Chapter 3

Tetanggaku bukan manusia? (Last part)

Yaya melongo hampir tidak percaya dengan apa yang dilihat dengan kedua mata kepalanya itu. Ice… sedang duduk lemas di lantai dengan baju setengah basah karena keringat dingin, nafasnya menderu dengan berat dan masih tersengal-sengal. Sementara Blaze berada di belakangnya sedang menggigit ekor miliknya.

Eh tunggu. Ekor?

Mungkin kalian juga tidak akan percaya dengan apa yang terjadi sekarang tapi inilah kenyataannya. Saat ini Ice berubah wujud menjadi seekor makhluk dengan tubuh manusia tapi memiliki ekor panjang berwarna putih sepasang telinga kucing dengan warna yang sama pun terlihat mencuat di atas kepalanya, dan itu asli. Tapi bukan hanya Yaya saja yang dibuat syok dengan hal ini, kedua makhluk yang salah satunya merupakan siluman itu pun dibuat kaget setengah mati. Blaze yang melihat reaksi dari gadis berhijab itu pun seketika langsung melepaskan gigitannya pada ekor Ice, membuat bocah bermanik aquamarine itu bisa menggerakan kembali benda tersebut dengan bebas dan menyentakkannya secara refleks.

Tapi yang terjadi selanjutnya bukannya membuat lebih baik malah memperburuk keadaan karena membuat Yaya semakin yakin jika ekor itu dan telinga itu benar-benar bagian tubuh dari bocah berwajah teduh tersebut. "Hii…. I-Ice-kun, apa yang terjadi padamu?... Ekor dan telinga itu… asli?" tanyanya jijik sekaligus lemas, tangannya bergetar hebat, jika tidak berpegangan pada gagang pintu mungkin saat ini Yaya sudah ambruk ke lantai.

Ice hanya membuang nafas berat dan mengalihkan pandangannya ke arah lantai. "Blaze, kebodohanmu membuatku mati." gumamnya dengan nada malas.

"Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini? Ice-kun adalah siluman, ini bohong kan? Lalu kalau Ice-kun adalah siluman, mungkinkah tetanggaku yang lain juga? Nggak. Nggak mungkin para tetanggaku yang baik itu adalah makhluk-makhluk yang ku benci" kira-kira begitu dalam batin gadis itu sekarang, dia benar-benar terpukul melihat kenyataan yang ada di depan matanya saat ini.

Merasa harus bertanggung jawab tentang hal ini, bocah beriris jingga kemerahan itu pun segera bangkit berdiri untuk menghampiri Yaya yang masih terlihat sangat sangat syok "Sepertinya aku terpaksa harus meluruskan hal ini" gerutunya sambil mengusap kepala belakangnya yang tak gatal dan menghela nafas berat. "Nee-san, kau mungkin sangat syok dengan hal ini. Tapi apa yang kau lihat tidaklah sama dengan yang kau pikirkan" lanjutnya lagi yang saat ini sudah berada tepat di hadapan Yaya.

"Jadi biarku jelaskan, sebenarnya–"

Belum sempat Blaze melanjutkan ucapannya tiba-tiba saja Yaya langsung menyela dengan menodongkan senter sekaligus stun gun pemberian Gempa yang tentu saja sudah diaktifkan mode kejut listriknya. Kedua manik mata bocah berusia 15 tahun itu pun membulat sempurna dan dengan refleks dia segera mencondongkan agak ke belakang untuk menghindari sengatan dari benda itu. Karena asal tahu, terkena itu sedikit saja sakitnya nggak main-main. Apalagi stun gun itu bukan senjata sembarang.

"Jangan mendekat. Jawab dengan jujur, kau ini manusia atau bukan? Kalau bukan… maka aku akan menyerangmu dengan ini!" ancam Yaya yang terlihat sangat-sangat marah saat ini.

"Oi! Itu artinya aku jawab jujur atau enggak Nee-san akan tetap menyetrumku kan!?" protes Blaze panik.

"Ahh~ Secara tidak langsung dia ngaku kalau dirinya bukan manusia… Blaze, Blaze. Bego mu itu nggak sembuh-sembuh ya dari dulu…" sindir Ice dan sukses membuat bocah bermata jingga itu kesal.

"Diam aja kau, dasar kucing pemalas!" protesnya dengan sebuah tinju kepalan tangan kiri yang ditujukan pada Ice. Dan seketika yang diancam pun langsung bungkam dan memutar matanya.

"Jadi itu benar!?" Blaze kembali berbalik menatap ke arah pintu saat teringat gadis di depannya masih memasang mode pertahanan diri. Makin lama alat setrum itu semakin dekat saja padanya, tinggal beberapa senti lagi maka benda itu akan sukses mendarat di wajah mulusnya.

Bocah itu pun menelan ludahnya paksa. "Tolong tenang dulu, jauhkan benda itu dariku! Itu pemberian Gempa-nii kan!? Asal tahu aja, itu bahkan jauh lebih efektif jika digunakan kepada makhluk seperti kami!" pintanya keras. "Berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Nee-san" lanjutnya memohon dengan memelas. Seketika Yaya sedikit luluh dan mau menjauhkan stun gun sekaligus senter tersebut dari Blaze, tetapi tidak menurunkan kewaspadaannya.

Blaze pun bisa sedikit bernafas lega dan mulai menjelaskan. "Jadi, sepertinya Nee-san sudah lihat setengah dari kenyataan yang disembunyikan oleh apartemen Shinwa. Itu benar, para penghuni disini memang bukan manusia. Sebagai contohnya yang bisa Nee-san lihat sekarang adalah Ice, dia adalah siluman, lebih tepatnya siluman kucing, Nekomata" jelas bocah itu sambil menunjuk sahabatnya tersebut. "Nah kalau aku dari ras lain, tapi entah bisa disebut siluman atau tidak. Aku adalah vampir, kalau pas nya sih Ninja Vampir." Lanjut bocah itu lagi memberitahukan jati dirinya yang sebenarnya.

Nekomata adalah sebuah makhluk dari cerita mitologi Jepang, dipercaya sebagai sebuah metamorfosis dari kucing peliharaan. Konon katanya, dia adalah peliharaan Dewa Kematian. Begitu dewasa atau umurnya semakin tua, maka buntutnya akan membelah dua bersamaan dengan bertambahnya kekuatan magis pada diri mereka.

Tambahan info, Ninja Vampir yang dimaksud Blaze disini adalah ras vampir yang sudah lama menetap dan beradaptasi dengan kondisi geografis maupun kultur dari negara jepang, mereka juga di latih berbagai teknik-teknik ninja. Tapi sebenarnya masih belum jelas juga kapan dan bagaimana awalnya mereka muncul atau datang darimana sebenarnya mereka. Tambahan lagi, di Jepang vampir disebut kyuuketsuki dengan kata Oni di belakangnya, yang kalau diartikan 'Iblis penghisap darah'.

Cukup kembali ke cerita.

"Vampir?... Siluman?..." gumam Yaya syok.

"Yah… 'Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, bukan?' Kami sudah memperkirakan kalau suatu saat nanti Nee-san pasti akan mengetahui semuanya, tapi jujur aku tidak menyangka kalau jatuhnya bakal secepat ini" kata Blaze menjelaskan dengan sangat tenang hingga membuat Ice di belakangnya bersweat drop dengan gayanya yang OOC tersebut.

Sementara Yaya di depannya hanya menggigit bibir bawahnya sambil tertunduk, tubuhnya benar-benar lemas. Dia masih sulit menerima kenyataan ini, padahal dia berharap dengan pindah ke Jepang maka para siluman akan berhenti mengganggunya, tapi bahkan di hari pertama pun dia tetap saja diikuti dan sekarang dia malah tinggal di sarangnya para siluman.

"Aku sudah menjelaskan semuanya, jangan khawatir kami tidak seburuk yang Nee-san pikirkan dan kami tidak akan menyakitimu. Jadi bisa tolong matikan Stun gun itu" Blaze menggenggam lengan kanan Yaya yang digunakan untuk mengarahkan senter kejut listrik padanya dan mencoba menurunkannya perlahan.

"Hahk… Jangan sentuh aku!" Yaya tersentak dan secara refleks menepis tangannya yang dipegang oleh Blaze hingga tidak sengaja ujung stun gun tersebut mengenai lengan bawah sebelah kiri bocah tersebut dan menghasilkan sebuah setruman yang cukup menyakitkan meski Yaya tidak menekan pemicunya. Alhasil, bagian yang terkena oleh benda itu sebelumnya pun meninggalkan luka bakar di tubuh bocah tersebut. Itu karena apabila alat setrum tersebut dipegang atau tersentuh oleh Siluman atau Iblis maka benda itu akan bereaksi dan secara otomatis akan mengeluarkan listrik walaupun dengan keadaan non-aktif sekalipun.

"Ouch…" Blaze hanya meringis menahan sakit sambil memegangi bagian lengannya yang terkena luka bakar tersebut.

Ice membelalak dan segera bangkit dari tempatnya duduk "Blaze!" serunya panik dan membuat Yaya merasa bersalah. Gadis itu langsung mundur dengan teratur, mundur dan terus mundur hingga tubuhnya tidak sengaja menabrak Halilintar yang kebetulan baru saja ada disana saat itu. Yaya berbalik dan menatap wajah pemuda bermanik ruby tersebut, dia terlihat kebingungan sambil memandangi mereka bertiga secara bergantian, mencoba memahami situasi.

"Ada apa?" tanya pemuda itu keheranan saat melihat adiknya sibuk memegangi pergelangan tangannya.

Tentu saja kedua bocah berusia 15 tahun itu juga dibuat kaget dengan kehadiran dari Halilintar, terlebih Blaze. "A-Aniki(Kakak)" dia semakin menggengam erat luka tersebut dan mencoba menutupinya dari pandangan Kakaknya.

Sementara Yaya terus memandangi wajah Halilintar, hingga akhirnya dia teringat jika pemuda ini merupakan Kakak kandung dari Vampir yang sedang menahan sakit tersebut. Gawat, jika Blaze adalah vampir berarti Halilintar juga…

Dengan ketakutan dan tanpa aba-aba apapun gadis itu langsung saja mencoba melarikan diri dari sana. Tapi dengan sigap Halilintar langsung mencegatnya dengan mencengkram tangan gadis itu dan memutarkan tubuhnya "Kau ini kenapa sih!?" bentaknya.

Tentu saja Yaya yang masih ketakutan pun langsung mencoba melepaskan pegangan Halilintar yang sangat kencang tersebut. "Nggak! Lepas! Lepaskan aku, DASAR MONSTER!" dan tanpa sadar mengatakan kata-kata yang tidak boleh diucapkannya pada para penghuni apartemen tersebut.

Kedua mata Halilintar membelalak, tepat setelah Yaya mengatakan hal itu barulah dia paham apa yang sebenarnya terjadi disini. Jadi gadis itu sudah tahu jika dia bukan manusia, dan mungkin sudah tahu jika dia juga adalah vampir. Dengan syok dia pun membuka tangannya dan membuat Yaya bisa melepaskan diri. Lalu dengan gesitnya gadis itu langsung saja berlari menjauhi Halilintar. Jika saja…

"Ada apa ini?" Gempa tidak muncul tepat di depannya.

" G-Gempa-san?" gumam Yaya yang langsung mengerem mendadak. Dan sama seperti Halilintar sebelumnya, Gempa pun juga dibuat kebingungan.

Blaze diam sedangkan Halilintar mematung di tempat, dan satu-satunya yang menjawab pertanyaan Gempa hanya lah Ice. "Tidak ada apa-apa Gempa-nii." Katanya sambil melongokkan kepalanya keluar pintu, tentu saja masih dengan wujud Nekomata nya

"Ice, kenapa wujudmu seperti itu?" tanya Gempa enteng, seperti hal ini sudah biasa baginya.

"Ah~ Tadi aku dan Blaze hanya sedang main kejar-kejaran, tapi tiba-tiba saja Blaze tersandung dan jatuh. Saat aku mau menyembuhkannya Yaya Nee-san tidak sengaja melihatku berubah wujud, makanya dia jadi kaget begitu. Iya kan Blaze?" jelas bocah itu membuat alasan sembari menatap Blaze di sampingnya seolah sedang memberi kode.

Blaze pun tersentak. "Eh? Um... I-Iya" jawabnya dengan senyuman nervous. Di satu sisi dia menahan sakit tapi di sisi lain dia juga tidak mau mengadukan Yaya pada Gempa maupun Kakaknya, jadi dia ikut-ikutan saja dengan Ice. Walaupun jujur, dia sendiri tidak yakin dengan alasan yang terkesan dibuat-buat tersebut. Alasan macam apa itu, siapa yang akan percaya dengan alasan kekanak-kananakan seperti itu?

"Oh~ begitu." tapi siapa sangka, Gempa percaya dengan apa yang mereka katakan. Dan membuat kedua bocah itu sekaligus Yaya terperangah dengan mulut menganga. "Jadi semuanya hanya sebuah kesalahpahaman saja ya? Yaya, bisa ikut denganku sebentar? Ada yang harus kita bicarakan" lanjut Gempa mengajak gadis dengan kerudung pink khas tersebut, tidak lupa senyum manis sejuta watt yang terpampang di wajahnya. Dengan agak ragu dan sedikit takut Yaya pun terpaksa mengikuti kemana Gempa mengajaknya.

Lain Gempa lain pula Halilintar, kalau dia tidak akan mudah percaya begitu saja dengan ucapan kedua remaja berusia 15 tahun tersebut. Coba pikir, mereka itu sudah SMA lho tahun ini. SMA! Masa iya masih saja suka main kejar-kejaran? Kalau pun benar sekalipun, nggak mungkin lah bakalan jatuh semudah itu, memang mereka anak kecil apa? Dan lagi kalau pun Blaze luka karena terjatuh, paling dalam hitungan detik lukanya akan langsung sembuh sendiri, dia kan vampir.

Pemuda bermata ruby itu pun mendelik pada adiknya tersebut, dia memperhatikan dengan seksama luka yang sejak tadi ditutup-tutupi oleh bocah beriris senja itu. Tidak kelihatan seperti luka lecet karena terjatuh, lebih mirip luka seperti habis disulut oleh besi panas. Kemudian dia kembali celingukan dan menemukan sebuah senter yang tergeletak di dekat pintu kamar mereka. Halilintar membungkuk dan mencoba mengambil benda tersebut, namun tiba-tiba saat dia menyentuhnya…

'bzzztt…' benda itu langsung mengeluarkan medan listrik yang cukup untuk memberikan efek kejut yang menyakitkan. Sambil mendesis keras Halilintar dengan refleks langsung menarik jari-jari tangannya kembali dan mengelepaikannya. Lucu, padahal benda itu tidak menyala sama sekali, berarti benar stun gun itu bukan senjata biasa. Tapi berkat itu dia jadi tahu darimana dan bagaimana adiknya bisa mendapatkan luka bakar tersebut.

Dan lagi, sekarang dia jadi tahu kalau tadi Blaze berbohong.

~MA~

Beralih dari Halilintar dan yang lain, sekarang kita ke tempatnya Gempa. Lebih tepatnya kamar apartemennya.

Saat ini dia dan Yaya tengah duduk-duduk santai di sofa sambil menikmati segelas teh, mendiskusikan sekaligus meluruskan hal yang terjadi barusan. Apa? Kalian yakin Gempa benar-benar percaya dengan kebohongan yang diceritakan oleh Blaze dan Ice barusan? Gempa tidak sebodoh itu untuk mempercayai alasan kekanak-kanakan semacam itu.

"Jadi." Yaya di depannya pun tersentak saat Gempa mulai bicara. "Sepertinya Yaya sudah tahu tentang rahasia dari Apartemen Shinwa, kan?" sambungnya dengan tenang sambil menyeruput teh hangat di tangannya.

"Lalu, sekarang Gempa-san dan yang lain mau apa? Mengusirku? Atau mungkin… membunuhku?" kata Yaya agak sinis. Dan membuat Gempa di depannya sukses memuncratkan tehnya karena tidak dapat menahan tawa. Sungguh rasanya geli sekali saat mendengar Yaya bilang jika mereka ingin membunuhnya.

"Ahahaha! Ha... Nggak, nggak. Justru sebaliknya kami malah ingin kau bersedia tinggal disini lebih lama lagi" lanjut Gempa ketika sudah bisa meredakan tawanya.

"Kenapa?"

Gempa diam sejenak untuk menyeruput tehnya dan mulai bicara lagi "Ehem… Jadi soal masalahmu itu, aku sudah dengar dari orang kedutaan waktu itu. Dia diminta menyampaikan pesan dari ayahmu untuk menitipkanmu padaku."

"Ayahku?" Yaya hampir tidak percaya apa yang di dengarnya, Ayahnya sendiri lah yang menitipkannya pada Gempa dan yang juga mengirimkannya ke apartemen Shinwa. Kenapa orang tua yang paling dicintainya itu mengirimkannya ke tempat dimana para siluman tinggal? Jadi semua yang terjadi selama ini bukanlah sekedar kebetulan?

"Yah… Aku mengerti perasaanmu. Tapi seperti yang dikatakan oleh Blaze 'apa yang kau lihat tidaklah sama dengan yang kau pikirkan', Kehidupan di sini berbeda jauh dengan apa yang ada di luar pagar. Yang mengganggumu selama ini sebenarnya adalah Siluman Liar, tanpa tuan, tanpa nama dan berkeliaran kesana-kemari dalam kegelapan, menggangu manusia dan membuat mereka celaka. Kemungkinan mereka mengikutimu karena mencium baumu, lebih tepatnya Aura mu."Jelas Gempa panjang lebar dan menatap Yaya dengan pandangan kosong seolah dia adalah sesuatu yang sangat menarik.

Sedangkan Yaya hanya diam dan mendengarkan penjelasan Gempa sambil menelan ludahnya tanpa mau menyela sedikitpun. Dan yang lebih mengagetkan darimana dia tahu jika Blaze mengatakan itu sebelumnya pada Yaya. Dia bisa baca pikiran atau melihat masa lalu? Gempa ini sebenarnya apa?

"Ayahmu mengirikanmu kesini sepertinya karena tahu di sekitar tempat ini sudah dipasangi semacam barikade yang akan menahan makhluk-makhluk kegelapan itu masuk. Dan sepertinya dia juga yakin disini merupakan tempat yang paling aman untukmu" lanjutnya lagi dan menyeruput tehnya kembali dengan santai.

Yaya mengerutkan dahinya setelah mendengar penjelasan yang sangat panjang dari Gempa akhirnya dia pun mulai bertanya. "Gempa-san… Apa kau kenal dengan ayahku?"

Gempa kembali tersenyum dan dengan santai menjawab. "Ya… bisa dibilang… kenalan di masa lalu" Membuat Yaya diam, otaknya masih sulit mencerna hal-hal di luar kata rasional yang memang sudah lama dialaminya. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin ditanyakan nya, terlalu banyak hingga dia tidak tahu yang mana lebih dulu yang harus ditanyakannya.

"Tapi… aneh juga ya… Kau diikuti oleh siluman karena mereka mencium bau aura mu" Yaya kembali dibuat menoleh sekali lagi begitu Gempa mulai membahas hal lainnya. Pemuda beriris emas itu pun kembali membuka mulutnya "Yaya, asal kau tahu saja, yang bisa mengeluarkan aura seperti itu… hanyalah Dewa(Kami). Apa kau ini benar-benar manusia?" lanjut Gempa memangku tangan dengan sebuah seringai dan tatapan tajam yang terkesan angkuh, jauh sekali dengan image nya yang biasa. Dan sukses membuat Yaya membelalak tidak percaya apa yang didengarnya.

"Lalu satu lagi" Yaya kembali dibuat buyar dari lamunannya saat Gempa merogoh ke dalam saku bajunya dan mengeluarkan sebuah amplop "Mereka juga menitipkan surat ini untukmu" dan menyerahkan pada Yaya. Gadis itu menerimanya dan memandangi amplop kertas yang mulai menguning karena terlalu lama disimpan di tempat lembab. "Itu dari Ibumu" kata Gempa lagi, membuat Yaya serasa tercekat seketika. Dengan tak sabaran dia pun langsung membuka surat tersebut, ingin cepat-cepat membaca isinya. Mungkin dengan ini dia bisa mendapat petunjuk tentang keberadaan Ibu dan adiknya.

Tapi…

Alangkah kecewanya dirinya begitu membaca susunan baris dan paragraf yang tertulis disana.

"Sekarang aku ingat, sembilan belas tahun yang lalu aku pernah menyelamatkan seorang wanita yang koma dan hampir mati, padahal waktu itu dia sedang mengandung anak pertamanya. Jadi dia ibumu ya?" Gempa hanya melipat kedua tangannya dan menggumam sendiri, karena sepertinya Yaya tidak terlalu fokus mendengarkannya saat ini.

"Ibu sudah meninggal?"

"Ah tentang itu, setelah bercerai dengan Ayahmu dan membawa Adikmu, Ibumu datang ke Jepang, sepertinya dia mencariku. Tapi di tengah jalan setelah menyerahkan surat itu pada kedutaan, dia mengalami kecelakaan. Mobil yang dinaikinya jatuh ke jurang, Ibumu meninggal di tempat tapi adikmu…" Gempa hanya menggeleng dan membuat dada Yaya serasa ditusuk-tusuk oleh pedang. Adiknya hilang dalam kecelakaan maut itu dan tidak ada yang menemukan keberadaannya bahkan mayatnya pun tidak.

"Mungkin karena inilah ayahmu melarangmu bertemu dengan mantan istrinya." Yaya pun berdiri dari sofa tersebut, dengan wajah tertunduk lesu dan tanpa bicara sepatah kata pun dia berniat keluar dari apartemen Gempa untuk menuju kembali ke kamarnya. Sementara Gempa hanya memperhatikannya dengan tatapan khawatir.

Lalu begitu masuk ke kamar apartemennya dan mengunci pintunya, seketika Yaya langsung ambruk terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya. "Ibu…! Totoitoy..!"

Dan tanpa disadarinya jika Blaze dan Halilintar juga Ice sedang mengupingnya sedang menangis dari kamar mereka masing-masing.

~MA~

Keesokan harinya setelah Yaya bisa menenangkan diri, gadis itu pun keluar dari kamar apartemennya. Bukan untuk pindah, hanya pergi ke Kantor keimigrasian untuk menyelesaikan urusannya yang belum beres kemarin. Jujur saja, sebenarnya kemarin itu dia ingin sekali mencari tempat tinggal lain selain di apartemen Shinwa. Tapi karena Ayahnya sendiri lah yang menyuruhnya untuk tinggal disana apa boleh buat, bahkan dia pun sudah mengkonfirmasinya sendiri pada orang tuanya itu. Ya sudahlah, lagipula bukankah katanya disekitar apartemen ini ada semacam pelindung yang menghalangi siluman liar untuk masuk, berarti tempat ini memang aman. Tapi bagaimana caranya siluman yang ada disini bisa keluar masuk dengan bebas? Kalau vampir sih mungkin. Apa mereka punya semacam izin masuk atau yang lainnya?

Gadis itu hanya menghela nafas, kenapa dia harus pusing-pusing memirikan hal itu? Setelah menutup pintu dia pun segera beranjak dari sana, disaat bersamaan tepat setelah dia melewati pintu kamar nomor 3 milik si vampir bersaudara, si pemilik rumah pun keluar. Pemuda itu menggulirkan manik berwarna ruby nya tersebut ke arah pintu kamar nomor 4 setelah sebelumnya menoleh pada Yaya.

"Oi." Panggilnya ketus pada gadis itu.

Sebenarnya Yaya malas sekali menanggapinya, jujur dia ingin sekali tidak berurusan dengan para makhluk gaib yang ada disini. Tapi karena tidak sopan jika tidak menyahut panggilan orang, jadi dia pun langsung menoleh dan mengubrisnya dengan sedikit terpaksa. "Apa?"

"Kuncimu belum dicabut" ketusnya sambil menyamankan diri dengan bersender ke tiang pintu dan melipat tangan. Yaya hanya berdecak dan segera kembali menuju ke depan pintu apartemennya untuk mencabut anak kunci yang masih menggantung di lubangnya itu. "Dasar kau ini. Memangnya kau pikir ini hotel? Bisa sembarangan meninggalkan kamarmu tanpa dikunci? Asal tahu saja ya, akhir-akhir ini daerah sini sering sekali kemalingan tahu" lanjut pemuda itu menggerutu dan mengomel-omel.

Dan memunculkan sebuah triple crush di kepala Yaya. "Iya, Iya. Terima kasih sudah mengingatkan" ucapnya geram sembari mencabut kunci kamarnya dan langsung berlalu di depan Halilintar tanpa sepatah kata maupun senyuman di wajahnya.

"Kau masih marah karena kami menipumu? Kuberi tahu ya, kami melakukan hal ini bukan hanya kepadamu saja tapi pada semua orang!" Sontak Yaya pun berhenti dan melirik pada Halilintar. Dahinya berkerut dan tatapannya tajam sekali, seolah akan terjadi perang diantara mereka berdua. Kemudian pemuda itu pun mendengus dan kembali bicara namun kali ini lebih pelan "Manusia itu takut… pada hal-hal yang berbeda dari mereka. Tidak mau mencoba untuk memahaminya dan hanya menarik kesimpulan bahwa kami semua itu buruk."

Sekarang Yaya pun memutar tubuhnya menghadap pada Halilintar, dia hanya diam dan tidak mau menyela ucapan pemuda bermata ruby tersebut.

"Kalau kami tidak melakukan ini… mungkin saja akan ada yang melaporkan kami semua pada 'Mereka'. Dan disaat itu maka selesai lah sudah semua" lanjut Halilintar menatap pada Yaya dengan sebuah senyuman, senyuman yang begitu miris.

"Mereka?" gumam Yaya dalam hati.

"Yahh… sudahlah, kalau kau mau melaporkan kami semua silahkan saja, kami sudah tahu akan jadi seperti suatu saat nanti. Kau senang kan, jika kami yang para makhluk gaib ini dibantai sampai habis?" Halilintar pun mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Yaya terbelalak mendengar ucapan pemuda tersebut. Memang benar dia sangat membenci para makhluk gaib–tapi maksudnya tidak–harusnya–arggh ini sangat membingungkan

"Berisik! Kalian ini… Makhluk seperti kalian ini...

.

.

HARUSNYA TIDAK PERLU ADA SAMA SEKALI!"

Ucapan keras dari Yaya barusan sukses membuat Halilintar membelalakkan matanya dengan mulut menganga karena syok. Tapi kemudian dia mengeretakkan gigi-giginya dengan wajah merah padam karena amat sangat marah.

"TERSERAH! Tapi ingat saja, kalau kau dalam kesulitan jangan harap aku akan membantumu!" sedetik kemudian pemuda berambut hitam lebat itu pun langsung masuk sambil membanting pintu apartemennya dengan sangat keras. Sementara di luar Yaya hanya mengedutkan alisnya dengan wajah masam lalu kemudian mendengus dan berbalik menuju tangga turun.

Oke, batu ketemu batu, sama keras kepalanya.

Tapi sebenarnya saat ini, Halilintar hanya diam sambil bersender di daun pintu dengan tatapan setengah menyesal. Kemudian dia menggulirkan kedua matanya, menatap ke arah meja penghangat. Di sana ada Stun gun berwarna hitam milik Yaya. Padahal dia berniat mengembalikannya tadi, tapi karena dia tidak bisa menyentuhnya langsung makanya dia ingin Yaya sendiri lah yang mengambilnya. Sayangnya tidak jadi karena bertengkar dengan gadis itu.

"Bodoh…".

~MA~

Malam hari pun tiba, kali ini Yaya pulang lebih lambat daripada sebelumnya. Tapi karena itu juga dia urusannnya di kantor keimigrasian pun akhirnya beres dan tak perlu ada lagi yang harus repot-repot dibereskan lagi. Walau begitu jujur saja sebenarnya dia malas sekali untuk pulang, bahkan sebelumnya dia sempat mengulur-ulur waktu dengan belanja ke minimarket dulu.

Hingga tiba-tiba entah mengapa rasa takut mulai merayapinya saat melewati jalanan yang begitu gelap karena lampu jalannya mati. Firasatnya buruk, tapi karena jalan menuju apartemen yang dia tahu cuma itu jadi dia teruskan saja melangkahkan kakinya. Toh tinggal satu belokan lagi sampai kok. Semoga saja tidak apa-apa disana.

"Bau enak…"

Sesaat kemudian dari dalam kegelapan terdengar suara cempreng yang selalu mengucapkan kata yang sama berulang-ulang. Nafas gadis itu secara tercekat, dengan gemetar dia pun memutarkan kepalanya menghadap belakang yang merupakan asal dari sumber suara tersebut. Dan benar saja, tepat di belakangnya ada beberapa- tidak berpuluh-puluh biji mata yang menatap ke arahnya dari dalam kegelapan.

Tapi bukan hanya di belakangnya, di kiri-kanan dan atasnya juga ada. Yaya yang saat ini berdiri di bawah satu-satunya lampu jalan yang masih menyala pun tentu saja seperti merasa di kepung oleh puluhan monster berbentuk mata tanpa tubuh tersebut. "Mereka hanya lalat kecil tapi jumlahnya banyak sekali…" gumam gadis itu berbisik pada dirinya sendiri dengan posisi siap siaga.

"Ini… benar-benar berbahaya!" Tanpa pikir panjang gadis itu langsung mengambil langkah seribu, disaat yang sama para makhluk itu pun langsung menyerang dan coba menempel padanya, beruntung dia sempat menghindar, hampir saja dia terkena lapisan cairan berbentuk seperti slime yang sangat menjijikan milik para makhluk tersebut.

Sayangnya itu tidak membuat para 'lalat' kecil itu berhenti untuk mengikutinya, sekarang mereka malah bersatu membentuk gumpalan lendir raksasa dengan banyak mata dan merayap memenuhi seisi bidang jalan. Tentu saja Yaya semakin dibuat panik karena makhluk itu mengejarnya dengan sangat cepat, dia terus melangkahkan kakinya sebisa mungkin untuk melarikan diri dari kejaran 'siluman mata' tersebut.

"APA YANG KALIAN GUMAMKAN SEJAK TADI, DASAR MAKLHUK MENJIJIKAN!"

Dari arah depan tiba-tiba saja terdengar suara yang begitu familiar lalu sesaat kemudian kobaran api yang sangat besar muncul dan langsung menerjang ke arah Yaya. "Kyaa!" Yaya yang panik pun langsung berteriak histeris dan hanya bisa melindungi dirinya sendiri dengan kedua tangannya begitu melihat api sebesar itu dengan cepat mengarah dan terlihat sudah menyelimuti tubuhnya.

"Eh? Nggak panas?" Yaya mendongkakkan wajahnya, aneh padahal dia jelas-jelas sedang berada di dalam kobaran api, tapi tubuhnya tidak terbakar sedikitpun malahan api ini terasa hangat, sangat hangat. Saat dia memutar kepalanya, barulah dia tahu api ini hanya membakar para Slime dan tidak melukainya sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Nee-san, ayo lari!" hingga sedetik kemudian ada yang menarik tangannya dan membawanya kabur dari sana. Yaya mengenali orang itu, seorang bocah berusia 15 tahun dengan jaket merah khas nya, adik dari Halilintar, Blaze. Dengan terburu-buru anak laki-laki itu menyeret Yaya secepat mungkin, tampak dari semua arah jika mereka sedang dikejar oleh berbagai siluman liar dengan berbagai bentuk dan jenis.

Mereka langsung berbelok kanan saat sampai di sebuah tikungan. Terlihat pagar apartemen tempat mereka tinggal hanya tinggal beberapa meter lagi, sementara di belakang mereka makhluk-makhluk malam terus mengejar. Melihat keadaan sangat terdesak sedangkan jarak mereka dengan halaman apartemen masih dua setengah meter lagi, "Nee-san maaf!" tanpa pikir panjang Blaze langsung menggendong Yaya dan melemparkannya sejauh yang dia bisa hingga sukses membuat gadis itu terpental jauh dan terjatuh di semak-semak rimbun halaman apartemen mereka yang dengan posisi pantat mendarat lebih dulu.

Dasar Blaze, dia tidak punya ide yang lebih bagus daripada ini?

Sementara itu Blaze yang masih tertinggal di belakang bukannya melanjutkan berlari, malah berputar balik menghadang makhluk-makhluk itu sambil memasang kuda-kuda bertarung dan bersiap mengeluarkan jurus.

"Elemen api : Hembusan berapi!"

Blaze menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya kembali sekencang-kencangnya, dari tiupan nafasnya muncul kobaran api yang sangat besar dan mengarah dengan cepat ke arah makhluk-makhluk kegelapan pengganggu tersebut. Caranya berhasil mereka langsung menyingkir untuk menghindari kobaran api raksasa yang bisa membakar tubuh mereka hingga hangus menjadi abu. Api besar tersebut bersinar sangat terang dalam kegelapan malam dan terasa menghangatkan dari jarak jauh, Yaya di belakangnya bahkan sampai terdiam saking kagumnya.

Setelah berhasil menjauhkan mereka, Blaze pun berbalik lagi dan langsung melangkahkan kedua kakinya secepatnya menuju halaman apartemen mereka. Tentu saja ada beberapa makhluk yang masih belum menyerah, dengan secepat kilat mereka melesat dan menerjang ke arah Blaze. Namun sayangnya gagal karena bocah bermata jingga tersebut sudah lebih dulu berhasil melewati pagar pembatas halaman apartemen Shinwa, alhasil mereka pun langsung terhenti karena menabrak semacam kubah tembus pandang yang merupakan pelindung tempat ini.

"Ye, Ye! Coba saja lewat kalau kalian bisa! Bwe…" ejek Blaze sambil memeletkan lidahnya ke arah para Siluman liar berbentuk ikan dan ular tersebut.

"Jadi itu ya penghalangnya?" tanya Yaya pelan mungkin lebih ke dirinya sendiri dan mencoba untuk melihat lebih dekat. Dia bahkan tidak sadar masih ada dedaunan dari semak-semak yang menempel di kepalanya.

Merasa usaha mereka sia-sia saja, para makhluk itu berbalik menjauh dari sana dan segera menghilang dalam kegelapan. Membuat Blaze puas, dia langsung mendengus dan menyeringai sambil berkacak pinggang dengan angkuh. Sementara Yaya di sebelahnya hanya menatap bingung seolah kejadian ini adalah sesuatu yang sangat menarik.

"Nee-san, kau baik-baik saja?" hingga Blaze pun menegurnya dengan tatapan khawatir, membuat gadis itu menoleh.

Yaya membulatkan kedua manik karamelnya, tapi kemudian tatapannya melembut dibarengi dengan sebuah senyuman. "Aku tidak apa-apa. Yang lebih penting, terima kasih sudah menolongku ya?" ucapnya.

"Tidak masalah. Kebetulan saja aku ada di dekat sana waktu itu" jawab Blaze nyengir sambil mengusap kepala belakangnya dengan tangan kiri hingga terlihatlah oleh Yaya perban yang sedang menggulung lengannya akibat luka bakar semalam.

Sontak gadis itu pun tertunduk menyesal, padahal dia sudah membuat bocah itu terluka, bukan hanya fisik tapi juga batin dengan kata-kata menusuknya, tapi Blaze masih saja mau menolongnya yang sedang kesulitan. "Maafkan aku ya? Gara-gara aku tanganmu jadi…."

"Ah ini?" Blaze pun menggenggam lengan kiriya yang diperban tersebut "Tidak usah dipikirkan. Aku yakin waktu itu Nee-san tidak sengaja karena kaget saja. Jangan khawatir, paling beberapa hari lagi juga sembuh" lanjutnya sambil menyunggingkan senyuman terbaiknya.

Yaya hanya mengangguk. "Terima kasih, Blaze-kun"

"Oh iya satu lagi Nee-san" Blaze mendekatkan kepalanya ke samping telinga Yaya untuk membisikkan sesuatu.

~MA~

Jadi setelah apa yang terjadi di luar beberapa saat yang lalu dan hari pun semakin malam, si gadis manusia dan bocah vampir itu pun berpisah masuk ke kamar mereka masing-masing. Begitu sampai di kamar apartemennya, Yaya langsung saja menuju kamar mandi setelah melepaskan tas dan semua bawaannya. Sekarang Yaya sudah melihat sendiri seperti barikade yang dimaksud oleh Gempa. Siluman liar itu benar-benar tidak menembusnya, hebat sekali. Pantas saja ayahnya menyuruhnya tinggal disini.

Setelah selesai mandi Yaya pun mengganti bajunya dengan kaos oblong dan celana selutut yang nyaman untuk dipakai di rumah. Dia berjalan ke arah meja penghangat dengan handuk yang masih tergantung di lehernya dan menatap ke sebuah kotak susu strawberry kecil yang ada diatasnya.

Membuatnya teringat jika beberapa saat yang lalu…

Flashback

Setelah berhasil menyelamatkan diri dari para 'makhluk pengembara malam' dan bicara cukup banyak di halaman, akhirnya Yaya dan Blaze pun naik ke lantai dua untuk menuju kamar apartemen mereka masing-masing. Tapi saat sampai di depan kamar Blaze, mereka berdua tak sengaja menemukan sosok pemuda seusia dengan Yaya sedang duduk meringkuk di depan kamar nomor 4, dia terlihat sedang menunggu seseorang. Yaya mengenali pemuda itu, rambut hitam lebat juga kaos dan jaket itu…

"Thorn-kun?" panggil Yaya pelan, memastikan dia tidak salah mengenali orang lain.

Yang dipanggil langsung saja mendongkakan kepalanya dan begitu kaget melihat Yaya ada di depannya. "Yaya? Kau sudah pulang?" Dengan cepat dia pun berdiri sambil memungut sesuatu yang sejak tadi tergeletak di samping tubuhnya.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Yaya keheranan.

Thorn pun mulai menjelaskan dengan agak malu-malu sambil mengusap-usap tangan kirinya yang sama sekali tak gatal dan menggulirkan manik zamrud nya ke arah lain "Itu… Aku dengar kau marah pada kami semua jadi…Umm…" hingga dia pun Stuck di tengah-tengah kalimat. Yaya menunggu kelanjutan dari ucapannya, tapi sepertinya Thorn benar-benar kehabisan kata-kata.

Oke cukup, Thorn memang tidak ahli dalam hal berbasa-basi jadi langsung saja. "Ini!" pemuda itu membungkuk sambil menyodorkan kotak susu rasa strawberry yang sejak tadi dipegangnya pada Yaya dan membuat gadis itu mengerjap kebingungan. "Maaf ya, jadi tolong jangan marah lagi…" kata Thorn pelan. Sepertinya dia sudah lama menunggu di depan rumah gadis itu untuk memberikan minuman tersebut, dia pikir mungkin Yaya akan berhenti kesal pada mereka semua termasuk dirinya dengan cara ini. Ya tuhan polosnya, imut banget. Benarkah dia seumuran dengan Yaya?

Yaya menatap Thorn dan mengambil kotak susu itu. "Terima kasih, Thorn" ucapnya penuh senyuman. Pemuda itu pun segera mengangkat kepalanya dengan sebuah senyuman ceria karena senang permintaan maafnya diterima dengan senang hati oleh gadis berkerudung khas tersebut.

Flashback stop

Alhasil, sekarang Yaya jadi senyum-senyum sendiri jika mengingat betapa lugunya Thorn dan juga sikap tetangganya yang lain. Siluman atau apapun pada dasarnya mereka sama seperti manusia, bahkan jauh lebih baik. Memang seharusnya kita tidak menilai sebuah buku dari sampulnya, bisa saja kan isinya sangat menarik dan membuat kita ingin membacanya berkali-kali.

'Plaff...'

Tapi tak lama kemudian senyuman itu pun lenyap bersamaan dengan lampu rumahnya yang tiba-tiba saja mati mendadak, Yaya sampai kaget dibuatnya. Tapi anehnya lampu di luar–maksudnya lampu jalan dan rumah penduduk lain masih menyala, dia bisa lihat dengan jelas dari jendela rumahnya yang menghadap ke arah beranda. "Mati lampu?" gumamnya pelan.

Sedetik kemudian dari belakang terdengar derap langkah kaki berat yang mengarah cepat ke arahnya. Yaya segera memutar tubuhnya untuk melihat apa atau siapa yang ada di belakangnya dan yang selanjutnya, terjadi dengan sangat cepat hingga begitu sadar gadis itu sudah jatuh terlentang di lantai dengan mulut dibekap oleh seseorang yang saat ini sedang berada di atasnya.

Dari postur tubuhnya sepertinya pria dewasa, Yaya tidak kenal siapa dia dan juga orang itu menodongkan pistol ke arah gadis berambut coklat tersebut dengan raut wajahnya saat ini terlihat panik, sepertinya…

Perampok?

"Jangan bergerak! Kalau coba berteriak akan kuledakkan kepalamu!" ancam pria tersebut meletakan mulut pistolnya di dahi Yaya.

"hihihi…" Namun anehya gadis itu tidak terlihat panik atau pun takut, malah terlihat sangat tenang bahkan masih bisa cekikikan entah apa yang membuatnya merasa geli, padahal nyawanya bisa saja sudah di ujung tanduk. Tentu saja pria itu terlihat heran dengan ekspresi Yaya, dengan perlahan dia pun melepaskan bekapannya dan barulah setelah itu Yaya bisa bicara. "Jadi kau ya, perampok yang katanya membuat resah warga di komplek perumahan ini? Ya~ Sepertinya kali ini kau kurang beruntung jika mencoba merampok di tempat ini " kata gadis itu tenang.

"Apa katamu!?" dan tentu saja membuat perampok itu bingung plus kesal.

"Napa? Cuma manusia biasa toh?"

Kali ini terdengar suara pria lain di dalam rumah Yaya. Perampok itu memutarkan tubuhnya untuk mencari sumber suara tersebut lalu dari dalam kegelapan dia bisa melihat sepasang manik mata berwarna merah semerah darah sedang menatap tajam ke arahnya. Sontak pria itu panik dan segera berdiri sambil menodongkan pistolnya ke arah pemilik mata tersebut hingga melupakan Yaya yang merupakan sanderanya sejak awal.

"Si-Siapa kau!? Tunjukkan dirimu!" gertak pria itu, kedua tangannya yang memegang pistol itu bergetar hebat karena saking takutnya.

Sosok misterius itu melangkah maju dan mendekat, semakin dekat, lebih dekat, sampai akhirnya dia pun berhenti tepat di depan pancaran sinar lampu yang menembus dari luar jendela kamar Yaya. Sekarang wujudnya sudah lebih jelas, seorang pemuda dengan nuansa merah hitam dan wajah dingin yang khas, Halilintar. Tapi bukan itu hal mengejutkannya melainkan…

"Matanya… bersinar?" tanya pria itu kebingungan lebih ke dirinya sendiri.

"Eh~ Kau kaget karena melihat mata Aniki?"

Sekali lagi muncul suara lain dari dalam rumah gadis tersebut, namun kali ini agak berbeda. Suaranya agak cempreng bercampur serak seperti suara anak laki-laki yang pita suaranya mulai membesar karena mengalami pertumbuhan sekunder. Yaya kenal suara ini, pasti Blaze.

"Kalau cuma itu saja kami semua yang ada disini juga bisa melakukannya" lanjut Blaze yang sepertinya sedang duduk di atas lemari.

Dan tak lama kemudian sepasang mata dengan pemilik lebih dari satu mulai bersinar dari balik kegelapan dan membuat perampok itu semakin ketakutan. Tapi yang lebih mengerikan saat pria tersebut menggulirkan matanya ke belakang, sesosok makhluk aneh berwujud manusia dengan kuping dan ekor kucing terlihat baru saja mendarat di beranda luar tepat di depan jendela setelah sebelumnya melompat dari beranda rumahnya di sebelah. Sama seperti yang lain matanya juga memancarkan sinar yang berwarna kebiruan hanya bedanya pupil matanya agak melonjong ke bawah persis seperti mata kucing. Eh? Memang kucing sih. "Maaf aku terlambat" ucap makhluk itu.

Sontak si perampok yang melihatnya pun langsung mundur ketakutan. "Mo-Monster!" jeritnya.

"Monster? Maaf saja ya." kali ini seorang perempuan yang angkat bicara, dia adalah Ying, istri dari pemilik kamar nomor 7. Dia tampil dengan wujud aslinya, yaitu sesosok wanita cantik dengan kimono putih panjang yang bagian lehernya dibiarkan melorot hingga menampilkan bahunya yang begitu putih dan mulus juga rambut hitam panjangnya yang dibiarkan tergerai. Kemunculannya juga diikuti hembusan angin dingin dan kristal es yang mengelilinginya. Mungkin kalian mengenali sosoknya sebagai Yuki-onna.

Yuki-onna secara harfiah berarti "Wanita Salju" adalah sosok roh atau Siluman dalam cerita rakyat Jepang. Yuki-onna muncul saat malam bersalju sebagai sosok wanita cantik bertubuh tinggi dengan rambut hitam dan bibir biru pucat. Meskipun tampak cantik, tatapan matanya dapat meneror manusia. Beberapa legenda menyatakan bahwa ia tidak memiliki kaki dan ia dapat berubah menjadi kabut atau salju jika merasa terancam.

Sementara tak jauh di dekatnya ada suaminya, Fang, yang juga sedang dalam wujud aslinya, seorang Oni dengan satu tanduk di dahinya sedang bersender di dinding sambil melipat tangan.

Oni adalah sejenis Siluman atau hantu dari dongeng Jepang yang biasanya di artikan sebagai iblis, Ogre atau Troll. Penggambaran mengenai Oni sangat beragam namun biasanya di gambarkan dengan raksasa besar buruk rupa dengan kuku-kuku yang tajam, rambut yang lebat dan satu atau dua buah tanduk yang tumbuh di atas kepalanya. Tapi kalau kalau disini Oni nya ganteng ya?

"Memang benar jika kami bukan manusia. Tapi setidaknya kami masih punya sopan santun dan tidak seenaknya mengancam orang untuk merebut apa yang bukan hak milik kami." Lanjut Ying dengan tegas. "Ditambah lagi kau ini berisik sekali. Apa kau tidak tahu jika orang sedang asik 'bermain'?" cerocosnya lagi sedikit menggerutu dan membuat Fang di sebelahnya merasa risih sekaligus malu.

"Ying… mulutmu itu ya. Disini ada anak kecil tahu" tegur suaminya tersebut dengan tatapan 'krik-krik'.

"Memangnya siapa yang minta duluan!? Gara-gara kau sekarang badanku jadi pegal-pegal tahu!?" Ying pun ganti mengomel pada Fang.

"Iya, Iya. Nanti Mas pijitin" sahut Fang mendengus pelan.

Sementara Yaya dan yang lain yang mendengar obrolan suami-istri tersebut hanya menatap bingung dalam diam, sebenarnya apa yang dilakukan mereka berdua sebelum ini? Dan hal ini pun dijadikan kesempatan perampok tersebut untuk melarikan diri dari kepungan makhluk-makhluk gaib tersebut. Tapi begitu dia lari keluar dengan membuka pintu depan sambil terburu-buru…

'Jeng, jeng' tepat di depannya matanya sesosok kerangka raksasa setinggi 17 kaki dengan aura ungu yang mengelilinginya muncul di halaman apartemen itu. Walhasil pria itu pun pingsan di tempat dengan keadaan masih berdiri, sedetik kemudian tubuhnya pun ambruk jatuh lantai dengan mulut berbuih.

~MA~

Beberapa saat kemudian.

Perampok itu pun membuka matanya, sekarang semuanya sudah lebih jelas karena dia berada di tempat yang lebih terang dan dia menemukan dirinya masih di kamar apartemen yang sama, sudah duduk di lantai dengan tubuh terikat. Sementara para monster-monster mengerikan sebelumnya masih ada disini sedang bencengkrama.

"Maaf ya Yaya-chan, kami malah menjadikanmu sebagai umpan" ucap Ying lembut yang masih dengan wujud aslinya.

"Tidak. Bukan masalah, lagipula aku juga berhutang permintaan maaf pada kalian semua" jawab Yaya.

"Uhm? Dia sudah bangun" kali ini sosok pemuda bermata hijau menatap pria itu dengan wajah kaget dan membuat semua menoleh padanya. Si perampok itu tidak pernah melihatnya dan juga siapa lagi laki-laki beriris emas itu, bukannya mereka tadi tidak ada disini.

Gempa pun menghela nafas. "Dasar merepotkan saja. Tapi kebetulan sekali, aku sudah lama ingin menangkapnya. Terima kasih banyak ya semuanya" ucapnya dan hanya dibalas dengan anggukan oleh para penghuni apartemen yang lain.

"Ampun deh, harusnya kalian para manusia jangan membuatnya semakin sulit. Gempa-san jadi terpaksa harus menangani kasus yang rumit seperti ini karena banyaknya permintaan yang sama. Padahal dia sudah cukup kerepotan dengan bebannya sebagai seorang Dewa" gerutu Ying dan membuat Yaya menoleh padanya dengan tatapan tak percaya.

"Eh!? Gempa-san itu Dewa!?" seru gadis berambut coklat sebahu itu.

"Yaya-chan tidak tahu ya? Kami para makhluk gaib yang tinggal disini bisa hidup tenang karena berada di bawah lindungan Dewa, dan juga penghalang yang ada di sekitar apartemen ini Gempa-san juga lah yang memasangnya. Karena itulah kami semua sangat menghormatinya terlebih karena dia juga yang paling tua disini" jelas Fang santai pada gadis itu.

"Eh?" Yaya menatap pada Gempa yang terlihat nyengir sambil menggaruk-garuk pelipisnya yang tidak gatal, dengan tatapan heran. Pria dengan penampilan 20 tahun-an ini adalah orang yang paling tua disini? Tidak kelihatan sama sekali, sebenarnya berapa umurnya?

"Ya, Ya… sudah cukup kejutannya. "Halilintar pun menegur mereka semua dan mengembalikan pembicaraan ke topik awal, mereka hampir melupakan nasib si perampok yang sedang terikat itu. Kemudian pemuda itu pun langsung mencengkram kepala si perampok dengan kasar. "Sebaiknya kita segera bereskan hal ini" Kalian tidak akan menyangka apa yang di lakukan Halilintar selanjutnya, dia membuka mulutnya selebar-lebarnya hingga menampilkan sepasang taringnya yang tajam dan langsung menusukkan benda itu ke leher si perampok.

Sontak saja si perampok syok karena kesakitan tapi anehnya dia tidak melawan sama sekali. Setelah puas Halilintar pun melepaskan gigitannya dan mulai bicara, ucapannya terdengar seperti sebuah perintah "Dengar. Kau mabuk berat setelah pesta minum-minuman dan langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Tapi di tengah jalan kau salah masuk ke kantor polisi dan tanpa sadar mengakui semua kesalahanmu pada pihak berwenang. Ah, dan semua yang kau lihat disini hanyalah sebuah mimpi, Mengerti?" pria itu mengangguk menuruti perkataan Halilintar, tatapannya kosong seperti orang yang terkena hipnotis. Setelah itu dia berdiri dan mulai berjalan sempoyongan menuju pintu depan persis seperti orang sedang mabuk berat.

Yaya yang melihat kejadian aneh ini hanya mengerjap bingung dengan tatapan penasaran. "Apa yang kau lakukan padanya?" tanyanya pada Halilintar.

"Oh itu? Vampir bisa mengendalikan korbannya menggunakan cairan yang dihasilkan oleh taringnya, lebih gampangnya itu seperti air liur kami. Caranya dengan memasukkannya ke dalam aliran darah melalui gigitan atau…" penjelasan Halilintar pun terhenti dan membuat Yaya semakin bertanya-tanya.

"Atau?"

"Percayalah kau pasti tidak mau mendengarnya" Halilintar terlihat mem-blushing dan mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mengusap-usap lehernya. "Yang lebih penting ini" pemuda itu pun merogoh ke dalam kantongnya dan melemparkan sebuah kotak kado kepada Yaya.

Gadis itu pun dengan cepat membukanya dan menemukan jika isinya adala alat kejut listrik miliknya. "Stun gun ku!?" serunya kaget dan menatap ke arah Halilintar.

"Aku mau mengembalikannya tadi! Tapi karena aku tidak bisa menyentuhnya langsung makanya ku letakkan dalam kotak! Karena tidak ada kotak kosong makanya aku pakai kotak kado!" cerocos pemuda itu membuat alasan.

Yaya pun hanya tersenyum lembut padanya. "Terima kasih, Halilintar" ucapnya. Dan sukses membuat wajah Halilintar memerah seperti udang rebus.

~MA~

Senin, 11 maret. Seminggu telah berlalu semenjak Yaya pindah ke apartemen Shinwa. Dan seperti perjanjian gadis berkerudung itu pun mengambil kerja sambilan sebagai waiters di Kafe milik Gempa. Sambil menunggu pelanggan datang Yaya pun bercengkrama dengan koki disini, seorang pria tambun berumur 30 tahun-an lebih. Namanya Gopalji, tapi berbeda dengan karyawan lain disini Gopal tidak tinggal di apartemen Shinwa, lalu sama seperti Yaya dia juga manusia dan tentu dia pun sudah tahu soal rahasia Gempa dan yang lain.

"Jadi Gopal-san, aku sudah tahu jika Gempa-san adalah Dewa, Fang-san adalah Oni, Ying-san adalah Yuki-onna, Halilintar-kun dan Blaze-kun adalah Ninja vampir, lalu Ice-kun adalah Nekomata. Tapi bagaimana dengan Ocho-san dia itu sebenarnya apa?" tanya gadis itu sambil menghitung jumlah penghuni di apartemen itu.

"Oh Ocho-san? Dia itu Regalia." Jawab Gopal sembari tangannya sibuk mengelap gelas-gelas kaca di rak kayu.

"Regalia?"

"Kau bisa menyebutnya juga sebagai benda pusaka milik Dewa, initnya dia itu adalah senjatanya Gempa-san" jelas Gopal. Yaya hanya manggut-manggut mengerti dan sesaat kemudian dia menemukan sebuah pertanyaan baru.

"Oh iya, saat kejadian tadi malam tiba-tiba saja perampok itu pingsan saat mencoba kabur"

"Ah itu… pasti karena dia tidak sengaja melihat Thorn. Aku menyuruh anak itu membetulkan genteng waktu itu, mungkin dia pikir pekerjaannya akan cepat selesai jika dia berubah ke wujud aslinya"

"Wujud aslinya? Memangnya Thorn-kun itu apa?"

Gopal pun mengerjap kebingungan dibuatnya "Eh? Dia tidak memberitahumu? Thorn itu adalah Gashadokuro loh?"

"Gashadokuro?" Yaya semakin di buat kebingungan dengan istilah yang disebutkan oleh pria tambun tersebut. Apa lagi ini?

"Itu loh, kerangka raksasa yang tingginya bisa sampai 19 kaki"

Gashadokuro, sosok hantu yang terlahir karena kelaparan yang menyerang. Gashadokuro sendiri dapat diartikan sebagai 'Kerangka yang Kelaparan'. Siluman ini juga dikenal sebagai Odokuro yang berarti 'Kerangka Raksasa.' Gashadokuro dikenal dapat mengendap -mengendap tanpa menimbulkan bunyi yang berarti. Tidak ada suara 'bum-bum-bum' atau suara-suara besar lainnya, siluman ini dikenal pandai dalam mendekati korbannya dengan damai, sunyi, dan tenang tanpa terlihat sampai saat yang tepat. Ketika ia menemukan saat yang tepat, maka korban akan melihat kerangka manusia sebesar 15 -19 kaki yang siap untuk mengejar dan menyantap korbannya. Karena ia tidak terlihat kecuali sudah dalam jarak yang dekat, maka satu -satunya tanda yang mengumumkan kehadirannya adalah suara gemerincing bel yang terdengar berdenging di dekat telinga.

"Ya kurang lebih begitu lah. Untuk info lebih lengkapnya cari saja di Wikipedia" ucap Gopal menyunggingkan senyuman terbaiknya dan mengacungkan jempol ke arah readers.

Membuat Yaya ber-sweat drop ria. "Kau sedang bicara dengan siapa?" gumam Yaya dengan tatapan 'krik-krik'. Tapi serius juga ya, sulit untuk dipercaya, sesuatu yang imut-imut bisa berubah menjadi amit-amit.

Dan beberapa saat kemudian, bel pintu depan mereka berbunyi tanda jika ada pelanggan yang datang. Tapi ternyata bukan, mereka ada duo Blaze dan Ice yang sedang berkunjung ke kafe Shinwa dengan sangat semangat di hari pertama mereka memakai seragam SMA.

" Gopal-nii, Omerice satu!" seru bocah bermanik jingga kemerahan tersebut bersemangat.

"Aku juga" timpal Ice yang terlihat mengekor di belakangnya dengan santai.

"Oshu anak-anak! Kalian semangat hari ini ya?" sahut Gopal tak kalah semangatnya hari ini sambil berbalik menuju dapur untuk membuatkan kedua bocah kelas 1 SMA itu sarapan.

"Kau ini. Aku udah masak di rumah kau malah makan kesini!" ucap Halilintar menggerutu sambil menghampiri adiknya.

"Emang kenapa? Sekali-kali aku juga mau makan di luar" cibir Blaze sembari memalingkan wajahnya dan cukup memancing emosi kakaknya di pagi hari.

"Sip lah. Habis ini aku nggak bakalan masak lagi" ancam pemuda bermata ruby tersebut geram dengan sebuah perempatan di dahinya, menahan diri untuk tidak memukuli adiknya. Dan membuat Blaze menoleh kembali padanya dengan wajah syok.

"Eh!? Kenapa!?" protesnya.

Melihat kedua Kakak-beradik itu bertengkar Yaya pun berinisiatif melerai dan menenangkan si Kakak. "sudah, sudah. Tidak apa-apa kalau sekali-sekali, kan, Halilintar-kun?" lerai gadis itu menatap lembut pada si pemilik manik ruby. Dan membuat pemuda itu kembali mem-blushing. Dan di saat bersamaan Gopal sudah selesai menyajikan Omerice untuk kedua anak berusia 15 tahun tersebut.

"Y-Ya tidak masalah sih" jawabnya setuju dengan ucapan Yaya.

"Tapi… Aku tidak menyangka kalau kalian itu sudah SMA. Kupikir kalian baru SMP karena Ice-kun kecil sekali" kata Yaya lagi berkomentar. Dan sukses membuat Gopal, Halilintar, Blaze bahkan semua karyawan kafe termasuk Ocho yang baru saja datang dari dapur langsung bergidik ngeri dengan wajah syok dan mulut menganga sambil menatap ke arah Ice seolah-olah akan muncul suatu bencana yang mengerikan. Sementara Yaya malah dibuat kebingungan karena ekspresi mendadak semuanya.

Tapi anehnya, setelah beberapa saat tidak terjadi apapun dan bocah itu hanya diam sambil menikmati sarapannya dengan tenang. Dan begitu makanan yang ada di piringnya habis, Ice pun berdiri dan meraih tas sekolahnya untuk bersiap berangkat. "Ayo Blaze, nanti kita terlambat" ajaknya pada sahabatnya itu.

Sementara Blaze yang sudah lebih dulu menghabiskan sarapannya dan dibuat cengo oleh keajaiban dunia ini langsung dibuat kaget "Eh? Oh? I-Iya, iya. Ayo kita berangkat" dia pun langsung mengambil tasnya dan menyusul Ice.

Setelah mereka berdua pergi, atau lebih tepatnya Ice pergi para karyawan kafe minus Yaya pun bisa menghela nafas lega. Dan jujur, tingkah mereka ini membuat gadis itu semakin keheranan.

"Yaya" hingga Ocho menegurnya dan membisikkan sesuatu ke telinganya. "Kau harusnya tidak boleh mengatakan itu tadi. Disini kata 'kecil, pendek, kerdil' dan semacamnya dianggap tabu jika diucapkan di depan Ice."

"Eh? Kenapa?"

"Ice itu memang terlihat kalem dan jarang marah. Tapi jika kau sudah membahas tinggi badannya, berhati-hati saja dia mungkin akan melemparmu nanti" lanjut Ocho menjelaskan.

"M-Memangnya dia sekuat itu ya?" tanya Yaya gemetar.

"Asal kau tahu saja, yang mengangkat lemari, kulkas dan mesin di kamarmu itu semuanya dia. Bahkan dia langsung angkat tiga sekaligus dia bilang…"

"Aku malas bolak-balik"

"Begitu katanya." Bisik Ocho lagi dan membuat sekujur buluh kuduk Yaya berdiri. Lucu juga, padahal tubuhnya sekali tapi kenapa tenaganya bisa sebesar gajah.

Sementara itu yang orang yang sedang dibicarakan…

"Hatchi!" tiba-tiba saja Ice bersin saat sedang berjalan bareng dengan Blaze menuju halte bus.

"Kau kenapa? Masuk angin?" tanya bocah di sebelahnya heran.

"Sepertinya ada yang sedang membicarakanku" gumam bocah bermanik aquamarine tersebut sambil menggosok-gosok hidungnya dengan jari telunjuk. Dan membuat Blaze nyengir gak jelas, sepertinya dia tahu siapa yang saat ini sedang menggosipkan sahabatnya itu. Tapi lebih baik diam saja. "Perasaanmu saja kali" kata bocah bermanik jingga tersebut.

"Uhm?" Dan beberapa saat kemudian dia dibuat menoleh oleh seseorang yang lewat berlawanan arah tepat di sebelahnya. Seorang pria tua dengan uban yang memenuhi kepalanya, postur tubuhnya agak sedikit bungkuk namun masih bisa berjalan dengan normal, dia memakai mantel tebal dan membawa sebuah koper putih di tangan kanannya. Rasanya Blaze pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya, tapi dimana?

"Hei Blaze!" hingga kemudian Ice menegurnya dan membuat bocah itu kembali menoleh padanya.

"Ya?" sahutnya.

"Menurutmu aku pendek sekali ya?" tanya Ice membandingkan tinggi tubuhnya yang sedikit lebih kecil daripada temannya yang bermata jingga itu.

"Ti-Tidak kok, biasa aja. Perasaanmu saja kali." Jawab Blaze gugup.

"Begitu" Ice menunduk dan kemudian melanjutkan aksi diamnya yang memang sudah menjadi hal biasa.

"Lagipula kita ini kan memang sedang masa pertumbuhan, nanti juga kau akan bertambah tinggi dengan sendirinya" lanjut Blaze dan tanpa disadarinya jika sahabatnya itu sudah menghentikan langkah kakinya sejak tadi dengan wajah tertunduk, lebih tepatnya saat Blaze bilang 'kau akan bertambah tinggi dengan sendirinya'. "Ice?" kemudian bocah itu menoleh kebelakang dengan keheranan karena tingkah temannya itu.

"Begitu ya? Jadi secara tidak langsung kau bilang aku ini pendek?" Ice tersenyum tapi senyumannya ini bukanlah senyuman lembut atau semacamnya, lebih tepatnya itu sebuah seringai. Sambil menghentakan kakinya ke tanah, tanpa sadar Ice mengeluarkan aura membunuh yang sangat mengerikan dan membuat Blaze mematung ketakutan. Dia ada salah ngomong di bagian mana? Perasaan dia tidak menyebut kata pendek, kerdil atau semacamnya.

"I-Ice. Damai, damai! Aku nggak mau sampai di sekolah pada hari pertama dengan keadaan babak belur, serius!" elak Blaze.

"Aku tidak akan menghajarmu kok. Aku hanya akan membuatmu sampai ke sekolah lebih cepat" ucap Ice masih dengan aura gelap yang mengitarinya tapi itu diucapkan dengan senyuman yang sangat manis.

"A-A… Maafkan aku…" Blaze hanya tertunduk lesu, ingin rasanya dia menangis sekarang. Memang kalau soal tempramen dia lebih cepat marah dibandingkan temannya itu, tapi kalau urusan siapa yang lebih mengerikan jika sudah marah, Ice lah juaranya. Sekarang kalian percaya istilah 'orang pendiam kalau sudah marah bisa jadi sangat mengerikan'?

Yah… apapun itu intinya jangan pernah memancing amarah seseorang. Terutama… kalian tahu kan maksudku?

Yaya Arc :

Completed