Chapter 7
Pembalasan dari Masa Lalu (Last Part)
.
Malam itu pun berakhir dengan tenang, setelah melakukan pembersihan Fang dan yang lain turun dari bukit dan mencari warung makanan enak yang masih buka di jam-jam tutup tersebut. Dan keesokan harinya, sabtu pagi yang cukup cerah walaupun terasa agak dingin karena kabut yang masih mengitari kota membawa uap-uap air turun ke permukaan tanah.
Sementara itu di kamar nomor 3 apartemen Shinwa, si pemilik kamar yang lebih tua tampak sudah bangkit dari tempat tidurnya sejak tadi dan baru saja kembali dari dapur. Lalu dia pun melangkahkan kedua kakinya perlahan menghampiri adiknya yang masih tertidur nyenyak di tempat tidurnya dan langsung menempelkan tangannya pada dahi bocah tersebut.
"Untunglah… sepertinya panasnya sudah turun" gumamnya menghela nafas lega. Sembari menurunkan tangannya kemudian dia pun mencoba membangunkan anak tersebut. "Blaze…"
"Ughh…" bocah itu melenguh ketika namanya dipanggil oleh si kakak.
"Bangunlah, tadi Kakak membuatkanmu bubur. Cepat makan biar perutmu nggak kosong" kata Halilintar dan hanya dijawab dengan sebuah gumaman malas oleh Blaze.
Pemuda itu pun menghela nafas. "Habis ini aku mau ke Minimarket sebentar. Apa kau mau sesuatu?"
Blaze menggeleng. Dia sedang tidak menginginkan apapun saat ini padahal biasanya pas lagi sehat ngebet banget minta dibeliin es krim atau coklat. Namanya juga orang sakit pasti mau apa aja juga nggak bakalan enak ya?
Dan Halilintar sudah terbiasa dengan sikap rewel adiknya yang bukan hanya muncul saat sedang sakit ini saja. "Kalau makan siang nanti mau apa?" tanyanya penuh kesabaran.
"Terserah Aniki aja" jawab Blaze dengan suara yang agak serak.
Halilintar pun kembali dibuat kembali menghela nafas berat. Dengan pasrah dia pun segera berdiri kembali untuk mengambil dompet yang tergeletak di atas meja belajar di sudut kamar tersebut dan segera melangkahkan kakinya menuju pintu depan.
Biasanya di udara sedingin ini orang-orang akan menjadi malas untuk keluar rumah. Jangankan keluar, untuk bangkit dari tempat tidur dan pergi mandi saja pun rasanya enggan, benar bukan?
Seperti sepasang suami istri dari kamar nomor 7 berpintu ungu apartemen Shinwa ini misalnya. Saat ini jam di rumah mereka sudah menunjukkan pukul 7.30, yang namanya suami-istri pasti tidak haram hukumnya tidur seranjang. Oke kembali ke intinya, jadi karena hari sudah pagi dan jam weker yang berbunyi pun membuat si istri secara otomatis bangun dari tidur nyenyaknya, wanita berambut hitam lebat itu pun membuka kedua matanya, menekan tombol pada jam dan meregangkan tubuhnya untuk mencoba mengumpulkan nyawa sebanyak-banyak.
Sementara di sampingnya suaminya masih nampak tertidur pulas dengan wajah yang begitu damai, Ying menatap padanya sejenak sebelum akhirnya bangkit berdiri untuk menuju kamar mandi.
Hingga tiba-tiba ada yang memegangi dan menarik tangannya hingga membuat wanita itu menjerit kaget dan melenguh ketika merasakan punggungnya mendarat kembali di atas tempat tidur empuk beralaskan kain putih tersebut.
Yang lebih membuatnya kaget tiba-tiba saja tubuhnya sudah berada dalam dekapan erat milik seorang pria yang merupakan suaminya. Ying pun menatap wajah si laki-laki berambut raven acak-acak tersebut dengan wajah memerah. "F–Fang…"
"Uhm…" Fang menyahut tanpa membuka matanya sedikitpun, walaupun di bibirnya tampak tersungging sebuah senyuman damai tanda jika dia memang sudah bangun sejak tadi.
"Aku mau mandi…" keluh Ying merasa sesak dengan pelukan erat suaminya tersebut.
"Sebentar saja~" tolak Fang manja. Dan bukannya melepaskan Ying dia malah mendekap istrinya tersebut semakin erat hingga kepala wanita itu semakin tenggelam dan menyentuh dada bidangnya.
"Ini sudah pagi~" protes Ying lagi saat merasa semakin dirinya kepanasan dan mulai kehabisan nafas.
"Emang kenapa ini kan hari sabtu, lagipula kau juga cuti kan?~"
"Tapi kan aku cuti karena–"
"Ini masih kepagian. Emang kau nggak kedinginan apa mandi pagi-pagi begini? Udah lah kita tidur lagi aja" Belum sempat Ying meneruskan ucapannya si suami langsung saja memotong dan malah semakin memeluknya seolah dia adalah guling. Hingga Ying benar-benar gemas dengan kelakukan suaminya tersebut.
Segera perempuan berambut hitam itu pun menarik kedua tangannya dan langsung menyambar ke pipi Fang lalu mencubit keduanya dengan sangat amat gemas. "Sudah cepat bangun Goblin pemalas~ Katanya hari ini kita mau ke rumah Ayah dan Ibumu~" gerutunya.
"Huiiiing… (Ying…)"
Dengan amat sangat terpaksa Fang pun harus melepaskan pelukannya tersebut, membuat Ying akhirnya bisa bernafas lega dan bergerak bebas. "Sudah jangan malas-malasan! Cepat bersiap-siap selagi aku menyiapkan barang bawaan kita!" omelnya sambil berkacak pinggang sebelum akhirnya turun dari ranjang dan meninggalkan Fang yang menatapnya cemberut sambil asik mengelus kedua pipinya yang memerah karena bengkak.
Kampret. Seenggaknya ciuman selamat pagi kek, ini malah kena cubit. Sebenarnya dia yang kurang romantis atau istrinya sih yang nggak peka?
Selagi Fang termenung memikirkan hal tersebut, Ying kembali menghampirinya dan langsung memberikan kecupan singkat di bibir, hingga pria tersebut kembali dibuat cengo dengan wajah merona, ia langsung menatap kedua manik saphire milik Ying yang terlihat sangat lembut saat ini.
"Maaf ya? Aku sampai lupa. Selamat pagi" ujar Ying penuh senyuman pada suaminya tersebut. Setelah itu dia pun kembali berbalik lagi meninggalkan Fang yang masih melongo kebingungan.
Dan beberapa saat kemudian, akhirnya pria berambut ungu raven itu pun sadar. "Yes!" Seolah diisi ulang sontak saja dia langsung kegirangan sendiri. Lalu dengan penuh semangat ia pun segera beranjak dari tempat tidur sambil meraih handuk dan segera menuju kamar mandi.
Yup. Begitulah salah satu atau salah dua contoh kegiatan pagi ini yang ada di apartemen Shinwa. Diceritakan secara singkat kegiatan hari ini baik di rumah kontarakan itu maupun di Kafe berlangsung seperti biasanya, hanya saja kali ini Ying tidak ada karena sedang mengambil cuti untuk pergi menuju Hokaiido tempat keluarga Fang berada.
Dan secara kebetulan tiba-tiba saja Gempa dan Ocho pun mendapat panggilan untuk segera menuju Ise. Jadi Kafe pun terpaksa hanya buka untuk setengah hari. Sungguh, suatu hal tidak terduga selalu saja bisa terjadi secara kebetulan kapan saja, benar kan?
Ya apapun itu. Kesempatan ini pun tidak disia-siakan oleh para pegawainya untuk menikmati waktu tutup kafe mereka yang terlalu siang tersebut. Misalnya seperti Thorn yang langsung saja pulang ke rumah dan mulai merawat tanaman di sekitar pagar dalam apartemen mereka. Halilintar pun punya waktu untuk menjaga Blaze yang sedang tidak enak badan, saat ini dia sedang pergi keluar untuk mencari beberapa bahan makanan.
Dan Yaya…
Saat ini di ruangan rahasia yang terdapat di dalam gudang apartemen Shinwa, seorang gadis berusia 18 hampir 19 sedang berhadapan dengan seorang bocah bermata biru yang lebih muda darinya. Mereka terlihat saling memasang kuda-kuda bertahan sambil was-was jika lawannya akan melayangkan serangan.
Sedang melakukan latihan rutinnya dengan Ice.
(Sedikit catatan, Yaya sedang tidak pakai kerudung dan hanya mengenakan baju kaos plus celana training saat ini)
Jadi seperti biasanya mereka berdua lagi-lagi berlatih bela diri di atas matras. Jujur, Yaya merasa beruntung dia pernah belajar taekwondo sebelumnya. Dan Ice pun kelihatannya tidak memberikan latihan fisik yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Berbanding jauh sekali dengan kekuatan aslinya yang tidak bisa di deskripsikan hanya dengan kata-kata.
Sepertinya bocah itu paham dan bisa mengatur berapa porsi yang harus dikeluarkannya untuk melatih seorang manusia. Mungkin karena inilah Gempa memilihnya meskipun ke mageran nya itu–Ya begitulah. Bayangkan saja jika itu Halilintar, Thorn, atau Blaze, kira-kira apa yang akan terjadi?
Oke cukup penjelasannya. Kembali pada Yaya dan Ice tadi, sambil sama-sama memasang ancang-ancang untuk menyerang mereka terus saja melangkah berputar-putar di atas alas empuk berwarna biru terang tersebut dan menunggu waktu yang tepat untuk menggunakan kesempatan menyerang. Dan mendadak saja Ice langsung melayangkan sebuah tendangan dari arah bawah yang kemudian bisa ditangkis oleh Yaya dengan kedua lengan bawahnya.
Gadis itu sempat dibuat menegang sesaat karena efek momentum yang didapatnya. Lucu, padahal kelihatannya Ice hanya memberikan tendangan pelan tanpa tenaga, untunglah Yaya bisa menahannya.
Kemudian mereka berdua pun kembali memasang posisi bertarung, saling memutari satu sama lain, mencari celah dan kesempatan untuk memberikan serangan selanjutnya.
Yaya maju menyerang dan siap menghempaskan sebuah tendangan memutar ke arah dada yang sayangnya dengan cepat langsung ditangkap oleh Ice. Sebelum anak itu sempat mengunci dan membantingnya ke matras gadis itu pun langsung memberikan tendangan sekuat mungkin hingga cukup membuat Ice terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
Dan setelah itu mereka pun kembali lagi ke posisi awal.
Tanpa peringatan Ice maju menyerang lagi. Dengan cepat dia segera mengunci bahu dan lengan Yaya, setelah itu mengaitkan satu kaki gadis itu dari belakang dan bersiap menjatuhkannya ke matras. Tapi sepertinya Yaya belum mau menyerah, seakan sudah tahu apa yang direncanakan Ice dia pun langsung merentangkan satu kakinya sejauh mungkin dari jangkauan kaki bocah tersebut.
Lalu mencoba membalikkan keadaan. Ia lekas melepaskan kuncian pada tangannya, menangkap tangan Ice, memutar ke belakang dan menahan lehernya. Caranya berhasil, sekarang Yaya berhasil membuat mentornya itu terdiam dengan tangan terkunci di belakang.
"Heh~ Lumayan. Kau bisa menyudutkanku juga ternyata" komentar anak tersebut. Setelahnya dia pun tersenyum tipis "Tapi kalau cuma ini–"
Ice sontak terdiam dan melotot begitu merasakan punggungnya ditekan oleh sesuatu yang agak besar dan menonjol. Sambil menelan ludah ia menggulirkan matanya sedikit ke belakang untuk memastikan 'benda' apa itu. Dugaannya benar, sontak dia pun langsung memerah seperti kepiting rebus. Tapi kelihatannya yang empunya 'barang' gak sadar sama sekali.
"B–Baiklah Nee-san, K–Kau menang kali ini. Bisa lepaskan aku?" pintanya sembari mengggulirkan kedua matanya ke arah lain dengan wajah mem-blushing.
Dan Yaya pun segera melepaskan kuncian tangannya pada Ice, sontak bocah itu pun segera menjauh dan menghela nafas lega. Dia pun berbalik dan menemukan Yaya tengah memegangi bagian perut tepat di bawah dadanya dengan wajah agak memerah.
"Ada apa?" tanya Ice penasaran dan membuat gadis itu tersentak kaget.
Yaya menoleh pada Ice. "T–Tidak apa-apa…" jawabnya agak panik sembari menggelengkan kepalanya. "Ngomong-ngomong kau haus tidak? Kalau aku agak haus, bagaimana kalau kubelikan minum dulu?" lanjutnya menawar untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Nggak usah. Cukup Nee-san aja" ujar Ice.
"O-Oke" Yaya pun langsung berbalik dan berniat melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Tunggu sebentar Nee-san!" jika saja Ice tidak menghentikannya. Bocah itu pun segera mendekat menghampiri Yaya. "Apa tubuhmu ada yang sakit?" katanya bertanya.
Gadis itu tampak mengulum bibirnya sambil menyentuh bahu kirinya yang agak nyut-nyutan. "Ada sih. Akhir-akhir ini bahuku agak sakit, mungkin karena lama tidak latihan. Tapi darimana kau tahu?" ujarnya.
"Cuma menebak saja sih. Kalau begitu tolong diam dulu sebentar" kata Ice datar. Tanpa di duga dia langsung merapatkan tubuhnya pada Yaya yang lebih tinggi darinya tersebut dan memeluknya dengan lembut. Tentu saja gadis itu langsung kebingungan dan memerah karena perbuatan mengejutkan anak tersebut.
"I–Ice-kun! Apa yang kau laku–"
Anak itu hanya diam dan menutup mata, dari tubuhnya keluar semacam aura tipis berwarna putih seperti asap di sekitar batu es, rasanya pun sama, dingin sekali. Hingga Yaya pun tertegun dan tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Perlahan aura itu mulai menyebar melapisi tubuhnya dan memberikan sensasi sejuk yang begitu nyaman, bersamaan dengan itu rasa nyeri di sekujur tubuhnya pun mereda dan menghilang seolah menguap di udara.
Begitu merasa cukup Ice pun segera menjauh dan melenyapkan energi itu. "Bagaimana…?" tanyanya malu-malu.
"Hebat… Rasa sakitnya langsung hilang… Badanku jadi ringan sekali." Gumam Yaya sembari menyentuh bagian-bagian tubuhnya terutama bahunya yang tadi katanya agak sakit. "Apa yang barusan itu kekuatanmu, Ice-kun?" lanjutnya lagi bertanya.
Bocah di depannya itu pun menggangguk. "Ya. Yang barusan tadi itu adalah Healing. Nekomata punya kemampuan *Taijutsu dan *Senjutsu yang kuat. Saking kuatnya kami bahkan sanggup menghidupkan makhluk yang sudah mati, tapi untuk sementara aku baru sampai tingkat pemulihan, nggak seperti Ibu" Jelasnya pelan.
"Begitu… Oh iya Ice-kun, mengenai Ibu dan Kakakmu–"
Lagi-lagi ucapan Yaya pun harus terputus karena suara dering handphone yang cukup keras. Sementara Ice terlihat menghampiri tas punggung berwarna navy yang sejak tadi terletak di atas kursi lipat, bersandingan dengan jaket miliknya dan mengeluarkan sebuah ponsel berwarna biru muda dari kantong depannya.
Rupanya suara itu berasal dari ponsel bocah bermanik aquamarine tersebut, tanpa basi-basi dia pun segera mengangkat panggilan tersebut. "Halo? Dengan Ice disini"
"NEKOMIYA, DIMANA KAU!? KAMI SUDAH MENUNGGUMU SEJAK TADI!"
Terdengar dari seberang telepon sana suara melengking keras seorang perempuan yang cukup memekakkan dan memaki-maki pada si empunya handphone. Sontak Ice pun segera menjauhkan alat komunikasi tersebut dari telinganya sebelum dia menjadi tuli dibuatnya.
"T-Tenanglah… Alice-chan… Tidak perlu sampai teriak-teriak begitu…"
Oh dan ada satu suara perempuan lagi disana, tapi cara dan nada bicaranya lebih halus dibandingkan yang satu lagi.
"Diam aja Sheila! Ini anak kalau gak diginiin ntar jadi kebiasaan! OI NEKOMIYA, CEPAT KESINI! KAU GAK TAU APA KAMI LAGI KEREPOTAN!?"
Ice berdecak agak kesal. "Iya iya, Bentar lagi aku kesana. Gak usah bentak-bentak gitu napa…" katanya agak malas sambil menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.
"Benar ya? Awas aja kalau kau baru OTW dari ranjang, ku coret namamu dari kelompok!" kata gadis itu dengan nada mengancam yang diakhiri dengan dirinya duluan menutup panggilan tersebut.
Ice membuang nafas berat dengan lesu. "Maaf Nee-san, aku hampir lupa hari ini ada janji dengan teman-temanku untuk mengerjakan tugas sejarah. Padahal aku berniat mengajarimu memakai pedang itu…" ujarnya menatap Yaya dengan wajah sedikit sendu.
"Nggak apa-apa kok, lain kali juga bisa" sahut Yaya dengan senyuman lembut di wajahnya. Sedetik kemudian dia menepuk kedua telapak tangannya di depan dada, teringat akan sesuatu. "Oh iya tadi aku mau beli minum ya, Aku sampai lupa. Kalau gitu aku traktir jus saja ya sebagai ucapan terima kasih atas hari ini" Dia pun segera berbalik lagi ke arah pintu.
"Tunggu dulu, Nee-san!" seru Ice menghentikan langkah gadis itu kembali. Anak itu melemparkan jaket kesayangannya ke arahnya dan Yaya dengan respon segera menangkapnya. "Pakai itu…" kata anak berwajah teduh tersebut.
Yaya menatap pada gumpalan kain berwarna abu-abu terang itu selama beberapa saat dan kembali menoleh lagi pada Ice. "Kau yakin Ice-kun, ini kan jaket kesayanganmu?" tanyanya ragu.
"Aku pinjamkan dulu hari ini, nanti kembalikan lagi" sahut Ice sembari sibuk memasang tas punggung birunya tersebut. Dan kemudian melangkahkan kedua kakinya dengan santai menuju pintu.
Gadis berambut coklat itu tampak kebingungan sejenak, sebenarnya untuk apa Ice meminjamkan jaketnya tersebut. "Nanti akan kukembalikan setelah ku cuci!" tapi tetap menurut dan berterima kasih pada anak laki-laki tersebut.
Ice hanya diam seribu bahasa dan terus fokus melangkah keluar dari dalam gudang tersebut, seolah sedang menahan sesuatu. Lebih tepatnya menahan nafas mungkin.
.
.
Lalu begitu sampai di luar gudang Ice langsung menyandarkan satu telapak tangannya ke dinding sembari menghela nafas dan menghirup udara segar sebanyak yang ia bisa. "Gila, karena keringatan aroma Mana nya Nee-san semakin tajam saja. Semoga saja bauku yang menempel di jaket itu cukup untuk menutupinya. Bisa bahaya kalau sampai dia ketangkap oleh siluman liar di luar sana" gumamnya dengan nafas yang agak tidak karuan.
~MA~
Saat ini Yaya sedang berada di minimarket terdekat dari apartemen mereka, dan seperti yang disuruh Ice mulai dari rumah sewaan tersebut hingga disini dia terus memakai jaket bocah itu. Siapa sangka Yaya yang tubuhnya sedikit lebih tinggi tersebut ternyata muat memakai jaket Ice, bahkan agak longgar sepertinya. Ditambah lagi jaket ini punya hoddie di belakangnya, lumayan untuk menutupi kepalanya yang tidak berhijab saat ini.
Setelah membayar di kasir, gadis itu pun segera bergegas keluar dari minimarket dan melangkahkan kedua kakinya dengan santai sambil menenteng sebuah bungkusan berisi jus botol dan teh kotak di dalamnya. Hingga tiba-tiba sebuah siluet hitam bergerak dengan sangat cepat dari arah samping dan menyeret gadis itu bersamanya.
Yaya membelalak kaget saat sempat merasakan tangannya di tarik oleh sesuatu dan begitu sadar dia sudah berada di celah sempit diantara pagar dengan tubuh tersudut di tembok dan kedua tangan yang dipegangi dengan kencang. Gadis yang masih syok dengan mata tertutup itu pun langsung memberontak dan coba berteriak minta tolong.
"Hei hei, ini aku…"
Tapi tidak jadi begitu mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, walaupun tidak sekeras biasanya karena orang itu memelankan suaranya hingga lebih terdengar seperti berbisik.
Yaya tidak percaya siapa yang ada di depannya saat ini, pria dengan rambut hitam lebat dan mata semerah darah dengan tatapan dingin khas yang tengah menatap dalam padanya. "Halilintar?"
"Jangan berisik…" desirnya sembari memberikan isyarat untuk tenang dengan menempelkan telunjuk di depan bibir. Sedetik kemudian dia tampak merogoh ke dalam kantong jaketnya dan mengeluarkan sebuah kain berwarna gelap yang langsung dibentangkan guna membungkus tubuh mereka berdua.
Jujur gadis itu tidak mengerti apa yang sebenarnya dilakukan oleh vampir bermata ruby tersebut. Tapi sepertinya dia sedang bersembunyi dari sesuatu dan sesuatu itu juga mengincar dirinya, bisa dilihat dari wajah pemuda itu yang terlihat begitu was-was sambil terus menatap ke arah mereka masuk tadi.
Yaya yang penasaran pun ikut-ikutan menoleh ke arah yang dilihat oleh Halilintar. Dan beberapa saat kemudian, benar saja dari luar celah tersebut tampak seorang pria berambut putih dengan koper besar di tangannya muncul, pria tua itu tampak celingukan kesana-kemari seolah sedang mencari sesuatu. Matanya yang liar seperti mengisyaratkan jika dia baru saja kehilangan buruan, dan sayangnya mereka berdua lah buruan itu.
Sontak Halilintar menegang begitu pria itu muncul dan tanpa sadar langsung mendekap Yaya, hanya berjaga-jaga jika orang itu menyadari keberadaan mereka jadi dia bisa cepat membawa gadis itu kabur bersamanya. Tapi Yaya yang didekap tidak sepikiran dengannya, wajah gadis itu pun sontak memerah dan jantungnya semakin berdetak tidak karuan, posisinya yang berada di antara tangan dan dada bidang pemuda itu membuatnya sedikit sesak, meskipun wangi ini–wangi tubuh Halilintar yang seperti bau hujan ini, begitu nyaman dan menyegarkan.
Hingga beberapa saat kemudian si pria tidak berhasil menemukan keberadaan mereka dan memilih menjauh dari sana. Dan membuat si pemuda bermata delima tersebut akhirnya bisa membuang nafas lega tanpa melepaskan pelukannya pada Yaya.
"A–Anu… Halilintar… Itu…"
"Hm?" Halilintar menoleh dan baru sadar setelah ditegur oleh gadis itu. Sontak wajahnya memerah "Whaa! Maaf!" dan dengan panik ia pun segera melepaskan pelukan eratnya tersebut lalu mundur menjauh. Sayangnya karena celah itu sangat sempit alhasil dia malah menabrak dinding di belakangnya.
"H–Halilintar-kun! Kau tidak apa-apa?" tanya Yaya panik begitu melihat kepala pemuda itu membentur tembok dengan dengan cukup keras.
"Ya gitu deh…" ringis Halilintar sambil mengelus kepala belakangnya yang terbentur barusan. "Ngomong-ngomong bukannya itu jaketnya Ice, kenapa kau memakainya?" gantinya bertanya.
"Oh ini? Ice-kun yang meminjamkannya, dia menyuruhku untuk memakainya tadi" jelas Yaya pada pemuda di depannya seraya menyentuh kerah jaket tersebut dengan ujung jari telunjuk dan jempolnya.
"Heh~" Halilintar hanya menggumam tidak jelas sambil mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak lupa dengan gaya cuek khas miliknya. Dan sukses membuat Yaya penasaran. Perlahan gadis itu pun mendekat hingga wajahnya tepat berada 10 centimeter di depan Halilintar, saking dekatnya sampai-sampai pemuda beriris itu bisa mencium bau tubuh milik Yaya yang mirip dengan bau vanilla tersebut.
Tebak apa yang terjadi?
Insting vampir Halilintar pun langsung bereaksi saat tak sengaja menghirup aroma tersebut. Sontak ia pun langsung menutupi mulut dimana ada sepasang taringnya yang tanpa sengaja menajam hingga hidungnya yang dirasa hampir mengeluarkan darah karena dorongan naluri tersebut dengan tangannya. Tak lupa dengan semburat merah di pipinya.
"Kenapa?" tanya Yaya polos tanpa wajah berdosa.
"T–Tidak pa-pa! Menjauhlah dariku, kau bau! Kau sengaja ingin membuatku tersiksa ya?" sahut Halilintar agak kasar sambil mendorong gadis di depannya itu untuk menjauh. Ucapan blak-blakan pemuda itu pun sukses membuat Yaya cemberut. Iya, dia tahu kalau dia memang keringatan pastilah baunya masam. Tapi nggak usah langsung bilang terang-terangan gitu, bikin sakit hati saja.
"Hmph…" Dengan ngambek akhirnya gadis itu pun meninggalkan Halilintar dan berjalan keluar dari celah tersebut. Sementara Halilintar dibelakangnya dengan perasaan agak bersalah pun langsung mengekornya untuk meluruskan salah paham ini. "Hei! Maksudku bukan bau seperti itu… Kau tahu, semua bau itu belum tentu–"
Seketika ucapannya terhenti, dia langsung mengernyit bingung begitu melihat gadis di depannya itu terdiam di tempat dengan wajah syok sambil menoleh ke satu arah. Karena penasaran ia pun memalingkan wajahnya menghadap ke arah yang dilihat si gadis.
Pemuda itu dibuat kaget bukan kepalang saat melihat siapa yang dijumpainya. Si pria berambut putih bernama Thomas yang dulu pernah membantai seisi desanya, membunuh kedua orang tuanya, menyiksa adiknya, bahkan sempat mengejarnya beberapa saat yang lalu. Ternyata dia tidak benar-benar pergi dari tempat itu, dia sengaja pura-pura menjauh untuk menunggu mangsanya itu keluar sendiri dari persembunyiannya.
"Wah… Wah… jadi kalian memang sembunyi disana. Oh~ Itu benar kau ya? Lama tidak berjumpa, Vampir kecil... Kau sudah dewasa ya sekarang? Dan gadis itu… Pacarmu ya?" cerocos pria tua tersebut menyapa si vampir seolah sedang bernostalgia ria.
Dengan respon Halilintar pun langsung menyembunyikan Yaya di belakang punggungnya dan memasang ancang-ancang. "Kenapa? Kau penasaran Pak tua?" sahutnya agak sarkatis dengan sebuah senyuman miris di bibirnya.
"Tidak juga. Awalnya aku tidak ingin mengganggunya, aku hanya mengincarmu dan adikmu karena kalian berdua punya sesuatu yang kuinginkan, tapi setelah memperhatikan gadis itu sekarang aku jadi penasaran. Dia itu sebenarnya apa? Manusia? Atau Makhluk gaib seperti kalian?" jelas Thomas panjang lebar dan sukses membuat Halilintar menatapnya dengan pandangan jijik. "Ya sudahlah nanti aku juga akan tahu sendiri setelah me–"
"Ayo kita menjauh dari sini Yaya!" Dengan panik dan secepat kilat pemuda bermata ruby itu pun menyeret gadis berambut coklat itu kabur dari sana setelah mendengar rencana jahat dari pria tersebut. Gadis itu pun hanya menurut dan mengayunkan kedua kakinya secepat mungkin agar bisa mengiringi kecepatan lari Halilintar.
Sementara si pria tua hanya menyeringai dan memasang wajah psikopat sambil memperhatikan dua muda-mudi itu mencoba melarikan diri darinya. "Ho~"
~MA~
Kemudian setelah berapa lama berlari, mereka berdua pun sampai di sebuah jalan kecil tapi ramai oleh pejalan yang lalu lalang dan deretan toko-toko yang menjual makanan sampai aksesoris. Keduanya terlihat sama-sama masih ngos-ngosan terutama Yaya yang sejak tadi ikut diseret dalam kecepatan lari pemuda bermata ruby yang tidak biasa itu. Maklumlah dia itu kan manusia, bukan vampir seperti Halilintar dan Blaze atau makhluk mitologi seperti yang lainnya. Tentu saja kemampuannya pasti terbatas bukan?
Setelah beberapa saat mengatur kembali respirasinya, Halilintar pun langsung berdiri tegak sambil berkacak pinggang. "Kelihatan kita sudah berlari cukup jauh. Kuharap dia tidak akan menemukan kita di antara kumpulan orang-orang ini" gumamnya terlihat sedikit was-was.
Disusul Yaya yang barusan saja bangkit setelah selesai mengatur pernafasannya kembali. Gadis itu berdiri tepat di depan kaca sebuah toko yang di dalamnya terdapat berbagai macam souvenir antik mulai dari pajangan sampai cincin. Matanya terpaku pada sebuah kalung kristal dengan bentuk panjang tidak beraturan, dia terus melirik perhiasan leher dengan mata dari batu berwarna biru tersebut.
"Ada apa?"
"Heh?" Hingga tiba-tiba Halilintar menegurnya, dan sukses membuat gadis itu terlonjak di tempat. "B–Bukan apa-apa kok?" sahutnya spontan dan agak panik.
Dengan penasaran pemuda bermata ruby itu pun menoleh ke dalam toko, tepat ke arah kalung yang terus diperhatikan oleh Yaya sejak tadi. "Kau suka kalung itu?" tunjuknya pada hiasan leher bermata biru tersebut.
T–Tidak, bukan begitu. Aku hanya merasa pernah lihat kalung itu entah dimana, itu saja" elak Yaya sembari mengayunkan kedua lengannya. "Sudahlah, ayo kita pergi. Orang aneh itu mungkin akan menyusul dan menemukan kita kalau lama-lama disini" lanjutnya lagi sambil menarik lengan Halilintar dan menyeretnya pergi dari depan toko itu.
Walaupun agak bingung, Halilintar hanya menurut dan membiarkan gadis itu membawanya berjalan menyusuri jalan kecil nan ramai tersebut entah kemana tujuannya.
Mereka terus berjalan menyusuri setiap lorong dan gang yang ada, hingga sampai di ujung jalan dimana terdapat sebuah tempat pembangungan gedung yang baru sampai tahap pemasangan kerangkanya saja.
Begitu sampai disana sontak saja si gadis celingukan kebingungan, karena dia tidak kenal sama sekali dengan daerah sini–tidak. Jangan daerah sini, bahkan daerah perumahannya sendiri pun dia memang belum hafal betul. Dengan senyuman nervous, dia pun menatap Halilintar di belakangnya yang tengah memandanginya dengan tatapan menunggu. "Kita dimana ya…?" katanya enteng.
Dan sukses membuat Halilintar itu berdecak sembari menggelengkan kepala. "Sudah tahu cuma pendatang buta jalan pula, sok-sok an ngenuntun" komentarnya agak sarkartis lengkap dengan tangan disilangkan ke depan dada (gaya khas pemuda itu sebenarnya). Dan sukses membuat Yaya menyengir tidak jelas dengan wajah nervous.
Setelahnya Halilintar hanya menghela nafas panjang. "Ikut aku…" dan gantian menuntun gadis itu. Yaya pun hanya diam dan menurut ketika vampir tersebut membawanya melewati pagar kontruksi gedung tersebut, tanpa perasaan buruk sedikitpun. Karena dia tahu Halilintar tidak mungkin akan melakukan hal aneh padanya.
Hingga tiba-tiba saja langkahnya terhenti di tengah jalan. Tentu saja Yaya jadi terheran-heran, dengan penasaran dia pun segera mengalihkan tatapannya dari wajah Halilintar yang terlihat menegang dan pucat pasi tersebut menuju ke arah depan mereka.
Dan sontak Yaya pun dibuat kaget, karena entah bagaimana si pria tua itu bisa ada disini, bahkan terlihat sedang duduk santai di sebuah tumpukan besi konstuksi yang tergeletak di tanah seolah memang sudah menunggu mereka sejak tadi.
Saat melihat kedua makhluk berbeda spesies itu ada di hadapannya si pria bernama Thomas itu pun segera berdiri. Walaupun terlihat agak sedikit kesulitan saat menggerakkan pinggangnya, mungkin disebabkan oleh usia yang semakin menua. "Lho~ Kalian kesini juga? Kebetulan sekali. Padahal aku tidak berfikir kalian akan datang kesini. Bisakah hentikan permainan kejar-kejaran ini? Aku ini sudah tua, tubuhku sudah tidak sekuat dulu" Ujarnya.
"Kalau kau tahu dirimu sudah tua harusnya kau mengerti kapan waktunya untuk berhenti, termasuk dalam melakukan percobaan ilegalmu itu, Pak tua" sindir Halilintar dengan sebuah senyuman miris terpampang di wajahnya.
"Heh...?" Sementara Yaya yang tidak tahu menahu tentang persoalan ini pun hanya mengerjap kebingungan sendiri.
"Sayangnya itu tidak bisa karena aku masih kekurangan data. Oh iya, ngomong-ngomong adikmu mana, kuperhatikan sepertinya dia sehat-sehat saja bahkan hidup dengan sangat normal. Sebenarnya waktu itu aku berniat mengambil 'itu' darinya, tapi tidak bisa karena syaratnya adalah... anak itu harus mati dulu. Makanya aku ingin membunuhnya, tapi karena orang-orang desa yang menyusahkan itu menghalangi, aku jadi kebablasan dan malah membunuh mereka. Maaf ya?" celoteh si pria tua tersebut dengan sangat tenang, seolah tak punya rasa bersalah sama sekali di wajahnya.
Sementara Halilintar yang berada kurang lebih dua meter pun hanya tertunduk dan terpaksa mendengarkan ocehan panjang lebar yang tidak berfaedah itu sama sekali dengan wajah tertunduk. Yaya di sampingnya menoleh, bisa dilihatnya tubuh pemuda itu bergetar hebat, kedua tangannya dikepal dengan sangat kuat hingga bisa terlihat garis dari urat-urat yang berada lengannya itu. Tentu saja gadis itu pun menjadi khawatir padanya.
"Halilin–"
"Akan ku bunuh kau..." Sesaat kemudian Halilintar mengangkat wajahnya, poninya yang hitam dan lebat itu menutupi salah satu matanya hingga menyisakan mata sebelah kanannya yang menatap tajam si pria dengan penuh amarah dan kebencian. "Pasti... KUBUNUH KAU!" seperti membelah angin pemuda itu langsung melesat dengan cepat, bahkan lebih cepat dari gerakan biasanya. Dan dalam sekejap sudah sampai di hadapan di pria tua sambil mengayunkan sebilah katana miliknya.
Tapi sungguh mengejutkan tanpa bantuan pelindung apapun, dengan tangan kosong si pria bernama Thomas itu mampu menahan sabetan pedang dari Halilintar hanya dengan dua jari tangannya. Pemuda itu pun sampai dibuat terkejut karenanya.
Kemudian dengan lihai dan begitu gesit si pak tua itu menarik bilah pedang tersebut ke belakang dan membuat si pemilik Katana ikut terseret, lalu segera melayangkan pukulan ringan pada bagian perut yang mampu membuat Halilintar terpental beberapa meter ke belakang.
Yaya hampir tidak percaya sepenuhnya tentang apa yang dilihatnya barusan. Halilintar–dengan mudahnya–dibuat terlempar dengan sebuah pukulan lembut dari seorang pria manusia yang mengaku sudah tua dan tidak kuat lagi jika disuruh bertarung.
Itu bohong ya?
"Waduh... Jadi berarti tinggal kau saja ya, Nona?" Selagi gadis itu sibuk menatap Halilintar yang berada jauh di ujung pagar sana sedang meludahkan darah yang terkumpul di mulutnya, Thomas mendekatinya dengan begitu tenang dan santai. Yaya pun hanya bisa terdiam dengan tubuh gemetar, kaki-kakinya seolah kaku tak bisa digerakan.
"Kau pasti bingung kenapa aku bisa melemparkan pacarmu hanya dengan pukulan kecil seperti itu. Yang barusan tadi itu adalah salah satu kemampuan dari alat yang kuciptakan" ucapnya sambil mengetuk-ngetuk sebuah arloji kecil terbuat dari besi berwarna silver yang berada di pergelangan tangan kirinya. "Benda ini bisa membuat penggunanya memiliki kekuatan makhluk mistis, asalkan data dari sampel yang diberikan cukup alat ini bisa meniru kekuatan apapun yang diinginkan"
Selagi si pria tua itu asik menjelaskan dan membanggakan hasil temuannya, Halilintar pun mengambil ancang-ancang mendekat untuk menyerang "Sebagai contoh..." tapi gerakannya segera terhenti ketika Thomas mengarahkan tangan ke arahnya dan membuat sebuah gelombang telekinesis misterius di sekitarnya yang sukses membuatnya tak bisa bergerak sama sekali. "Kekuatan yang kupakai sekarang adalah hasil data sampel yang berasal dari seekor Nekomata yang diserang oleh Adikku dulu"
"Ugh... Taufan... ya?" gerutu Halilintar sambil menggeretakkan gigi-giginya. Tidak lupa tatapan tajam khas miliknya.
"Menarik bukan Nona?" Thomas kembali mengabaikan Halilintar dan mencoba membuat penawaran pada Yaya. "Untuk membuat lebih banyak kekuatan aku harus mengumpulkan sampel. Bagaimana kalau Nona juga menyumbang sedikit? Mungkin kuku, rambut atau sedikit darahmu"
Yaya menggeleng tanda tidak setuju dengan penawaran yang diberikan oleh Thomas. Pria tua itu pun menghela nafas lesu "Kau yakin menolak? Padahal kau ketakutan begitu. Apa mungkin kau tidak bisa apa-apa jika si dewa atau teman-teman silumanmu itu tidak ada di dekatmu?" sindirnya lagi pada Yaya.
Kedua mata gadis itu membulat sempurna karena syok. Jika dipikir-pikir ada benarnya, selama ini dia memang tidak bisa melakukan apapun sendiri dan hanya berlindung di belakang punggung Gempa maupun yang lain– singkatnya benar-benar tidak berguna.
Sementara Halilintar yang melihatnya dari jauh hanya bisa membuang nafas dengan lesu. Keadaannya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk bergerak apalagi mendekat. "Uhm?" tapi setelahnya pandangannya pun teralihkan pada seekor kupu-kupu yang terbang melintas. Makhluk cantik itu tampak mengepakkan kedua sayapnya dengan begitu lembut penuh keanggunan dan bergerak perlahan menuju ke arah Thomas dan Yaya.
Tapi jangan salah, jika di perhatikan dengan teliti sebenarnya itu bukan kupu-kupu sungguhan, melainkan origami berbentuk seekor kupu-kupu. Benar, Halilintar lah yang membuatnya tadi dari kertas peledak. Pelan tapi pasti makhluk tiruan itu pun berhasil mendekat dan hinggap di bahu si pria tua tersebut.
Halilintar tidak membuang kesempatan ini. Segera dia mengaktifkan si kupu-kupu kertas peledak untuk melakukan serangan bunuh diri dari jarak jauh. "Meledaklah!"
.
'BOOM!'
.
Seperti yang diharapkan kupu-kupu itu langsung meledakkan diri di bahu Thomas dan menciptakan sebuah ledakkan yang cukup keras. Tidak terlalu berbahaya sebenarnya, hanya membuat sedikit kejutan dan potongan kain yang terdapat di bahu pria tua itu robek terbakar, juga mungkin sedikit suara memekakkan melihat betapa dekatnya sumber ledakkan dengan telinga si korban.
Karena kehilangan konsentasi akibat ledakkan tersebut, tanpa sadar Thomas pun melepaskan kekuatannya pada Halilintar dan membuat vampir bermata ruby tersebut bisa melepaskan diri. Tanpa basa-basi dia segera melesat ke arah si pria tua dengan sebilah katana yang siap untuk dihantamkan.
Sayang serangan tanpa peringatannya itu sedikit gagal karena ternyata Thomas lebih cekatan langsung menarik pedang di pinggangnya dan menangkis sabetan pedang bermata satu milik pemuda tersebut.
"Jangan lupa kalau aku ini juga ninja. Memainkan trik adalah salah satu keahlianku" kata Halilintar menyeringai.
Pria di depannya hanya membalas seringaian tersebut dengan dengan sebuah seringai yang tak kalah mengerikannya. "Ho~ Maksudmu kemampuan yang begini juga keahlian kalian?" tidak disangka-sangka pria tua itu pun mampu membuat senjata berupa pedang hitam layaknya ninja vampir, memang sedikit berbeda karena dia hanya mampu membuat satu. Segera benda itu dilayangkan ke arah Halilintar.
Dan dengan cekatan si pemilik kekuatan yang asli pun membuat satu lagi pedang di tangan kirinya untuk menahan serangan tersebut. Benturan dua senjata pun tidak terelakan dan menghasilkan suara ngilu yang memekakan.
"Masih bisa..." Halilintar langsung menggigit bibir bawahnya dan membuat sebuah luka kecil. Dari darah yang ada disana dia membuat satu buah Katana lagi, dengan bantuan mulut ia pun mengayunkannya hingga sukses menggores pipi Thomas.
Sontak si pria tua pun menjauh, sambil meringis dan memegangi pipinya yang terluka tersebut. Di saat yang sama Halilintar segera melompat mundur dan mendarat tepat di samping Yaya. Lalu tanpa pikir panjang segera melemparkan pedangnya lurus ke arah Thomas yang dipikirnya tidak berkonsentrasi akibat fokus pada luka terbuka di bagian wajahnya tersebut.
Siapa sangka Thomas menyadari serangan tersebut, ia pun segera menangkap pedang tersebut dan melemparkannya balik dengan tenaga yang lebih besar. Justru yang terlambat memprediksi serangan adalah Halilintar, alhasil dia pun terkena serangan makan tuan miliknya sendiri. Pedangnya tersebut justru malah mengenainya dan menancap tepat di bagian perut hingga tembus ke belakang tepat di bawah hati.
Halilintar membelalak dan langsung berlutut lemas sambil memegangi perutnya yang tertusuk tersebut. Darah segar mengalir keluar dari mulutnya.
"Halilintar-kun!" jerit Yaya panik, tanpa pikir panjang ia pun segera menghampiri vampir tersebut.
Tubuh si vampir gemetar. Karena keadaannya melemah, secara otomatis pedang yang menancap di perutnya tersebut lenyap tak bersisa di udara.
Saat dilihatnya ke depan, Thomas sudah menerjang ke arah mereka dengan tatapan dan senyum psikopat mengerikan seperti orang kerasukan. Dengan bersusah payah dipaksakannya tubuhnya untuk bangkit, menggendong Yaya ala-ala bridal style kemudian melompat sejauh-jauhnya untuk menyelamatkan diri dari sana, tepat ketika sabetan Thomas hampir mengenai kedua insan tersebut.
~MA~
Saat mencoba kabur, tak jauh dari sana ada sebuah gereja tua di atas bukit, tempat itu sangat sepi karena sepertinya memang tidak di pakai lagi. Karena keadaan Halilintar yang tidak memungkinkan akhirnya mereka pun bersembunyi di sana, tepatnya di lantai dua, pojok dekat dinding dari pintu masuk.
Yaya tampak mengawasi keadaan, kemudian beralih pada Halilintar. Bisa dilihatnya pemuda itu tampak lemas dengan nafas tersengal dan masih memegangi perutnya yang tertusuk tadi. Anehnya meskipun Halilintar itu vampir tapi lukanya itu tidak sembuh juga sejak tadi, padahal sebelumnya meski tubuhnya dicincang dia masih bisa kembali utuh seperti semula.
"Halilintar-kun... Apa yang terjadi? Kenapa lukamu itu tidak bisa sembuh? Padahal sebelumnya...".
"huh...huh... Kau itu... memang ngerepotin... huh... dengan keadaan seperti ini pun... aku harus tetap menjelaskannya semuanya..." desah Halilintar lemah sebelum dia menelan ludahnya sendiri dan coba mengatur ulang nafasnya. "Dengar ya... Ninja Vampir itu punya kemampuan pemulihan yang sangat cepat... huh... Tapi... kemampuan kami akan melemah jika diserang oleh senjata milik sesama Ninja vampir atau senjata suci seperti stun gun mu itu..." lanjutnya menjelaskan.
Yaya diam sejenak untuk berpikir. "Apa orang itu sangat berbahaya?" dan kembali bertanya.
"Dulu dia dan saudara-saudaranya membantai seisi desaku hingga tidak ada satu pun dari kami yang tersisa selain aku dan Blaze, membunuh kedua orang tuaku, bahkan sempat membunuh Blaze di depan mataku... Kalau kita biarkan... Bisa-bisa dia akan menyerang kawan-kawan kita di apartemen Shinwa..."
Abaikan tentang Blaze yang pernah dibunuh dan masih hidup sampai sekarang. "Apa menurutmu kita bisa menghentikannya?"
"Mungkin bisa jika aku menggunakan *familiarku... Tapi dengan keadaanku yang kehilangan banyak darah sekarang aku tidak yakin bisa mengendalikannya... yang ada nanti aku malah akan membahayakan kita semua yang ada disini..." jawab Halilintar.
Yaya diam, kedua maniknya bergulir perlahan dari wajah ke bagian perut yang terluka di tubuh pemuda tersebut. Gadis pun itu berpikir sejenak. "Darah? Zat besi... juga Koagulasi... Jadi begitu!" Dan akhirnya menyadari sesuatu.
Sekarang dia mengerti, tubuh vampir tidak bisa menghasilkan ataupun menyerap dua zat penting tersebut dari makanan yang masuk ke tubuh mereka, karena itulah sebagai gantinya mereka harus mengambil zat tersebut dari darah makhluk lain, salah satunya manusia.
Mengetahui hal itu pun dengan hati yang mantap untuk menolong Halilintar, Yaya segera saja membuka jaket yang dipakainya, kaosnya yang agak longgar itu dipelorotkannya sampai bahu hingga tampaklah lehernya yang begitu putih dan jenjang tersebut. "Halilintar." Panggilnya.
Dengan sedikit ogah-ogahan karena lemas yang dipanggil pun terpaksa menoleh, dan menemukan Yaya yang sedang melorotkan kaosnya hingga terlihat satu sisi dari leher hingga bahu seorang gadis yang begitu putih dan mulus, dan tentunya sangat menggoda.
'DEG'
Tentu saja insting vampir milik Halilintar langsung bereaksi melihat ada santapan lezat di hadapan matanya, ditambah lagi bau darah Yaya yang begitu manis. Vampir mana yang tidak akan terangsang? Sontak saja pemuda itu pun segera menangkupkan tangannya di depan mulut lalu segera memunggungi gadis itu dengan tubuh gemetar.
"Kau ini ngapain sih!?" bentak si vampir terdengar sangat marah.
"Eh? Aku mau menolongmu..." jawab Yaya polos tak berdosa.
"Makanya, kenapa kau menyodorkan lehermu seperti itu!?" serunya lagi bertambah kesal.
"T-Tentu saja aku mau memberikanmu darah!"
Mendengar jawaban Yaya, Halilintar pun terdiam, masih menghadap tembok sambil menutupi indra penciuman dan pengecapannya tersebut. Melihat aksi diam pemuda itu Yaya pun dibuat bingung. Jadi dia pun mencoba memanggilnya. "Halilintar-kun?"
Tidak ada sahutan
"Halilintar-kun? Halilin–Gyaa!"
Tanpa diduga Halilintar berbalik menerjang Yaya dan mencengkram kedua tangannya hingga tubuh gadis itu pun jatuh ke lantai, lalu dengan secepat kilat ia menindihinya. Yaya pun panik dibuatnya, pasalnya Halilintar yang ada di depannya saat ini tidak seperti Halilintar yang biasanya. Tidak ada tatapan dingin, tidak ada juga ekspresi Tsundere yang sering ditunjukkannya. Yang ada hanya sepasang bola mata bersinar yang menatap kosong layaknya seekor monster kelaparan.
Singkat kata, Halilintar menyeramkan.
Yaya mencoba melawan, sayangnya cengkraman vampir itu sangat kuat, tidak bisa dilepas. Akhirnya dia pun terpaksa hanya diam dan pasrah. Bahkan ketika Halilintar mulai maju mendekatkan bibirnya ke dekat lehernya.
"Kau takut?"
"Eh...?"
Halilintar bangkit tapi tak melepaskan cengkramannya pada gadis itu. Yaya menatapnya dengan mata berair serasa ingin menangis. Padahal dipikirnya tadi Halilintar sudah kehilangan akal sehat karena terlalu banyak kehilangan darah.
"Kenapa? Bukannya tadi kau yang memintaku untuk meminum darahmu? Lalu kenapa sekarang kau ragu?" sindir pemuda itu sinis.
"Itu karena kau membuat ekspresi menakutkan seperti itu!" protes Yaya tidak terima.
"Kau itu terlalu naif dan terlalu percaya pada seseorang, tidak peduli niat baik atau buruk yang ada dibaliknya"
"Tapi–"
Belum sempat Yaya protes, Halilintar kembali menunduk dan berbisik di dekat telinganya yang sudah memerah tersebut. "Yaya dengar... Aku ini bukan hanya vampir, aku juga laki-laki. Belum tentu aku tidak akan melakukan apapun padamu. Tidak semua orang itu baik, beberapa penuh tipu muslihat. Kehidupan itu seperti sebuah permainan catur, salah langkah kau mati. Ingat itu."
"Baiklah, Baiklah. Aku mengerti! Halilintar tolong lepaskan aku! Ini sangat memalukan..." pinta Yaya dengan wajah memerah sambil menolehkan pandangannya menjauhi Halilintar.
"Hmph... Rupanya kau tau malu juga? Tadi dengan entengnya kau menyodorkan lehermu padaku" Seperti permintaan Yaya, Halilintar mundur menjauh setelah melepaskan cengkramannya yang sangat kuat tersebut. Yaya akhirnya bisa kembali duduk tegak tapi ia hanya bisa diam tertunduk malu setelah diceramahi oleh vampir tersebut.
"Aku... memang tidak berguna..." ucap Yaya pelan dan membuat Halilintar menoleh padanya dengan pandangan bingung. "Sejak dulu cuma jadi beban saja..."
"Tidak. Bukan seperti–" protes Halilintar yang segera terpotong oleh Yaya.
"Aku ingin sekali membantu... Tapi aku tidak tau harus berbuat apa... Karena itulah hanya ini yang bisa kulakukan... Atau mungkin... Aku tidak pantas?" kata Yaya sambil tertunduk dan menoleh ke arah lain dengan tatapan sendu. Halilintar menatap gadis itu. Kulit putih mulus, bibir tipis yang mungil dan hidung yang mancung, bagaimana pun Yaya terlihat sangat manis di matanya saat ini. Tanpa sadar dia mengulurkan tangannya untuk meraih gadis di depannya.
Tapi selang beberapa saat Halilintar malah mengepalkan tangan dan menurunkannya.
Namun dengan cepat pemuda itu menarik si gadis dalam dekapannya dan memeluk pinggang ramping milik gadis tersebut. Yaya sedikit kaget namun tetap membalas pelukan tersebut dan menyamankan diri sebisanya.
Karena dia yang memintanya maka dia tidak boleh protes tentang apa yang akan dilakukan Halilintar setelah ini. Termasuk ketika pemuda menjilati dengan lembut area tenguknya, bukan hanya sekali tapi berkali-kali seolah dia adalah es krim.
Puas menjilat leher si gadis segera Halilintar pun menancapkan taringnya. Tubuh Yaya menegang ketika sepasang benda tajam itu menembus kulitnya. Darah segar mengucur keluar dari sana dan tanpa ragu Halilintar pun menghisap cairan itu seolah tak mau kehilangan setetespun.
Panas... Sakit... Rasanya tiap tetesan darahnya tergantikan oleh lelehan magma. Tubuhnya terasa dilempar ke dalam kawah gunung berapi. Karena sudah tidak tahan Yaya segera menepuk punggung si vampir dengan agak keras, memintanya untuk melepaskan gigitannya.
Namun seolah larut dalam naluri vampirnya, tanda itu pun diindahkan oleh Halilintar. Yang ada dia malah mendorong tubuhnya dan Yaya hingga jatuh ke lantai dan membuat tusukan dari taring tersebut masuk lebih dalam. Nafas Yaya terasa tercekat, dia hampir tidak bisa bersuara lagi. Lama kelamaan tubuhnya terasa lemas seiring banyaknya jumlah darah yang ditukar dengan suntikan racun dari taring pemuda tersebut, entah Halilintar sengaja atau tidak.
Pasrah, Yaya hanya diam dan mengelus kepala si vampir yang tertutupi oleh rambut hitam nan tebal tersebut dengan lembut.
"Hali... lintar...kun"
~MA~
Sementara itu dari luar gereja, si pria tua bernama Thomas tersebut tampaknya sudah berhasil menemukan keberadaan dua makhluk berbeda spesies tersebut. Sepertinya dia menggunakan kemampuan Nekomata yang datanya dia curi paksa dari makhluk malang tersebut dulu menyeringai panjang begitu merasakan keberadaan si vampir. Segera dia pun bergerak menuju ke dalam bekas rumah ibadah tersebut.
Begitu pintu terbuka terlihat di seberang sana pada bagian altar seorang pemuda bertubuh tinggi, berambut hitam lebat dengan pakaian khas merah-hitam tengah berdiri seolah memang sudah menunggu kedatangan si musuh lama. Matanya yang kini berwarna semerah darah itu menatapnya dengan tatapan tajam yang begitu menusuk.
Menyadari Halilintar menanti kedatangannya sontak si pria pun berdecak "ck..ck..ck... Kau tidak perlu repot-repot menyambutku seperti itu. Ngomong-ngomong pacarmu sembunyi dimana?" ujarnya.
"Oi Pak tua, biar kuberi tau kau. Yang pertama, gadis itu bukan pacarku. Yang kedua, urusanmu itu denganku, jangan bawa-bawa orang lain. Yang ketiga... kuharap kau sudah siap dengan konsekuensi atas kelakuan burukmu selama ini." Ucap Halilintar sarkartis.
"Oh ayolah, memang apa yang sudah kuperbuat selama ini?" sahut pria tersebut
Halilintar memang agak jengkel, tapi bukannya marah dia justru tersenyum (dengan sinis) karena pembalasannya kali ini akan sedikit lebih menyakitkan.
Satu tangan terangkat ke samping, mantra dirapalkan, dan pemanggilan pun segera dilaksanakan.
"Atas nama keturunan klan utama Ryuuketsu dengan ini aku memanggilmu...
Datanglah! Salah satu dewa mata angin! Harimau putih penjaga gerbang barat!
BYAKKO!"
Seketika di samping Halilintar dipenuhi oleh aliran listrik statis berwarna biru yang begitu besar dan perlahan membentuk wujud seekor harimau benggala, bulu-bulunya berwarna putih, dengan loreng berwarna hitam kebiruan dan matanya biru cerah. Kontras sekali dengan penampilan Halilintar yang punya aksen hitam-merah itu. Satu-satunya yang sama hanya kemampuan mereka dalam memanipulasi elemen petir. Wujudnya agak sedikit kasat karena makhluk ini susunan tubuhnya hanya terbuat dari listrik dan kakinya sama sekali tidak menapak tanah alias melayang.
Makluk raksasa itu mengaum dan menghasilkan bunyi menggelegar yang memenuhi seisi gereja tersebut.
Sementara Yaya yang berada di lantai dua terlihat kagum dengan kemunculan makhluk itu. "Woah... Jadi itu familiar?' Sayang dia tidak bisa bergerak untuk melihat lebih dekat karena sekujur tubuhnya masih kesemutan usai kehilangan banyak darah.
"Yo. Apa kabar Lintar, sudah lama sekali kau tidak memanggilku. Ngomong-ngomong, kau minum darah siapa? Baunya enak sekali" Sapa si harimau putih, suaranya serak dan berat seperti petir walaupun cara bicaranya seperti anak kecil yang suka bercanda.
"Kita bahas itu lain kali, Byakko. Saat ini ada sesuatu yang jauh lebih penting" sahut Halilintar agak ketus.
"Seperti biasa nggak bisa diajak bercanda, kaku banget kayak kanebo kering. Jadi apa sesuatu yang lebih penting itu?"
"Kau lihat orang itu kan? Jangan tertipu dengan penampilannya yang sudah tua itu. Kemampuan fisiknya jauh lebih kuat dari pada manusia biasa." Ujar Halilintar sambil asik melipat tangannya di depan dada.
Melihat sesuatu yang diinginkannya selama ini muncul, si pria tua pun tertawa keras dengan gaya psikopat yang sangat menyeramkan. "Akhirnya kau memanggil peliharaanmu itu keluar juga! Berarti bersiaplah, karena aku akan mengambil kucingmu itu hari ini!"
Si Harimau tampak mengernyit dengan ekspresi jijik saat melihat tingkah Thomas tersebut "Napa sih tu orang. Najis tau gak liatnya"
"Untuk pertama kalinya aku sependapat denganmu." Gerutu Halilintar membuang nafas. "Kita akan menyerangnya... Sepertinya kau sudah tau apa yang harus kau lakukan" lanjutnya menjelaskan dengan datar.
"Eh, langsung nih? Gak pakai basa-basi dulu? Salam gitu?"
Halilintar mendelik dan berdecak kesal, dan membuat si harimau putih menyerah dengan candaannya. "Iya... Iya... kita maju~!" Seperti kilat makhluk itu melesat memutari seisi ruangan dengan kecepatan yang sangat tinggi, setiap langkah yang di pijaknya meninggalkan jejak aliran listrik berwarna biru. Disaat bersamaan Halilintar juga maju menerjang ke arah Thomas dengan sebilah katana tangannya.
Dengan gesit pria tua itu mengelit ketika vampir bermata merah itu mengayunkan pedang dan bersiap menebasnya. Sambil menjaga jarak, satu tangannya pun diangkat untuk mengeluarkan energi telekinesis tersebut kembali.
Gerakan Halilintar terhenti ketika dia hampir berhasil mendekat dan menebaskan pedang bermata satunya tersebut pada si pria. Tubuhnya gemetar, mencoba untuk melawan.
Disaat yang sama sang Harimau putih pun menyerang dan hampir berhasil menerkam jika saja si pria itu tidak melompat menyingkir lebih dahulu. Byakko berputar balik mengejarnya yang sudah menjauh hingga ke atas altar. Ajaibnya, saat konsentrasi Thomas buyar karena berhadapan dengan Byakko, Halilintar terlepas dari energi kasat mata tersebut.
Tapi sebagai gantinya giliran si macan putih itulah yang dihentikan gerakannya karena Thomas memindahkan gelombangnya. Pria tua menyeringai tajam, tanpa disadarinya Halilintar sudah bergerak dengan sangat cepat dan berada di belakangnya.
Pemuda bernuansa merah itu pun melayangkan sebuah tendangan dan sukses mementalkan Thomas tempatnya berdiri hingga menabrak sususan bangku kayu di depan altar dan membuat benda-benda yang tersusun rapi itu hancur berantakan.
"Hmph... Sudah kuduga. Kau hanya mampu mengendalikan satu objek yang kau fokuskan saja. Si Kucing sinting itu bahkan bisa mengendalikan seratus objek lebih dalam sekali hadap. Kekuatan yang kau curi itu tidak ada kurang-kurangnya seperti bocah yang baru belajar meniru. Dengan kekuatan seperti itu kau bilang ingin merebut Familiar milikku dan Blaze. Konyol sekali" sembur Halilintar tersenyum tipis dengan tatapan mengejek.
Mendengar sindiran Halilintar pria itu pun menggeretekkan gigi-giginya. "Lihat saja nanti!" untuk kali ini dia mundur dan dengan cepat mengambil langkah seribu.
"Dia mau lari, Lintar!"
"Kih... Byakko!" Seolah melakukan telepati, harimau itu tau apa yang harus dilakukannya. Secepat kilat dia melayang ke udara dan melepaskan listrik statis dari tubuhnya ke segala penjuru. Tak mau ketinggalan, Halilintar pun melakukan hal serupa dengan menciptakan kumpulan kilat di atap gereja tersebut.
Dua jenis kilat–berwarna merah dan biru seolah menjadi satu, menyambar ke segala arah. Teori 'petir tidak akan menyambar di tempat yang sama untuk kedua kalinya' seolah dipatahkan oleh dua makhluk pengendali elemen listrik tersebut.
Sayang, Yaya yang ada disana pun tampaknya tidak luput dari imbas kekuatan tersebut. Sontak gadis itu menjerit ketakutan sambil menutup telinganya dan mundur ke sudut untuk menghindari fenomena tersebut.
"Menggunakan petir sebesar itu di tempat sekecil ini? Dasar gila!" hadrik Thomas. Dan tanpa disadarinya induksi dari tegangan listrik yang begitu tinggi di sekitarnya itu membuat jam yang berada di tangannya tersebut rusak dengan lembut tanpa melukainya hanya membuat sedikit sengatan yang cukup menyakitkan. Si pria dengan rambut putih pun tercengang memperhatikan arlojinya yang sudah tak berfungsi itu lagi.
Disaat yang sama Halilintar tampak melesat ke arahnya dengan sebuah bogem. "Ini untuk adikku, Pak tua!" dan langsung menghantamkannya tepat di dagu hingga sukses membuat si pria terhempas dan jatuh sekali lagi di antara tumpukan bangku-bangku panjang dengan keadaan tak sadarkan diri.
Puas melampiaskan kekesalannya Halilintar menghela nafas dan segera melenyapkan petir-petir miliknya. Bersamaan harimau putih miliknya bergerak turun secara perlahan untuk menghampirinya. Vampir bermata ruby itu tampak tersenyum pada makhluk tersebut dan mengelus tengkuknya dengan lembut. "Terima kasih bantuanmu kali ini, Byakko"
"Tidak masalah, kita kan partner. Kapanpun kau butuh panggil aku"
Harimau putih besar itu tampak mengusap-usapkan dahi dan pipinya pada si majikan. Halilintar membalas dengan menempelkan dahinya sebelum akhirnya tubuh makhluk itu menyebar dan perlahan menghilang di udara.
"Halilintar-kun!" panggil Yaya yang baru saja turun dari lantai dua setelah berhasil mengumpulkan kembali tenaganya. "Yang barusan tadi hebat sekali!" lanjutnya memuji.
Pemuda bermata ruby itu tampak memblushing dan menggaruk-garuk pipinya "Nggak juga kok, biasa aja" elaknya dengan sedikit malu-malu. "Lagi pula. Kau memanggilku Halilintar-kun, Halilintar-kun. Apa rasanya nggak kepanjangan? Kalau kau kerepotan memanggilku seperti itu cukup panggil aku 'Hali'!" timpalnya tiba-tiba.
"T-Tapi bukannya kau tidak suka dipanggil begitu?" bela Yaya
"I-Itu..." seketika Halilintar mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah. "P-Pokoknya cukup panggil aku seperti itu!" bentaknya tiba-tiba
Yaya bergidik dan mencondongkan tubuhnya agak ke belakang. "Hii... Maaf!" jeritnya.
Mendengar Yaya menjerit Halilintar pun tak ayal membelalak. "Kenapa kau malah minta maaf! Aku yang harusnya minta maaf... Tiba-tiba membentakmu" nada suaranya memelan.
"Terus sekarang apa yang akan kau lakukan pada orang itu? Kau tidak akan membunuhnya kan?" tanya Yaya lagi agak cemas.
"Nggak perlu. Biarkan saja urusannya ditangani oleh orang-orang yang tepat nanti, aku udah nggak mau lagi direpotkan oleh yang begini. 'Nasi udah jadi bubur', yang terjadi pada desaku, rasku, klanku dan keluargaku mungkin memang sudah suratan takdir." Jelas Halilintar dengan wajah sendu. "Lagipula... mungkin aku masih punya kesempatan untuk membangun kembali ras dan klanku" kali ini dia mendelik pada Yaya dengan sebuah senyuman lembut.
Yaya pun hanya memiringkan kepalanya tanda tidak paham. Apa maksudnya?
"Oh iya, apa bekas gigitanku itu masih sakit?" kata Halilintar mengganti topik dan bertanya balik pada Yaya.
"Ya iyalah!" sahut Yaya sedikit protes.
"Sudah kuduga. Pantas rasanya ada yang ketinggalan" gumam pemuda itu sembari menepuk jidatnya. Dan membuat Yaya semakin kebingungan. "Kalau mengikuti prosedur, harusnya sebelum menggigitmu aku menciummu dulu" jelasnya lagi.
"K-K-Kenapa?!"
"Kami para vampir kan punya racun unik yang berasal mulut kami, fungsinya adalah membuat mangsa kami lemas dan tak sadarkan diri. Kalau dimasukkan ke dalam cairan tubuh efeknya akan sama seperti obat-obatan jenis analgetik narkotik, menahan sakit dengan melemaskan saraf dan membuat korbannya tertidur" jelas si vampir panjang lebar dan dengan tenangnya.
Sontak Yaya memucat saat mendengarkan kuliah singkat yang diberikan oleh pemuda bermata ruby tersebut.
"Kalau sekarang masih nggak?" hingga pertanyaan Halilintar kembali membuyarkannya dari rasa syoknya. Yaya menggeleng dengan cepat, membuat Halilintar mendengus lesu. "Begitu ya? Ngomong-ngomong aku jadi lapar setelah bertarung." Dan Yaya pun dibuat kembali tercekat di tempat dengan kelanjutan ucapan pemuda itu.
Halilintar yang membaca raut wajah ketakukan gadis itu pun terkekeh. "Kenapa sih, kau pikir aku mau menggigitmu lagi? Orang donor darah aja nggak boleh sebulan sekali. Yang bener aja" komentarnya. "Maksudku kita pulang terus cari makan. Kau pernah makan ramen sebelumnya?"
Setelah itu mereka berdua pun dengan santai berjalan beriringan keluar dari gereja tersebut untuk pulang. Untuk si pria yang sedang pingsan di dalam sana... jangan terlalu khawatir karena sebentar lagi orang-orang dari pihak SHAMAN akan datang menjemput dan mempersiapkan konsekuensi yang bagus terhadapnya.
.
Halilintar Arc
Completed.
.
.
*Taijutsu = Teknik Tubuh
*Senjutsu = Teknik yang memungkinkan pengguna untuk merasakan dan mengumpulkan energi alam di sekitarnya.
*Familar = berasal dari bahasa latin 'famulus' yang berarti pelayan, asisten atau partner. Intinya sih makhluk yang dipanggil buat ngikutin perintah Host nya. Dan bentuknya bukan cuma binatang. Semua vampir ninja sebenarnya punya, cuma ada beberapa Familiar kelas atas yang kuat banget tapi suka pilih-pilih Host nya. Intinya gak suka sembarang bikin kontrak. Dan sekali udah mengikat kontrak mereka nggak akan berganti atau buat kontrak dengan vampir lain kecuali host nya mati.
*Byakko = Tahu legenda 4 dewa penjaga arah mata angin dari Cina? Salah satunya ya ini... Disebut juga The White Tiger, dalam mitologi China disebut Xi Fang Bai Hu, di Korea disebut Baekho. Dia mewakili Musim gugur dan unsur logam atau besi, oleh karena itu dilambangkan dengan berwarna putih. Byakko adalah salah satu dari penjaga dan pelindung gerbang atau disebut juga dewa mata angin gerbang barat.
