"Apa benar terjadi seperti penglihatanmu tadi?"
Yoora menganggukkan kepala kearah Kris dan tersenyum lebar. "Adikmu benar-benar menggemaskan."
"Tidak usah kau jelaskan. Aku tidak mau melihatnya." Kris yang sebelumnya berhenti melangkah dan memperhatikan Yoora kini melanjutkan langkahnya dengan wajah dinginnya.
Yoora tertawa sebentar dan kemudian menyusul Kris yang sudah berada cukup jauh dari posisinya.
"Chanyeol hanya menggendong Baekhyun dan kemudian mencium keningnya."
Kris berhenti seketika dan berbalik berjalan kearah yang ia lewati sebelumnya dengan wajahnya yang geram.
"Yak yak yak! Kau mau kemana?!"
"Memukul adikmu!"
"Yak!"
Kris tidak memperdulikan segala teriakan Yoora yang menahan dirinya yang kini melangkah cepat menuju kamar dimana Chanyeol dan Baekhyun berada, gerak kakinya dipaksa bergerak lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Dan hingga beberapa langkah kakinya akan berhasil tiba pada ruangan yang ia tuju, Yoora menarik badannya dan memintanya untuk menahan diri tidak masuk kedalam ruangan itu.
"Tahan sebentar emosimu!" Yoora berbisik tepat dibelakangnya dengan tangannya yang menahan mulut Kris untuk bersuara.
Kris menganggukkan kepala berkali-kali untuk meyakinkan Yoora bahwa ia tidak akan bersuara dan berbuat gegabah nantinya, Yoora sempat menahan dirinya dan menatap wajah Kris lama untuk mencari keyakinan bahwa sosok itu memang akan menuruti segala ucapannya. Yoora melepaskan tangannya dari mulut Kris dan kemudian membawa pria itu untuk berdiri didekatnya sementara tangannya menempel pada dinding yang menjadi pembatas ruangan dimana Chanyeol dan Baekhyun berada.
"Ingat! tahan emosimu. Aku mengatakannya dengan serius!" Yoora jelas masih berbisik dengan sangat pelan, tapi percayalah suaranya penuh dengan penekanan dan bahkan membuat Kris bergedik ngeri.
Anggukkan kepala dan bola matanya yang berputar menjadi jawaban unuk Yoora meskipun masih terdapat keraguan dalam dirinya, Yoora tetap membiarkan tangannya menempel pada dinding, sedangkan tangannya yang lain menggenggam erat tangan Kris.
"Pejamkan matamu."perintah Yoora segera dilakukan oleh Kris dan dalam hitungan detik ia bisa merasakan penglihatan yang Yoora salurkan padanya.
Penglihatan itu terlihat dengan sangat jelas dimana Chanyeol yang masih terjaga duduk disamping ranjang yang seharusnya menjadi tempat ia tertidur, namun kini sosok gadis mungil dengan rambut hitam panjang tengah berbaring disana dengan sangat terlelap, dan dia adalah Baekhyun. Chanyeol masih memandangi sosok itu dengan sesekali merapikan beberapa surai rambut yang menghalangi pandangannya, tak jarang ia juga merapikan selimut yang menutupi tubuh mungil yang merasakan kedinginan itu, tapi tak lama kakinya bergerak untuk menendang selimut yang menutupi badannya.
"Yaa.. kau kedinginan tapi tidak mau bila diselimuti." Chanyeol mulai merasa kesal karena untuk kesekian kalinya ia menyelimuti Baekhyun dan untuk kesekian kalinya juga selimut itu ditendang olehnya.
Tapi meskipun sudah berulang kali Baekhyun menendang selimutnya, Chanyeol dengan sabarnya menyelimutinya lagi namun kini ia sudah beranjak untuk duduk di tepi ranjang dan menahan selimut itu dengan tangannya bilamana Baekhyun akan menendangnya lagi. Sesuai perkiraannya, kaki Baekhyun kembali menendang tapi kali ini tidak membuat selimut itu terlepas dari tubuhnya karena Chanyeol menahan bagian lainnya.
"Dasar anak kecil." Chanyeol menjentikkan jarinya kearah ujung hidung Baekhyun dan kembali memandanginya. Terkadang wajahnya tersenyum dengan sendirinya atau bahkan tertawa kecil karena memperhatikan tingkah Baekhyun yang menggemaskan meskipun tengah tertidur. Mulutnya bergerak seakan-akan tengah bercerita dalam mimpinya, sedangkan kaki dan tangannya tidak bisa diam dan terus bergerak.
"Kau bermimpi apa hm?" Chanyeol mengusap pipi Baekhyun dengan punggung tangannya dengan lembut hingg Baekhyun menggerakkan wajahnya merasakan gesekkan pada pipinya,dan tidak ada yang menduga bahwa kejadian berikutnya seakan-akan menjadi déjà vu untuk Chanyeol karena tangannya kembali ditarik untuk menjadi bantal bagi sosok mungil itu.
"Yaaaakkk!" suara bisiknya menjadi respons atas apa yang dilakukan Baekhyun tapi itu tak berpengaruh karena yang menjadi jawaban berikutnya adalah dengkuran halus dari mulut Baekhyun. Chanyeol teringat akan kesalahannya kembali untuk jangan pernah mendekatkan tangannya bila Baekhyun tertidur karena pasti gadis itu akan menariknya dan menggunakkan sebagai bantal tidur.
Chanyeol memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada sisi ranjang sementara otaknya berpikir cepat bagaimana caranya melepaskan genggaman tangan Baekhyun pada tangannya.
Hanya satu hal yang bisa ia pikirkan sebagai pertolongannya.
"Noona.. kau sudah tertidur?"
"Ommo!" Yoora melepaskan sentuhan tangannya pada dinding ruangan dan genggaman tangan Kris.
"Ya? Apa itu barusan?" Kris berbisik pada Yoora yang juga terlihat panik disebelahnya. "Chanyeol memanggilmu?" Kembali Kris berucap dan kini Yoora memintanya untuk tetap diam sementara ia menggigit kuku jarinya mempertimbangkan apakah panggilan itu harus ia jawab atau tidak.
"Noona aku butuh bantuanmu."
Panggilan Chanyeol kembali terdengar didalam pikirannya, sementara Yoora masih berusaha melihat pandangan waktu kedepannya mengenai kejadian yang akan terjadi. Kris masih menunggu disebelahnya dengan wajahnya yang berpikir keras karena melihat Yoora kembali menjadi sosok yang mematung setiap ia menggunakkan kekuatannya.
"Setelah ini pasti dia tersenyum aneh." Kris bergumam pelan dan beberapa menit setelahnya apa yang ia ucapkan benar terjadi.
Yoora tersenyum dengan lebar dan memandang Kris dengan tatapan yang tidak bisa diartikan olehnya.
"Kenapa kau mengganggu jam tidurku." Kris mengernyitkan alisnya mendengar Yoora yang tiba-tiba berbicara sendiri, tapi kemudian ia mendapatkan jawaban karena tangan Yoora yang menunjuk kearah ruangan Chanyeol.
"Aku butuh bantuanmu." Chanyeol menjawab dalam pikirannya.
"Bantuan apa?"
"Aku terjebak dengan Baekhyun."
"Bagaimana bisa kau terjebak dengan Baekhyun? Dia sudah berada dikamarnya dan tertidur pulas." Yoora menahan suaranya utuk tertawa sementara Kris yang mendengarnya menatapnya dengan kesal.
"Aku tidak bisa jelaskan.. hanya saja.. ah sudahlah! Aku sungguh butuh bantuanmu kali ini, dan mungkin kau bisa membangunkan Kris supaya bisa memindahkan adiknya kembali tidur di kamarnya."
"Kenapa kau selalu mendapatkan masalah berakhir dengan tidur bersama Baekhyun." Yoora berucap tanpa berpikir panjang dan kembali Kris sudah melotot tajam disebelahnya mendengar kalimat yang sedikit ambigu bagi siapapun yang mendengar.
"Huaaaa.. otakmu memang! Aku tidak 'tidur' bersama Baekhyun!"
"Aku mengatakan tidur dalam arti yang umum, bukan dalam artian mesum Chanyeol."
"Terserah. Aku butuh bantuanmu segera!"
Chanyeol keluar dari pikiran Yoora setelah selesai mengucapkan kalimat terakhirnya, sedangkan Yoora kini menahan perutnya karena sedari tadi menahan ketawa sejak lama.
"Aku sudah cukup sabar melihat dan mendengar semauanya." Kris berkomentar dengan tangannya yang mengepal keras. "Bisa kita segera masuk kedalam dan membawa adikku yang bodoh itu kembali tidur pada kasurnya?" nada sinis jelas terdengar kembali pada kalimat yang Kris ucapkan.
"Hm, aku ingin melakukan itu awalnya.. tapi ada sesuatu yang harus terjadi malam ini, jadi aku akan menahan dirimu untuk membawa Baekhyun kedalam kamarnya."
Ucapan Yoora jelas menambah pikiran Kris membayangkan hal yang lain dan tentu saja semakin membuatnya semakin emosi, badannya berbalik dan melangkah menuju ruangan itu tapi langkahnya terhenti karena Yoora memanggil nama sosok yan selalu ada dalam pikirannya sejak berada di hutan pinus tadi.
"Yoora-na?" Sosok itu mendekat kearah mereka sehingga Kris dapat melihatnya dengan jelas. Sosok Luhan yang mengenakkan baju tidur dan ditutupi mantel Kerajaannya, rambutnya yang berwarna cokelat muda itu diikat dengan tidak rapi dan menyisakan beberapa bagian yang terurai dengan bebas.
Wajahnya menegang setelah ia melihat bahwa Yoora tidak sendiri di lantai itu.
"Kau belum tidur?" Yoora yang membuka percakapan.
Luhan terdiam sebentar karena matanya masih teralihkan oleh sosok Kris yang kini sudah menatapnya. "A-aku mencari Baekhyun, ia tidak ada di kamarnya." Luhan melanjutkan.
"Baekhyun mengeluh sakit, mungkin ia kelelahan." Yoora menjawab dengan senyumanny. "Dia berada di dalam ruangan ini bersama Chanyeol." Tangannya menunjuk pintu ruangan itu dan kemudian berjalan menjauh dari Kris dan melewati Luhan tanpa mengatakan satu kata pun kepada mereka.
Luhan masih terdiam merasakan kecanggungan karena kini hanya ada dia dan Kris didepan ruangan itu.
"A-aku akan kembali ke kamar." Luhan akhirnya bersuara kepalanya sedikit menunduk untuk memberikan hormat pada Putera Mahkota Lynkestis dan memutar badannya untuk bisa melangkah menjauh dari Kris.
Ini adalah pertama kalinya bagi mereka untuk berada saling berhadapan antara satu sama lain setelah tiba di Istana Eowyn, selama ini mereka akan selalu berada bersama dengan yang lainnya dan melupakan masalah yang ada diantara mereka.
Langkah Luhan sudah berada pada beberapa anak tangga yang cukup jauh dari posisi Kris, tapi entah kenapa ia masih bisa mendengar suara pria itu yang jelas-jelas mengarahkan kalimatnya itu kepadanya.
"Apa perasaanmu kepadaku masih sama?"
Luhan jelas mendengarnya, terbukti badannya terdiam kaku bahkan kakinya tidak bisa melangkah untuk sekedar melangkah kedepan.
"Apa kau benar-benar ingin melepaskanku?"
Sekali lagi Kris bersuara dan kali ini Luhan bisa mendengarnya lebih dekat.
"Jawab aku Luhan." Kris memberi penekanan saat menyebutkan namanya.
"Apa jawaban yang kau harapkan? Bukankah dulu kau yang mengatakan bahwa mengenalku dari siapapun? Aku masih ingat bahwa kau bisa mengerti dan memahami perasaanku tanpa harus kuungkapkan? Benar bukan?" Luhan mengatakan semua itu tanpa berniat membalikkan badannya sehingga Kris bisa melihatnya dengan jelas, tidak. Luhan tidak mau ia terlihat begitu lemah dihadapan pria yang sudah ia cintai selama beberapa tahun terakhir ini, ia tidak mau Kris mengasihaninya dan memberikan jawaban yang hanya akan menyakiti mereka berdua.
"Seharusnya.." Luhan berucap kembali. "Seharusnya aku yang bertanya padamu.. Apa perasaanmu padaku masih sama? Ah tidak.. aku seharusnya tidak menanyakkan itu." Luhan membalikkan badannya dan menatap kearah Kris yang sudah berada dekat dibelakangnya.
"Apa kau sudah menentukkan pilihanmu?"
Ucapan yang Luhan lontarkan jelas berhasil membuat Kris terdiam ditempatnya hingga tidak bisa menahan Luhan untuk tetap berada didepannya dan mendengarkan jawaban yang entah memang akan Kris berikan atau masih akan ia simpan hingga entah sampai kapan.
-Loves of Tales -
Pagi itu akan menjadi seperti biasanya di Istana Eowyn bahkan keadaan cuaca di Negeri Terindah itu masih sama seperti beberapa hari terakhir sejak mereka semua tiba di Eowyn. Langit yang indah, sinar matahari yang terang, burung-burung berkicauan, bunga-bunga bermekaran dan juga gerak-gerik dedaunan berguguran dan tersapu oleh angin. Tidak ada yang berubah, hanya saja segala tingkah laku beberapa Putera dan Puteri Mahkota yang terlihat sedikit berubah.
Kali ini meja makan dalam ruangan itu baru diisi oleh Zhoumi, Yunho, Yoora dan juga Jongin. Tidak ada suara berisik antara saling berdebat ataupun sekedar menceritakan pengalaman dari kejadian sebelumnya.
"Kenapa sepi sekali?" Jongin berbisik pada Yoora yang berada disebelahnya dan Yoora hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
Suara langkah terdengar dari kejauhan, Sehun dan Jongdae mulai memasuki ruangan makan dan memberikan salam kepada ayah mereka masing-masing. Sehun memilih untuk duduk pada kursi disamping Yoora sedangkan Jongdae duduk dihadapan Jongin. Obrolan ketiga laki-laki itu mulai terdengar menarik membahas beberapa hal mengenai bagaimana melelahkannya permainan kemarin tanpa adanya pengumuman siapa yang memenangkan ketiga bendera Eowyn.
Tak lama Kyungsoo dan Tao berjalan masuk dan segera mengambil tempat duduk mereka seperti biasa. Menyisakan kursi kosong di hadapan Sehun dan Jongdae serta lima kursi lainnya yang berada disebalah Kyungsoo dan Tao.
Yoora memperhatikan sebentar kursi kosong tersebut dan kembali menyunggingkan senyumnya.
"Ya, kau jangan tersenyum sendiri seperti itu." Sehun yang sedari tadi memperhatikannya berkomentar sambil mengambil beberapa potongan roti yang berada di depan Yoora.
"Yoora-na selalu seperti itu." Tao ikut berkomentar.
"Sudahlah, kalian kan sudah tahu kekuatannya seperti apa." Jongdae yang menyahut dengan bijak hingga adiknya, Tao kembali menunduk dan melanjutkan sarapannya.
Kedatangan Chanyeol yang secara tiba-tiba membuat semuanya menoleh kearahnya, ia sempat memberi hormat pada Yunho dan Zhoumi kemudian memilih duduk tepat berhadapan dengan Sehun. Tanpa menyapa yang lainnya ia segera mengambil beberapa makanan pada piringnya dan mulai memakannya secara perlahan. Yoora, Jongin dan Sehun sempat saling menatap dalam diam memperhatikan tingkah Chanyeol namun setelahnya mereka membiarkannya.
Tak lama Kris dan Baekhyun memasuki ruangan makan, dan sama seperti yang lainnya mereka berdua memberi salam kepada kedua Raja dan kemudian duduk bersebelahan dengan Kyungsoo berada pada sisi kiri Baekhyun.
Kyungsoo dan Tao sedikit menyapa Baekhyun dan menanyakkan bagaimana keadaannya, hingga Kris yang memperingati adiknya itu untuk segera menyantap sarapannya lebih dulu.
"Jongdae." Suara Zhoumi yang terdengar tiba-tiba membuat semuanya menghentikan obrolan dan acara sarapan mereka.
"Kenapa kakakmu belum juga datang?"
"Luhan?" Tao yang menyahut.
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi kakakmu selain Luhan?" Zhoumi menyahut dan menggelengkan kepala mendengar jawaban dari salah satu anaknya, bahkan Yunho dan Jongdae tak bisa menahan suara ketawanya.
"Luhan tidak tidur dikamarnya asal Ayah tahu!" tak lama setelah ucapan Tao yang dengan lantangnya diucapkan, bunyi pecahan gelas terdengar dan itu berasal dari tempat Sehun yang duduk mematung dengan sendirinya.
"Yaa Sehunnaaahh!?" Jongin yang lebih dulu berkomentar. "Kenapa denganmu?"
"Sehun kau baik-baik saja?" kini giliran Yunho.
"Tanganmu sakit?" Chanyeol ikut merasa khawatir.
"Ti-tidak.. maafkan aku. Ini aneh kenapa gelasnya bisa terlepas dari genggamanku." Sehun menjawab dengan datar sambil meminta tolong salah satu petugas istana untuk membantu membersihkan pecahan gelas itu.
"Luhan tidur dikamarku, Yang Mulia." Yoora menjawab dengan santai sambil memotong beberapa potongan daging yang ada di piringnya sebelum dilahap olehnya. "Semalam Luhan mencari Baekhyun, yang tidak ada dikamarnya. Dan aku memberi tahu Luhan bahwa Baekhyun berada di ruangan Chanyeol karena mengeluh sakit juga."
Chanyeol tersedak makanannya dan Kris juga ikut tersedak.
Baekhyun mengernyitkan alisnya karena namanya disebutkan oleh Yoora dan mengingat-ingat kapan ia menyampaikan hal itu pada Yoora.
"Ya? Chanyeol? Kenapa kau sering sekali tersedak saat makan hah?" Yunho menunjuk kearah anaknya dengan pisau makan dengan tatapan marah. "Oh Baekhyun? Apa tidurmu nyenyak?" Setelahnya Yunho bertanya kearah Baekhyun.
Sekali lagi
Chanyeol dan Kris sama-sama tersedak.
"YAAA! Kenapa dengan kalian berdua?!" kali ini Yunho memukul mejanya cukup keras.
Jongdae yang berada tak jauh dari Chanyeol mengusap punggung belakangnya dan memberikan segelas air yang sudah disiapkan oleh Sehun sebelumnya, dan Baekhyun melakukan hal sama pada kakaknya yang masih terbatuk-batuk disebelahnya.
"Kenapa dengan kalian?" Yunho masih menggelengkan kepala melihat tingkah laku mereka. "Oh ini dia yang sedari tadi dibicarakan."
"E-eh?" Luhan menundukkan kepala memberikan hormat pada Yunho meskipun kini matanya masih memperlihatkan kebingungan.
"Kami baru saja membicarakannmu dan berhasil membuat gelas pecah, Kris dan Chanyeol tersedak bersama." Yunho menjelaskan beberapa kejadian yang sebelumnya terjadi.
Dan kini Luhan yang terbatuk tanpa sebab.
"Heee-eehh? Kenapa dengan kalian semua?" kini Zhoumi yang bertanya karena merasakan hal yang aneh pada semua Putera dan Puteri Mahkota.
"Tenggorokanku memang kurang baik Papa." Luhan menjelaskan pada Zhoumi dan segera melangkah untuk mencari tempat duduk, dan setelah ia berada pada tempatnya barulah ia menyadari telah melakukan kesalahan karena berada disebelah Tao adiknya, dan berhadapan dengan Baekhyun serta Kris.
"Sudahlah. Cepat lanjut dan selesaikan sarapan kalian. Kita bertemu di tempat latihan seperti biasa." Zhoumi menatap satu-satu wajah para Putera dan Puteri Mahkota dan setelahnya ia beranjak meninggalkan ruang makan disusul oleh Yunho dibelakangnya
.
"Eungghh.." suara lenguhan dari mulut terdengar sedangkan mata gadis itu masih terpejam dengan rapat, bahkan tangannya belum melepaskan bantal hidup yangmasih saja berada dalam dekapannya. Bahkan ia masih belum mau membuka matanya setelah ada pergerakan tambahan yang membawa pinggangnya semakin dipeluk oleh seseorang disebelahnya.
Chanyeol.
Ya, setelah menunggu lama karena Yoora tak kunjung datang untuk membantu melepaskan diri dari Baekhyun, yang entah bagaimana bisa dengan sangat kuatnya menjadikan tangannya sebagai bantal tidurnya. Ditambah dengan permasalahan yang terjadi pada Luhan sehingga Yoora terpaksa membawa Luhan ke dalam kamarnya.
Dan itu berarti Chanyeol harus kembali tidur bersama Baekhyun, dalam ruangan yang sama dan juga ranjang yang sama.
Ia berencana akan terbangun lebih dulu, namun rencana tetaplah rencana karena saat ini pun ia masih merasa nyaman dalam tidurnya. Terbukti dengan tangannya yang malah semakin memeluk erat pinggang sang gadis mungil untuk lebih mendekat kearahnya.
Baekhyun mengerjapkan matanya lebih dulu untuk menyesuaikan penglihatannya di pagi hari, baru kali ini ia merasa tidur yang sangat lelap, bahkan mimipinya kali ini benar-benar mimpi yang indah bersama sosok yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya.
Pria itu, pria yang selama ini hadir dalam mimpinya sejak 2 tahun terakhir.
Wujud Chanyeol dengan kekuatan yang dimilikinya.
Baekhyun masih tersenyum mengingat mimpinya, pelukannya pada guling yang menemaninya semalam makin erat dan ia kembali memejamkan matanya untuk kembali tertidur hingga ia dengan jelas mendengar bunyi dengkuran dan detak jantung pada telinganya.
"Tunggu, sebesar itukah dengkuranku?"
Baekhyun berpikir sejenak dan memfokuskan pendengarannya.
Hingga beberapa saat ia merasakan gerakan pada tubuhnya dan dengan beraninya ia membuka matanya dan saat itulah teriakannya dan gerakan kakinya reflek bergerak cepat melihat sosok yang ada disebelahnya.
"YAAAAAAAAA!"
Buagh.
Badannya berguling hingga ia jatuh ke lantai dan tentu saja hal sama juga dirasakan Chanyeol yang terkena tendangan kakinya.
"Aw!" Chanyeol masih setengah sadar dan mengusap punggung dan bagian pantatnya yang jelas baru saja beradu dengan lantai.
"YAA! Kenapa kau berada disini?" Baekhyun menutupi badannya dengan selimut dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kenapa kau berada disini?" Chanyeol mengusap wajahnya sebentar dan bangkit bangun dari duduknya. "Oh tanganku.." Chanyeol mengeluh kesakitan merasakan tangannya yang semalaman menjadi bantal bagi Baekhyun terlihat memerah.
Baekhyun masih berdiam ditempatnya sambil memperhatikan Chanyeol yang mengusap dan menggerakkan tangannya berkali-kali.
"M-ma-mafkan aku." cicit Baekhyun dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.
Chanyeol mendengus tanpa menjawab ucapan itu dan memilih keluar dari ruangan meninggalkan Baekhyun yang saat ini merutuki kebodohannya.
.
"Bagaimana keadaanmu?"
Baekhyun menoleh kesampingnya dimana Kyungsoo berada disebelahnya dengan Luhan dan Tao.
"Hm.. baik-baik saja." Baekhyun menjawab ragu walaupun dengan jelas memang ia baik-baik saja.
"Aku takut kau merasakan sakit pada seluruh badanmu, Jongin dan Jongdae terlalu berlebihan saat menceritakan bahwa kau dan Chanyeol jatuh dari dari langit. Ha-haha mana mungkin bukan?" Tao menjelaskan dan tertawa dengan sendirinya.
Baekhyun dalam hati membenarkan ucapan itu meskipun ia enggan untuk tertawa karena menurutnya tidak ada yang lucu dari penjelasan yang Tao ucapkan.
"Beruntunglah kau bersama Chanyeol, Baek." Luhan bersuara.
"A-ah.. iya. Aku merasa beruntung." Baekhyun menjawab dan mengalihkan pandangannya pada sosok yang disebutkan Luhan dimana ia sedang melangkah menuju ke tempat mereka.
"Aku berharap hari ini tidak dipasangkan bersama Sehun lagi." Luhan bergumam pelan, namun Baekhyun dan Kyungsoo bisa mendengarnya dengan jelas.
"Bagaimana rasanya satu tim dengan Sehun?" Kyungsoo berkomentar lebih dulu.
Luhan terdiam dan menggelengkan kepalanya sebentar sebelum memberikan jawaban pada Kyungsoo. "Aku tidak mau bersama dia lagi." Jawaban yang tidak menjelaskan apapun ia lontarkan pada Kyungsoo.
"Setidaknya jangan berharap kau bisa dalam satu tim dengan Kris."
Seketika wajah Luhan berubah kaku, wajah cerianya dengan cepat menghilang setelah ia mendengar ucapan yang dilontarkan adiknya, Tao.
"Bisa-bisa kalian merubah permainan ini menjadi acara—
"Tidak usah ikut campur." Luhan memotong. "Kau tidak mengerti apa pun tentangku." Luhan menunjukkan telunjuknya kearah Tao dan segera beranjak dari tempatnya. Ia memilih duduk disebelah Jongdae yang tengah merebahkan badannya di rerumputan.
Kyungsoo dan Baekhyun yang tidak mengerti persoalan diantara mereka hanya terdiam, memilih untuk tidak menanyakkan apapun meskipun mendengar Tao yang masih melanjutkan protesnya karena sikap kakaknya yang aneh.
Saat Yunho dan Zhoumi memanggil mereka untuk berkumpul bersama, Baekhyun tetap berada disamping Kyungsoo, Tao dibelakangnya sedangkan Luhan masih berada di dekat Jongdae.
"Kita akan melanjutkan permainan kemarin." Yunho membuka suara dan seketika jawaban penolakan didapatkan dari setiap bibir Putera dan Puteri Mahkota dihadapannya. "Tidak ada penolakan!" Kembali ia menekankan.
"Untuk pemenang permainan kemarin, Chanyeol dan Baekhyun." Yunho mencari wajah mereka dan meminta kedua orang itu untuk berdiri disamping mereka. "Kalian bisa memilih tim yang baru untuk permainan selanjutnya. Tapi.. kali ini permainan kembali berubah." Ucapan Yunho membuat semuanya mengernyitkan alisnya kecuali Yoora yang dengan santainya masih bisa tersenyum mendengar apa yang ayahnya katakan.
"Oh ayolah.. permainan apa lagi kali ini." Jongin yang memprotest lebih dulu.
"Kalian akan dibagi dua tim, dan masih mencari letak bendera Eowyn yang entah berada dimana." Yunho menjelaskan.
"Perbedaannya.. kali ini kalian tidak hanya akan menemukan beberapa pengawal yang akan menyerang kalian. Tapi—
Zhoumi menahan ucapannya, pandangannya saling menatap kearah Yunho.
"Kami akan menjadi lawan kalian."
"Oh shit!"
"Haah?"
Kris, Jongin dan Jongdae meluapkan segala responsnya dan mengusak wajah mereka.
"Kalian bercanda?" Chanyeol yang berkomentar dengan menatap wajah ayahnya dan Zhoumi.
"Apa wajah kami terlihat bercanda, son." Yunho menunjuk wajahnya yang serius dan hanya dengan itu ia berhasil membuat anaknya menghela nafas dan menunduk dengan anggukan kepala.
"Oh. Berhubung kemarin Kris mengambil satu bendera Eowyn." Yunho berkomentar lagi. "Chanyeol dan Kris akan menjadi ketua di setiap tim, dan son, kau tetap bisa memilih tim yang kau mau. Karena kau yang memenangkan permainan kemarin." Yunho menepuk bahu Chanyeol dan segera meminta anaknya itu memilih anggota yang bisa berada di timnya.
"Baekhyun."
"E-eh?" Baekhyun sontak kaget mendengar namanya disebut oleh Chanyeol, sedangkan wajah pria yang memanggil namanya itu masih menghadap Kris dengan senyuman bodohnya.
"Kau harus berada bersamaku sebagai pertanggung jawaban atas apa yang kau lakukan kemarin." Chanyeol menjelaskan dan segera menarik tangan Baekhyun untuk berada disampingnya.
Kris masih menatap Chanyeol dengan datar meskipun bibirnya sudah bergerak menunjukkan kekesalannya yang tertahan di dalam hatinya. Sementara Chanyeol masih melanjutkan memanggil nama-nama yang ingin ia masukkan dalam tim-nya, dan sampai itu selesai Kris tidak berhentinya mendengus kesal. Membayangkan bagaimana ia terpisah dari Baekhyun dan Yoora yang masuk menjadi tim Chanyeol, sedangkan didalan timnya ia harus bersama Jongdae, Tao, Jongin dan juga Kyungsoo.
"Yaaaa Chanyeol! Kau meninggalkan adikmu sendiri dan menggantikan aku dengan Luhan?!" itu suara Jongin yang memprotest karena kakaknya lebih memilih Luhan daripada dirinya untuk bergabung.
Sedangkan Luhan yang terpilih juga masih terlihat kesal, bukan karena ia tidak mau bergabung dengan tim Chanyeol. Hanya saja ia kembali dipertemukan oleh orang yang sama seperti kemarin, yaitu Sehun.
"Silahkan kalian berkumpul bersama tim kalian masing-masing." Yunho mengarahkan anak-anak itu untuk berkumpul membentuk dua tim. Zhoumi yang memperhatikan anaknya Luhan masih menyikap kedua tangannya di dada terpaksa mendekat kearah Luhan dan menarik paksa anaknya itu untuk bergabung bersama tim Chanyeol.
"Peraturannya sederhana, kalian bisa menggunakkan kekuatan yang dimiliki untuk saling melawan, bahkan saat kalian berhadapan dengan kami berdua." Yunho menjelaskan lagi. "Hanya saja.." Yunho menatap satu-satu wajah mereka yang menunggu kelanjutan dari penjelasannya. "Kalian harus keluar dari hutan itu tanpa kekurangan satu orang dari tim kalian."
Kris mengeryintkan alisnya dan begitu juga Chanyeol.
"O-oh." Zhoumi menambahkan. "Aku meminta Yoora dan Jongdae tetap tinggal disini."
"T-tunggu." Chanyeol menggenggam tangan Yoora, dan Kris juga langsung merespon menolak meminta penjelasan dari ucapan Zhoumi.
"Mereka adalah tawanan dari tim kalian." Zhoumi menjelaskan. "Bila kalian kalah, mereka berdua yang akan menerima konsekuensi atas hukumannya."
"Wuah! Ini terdengar sangat serius." Jongin menyahut.
"Kalian tidak sedang main-main bukan?" Chanyeol ikut berkomentar dan menatap serius ke Ayahnya.
"Okey! Silahkan bersiap dan ambil kebutuhan yang akan kalian bawa." Yunho menepuk tangannya dan mempersilahkan mereka semua untuk mengambil segala perlengkapan senjata.
Chanyeol mengajak yang lainnya untuk bersiap dan memilih segala perlengkapan yang mereka butuhkan, tak lupa ia meminta semuanya menggunakkan baju pelindung dibagian atas badan mereka. Chanyeol mengambil pedang yang cukup panjang dan juga beberapa tali yang ia letakkan pada pinggangnya. sedangkan Sehun ia ikut mengambil pedang dan juga perlengkapan memanah seperti yang dilakukan Baekhyun. Luhan yang awalnya hanya berdiam kini ikut memilih alat senjata yang akan ia ambil, dan entah bagaimana bisa Sehun sudah menyerahkan dua pedang berukuran sedang dan dilitkan pada pinggang gadis itu.
Kris dan para putera-puteri Mahkota yang berada dalam satu timnya juga melakukan hal yang sama, mereka mengambil beberapa senjata dan bersiap dalam keheningan.
Yunho memerintahkan Chanyeol dan yang lainnya untuk masuk terlebih dahulu kedalam hutan pinus itu, dan membiarkan Kris dan yang lainnya menunggu beberapa saat setelah tim Chanyeol menghilang dalam pandangan mereka.
"Apa yang Ayah pikirkan saat merencanakan permainan ini." Sehun berkomentar pada Chanyeol yang berada disebelahnya. "Dan apa maksud kalimatnya dengan menjadikan Yoora sebagai tahanan." Kembali ia berucap lagi sedangkan Chanyeol masih terdiam dan fokus berjalan, Luhan dan Baekhyun yang berada di belakang mereka hanya bisa diam dan mengikuti langkah Chanyeol meskipun sesekali mereka memperhatikan keadaan sekitar untuk berjaga.
Entah sudah berapa jauh mereka berjalan, Chanyeol menghentikkan langkahnya dan meminta yang lainnya beristirahat, ia tahu raut wajah Baekhyun yang sudah lelah berjalan dan begitupun Luhan yang sudah sulit mengatur nafasnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Chanyeol mengajak Sehun untuk mengikutinya. Langkahnya ia bawa untuk sedikit menjauh dari posisi Luhan dan Baekhyun yang sedang duduk istirahat.
"Kenapa?" Sehun memulai.
"Bisakah aku mempercayaimu menjaga Luhan?" Chanyeol langsung menjawab.
"A-a-apa maksudnya?"
"Ini akan menjadi permainan serius, dan aku tidak mungkin harus membagi fokusku untuk menjaga masing-masing dari kalian. Jadi ku mohon hentikkan tingkah anak-anakmu itu dan bantu aku untuk menjaga Luhan."
"Kenapa harus aku yang menjaga Luhan? Aku bisa saja menjaga Baekhyun." Sehun menjawab datar.
Chanyeol menatap Sehun dengan senyumannya. "Kau yakin dengan ucapanmu itu?"
Sehun terdiam.
"Baiklah, kalau kau tidak mau menjaga Luhan, aku yang—
"Tidak! Aku yang akan menjaganya." Sehun memotong lagi dan meninggalkan Chanyeol.
Chanyeol memandang punggung adiknya itu dan tertawa kecil sebelum akhirnya memutuskan untuk menyusul langkah Sehun untuk kembali pada tempat dimana Baekhyun dan Luhan berada.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan posisi yang telah berubah, Chanyeol memegang bahu Baekhyun dengan tujuan gadis itu berada didekatnya sehingga tidak akan terkena jebakan kembali seperti hari kemarin yang membuatnya frustasi setengah mati. Sehun tak jauh berada dibelakang Chanyeol dengan Luhan yang berada disampingnya dengan jarak yang bisa dibilang tidak cukup dekat.
"Iiihh.. bisakah kau lepaskan pegangan tanganmu ini?" Baekhyun berulang kali meminta Chanyeol melepaskan cengkraman tangannya.
"Tidak."
"Yaaa! Aku bisa berjalan sendiri."
"Aku tahu." Chanyeol menjawab singkat dan masih mengarahkan kemana langkah yang akan dilalui mereka berdua.
"Kalau begitu lepaskan!"
"Tidak."
"Issshhh Chanyeol!"
"Diam."
Dan Baekhyun pasrah membiarkan badannya berada dalam genggaman Chanyeol dan mengikuti setiap perintah pria itu untuk kemana kakinya harus melangkah.
Sementara kedua orang itu masih saling sahut-menyahut satu sama lain, dibelakang mereka seakan-akan diselimuti suasana membisu tanpa ada niatan dari salah satu mereka untuk memula berbicara. Sehun melangkah perlahan dengan sesekali memperhatikan Luhan yang berada disampingnya, sedangkan gadis itu selalu menatap pepohonan yang berada disisi kananya tanpa memperdulikan pemandangan didepan atau pun samping kirinya.
"Akkhh!" Luhan meringis kesakitan saat kakinya terjebak masuk kedalam lubang sempit pada akar-akar pepohonan yang ada.
"Hey.." Sehun mendekatinya dan menahan badan Luhan yang hampir saja terjatuh.
"Lepaskan!" Luhan hendak memberontak agar terlepas dari pegangan Sehun tapi mengingat kakiknya yang tersangkut dan tidak memudahkan dirinya bergerak bebas ia kembali terdiam.
"Bisakah kau tenang dan biarkan aku membantumu sebentar." Sehun masih berada pada posisinya memeluk Luhan dan menjaga badan gadis itu untuk tidak semakin terperosok jatuh.
Luhan hanya terdiam dan menahan emosinya, membiarkan Sehun yang masih menahan badannya sementara tangannya mencoba menarik akar pepohonan yang membuat kaki Luhan tersangkut.
Chanyeol datang menghampiri dan meminta Sehun untuk fokus menahan badan Luhan sementara dirinya yang menarik akar pohon itu, Baekhyun yang memperhatikan kini ikut berada disamping Luhan untuk menahan badannya sedangkan matanya tak berhenti memperhatikan pria dihadapannya yang menarik kuat akar itu hanya dengan beberapa tarikan yang sama sekali tidak terlihat sulit baginya.
Luhan merasakan nyeri pada kakinya setelah terlepas dari belenggu akar itu, Baekhyun yang melihat bagaimana darah mengalir dari kaki Luhan segera berteriak dan menarik Chanyeol untuk melihat luka tersebut.
"Sepertinya ranting-ranting itu menyobek kulit kakimu." Chanyeol membersihkan sedikit luka itu dengan air.
"Tidak apa, sesaat juga akan hilang." Luhan ikut memperhatikan sementara tangannya masih memegang pinggang Sehun yang menopang badannya.
"Tetaplah menopangnya, aku takut ia akan kesulitan berjalan." Chanyeol berbicara kearah Sehun dan tentu saja adiknya itu dengan cepat langsung memperat pegangannya pada Luhan, sementara gadis disebelahnya itu menahan diri untuk tidak mengumpat ataupun terlihat kesal.
"Well, jalan takdir membuat kalian harus saling membantu." Chanyeol mengedipkan matanya dan kembali memimpin berjalan, tentu saja tangannya tak lupa mencengkram gadis mungilnya untuk berada disebelahnya. "Cepat! kau mau terjadi seperti Luhan." Chanyeol memberi penekanan pada kalimatnya hingga si mungil mengangguk cepat tanpa bantahan seperti sebelumnya.
-Loves of Tales -
"Ini akan lebih seru daripada permainan kemarin." Yunho berbisik di telinga Zhoumi.
"Kita lihat apa pernyataan anakmu cukup akurat." Zhoumi membalas dan mereka berdua akhirnya saling beradu kepalan tangan.
"Yoora!" Yunho memanggil Yoora yang tengah berbicara dengan Jongdae di kursinya.
"Wae?"
"Bagaimana keadaan disana?" Yunho menunjuk kearah hutan.
"Masih baik-baik saja, sudah ada perkembangan yang baik.. tapi ya.. ini akan lebih menarik nantinya." Yoora menjelaskan dengan santai dan malah membuat Yunho semakin tidak mengerti.
"Lihatlah, dia menjelaskan seakan-akan aku ini bisa paham maksud dari perkataannya." Yunho menjelaskan pada Zhoumi, sedangkan Yoora terlihat kesal karena tingkah ayahnya itu.
"Sudahlah, ayah ikuti saja apa yang kukatakan kemarin." Yoora melangkah pergi untuk menyusul Jongdae lagi.
"Ya-ya-ya.. Aku akan ikuti apa yang kau katakan kemarin." Yunho menganggukkan kepala dan bersiap.
"Sudah waktunya?" Zhoumi yang ikut bersiap dan menyusul Yunho dan beberapa pengawal yang akan masuk kedalam hutan, memberikan kejutan pada kedua tim mengenai serangan apa saja yang bisa terjadi.
Yoora dan Jongdae saling duduk terdiam dan hanya memperhatikan perjalanan kedua ayah mereka dalam diam.
"Ini hanya usulanmu untuk mendekatkan para Putera-Puteri Mahkota bukan?" Jongdae berucap datar dan sedikit melirik kearah Yoora, dan seperti biasa gadis itu hanya akan menjawabnya dalam senyuman.
.
Kris berjalan bersama Jongin disampingnya, sedangkan Tao dan Kyungsoo berada didepan mereka saling berdampingan memimpin perjalanan. Entah mereka sudah berada di sisi hutan sebelah mana, yang pasti setelah perjalanan lebih dari tiga puluh menit ini, belum ada tanda-tanda penyerangan maupun letak bendera Eowyn.
"Kepalamu tidak lelah melihat keatas terus?"
"Aku hanya belajar dari pengalaman kemarin." Kris menjawab pertanyaan Jongin dengan datar.
"Ah. Pantas kemarin aku mencari kesemua tempat tidak menemukan bendera satu pun, ternyata disembunyikan diatas."
"Itu juga karena kakakmu yang menunjukkan."
"Yeah.. dia terbaik."
Kyungsoo dan Tao hanya sesekali melirik kebelakang, tanpa ada niatan untuk bergabung dalam pembicaraan antar Jongin dan Kris.
"Ingatkan aku untuk menghajar Chanyeol saat kita kembali." Jongin kembali berucap.
"Kenapa harus aku ingatkan?" Kris sedikit tertawa mendengar ucapan itu.
"Hanya ingatkan saja, bisa-bisanya dia tidak memilihku untuk berada dalam tim-nya!"
Nada kekesalan jelas terdengar dari kalimat Jongin, Kris tidak menjawab apapun begitu juga dua perempuan didepannya yang malah tertawa kecil mendengarnya.
"Aku lupa bahwa ada penggemar berat Chanyeol disini."
"Bagus kalau kau mengetahuinya." Tao yang menyahut lebih dulu.
Tak ada sahutan lagi yang Jongin ucapkan, Kris juga memilih untuk diam sambil terus melangkah mengikuti kedua gadis didepannya.
Baru beberapa langkah mereka menjauh, Kris mengeluarkan pedangnya dan segera berbalik badan menahan serangan dari salah satu pengawal Istana Eowyn.
Adu pedang terjadi pada keduanya, Jongin ikut bersiap dan menarik Tao dan Kyungsoo untuk berada didekatnya, Kyungsoo yang masih ketakutan memilih menggenggam tangan Jongin sedangkan Tao sudah bersiap dengan pedang di tangannya. Sesuai dugaan Jongin, beberapa pengawal mulai mengerumuni mereka dengan jumlah yang bisa dibilang tidak cukup untuk dilawan satu per satu.
"Apa ini sungguh perlawanan serius?" Tao berucap sambil menahan beberapa serangan pedang yang teraraj padanya.
"Well..." Kris yang tengah memukul beberapa pengawal dan menahan serangan lainnya berkomentar. "Hanya hajar saja mereka sebisa kalian." Ucapan itu diakhir dengan pukulan pada salah satu pengawal yang hendak menarik Kyungsoo sebagai tawanannya.
Jongin masih melawan dua orang pengawal dihadapannya, ia menyerang dengan pedang dan sesekali menggunakkan teleportasinya untuk membawa satu-satu pengawal ketempat yang jauh untuk mengurangi perlawanan yang ada. Tao dengan emosi dan semangatnya ikut menahan beberapa pengawal yang mencoba menarik badannya dengan tendangannya dan sedikit beradu pedang pada salah satu pengawal. Sedangkan Kris yang sudah selesai menghabisi pengawal yang menyerangnya kini memegang tangan Kyungsoo dan membantu Tao menghabisi dua orang lainnya.
"Ini gila." Kris berucap dengan nafasnya yang belum teratur. "Mereka ingin membunuh kita atau apa hah?!"
Setelah penyerangan itu, Kris meminta agar Jongin berada didekat Kyungsoo sementara Tao tetap memimpin didepan langkah mereka, sementara dirinya berada dibelakang untuk berjaga-jaga menghadapi serangan seperti tadi.
.
Sementara Kris dan tim yang lainnya sudah mendapatkan penyerangan, lain hal nya dengan tim Chanyeol belum mendapatkan penyerangan dalam perjalanan mereka. Sehun yang masih setia membantu Luhan berjalan, dan Chanyeol yang masih terus memegangi bahu Baekhyun dan membawa gadis itu untuk memperhatikan segala jebakan yang ada pada setiap langkahnya. Dan kali ini si mungil itu menurut baik dengan Chanyeol karena sebelumnya hampir saja ia menginjak jebakan gigi besi yang sering digunakkan untuk menangkap hewan buas.
"Chanyeol." Baekhyun berbisik pada pria di belakangnya.
"Apa." Chanyeol hanya menatap datar dengan membagi fokusnya pada Sehun dan Luhan serta Baekhyun.
"Bukankah Aku bisa menggunakkan perisaiku untuk membawa Luhan?"
"Bisa."
"Lalu kenapa tidak kau minta aku gunakkan kekuatan itu?" Baekhyun kembali dalam mode cerewetnya dan hendak berbalik untuk menatap Chanyeol, tapi tidak mungkin karena cengkraman tangan Chanyeol yang cukup kuat pada bahunya.
"Biarkan seperti ini dulu." Chanyeol menjawab dengan berbisik tepat ditelinga Baekhyun. "Saat ku perintahkan kau menggunakkan kekuatanmu pastikan kau bisa langsung menggunakkannya." Bisikan itu terdengar seperti perintah di telinga Baekhyun, tapi dengan cara yang lembut hingga membuat badannya bergedik merasakan setiap kalimat yang keluar dari mulut Chanyeol.
"Kau mengerti?" Chanyeol kembali bertanya dan dengan cepat Baekhyun menganggukkan kepala.
Perjalanan mereka kembali dilanjutkan dan masih diiringi pertanyaan dari Baekhyun mengenai hal apa saja dan Chanyeol masih bersabar untuk menjawab segala pertanyaan itu meskipun terkadang sifat jahilnya muncul dan mengarahkan Baekhyun pada jalan yang dipenuhi dengan dedaunan yang mengenai wajahnya dan membuat rambutnya acak-acakan. Dan Baekhyun selalu berteriak setelahnya.
Berbeda dengan Sehun dan Luhan, yang masih saling diam meskipun mereka berada saling berdekatan. Tangan Luhan masih dikaitkan pada pinggang Sehun begitu pun tangan Sehun yang memegang bahu Luhan dengan sangat kuat seakan-akan tidak mengijinkan sosok gadis disebelahnya itu akan kabur atau jatuh kembali.
Sehun sesekali melirik kearah Luhan yang meringis kesakitan, dan ia akan perlahan-lahan memelankan gerak langkahnya dan membiarkan Luhan berisitirahat sebentar.
"Boleh aku lihat lukamu lagi?" Sehun meminta ijin, setelah mendapatkan ijin Sehun memanggil Chanyeol untuk membantu menahan badan Luhan.
"Apa masih berdarah?" Chanyeol bertanya pada Sehun yang sedang membersihkan luka itu.
"Tidak, tapi ini semakin merah." Sehun menunjuk luka itu pada Chanyeol.
"Lukanya membengkak?" Baekhyun yang melihat ikut berkomentar.
"Sepertinya begitu." Sehun kembali beranjak berdiri dan memegang badan Luhan. "Sebaiknya aku menggendongmu." Ucapan Sehun barusan langsung ditolak oleh teriakan dan umpatan Luhan. Chanyeol dan Baekhyun yang mendengar hanya bisa terdiam dan tidak harus harus bertingkah apa.
"Semakin kau berjalan, lukamu akan membengkak, dan itu berarti kau akan mengeluh sakit yang akan berujung menghambat perjalanan kita. Dan itu bisa jadi alasan kita kalah." Sehun menjelaskan dengan cepat, dan bagi Chanyeol penjelasan adiknya ada benarnya meskipun ia juga bingung bagaimana bisa seorang Sehun mengambil keputusan itu.
"Aku juga tidak akan menggendongmu hingga selesai permainan, kau itu berat."
Seketika Chanyeol kembali yakin bahwa yang bicara tadi memang adiknya setelah mendengar sindiran yang sudah biasa diucapkan Sehun.
"Kita akan bergantian menggendongmu." Sehun menunjuk Chanyeol yang belum berkomentar apapun, dan Luhan hanya bisa diam sambil menggelengkan kepalanya menyadari bahwa kesalahan yang ia lakukan tadi berhujung membuatnya harus berada didekat Sehun hingga permainan selesai.
Lama terdiam tidak ada jawaban dari Luhan, akhirnya ia mengatakan bersedia berada pada gendongan Sehun untuk pertama kalinya. Dua pedang yang berada pada pinggangnya kini diberikan pada Baekhyun, sedangkan pedang dan perlengkapan memanah yang ada pada Sehun diberikan kepada Chanyeol. Meskipun agak kaku dan canggung, Luhan akhirnya berada pada gendongan belakang Sehun dengan kepalanya yang ia jaga untuk tidak berada dekat dengan wajah maupun bahu Sehun.
Baekhyun sedari tadi menahan ketawanya, Chanyeol yang mengetahuinya itu kemudian memukul pelan kepala si mungil dan membawanya untuk melanjutkan perjalanan.
Selama perjalanan Sehun dan Luhan masih saling diam, begitu juga Chanyeol yang fokus melihat sekelilingnya dengan mata Phoenix-nya untuk mencari letak bendera Eowyn dan juga bisa membimbing Baekhyun dalam memimpin perjalanan mereka. Perlu diketahui bahwa genggaman tangan Chanyeol belum juga terlepas dari bahu Baekhyun, hm mungkin bisa dibilang kini sudah berada pada tangan Baekhyun. Entah bagaimana itu bisa terjadi, tapi memang benar kini mereka saling menggenggam satu sama lain, bahkan tak jarang Baekhyun mengaitkan tangannya pada lengan Chanyeol saat mereka melewati jalanan yang sedikit berbahaya.
Ini sudah ketiga kalinya Sehun terjatuh, Bukan terjatuh benar-benar terjatuh, hanya saja saat ia melewati jalanan yang berbatuan dan sedikit menanjak, kakinya tidak cukup kuat untuk terangkat karena bebannya terbagi antara dirinya dan Luhan.
Chanyeol menahan perjalanannya kembali dan meminta semuanya beristirahat saat itu juga. Ia memberikan minuman pada Sehun dan Luhan, serta membersihkan luka pada kaki Luhan yang terlihat sudah cukup mengering dan warna merah disekitar lukanya sedikit menghilang meskipun masih terlihat.
"Ini sudah lebih baik." Luhan berucap pada Chanyeol.
"Hm, ini lebih baik dari sebelumnya. Tapi kau harus tetap digendong untuk sementara, aku tidak mau ini akan semakin parah." Chanyeol membalasnya dan memberikan senyuman hangat pada gadis itu seperti biasa. "Kau mau ku gendong atau tetap Sehun yang menggendong?" Kali ini senyumannya terlihat menggoda, dan Luhan hanya membalasnnya dengan wajah merajuk dan sedikit mendorong wajah Chanyeol menjauh dari hadapan wajahnya.
Dan kejadian itu diperhatikan oleh sosok lain dan entah kenapa hatinya terasa sedikit sendu melihatnya.
"Tidak usah cemburu."
Sosok itu menoleh kearah suaranya yang berbicara kearahnya, Sehun.
"Mereka memang seperti itu. Luhan seperti kakak kedua bagi Chanyeol, jadi mereka ya.. seperti itu." Sehun menjelaskan sambil memperhatikan tingkah Chanyeol dan Luhan yang masih saling menggoda.
"Aku tidak cemburu."
"Tidak cemburu, hanya merasa kesal melihatnya. Oh itu sama saja pendek!"
"Yak! Tidak usah mengataiku!"
"Mulutku yang mengataimu, kau tidak bisa melarangnya." Sehun membantah lagi.
"Menyebalkan!" Baekhyun mendengus kesal dan beranjak dari duduknya, ia memilih mencari tempat beristirahat yang lain daripada harus duduk didekat Sehun yang jelas-jelas hanya akan mengatainya terus menerus.
Tapi sayang, langkahnya mempertemukan beberapa pengawal yang sudah menahan pergerakannya karena jelas-jelas ia dihadapkan dengan ujung runcing pedang di depan ujung hidungnya.
"Chan—
Baekhyun tidak bisa melanjutkan karena semakin ia bersuara, pedang itu terarah pada lehernya, yang ia bisa lakukan hanyalah berjalan mundur secara perlahan sedangkan tangannya diam-diam berusaha bergerak untuk mengambil pedang Luhan yang ada dipinggangnya.
"Baekhyun!" Chanyeol bersuara setelah melihat bagaimana Baekhyun sudah dihadapkan pada beberapa pengawal. Chanyeol meminta Luhan berada didekat Sehun, dan dengan cepat ia melemparkan pedang untuk Sehun sementara dirinya mengarahkan pedang itu pada ketiga pengawal didepan Baekhyun.
"Lepaskan dia!" Chanyeol bersuara dengan ciri khas suara beratnya dimana seolah-olah itu perintah mutlak yang harus segera dilakukan. Emosinya memerintahkan untuk segera menyerang semua pengawal dalam sekali hempas namun melihat tangan Baekhyun yang bergerak pelan mengeluarkan pedang kecil dipinggangnya, Chanyeol memiliki ide lain yang lebih baik.
"Oh ayolah.. ini hanya permainan." Suara berubah menjadi nada merajuk, bahkan Sehun dan Luhan hampir tersedak mendengar bagaimana seorang Chanyeol yang selalu terlihat ingin membunuh lawannya kini mengeluarkan suara seperti anak bocah merajuk. "Aku tidak mungkin langsung menghempaskan kalian semua kan. Ini hanya permainan bukan peperangan sesungguhnya." Chanyeol masih melanjutkan. Pandangan para pengawal pun seakan-akan dibuat bingung dengan yang diucapkan oleh Calon Raja Glorfindel itu.
"Aku sungguh-sungguh mengatakannya.." Chanyeol masih berbicara. "Kalian harusnya bisa menunggu sebentar." Chanyeol menekankan kalimat terakhirnya yang terarah pada Baekhyun yang sudah siap melayangkan pedangnya itu kehadapan para pengawal, dan untungnya gadis mungil itu cukup pintar dengan mengerti apa yang disiratkan oleh Chanyeol untuk menahan pergerakannya.
"Heol.. kalian benar-benar mematuhi perintah Yang Mulia Raja ya." Chanyeol mengayunkan pedangnya memutar dan melangkah mendekat kearah Baekhyun. "Sungguh aku hanya tidak ingin kalian harus meminum ramuan Yixing yang sangat pahit itu karena terluka setelah ini—
Tepat saat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, tangannya menarik tangan kiri Baekhyun dan entah bagaimana bisa terjadi, pedang yang dipegang oleh tangan kanan Baekhyun ia layangkan kearah pengawal dan berhasil membuat dua diantaranya meringis karena terkena ujung pedang kecil itu. Chanyeol membawa Baekhyun berada dibelakangnya sementara ia memberikan pertahanan melawan tiga pengawal lainnya. Sehun yang melihat kejadian itu segera ikut bergabung dan melawan beberapa pengawal yang lain dimana tiba-tiba muncul.
"Baekhyun gunakan kekuatanmu bersama Luhan!"Chanyeol memerintahkan walaupun ia masih sibuk memberi tendangan serta pukulan pada lawan dihadapannya.
Baekhyun menggandeng Luhan bersamanya, walaupun dalam keadan panik ia berhasil membuat perisai untuk melindungi mereka berdua, dan untungnya perisai itu benar-benar melindungi mereka dari segala serangan. Karena beberapa pengawal yang ada dibelakang menghajar perisai itu dengan pedang mereka berkali-kali tapi tidak berhasil membuat perisai itu runtuh.
Baekhyun yang melihat Chanyeol dan Sehun tengah berusaha keras melawan kini bersiap mengambil panahnya dan diarahkan pada tiga orang yang berada dibelakang Chanyeol, dalam hitungan detik panah itu mengenai punggung mereka dan setelahnya mereka merasakan tendangan Chanyeol yang cukup keras. Luhan yang berada disitu dan melihat semuanya juga tidak mau berdiam diri ditambah saat ia melihat Sehun tengah kesulitan karena ketidakfokusannya hingga pedang yang ia pegang bisa terlepas dari pegangannya hanya karena tendangan dari salah satu pengawal. Luahn berdecak kesal dan mengarahkan kekuatannya, pandangannya diarahkan pada semua pengawal yang ada dan entah memang kekuatannya yang cukup kuat atau tekadnya ia bisa mengangkat semua pengawal yang ada ke udara dan menghempaskannya denga asal kesembarang arah hanya dalam hitungan detik.
Chanyeol dan Sehun sama-sama terpukau melihat Luhan melakukan itu semuanya. Chanyeol yang takjub dan mengekspresikan dengan ber-wow-ria, berbeda dengan Sehun yang menatap ngeri dan menggelengkan kepalanya.
Ia pernah merasakan dihempas seperti itu, dan itu menyakitkan.
Baekhyun yang melihat langsung bagaimana Luhan melakukannya hanya mematung dan tak berkedip memandang Luhan, kibasan tangan Chanyeol di hadapannya pun tak bisa mengalihkan matanya untuk terfokus pada Luhan hingga akhirnya Luhan sendiri yang menyadarkannya dengan jentikkan jari di depan matanya.
"Begitu terpesonanya kau padaku?" Luhan menggoda.
"O-o-oh! Itu sangat keren. Bisakah kau melakukannya pada Kris bila ia menggangguku?" Baekhyun berucap asal dan itu membuat raut wajah Luhan berubah seketika dan memutuskan keluar dari pelindungan perisa Baekhyun.
Dan Baekhyun tidak mengerti kenapa suasana menjadi diam dan hening seketika.
Luhan kembali duduk disembarang tempat, sedangkan Sehun kini perlahan mendekatinya dengan maksud untu memeriksa luka gadis itu kembali.
Chanyeol berjalan kearah Baekhyun yang masih berdiam dengan wajahnya yang bingun karena Luhan yang mengacuhkannya barusan.
"Jangan pernah membahas nama kakakmu di depan Luhan." Chanyeol berbisik didepannya meskipun terhalang perisai ia masih bisa mendengar jelas kalimatnya itu.
"Ke-kenapa?"
"Hanya jangan sebutkan nama kakakmu dihadapannya, dia sedikit sensitive mengenai itu." Chanyeol kembali mengingatkan. "Dan kau sudah bisa melepaskan perisaimu ngomong-ngomong." Chanyeol berucap lagi dan menggerakkan jari telunjuknya pada batas perisai.
"Ah! Aku lupa." Baekhyun melepaskan perisainya dan sedikit meloncat kehadapann Chanyeol. "Sudah hilang!" Senyuman ia pamerkan pada pria dihadapannya yang masih kini mematung karena melihat Baekhyun dengan jelas dihadapannya, Chanyeol tidak bergerak sedikitpun dan hanya terus memandang sebuah senyuman di wajah Baekhyun.
"Sadar Yeol."
Chanyeol hampir saja meloncat ke belakang seketika mendengar suara Yoora didalam pikirannya.
"Aku tahu Baekhyun menggemaskan, setidaknya sadarlah bahwa Sehun dan Luhan memperhatikan kalian."
"Bisakah kau tidak tiba-tiba muncul." Chanyeol menggerutu dan mencoba kembali tersadar meskipun kini pikirannya harus saling berbalasan dengan Yoora.
"Aku hanya memberi bantuan untuk membuatmu tersadar sebelum kau berniat mencium—
"What the fu—
"LANGUAGE!"
"Kenapa kau membawa-bawa hal yang tidak mungkin terjadi." Chanyeol kembali memberikan protest.
"Sudah kukatakan bukan, aku hanya membantumu tersadar karena masih terpesona oleh senyuman Baekhyun- o-ohh! Selamat berjuang kembali Chan!"
Yoora seketika menghilang dari pikirannya.
"Kakak yang aneh." Chanyeol bergumam pelan dan kembali memperhatikan keadaan Sehun yang masih setia menggendong Luhan, dan Baekhyun yang berada disebelahnya masih menggandeng tangannya.
Perjalanan kali ini dipenuhi dengan kewaspadaan dari semuanya, Chanyeol yang akan selalu melihat kesetiap sisi hutan, sedangkan Luhan kini selalu waspada akan setiap bunyi dan gerakan sedikit saja dari belakangnya. Sementara Baekhyun, ia akan selalu melihat ke kanan dan ke kiri. Bukan untuk mengawasi atau mencari bendera, tapi lebih terfokuskan melihat isi dalam Hutan Pinus Ewoyn yang sangat menyejukkan terlebih pendengarannya sedari tadi mendengar gemuruh deru air yang mengalir deras-air terjun.
Langkah demi langkah mereka lalui tanpa adanya waktu berhenti, meskipun Sehun masih menggendong Luhan tapi langkahnya kini lebih mantap dibandingkan sebelumnya. Chanyeol sempat menanyakkan berkali-kali apakan adiknya masih sanggup untuk melanjutkan, tapi keras kepala keturunan Glorfindel tetap ada pada diri Sehun dan dengan jelas ia mengatakkan bahwa ia masih sanggup berjalan dan membawa Luhan pada gendongannya.
Baekhyun mempercepat langkahnya setelah pandangannya menangkap air terjun dihadapannya. Tak memperdulikan teriakan Chanyeol yang memintanya untuk berjalan pelan, ia langsung berlari untuk bisa lebih dekat melihat pemandangan itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh Luhan, ia langsung turun dari punggung Sehun dan berlari mengikuti Baekhyun, tak memperdulikan teriakan dari dua pria di belakangnya yang meminta mereka untuk berhati-hati.
Chanyeol dan Sehun ikut menyusul, hanya saja langkah mereka tidak secepat kedua wanita itu yang sudah terpesona keindahan air terjun Eowyn yang memang cukup dikenal sebagai salah satu air terjun terbesar dan terindah .
"Sekarang aku percaya."
Chanyeol menoleh kearah Sehun yang duduk disebelahnya dengan alisnya yang sedikit naik karena sedikit tidak mengerti dengan apa yang adiknya itu bicarakan.
"Saat ada pelangi diatas air terjun, berarti ada bidadari atau malaikat yang sedang mengunjungi bumi."
Chanyeol hampir saja mengumpat mendengar ucapan Sehun, tangannya dengan sangat ringan memukul kepala adiknya itu.
Mereka masih berlarut menikmati pemandangan, Luhan yang duduk di pinggiran bebatuan dengan kakinya yang sedikit bermain air disana sementara Baekhyun melompat-lompat diantara bebatuan dan menikmati piasan air tejun yang mengenai wajahnya hingga hampir seluruh badannya basah.
Dan ketenangan itu tak bertahan lama, karena baru saja Chanyeol akan menyusul Baekhyun dan Luhan. Yunho dan Zhoumi seketika muncul dengan membawa pengawal yang lebih banyak dibandingkan pengawal yang menyerang mereka sebelumnya.
"Halo, sons." Yunho menyapa dengan santainya. "Ku kira kalian masih bersemangat untuk memenangkan permainan ini, tapi ternyata kalian hanya menikmati pemandangan." Sindiran itu telak diungkapkan untuk kedua anaknya. Luhan dan Baekhyun dengan cepat melangkah untuk mendekat kearah Sehun dan Chanyeol.
"Well, ini menjadi tempat yang indah untuk bersantai bukan?" Chanyeol membalas ucapan ayahnya itu, dan segera menarik pedangnya keluar dan bersiap menyerang. Sehun mengikuti sambil melihat sekelilingnya bahwa mereka benar-benar sudah terkepung.
Tidak ada yang memulai pergerakan.
Chanyeol dan Sehun masih menatap Yunho dan Zhoumi berjaga-jaga untuk bersiap menyerang bila salah satu dari mereka memulai lebih dulu. Suasana masih hening dan hanya dikelilingi suara deru air terjun dan bunyi yang berasal dari dalam hutan, mata Phoenix Chanyeol masih menatap satu per satu sekelilingnya dan beberapa saat tangannya bergerak menahan anak panah yang terarah kepadanya.
Sehun, Luhan dan Baekhyun membelakkan matanya melihat bagaimana cepatnya Chanyeol menangkap anak panah itu dengan tangannya. Baekhyun segera bersiap mengarahkan tiga busur panahnya kearah para pengawal, Luhan dan Sehun meremas pedangnya masing-masing dan mengatur posisi menunggu saat Chanyeol mulai menyerang.
Tanpa perintah atau kalimat apapun Chanyeol dengan cepat melesakkan pedangnya menghajar pengawal dihadapannya dan berlari mengarah ke ayahnya, Sehun mengikuti kakaknya namun ia menatap kearah Zhoumi yang sudah bersiap menyerang. Baekhyun dengan cepat memasang perisainya guna melindunginya dan juga Luhan. Tangannya bergerak cepat melepaskan beberapa anak panah untuk menyerang pengawal yang terarah padanya, sedangkan Luhan memilih menggunakkan kekuatannya untuk menghempaskan pengawal-pengawal lainnya seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Baekhyun dan Luhan mulai berkerja sama yang baik. Sedangkan Chanyeol dan Sehun harus saling beradu dengan kedua Raja mereka. Bahkan kini Yunho dan Zhoumi sudah menampakkan wujud setengah malaikat mereka dimana itu berarti pertikaian ini akan berlanjut tak hanya di tanah saja. Karena Yunho sudah mengangkat badan anaknya itu untuk dihempaskan ke udara dan seketika Chanyeol berwujud setengah malaikat sama seperti Yunho. Sehun melakukan hal yang sama dan menggunakkan kekuatannya untuk melawan Zhoumi, mereka berada diudara dan saling beradu kekuatan, Chanyeol tidak mengeluarkan kekuatan sepenuhnya karena baginya ini hanya permainan biasa, namun melawan ayahnya yang jelas-jelas keturunan malaikat akan sangat sulit.
Dentuman keras terdengar jelas saat Chanyeol mengeluarkan bola apinya terarah pada Yunho, namun bisa dihalangi oleh sayapnya.
Bila suasana diatas sangat memanas karena pertikaian anak dan ayah, lain hal nya dibawah tanah dimana Baekhyun baru saja menghabisi dua pengawal terakhir dengan panahnya.
"Mereka tidak akan berhenti sampai kita mencari bendera Eowyn."
Ucapan Luhan dibenarkan oleh Baekhyun, tapi yang menjadi permasalahannya adalah dimana mereka harus mencari.
"Dimana kita harus mencari?"
"Apa perisaimu bisa membawa kita terbang?"
"Bisa. Aku pernah mencobanya bersama Chanyeol kemarin."
"Bagus." Luhan bersemangat. "Kau harus membawa kita pergi dari sini dan mencari bendera Eowyn."
Baekhyun mengangguk dan membawa Luhan mendekat kearahnya, dalam hitungan detik mereka sudah berada diudara dalam ketinggian yang sama seperti Chanyeol dan Sehun yang masih melawan kedua Raja itu.
Mereka baru saja memutuskan mencoba untuk mencari di sebelah barat dari titik mereka berada, namun jeritan Luhan yang terdengar keras berhasil mengalihkan pergerakan perisai itu. Melihat bagaimana badan Sehun yang dibawa jatuh kebawah dan menghantam kerasnya bebatuan bisa dibilang tidak cukup hanya dengan teriakan. Luhan terhuyung jatuh melihat bagaimana dengan cepatnya sang ayah membuat tubuh lelaki itu tak bergerak dibawah sana, Baekhyun yang ikut menyaksikan juga merasakan hal yang sama, tangannya bahkan bergemetar hebat hanya untuk mengarahkan anak panahnya pada Zhoumi. Tapi sebelum ia melepaskan panah itu, Chanyeol lebih dulu menarik badan Zhoumi dan membantingnya tepat di sebelah tubuh Sehun yang masih tergeletak dibawah sana. Chanyeol kembali menarik ayahnya dan memberikan tendangan yang kencang hingga badan Yunho terhempas jauh dan memberikan waktu bagi Chanyeol untuk memberikan pukulan pada Zhoumi.
"Lepaskan busur mu Baek." Luhan memerintahkan.
"K-kau yakin." Baekhyun ragu menjawabnya.
"Cepat lepaskan dan pastikan tepat mengenai badannya!" Luhan kembali memberi perintah.
Baekhyun melepaskan panahnya dan mengenai bagian punggung Zhoumi, bukan hanya satu anak panah, melainkan tiga anak panah bersarang pada punggungnya. Chanyeol menghentikan pukulannya dan membiarkan Luhan mengunakkan kekuatannya untuk membawa badan Zhoumi ketempat yang jauh dari tempat mereka saat ini.
Setelahnya Chanyeol membantu Sehun untuk terbangun, dan dia melupakan bahwa Ayahnya bisa saja kembali kapan saja.
Tepat saat mereka akan berdiri, Yunho menarik badan Chanyeol dan mencengkram lehernya. Yunho membawa Chanyeol naik kembali diudara dan membawanya dihadapkan pada Baekhyun.
"Pelajaran pertama untuk kalian." Yunho menjelaskan sambil tetap mencekik leher Chanyeol hingga anaknya itu tidak bisa berkata apapun. "Jangan pernah lengah dengan kondisi sekitar." Yunho semakin memperat cengkraman tangannya, Chanyeol berusaha mengeluarkan hawa panas pada tubuhnya tapi semua itu tertahan karena anak panah yang dilepaskan Baekhyun tepat mengenai tangan dan juga bahu Yunho yang akhirnya bisa melepaskan Chanyeol. Kesempatan itu digunakkan baik oleh Luhan untuk membawa badan Yunho sama seperti ayahnya, ia hempaskan ke tempat yang cukup jauh di hutan itu.
Perlawanan dengan kedua Raja itu selesai.
Chanyeol menyusul adiknya yang masih merasakan sakit pada punggungnya, walaupun mereka dalam wujud malaikat setengah dewa mendapatkan perlawanan seperti barusan terjadi cukup untuk membuat badan mereka merasa sakit luar biasa. Luhan dan Baekhyun yang masih berada dalam perisai juga bergerak untuk menyusul Sehun, hanya saja belum sampai pada tempat Sehun, Baekhyun dengan nekatnya meloncat terjun kedalam aliran deras dari air terjun itu yang sontak membuat Chanyeol dan Luhan berteriak melihatnya.
"BAEKHYUN!" Chanyeol masih berteriak meninggalkan Sehun yang sudah bersama Luhan, Chanyeol berulang kali berteriak dan saat badannya hendak melompat masuk kedalam sungai, gadis yang sudah membuat hatinya khawatir hingga hampir mati muncul dari dalam air dengan menunjukkan bendera Eowyn di tangannya.
"A-aku menemukannya." Baekhyun masih sempat memamerkan senyumnya kearah mereka bertiga.
Chanyeol tanpa membalas satu kata pun menarik tangan Baekhyun dan membawa badan itu keluar dari dalam air.
"KAU GILA ATAU APA HAH?!" Chanyeol membentak Baekhyun setelahnya dan gadis itu meloncat kaget mendengar untuk pertama kalinya seseorang berteriak penuh amarah.
"Chan—
Tangan Luhan yang berusaha menahan amarah Chanyeol segera dihempaskan dengan kasar sedangkan tatapannya masih terarah pada sosok mungil didepannya yang menggigil kedinginan serta ketakutan. Chanyeol membuang bendera Eowyn yang ada ditangan Baekhyun dan setelahnya ia memutuskan pergi dari tempat itu, meninggalkan Baekhyun yang mulai menangis sedangkan Luhan dan Sehun mencoba menenangkannya dan membawa mereka semua untuk kembali ke Istana.
-Loves of Tales –
"Chanyeol benar-benar menghajarku habis-habisan hanya karena aku membawa Sehun terhantam bebatuan."
"Itulah anakku, kau tidak lihat mukaku ini." Yunho menunjukkan luka pada wajahnya yang masih terlihat.
"Setidaknya dia memenangkan permainan ini."
"Yeah.. dia pantas memenangkannya."
.
Setelah permainan itu selesai seperti biasa beberapa Putera dan Puteri Mahkota akan menghabiskan waktu untu bersantai, makan malam dan barulah mereka beranjak tidur. Atau pun terkadang beberapa yang lainnya akan bermain-main sebentar dan setelah mendapatkan peringatan oleh Yunho atau Zhoumi barulah mereka masuk kedalam kamar masing-masing. Tapi khusus malam ini suasana sekitaran Istana sangat hening, tidak ada yang masih duduk-duduk ataupun berjalan-jalan di dalam lorong, semua Putera dan Puteri Mahkota sudah masuk kedalam kamar mereka kecuali Baekhyun dan Kris yang kini berada dalam ruangan perawatan karena suhu badan Baekhyun yang sangat panas.
"Pantaslah Chanyeol memarahimu!" Kris masih belum selesai memberikan ceramah pada adiknya, semenjak mereka kembali selesai permainan melihat Baekhyun yang basah kuyup dan menangis membuat otaknya tidak bisa bekerja dengan baik. Bahkan ia hampir saja memukul Chanyeol bila saja Yoora dan Sehun tidak menahan tangannya, dan setelah diberikan penjelasan dan beberapa penglihatan oleh Yoora akhirnya Kris paham bahwa semua itu karena kenekatan Baekhyun yang ceroboh terjun kedala sungai yang memiliki suhu minus. Ya, Air Terjun Eowyn yang sangat indah itu memiliki suhu air dibawah nol derajat dan karena hal itu lah jarang ada orang yang rela berenang atau sekedar berendam di dekat air terjun itu. Walaupun suhu diatas airnya hangat, tapi bila berenang hingga kedalaman tertentu suhu nya sangat berbeda.
Dan itulah alasan Chanyeol begitu marah dan panik melihat Baekhyun yang dengan gampangnya terjun untuk masuk kedalam sungai itu.
"Cepat minum obatmu dan segera tidur." Kris memberikan obat yang sudah diracik oleh beberapa petugas Istana dan kemudian memberikan segelas air pada Baekhyun. Tangannya mengusap sebentar kepala adiknya itu dan membantunya untuk berbaring, ia juga sempat menyelimuti gadis itu dan mencium keningnya . "Jangan tendang selimutmu ini!" peringatan terakhir Kris ucapkan sebelum ia melangkah keluar dan Baekhyun hanya bisa menganggukkan kepala sebagai balasannya.
Entah karena pengaruh obat atau memang karena badannya yang terasa lelah, baru beberapa menit berlalu setelah kepergian Kris matanya sudah terasa berat dan akhirnya Baekhyun menarik selimut untuk menutupi seluruh badannya karena jelas ia masih merasakan kedingingan.
Ia hanya berharap besok pagi bisa terbangun dengan kondisi badan yang lebih baik, dan juga perasaan yang lebih baik.
-Loves of Tales –
