.

"Rasakan. Oh! Untuk mengurangi rasa sakitmu..."

Kris memperhatikan raut wajah Yoora, harapannya Yoora akan memberikan obat atau setidaknya melakuakan sesuatu hal yang dapat mengurangi rasa sakitnya. Ia masih menungu saat Yoora melangkah mendekat kearahnya. Matanya semakin membelak lebar saat tangan dingin milik Yoora meraup wajahnya, membawanya mendekat kearah wajahnya yang sangat mirip Chanyeol—menurutnya.

"Ciuman mereka akan sangat panas."

Bisikan yang diberikan Yoora dihadapan wajahnya semakin membuat ia merasa panas dan kesal, ditambah rasa sakit pada kepalanya.

"Yaaaakkkkk!"

Teriakannya kembali dilontarkan karena Yoora dengan sengaja mendorong badannya hingga terjatuh, dan setelahnya wanita itu meninggalkan dirinya dengan berjalan santai seolah-olah tak mengenal wujudnya yang meringis di tengah hutan.


-Loves of Tales-


Disisi lain Hutan..

"Eungh.. Chan—yeooll cepat tolong aku! Kepalaku mulai pusing." Baekhyun berteriak kerarah Chanyeol yang berada dibawahnya dan mengumpulkan anak panah milik Baekhyun yang berserakan saat kakinya terkena jebakan perangkap hingga kini posisinya terikat dengan kedua kaki diatas dan kepalanya yang menjuntai kebawah.

"Jangan banyak bergerak!" Chanyeol berteriak dari bawahnya. "Usahakan matamu tetap menatap satu objek yang sejajar, jangan semakin melihat kebawah."

Ucapan yang dikatakan Chanyeol nyatanya benar-benar didengar baik oleh Baekhyun dan kini ia terpaku melihat salah satu pohon pinus yang berada pada pandangan sejajrnya.

Chanyeol mengeluarkan api dari dalam tubuhnya dengan satu jentikan tangan dan berhasil membakar anak panah yang berada ditangannya yang lain.

"Tung—tunggu! Sebelum kau mengarahkan panah itu.. bisakah kau mencobanya dengan membidik sesuatu yang lain?" Baekhyun memperhatikan kembali kearah Chanyeol yang tengah siap membidik gumpalan tali pada kakinya.

"Ck!" Chanyeol berdecak kesal. "Gunakkan kekuatanmu untuk melindungi dirimu sendiri."

"Bi-bisakah?"

"Hm. Cobalah." Chanyeol memperhatikan mata Baekhyun yang berkedip melihat kearahnya, walaupun kini Baekhyun dalam posisi terbalik. Chanyeol masih bisa melihat jelas wajah polos milik Baekhyun.

"Aku bisa melindungi diriku dari segala kekuatan yang ada."

"Benarkah?"

"Hm, bahkan kekuatanmu tidak bisa membakar kulit putihku."

Ingatan Chanyeol akan kalimat yang diucapkan pada mimipinya kembali muncul.

"Cobalah dulu."

"Aku sedang mencobanya Pangeran." Chanyeol memperhatikan wajah Baekhyun yang tengah berusaha keras untuk mengeluarkan perisai dari dalam dirinya.

"Aku hanya harus mempusatkan pikiranku dan membayangkan bahwa diriku diselimuti perisai cahaya ini."

"Fokuskan pikiranmu.."

"A-apa?" Baekhyun menyahut kearah Chanyeol yang kini termenung dibawahnya.

"F-fokuskan pikiranmu.. dan bayangkan perisai ca—perisai itu melindungi dirimu."

Baekhyun terdiam dan semakin bingung. Tapi tak lama ia memejamkan matanya, berdoa dalam hatinya dan memerintahkan semua kekuatan yang ia miliki dapat melindungi dirinya dari bahaya apapun berada di dekatnya.

Chanyeol memperhatikan Baekhyun dengan serius tanpa mengedipkan matanya sedikitpun, melihat bagaimana tubuh mungil itu menghilang sesaat dan kemudian muncul kembali dan cahaya berwarna putih menyelimuti badannya sedikit demi sedikit. Membentuk sebuah lingkaran bening yang membungkus dengan baik seluruh bagian badan Baekhyun.

"A-apa berhasil?"

"Hm, ini berhasil. Aku melihatnya dengan jelas."

"Benarkah? Kau tidak berbohong?"

"I-iya aku—

"Huaaaa daebak! Daebak! Chan cepatlah! Aku ingin merasakannya!"

Chanyeol yang sebelumnya hendak mengumpat karena gadis kecil itu memotong kalimatnya ditambah disana ia bersorak-sorak merasakan kebahagiaan hanya karena berhasil untuk menggunakan perisainya untuk pertama kali. Menahan emosinya dan malah tersenyum kecil dan menyiapkan apinya kembali untuk membakar anak panah yang masih berada di tangannya.

"Oh-oh tunggu."

"Apalagi?"

"Please don't miss." Baekhyun berucap lirih dengan tatapannya yang lembut menatap Chanyeol dibawahnya.

Sedangkan sosok yang kini tengah ia perhatikan memamerkan senyum smirknya dengan matanya yang tajam. Tangannya mulai merentangkan busur panah dan membidik sasaranya yang terarah pada kaki Baekhyun.

"I've never missed sweetheart."

Baekhyun memejamkan matanya tepat saat Chanyeol melepaskan anak panah itu kearahnya, berusaha untuk mempercayai apa dikatakan padanya dan berharap bahwa perisainya cukup kuat untuk melindungi dirinya dan tidak terjatuh saat tali yang memperangkap kakinya terbakar habis oleh panah yang Chanyeol lemparkan.

Kakinya terbebaskan oleh tali yang kini sudah terbakar habis dan badanya masih melayang di udara karena perisainya yang melindungi dirinya masih menyelimuti seluruh badanya. Tapi suatu hal lain yang menjadi keanehan oleh Baekhyun adalah..

"Huaaaa aku bisa terbang! Chanyeol lihat aku terbang! Woooww...!"

Baekhyun yang berada diatas sana mengapung di udara dan kemudian menggulingkan badannya seakan-akan ia terbawa oleh angin dan ikut bergerak seperti peri-peri yang berterbangan bebas di udara.

"Lihat aku bisa terbang seperti dirimu."

"Sedikit berbeda.."

"Anggaplah sama Yeol."

"Tetap saja berbeda." Gadis bercahaya itu masih memprotes setiap pernyataan yang keluar dari mulutnya mengenai perbedaan 'terbang' yang ia anggap.

"Cepatlah turun." Chanyeol melihat kearah Baekhyun dengan wajah yang menahan tawa karena mimpinya benar-benar seperti petunjuk hal-hal apa saja yang akan terjadi saat ia bersama denagn Baekhyun.

"Kris pasti iri. Ia tidak akan suka saat melihat aku bisa terbang seperti ini." Baekhyun masih mengacuhkan Chanyeol sendiri dibawah sana.

"Sebelum Kris yang marah padamu.. aku yang akan marah lebih dulu karena masih mau menunggumu dibawah sini sedangkan kau berputar-putar diatas sana seorang diri menikmati kekuatanmu yang baru." Chanyeol berbicara cepat tanpa jeda hingga membuat Baekhyun yang berada diatasnya mengedipkan mata takjub akan ucapan Chanyeol.

"Ck! easy Prince." Bibirnya sudah dipoutkan dan pandangannya diarahkan pada sisi lain, enggan untuk melihat Chanyeol yang kini berdiri dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam celana olahraga yang ia kenakan. Baekhyun mengarahkan badannya untuk kembali turun, namun pandangannya terarah pada kibaran bendera yang berada cukup jauh dari posisinya.

"Ehm. Chan.."

"Apalagi." Chanyeol mendesah kesal.

"I-itu.."

"Apa?" Chanyeol mengernyitkan alisnya melihat Baekhyun diatas sana menunjuk kearah entah dimana karena ia berada memijak pada tanah sedangkan Baekhyun masih mengambang di udara.

"I-itu.. aku melihat.." Baekhyun menujuk ke sisi lain.

"Astaga apa yang kau lihat?!" Chanyeol kesal menunggu Baekhyun yang terbata-bata menjelaskan apa yang ia lihat dan dengan cepat ia beranjak untuk menyusul Baekhyun dengan mengeluarkan kekuatan Phoenix-nya. Ya, Chanyeol menyusul Baekhyun diatas sana dengan mengeluarkan sayapnya , bahkan kini wujudnya berubah. Rambutnya berwarna merah terang yang sangat kontras dengan wajahnya yang putih. Kedua bola matanya bahkan ikut berubah, bola mata kirinya berwarna merah api dan mata kanannya berwarna biru terang.

Ini pertama kalinya untuk Baekhyun melihat bagaimana wujud Chanyeol saat menggunakkan kekuatannya, dan melihat Chanyeol saat ini mengingatkan akan mimpinya yang pernah terjadi beberapa waktu lalu.

Wajah Baekhyun masih terpaku melihat bagaimana wajah dingin Chanyeol dihadapannya, tatapannya yang mematikan dan tajam mengarah kearahnya, biasanya tatapan itu akan membuat siapa saja takut menatap Chanyeol. Tapi tidak bagi Baekhyun, gadis itu malah semakin menatapnya dan merasa terpesona melihat bagaimana Chanyeol saat ini.

Tampan.

Baekhyun masih mengingat jelas bahwa sosok Chanyeol saat ini pernah ada dalam mimpinya, bahkan setiap pergerakan yang Chanyeol lakukan saat ini mirip dengan yang terjadi saat itu.

"Kenapa menatapku?" Chanyeol bertanya melihat Baekhyun yang tak berkedip menatap kearahnya, sosok mungil itu tidak memberikan jawaban pipinya merona dan bahkan bibir tipisnya bergetar dengan sendirinya.

"Baekhyun? Kau baik-baik saja?" Chanyeol memanggil namanya dan mendekat kearahnyan karena hal itu Baekhyun melonjak kaget melihat wajah Chanyeol tepat dihadapannya. Yang terjadi kemudian, perisai yang membungkus badannya menghilang sedangkan Chanyeol reflek memegangi badan Baekhyun yang terhuyung jatuh.

"Kyaaaa! Panasss!" Baekhyun meronta merasakan sakit dan panas. Satu hal yang dilupakan oleh Putera Mahkota Glorfindel itu, kekuatannya bisa membakar tubuh Baekhyun.

Tanpa berpikir panjang Chanyeol kembali dalam wujud aslinya dan membiarkan badan mereka berdua jatuh bebas ke tanah dengan badan Baekhyun yang tak lepas dari pelukan Chanyeol saat mereka mendarat dengan kerasnya di tanah.

Buagh.

Baekhyun mengerjapkan matanya secara perlahan, perasaan takut dan ingin tahunya sama-sama bersaing untuk melihat kondisinya saat ini. Ia jelas tahu apa yang baru saja terjadi, Chanyeol memeluknya saat ia hampir saja terjun bebas dari udara di atas sana. Dan kini lelaki itu berada dibawahnya dengan memeluknya erat, melindungi badannya supaya tidak mendarat dan terluka saat tiba di tanah yang cukup keras ini.

"Chan-chanyeol.." Baekhyun menggoyangkan tangan Chanyeol yang melingkar di pinggangnya, bahkan kini ia merangkak untuk melihat wajah Chanyeol secara langsung. Pria itu masih memejamkan matanya, bibir tebalnya sedikit terbuka dan saat Baekhyun menatapnya lebih jelas terlihat darah segar keluar dari lubang hidungnya yang semakin membuat Baekhyun panik.

"Yeol.."lirihan Baekhyun semakin menjadi karena berbagai usaha untuk membangunkan Putera Mahkota itu tidak kunjung berhasil. Salah satu yang ada dipikiran Baekhyun adalah bagaimana caranya meminta tolong untuk membawa Chanyeol kembali ke Kerajaan dan memberikannya pertolongan. Baekhyun semakin terisak, ia beranjak dari atas tubuh Chanyeol dan mengarahkan kepala sang Putera Mahkota untuk berbaring diatas pahanya. Tangan mungilnya mengelus lembut wajah tampannya dan membersihkan noda darah yang masih mengalir dari hidungnya.

"Kekuatanmu bisa melindungi kita berdua.."

Baekhyun teringat akan hal yang pernah diucapkan sosok Chanyeol dalam mimpinya. Air matanya yang mengalir ia hapus dengan cepat dan fokusnya kali ini membuat perisainya bisa melindungi tubunya dan Chanyeol. Dengan matanya yang terpejam, Baekhyun membayangkan bagiamana perisai itu bergerak melingkupi tubuhnya. Secara perlahan-lahan ia mendorong perisai itu lebih luas hingga menutupi seluruh tubuhnya dan Chanyeol yang masih tidak sadarkan diri. Seluruh tenaga dan pikirannya masih terpusatkan pada perisainya yang belum bisa melingkupi dengan sempurna kedua tubuh mereka.

Baekhyun menghela nafas penuh frustasi karena hingga beberapa menit berselang segala usahanya masih gagal. Keadaanya semakin membuat panik saat merasakan tubuh Chanyeol yang semakin terasa dingin, Baekhyun berulang kali menggumamkan nama pria yang masih berada dalam pangkuannya dan mencoba berusaha untuk mengeluarkan perisainya.

"Aku hanya harus mempusatkan pikiranku dan membayangkan bahwa diriku diselimuti perisai cahaya ini."

Baekhyun bergumam dalam hatinya, mencoba mengatur detak jantungnya yang gugup dan menghilangkan segala pikirannya yang membuat ia semakin panik. Nafasnya sudah mulai teratur, dan saat ia membuka matanya saat itulah ia melihat bagaimana perisai bercahayanya melingkar melingkupi dirinya dan Chanyeol. Senyuman terbentuk pada wajahnya dan dengan gerakan cepat ia membawa badan mereka beruda untuk melayang diudara.

Pikiran Baekhyun hanya terfokuskan untuk membawa Chanyeol kembali ke Istana secepatnya, tapi saat ia berada di udara dan melihat kedua bendera Eowyn yang berada pada jarak pandangannya, ia mengingat bila bukan karean kecerobohannya dan sikapnya tadi mungkin saja saat ini mereka berdua sudah memegang bendera tersebut dan memiliki peluang untuk memenangkan permainan hari ini. Tapi sayangnya saat ini Chanyeol mengalami kecelakaan karena dirinya, dan itu pasti membuat mereka kalah dalam permainan ini.

Baekhyun memperhatikan kedua bendera yang masih berkibar itu dan memikirkan keputusan yang akan diambilnya.

...

"Mereka belum kembali juga?"

Yunho dan Zhoumi menoleh kearah sumber suara yang berasal dari Yixing yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang mereka berdua.

"Selalu datang tanpa pemberitahuan." Yunho menggelengkan kepala melihat kearah Yixing.

"Pantas saja anakku bilang kau seperti hantu." Zhoumi menambahkan.

Sedangkan Yixing yang mendengar kalimat dari mereka menggelengkan kepala dan ikut duduk pada kursi kosong yang berada di sebelah Yunho.

"Sudah berapa lama permainan ini berjalan." Yixing tidak memperpanjang ucapan yang mereka proteskan sebelumnya. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana hasil permainan yang sedang berlangsung saat ini.

"Kami sudah menanyakkan padamu sejak awal bukan? Siapa pemenang untuk hari ini, dan kau tidak memberikan jawaban." Zhoumi menyahut dengan sinis, sedangkan Yunho sedikit tertawa dan memberikan gelas wine kepada Yixing untuk ia nikmati.

Yixing tersenyum selagi ia menikmati wine yang baru saja diberikan.

"Aku tidak bisa menjawabnya Yang Mulia."

"Maksudnya?" Yunho memotong.

"Hmm.. kalian yang harus mempertimbangkan siapa pemenang dari permainan ini." Yixing mengedipkan matanya dan memberikan gelas yang sudah kosong kepada Zhoumi. "Aku akan menjemput Raja Thalin dan Puteranya, kabari aku perkembangan yang terjadi dengan Baekhyun ya."

"Hey! Kau perlu menjelas— selalu saja seperti ini." Yunho hendak menanyakkan penjelasan lebih lengkap dari Yixing, namun lagi-lagi wanita itu menghilang dengan sesuka hatinya tanpa satu kata pamit.

"Dia memang aneh." Zhoumi menenggak habis minumannya dan kembali memandang hutan pinus di hadapannya. "Mereka pun entah bagaimana keadaanya disana. Tidak ada perkembangan yang bisa kita ketahui selain menunggu hingga mereka selesai."

"Seharusnya Yoora tidak ikut serta." Yunho menambahkan.

"Ya, aku rasa itu ide yang bagus untuk tidak mengikutsertakan Yoora dalam permainan." Zhoumi menyahut.

Mereka kembali melanjutkan acara duduk santai serta menikmati hidangan lain yang sudah disediakan oleh petugas istana. Kue-kue kecil, buah hingga beberapa makanan lainnya tersajikan diatas meja makan kecil tersebut. Yunho sedikit berjalan mondar-mandir dihadapan Zhoumi yang tengah duduk bersandar pada kursinya sambil menikmati bacaan buku yang ia sudah siapkan sedari tadi, sedangkan dirinya kini memikirkan ketiga anaknya yang masih didalam sana, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah Chanyeol dan Baekhyun.

Tak jauh dari tempat mereka beberapa pengawal Kerajaan terlihat berlari kearah mereka dengan kecepatan tinggi, hingga Yunho menolehkan kepalanya melihat kearah mereka.

"Kenapa wajah mereka terlihat panik?" Zhoumi sudah berada di samping Yunho dan ikut melihat kearah yang sama.

"Aku pun tidak mengerti.. semoga bukan hal buruk." Yunho menjawab dengan nada kurang yakin.

"S-salam Yang Mulia." Salah satu pemimpin pasukan pengawal Kerajaan memberikan hormat dan menunduk kearah Yinho dan Zhoumi.

"Ada kabar apa?" Yunho berucap setelah menganggukkan kepala yang bermaksud membalas salam kepada mereka.

"Salah satu penjaga Tower Istana baru saja melihat adanya pergerakan di udara. Tapi kami belum bisa memastikan 'itu' apa. Pemantauan terakhir pergerakan itu ditutupi oleh cahaya cukup terang yang memantul dari sinar—

"Tunggu. Cahaya?" Yunho memotong informasi yang dijelaskan padanya.

"Betul Yang Mulia."

"Dimana kalian melihatnya?" Kali ini Zhoumi yang menyahut.

"Berada di udara, kurang lebih berjarak 8 kilometer melintang ke arah barat dari titik masuk para Putera dan Puteri Mahkota." Pengawal tersebut memberikan peta lokasi Istana Eowyn, dan memperlihatkan silang merah yang ia jelaskan sebagai titik dimana pergerakan cahaya itu terjadi.

Yunho dan Zhoumi masih berdiskusi dengan beberapa pengawal untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas, bahkan mereka menghubungi langsung penjaga yang berada di ruang pengawas udara Tower Eowyn dan memintanya untuk melakukan pemeriksaan kembali.

"Y-yang Mulia." Salah satu pengawal kembali memanggil yan berada tak jauh dari letak dimana Yunho dan Zhoumi berdiri.

"Benda itu bergerak menuju lokasi ini."

Yunho dan Zhoumi seketika mengubah pandangan mata mereka melihat dengan jelas cahaya yang yang bergerak dengan cepat kearah lokasi mereka. Mata mereka melihat dengan jelas bagaimana lingkaran cahaya itu terbang menuju kearahnya dan semakin lama semakin mendekat, dan saat jarak pandang yang semakin mengecil, mata Yunho membelak lebar melihat Baekhyun memeluk badan Chanyeol yang berada di pangkuannya dengan wajah yang sendu dan membengkak karena entah sudah menangis berapa lama.

"Ba-baekhyun!" Zhoumi memekik terkejut.

Tak lama tubuh mereka mendarat dengan aman pada tanah kembali dan semua pengawal yang berada disekitar bergerak membentuk penjagaan atas intsruksi yang dikeluarkan Yunho sebelumnya. Perisai yang membungkus tubuh Baekhyun dan Chanyeol semakin memudar diiringi dengan gumaman Baekhyun yang tak berhenti meminta tolong agar Chanyeol selamat.

"Ma-maafkan aku.."

Baekhyun masih menangis saat Yunho menghampiri dirinya dan menanyakkan apa yang terjadi, tanpa penjelasan lebih lengkap Zhoumi memerintahkan para pengawal untuk membawa tubuh Chanyeol masuk ke dalam istana dan memberikan pengobatan serius untuk Chanyeol, sementara itu Yunho tak henti-hentinya menenangkan Baekhyun dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

"Chanyeol akan baik-baik saja." Yunho menenangkan gadis mungil yang makin terisak di pelukannya.

".. aku minta maaf Yang Mulia.. hiks.. Chan—yeol.. hiks.. ini semua salahku.."

"Ini bukan salahmu. Lebih baik kau tenang ya. Puteraku akan baik-baik saja."

Zhoumi tidak berminat ikut dalam kegiatan menenangkan Baekhyun seperti yang dilakukan Yunho, dan ia memilih untuk mengarahkan para pengawal Kerajaan untuk mencari para Putera dan Puteri Mahkota yang lain untuk keluar dari Hutan Pinus itu sesegera mungkin, Zhoumi menekankan untuk mencari Kris lebih dulu mengingat saat ini adiknya sedang menangis sedih bersama Yunho.

Perintah yang diberikan Zhoumi dengan cepat dilaksanakan para pengawal Kerajaan, beberapa diantara mereka membawa kuda untuk mempercepat pencarian. Bahkan pasukan udara mulai diterjunkan untuk memantau lokasi sekitar Hutan Pinus dari atas langit.

"Lebih baik kau membawanya masuk kedalam." Zhoumi menepuk bahu Yunho.

"Hm. Ide yang bagus." Yunho menjawab singkat dan kemudian meminta Baekhyun untuk berjalan bersamanya menuju Istana. "Tolong informasikan pada Kris mengenai ini secepatnya."

Zhoumi menganggukan kepala mengerti dengan apa yang diminta oleh Yunho, dan setelahnya ia berjalan bersama Bekhyun menuju Istana diiringi beberapa pengawal dibelakangnya.

.

"Kau yakin sudah memeriksa semua bagian hutan ini?" Suara lembut Kyungsoo bertanya pada Jongin yang baru saja kembali setelah ber-teleport entah untuk keberapa kalinya.

"Aku rasa.. sudah semua bagian dari hutan ini sudah ku jelajahi." Jongin masih mengingat-ingat bagian hutan pinus mana saja yang ia sudah periksa sedari tadi.

"Mungkin kita harus memeriksanya bersama-sama." Ucapan yang dilontarkan Kyungsoo membuat Jongin mengernyitkan alisnya. Ia masih mengingat jelas bahwa gadis itu enggan untuk bergabung bersamanya dan memilih menunggu sendirian di tengah hutan ini saat ia tengah memeriksa semua bagian hutan yang bisa ia jangkau.

"Kau benar yakin?" Jongin memastikan.

"Iya. Aku berpikir kau tidak terlalu pandai untuk memeriksa satu hutan pinus di Eowyn." Kyungsoo menjawab dengan nada sinisnya.

"Ck. Kau meragukanku ternyata." Jongin membalas.

"Kau dan Sehun sama-sama tidak bisa dipercaya. Jadi ya. Aku meragukan kemampuanmu." Kyungsoo berjalan mendekat kearah Jongin dengan wajah angkuhnya, bahkan tangannya menunjuk tepat dihadapan dada Putera Mahkota Glorfindel.

"Baiklah." Jongin tertawa kecil. "Kita lihat, apakah kehadiranmu bisa membantu kita berdua memenangkan permainan ini atau tidak."

Kyungsoo menganggukkan kepala menyanggupi pernyataan Jongin dan mulai berpegangan pada tangan Jongin yang mengarah kearahnya untuk bersiap melakukan teleportasi bersama.

.

"Bisakah kau mempercepat langkahmu Tuan Puteri?" Sehun yang sudah berada jauh didepan Luhan bertolak pinggang menunggu gadis itu yang masih melakukan pengecekkan pada sisi hutan disekitarnya. Luhan tidak memperdulikan ucapan Sehun, dirinya masih terfokus dengan kekuatannya yang tengah memporak-porandakkan beberapa batang pohon pinus hanya untuk mencari sebuah bendera Kerajaan Eowyn.

Sehun masih berdiri bersandar pada sebuah pohon, tangannya menyingkap didepan dada dan memperhatikan sosok Luhan dihadapannya. Pergerakan tangan Luhan yang bergerak menarik pohon-pohon itu atau menghempaskannya dengan sembarang bukanlah menjadi pemandangan bagi Sehun, karena yang menjadi pusat perhatiannya adalah wajah Luhan yang terlihat angkuh dan cantik disaat bersamaan. Menurut Sehun.

Senyum kembali ia kembangkan setelah melihat wajah Luhan yang menoleh kearahnya dengan tatapan dingin.

"Apa yang kau lihat hah?" sahutan ketus dari gadis itu hanya dibalas dengan bahunya yang terangkat dengan cepat.

"Seingatku kau memiliki kekuatan yang bisa digunakkan untuk mencari bendera Eowyn. Kau tidak bisa menggunakkannya?" Luhan masih berkomentar sinis.

"Well, ya aku memiliki kekuatan itu Princess, tapi.. kekuatanku cukup berharga. Tidak mungkin aku menggunakkannya hanya untuk permainan bodoh ini." Sehun tertawa dengan angkuhnya untuk membalas pertanyaan Luhan.

"Huh! Permainan bodoh hah?" Luhan mencibir. "Enyah saja kau!" Luhan menggerakkan tangannya dan menggunakkan kekuatannya hanya untuk menggeser badan Sehun hingga menabrak pepohonan di sisi lain hingga lelaki itu meringis kesakitan karenanya. Luhan melangkah berjalan kembali tanpa memperdulikan Sehun yang sudah berteriak dan mengumpati kekesalannya.

Sehun bangkit berdiri dan kemudian menyusul Luhan yang belum berada jauh darinya. Tangannya menarik badan ramping Luhan dan membawanya dalam dekapannya. Luhan terperanjak kaget dengan matanya yang membelak hampir keluar karena merasakan bagaimana Sehun menarik tubuhnya dan membawa bibir mereka bersentuhan.

.

"Mereka—

"Cukup." Kris memotong ucapan Yoora. Entah kenapa mendengar segala penjelasan Yoora sebelumnya membuat dadanya terasa sesak dan nyeri. Bahkan tangannya yang bergerak untuk mengusap bagian yang terasa nyeri namun keputusannya itu malah makin memperparah keadaan didalamnya yang semakin bertambah.

Yoora memandangi punggung pria dihadapannya yang mulai bergetar dan sedikit membungkuk.

"Dia sungguh mencintainya.." Yoora berucap lirih dan perlahan berjalan mendekat, tangannya terangkat untuk mengusap punggung bergetar itu guna memberikanya ketenangan.

"Apa mereka akan bahagia?"

Yoora terdiam saat mata Kris memberikan pandangan tajam kearahnya. "Apa mereka bisa hidup bahagia di masa depan? Hah? Bagaimana? Bisa kau lihat masa depan mereka?" Kris berjalan mendekat kearah Yoora dengan tatapan dingin dan air mata yang mulai keluar dari sudut matanya. "Apa Sehun bisa memberikan kebahagian padanya?! Apa mereka bisa menikah karena Sehun bukanlah calon Raja Glorfindel?! Jawab aku Yoora!" bentakkan Kris terucap dengan tangannya yang mencengkram kedua lengan kecil milik Yoora.

Untuk pertama kalinya Yoora terisak dan takut melihat Kris, selama ini ia tidak pernah melihat sosok itu menangis atau marah terhadap apapun. Penyesalan ada dalam hati Yoora karena ia tidak menjelaskan dari awal tentang bagaiamana perasaan yang dimiliki oleh Sehun terhadap Luhan, bagaimana semua kejahilan yang dilakukan oleh Sehun hanyalah untuk membuat Luhan lupa akan permasalahan percintaannya dengan Kris.

Hingga akhirnya Sehun memiliki perasaan cinta yang tumbuh dan berniat untuk memiliki Luhan seutuhnya.

"Apa aku salah bila mencintainya?" Sehun bertanya dengan polos dengan kepalanya yang bersandar pada pangkuan Yoora.

"Kau tidak salah.. hanya saja kau tahu Luhan mencintai pria lain bukan?" Yoora memainkan helaian rambut Sehun yang sedikit berantakkan.

"Apa Kris juga mencintainya? Apa Mereka akan menikah?" Sehun bertanya dengan suaranya yang semakin menghilang.

Yoora terdiam mendengar pertanyaan itu, ia tidak bisa mengatakan jawabannya karena semuanya masih samar-samar dalam penglihatannya. Yang ia bisa yakini adalah, ketiga sosok yang terlibat dengan perasaan itu sama-sama memiliki perasaan cinta yang mendalam.

"Aku tahu kau memang mencintainya" Yoora menguatkan dirinya untuk bisa menenangkan Kris. "Aku juga tahu dia memang mencintaimu, dan aku tahu ada seseorang lain yang juga sama mencintai dirimu melebihi cinta yang dimiliki Luhan."

"Untuk saat ini, Aku tidak bisa memilih." Kris memberikan jawaban pada Yoora sebelum gadis itu kembali mengucapkan kalimat yang ada dalam pikirannya. "Aku tidak bisa memilih.. aku tidak bisa bertahan dengan Luhan tapi aku tidak yakin bisa memberikan cinta yang sama pada yang lain karena.."

"Karena mereka masih dalam darah yang sama?" Yoora bertanya dengan lembut.

"Kau boleh mencintainya.. tidak ada larangan untuk itu." Kris menunduk dan menahan amarahnya mendengar perkataan ayahnya saat ini. "Tapi kau tidak bisa memilikinya dan kau tidak bisa menikahinya." Kibum menyikap tangannya dan berbalik untuk bisa menatap Putera Mahkotanya yang masih berdiri dengan menundukkan kepala. "Tiranis tidak memiliki darah Dewa Inti, son. Mereka memiliki darah Malaikat Golongan Atas, tapi tidak dengan Darah Dewa.. dan kau sebagai Putera Mahkota harus mendapatkan pasangan yang sama dengan kondisi darahmu yang memiliki keturunan Malaikat-Dewa didalamnya."

"Kau adalah calon Raja Lynkestis! Dan Kau tidak bisa menikah dengan Keturunan Tiranis."

Kris memejamkan matanya mengingat ucapan ayah dan ibunya.

"Aku tidak bisa memilih dan menghilangkan perasaanku pada keduanya.." Kris kembali berucap dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Ironis bukan? Kau memiliki dua wanita yang sangat kau cintai tapi kau tidak bisa memilihi diantara mereka yang bisa kau nikahi hanya karena persoalan darah keturunan siapa." Kris sedikit tertawa diakhir kalimatnya.

Yoora berjalan menghampiri Kris dan membawa tangannya bergerak untuk memeluknya. "Relakan Luhan.." Yoora berbisik pelan tepat ditelinga Kris. "Ia tahu akan semua permasalahan yang kau alami dan.. Sehun benar-benar mencintainya.. Aku percaya adikku bisa menjadi pasangan yang baik bagi Luhan." Kris menggelengkan kepalanya mendengar apa yang Yoora katakan, tangannya meremas tubuh ramping Yoora untuk semakin memperat pelukannya. "Setidaknya kau masih bisa mencintai wanita yang kedua." Yoora mengusap punggung yang bergetar itu dan memberikannya ketenangan.

"Yixing sudah memberikan jawaban bukan untukmu?"

Kris terdiam mendengarkan ucapan yang dikatakan Yoora dan mengingat kembali percakapannya dengan Yixing semalam.

"Y-yang Mulia."

Yoora melepaskan pelukannya pada Kris dan berbalik kearah sumber suara yang menginterupsi hal yang mereka lakukan sedari tadi.

"Kenapa?" Kris lebih dulu bertanya kearah pengawal Kerajaan yang sudah berkumpul di sekitarnya.

"Permainan diberhentikkan. Yang Mulia Putera Mahkota Chanyeol mengalami kecelakaan."

"A-aapaa?" Yoora dan Kris hampir berteriak, bahkan Yoora kini hampir saja jatuh linglung bila Kris tidak menahan badannnya dengan tangannya yang masih berada dipinggang Yoora.

"Apa yang terjadi?" Kris meminta penjelasan sedangkan Yoora kini terdiam dengan matanya yang bercahaya putih—melihat itu Kris sudah paham bahwa Yoora lebih mengandalkan kekuatannya untuk kembali ke waktu sebelum Chanyeol mengalami kecelakaan.

Kris menginstruksikan para pengawal untuk kembali ke Istana sementara dirinya masih berada di dekat Yoora dan menunggu sosok wanita itu untuk kembali tersadar dari pandangannya yang entah berada jauh dimana.


-Loves of Tales-


Tubuh Chanyeol diletakkan pada kamar lain yang berada di Istana Eowyn yang kini sudah dipenuhi dengan perlengkapan layaknya sebuah ruangan rumah sakit yang sudah sering ia jumpai saat berada di Dunia Luar atau bisa dibilang dunia manusia. Baekhyun sedikit tersikap saat pandangannya teralihkan karena salah satu petugas Istana membuka kain penghalang dan memperlihatkan bagaimana Chanyeol masih terbaring lemah dengan matanya yang masih terpejam. Hal yang membuat Baekhyun semakin merasa bersalah kembali karena ternyata sosok pria yang melindunginya belum juga menyadarkan diri sedari tadi.

"Hiks.. sungguh ma-maafkan aku." Baekhyun menundukkan kepalanya dan mencoba meraih tangan Chanyeol yang berada didekatnya.

"Tenang saja."

Baekhyun hampir saja meloncat mendengar suara itu dan mendapati Yunho—Ayah Chanyeol sudah berada di belakangnya.

"Sungguh kau tidak perlu terlalu khawatir padanya. Ia akan baik-baik saja.. Tubuh manusia Chanyeol memang lemah karena dia sudah terlalu lama berada di dunia Nephilim, seharusnya dia selalu siap untuk ber-transform dalam wujud malaikat atau setengah Dewa-nya—

"Aku yang menjadi penghalang ia tidak bisa merubah wujudnya." Baekhyun menjawab kembali dengan suara bersalahnya setelah mendengat penuturan yang Yunho jelaskan. "Aku merasakan kepanasan saat—saat ia.." Baekhyun kembali terisak dan menutup wajahnya mengingat bagaimana dengan bodohnya hal-hal itu bisa tetjadi hingga mengakibatkan Chanyeol mengalami kejadi seperti ini.

"Ssstt.. sstt.. ini bukan salahmu dear." Yunho membawa Baekhyun dalam pelukannya dan memberikan ketenangan untuk sosok mungil yang terlihat sangat lemah itu.

Suasana berbeda berada di halaman Istana, karena seluruh Putera dan Puteri Mahkota kini sudah kembali dan masih menunggu penjelasan mengenai berakhirnya permainan tanpa ada kejelasan siapa yang berhasil memenangkannya. Jongin, Sehun dan Jongdae sudah beberapa kali meminta para pengawal yang menjaga disekitarnya menyingkir dari posisi itu dan membiarkan mereka masuk kedalam Istana untuk menemui Zhoumi dan Yunho. Tapi gagal.

Hingga akhirnya Sehun yang sudah tidak sabar untuk menunggu mulai mengeluaran kekuatannya dan hendak mengarahkan semua lekukan angin itu kepada semua pengawal—

"Hentikan Sehun!" Suara tegas Yoora terdengar dan jelas membuat Sehun terdiam dan patuh atas perintah yang diucapkan kakaknya itu. Kris dan Yoora baru saja tiba bergabung dengan mereka semua. Yoora melangkah lebih dulu meninggalkan Kris yang memilih untuk bergabung dengan Jongin dan Jongdae.

"Biarkan aku menemui Yang Mulia Raja." Yoora berucap pada salah satu Pengawal, dan setelah menunggu beberapa menit Yoora diperbolehkan masuk kedalam Istana seroang diri. Kris menatap wanita itu pergi kedalam dan kemudian sedikit memperhatikan dua sosok yang berada di barisan Para Puteri Mahkota yang terduduk di bangku Istana dengan suasana hening.

.

"Ayah."

Yoora memanggil Yunho yang masih memeluk Baekhyun pada ruangan yang ditunjukkan oleh salah satu pengawal sebagai tempat dimana ayahnya berada.

"Ooh.. kau sudah kembali—

"Chanyeol dimana?"

Yoora lebih dulu mencari keberadaan adiknya dan mengabaikan Ayahnya yang hendak menjelaskan apa yang sedang terjadi, tapi Yunho baru teringat bahwa putrinya ini pasti sudah mengetahui semua kejadian ini lebih dulu. Yunho segera menunjuk dimana Chnayeol masih berbaring dan tidak sadarkan diri, Yoora bergerak menuju Chanyeol dan sedikit memeriksa keadaan adiknya tanpa memperdulikan Yunho dan Baekhyun yang memperhatikan sikapnya.

"Dia terjatuh?" Yoora bersuara tanpa melihat kearah mereka.

"E-eh?" Baekhyun yang kaget mendengar pertanyaan Yoora menjawab kaget. "I-iya.. dia terjatuh.. itu karena—

"Kau berhasil membawa benderanya?" Yoora menoleh kearah Baekhyun, sedangkan Baekhyun menatapnya bingung tidak mengerti apa yang dimaksud dengan pertanyaan Yoora.

"Yoora-na.." Baekhyun menyebutkan nama Yoora dengan suaranya yang kecil. "Chanyeol tidak mengambil benderanya—

"Kau yang mengambilnya kan?" Yoora berbalik dan tersenyum pada Baekhyun yang masih berusaha memahami arti pertanyaan Yoora mengenai bendera itu. "Gunakkan dengan baik keputusanmu untuk permainan selanjutnya." Yoora tersenyum kembali dan memberikan usapan pada bahu Baekhyun. "Dia akan baik-baik saja.. dan mungkin kalau kau mau menjaganya disini." Yoora terdiam sebentar dan mengangkat wajah Baekhyun untuk tegak melihat kearahnya. "Dia akan cepat tersadar dari tidurnya." Kedipan mata kirinya diberikan oleh Yoora untuk Baekhyun dan setelah itu ia beranjak melangkah kearah Ayahnya dan membawa Yunho untuk keluar dari ruangan itu bersamanya.

Meninggalkan Baekhyun yang masih berdiri termenung dan Chanyeol yang tidak sadarkan diri.

Yunho dan Yoora berjalan bersama menuju halaman Istana dimana para pengawal dan penjaga Istana masih tidak mengijinkan para Putera dan Puteri Mahkota untuk masuk kedalam Istana.

"Adikmu tidak mengalami luka serius bukan?" Yunho sempat menanyakkan sebelum mereka melangkah untuk turun.

Yoora menganggukkan kepala untuk menjawab dan masih berjalan lebih dulu meninggalkan ayahnya.

"Kapan adikmu sadar?" Yunho kembali menanyakkan.

"Hm.. mungkin tengah malam nanti." Yoora menoleh dan mengedipkan matanya. "Ayah tenang saja." Yoora melanjutkan lagi.

Yunho menghela nafas antara lega dan tidak melihat tingkah anaknya yang selalu merahasiakan segala kejadian yang ia ketahui.

"Bagaimana?" Suara Zhoumi tiba-tiba terdengar muncul disampingnya dan sontak membuta Yunho sedikit melompat kaget.

"Ya! Kenapa kau tiba-tiba muncul hah!" Yunho membant keras.

Zhoumi mengernyitkan alisnya dan bingung dengan sikap Yunho yang terkejut akan kehadirannya.

"Aku sudah berada disini sejak Yoora berlari menuju kamar Chanyeol." Zhoumi menjelaskan dan melipat tangannya berhadapan dengan Yunho. "Apa yang anakmu katakan tentang Chanyeol?"

"Ayah tenang saja." Yunho menirukan suara dan bagaimana tingkah Yoora saat mengatakan padanya tadi, Zhoumi hampir tertawa lepas melihat tingkah Yunho namun ia menahannya karena tatapan tajam sudah nampak pada raut wajah Yunho.

"Oh—anak-anak sudah kembali ke kamar mereka."

"Anak-anak?" Yunho nampak risih dengan panggilan bagi para Putera dan Puteri Mahkota itu, ya meskipun memang rata-rata mereka adalah anak-anak Yunho dan Zhoumi keculai Kris, Baekhyun dan Kyungsoo tapi mendengar panggilan itu seakan-akan mereka berdua memiliki jumlah anak yang banyak.

"Ya. Anak-anak. Banyak sekali bukan?! Ah aku benar-benar berharap Siwon tiba di Istana dan membantu kita mengurusi mereka semua."

Yunho menganggukkan kepala menyetujui ucapan Zhoumi, meskipun setelahnya ada pemikiran yang lebih baik daripada kalimat Zhoumi.

Aku lebih berharap istriku yang bisa menemaniku.

.

Langkah kaki Baekhyun bergerak perlahan menyusuri lorong-lorong Istana, ia mengangkat gaun tidurnya yang sedikit mengganggu perjalanannya dan kemudian melanjutkan kembali menuruni tangga untuk menuju ruangan Istana yang berada di lantai 2 itu, lantai dimana terdapat sosok yang masih belum juga terbangun sedari tadi, yaitu Chanyeol. Entah apa yang Baekhyun pikirkan ia rela menyelinap di jam tengah malam ini hanya karena ucapan Yoora yang mengatakan bahwa mungkin saja Chanyeol tersadar saat ia menemaninya.

Dan benarlah yang terjadi, Baekhyun masuk kedalam ruangan itu dengan masih mengendap-endap dan segera duduk pada kursi yang terletak tepat disamping ranjang Chanyeol tertidur.

"H-hai.." Baekhyun yang masih merapikan gaunnya dalam posisi duduk menyapa Chanyeol dengan tangannya yang bergerak melambai dengan pemikiran mungkin saja Chanyeol bisa melihatnya saat ini.

Baekhyun kembali terdiam dan memangku tangannya diatas pahanya dan sedikit meremas gaun tidurnya.

"A-aku.." Baekhyun menahan suaranya. "A-aku benar-benar minta maaf. Sungguh." Baekhyun terdiam lagi, menahan dirinya untuk tidak kembali menangis ataupun terlihat menyedihkan.

"Seharusnya aku bisa mengendalikan diri.. sungguh maafkan aku.." Baekhyun menggembungkan pipinya dan menghela nafas frustasi.

"Kau janji akan mengajariku mengendalikan kekuatan bukan?" Baekhyun menyingkap tangannya di dada.

"Seharusnya kau cepat bangun dan memarahiku atau apapun ish!"

"Chanyeol.."

Baekhyun masih melanjutkan bermonolog didekat Chanyeol.

"Aku benar-benar minta maaf.."

"Cepatlah sadar.."

"Oh! Aku berhasil mengambil bendera Istana Eowyn.. Yang Mulai mengatakan bahwa kita adalah pemenangnya, jadi kita bisa memilih pasangan team di permainan selanjutnya." Baekhyun mencari Bendera Eowyn yang sebelumnya ia letakkan di atas meja dekat ranjang Chanyeol. "Gotcha! Lihat. Ini kuberikan untukmu, jadi cepatlah kau bangun dan bisa memilih pasangan team mu saat permainan selanjutnya." Baekhyun meletakkan bendera itu pada dekapan tangan Chanyeol dan ia kembali duduk di kursinya kembali.

"Aku tahu kau pasti tidak mau kembali berpasangan denganku." Baekhyun terduduk lesu.

"Setidaknya pasangkan aku dengan Kris, jangan dengan Sehun dan Jongin."

Entah sudah berapa banyak yang Baekhyun katakan dalam ketidaksadaran Chanyeol hingga sosok mungil itu memajukan letak kursinya untuk mendekat pada ranjang Chanyeol. Kepalanya dibawa bersandar pada ranjang dengan tatapannya yang masih bisa melihat bagaimana lelapnya wajah Chanyeol yang tertidur disana.

Mata Baekhyun mengerjap berkedip-kedip dan mencoba menahan rasa ngantuk yang kini mulai mempengaruhi dirinya.

"Cepat sembuh Yang Mulia." Baekhyun bergumam dan perlahan-lahan mulai memasuki dunia mimpinya.

Baekhyun tertidur pulas dalam posisi duduknya dengan tangannya yang terlipat dibawah kepalanya yang berfungsi sebagai bantal tidurnya. Wajahnya semakin terlihat seperti anak kecil dan membuat sosok yang sedari tadi gemas mendengar segala keluh kesah dan ucapan minta maafnya memamerkan senyuman di wajahnya.

Ya, Chanyeol sudah tersadar sebelum Baekhyun menghampirinya. Bahkan Yoora dan Kris sudah lebih dulu menemuinya untuk menjelaskan apa yang terjadi setelah ia tidak sadarkan diri karena terjatuh dari ketinggian yang cukup tinggi dan lebih parahnya dalam wujudnya sebagai manusia. Kris sudah memperingatkan bahwa adiknya sangat merasa bersalah dan meminta Chanyeol untuk memaafkan Baekhyun dan bersabar dalam mendengar beberapa kali permintaan maaf Baekhyun bila mereka bertemu.

Dan benar saja, berselang cukup lama sejak kepergian Kris dan Yoora, datanglah sosok mungil yang beberapa waktu lalu menjadi objek pembicaraan. Bahkan sosok itu benar-benar melakukan apa yang diceritakan Yoora dan Kris sebelumnya.

"Ia akan merengek minta maaf dan menceritakan hal apapun yang ia ingin katakan."

Ucapan Kris membuat Chanyeol tersenyum.

Ia beranjak bangun secara perlahan dari posisi tidurnya untuk mejaga agar Baekhyun tidak terbangun karena pergerakannya. Chanyeol turun dari ranjang dan kemudian merengkuh tubuh mungil itu yang sudah terlelap tidur dan mendengkur dengan halus, dengan menahan tawanya Chanyeol merebahkan Baekhyun pada ranjangnya dan menyelimuti tubuh mungilnya.

Chanyeol duduk di pinggir ranjang itu, tangannya tidak kuasa menahan keinginannya untuk memainkan surai rambut hitam Baekhyun yang sedikit menutupi wajah mungil itu.

"Aku tidak marah padamu Baek." Chanyeol tersenyum. "Aku tidak bisa marah padamu." Kalimatnya ia tambahkan dan kemudian dirinya yang tersadar penuh bergerak untuk mencium kening kepala Baekhyun.