"Kita akan berkencan."

Satu kalimat yang Chanyel katakan jelas berdampak besar pada perubahan mood seorang Puteri Mahkota Lynkestis—yang kini sudah menjadi kekasihnya, baru beberapa menit yang lalu kekasihnya tengah merajuk kesal hanya karena dua orang Puteri Mahkota Eleanor yang disebut sebagai gadis penggoda karena mengikuti dirinya sejak mereka sarapan hingga sampai waktu mereka akan berangkat menuju pantai siang ini. Bila bukan karena pertanyaan dari seorang Yixing yang mengatakan dimana tempat dirinya dan Baekhyun akan berkencan setelah peresmian hubungan mereka yang kini telah resmi menjadi kekasih, ia tidak mungkin terpikir akan mengajak Baekhyun untuk pergi berdua. Dan untungnya, Kris dan Yoora yang selalu berada disekitarnya selama ini mengijinkan mereka untuk pergi tanpa ada penjagaan—pengawalan—dan juga kontak pikiran selama mereka berkencan.

Chanyeol mengembangkan senyuman pada wajahnya ketika mendengar berbagai komentar dari Baekhyun yang menanyakkan nama bukit atau gunung yang ada pada sekitaran jalan yang mereka lalui. Meskipun fokusnya harus terbagi dengan arah jalanan dan juga wajah Baekhyun yang menggemaskan saat berbicara, yang terpenting Chanyeol menyukainya. Ia menyukai saat suara Baekhyun memekik senang dan terpesona melihat bunga-bunga dan pepohonan yang berwarna-warni, ia menyukai saat suara Baekhyun yang mengeluh apakah perjalanan masih lama atau saat kemana tujuan Chanyeol mengajaknya, dan Baekhyun akan merajuk disetiap jawaban yang Chanyeol berikan hanya sebuah jawaban tanpa arti.

"Ini kejutan Baek."

"Oh kita bisa camping di bukit Riverna. Disana pasti sangat indah! Ya-ya Chanyeol ya.. nanti kita camping disana ya." Rengekkan Baekhyun yang kedua kalinya kembali terdengar.

Semenjak mereka melewati wilayah bukit Riverna—bukit yang berada di perbatasan Eowyn dan dunia luar ini cukup terkenal akan keindahan puncaknya karena disaat malam hari diatas bukit itu akan menjadi sebuah pemandangan tata surya dimana terlihat jelas bintang-bintang malam dan bahkan tak jarang banyak yang mengharapkan bisa melihat bintang atau meteor jatuh, dan juga bila keadaan langit cerah, jelas terlihat gambaran galaksi diluar bumi karena lokasi bukit yang tinggi dan juga cuaca yang bagus—dan Baekhyun sedari tadi memohon untuk menginginkan camping disana suatu hari nanti.

"Kita akan camping disana, ketika Kris mengijnkan." Chanyeol menjawab ketika mobilnya sudah berhenti di bandara Eowyn.

"Ish! Kakakku itu pasti tidak mengijinkan!" Baekhyun menyahut sambil memperagakan sikap Kris yang akan menolak permintaannya. "Kau pasti akan sakit! Disana dingin! Atau kau pasti akan hilang didalam hutan dan menyusahkan orang-orang disana." Baekhyun menggelengkan kepala. "Lebih baik langsung kabur kesana tanpa ada yang tahu." Dan anehnya ia bisa tersenyum kembali kearah Chanyeol karena ingin merayu kekasihnya untuk mengijinkan dirinya melakukan camping disana.

Chanyeol menggelengkan kepalanya dan tertawa lepas melihat tingkah Baekhyun. "Kita akan kesana, tapi aku tidak janji kapan tepatnya ya." Tangannya mencubit pipi Baekhyun dan mengusak poni rambut gadis itu karena melihat wajahnya terlalu menggemaskan. Apalagi saat Baekhyun pada akhirnya memekik senang dan mengangkat kedua tangannya ke udara. "Sekarang bersiaplah, ganti bajumu dulu karena kita harus pindah kedalam pesawat." Chanyeol mematikan mesin mobilnya dan melepas seat belt pada kursinya dan kursi Baekhyun.

"Ganti baju?"

"Hm, kau tidak mungkin naik pesawat dengan hanya memakai mantel kan." Chanyeol menunjuk kearah Baekhyun yang terlihat masih mengenakkan mantel kerajaannya yang terikat rapi.

"Tapi aku tidak membawa baju. Aku hanya memakai ini." Baekhyun membuka ikatan talinya dan memperlihatkan keadaan tubuhnya yang hanya memakai pakaian renang terpisah berwarna hitam, dan itu membuat Chanyeol terdiam sebentar memperhatikan badan Baekhyun yang jelas-jelas terlihat menggoda. Perut ratanya serta paha mulusnya terihat putih dan sungguh indah, ditambah keadaan bagian atas dadanya yang terlihat kecil namun berisi. "Sepertinya barang-barangku tidak ada didalam mobil ini, sebentar." Chanyeol memejamkan matanya ketika Baekhyun yang langsung merangkak ke bagian belakang mobil dengan posisi bokongnya berada ditengah-tengah kursi diantara tempat Chanyeol dan kursi Baekhyun. Chanyeol memejamkan matanya dan langsung menolehkan pandangannya kearah jendela mobil, mengatur detak jantung, deru nafasnya dan juga gairah hormonnya yang sudah memburu hanya karena pemandangan sedikit dari bagian tubuh Baekhyun.

"AAAH! Benarkan tidak ada tasku di mobil ini." Baekhyun kembali lagi dalam posisi duduknya dengan bibirnya mengerucut kedepan. Tidak memperdulikan mantel Kerajaan yang ia kenakan sudah terbuka lebar memperlihatkan pemandangan tubuhnya yang bisa dilihat jelas oleh Chanyeol tapi pria itu kini memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil. "Chanyeol..." Baekhyun menarik mantel Chanyeol guna mencari perhatian dari kekasihnya itu.

"Aku akan—

Belum selesai Chanyeol menyelesaikan kalimatnya yang akan mengatakan ia akan memeriksa bagasi belakang mobil untuk mencari tas milik Baekhyun, beruntungnya matanya sempat terbuka ketika menoleh kearah Baekhyun dan melihat keadaan gadis itu yang kini jelas semakin terlihat seksi karena lengan tangan serta bahunya nampak jelas terlihat. Matanya memang beruntung, tapi tidak dengan kondisi badannya yang semakin menegang, terutama dibagian bawah badannya.

Dan Baekhyun adalah siksaan terberat Chanyeol.

Dimana seharusya gadis seusia Baekhyun akan merasa malu bila berada dalam satu tempat dengam seorang pria yang tengah memandangi bagian badannya—tapi tidak untuk seorang Baekhyun.

"Aku seksi kan."

Sebuah ucapan kalimat yang Chanyeol tidak menyangka sama sekali akan dilontarkan oleh gadis didepannya.

Chanyeol tertawa sebentar dan memandangi Baekhyun yang kini memajukan badannya mendekat kearah Chanyeol. "Kau menyukainya?" Baekhyun mengedipkan matanya berkali-kali menunggu jawaban dari Chanyeol atas pertanyaan yang ia ajukan.

"Kau seksi." Chanyeol mencium pipi kiri Baekhyun. "Dan aku menyukainya." Dan juga mencium pipi kanan Baekhyun.

"Berarti kau tidak menganggap aku anak kecil lagi kan?" kedua tangan Baekhyun mengalung pada leher Chanyeol dan mendekatkan kedua wajah mereka.

"Anak kecil tidak melakukan ini Baek." Chanyeol berbisik lembut dan mencium bibir Baekhyun, kecupan pertama pada bibir tipis bagian atas milik Baekhyun lalu berpindah pada bagian bawahnya, dan ketika kedua mata Baekhyun terpejam serta bibirnya tersenyum, Chanyeol mencium kedua bagian bibirnya, melumat serta menyesap bibir manis itu dengan penuh hasrat yang terpendam. Bahkan meskipun Baekhyun masih cukup kaku untuk mengikuti pergerakan bibirnya, Chanyeol masih bisa menikmatinya karena ia yang mendominasi dan Baekhyun membiarkan bibirnya dikuasai penuh oleh Chanyeol.

Chanyeol menahan tangannya untuk tidak bergerak terlalu jauh, tangan kanannya berada pada tekuk leher Baekhyun guna menahan gadis itu agar tetap berada dalam lumatan bibirnya, sedangkan tangan kirinya mencengkram setir mobilnya dengan cukup kuat sebagai pengalihan akan nafsunya yang masih tertahan. Pertahanannya cukup kuat, bahkan ketika Baekhyun mengeluarkan suaran erangan karena ciuman Chanyeol yang kini sudah semakin dalam dan berubah menjadi peperangan lidah didalam sana.

Ia masih bisa bertahan.

Tapi tidak ketika Baekhyun melepaskan ciuman mereka dan berpindah pada pangkuan Chanyeol dan kembali mencium bibir tebal milik kekasihnya, Chanyeol meraup wajah Baekhyun dan langsung menciumnya dengan lebih panas. Mencoba menguatkan pertahananya dengan sikap polos Baekhyun namun penuh godaan kini dipertaruhkan. Gadis itu bahkan mencari posisi nyamannya untuk duduk di pangkuan Chanyeol dengan sedikit berlutut pada paha Chanyeol dan kemudian menurunkan sedikit badannya hingga sejajar dengan Chanyeol, ia melupakan bawah lututnya bisa saja membangunkan kelemahan Chanyeol yang bisa menjadi kunci utama bagi kegiatan yang masih terlarang bagi mereka berdua.

TIIINN!

Bunyi klackson mobil mereka yang tidak sengaja ditekan oleh Baekhyun menjadi sebuah penghalang bagi Chanyeol dan mungkin penolong bagi Baekhyun atau sebaliknya, Baekhyun memekik kaget dan langsung memeluk Chanyeol sedangkan pria itu mengeluh sakit pada bibirnya karena sempat tergigit oleh Baekhyun ketika suara klackson berbunyi.

"Ma-maafkan aku." Baekhyun meniup luka pada bibir Chanyeol.

"Ah! Jangan ditiup." Chanyeol menutupi lukanya dan menekuk bibirnya kedalam untuk mencegah darah keluar.

"Ma-maaf. A-aku tidak sengaja." Baekhyun masih merasa bersalah.

Chanyeol tertawa melihat tingkah Baekhyun yang kini berubah kembali menjadi anak kecil yang menggemaskan.

"Tidak apa. Ini hanya luka kecil Baek."

Baekhyun terdiam dan masih memperhatikan bibir Chanyeol yang jelas terlihat bekas gigitannya.

"Aku akan terlihat lebih seksi dengan luka ini."

"Ya!" Baekhyun memukul lengan Chanyeol sedangkan pria itu tertawa cukup keras melihat bagaimana Baekhyun memprotestnya dan meminta mulutnya ditutupi dengan apapun sehingga tidak ada wanita lain yang melihat dan menganggap ia terlihat lebih seksi—ucapan yang dikatakan Chanyeol mengenai bibirnya akan terlihat lebih seksi benar-benar dianggap serius oleh Baekhyun—dan itu membuat Chanyeol semakin gemas dengan tingkah kekasih mungilnya yang menempel dengannya dan bahkan memeluk lengannya sambil memperhatikan sekelilingnya. Bahkan Baekhyun meminta Chanyeol duduk di pojok dekat jendela pesawat supaya ia bisa menghalangi pandangan para pramugari yang hanya bertujuan mengantarkan makanan dan minuman untuk mereka.

"Aku benar-benar tidak boleh melepas masker ini?"

"Tidak. Kau harus memakainya sampai luka pada bibirmu hilang."

"Lalu bagaimana aku meminumnya?"

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol, matanya memperhatikan Chanyeol yang memegang gelas minumannya dan kesulitan untuk memasukkan sedotan kecil kedalam mulutnya.

"Aku bantu minum." Baekhyun menyahut cepat, dan mengarahkan sedotan kecilnya kedalam mulut Chanyeol, wajahnya tetap berada dihadapan Chanyeol sehingga tdiak terlihat oleh siapapun.

"Hanya kita berdua didalam pesawat ini Baek." Chanyeol melepaskan sedotannya, meletakkan minumannya pada tempat lain dan menarik badan Baekhyun untuk mendekat kepadanya. "Hanya ada kau dan aku yang duduk didalam pesawat ini, pramugari itu tidak akan bergabung dengan kita disini." Chanyeol menjelaskan sambil membuka masker yang menutupi mulutnya sedari tadi.

"Aku berbohong mengenai wajahku terlihat tampan dengan luka ini. Wajahku benar-benar jelek Baek."

Baekhyun menatap Chanyeol dan memperhatikan bagaiamana wajah pria itu terlihat dengan luka pada bibirnya.

"Tapi kau tidak terlihat jelek."

Seketika Chanyeol tersedak dan tertawa mendengarnya, ditambah bagaiamana wajah polos Baekhyun yang masih memperhatikan seluruh bagian wajahnya.

"Kau tidak terlihat jelek ish! Tutup lagi!" Baekhyun hendak memasangkan kembali maskernya namun Chanyeol sudah lebih dulu menahan pergerakannya dengan menempelkan bibir tebal miliknya dengan bibir tipis manis milik Baekhyun.

"Aku pacarmu, aku milikmu. Aku adalah takdir yang Dewa dan Pencipta ciptakan untukmu, bahkan saat Dewi Aprodhite sekalipun memohon untuk memiliki hati maupun ragaku aku akan menolaknya karena aku lebih memilih dirimu Baekhyun." Chanyeol berucap pelan namun bisa terdengar jelas oleh pendengaran Baekhyun, mereka kembali berciuman lembut mengabaikan pramugari yang berlalu lalang dan menanyakkan mengenai tempat tujuan atau mengenai menu minuman makanan yang ingin dipesan.

Chanyeol hanya menggerakkan tangannya mengusir pramugari itu dan kemudian menarik leher Baekhyun untuk semakin mendekat kearahnya sehingga ciuman mereka lebih dalam, bibir dan lidahnya sudah mendominasi bibir Baekhyun—si mungil yang pasrah—membiarkan kekasihnya menjelajahi setiap rongga bibir dan mulutnya.

"Jadi aku lebih cantik daripada Dewi Aphrodite?" Baekhyun berbisik saat bibir Chanyeol melepas lumatan bibirnya.

"Tidak."

Baekhyun mengernyitkan alisnya.

"Aphrodite adalah dewi kecantikkan, tapi aku tidak mencintainya." Chanyeol menjelaskan dan menahan tawanya melihat Baekhyun dihadapannya kini tengah berpikir keras. "Aku mencintaimu Baekhyun. Berapa kali aku harus mengatakannya padamu hm?" tangannya mencubit pipi Baekhyun yang bulat.

"Hmm... beratus-ratus kali!" Baekhyun menyahut berteriak dan memeluk badan Chanyeol.

"Aku akan mengatakannya beribu-ribu kali hingga kau bosan mendengarnya."

"Aku tidak akan bosan." Baekhyun memamerkan senyuman lebarnya.

"Jangan cemburu lagi ya." Chanyeol menyakinkan Baekhyun, mengusak lembut pucuk kepalanya bahkan Chanyeol mencium kening Baekhyun begitu lama hingga kedua mata Baekhyun terpejam merasakannya.

"Jangan tinggalkan aku."

Kalimat yang dikatakan Baekhyun mengubah suasana diantara mereka, sekalipun Baekhyun mengatakannya dengan sebuah senyuman kecil, tapi kalimat itu sangat sensitive didengar oleh Chanyeol. Mengingat mereka memiliki sebuah alasan untuk hidup dan juga alasan kenapa mereka ditakdirkan untuk hidup bersama dan saling mencintai.

"Aku tidak akan meninggalkanmu." Chanyeol membalas cepat dan langsung memeluk badan Baekhyun, menyembunyikan wajahnya pada bahu Baekhyun dengan pikirannya yang kembali mengingat beberapa potongan mimpi dan penglihatan Yoora yang selalu menjadi hal terburuk baginya untuk diingat.


-Loves of Tales-


Seluruh Putera dan Puteri Mahkota yang ikut pergi menuju pantai Utara benar-benar menikmati kunjungan ini, semua Puteri Mahkota langsung berlarian keluar dari mobil dan masuk kedalam air pantai, Kyungsoo dan Tao menjadi pihak yang paling agressif bermain dengan air pantai, tangan-tangan mereka membuat riak disekitarnya dan melemparkannya kearah Luhan yang masih berdiri diam menikmati bagaimana angin pantai membelai wajah dan seluruh badannya. tapi ketika Kyungsoo dan Tao menganggu ketenangannya, ia menjadi pihak paling semangat membalas dendam. Tubuh Kyungsoo ia tarik dan ditenggelamkan kedalam air, hingga tubuh mereka berdua sama-sama tenggelam, Tao yang berhasil lolos memilih kembali ke daratan menyusul Yoora dna Yixing yang masih menyiapkan tempat istirahat.

"Lanjutkan bermainnya, kami tidak butuh bantuanmu." Minseok berucap dingin menahan Tao yang ingin membantu membawa beberapa makanan.

"Ish." Tao menggerutu dan kembali berlari kearah pantai menyusul Luhan dan Kyungsoo yang masih saling menyiram air ke wajah masing-masing.

"Heol! Kau masih saja bersikap dingin." Yixing menyahut setelah melihat dan mendengar apa yang baru saja terjadi antara Tao dan Minseok.

"Bukan salahku, darahku sudah tercipta membuatku begini." Minseok menggelengkan kepala dan merapikan barang bawaannya.

"Ya, Eleanor memang diciptakan menjadi daerah dingin di tanah ini. Tapi aku tidak menyangka segala keturunan yang ada memiliki darah dingin juga." Yixing mengomentari dan menunjuk kearah Irene dan Krystal yang berdiri cukup jauh dengan mereka, tanpa memperdulikan perkataannya itu bisa saja menyinggung Minseok didekatnya.

"Irene dan Krystal adalah keturunan yang paling dingin." Minsoek melanjutkan. "Percayalah, aku sebagai kakaknya saja enggan mengakui mereka adalah adikku. So cold. Bahkan aku yang mempunyai kekuatan like ice tidak sedingin mereka." Minseok memperhatikan kedua adiknya dan menjelaskan kearah Yixing dan Yoora yang kini ikut memperhatikan kedua adiknya.

"Yeah, mereka terlihat seperti itu tapi tidak ketika Putera Mahkota berada didekatnya." Kini giliran Yoora yang menyahuti ketika melihat Para Putera Mahkota tengah berlarian mencoba masuk kedalam air pantai.

"Yeah.. mereka akan menghangat ketika pria berada didekatnya."

"Apa itu jalan takdir Eleanor?" Minseok berbalik bertanya pada Yixing.

"Eleanor merupakan salah satu kekesalan Dewi Hera akan apa yang dilakukan oleh Rhea karena—

"Rhea memilih Lucifer dan bergabung bersama Kronos?" Yoora melanjutkan kalimat yang dijelaskan oleh Yixing.

"Ya, Rhea menjadi hadiah atas bergabung Lucifer dengan Kronos, sedangkan Kronos memilih Rhea karena berjanji akan menjaga wanita itu selamanya, hal yang dilupakan oleh Hera adalah ia mudah percaya akan ucapan Kronos yang sepenuhnya adalah sebuah kebohongan."

"A-aku tidak mengerti." Minseok yang sedari tadi menyimak masih mencoba memahami penjelasan Yixing.

"Kronos mencintai Rhea, tapi Kronos menyerahkan Rhea kepada Lucifer dan Rhea mengandung Hades, anaknya bersama Lucifer." Yixing memandang Minseok yang tengah bingung.

"Cinta, dear. Kronos awalnya mencintai Rhea makanya ia memohon kepada Dewi Hera untuk bisa menikahinya, bahkan saat peperangan terjadi Kronos tidak akan membunuh bila Rhea melarangnya, kesalahan yang dilakukannya adalah saat menawarkan penggabungan kekuatan dari kaum Malaikat, ia menyerahkan Rhea sebagai hadiah kepada Lucifer, bahkan saat Kronos saat itu hancur, Rhea tetap mencintainya. Itulah alasannnya kenapa ia memohon pada Athena dan Dewi Hera untuk memberikannya kematian dibandingkan bertahan hidup dengan Lucifer dibawah tanah dengan api bumi."

Yoora dan Minseok mendengarkan dengan serius setiap apa yang dikatakan oleh Yixing mengenai sebuah sejarah terjadinya peperangan antara ketiga dunia dan juga masa lalu Kerajaan Eleanor.

"Eleanor adalah hadiah Zeus atas Rhea, saat Rhea menjemput kematiannya.. dan melahirkan Hades, Hera meminta bahwa tanah Eleanor tidak akan pernah bisa dikunjungi oleh kaum Hades, Lucifer atau bahkan wujud api Kronos. Hera tidak mau salah satu keturunan Rhea lainnya bersama pada Dewa-dewa berakhir seperti Rhea, jatuh cinta pada mahluk api."

"Itulah mengapa setiap keturunan pertama Eleanor memiliki kekuatan pengendali es." Minseok menyahut, kini ia tengah mengerti dengan apa yang terjadi pada Kerajaannya yang selalu diselimuti es entah sejak kapan. Bahkan Jessica, sang Ratu dahulunya memiliki kekuatan yang sama seperti dirinya.

"Dan Krystal diberikan kekuatan immortal dengan wujud seperti—

"Vampire, mahluk ciptaan yang tidak memiliki perasaan dan emosi." Yixing melanjutkan kalimat Yoora.

"Tapi dia bisa mengenali Putera Mahkota yang cukup tampan." Minseok menggelengkan kepala dan memperhatikan Krystal yang tengah menggoda Jongin dan Kris diseberang sana.

"Dia tidak akan bisa memiliki perasaan emosi yang lainnya. Ia tidak mengerti jatuh cinta, sedih, bahagia, ataupun marah. Krystal tidak bisa membedakannya dan itu seperti apa yang diinginkan Hera." Yixing memberikan penjelasan lagi. "Hanya sebuah rasa kekaguman, bukan sebuah rasa sayang, cinta atau lainnya."

"Irene? Bagaimana dengan adikku yang satu itu?"

Yixing terdiam cukup lama, memandangi kearah Irene yang berada disekeliling Para Putera Mahkota.

"Dia sangat mirip Rhea." Yixing memaksakan senyumnya pada Minseok. "Belum ada tanda-tanda dari kekuatannya, kita harus bersabar."

"Kenapa kau tidak menjelaskan padaku mengenai Eleanor sebelumnya?" Yoora beralih menatap kearah Yixing.

"Kau terlalu sibuk melihat masa depan."

Minseok tertawa dan mengusap lengan Yoora sebagai tanda untuk menenangkan gadis itu karena kesal melihat bagaimana Yixing yang meremehkan dirinya.

Mereka bertiga kembali memperhatikan para Putera dan Puteri Mahkota dan sesekali membicarakan mengenai salah satunya. Dimulai dari Kyungsoo yang kini tengah mengejar-ngejar Jongin karena sempat mendorong gadis itu hingga jatuh berlumuran pasir, kemudian beralih pada Luhan yang tengah dipeluk Sehun dan dibawa memutar tapi pada akhirnya Sehun membuang badan Luhan kedalam air pantai dan mereka kembali saling mengejar.

"Itu pasti sakit!"

"Dia sudah terbiasa." Yoora menggelengkan kepalanya melihat badan Sehun yang baru saja dihempaskan oleh Luhan hingga terjatuh cukup keras diatas pasir pantai dan Irene tengah berlari menuju kearah Sehun untuk membantunya.

"Okey, ini akan menarik, kecemburuan dimana-mana." Minseok terkekeh kecil melihat bagaimana raut wajah Luhan yang pada akhirnya ia merasa kesal melihat Irene tengah membantu Sehun untuk berdiri. Untungnya Kyungsoo da Tao langsung menghampiri gadis itu dan membawanya ketempat lain. Bahkan Kris dan Jongin kini menghampiri Sehun dan membawa anak itu untuk beristirahat menghindari Irene berada disekelilingnya.

"Kau mau membuat Luhan membuangmu lebih jauh hah?" suara Kris terdengar ketus sambil membantu Sehun berjalan, mereka mendudukkannya di tempat dimana Minseok, Yoora dan Yixing duduk sedari tadi.

"Padahal aku masih ingin melihat drama diantara kalian." Yoora memberikan handuk sambil menggoda adiknya yang mengeluh kesakitan pada badannya.

"Minseokkie, bisakah adikmu itu jauh-jauh dari para lelaki Glorfindel?" Kris lebih dulu ikut bersuara mengabaikan Sehun dan Yoora yang saling berebutan handuk dan berbagi pukulan ringan.

"Jangan tanyakan padaku, tanyakan pada Glorfindel kenapa memilki wajah bangsat dan membuat kedua adikku terpesona."

Mereka berempat membuka mulut tak percaya akan apa yang diucapkan Minseok mengenai keturuna Glorfindel.

"Huaaa.. wajah bangsat seperti apa maksudmu?" Yoora bertanya kembali.

"Penggoda, pemuas nafsu, kissable, aura dominan, hmm apa lagi ya.. senyuman maut?"

"HUA! Dan hanya Glorfindel yang memiliki itu semua?" Kris bertanya lagi.

"Ketiga adikku?" Yoora ikut bertanya.

"Ya, seperti itu. Lynkestis terlalu lembut. Tiranis terlalu kaku, Thalin terlalu sombong. Jadi sudah pasti Glorfindel adalah urutan pertama para gadis, khususnya kedua adikku—oh tepatnya Irene, karena Krystal sudah dipastikan hanya akan mengikuti Irene."

"Aku lembut?" Kris menunjuk dirinya dan sontak membuat Yoora melemparkan handuk basah bekas Sehun kearah wajahnya.

"Ya, kau lembut! Bahkan untuk memilih wanita saja tidak bisa." Suara Yixing yang menjawab.

"HAHAHAHAHHA." Suara tawa Sehun meledak dan pada akhirnya Sehun memaksakan diri untuk berlalri jauh karena Kris kini mengejar dirinya dengan mulutnya yang tidak berhenti mengumpat kesal. Luhan yang melihat pemandangan itu kini ikut mengejar Kris guna mencegah pemikiran bahwa kedua lelaki itu akan kembali bertengkar hanya karena dirinya.

"Ingatkan aku untuk mengenang saat-saat ini." Minseok merebahkan badannya dengan pandangan masih tertuju pada seluruh Putera dan Puteri Mahkota.

Yixing dan Yoora memilih diam, pandangan mereka terarah pada satu-satu Putera dan Puteri Mahkota, mencoba mendapatkan gambaran bahwa saat-saat tenang dan damai mereka akan berjalan cukup lama sebelum kebangkitan Kronos kembali mengusik Kerajaan, atau bahkan saat beberapa kaum Hades yang mungkin akan berusaha menculik Irene atau Baekhyun karena hanya dua Puteri itu yang menjadi sasaran untuk dianggap memiliki kekuatan Cahaya Abadi.

Yoora memandangi Irene dengan tatapan serius, pandangannya tidak teralihkan bahkan ketika Minseok memanggil namanya berulang kali, atau Yixing yang menggoyangkan tubuhnya untuk mengembalikan kesadarannya. Karena meskipun matanya terbuka, tatapannya kosong dan hanya sebuah air mata yang mengalir dari sudut matanya, Sehun dan Jongin yang sudah berada didekatnya bahkan memeluk Yoora, suara mereka tak berhenti memanggil nama Yoora.


-Loves of Tales-


"Wuaaaahhh! Ini terlihat seperti Lynkestis." teriakan dari gadis mungil yang tengah berada didekat jendela pesawat, melihat pemandangan sebuah kota dalam suasana malam hari. Cahaya lampu yang berwarna kuning menyelimuti seluruh Kota itu dan memberikan keindahan yang memancar bagi siapapun yang mendapatkan penglihatan satu Kota dari atas udara.

"Menyukainya?"

"Hm, ini indah. Boleh aku mengambil foto Kota ini?"

"Tentu saja, kau bebas mengambil fotonya sebelum kita mendarat." Chanyeol memberikan kameranya kepada Baekhyun dan membiarkan gadis itu mengambil beberapa gambar dari angle yang berbeda."

Suara panggilan pemberitahuan dari awak pesawat menjadi alasan Baekhyun berhenti menekan tombol di kameranya dan mendengarkan penjelasan yang dikatakan meskipun ia tidak mengerti.

"Apa kita akan mendarat?"

Chanyeol menganggukkan kepala dan memasangkan seat belt pada Baekhyun, pandangannya masih memperhatikan kekasih mungilnya kin tengah bersemangat dan tidak sabar untuk segera melihat bagiamana Kota yang menjadi tempat untuk mereka berkencan.

"Chanyeol.. sebenarnya kita dimana?" Baekhyun baru menanyakkan tujaun mereka setelah hampir 18 jam perjalanan.

"Kau baru menanyakkannya padaku?" Chanyeol semakin dibuat sulit untuk bisa menahan tawanya.

"Ah, hehe aku lupa. Lagipula kau tidak mungkin menculik dan membuangku kan." Baekhyun sempat tersenyum kaku dan pada akhirnya ia memandang ke arah Chanyeol dengan tatapan mendelik tajam.

Getaran pada pesawat menjadi tanda Chanyeol dan Baekhyun dan saling terdiam, Baekhyun mengalihkan rasa takutnya untuk melihat kearah jendela yang tengah memperlihatkan pemandangan sekitar bandara dan juga beberapa pesawat lainnya, hingga saat matanya menangkap sebuah huruf terang yang menjelaskan dimana sebenarnya mereka tengah berada.

"Ba-Barcelona?"

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol yang menyeringai kearahnya.

"Bienvenido senora."

Baekhyun termenung dan masih memandangi Chanyeol dengan seringai pada wajahnya masih terbentuk. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi dan bertanya apa kepada Chanyeol mengenai rencana kencan mereka, Ia pikir Chanyeol akan membawanya kembali ke Lynkestis atau berkunjung ke Glorfindel ataupun membawanya sekedar berjalan-jalan dan berkunjung ke kota-kota dalam dunia Kerajaannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa kekasihnya ini membawanya ke dunia luar hanya untuk alasan berkencan, ditambah Kota yang dituju adalah salah satu Kota romantis yang menjadi tempat harus dikunjungin bagi setiap pasangan diseluruh dunia.

Chanyeol membuka seat belt pada kursi Baekhyun dan mengambil alih tangannya untuk bisa ia genggam ketika mereka keluar bersama dari dalam pesawatnya. Kembali lagi Baekhyun dibuat tidak percaya karena baru saja kepalanya keluar dari dalam pesawat, ia sudah dihadapkan dengan pemandangan sebuah mobil yang menunggu dengan dua orang berpakaian hitam berdiri di dekatnya. Chanyeol sempat berbicara dengan kedua orang itu dan membukakan pintu mobil untuk Baekhyun.

"Masuklah."

Baekhyun menganggukkan kepala dan menuruti perintah Chanyeol, dan kembali suasana diam menyelimuti mereka berdua meskipun Chanyeol masih memegang tangannya dengan erat dan bahkan membiarkan kepala Baekhyun bersandar didadanya. Sesekali Baekhyun beranjak bangun ketika mobil mereka melewati bangunan-bangunan yang cukup indah dihiasi dengan lampu-lampu, hingga Baekhyun memilih membuka jendela mobil dan membiarkan kepalanya sedikit keluar guna bisa melihat lebih jelas seisi jalanan yang dilalui mobilnya.

Alis matanya mengernyit menampakkan kebingungan ketika mobil yang ia tumpangi berhenti pada salah satu bangunan yang cukup antik karena dipenuhi dengan dekorasi patung-patung dewa-dewi dan juga beberapa malaikat disekelilingnya.

"Kita dimana?" Baekhyun bertanya pada Chanyeol yang tengah bersiap turun dari mobil.

"Rumahku." Chanyeol tersenyum, ia melangkah keluar berjalan cepat untuk membukakan pintu dimana Baekhyun berada yang masih termenung penuh tanda tanya mengenai kata 'rumahku' yang diucapkan Chanyeol.

"Jangan memasang wajah bingung seperti itu." Chanyeol mengusak rambut Baekhyun dan membawa gadis itu untuk melangkah mengikutinya masuk kedalam sebuah ruangan yang kini benar-benar terlihat megah layaknya sebuah Istana. Baekhyun kembali dibuat terpesona hingga mulutnya terbuka lebar, pandangannya mengelilingi seluruh ruangan dimana ia berada saat ini dan menatap keatas langit-langit rumah tersebut yang terdapat lambang Kerajaan Glorfindel disana.

"Selamat datang di kediaman Glorfindel." Chanyeol berbisik pada Baekhyun dan membiarkan gadis mungilnya itu mengamati seisi lantai dasarnya. "Mau berkeliling?" Chanyeol kembali bertanya dan anggukan cepat dilakukan oleh Baekhyun sebagai jawaban atas ajakannya.

Langkah kaki mereka dimulai menjelajahi dua ruangan yang berada di lantai satu dari tiga lantai yang ada di kediaman Glorfindel, Chanyeol membawa Baekhyun melewati ruangan tamu, ruang makan dan juga ruangan kerja milik Ayahnnya. Saat menaiki tangga menuju lantai dua, Baekhyun sempat berhent di tengah jalan, pandangannya dialihkan pada sebuah foto Chanyeol dan seluruh Putera Mahkota Glorfindel yang berada di dinding sisi kirinya.

"Jangan menganggumi fotoku, melihat secara langsung lebih baik." Chanyeol mengayunkan tangan Baekhyun, membuat pandangan gadis itu kembali melihat kearahnya.

"Percaya diri sekali." Baekhyun berucap kesal tapi terdapat senyuman pada wajahnya.

Lantai dua pada kediaman itu hampir seluruhnya diisi oleh kamar setiap anggota Kerajaan Glorfindel, kecuali kamar Chanyeol.

"Kenapa kamarmu terpisah?" Baekhyun bertanya sesaat setelah Chanyeol selesai menunjukkan kamar Sehun.

"Aku tidak suka berada dekat kamar Sehun dan Jongin, mereka sangat berisik."

"Aaaah." Baekhyun mengangguk mengerti.

Mereka kembali menaiki tangga menuju lantai tiga dimana Kamar Chanyeol berada dan sebuah ruangan khusus milik Chanyeol.

"Mau lihat isi kamarku dulu atau ruangan hobiku?"

"Kamarmu dulu." Baekhyun menunjuk arah kamar Chanyeol yang sempat ditunjukkan. "Hmm.. cukup simple." Baekhyun memberikan pujian melihat isi kamar Chanyeol yang sangat minimalis, hanya sebuah ranjang besar yang ditutupi selimut abu-abu gelap dan juga terdapat sebuah layar teleivisi dan satu set home theatre. Banyak meja yang terletak pada sisi dekat jendela terlihat kosong dan tidak dapat foto atau apapun untuk mengisi diatasnya.

"Ini sangat berbeda dengan kamar Sehun dan juga Jongin."

"Aku tidak suka isi kamar yang penuh, kamarku hanya untuk tidur dan istirahat." Chanyeol menjelaskan dan Baekhyun hanya menganggukkan kepala mencoba mengerti sifat dari Chanyeol.

"Ayo lihat kamarku yang lainnya."

Baekhyun melangkahkan kakinya senang mengikuti Chanyeol yang berdiri didepan pintu kamarnya, mereka kembali bergandengan tangan menuju ruangan yang terletak persis berhadapan dengan kamar Chanyeol.

Chanyeol membuka pintu ruangannya dan membawa Baekhyun masuk melihat kedalamnya yang seketika membuat mata gadis itu terbuka lebar melihat beberapa lukisan dan beberapa pemandangan yang sudah dipastikan semuanya itu adalah hasil jepretan kamera yang dimiliki Chanyeol. Baekhyun melangkah melihat satu per satu gambar lukisan yang ada di ruangan itu dan berusaha menyentuhnya.

"Bolehkah?" Bakehyun bertanya lebih dulu pada Chanyeol yang berdiri tak jauh darinya.

"Hm. kau boleh menyentuhnya." Chanyeol memberikan ijin.

Baekhyun tersenyum dan membiarkan jari-jarinya menyentuh setiap goresan cat yang terbentuk dalam sebuah lukisan yang terlihat abstrak dan matanya hanya bisa menangkap sebuah bentuk matahari dan juga bintang yang berada dalam sebuah garis lurus. Dan pada lukisan yang lainnya ia hanya bisa melihat sebuah gambaran api dan juga biasan cahaya, berbeda dengan hasil foto yang Chanyeol tangkap, foto-foto itu memperlihatkan sebuah banguan ataupun pemandangan dari sebuah Kota dan tak jarang foto-foto kakak dan kedua adiknya dipajang olehnya.

"Chanyeol.."

"Hm."

"Tidak ada objek lainnya yang kau gambarkan atau kau foto?" Baekhyun bertanya setelah selesai melihat satu per satu lukisan dan foto yang ada didalam ruangan itu, dan ia tidak menemukan objek lain yang Chanyeol lukis maupun foto selain pemandangan dan juga seluruh keluarganya.

"Tidak ada." Chanyeol menjawab cepat. "Tapi sekarang sudah ada." Ia mengarahkan kameranya pada wajah Baekhyun yang tengah memandangnnya dengan tatapan bingung. "Namanya Baekhyun." bisikan dengan suara beratnya berhasil membuat sosok mungil didepannya merona padam dan bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Ayo, kita harus bersiap untuk kencan lainnya." Chanyeol merangkul badan Baekhyun dan membawanya keluar ruangan.

"Oh, Aku kira kencannya ini." Baekhyun memprotes ketika dirinya dibawa keluar lagi.

"Tidak sayang, kencan kita belum dimulai."

"O-o-oh?"

.

.

Kencang yang dimaksud oleh Chanyeol dimulai dengan makan malam bersama pada sebuah restoran yang berada disebuh pusat Kota Barcelona, Restoran yang menyajikan makanan kahs Kota itu dengan dekorasi ruangan cukup elegan dan terlihat sangat berkelas seperti ruangan makan Istana mereka berdua. Chanyeol mengenakkan setelan jas hitam dengan tatanan rambutnya yang ditata rapi dan memperlihatkan dahinya yang malah menambah tingkat ketampanannya lebih maksimal dan itu membuat Baekhyun gelisah karena sepanjang perjalanan masuk menuju meja dimana mereka duduk saat ini semua wanita tak henti-hentinya memandangi Chanyeol.

Chanyeol juga merasakan hal yang sama, melihat bagaiamana Baekhyun mengenakkan dress tanpa lengan milik Yoora yang senada dengan setelan jasnya, tapi mengingat kulit putih pucat Baekhyun yang sangat kontras dan juga rambut hitamnya yang diatur bergelombang, bahkan meskipun wajah gadis itu hanya dihiaskan make up tipis, Baekhyun tetaplah cantik. Dan menjadi pemandangan indah bagi siapapun yang melihatnya yang mana membuat Chanyeol merasa kesal.

"Akan lebih baik kita kencan selanjutnya hanya ada aku dan dirimu." Chanyeol lebih dulu mengutarakan kekesalannya.

"Kalau begitu, kencan berikutnya kita camping!" Baekhyun langsung bersemangat menjawabnya.

"Itu bukan kencan Baek, itu wisata bersama."

"Tapi di film-film romantis mereka juga berkencan sambil sambil camping bersama, bahkan mereka berciuman didalam tenda lalu tidur ber—mppthh." Chanyeol menutup mulut Baekhyun dengan kedua tangannya sebelum gadis itu bersuara menjelaskan posisi tidur dalam sebuah film karena Chanyeol tengah memikirkan 'tidur' dalam artian lain.

"Tidak usah dilanjutkan okey. Aku sudah tahu."

"Tahu apa?"

Chanyeol memandangi Baekhyun yang kini memajukan posisi badannya dan menatap kearahnya.

"Mengenai tidur." Chanyeol menjawab dan kembali fokus pada buku menunya.

"Oh, nanti malam juga kita bisa tidur bersama dan mela—mmppptthhh." Kembali Chanyeol menutup mulut Baekhyun.

"Kau mau makan apa sekarang?" Chanyeol menanyakkan mengenai menu makanan yang ingin dipesan sementara tangannya masih menutup mulut Baekhyun dan tatapan marah ia dapati sebagai jawaban dari gadis itu.

"Kenapa kau menutup mulutku terus sih." Baekhyun mengomel lebih dulu dan membuka buku menunya dengan kasar. "Aku kan hanya menjelaskan mengenai tidur bersama didalam kamar—" Baekhyun lebih dulu menutup mulutnya dengan buku menu sebelum tangan Chanyeol menutupnya seperti sebelumnya.

Chanyeol tertawa melihatnya dan memperhatikan Baekhyun yang masih menatapnya kesal.

"Aku penasaran."

"A-apa?" Baekhyun menjawabnya dengan masih menyimpan rasa kesalnya.

"Apa yang kau lakukan saat tinggal di dunia luar seorang diri?"

Pertanyaan Chanyeol sontak membuat Baekhyun yang sebelumnya terlihat kesal kini tengah berpikir mengingat-ingat apa yang dilakukan dirinya saat berada didunia luar. Chanyeol memesankan menu makan malam untuk mereka berdua sedangkan Baekhyun mulai mengurutkan kejadian sejak ia pertama kalinya diminta untuk bersekolah dan tinggal seorang diri di dunia luar.

"Seingatku, aku berada di Kota London, ah—iya benar. Ratu mengirimku ke Kota itu di Tahun Pertama." Baekhyun menjetikkan jarinya. "Mereka memasukkan aku kedalam sekolah asrama, dan kau tahu apa?" Chanyeol menggeleng sambil memperhatikan bibir Baekhyun bergerak dengan imut menjelaskan setiap kata demi kata dan yang bisa ia ingat adalah kalimat 'tidur' yang sudah sedari tadi terlewatkan.

"Asrama itu letaknya jauh dari pusat Kota London, dan cuaca disana terlalu dingin. Aku berulang kali mengeluh sakit dan pada akhirnya mereka memindahkanku ke Kota New York di tahun kedua."

Chanyeol masih mendengarkan penjelasan Baekhyun mengenai kehidupannya saat di dunia luar, dimana ia belajar mengenai sendiri, hidup sendiri dan hanya dekar dengan penghuni kamar tepat disebelah kamarnya yang memiliki anjing bernama mong-mong. Pembicaraan itu semakin berlanjut bahkan ketiga berbagai menu makanan tersaji diatas meja mereka Chanyeol membiarkan Baekhyun tetap melanjutkan ceritanya karena ya sebenarnya dia juga penasaran bagaimana cerita kisah Baekhyun.

".. disana membosankan, aku hanya sekolah, pulang dan berdiam diri di apartemen. Makanya terkadang aku membaca novel, menonton film atau olahraga. Oh, kadang aku bermain di taman bersama mong-mong dan melihat orang-orang disana, ada yang berolahraga atau pun cuma berjalan-jalan bersama pacar dan temannya."

"Kris tidak mengunjungimu?"

Baekhyun menggeleng dan masih berusaha menelan makananya yang baru saja ia suapakan kedalam mulutnya. "Ia mengunjungiku hanya untuk mengatakan bahwa Kaum Hades tengah mencari keberadaanku, awalnya aku kira ia hanya bercanda. Tapi aku pernah bertemu dengan salah satunya ketika baru saja kembali dari sekolah, mereka mengikutiku, dan aku berhasil kabur. Hehe." Baekhyun tertawa membanggakan dirinya.

"Pintar." Chanyeol memuji dan tersenyum melihat Baekhyun benar-benar menikmati makan malamnya dan bersemangat menceritakkan kegiatannya.

"Hm, aku mengikuti kegiatan bela diri di sekolah dan juga kelas menari. Jadi ya aku cukup lincah."

"Kau bisa menari?" Chanyeol bertanya dengan nada tidak percaya.

"Tentu saja bisa, hanya saja bukan tarian yang seperti acara Kerajaan. Disana semacam tarian sesuai dengan ritme lagu dan terkadang lagu yang digunakkan memiliki tempo yang cepat." Baekhyun menjelaskan lagi dan Chanyeol menganggukkan kepala.

"Lalu kenapa kembali ke Lynkestis?"

"Hm.. Raja menjemputku. Mereka mendapatkan laporan aku membunuh salah satu kaum Hades."

Chanyeol menghentikkan acara makannya dan menatap kearah Baekhyun yang kini terlihat takut melanjutkan ceritanya.

"Ka-kau membunuhnya?"

"i-iya."

"Dengan?" Chanyeol ikut menurunkan volume suaranya.

"A-aku menusuk kepala mereka dengan tombak yang kudapatkan saat tengah kabur dari kejaran mereka, aku tidak tahu bagaimana bisa, hanya saja ya aku membunuh salah satu dari mereka dan pada akhirnya Raja menjemputku dan membawaku kembali ke Lynkestis."

"Kau benar-benar mengambil pelajaran dari kelas bela diri." Chanyeol bertepuk tangan pelan dan memberikan dessert Strawberry yang ia pesankan khusus untuk Baekhyun. "Ini hadiahmu untuk malam ini." Chanyeol menyuapkan potongan kue itu kedalam mulut kecil Baekhyun yang sudah menunggu suapannya.

"Hmm.. ini enak!" Baekhyun dengan cepat menghabiskan kue itu dengan lahap dan Chanyeol tidak tahan melihat tingkah gemasnya. Mencubit pipi Bakehyun yang masih mengunyah kuenya dan pada akhirnya tangan Chanyeol yang menjadi tempat pukulan halus dari tangan Baekhyun.

"Ayo habiskan, kita masih memiliki tempat lainnya yang harus dikunjungi." Chanyeol membersihkan pinggiran mulut Baekhyun yang terdapat serpihan kecil kuenya dan Baekhyun malah tersenyum geli melihat bagaiamana Chanyeol melakukannya.

"Kenapa?"

Baekhyun menggeleng.

"Apa ada yang salah?" Chanyeol memperhatikan sekelilingnya memperhatikan apa ada yang menarik perhatian Baekhyun hingga gadisnya itu tertawa geli dibuatnya.

"Aku menertawakan dirimu yang membersihkan serpihan kue dimulutku tadi." Baekhyun menjelaskan setelah mereka beranjak pergi dari restoran, melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan kencan yang sudah direncakan oleh Chanyeol.

"Kenapa memangnya?" Chanyeol mengeratkan rangkulan tangannya pada pundak Baekhyun sambil mereka tetap berjalan.

"Biasanya dalam film-film akan diakhiri dengan ciuman." Chanyeol menghentikkan langkah kakinya dan mengusak rambut Baekhyun dengan pelan.

"Aku rasa ada yang salah dengan otakmu." Mereka kembali berjalan tanpa saling merangkul karena kini Baekhyun tengah sibuk merapikan tatanan rambutnya yang sempat Chanyeol usak.

"Tidak ada yang salah!" Baekhyun membalas dan berlari kecil menyusul Chanyeol yang meskipun sudah berjalan lebih dulu tapi kekasihnya itu masih menunggu dan memberikan tanganya untuk kembali dirangkul oleh Baekhyun.

"Tidak ada yang salah dengan ciuman setelah membersihkan sisa makanan pada mulut pacarmu." Baekhyun kembali membahasnya.

"Memang tidak, hanya saja aku tidak percaya kau benar-benar membayangkan setiap adegan dalam film dan ingin mempraktekkannya." Chanyeol merangkul kembali badan mungil kekasihnya dan masih melanjutkan perjalanan malam mereka menuju kencan lainnya.

"Itu gunanya film Chanyeol." Baekhyun masih memberikan pembelaan.

Chanyeol tidak memberikan jawaban, pikirannya dialihkan pada pandangan seisi Kota Barcelona yang cukup ramai dipenuhi beberapa orang yang berlalu lalang disekeliling mereka maupun kendaraan yang melintas daripada harus melihat beberapa pasangan yang ada di sudut bangunan dan tengah saling berciuman mesra dan Baekhyun nampak senang melihatnya.

"Chanyeol.. kenapa kau tidak menciumku seperti mereka?" Baekhyun kembali merengek.

"Itu sangat romantis.."

"O-oh lihat, bahkan pria itu menggendongnya seperti Koala hehehe."

Chanyeol menggelengkan kepala mencoba tidak menghiraukan segala yang Baekhyun katakana dan semakin mempercepat langkahnya ketika ia melihat petunjuk jalan menuju Parc de la Ciutadella (ada di spoiler ig yaa guys.)—Baekhyun mengikuti langkah Chanyeol, mengalihkan pandangannya pada beberapa pasangan yang tengah berciuman tadi menjadi fokus pada langkahnya karena ia kini berjalan cepat dengan sebuah sepatu heels yang cukup tinggi.

Begitu mereka tiba di tempat itu, Baekhyun kembali terpesona. Matanya terbuka lebar dan berbinar-binar melihat air mancur yang cukup indah dan dikelilingi berbagai patung malaikat dan ukiran-ukiran disekeliling temboknya. Ditambah cahaya lampu yang menyinari tempat itu menjadi semakin menambah nilai keindahannya.

"Seharusnya kita melihatnya di pagi hari, kau bisa mengambil fotonya dengan lebih jelas." Chanyeol menjelaskan sambil menunjukkan tempat dimana biasanya pengunjung mengambil foto.

"Aku lebih menyukai saat malam hari." Baekhyun menyahuti dan berjalan mendekati tempat air mancur itu. "Lebih terlihat romantis." Senyumnya menggoda kearah Chanyeol dan mengajak kekasihnya untuk berjalan bersamanya lebih dekat kearah air mancur itu.

"Aku selalu membayangkan mengunjungi salah satu air mancur dan membuang koin kedalamnya, setelah itu membuat permohonan."

"Dan kau mau melakukannya sekarang?" Chanyeol menoleh kearah Baekhyun dan memberikan dua buah koin yang sudah ada ditangannya.

"Huaaa! Darimana kau tahu?"

"Itu mudah Baek. Setiap orang yang berkunjung kesini melakukannya."

"Oh." Baekhyun ber-oh ria dan bersiap melempar kedua koinnya, Chanyeol yang berada disebelahnya hanya memperhatikan bagaimana Baekhyun melempar satu per satu koin ekcil itu dan kemudian melipat kedua tangannya dengan mata terpejam, memanjatkan sebuah permohonan yang tidak ada yang tahu apa bisa terwujud atau tidak. Chanyeol diam-diam mengambil foto Baekhyun yang tengah berdoa tanpa diketahui gadis itu, dan saat Baekhyun selesai berdoa Chanyeol segera memasukkan kamera kecilnya.

"Aku bisa melemparnya sekarang?"

"Hm, pelan-pelan melemparnya."

Baekhyun menganggukkan kepala, satu per satu koin yang ia pegang dilempakrkan ke berbagai arah dan setelah koin itu tenggelam ia berpetuk tangan ssendiri dan meloncat-loncat kegirangan, melupakan fakta bahwa ia kini mengenakkan high heels.

"Pelan-pelan Baek." Chanyeol memegangi pinggang Baekhyun dan memutar badan mungil itu menghadap kearahnya. Sebenarnya posisi mereka yang tengah salingberhadapan, dengan tangan Chanyeol pada pinggang Baekhyun dan tangan gadis itu berada di dada Chanyeol sudah sangat tepat untuk melakukan adegan ciuman seperti para pasangan yang ada di sekitar mereka ataupun gambaran pasangan dalam film yang tengah Baekhyun pikirkan. Chanyeol bahkan sudag bergerak pelan mengarahkan wajahnya semakin mendekat kearah Baekhyun dan gadis itu tentu sudah menunggu saat-saat Chanyeol mencium di hadapan banyak orang seperti yang dilakukan pasangan lainnya.

"Oh." Baekhyun sedikit berteriak dan mengalihkan pandangannya pada sebuah taman dengan hiasan lampu-lampu gantung yang berada tak jauh dari tempatnya. Melupakan bahwa baru saja mereka akan melakukan hal romantis seperti yang selalu ia katakan—dan nyatanya kini gadis itu malah berlari kecil meninggalkan Chanyeol yang masih termenung merasa diabaikan oleh kekasihnya sendiri.

"Chanyeol.. Chanyeoll.. bantu aku sini." Baekhyun berteriak dari tempatnya, melompat-lompat dan menggerakkan tangannya memanggil Chanyeol yang masih berdiri ditempatnya.

"Dia kekasihmu yeol, dia kekasihmu." Chanyeol bergumam pelan melihat tingkah Baekhyun yang sedikit diluar kewajarannya bahkan tidak memperdulikan orang-orang yang memperhatikannya.

"Aku mau berjalan disepanjang tempat ini." Baekhyun langsung naik keatas pinggiran pembatas yang menjadi penghalang pepohonan yang hanya bisa dilalui dengan salah satu kakinya. Masih menggunakkan high heelsnya dan Chanyeol langsung memegang salah satu tangan Baekhyun untuk membantu keseimbangannya, Baekhyun tak berhentinya tertawa melihat bagaimana ia bisa berjalan dengan high heels tinggi di tempat seperti ini.

"Ibu akan memujiku nanti mengetahui aku bisa menggunakan high heels di tempat ini." Baekhyun menyombongkan diri.

"Kau lupa bahwa aku yang memegangi tanganmu sedari tadi." Chanyeol memprotest karena merasa tidak dianggap membantu bagaimana Baekhyun bisa berjalan di pinggiran kolam itu.

"O-oh, aku tidak lupa. Hanya saja aku tidak mau bilang pada Ibu bahwa seorang Putera Mahkota Glorfindel membantuku."

"Lalu apa yang kau katakan?" Chanyeol tetap memegangin tangan Baekhyun dan memperhatikan gadis itu yang tetap tersenyum dengan matanya yang fokus pada langkah-langkah kakinya.

"Aku akan bilang.." Baekhyun menghentikkan langkahnya dan berbalik menghadap kearah Chanyeol, kali ini kedua tangannya sudah berada pada bahu Chanyeol yang berada tepat dibawahnya. "Sekarang aku lebih tinggi darimu. Hehe." Baekhyun terkekeh senang melihat bagaimana Chanyeol kini berada tepat sejajar dengan perutnya.

"Kau curang, kenapa kau bisa lebih tinggi dariku?" Chanyeol ikut tertawa mendengar apa yang dikatakan Baekhyun. "Ini akan membuatku sulit untuk menciummu Princess." Chanyeol mendongakkan kepalanya dan menatap kearah Baekhyun yang tersenyum kearahnya, tangannya ia gunakkan untuk merapikan tatanan rambut Baekhyun dan setelahnya ia kalungkan pada pinggang gadis itu.

Baekhyun memainkan sedikit surai rambut Chanyeol dan masih memandanginya dengan penuh perasaan."Aku akan bilang pada Ibu, kalau kekasihku membantuku berjalan. Ia bahkan memegangi tanganku dan tidak membiarkan aku jatuh."

"Kau akan bilang pada Ibumu seperti itu?"

"Hm, aku akan bilang seperti itu." Baekhyun masih menatap kearah Chanyeol dan perlahan-lahan kepalanya menunduk mendekat kearah wajah Chanyeol. "Tapi aku tidak akan mengatakan bahwa aku yang menciumnya lebih dulu."

Baekhyun menurunkan wajahnya dan langsung mencium bibir Chanyeol tepat ia menyelesaikan kalimatnya, ciuman yang sudah tertahan sejak merekan tiba di Kota itu kini berhasil didapatkan oleh Baekhyun. Chanyeol tersenyum di sela-sela ciumannya dan membantu Baekhyun untuk bisa memulai lumatan bibirnya pada bibir Chanyeol, mengabaikannya dirinya yang kini berada pada gendongan badan Chanyeol seperti pasangan yang ia lihat sebelumnya.