Empat hari berlalu semenjak kepergian para Putera Mahkota dan juga Kedua Raja Glorfindel dan Tiranis guna menyelamatkan Puteri Mahkota dan Ratu Eleanor. Empat hari juga Istana Eowyn terasa suram dan sepi, seakan-akan Istana besar nan Indah itu tidak berpenghuni dan hanya menjadi bangunan bersejarah, menunggu kunjungan para wisatawan untuk melakukan tour di dalam museum.
Dan dalam empat hari itu juga seluruh Puteri Mahkota yang tinggal di dalamnya tidak ada semangat untuk saling mengobrol ataupun bicara sedikit pun, Yoora yang selalu terdiam memandangi pemandangan di luar dan banyak yang mengetahui bahwa gadis itu menggunakkan kekuatannya untuk berkomunikasi dengan para Putera Mahkota di luar sana ataupun melihat ke masa depan kejadian-kejadian yang akan terjadi. Lain halnya dengan Luhan dan Tao, bila Tao hanya merengek mengkhawatirkan Papa dan Kakaknya, Luhan kini terlihat termenung bila jam makan tiba bahkan ia sama sekali tidak bisa menyantap makanannya bila duduk di ruang makan dan akan memilih untuk makan di kamar.
Dan Baekhyun, gadis ini lebih mengkhawatirkan karena selalu berteriak di tengah malam dan menangis sejadi-jadinya hingga membuat semua penghuni Istana terbangun dan mendatanginya dirinya untuk menenangkannya. Esok paginya, ia akan duduk termenung sendiri di balkon istana dengan membawa kamera kecilnya, meskipun begitu ia hanya akan duduk sendiri disana dan menangis lagi. Lain halnya Kyungsoo, ia hanya bisa mengamati seluruh sikap yang terjadi pada Yoora, Luhan, Tao dan juga Baekhyun dan memberikan kalimat penenang meskipun pada akhirnya mereka akan menjawab.
'Aku tidak apa-apa, tenang saja. Semua akan baik-baik saja.'
"Mereka selalu mengatakan itu, padahal terlihat jelas mereka sangat menyedihkan." Kyungsoo terduduk pada ayunan di taman Istananya dengan Yixing yang berada disebelahnya memperhatikan raut sedih gadis itu menceritakan seluruh kejadian yang menjadi pikirannya.
"Mereka memang baik-baik saja, tapi hati mereka tidak." Yixing menyahut dan mengusap lengan Kyungsoo dengan lembut. "Kau sudah cukup membantu mereka untuk menghibur diri, hanya saja mereka membutuhkan lebih dari itu. Saat hati mereka yang merasakan kosong, kalimat penenang sebijak apappun tidak akan bisa memperbaikinya karena yang mereka butuhkan adalah sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hati itu."
"Sesuatu itu apa?"
"Sesuatu itu bisa apa saja, perasaan cinta, bahagia, kenyamanan.. sesuatu yang membuatmu bahagia."
"Aku belum mengerti maksudnya.." Kyungsoo tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya.
"Kau bukannya belum mengerti. Kau belum merasakannya." Yixing mengusap kepala Kyungsoo dan memeluknya sebentar. "Kau pasti akan merasakannya nanti, bila ia juga menyadari hal yang sama denganmu. Hanya masalah waktu Puteri Mahkota." Kedipan mata Yixing hanya diperhatikan oleh Kyungsoo yang sebenarnya dirinya sedang menebak-nebak maksud dari ucapan Yixing kepadanya.
"Cepatlah masuk kedalam, udara sudah mulai dingin." Yixing menyadarkan lamunan Kyungsoo, dan setelahnya gadis itu menganggukkan kepala dan berlari masuk kedalam Istana.
Disaat bersamaan, Yoora terlihat melangkah pelan menuju kearah dimana Yixing masih berdiri dan menghadap kearahnya, seakan-akan memang pertemuan mereka sudah dijadwalkan.
"Kau sengaja mengusirnya karena mengetahui kedatanganku kesini?" Yoora menatap curiga Yixing sambil menunjuk kearah dimana Kyungsoo berlari.
"Aku tidak mengusirnya, dia sudah memikirkan makanan sedari tadi hanya tidak ia ucapkan padaku."
Yoora tertawa kecil dan hanya bisa menggelengkan kepala mendengar penjelasan Yixing dimana sedikit tidak bisa dipahami.
"Bagaimana, apa ada kabar dari Chanyeol?"
Yoora menatap Yixing sebentar dan tersenyum kecil. "Apa wajahku terdapat tulisan 'Aku mengkhawatirkan Chanyeol'?" tangannya menunjuk keatas dahinya dan bergerak seakan-akan membuat tulisan disana.
"Sebenarnya tidak tapi mungkin kau bisa membuatnya sehingga yang lainnya tahu bahwa adikmu itu membuat kakaknya khawatir setengah mati." Yixing menjawab santai dengan matanya yang masih memperhatikan Yoora.
"Penglihatanku masih sama.. dan aku tidak tahu apakah memang tidak berubah atau akan berubah lebih.."
Yixing terdiam untuk beberapa detik dan menatap Yoora yang masih terduduk lemas disampingnya.
"Kau tahu, mengenai penglihatannya yang mengalami perubahan ketika menyangkut Chanyeol dan juga Baekhyun. Mengenai urutan kejadian ataupun waktu dan tempat kejadian itu?"
Yoora menganggukkan kepala. "Iya aku ingat, aku pernah menanyakkan padamu mengenai itu dan akhirnya kau melakukan penglihatan kedepan dan memang terjadi sesuai dengan apa yang terjadi saat itu kan."
"Ada beberapa hal menarik mengenai itu."
"Apa?" Yoora menggeser badannya untuk menghadap kearah Yixing.
"Kau tahu mengenai ramalan kekuatan itu kan." Yoora mengangguk. "Ingat apa yang pernah ku katakan mengenai dua kekuatan itu saat gagal menghadapi serangan Hades dan nyawa mereka tidak terselematkan?"
"Mereka akan ber-reinkarnasi dan masih harus menyelesaikan peperangan mereka kembali di kehidupan selanjutnya."
"Itu dia, itulah alasan kenapa penglihatanmu berubah." Yixing tersenyum penuh arti sementara Yoora termenung menatap Yixing.
"Kenapa aku tidak mendapatkan mengenai kejadian saat ini?" Yoora menatap aneh pada dirinya.
"Karena penglihatan yang kita dapatkan adalah kejadian yang pernah terjadi sebelumnya di kehidupan yang lalu, dan hanya mengalami perubahan sedikit karena saat itu kita semua menyadari kesalahan itu dan tidak ingin mengulanginya lagi. Lain halnya dengan kejadian milik Chanyeol dan Baekhyun, mimpi-mimpi yang mereka alami adalah kejadian dimasa lalu kehidupan mereka sebelum reinkarnasi, dan pada saat kehidupan saat ini apapun yang mereka putuskan bisa mengubah segala jalan takdir yang ada. Begitu juga penglihatanmu."
Yoora membelakkan matanya tidak percaya.
"Maksudmu.. mereka sendiri bisa mengubah jalan takdir yang sudah terjalin?"
"Mungkin lebih tepatnya, Baekhyun yang memegang kendali penuh jalan takdir yang ia inginkan."
"Ke-kenapa dengan Baekhyun?"
"Bila dilihat dari garis kehidupan mereka, Chanyeol merasa bersalah karena tidak bisa menjaga wanita yang ia cintai hingga sampai akhirnya Baekhyun kehilangan nyawanya di tangan Hades, untuk itu pada saat ia dilahirkan kembali ada rasa bersalah dan niat untuk menebus segala kesalahan yang pernah ia lakukan. Sedangkan untuk Baekhyun, ia tidak mau melihat Chanyeol merasakan semua beban untuk berperang melawan Hades sendirian dan harus melihat dirinya menjadi korban saat perang nanti. Untuk itulah kenapa Baekhyun yang ada saat ini keras kepala dan lebih berani, bukan Baekhyun yang lemah lembut seperti sebelumnya. Dan itulah alasannya kenapa saat Baekhyun menggunakkan kekuatanya, sosoknya terlihat berbeda karena ia memiliki dendam untuk tidak menyakiti sosok yang ia cintai."
Keterkejutan Yoora semakin menjadi-jadi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Yixing mengenai Baekhyun. "Itulah kenapa aku tidak bisa membaca pikirannya ataupun melihat masa depannya.. karena ia yang akan mengubah semuanya.."
"Baekhyun memiliki perisai pada kekuatannya, itu juga yang menghalangi untuk segala kekuatan menembus kedalamnya. Dan juga mimpi-mimpi yang mereka alami adalah kenangan yang dimiliki di kehidupan sebelumnya.. dan ada alasan kenapa mereka mendapatkan mimpi itu."
"Untuk bisa mengenang kisah cinta mereka dan mengubah jalan takdir yang ada." Yoora menyahut cepat dan Yixing tersenyum.
"Betul sekali."
Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan terdiam dengan segala pemikiran yang ada.
"Belum ada kabar dari Chanyeol?" Yixing kembali membuka topik pembicaraan.
Yoora menggelengkan kepala dan raut wajahnya kembali sedih. "Aku mencoba memanggilnya terus tapi tidak pernah ia menjawabnya."
"Kapan terakhir kau masuk dalam pikirannya?"
"Saat keberangkatannya, ketika ia berdiri tepat di depan gerbang Hades saat itulah terakhir kali aku bisa berkomunikasi padanya." Yoora mengusap air matanya yang mengalir di sebelah pipi kanannya. "Bahkan dua hari belakangan ini aku tidak bisa berkomunikasi dengan siapapun, semuanya menghilang dan itu semakin membuat takut. Apa kekuatanku yang hilang atau mereka memang tidak membiarkan aku masuk dalam pikirannya."
"Mungkin kita berdua harus mencoba masuk kedalam pikiran mereka bersama-sama, aku takut mungkin karena kondisimu yang sedang lemah—
"Baekhyun." Yoora seketika beranjak berdiri dan kedua tangannya menutup kedua mulutnya. "Oh Chanyeol-ah.." isakan Yoora semakin menjadi-jadi bahkan Yixing yang berulang kali menanyakkan ada masalah apa ikut membelakkan matanya ketika ia mendapatkan penglihatan yang sama dengan apa yang Yoora lihat. Yixing bergegas membawa Yoora berlari masuk kedalam Istana sambil meneriakkan nama Baekhyun berulang kali.
-Loves of Tales-
"Yoora-na! Kau baik-baik saja?" Baekhyun yang berada dalam gandengan tangan Luhan ingin menghampiri Yoora yang terlihat pucat dan tidak berhentinya menangis sedangkan Yixing menahan Baekhyun untuk tidak mendekat kearah mereka berdua.
"Luhan, kau tetap bersama dengan Baekhyun apapun yang terjadi. Dan Baekhyun, sayang.. dengarkan aku baik-baik. Gunakan perisaimu saat ini juga dan bawa Luhan masuk kedalamnya dan usahakan untuk tidak memperlihatkan wujudmu apapun yang terjadi. Kau mengerti." Yixing memegang wajah Baekhyun dengan kedua tangannya dan menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya.
"Ia baik-baik saja.. jangan membuatnya semakin khawatir akan keselamatanmu. Buat ia tenang memikirkan mu disini baik-baik saja dan bisa kembali secepatnya. Saat ini itulah yang bisa kau lakukan untuk membuatnya selamat melawan Hades disana." Yixing berbisik pelan tepat di depan wajah Baekhyun yang semakin terisak dengan kepalanya yang mengangguk mengerti.
"Jaga Baekhyun apapun yang terjadi. Mengerti?" kini Yixing memperingati Luhan.
Setelahnya mereka sama-sama menghilang dalam lingkaran perisai Baekhyun meskipun begitu, Yixing masih bisa merasakan kehadiran kedua gadis itu didekatnya. Tao dan Kyungsoo yang baru saja ikut bergabung akhirnya mendekat kearah Yixing dan Yoora, sedangkan pandangan mata mereka tertuju pada kondisi langit yang semakin gelap mengarah kearah Istana Eowyn.
"Apakah itu Hades?" Tao berbisik pelan dengan suaranya yang bergetar ketakutan.
"Ini hanya sebagian anak buah Hades.." Yixing menatap tajam kearah sana dan memperat pegangan tangannya pada Yoora dan juga Kyungsoo. Tao yang berada dibelakang Yixing menunduk dan memeluk erat pinggang Yixing dengan kuat.
Semakin lama awan gelap itu semakin mendekat dan terlihat kobaran api yang membakar semua pepohonan hijau dan apapun yang dilalui awan gelap itu dan pergerakannya semakin cepat.
"Ingat, apapun yang terjadi jangan pergunakkan kekuatan kalian." Yixing memperingati lagi, dan baru saja ia akan merapalkan mantra untuk membuat pertahanan di sekeliling Istana, suara gemuruh dan teriakan terdengar sangat keras dari arah awan itu yang langsung berwujud menyerupai raksasa dengan tiga tanduk api di atas kepala, matanya menyala merah api dan bahkan saat mahluk itu berteriak mengaum mengeluarkan kobaran api yang langsung menghabiskan pepohonan dan bangunan disampingnya tanpa tersisa tapi saat ia mengarahkan api itu tepat kearah Istana Eowyn, api itu kembali kearahnya dan mengenai wajahnya hingga ia berteriakkan kekesalannya.
"Kau bermain-main dengan Hades hah?"suaranya menggetarkan seisi tanah tapi Yixing dan Yoora melangkah maju untuk memperlihatkan wajah mereka sementara Kyungsoo dan Tao serta Baekhyun dan Luhan masih berada didalam istana.
"Untuk apa kau datang kemari Kronos? Apakah Tuan-mu tidak mengajarkan sopan santun untuk tidak datang tanpa undangan?" Yixing yang menyahut lebih dulu.
"Oh, Dear Peramal yang cantik.. katakan itu pada calon Raja kalian yang mengusik ketenangan bawah tanah."
"Apa yang kau lakukan pada Chanyeol?" Yoora terbawa emosi ketika Kronos menyiratkan nama adiknya.
"Hmm.. apa yang terjadi padanya.. kau bisa melihatnya sendiri. Hahahhah! Kedatanganku kemari hanya untuk memberi tahukan kalian bahwa Calon Raja kalian yang sangat kalian sayangi sedang sekarat akan siksaan Hades. Hah, pemegang api bumi hah? Katakan itu pada mayatnya yang tergeletak diatas api."
Kronos menggerakkan tangannya memutar dan menimbulkan pusaran api hingga pada pergerakannya yang begitu cepat pusara itu semakin terbuka lebar dan memperlihatkan bagaimana kondisi alam Hades yang disekelilingi api pada setiap sisinya, awalnya Yoora hendak melawan tapi seketika pandangan matanya meihat bagaimana Chanyeol yang tergeletak diatas meja api dan baru saja mendapat pukulan dari sebuah tangan besar yang terlihat seperti bongkahan batu menghantamnya berulang kali dan sama sekali tidak ada perlawanan dari Chanyeol yang sudah terlihat seperti tak bernyawa didalam sana.
"Menyedihkan bukan. Hahahaha.. aku prihatin pada kalian dear.. tidak perlu lagi mencari cahaya abadi dan api bumi selanjutnya.. karena tidak ada gunanya melawan Hades."
Yoora tergeletak lemas dan terisak dalam pelukan Yixing.
"Kau akan menyesali kejadian ini nantinya Kronos." Yixing menyahut dan memberikan tatapan menantang pada kearah Kronos, dan raksasa itu hendak memberikan pukulan kearah Yixing namun tidak bisa karena seluruh Istana Eowyn sudah dilindungi oleh Perisai Baekhyun.
Gadis pintar. Yixing berucap dalam hati.
"Kau memiliki kekuatan baru rupanya.." Kronos memberikan pujian.
"Well, itu sebagai tanda ucapan penolakan akan kehadiranmu ditanah Kerajaan Zeus dan juga Sang Pencipta." Yixing kembali menantang.
"Seharusnya kau memberitahu kedatangamu lebih dulu." Yoora akhirnya menyahut dan memberikan senyuman sinis kearah Kronos seperti yang dilakukan Yixing.
"Baekhyun.. aku tahu kau bisa mendengarku saat ini." Yoora melakukan pembicaraan dalam pikirannya sementara Yixing masih mengalihkan pikiran Kronos dengan memberikan kalimat-kalimat penolakan dan ejekan tentang dunia bawahnya yang tidak memiliki kehidupan.
"Yo-yoora-na.." Baekhyun menjawabnya dengan suara takut
"Jangan takut.. ia tidak bisa mendengarnya. Kau melakukan hal yang hebat dear." Yoora memberikan pujian dan ia tahu Baekhyun kini tersenyum walaupun masih dipaksakan setelah melihat apa yang telah terjadi pada Chanyeol.
"Ia akan baik-baik saja, ingat apa kataku saat Chanyeol dalam wujud Phoenix, ia lebih kuat dari siapapun."
"Hm, aku percaya.."
"Aku mohon kau membuka perisaimu yang menahan Istana saat aliran air dan petir tiba mengenai Kronos, dan biarkan para Putri Mahkota Eleanor untuk masuk sebentar, setelah itu kau bisa menutupnya lagi. Kau mengerti ?"
"A-aku mengerti."
"Sebaiknya kau mengikuti apa yang Yixing katakan tadi, kembalilah dan bawakan adikku kembali dengan selamat aatu aku akan menebas kepalamu!" Yoora ikut menyerang Kronos dengan kalimat pedasnya.
"Haha, kau masih saja angkuh Puteri Yoora, adikmu akan kembali dengan tubuh tanpa nyawa didalamnya dan kau hanya bisa menangis merutuki kekuatanmu yang hanya bisa melihat masa depan tanpa ada kekuatan yang bisa—aaarrrkkkkhh!"
"Ya, katakan itu pada air yang membuat tubuhmu hangus." Yoora dan Yixing sama-sama tersenyum melihat arus air yang datang dari sekeliling mereka dan menenggelamkan tubuh raksasa Kronos.
"Mereka akhirnya memanggilmu?" Yixing bertanya pada Yoora dengan tatapan masih memandang kedepan.
"Ya, akhirnya mereka memberitahuku rencana yang mereka susun, kecuali Chanyeol."
"Dia akan baik-baik saja, Phoenix betul?"
"Hm, aku harap itu Phoenix."
Perisai yang melindungi Istana sedikit bergetar saat badan Kronos dihempas ombak dan terhantam kearah Istana Eowyn, namun Baekhyun yang masih terfokus disebelah Luhan tetap menahan agar perisai miliknya sama sekali tidak bisa ditembus apapun.
"Kau masih kuat Baekhyun." Yoora menyemangatinya dalam pikirannya.
Saat air yang menggulung Kronos mulai surut seketika bunyi petir menyambar langsung menghujam badan raksasa milik Kronos dengan begitu dahsyat dan bahkan bagi mereka yang melihat dari dalam Istana, pemandangan itu akan terlihat bagaikan langit yang terbelah dengan tongkat petir bercahayakan kilatan.
"Yoora-na.. apa sudah boleh—
"Jangan dulu.."
Yoora melangkah lebih dekat kearah pembatas perisai untuk melihat langsung kondisi Kronos yang sudah hangus tergeletak lemah, dan akhirnya saat ia mendengar suara helicopter terdengar dari kejauhan, senyumnya kembali terbentuk dan meminta Baekhyun membuka sedikit perisainya membiarkan helicopter itu masuk kedalam Istana.
Sementara diluar sana Kris tiba-tiba muncul dengan badan yang diselimuti api naganya dan bahkan tiga naga berada disekelilingnya menghadang pandangan Kronos yang terarah pada Yoora dan juga Yixing.
"Kau membuat kesalahan datang menghampiri tanah Zeus." Kris menantang Kronos yang coba bangkit dengan badannya yang sudah menghitam bagaikan bebatuan yang telah habis terbakar, bahkan beberapa serpihan abu mulai terlihat berjatuhan dari badan raksasa itu. Kris mengarahkan ketiga naganya melilit badan Kronos yang semakin lemah dan melemparkan api merah pekat untuk membakarnya.
"Aaarkkhhhh! Kalian yang membuat kesalahan mengikutiku datang ke tempat ini! Calon Raja kalian tidak akan selamat dari Hades!"
"Hmm. kau membuat salah satu Calon Raja murka." Kris menyahut dengan santainya.
"Haha.. calon Raja kalian menyerahkan diri hanya untuk—
Semua mata yang melihatnya tidak percaya ketika melihat kilatan cahaya merah terbelah dalam tubuh raksasa Kronos tepat pada bagian kepalanya hingga hanya menyisakan abu hitam yang bahkan hilang dalam sekejap saat Sehun menghempaskan tangannya dengan angin yang melingkar disekitarnya.
"Bisakah kau langsung menghujamnya tanpa melakukan acara chit chat yang tidak berguna?" Suara Chanyeol yang terdengar dari balik hempasan angin terdengar, dan Yoora tersungkur duduk melihat Chanyeol yang masih memegang pedangnya dengan badannya yang masih diselimuti api Phoenix.
"Aku hanya berniat mengulur waktu karena Jongin tidak bisa mendaratkan helicopter itu dengan benar." Kris merangkul Chanyeol dan mereka berjalan bersama menghampiri Suho dan Jongdae yang baru juga muncul entah darimana.
"Setidaknya bantu aku melawan tangan batu itu sebelum kau pergi kembali ke Eowyn!" Chanyeol memberikan protest lagi pada Kris.
"Kau bisa menghadapinya sendiri kan. Buktinya kau terbebas tepat waktu."
"Rencana yang lumayan bagus." Suho memuji dan menepuk lengan Chanyeol sebentar setelah itu berlari bersama Jongdae untuk segera masuk kedalam Istana. Chanyeol masih mengeluh sakit dan melihat sekelilingnya Istana Eowyn yang terlihat berantakkan. Tanpa menyadari bahwa Yoora sudah berlari kearahnya dan langsung memeluk badannya.
"Wow. Badanku masih panas Yoora.."
"Aku tidak peduli." Yoora bergumam dalam pelukannya. "Kau selalu membuatku khawatir! Setidaknya balas sedikit saja ketika aku memanggilmu." Yoora memukul dada Chanyeol sedangkan adiknya itu menunduk di bahu Yoora dan membalas pelukannya.
"Maafkan aku.. tapi setidaknya rencana ini berhasil bukan?" Chanyeol melepaskan pelukannya dan melihat wajah Yoora yang masih terlihat kesal.
"DAN KAU!" kali ini Yoora menujuk Kris.
"Hey apa salahku?" Kris meloncat kaget dan merangkul badan Chanyeol dengan cepat.
"Sudah kubilang untuk selalu mengabari apa yang terjadi dan kau juga mengabaikan panggilanku dasar kalian pria tidak berperasaan! Tidak tahu apa rasa khawatir yang kami rasakan eoh!" Yoora memukul lengan Kris berkali-kali bahkan hingga Kris memilih berlari kabur untuk menghindar tapi Yoora tetap mengikutinya hingga mereka terlihat saling kejar mengejar hingga masuk dalam Istana.
Chanyeol yang masih berdiri diposisinya hanya bisa mengelengkan kepala dan membawa pedangnya sebagai tumpuan untuk ia berjalan karena seluruh badannya masih terasa sakit akan segala siksaan yang dirasakan sebelumnya, namun sebelum langkahnya semakin menjauh langkahnya terhenti ketika melihat sosok mungil yang berjalan pelan kearahnya dengan wajahnya yang merenggut sedih.
Chanyeol memandang wajah itu dan memaksakan dirinya untuk melangkah lebih cepat menyusul gadis itu yang terdiam di posisinya, bahkan saat matanya semakin bisa melihat jelas bahwa gadis itu menangis Chanyeol malah semakin tidak bisa menahan dirinya untuk langsung memeluk erat badan gadis itu, dan Baekhyun membalas pelukannya dan mengusak wajahnya untuk semakin tenggelam dalam dekapan Chanyeol.
"Aku baik-baik saja.." Chanyeol memberikan usapan pada punggung Baekhyun yang masih bergetar dan hanya kepalanya yang bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri.
"Kau sudah membantuku dengan menggunakan perisaimu untuk melindungi Istana dan juga melindungi dirimu dan Luhan dari hadapan Kronos." Chanyeol masih memuji dan mencium kepala Baekhyun berulang kali sedangkan Baekhyun masih terisak dan malah memperat pelukannya.
Chanyeol membiarkan Baekhyun dalam pelukannya, memberikan usapan pada punggung gadis itu atau berulang kali memberikan kecupan pada pucuk kepala Baekhyun, cukup lama mereka berdiri di luar sana bahkan hingga tubuhnya mulai kembali dalam wujud manusianya dan tidak ada siapapun lagi karena semuanya sudah masuk kedalam Istana, meninggalkan mereka berdua.
"Aku mencintaimu." Chanyeol memeluk erat tubuh mungil Baekhyun dan menenggelamkan wajahnya di bahu gadis itu, berulang kali ia katakan kalimat itu dengan mulutnya dan semakin erat memeluk badan Baekhyun. "Harusnya aku mengatakannya sejak lama, tapi semua mimpi yang aku alami membuatku takut bahwa mungkin kau akan lebih tersiksa melihatku melawan Hades atau bahkan saat kita sama-sama berjuang bersama pada akhirnya dan salah satu dari kita akan—
Baekhyun melepaskan pelukannya dan menjauhkan badannya dari Chanyeol, kedua tangannya masih memeluk pinggang Chanyeol tapi wajahnya menatap dalam kearah Chanyeol dan tersenyum kecil.
"Seharusnya kau mengatakan itu sebelum mencium ciuman pertamaku kemarin." Baekhyun akhirnya tersenyum setelah mengatakan kalimat itu pada Chanyeol.
Chanyeol ikut tersenyum dan akhirnya mengusak rambut Baekhyun dan setelahnya, kedua tangannya memegang wajah Baekhyun, mengusap sisa air matanya dan memandangi wajah mungil yang cantik dan terkadang bisa terlihat menggemaskan.
"Kau bilang tidak akan mengingat ciuman pertamamu kemarin." Chanyeol kembali protest dengan suara yang mengejek Baekhyun dengan salah satu tangannya mencubit hidung mancung milk Baekhyun.
"Jangan memasang wajah menggemaskan lagi, aku tidak tahan untuk tidak menciummu kalau melihatnya." Chanyeol menyengir lebar sedangkan Baekhyun memandangi wajah Chanyeol dengan tatapan yang masih sama dan bahkan bola matanya berbinar seperti mata puppy yang memohon kepada Tuan-nya.
"Aku serius Baek.." Chanyeol mengingatkan lagi sedangkan kini Baekhyun sudah berjinjit mendekatkan wajahnya pada wajah Chanyeol seakan-akan gadis itu sengaja menggodanya.
"Jangan lupakan ciumanku kali ini." Chanyeol berbisik tepat diwajah Baekhyun sebelum tangannya menarik wajah Baekhyun mendekat dan bibirnya langsung melumat bibir tipis milik Baekhyun yang sedari tadi ia perhatikan, ciuman Chanyeol selalu lembut tapi bergerak cepat, melumat setiap bagian bibir Baekhyun dan menggigitnya supaya gadis itu membiarkan mulutnya merasakan segala hal manis yang ada pada bibir dan lidahnya. Tangan Baekhyun yang sudah mengalung pada leher Chanyeol semakin membuat mudah untuk Chanyeol semakin memperdalam ciumannya, bahkan ketika tangan gadis itu meremas rambutnya dan membuka mulutnya hingga lidah mereka saling bertemu, kepala mereka masing-masing saling bergerak untuk mengikuti pergerakan bibir mereka.
-Loves of Tales-
"Masih berlanjut?"
"Hm hm.."
"Dasar anak nakal! Kakaknya baru saja mempertaruhkan nyawanya dan kini ia malah menikmati berciuman—
Kris menahan ucapannya dengan punggung tangannnya sementara Yoora masih memakaikan perban di salah satu tangannya.
"Tidakkah ia peduli padaku sedikit saja?" Kris masih mengeluh lagi, dan mengusap perban yang sudah selesai dipasangkan oleh Yoora. "Apa yang mereka lakukan sekarang? Masih saling itu.." Kris menggerakkan kedua tangannyan yang sudah mengerucut dan saling beradu seakan-akan itu adalah bibir Baekhyun dan Chanyeol.
"Kau bisa mengatakannya bahwa mereka berciuman, tidak usah diperagakan seperti itu membuatku jijik melihatnya." Yoora memasang wajah jijik kearah Kris dan mulai merapikan kotak obat yang ia bawa. "Hm, seperti ciumannya mulai panas.. Chanyeol mulai mengusap perut Baek—
Seketika Kris beranjak bangun dan melangkah keluar ruangan itu melupakan sakit pada badannya, bahkan Yoora bisa mendengar suara langkah lari dan teriakan yang Kris lakukan dengan memanggil nama Baekhyun berulang kali.
Teriakan itu sungguh menggema keseluruh ruangan Istana dan bahkan hampir membuat semuanya yang tengah beristirahat mencari sumber suara itu dari luar jendela.
"Huaa.." Sehun lebih dulu melihat bagaimana kakaknya, Chanyeol masih mencium Baekhyun di luar Istana sana.
"Kenapa, kau melihat apa?" Luhan tiba-tiba muncul dari balik badannya dan Sehun merangkulnya Luhan untuk berdiri didepannya dan melihat pemandangan yang sama. "Huaaa.. mereka berciuman lagi." Luhan tersenyum dan menggenggam tangan Sehun yang melingkar di depan dadanya.
"Dan Kris akan datang untuk mengamuk." Sehun terkekeh ketika melihat Kris sudah berjalan cepat keluar dari Istana dan kembali meneriakkan nama Baekhyun, hingga pemandangan ciuman Chanyeol-Baekhyun terhenti karena teriakan Kris. Luhan melepaskan pelukan Sehun dan melangkah masuk kedalam kamar lagi, mengambil beberapa baju Sehun yang tergeletak di lantai dan merapikan obat-obat yang sebelumnya ia berikan pada Sehun.
"Kau tidak mau memberiku ciuman selamat datang kembali atau apapun seperti yang Baekhyun lakukan?" Sehun melipat tangannya bersandar dinding jendela dan memperhatikan punggung Luhan.
"Aku sudah mengobati lukamu dan memberimu pelukan itu sudah cukup." Luhan menjawab dengan nada ketus seperti biasanya.
"Tidakkah kau takut akan kehilanganku." Sehun memeluk Luhan dari belakang tanpa disadari gadis itu, bahkan Sehun mencium bahu Luhan yang masih ditutupi mantel Kerajaab Glorfindel-milik Sehun- yang sudah beberapa hari ini ia gunakkan.
"Aku selalu memikirkanmu saat disana, bahkan saat Chanyeol menjelaskan rencana yang ia akan lakukan, aku memikirkan bagaimana menyelamatkanmu. Bagaimana kalau aku tiba kembali ke Eowyn dan ternyata Kronos sudah menghancurkan is—
Luhan membalikkan badannya dan langsung menarik wajah Sehun, bibirnya bergerak melumat bibir milik Sehun tanpa sepatah katapun yang ia katakan sebelumnya, Sehun yang tersenyum dalam ciumannya ikut memejamkan matanya dan menarik tekuk leher Luhan untuk mempermudah ciuman mereka. Dan hal yang lainya yang ia lakukan adalah mendorong badan Luhan untuk berbaring di ranjangnya, menindih badan gadis itu dan memenjarakannya hingga Luhan tidak bisa bergerak kemanapun. Sehun semaki memperdalam lumatan bibirnya dan mulai membuka ikatan tali mantel yang Luhan kenakan hingga terlepas.
Luhan bergerak bangun dengan bibir mereka yang masih berciuman dan melepaskan mantel yang ia gunakkan, membiarkan tangan Sehun untuk membuka kembali gaun yang ia gunakkan hingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya tanpa sehelai benang apapun.
Sehun melepaskan bibirnya dan memperhatikan Luhan yang terengah-engah dihadapannya hanya karena sebuah ciuman yang ia lakukan.
"Bisakah aku melanjutkan?" Sehun menatap Luhan dengan memohon sementara gadis itu memejamkan matanya merasakan kecupan lembut pada wajah, leher dan bahunya. Hingga tangan Luhan bergerak kearah pintu dan jendela, menggunakan kekuatannya untuk menutup pintu dan semua jendela pada kamar itu hingga terkunci rapat.
"Lakukan dengan lembut atau aku akan menghajarmu." Luhan berbisik dan menggunakkan kekuatannya lagi untuk membalikkan badannya menjadi diatas Sehun, dan kemudian mencium bibir Sehun dengan penuh hasrat terpendam.
.
Kris dan Chanyeol saling memandang dalam diam, sementara Baekhyun yang tenggelam dibalik punggung Chanyeol hanya bisa menundukkan kepala dan menggigit tangannya kedalam mulutnya.
"Aku benar-benar mencintai Baekhyun." Chanyeol kembali menjelaskan kearah Kris.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin bicara dengan adikku." Kris bertolak pinggang, sedangkan kepalanya mencoba melihat Baekhyun yang sama sekali tidak kelihatan karena begitu mungilnya.
"Katakan dulu padaku kalau kau mengijinkan aku memiliki adikmu, baru aku ijinkan kau berbicara padanya." Chanyeol menunjukkan sisi posesifnya dan merentangkan kedua tangannya seakan-akan menolak Kris untuk mendekat keraha dirinya dan Baekhyun.
"Aku ini kakaknya kau tahu! Baekhyun! Ayolah aku hanya ingin bicara denganmu mengenai masalah ini." Kris berteriak lagi.
"Jangan berteriak padanya." Chanyeol kembali melarangnya, Kris menggelengkan kepalanya dan memutar bola matanya karena kali ini ia seakan-akan menjadi kakak paling jahat atau kakak tiri yang akan menyiksa adiknya sendiri.
"Jangan membentaknya, adikmu malah semakin takut! Dasar Idiot!" Suara Yoora kini ikut hadir dalam pikirannya.
"Dan kau sekarang membela adikmu dan adikku juga."
"Kalau kau hanya mau bertanya pada Baekhyun setidaknya bicara dengan suara lembut, dasar pria tidak punya perasaan!" Yoora kembali mengatai Kris.
"Aku tidak marah padamu, aku hanya ingin menanyakkan apa kau memang mencintai Chanyeol atau tidak." Suaranya kini berubah menjadi lebih lembut. "Baekhyun.. aku benar tidak akan marah atau mengadukan pada Ibu dan Ayah, aku ingin bicara dengamu sayang." Kris memohon, dan Chanyeol ikut membantunya dengan sedikit menengok kearah Baekhyun yang masih meremas punggungnya.
"Jangan menggodaku juga.." Baekhyun menyahut pelan.
"Aku tidak akan menggodamu, pacar barumu itu boleh menendang pantatku saat aku menggodamu nanti." Kris menyahut dengan sedikit tertawa setelahnya dan pada akhirnya Baekhyun menengok sedikit dan dengan langkah pelan-pelan keluar dari balik punggung Chanyeol mendekat kearah Kris dan langsung memeluknya.
"Aku merindukanmu juga!" Baekhyun memeluk badan Kris dan langsung dibawa memutar oleh kakaknya seperti yang sebelumnya mereka selalu lakukan bila Kris baru selesai berperang ataupun pulang kembali setelah perjalanan yang ia lakukan sebelumnya. Chanyeol yang melihatnya berjalan pelan meninggalkan mereka berdua untuk menikmati waktu antara kakak dan adik itu.
"Sekarang kau lebih memilih memeluk Chanyeol terlebih dahulu dibandingkan kakakmu sendiri hah!" Kris meninggikan suaranya meskipun badannya masih memeluk Baekhyun dengan erat, dan Baekhyun kembali menenggelamkan wajahnya enggan berkomentar mendengar kalimat yang Kris lontarkan.
"Aku hanya bercanda." Kris mengusap punggung Baekhyun dan memperat pelukannya. "Aku tahu kalian memang ditakdirkan bersama sejak awal, hanya saja aku tidak mau kau akan terluka nantinya.. mengingat banyak kejadian kedepan yang mungkin saja bisa memisahkan kalian berdua. Dan aku akan selalu mengatakan padamu, apapun yang terjadi, aku adalah Kakakmu, dan saat Chanyeol tidak bisa melindungimu, aku selalu ada menggantikan dirinya. Begitupun Chanyeol, saat aku tidak ada untuk melindungimu, dia akan ada menggantikkan aku untuk menjagamu." Kris mencium kepala Baekhyun cukup lama hingga air matanya mengalir pelan dari ujung matanya.
"Dasar cengeng." Yoora mengganggu moment mengharukan antara Kris dan Baekhyun, hingga membuat Kris kembali tersenyum kesal.
Kris melepaskan pelukannya dan melihat wajah Baekhyun yang sudah membengkak, matanya yang merah karena menangis terus sedangkan kedua pipinya yang gembil ikut merona dan bahkan terlihat seperti dua mochi rasa strawberry yang selalu dimakan oleh Baekhyun.
"Lihat wajahmu membengkak semua, sedangkan badanmu terlihat kurus. Apa benar Chanyeol mencintaimu setelah melihat kondisimu begini."
"Yaaaa!" Baekhyun memukul dada Kris dengan cukup kencang dan setelahnya ia mengusap wajahnya dan merapikan rambutnya yang berantakan karena Kris mengusaknya dengan cukup keras tadi.
"Perhatikan tingkahmu sekarang! Jangan membuat malu dengan bertingkah bukan seperti Puteri Mahkota." Kris kembali memberikan nasihat.
"Iya iya.. kau itu bawel sekali." Baekhyun merenggut kesal.
"Kemarilah! Aku ingin merangkulmu sambil berjalan." Kris menarik tangan Baekhyun dan mengalungkan tangannya pada bahu Baekhyun, dan adik kecilnya itu mengalungkan tangannya pada pinggang Kris dan menyadarkan kepalanya pada dada kakaknya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
"Pertanyaan yang mana?" Baekhyun menyahut cepat.
"Kau mencintai Chanyeol?"
Baekhyun melepaskan pelukannya dan berusaha berjalan terpisah sedangkan Kris yang tahu sifat adiknya menahan leher adiknya seakan-akan lehernya akan dipatahkan bila Baekhyun memberontak lagi.
"ya! Ini sakit!" Baekhyun mengeluh.
"Oh-oh lihatlah biasanya kau melawan dan kini malah merengek, apa kau akan meminta pacar barumu itu yang melawanku hah? Dasar gadis licik!" Kris semakin memperat pegangan pada leher Baekhyun hingga adiknya itu memberontak.
"Yaaaakk!" Baekhyun mendelik tajam kearah Kris dan tanpa menunggu Kris menjawab atau bicara lagi ia menarik tangan Kris hingga badan kakaknya itu tertarik dan berguling kedepan menghantam tanah.
"Aaaaaakkkkhhh!" Kris menjerit kesakitan karena punggungnya tepat menghantam serpihan batu,
"Ommo! Maafkan aku... maafkan aku.." Baekhyun yang melihat kakaknya merintih kini menghampirinya dan membantunya untuk bangkir berdiri sambil terus meminta maaf dan bahkan ia tidak melawan saat Kris membentaknya lagi karena keterlaluan melawannya.
"Dasar manja!" Yoora mengeluarkan kalimat tidak sukanya melihat kejadian antara Baekhyun dan Kris sedari tadi dari balkon atas Istana.
"Sudah puas melihat mereka, sekarang bantu aku mengobati luka ini." Chanyeol yang sedari tadi mengobati beberapa lukanya sendiri kini merengek meminta Yoora memperhatikannya.
"Mintalah dengan pacar baru-mu itu." Yoora meledeknya dan menghampiri Chanyeol, tangannya mengambil beberapa obat-obatan dan kemudian mengusapkan pada luka-luka yang cukup banyak terlihat pada seluruh badan bagian atas Chanyeol.
"Jangan meminta Baekhyun mengobati lukaku, itu akan membuatku tersiksa."
Yoora dan Chanyeol sama-sama tertawa. "Ku pikir kau termasuk pria yang cukup tangguh menahan segala hasrat gairah dalam dirimu."
"Tidak berlaku bila didekat Baekhyun, melihat dia berdiri diam saja otakku sudah tidak bisa bekerja dengan baik." Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Aaah! Pelan-pelan!" Chanyeol meringis saat Yoora meneteskan obat pada bagian punggung atasnya.
"Luka ini lebih dalam dibandingkan yang lain." Yoora meniup luka itu dan kembali meneteskan sedikit demi sedikit. "Sehun bukan anak kecil lagi sekarang, kemarin aku menjemputnya dan dia sedang bermesraan dengan Luhan di kamarnya. Benar-benar anak itu!"
Chanyeol tersenyum dan meringis menahan sakit bersamaan. "Tunggu sampai Ayah tahu apa yang ia lakukan, ngomong-ngomong.." Chanyeol membalikkan badannya menghadap kearah Yoora.
"Hm, kenapa?"
"Kris sudah tahu mengenai—
Yoora terdiam dan mendadak badannya menjadi lesu dengan matanya yang menerawang jauh memikirkan kalimat yang Chanyeol katakan.
-Loves of Tales-
"Gadis yang bermata bulat dan menggemaskan ini dan baru saja mengembalikan kehidupan alam disekitar Istana Eowyn bernama Kyungsoo, dan dia adalah Puteri Mahkota Eowyn." Yoora menunjuk Kyungsoo kearah Irene, sudah sedari tadi Yoora mengajak Irene, Krystal dan juga Minseok berkeliling Istana Eowyn dan kini mereka berkumpul di ruang makan dan saling berkenalan kembali sebelum menyantap makan malam bersama.
"Lalu disebelahnya, Tao, Luhan dan juga Baekhyun." Yoora mengurutkan dan mereka yang namanya disebutkan hanya bisa menyapa dengan kalimat halo bersama-sama.
"Dan untuk para Putera Mahkota tentu saja kalian sudah lebih hapal tanpa perlu aku perkenalkan lagi." Yoora memperhatikan Irene dan Krystal yang tersenyum sedikit dan kemudian mereka berdua mengalihkan perhatiannya pada Jongdae dan juga Jongin yang baru datang masuk kedalam ruang makan.
"Hai Jongin!" suara imut yang dikeluarkan Krystal sontak membuat Jongin menoleh dan hanya tersenyum membalasnya dan ikut duduk disamping Jongdae ditempat biasa mereka duduk sementara keempat Puteri Mahkota yang terdiri dari Kyungsoo, Tao, Luhan dan juga Baekhyun saling bertatapan satu sama lain dengan senyum yang dipaksakan untuk terbentuk pada wajah masing-masing.
"Yoora-na.. apa Chanyeol Oppa akan ikut bergabung makan malam bersama sekarang? Apa lukanya sudah diobati? Aku bisa memberikan obat padanya jika belum." Irene menyerang Yoora dengan kalimat panjang tanpa ada jeda untuk diirnya menjadwab satu-satu kalimat pertanyaan dari gadis itu yang meskipun berwajah dingin dan kaku tapi bisa mengeluarkan suara rengekkan layaknya gadis manja.
"Hm, mungkin dia masih tertidur. Chanyeol mengalami kejadian yang cukup berat kau tahu kan—
"Lebih baik kau duduk diam dan makan yang benar! Tidak usah mencari Chanyeol dan mendekatinya, kau hanya akan menjadi masalah nanti. Kalau bukan karena sikapmu yang tidak sabaran Hades tidak mungkin bisa menculikmu dan membiarkan Chanyeol hampir merenggut nyawanya karena dirimu seorang." Suara tinggi dan ketus dilontarkan oleh Minseok untuk menanggapi kalimat yang Irene ucapkan sebelumnya.
"Kakak.. sudah.." Krystal yang duduk diantara Minseok dan Irene menengahi sementara Irene sudah terlihat kesal dan membanting sendok dan garpu yang ia pegang sebagai tanda bahwa ia marah dan tak terima dengan apa yang diungkapkan oleh Minseok dan beranjak pergi dari kursi makannya.
"Irene! Kembali pada tempat mu!" Minseok kembali berteriak, dan Krystal lah yang lebih dulu menyusul adiknya yang entah menghilang kemana, bahkan saat Kris berada berjalan berlawanan arah Krystal tidak menyapa atau pun menoleh sedikitpun.
"Hm.. kemana mereka pergi?" Kris bertanya pada Yoora dan Minseok yang memperhatikan dirinya.
"Biarkan saja, mereka selalu menyusahkan." Minsoek menyahut dan kembali bersiap menikmati makan malamnya.
Kris hanya menganggukkan kepala dan duduk tepat disamping Minseok dan berhadapan langsung dengan Baekhyun, tak lama Sehun masuk dengan santainya dan merasa aneh karena semua mata memandanginya.
"Kenapa? Apa ada yang mengikutiku?" Sehun menengok ke belakangnya dan melihat sekitar dirinya lalu memperhatikan semua yang duduk pada meja makan itu.
Luhan lebih dulu tertawa disusul Baekhyun dan Yoora.
"Duduklah.. tidak ada yang mengikutimu. Hanya saja kita mengharapkan sosok yang lain yang datang. Bukan dirimu." Yoora menjelaskan dengan masih tertawa sedikit.
"Aish!" Sehun duduk disamping Jongin dan kemudian melirik kearah Luhan yang tengah mengobrol dengan Baekhyun.
"Perhatikan matamu." Jongin berbisik pada Sehun, baru saja Sehun akan membalasnya Suho masuk dan mengucapkan salam kepada mereka semua dan Yoora meminta duduk pada salah satu kursi yang masih kosong. Suho menganggukkan kepala dan memilih tempat duduk disamping Baekhyun yang tepat disamping Jongdae.
"Hm, ku pikir kau bisa duduk di tempat yang lain." Kris menahan tangan Suho yang akan menarik kursi itu.
"Kenapa? Apa ini ada yang menempati?"
"Chanyeol biasa duduk disitu." Luhan yang menjawab.
"Ah, baiklah." Suho mengangguk mengerti dan akhirnya duduk disamping kanan Jongdae yang juga masih kosong.
Tanpa adanya doa pembuka ataupun kalimat mempersilahkan untuk memulai acara makan malam, mereka semua mulai menyantap makanan begitu beberapa pelayan mengeluarkan rentetan menu makan malam. Semuanya mulai terfokus untuk memilih menu apa yang akan mereka santap sedangkan Baekhyun membagi fokusnya kearah pintu masuk dan juga tempat duduk disampingnya yang masih kosong. Kris yang memperhatikan akhirnya memberikan piring yang sudah ia isi dengan potongan daging dan juga beberapa sayuran pada Baekhyun dan langsung memerintahkan adiknya itu untuk makan.
Mereka menyantap makan malam itu dengan berisik karena selain peralatan makan yang saling beradu, mulut mereka juga tidak bisa diam sebentar saja hanya untuk melanjutkan bercerita mengenai segala kejadian yang terjadi. Khususnya Sehun yang selalu menceritakan kembali saat Jongin yang ketakutan mendaratkan helicopternya apalagi melihat Kronos yang berada didekat mereka. Jongdae bahkan ikut tertawa keras dan Kris juga ikut membodoh-bodohi Jongin sedangkan para Puteri Mahkota hanya bisa mendengarkan dan terkadang ikut tertawa bersama.
Kehadiran Yixing, membuat semuanya terdiam sebentar dan memperhatikan gadis itu yang menghampiri Yoora dan berbisik padanya, Yoora menganggukkan kepala dan tersenyum dan akhirnya Yixing duduk pada kursinya dan mengambil menu makanan yang ia inginkan.
"Sehun-ah, bisakah kau membawakan makanan untuk Chanyeol?" Yoora bertanya dari posisi duduknya, hingga Sehun harus memajukan kepalanya kedepan dan menoleh kearah Yooar yang cukup berjarak sedikit jauh.
"Haruskah aku? minta saja yang lain." Sehun menyuapkan potongan makananya dan membalas senyuman Yoora.
"Hm.. baiklah." Yoora menganggukkan kepala.
"Aku akan meminta Baekhyun membawa makanan untuk Chanyeol, apa itu diperbolehkan?" Yoora bertanya dalam pikiran Kris dan seketika tubuh pria itu bersandar dengan lemas pada sandaran kursinya.
"Aku akan ikut mengantarnya." Kris menjawab.
"Ey, jangan.. mereka tidak bisa menikmati waktu berdua nantinya." Yoora menjawab dengan nada menggodanya.
"Sialan."
"Mulutmu Tuan!"
"Baekhyun?" Yoora memanggil nama Baekhyun bahkan sebelum Kris mengiyakan atau pun memberikan jawaban yang lain. "Bisa tolong antarkan makanan untuk Chanyeol di ruangan istirahatnya? Kris akan mengantarmu kesana." Baekhyun yang mendengarkan, langsung menganggukkan kepala dan kemudian tersenyum lebar pada Kris yang masih terduduk lemas.
Luhan memberikan piring kosong pada Baekhyun dan gadis itu mulai menyusun makanan apa yang akan ia berikan untuk Chanyeol, Yoora juga mengambilkan beberapa buah dan kemudian memberikan pada Baekhyun untuk dibawa ketempat Chanyeol.
Kris berjalan berdampingan disamping Baekhyun dan membiarkan adiknya itu kesusahan membawa nampan yang berisikan makanan untuk Chanyeol, bahkan Baekhyun sudah merengek meminta Kris membantunya sedikit tapi kakaknya menggelengkan kepala dan tidak peduli.
"Ini untuk pacarmu! Jadi lakukan sendiri, aku hanya mengantarkan-mu sampai keruangannya." Kris menjawab ketus dan masih berjalan disamping Baekhyun.
"Chanyeol pasti akan membantuku membawakannya." Baekhyun membalas ucapan Kris.
"Ya, katakan itu pada pacarmu yang tidak ada disini."
"Kau menyebalkan! Pantas saja Chanyeol lebih disukai banyak orang."
"Bagus, kau akan merasa cemburu nantinya."
"Yak!"
"Apa?" Kris menatap adiknya bingung.
"Kenapa kau mendoakan aku supaya cemburu?" Baekhyun merenggut kesal dan berjalan lebih dulu meninggalkan Kris dibelakangnya yang masih berdiri terdiam dan hanya memperhatikan Baekhyun yang sudah berbelok kearah lorong ruangan Chanyeol.
"Kenapa dia?"
"Entah." Kris menjawab santai pada Chanyeol yang ada disebelahnya. "Aku hanya mengatakan dia akan cemburu bila kau disukai banyak orang dan dia malah langsung berteriak." Kris menggelengkan kepala. "Masuklah, dia pasti kebingungan didalam sana melihat pacarnya tidak ada." Kris mendorong badan Chanyeol untuk berjalan menuju kamarnya sementara ia kembali berjalan menuju ruang makan.
Dan seperti perkiraan Kris, Baekhyun yang berada didalam ruangannya memanggil nama Chanyeol berkali-kali dan bahkan melihat ke kolong tempat tidur dan juga kedalam kamar mandi. Chanyeol duduk pada ranjangnya dan menunggu Baekhyun keluar dari dalam kamar mandi dan akan kaget melihat dirinya duduk.
"OH ASTAGA!"
Chanyeol tertawa melihat ekspresi Baekhyun yang langsung berbalik dan menutup mukanya saat melihatnya.
"Kau kenapa bisa muncul tiba-tiba?" Baekhyun bersandar pada dinding dan memegang dadanya yang berdetak kencang karena kaget melihat Chanyeol yang tersenyum sendiri diatas ranjangnya.
"Aku baru kembali dari kamarku, bahkan aku melihatmu tadi bersama Kris." Chanyeol memanggil Baekhyun untuk mendekat dan memintanya duduk di ranjangnya.
"Makanlah dulu, Yoora yang menyiapkan semuanya." Baekhyun membawakan nampan makanan yang ia bawa dan memberikannya pada Chanyeol.
"Yoora yang menyiapkan?" Chanyeol bertanya lagi dan Baekhyun hanya menganggukkan kepala. "Aaahh, padahal aku berharap kau yang akan menyiapkannya." Chanyeol memperhatikan raut wajah Baekhyun dan kemudian langsung mencium pipi Baekhyun yang merona.
"Yaa.. kenapa menciumku.." Baekhyun menjauhkan badannya dan menutup kedua pipinya dengan kedua tangannya.
"Sudah kubilangkan kau itu menggemaskan."
"Ish." Baekhyun akhirnya memilih pindah ke ranjang yang lain dan membiarkan Chanyeol menyantap makanannya.
Chanyeol mulai memakan satu-satu makanan yang dibawakan-yang sebenarnya disiapkan oleh Baekhyun-dengan lahap, bahkan ia kadang melirik kearah Baekhyun yang memperhatikan makanan apa saja yang diambil dan dimakan olehnya, dan bila itu makanan yang Baekhyun pilihkan, gadis itu akan tersenyum malu dan kemudian menutup mulutnya. Chanyeol masih membiarkannya hingga saat perutnya sudah merasa cukup kenyang, ia memindahkan nampan itu dan menatap Baekhyun yang masih duduk manis memperhatikannya.
"Terima kasih sudah menyiapkan makan malam dan membawakannya untukku." Chanyeol mengucapkan terima kasihnya dan menatap Baekhyun yang menganggukkan kepala senang.
"Kau menghabiskan semuanya!" Baekhyun memekik girang dan melompat turun dari ranjang itu kemudian berpindah duduk pada ranjang Chanyeol.
"Aku menyukai semua yang kau siapkan tadi, hanya saja jangan bawakan aku sup udang dan seafood. Aku alergi akan hal itu." Chanyeol menjelaskan dan membawa Baekhyun bersandar pada badannya.
"Hm.. baiklah akan aku ingat." Baekhyun menganggukkan kepala dan memeluk badan Chanyeol.
Chanyeol tersenyum dan membelai rambut Baekhyun sambil memejamkan matanya, bukan untuk menikmati saat-saat bermesaraan dengan Baekhyun, hanya saja otak dan gairah dalam tubuhnya terasa lebih panas dan sulit ditahan ketika ia bersama Baekhyun.
"Chanyeol?" Baekhyun mendongakkan kepalanya melihat Chanyeol yang sudah memejamkan matanya.
"Kenapa?" Chanyeol membalas dengan matanya yang masih terpejam.
"Bolehkah aku tidur bersamamu?"
