Chapter 5
Pembalasan dari Masa lalu (part 2)
"Are? Lihat apa yang kita temukan disini?"
Tiba-tiba saja langkahnya pun terhenti saat merasakan kehadiran orang sosok yang terasa asing baginya. Membuat Halilintar tidak jadi menebas Nurikabe tersebut dan lebih memilih mengacungkan senjatanya pada orang yang dianggapnya ancaman tersebut.
Dilihatnya baik-baik di depan matanya sekarang ada dua orang misterius dengan jubah putih panjang melekat di tubuh mereka. Yang satu adalah pria bertubuh tinggi jangkung namun lumayan kekar dengan rambut blonde. Dan yang satu lagi perempuan manis dengan rambut panjang berwarna navy yang dikuncir tinggi menjadi dua. Mereka sama-sama memakai pakaian berwarna hitam yang ketat di balik jubah mereka yang tertiup angin.
"Kyuuketsuki Ninja?" gumam yang perempuan dengan ekspresi bingung.
"Ngomong apa sih kau ini? Kau tahu sendiri Vampir Ninja itu sudah punah saat seluruh penduduk desa Yamagakure di bantai habis 10 tahun yang lalu, mana mungkin masih ada yang tersisa dari mereka" sahut yang pria menyangkal pendapat dari si gadis dan membuat yang dibicarakan mengernyitkan dahi tak suka.
"Tapi barusan dia membuat senjata dari darah. Satu-satunya yang bisa melakukan itu hanya ras vampir ninja. Bahkan vampir biasa pun tidak akan bisa" tunjuk si gadis mencoba mengedepankan agrumennya.
"Siapa kalian?" sela Halilintar pada mereka berdua dengan tatapan malas sambil memangku pedangnya ke bahu. "Uhm?" Dia kembali melirik-lirik lagi ke arah mereka dan menemukan sesuatu yang sangat menarik menempel di jubah yang sedang mereka kenakan. Sebuah medali berbentuk dream catcher dengan bintang lima di tengahnya. Dari benda besi berwarna keperakan yang mengkilat terkena pancaran sinar bulan tersebut, Halilintar tahu dengan siapa atau lebih tepatnya dari organisasi apa dia berhadapan saat ini. Pemuda itu hanya mendengus dan tersenyum sinis.
"Jadi begitu? SHAMAN ya? Apa yang kalian inginkan?" tanyanya sambil menghilangkan pedang ditangannya tersebut.
"Kami mendapat laporan ada gangguan makhluk mistis di daerah ini akhir-akhir ini. Dan kami merasakan keberadaannya di sekitar sini." Jelas si pria.
Halilintar pun dengan respon menggulirkan kedua matanya menatap Nurikabe tersebut dengan pandangan sarkasme "Ya sepertinya–"
"Apa boleh buat, sebenarnya aku kurang suka jika melakukan ini. Tapi karena kau sudah meresahkan penduduk di daerah sini…" pria itu terlihat melepas jubah panjang putihnya tersebut dan langsung melemparkannya ke sembarang tempat. Setelah terlepas terlihatlah jika di punggungnya dia sedang menggendong sebuah pedang panjang yang sangat besar, terbuat dari besi berwarna ke perakan. Pria berambut pirang itu langsung memegang gagangnya dengan erat. "Aku terpaksa harus menghabisi mu!" ucapnya sambil mengacungkan benda tersebut pada Halilintar.
"Eh?"
Halilintar hanya mengerjap kebingungan. Dan tanpa peringatan apa-apa pria di depannya itu langsung melesat dan bersiap menghantamkan pedang besar dan beratnya tersebut pada si vampir bermata merah. Sontak Halilintar langsung melompat untuk menghindar sambil salto dua kali ke belakang dan berhasil mengerem dengan mulus. "Oi, Oi, Oi. Kenapa mendadak aku jadi tersangka disini?" komentarnya tidak terima dituduh, memangnya hanya dia satu-satunya makhluk gaib yang ada disini. Lalu mereka anggap Nurikabe yang di belakang itu apa? Pajangan?
"Dengar ya yang kalian incar itu sebenarnya–"
Tanpa mendengarkan pendapatnya, si pria kembali menyerangnya dengan menebaskan pedangnya, dan lagi-lagi dengan cepat Halilintar langsung menghindar.
"Halilintar apa yang terjadi?" tanya Yaya bingung karena sejak tadi Halilintar tidak jadi menebas Nurikabe yang menghalanginya.
"Ada sedikit gangguan. Kau diam saja dulu disana, aku pasti akan mengeluarkanmu nanti" sahut Halilintar yang sedang memasang ancang-ancang untuk menghindar lagi. Dan benar saja pria itu langsung melesat lagi padanya dan mencoba menebasnya berkali-kali. Beruntung Halilintar bisa menghindari semua pola serangan acak tersebut dengan mulus.
"Cih… Lucky, jangan diam saja! Bantu aku!" seru pria itu kesal dan meminta bantuan pada rekannya karena serangan beruntunnya tak ada satu pun yang kena.
"Eh?" Gadis bernama 'Lucky' itu pun sontak kaget, tersadar dari lamunannya. "Ba-Baik!" dia langsung memajukan kedua tangannya ke depan. Sekarang di depannya muncul sebuah lingkaran ungu bergambar bintang lima yang bisa menembakan beberapa buah cahaya seperti laser dan mengarah langsung pada Halilintar. Tapi sayangnya lagi-lagi serangannya berhasil di hindari oleh pemuda bermanik ruby tersebut.
Tapi belum sedetik dia menghindar, pria berambut blonde itu langsung menyerangnya dari belakang dan membuat Halilintar harus merunduk untuk menghindar "Kalian yang memaksaku ya?" sekaligus memutar tubuhnya untuk memberikan tinju penuh tenaga yang tepat mengenai perut si pria dan membuatnya terdorong mundur hingga beberapa meter.
"Zero, kau tidak apa-apa!?" seru si gadis berambut twintail tersebut panik. "Beraninya" dia kembali mengedepankan kedua tangannya dan membuat semacam pentagram itu kembali untuk menembakan laser dengan jumlah yang lebih banyak.
"Ngerepotin" Halilintar pun langsung memunculkan katana nya kembali dan mengayunkannya secepat kilat untuk menangkis semua serangan yang diberikan oleh gadis bernama Lucky tersebut.
Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam, Tujuh, Delapan, Sembilan, Sepuluh.
Tidak ada satu pun serangan yang luput olehnya, semuanya berhasil di tangkis oleh pedang hitamnnya tersebut. Dan sukses membuat si gadis membelalak tidak percaya. Halilintar pun hanya menatapnya dingin sambil memangku pedangnya ke bahu lagi. "Menarik juga, jarang sekali ada manusia yang bisa menggunakan *Mana dan mengubahnya jadi bentuk serangan sebesar itu. Kau itu penyihir ya?" katanya berkomentar dan sukses membuat Lucky mengernyit karena tebakannya benar.
"Perhatikan belakangmu dasar vampir sialan!"
Halilintar dibuat menoleh sambil menggigit satu jarinya dan menciptakan satu pedang lagi di tangan kiri untuk menangkis serangan milik si pria bernama Zero tersebut. Dia langsung menyilangkan kedua katana nya dan berhasil menahan hantaman pedang besar dan berat itu.
Sontak Zero pun segera menepis pedangnya dan kembali mencoba menghantamkannya, namun kali ini Halilintar lebih serius melawannya. Pemuda beriris delima itu langsung mengayunkan kedua pedangnya dan berhasil membuat pria berambut pirang tersebut terdesak mundur sambil mencoba menangkis berbagai serangan yang diberikan oleh Halilintar dengan pedangnya.
Saat benar-benar sudah sangat terdesak dan Halilintar sudah bersiap dengan tebasan yang berikutnya, pria itu langsung melompat menjauh tapi bukan menyerah. Melainkan memberikan kesempatan untuk rekan perempuannya untuk menyerang. Gadis itu terlihat mengeluarkan rantai besi berlapis sihir berwarna keunguan dari dan melemparkan untuk mengikat si vampir bermata merah.
"Celaka" gumam Halilintar panik saat kedua tangannya serta pinggangnya dililit dengan kencang oleh rantai tersebut dan membuatnya tidak bisa bergerak.
Kesempatan ini pun tak dilewatkan oleh Zero yang dengan cepat mengayunkan pedangnya dan mengenai perut Halilintar dengan telak hingga menghasilkan sebuah luka gores yang lumayan besar. Halilintar membelalak begitu merasakan bilah besi panjang dan dingin itu menyayat kulit tubuhnya hingga berakhir dengan dirinya berlutut lemas tidak berdaya dengan tubuh yang masih terikat dengan rantai.
"Pada akhirnya kau menyerah juga. Sebenarnya peraturan di organisasi melarang jika kami menghabisi para Siluman kecuali terpaksa, tapi karena kami bahkan tidak tahu harus mengirim mu kemana jadi sebaiknya menurut saja saat kami akan mengantarkanmu untuk menyusul ras mu yang lain" jelas si pria panjang lebar sambil memangku pedang besarnya ke bahu.
Halilintar hanya tertunduk, sebuah seringai tampak tersungging di bibirnya diikuti dengan tawa kecil. Tentu saja Zero yang melihatnya tampak kebingungan, apa yang lucu dari ucapannya sebelumnya hingga membuat vampir di depannya merasa geli. "Kalian para manusia memang aneh. Kalian berusaha untuk melindungi satwa yang hampir terancam punah tapi mencoba menghabisi salah satu dari ras Ninja Vampir yang terakhir. Tidakkah itu lucu?"
Sesaat kemudian pemuda itu pun mengangkat wajahnya dan menampilkan sepasang manik matanya yang tengah bersinar merah semerah darah sambil menatap si pria dengan tatapan dingin yang begitu menusuk. Si pria pun tersentak dengan wajah memucat dan teringat kembali pesan ketuanya sebelum mereka menjalankan misi pertama mereka ini.
"Berhati-hatilah saat berhadapan langsung dengan siluman, terutama jika kau melihat mata mereka bersinar.
Itu artinya mereka sedang bersiap untuk melepaskan kekuatan mereka."
Benar saja, tak lama berselang dari tubuh si vampir muncul semacam kilatan-kilatan listrik berwarna merah yang siap dilepaskan kapan saja. Dia ingat, listrik mudah sekali merambat pada air atau benda-benda dari logam yang bisa menghantarkan aliran listrik. Lalu benda yang terbuat dari besi dan saat ini sedang terhubung langsung dengan tubuh si vampir adalah…
"Lucky, singkirkan rantaimu darinya!" jeritnya panik mencoba memperingatkan rekan wanitanya tersebut.
"Apa?" sayangnya gadis berambut twintail tersebut terlambat merespon peringatan dari si partner. Dan tak lama Halilintar pun melepaskan serangan ledakan petir yang menembak ke segala arah dan alhasil gadis itu pun terkena sambaran listrik bertegangan cukup tinggi yang secara tidak langsung merambat pada rantai besinya tersebut dan berakhir dengan dirinya yang terjerembab ke tanah dengan tubuh yang masih mendapat sengatan-sengatan listrik berwarna merah.
Tapi bukan hanya dia, rekannya pun yang saat itu berada pada radius 30 sentimeter dari si pemilik kekuatan juga terkena imbasnya. Dia langsung terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri dan langsung terhempas ke atas tanah dengan cukup keras.
Karena rantai yang mengikatnya tadi sudah lebih longgar, Halilintar pun akhirnya bisa melepaskan diri. "Membunuhku? Enak saja. Aku ini masih punya adik bodoh yang harus ku jaga tahu" Dengan amarah yang begitu memuncak dia pun segera menghampiri si pria berambut pirang tersebut dan langsung mencengkram kerah bajunya. "Daripada itu, ada yang harus kutanyakan pada kalian. Apa kau tahu siapa orang di organisasimu yang dulu dikirim untuk menghancurkan desa Yamagakure? Asal kau tahu saja, orang itu sudah menghabisi kedua orang tuaku bahkan sempat membunuh adikku di depan mataku sendiri!" bentaknya kasar sambil menghempaskan pria itu kembali ke tanah dan menodongkan ujung tajam salah satu katana nya di depan wajah si pria untuk mengancam.
Awalnya si pria bernama Zero itu tampak ketakutan, dia hanya diam, tubuhnya bergetar hebat saat menatap sepasang manik semerah darah yang menatapnya dingin tetapi menyiratkan kemarahan dan dendam yang sudah lama terpendam jauh di lubuk hatinya. Tetapi ekspresi ketakutan itu seketika berubah menjadi sebuah seringai tipis dan membuat Halilintar mengernyit keheranan.
Tak lama berselang muncul suara aneh di sekitar vampir tersebut. Bunyinya 'krek-krek-krek', seperti suara mainan yang terbuat dari kayu balok dan bisa digerak-gerakkan.
Dan benar saja, tiba-tiba di sebelahnya persis di samping wajahnya, muncul sesosok atau sebuah benda seperti boneka kayu dengan wajah yang sangat menyeramkan dan gigi-gigi runcing yang terbuat dari besi. Halilintar yang kaget pun sontak segera melompat menjauh dan mengerem dengan sempurna. Dia coba memperhatikan baik-baik boneka mengerikan tersebut, matanya menyisir dan mengikuti ke arah mana benang-benang yang digunakan untuk menggerakan benda tersebut.
Terlihat benang-benang panjang terbuat dari kawat yang tampak bercahaya diterpa oleh sinar bulan tersebut mengarah ke atas sebuah mainan panjat-panjatan besi yang cukup tinggi untuk ukuran anak kecil. Di atasnya nampak seseorang dengan jubah putih lain sedang duduk santai sambil memainkan benang-benang yang tersambung pada cincin-cincin yang terpasang di seluruh jari tangannya.
Wajahnya tidak begtu jelas karena dia memakai topeng rubah yang menutupi sebagian wajah atasnya. Tapi dari ukuran tubuhnya yang agak kecil sepertinya dia remaja laki-laki berusia 13 atau 14 tahun dengan rambut berwarna hitam kelabu. Yang lebih mengejutkan dia bukan hanya mengendalikan satu buah boneka yang tadi saja, tapi masih ada satu lagi di dekatnya. Dan tentu saja bentuknya sama menyeramkannya, bedanya yang tadi berbentuk manusia pria kalau yang ini seperti rubah berekor dua dengan ukurannya sangat besar.
"Sip bantuan sudah tiba!" seru si pria berambut pirang kegirangan. Sontak Halilintar pun dibuat melongo, kapan mereka– Tapi dia segera paham begitu melihat si gadis yang sebelumnya tersungkur karena sambaran petirnya sudah berdiri tegak kembali dengan ponsel lipat yang masih di tempelkan di dekat telinga dan sedang memandangnya dengan sebuah seringai panjang.
"Dasar junior tidak berguna" gumam bocah bertopeng tersebut.
"Senior, biarkan aku membantumu!" seru Zero pada anak laki-laki berambut hitam pucat tersebut sangat bersemangat.
Anak itu pun menatap pada si pria. "Kau minggir saja kepala jerami. Aku sendiri sudah cukup untuk melawannya" sahutnya dengan nada datar dan dingin namun menyiratkan sebuah ejekan di dalamnya. Dan sukses membuat Zero membeku dengan mulut menganga sementara Lucky menghampirinya sambil menahan tawa.
"Zero, mohon bersabar ini ujian" tegurnya menepuk punggung si pria berambut pirang yang masih terlihat syok.
Tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi terlihat sangat kesal. "Dasar sombong. Hanya mentang-mentang lebih duluan menjalankan misi makanya dia meremehkan kita. Padahal cuma bocah ingusan saja" gerutunya.
Sementara itu si bocah misterius itu nampak serius memperhatikan si vampir dan begitu pun sebaliknya, Halilintar menatapnya tak kalah sengitnya. Beberapa saat kemudian dia terlihat merogoh tas punggung kecil miliknya dan mengeluarkan dua buah 'kertas mantra'(?) dari sana. Halilintar sampai bertanya-tanya apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh anak kecil itu.
Seketika bocah itu langsung melemparkan helaian-helaian kertas tersebut ke tanah. Dari dalam kertas itu mendadak muncul kepulan asap yang begitu tebal, dan begitu asap mulai menipis bisa terlihat jelas apa yang ada di baliknya. Ada sebuah– tidak. dua buah marionette terbuat dari kayu lain dengan bentuk berbeda. Yang satu seperti manusia tapi berwujud perempuan dan yang satu lagi kelihatan seperti salamander bertanduk. Mengejutkan dia bisa menggerakkan boneka sebanyak dan dengan bentuk serumit ini hanya dengan 10 jari tangannya.
Setelahnya bocah misterius itu pun menyunggingkan seringai mengerikan dan mulai menggerakan jari-jarinya "Serang" tentu saja boneka-boneka itu menurut dan mulai menerjang dengan cepat ke arah Haliintar. Sementara si pemuda langsung dengan nuansa merah-hitam tersebut tengah siap siaga untuk menghadapi makhluk tak bernyawa yang digerakkan hanya dengan benang-benang panjang tersebut. Karena dia sendiri juga tidak tahu serangan seperti apa yang akan diberikan oleh boneka marionette tersebut.
Dua boneka menyerang. Ternyata yang rubah berekor dua bisa menembakan api dari mulutnya, benda tersebut langsung melontarkan tiga buah bola berpendar dari dalam mesin yang terpasang di kerongkongannya dengan sangat cepat. Sontak Halilintar pun segera melakukan salto beruntun untuk menghindari serangan beberapa buah sphere berlapis kobaran api tersebut. Sementara boneka salamander tampak menghadangnya di belakang sambil bersiap menghempaskan ekor besarnya, beruntung Halilintar masih sempat menghindar.
Tapi tak lama boneka lain berbentuk perempuan datang dan siap menebasnya dengan pisau tajam yang tersambung di kedua tangannya. Dengan refleks Halilintar pun langsung menangkis serangannya dengan dua buah katana hitam miliknya. Selagi dia mencoba menahan gerakan si boneka sebisa mungkin tiba-tiba boneka berbentuk manusia lain datang menerjang dan siap menerkam si vampir dengan gigi-gigi tajamnya.
Segera Halilintar pun menepis pedangnya dan mundur untuk menghindar hingga sukses membuat kedua boneka tersebut bertabrakan. Pemuda bermata ruby itu pun terkekeh, tanpa disadarinya si salamander kembali mencoba menyerangnya kembali dengan mulut besar menganganya yang siap menelan si vampir hidup-hidup. Tapi kelihatannya respon Halilintar lebih cepat dari itu, segera si vampir bermata merah itu pun melompat untuk menghindar dan dengan pedang di tangannya dia langsung memotong benang-benang yang terhubung pada anggota gerak boneka monster tersebut.
Tentu saja benda itu langsung berhenti bergerak dan terkulai lemas ke tanah layaknya benda mati tak bernyawa.
Boneka lain menyusul, dengan kecepatan kilat yang sulit ditangkap dengan mata telanjang dia bergerak menebas dan memotong kawat-kawat yang menghubungkan si dalang dengan boneka-bonekanya. Alhasil seperti boneka salamander sebelumnya, tiga boneka yang lain pun langsung ambruk jatuh ke tanah dan tidak bergerak.
Halilintar pun langsung melompat dan mendarat dengan mulus ke tanah tepat di dekat mainan panjat-panjatan dimana si bocah misterius bertopeng masih duduk dengan santai seolah-olah itu adalah singgasana miliknya setelah berhasil menumbangkan semua boneka. Sambil kembali memangku satu katana miliknya ke bahu, dia menggerutu "Cih… Buang-buang waktu dengan mainan bocah seperti ini. Mau sekuat apapun yang namanya boneka tetap saja boneka, kalau talinya diputus mereka tidak akan bisa digerakkan lagi".
"Benarkah?" Bukannya panik karena senjatanya hilang, justru si bocah misterus bertopeng rubah itu terlihat sangat tenang. Dengan santai dia terlihat memangku dagunya sambil menyilangkan kedua kakinya dan mengayun-ayunkan salah satunya. Padahal Halilintar bisa saja menyerang sekarang dengan pertahanan kosong seperti itu.
Tak lama berselang tepat setelah si bocah itu bicara, mendadak saja semua boneka kayu yang bergelimpangan di tanah tersebut mengeluarkan semacam cahaya hijau berpendar. Dan yang terjadi berikutnya sangat mengejutkan, entah bagaimana boneka-boneka tersebut bisa kembali berdiri tegak seolah-olah ada mengangkatnya ke udara, padahal jelas-jelas tidak ada tali yang menarik atau remote yang mengontrolnya. Dan yang menarik, sekarang cincin yang terpasang di jari-jari bocah itu tampak memunculkan beberapa buah huruf yang menyala senada dengan warna aura yang melapisi boneka-boneka tersebut.
"Yah… lagipula sejak awal aku tidak membutuhkan benang-benang itu untuk menggerakan mereka. Aku memakainya hanya untuk menahan agar mereka tidak bisa kemana-mana" katanya dengan maksud yang tidak jelas.
Halilintar dibuat sangat was-was begitu melihat boneka-boneka tersebut mengelilinginya dengan posisi siap menyerang. "Waduh… Gimana nih? Salahmu kenapa memotong talinya. Kalau sudah gini aku nggak tanggung jawab apa yang akan terjadi padamu" lanjut si bocah lagi dengan nada meledek.
Satu boneka berbentuk perempuan melesat dan bersiap menebaskan pisaunya, Halilintar segera menangkisnya. Pertarungan antar senjata pun tak terelakan, sepasang mata pedang saling beradu dan menimbulkan suara yang cukup membuat ngilu. Polanya masih sama seperti sebelumnya hanya saja jauh lebih cepat sampai vampir itu sedikit kesulitan untuk mengimbangi gerakan si boneka dan membuatnya terus terpukul mundur, seolah-olah si boneka bergerak dan punya nyawa sendiri tanpa ada yang mengendalikannya baik dari jarak jauh sekalipun.
Boneka lain mulai menyerang, sama seperti sebelumnya si marionette bergigi tajam.
Merasa dipermainkan, Halilintar yang muak langsung saja melampiaskannya dengan menghancurkan boneka perempuan tersebut menggunakan kedua pedangnya hingga menjadi potongan-potongan kecil (dengan kata lain dia memisahkan bagian-bagiannya pada sendi-sendi yang menjadi alat bantu geraknya). Boneka berbentuk manusia yang satu lagi pun tak luput menjadi korban kemurkaan pemuda bermata ruby itu, dalam sekejap dia membantainya hingga bernasib sama dengan boneka pertama yang dihancurkan oleh Halilintar.
Puas melampiaskan kekesalannya, Halilintar pun mendengus dan tersenyum. Tapi seketika senyuman itu menghilang tergantikan oleh reaksi kaget sekaligus bingung setelah dia melihat apa yang terjadi pada dua boneka yang barusan dihancurkannya. Potongan tubuh kedua boneka itu entah bagaimana caranya tiba-tiba saja melayang dan mulai menyatukan kembali bagian-bagiannya dengan sendirinya hingga kembali utuh seperti sediakala.
Halilintar yang melihatnya hanya tersenyum miris, kelihatannya dia sudah meremehkan lawannya kali ini. "Jadi begitu ya? Kau bisa memasukkan roh ke dalam boneka dan mengendalikannya dari jarak jauh. Heh~ Kemampuan yang cukup langka" tebaknya, diikuti dengan sebuah pujian setengah tak ikhlas di dalamnya. Yang berarti juga jika dia ingin menghancurkan para marionette tersebut dia harus menebasnya hingga hancur paling tidak 30 kali, itu sangat merepotkan. Kalau misalnya dia ingin langsung menyerang si dalang, mereka sudah pasti tidak akan memberikannya jalan.
Tapi yang terburuk adalah jika tebakannya benar, kalau dia sampai menghancurkan boneka-boneka tersebut maka roh yang ada di dalamnya akan kehilangan wadah dan mulai berkeliaran keluar. Setelah itu hal-hal yang lebih merepotkan sudah pasti terjadi.
Si bocah misterus pun tersenyum mendengar analisis yang diberikan oleh musuhnya tersebut, tebakkannya benar. "Cepat sekali ya kau menyadarinya, aku kagum. Tapi… disaat kau sudah mengetahuinya semua sudah terlambat" katanya sangat tenang.
Disaat bersamaan boneka miliknya yang berbentuk salamander raksasa tampak berdiri tegak di belakang si vampir sambil membuka perutnya yang di dalamnya terdapat luang yang cukup besar dan pas untuk ukuran manusia dewasa. Halilintar menoleh pada benda di belakangnya dengan tatapan kaget sejak kapan benda itu ada di belakangnya? Dan tanpa disadarinya si boneka rubah sudah melesat dengan cepat menggunakan mesin pendorong roket yang terdapat di belakang tubuhnya tepat ke arah vampir bermata merah tersebut dan sukses mendorongnya masuk ke dalam ruangan kosong terbuat dari kayu tersebut.
Si bocah misterius pun langsung menyatukan ke sepuluh jarinya dan membuat pintu ruangan tersebut tertutup bahkan terkunci secara otomatis. Lalu dia kembali menggerakan jari-jarinya, seketika dua boneka berwujud manusia miliknya tampak memisahkan bagian tubuhnya dan terlihatlah pisau-pisau tajam yang selama ini disembunyikan di dalamnya. Dengan gerakan tangan potongan tubuh dengan benda berbahaya di dalamnya itu langsung melesat dan masuk di sela-sela lubang yang memang sudah di sediakan di tubuh boneka salamander.
Jeritan kesakitan tampak terdengar saat pisau-pisau tajam dan panjang itu ditusukkan ke dalam kotak kayu tersebut. Inilah salah satu teknik mematikan milik si bocah bertopeng tersebut. Namanya adalah Sword box. Korban dimasukkan ke dalam ruang rahasia yang terdapat di dalam boneka raksasa, kemudian ditusuk-tusuk menggunakan pedang yang disembunyikan di dalam boneka lain.
Secara perlahan teriakkan dari Halilintar mulai mereda hingga benar-benar tidak terdengar sama sekali. Darah segar nampak menetes keluar dari celah sempit di bawah penutup kotak tersebut.
Bocah misterius itu pun segera melompat turun dari mainan panjat-panjatan tersebut dan menjentikkkan jarinya. Dengan perintah singkat tersebut boneka itu pun langsung membuka perutnya dan memuntahkan isinya keluar yang berupa sisa-sisa tubuh seorang vampir yang kondisinya sekarang bisa dibilang sangat mengenaskan hingga sulit untuk dijelaskan secara detil.
Setelah membereskan (catat, menghabisi) si vampir segera kedua junior sekaligus bawahannya tersebut segera menghampirinya dengan ekspresi kagum terutama si gadis berambut Navy bernama Lucky. Si bocah bertopeng pun menoleh pada mereka setelah sebelumnya menatap Halilintar dengan wajah penuh rasa bersalah.
"*Senpai, kau benar-benar hebat. Kau bisa membereskan vampir itu dalam waktu sekejap." Puji Lucky pada bocah berusia 14 tahun tersebut. "Sementara si kepala jerami ini…" lanjutnya menatap sinis pada rekan pria di sampingnya.
Dan membuat si pria muda berambut pirang tersebut mendelik padanya dengan sebuah pertigaan di dahi mulusnya. "Kau sendiri juga sama saja tidak berguna nya, dasar buntut kuda kembar" sahutnya.
"Jadi… Apa yang harus kita lakukan padanya?" sela si bocah menengahi pertengkaran konyol dua juniornya barunya tersebut. "Aku tidak mau mengurus mayat" sambungnya lagi.
"Salah Senpai sendiri, terlalu berlebihan" komentar Zero sedikit mencibir.
Sementara itu Yaya yang masih berada di balik dinding terlihat menguping pembicaraan mereka dengan ekspresi syok, terutama saat mendengar kata 'Mayat'. Apa itu artinya Halilintar sudah mati sekarang? Ini bohong kan? Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka bicara dan bercerita banyak hal, walaupun tertimbang lebih banyak Halilintar yang bercerita dibandingkan dirinya. Seakan di hunus pedang yang begitu tajam, tubuh gadis itu pun merosot turun dan terduduk lemas.
.
Aku…
Memang tidak berguna.
Lagi-lagi hanya bisa menyusahkan orang lain dan membawa kesialan bagi mereka.
Lalu kali ini tanpa bisa berbuat apa-apa aku membiarkan Halilintar-kun mati begitu saja.
Tidak ada kah… Tidak ada kah yang bisa kulakukan?
Aku ingin menjadi lebih kuat, agar lain kali aku tidak membuat masalah yang sama.
Aku tidak mau hanya bersembunyi di balik punggung seseorang dan menjadi beban bagi mereka!
.
Tepat setelah Yaya berteriak dalam hatinya, seberkas cahaya muncul dari balik kantong jaketnya. Gadis berkerudung pink itu pun segera merogoh untuk melihat apa yang menjadi sumber cahaya berwarna merah muda tersebut.
"Gunakan itu saat kau dalam bahaya"
Sulit dipercaya apa yang dilihatnya, sinar itu berasal dari stun gun pemberian Gempa tempo hari, Yaya pun segera menekan tombol pemicunya seperti biasanya dia menyalakan benda tersebut. Dan yang muncul selanjutnya dari dalam senter tersebut adalah sebuah cahaya memanjang seperti laser berwarna pink. Gadis itu agak bingung dengan yang dilihatnya sekarang, tapi dengan ini dia bisa menghancurkan dinding yang menghalanginya tersebut.
~MA~
Sementara itu lagi, selagi tiga orang itu sibuk berdiskusi tiba-tiba saja muncul sebuah cahaya terang dari belakang mereka. Lebih tepatnya berasal dari celah yang tiba-tiba saja muncul dari makhluk yang mereka pikir hanya sebuah dinding berwarna hitam biasa.
Seperti dicabik-cabik, seketika Nurikabe tersebut lenyap tanpa tersisa dan menampakkan sosok seorang gadis berkerudung pink khas yang sedang memegang sebuah pedang laser di tangan kanannya. (Kayak yang di film star war (LOL)*abaikan)
Benar, entah kenapa dan bagaimana caranya tiba-tiba saja stun gun pemberian Gempa tersebut bisa berubah menjadi sebuah light saber bergagang hitam dengan laser berwarna magenta persis seperti warna aura yang dikeluarkan oleh Yaya. Setidaknya seperti itu yang dilihat oleh pria berlambang tanah tersebut.
Kelihatannya keren ya, tapi sayang tampaknya Yaya kebablasan memakai kekuatan barunya. Saking kuatnya tekanan yang diberikan ketika menebas Nurikabe tersebut sampai-sampai sisa serangannya tadi melesat dengan cepat dan tidak sengaja mengenai wajah si bocah misterius hingga dia menjerit.
Yaya pun segera menoleh dan mendekat padanya dengan tatapan bersalah. Beruntung, sepertinya serangan bertipe energi gaib tersebut tidak menyebabkan luka pada manusia. Jadi dia berteriak bukan karena sakit tapi hanya kaget saja.
Tapi sayangnya akibat serangan itu, topeng si bocah itu pun terbelah dua dan terlepas hingga jatuh ke tanah. Setelah topengnya terlepas tampak sepasang mata bahkan sepasang wajah yang begitu mirip saling bertatapan satu sama lain, hanya umur dan jenis kelamin yang membedakan.
Yaya membelalak, dia hampir tidak percaya siapa yang dilihatnya sedang berada di depannya saat ini. Begitu pula si bocah, dari raut wajahnya dia juga sepertinya mengenali Yaya. Karena meski sudah 5 tahun lamanya terpisah, meski waktu telah mengubah segalanya, tapi kalau naluri pasti tidak akan berubah sama sekali. Dengan perasaan senang bercampur bimbang gadis berjilbab itu pun membuka mulutnya untuk memastikan.
"To– KYAA!"
Sayangnya ucapannya harus terputus saat dia mendapat sebuah tendang keras dari si gadis berambut biru, dan membuat tubuhnya terpental sangat jauh hingga menabrak sebuah pohon besar di ujung taman bermain tersebut. Yaya pun sontak terbatuk saat merasakan punggungnya menghantam sesuatu yang cukup keras dan disaat bersamaan jari-jari dari tangan kanan Halilintar tampak berkedut tanda jika sebenarnya dia masih hidup.
"Siapa dia?" tanya Zero dengan tatapan penasaran, karena tiba-tiba saja gadis itu muncul entah dari mana.
"Temannya si vampir?" sahut Lucky.
Kedua orang itu pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri si gadis berkerudung yang masih belum beranjak dari tempatnya terduduk, tubuh Yaya bergetar hebat karena kesemutan. Tapi sesaat kemudian sebersit bayangan hitam melesat dengan cepat di samping mereka dan tiba-tiba saja sudah berada di depan gadis berjilbab itu sambil mengoper bungkusan plastik besar berisi barang belanjaan padanya.
Yaya tercengang menatap bungkusan tersebut dan kemudian beralih menatap sosok bertubuh tinggi yang tengah berdiri tegak di depannya sambil mengenggam sebuah Katana. "Halilintar-kun?" gumamnya pelan. Syukurlah dia masih hidup, memang sekarang jaket dan kaosnya compang-camping karena tubuhnya tadi habis dicabik-cabik, tapi sekarang dia sudah pulih kembali hanya dalam beberapa detik seolah-olah sebelumnya memang tidak pernah terjadi apapun.
Halilintar mengangkat Katana nya, sementara tiga orang di seberang sana tengah bersiap untuk menghadapai aksi apa yang akan dilakukan oleh si vampir ninja tersebut.
Segera pedang satu sisi itu pun di ayunkan, semua terdiam sejenak saat Halilintar hanya menebas udara kosong tanpa menghasilkan serangan apapun. Tunggu, ternyata efeknya baru terlihat sesaat setelahnya, di udara dari hasil tebasan tersebut tiba-tiba saja muncul celah seperti sobekan yang terhubung ke dimensi lain, dari sana keluarlah beberapa ekor kelelawar yang langsung terbang dan mengerumuni para anggota SHAMAN tersebut hingga membuyarkan pandangan mereka.
Kesempatan itu digunakan oleh Halilintar untuk melarikan diri, dia langsung saja menggendong Yaya ala-ala Bridal style dan segera melompat menjauh dari sana.
"Ughh… Apa-apaan para kelelawar ini?" gerutu Lucky mengusir para makhluk hitam-kecil tersebut sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Sementara bocah di belakangnya hanya diam seperti tidak ada apapun. Dia pun segera mengeluarkan semacam petasan dari tas punggungnya dan menyalakannya lalu melemparkannya ke belakang.
'Boom' tentu saja benda itu meledak dan menghasilkan suara yang sangat keras hingga membuat kedua bawahannya tersebut menoleh padanya dengan tatapan heran.
"Apa yang kau lakukan, senpai?" tanya si gadis berambut Navy.
"Mengagetkan saja" timpal si pria berambut pirang.
"Lihat" dengan tenang bocah itu pun mengangkat tangannya. Ajaib, tepat setelah petasan itu di ledakkan para kelelawar bahkan celah yang merupakan tempat mereka berasal langsung menghilang seolah dari awal memang tidak ada sama sekali.
Seperti Ilusi.
"*Genjutsu?"gumam Lucky keheranan.
"Senpai, sekarang bagaimana? Kita kejar mereka?" tanya Zero meminta pendapat senior mereka itu.
Bocah berambut hitam kelabu itu tampak membuang nafas. "Tidak perlu. Lagipula tugas kita disini sudah beres" jawabnya.
"Eh? Tapi kan?"
"Target kita sebenarnya bukan vampir ninja itu, tapi Nurikabe yang tinggal di taman bermain ini" jelas bocah itu lagi.
Tentu saja kedua juniornya itu tercengang keheranan. "Cuma Nurikabe doang toh" ujar Lucky yang hanya ber-sweat drop ria saat.
"Terus kenapa kau ikut-ikutan menyerangnya juga hah, bocah kampret?" gerutu Zero yang terlihat amat geram dengan tingkah seniornya yang seenaknya tersebut.
"Bukan kenapa-napa sih, aku hanya ingin mencoba boneka baruku saja. Lagipula aku juga merasakan jika vampir yang satu itu nggak akan mati meski tubuhnya ku cincang-cincang sekalipun" jawab si bocah dengan ekspresi datar. Kemudian dia pun membalikkan tubuhnya membelakangi mereka berdua dan diam-diam menyunggingkan sebuah senyuman tipis, akhirnya setelah 5 tahun dia dan Kakaknya bisa bertemu juga.
~MA~
Sementara itu di apartemen Shinwa, pesta berbekyu untuk penyambutan Yaya sedang di laksanakan. Setelah tiba di rumah Halilintar diam-diam naik ke atas untuk mengganti kaos dan jaketnya yang sudah compang-camping akibat kejadian sebelumnya, selagi Yaya mengalihkan perhatian yang lain. Halilintar bilang padanya jika yang waktu itu sebaiknya dirahasiakan saja, karena kalau tidak pasti yang lain akan panik terutama Gempa.
Dan beginilah jadinya sekarang, tanpa rasa khawatir mereka tetap menyelenggarakan pesta dan asik menikmati menu panggangan di halaman apartemen tersebut. Sedangkan Yaya tampak duduk memojok sendirian di dekat pohon di saat Gempa, Halilintar, Ice, Blaze dan Thorn asik berdiskusi dan bercanda di meja.
Hingga Ying pun datang menghampirinya dengan wajah merah padam karena terlalu banyak minum bir kalengan, dengan gaya centil khas ibu-ibunya dia langsung menyikut gadis berkerudung tersebut. "Hoi, kenapa kau mojok sendirian disini? Nggak gabung dengan yang lain" tanyanya.
"Nanti aku kesana kok" jawab Yaya penuh senyuman. "Oh iya Ying-san. Aku mencari tahu beberapa hal di internet akhir-akhir ini dan di suatu laman yang ku baca tertulis jika Nekomata adalah peliharaan dewa kematian. Karena Ice itu Nekomata jadi apa mungkin Gempa-san itu Dewa kematian?" lanjut Yaya balik bertanya pada Ying.
Wanita muda di depannya itu pun tampak menempelkan telunjuknya ke wajah dan berpikir. "Sepertinya bukan, tapi dia juga tidak pernah mau memberitahukannya pada kami semua." Ujarnya.
"Eh? Kalian tidak masalah dengan itu?"
Ying pun tersenyum. "Setiap orang punya rahasia tersendiri yang tidak bisa diberitahukan bahkan pada orang terdekatnya sekalipun. Dan setiap orang punya alasan tersendiri untuk merahasiakannya" dan menjelaskan dengan lemah lembut. Sementara Yaya hanya mengerjap keheranan.
"Daripada itu Yaya-chan, besok kan kafe tutup bagaimana jika kita jalan-jalan? Aku tahu tempat bagus yang sering didatangi oleh cowok-cowok ganteng" lanjutnya lagi menawar pada Yaya, tentu saja dengan keadaan setengah sadar.
Tepat setelah mendengar tawaran Ying tersebut suaminya, Fang yang sejak tadi sudah memperhatikan gerak-gerik istrinya itu pun langsung berdecak kagum dan mendesis keras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar nenek-nenek nggak ingat umur. Sudah punya suami masih saja ngejar-ngejar berondong, sekarang malah ngajakin gadis di bawah umur buat ikut-ikutan" cibirnya berkomentar.
Ying yang mendengarnya pun segera mendelik tajam pada Fang. "Tunggu sebentar ya, Yaya-chan?" katanya menoleh pada gadis itu dengan senyuman manis terpampang di wajahnya sebelum akhirnya dia beranjak dari tempatnya duduk untuk menghampiri suaminya. Sementara Yaya hanya menggangguk dan dibuat keheranan dengan perubahan sikap mendadak dari wanita bermata sapphire tersebut.
Begitu berhadapan dengan suaminya tersebut Ying pun langsung saja mencekik kerah baju Fang dengan kasar dan membuat semuanya terdiam menoleh kepada dua insan tersebut. "HEH, JIN TOMANG LANDAK UNGU! NGGAK USAH KAU INGATIN AKU JUGA TAHU KALAU AKU UDAH TUA! DAN ASAL TAHU SAJA, TAHUN INI UMURKU SEMBILAN PULUH TUJUH!" hadrik si Yuki-onna dengan keadaan setengah sadar.
Gempa yang melihat pertengkaran konyol suami-istri itu pun langsung menyengir gaje. "Dia membocorkan umur aslinya sendiri…" komentarnya selagi Fang hanya diam dan membiarkan istrinya membentak dirinya.
"TERUS KENAPA KALAU AKU INI UDAH JADI NENEK-NENEK!? BUKANNYA KAU SENDIRI LEBIH TUA SERATUS TAHUN DARIPADA AKU!?"
"Sekarang dia membocorkan umur asli suaminya…" gumam Ocho yang sekarang berkomentar seolah-olah perkelahian ini adalah acara olahraga seperti tinju atau sepak bola.
Sementara Fang yang masih dengan posisi kurang nyaman dan masih diberikan death glare oleh istrinya bukannya takut malah terlihat sangat tenang seolah ini merupakan hal biasa baginya. "Ying… kau mabuk" katanya datar.
"Hah? Kata siapa…" tidak kuasa menahan kantuknya akhirnya Ying pun tertidur dengan menjadikan dada bidang suaminya sebagai sandaran kepalanya. "Aku mencintaimu…" lanjutnya mengigau.
Fang pun dibuat menyengir gaje dengan tingkah istrinya tersebut. Segera dia mengangkat tubuh wanita yang merupakan istrinya tersebut. Sementara Ying yang digendong ala-ala bridal style pun langsung memeluk leher Fang dengan begitu erat. "Maaf ya semuanya, kami undur diri duluan. Kalian teruskan saja pestanya" pamitnya sebelum akhirnya dia beranjak menaiki anak tangga apartemen untuk menuju lantai dua.
Thorn terus menoleh pada mereka berdua dengan tatapan jahil dan berkomentar . "Wah, wah. Mereka berdua itu romantis sekali ya?"
"Dimana nya yang ku lihat selama ini mereka hanya bertengkar dan saling menghina satu sama lain" protes Blaze mencibir.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kau ini masih terlalu kecil, nanti kalau sudah dewasa kau akan paham sendiri." ujar Gopal yang tiba-tiba saja datang sambil menepuk-nepuk bahu Blaze dan membawakan lagi beberapa potong sosis dan daging yang sudah di panggang.
Melihat suasana yang cukup hangat ini, Gempa pun jadi dibuat tersenyum karenanya. "Jaa, kalau gitu aku akan minum sedikit juga" ucapnya sambil meraih sebuah kaleng bir kecil yang terletak di sudut meja dan membukanya.
"Eh? Gempa-san, kau minum? Tumben sekali" tegur Gopal kaget saat pria dengan mata emas tersebut sudah mulai meneguk minuman itu sedikit.
"Memang kenapa? Aku juga sudah cukup umur kali" sahut Gempa dengan wajah sedikit memerah karena mulai kepanasan.
"Nggak… masalahnya…"
"Ngomong-ngomong soal umur, sebenarnya umurmu itu berapa, Gempa-nii? Kau tidak pernah memberitahu kami sama sekali" sela Thorn. Yaya yang mendengarnya dari jauh pun segera mendekat, entah kenapa pembicaraan ini sangat menarik sekali.
"Entahlah, sudah tidak kuhitung lagi. Yang jelas aku sudah hidup lama sekali, saking lamanya bahkan aku sempat melihat Ibukota berpindah dari Kyoto ke Kobe" jawab Gempa santai.
Semua yang mendengarnya sontak tercengang dengan jawaban pria tersebut. Ibukota dipindahkan dari Kyoto ke Kobe bukannya itu kurang lebih 1000 tahun yang lalu.
Namun lamunan pun segera terhenti saat tiba-tiba saja Blaze menggebrak meja dan meninggalkan selembar uang sebesar ¥100. "Kalau gitu aku bertaruh jika umur Gempa-nii itu seribu dua puluh tahun" serunya bersemangat.
Ice yang seperti tidak mau kalah pun meletakan uang dengan nominal yang sama. "Kalau aku seribu seratus"
"Oi, Oi. Jangan jadikan umur asliku sebagai bahan taruhan. Aku jadi merasa tua banget tahu" protes si dewa yang salah satu rahasianya dijadikan permainan tebak-tebakan.
"Benar tuh. Kalau Gempa-nii setua itu harusnya kita bukan memanggilnya Kakak tapi Kakek" canda Thorn ikut meramaikan suasana.
"Thorn kau ikut-ikutan juga…."
Seketika tawa mereka pun pecah karena ucapan Thorn, termasuk Yaya yang mendengarkan mereka dari kejauhan. Sungguh, pesta malam ini benar-benar sangat menyenangkan. Mereka bisa berbincang, bercanda dan melepaskan segala penat yang dirasakan selama ini.
Tapi kemudian tawa Yaya mulai mereda, dia merogoh ke dalam kantong jaketnya yang di dalamnya terdapat Stun gun miliknya. Batinnnya bertanya-tanya, kenapa waktu itu tiba-tiba saja benda itu bisa berubah menjadi pedang saber, terlebih hal itu muncul karena keinginan kuat dari dalam dirinya untuk menyelamatkan Halilintar. Apa sebaiknya dia tanyakan hal ini pada Gempa?
Benar, sebaiknya dia tanyakan hal ini, dia harus tahu bagaimana cahaya itu muncul.
'Brug' sayang, tepat saat Yaya ingin menanyakan hal tersebut tiba-tiba saja orang yang ingin ditanya langsung jatuh pingsan dengan wajah menghantam meja.
" Gempa-nii!?" seru Thorn panik dan seketika berdiri dari tempatnya duduk.
"Dia K.O…" gumam Blaze ber-sweat drop di tempat.
"Padahal belum satu kaleng" timpal Ice berkomentar.
"Apa boleh buat, terakhir kali Gempa-sama minum itu seratus tahun yang lalu. Bahkan waktu itu beliau mabuk hanya dalam satu teguk" Melihat tuannya setengah pingsan Ocho pun segera berinisiatif untuk mengantarnya pulang, sambil mengalungkan tangan si pemilik ke lehernya, pemuda berambut pirang dengan manik sapphire tersebut pun segera mengotong dan membantunya berdiri. "Kalau begitu kami juga undur diri duluan. Nanti aku akan turun lagi untuk membantu beres-beres." Ucapnya berpamitan. "Ayo, Gempa-sama" lanjutnya lagi mengajak pria dengan bros berlambang tanah di dada sebelah kirinya.
"Hanna… Jangan pergi…" dan entah karena mabuk tiba-tiba saja Gempa malah mengigau dan memanggil nama seorang gadis, sontak Yaya pun dibuat terbelalak kaget sekaligus penasaran. Sementara Ocho dibuat nyengir gaje. "Selamat malam semuanya" sapanya terakhir kali sebelum membawa Gempa menaiki tangga ke lantai dua.
Yaya mendesah, sepertinya dia harus menunda niatnya untuk bertanya malam ini. Jujur, dia masih penasaran dengan apa yang terjadi pada stun gun nya tersebut dan mungkin ada satu tambahan pertanyaan lagi. Siapa itu Hanna? Kenapa Gempa menyebut namanya dalam keadaan setengah tak sadar. Apa mungkin dia adalah gadis di masa lalunya Gempa?
~MA~
Keesokan harinya, sebuah pagi yang biasa, matahari bersinar dengan terang, burung-burung berkicau, udara sejuk yang begitu menyegarkan pernapasan, dan orang-orang yang melakukan rutinitas sehari-hari. Hanya saja untuk pegawai kafe Shinwa ini bukanlah hari biasa karena hari ini tempat makan itu tutup, bukan karena semalam para pegawainya habis pesta dan tidak bisa bangun tapi karena pemiliknya Gempa harus pergi seharian keluar kota. Biasanya sih masalah ini bisa diatasi dengan Ocho yang menggantikan posisinya untuk sementara tapi karena tangan kanan kepercayaannya sekaligus Regalia itu juga harus ikut jadi ya…
Termasuk Halilintar yang saat ini sedang berada di dalam sebuah Minimarket untuk berhenti dan membeli minum sekaigus beristirahat setelah jogging sendirianberkeliling komplek perumahan mereka yang sangat luas sebesar kebun teh tersebut sebanyak 10 kali.
Saat dia sibuk memilih-milih secara random di rak-rak minuman botolan, seorang pengunjung lain masuk ke Minimarket tersebut. Seorang pria berpostur tinggi dengan rambut pirang dan manik mata karamel tampak menghampirinya sambil sibuk memilih-milih di rak makanan bekal di sebelahnya. Ingat kan? Yang kemarin itu loh di taman bermain.
Halilintar sempat melirik padanya selama beberapa saat dan langsung mengacuhkannya kembali sembari membawa sebuah jus botolan dari rak minuman tersebut.
"Ano saa…" hingga tiba-tiba pria itu pun menegurnya. Halilintar pun berbalik dan menoleh padanya, tentu saja dengan ekspresi dingin khas miliknya. "Yang kemarin itu maaf… Kami salah mengira kalau kau adalah target buruan kami." Lanjutnya lirih.
Halilintar tampak menghela nafas dan memutar matanya, ekspresinya menyiratkan kata-kata 'Sudah kuduga'. Sambil mengangkat bahunya dia pun menggumam pendek yang berarti 'iya'.
Pria itu pun langsung menghela nafas begitu tahu vampir di depannya itu mau memaafkan perbuatan mereka kemarin, walaupun dia juga tidak yakin itu ikhlas atau tidak. "Oh iya dan satu lagi. Soal hal yang kau tanyakan kemarin. Aku coba menyelidikinya dari berkas-berkas di organisasi kami"
Sontak Halilintar pun tersentak dengan mulut setengah terkatup saat Zero bilang sudah mencari informasi dari orang yang dicari-cari olehnya. Dia pun dengan sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh si pria berambut pirang tersebut.
"Orang yang kau cari itu… Sudah tidak bekerja lagi untuk organisasi SHAMAN. Dia dikeluarkan sepuluh tahun yang lalu karena isu jelek yang dilakukannya. Dan nama orang itu adalah…"
Pembicaraan selanjutnya tidak terlalu jelas karena suara klakson mobil di depan toko yang begitu keras, hanya Halilintar yang berada di dalam toko dan berhadapan langsung dengan si rambut jerami lah yang bisa mendengar lanjutannya. Sontak saja raut wajah pemuda itu menengang bercampur marah begitu mendengar nama yang disebutkan.
Tapi kira-kira siapakah orang yang dimaksud? Yang sudah membantai seisi desa Yamagakure dan membunuh kedua orang tua Halilintar?
.
TBC
Istilah
*Senpai : Senior
*Mana : Suatu energi/kekuatan supernatural, yaitu kekuatan yang melebihi kekuatan-kekuatan yang telah dikenal manusia.
*Genjutsu : Teknik Ilusi.
