Chapter 2

Tetanggaku bukan manusia? (Part 2)

Yaya hanya menghela nafas dan tersenyum kecil, memikirkan semua hal itu membuatnya jadi lelah sekarang. Tapi masih ada satu misteri lagi yang belum terpecahkan. Siapa sebenarnya pria yang menolongnya waktu itu?

Selagi memikirkan hal tersebut, tak lama kemudian rasa kantuk terus menyerang dirinya. Dan akhirnya Yaya pun larut dan jatuh ke dalam alam bawah sadarnya.

Hingga keesokan paginya…

"Ya… Yaya. Psst…Yaya. Yaya!"

Terdengar suara lembut yang begitu familiar memanggil namanya berkali-kali dan menarik gadis itu keluar dari alam mimpinya. "Ughh…" Yaya menggerutu, berharap bisa mendapatkan waktu tidur tambahan, matanya sulit sekali dibuka dan tubuhnya masih sangat lelah.

"Sudah pagi loh"

Suara itu kembali terdengar, masih belum puas mencoba membangunkan gadis itu. Dengan berat Yaya pun akhirnya membuka kedua kelopak matanya, dan menemukan seorang pangeran tampan(?) dengan iris berwarna emas sedang berjongkok di dekatnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis.

"Selamat pagi" sapa pria tersebut.

Yaya hanya mengerjap-ngerjap, mencoba memahami keadaan sekitarnya sekaligus mengumpulkan kembali nyawanya yang sudah memecah dan tersebar kemana-mana. " Gempa-san…?" kemudian gadis itu pun bangkit dari pembaringan nya, rambutnya acak-acakan dan matanya masih berat untuk terbuka sepenuhnya. Belum lagi ilernya yang masih menggantung di sudut bibir.

Satu kata yang menggambarkan keadaan Yaya saat ini adalah 'Parah'

"Aku datang untuk menjemputmu" kata Gempa lagi, masih mencoba menyadarkan Yaya yang sepertinya nyawanya baru terkumpul setengah.

"Ughh… Jam berapa ini?" keluh gadis itu sambil mengacak rambut coklat pendeknya yang sudah lebih dulu acak-acakan.

"Jam setengah sepuluh." jawab Gempa enteng plus senyuman merekah di wajahnya. Yaya membelalak. Seperti terhisap vakum, mendadak saja semuanya nyawanya terkumpul kembali dengan kecepatan kilat dan membuatnya langsung kembali segar bugar.

"APAA!"

Dengan panik gadis itu langsung meraih smartphone putihnya lalu menyalakan layarnya untuk mengecek jam. Benar, ternyata memang sudah pukul 09.30 waktu Jepang, sudah lewat 10 menit lagi.

Astaga, padahal kemarin janjinya dia akan di jemput pukul sembilan dan ternyata sudah lewat 40 menit, baru dia bangun. Padahal tadi malam dia berniat bangun setidaknya satu jam lebih awal agar punya waktu untuk bersiap-siap. Dan lucunya, Gempa masih bersabar menunggunya untuk bangun meskipun sudah sangat telat dari waktu perjanjiannya.

"Kau tidur nyenyak sekali. Maaf ya, aku membangunkanmu" kata Gempa dan membuat Yaya menoleh padanya.

Gadis itu hanya tertunduk. Untuk apa minta maaf, Gempa tidak salah, Yaya lah yang salah karena bangun telat. Kira-kira mungkin seperti itu yang dipikirkan oleh gadis itu. Sekarang dia jadi menyesal karena tadi malam tidur terlalu larut. Tunggu sebentar, ini bukan waktunya diam dan menyesali yang sedang terjadi, lebih baik segera bangkit dan siap-siap.

"Anu… Gempa-san. Tunggu sebentar ya, aku bersiap-siap dulu" pinta Yaya dengan wajah memelas.

"Begitu saja tidak pa-pa kok. Kau bisa lakukan itu saat kita sampai saja, soalnya aku ada urusan pukul sebelas nanti" jawab Gempa sambil mengetuk-ngetuk arlojinya yang berada di tangan kanan.

Mendengar itu tentu saja Yaya semakin panik dan kebingungan. "Uhh… Umm… Ka-Kalau gitu… setidaknya biarkan aku cuci muka dan ganti baju dulu. Berikan aku lima belas–tidak. Sepuluh menit!" ucapnya meminta konsekuensi.

Gempa hanya mengulum bibirnya dan kemudian mengangguk menyetujui permintaan Yaya. "Baiklah." dan membuat Yaya menghela nafas lega. Tanpa menunda-nunda lagi, gadis itu langsung berdiri dan lari menuju kamar mandi gedung yang berada agak jauh di belakang.

Jadi, setelah mencuci muka dan mengganti piyamanya dengan baju seadanya yang bisa diraih dari dalam kopernya, yaitu rok panjang kelabu, kaos oblong dan jaket tebal berwarna biru juga 'kerudung langsung(?)' berwarna putih, Yaya pun akhirnya kembali menumpang mobil Gempa menuju tempat tinggal barunya. Gadis itu mendesah, dia benar-benar merasa tidak enak, datang ke lingkungan baru dan bertemu orang baru dengan penampilan seadanya.

Nggak mandi pula.

Tapi sepertinya Gempa di sebelahnya tidak masalah dan masa bodoh saja dengan hal itu. Sedari tadi pemuda itu hanya diam dan fokus pada jalanan aspal berwarna hitam yang mereka lewati tanpa berkomentar apa-apa.

~MA~

Kemudian seperti sebelumnya, setelah 30 menit lebih berkendara melalui jalan, jembatan, gedung-gedung kantor, perumahan dan berbagai fasilitas umum yang ramai oleh penduduk, tambahan juga kedai kopi milik Gempa, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah susun kecil yang berada di dalam komplek perumahan warga.

Gempa menghentikan mobilnya dan memarkirkannya di depan tembok yang menjadi pagar dari apartemen tersebut. Kemudian dia turun dan pindah ke belakang mobil untuk mengeluarkan koper besar milik Yaya dari dalam jok. Gadis yang sedari tadi duduk di sebelahnya pun ikut turun, dia memperhatikan apartemen tersebut lekat-lekat.

Hanya sebuah bangunan bertingkat dua yang sangat sederhana. Halamannya cukup luas dan ditumbuhi rerumputan hijau yang rimbun, ada berbagai tanaman jenis bunga-bungaan yang juga ikut ditanam disini. Dari luar bisa terlihat ada tujuh buah pintu yang mewakili tujuh buah kamar disini dan semua kamarnya berada di lantai dua.

Lumayan, tidak buruk juga untuk sebuah apartemen.

"Maaf ya apartemen nya memang kecil dan agak sedikit kumuh" kata Gempa pada Yaya, yang secara tak langsung membuatnya menegur Yaya dan membuat gadis berkerudung itu sedikit terlonjak kaget di tempat.

Dengan spontan Yaya pun langsung menyahut Gempa. "Nggak kok. Malahan ini lebih bagus dari yang kubayangkan, sungguh" pujinya pada Gempa sambil mengayunkan kedua tangannya membentuk tanda silang.

"Baguslah" Gempa hanya tersenyum senang begitu mendengar pujian yang diberikan oleh. "Oh iya. Ayo, aku tunjukkan kamarmu" lanjutnya lagi dan mengajak Yaya untuk masuk ke dalam pekarangan dari apartemen dan naik ke lantai dua dimana seluruh kamar berada di atas sana mengunakan tangga besi yang berada di samping balkon sekaligus teras masing-masing kamar yang lurus memanjang hingga ke kamar terakhir di ujung.

Yaya hanya mengikuti kemana pria berambut hitam itu membawanya. Mereka melewati satu, dua dan tiga pintu dengan warna yang berbeda-beda. Pintu kamar nomor 1 berwarna kuning, di susul pintu nomor 2 berwarna hijau lalu pintu kamar nomor 3 berwarna merah. Sejak tadi gadis itu memang sudah memperhatikan jika masing-masing kamar di apartemen ini memiliki pintu dengan yang di cat dengan warna berbeda, sungguh menarik. Hingga kemudian mereka tiba di depan sebuah pintu berwarna pink dengan nomor kamar 4.

"Ini kamarmu" tunjuk Gempa ke arah pintu itu. "Tunggu sebentar ya? Akan kubukakan." pemuda itu pun merogoh ke dalam kantong jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda panjang tipis terbuat dari logam yang digunakan untuk mengancing pintu lalu memasukan kunci tersebut ke dalam lubang kunci yang berada di pintu tersebut dan memutarnya. Kemudian dia pun memutar gerendel nya dan menarik pintu itu ke arah luar.

Setelah pintu itu terbuka, tampaklah sebuah ruangan atau kamar yang cukup luas, dindingnya bata berlapis semen yang di cat kuning pastel, lantainya dari kayu lapis tanpa tikar, yah seperti apartemen lainnya. Di dalamnya sangat bersih bahkan semua perabotan milik Yaya mulai dari lemari hingga perabotan dapur sudah tersusun dengan baik dan rapi seolah di tata oleh tangan profesional saja. Sampai Yaya bertanya-tanya, apa benar para tetangganya yang mengerjakan semua ini? Kalau tidak salah dia dengar begitu dari Gempa.

"Hebat… Lebih luas daripada yang terlihat di luar" komentarnya kagum pada kamar apartemennya itu. Benarkah kamar ini untuknya?

"Kau suka?" tanya Gempa.

Yaya pun berbalik dengan tatapan berbnar-binar. "Tempat ini bagus banget Gempa-san! Yang benar aku boleh tinggal disini tanpa membayar sepeserpun!?" tanyanya.

"Kan sudah ku bilang kemarin, aku tidak mempermasalahkan biaya" jawab pemuda itu.

"Tapi tetap saja aku merasa tidak enak." Gumam Gadis itu tertunduk. "Oh iya, kapan kira-kira aku bisa bekerja di kafe mu" lanjutnya lagi bersemangat. Karena Gempa bilang kemarin Yaya bisa kerja di kafe nya kalau merasa tidak nyaman tinggal disini tanpa membayar.

Tapi sebenarnya Gempa mengatakan itu asal saja kok, agar gadis itu tidak terlalu merasa jadi beban "Kau masih saja bersikeras untuk membalas jasaku ya…?" gumam Gempa menghela nafas berat. "Dengar Yaya, aku tidak memaksamu untuk bekerja di tempatku. Sekalipun bekerja kau pun akan tetap ku perlakukan seperti yang lain dan tetap ku gaji. Kau ini pasti nanti akan sibuk dengan tugas kuliah dan hampir tidak punya waktu jadi–"

"Tidak. Aku bisa kok! Aku tidak mau terus berhutang pada Gempa-san. Setidaknya biarkan aku membalasmu dengan hal yang bisa kulakukan!" Belum sempat Gempa menyelesaikan perkataannya,Yaya sudah main potong dan tetap saja memaksa bekerja di kafe untuk membalas kebaikan Gempa

Pria itu hanya menghela nafas, sepertinya tidak ada pilihan lain. Gadis di depannya ini benar-benar keras kepala. "Apa boleh buat… Kalau begitu kau bisa bekerja mulai minggu depan, bagaimana?"

"Jangankan minggu depan, hari ini juga bisa!" sahut gadis itu bersemangat dan membuat Gempa sweat drop di tempat.

"Y-Ya sudah. Aku tinggal dulu ya? Kalau perlu bantuan panggil saja aku, kamarku yang paling ujung nomor 1 atau kau bisa telpon aku saja. Kau sudah menyimpan nomorku kemarin kan?" kata Gempa lagi. Yaya mengangguk, memang kemarin mereka sempat bertukar nomor telepon saat di kantor kedutaan kemarin.

"Kalau begitu sudah ya?" pemuda itu melambaikan tangannya. Tapi beberapa saat kemudian di berbalik lagi "Oh iya aku hampir lupa" dia pun segera merogoh ke dalam jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda seperti stik dan langsung melemparkannya pada Yaya.

Gadis itu pun segera menangkapnya dengan mulus. Dia memandang Gempa dengan tatapan 'apa ini?'

"Itu Stun gun. Gunakan saat kau dalam bahaya" kata Gempa langsung berjalan ke turun terburu-buru dari lantai 2 menuju mobilnya, tmeninggalkan Yaya sendiri di kamar apartemennya.

Yaya pun menatap alat kejut listrik yang diberikan oleh Gempa. Bentuknya bukan seperti stun gun portable yang kecil, tapi lebih mirip seperti yang dibawa oleh polisi.

~MA~

*Yaya pov

Setelah Gempa-san pergi, Aku pun segera masuk ke apartemen dan menutup pintunya. Aku masuk lebih dalam lagi dan menelusuri ruangan demi ruangan. Seperti dugaanku semua memang sudah di tata rapi dengan sedemikian rupa dan bersih. Dari luar tidak kelihatan kalau isinya sebagus ini. Bahkan mereka pun sudah mempersiapkan futon yang masih terlipat dengan rapi untuk tempatku tidur. Kalau tempatnya sebagus ini siapa pun juga mau tinggal di sini, nggak bayar lagi.

Tapi kenapa Gempa-san bilang kemarin dia hanya menawarkan tempat ini untuk orang-orang tertentu saja? Memangnya orang-orang tertentu yang dimaksud Gempa-san itu seperti apa? Aneh deh.

Sekarang apa yang harus kulakukan ya? Tempat ini sudah bersih dan rapi, jadi tidak ada yang perlu ku bereskan? Ah iya, mungkin sebaiknya aku menyusun baju-bajuku saja ke dalam lemari. Tunggu, Aku belum mandi ya? Mungkin aku lakukan itu nanti saja setelah mandi.

*Normal pov

Beberapa saat kemudian, setelah Yaya selesai mandi dan berganti baju yang lebih bagus tapi tetap santai untuk di rumahan, gadis itu pun mulai memindah dan menyusun baju-bajunya ke dalam lemari kayu besar yang memang sudah disediakan di sana. Setelah selesai dia pun meraih tasnya yang berisi tumpukan baju kotor dan langsung mencuci ke dalam mesin cuci otomatis yang juga sudah disediakan disana juga. Heran juga, apartemen ini bahkan punya berbagai fasilitas lengkap, segala macam kebutuhan sudah ada disini bahkan sampai kulkas pun ada. Yaya bahkan masih tidak percaya dia boleh tinggal disini tanpa membayar sepeserpun.

Sekarang, selagi menunggu cuciannya selesai kira-kira apa ya yang harus dikerjakannya lagi?

Yaya terus berpikir dan beberapa saat kemudian dia teringat soal para tetangganya yang sudah bekerja keras merapikan tempat ini untuknya. Setidaknya dia harus mengunjungi dan menyapa mereka kan? Lagipula menjaga tali silaturahmi itu sangat penting dan sudah menjadi kebiasaan mendarah daging di daerah timur. Tapi kalau berkunjung dengan kosong rasanya tidak enak, setidaknya dia bisa membawakan mereka sesuatu.

Jadi gadis itu pun segera mengecek kulkas, melihat-lihat kalau saja ada sesuatu yang bisa dia masak. "Coba kita lihat. Ada wortel, daun bawang, juga kentang dan beberapa buah jamur." Gumam gadis itu.

"Tunggu." Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. "Kapan aku membeli semua ini!?" serunya panik. Perasaan sejak kemarin dia belum belanja apa-apa, kok tiba-tiba bisa ada bahan makanan disini.

Kring…kring… (Anggap aja ringtone Handphone) Selagi gadis itu keheranan sendiri, tiba-tiba saja ponsel nya berdering. Tebak siapa yang menelponnya?

Bukan ayahnya, tapi Gempa. Sontak gadis itu langsung meraih smartphone putih yang berada di atas meja dan langsung menjawab panggilan tersebut. "Halo! Gempa-san?"

"Halo Yaya, maaf aku lupa mengatakan sesuatu padamu tadi. Kemarin aku sempat membeli bahan makanan saat mempersiapkan kamarmu. Yah… berjaga-jaga kalau kau mau memasak sesuatu." Jelas pria di seberang telpon tersebut.

"Begitu ya? Terima kasih ya, Gempa-san" sahut Yaya.

"Iya…" segera setelah itu Gempa pun langsung mematikan panggilan tersebut, mungkin karena terlalu sibuk.

Penjelasan Gempa tentu saja membuat Yaya merasa lega, setidaknya jawabannya sudah terpecahkan. Tapi darimana Gempa tahu jika Yaya ingin memasak sop? Memangnya dia itu bisa membaca pikirannya ya? Dan juga, ini sih namanya terlalu baik.

Sudahlah daripada memusingkan hal itu lebih baik dia mulai saja memasak sop, karena dia juga mau bagi-bagi dengan para tetangganya tentu saja dia harus buat banyak.

Lalu satu setengah jam kemudian, Yaya pun selesai masak sop jamur buatannya, disaat bersamaan cuciannya pun juga selesai. Jadi gadis itu pun beranjak dari dapur menuju kamar mandi untuk memunguti cuciannya yang sudah selesai di dryer di mesin cuci. Setelah itu dia langsung menjemur pakaiannya, tapi karena cuacanya masih sangat dingin karena salju masih musim dingin jadi dia memutuskan menggantungnya saja di dekat mesin penghangat. Kalau tidak salah dia dengar cara ini sangat efektif untuk mengeringkan pakaian saat musim dingin.

Sekarang kembali ke rencana awal, menyapa para tetangganya. Tapi pertama-tama mulai dari mana ya?

~MA~

Ting… Tong…

Gadis itu menekan bel kamar nomor 3 dengan pintu berwarna merah yang berada tepat di samping kamar miliknya.

Dan beberapa saat kemudian seseorang dari dalam kamar apartemen itu pun membuka kan pintunya. Seorang laki-laki berambut hitam lebat dan iris berwarna jingga kemerahan seperti matahari di saat senja, dia menatap Yaya dengan ekspresi penuh tanya. "Ya? Ada perlu apa?" tanyanya pada gadis itu.

"Eh? P-Perkenalkan! Namaku Yaya Yah! Aku baru saja pindah ke kamar nomor empat!" jawab Gadis itu agak panik sambil sedikit membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam.

"Eh~ jadi kau ya orang baru itu" komentar anak itu dengan suara yang agak cempreng seperti anak kecil.

"Iya…" jawab Yaya mengangkat kepalanya.

"Ada apa?" beberapa saat kemudian dari dalam rumah itu juga, muncul seorang laki-laki lain. Dia terlihat mirip dengan anak yang ada di depannya hanya saja matanya berwarna ruby dan terlihat lebih dewasa, dia datang dengan masih mengenakan celemek, sepertinya baru dari dapur. Dan Yaya mengenali orang itu, dia adalah…

"Eh? Kau ini kan…" gumam gadis itu.

"Ah~ Ini? Pemilik kamar nomor 4 yang kemarin kita bantu angkut barang-barangnya" kata si pria beriris jingga menjelaskan

"Hmm… Jadi kau ya orangnya? Kalau tidak salah kita pernah ketemu ya?" kata pria beriris ruby itu berkomentar.

"I-Iya! Kemarin saat di kafe. Namaku Yaya, salam kenal!" sapa gadis itu.

"Oh iya. Kenalkan juga, aku Blaze dan orang yang mukanya 'kusut' ini adalah Kakakku, Halilintar." Jelas laki-laki bernama Blaze tersebut dengan senyuman manis dan wajah tak berdosa pada Yaya.

"Siapa yang kau sebut 'Kusut' itu?" komentar Halilintar sarkartis pada adiknya itu.

Sementara Yaya hanya manggut-manggut mencoba mencerna keadaan. Dan kemudian teringat dengan mangkuk sop yang masih ada ditangannya. "Oh iya. Aku sempat membuat sup tadi. Maaf ya seadanya, soalnya aku belum membeli banyak bahan" katanya sambil menyerahkan mangkuk berisis sup itu dan langsung diterima oleh Blaze.

"Tidak masalah kok. Terima kasih banyak ya, Nee-san" sahut Blaze ramah dan memanggil Yaya dengan sebutan Kakak.

"I-Iya. Mulai sekarang juga, mohon kerjasamanya ya? Blaze-kun, Hali-kun" kata Yaya lagi sedikit gemetaran.

"Hali? Siapa yang mengijinkanmu memanggilku seperti itu?"

Entah ada angin apa, tiba-tiba saja pria yang barusan di panggilnya 'Hali' itu langsung saja protes, dari ekpresinya wajahnya yang masam dan kedua tangannya yang disilangkan ditambah lagi dengan nada bicaranya yang dingin dan agak angkuh, jelas sekali kalau dia tidak suka dipanggil dengan panggilan singkatnya itu.

Oops, kelihatannya Yaya sudah salah bicara nih. Tapi aneh sekali, bukankah kemarin saat di kafe sikapnya sangat ramah dan murah senyum, kenapa mendadak jadi berubah jadi 180 derajat sekarang. Apa dia punya kepribadian ganda? Eh tunggu. Nggak. Yaya ingat dengan pasti saat terakhir dia sempat menatapnya dengan tajam. Jadi sikap ramah dan sopannya itu hanya akting yang dilakukannya semata-mata karena kepentingan pekerjaan saja. Sungguh, aktingnya sempurna sekali.

Merasakan ada aura yang tidak mengenakan di sekitarnya, Blaze pun berinisiatif melerai dan menenangkan Kakaknya itu. "Sudahlah Aniki. Maklumi saja, Nee-san kan baru saja pindah. Nggak usah ketus gitu lah"

"Kau sendiri ada angin apa, tiba-tiba jadi sok sopan begini? Ah~ aku tahu. Kau pasti ada maunya kan dengan Gempa-nii?" komentar Halilintar dengan maksud mengejek adiknya itu.

"Nggak lah! Biasanya aku juga begini kok!" sahut Si Adik tak kalah sengit.

"Masa? Kapan? Hari apa? Tanggal berapa? Bulan apa? Tahun berapa? Sudah berapa kali bumi berputar–"

Seketika sebuah perempatan pun muncul di kepala bocah beriris jingga kemerahan itu "CE-RE-WET! KALAU ANIKI GAK ADA KERJAAN SANA BALIK AJA LAGI KE DAPUR!?"

"OH~ JADI KAU BERANI MEMERINTAHKU SEKARANG! NGELUNJAK KAU YA!?"

"ANIKI PIKIR AKU TAKUT SAMA ANIKI!? EMANG KAU IBUKU APA!?"

Dan setelah itu tidak jelas lagi apa yang mereka ributkan.

Yaya yang melihat tingkah dua bersaudara itu hanya bisa sweat drop dan cengar-cengir nggak jelas di tempat. Coba pikir, di depan tamu sempat-sempatnya saja mereka berkelahi seolah ini sudah jadi hal biasa, nggak malu apa? 'Hahaha…. Kakak-Beradik yang sangat rame ya?' batin gadis itu. Sialnya mereka tinggal tepat di samping kamarnya, sepertinya setelah ini dia harus siap-siap dengan sumpalan telinga kalau-kalau mereka ribut dan berteriak seperti ini lain kali.

~MA~

Ting… Tong…

Setelah selesai berkunjung dari kamar dua bersaudara, Halilintar dan Blaze, kali ini Yaya pun berpindah ke depan kamar nomor 5 dengan pintu berwarna biru yang juga persis berada di sebelah kamarnya. Barusan dia sudah menekan bel nya dan menunggu pemiliknya keluar.

Tapi…

Sampai detik ini pun, belum ada yang keluar dan membukakan pintunya. Jadi gadis itu pun berinisiatif menekan bel pintu sekali lagi.

Ting… Tong… bel itu berbunyi lagi dan masih tidak ada yang menyahut. Masih belum menyerah, Yaya pun kembali menekan bel, lagi, lagi, lagi, lagi dan lagi. Hingga pada saat dia menekan bel untuk yang ketujuh kalinya, akhirnya si pemilik rumah pun keluar dengan mendorong pintu itu sekencang-kencangnya ke arah luar.

"AGGGH~! BERISIK BANGET! Sudah kubilang jangan memencet bel berkali-kali! Gangguin orang lagi enak-enak tidur aja!" dan langsung memaki-maki pada Yaya. Tentu saja Gadis itu langsung dibuat kaget bukan kepalang.

Tapi sesaat kemudian, bocah dengan manik mata berwarna aquamarine dan rambut hitam yang terdapat sehelai rambut putih mencuat itu pun mengangkat kepalanya. Dia langsung diam seribu bahasa begitu melihat siapa yang ada di depannnya.

Please stand by. Trying for fix the program.

.

.

1 menit kemudian.

.

.

3 menit kemudian.

.

.

5 menit kemudian

.

.

10 menit kemudian.

.

.

Berlama-lama kemudian

.

.

Terlalu lama hingga akhirnya pembaca bosan menunggu dan author nya pun lupa mau mau nulis apaan.

.

.

Nggak, cuman bercanda kok. Yang benar itu, 15 menit kemudian.

.

.

Anak laki-laki itu mulai menggerakan mulutnya, ingin mengatakan sesuatu. Yaya pun menunggu untuk mendengar apa yang akan diucapkannya.

"Kau bukan Blaze?" tanya bocah bermata aquamarine itu pada Yaya. Sungguh, rasanya dia ingin sekali menjedukkan kepalanya ke dinding sekarang. Lima belas menit menunggu dan bocah itu hanya ingin mengatakan itu, loading-nya lambat sekali. Dan juga, Yaya saja sudah bangun terlambat hari ini dan ternyata masih ada saja orang yang baru bangun tidur saat matahari sudah berada tepat di atas kepala.

Luar binasa.

"Anu… ada…perlu…apa…ya?" tegur bocah itu. Dan sontak segera membuyarkan pikiran Yaya barusan.

"Oh iya. Aku orang yang baru pindah ke kamar nomor empat! Namaku Yaya, salam kenal!" ucap gadis itu memperkenalkan dirinya.

"Eh~ Kau toh orangnya…? Kalau aku Ice… salam kenal juga…Yaya Nee-san…hoam…" sahut pemuda bernama Ice itu sambil mengucek-ngucek matanya dan sesekali menguap karena masih sangat mengantuk.

Yaya terdiam, dia baru sadar kalau anak ini tubuhnya kecil sekali, kira-kira tingginya hanya setengah telinganya. Kalau tidak salah tadi dia memanggilnya Kakak kan? Anak SMP ya? Imut banget, kayak kucing. (Catatan, Yaya itu pencinta kucing)

"Ah aku sampai lupa. Ini ada sedikit dariku" lanjutnya memberikan sop yang ada ditangannya kepada Ice. Dan langsung diterima begitu saja.

"Terima kasih, Nee-san… Mau masuk dulu…? Memang sedikit berantakan sih…" tawar Ice.

'Bagian mananya yang sedikit' batin Yaya saat mengintip sedikit ke dalam apartemen Ice yang berantakan seperti baru dilanda angin topan "Nggak usah, nanti merepotkan. Kalau begitu aku mau lanjut menyapa yang lain dulu." Tolaknya. "Maaf mengganggu ya? Aku tidak tahu kalau kau sedang tidur" lanjutnya lagi dan hanya dijawab dengan gelengan singkat dari bocah beriris aquamarine tersebut.

~MA~

Setelah selesai berkunjung dari kamar nomor 5 milik bocah yang agak aneh bernama Ice barusan, Yaya pun berpindah ke depan kamar nomor 6 dengan pintu berwarna orange tepat di sebelah kamar apartemen Ice sebelumnya.

Gadis itu menarik nafas dalam, mempersiapkan dirinya dan jantungnya untuk menemui tetangganya yang entah seperti apa kali ini tingkahnya. Gara-gara kejadian di kamar apartemen nomor 5 barusan Yaya jadi takut untuk memencet bel nya sampai berkali-kali. Bukannya kenapa-napa, kalau orangnya lagi sibuk atau keluar atau bahkan tidur, bagaimana?

Oke, siap. Kali ini cukup tiga kali pencet, kalau tidak ada yang menyahut menyerah saja. Satu… dua… tiga…

"Ada apa ya, nona?" belum sempat gadis itu memencet bel nya tiba-tiba saja terdengar suara seseorang menegurnya dari belakang. Yaya pun segera berbalik dan mendapati seorang pria dengan rambut ungu raven acak-acak, dia memakai kemeja dan jas kantoran juga dasi yang sudah di longgarkan, sepertinya baru saja pulang kerja.

"Apa kau ada keperluan dengan pemilik kamar nomor enam?" tanya pria itu lagi.

"Eh? T-Tidak, aku hanya ingin menyapa saja." Jawab Yaya gugup pada pria yang terlihat berumur 20 tahun-an tersebut. "Oh iya, perkenalkan namaku Yaya, aku penghuni baru kamar nomor empat" lanjutnya lagi memberi salam.

"Hmm… jadi itu kau ya" komentar pria berkacamata tersebut. "Si nomor enam sedang keluar kota, kalau tidak salah sudah sejak tiga bulan yang lalu. Jadi sekarang di kamar itu tidak ada siapa-siapa?"

"Begitu ya…? Ngomong-ngomong anda ini…" kata Gadis itu lagi.

Pria itu hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan gadis di depannya. "Aku juga penghuni disini. Namaku Fang, aku tinggal bersama istriku di kamar nomor tujuh. Salam kenal ya, Yaya-chan"

Sudah tiga bulan di luar kota. Apa dia tidak pernah kembali walau hanya sebentar saja. Jadi penasaran mungkinkah si pemilik kamar nomor enam itu…

"Apa Yaya-chan mau berkunjung ke tempatku sebentar? Biar kuperkenalkan pada istriku" lanjut si pria bernama Fang itu lagi menawarkan. Tentu saja Yaya langsung menolak seperti yang dikatakannya pada Ice tadi.

"Tidak usah malu-malu. Semuanya yang tinggal disini sudah kami anggap keluarga" Tapi Fang tetap bersikeras memaksa. Dan dia pun langsung saja memencet bel pintu dari kamar apartemen miliknya yang berwarna ungu dengan nomor 7. "Sayang! Aku pulang!" panggilnya pada seseorang yang merupakan istrinya.

Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka dan menampakkan sosok seorang wanita berambut hitam dan manik saphire yang begitu indah. Ingat kan? Satu-satunya pelayan wanita yang bekerja di kafe milik Gempa. Jadi dia sudah menikah dan punya suami toh?

"Hai sayang~ Coba tebak, dia ini…"

"HIks…Hiks…" belum sempat Fang mengenalkan Yaya lebih lanjut, entah mengapa tiba-tiba saja wanita yang menjadi istrinya itu terisak-isak dengan air mata yang menggantung di sudut pelupuk matanya. Tentu saja mereka berdua yang melihatnya menjadi bingung dan panik, terlebih lagi Fang.

"Y–Ying!? Ada apa!? K–Kenapa kau menangis!?" serunya sangat panik.

Sambil terisak-isak si istri pun mulai bicara."F–Fang…" dan orang di sebut namanya pun menunggu dengan harap-harap cemas.

.

.

"KAU MAU KAWIN LAGI YA!? HUWE~!" jerit wanita muda itu dan dilanjutkan dengan tangisan yang sangat keras.

"Eehhhhh!?" tentu saja Fang dan Yaya dibuat kaget bukan kepalang karena kata-kata Ying. Sepertinya sudah terjadi kesalah pahaman disini.

"S–Siapa yang bilang begitu!?" seru Fang membela dirinya. Tapi sepertinya tidak didengarkan oleh istrinya itu.

"Huwa~! Aku tahu aku memang sudah tidak muda lagi dan juga nggak bisa punya anak! Tapi setidaknya kau jangan melampiaskannya dengan menikahi perempuan lain yang masih di bawah umur!" pekiknya dengan tangis yang semakin menjadi-jadi dan yang dimaksud perempuan lain itu adalah Yaya.

"BUKAN BEGITU! DENGERIN DULU PENJELASANKU!"

*SKIP

Jadi setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya si pria berambut raven itu pun berhasil menenangkan istrinya dan menjelaskan semuanya secara detail. Dan sekarang mereka bertiga sedang duduk santai di depan TV dan menghangatkan diri di bawah meja penghangat sambil menikmati secangkir teh hangat.

"Ehe… maaf ya, aku jadi salah paham" kata Ying pada Yaya setelah sebelumnya si suami menjelaskan yang sebenarnya terjadi.

"Tidak kok. Nggak masalah" jawab Yaya.

"Makanya jangan sembarangan menarik kesimpulan" omel Fang agak ketus pada istrinya itu.

Dan membuat Ying mencibir kesal. "Habisnya kupikir kau sudah bosan denganku" katanya dengan nada suara yang sedikit merajuk.

"Nggak mungkin lah. Makanya sudah kubilang jangan kebanyakan nonton sinetron!" sahut Fang sarkartis sembari melipat kedua belah tangannya dan menyampirkannya ke dada.

Sementara Yaya yang memperhatikan kedua pasangan suami-istri itu hanya bisa nyengir gak jelas lagi. "Kalian ini romantis sekali ya? Benar-benar deh, pasutri(pasangan suami istri) muda" gumam gadis itu, tapi sepertinya terdengar oleh kedua insan tuhan tersebut yang langsung menatapnya heran.

"Pasutri muda apanya?" tanya Fang.

"Yaya-chan, kami sudah menikah selama dua belas tahun loh" tambah Ying menimpali ucapan Fang.

"Hah?" Yaya hanya mengerjap kebingungan saat mendengar ucapan dari Ying. Mengejutkan sekali, masa sih mereka sudah menikah selama 12 tahun. Coba pikir, mereka masih belum punya anak dan wajah mereka pun masih terlihat sangat muda, bahkan Ying masih terlihat seperti gadis berusia belasan tahun. Siapapun selain dia pasti tidak akan menyangka dan berpikir kalau mereka baru saja menikah. Memangnya umur berdua ini sebenarnya berapa? Atau lebih tepatnya di umur berapa sebenarnya mereka menikah? Pasangan suami-istri yang sangat awet muda ya?

~MA~

Jadi setelah dibuat syok oleh kedua pasangan tersebut, Yaya pun kembali ke kamar apartemennya untuk mengambil sup lagi. Kalau tidak salah masih ada satu orang tetangganya lagi kan yang belum di kunjunginya. Tapi mengejutkan juga, para tetangganya itu sangat unik seperti bukan manusia saja. Mulai dari pasangan suami-istri kocak dari kamar nomor 7 di ujung sampai kakak-beradik paling ribut di kamar nomor 3, apa mereka semua datang dari planet lain ya? Entah bagaimana nanti orang yang tinggal di kamar nomor 2 itu.

Ngomong-ngomong soal penghuni kamar, jadi penasaran kira-kira pemilik kamar nomor 6 orangnya seperti apa ya?

Ting… Tong…

Selagi Yaya berpikir, tiba-tiba saja ada yang menekan bel rumahnya. Sontak gadis itu pun buru-buru menuju pintu depan untuk membuka kan orang yang mungkin adalah tamunya. Dan saat pintu terbuka tampaklah seorang pemuda berambut hitam dan manik mata berwarna hijau bagai rimbunnya pepohonan yang menyejukan mata sedang berdiri di depan pintu rumahnya.

"Oshu!" sapa pemuda itu dengan begitu ceria sambil mengangkat satu tangannya ke udara.

Sayangnya, Yaya masih butuh beberapa saat untuk mencerna situasi saat ini, jadi dia hanya termenung sejenak di ambang pintu. "Anu… Thorn-kun?"

Dan entah mengapa orang bernama Thorn itu terlihat kagum bahkan sampai berbinar-binar begitu Yaya menyebut namanya. "Woah~! Kau tahu namaku!?" serunya.

"Tentu saja, kita kan sudah ketemu kemarin?" jawab Yaya agak bingung.

"Eh? Kapan?" tapi sepertinya Thorn tidak sepikiran dengannya.

Tunggu sebentar, mungkinkah dia tidak ingat sama sekali? Mustahil padahal kemarin Yaya dengan jelas memanggil namanya, masa baru sehari sudah lupa. "Kemarin saat di kafe, kau kan yang mengantarkan air putih untukku dan Gempa-san. Masa lupa?"

Sesaat kemudian Thorn terlihat menempelkan telunjuknya di dagu dan menatap ke atas, mencoba mengingat-ingat kembali kejadian kemarin saat dia bekerja di kafe. Dia mencoba mengingat dengan keras bahkan sampai muncul lipatan-lipatan di dahi mulusnya. Tapi sepertinya gagal "Maaf, aku sudah lupa. Tee-hee~" katanya enteng dan mengetuk dahinya dengan tangan sambil memeletkan lidah.

Dan sukses membuat Yaya menatapnya dengan tatapan cengo. "Tapi bukan hanya kau saja, aku juga tidak pernah ingat wajah pelanggan lainnya kok" lanjut pemuda itu lagi dengan bangga sambil membusungkan dadanya dan berkacak pinggang. Sampai gadis itu bertanya-tanya di bagian mana dari itu yang bisa dibanggakan?

Yah… kalau dia memang dia tidak ingat ya sudahlah, hal sepele seperti ini saja dipermasalahkan. Lagipula kemarin mereka memang belum berkenalan secara langsung dan Yaya pun tahu nama pemuda di depannya ini juga karena Gempa menyebut namanya. "Namaku Yaya, aku baru saja pindah ke kesini hari ini. Salam kenal ya, Thorn-kun" kata gadis itu memperkenalkan dirinya.

"Kalau gitu aku juga! Namaku Thorn, aku penghuni kamar nomor 2. Salam kenal, Yaya!" ucap Pemuda itu penuh semangat. Dan Yaya hanya mengangguk lesu karena melihat tingkah nya yang bisa dibilang cukup unik.

"Sebenarnya aku baru mau mengunjungimu tadi. Tapi karena kau sudah disini apa kau mau–"

"Kau buat sup ya!? Sup Jamur kan?" belum selesai Yaya bicara tiba-tiba Thorn langsung menyela ucapannya, tentu saja dengan ekspresi ceria yang terpasang di wajah lembut nan manis itu. Tapi yang lebih aneh darimana dia tahu kalau Yaya memasak sup jamur, memangnya baunya jelas sekali ya sampai sini? Luar biasa, penciumannya tajam sekali seperti anjing polisi saja.

"Kau mau?" tawarnya pada Thorn dan sontak anak itu langsung saja mengangguk dengan polosnya.

Jadi mereka berdua pun masuk ke dalam kamar apartemen Yaya. Gadis itu pun menyiapkan makanan untuk tamunya yang satu itu, seadanya saja nasi dan juga sup jamur yang dia buat. Tapi kelihatannya Thorn sangat menyukainya. Asal tahu saja, ini sudah mangkuk ketiga berisi nasi yang dimakannya. Sampai gadis itu bertanya-tanya apa masakannya seenak itu sampai-sampai pemuda di depannya ini makan dengan lahap.

"Thorn-kun, maaf aku bukan bermaksud lancang. Tapi… apa kau ini memang suka sekali makan?" selidik Yaya.

"Hmm?" Thorn pun segera mengunyah dan menelan makanan yang ada di mulutnya dengan cepat agar bisa menjawab. "Iya. Aku suka makan semuanya, kecuali kacang merah (Azuki)"

"Kenapa?" tanya Yaya penasaran.

"Soalnya aku alergi" jawab Thorn enteng dan kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya.

Yaya pun hanya mengangguk, memang sih terkadang ada orang yang alergi pada beberapa jenis kacang-kacangan. Mungkin karena kandungan proteinnya kali ya? Bukan itu sih yang jadi masalah, tadi Thorn bilang dia suka makan semuanya dan bisa dilihat porsi makannya seperti apa sekarang. Tapi lucunya tubuhnya tidak kelihatan seperti orang yang punya masalah dalam mengendalikan asupan berlebih yang masuk ke dalam tubuhnya, sebaliknya dia kelihatan normal bahkan hampir kurus (bikin orang iri saja). Sebenarnya kemana perginya yang dia telan itu? Lubang cacing? atau Black Hole?

"Terima kasih makanannya" selagi Yaya berpikir Thorn pun menyudahi kegiatan mengunyah dan menelannya tersebut.

"Eh? Sudah? Nggak mau nambah lagi?" tanya Yaya heran. Thorn hanya menggeleng dan membuat gadis itu semakin terheran-heran.

"Sebagai gantinya aku akan memberikan sesuatu padamu" pemuda itu langsung saja berdiri dari tempatnya duduk dan berlari keluar, membuat Yaya bingung plus penasaran. Dan beberapa saat kemudian, gadis itu kembali dibuat melongo saat Thorn masuk sambil membawa stok camilan yang sangat banyak ke tempatnya dan langsung melemparkan semuanya ke atas meja.

"Ini semua untukku?" tanya Yaya. Thorn pun mengangguk mengiyakan dan membuatnya semakin ber-jaw drop. Gadis itu pun mulai kebingungan jika tidak diambil nanti Thorn merasa sedih tapi jika diambil… Coba bayangkan, mulai dari keripik sampai coklat semuanya ada dan jumlahnya banyak sekali, dia tidak mungkin memakan ini semua. Bisa sih, tapi tahu saja nanti akibatnya bagaimana.

Hingga Yaya pun menemukan cemilan kesukaannya diantara tumpukan makanan ringan tersebut, segera gadis itu pun langsung mencomot coklat bermerek pocky tersebut "Thorn-kun, aku tahu kau hanya ingin membalasku. Tapi makan cemilan terlalu banyak itu… tidak baik. Jadi aku ambil ini saja, dan yang lain kau simpan saja lagi" jelasnya lemah lembut.

Membuat Thorn di depannya membelalakkan kedua manik zamrud nya yang besar dan bulat tersebut. Dia pun mendekat pada Yaya dan tanpa pikir panjang langsung memeluk gadis dengan erat dan manja. "Aku suka padamu~!" serunya girang.

Seketika Yaya pun dibuat blushing karena tingkah polos dari Thorn yang asal memeluknya seperti tanpa masalah ditambah lagi dia bilang jika dia suka padanya. Suka dalam jenis apa? Sebagai Teman atau…

~MA~

3 hari kemudian…

Setelah cukup kenal dengan para tetangga barunya dan membiasakan diri di lingkungan barunya, tiba-tiba saja Yaya pun mendapat panggilan dari kantor keimigrasian untuk melengkapi dokumen kepindahannya. Tapi disaat bersamaan…

Gadis itu hanya tertunduk lesu saat membaca SMS yang dikirim oleh ayahnya, disaat bersamaan Gempa melihatnya setelah beberapa saat keluar dari kamar apartemennya. Lebih tepatnya membaca ekspresi milik gadis itu. "Sebentar lagi musim semi ya?" tegur Gempa basa-basi dan sukses membuat gadis itu terlonjak.

"Gempa-san…" gumam Yaya mengelus dadanya yang masih kempas-kempis karena kaget.

"Kau kelihatannya kebingungan Yaya, ada apa?" selidik Gempa.

"Tidak ada apa-apa" jawab Yaya, tapi perkataan bertolak belakang dengan ekspresinya saat ini.

"Ayolah beritahu saja padaku. Mungkin aku bisa bantu"

"Sebenarnya hari ini ada orang-orang suruhan ayahku mau datang untuk memeriksa kamar apartemenku, tapi aku harus pergi ke kantor keimigrasian dan aku juga tidak tahu kapan akan pulang." jelas gadis itu dengan wajah kebingungan.

"Karena kuncinya hanya satu makanya kau bingung harus meletakannya dimana?" tebak Gempa dan dijawab dengan anggukan singkat dari Yaya. "Kalau cuma itu sih gampang, titipkan saja padaku nanti akan kuurus sisanya" lanjutnya lagi menawarkan bantuan.

"Yang benar boleh?"

Gempa mengangguk. Dengan agak berat Yaya pun segera merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan kunci kamarnya yang sudah diberi gantungan berbentuk kucing yang diberikan oleh Ying tempo hari, katanya sebagai hadiah pertemanan untuknya. Dan Gempa di depannya pun langsung menengadahkan tangannya untuk menerima benda logam tersebut dari Yaya.

"Kalau misalnya aku ada urusan mendadak, aku akan meng-SMS mu nanti, oke" lanjut pemuda bermanik emas itu lagi.

Yaya hanya mengangguk. "Terima kasih Gempa-san. Aku pergi dulu ya" dan setelahnya Yaya pun langsung melambaikan tangan sambil berjalan menuju keluar dari halaman apartemen.

*SKIP TIME

Sore hari pun tiba di Ibu kota negeri sakura tersebut, matahari semakin condong ke arah barat dan menampakan sinar keemasannya. Sementara disaat bersamaan seorang gadis berhijab terlihat menaiki tangga apartemen tempatnya tinggal dengan setengah tertatih, penampilannya sekarang tidak serapi saat dia berangkat tadi pagi. Ini karena banyak sekali yang harus diurus di kantor keimigrasian. Mulai dari membuat pas foto, mengisi dokumen, belum lagi mengantri giliran. Pokoknya sangat melelahkan dan itu masih belum beres semua jadi harus dilanjutkan lagi besok.

Gila kan?

Sekarang Gempa sedang tidak ada di rumah karena tiba-tiba ada urusan mendadak, tapi dia sudah mengirimkan pesan jika kunci kamar apartemen Yaya di titipkan pada Ice, jadi tentu saja Yaya harus mengambil kuncinya pada Ice.

Yaelah… kenapa harus sama Ice sih? Tau aja dia itu orangnya… begitu. Tahu kan maksudnya?

Yahh… tapi apa boleh buat lah daripada tidak sama sekali.

"Hei Ice, ayo keluarkan."

"A-Apaan?"

Sesaat kemudian begitu Yaya sedang berada di depan kamar nomor 3 untuk menuju ke kamar apartemen nomor 5, dia tidak sengaja mendengar Blaze menyebut nama Ice, bahkan suara orangnya juga ada. Berarti Ice sekarang sedang berada di kamarnya Blaze ya? Jadi Yaya pun berhenti di depan kamar itu dan bersiap untuk menekan bel nya, jika saja…

"Kau tahu kan maksudku? kayak biasa"

"Enggak ah, malu tahu"

"Jangan khawatir gak bakal ada yang liat kok. Tuh tirainya sudah kututup kan? Ayolah~ aku cuman mau pegang saja"

"A-Apa boleh buat. Ta-Tapi pelan-pelan ya?"

Yaya mengerjap kebingungan, entah kenapa pembicaraan ini agak ambigu ya? Apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam?

"Woah~! Lembut banget! Yang ini juga boleh ku pegang?"

"Ja-Jangan! Bagian itu sensitif!"

Yaya pun menelan salivanya, entah kenapa pembicaraan ini semakin lama semakin berbahaya.

"Tenang. Aku cuma pegang ujungnya kok, nggak bakal kutarik. Sebenarnya bagaimana caranya kau membuatnya bisa tegak seperti ini"

"Arggh! Jangan digigit!"

Karena tidak tahan lagi mendengarnya, tanpa berpikir dua kali Yaya pun langsung mendobrak pintu rumah yang sebenarnya tidak terkunci itu. Dia melongo hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat dengan kedua mata kepalanya itu. Ice… sedang duduk lemas di lantai dengan baju setengah basah karena keringat dingin, nafasnya menderu dengan berat dan masih tersengal-sengal. Sementara Blaze berada di belakangnya sedang menggigit ekor miliknya.

Eh tunggu. Ekor?

Mungkin kalian juga tidak akan percaya dengan apa yang terjadi sekarang tapi inilah kenyataannya. Saat ini Ice berubah wujud menjadi seekor makhluk dengan tubuh manusia tapi memiliki ekor panjang berwarna putih sepasang telinga kucing dengan warna yang sama pun terlihat mencuat di atas kepalanya, dan itu asli. Jadi kesimpulannya hanya satu…

Ice adalah siluman.

Kalau Ice itu siluman, apa mungkin tetangganya yang lain juga bukan manusia?

TBC