"Bolehkah aku tidur bersamamu?"

"Tidak."

Baekhyun terbangun dan duduk menghadap Chanyeol yang masih memejamkan matanya.

"Ke-kenapa tidak?" Baekhyun memprotest.

Chanyeol mengusap wajahnya dan beranjak duduk dari tidurnya. "Tidak Baek, Kris tidak akan mengijinkan lagi pula aku butuh istirahat cukup malam ini dan bila kau tidur denganku aku tidak akan bisa tidur nyenyak."

"Kris akan mengijinkan!" Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah merenggutnya. "Aku bisa tidur nyenyak bila denganmu, kau pun juga begitu.. kemarin-kemarin kau tidur denganku, bahkan memelukku dan bisa tidur dengan nyenyak, ya Chanyeol ya.. boleh yaa.. aku akan mengatakan pada Kris!" Baekhyun menepuk paha Chanyeol pelan dan akhirnya beranjak turun dari ranjang itu, merapikan nampan piring kosong dan berlari keluar kamar tanpa mengatakan apapun lagi.

Dan Chanyeol?

Pria itu sedang terlungkup dengan wajah yang tenggelam didalam bantal dan kedua kakinya yang menghentak-hentak meluapkan kekesalan atau entah apapun yang ia rasakan setelah menghadapi Puteri Mahkota Lynkestis yang kini adalah kekasihnya.

"Yoora.. tolong aku.." Hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan sekarang, memohon pada kakaknya.

"Apa lagi." Dan Yoora selalu membalas panggilannya dengan cepat.

"Baekhyun membuatku gila, ia meminta ijin untuk tidur denganku."


-Loves of Tales-


Acara makan malam pada ruangan makan mulai kembali berisik karena hampir semua orang yang ada kini sudah menikmati makanan penutup dan menghabiskan sisa minuman wine pada gelas masing-masing dari mereka, Irene dan Krystal yang sudah kembali bergabung juga kini tengah menikmati sajian dessert pada piring kecil mereka meskipun wajah yang ditampilkan oleh keduanya tidak semanis sajian kue dessert nan cantik disana.

".. jadi kita akan menikmati waktu istirahat sambil menunggu kedua Raja kembali?"

"Ya, seperti itu. Lagipula para Putera Mahkota membutuhkan waktu mereka untuk bersantai dan memulihkan tenaga setelah kejadian ini." Yixing melanjutkan pembicaraannya dengan Luhan mengenai waktu latihan mereka yang akan diadakan kembali setelah kedua Raja Glorfindel dan Tiranis kembali dari Olympus.

"Nikmati waktu santai ini Luhan, kita semua membutuhkannya." Yoora melanjutkan dan berkedip kearah Luhan.

"Aku tidak pernah menyukai ekspresimu seperti itu Yoora-na." Luhan menjawab dan menatap curiga pada Yoora.

Yoora tersenyum dan melanjutkan menikmati hidangan penutupnya hingga suara adiknya terdengar memanggil namanya.

"Yoora.. tolong aku.."

Yoora mengernyitkan alisnya sebentar dan memperhatikan Kris yang masih bercengkrama dengan yang lainnya, ia juga menatap Irene yang terdiam dan menikmati makanan penutupnya, sedangkan pada kursi tempat dimana Baekhyun duduk saat ini masih kosong dan belum ada tanda-tanda gadis itu kembali.

"Apa lagi." Yoora menjawab dengan tenang dan mengambil gelas wine-nya yang akan ia minum sambil menunggu jawaban dari adiknya.

"Baekhyun membuatku gila, ia meminta ijin untuk tidur denganku."

Pfffffttttttt!

Minuman yang baru masuk kedalam mulutnya muncrat keluar dan tumpah mengenai apapun yang berada dihadapannya, bahkan rasa gatal dan sakit pada tenggorokannya tidak bisa ia elakkan karena kini meskipun sudah terbatuk berkali-kali masih ada yang mengganjal didalamnya. Yixing dan Kris dengan cepat membantunya menepuk punggung belakang ataupun memberikan tiupan pada pucuk kepalanya., Luhan bahkan membawakan air minum yang lain dan langsung ia berikan pada Yoora namun ditolak karena ia belum sanggup memasukkan apapun pada tenggorokan dan mulutnya yang terasa kaku.

Semua orang begitu khawatir dengan apa yang terjadi pada Yoora, berbeda dengan Irene dan Krystal yang merasa jijik karena melihat piring dan sisa makanan dihadapan Yoora kini sudah ternodai dengan semburan air wine yang berasal dari dalam mulut Yoora.

"Maafkan aku.." Yoora meminta maaf dan mengusap mulut dan pipinya.

"Kau tidak apa-apa? Apa kau mendapatkan penglihatan atau hal lainnya? Kenapa?" Kris masih mengusap punggung Yoora dan bahkan melakukan pijatan pada kedua bahu wanita itu, dan Yoora hanya bisa menggelengkan kepala sementara Yixing sudah tersenyum dan menepuk punggung tangan Yoora yang masih mengepal erat.

"Baekhyun kemana? Kenapa kau tidak menjawab iya saja sih! Lagipula dia hanya minta tidur denganmu, tidak ada yang salah dengan itu." Yoora mencoba menstabilkan nafasnya dan kembali menyambungkan pikirannya dengan Chanyeol.

"Ku rasa ia mencari Kris, ia akan meminta ijin pada kakaknya. Ya! Sudah kubilang aku sedang tidak bisa berdekatan dengan dirinya, kau mengerti kan masalah hormone laki-laki?"

"Well, aku tidak bisa membantu kalau itu—

"Kris!"

Yoora membelakkan matanya ketika melihat Baekhyun sudah berada didepan ruangan makan dengan nampan dikedua tangannya, gadis itu menyusul petugas istana dan kemudian memberikan nampan kosong itu sambil mengucapkan terima kasih setelahnya ia berlari kecil menyusul Kris yang masih berdiri disebelah badan Yoora.

"Kris, bolehkan aku tidur dengan Chanyeol malam ini?"

Bila sebelumnya Yoora memuncratkan minuman wine-nya yang baru saja ia minum, berbeda dengan kali ini dimana seluruh penghuni Istana Eowyn yang berada didalam ruang makan dapat mendengar jelas kalimat yang Baekhyun katakan pada Kris dengan suara yang cukup keras dan bisa didengar cukup jelas oleh semua orang yang ada, hingga mereka membalasnya dengan suara tersedak dan bahkan dentingan alat makan yang saling berjatuhan, bahkan bunyi nyaring gelas yang pecah karena terjun bebas dari pegangan tangan dan beradu dengan lantai mamer Istana.

Tapi si mungil nan polos itu bahkan tidak mengerti dengan situasi yang terjadi disekitarnya adalah dampak dari ucapan yang ia tanyakan pada Kakaknya.

"Kau mengatakan apa barusan?" sosok gadis mungil berwajah dinginlah yang memberikan sahutan pertama dan beranjak bangun dari tempat duduknya menarik badan Baekhyun untuk menghadap kearahnya.

Sementara Kris dan Yoora hanya saling memandang dengan kedua otak mereka yang diyakini belum bisa bekerja dengan baik mendengar apa yang Baekhyun katakan.

"Apa?" Baekhyun dengan polosnya masih bertanya balik kearah Irene.

"Kau! Mengatakan apa barusan?" Irene kembali mengulang pertanyaannya.

"Kris, bolehkan aku tidur dengan Chanyeol malam ini?" Baekhyun mengulang lagi pertanyaan dan persis dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya pada Kris. "Kenapa dengan pertanyaan itu? Aku bertanya pada kakakku kenapa kau terlihat marah?" Baekhyun memandangi Irene tanpa ada rasa bersalah dan bahkan takut sedikitpun.

"YAAAKK!" Irene berteriak keras kearah Baekhyun, dan saat itulah Yoora dan Kris membawa Baekhyun keluar dari rungan makan untuk menghindari terjadinya keributan antara Irene dan Baekhyun.

"Ish, kenapa dia membentakku?" Baekhyun masih tidak mengerti dan bertanya pada Yoora dan Kris yang berada di kedua sisinya dengan tangan mereka yang saling mengait pada kedua lengannya. "Oppa! Kau mengijinkanku kan? Aku tidak bisa tidur sendiri, beberapa hari yang lalu aku bermimpi buruk, ya kan Yoora-na? Bahkan Yoora-na selalu terbangun karena aku berteriak-teriak—ya kalian membawa aku kemana?"Baekhyun baru menyadari bahwa Kakaknya dan Yoora membawa dirinya entah kemana dan mereka berdua hanya terdiam dan berusaha membawa badan Baekhyun tetap berada disampingnya.

"Ah! Chanyeol! Lihat mereka mengijinkanku!" Baekhyun memekik senang ketika memasuki kembali kamar dimana Chanyeol berada.


-Loves of Tales-


Chanyeol tidak mengatakan satu kalimat pun mendapati kekasih mungilnya sudah berada pada ranjang yang sama dengannya dan bahkan kini sudah mengenakkan baju tidur dan menutup setengah badannya dengan selimut. Ia hanya menatap kedua orang lainnya yang juga berada dalam ruangan yang sama dengannya dan masih berdiri di hadapannya setelah membantu menyiapkan Puteri Mahkota Lynkestis yang akan siap menjemput waktu tidur malamnya.

"Kalian tidak mau bersiap tidur juga?" Baekhyun bertanya pada Yoora dan Kris yang berdiri di hadapannya dan tidak bersuara sama sekali.

"Tidurlah Baek, aku dan Chanyeol memiliki topik pembicaraan lain nanti." Yoora menyahut dan tersenyum pada Baekhyun, bahkan ia merapikan selimut pada kaki Baekhyun yang belum tertutup sempurna.

"Cepat tidur! Kau merengek minta tidur dengan Chanyeol tapi masih belum juga tidur!" Kris kini memberikan omelannya lagi dan adiknya itu malah merenggut kesal, membuang mukanya kearah badan Chanyeol dan langsung memeluk pinggang pria yang kini masih dalam posisi duduk di ranjangnya.

Chanyeol memejamkan matanya merasakan tangan mungil itu melingkar pada pinggangnya, bukan hanya saja melingkar disana tetapi jari-jarinya meremas sedikit pakaian yang Chanyeol kenakan dan bahkan badannya malah semakin dirapatkan menempel dengan badannnya. Deru nafasnya yang halus dan juga teratur itu bahkan bisa Chanyeol rasakan kehangatannya karena demi apapun, Baekhyun benar-benar disampingnya, menempel disamping badannya.

"Kalian benar-benar akan menyiksaku hah?" Chanyeol menggerutu dalam pikirannya yang terarahkan pada Yoora.

"Hm, ini rencana yang bagus ngomong-ngomong. Kami tidak mungkin menolak permintaan Baekhyun, lagipula dia memang menderita tidur tanpa ada dirimu. Seharunya kau tahu bagaimana kemarin ia menjerit-jerit dan bahkan menangis sepanjang malam." Yoora membalasnya langsung, meskipun kini mereka dalam ruangan yang sama dan masih saling bertatapan dan memandang sinis satu sama lain.

Berbicara dalam pikiran lebih aman untuk saat ini terlebih mengenai permintaan Baekhyun.

"Aku bukannya mengijinkan mengenai permintaan ini bila perlu ku perjelas." Suara Kris masuk terdengar dalam pikiran Chanyeol.

Aneh. Chanyeol awalnya merasa seperti itu karena bagaimana bisa Kris masuk dalam pikirannya dan setelah ia melihat kearah kakak kekasih mungilnya, Yoora tengah memegang tangannya.

"Wow, kau bisa melakukan seperti ini?"

"Ya, aku juga baru mengetahuinya. Saat aku dan Baekhyun berada dalam perisai yang sama dengannya bahkan aku bisa mendengar segala pikiran mengenai ia, Luhan, Yixing dan bahkan kalian semua dalam sekali waktu. Hebat bukan?" Yoora terlihat tersenyum bangga akan kekuatannya.

"Bisa kita bicara masalah serius ini terlebih dahulu?" Kris memotong lagi.

"Oh, iya." Yoora menyahuti. "Hm, ini ideku ngomong-ngomong, Yixing juga menyetujuinya, karena sekarang Eowyn ada tambahan gadis lain yang memiliki perasaan denganmu Chan. Dan kita tidak bisa meyebutkan bahwa kau dan Baekhyun adalah pasangan kekasih, terlebih kekuatan Baekhyun yang memang sudah ditakdirkan akan menjadi pasangan untukmu. Untuk itu, ku mohon seterusnya kau mengatakan bahwa kalian sudah dijodohkan." Penjelasana Yoora mengenai kejadian malam ini membuat Chanyeol memperhatikan sosok mungil disebelahnya yang sudah tidur terlelap dan masih memeluk erat pinggangnya.

"Kita tidak bisa selamanya menutupi kekuatan Baekhyun bukan?" Chanyeol memberikan pertanyaan lain

"Iya memang, tapi setidaknya menjauhi dirimu dari kedua gadis itu lebih mudah."

"Lagipula, jangan kau pikir kau akan selalu tidur berdua dengan Baekhyun tanpa ada yang mengawasi. Aku dan Yoora akan tidur didalam ruangan ini juga!"

"What?!" Chanyeol mengumpat cukup keras dan langsung menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, sementara kedua orang dihadapannya langsung melotot lebar, pandangannya teralihkan pada Baekhyun yang ternyata masih lelap tanpa peduli suara teriakan kencang dari Chanyeol.

"YAA! Rencana aneh apa lagi ini?"

"Baekhyun akan selalu minta tidur denganmu nantinya, aku yakin itu!" Yoora menjelaskan.

"Aku juga tidak percaya, awalnya. Tapi mengingat persepsi dari Baekhyun mengenai hubungan kekasih dan cinta dan segala hal lainnya, ya itu akan terjadi. Percayalah otak adikku itu benar-benar masih anak kecil tapi sedikit bisa menggoda—seperti sekarang. Astaga!." Kris menjelaskan dan menggelengkan kepala memandangi Baekhyun yang menendang selimutnya dan kakinya melingkar pada kaki Chanyeol.

"Oh astaga!" Chanyeol mengeluh dan memejamkan matanya kuat-kuat.

Yoora tertawa dan memukul lengan Kris yang melihat bagaimana posisi adiknya tidur dan tidak nampak sangat indah sama sekali.

"Lihatlah, kau masih mencintai adikku dengan posisi tidur seperti itu?" Kris menunjuk posisi Baekhyun dengan salah satu kakinya yang melingkar pada kaki Chanyeol sedangkan yang lainnya sudah menendang selimut yang menutupi badannya.

Chanyeol mendengus tertawa dan kemudian menutupi lagi badan Baekhyun dengan selimutnya, bahkan kini tangannya mengusap pipi Baekhyun dan merapikan uraian rambut yang menutupi matanya.

"Ehm ehm." Kris menyadarkan Chanyeol dan kemudian ia kembali dalam posisi duduknya menghadap kearah Yoora dan Kris.

"Jadi, kalian tidak bersiap tidur juga?"

"Oh! Aku akan mengambil selimut tambahan." Yoora lebih dulu beranjak melangkah keluar kamar, sedangkan Kris awalnya masih bertahan duduk pada ranjang diseberang Chanyeol tapi pada akhirnya ia ikut melangkah untuk mengganti bajunya.

"Aku tidak keberatan kalian tidur dalam ranjang yang sama, hanya saja jangan terlalu berisik." Ucapan Chanyeol yang sangat pelan terdengar oleh Kris dan langsung mendapatkan pukulan keras pada lengan kiri dari Kris.

"Dasar mesum!"

Dan Chanyeol hanya bisa menahan ketawanya sebentar setelah itu ia menyadari bahwa malam ini adalah siksaan berat baginya.

Beri aku kekuatan, Dewa!


-Loves of Tales-


"Dia mengatakan tidak bisa tidur karena Baekhyun ada disebelahnya, tapi apa? Baru saja ditinggal sebentar pada akhirnya ia terlelap tidur dan malah ingin memeluk adikku! Dasar mesum!" Kris memukul badan Chanyeol yang sudah terlelap itu dengan selimutnya dan kemudian menyusul Yoora yang sudah dalam posisi duduk di ranjang yang berseberangan dengan ranjang dimana Chanyeol dan Baekhyun tidur.

"Sudahlah, setidaknya mereka hanya tidur." Yoora tersenyum lebar dan masih menyelesaikan pemakaian cream pada kulit tangannya.

"Ya, untungnya mereka hanya tidur. Bila kau tidak memikirkan untuk ikut bergabung dalam satu ruangan dengan mereka mungkin kata tidur yang diucapkan akan memiliki arti lain." Kris membanting badannya pada ranjang yang lain dan menyusun bantal pada kepalanya untuk membuatnya nyaman.

"Aku akan memberitahumu saat mereka akan melakukan kegiatan tidur dalam arti yang lain."

"Yak!" Kris kembali beranjak duduk dan melempar bantalnya kearah Yoora hingga wanita itu mengaduh sakit dan membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Bila keduanya saling melempar bantal dan saling mengatai satu sama lain dengan suara yang cukup keras, lain halnya pada ranjang dihadapan mereka yang semakin tidur terlelap dan bahkan kini kedua orang yang berada diatas ranjang itu sama-sama mencari kenyamanan dengan berpelukan satu sama lain, bahkan sosok yang mungil bergerak naik dan menempatkan kepalanya pada dada sang pria yang memiliki kehangatan.

"Heol.." Kris terdiam dan duduk lesu melihat tingkah adiknya yang baru saja memindahkan posisi badannya. "Aku akan meminta ramuan penghilang ingatan pada Yixing besok untuk melupakan kejadian pada malam ini." Kris meyakinkan diri dan kembali pada ranjangnya, menarik selimutnya hingga membungkus tubuhnya.

"Aku akan meminta Yixing membuatkan ramuan sangat special untukmu besok." Yoora menambahkan dan ikut masuk kedalam selimut guna menjemput waktu tidurnya.

"Ramuan untuk menghilangkan ingatan?"

"Iya, memang kau mau ramuan apa?"

Dan pertanyaan yang Yoora lontarkan tidak ada jawaban Kris, hanya terdengar helaan nafas yang sangat berat dan bunyi ranjang yang berdencit karena pria yang berada di samping ranjangnya itu kini bergerak gelisah dan bahkan menyibak selimut dengan suara.

"Yak! Tak bisakah kau tidur dalam diam?" suara bisikan Yoora mengarah pada Kris yang tengah mencari posisi tidurnya yang nyaman. "Kalian kakak adik memang tidak bisa tidur dengan benar ya?" sindiran yang diakhiri kekehan tedengar sedangkan Kris hanya membalasnya dengan decihan singkat.

"Cepat tidur! Aku sudah sangat mengantuk."

"Tidur sana sendiri! Aku tidak tenang meninggalkan Baekhyun dengan Chanyeol."

"Astaga.. mereka berada tepat di depan matamu itu!"

"Tetap saja.. apapun bisa terjadi. Ditambah adikmu itu mesum!" Kris menggerutu dan kini posisinya sudah terduduk dengan menyandarkan badannya pada bed head.

Yoora yang sebelumnya sudah menutupi badannya dengan selimut kini juga ikut terduduk.

"Ingatkan aku untuk tidak mengajakmu untuk tidur dalam satu ruangan lagi. Menggangu jam tidurku!"

"Makanya tidak usah ikut—

''Sudah diam." Yoora memotong dan masih memaksakan matanya untuk terpejam meskipun dalam posisi duduk menghadap kearah ranjang dimana Chanyeol dan Baekhyun yang sudah tertidur pulas dan masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya, saling berpelukan satu sama lain.

Keheningan menemani suasana kamar mereka, hanya dengkuran halus yang terdengar sedangkan Yoora terkadang jatuh tertidur dan kemudian terbangun sebentar dan sesekali melihat keadaan Kris yang masih terjaga dengan pandangan kosongnya. Yoora mengarahkan wajahnya kearah Kris dengan matanya yang sayup-sayup terpejam sedikit demi sedikit, bahkan antara sadar dan tidak ia melihat Kris juga tengah menunduk dan akan terlelap tidur.

"Aaaahh.. Chanyeooolll.. hiks.. Chanyeooll.."

Suara Baekhyun yang terdengar seakan-akan mendesah diawal dan kemudian menjadi isakan tangis sontak membuat kedua mata yang sebelumnya terpejam langsung terbuka lebar dengan pandangan penuh ketakutan dan pertanyaan mengenai suara yang mereka dengar.

"isshh! Chanyeol! Hiks hueee.. Chanyeool.."

"Baekhyun—

Yoora menarik badan Kris yang sudah beranjak dan baru akan melangkah kearah ranjang Baekhyun. Telunjuknya berada didepan mulutnya-mengisyaratkan pria itu untuk diam dan berada disebelahnya, dan Kris yang memberikan tatapan kesal melihat tangannya yang ditahan oleh Yoora hanya bisa terdiam dan menuruti yang dikatakan gadis itu.

Sedangkan di ranjang dimana Baekhyun berada ia masih terisak dan memukuli badan Chanyeol yang masih terbaring tidur.

"Hiks.. Chanyeoool.. Chaann.. hiks... waee.."

"Diam." Tangan Yoora membungkam mulut Kris yang akan mengeluarkan kalimat dan ia memerintahkan pria itu dengan suara dalam pikirannya. Yoora menarik selimut miliknya dan menutupi badan mereka berdua yang kini berada dalam satu ranjang. Kris yang berada disampingnya berhasil ia kukung dengan salah satu kakinya yang berada diatas paha Kris, menahan supaya tidak ada pergerakan dari kakak Baekhyun yang sangat protectif.

"Dengarkan apa yang akan terjadi, ini akan lucu. Percayalah!"

"Lucu?! Adikku menangis dan kau bilang lucu! Yoora otakmu itu—

"Chanyeooollll~" Baekhyun masih merengek sedangkan matanya masih terpejam tetap mengeluarkan air mata.

Chanyeol yang sedari tadi tertidur lelap kini merasakan pukulan-pukulan kecil pada perutnya dan saat ia mengerjapkan matanya, Baekhyun disampingnya masih terisak dan memukul-mukul perut dan dada Chanyeol dengan pelan namun berulang kali.

"Chaann.. hiks.. Chanyeol banguun.."

"Hey-hey-hey aku disini.." Chanyeol langsung beranjak bangun dan terduduk lalu memeluk badan Baekhyun dengan cepat. "Aku disini.." Chanyeol mengusap punggung dan kepala Baekhyun berulang kali dan menciumi rambut gadis itu sambil terus mengatakan 'Aku disini' 'Jangan menangis lagi'.

Pelukan dan kalimat penenang yang Chanyeol berikan ternyata cukup ampuh untuk menenangkan Baekhyun dar mimpi buruknya, bahkan gadis itu kini tengah mengedipkan matanya berkali-kali sambil memainkan ujung baju Chanyeol, sedangkan Chanyeol masih menganggap Baekhyun sudah terlelap dalam dekapannya. Beberapa menit setelahnya, Chanyeol membawa badan Baekhyun kembali berbaring di ranjangnya dengan masih memeluknya.

"Chanyeol.."

"Ku kira kau masih terlelap."

Baekhyun menggelengkan kepalanya dan membalas pelukan Chanyeol.

"Maaf karena membangunkanmu." Tangannya menarik-narik baju Chanyeol dan kemudian ia mengubah posisi badannya, kepala dan setengah badannya berada diatas badan Chanyeol, sedangkan bagian bawah kakinya berada disamping kaki Chanyeol.

"Aku bermimpi..." Baekhyun mengadu.

"Mimpi buruk?"

Baekhyun menggelengkan kepala.

"Lalu mimpi apa? Kau hanya memanggil namaku dan menangis, pasti itu mimpi buruk Baek." Chanyeol mengusap rambut Baekhyun yang ada diatas dadanya, ia mencoba menarik wajah Baekhyun untuk bisa saling memandang tapi gadis itu memilih menggelengkan kepala dan menyembunyikan wajahnya ddalam dada Chanyeol

"Mana bagian lucu yang kau maksud?"

"Bisakah kau diam dan mendengarkannya dulu!" Kris dan Yoora masih mendengarkan dan berbicara dalam pikiran masing-masing, beruntunglah lampu didalam kamar itu telah dimatikan karena kalau tidak mereka akan saling memprotest bagaiamana posisi tidur yang ada di setiap ranjang.

"Tidak mau menceritakan mimpimu?" Chanyeol kembali bertanya, dan Baekhyun menggelengkan kepalanya lagi dengan badannya yang kini merayap pelan-pelan naik diatas badan Chanyeol. "Emm Baek." Chanyeol menahan bahu Baekhyun. "A-apa yang kau lakukan?" Chanyeol menatap bingung mata Baekhyun yang sudah melihat kearahnya tepat hadapannya.

"Aku mau tidur didekatmu." Baekhyun menjawab tanpa rasa bingung, terbekatilah pemikiran Baekhyun yang masih polos dan beranggapan bahwa hal yang ia lakukan saat memindahkan badannya dengan merayap diatas badan Chanyeol yang adalah seorang laki-laki dan sedari tadi merasakan tingkat gairah yang cukup tinggi—bukanlah ide yang buruk.

"Ini sudah dekat Baekhyun." Chanyeol menjawab dengan mengerang dalam mulutnya, ditambah saat lutut Baekhyun bergerak menggesek bagian bawahnya.

"Uummm!"

"Pfffttt!"

"Baekhyun bodoh!" Yoora memejamkan matanya dan kini ia menahan mulutnya sendiri untuk tidak menimbulkan suara tawa mendengar apa yang terjadi pada ranjang diseberangnya, khususnya nasib adiknya yang kini jelas sudah berada dalam tingkat gairah seksual maksimal.

"Aku akan membunuh Chanyeol saat ini juga kalo dia berniat meniduri Baekhyun!"

"Dia tidak akan—oh belum tepatnya."

"Cih! Astaaaggaaa adikku.." Kris menggelengkan kepala dan merebahkan kepalanya pada bahu Yoora.

"Nah ini baru dekat." Baekhyun tersenyum tepat disamping Chanyeol. Dan posisi dekat yang Baekhyun maksud adalah, seluruh badannya tepat berada diatas Chanyeol, bisa dikatakan seakan-akan badan mereka tengah berhubungan dan saling menyatu dengan anggapan 'Woman on Top' tapi bukan dalam artian saat posisi berhubungan seks, hanya posisi badannya saja. Tangan Baekhyun berada diatas dada Chanyeol dan wajahnya bersandar pada bantal dan bahu Chanyeol, sedangkan kakinya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri diantara kaki Chanyeol.

Chanyeol memejamkan matanya dan bahkan mengusap keringat pada keningnya, ia tidak mau membuka mata dan melihat jelas bagaimana kondisi badan kekasihnya yang berada diatasnya kini, ditambah kaki Baekhyun yang masih bergerak menggesek bagian bawahnya dan mengundang alarm kebangkitan disana.

"B-baekhyun."

"Hm.."

"Oh Astagaaa.." Chanyeol menghentakkan kepalanya sendiri ketika Baekhyun malah semakin merayap, kedua kakinya berada tepat diatas selangkangan Chanyeol dan menindih sebuah kebanggaan miliknya yang kini sudah semakin terdesak dibalik celananya.

"Chanyeol kau kenapa?" Baekhyun mengusap wajah Chanyeol yang penuh dengan keringat. "Chanyeol, kau sakit?" Baekhyun menempelkan keningnya pada kening Chanyeol dan kedua tangannya memegang kedua pipi Chanyeol.

"Aku tidak tahan ingin keluar dari ruangan ini dan tertawa keras." Yoora menggelengkan kepalanya sedangkan Kris yang juga merasakan yang sama menahan mulut Yoora dengan tangannya.

"Kenapa tidak ada suara lagi?" Kris bertanya dan matanya menyipit kearah Yoora yang berada dibawah badannya, saat kepalanya hendak menengok kearah ranjang Chanyeol dan Baekhyun-Yoora langsung menahannya dengan menarik kerah bajunya.

"Diam! Adikmu yang memulai duluan."

"Ngghh.." suara erangan Chanyeol terdengar dan bahkan bunyi dencitan ranjang jelas terdengar karena pergerakan yang terjadi diatasnya.

"Oh Tuhan!" Yoora memberikan tepukan pada lengan Kris ketika ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi diseberang ranjang sana. Dimana adik perempuannya—mencium Chanyeol di bibir dalam posisi badannya yang masih berada tepat menindih badan Chanyeol yang sedang dalam keadaan tegang. Ditambah posisinya kini Baekhyun sudah duduk pada pangkuan Chanyeol dan ciuman mereka bisa dikatakan bukan ciuman lembut seperti pertama kalinya maupun ciuman setelah peperangan selesai sebelumnya, ciuman ini lebih menuntut karena setelah Baekhyun yang memulai melumat bibir Chanyeol dengan kakunya—Chanyeol langsung mendominasi dan memimpin lumatan itu dan membawa badannya untuk duduk pada ranjang dengan Baekhyun yang duduk di pangkuannya.

Chanyeol membanting badan Baekhyun dengan pelan dan kini mengukung badan gadis itu dibawahnya.

"Oke cukup! Aku akan—

"Kenapa kau tertawa?"

Sebelum Yoora menahan badan Kris yang akan bangkit dan mungkin memukuli badan Chanyeol, suara kekehan tawa Baekhyun dan Chanyeol yang bertanya kenapa gadis itu tertawa saat mereka berciuman dengan panas menjadi penahan dan membuat Yoora serta Kris saling adu pandang dan kembali menfokuskan pendengaran mereka kearah ranjang disana.

Baekhyun masih terkikik tertawa sedangkan Chanyeol masih menciumi bibir gadis itu hingga terdengar bunyi kecipak karena perpaduan suara ciuman bibir mereka dan juga tawa Baekhyun.

"Hehehe.. aku ingat mimpiku yang kemarin-kemarin." Baekhyun akhirnya menjawab pertanyaan Chanyeol, dan tangannya mengalung pada leher Chanyeol sambil tetap menuntut ciuman dari kekasihnya.

"Mimpi apa?" Chanyeol yang masih berada diatas Baekhyun melepaskan ciumannya dan hanya menatap gadis itu dengan kedua tangannya bertumpu disamping kanan kiri wajah Baekhyun.

"Um, kau menciumiku seperti tadi, seperti posisi ini juga.. dan Kris tiba-tiba datang membuka pintu kamar dan memukulimu karena dia bilang kau mesum—pffttt." Baekhyun kembali tertawa dan Chanyeol ikut tersenyum kecil.

"Yeah.. kalau kakakmu tidak tidur di ruangan yang sama seperti sekarang mungkin dia juga akan memukulku dan mengatakan yang sama." Chanyeol menggelengkan kepala dan kembali mencium bibir Baekhyun sebentar sebelum akhirnya ia berbaring disamping Baekhyun dan memeluk kembali badan gadis itu.

"Untung saja otak adikmu cukup pintar."

"Kalau dia tidak pintar aku tidak mau mengakui dia sebagai adikku, bodoh." Yoora menyahuti dan memukul lengan Kris karena gigi pria itu mengigit tangannya yang masih menyekap mulutnya.

"Tapi kenapa dia mengataimu mesum?"

Pertanyaan Baekhyun sontak membuat Chanyeol tersedak tertawa begitu juga Kris dan untungnya Yoora masih menyekap mulutnya jadi suara tawa kecilnya tidak terdengar oleh mereka berdua, dan beruntungnya selimut yang menutupi badan Yoora dan Kris cukup tebal.

"Karena aku menciummu." Chanyeol memandangi Baekhyun dan mengusap bibir tipis miliki gadis itu. "Dan kalau Kris memang memukulku pada akhirnya, aku akan mengatakan padanya bahwa adiknya yang menggodaku dan meruntuhkan pertahanan kemesumanku, dia pasti hanya akan menggelengkan kepalanya kepadamu." Chanyeol menjelaskan dan memberikan cubitan kecil di pipi Baekhyun.

"Memangnya aku menggodamu bagaimana? Aku kan bukan Irene dan Krystal yang memanggil-manggil namamu terus." Baekhyun memukul perut Chanyeol dan memasang wajah cemberut.

"Astaga Baekhyun.. umurmu berapa sih?"

"Dua puluh! Aku tahu kau pasti mau mengataiku anak kecil lagi kan." Baekhyun menyahut cepat dan menyembunyikan wajahnya pada dada Chanyeol dan memeluk badan pria itu. "Jangan bertanya lagi. Aku mau tidur." Suaranya kembali terdengar menahan Chanyeol yang bahkan belum membuka mulutnya sama sekali untuk membalas ucapan Baekhyun.

"Baekhyun, Puteri Mahkota Lynkestis, umurnya akan menjadi dua puluh satu pada tanggal 6 Mei tahun depan, mencintai Strawberry seakan-akan buah itu adalah sumber kekuatannya. Takut akan petir dan kegelapan laut, Menyukai pemandangan alam khususnya langit dan akan menuliskannya pada buku hariannya dengan sampul foto dirinya dan juga anak anjing kecil berwarna cokelat—

"Namanya mong-mong." Baekhyun memotong kalimat Chanyeol.

"Foto dirinya dengan anjing bernama mong-mong—aku tidak tahu kau memiliki anjing?" Chanyeol melihat kearah Baekhyun yang sudah menatapnya dengan malu-malu.

"Itu bukan anjingku, saat aku tinggal di dunia luar pemilik apartemen yang tinggal disebelahku selalu memintaku menjaga dan merawatnya. Jadi aku memiliki foto bersama mong-mong setiap harinya." Baekhyun menjelaskan dan memberikan wajah menggemaskan kepada Chanyeol.

"Aaah.."

"Aku bahkan tidak tahu Baekhyun memiliki buku harian dan juga foto bersama anak anjing."

"Apa sih yang kau ketahui tentang Baekhyun?" Yoora menyindir kearah Kris yang kini menatapnya malas karena merasa kalah.

"Oh! Dan kau tidak suka mentimun.. dan bawang putih. Dan kau mencintaiku." Chanyeol kembali menambahkan. "Aku hebat kan tahu sedikit tentang dirimu." Bibirnya mencium kepala Baekhyun dan memeluk badan gadis itu.

"Kau menguntit ya?"

"Yaaak!"

Baekhyun terkekeh meledek kearah Chanyeol, begitu juga Kris dan Yoora tersiksa dibalik selimut karena tidak bisa ikut tertawa lepas setelah mendengar pembicaraan sepasang kekasih baru itu.

"Habisnya kenapa kau bisa tahu sebanyak itu? Ayo jawab." Baekhyun mengangkat kepalanya dan menggunakkan tangannya terlipat didada Chanyeol sebagai penahan wajahnya.

"Aku bukan menguntit, Baekhyun sayang.. aku memperhatikanmu."

"Oh."

Chanyeol mengusak rambut Baekhyun dan mencium kening gadis itu lagi. "Tidurlah, Kris akan membunuhku bila melihat kantung matamu besok pagi."

"Sebelum dia membunuhmu, aku akan meminta Luhan menghempaskannya jauh-jauh." Baekhyun tertawa bahagia dan kemudian melihat kearah ranjang dimana Kris tidur.

"Anak itu benar-benar." Sahutan kesal Kris terdengar.

"Ya, tapi dia pasti kembali dan setelahnya membunuhku lagi."

Baekhyun masih tertawa kecil dan memeluk badan Chanyeol kembali dan mereka masih saling bicara satu sama lain hingga beberapa menit kemudian tidak terdengar kembali suara kekehan tawa atau jeritan kesakitan karena kedua pelakunya sudah sama-sama terlelap saling mendekap.

Sedangkan pada ranjang yang lain, Kris sudah berpindah tidur disamping Yoora dengan posisi kepala mereka menghadap pada langit-langit ruangan yang terlihat gelap, Yoora sudah bisa memejamkan matanya sebentar dan kemudian melirik kearah Kris yang masih terjaga.

"Belum bisa tidur juga?" Yoora bertanya dengan pelan.

Kris masih terdiam dan akhirnya menengok kearah Yoora disampingnya. "Aku sungguh-sungguh menyayangi adikku dan dia mau menghempaskanku jauh-jauh karena aku akan membunuh kekasih barunya."

Yoora mau tertawa mendengarnya namun ia tahu Kris sedang memikirkan kalimat yang Baehyun katakana dengan serius. "Yap, dia akan menghempaskan dirimu jauh-jauh bila kau membunuh kekasihnya." Yoora kembali mengulang kalimatnya.

"Anak itu benar-benar." Kris menggelengkan kepalanya.

"Dia tidak serius dengan perkataannya kau tahu kan? Sensitive sekali." Yoora menepuk dada Kris dengan pelan dan memberikan usapan. "Tidurlah, mereka sudah benar-benar terlelap sekarang." Yoora mengingatkan dan memejamkan matanya dengan posisinya kini menghadap kearah Kris.

"Hm, setidaknya aku akan kembali dan coba membunuh kekasihnya lagi."

"Terserah. Sekarang tidur Putera Mahkota." Yoora menekankan kata terakhirnya dan membalikkan badannya menjadi memunggui Kris dan memilih menjemput waktu tidurnya sebelum besok pagi ia yang akan diinterogasi oleh ketiga adiknya karena kantung mata dibawah matanya.


-Loves of Tales-


Terlepas dari waktu malam yang dinikmati masing-masing oleh para Putera da Puteri Mahkota kecuali, Baekhyun dan Chanyeol serta Yoora dan Kris. Suasana pagi mulai terdengar riuh dari dalam kamar Puteri Mahkota yang entah sejak matahari mulai menampakkan sinarnya, suara Minseok sudah berteriak menyebutan naman adiknya yang sudah mengacak seisi kamar hanya karena ingin bersiap berolahraga pagi dimana alasan sebenarnya hanya ingin melihat para Putera Mahkota berlarian dan dibanjiri keringat di badannya.

"INI MASIH PAGI IRENE! Tak bisakah kau melihat waktu dan suasana mengingat ini bukan hanya kamarmu sendiri." teriakan Minseok terdengar lagi.

"Tapi mereka akan berolahraga pagi! DAN AKU INGIN MENEMANI CHANYEOL!" Irene ikut membalas dengan suara teriakan juga.

"BISAKAH KALIAN BERDUA DIAM!" Kini suara Krystal yang ikut bergabung.

Dan setelahnya kamar itu benar-benar diisi dengan teriakan dan jeritan ketiga wanita berwajah dingin dan tidak ada satupun petugas Istana yang mau mengetuk pintu kamar mereka padahal hanya untuk meminta ijin untuk membersihkan kamar.

"Mereka benar-benar gila." Tao yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi ikut berkomentar mendengar apa yang dilakukan oleh ketiga Puteri Mahkota Eleanor.

"Apa ku bilang, kedamaian di Eowyn akan hilang saat mereka datang." Luhan yang duduk di meja riasnya ikut menyahuti. "Kyungsoo.. kau harus sering-sering menggunakan penutup telinga itu sebelum pendengaranmu terganggu." Luhan menunjuk pentup telinga berwarna putih yang berada di ranjangnya.

"Ya, kau harus menggunakkan ini setiap mau tidur." Tao memberikannya pada Kyungsoo dan memakaikannya. "Mereka benar-benar aneh, hanya karena ingin mendekati Chanyeol hingga seperti itu." Tao menggerutu dan berjalan masuk kedalam walk in closet-nya.

"Apa mereka hanya mengejar-ngejar Chanyeol? Tidakkah mereka tertarik pada yang lainnya?" Kyungsoo bertanya dan bercermin mengikuti Luhan yang tengah memakai bedak di pipinya.

"Siapa? Kris?" Tao yang menyahut dari dalam. "Hanya Krystal yang mengincar Kris, dan gadis itu juga mengincar Jongin." Tao memperjelas lagi.

"Aku kira tidak ada yang mau dengan Jongin." Kyungsoo mengernyitkan alisnya.

"Jangan seperti itu, nanti malah kau yang menginginkan Jongin juga." Luhan menggoda dan menyikut lengan Kyungsoo.

"Ya, hati-hati kau terpesona dengan tatapan nakal Jongin." Tao keluar dengan menggunakan gaun berwarna merah muda serta mantel Kerajaannya. "Asalkan jangan mendekati Sehun. Dia milik kakakku dan juga Irene mengincarnya—

"YA!" Luhan melemparkan handuk pada Tao dan adiknya itu hanya membalas dengan lidah yang menjulur.

"Sehun milik Luhan?" Kyungsoo memperjelas.

"YAAA!"

"Terima kasih sudah diperjelas Kyung." Tao mengedipkan mata dan mendekat kearah Luhan, memeluk kakaknya dari belakang dan mencium pipinya.

"Yang penting kau bahagia dan tidak berlarut-larut sedih karena Kris mengabaikanmu."

Luhan menatap Tao dari pantulan cermin dan mengusap lengan adiknya sambil tersenyum.

"Jadi benar? Sehun sudah menjadi milikmu?" Kyungsoo yang masih belum mengerti bertanya kearah Luhan dan Tao yang kini mengalihkan pandangan datar kearahnya.

"Ya Kyungsoo-ya! Ku kira kau memang sudah mengerti isi curahan hati Luhan semalam."

"O-oh, aku hanya masih bingung. Ku kira ia hanya melakukan hubungan itu—dan tidak ada kejelasan mengenai—

"Sehun milikku Kyung!" Luhan berteriak dan mencubit pipi bulat Kyugsoo hingga gadis itu menjerit minta ampun karena cubitan Luhan akan meninggalkan bekas warna merah yang mirip dengan bekas cumbuan Sehun pada badan Luhan.

"Yaaaa! Aku tidak mau dianggap memiliki kiss mark sepertimu!" Kyungsoo berteriak lagi.

"Tidak ada kiss mark di pipi Kyungsoooo!" Luhan membalas lagi.

Dan nyatanya tidak hanya kamar Puteri Mahkota Eleanor yang terdengar suara jeritan, kamar yang diisi oleh Puteri Mahkota Tiranis dan juga Kyungsoo turut serta menyumbangkan suara jeritan yang dipenuhi dengan kalimat minta ampun dan juga kiss mark.

Beralih pada kamar Putera Mahkota Glorfindel dan juga Tiranis yang masih terdengar sepi karena kedua Putera Mahkota Glorfindel—Sehun dan Jongin, masih dalam posisi tidur nyenyak dibalik selimut, sedangkan Jongdae masih menikmati waktu mandinya, namun kini ia terburu-buru memakai handuk pada bagian pinggangnya dan berjalan cepat kearah ranjang dimana Sehun tidur.

"YAAAAKKK SEHHHHUUUUNNNN!" Lengkingan Jongdae terdengar, dan hanya dalam sekali waktu diucapkan Sehun bergerak gelisah dan terbangun sambil mengusap wajah dan matanya.

"YAAAAKK KAPAN KAU MENIDURI KAKAKKU HAH?!" Lengkingan kedua Jongdae membuat Sehun terbatuk dengan mata sipitnya terpaksa terbuka lebar setelah mendengarnya.

"T-tu-tunggu. Kau tahu darimana?"

"YAAAAAKKK!"' Jongdae memukul wajah Sehun dan membuatnya tersungkur dari ranjang tidurnya. "KAU! DASAR ANAK AYAM KURANG AJAR! KAU MEMPERKOSA KAKAKKU HAH!" Jongdae menyusul lagi dimana Sehun masih menahan sakit pada wajahnya dan langsung memberikan pukulan pada wajah yang lainnya.

"Aku tidak memperkosanya—

Pukulan yang lain Jongdae layangkan.

"JONGDAE HENTIKAN!" Luhan yang sudah membuka pintu berteriak dan kemudian langsung masuk kedalam kamar ditemani Kyungsoo dan Tao dibelakangnya serta beberapa petugas Istana.

"Kenapa kau memukulnya?" Luhan menahan tangan Jongdae yang menarik kerah Sehun dan berdiri tepat dihadapan Sehun.

"Menyingkir Luhan." Jongdae memperingatkan dan masih mencekram kerah baju Sehun.

"Aku mencintai Sehun." Luhan memperjelas dan seketika Jongdae melepaskan cengkaram itu dan Sehun tersungkur jatuh di lantai kamar. Luhan menghampirinya dan membantu Sehun untuk bangun dan mendudukkannya pada ranjang yang lain.

"Aku kira kau mencintai Kris?" Jongdae yang masih bingung dengan keadaan yang ada ditambah Luhan yang sudah terisak melihat luka lebam pada wajah Sehun dan juga sudut bibir lelaki itu yang berdarah.

"Aku sudah tidak mencintainya asal kau tahu." Luhan langsung menyahut kesal. "Lagipula kalau kau mau mendapatkan detail ceritanya, aku yang mengijinkan Sehun meniduriku—

"Bisa kau perjelas maksud dari kalimatmu?"

Seketika suasana menjadi hening dan penuh dengan ketegangan saat suara Kris terdengar bergema didalam kamar itu, hanya dengkuran halus Jongin yang masih berani menyelingi suasana tegang itu dan untungnya lelaki itu masih tertidur lelap dan tidak mungkin akan langsung dihajar oleh Jongdae juga, Kyungsoo yang berada didekat ranjang Jongin langsung melemparkan selimut untuk menutupi wajah tidur lelaku itu dan meredam suara dengkuran halusnya.

Luhan berdiri dan menatap kearah Kris, sedangkan wajah pria yang ditatapnya jelas-jelas terlihat kekesalan dan amarah yang menggebu namun masih bisa ditahan.

"Aku mencintai Luhan." Sehun ikut berdiri dan menggenggam tangan Luhan, ia ikut menatap kearah Kris tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku pernah mengatakan padamu kan bagaimana kalau aku mencintai Luhan, dan berhubung kau meninggalkannya. Aku bisa mendapatkan kesempatan itu, jadi.. kami berpacaran sekarang. Kau keberatan?" Sehun melihat kearah Luhan sebentar dan kembali menatap kearah Kris.

Sehun tahu bahwa Kris pasti ingin memukulnya saat ini juga dilihat dari kedua tangannya yang mengepal keras hingga kulit jarinya terlihat memucat memunculkan urat-urat pada punggung tangannya, hanya saja Yoora yang berada disampingnya dan memegangi lengan Kris menjadi penghalang amarah lelaki itu untuk diluapkan.

"Bisa aku bicara dengan mereka berdua, tanpa ada siapapun yang lainnya?" Kris memandangi satu per satu semua orang yang ada didaam ruangan itu. Kyungsoo dan Tao langsung melangkah keluar, sedangkan Jongdae mengambil mantel kerajaannya lebih dulu dan ikut keluar. Hanya tinggal Yoora dan juga Jongin yang masih terlelap tidur.

"Aku tidak akan memukul mereka kan?" Kris memegang tangan Yoora dan menatap gadis itu.

Yoora menggelengkan kepala dan tersenyum kecil, setelahnya ia hanya memberikan tepukan pelan dan melangkah keluar menutup pintu kamar itu meninggalkan mereka bertiga. Jongin tidak usah dihitung karena ia tenggelam dibalik selimut.

"Aku tidak akan memukul kekasihmu itu." Kris memulai lebih dulu karena melihat Luhan yang memegang tangan Sehun dengan erat.

"Aku tidak akan melepasnya meskipun kau memohon padaku kali ini." Sehun langsung menyahut melihat Kris melangkah mendekat kearahnya.

"Kau benar-benar mencintainya?" Kris bertanya pada Luhan. Mata wanitanya kini sudah berlinang air mata dan bahkan kedua pipinya memerah karena menahan perasaan yang terpendam didalam hatinya. "Kalau kau memilih Sehun hanya karena untuk melupakanku.. aku akan memaksa kalian berdua untuk berpisah saat ini juga." Kris kembali melanjutkan dengan pandangan masi terarah pada Luhan.

"Apa kau merasa bahagia?" Kris masih memberikan pertanyaan dan Luhan semakin terisak.

Sehun menarik badan Luhan untuk dipeluk dan mengusap rambut serta punggung Luhan yang bergetar. "Kau membuatnya semakin menangis." Sehun menggurutu kearah Kris dengan tatapan sedikit kesal.

Kris memutar bola matanya melihat bagaimana bungsu dari Keturunan Glorfindel itu menunjukkan wajah kesalnya seakan-akan ia pria paling jahat yang membuat kekasihnya tak berhenti menangis.

"Luhan.. aku hanya ingin memastikan." Kris mencoba menyentuh tangan Luhan namun Sehun langsung menepisnya.

"Ya! Jangan sentuh-sentuh."

"Astaga! Kau ini cemburuan sekali! Dia mantan kekasihku asal kau tahu!"

"Dia mantanmu, tapi sekarang bersamaku." Balasan dari Sehun sontak membuat Luhan tertawa didekapan dadanya. "O-oh.. akhirnya kau tertawa juga. Apa aku harus membuat candaan pada mantanmu lagi supaya kau berhenti menangis?" Sehun menggoda Luhan, ia melepaskan pelukannya dan memandangi Luhan yang kini mengusap air matanya dengan kedua tangannya. Sehun ikut mengusap dengan pelan-pelan dan memberikan kecupa pada kedua pipi Luhan. "Jangan menangis lagi, harusnya aku yang menangis karena pukulan adikmu tadi."

Luhan memukul dada Sehun dan tertawa lagi. "Dasar cengeng."

"Kau yang menangis tapi malah mengatai diriku." Sehun tertawa dan memeluk badan Luhan, mengabaikan Kris yang masih berdiri dengan senyuman pada wajahnya melihat tingkah laku mantan kekasih terindahnya dengan kekasih barunya. Cukup lama Sehun memeluk Luhan hingga pada akhirnya ia melepaskan pelukannya dan meminta Luhan untuk bicara dengan Kris—berdua.

"Dia benar-benar berjuang mendapatkan hatimu." Kris memecah keheningan. Ia duduk tepat disebelah Luhan dan menggenggam tangannya.

"Aku kalah dengan anak kecil Glorfindel?" mendengar nada suara Kris yang mengejek Sehun dengan sebutan anak kecil Glorfindel kembali membuat Luhan tertawa dan bersandar pada lengan Kris. "Pada akhirnya aku memang tidak bisa mempertahankanmu untuk tetap bersamaku, dan bahkan aku juga tidak memberikan kepastian padamu. Bahkan untuk memilih saja aku tidak memikirkannya." Kris mencium kening Luhan dan membawa tubuhnya untuk masuk dalam pelukannya.

"Maafkan aku."

Luhan menganggukkan kepala dan membalas pelukan Kris.

"Ingatkan aku bila bocah itu berselingkuh dibelakangmu atau pun menyakitimu sedikit saja, aku akan langsung menebas kepalanya."

"Sebelum kau yang menebas kepalanya, aku akan menghempaskan badannya sejauh mungkin, hingga tulang-tulangnya patah." Suara tawa Luhan terdengar lagi.

"O-oh. Itu sedikit menakutkan." Kris melepas pelukannya dan menatap Luhan dengan tatapan takut.

"Kenapa wajahmu begitu?" Luhan mengusap pipi dan matanya sambil memandangi Kris.

"Berjanjilah padaku kalau Baekhyun memintaku untuk mengangkat badanku dan membuangku sejauh mungkin, buang aku kedalam danau atau laut supaya badanku tidak patah-patah." Kris memohon dengan wajahnya yang serius.

"Ya! Kau ini aneh sekali. Kenapa Baekhyun memintaku untuk melakukan itu?"

"Berjanjilah Lu, kumohon—

"Euuunngggg..." Jongin terbangun dan mengangkat kedua tangannya diudara, selimut sudah ia tendang terbuang dari atas badannya dan kini badannya duduk diatas ranjang dengan mata yang masih terpejam. "Kalian berisik sekali." Jongin memprotes namun setelahnya ia kembali merebahkan badannya dan kembali tidur.

Kris dan Luhan yang masih memandang kearahnya sama-sama terdiam dan memilih mengabaikannya.

.

.

.

"Aku benar-benar malas melihat bagaimana kedua Puteri itu mencari perhatian dengan para Putera Mahkota." Gumaman kekesalan Tao masih berlanjut dan matanya masih tertuju pada Irene dan Krystal yang kini berada disekitar ketiga Putera Mahkota Glorfindel dan juga Kris.

"Setidaknya kakakmu tidak ikut menjadi target dari kedua ice princess itu." Kyungsoo menutup bukunya dan melihat kearah Jongdae dan Suho yang asyik mengobrol dengan Minseok dan juga Yixing.

"Oh, itu karena kakakku menyukai Minsoekki." Tao menjawab dengan santai dan Kyungsoo membelakkan matanya kearah Tao. "Ya begitulah, makanya kedua es itu tidak mau mendekati Jongdae, bisa-bisa mereka tambah mati kedinginan karena Minseokki membekukan mereka berdua saat tengah tertidur." Mereka berdua sama-sama tertawa membayangkannya hingga tak menyadari Luhan dan Baekhyun sudah berada didekatnya.

"Kau sungguh kejam Tao." Luhan menggelengkan kepala mendengar adiknya bisa-bisanya membayangkan seseornag tersiksa seperti itu.

"Aku berkata yang sebenarnya tahu." Tao menyahut.

"Apa kita sudah siap?" Kyungsoo bertanya dan memperhatikan Luhan dan Baekhyun yang sudah mengenakkan mantel Kerajaan dan membawa perlengkapan untuk berenang di pantai.

Sehubungan kedua Raja yang belum kembali ke Istana Eowyn, Yoora dan Yixing mengusulkan membawa semua Putera dan Putera Mahkota untuk menikmati pantai di utara Eowyn, yang bertujuan memberikan waktu bagi para Putera Mahkota waktu bersantai. Dan ide yang dicetuskan pada waktu sarapan pagi itu langsung diiyakan oleh semuanya tanpa terkecuali dan mereka semua langsung bersiap seceat kilat dan kini menunggu saatnya keberangkatan.

"Sudah. Aku membawakan makanan. Yoora-na yang menyiapkan tadi." Baekhyun mengangkat tempat makannya dan langsung diberi tepukan tangan oleh Tao dan Kyungsoo.

"Kalian sudah siap?" Kris menghampiri dan mengambil beberapa perlengkapan yang ada ditangan Luhan dan juga Baekhyun.

"Oppa, apa aku boleh duduk dalam mobilmu?" Irene mengikuti langkah Chanyeol yang berjalan kearah mobil hitamnya, dan Baekhyun yang melihat pemandangan itu menekuk wajahnya dan membuang mukanya dengan cepat ketika Chanyeol melihat kearahnya. Baekhyun langsung melangkah masuk dan membuka pintu mobil Kris dan duduk di kursi depan.

"Ya! Kenapa kau duduk di mobilku?" Kris yang baru masuk langsung menanyakkan pada adiknya yang sudah duduk diam dengan muka kesal.

"Aku kan adikmu. Kenapa melarang?!" Baekhyun menyahut kesal.

"Jangan cemburu seperti itu. Chanyeol tidak akan tergoda dengan Irene, kau lebih jelek dibandingkan Irene." Kris mencubit pipi Baekhyun dan tertawa melihat bagaimana adiknya semakin kesal, bahkan pukulan Baekhyun pada lengannya ia anggap sebagai sebuah kesenangan tersendiri dibandingkan harus melihat adiknya menangis atau merasakan kesal sendirian.

"Oh, Baekhyun?" Yoora yang baru masuk kedalam mobil Kris langsung bertanya melihat gadis itu duduk di kursi depan.

"Hai Yoora-na!" Baekhyun menyapanya dengan girang.

"Chanyeol mencarimu tadi." Yoora menginformasikan dan gadis itu langsung merenggut kesal.

"Aku tidak mau dicari olehnya."

Yoora tertawa gemas dan masuk kedalam kursi penumpang di belakangnya.

"Kenapa kau di mobilku?" Kris menengok melihat Yoora berada didalam mobilnya.

"Mobil Chanyeol sudah ada, Irene, Krystal, dan juga Yixing." Yoora menunjuk mobil hitam Chanyeol yang berada tak jauh dari mobil Kris. "Mobil Sehun sudah terisi oleh Luhan, Tao, Kyungsoo dan juga Jongin. Dan mobil Jongdae diisi oleh Minseok dan Suho." Yoora kembali dalam posisi duduknya dan tersenyum pada Kris.

"Hm, baiklah." Kris menganggukkan kepala dan bersiap menjalankan mobilnya setelah melihat mobil Sehun sudah berjalan lebih dulu dan disusul mobil Jongdae, tapi baru saja ia akan memindahkan perseleningnya dan menginjak gas, Chanyeol keluar dari mobilnya dan berjalan kearah mobil milikinya.

"Kenapa dia?" Kris melepaskan seatbeltnya dan beranjak keluar menghampiri Chanyeol yang menunggunya.

"Apa ada sesuatu?" Baekhyun menengok kearah Yoora yang memperhatikan keduanya saling berbisik satu sama lain.

Yoora tersenyum kecil dan menggeleng sebagai jawaban untuk Baekhyun. "Tidak ada. Tapi aku akan memastikan dulu ya. Kau tunggu disini." Yoora memberikan perintah dan Baekhyun mengangguk patuh tetap duduk diam pada kursinya. Bahkan saat mereka bertiga berjalan kearah mobil Chanyeol, dan masuk kedalam mobil tersebut dengan Kris pada kursi kemudi dan Yoora masuk duduk di kursi penumpang, sedangkan Chanyeol berada disisi lainnya Baekhyun masih memperhatikan dan duduk diam. Namun tak lama setelah melihat mobil itu bergerak dan meninggalkan Chanyeol seorang diri, ditambah kini pria itu menghampiri mobilnya—semakin membuat Baekhyun salah tingkah dan gugup sendirian.

"Kenapa kau masuk ke mobilku." Baekhyun langsung memberikan pertanyaan sesaat Chanyeol masuk dan menjalankan mobilnya bergerak melaju.

"Ini mobil Kris sayang." Chanyeol menjawabnya tak lama mobil setelah mobil mereka keluar dari gerbang istana.

"Ish, sama saja, ini mobilku juga." Baekhyun memberikan pembelaan.

"Wajah cemburumu menggemaskan." Chanyeol mencubit pipi Baekhyun dan gadis itu tersenyum kecil sambil menepis tangan Chanyeol yang mengusap pipinya.

"Aku tidak suka melihat mereka didekatmu, apalagi kemarin ia berteriak padaku hanya karena mendengar aku meminta ijin akan tidur denganmu. Ish!" Baekhyun mengadu dan memperlihatkan wajah kesal dengan bibirnya yang mengerucut, Chanyeol sempat melihat sekilas dan tersenyum kearahnya. Tak lupa tangannya mengusap pipi Baekhyun dan menggenggam tangan gadis itu dan memberikan kecupan kecil pada punggung tangannya.

"Jangan hiraukan mereka."

Baekhyun menganggukkan kepala dan memperhatikan Chanyeol yang masih fokus menyetir, dan saat menyadari mobil yang dikendarai Chanyeol berbelok ke arah yang berbeda dengan mobil Kris didepannya, saat itu ia langsung memberikan pertanyaan tanpa henti pada Chanyeol. Namun pada akhirnya ia tersenyum lebar dan bertepuk tangan dengan keras karena mendapatkan jawaban yang menggoda dari Chanyeol.

"Kita akan berkencan."

-tbc-