Dentingan lonceng yang berbunyi keras dan suara kembang api serta teriakan dari orang sekitar mereka tidak berpengaruh sama sekali. Chanyeol sebagai pihak yang mendominasi pergerakan bibirnya bahkan semakin mendorong Baekhyun namun tangannya yang berada di belakang kepala gadis itu juga menahan sehingga ia bisa melumat dan menyesap lebih dalam bibir tipis itu yang kini ia rasakan memang manis seperti bayangan dalam mimpinya.
Dan meskipun ini adalah ciuman pertama bagi Baekhyun, nyatanya dirinya terhanyut dalam setiap pergerakan yang Chanyeol lakukan dan membiarkan pria itu menginvasi gerakan bibir dan lidahnya, bahkan ia menurut setiap perintah Chanyeol yang meminta ia membuka mulutnya lebih lebar ataupun menggerakkan lidahnya mengikuti pergerakan lidah Chanyeol, bila bukan karena pasokan oksigen yang menipis pada masing-masing bagian paru-paru mungkin mereka tidak akan menghentikkan ciuman itu.
Chanyeol lebih dulu melepaskan bibir Baekhyun, tapi lelaki itu masih mengecup bagian atas bibir Baekhyun dan juga merasakan bagaimana pergerakan nafas Baekhyun yang terengah-engah dengan kedua matanya yang terpejam, remasan tangan Baekhyun pada kerah kemeja yang ia kenakan mulai terlepas sedangkan gadis itu kini tersenyum memandangi Chanyeol hingga pada menit kesekian badannya jatuh pada pelukan Chanyeol dengan suara dengkuran halus yang terdengar dari mulutnya, dan Chanyeol tersenyum kecil dan malah memeluk badan mungil masuk dalam dekapannya yang hangat, kepalanya mendongak keatas melihat bagaimana rintikkan butiran salju semakin lebat diatas langit malam dan cerah. Matanya terpejam sedangkan hatinya memohon permintaannya yang mungkin saja bisa dikabulkan oleh sang bintang yang baru saja berjalan turun jatuh masuk dalam kegelapan langit malam.
.
12
.
"Kau yakin tidak ingat bagaimana semalam kau bisa pulang?"
Baekhyun terdiam dan hanya menggelengkan kepalanya sedangkan kedua matanya memandang kearah cermin yang berada tepat di seberang wajahnya dan memperlihatkan bagaimana bentuk wajahnya kini, namun yang Baekhyun perhatikan adalah bagaimana bibirnya masih berwarna merah muda terang dengan garis bibir tipis.
Bila sebelumnya ia menggelengkan kepalanya untuk menjawab yang Luhan, sebenarnya dalam hatinya ingin mengungkapkan kebenaran dari kejadian semalam yang tentu saja sangat Baekhyun ingat jelas, bagaimana ia bertemu Chanyeol dengan mobil mewahnya, bagaimana mereka menghabiskan malam dengan mengikuti acara pada salah satu area yang tidak jauh dari tempat festival, bagaimana dirinya yang menghabiskan minuman dengan buah Strawberry tapi kenyataannya minuman itu mengandung alcohol dan mengakibatkan dirinya mabuk dan pingsan setelah ia dan Chanyeol—
"Ani!" Baekhyun menutup matanya sedangkan Luhan menatap bingung gadis itu yang masih duduk di atas ranjang dan kini mulai mengubur dirinya kembali untuk bersembunyi dalam selimut dan kembali berteriak sambil merengek.
"Ya! Baekhyun! Kau kenapa?" Luhan memukul pantat Baekhyun yang tertutupi selimut dan berhasil membuat kepala gadis itu muncul keluar.
"Luhannie.." mata puppy-nya terlihat dengan mulut mengerucut hingga hampir menutupi lubang hidungnya.
"Kau kenapa, sejak kau bangun tidur tingkahmu benar-benar aneh! Tidak ingat kau kemana, tidak ingat apa yang kau lakukan semalam, bahkan aku yakin kau tidak ingat bagaimana Chanyeol membawamu pulang kan! Dasar anak nakal!" Luhan memukul pantatnya lagi sedangkan Baekhyun masih menekuk bibirnya kedalam.
"Kalau Ayah dan Ibu-mu tahu bahwa Chanyeol yang menggendongmu dari lobby Hotel hingga sampai ke kamar ini dia pasti akan merutukimu Baek."
Baekhyun mengernyitkan alisnya mendengar kalimat apa yang baru saja Luhan katakana. "Kenapa dengan Chanyeol yang menggendongku dari lobby hingga ke kamar?"
Luhan seketika membelakkan matanya mendengar pertanyaan itu.
"Biar ku ulangi, Chanyeol menggendongmu dari lobby bawah hingga ke kamar. Sekali lagi, Chanyeol. Menggendongmu dari Lobby bawah hingga ke kamar. Chanyeol, Calon Raja Glorfindel!"
Dan Baekhyun membalasnya dengan menggelengkan kepala.
"Astagaaaaa! Baekhyun! Dia seorang Chanyeol! Calon Raja! Dan dia bahkan bukan pacarmu atau kekasihmu! Dia juga bukan kakakmu! Pastilah orang tuamu marah besar, bagaimana bisa Puterinya tertidur di mobil orang lain dan membiarkan pria itu yang membawanya ke kamar hotel." Luhan memberikan gambaran dengan tangannya. "Untung saja Chanyeol bukan tipe pria mesum seperti Sehun atau Kris-ah maksudku Kakakmu itu." Luhan menyelesaikan ucapannya dan setelahnya menggaruk sedikit telinganya yang mungkin tidak gatal.
"Kalau Ibu-ku tahu Calon Raja Glorfindel itu mengambil ciuman pertamaku aku sangat yakin Chanyeol yang akan dibunuh oleh Ayah dan Kakakku! Dia mesum! Dan sudah seharusnya dia menggendongku karena aku kelelahan menunggunya!" Baekhyun menyikap selimutnya dan kembali dalam posisi duduk sementara Luhan yang sebelumnya akan berjalan menuju lemari pakaian menahan langkahnya. Kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar dan tersenyum, matanya membelak lebar setelah melihat BaeKhyun yang masih memasang wajah khas bangun tidurnya.
"Wa-e?" Baekhyun yang masih kesal bertanya pada Luhan yang menatapnya.
"Chanyeol?"
"Kenapa dengan Chanyeol?" Baekhyun menyahut lagi dengan wajah yang sama.
"Chanyeol menciummu? Kalian berciuman? Aaaaahhhhh!" Luhan memekik sambil berlari kearah Baekhyun dan hendak memeluknya sementara Baekhyun yang baru sadar akan kebodohan yang ia katakan sebelumnya menarik nafas panjang dan kembali kaku. Tangannya menutup mulutnya sementara Luhan sudah memeluk dan bahkan menggoyang-goyangkan badannya melampiaskan kegembiraan setelah mendengar berita itu.
"Jadi kalian sudah menjadi pasangan kekasih?"
"E-eh?"
Baekhyun terdiam dan menggigit bibirnya mendengar pertanyaan Luhan lagi.
"Tunggu.. kalian belum mengutarakan perasaan masing-masing?"
"A-aku tidak tahu.. hanya saja ia tiba-tiba menciumku setelah—
"Setelah…?"
"Chanyeol hangat.."
"Aku suka memelukmu.."
"Aku suka saat aku tidur kau memelukku.."
"Tidurku terasa hangat dan bahkan mimpi-mimpiku terasa indah."
"Aku suka melihatmu tertawa.. aku suka saat kau khawatir padaku.."
"Aku suka semuanya.. tapi itu hanya dalam mimpi."
"Aku hanya bisa merasakan semuanya dalam mimpi.. bahkan ciuman pertamaku pun hanya dalam mimpi!"
"Kris akan membunuhku bila tahu aku memimpikanmu setiap malam.. hehe"
"Chanyeoolll..."
"Channn..."
"Aku juga suka suaramu."
Baekhyun memejamkan matanya dan meremas rambutnya mengingat kejadian semalam terutama segala kalimat yang selama ini hanya ada di pikirannya dan dalam mimpinya sudah ia katakana langsung dihadapan Chanyeol semalam.
"Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh!" Baekhyun berteriak kencang, menjatuhkan dirinya pada ranjang kasur dan menendang-nendanng kakinya sendiri, Luhan kembali menatap aneh pada tingkah Baekhyun dan bahkan dirinya sendiri meyakinkan bahwa yang ia lihat adalah gadis berusia 20 tahun dan bukannya anak gadis berusia lima tahun.
Luhan baru saja akan menanyakkan apa yang terjadi lagi pada Baekhyun yang kini malah berteriak-teriak, mengusak rambutnya sendiri dan bahkan menendang-nendang kakinya, kini gadis itu sudah berguling ke kanan dan ke kiri diatas ranjang. Tapi mendengar bunyi bel pintu kamar hotelnya yang entah sudah keberapa kali membuat kakinya berlari cepat untuk melihat siapa yang tengah meneror kamarnya.
"Ch-chanyeol!"
"Luhan." Chanyeol membalas sapaan yang diberikan oleh Luhan, meskipun ia bingung dengan tatapan yang Luhan berikan. Biasanya Luhan akan tersenyum datar dan acuh, kini gadis dihadapannya menahan pintu kamar hotel untuk tidak terbuka lebar dan kemudian senyuman lebar dengan wajahnya yang bersemu-semu.
"Ada apa? Kau mencari Baekhyun?" Luhan kembali mengagetkannya dengan membawa nama Baekhyun.
Chanyeol memicingkan pandangannya. "Sebenarnya, aku mencari kau dan Baekhyun untuk mengingatkan sarapan. Aku tunggu kalian di restoran." Jawaban singkat diberikan olehnya meskipun terdengar nada yang sedikit gugup tapi setelahnya ia langsung melangkah pergi kembali ke kamarnya, sementara Luhan belum sempat membalas apapun akhirnya hanya terdiam pada posisinya dan menutup pintu kamarnya.
Ia kembali berlari masuk kedalam kamar yang masih terdapat gadis mungil yang berguling-guling dan kini tenggelam dalam selimut seakan-akan badannya akan menjadi sushi roll seperti makanan semalam yang ia santap dengan Sehun—itu pikirannya.
"Oh Baekhyun! Ayolah!'' Luhan mendorong-dorong badan gadis itu hingga gulungan selimutnya terlepas.
"Chanyeol baru saja datang—
"HA! Kemana? Dia tidak menanyakan aku kan? Apa dia masuk kedalam?"
"Tidak! Dengarkan aku dulu." Luhan menahan tangan gadis itu untuk mengusak rambutnya atau melakukan apapun. "Dia tidak mengatakan apapun dan hanya mengingatkan waktu sarapan bersama pagi ini, aku juga tidak menanyakkan apapun padanya.. jadi mungkin kalian akan bersikap sewajarnya saja seperti biasa." Luhan menjelaskan dengan santainya.
"Bolehkah aku bilang tidak mengingat kejadian apapun semalam?" Baekhyun menatap Luhan dengan wajah memelas dengan mata puppy-nya dan jangan lupakan bibirnya yang menekuk kedalam hingga pipi mochi-nya terlihat menggembung.
Luhan mengangkat bahunya. "Well.. itu terserah padamu, aku hanya bisa menjaga informasi ini untuk diriku sendiri dan mungkin akan menjadi kunci balas dendamku pada Chanyeol jika ia menggangguku nantinya."
Luhan tertawa diikuti Baekkhyun yang pada akhirnya tertawa setelah sedari dia bangun sebelumnya hanya melamun dan bertingkah aneh.
"Akhirnya kau tertawa.." Luhan tersenyum dengan tangannya yang gemas ingin mencubit pipi Baekhyun.
Baekhyun menganggukkan kepala dan masih tetap tersenyum memandang Luhan, sudah lama ia tidak merasakan kehangatan dan santai seperti ini mengingat belakangan waktu selama di Istana Eowyn mereka lebih berfokus berlatih bersama, mengatur strategi, dan juga kegiatan sibuk lainnya. Bahkan seingat Baekhyun, ia dan Puteri Mahkota lainnya hanya bisa berbicara terbuka satu sama lain hanya disaat waktu tidur malam dan Baekhyun selama ini selalu menghabiskan malamnya bukan pada tempat tidur di kamarnya, melainkan bersama sosok pria yang mencuri ciuman pertamanya.
"Baekhyun, aku penasaran akan sesuatu." Luhan memandang kearahnya lagi dengan tatapan mencurigakan.
"K-ke-kenapa?"
"Bagaimana rasanya dicium oleh Chanyeol?"
Saat itu rasanya Baekhyun ingin kembali menghilang dari hadapan Luhan.
.
.
Sehun dan Chanyeol lebih dulu tiba di ruangan Restoran Hotel tempat mereka akan sarapan bersama, meja yang khusus akan ditempati oleh para Putera Mahkota dan Puteri Mahkota itu terkesan sangat private karena letaknya yang berada pad sudut paling ujung dan tedapat pembatas yang menutupi ruangan meja tersebut, ditambah dengan jendela kaca yang memperlihatkan langsung suasana kota itu di pagi hari.
"Semalam aku makan dengan Luhan di Restaurant Jepang itu, dan memang benar makanannya luar biasa enak." Sehun masih menceritakan kesan makan malamnya bersama Luhan yang benar-benar membuat hatinya senang dan tidak bisa berhenti untuk menceritakan itu pada kakak keduanya yang masih memejamkan mata dan duduk di hadapannya.
"Dan kalian makan sushi lalu melihat kembang api dari rooftop restoran itu dan Luhan sama sekali tidak marah padamu atau pun menjauhimu?" Chanyeol mengucapkan kalimat semuanya itu dengan mata terpejam dan masih menyilangkan tangannya didepan dada.
"Kau menceritakan itu sejak semalam Sehun-ah.. bisakah kau tak mengulangnya terus?" Chanyeol membuka matanya, memandang Sehun sebentar yang sudah duduk terperosot memasang wajah merenggut pada kakaknya.
"Kau kakak paling menyebalkan! Makanya jangan tinggalkan adikmu sendirian dan menikmati pesta di jalanan tanpa mengajak kami untuk bergabung! Jahat sekali!"
Chanyeol sedikit mendengus mendengar jawaban Sehun. "Kalau aku memintamu bergabung, aku yakin kau tidak akan merasakan kenikmatan—
Sehun yang bergerak cepat pindah kesamping Chanyeol dan menutup mulut kakaknya itu dengan kedua tangannya.
"Luhan datang." Sehun berbisik pelan, dan saat Chanyeol menolehkan kepalanya terlihat Luhan dan Baekhyun berjalan bersama dengan sikap yang berbeda. Luhan masih seperti biasanya berjalan santai dan sesekali menunjukkan apa yang ia lihat pada Baekhyun, sedangkan gadis itu membawa badannya memutar untuk melihat dekorasi dan bentuk dari restoran itu dengan mulut yang berdecak kagum tak berhenti bergerak bahkan hingga ia tiba di meja dimana Sehun dan Chanyeol duduk bersebelahan saat ini.
"Ada apa dengan kalian?" Luhan lebih dulu bersuara melihat tingkah laku dua bersaudara Glorfindel yang saling memukul tangan satu sama lain.
"Tidak apa." Sudah jelas Sehun yang lebih dulu menjawab dan Chanyeol masih menjadi pihak tersenyum menggoda yang ditujukan pada Sehun dan Luhan yang saling memandang tanpa diam.
Terlepas dari tingkah Sehun dan Luhan, Baekhyun yang tidak mengerti dengan kondisi yang terjadi memilih langsung duduk dihadapan Chanyeol tanpa menyapa atau pun menatap wajah pria dihadapannya. Chanyeol yang menyadari sikap Baekhyun langsung memajukkan wajahnya menghampiri Baekhyun.
"Tidakkah kau ingin menyapaku atau Sehun?"
Suara beratnya yang ia keluarkan tentu saja terdengar oleh Baekhyun, namun gadis itu hanya terdiam dan tidak mau menatap wajah Chanyeol yang jelas-jelas berada di hadapannya.
"Dia masih mabuk, I guess." Luhan mewakili Baekhyun untuk menjawab, bahkan ia menambahkan usakan pada rambut Baekhyun hingga terlihat berantakkan. Baekhyun mendengus kesal dan merapikan rambutnya kembali sementara Chanyeol masih memperhatikan gadis dihadapannya itu dengan senyuman kecil di wajahnya.
"Ckckck, anak kecil mulai berani minum alcohol. Ya Hyung! Kau tidak melarangnya, apa kau memang yang memberikan minuman itu supaya dia mabuk?" Sehun tertawa cukup keras namun tak lama ia mengeluh kesakitakan pada kepalanya yang dipukul cukup keras oleh Chanyeol.
"Jangan asal bicara! Kau tanya sendiri, bagaimana dia bisa minum dan mabuk." Chanyeol mendengus kesal. Melipat kembali kedua tangannya di depan dada dan mendarkan punggungnya pada bantal tempat duduk sementara pandangan matanya masih memperhatikan wajah Baekhyun dengan serius, terlebih bagian bibirnya yang tipis dan tengah bergerak dengan imutnya saat mengucapkan serangkaian kalimat pada Sehun. Chnayeol tidak peduli dengan apa yang Baekhyun ceritakan mengenai hal yang ia ingat hanya saat berjalan bersama Chanyeol menuju tempat pesta jalanan dan selebihnya ia tidak tahu, Chanyeol sungguh tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah ingatan yang jelas masih menyimpan segeala memori malam kemarin yang tidak akan pernah ia lupakan karena rasa manis bibir Baekhyun yang sekarang terasa nyata baginya dan sialnya membuat dirinya ingin merasakan lagi dan lagi, bahkan lebih.
Chanyeol menggelengkan kepala dengan cepat dan meminum air putih yang ada dihadapannya dengan sekali tenggak.
"Seandainya kakakmu tahu apa yang terjadi tadi malam, Aku yakin ia sudah mengurung dirimu di kamar dan tidak akan membiarkanmu keluar kamar salama satu bulan."
"Ya, katakan itu pada seseorang yang pernah mengalaminya." Chanyeol menyahut kalimat yang baru saja Sehun ucapkan kearah Baekhyun, yang sontak membuat Luhan tertawa dan Baekhyun yang tidak mengerti menelan ujung sendoknya dan dibiarkan dalam mulutnya sambil memperhatikan tingkah mereka bertiga.
"Tidak usah kau pikirkan. Itu bukan urusanmu." Chanyeol menjentikkan jarinya di depan wajah Baekhyun dan seketika tatapan Baekhyun mendelik tajam kearahnya dengan bibirnya yang mengerucut kecil dan Chanyeol bersumpah ingin mencium bibir itu lagi tapi ia harus bersusah payah menahan diri dihadapan adiknya dan juga Luhan.
"Kau benar-benar tidak ingat apapun yang terjadi semalam di pesta jalanan itu?" Chanyeol mengungkit pertanyaan yang sudah hampir tiga puluh menit berlalu.
Baekhyun terdiam kaget, tangannya bahkan kaku hanya untuk sekedar mengangkat sebuah potongan buah anggur yang ada untuk ia suapkan kedalam mulutnya. Luhan dan Sehun juga menambah suasana suram karena mereka hanya terdiam dan memandanginya, menuntut sebuah jawaban atas apa yang Chanyeol katakan. Meskipun Luhan sedikit menganggukkan kepala seabgai kode jawaban 'Jawab iya kau tidak ingat apapun' seperti yang ia bicarakan dengan Luhan sebelumnya di dalam kamar.
"A.. a-ku benar-benar tidak ingat.." rantaian kalimat yang benar-benar sulit untuk Baekhyun katakan akhrinya bisa terdengar oleh Chanyeol.
"Kau tidak asyik Baek." Sehun yang lebih dulu menyahuti dan kemudian Luhan memberikan pukulan pada kepalanya dan mereka kembali pada pokok permasalahan yang hanya mereka mengerti, sedangkan Chanyeol yang masih memandangi Baekhyun kini semakin menatap curiga dan bahkan mendekatkan kembali wajahnya kearah gadis itu dan menatapnya dalam dengan manik miliknya.
"Kau melupakan sesuatu kejadian penting semalam." Bisikan dari suara bass itu tepat terdengar dihadapan wajahnya dan Baekhyun hanya bisa memejamkan matanya menghindari tatapan Chanyeol, sementara pria itu sudah kembali lagi dalam posisi duduknya. Wajahnya tersenyum penuh kemenangan dan bahkan kini ia mulai menyantap makanannya tanpa melepaskan pandangannya pada Baekhyun yang semakin gugup dihadapannya dan enggan untuk bahkan sekedar melihat kearahnya.
Kegiatan sarapan pagi itu berlanjut dan terlihat seperti dua pasangan yang menikmati waktu pagi mereka, Sehun dan Luhan kembali ke sikap yang biasanya. Saling menggoda dan menjahili satu sama lain namun yang terlihat kini Luhan lebih banyak tersenyum dan tertawa lebar dengan apa yang dilakukan Sehun, berbeda dengan sikapnya beberapa hari lalu yang selalu terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Sehun.
Chanyeol dan Baekhyun? Chanyeol masih menikmati makanannya dan memandangi Baekhyun tanpa berniat sekalipun mengalihkan pandangannya, sedangkan Baekhyun merasa risih dan aneh diperhatikan oleh Chanyeol bahkan untuk melanjutkan makanannya pun dia enggan.
"Semalam ada bintang jatuh."
"Hah benarkah? Kapan?"
"Semalam." Chanyeol menjawab singkat dan menahan senyumannya dengan berpura-pura melanjutkan menyuapkan makanannya masuk dalam mulutnya.
"Ternyata benar ada bintang jatuh." Baekhyun bergumam pelan dengan terduduk lemas.
"Sayang sekali kau tidak melihatnya."
"Ini semua gara-gara dirimu yang menciumku tiba-tiba! Ish!" Baekhyun memprotest dengan suara kerasnya, bahkan ia menusuk buah pada piringnya dengan kasar tanpa memperdulikan kondisi di sekitar mejanya. Chanyeol yang tersenyum sendiri dan menahan suara tawanya, disampingnya Sehun terbengong memperhatikan Baekhyun dan kemudian melihat kearah kakaknya, bahkan ia juga melihat Luhan yang menutup mulutnya dengan satu tangannya dan hanya menggelengkan kepala saat ia mendapati Sehun memperhatikannya.
Baekhyun baru menyadari sesuatu hal yang salah seharusnya tidak ia ucapkan setelah selang beberapa menit, ia mengangkat kepalanya sedikit melirik kearah Luhan dan kemudian Sehun sebentar dan setelahnya ia memilih beranjak dari kursinya dan berlari kembali ke kamarnya.
"Bodoh! Bodoh! Benar-benar bodoh kau Baekhyun!" Ia merutuki dirinya sendiri selama perjalanannya melangkah kembali ke kamar. Ia tidak peduli atas pandangan orang lain yang melihat tingkahnya didalam lift yang berbicara pada dirinya sendiri, yang ia pikirkan bagaimana caranya cepat kembali ke kamar dan bersembunyi dalam selimutnya hingga mereka kembali ke Eowyn.
Saat pintu lift terbuka di lantai tempat kamarnya berada, kembali ia mengumpati dirinya sendiri yang melupakan kunci kamarnya dipegang oleh Luhan.
"Aaaaahhh!" Baekhyun menarik rambutnya dan tergeletak duduk di depan pintu kamarnya, lulutnya ditekuk dan merebahkan kepalanya diatas lututnya, kedua tangannya menutupi bagian wajahnya dan berharap Luhan akan tiba dan secepatnya membukakan kamar mereka.
Sayangnya apa yang diharapkan Baekhyun tidaklah dikabulkan, karena pada kenyataannya Chanyeol-lah yang menyusul dirinya yang kini berjalan pelan keluar dari lift dengan kedua tangannya yang berada didalam kantung celananya dengan senyuman yang belum hilang sedari tadi. Katakanlah Chanyeol gila karena selalu membayangkan wajah Baekhyun yang menahan malu dan juga berbohong mengenai ingatannya tentang kejadian semalam.
Langkahnya berhenti tepat dihadapan Baekhyun yang masih pada posisi sebelumnya, Chanyeol menekuk lututnya sebagai tumpuan dan sedikit berlutut untuk menyamakan posisinya dengan Baekhyun.
"Kau mau apa?"
Chanyeol melebarkan matanya, tidak menyangka Baekhyun mengetahui kehadirannya bahkan gadis itu tidak membuka mata atau pun mendongak untuk melihatnya sebentar.
"Kenapa menghindariku."
"Menurutmu.." Baekhyun menyahuti dengan suara merajuknya dan masih dalam posisi yang sama.
Seharusnya Baekhyun melihat langsung bagaimana wajah Chanyeol yang tidak berhenti tersenyum melihat tingkahnya.
"Itu ciuman pertamaku juga bila kau mau mengetahuinya." Chanyeol kembali bicara dan kini ia sudah duduk bersebelahan dengan Baekhyun walaupun pandangannya terarah pada wajah Baekhyun yang tersembunyi.
"Aku tidak percaya." Baekhyun menyahuti kesal.
Chanyeol tidak menjawab apapun dan terdiam sebentar menikmati pemandangannya dimana Baekhyun masih bertahan menahan diri untuk mengangkat wajahnya dan bicara berhadapan dengannya, meskipun badannya sendiri tidak tahan untuk berdiam lama terlihat dengan kedua sepatunya yang bergerak pelan saling bergesekkan.
"Jangan minta padaku untuk melupakan kejadian semalam." Chanyeol akhirnya memecah keheningan diantara mereka berdua. "Aku sudah terlalu lama menunggu untuk mencium bibirmu entah sejak kapan, dan jangan pernah memintaku untuk melupakannya atau bahkan tidak menganggap ciuman itu pernah ada. Karena itu adalah salah satu hal terindah yang akan aku simpan dalam memori otakku, aku tidak melarangmu untuk melupakannya atau pun menganggapnya tidak pernah terjadi. Bahkan kalau kau mengatakan pada semua orang kau tidak ingat apapun tentang semalam aku tidak akan melarang dan marah padamu, hanya.." Chanyeol terdiam sebentar dan menahan tangannya untuk mengusap rambut Baekhyun yang tergurai.
"Jangan pernah memintaku untuk melupakannya."
Baekhyun terdiam dan masih menunggu Chanyeol untuk melanjutkan kalimatnya atau beranjak pergi, tapi ia masih merasakan aroma tubuh pria itu didekatnya dan entah sedang apa karena sama sekali tidak ada pergerakan dan suara terdengar dari sampingnya.
"Masuklah ke kamarmu. Luhan dan Sehun tidak akan kembali dalam waktu dekat." Chanyeol berucap singkat dan kemudian beranjak berdiri, baru saja ia akan melangkah lebih jauh meninggalkan Baekhyun langkahnya kembali tertahan dan kemudian berbalik untuk melihat gadis itu yang masih dalam posisi yang sama.
"Bolehkah aku berharap kau akan merindukanku nantinya?" Ini bukanlah kalimat yang Chanyeol lontarkan kepada Baekhyun seperti sebelumnya, kalimat itu hanya terdengar di dalam hatinya dan dalam pikirannya yang hanya bisa ia dengar sendiri dan juga Yoora yang masih berada dalam pikirannya.
"Kau tidak mengatakan padanya?" Yoora menyahut dengan suara sedihnya.
"Untuk apa?"
"Setidaknya katakan perasaamu padanya, katakan kalau kau memang menciumnya dengan penuh perasaan dan beritahu dia kalau kau akan pergi beberapa hari.."
"Dan memberikan harapan yang tidak pasti?"
"Kau akan kembali! Ingat itu! Penglihatanku akan masa depanmu masih panjang Chanyeol! Jangan bicara sembarangan!"
"Kita tidak tahu keadaan disana, sudah, katakan saja pada Ratu Eleanor aku akan tiba dalam beberapa jam kedepan."
Chanyeol menutup pikirannya sesaat setelah masuk dalam kamarnya, tanpa membuang waktu panjang ia mengemasi barang-barangnya untuk bersiap pergi ke Istana Eleanor.
-Loves of Tales-
Baekhyun terbangun dari tidurnya dan melihat sekeliling isi kamarnya yang masih terasa sepi, alinya mengernyit bingung karena seingatnya ia tertidur dengan duduk didepan kamarnya, bukan di tempat tidurnya.
"Apa Chanyeol yang membawaku masuk?" Baekhyun bergumam pelan, tangannya menyibak selimut tebal yang mentupi badannya dan beranjak turun dari ranjang untuk melihat keadan diluar kamarnya.
"Luhan?" Ia berlari kecil dan mencari sosok Luhan di setiap ruangan kamar hotel, didalam kamar mandi, dapur dan bahkan balkon hotel.
"Dia kemana?" Baekhyun kembali bermonolog. "Ah, mungkin di kamar Chanyeol." Ia mengambil mantelnya dan segera beranjak keluar dari kamarnya, kakinya melangkah dengan cepat dan saat akan memencet bel pada pintu kamar itu, ia menatap bingung karena kondisi pintu yang sedikit terbuka.
"Chan..?" Baekhyun mendorong pintu itu untuk terbuka semakin lebar dan melangkah masuk dengan mengendap-endap takut ia akan bertemu orang lain atau bisa saja ia salah masuk kamar.
"Chanyeol.. aku masuk ya.." langkahnya sudah berada pada ruangan tengah kamar hotel itu, sedangkan matanya melihat sekelilinya dua kamar yang berhadapan dengan pintu yang tertutup rapat, kepala nya bergerak ke kanan dan ke kiri menimbang kamar mana yang harus ia ketuk lebih dulu. Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk melangkah mendekat pintu kamar yang berada disebelah kirinya, tangan mungilnya mengepal dan mulai mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali.
"Chanyeol.. Sehun.."
Tangannya mengetuk lagi dan kini terdengar lebih keras dibandingkan sebelumnya tapi masih belum ada jawaban juga, dan dengan kesal ia membuka knop pintu kamar itu dan membukanya secara perlahan. Hal pertama yang ia dapat rasakan adalah aroma wangian khas Chanyeol masih melekat pada ruangan itu, meskpun terlihat jelas bahwa kamar itu kosong. Tidak ada satupun barang-barang milik Chanyeol yang ada, isi lemari kamarnya bahkan tidak ada satupun baju didalamnya, ketika Baekhyun melihat kedalam kamar mandi juga terlihat kosong.
Baekhyun mengusap selimut yang terlipat rapi dengan tangannya dan merebahkan badannya diatas ranjang, tangannya bergerak naik turun merasakan suhu dingin pada selimut itu namun aroma badan Chanyeol masih bisa tercium.
"Wangi Chanyeol." Baekhyun bergumam pelan dan tersenyum sebentar, baru saja ia akan memejamkan matanya untuk merasakan lebih lama berada di dalam kamar yang Chanyeol tiduri itu, pikirannya masuk untuk mengingat mimpi-mimpi anehnya yang pernah ia alami.
Langkah kakinya dipaksakan berlari cepat meskipun tubuhnya masih terasa lemas karena ia tidak memakan apapun selama beberapa hari belakangan, tapi mendengar suara helicopter dan kendaraan mobil yang memasuki kawasan Istana itu sudah cukup menguatkan dirinya untuk berlari dan melihat sosok yang ia ingin temui.
Bahkan dirinya kembali terisak menangis hanya karena melihat bagiamana helicopter yang berada jauh diatas kepalanya bersiap akan mendarat, jantungnya berdetak tak karuan menunggu pandangan matanya melihat sosok yang ia inginkan.
"Ku mohon.. aku mohon.." ia melipat tangannya didepan dada dan tak berhenti mengusap air matanya yang mengalir deras. Tak lama setelah menyadari helicopter itu sudah dalam posisi akan mendarat ia berlari cepat dan membuka pintu istana dengan kasar, langkahnya melambat sedangkan matanya masih mencoba melihat kondisi didalam helicopter hitam itu dan mencari sosok yang ia ingin lihat.
"Chanyeol.. ku mohon.." gumamannya semakin membuat air matanya mengalir lebih deras dan bahkan tubuhnya semakin lemas hingga jatuh ke atas tanah, karena terlalu lama berdiri.
Badannya dipaksakan untuk berdiri dengan sisa-sisa tenaganya, sedangkan air matanya tak mau berhenti terus mengalir deras membasahi pipi dan wajahnya. Langkahnya semakin melambat dan tertatih, pandangannya yang mulai kabur terasa semakin membuatnya lemah karena belum menemukan sosok yang ia inginkan.
"Chanyeol.."
Baekhyun beranjak bangun dan termenung dalam posisi duduknya, tangannya mengusap kedua pipinya yang basah karena air mata dan entah kenapa ia bisa merasakan kesedihan yang sama seperti didalam mimpinya. Dadanya terasa sesak, dan bahkan untuk bernafas sedikitpun ia kesulitan hingga harus menggunakkan mulutnya untuk membantunya bernafas.
Ia menghapus aliran air matanya dan berjalan keluar dari kamar menyusul kamar kedua yang belum ia datangi. Tinggal beberapa langkah menuju pintu kamar itu, suara desahan yang terdengar dari dalam kamar membuat langkah berhenti, dan matanya berkedip cepat memastikan bahwa yang ia dengar memang berasal dari dalam kamar itu. Baru saja ia melangkahkan salah satu kakinya, bunyi angin dan dentuman pintu keras membuat badannya berbalik dan kembali ia dikejutkan dengan kehadiran Yoora serta Jongin yang berada di belakangnya.
"Yoora-na?"
Baekhyun baru ingin memeluk badan Yoora yang menghampirinya tapi Yoora sudah lebih dulu menahan badannya dan mulutnya untuk bicara.
"Dengarkan aku, gunakkan perisaimu dan tetap berada di dekat Jongin apapun yang terjadi, kau mengerti? Kris akan menemui di pesawat." Yoora menatap Baekhyun begitu dalam, dan bahkan Baekhyun tidak bisa mengatakan apapun selain menganggukkan kepala dan segera melangkah kearah Jongin.
"Kita bertemu didalam pesawat." Yoora mengedipkan matanya dan setelah anggukkan Baekhyun berhenti, Jongin menghilang membawa Baekhyun dari hadapan Yoora.
Baekhyun's Pov.
Ini pertama kalinya aku merasakan kekuatan yang dimilik Jongin, walau hanya berpegangan tangan dengannya dan tiba-tiba seluruh badanku tertarik mengikuti dirinya dan hanya beberapa detik setelahnya kami berdua sudah berada didalam pesawat. Dan Kris sudah berada dihadapanku.
"Kris!" Aku beranjak bangun dan langsung memeluk badannya, sedangkan Jongin sudah kembali menghilang dari tempat duduknya.
"Anak nakal!" Kris mencubit pipiku dan dan ditariknya dengan kasar.
"Ya! Sakit! Kenapa mencubitku?" Aku mengusap pipiku yang sebelumnya ditarik oleh tangan Kris.
"Aku merindukanmu kau tahu." Kris mengalungkan tangannya dan menarikku dalam pelukannya lagi.
"Aku tidak." Aku berbohong dan aku tahu Kris sudah mengerti dengan apa yang ku maksud karena kini ia menciumi kepalaku berkali-kali dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Baekhyun.."suara Kris terdengar lebih lembut dan entah kenapa membuatku sedikit merinding mendengarnya. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya dan benar saja, raut wajahnya lebih kaku dan tidak ada senyuman pada bibirnya.
"Kenapa? Apa sesuatu terjadi?" Aku bertanya padanya.
"Dengarkan aku baik-baik." Kris memegang erat kedua lenganku dan posisi kami kini saling berhadapan. "Bisakah kau membawaku masuk dalam perisaimu dulu sebelum aku menjelaskan semuanya." Awalnya aku tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan, namun pada akhirnya aku mengeluarkan kekuatan perisaiku dan membungku badan kami berdua dengan sempurna, dan ini pertama kalinya aku melihat perisaiku lebih bercahaya dibandingkan saat-saat kemarin aku menggunakannya.
"Selalu gunakkan perisaimu dimanapun kau berada bila kau sedang sendiri." Kris kembali menjelaskan setelah ia memperhatikan bagaimana perisai ku membungkus sempuran badan kami. "Jangan pernah mengatakan apapun mengenai kekuatanmu, khususnya kekuatanmu yang bisa menghilang, dan cahaya pada dirimu." Kris kembali menjelaskan.
"Aku tidak mengerti.." Aku menatap padanya dengan bingung.
"Kerajaan Eleanor akan datang ke Eowyn, dan itu akan membuat sedikit kekacauan karena Eleanor sedang diburu oleh kaum Hades. Kau ingat Irene?"
Aku menganggukkan kepala. "Aku ingat.."
"Hades belum mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh Irene dan juga dirimu, untuk itu mereka sedang mencari tahu, dan saat ini Irene berhasil diculik oleh mereka." Suara Kris semakin menghilang sedangkan badanku bergetar ketakutan. Aku pernah mengalami bagaiman rasanya diculik dan berhadapan dengan para bawahan Hades, dan itu adalah pengalaman paling tidak menyenangkan dan aku tidak mau menghadapinya lagi.
"Chanyeol sedang berusaha menyelamatkan Irene—
"Chanyeol?!" Aku berteriak menyebut nama Chanyeol setelah mendengar namanya disebutkan oleh Kris.
Dan saat itulah aku teringat akan mimpiku aku ingat kenapa aku merasakan kepedihan yang sangat mendalam, aku ingat mimpiku jelas-jelas sangat menyedihkan karena rasa khawatirku akan Chanyeol, pikiranku kembali mengingat beberapa jam yang lalu saat Chanyeol duduk bersamaku didepan kamar hotel kami, saat Chanyeol mengatakan..
"Jangan pernah memintaku untuk melupakannya."
Aku terdiam dan tidak mendengarkan satu kata pun yang Kris masih ucapkan karena pikiranku terfokuskan pada Chanyeol, segala ucapannya dan juga tingkah lakunya beberapa hari belakangan tampil dalam pikiranku dan membuat hatiku tidak karuan karena aku sungguh mengkhawatirkannya.
"..Aku juga akan pergi untuk melindungi Putri Mahkota Eleanor yang lainnya karena—
"Boleh aku ikut?"
"Tidak!"
"Aku mohon.. aku bisa membantu kalian dan membawa Putri Mahkota Eleanor tanpa ada yang mengetahuinya."
"Tidak Baekhyun!" Kris membentak. "Kau tidak akan pergi kemanapun! Kau akan tinggal di Eowyn dan berdiam diri disana dengan yang lainnya." Kris menatapku penuh amarah dan kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari lenganku ketika suara Luhan dan Yoora terdengar.
"Aku titip adikku." Kris beranjak bangun dan mengambil mantelnya, ia berpegangan bersama Sehun dan Jongin dan setelahnya mereka bertiga menghilang dari hadapanku, meninggalkan Yoora dan Luhan yang kini duduk dihadapanku.
Baekhyun's Pov End.
Selama perjalanan pesawat yang ditumpangi ketiga Yoora, Luhan dan Baekhyun tidak ada satupun yang memulai percakapan. Yoora lebih banyak terdiam kaku dengan pandangannya yang kosong dan terkadang air matanya mengalir dari ujung kelopak matanya. Baekhyun yang memperhatikan ikut bergabung dengan Luhan dengan saling menggenggam tangannya.
"Aku tidak apa-apa." Yoora tersenyum kepada keduanya.
"Mungkin kau bisa menjelaskan pada kami mengenai penglihatanmu." Luhan mengusap punggung tangan itu dan tersenyum hangat, berharap Yoora akan terhibur.
"Itu bukan penglihatan, aku sedang berusaha berkomunikasi dengan Sehun dan Jongin." Yoora membalas senyuman Luhan.
"Sehun menanyakkan kondisimu." Kini Yoora tersenyum lebar kearah Luhan yang tersipu malu.
"Kau mau mengatakan apa pada adik bungsuku itu?" Seperti biasa, Yoora selalu menuntut sebuah jawaban. "Aku merindukanmu, atau aku mencintaimu, atau aku menyayangimu, atau aku menunggumu kembali dengan selamat?" Yoora mengatakan deretan kalimat panjang lebar itu dengan senyuman lebar sedangkan Luhan menutup telinganya enggan mendengarkan semuanya itu.
"Aku membencinya." Luhan menyahut lebih dulu setelah cukup lama Yoora terdiam dan masih menatapnya.
"Baiklah akan aku katakan." Yoora kembali pada posisinya sedangkan Luhan hanya menggelengkan kepala dengan senyuman pada wajahnya.
"Baekhyun?" Yoora menyadarkan lamunan Baekhyun.
"A-ah iya."
"Mau mengatakan sesuatu pada Kris? Aku bisa menyampaikannya."
Baekhyun menggeleng. "Ia pasti sudah tahu apa yang akan aku katakan padanya bila ia sedang pergi jauh." Baekhyun tersenyum kecil dan kembali memandang langit dari jendela pesawatnya, dan entah kenapa ia teringat lagi saat dirinya dan Chanyeol sama-sama memandang pemandangan awan pada pesawat ini.
"Yoora-na.. apakah barang-barangku ada di pesawat ini?"
"Oh? Hm, aku dan Luhan sudah membereskannya. Kenapa? Kau membutuhkan sesuatu?"
"Ah, aku ingin mengambil kameraku."
Yoora beranjak dari posisi duduknya dan membuka kabin diatas kepalanya, tangannya mengeluarkan tas hitam yang cukup besar dan meletakkannya disamping Baekhyun, dan tanpa menunggu lama Baekhyun mencari kamera yang Chanyeol berikan padanya.
"Yes!" Baekhyun memekik senang melihat kamera itu, dan langsung mengeluarkannya.
"Chanyeol memiliki kamera yang sama denganmu." Yoora memperhatikannya.
"Ahh.. ini memang milik Chanyeol." Baekhyun menyengir lebar dan langsung mengambil beberapa foto pemandangan dari jendela pesawatnya.
Yoora tersenyum dan menatap kearah Luhan yang masih memperhatikan Baekhyun.
"Kau tentu tahu apa yang ada dalam pikiranku kali ini bukan?" Luhan berbisik pelan.
"Aku tahu." Yoora masih tersenyum dan memejamkan matanya, membiarkan Luhan yang masih memandangi Baekhyun dengan kamera milik Chanyeol, sedangkan gadis itu tidak peduli dengan apa yang dibicarakan oleh Luhan dan Yoora dan masih mengambil beberapa gambar dengan kamera itu.
Tidak ada penyambutan dari kedua Raja dan para penghuni Istana Eowyn, karena istana itu nampak sangat kosong dan sunyi, bahkan desiran angin jelas bisa terdengar begitu kencang dari luar Istana. Yoora membawa masuk Luhan dan Baekhyun untuk segera masuk kedalam Istana dan berjalan menuju kamarnya.
"Yoora-na!" Kyungsoo lebih dulu menghampirinya dengan wajahnya yang ketakutan, Tao yang melihat Yoora dan Luhan juga langsung menghampiri kakaknya dan meminta pelukan.
"Jongdae meninggalkan aku disini sendiri dan kau tidak kunjung datang." Rengekkan Tao membuat Luhan tidak tahan menahan airmatanya dalam pelukan Tao.
"Kau sudah besar! Jangan bertingkah seperti anak kecil." Luhan menepuk pelan punggung belakang Tao dan melepaskan pelukannya.
"Kami takut, tidak ada siapapun disini." Kyungsoo ikut merengek ketakutan.
"Yixing belum datang?" Kyungsoo menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Yoora.
"Itu lah mengapa kami ketakutan. Bagaimana bila ada yang menyerang disaat kalian belum datang?" Tao merengek lagi.
Yoora tertawa kecil. "Penjaga Istana sudah berada dalam posisi mereka masing-masing jadi tidak mungkin ada yang menyerang tiba-tiba masuk dalam Istana."
"Dia terlalu sering mengkhayal hal yang menakutkan." Luhan menyahut dan memukul lengan Tao pelan.
"Sudah, beristirahatlah. Kalian pasti lelah." Yoora memerintahkan dan semuanya menganggukkan kepala setuju akan kalimatnya. Kyungsoo merebahkan badannya pada ranjang Tao, sementara gadis tinggi itu meminta untuk tidur pada ranjang yang sama denga Luhan karena ia merindukan kakaknya. Baekhyun yang tidak berkomentar apapun sedari tadi masuk kedalam selimutnya dan berusaha memejamkan matanya meskipun terasa sulit.
Chanyeol.. kau akan baik-baik saja kan? Kali ini aku berharap mimpiku tidak jadi kenyataan.
