Chapter 9
Jangan berpikir (Part 2)
Setelahnya mereka Gempa dan Ice pun menatap ke puncak gunung dimana sang pemimpin para Ushi-oni tinggal. Menyiapkan hati untuk menemuinya hanya demi menanyakan kenapa para siluman bawahannya itu sering turun dan meneror pemukiman dibawahnya.
Dan keesokan harinya.
"Hoaammm..." Gempa tampak berdiri di belakang kasir sembari menguap lebar. Kedua belah kelopak mata bawahnya agak sedikit menghitam yang menandakan jika dia kurang tidur.
Hingga beberapa saat kemudian Yaya menghampirinya dengan agak cemas. "Gempa-san kelihatan lelah sekali. Apa terjadi sesuatu yang buruk di gunung tadi malam?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit kewalahan saja saat menaiki tangganya." Jawab Gempa datar sambil mengibaskan tangannya seperti orang yang sedang mengusir lalat. "Terutama dengan Gyuuki sebanyak itu, aku tidak mau mengeluarkan banyak kekuatan dan membuat tempat itu hancur gara-gara aku" lanjutnya bergumam sendiri dengan volume yang sangat kecil.
"Eh apa?"
"Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong kau tidak kuliah hari ini?" ujar Gempa mengalihkan topik pembicaraan.
"Hari ini aku cuma ada satu kelas dan kuliahnya kosong karena dosennya ada urusan di luar kota, jadi aku libur hari ini" jawab Yaya. Yang hanya disahut Gempa dengan sebuah anggukan tanda paham.
'Tulalit...Tulalit..."
Tiba-tiba saja ponsel pintar milik gadis berkerudung pink khas itu berdering yang menandakan ada panggilan masuk. Buru-buru Yaya mengeluarkan alat komunikasi itu dari kantong celananya, ia menatap pada layar panggilan masuk dan menemukan jika Halilintar lah yang menelponnya.
"Tunggu sebentar Gempa-san." Katanya sesaat sebelum menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut. "Halo, Hali-kun? Bagaimana disana? Maksudku gedungnya, apa dinding yang hancur kemarin sudah diperbaiki?" tanya gadis itu pada orang yang berada di seberang telpon dengan begitu khawatir.
Mengingat karena pertarungan tidak diprediksi kemarin fasilitas kampus menjadi rusak, dan karena mereka terlibat tentu saja mereka harus bertanggung jawab.
"Iya. Dan malah lebih baik lagi... Bekasnya sama sekali tidak ada" jawab Halilintar dingin. Saat ini kedua matanya asik menatap ke arah lantai 5 dan memperhatikan dengan begitu detil bagian dinding yang hancur kemarin.
"Eh? Yang benar? Kacanya juga masih sama? Maksudku itu kan kaca hias antik yang sudah tidak dijual lagi sekarang"
"Lucu kau menyadarinya. Tapi yang kulihat sekarang gedung ini baik-baik saja kacanya lengkap dan tidak ada bekas renovasi, tertutupi dengan sempurna seolah-olah memang tidak pernah terjadi apapun dari awal. Lalu untuk saksi mata yang melihat Thorn berubah tadi malam juga sudah diatasi. Entah bagaimana orang-orang itu melakukannya"
"Syukurlah karena sekarang kau punya koneksi baik dengan orang dari SHAMAN. Kalau tidak, entah apa yang harus kita lakukan"
"Ya aku juga heran tiba-tiba saja mereka menawarkan bantuan."
"Mungkin mereka berterima kasih padamu karena sudah membantu dalam menangkap dan menjebloskan Thomas ke penjara."
"Kurasa juga begitu" sahut Halilintar lagi. Kemudian dia melirik pada arloji di pergelangan tangannya dan mendapati sudah pukul 10.10 tinggal 10 menit lagi kelasnya dimulai. "Sudah dulu Yaya. Aku harus masuk kelas, nanti kita bicara lagi" ucapnya memutus panggilan tersebut.
Segera setelah panggilan ditutup Yaya pun melirik pada layar ponselnya yang menampilkan layar kunci dengan latar pink. Lalu ia pun memasukkan ponsel pintar itu kembali ke kantongnya.
Disaat bersamaan lonceng yang tergantung di pintu masuk berbunyi diikuti dengan bunyi deritan pintu tanda jika ada yang membukanya, namun yang datang bukanlah pelanggan. Tapi seorang siswa SMA yang kita kenal dengan rambut hitam dan manik khas berwarna jingga kemerahannya, siapa lagi kalau bukan Blaze.
Tanpa canggung begitu memasuki rumah makan, bocah itu langsung saja duduk di kursi bundar yang terdapat di depan bar dan bertumpu tangan dengan tatapan bosan.
"Lho Blaze-kun? Kau sudah pulang?" tanya Yaya bingung saat melihat bocah itu ada di kafe di jam-jam seperti ini. Karena biasanya ia dan Ice baru pulang sekolah jam 3 sore.
"Hari ini gurunya rapat jadi para siswanya dipulangkan lebih awal" jawab bocah itu sambil menoleh pada si gadis berhijab.
Yaya pun hanya mengangguk paham. "Terus Ice-kun mana? Tumben kalian tidak bareng." Dan kembali bertanya hal lain.
"Eh?" Blaze tampak mengerjap bingung saat Yaya menanyakan tentang Ice. "Nee-san nggak tau? Hari ini Ice ijin tidak masuk karena sakit"
"APA!?" Tentu saja Yaya kaget, tidak ada tuh yang memberitahunya jika bocah bermanik aquamarine itu sedang sakit hari ini, entah memang karena sengaja atau lupa. "T-Terus sekarang Ice dimana?" tanyanya mulai panik kepada yang lain.
"Ya di rumah lah, istirahat" sahut Gopal terlihat begitu tenang.
"Di apartemen kan sekarang nggak ada siapa-siapa! Kakaknya juga baru pulang pertengahan bulan nanti kan!? Kok kalian bisa tenang-tenang aja dan malah pada ngumpul disini? Terus siapa yang jaga dia?!" omel Yaya memarahi semua yang ada disana. Coba pikir, sudah tahu tetangga lagi sakit bukannya dijenguk.
"Yaya-chan... dengar–"
"Gempa-san, boleh aku ijin hari ini!? Aku mau menjenguk Ice. Tidak masalah jika Kakak ingin memotong gajiku hari ini!" belum sempat Ying bicara pada gadis ini, ia sudah lebih dulu menghiraukannya dan malah memohon dengan tegas pada Gempa untuk cuti atau lebih tepatnya bekerja hanya seperempat hari saja.
"Uh? Oh.. I–Iya..." dan karena kaget sekaligus kebingungan Gempa pun asal menjawab, yang dikira Yaya sebagai perijinan dari Gempa. Buru-buru gadis itu pun pergi ke ruang loker untuk mengganti seragamnya dengan baju biasa.
Semua yang ada disana terlihat begitu cengo, kebingungan, dan tidak tahu harus mengatakan apa. Bahkan ketika beberapa saat kemudian gadis itu sudah selesai berganti baju (dengan kilat) dan melesat keluar begitu saja dari kafe milik Gempa tersebut.
"Yaya-chan dengar dulu!" Bahkan seruan dari Ocho pun tidak didengarkan karena saking paniknya gadis itu. Alhasil pria berambut pirang itu hanya bisa menghela nafas panjang dengan lesu sambil berkacak pinggang melihat tingkah karyawan Gempa yang satu itu. "Bagaimana ini, Gempa-sama? Kita biarkan saja?" lanjutnya menghampiri si pemilik manik emas dan bertanya.
"Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur..." desah Gempa seraya menyilangkan kedua lengannya ke depan dada.
"Ice pasti bakalan mengamuk nanti."
~MA~
Jadi setelah menyusuri jalan dan belokan-belokan kecil dalam perumahan, akhirnya Yaya pun sampai di apartemen mereka yang terletak tak jauh dari kafe milik Gempa tersebut. Saat ini si gadis tengah berdiri di depan pintu kamar apartemen bercat biru dengan nomor urut 5.
*Yaya pov*
Aku terdiam sejenak saat memandangi pintu apartemen milik Ice, membuatku teringat saat pertama kalinya aku menekan bel dan mengganggu waktu tidur bocah itu. Cukup lucu jika mengingat kembali saat dia keluar dari balik pintu ini dengan mengomel.
Kutarik nafas dalam dan kemudian kutekan bel yang terdapat di depanku.
Ting... Tong...
Kutunggu sebentar dan kutekan lagi bel kamar itu. Lagi-lagi tidak ada sahutan, persis seperti waktu itu.
"Ice-kun! Kau di dalam!?" seruku, namun tetap tak ada sahutan. Apa mungkin dia sedang tidur ya?
Saking herannya akhirnya kucoba untuk memutar kenop pintu tersebut.
Tidak dikunci, dan dengan mudahnya pintu itu kudorong ke arah dalam. Kemudian kucondongkan sedikit tubuhku untuk mengintip ke dalam.
Gelap.
Tidak kelihatan apa-apa selain lorong panjang kamar apartemen tersebut.
Karena rasa penasaranku yang terlalu tinggi, dengan perlahan akhirnya kumasuki lah kamar apartemen milik mentor ku itu. Maafkan aku Ice kalau tidak sopan memasuki rumahmu sembarangan.
Satu langkah, dua langkah kuteruskan, dan tanpa sadar aku sudah masuk semakin jauh ke dalam kamar apartemen itu. Tempat ini begitu sunyi sampai aku bisa mendengar suara langkah kaki-kakiku setiap kali menginjak lantai kayu di sepanjang lorong tersebut.
Hingga aku sampai di suatu ruangan yang cukup luas. Aku tidak yakin ini ruangan apa, tempat ini cukup remang karena tirai berwarna gelap yang digunakan untuk menutup pintu kaca ke arah beranda.
Tunggu, pintu kaca ke arah beranda?
Berarti ini ruang tengah ya? Aku menyadarinya karena posisi ruangan di apartemen kami itu seragam.
Ughh... disini gelap sekali, aku tidak bisa lihat apa-apa. Kenapa tengah hari bolong begini tirainya ditutup sih?
Dengan agak sebal akhirnya kuhampiri pintu kaca itu dan kusibak kain yang menutupinya lebar-lebar hingga cahaya dari luar bisa masuk dan memenuhi seisi ruangan.
Aku pun menoleh ke belakang dan hampir dibuat kena serangan jantung saat melihat isi ruangan itu, secara refleks tubuhku pun mundur hingga menabrak pintu kaca di belakangku.
Isinya hancur seperti kapal pecah. Baju-baju kotor berhamburan di mana-mana tercampur dengan baju bersih yang masih bisa dipakai. Sisa-sisa wadah bekas makanan maupun minuman juga berserakan di lantai.
"Kemalingan? Tidak, angin ribut!" saking kagetnya komentar itu pun keluar dari mulutku. Butuh beberapa saat untukku menenangkan diri dan mengingat tujuan awalku kesini. "Oh iya, Ice-kun. Ice-kun, kau dimana!?" lanjutku menyeru dengan panik.
Ayolah, dengan keadaan seperti tempat ini ditambah Ice yang(katanya)sedang sakit, siapa yang tidak akan panik?
"Ne-Nee-san..."
Tiba-tiba ada suara yang terdengar dan asalnya dari ruangan ini. Aku bisa mendengar desahan Ice, tapi dimana dia?
Mataku pun mulai menelusuri seisi ruangan itu untuk mencari sumber dari pemilik suara.
Hingga tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak-gerak dari bawah selimut di sudut ruangan itu. 'Sesuatu' itu pun menyembulkan kepalanya yang tertutupi hoddie keluar. "To-Tolong tutup tirainya" katanya.
Kuperhatikan sosok itu lekat-lekat tengah menengadahkan wajahnya dan mengintip kepadaku "Ice-kun? Sedang apa kau disana? Dan kenapa kau memakai hoodie di dalam rumah?" tanyaku langsung to the point.
"Itu... Aku tidak bisa menjelaskannya. P-Pokoknya tutup tirainya..." pintanya padaku.
"Akan kututup kalau kau jelaskan semuanya!" dan kubalas dia dengan sedikit gertakan.
Dari sudut sana mentorku itu nampak menggembungkan pipinya dan berpikir. "Baiklah, tapi tutup dulu tirainya" katanya. Kelihatannya dia sepakat denganku.
Dan aku pun sepakat dengannya. Tirai gelap yang sudah kubuka tadi kugeser kembali seperti semula, ruangan ini pun kembali gelap. Sementara di belakangku, kudengar suara selimut tadi bergeser dan kenop lampu yang ditekan, sekarang ruangan menjadi terang karena cahaya lampu bohlam. Pasti Ice yang melakukannya.
Saat aku berbalik anak itu sudah duduk di tengah ruangan dengan bersimpuh, aku pun menghampirnya dan menyamankan diri dengan posisi yang sama.
"Tapi jangan ketawa ya?" itulah pesannya, aku pun hanya mengangguk mengiyakan. Tangannya sedikit gemetaran, perlahan tapi pasti Ice menurunkan tudung jaketnya ke belakang.
Aku sampai dibuat melongo saat melihat apa yang terjadi pada Ice. Kurasa ini sudah hampir cukup menjelaskan semuanya.
Telinganya berubah menjadi kuping kucing.
Dan seluruh rambutnya...
Memutih.
Persis seperti orang yang mengidap *sindrom Marie Antoinette.
*Normal pov
Saat ini Ice tengah menolehkan pandangannya ke arah lain dengan wajah tertunduk, sepertinya dia malu menunjukkan ini kepada Yaya. Kupingnya tak henti-hentinya bergerak-gerak ketika angin yang mungkin berasal dari ventilasi udara meniup bulu-bulu halus yang begitu sensitif di dalam telinganya.
Yaya serasa hampir tak kuasa menahan tawa akibat gemas dengan telinga kucing itu. Tapi sayang tidak boleh.
"Ehem..." gadis itu pun berdeham setelah sedikit bisa menenangkan diri. "Kenapa? Bukannya hal ini sudah biasa?" ujarnya.
"Bukan itu... Masalahnya rambutku jadi putih lagi. Memang sih ini warna rambutku yang asli, tapi karena kelihatan aneh makanya kuubah. Dulu pernah kucoba berbagai cara untuk mengganti warnanya, tapi pada akhirnya semua gagal dan satu-satunya cara hanya tinggal pakai sihir. Dan kebetulan kemarin aku kehabisan mana karena menggunakan terlalu banyak kekuatan, dan ujungnya sihir yang kupakai untuk mengubah warna rambutku juga terpakai" jelas Ice panjang lebar.
Yaya sepertinya mengerti, jadi inilah penyebab Ice memiliki sehelai rambut bewarna putih di kepalanya. Kelihatannya hanya itu yang tidak bisa diubah warnanya olehnya.
"Menurutku rambutmu bagus kok, aku menyukai." kata Yaya memuji Ice (dengan tulus).
Ice menoleh dan menatap Yaya dengan cengo. "J-Jangan memujiku hanya untuk membuatku merasa baikan..." Hingga berganti menjadi sebuah ekspresi malu.
"Tidak, sungguh. Rambut perakmu itu bagus sekali ditambah warna kulitmu yang putih, kau jadi terlihat seperti orang luar negeri" tambah gadis itu dengan bersemangat.
"Kalau begitu... terima kasih." pujian Yaya mengenai hal yang tidak disukainya membuat senyum tipis Ice mengembang. Bukankah itu artinya dia sedikit spesial dimata gadis itu. "Tapi kenapa Nee-san ada disini?" dan sekarang ia pun bertanya balik.
"Eh? Aku kesini karena Blaze-kun bilang kau sedang sakit" jawab Yaya spontan.
"Si kunyuk itu..." gerutu Ice pelan hingga Yaya tidak bisa dengar apa yang diucapkannya. "Nggak kok, aku baik-baik saja. Hanya... aku tidak bisa keluar karena wujudku ini. Aku cuma harus istirahat untuk memulihkan energiku lagi"
"Kau sudah makan?" tanya Yaya tiba-tiba.
Ice menggeleng. "Belum" jawabnya pendek.
"Kalau begitu ijinkan aku beres-beres rumahmu dan memasak. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena sering dibantu." kata Yaya sambil mencoba berdiri dan menawarkan bantuan. "Selagi aku melakukan semuanya, kau bisa mandi dulu" lanjutnya dan entah mengapa seketika Ice itu mematung di tempat.
"Ma-Mandi?" gumam Ice gugup.
"Kenapa?"
"Begini... Nee-san, saat wujudku jadi begini aku jadi lemah–bukan, benci–tidak suka dengan air" Ice mencoba membuat alasan dengan ekspresi nervous sambil menyatukan kedua telunjuknya.
Yaya melirik padanya dengan tatapan dingin dan mencekam hingga Ice pun bergidik ngeri melihatnya. "Tidak suka bukan berarti tidak bisa kan? Kau kotor sekali lho Ice" kata gadis itu dengan senyum manis.
Ice pun hanya mampu dibuat menyengir gaje melihat ekspresi Yaya itu.
"Ke kamar mandi... Sekarang." Ucap Yaya masih menahan diri untuk tidak menyeret paksa anak itu. Sayangnya bocah itu masih tidak bergerak dari tempatnya duduk, dan itu sukses membuat Yaya semakin geram. Dengan kesal ditariknya hoddie jaket milik Ice dan diseretnya bocah itu ke kamar mandi, persis seperti cara induk kucing membawa anaknya dengan menggigit area belakang lehernya.
"Nee-san jangan! Aku tidak suka air!" Tentu saja Ice menolak disuruh mandi. Tubuhnya tak henti-hentinya mengeliat mencoba untuk kabur, tapi entah kenapa kali ini lebih lemah daripada Yaya. Mungkin karena kehabisan kekuatan membuat kemampuan fisiknya jadi hanya setingkat dengan manusia.
Yaya kembali mendelik padanya. "Kau mau mandi pakai air hangat? Atau kusuruh ikut Ice bucket challenge?" ancam gadis berhijab itu.
Ice pun kembali dibuat memucat oleh ancaman Yaya dan tahu-tahu mereka sudah berada di depan kamar mandi. Segera gadis itu pun melemparkannya ke dalam sana dan mengunci pintunya.
Dengan agak panik bocah bermata aquamarine itupun menggedor-gedor pintu tersebut. "Nee-san! Maafkan aku kalau kau ada dendam! Aku akan lakukan apapun asalkan kali ini saja nggak mandi!"
"Tidak, pokoknya kau harus mandi! Dengar, begitu aku selesai dengan yang disini dan ku cek lagi badanmu itu sudah harus basah! Paham!" sahut Yaya dengan nada membentak yang begitu keras sampai rasanya suara bentakkan Halilintar kalah dibuatnya.
Apa karena sudah terlalu akrab sekarang gadis ini juga ketularan galaknya vampir bermata ruby itu?
Tidak ada sahutan dari dalam, kelihatannya sekarang anak itu sudah menyerah dan menurut saja saat disuruh mandi.
Yaya berbalik dan mendengus puas. "Anak aneh. Namanya Ice tapi tidak suka air." gumamnya berkomentar.
Gadis itu pun kembali menatap sejenak ruang tengah yang isinya begitu acak-acakan tersebut. Setelahnya ia pun mengangguk mantap dan menggulung lengan bajunya. "Saatnya beres-beres!" ucapnya dengan begitu bersemangat.
~MA~
Jadi Yaya si gadis yang terlalu rajin ini pun langsung merapikan rumah si bocah bermanik aquamarine tersebut.
Ia mulai dari membereskan sampah-sampah makanan dan minuman, benda-benda itu dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dipisah berdasarkan jenisnya. Baju-baju yang kotor dimasukkan ke dalam mesin cuci, yang bersih dilipat dan digantung dalam lemari. Lemari yang dipakai disini adalah lemari tradisional yang berada di belakang dinding.
Saat Yaya akan memasukkan baju ke dalam lemari, ia pun dibuat terkejut dengan selimut dan bantal yang ada ada di dalamnya. Terbuka lebar dan disusun seperti kasur untuk tidur. "Ice-kun! Kau tidur dalam lemari!" serunya pada bocah yang masih berada di dalam kamar mandi tersebut.
"Uhh... Um... Kucing tidak perlu banyak tempat untuk tidur, kami bisa tidur dimana saja. Secara pribadi aku dan Nii-san suka tidur dalam lemari. Hehehe..." sahut bocah itu.
Yaya memutar matanya, tidak heran disini ia tidak melihat kasur atau tempat tidur apapun. "Kalau begitu kau taruh baju dimana?" tanyanya lagi.
Kita lewati jawaban dari Ice tentang dimana ia dan Kakaknya meletakkan baju-baju mereka dan lanjut pada adegan beres-beres Yaya. Saat ini si gadis tengah menjemur pakaian kotor yang sudah dicucinya beberapa saat yang lalu di beranda. Syukurlah hari ini cuacanya cerah jadi pasti jemuran cepat kering.
Setelah semua beres dan tidak ada yang dikerjakan lagi, Yaya pun sontak mendudukkan dirinya di sofa untuk beristirahat sejenak, mengelap keringatnya dan mengatur nafasnya kembali sambil menikmati angin sejuk dari arah beranda.
Oh iya, rasanya dia sudah lama sekali mengurung Ice di kamar mandi, mungkin dia sudah selesai sekarang.
Jadi gadis itu pun segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Ia mengetuk pelan pintu kamar mandi tersebut. "Ice-kun... Kau sudah selesai?" tanyanya.
Tidak ada jawaban.
"Ice-kun?" Yaya pun segera memutar kunci dan membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Gyaa!" Sontak Ice yang ada di dalam berteriak kaget saat pintu itu terbuka. Pasalnya saat ini dia hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawah(tau kan maksudnya?)sampai lututnya. "N-Nee-san..." gumamnya agak nervous.
Yaya pun memperhatikan anak itu dari ujung kepala sampai kaki, sudah lama di kamar mandi tapi tidak basah sedikitpun. "Kau sudah selesai belum sih?" selidik gadis itu.
"S-Sudah! Kok..." jawab Ice.
"Mana? Kok badanmu gak basah?" protes Yaya sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Ini." Ice menyodorkan kedua lengannya ke depan dan memperlihatkan 'ujung-ujung kuku'nya yang mengkilap terkena air.
Yaya sampai menepuk jidatnya dan membuang nafas dengan lesu. Hanya ujung kuku yang basah? Yang benar saja. Jadi waktu dari dia membereskan sampah sampai menjemur pakaian selama satu jam lebih hanya untuk itu.
"Ugh... Kesini kau!" dengan sedikit emosi, tanpa pikir panjang Yaya langsung menarik lengan Ice dan menyeret anak itu ke dekat pancuran air. Ia mendudukkan bocah itu ke atas bangku kecil dan menyalakan air di shower untuk memandikan bocah tersebut. "Aku terpaksa harus memandikanmu" katanya mengerutu.
"Nee-san, stop, jangan! Meow!" tentu saja Ice menolak dimandikan. Ia coba menyingkirkan shower itu jauh-jauh, tapi sayang Yaya memegangi lengannya dengan kencang.
"Diam coba, airnya kan hangat!" perintah gadis itu selagi menyiramkan air di kepala bocah itu. Ice pun hanya pasrah dan menurut dengan kata-kata gadis itu. Toh sudah terlanjur, apa boleh buat.
Begitu dirasa sudah cukup, Yaya pun segera mengembalikan pancuran air itu ke tempat asalnya. Ia berbalik mengambil untuk shampo.
Namun, tiba-tiba berhenti dan terdiam saat akan meletakan cairan tersebut ke tangannya. Keringat dingin tampak mengucur keluar dari dahinya dan wajahnya pun nampak memucat. "B-Bagaimana ini? Aku bilang akan memandikannya tanpa berpikir. Aku... tidak sedang melakukan pelecehan kan? Memang dulu aku sering memandikan Totoitoy, tapi itu waktu masih SD" batinnya panik.
"Nee-san?"
"Iyaaa!" Yaya hampir dibuat melompat di tempat karena panggilan Ice. Padahal Ice memanggilnya pelan, Yaya nya saja parno sendiri. "T-Tunggu sebentar ya?" katanya tersenyum nervous pada Ice dan berbalik pada botol shampo itu lagi.
Ice sampai cengo dan mengerjap kebingungan melihat tingkah gadis yang lebih tua tiga tahun darinya tersebut. Tapi ia memilih tidak menanyakannya.
Sekarang cairan shampo sudah di tangan, langsung saja gadis itu menempelkan tangannya di kepala Ice yang tertutupi oleh helaian rambut berwarna silver dan menggosok-gosokannya hingga berbusa.
Sementara Ice hanya diam menikmati pijatan lembut pada kulit kepalanya. Ia menurunkan kedua kupingnya agar busa shampo nya tidak memasuki lubang telinga.
Eh? Tidak kusangka... Rambutnya Ice halus sekali. Tadinya ku kira karena warnanya putih ini bakalan keras.
Woah... Busanya sampai tidak kelihatan karena tersamarkan warna rambutnya.
Mirip sekali seperti...
Bunga es dalam freezer.
Selagi pikiran Yaya melayang kesana kemari entah kenapa rasanya kepala Ice semakin lama semakin menunduk. Gadis itu maju beberapa senti untuk mencari tahu dan menemukan bocah itu tengah terantuk-antuk, mungkin sudah hampir masuk alam mimpi sekarang
"Ice-kun?" tegurnya.
Dan membuat bocah itu tersentak dengan mata setengah tertutup. "Ugh... Maaf Nee-san aku ketiduran." Katanya sembari mengusap matanya.
Yaya hanya tersenyum, dia paham jika Ice pasti kelelahan karena kehabisan energi. "Tidak apa-apa... Ayo biar ku bilas dulu. Tutup matamu"
Ice pun menutup matanya rapat-rapat selagi Yaya membilas shampo yang menempel kepalanya. Dan seolah sudah tahu, tanpa disuruh dia juga menutup kedua telinganya agar tidak kemasukan air.
"Sudah. Sekarang badan ya?" gumam Yaya berkacak pinggang. Yang berikutnya dilakukan oleh gadis itu adalah mengambil spon basah dan melumurinya dengan sabun cair. Setelahnya spon itu digosokkannya ke punggung Ice.
"Nee-san... bisa agak keras sedikit menggosoknya?" pinta bocah itu.
"Eh? Emang nanti kau nggak sakit apa?" sahut Yaya.
"Habis nggak berasa..." keluh Ice datar.
"Uh... Kalau sakit bilang ya?" Sesuai pesanan gadis itu pun mengerahkan tenaga lebih banyak dalam menggerakan spon berbusa tersebut, naik-turun, bolak-balik, dan zig-zag.
"Tidak akan." Sahut Ice datar tanpa membalikkan tubuhnya. Sesaat kemudian tatapannya tampak melembut. "Punggungku memang jarang digosok, Terima kasih ya Nee-san." Lanjutnya berterima kasih pada gadis berhijab pink khas tersebut.
Dan sukses membuat Yaya memblushing. "I-Iya. S-Sekarang... lengannya"
Ini bukan menjijikan, aku hanya sedang merawatnya.
Aku baru sadar. Ice-kun itu... walau tubuhnya kecil ternyata badannya cukup kekar.
Kulitnya putih sekali. Bahkan rasanya aku pun kalah.
Saat Yaya sedang menggosok bagian depan tiba-tiba saja.
'srutt...'
Spon yang dipakainya meluncur jatuh karena licin dan alhasil tangan Yaya pun tidak sengaja menyentuh dada bidang bocah tersebut. Secara refleks ia pun menarik lengannya. "MAAF!" serunya dengan wajah memerah.
Ice yang diteriaki pun ikut memblushing. "Sudahlah, biar kuteruskan sendiri. Nee-san keluar saja..." ucapnya sembari membuang muka.
"Eh? Memangnya kau bisa?"
"Aku sudah terlanjur basah apa boleh buat..."
Tanpa menoleh pada Yaya yang tengah menatapnya khawatir sambil berjalan keluar dari kamar mandi, Ice langsung memungut spon yang tak sengaja dijatuhkan oleh gadis itu dan meneruskan menggosok tubuhnya.
Sementara di luar Yaya nampak berdiri di depan wastafel untuk membilas tangannya yang penuh sabun lalu pergi menuju ruang tengah dan duduk di sofa sambil menenangkan jantungnya yang sejak tadi berdetak tidak karuan.
Sementara itu lagi di dalam kamar mandi, Ice nampak sedang duduk di dalam bak mandi setelah membilas tubuhnya yang penuh sabun. Seolah tidak peduli tubuhnya terendam (ya, dia memang sudah terlanjur basah) ia bahkan sampai mencelupkan setengah wajahnya ke dalam air dan sedang mencoba menenangkan diri juga.
~MA~
Beberapa saat kemudian Ice pun keluar dari kamar mandi dengan penampilan lebih segar. Saat ini dia memakai kaos putih berlengan panjang dan celana biru. Sebuah handuk tergantung di lehernya, bekas dia mengeringkan rambut.
Sementara itu Yaya nampak tengah menunggu di depan meja makan dengan hidangan lengkap untuknya. Tak lupa dengan senyuman lembut di bibirnya. "Ayo makan dulu. Kau belum makan kan?" tawarnya.
Ice pun mendekati sisi penuh makanan tersebut. "Nee-san bahkan sampai repot-repot menyiapkan semuanya" dan duduk dengan manis disana.
"Makan juga penting untuk memulihkan energi." Jawab Yaya.
Bocah yang saat ini memiliki rambut perak tersebut pada dasarnya memang penurut sejak kecil, tanpa menolak ia pun mengambil sumpit dan mangkuk berisi nasi di atas meja itu. Namun, saat hendak mengambil lauk tiba-tiba saja ekspresinya datar berubah jadi keheranan. "Makarel...?" gumamnya pelan.
Yaya yang menangkap reaksi bocah itu pun segera menjelaskannya. "Ah~ Tadi saat kau masih di kamar mandi ada orang yang datang mengantarkan itu. Katanya itu... makanan kesukaanmu..." jelasnya.
Sontak Ice pun membelalak saat mendengarnya. Ia langsung menatap Yaya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apa orang itu... adalah seorang wanita berambut hitam?" tanyanya.
"Iya, rambutnya panjang sekali. Dan dia memakai kimono lengkap" jawab Yaya.
"Matanya... Apa warna matanya?" selidik Ice lagi, masih belum puas dengan jawaban Yaya.
Yaya menempelkan telunjuknnya ke dagu, mencoba mengingat-ingat lagi penampilan wanita itu. "Hmm... Aku tidak terlalu memperhatikan warna matanya. Tapi mungkin hijau ya? Pokoknya dia cantik sekali, dan sekilas... dia mirip denganmu."
Setelahnya Ice nampak syok mendengar jawaban Yaya yang cukup terkesan bertele-tele itu.
"Kenapa?" tanya Yaya balik.
Anak itu menggeleng. "Bukan apa-apa..." dan kembali duduk manis sambil menikmati santapan makan siangnya tersebut tanpa bicara sepatah kata pun.
.
Beberapa saat kemudian semua makanan yang ada di atas meja pun ludes tak tersisa dimakan oleh bocah itu. Ice pun membuang nafas lega karena perutnya sudah terisi. "Terima kasih makanannya..." ucapnya.
Dan lagi-lagi aksi diam pun dilakukan olehnya. Hingga tiba-tiba ada tangan lentik yang menyentuh kepalanya dan mengelusnya dengan lembut. "Huh?" Ia pun sontak menoleh pada si pemilik tangan itu. Dan mendapati Yaya tengah tersenyum padanya dengan tatapan kosong.
"Ne–Nee-san?" tegurnya.
Seketika itu juga Yaya pun dibuat tersadar dan dengan segera ia pun menarik lengannya. "Ma–Maaf Ice-kun! Habis kau kelihatan menggemaskan, aku jadi tidak tahan ingin mengelusmu!" jelas gadis itu panik.
"Tidak apa-apa... Boleh kok..."
"Eh?" Yaya pun dibuat melongo seketika. Siapa sangka Ice mengijinkannya menyentuh dan mengelus kepalanya. "B–Beneran?" tanya gadis itu hanya untuk memastikan sekali lagi.
Ice mengangguk dan menundukkan kepalanya ke arah Yaya.
Dengan sedikit ragu Yaya pun kembali menempelkan telapak tangannya ke atas kepala bocah itu, perlahan ia mulai menggerakan tangannya dengan lembut diantara dua kuping kucing milik Ice.
Ice menutup mata, wajahnya begitu damai. Ia sedikit mendesah karena merasakan nyamannya pijatan kepala yang diberikan Yaya. Pelan-pelan dia mulai larut dengan instingnya sebagai seekor kucing rumahan dan setelahnya tanpa sadar dia pun menjatuhkan kepalanya ke atas paha gadis itu. "Krrr..." tidak lupa dengan sebuah dengkuran.
"Aaarrgh! Ice!?" Yaya menjerit panik ketika bocah mengeliat dan menggosokkan kepala di pahanya hingga menghasilkan sensasi geli.
"Heh?" Sontak Ice pun tersadar dan menemukan dirinya tengah berbaring dengan paha Yaya sebagai bantalan. "Maaf Nee-san... ini memang kebiasaan kucing. Tolong jangan memukul atau menendangku..." ujarnya memohon.
"Ya sudah tidak apa-apa" Bukannya marah Yaya justru malah tersenyum memaklumi. Bahkan ia mengijinkan Ice tiduran lebih lama di pahanya sambil terus mengelus kepalanya. Saking lamanya sampai-sampai bocah berwajah teduh itu tertidur.
~MA~
Sejak dulu... Aku tidak suka dengan rambutku.
Warnanya putih seperti uban dan memenuhi keseluruhan kepalaku.
Karenanya aku jadi sering diejek oleh yang lain...
.
"Hei, kau ini anak baru itu ya!? Sedang apa kau disini?"
"Coba lihat rambutnya, aneh banget! Itu semua uban?"
"Masih kecil udah ubanan. Jangan-jangan dia sebenarnya sudah mati dan gak sadar kalau sudah jadi hantu"
"Hii... Seram. Dia ini sudah pasti Setan. Setan Putih"
10 tahun yang lalu ketika Ice dan Kakaknya pertama kali pindah ke Apartemen Shinwa. Saat itu Ice hanya ingin pergi ke taman untuk bermain dengan anak-anak lain. Tapi yang terjadi anak-anak tetangga itu justru mengejek warna rambutnya.
Lalu apa yang dilakukan Ice? Dia hanya diam dan menangis ketika mereka bertiga mentertawakannya.
"Oi kalian! Hentikan!"
Hingga tiba-tiba datanglah seorang bocah bermata merah yang seusia dengannya. Pandangan mereka semua pun teralih pada bocah kecil yang saat ini sedang memasang raut wajah penuh amarah.
"Siapa kau? Mengganggu saja"
"Mau sok jadi pahlawan"
Kata dua anak dalam barisan itu meledek padanya.
"Aku Ryuuketsu Blaze. Dan dia itu temanku tahu! Beraninya kalian mengejek temanku karena warna rambutnya! " seru Blaze menunjuk dirinya sendiri dengan jempol.
Salah satu dari anak-anak itu membuang muka dengan tatapan merendahkan "Ceh... Kupikir siapa. Rupanya si Setan merah dari SD Utara"
"Setan merah dan Setan putih. Cocok sekali!"
Spontan mereka pun mentertawakan keduanya dan membuat amarah Blaze semakin menjadi-jadi.
"Apa kata kalian!"
Yang terjadi selanjutnya Blaze pun memukuli ketiganya seorang diri hingga babak belur.
Bisa ditebak, anak-anak itu melapor pada orang tuanya.
Hingga Kakak dari kedua bocah yang masing-masing bermata merah dan biru itu pun harus datang.
Selagi Halilintar memegangi Blaze dan meminta maaf pada ibu dari ketiga anak tersebut karena adiknya sudah memukuli anak-anak mereka. Di belakang Ice nampak masih terisak sambil berpagut pada Kakaknya yang saat itu berumur 11 tahun dan juga tengah memeluknya saat ini.
"Dasar, punya adik tidak diawasi. Seenaknya saja memukuli anak-anak kita" sambil mendengus kasar dan menyumpah-nyumpah akhirnya para ibu dari anak-anak itu pun berbalik dan meninggalkan mereka berempat di taman tersebut.
Halilintar mendelik tajam pada Blaze dan sukses membuat anak itu bergidik ngeri. "Ni–Nii-chan..." kata Blaze membuang muka dengan wajah bersalah.
Tapi siapa sangka bukannnya marah dan memaki adiknya, si Kakak justru membuang nafas dengan lesu. Mungkin ia merasa yang dilakukan adiknya benar tapi caranya salah. "Ayo pulang" setelahnya ia pun mengajak si adik untuk kembali ke apartemen.
Blaze hanya menggangguk pasrah dan menurut saja saat Kakaknya menarik tangannya.
"Taufan kami duluan ya?" tegur anak bermanik ruby yang saat itu masih berumur 8 tahun kepada kakaknya Ice.
Anak kelas 5 SD itu membalas dengan sebuah anggukan sambil terus mencoba menenangkan adiknya. "Ais..." hingga akhirnya ia pun menegur si adik.
Yang dipanggil pun mengangkat wajahnya dan menatap si Kakak dengan mata yang masih sembab bekas menangis.
Taufan pun berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan si adik. Sambil menyentuh kepala Ice dengan lembut dia berkata. "Coba cerita ke Kakak, mereka bilang apa tentangmu"
Dengan terisak-isak Ice pun menjelaskan pada Kakaknya. "Mereka...hiks... bilang rambutku aneh... dan menyebutku setan putih...hiks... Kenapa... Kenapa rambutku putih seperti Papa? Kenapa gak hitam saja seperti *Nii dan Mama?"
Mendengar penjelasan Ice, si Kakak pun mendengus lesu dan tersenyum "Ais dengar... Kakak suka dengan rambutmu. Warna rambutmu itu membuatmu punya ciri khas sendiri, karena itulah kau jadi spesial. Lagipula warna ini kau dapatkan dari Papa kan? Tapi kalau kau tetap tidak suka... Ya sudah, Kakak akan membantumu mengubahnya"
~MA~
Sementara di luar, hari sudah semakin sore. Yaya masih menunggui Ice yang tertidur, karena kesemutan akhirnya secara diam-diam dia pun mengganti sandaran kepala anak itu dengan bantal yang ada di dekatnya namun masih belum berhenti mengelus kepala bocah itu.
Hingga beberapa saat kemudian, sesuatu terjadi pada penampilan Ice dan membuat Yaya terdiam. Kuping kucingnya perlahan mengecil dan berubah ke bentuk telinga manusia, lalu rambutnya kembali menghitam seperti semula tanda jika energinya sudah banyak yang pulih kembali.
Perlahan kedua mata itu terbuka dan menampilkan manik berwarna biru sebiru lautan.
Dan Ice pun akhirnya terbangun dari mimpinya.
TBC
*Sindrom Marie Antoinette : Masuk dalam jenis varianAlopecia Areata atau kerontokan rambut secara autoimmune. Ini merupakan penyakit yang mempengaruhi kemampuan menjaga pigmen rambut, sehingga hanya warna putih yang tersisa. Biasanya penyebabnya karena stress, sedih dan takut yang berlebihan. Kenapa diberi nama seperti itu? Karena kasusnya pertama kali ditemukan pada ratu Perancis bernama Marie Antoinette yang mengalami stress berat sebelum dirinya akan dieksekusi mati pada Revolusi Perancis tahun 1799, yang menyebabkan rambutnya memutih hanya dalam semalam. (siapa yang nggak bakal stress, sudah banyak dosa mau dihukum mati lagi wkwk).
*Nii : Kakak laki-laki.
.
