Chapter 6

Pembalasan dari Masa lalu (part 3)

.

"Orang yang kau cari itu… Sudah tidak bekerja lagi untuk organisasi SHAMAN. Dia dikeluarkan sepuluh tahun yang lalu karena isu jelek yang dilakukannya. Namanya adalah Thomas Tom" Si pria berambut pirang pun menatap Halilintar yang sepertinya tidak menunjukkan ekpsresi apapun saat nama orang itu disebutkan. "Kau tidak kenal dengan nama itu?" tanyanya.

Halilintar menggeleng. "Aku tidak pernah dengar apapun tentang nama itu" jawabnya.

"Ya sudah. Kalau begitu aku akan lanjut membacakan bagian tuduhan kejahatan. Pembantaian massal yang menimbulkan hilangnya suatu ras, pelanggaran Hak Asasi, pembunuhan berencana pada anak di bawah umur, bertindak di luar perintah organisasi dan melakukan penelitian ilegal. Tapi dengan semua tuduhan yang didapatkannya dia tidak bisa dijebloskan ke penjara karena tidak adanya saksi hidup maupun bukti kuat yang bisa memastikan semua kejahatannya selama ini. Tapi sebagai gantinya dia di keluarkan dari keorganisasian dan gelar ksatrianya pun dicabut. Dalam menjalankan aksinya dia juga menggunakan identitas palsu. Diantaranya Claudius, Bage Ge, Jonathan "

Halilintar pun tersentak tepat ketika Zero menyebut nama samaran yang terakhir milik orang bernama asli Thomas tersebut. Sontak saja raut wajah pemuda itu menengang bercampur marah begitu mendengar nama yang disebutkan.

"Uhm? Kau tahu nama itu? Dari raut wajahmu sepertinya iya" selidik Zero begitu melirik wajah pemuda di depannya.

Pemuda bermanik ruby itu pun menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mulai bercerita. "Ya aku pernah dengar nama itu sekali dua kali. Kalau tidak salah dia adalah orang dari kantor pemerintahan yang bekerja untuk Ayahku. Pertengahan musim panas, tanggal 23, bulan juli, ada yang memberikan sebuah lolipop untuk adikku yang masih berumur lima tahun waktu itu. Saat itu yakin Adikku memanggilnya 'Paman John'" jelasnya panjang lebar.

"Woah~ Aku kagum kau bisa mengingatnya sampai sedetil itu" komentar si rambut jerami kagum. Kalau dia tidak akan mungkin mengingat hal kecil sampai sedetil itu.

"Yah~ bisa dibilang ingatanku itu sangat tajam" sahut Halilintar agak dingin masih asik melipat tangannya.

"Ya apapun itu, melihat hanya kau dan adikmu yang selamat dari insiden tersebut sepertinya kesaksian kalian akan berguna nanti."

"Tidak, aku saja sudah cukup, nggak perlu melibatkan adikku, anak itu tidak tahu apapun tentang hal ini. Lebih tepatnya dia tidak punya lagi ingatan apapun tentang kejadian itu" tolak Halilintar sembari menggulirkan manik merah delimanya tersebut dengan tatapan sendu dan sedikit menerawang.

Zero pun menghela berat. "Ya sudah kalau begitu. Aku akan menghubungimu jika mendapatkan informasi baru. Anu, bisa minta nomor handphone mu?"ujarnya sembari mengeluarkan ponsel lipat dari kantong jasnya dan menekan tombol kontak.

"+81-3XX-XXX-XXX"

Segera si pria berambut pirang pun mengetik nomor yang disebutkan oleh vampir bermanik ruby tersebut dan menyimpannya ke kontak. "Eto… Ryuuketsu, kan?" tanyanya saat memasukkan nama untuk nomor tersebut.

Halilintar hanya menggumam yang berarti 'iya'.

"Sip" Zero pun langsung mengantongkan kembali handphone nya segera setelah berhasil menyimpan nomor tersebut. "Terima kasih atas kerjasamanya. Kami harap dengan ini bisa segera mengungkap kejahatan dan penelitian ilegal milik Thomas" lanjutnya berterima kasih pada Halilintar.

"Penelitian?"

"Ya. Setelah mengusirnya keluar dari organisasi kami berhasil menggerebeknya tengah melakukan semacam penelitian ilegal dengan menggunakan DNA yang didapatkannya dari makhluk mistis yang sudah ditanganinya selama ini. Tapi saat kami berusaha menangkapnya, dia berhasil melarikan diri dengan membawa serta semua hasil penelitiannya. Entah apa yang ingin dilakukannya dengan hasil penelitiannya itu, tapi aku punya firasat itu digunakan untuk hal-hal buruk"

~MA~

Sementara itu Yaya yang saat ini masih di kamar apartemennya, hanya duduk diam dan sibuk memandangi Stun gun nya yang tergeletak di atas meja dengan tatapan serius sekaligus penuh tanya. Dia masih penasaran kenapa cahaya seperti pedang saber itu bisa muncul dari benda itu. Karena kemarin malam saat dia mencobanya lagi benda itu tidak mengeluarkan apa-apa selain sengatan listrik bertekanan tinggi, layaknya alat kejut listrik biasa.

Sialnya saat ingin bertanya pada si pemberi barang, orangnya sudah keduluan berangkat ke stasiun untuk menuju Kyoto. Apa dia telepon saja ya?

Jadi Yaya pun segera meraih smarthphone putihnya yang tergeletak tak jauh dari alat kejut listrik tersebut dan mulai membuka daftar log untuk menelpon Gempa. Handphone nya yang ada di seberang sana pun mulai berdering dan ada yang mengangkatnya.

"Halo."

Yaya tersentak begitu mendengar suara yang menyahut, tidak salah lagi ini memang suara Gempa. "Halo, Gempa-san" sapa gadis itu.

"Iya Yaya, ada apa?"

"Anu, ada yang ingin kutanyakan. Ini soal stun gun pemberian Kakak"

"Kenapa? Ada apa dengan stun gun nya? Rusak?"

"Ti-Tidak, stun gun nya baik-baik saja. Hanya saja kemarin tiba-tiba benda itu mengeluarkan cahaya seperti laser berwarna merah muda. Apa Gempa-san tahu soal ini?"

"Maksudmu stun gun itu berubah jadi semacam pedang seperti di seri-seri film star war?"

"Iya semacam itu!"

"Aneh sekali, kenapa bisa begitu ya? Aku pikir itu hanya stun gun biasa tidak ada fitur semacam itu di dalamnya."

"Eh? Gempa-san juga nggak tahu!? Sama sekali!?" seru Yaya agak kaget.

"Iya, aku tidak tahu. Dan juga aku sedang di perjalanan dengan kereta, setelah ini pun aku akan sibuk. Jadi mungkin lain kali saja kuperiksa dan juga jangan hubungi aku dulu setelah ini ya, Yaya?"

"Eh? Tunggu dulu, Gempa-san!"

"Ada apa lagi? Tadi kan kubilang aku sibuk, tolonglah aku tidak bisa hanya mengurusimu terus Yaya"

Sontak ekspresi Yaya pun berubah menjadi cemberut. "Gempa-san… kau ini benar-benar dewa?" tanyanya agak ragu.

Gempa terdengar membuang nafas panjang dari seberang telpon sana. "Kenapa, kau tidak percaya?" dan tiba-tiba saja orangnya sudah ada di dalam kamar apartemen tepat di belakang Yaya, masih memegang ponselnya. Yaya pun sontak kaget dan langsung membalikkan tubuhnya menatap pria dengan sorot mata keemasan yang juga sedang menatapnya balik, sambil menutup panggilan tersebut.

"Benar-benar. Padahal aku sedang duduk nyaman di kelas VIP, tidak bisakah aku bersantai sebentar. Ocho pasti bingung sekali aku tiba-tiba hilang seperti itu" gerutu Gempa sembari melangkah menuju meja kotak dengan kaki-kaki rendah tersebut dan mendudukkan dirinya dengan nyaman. Sementara Yaya menatapnya bingung 'cepat sekali berpindah tempatnya' batinnya heran.

"Kalau masalah stun gun ini aku benar-benar tidak tahu, Yaya. Kalau kau penasaran nanti akan kutanyakan pada pembuatnya langsung, tapi bukan sekarang" jawab Gempa mendesah berat sembari mengusap-usap kepalanya yang tidak gatal.

"Memang siapa yang membuatnya?" tanya gadis berambut coklat tersebut penasaran. Dia pikir Gempa lah yang membuatnya, karena secara pria itu Dewa.

"Adikku Sanoo." jawab Gempa singkat.

"Eh Gempa-san, kau punya adik?" Yaya pun mulai menanyakan hal lain, keluar dari topik awal karena kaget.

"Begitulah. Kami tiga bersaudara dan aku anak tengah." Jawab Gempa tenang.

"Tidak kusangka Dewa bisa bersaudara juga" komentar gadis itu. "Lalu anak pertama siapa?" lanjutnya lagi bertanya.

"Ah itu–"

Sayangnya ucapan Gempa harus terputus karena SMS dari Ocho yang mencari pria bermanik emas tersebut kemana-mana dengan sangat khawatir karena tiba-tiba saja menghilang dari kereta. Gempa pun segera membalas dengan mengatakan jika dia sudah sampai duluan jadi tangan kanannya itu cukup menyusul dia saja.

"Sudah ya? Sampai nanti Yaya, aku pergi dulu" Gempa pun berdiri dan melangkah dengan santai menuju pintu depan. Lalu mendorong benda yang terbuat dari besi itu menuju ke arah luar.

"Eh? Tunggu dulu, Gempa-san!" sontak Yaya pun mengejarnya sambil membawa stun gun tersebut dan langsung mendorong pintu itu sebelum benar-benar tertutup seutuhnya. "Kalau begitu setidaknya di periksa saja dulu sebentar!" pintanya lagi setelah berhasil melewati pintu tersebut.

Sontak Gempa pun menatap gadis itu dengan cengo. Entah apa yang terjadi tapi tiba-tiba saja pemandangan di luar pintu tersebut berubah, bukan lagi teras apartemen yang biasa dilihat oleh Yaya. Memang mereka keluar dari pintu kamar apartemen Yaya tapi entah bagaimana sekarang mereka berada di tengah-tengah rumah penduduk dengan nuansa klasik jepang juga jalan-jalan batako, karena sekarang sedang musim semi makanya terlihat banyak sisa-sisa kelopak bunga sakura bertebaran di jalan.

Seolah mereka baru saja berpindah ke tempat lain dan pintu tadi sebagai perantaranya.

"Kau… kenapa bisa ada disini?" tanya Gempa seraya mengerjap kebingungan.

"Eh? Aku mengikutimu dari belakang" jawab Yaya polos.

"Bukan, bukan, bukan. Bagaimana caranya kau melewati pintu itu?" ralat Gempa sembari mengibas-ngibaskan tangannya dan menunjuk pintu yang barusan di lewati oleh mereka.

Yaya pun menoleh pada benda berbentuk persegi panjang tersebut lalu kembali menoleh pada Gempa. "Aku mendorongnya. Seperti ini" ujarnya memperagakan ulang bagaimana dia membuka pintu mulai dari memutar kenop sampai mendorongnya ke arah luar. "Tee… Tapi ngomong-ngomong kita ada dimana? Dari pemandangannya sepertinya ini masih di Jepang" setelah beberapa saat barulah gadis itu sadar jika mereka sudah berpindah ke tempat lain dia pun mulai celingukan kesana-kemari menerka-nerka keberadaan mereka.

"Kita di Kyoto…" jawab Gempa agak lesu dan tampak masih tertegun.

"Eh, Benarkah!? Oh iya benar!" awalnya Yaya tidak percaya tapi setelah melihat Kyoto Tower dari kejauhan barulah dia yakin kalau mereka memang ada di kota seribu kuil tersebut. Bayangkan saja jarak dari Tokyo ke Kyoto yang biasanya di tempuh 3 jam dengan kereta api bisa dipersingkat hanya dengan kurang dari satu detik dengan teleportasi milik Gempa.

Sementara gadis di depannya terlihat senang, Gempa malah menepuk jidatnya dengan lesu. Sepertinya Yaya memang bukan manusia biasa, kalau tidak bagaimana dia bisa melewati gate miliknya dan berada di sini sekarang. Secara yang bisa lewat itu hanya makhluk-makhluk kasat mata seperti dewa atau semacamnya.

"Apa boleh buat. Tadi kau minta aku memeriksanya bukan, bisa kemarikan sebentar? stun gun nya." Pasrah, Gempa memilih menuruti permintaan Yaya. Gadis itu pun dengan sukarela menyerahkan alat kejut elektriknya tersebut. Gempa pun menyalakannya, sama layaknya stun gun biasa, benda itu pun mengeluarkan arus listrik pada kepala senternya. Tidak ada yang aneh, tapi malah membuat pria beriris kuning keemasan itu penasaran. Mungkinkah?

Lalu dia pun mencoba mengalirkan energinya ke tongkat tersebut dan hasilnya benda itu pun mengeluarkan pedang laser, persis seperti milik Yaya hanya saja saat Gempa yang memegangnya warna sabernya menjadi kuning keemasan. Yaya sampai tertegun saat melihatnya.

"Jadi begitu ya? Benda ini bisa mengubah aliran Mana menjadi bentuk senjata." Gumamnya berkomentar sembari memasang pose berpikir dengan menempelkan satu tangan ke dagu. "Kalau misalnya ku alirkan energi lebih banyak…"

Seperti yang diduga laser pada pedang itu pun semakin membesar saat pria itu menyuplai lebih banyak energi supernatural pada benda tersebut dan membuat Yaya semakin kaget bukan kepalang. Bukan karena melihat perubahan yang terjadi pada pedang saber itu tapi saat melihat wajah Gempa yang anteng-anteng saja dan terlihat begitu mudah mengendalikan benda itu sesuka hatinya.

Begitu selesai Gempa pun segera mengembalikan benda itu ke bentuk semula dan mengembalikannya pada empunya sekarang yang masih terlihat berjaw drop di tempat "Nah, jaga baik-baik ya? Sepertinya kau sudah tahu kan cara kerjanya jadi tidak ada yang perlu ku jelaskan. Dengan begini sudah puas kan?"

"Tidak, aku masih nggak paham" jawab Yaya singkat dan padat, hingga Gempa pun sukses kembali menepuk jidatnya.

"Apa boleh buat, sepertinya kau memang perlu bimbingan untuk urusan seperti ini" pria itu pun segera mengeluarkan ponsel dari kantongnya tampak mulai mengetik sesuatu di dalamnya.

"Satu pertanyaan lagi Kak. Hanna itu siapa?" Sontak yang ditanya pun tersentak, dan menoleh pada Yaya. "Kemarin saat Gempa-san tertidur karena mabuk Kakak sempat menyebut nama–"

"Bukan siapa-siapa dan itu bukan urusanmu" potong Gempa secepat kilat. Seolah-olah ada yang sedang disembunyikannya.

"Tapi…"

"Oke, oke. Sudah cukup pertanyaannya. Oh iya Yaya, bisakah kau berdiri disana sebentar saja" kata pria itu lagi menyela dan meminta gadis di depannya untuk diam di tempatnya berdiri. Entah untuk apa dia langsung mengarahkan kamera belakang ponselnya pada Yaya dan mundur teratur hingga layar ponselnya secara pas menampilkan keseluruhan tubuh Yaya.

"Eh? Kenapa tiba-tiba ingin memotretku?" tanya Yaya kaget sembari merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.

"Sudahlah. Siap, tu, wa, cheese!"

.

CEKREK

.

Gempa pun menekan tombol kameranya dan seketika gadis di depannya barusan lenyap dari tempatnya berdiri.

.

Sementara itu Yaya pun tampak kebingungan begitu melihat dimana dia berdiri sekarang. Lantai kayu, pintu besi dan tembok bercat kuning kalem serta plafon rumah berwarna putih bukannya ini kamar apartemennya ya? Gadis itu mengerjap-ngerjap dan memproses informasi yang masuk ke kepalanya. Hingga akhirnya dia pun sadar jika ternyata pria dengan mata keemasan itu menteleportnya ke rumahnya menggunakan perantara kamera ponselnya. Tepatnya persis di belakang pintu apartemen Yaya yang merupakan tempat terakhir sebelum dia mengekor Gempa sampai ke Kyoto

"Tee? GEMPA-SAN!"

.

Ting…tong…

.

Selagi Yaya masih kesal dengan ulah Gempa, tiba-tiba saja ada yang menekan bel pintu apartemennya. Gadis itu pun segera membukakan pintunya dan menemukan sosok remaja bertubuh kecil bermata biru laut dengan jaket abu-abu khas sedang berdiri menunggu di depan pintu.

"Oh, Ice-kun. Ada perlu apa?" tanya gadis berambut coklat sebahu tersebut.

"Gempa-nii barusan mengirimkan pesan chatpadaku. Dia memintaku menemui Nee-san, katanya aku disuruh untuk melatihmu" jelas bocah dengan nada datarnya yang khas.

Yaya mengerjap sejenak. Dia ingat sekarang, beberapa saat sebelum mengirimnya pulang Gempa memang sempat seperti mengetik di smartphone nya itu, jadi itu pesan chat untuk Ice tentang hal ini ya?

"Jadi bagaimana?" pertanyaan Ice pun sontak membuyarkan lamunan Yaya. "Mau latihan sekarang?" sambungnya lagi.

"Uhh… O–Oke, tunggu sebentar aku ganti baju dulu." Jawab Yaya tergagap, dengan tergesa-gesa dia berniat menutup pintunya untuk menukar bajunya tersebut, jika saja Ice tidak mencegatnya.

"Pakai kaos dan training begitu sudah cukup kok. Lagian kita nggak bakal kemana-mana" cegat bocah itu datar.

"Eh?" Yaya pun hanya mengerjap tidak mengerti maksud ucapan anak laki-laki berwajah teduh tersebut.

~MA~

Jadi setelah Yaya mengunci pintu kamarnya mereka berdua pun turun ke bawah menuju halaman apartemen mereka. Ice nampak berjalan santai, begitu kakinya sampai menapak di tanah bocah itu langsung berbelok memutari tangga menuju satu-satunya pintu yang terdapat di lantai satu gedung apartemen tersebut. Berbeda dengan pintu lain di apartemen tersebut yang di cat berwarna-warni, pintu tersebut polos berwarna abu-abu.

Sementara Yaya yang sejak tadi mengiringi Ice hanya menatap bingung pada pintu tersebut. 'Tempat apa ini?' pikirnya. Dan tak lama Ice pun mengeluarkan kunci dari saku celananya lalu memasukan salah satunya ke dalam lubang kunci dan memutarnya.

Setelahnya bocah itu pun memutar kenopnya dan pintu itu pun terbuka. Yaya mencoba mengintip sedikit ke dalam dan menemukan sebuah ruangan besar dengan cahaya yang agak remang, Dilihat dari kondisinya tidak mungkin ada orang yang tinggal di sini.

"Nah" hingga tiba-tiba saja Ice menegurnya sambil menyodorkan sebuah kunci dan membuyarkan perhatian gadis tersebut.

"Apa?" tanya gadis itu bingung.

"Kunci ruangan ini untuk Nee-san, masing-masing penghuni apartemen memilikinya. Aku lupa memberikannya, maaf ya?" jelas Ice.

"Tidak masalah. Tapi ngomong-ngomong kenapa kita kesini?" tanya Yaya lagi sembari mengambil kunci tersebut dari genggaman Ice.

"Apa lagi, ya berlatih lah" jawab Ice datar.

"Hah?"

"Sudahlah masuk saja dulu. Nee-san akan segera tahu nanti" celetuk bocah itu, mendorong masuk si gadis berambut coklat ke dalam ruangan yang remang, gelap dan penuh jaring laba-laba di sana sini. Yaya pun melangkah masuk lebih jauh ke dalam sana, terlihatlah isi ruangan tersebut seutuhnya, mulai dari bersak-sak karung biji kopi mentah sampai peralatan panggangan kemarin. Dapat disimpulkan tempat ini sebenarnya adalah gudang. Tapi karena inilah Yaya semakin tidak mengerti, masa iya mereka berlatih di tempat yang gelap dan sumpek seperti itu.

Selagi gadis itu memperhatikan dengan seksama, tiba-tiba saja kondisi ruangan yang sebelumnya hanya sekedar remang berubah menjadi gelap total hingga tidak terlihat apapun lagi karena pintunya di tutup bahkan di kunci oleh bocah di belakangnya. Sontak Yaya pun tersentak dengan nafas tercekat, sambil menelan ludah dia memutar kepalanya. "Ice-kun?" panggilnya pada bocah itu pelan. Sejenak pikiran buruk pun melandanya, bagaimana jika dia hanya dikerjai dan dikunci di dalam sana.

Di tengah kepanikan yang melandanya mendadak tangannya digenggam oleh tangan sedingin es yang begitu menyejukkan. Yaya pun dibuat kembali tersentak dengan nafas tercekat, tapi segera mereda saat melihat menyadari siapa yang tengah menyentuhnya. Kedua bola mata yang berwarna biru sebiru lautan itu nampak bersinar dan menatapnya di dalam gelap, walaupun kelihatan aneh tapi entah kenapa saat melihatnya segala pikiran buruk dan rasa takut yang menghantui gadis itu menghilang bak di telan kegelapan.

"Ikut aku" perintah bocah itu singkat. "Oh. Hati-hati di depan Nee-san ada sarang laba-laba" tambahnya memperingatkan.

Dengan lembut Ice pun menyeret Yaya untuk terus maju menyusuri ke dalam gudang dan terkadang memberikan peringatan serta arahan saat gadis itu hampir menginjak, menabrak atau menyentuh sesuatu yang berbahaya. Tidak heran, dengan sepasang penglihatan seekor kucing serta statusnya sebagai makhluk malam, tidak sulit bagi bocah yang hampir berusia 16 tahun tersebut untuk melihat dalam kegelapan.

Tapi kalau dipikir-pikir gudang ini cukup luas juga, sejak tadi mereka berjalan ujungnya pun tidak kelihatan. Ya, kalau dipikir dengan logika masuk akal juga jika dilihat dari bentuk dan luas bangunan tersebut, coba ingat lagi di atas alias lantai duanya kan ada tujuh kamar yang lumayan luas dan itu belum di hitung lebar teras depannya.

Hingga akhirnya mereka pun tiba di depan sebuah tembok yang terbuat dari kayu di sana ada sebuah pintu lagi yang juga terbuat dari kayu. Ice yang sejak tadi memimpin di depan pun menghentikan langkah untuk membuka grendel yang digunakan sebagai pengunci dan mendorong pintu itu ke arah dalam. Pintu pun terbuka dan menampilkan sebuah ruangan lain di dalamnya. Bocah itu pun melepaskan genggamannya pada Yaya dan masuk ke dalam untuk menekan knop lampu.

Lampu yang menyala membuat pandangan Yaya sedikit silau karena lumayan lama berada di ruangan gelap, saat matanya sudah mulai beradaptasi barulah dia bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Beberapa buah matras, ada samsak tinju yang masih tergantung di sana, barbel, beberapa buah bulls eye dan tiang untuk latihan memukul bahkan berbagai senjata seperti pedang, katana, pistol, senapan laras panjang, bahkan shuriken pun ada terpajang di salah satu dindingnya.

Dan disana tidak main-main luasnya, mungkin ¾ bagian gudang ini hanya di pakai untuk ruangan ini saja.

"Oke kita langsung saja." Ice terlihat melepaskan jaket abu-abu miliknya hingga hanya menyisakan kaos putih berlengan panjang yang sedang di pakainya dan berjalan menuju matras panjang yang ada di sana."Ngomong-ngomong Nee-san pernah bela diri sebelumnya? Tanyanya lagi sembari melemparkan jaket kesayangannya itu ke bangku lipat yang terdapat di ujung matras tersebut.

"Waktu SMA. Aku pernah ikut Taekwondo beberapa kali" jawab Yaya jujur sembari melangkahkan kakinya mengikuti ke atas matras dan memasang posisi berdiri berhadapan dengan Ice.

"Baguslah. Kalau gitu serang aku" kata bocah bermanik aquamarine itu dengan ekspresi datar khasnya.

"Eh?" Yaya jelas kaget saat tiba-tiba saja Ice memintanya menyerang. "Tunggu Ice-kun. Bukankah kita hanya akan berlatih mengalirkan ma-apa itu namanya. Kenapa tiba-tiba?" protes gadis itu lagi.

"Kalau yang itu nanti dulu, pertama-tama kita harus membiasakan tubuh Nee-san. Aku yakin sekali kalau tubuhmu pasti sudah melemah karena sudah jarang olahraga, dengan keadaan seperti itu Nee-san akan cepat lelah jika menggunakan mana. Kalau dipaksakan… kau bisa mati" jelas Ice dan membuat Yaya menelan ludah.

Gadis itu pun membuang nafas berat setelah mendengar penjelasan bocah tersebut. "Apa boleh buat." desahnya pasrah. "Maafkan aku ya, Ice-kun!" lalu tanpa pikir panjang Yaya pun langsung berlari kencang ke arah bocah bermanik biru tersebut sembari mengarahkan bogemnya. Dan…

.

BRUK!

.

Beberapa saat kemudian, Yaya sudah berlutut lemas di atas matras dengan nafas tersengal juga keringat yang mengucur deras dari dahi dan sekitar tenguknya. Sementara Ice di belakangnya hanya berdiri diam memperhatikannya tanpa ekspresi. Padahal belum semenit semenjak anak laki-laki itu menyuruh untuk menghajarnya. Memang dulu Yaya pernah menjadi salah satu atlet Taekwondo di sekolahnya tapi itu sudah lama sekali, sudah dua tahun dia berhenti karena sibuk bekerja.

Beberapa saat kemudian Ice pun mendekatinya dan berjongkok. "Payah…" komentarnya datar.

Yaya pun dibuat shock seketika. Kalau ini anime mungkin sekarang akan ada sebuah tanda panah bertuliskan kata 'payah' yang langsung menancap di kepalanya.

"Maaf aja ya! Aku ini cuma manusia biasa!" cerocosnya kesal karena kata-kata nyelekit dari bocah tersebut.

"Nee-san yakin? kalau Nee-san cuman manusia biasa? Kalau begitu kenapa Gempa-nii memintaku untuk melatihmu?" tanya Ice sembari memangku dagunya.

Gadis itu pun sontak memutar kepalanya dan mentatap bingung saat Ice menanyakan hal tersebut. "Heh?"

"Dari penglihatanku Nee-san memiliki aura yang mirip dengan Gempa-nii. Bahkan kekuatannya pun sangat besar, mungkin dengan energi sebesar itu Nee-san sanggup menghancurkan satu kota–tidak satu alam siluman mungkin"

Sontak saja Yaya langsung memucat dan hampir tidak bisa menutup mulutnya begitu mendengar hal tersebut, memang Gempa pernah bilang ini sebelumnya, jika dia mengeluarkan energi yang setara dengan Dewa. Jujur, dia tidak pernah menyadari potensinya tersebut. Yang berarti juga kalau dia tidak bisa mengendalikan kekuatan sebesar itu bisa-bisa akan banyak orang yang menjadi korbannya.

Segera gadis itu pun mengangguk dan membulatkan tekad. "Ice-kun. Ayo kita teruskan latihan ini!" katanya pada bocah tersebut

Ice menutup matanya dan tersenyum, dia sudah menduga Yaya pasti akan mengatakan itu. "Baiklah"

Dan selanjutnya mereka pun mengulang kegiatan yang sama hingga berkali-kali.

~MA~

Keesokan harinya, seperti yang diduga sekujur tubuh gadis berkerudung itu langsung nyeri. Belum lagi harus melayani pelanggan kafe yang jumlahnya membludak setelah didiamkan selama satu hari mereka tutup kemarin, beruntung sekarang sudah tidak banyak lagi orang yang datang. Sembari memijit-mijit sendiri bahunya yang pegal mata gadis itu tidak sengaja menangkap pemandangan di dekat bar kafe tersebut.

Benar juga, hari ini Fang datang ke kafe karena cuti dan menggantikan posisi Gempa yang belum pulang dari kyoto sejak kemarin. Dia tampak sibuk berdiskusi dengan beberapa waiters laki-laki dan juga dua bocah SMA yang terlihat masih memakai seragam sekolah mereka. Yaya yang penasaran dengan apa yang mereka bicarakan perlahan mendekat dan mencoba sedikit menguping.

"Oh? Hai Yaya!" Hingga tiba-tiba sapaan ceria khas dari Thorn pun membuatnya tersentak dan membuat buyar diskusi mereka.

"Ah Hai…" Yaya pun segera membalas sapaan tersebut. "Semuanya sedang membahas apa?" lanjutnya bertanya.

"Kami sedang membahas misi untuk malam ini" dengan polosnya dan begitu bersemangat Thorn langsung membocorkan rencana para laki-laki tersebut."Malam ini kami akan berburu siluman! Yaya mau ikut!?~" seolah tidak ada rem nya dia terus bercerita dengan begitu semangat, beruntung saat itu tidak ada pelanggan yang datang.

"Eh Boleh nih?"

"Bodoh! Kenapa kau ajak dia!?" tentu saja Fang pun dibuat kesal dengan kejujuran Thorn tersebut. Mereka sengaja bisik-bisik seperti ini supaya tidak kedengaran para wanita. "Lagipula kita belum tentu akan memburu siluman, kita cuma memeriksa tempat yang di laporkan mendapat gangguan saja." tambahnya.

"Benar itu, ini kerjaan cowok. Kalau ada apa-apa bisa bahaya, mending cewek nggak usah ikut-ikutan deh" timpal Halilintar mengibaskan tangannya meminta gadis itu tidak ikut campur. Tapi entah kenapa kesannya seperti mengusir dan sukses membuat Yaya memanyunkan bibirnya dan sedikit menggerutu.

Dan entah sejak kapan, tiba-tiba Ying sudah berada di dekat mereka sambil berdeham untuk menegur. Dia merasa tersinggung dengan ucapan para laki-laki yang seolah seperti meremehkan para perempuan, secara sebagai perempuan Ying itu termasuk kuat lo.

"Y–Ying…" Fang pun langsung dibuat gegalapan dengan aura mengerikan di sekitar istrinya tersebut

"Aku tidak setuju dengan pendapat kalian yang seolah mengatakan jika kami para perempuan ini lemah." Kata wanita tersebut.

"Tapi Ying… Misi kali ini sangat berbahaya. Kita tidak tahu apa yang akan muncul" protes suaminya agak ketakutan.

"Kalau begitu buktikan kalau kalian memang laki-laki. Bawa Yaya ikut dan pastikan kalian melindunginya. Kalau kulihat dia pulang dengan sedikit saja goresan di tubuhnya… Ku jamin kalian akan membeku selama seminggu" ancam wanita bermanik saphire tersebut dengan senyuman manis tersungging di wajahnya.

Sontak mereka semua minus Thorn langsung memucat dan dengan secepat kilat mereka pun langsung berjongkok ke lantai membentuk lingkaran sambil saling mengaitkan bahu masing-masing dan mulai berdiskusi dengan berbisik-bisik.

"Bagaimana ini, kalau kita tidak mengajaknya bisa-bisa Ying-san akan membekukan kita selama seminggu" ujar Halilintar.

"Tapi kalau Nee-san kenapa-napa gimana? Aku gak mau kejebak di dalam peti mati terbuat dari es dan kena flu untuk seminggu ke depannya" timpal Blaze lagi.

"Cuma kena flu doang gak sampai mati kok" komentar Ice datar.

"Siapa bilang? Dibekukan oleh Ying bahkan lebih mengerikan daripada mati. Yah, kalau aku sih sudah sering kena azabnya itu" ucap Fang yang dilanjutkan dengan senyuman bangga sembari memangku dagunya.

"Kalau gini sih namanya maju kena mundur juga kena" komentar Halilintar lagi.

Tapi kelihatan mereka berbisik dengan suara yang agak keras, bahkan Yaya pun bisa mendengar apa yang mereka bahas. "Anu… Kedengaran tahu…" tegurnya dengan sebuah sweat drop besar di kepalanya. Tapi kelihatannya tidak terlalu dipedulikan.

Gadis itu menghela nafas, padahal dia belum bilang mau ikut atau tidak. Dia juga tidak minta, tapi para tetangga itu langsung saja menarik kesimpulan dan melibatkannya dalam hal ini. Apa boleh buat, memang para tetangganya itu agak aneh. Bahkan dari awal mereka ketemu, dia sudah melihat tingkah absurd mereka. (Ingat kan Chapter 2, waktu Yaya kenalan dengan tetangganya)

~MA~

Di suatu tempat yang jauh di dalam hutan larangan, tepatnya di tepi sebuah sungai di kaki gunung dengan aliran air yang begitu jernih dan penuh batu-batu besar, sedang terjadi hal buruk yang terjadi.

Disana tampak ada seorang anak kecil sedang memasang wajah ketakutan dan hanya bisa duduk lemas menatap apa yang ada di depannya, seorang pria tua dengan kepala penuh uban. Di tangannya kanannya yang terangkat tersebut terdapat sebilah pedang panjang yang digunakan untuk menusuk tubuh anak kecil yang lebih kecil dari anak yang satunya lagi dan tengah terkulai lemas dengan tangan serta kaki yang sudah tidak lengkap.

Pria itu menyeringai menatap bocah bermanik merah di depannya dan membuat sepasang mata itu bergetar hebat karena ketakutan.

"..kun… Halilintar-kun. Halilintar-kun!" hingga tiba-tiba suara seorang perempuan pun menyadarkan pemuda itu dari lamunannya. Sontak si pemilik nama pun tersentak. "Akhir-akhir kau sering melamun. Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu lagi.

"Uh.. uhm…" jawab Halilintar agak ragu, tapi dengan arti 'iya'.

Jujur sebenarnya Yaya agak khawatir, tapi dia mencoba untuk menghiraukannya dan terus melangkah maju. Saat ini pukul 8.30 malam, mereka sudah jauh berjalan menerobos hutan dan padang ilalang untuk menuju ke lokasi yang ditentukan sambil berjalan beriringan melalui jalan setapak kecil dengan Fang memimpin di depan. Sementara Yaya yang berada di belakang hanya mengiringi kemana para rombongan laki-laki itu berjalan dengan santai dan terlihat tidak kesulitan menyusuri hutan ilalang yang begitu sunyi dan gelap, bahkan tanpa menabrak maupun tersangkut akar-akar pohon dan sisa-sisa tunggu yang mencuat dari tanah meskipun tanpa bantuan alat penerangan.

Ya tidak mengherankan melihat memiliki mata yang mampu melihat dalam kegelapan.

"Anu… Fang-san!" tegur gadis itu pada pria dewasa di depannya.

"Hm?" pria bersurai ungu itu pun sontak menoleh dan menyahutnya.

"Sebenarnya misi kali ini apa? Rasanya kita sudah jauh sekali masuk ke dalam hutan." Lanjut gadis itu bertanya.

Fang pun kembali menorehkan pandangannya ke depan dan menjawab pertanyaan Yaya. "Misi kali ini muncul dari permintaan seorang gadis yang mendapatkan warisan rumah dari kakeknya. Tapi rumah itu sudah lama tidak diurus karena letaknya yang begitu jauh dari pinggir kota jadi gadis itu pun berniat untuk merenovasinya, Ya gadis yang sangat baik. Sayangnya dia mendapat kesulitan saat akan merenovasi rumah tersebut, karena setiap saat pasti akan terjadi sesuatu yang buruk, seperti mobil muatan material yang tiba-tiba saja terbalik atau pekerja yang terkena penyakit misterius saat berurusan dengan bagian bangunan tersebut. Kami curiga jika ada sesuatu yang bersarang di sana, karena itulah malam ini kita datang untuk memeriksanya kalau bisa sekalian melakukan pembersihan."

Yaya pun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan panjang lebar dari Fang tersebut, seperti dia sudah cukup mengerti sekarang. Kemudian dia kembali mengalihkan pandangannya kepada Halilintar di sampingnya. "Ngomong-ngomong Halilintar-kun. Kenapa Blaze-kun tidak jadi ikut malam ini?" tanyanya.

Halilintar pun menoleh. "Anak itu kena demam. Sepertinya karena mau naik bujang" jawabnya singkat.

Dan membuat Yaya bingung karena tidak paham. "Hah? Maksudnya?"

"Hora, kau tahu kan? Kayak beberapa anak kecil waktu mau tumbuh gigi" tambah Halilintar lagi.

Segera Yaya pun mengangguk paham "Oh~ Seperti bayi saja" komentar gadis berkerudung pink khas itu.

"Ya, kalau dilihat dari sudut pandang seorang vampir kira-kira dia masih bisa disebut sebagai bayi" timpal pemuda bermata ruby tersebut.

"Berarti Halilintar-kun juga sama dong. Kau kan masih delapan belas tahun" sontak ucapan Yaya pun membuat Halilintar terdiam sejenak.

"Ya sepertinya kau ada benarnya" tapi bukannya marah dia justru mengiyakan saja komentar Yaya yang terkesan menyindir tersebut.

"Psst… kalian berdua jangan berisik…" desis Fang menegur dua muda-mudi di barisan paling belakang tersebut. Sontak mereka berdua pun segera bungkam, tapi bukan hanya mereka Thorn dan Ice yang ada di depan pun entah kenapa juga menghentikan langkahnya.

Tapi mereka segera paham saat melihat apa yang berada di depan mereka. Sebuah rumah besar tua berlantai tiga dengan gaya klasik, meskipun antik tempat itu tampak terbengkalai dan tidak terawat terlihat dari cat-cat temboknya yang sudah terkelupas belum lagi kaca-kaca yang pecah dan tulisan-tulisan vandalisme hasil tangan-tangan usil yang pernah datang kesini. Pagar besi yang mengeilinginya pun tampak sudah berkarat dan ditempeli oleh kerak. Tapi walaupun bobrok tempat ini menyuguhkan sebuah pemandangan kota dari ketinggian yang begitu indah karena letaknya yang berada di puncak bukit. Dengan keadaan begini tidak mengherankan jika si pewaris ingin merenovasinya.

"Ini ya tempatnya?" gumam Halilintar memandangi rumah tersebut secara detil.

"Yup. Kau lihat sendiri kan truk muatan yang terbalik masih ada. Dengar saat di dalam nanti jangan bertindak gegabah dan ikuti aba-abaku" sahut Fang.

Selagi mereka berdiskusi Yaya menoleh ke arah lain dan tidak sengaja menemukan sebuah jalanan mulus tak beraspal yang sangat lebar hingga cukup di lewati oleh dua buah truk sepertinya hasil dari penebangan hutan. Lalu gadis itu pun kembali menoleh pada ketua regu mereka tersebut. "Kak Fang" tegurnya.

"Uhm?" Fang pun segera menoleh pada Yaya.

"Ada jalanan di sini" tunjuk gadis itu pada jalanan lebar tersebut.

"Aku tahu kok" jawab pria bersurai ungu itu santai.

"Terus ngapain tadi kita repot-repot nerobos hutan segala!?" bentak Yaya.

Thorn yang mendengar Yaya mulai membentak dan sedari tadi hanya diam pun langsung menghela nafas panjang. "Kau ini nggak paham ya, Yaya? Dalam menjalankan misi kali ini kita harus bergerak secara hati-hati agar tidak ketahuan oleh penjaga disini" dan menjelaskan dengan santai.

"Hah? Aku kurang paham, tapi maksudnya kita ngelakuin ini diam-diam tanpa izin gitu!?" komentar gadis itu.

"Bisa dibilang gitu" sahut Halilintar.

"JADI CERITANYA KITA NYUSUP KE RUMAH ORANG KAYAK PERAMPOK GITU!?"

"Bukan. Kita nggak menyusup dan kita nggak mencuri apa-apa. Kita cuma masuk nggak bilang-bilang!" tegas Fang.

"ITU SAMA AJA!"

"Tapi dari rumor yang kudengar, Kakek buyut si gadis menyembunyikan harta karun yang sangat banyak dan dikubur di bawah rumah itu. Kalau kita gali…" gumam Halilintar sembari memangku dagunya.

"AH~ AKU NGGAK TAHU LAGI DAH MAU NGOMONG APA!"

~MA~

Kembali fokus ke misi awal. Jadi setelah berhasil masuk ke dalam halaman rumah tersebut dengan melompati pagar, mereka berlima pun segera melangkahkan kakinya menuju ke rumah besar tersebut. Hingga akhirnya mereka pun sampai di teras rumah tersebut, beruntung tidak ada pintu yang menghalangi di depannya jadi mereka pun bisa dengan mudah masuk ke dalam. Tapi masalah muncul saat mereka tiba di depan sebuah ruangan di dalam bangunan tersebut, ada sebuah pintu besar yang menghalangi dan lebih parahnya pintunya terkunci.

Sepertinya alasan ruangan itu di kunci bukan karena khawatir ada penyusup yang akan memasukinya tapi karena dari sanalah kutukan yang menghantui rumah itu berasal, terbukti dari para karyawan yang mendadak terkena penyakit aneh setelah memasukinya. Jadi pintu itu pun di tutup agar tidak ada yang mendekat dan tidak ada kutukan yang keluar dari sana.

"Aku bisa merasakan kutukan itu datang dari balik pintu ini" gumam Halilintar memandangi pintu yang terbuat dari kayu mahoni tersebut.

"Kau juga? Memang sepertinya ada sesuatu yang bersarang di dalam ruangan ini. Untuk memastikan lebih baik kita masuk dan memeriksanya" ujar Fang. Pria itu pun segera menarik tuas pintu tersebut, tapi karena pintu itu dikunci tentu saja tidak bisa. "Dikunci? Tapi anehnya dari dalam" gumamnya.

"Minggir…" Ice sedari tadi hanya diam pun langsung maju sambil menggeretekan buku-buku jarinya dan bersiap meninju pintu besar tersebut.

"Wow, wow, wow, wow. Tahan dirimu Kucing putih kecil" Beruntung Fang sempat mencegatnya, karena kalau tidak bisa-bisa mereka semua celaka melihat kondisi bangunan tua yang hampir roboh tersebut. "Kau tidak ingin membuat kita semua yang ada disini terkubur hidup-hidup oleh reruntuhan bangunan, bukan?" lanjutnya menambahkan. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika rumah dengan pondasi yang sudah hampir reyot tersebut terkena tumbukan tenaga seekor Nekomata yang mampu mengangkat bawaan berat bahkan mungkin rumah sekalipun.

Ice yang dasarnya memang penurut hanya diam dan segera mundur teratur. Fang memperhatikannya dan kembali beralih pada pintu itu lagi. "Untuk yang ini biar aku saja yang urus" pria itu langsung merapat hingga kedua tangannya menyentuh pintu tersebut, tanduk yang terdapat di dahinya pun mencuat keluar dan mengeluarkan cahaya berwarna ungu kemerahan. Seolah-olah bergerak mendorong pintu tersebut ke arah dalam, lama kelamaan tubuh Fang pun seperti tertelan ke dalam pintu hingga benar-benar berpindah ke ruangan di baliknya.

Yaya sampai dibuat tercengang ketika melihatnya. "Dia menembus dinding? Seperti hantu saja" komentarnya kagum.

"Oi, kami juga bukan manusia kali." Ketus Halilintar mengingatkan gadis tersebut.

Dan beberapa saat kemudian dari balik pintu terdengar suara grendel yang digeser dengan mudahnya. Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok pria dengan sebuah tanduk yang masih mencuat dari dahinya. "ayo masuk" ajaknya pada yang lain.

Kemudian tanpa basi-basi mereka pun menelusuri ruangan besar penuh pilar-pilar tinggi tersebut, dilihat dari bentuknya sepertinya ini adalah ballroom. Kali ini Ice lah yang berada di depan, dengan menggunakan indera penciumannya yang sangat tajam mereka terus maju menapaki setiap inchi dari ruangan raksasa tersebut. Hingga akhirnya mereka pun sampai di suatu sudut yang dipenuhi dengan jaring laba-laba. Kalau ditanya jumlah dan bentuknya bisa dibilang tidak wajar, butuh seribu ekor lebih makhluk berkaki delapan tersebut untuk merajut benang-benang putih lengket setebal itu disana.

"Disini ya?" gumam Fang mulai curiga.

Tak lama hidung Ice pun mulai kembang-kempis karena mengendus bau yang sangat tajam. "Dia datang."

"Ahahahahahahaha!"

Tiba-tiba saja suara tawa yang begitu melengking pun bergema di dalam ruangan besar tersebut. Seketika suasana mencekam pun segera menyelimuti kelima orang tersebut, mereka pun langsung memasang ancang-ancang jika sesuatu tiba-tiba keluar. Dan tak lama si pemilik suara pun keluar dari persembunyiannya yang jauh di dalam kegelapan di antara kumpulan jaring yang sangat tebal.

Sesosok makhluk dengan tubuh dari pinggul ke atas menyerupai seorang perempuan cantik berambut panjang, sedangkan bagian bawahnya adalah tubuh seekor laba-laba. Wanita cantik itu pun memberikan seringaian yang sangat mengerikan dan membuat yang menatapnya serasa di tusuk oleh aura dingin yang mencekam.

Ice pun menyipitkan matanya saat menatap makhluk tersebut. "Jorogumo" gumamnya.

'Jorogumo' atau secara harfiah berarti 'Laba-laba pelacur', adalah sosok siluman laba-laba raksasa dengan tubuh seorang wanita. Dikatakan, ketika ada seekor laba-laba yang sanggup menginjak usia 400 tahun, maka mereka akan mendapatkan kekuatan mistis dan membesar hingga seukuran sapi dewasa. Mangsa mereka juga bukan lagi hewan kecil, tetapi manusia. Mereka akan mulai membangun sarang baru di gua, hutan-hutan, atau rumah kosong yang sudah tidak lagi ditinggali. Mereka cerdas, licik, tak memiliki belas kasihan, dan hanya melihat manusia tidak lebih dari makanan mereka saja.

"Wah, Wah. Apa ini? Ada sekumpulan laki-laki bahkan perempuan yang berani datang ke sarangku. Apa kalian berniat untuk menjadi santapanku?" kata wanita laba-laba tersebut dengan tatapan yang begitu menggoda. "Coba kita lihat. Yang berjaket hitam itu lumayan, tapi kelihatannya gadis itu lebih enak. Walaupun aku kurang suka memakan perempuan, tapi kelihatannya gadis itu bisa meningkatkan sihirku jika aku menyantapnya" lanjutnya berceloteh.

"Maaf nona, sayangnya kami kesini bukan berniat untuk menjadi makan malammu." Sela Fang seraya mengangkat satu tangan ke udara dan sukses membuat wanita itu terdiam. "Kami kesini untuk memintamu secara baik-baik agar segera pergi dari rumah ini. Karena tempat ini akan segera di renovasi dan di diami oleh manusia" sambungnya.

"Kalian berniat mengusirku yang sudah tinggal disini selama lebih dari lima ratus tahun, kurang ajar sekali. Jika para manusia itu ingin sekali tinggal disini silahkan saja, tapi jangan salahkan kalau mereka menjadi santapanku. Sama seperti para pekerja-pekerja yang berani mengusik sarangku, aku akan menusukkan racunku ke tubuh mereka sampai mati dan melumat mereka secara perlahan" cerocos si wanita yang kemudian diikuti oleh tawa yang begitu mengesalkan.

Diakui Fang, dia sangat kesal dengan tingkah wanita di depannya yang bahkan lebih mengesalkan daripada istrinya. Tapi daripada marah-marah tidak jelas, lebih baik hal ini diselesaikan saja dengan cara damai. "Begitu… Kami sudah menegosiasikan secara baik-baik dan begini sikapmu…" Desahnya lesu. Tak lama sebuah seringai pun tampak terlukis di antara bibirnya "Kalau begitu… Berarti kau sudah siap menghadapi konsekuensinya. Halilintar"

Tanpa bicara sepatah kata pun, pemuda bermata ruby itu pun segera maju ke depan dan kembali menggigit jempolnya untuk menciptakan dua buah katana berwarna hitam yang terbuat dari darahnya. Dan seperti kilat Halilintar pun langsung bergerak dengan cepat hingga tidak terlihat oleh mata telanjang, walaupun sesekali dia akan muncul di beberapa sudut untuk menghindari jaring-jaring yang menghalanginya mendekati target sasarannya tersebut. Kesempatan itu digunakan oleh si jorogumo untuk mempertahankan diri dengan menembakan racun dari mulutnya. Yang mengerikan dari racun tersebut adalah cairan itu bisa melelehkan objek apapun yang disentuhnya, tapi beruntung Halilintar dengan cekatan bisa menghindarinya.

Sisi lain yang dekat dengan Yaya dan yang lain pun tidak luput terkena tembakan racun salah sasaran tersebut, sontak mereka segera menghindar secepat mungkin terlambat sedikit saja bisa-bisa kulit mereka bisa ikut meleleh terkena cairan menjijikan tersebut.

Setelah berusaha menghindar sebisa mungkin akhirnya Halilintar pun sampai tepat di atas jorogumo tersebut, dia pun segera bersiap mengayunkan kedua pedang.

"Teknik pedang…"

Dan berhasil menebas si jorogumo dan membuat kedua lengan makhluk itu putus.

"Tanpa nama!"

Tentu saja si wanita laba-laba menjerit kesakitan begitu lengannya terpotong dan menyisakan sisa lengan yang masih mengucurkan darah segar. Sementara Halilintar yang tepat berada di belakangnya hanya menatapnya sambil memangku pedang.

"Apaan 'Teknik pedang, Tanpa nama' itu?" komentar Yaya dengan tatapa 'krik-krik' saat mendengar nama konyol yang disebutkan oleh Halilintar.

"Paling dia cuma malas memikirkan namanya" sahut Fang tak kalah aneh ekspresinya dengan Yaya. Tapi sudahlah, lupakan saja itu, lanjut. "Ice"

"Roger…" bocah bermanik aquamarine itu pun tanpa ragu segera mendekat pada si laba-laba raksasa yang masih tampak kesakitan. Si wanita yang mulai kesal karena sudah kehilangan anggota tubuhnya yang berharga pun menatap Ice dengan penuh kebencian di wajahnya dan tanpa pikir panjang langsung membuka sebuah mulut raksasa yang selama ini tersembunyi di area perut bawahnya. Dan tak tanggung-tanggung langsung melahap bocah malang itu secara utuh.

"ICE-KUN!" seru Yaya panik.

"Tidak pa-pa" celetuk Fang dengan tatapan yang begitu tenang bahkan masih bisa melipat kedua tangannya di depan dada.

Benar saja yang dikatakan oleh Fang, tak lama setelah ditelan dengan penuh tenaga Ice langsung membuka paksa mulut raksasa makhluk tersebut dengan kedua tangan dan kakinya sampai tidak bisa tertutup lagi. Dan sukses membuat ekspresi khawatir Yaya berubah menjadi sebuah cengangan terheran-heran sekaligus kagum.

"Benar kan? Ice itu sangat kuat seperti sebuah benteng, pertahanan sulit untuk ditembus. Lihat, dia bahkan tidak berkedip sama sekali" jelas Fang tersenyum bangga.

Sementara Ice yang dibicarakan hanya diam dan masih memasang poker face miliknya. "Kuhancurkan kau…" dan tanpa rasa jijik dia langsung mencengkram kuat dinding-dinding mulut raksasa tersebut dan tanpa ampun langsung membanting si laba-laba ke lantai.

Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Fang untuk menyerang. Dengan satu tangan terangkat ke udara dia pun menciptakan sebuah gada raksasa penuh duri berwarna gelap segelap bayangan "Rasakan Kanebo ku ini!" dan langsung menghempaskannya hingga sukses membuat si wanita laba-laba terjepit dan tidak bisa bergerak akibat ditindihi oleh senjata raksasa yang begitu berat tersebut.

Sementara itu Halilintar tengah bersiap memberikan serangan, satu tangan direntangkan ke atas. Kilat dan petir tampak bergelegar memenuhi langit-langit ruangan besar tersebut. Dan dengan satu perintah berupa kepalan tangan yang dihentakan ke bawah sebuah petir berwarna merah pun langsung jatuh dan menyambar ke arah si laba-laba raksasa. Tekanan listrik bervoltase tinggi tersebut pun sanggup membuat seekor makhluk raksasa lemas tak berdaya dengan tubuh hangus terbakar.

Selagi rekan-rekannya sibuk bertarung, Thorn tampak hanya diam di pojokan sambil menikmati sebungkus m*mogi dan asik memperhatikan yang lain bertarung tanpa mencoba ikut membantu maupun ikut campur. Oh jangan salah, tugasnya itu nanti jika si siluman benar-benar sudah dinyatakan harus lenyap dari muka bumi ini.

Setelah yakin si laba-laba pelacur sudah tidak bisa melawan lagi, Fang pun segera menghampirnya dan berjongkok di dekatnya. "Ini sudah berakhir. Selagi masih ada kesempatan biar kutawarkan lagi, pergilah dari sini dan cari tempat lain yang lebih baik. Kalau kau mau menurut kami pasti akan membantu dan membebaskanmu" ujarnya begitu lembut.

Tapi bukannya ditanggapi baik-baik, si wanita laba-laba dengan kondisi yang sudah sangat mengenaskan itu malah ngelunjak dan melemparkan sebuah tatapan tajam penuh kebencian. "Bedebah…" umpatnya seakan mengutuk pria di depannya.

"Begitu…" Fang hanya membuang nafas dan kembali berdiri, sepertinya memang tidak ada harapan lagi. "Thorn, bereskan dia" perintahnya singkat pada pemuda bermanik zamrud tersebut seraya berbalik dan menghampiri Yaya.

Seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan tanpa diperintah Halilintar dan Ice pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Yaya tampak kebingungan ketika Fang mendorongnya untuk keluar meninggalkan Thorn sendirian berhadapan dengan jorogumo tersebut.

"Yaya-chan ayo kita juga" ajak Fang seraya memangku bahu gadis tersebut.

"Eh? Tapi Thorn-kun gimana, kita tidak bisa meninggalkannya" protes Yaya.

"Sudah tidak apa-apa. Biarkan saja dia" sahut Fang penuh senyuman.

Menyerah, Yaya pun hanya menurut dan mengikuti pria itu menyeretnya meninggalkan ballroom tersebut. Mereka terus melangkah hingga sampai di pintu yang mereka temui pertama kalinya di bangunan ini dan segera Fang pun langsung menutup pintu tersebut dengan rapat.

Sementara itu Thorn yang masih berada di dalam hanya memperhatikan dari jauh ketika Fang menutup pintu tersebut. Begitu dirasanya sudah aman, dia lalu mengalihkan pandangan pada si siluman yang masih terkapar lemas di bawah kanebo milik Fang. Dia langsung menyeringai tajam, aura berwarna ungu kelam mulai menyelimutiya. Dan secara perlahan bayangannya mulai meluas mengikuti bertambahnya ukuran tubuhnya.

Sang Jorogumo yang melihatnya pun sontak tercekat ketakutan, dan kemudian…

"GYAAAAAA!"

"Apa yang barusan!?" Yaya yang tiba-tiba saja mendengar suara teriakan panjang tersebut pun sontak kaget dan dengan panik mencoba mendatangi lokasi tempat Thorn berada, jika saja Halilintar tidak menghalanginya lebih dulu dengan memblokade jalannya.

"Bukan apa-apa. Kau tidak usah khawatir, Thorn akan baik-baik saja" ketus pemuda tersebut.

"Tapi–"

Segera ucapan Yaya pun terputus karena selaan dari Fang. "Itu benar Yaya-chan, Thorn itu bisa diandalkan untuk urusan seperti ini. Terlebih lagi dia itu…

.

.

Sangat kejam"

Dan ucapan Fang barusan pun sukses membuat gadis itu menelan ludah secara paksa saking syoknya mendengarnya. Benarkah Thorn itu aslinya seperti itu? Kalau iya, berarti jika diibaratkan sebuah benda atau makhluk hidup lain, Thorn itu seperti sebuah bunga mawar. Cantik dengan warnanya yang beragam dan punya bau yang semerbak, tapi berduri di bagian batangnya.

Selagi Yaya memikirkannya, yang dibicarakan sejak tadi pun akhirnya muncul dengan membuka pintu secara perlahan. Karena sangat khawatir sontak saja gadis itu pun langsung menggengam erat tangan Thorn yang terbungkus fingerless berwarna hitam tersebut. "Thorn-kun, kau baik-baik saja!? Silumannya… Silumannya bagaimana!?" tanyanya panik.

Thorn hanya menatap Yaya sejenak dan kemudian beralih kepada tiga rekannya yang saat ini sedang menyilangkan kedua tangan membentuk huruf X dan menggeleng-geleng juga sedikit berdesir 'jangan kasih tahu dia yang sebenarnya'

Pemuda bermanik zamrud itu pun tersenyum pada Yaya "Sudah kulempar ke dalam goa" jawabnya polos dan membuat mereka bertiga menghela nafas lega. "Habis itu ditelan" tapi kelanjutannya lah yang membuat mereka tercekat.

"Hah?"

Tapi beruntung sepertinya Yaya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Thorn. Dan membuat ketiga buah jantung yang hampir copot tadi bisa terpasang kembali dan membuat mereka kembali menghela nafas lega.

"Maksudnya?"

Dengan cepat Fang pun kembali merangkul bahu Yaya dan mencoba mengalihkannya keluar dari pembicaraan itu. "Sudahlah tidak penting membahas itu. Hei, untuk merayakan keberhasilan kita malam ini bagaimana kalau kita makan-makan, aku yang traktir" dengan menawarkan traktiran.

"Woah, beneran? Asik…" kata Ice yang terlihat sangat senang.

"Yey, makan!" seru Thorn begitu semangat saat mendengar Fang akan mentraktir mereka semua karena sudah bekerja keras malam ini.

"Thorn bukannya kau sudah makan tadi?" celetuk Halilintar pada pemuda bermanik zamrud tersebut.

"Serangga rasanya tidak enak" sahut Thorn agak ketus.

"Apa sih yang kalian bicarakan?" gerutu Yaya tidak paham apa yang menjadi topik pembicaraan dua pemuda yang seusia dengannya tersebut.

Malam itu pun berakhir dengan tenang, setelah melakukan pembersihan mereka pun turun dari bukit dan mencari warung makanan enak yang masih buka di jam-jam tutup tersebut. Dan setelah malam itu juga tidak terdengar rumor buruk apapun lagi tentang rumah di atas bukit tersebut. Tentu saja setelahnya rumah besar itu bisa di renovasi dan ditinggali dengan nyaman.

Tapi ini belum berakhir, masih ada masalah yang akan segera datang dan menunggu untuk diselesaikan.

.

To Be Continued