Chapter 4

Pembalasan dari masa lalu (Part 1)

Di suatu malam yang kelam saat musim panas, jauh di dalam hutan yang lebat dan gelap dimana para kunang-kunang dan makhluk malam berkumpul terdengar suara jangkring bersahutan tanda jika musim kawin para serangga berderik itu telah tiba. Hutan itu adalah tempat keramat yang konon katanya merupakan tempat tinggal para roh dan siluman penghuni gunung, terbesit kabar jika ada orang yang masuk ke sana maka akan tersesat selamanya dan tak bisa pulang ke tempat asalnya.

Sementara itu tak jauh dari letak hutan tersebut, sebuah cahaya merah berpendar serta asap hitam yang terlihat mengepul di langit. Dan itu berasal dari sebuah perkampungan yang terbakar di bawahnya.

Terlihat disana semua bangunan rumah, sekolah, kantor dan pondok sudah habis dilalap oleh si jago merah. Tapi walaupun sudah terjadi insiden kebakaran hebat disana, tidak tampak satu pun warga yang mencoba untuk memadamkan apinya, mereka malah memilih untuk melarikan diri dari sana sambil membawa sanak keluarga atau barang-barang berharga yang masih bisa diselamatkan. Tapi bukan itu yang membuatnya aneh, diantara bangunan yang sudah terbakar terlihat ada beberapa orang yang sudah terbujur lemas dan sudah tidak bernapas sama sekali dengan luka disekujur tubuh yang masih mengalirkan darah segar. Mereka semua meninggal bukan karena kecelakaan seperti terinjak-injak atau semacamnya, tapi memang ada yang sengaja membunuhnya.

Sementara itu, diantara para warga desa yang sibuk lari pontang-panting menyelamatkan diri terlihat ada seorang anak kecil yang berlari melawan arah dan malah menuju ke dalam desa. Dari penampilannya sepertinya usianya 8 atau 9 sembilan tahun, rambutnya hitam, iris matanya berwarna merah seperti batu ruby, dia memakai kaos hitam dengan celana jeans panjang dan topi berwarna hitam berlambang petir dengan garis-garis merah.

Seperti tidak peduli dengan kobaran api yang semakin membesar dan para mayat korban yang bergelimpangan di sekitarnya, dengan berani dia terus maju menerobos segala rintangan di depannya. Yang terpenting baginya sekarang adalah menemukan adiknya yang masih terjebak dan tertinggal di antar kebakaran yang melanda desa mereka.

Hingga akhirnya dia menemukan sosok anak kecil berusia 5 atau 6 tahun berjaket merah tersebut di depan sebuah bangunan sekolah yang separuh bagiannya sudah habis di lahap api.

"BLAZE!" panggilnya pada adiknya itu.

Bocah itu tersentak dan segera menoleh pada kakaknya dengan wajah sembab karena menangis "Ni-Nii-chan…" panggilnya lirih, membuat si kakak merasa sedikit lega. Tapi seketika senyumannya pun lenyap ketika menyadari adiknya sedang di kepung oleh sekelompok orang berjubah hitam yang tengah menodongkan senjata pada si bocah kecil beriris jingga kemerahan tersebut.

Salah satu dari orang-orang itu yang sepertinya adalah pemimpinnya terlihat menyunggingkan sebauh seringai mengerikan sambil mengangkat pedangnya dan bersiap mengayunkannya untuk menebas bocah kecil tak bersalah tersebut. Sontak si kakak pun berlari menuju adiknya, dia segera mendekapnya dan coba melindunginya dengan menggunakan tubuhnya.

"NII-CHAN!" si adik menjerit panik begitu sabetan pedang itu semakin dekat saja mereka.

Dan setelah itu...

.

"Hahk…" kedua iris ruby itu pun terbuka dan sontak pemuda itu langsung bangkit dari pembaringannya dengan panik. Dadanya kembang-kempis dan nafasnya masih belum teratur, keringat dingin terlihat mengucur deras dari dahi dan sekitar lehernya. Sambil menelan ludah ditolehkannya kepalanya ke arah single bed di sampingnya, terlihat disana adiknya masih tertidur pulas sambil memeluk sebuah guling.

Setelah beberapa saat barulah Halilintar sadar jika saat ini dia sedang berada di kamar apartemennya, dia segera memijit-mijit dahinya dan mencoba mengatur nafasnya kembali. Setelah lebih tenang, dia langsung mengecek Handphone nya untuk melihat jam, pukul 5 lewat 15 menit. Tinggal 45 menit lagi alarm nya akan berbunyi, dan karena bermimpi buruk dia jadi terbangun lebih awal. Lucu, entah kenapa dia jadi memimpikan kejadian itu lagi? Padahal kejadiannya sudah hampir 10 tahun yang lalu.

Ya sudah, karena sudah terlanjur bangun lebih baik dia bersiap-siap. Pemuda itu pun segera bangkit berdiri dari futon nya dan merapikannya, kemudian bergegas ke dapur untuk memasak sarapan dan bekal.

Pukul 6.30 akhirnya semuanya beres, sambil menata makanan di meja Halilintar pun mencoba membangunkan adiknya yang masih asik molor dan berguling-guling dengan nyaman di atas kasurnya. "Blaze, bangun. Sarapan" panggilnya singkat. Namun sayangnya tidak mendapat respon apapun dari si pemilik nama. "Blaze!" si kakak yang belum menyerah membangunkan bocah dengan rambut hitam lebat itu pun coba memanggil namanya lagi.

"Ugghh…" kali ini usahanya berhasil, bocah itu terlihat mengeliat dan menggerutu sambil mengucek matanya yang masih tertutup tersebut, perlahan dia mulai terpanggil keluar dari pulau kapuk miliknya. Tapi beberapa detik kemudian sambil setengah sadar dia mulai menggumam entah karena masih ngelindur atau apa, dia bilang. "Lima menit lagi, Aniki…" kata-kata pendek yang sukses membuat urat dahi Halilintar mencuat membentuk sebuah pertigaan.

Dengan geram sambil menggeretekkan susunan giginya pemuda berusia 18 tahun itu pun langsung mengambil cangkir besi di dekatnya lalu langsung melemparkannya ke arah adiknya itu dan mengenai kepala Blaze dengan telak, hingga menghasilkan sebuah cone es krim bertingkat dan membuat si pemilik nama pun sontak terbangun sambil mengaduh kesakitan.

Bocah yang baru terbangun dari alam mimpi itu pun sontak menoleh pada si Kakak dengan tatapan tajam dan wajah kesal. "Napa sih Aniki, main lempar-lempar cangkir ke kepala orang aja!" serunya membentak pada Halilintar.

Halilintar pun tak kalah sengit menatap padanya. "'Napa, Napa'? Cepat bangun. Sarapan! Habis itu siap-siap ke sekolah!" sahutnya. "Dari tadi kupanggil…" lanjutnya menggumam sambil menyeruput kopi hangatnya sekedar untuk mengaliri tenggorokannya yang kering setelah berteriak karena bertengkar dengan adiknya.

"Aku dengar kok! Nggak usah lempar-lempar kepala orang juga kali!"

"Kalau dengar, kenapa dari tadi kupanggil nggak bangun-bangun!?"

Sementara itu dari kamar sebelah tepatnya kamar nomor 4–milik Yaya, gadis itu terlihat sedang mendengarkan percakapan kedua kakak-beradik itu sambil sibuk menyikat giginya di wastafel kamar mandi. Bukan menguping tapi suara mereka memang kedengaran sampai sini, memang dasarnya mereka berdua itu kalau bertengkar tidak tahu waktu dan tempat bahkan kondisi sekalipun. Lihat saja, pagi-pagi sudah ribut seperti kondisi kebun binatang saat masuk masa kawin.

Gadis itu mendesah keras, kemudian menadahkan tangannya membentuk mangkuk sebagai tempat menampung air dari keran untuk berkumur, memang Yaya sudah terbiasa dengan perang saudara itu selama hampir dua minggu ini, tapi tetap saja yang namanya mengganggu tetap saja mengganggu.

~MA~

Dari apartemen kita berpindah ke kafe Shinwa. Sekarang pukul 8.00 waktu jepang, sebentar lagi adalah jam untuk membuka toko dan kegiatan yang biasa dilakukan oleh karyawan disini adalah membersihkan dan menata tempat ini sebelum para pelanggan mulai berdatangan saat waktu buka di pukul 9.00.

Yaya yang sejak tadi sibuk membersihkan kaca pintu geser yang menghadap hamparan taman mini milik kafe ini pun akhirnya berpindah setelah selesai untuk mengerjakan yang lain.

"Uhum…" hingga tiba-tiba Halilintar menegurnya dengan sebuah dehaman. Sontak si gadis pun menoleh dengan pandangan bingung dan bertanya-tanya.

"Ada apa?" tanya Yaya.

Halilintar yang saat ini tengah menyenderkan diri di depan kasir terlihat menatap Yaya dengan pandangan sinis sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Boleh aku tanya? Apa yang tadi mengelap gelas-gelas ini kau?" tunjuknya pada susunan gelas-gelas kaca yang digunakan untuk menampung minuman seperti jus dan Milkshake.

"Iya?" jawab Yaya singkat.

"Oh ya? Kau ngelap pakai apa? Kain perca? Atau karung goni?" Halilintar bicara sarkastis seolah-olah sedang mengejek pada gadis berkerudung pink khas tesrebut.

Yaya hanya mengernyit, tak paham apa maksud pemuda dengan iris berwarna merah seperti buah delima tersebut. "Apa maksudmu?" tanyanya.

Halilintar mendengus sambil memejamkan matanya, beberapa saat kemudian dia mengambil salah satu gelas untuk dijadikan sampel. "Coba lihat, kenapa gelas-gelas ini masih kotor!?" ucapnya sembari menghadapkan benda yang terbuat dari kaca tersebut ke arah matahari, bisa dilihatnya ada sebuah noda–yang lebih mirip bekas sidik jari–yang sangat, sangat, sangat kecil. Dan itu yang itulah yang dipermasalahkannya. "Kau bermaksud menghidangkan minuman pelanggan menggunakan gelas-gelas ini?" lanjutnya lagi mengomel.

Gadis di depannya hanya menggulirkan sepasang mata karamel nya ke arah lain dengan raut wajah sarkasme. Heran yang begitu saja dipermasalahkan, memang Halilintar itu orangnya agak sensitif tapi masa cuma begitu saja. Apa sisa-sisa perang tadi pagi sudah mengganggunya? Lebih tepatnya moodnya.

"Dan juga satu lagi" Yaya segera dibuat tersadar dari lamunannya saat Halilintar kembali mengeluarkan komentar pedasnya. "Kau ngelap kaca pintu ini gimana? Kok bisa jadi kelihatan butek kayak gini?" Ingin sekali rasanya Yaya menepuk jidatnya, rasanya dia sudah membersihkan kaca itu berkali-kali seperti yang dijelaskan oleh Ocho sebelumnya. Dan rasanya itu sudah cukup kinclong, tapi tetap kenapa Halilintar bilang masih kotor? Memang biasanya seperti apa kalau dia membersihkannya? Sampai kacanya copot? Atau pecah?

Sementara itu dari jauh Thorn yang saat itu sedang asik mengelap piring-piring makan dari porselen tersebut terlihat memperhatikan saat Halilintar asik mengomeli gadis yang merupakan waiter baru disini. Dia terus menatap mereka tanpa berkedip sedikit pun dengan tatapan setengah kosong entah apa yang sedang dipikirkan. Dan tak lama kemudian…

'praang' terdengar suara keras benda yang terbuat dari kaca hancur. Membuat si pemuda bermata merah serta gadis di depannya segera menoleh ke arah sumber suara tersebut. Bisa ditebak, sebuah piring porselen terlihat hancur berkeping-keping di atas lantai, pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah pemuda seumuran mereka berdua dengan iris berwarna zamrud yang yang sejak tadi memang sudah berurusan dengan peralatan makan tersebut. Dia terlihat menatap serpihan keramik tersebut dengan tatapan bingung, matanya tak henti-hentinya mengerjap sejak tadi.

Seperti yang diduga, Halilintar langsung saja naik pitam sambil mengerutkan otot-otot wajahnya. "THORN!" dia mengamuk dan membuat si pemilik nama tersentak kaget dengan raut wajah pucat pasi. "KAU PIKIR INI PIRING KE BERAPA YANG SUDAH KAU PECAHKAN SELAMA BEKERJA DISINI, HAH!?" bentak Halilintar seraya melangkahkan kedua kakinya menghampiri pemuda bermata zamrud tersebut untuk mengomelinya.

"Huwee… Maafkan aku Halilintar…" rengek Thorn yang terlihat mulai terisak-isak.

Sementara Yaya yang memperhatikan mereka berdua hanya menghela nafas berat, satu sisi dia lega karena sekarang Halilintar sudah mengalihkan perhatian dan omelannya darinya, di satu sisi yang lain dia benar-benar merasa begah berhadapan dengan sikap aneh pemuda dengan iris ruby tersebut dan di satu sisi lagi dia merasa kasihan pada Thorn yang malah menjadi korban kultum pagi dari Halilintar untuk menggantikan dirinya.

"Arggh! Sudahlah! Kalian berdua kerjanya nggak ada yang beres! Biar aku saja yang kerjakan!" sambil menyumpah-nyumpah dengan kasar Halilintar pun langsung merampas lap yang ada di tangan Yaya dan bergerak ke luar pintu kaca untuk menyambung sisa pekerjaan Yaya yang baginya belum beres tersebut.

Yaya yang melihat itu pun lagi-lagi tanpa sadar mendesah berat dengan wajah tertunduk. Hingga tiba-tiba ada seseorang menyikutnya, gadis itu menoleh pada si pemilik anggota tubuh yang saat ini berada tepat di sampingnya, seorang wanita bermanik sapphire dengan rambut dikuncir menjadi dua tengah menyunggingkan sebuah senyuman manis sejuta makna.

"Ying-san…" gumam Yaya lesu, sedang malas diajak bercanda saat ini.

"Kenapa kau, nggak semangat gitu?" tanya Yuki-onna yang saat ini berwujud manusia tersebut dengan senyum mengembang di wajahnya.

"Nggak ada apa-apa, cuma sedang heran saja dengan Halilintar-kun. Hanya masalah sepele begitu dibesar-besarkan. Orang itu sebenarnya kenapa sih?" gerutu Yaya.

"Ah~ Halilintar ya? Kalau dia orangnya memang agak perfeksionis, jadi maklumi saja" sahut Ying yang matanya juga saat ini tertuju pada si pemuda berambut hitam lebat tersebut. Dia terlihat cuek dan sibuk dengan kegiatan mengelap pintu kaca tanpa memperdulikan jika dua wanita itu tengah membicarakan dirinya, entah memang tidak dengar atau yang lainnya.

Sementara itu Thorn terlihat memperhatikan Yaya dari jauh sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis, entah kenapa dia terlihat bahagia saat bisa menggantikan Yaya diomeli oleh Halilintar barusan. Kemungkinan besar dia juga sengaja memecahkan piring itu waktu itu agar perhatian Halilintar teralih padanya.

~MA~

Pukul 04.00, saat ini kafe sedang sepi dari pelanggan. Dan para karyawan akhirnya bisa menikmati waktu untuk beristirahat sebentar sambil duduk berbincang-bincang di kursi bulat panjang bartender ditemani hangatnya seduhan kopi dan teh. Disana juga ada Blaze dan Ice yang baru saja pulang setelah seharian menghabiskan waktu mereka di sekolah.

"Hei semuanya!" sontak semua menoleh begitu Ying mulai membuka pembicaraan mereka dengan begitu bersemangat. "Aku punya ide yang sangat bagus!" lanjutnya.

"Apa itu Ying-san?" tanya Ice sambil memangku satu tangannya di meja.

"Bagaimana kalau kita membuat pesta untuk merayakan penyambutan Yaya-chan ke Apartemen Shinwa!?" katanya penuh semangat dengan kedua tangan terangkat ke udara, persis seperti anak kecil. "Maksudku, biasanya kita kan selalu membuat acara makan-makan setiap kali ada penghuni baru yang bergabung. Kita sudah lama banget lo nggak bikin acara begini" lanjutnya menjelaskan.

"Benar juga, terakhir kali kita melakukannya saat Taufan dan Ice datang kesini ya? Berarti sudah sepuluh tahun dong" gumam Ocho sembari memangku dagunya mencoba mengingat-ngingat kembali.

"Iya kan!? Makanya ayo!" seru Ying.

"Boleh juga. Bagaimana kalau malam ini kita buat pesta barbekyu di halaman? Peralatannya masih ada di gudang kan?" timpal Gempa sepakat dengan ide dari Ying tersebut. Lagipula memang mereka sudah lama tidak membuat perayaan apapun.

"Oh Yeah! Sip dah!" seru Blaze dan Gopal bersemangat begitu mendengar jika mereka akan membuat pesta barbekyu. Terbayang sudah jika mereka akan makan daging banyak malam ini.

Sementara Yaya yang merupakan tokoh utama dari kegiatan yang rencananya, bukannya senang malah protes. "Tunggu dulu semuanya! Kalian tidak perlu repot-repot membuat pesta hanya untuk menyambutku segala. "

"Jangan khawatir Yaya." Ujar Thorn seraya mendekatkan wajah dan tersenyum manis pada gadis itu. "Ini sudah jadi tradisi kami. Lagipula kami memang sedang ingin makan daging, pas sekali kan?" lanjutnya terkekeh dan sukses membuat Yaya ber-jaw drop di tempatnya duduk.

"Sudah diputuskan ya?" Yaya kembali dibuat menoleh saat Gempa mulai angkat bicara kembali dengan gaya penuh wibawanya yang begitu khas. "Kalau begitu kita langsung menutup kedai saja habis ini, lalu urusan belanja bahan akan kuserahkan pada Halilintar dan… Yaya" lanjutnya menunjuk dua orang tersebut satu-persatu.

Dan sudah jelas pasti Halilintar langsung protes. Tapi dia protes bukan karena disuruh belanja, kalau itu sih bukan masalah baginya. Melainkan…

"HAH!? Kenapa aku harus bareng dengan cewek ini!? Kalau cuma belanja bahan aku sendirian juga tidak apa-apa!" cerocosnya jengkel. Dan Yaya hanya menatapnya dengan malas.

"Karena kalian berdua kelihatan tidak akur. Pas sekali kan? Siapa tahu kalau jalan-jalan sambil ngobrol kalian bisa saling mengenal satu sama lain dan jadi lebih akrab" sahut Gempa menjelaskan. Sementara kedua insan tersebut hanya saling tatap dengan wajah masam.

Lalu sesaat kemudian Halilintar terlihat ngambek sambil melipat kedua tangannya ke depan dada. "Pokoknya aku nggak mau kalau bareng orang yang gak becus kayak dia" tolaknya sarkastis dan sukses menghasilkan sebuah perempatan di dahi mulus Yaya karena dibuat kesal oleh ucapannya. Memang di akuinya pemuda bermanik ruby dengan lambang petir merah itu pekerja yang perfeksionis bahkan hasil kerjaannya sangat apik. Beberapa jam yang lalu gadis itu dibuat hampir tidak bisa menangkupkan mulutnya, takjub dengan hasil lap an Halilintar pada kaca jendela dan gelas-gelas yang sudah dibersihkannya. Bersih berkilau, sampai cahaya matahari terbiaskan dengan sempurna dan membuat kedua matanya silau.

Terbukti Halilintar bukan cuma sekedar mulut besar atau tong kosong nyaring bunyinya saja.

Tapi sikapnya itu menyebalkan sekali, mentang-mentang jago setidaknya jangan bilang orang lain itu nggak becus.

Gempa hanya mengangguk saat mendengar penolakan keras dari salah satu pegawai dan anak asuhnya tersebut. "Oh begitu?"

Halilintar menoleh dan menemukan Gempa sedang memangku tangan, memandanginya dengan sebuah senyuman yang sangat manis tapi anehnya dia bisa merasakan ada aura membunuh yang sangat mengerikan di sekitar pemuda bermata emas tersebut. Tapi bukan hanya dia saja, Yaya bahkan yang lain pun sepertinya juga bisa merasakanya. Dan asal tahu saja, Gempa itu terkenal sangat mengerikan jika sudah marah besar–maksudnya, tahu kan bagaimana kalau seorang 'dewa' mengamuk? Kira-kira seperti itulah.

"Kau yakin masih tidak mau?" tanya Gempa.

Seketika vampir bermata ruby itu pun dibuat terhenyak. "A–Aku mengerti…" jawabnya tergagap.

.

"Oi!" kemudian dia pun beralih menegur Yaya hingga membuat gadis itu tersentak dan dengan respon menoleh padanya. "Cepat ganti seragammu! Kita langsung berangkat setelah ini" perintahnya sambil berbalik menuju belakang ke bagian loker untuk mengganti seragamnya dengan pakaian yang digunakannya tadi pagi saat berangkat.

Yaya mendesah keras dan hanya menurut, kemudian dia pun segera berdiri dari kursi bundar tersebut untuk menuju loker perempuan di belakang.

Selagi dua makhluk berbeda spesies tersebut pergi, pegawai yang lain terlihat mulai sibuk untuk menutup kedai. Bahkan dua bocah kelas 1 SMA yang sebenarnya tidak bekerja disini pun juga terlihat ikut membantu menutup kedai agar pekerjaan disini cepat selesai. Hingga kemudian Gempa menyikut salah satu dari mereka yang saat ini mengenakan jaket berwarna kelabu–seekor nekomata bermata aquamarine.

"Ada apa Gempa-nii?" tanya anak laki-laki itu.

Gempa hanya tersenyum lembut padanya. "Apa ada kabar dari Kakakmu? Kapan katanya dia pulang?" dan bertanya pada bocah itu.

"Nii-san masih sibuk dengan pekerjaannya disana. Mungkin pertengahan April nanti baru dia bisa pulang" jawab Ice lirih sambil menggenggam erat sapu yang ada di tangannya.

"Eh… Masih satu bulan lagi ya?" tanya Gempa lagi dan hanya dijawab dengan anggukan singkat dari bocah berwajah teduh tersebut.

~MA~

Skip Time

Selagi yang lain mempersiapkan kebutuhan untuk pesta kita beralih pada Halilintar dan Yaya yang saat ini sedang asik berbelanja di supermarket dekat apartemen mereka. Disana gadis itu terlihat sibuk memilah-milih bahan sambil memperhatikan kertas daftar belanjaan yang diserahkan Gempa sebelum mereka berangkat tadi. Sementara di belakangnya Halilintar bertugas mendorong trolly barang dengan sedikit malas.

"Selanjutnya sosis dan daging giling ya?" ucap gadis berkerudung pink khas tersebut menggumam dan terlihat celingukan di melihat-lihat isi rak-rak barang, lumayan kan kalau ketemu barang yang dibutuhkan langsung ambil dan tidak perlu repot bolak-balik lagi.

Halilintar yang sejak tadi hanya mengiringinya pun menguap karena terlalu bosan. Wajar, sejak pertama berangkat sampai sekarang mereka bahkan tidak bicara sepatah kata pun. Sambil merebahkan kepalanya ke pegangan trolly mata pemuda itu tak sengaja melirik ke dalam keranjang besi tersebut dan menemukan sesuatu yang janggal.

"Hei kau!" tegurnya dan membuat Yaya menoleh padanya dengan sebuah gumaman penuh tanya. "Kau bisa masak?" lanjutnya bertanya dengan ketus.

"Tentu saja" jawab Yaya sambil mengernyitkan dahinya tak mengerti.

"Kau pernah belanja sayur sebelumnya?"

"Pernah sih. Sekali…" kali ini Yaya menjawab dengan nada yang lebih pelan.

"Kalau gitu boleh aku tanya, apa bedanya brokoli dengan kembang kol?"

"Eh?"

Halilintar terlihat memangku tangannya, menunggu jawaban gadis itu dengan cukup sabar dan tak lupa tatapan yang sedikit mengintimidasi.

"Warna…nya… kan?" jawab Yaya ragu-ragu.

"Itu kau tahu." Sedetik kemudian Halilintar mulai menjumput-jumput ke dalam trolly dan menarik ke luar sebuah sayuran berbentuk seperti pohon dengan batang tebal berwarna putih. "Menurutmu yang kau ambil ini apa?" tanyanya ketus sembari mengacungkan sayuran tersebut.

"Kembang kol…" Yaya hanya terkekeh kecil sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal menyadari kesalahannya karena tidak fokus saat mengambil barang di bagian rak-rak bahan makanan segar.

Halilintar yang melihat tingkahnya hanya menghela nafas panjang. "Matamu silap? Atau kau buta warna? Jelas sekali bedanya masih bisa ketukar juga" komentarnya dengan nada mengejek pada gadis itu. Yaya hanya mendesah, tanpa disuruh dia langsung merampas sayuran putih tersebut dari tangan Halilintar dan berlari secepatnya menuju bagian sayuran untuk mengembalikan sekaligus menukarnya dengan brokoli.

Sementara pemuda bermata merah itu menunggunya kembali sambil menyusun niat untuk mengawasi gadis itu saat mengambil barang-barang lain setelah ini. Bisa saja kan nanti dia malah tertukar kecap asin dengan kecap ikan. Walaupun sebenarnya hampir tidak mungkin sih.

Dan beberapa saat kemudian, benar saja dugaannya. Saat mereka sampai di rak bumbu dapur, gadis itu benar-benar hampir salah ambil. Lebih parahnya dia hampir tertukar dengan kecap inggris yang dari teksturnya saja sudah beda jauh. Beruntung Halilintar langsung mencegat dengan menegurnya, tentunya dengan komentar dari mulutnya yang hampir selalu terdengar begitu sarkastis.

Baiklah sepertinya sudah cukup sesi belanjanya. Dan seperti biasa yang harus dilakukan oleh pelanggan saat sudah membeli yang mereka butuhkan tentunya adalah membayar di kasir. Lalu begitu giliran kedua makhluk beda ras tersebut untuk membayar, disinilah kejadian lucu terjadi.

Ibu-ibu yang merupakan penjaga kasir tersebut, terlihat agak cengo saat melihat Yaya dan Halilintar berdampingan mengantarkan belanjaan yang begitu banyak, persis seperti pasangan suami-istri muda yang sedang belanjaan bulanan. Terlebih, mereka berdua kelihatan serasi sekali saat berdiri berdekatan seperti itu. Tapi sepertinya si Ibu tahu jika yang di depannya adalah anak-anak yang masih berusia belasan tahun. Jadi beliau pun hanya tersenyum dan mulai menggoda mereka berdua dengan maksud bercanda.

"Wah, Wah. belanjaannya banyak sekali. Apa kalian sedang membuat pesta pindahan atau semacamnya?"

Halilintar terlihat melipat kedua tangannya ke belakang leher. "Ya semacam itulah. Baru-baru ini kami mulai tinggal satu atap" dan menjawab dengan mimik wajah agak serius. Saking seriusnya ditambah omongannya yang begitu irit, akhirnya menimbulkan kesan ambigu. Dan tentu saja membuat si Ibu jadi salah mengira.

"Eh Benarkah? Semuda ini? Astaga anak-anak jaman sekarang"

"Hah?" tapi gumaman si ibu itu pun tidak kalah membuat kedua muda-mudi itu keheranan. Mereka terlihat mengerjap-ngerjap tidak mengerti. Apa maksudnya?

~MA~

"Kira-kira apa yang dipikirkan Bibi itu tentang kita?"

Yaya terdengar menggumam setelah beberapa saat mereka berdua keluar dari supremarket tersebut. Sekarang tangan muda-mudi tersebut penuh oleh plastik belanjaan barang yang dibutuhkan untuk pesta nanti malam.

"Entahlah. Ngurusin orang, kau ngurus diri sendiri aja nggak becus" sahut Halilintar yang sedang berjalan di sampingnya.

"Lagi-lagi mengatakan itu. Asal tahu saja ya, begini-begini aku pernah kerja di perusahaan besar selama dua tahun lho. " gerutu gadis berjilbab pink khas tersebut sambil memalingkan wajahnya menjauhi pemuda di sebelahnya dan mendengus kecil.

"Dua tahun? Umurmu masih delapan belas kan? Kapan kau lulus SMA?" tanya Halilintar heran.

"Aku lulus saat umurku enam belas. Dulu aku mengambil akselerasi, pertama saat SD lalu kemudian waktu SMP" jelas Yaya.

"Heh~ Kau pintar juga ternyata." komentar pemuda itu dengan nada sedikit memuji dan membuat gadis itu agak senang sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan pulang. Langkah-langkah kaki keduanya terus membawa mereka menyusuri trotoar pejalan kaki menuju ke dalam komplek perumahan dimana apartemen mereka terletak. Mereka hanya diam, tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka bahkan ejekan yang biasanya diucapkan oleh Halilintar pun tidak terdengar sama sekali.

Hingga akhirnya Yaya pun mulai membuka mulut karena tidak tahan dengan keheningan ini. "Hei ayo gantian" katanya singkat.

"Apanya?" sahut Halilintar dengan nada dingin dan datar khasnya.

"Aku kan sudah kasih tahu semua soal diriku. Sekarang boleh aku bertanya soal dirimu" lanjut Yaya memperjelas maksud ucapannya sebelumnya. Dan pemuda disampingnya hanya menggumam yang berarti 'iya'.

Gadis itu pun langsung tersenyum lebar dan dengan bersemangat mulai bertanya pada sosok pemuda bernuansa merah-hitam dii sampingnya. "Halilintar-kun dan Blaze-kun itu vampir kan? Apa kalian itu persis seperti yang sering digambarkan? Maksudku kalian hanya bisa minum darah dan takut dengan bawang putih"

"Kau kebanyakan nonton film horor gak mutu, Vampir nggak seperti itu. Kami masih bisa makan makanan manusia, memang terkadang kami harus minum darah secara berkala, karena kalau tidak kami bakalan mati. Dan satu lagi, asal kau tahu saja tujuh puluh persen lebih masakan asia itu mengandung bumbu bawang putih, kalau vampir barat mungkin mempan. Tapi sayang itu tidak berlaku untuk Ninja vampir seperti kami" jelas Halilintar panjang lebar. "Karena itulah aku bilang manusia itu aneh. Mengarang sebuah kebohongan yang disebut hiburan bernama film hanya untuk mencari keuntungan dan popularitas" lanjutnya berkomentar dan kembali melipat dua tangannya ke belakang leher dengan santai.

Dan lagi-lagi Yaya pun dibuat menyengir gaje karena ucapan pemuda dengan raut dingin khas tersebut. Ada benarnya juga sih?

"Kalau salib bagaimana?" tanya gadis itu lagi.

"Itu bohong"

"Kalau senjata dari perak?"

"Nggak mempan"

"Sinar matahari?"

"Nggak sepenuhnya salah sih, karena kami memang tidak suka saja"

"Bagaimana dengan pasak yang ditusukkan ke jantung?"

"Kalau gitu caranya manusia juga bakalan mati kali. Sayangnya itu juga nggak mempan"

"Terus bagaimana caranya membunuh ninja vampir?" gumam gadis itu menempelkan tangannya ke dagu dengan pose berpikir.

Sontak Halilintar pun menghentikan langkahnya dan menoleh dengan tatapan tajam. "Kau mau membunuhku?" tanyanya ketus.

"Bu-Bukan begitu maksudku…" bela Yaya panik. Ajaib, Halilintar bukannya marah malah terlihat sangat tenang dan kembali melangkahkan kakinya menyusuri trotoar diikuti oleh gadis berkerudung pink yang sekarang berada di belakangnya.

Dan lagi-lagi aksi diam-diam an terjadi lagi diantara mereka berdua. Hingga mereka pun sampai di sebuah taman bermain anak-anak. Halilintar segera berbelok ke sana untuk mengambil jalan pintas menuju apartemen mereka, Yaya bahkan tidak tahu kalau bisa lewat sini. Dia sengaja memotong jalan karena sebentar lagi matahari akan terbenam dengan sempurna, dan di jam-jam inilah biasanya para siluman mulai aktif dan berkeliaran. Jadi lebih baik cepat pulang sebelum gangguan mulai berdatangan.

"Hei Halilintar" tegur Yaya pada pemuda di depannya.

"Apa?" sahut Halilintar yang saat ini terlihat sangat was-was. Kedua matanya tak henti-hentinya melirik ke semua arah, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang muncul mendadak.

"Aku sebenarnya penasaran sejak kemarin. Apa semua orang yang tinggal di apartemen kita berasal dari berbagai tempat? Kalau iya, bagaimana dengan kalian berdua?" lanjut gadis itu bertanya, hanya sekedar untuk memecah keheningan sebenarnya. Karena tahu saja, taman bermain ini rasanya mengerikan di jam-jam begini.

Dan Halilintar sepertinya paham apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu, jadi dia hanya menanggapi pertanyaan tersebut dan menjawab. "Kami berasal dari desa ninja vampir di daerah utara. Aku tidak begitu ingat letaknya dimana, tapi setahuku tempat itu terletak di daerah lembah yang diapit oleh deretan pegunungan. Karena di kelilingi oleh banyak gunung tinggi tempat itu jadi jarang mendapat paparan sinar matahari ditambah lagi akses keluar masuk desa yang sulit dijangkau membuat tempat itu jadi begitu terpencil. Sempurna sekali bukan untuk makhluk-makhluk seperti kami?" Jelasnya.

"He~ Kalau disana itu seperti apa?" tanya Yaya lagi.

"Secara sebenarnya sama saja dengan desa lain. Ada kegiatan berladang, berkebun, dan beternak, bahkan ada sekolah, rumah sakit dan kantor pemerintahan. Bedanya hanya penduduknya saja vampir. Ada manusianya sih, tapi mereka pindah setelah dua atau tiga tahun." Jawab Halilintar.

Seketika Yaya terhenyak dan memucat saat mendengar penjelasan terakhir dari laki-laki dengan manik ruby tersebut. Halilintar hanya tersenyum sambil mendengus saat melihat reaksi milik gadis itu. "Jangan salah paham dulu. Mereka pindah bukan karena ketakutan, mereka itu orang-orang dari kantor pemerintahan yang memang harus mendapat rolling." Dan memperjelas ucapannya sebelumnya.

Membuat Yaya be-oh ria sambil menghela nafas lega. Setelah itu gadis itu kembali menyunggingkan lembut "Kedengaran tempat itu sangat indah ya. Aku jadi ingin sekali-kali berkunjung ke sana" katanya.

Dan saat itu juga Halilintar langsung berhenti dan senyuman di wajah pun lenyap seperti terbawa hembusan angin dingin di waktu petang itu. "Tidak bisa" desahnya pelan.

"Eh?"

"Tempat itu… sudah tidak ada." Sambung pemuda tersebut dan membuat Yaya membelalak saking terkejutnya. "Sepuluh tahun yang lalu terjadi kebakaran hebat di desa. Tak hanya itu, para penduduknya yang merupakan vampir pun dibantai habis. Dan yang tersisa dari sana hanya tinggal aku dan Blaze" lanjut Halilintar sembari menengadahkan kepalanya ke atas menatap bulan purnama.

Alhasil, sekarang Yaya pun merasa menyesal menanyakan hal itu sebelumnya. Halilintar pasti sedih sekali ketika menceritakan semua ini. "Maaf… aku tidak bermaksud–"

"Tidak apa-apa" ucapan Yaya pun segera terpotong dengan selaan datar dari Halilintar. "Sudahlah ayo kita pulang. Yang lain pasti sudah menunggu" lanjutnya lagi mengajak gadis tersebut dan kembali melangkahkan kakinya.

Gadis itu pun tersentak dan dengan buru-buru mencoba untuk menyusul pemuda di depannya yang sudah lumayan agak jauh. "Eh? Tunggu!"

Tapi ketika dia mulai melangkah dari dalam tanah yang dipijak di sekitarnya tiba-tiba saja muncul semacam aura berwarna hitam pekat. "Kyaa!" Yaya langsung menjerit panik begitu benda misterius itu mulai mengelilinginya dan membuat Halilintar di depannya dengan refleks segera menoleh pada gadis itu. Kedua manik ruby nya mengecil begitu melihat si gadis tengah di kepung oleh benda aneh berwarna hitam yang muncul dari dalam tanah dan semakin meninggi ke angkasa hingga sempurna menutup jalan keluar bagi Yaya.

.

.

"Dimana ini?"

Setelah insiden yang terjadi barusan, Yaya pun membuka matanya dan menemukan dirinya sedang berada di tempat yang sangat sepi dan gelap. Yah tidak bisa dibilang gelap juga karena dia masih bisa melihat anggota tubuhnya dengan jelas, mungkin lebih tepatnya tempat itu hanya seperti di cat menggunakan warna hitam saja.

Rasanya seperti berada alam bawah sadar atau dimensi lain, tapi ini terasa sangat nyata. Padahal seingatnya tadi dia masih berada di taman bermain bersama Halilintar.

Jadi gadis itu pun mulai melangkah maju dan mencoba meraba-raba sekitarnya, kalau-kalau saja dia menemukan petunjuk tentang tempatnya berada sekarang ini. Hingga tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang keras, dingin dan rata di depannya. "Dinding?" gumam gadis itu. Tentu saja dia bingung, di tempat yang mirip dunia astral ini ada ujung pembatasnya. Tapi kemudian dia paham setelah melihat ke atas dimana terdapat sebuah lubang besar menganga yang menampakan pemandangan langit malam bermandikan cahaya bulan purnama dan tanah yang dipijaknya merupakan tempat terakhir dia berdiri sebelumnya.

Kesimpulannya Yaya masih berada di taman bermain dan yang pasti ini dunia nyata. Hanya saja sepertinya ada semacam tembok yang mengelilingi dan mencegahnya keluar.

"Oi, kau tidak apa-apa!?" Sementara dari sisi luar dinding ini, Halilintar terdengar berteriak sekeras-kerasnya untuk menanyakan keadaannya.

Seketika Yaya pun dibuat lega olehnya, dia pun segera menyahut agar pemuda itu tidak semakin panik. "Iya, aku baik-baik saja! Hanya sepertinya ada dinding yang mengelilingiku untuk keluar!" serunya.

"Dinding?" Halilintar mengernyit, setelah itu dia mendongkakkan kepalanya ke atas dan memperhatikan baik-baik wujud dari benda hitam besar, rata dan keras tersebut. Benar, ternyata ini hanya dinding. Tapi setelah menyadari itu juga Halilintar malah jadi memasang wajah masam dengan tatapan 'krik-krik', dia seperti menyesal karena sudah terlalu khawatir. "Tunggu dulu. Jangan bilang makhluk ini… Nurikabe?" gumamnya datar.

"Nurikabe?" dan membuat Yaya kembali bertanya-tanya.

Nurikabe. Adalah siluman berbentuk tembok yang suka muncul di malam hari dan punya kebiasaan membuat para pelancong tersesat dengan cara menghalangi jalan mereka agar tidak bisa lewat. Ia kerap menyamar sebagai dinding rumah atau bangunan yang belum jadi, meniru wujud dinding-dinding lainnya. Kadang ia juga bisa berada di tengah jalan, menghadang siapa pun yang ingin lewat. Dikatakan wujud aslinya sebenarnya hanya seekor anak anjing dengan kaki dan tangan pendek serta telinga yang panjang.

"Ya kira-kira begitulah. Jangan khawatir, secara dia ini bukan siluman yang berbahaya, dia cuma iseng menghalangi jalanmu. Paling besok pagi juga sudah hilang" jelas Halilintar sangat tenang, yang saat ini sedang menyenderkan diri dengan nyaman pada dinding luar Nurikabe tersebut.

"WHAT THE!" Sayangnya Yaya tidak sepikiran dengan pemuda bermata delima tersebut. Besok pagi katanya? Bayangkan saja, siapa yang mau menghabiskan malam di dalam tubuh seekor siluman yang bahkan punya bentuk jelas saja tidak?

"Ha–Halilintar-kun, kau mau menemani disini sampai pagi kan?" tanya Yaya panik.

"Ngomong apa kau? Ya pastilah nggak. Untuk apa aku menemanimu? Mendingan aku pulang" tolak pemuda tersebut dengan sebuah seringai usil. Dan sukses membuat Yaya membeku dengan mulut menganga di tempat. "Sudah ya, aku duluan" lanjutnya lagi sembari mengibaskan tangannya dan mulai melangkah pergi dengan santai.

"Arrghh!" Dan seperti yang diduga Yaya langsung kalang kabut dan berteriak panik, Halilintar yang mendengar teriakannya pun segera menghentikan langkah kakinya dan kembali menoleh ke arah dinding tersebut. "Setidaknya keluarkan dari sini, tolong" pinta gadis itu lirih.

"Hah? Katanya kau pintar. Kalau begitu cari saja cara keluar sendiri" goda pemuda itu masih memasang tampang usilnya.

"Jangan berkata begitu. Ayolah tolong keluarkan aku dari sini. Halilintar-kun… Halilintar-san… Halilintar-sama…" pinta Yaya lagi yang sepertinya sudah akan menangis di dalam sana.

Sesaat kemudian Halilintar pun kembali memutar punggungnya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan mulut, tubuhnya bergidik hebat karena menahan tawa. Bagi Halilintar yang sudah stress sejak pagi ini merupakan hiburan tersendiri, terlebih tidak ada yang akan melihatnya menyengir ataupun tertawa, termasuk Yaya yang sedang berada di belakang tembok tersebut. Padahal dari awal dia sama sekali tidak ada niat untuk menjahili gadis itu.

"Ehem" setelah merasa puas tertawa, pemuda itu pun kembali berdiri tegak dan memasang ekspresi dinginnya. Matanya yang berwarna merah seperti buah delima itu seketika bersinar, dia pun berjalan menghampiri tembok itu sambil menggigit jempol kanannya hingga berdarah dan menghentakkannya. Cipratan darah miliknya yang berhamburan di udara tersebut pun langsung berkumpul jadi satu dan membentuk sebilah katana berwarna hitam legam.

Ini merupakan salah satu keahlian ninja vampir, mereka bisa membuat senjata dari darah mereka sendiri.

Halilintar pun langsung menggenggam erat gagangnya dan mulai mengayun-mengayunkannya. "Menjauh dari dinding" perintahnya singkat sambil memasang kuda-kuda bertarung. Gadis itu hanya menurut dan langsung mengambil langkah mundur panjang dari tempatnya berdiri.

Halilintar memicingkan matanya. "Sebenarnya aku juga tidak suka kalau kau harus mati sekarang." Ujarnya pada siluman berwujud tembok tersebut, meskipun dia terlihat seperti hanya menggumam sendiri karena makhluk itu tidak bisa membalas ucapannya akibat keterbatasan kemampuan untuk mengucapkan kosa kata. "Tapi maaf, aku harus menebasmu!" tanpa ancang-ancang Halilintar pun langsung melesat secepat kilat sembari bersiap mengayunkan katana nya.

"Are? Lihat apa yang kita temukan disini?"

Tiba-tiba saja langkahnya pun terhenti saat merasakan kehadiran orang sosok yang terasa asing baginya. Membuat Halilintar tidak jadi menebas Nurikabe tersebut dan lebih memilih mengacungkan senjatanya pada orang yang dianggapnya ancaman tersebut.

Dilihatnya baik-baik di depan matanya sekarang, ada dua orang misterius dengan jubah putih panjang melekat di tubuh mereka. Yang satu adalah pria bertubuh tinggi jangkung namun lumayan kekar dengan rambut blonde. Dan yang satu lagi perempuan manis dengan rambut berwarna navy yang diikat tinggi menjadi dua. Mereka sama-sama memakai pakaian berwarna hitam di balik jubah mereka yang tertiup angin.

"Kyuuketsuki Ninja?" gumam yang perempuan dengan ekspresi bingung.

Halilintar kembali melirik-lirik lagi ke arah mereka dan menemukan sesuatu yang sangat menarik menempel di jubah yang sedang mereka kenakan. Sebuah medali berbentuk dream catcher dengan bintang lima di tengahnya. Dari benda besi berwarna keperakan yang mengkilat terkena pancaran sinar bulan tersebut, Halilintar tahu dengan siapa atau lebih tepatnya dari organisasi apa dia berhadapan saat ini. Pemuda itu hanya mendengus dan tersenyum sinis.

"Jadi begitu? SHAMAN… ya?"

To Be Continue.