"Chanyeol.. chanyeol.. chanyeol.." mulut gadis mungil itu sama sekali tidak bisa diam selama kurang lebih hampir tiga puluh menit selama perjalanan mereka berdua dari taman di dekat Parc de la Ciutadella menuju kediaman Glorfindel yang ada di Kota Barcelona, dan Chanyeol harus menyiapkan kekebalan di pendengarannya dan juga punggung belakangnya yang masih menopang badan mungil milik Baekhyun.

"Chanyeol.." Baekhyun mengulang lagi panggilannya, kini kepalanya sedikit dimajukan mendekat kearah wajah Chanyeol, bahkan ia merebahkan kepalanya pada bahu pria itu supaya lebih jelas menatap wajah kekasihnya dari samping.

"Kenapa memanggil namaku terus hm." Chanyeol membenarkan posisi Baekhyun, mengangkat sedikit kedua kakinya dan mengeratkan pelukan badannya.

"Aku suka memanggil namamu. Chan-yeol." Baekhyun mengejakkan dan memanggil nama Chanyeol dengan suara imutnya. "Oh, namamu dan namaku bila dipanggil bersamaan terdengar cocok, Baekhyun, Chanyeol. Baek-hyun, Chan-yeol."

Chanyeol terlihat berpikir dan mendengar suara Baekhyun yang menjelaskan kesamaan dari kedua nama mereka.

"Benar kan? Baek-hyun-Chan-yeol. Chan-yeol-Baek-hyun."

"Hm, terdengar pas." Chanyeol menyetujui, keadaan hati dan pikirannya kembali diuji ketika kedua tangan Baekhyun melingkar di lehernya, mendekatkan bagian depan dada gadis itu mengenai punggung Chanyeol yang jelas kini ia bisa merasakan dua gundukkan yang kenyal bergesekkan dengan punggung belakangnya dan yang paling membuatnya pusing adalah gadis itu terus bergerak naik turun seakan-akan Chanyeol adalah superman yang akan membawanya terbang.

"Chanyeol apa aku berat?" Baru saja badannya diam bergerak kini mulutnya kembali bersuara.

"Anak kecil sepertimu sangat ringan Baek." Chanyeol menahan senyumannya karena ia yakin disamping wajahnya Baekhyun sudah menggerutu dan mengomel karena kembali disebut anak kecil.

"Aku berat! Aku sudah besar!"

Chanyeol hanya mengganggukkan kepala dan masih menahan senyumnya, hingga dalam sekian detik berubah menjadi matanya yang membelak lebar ketika tangan Baekhyun menarik wajahnya untuk menoleh kesamping dan mendaratkan ciuman pada bibir Chanyeol.

Baekhyun yang memulai, Baekhyun yang menggerakkan bibir tipisnya dengan kaku untuk melumat bibir Chanyeol dan menyesap bagian bawahnya, pergerakan mulutnya meskipun kaku tapi tetap berusaha untuk menjadi pihak dominan yang meluapkan gairah dalam berciuman.

"Anak kecil tidak bisa melakukan itu Chanyeol." Baekhyun berbisik dengan suara lembutnya , suaranya sedikit menggoda dan menatap Chanyeol dengan senyuman ciri khasnya, sedangkan pria yang berada didekatnya masih memandang dalam diam dan memperhatikan setiap detail bagaimana wajah manis Baekhyun yang berada terlalu dekat dengannya dan juga menahan segala gairahnya yang kembali mulai bergejolak.

Chanyeol menurunkan badan Baekhyun dan mendapatkan tatapan membingungkan langsung dari gadis itu.

"Ke-kenapa?"

Chanyeol tidak menjawab, ia menggenggam tangan Baekhyun dan membawa gadis itu untuk berhadapan dengannya. Kedua tangan Baekhyun dieratkan pada leher dan bahunya sedangkan tangannya sendiri melingkar pada pingganng gadis itu. Posisi mereka saling berhadapan dengan jarak cukup dekat, Baekhyun yang masih bingung dan belum memahami apa yang Chanyeol lakukan mengedipkan matanya berkali-kali dengan cepat dengan wajahnya yang mendongak menatap Chanyeol.

"Tutup matamu." suara Chanyeol baru terdengar ketika suasana disekitar mereka sunyi dan tidak ada siapapun berada didekat mereka berdua.

"U-un-untuk?"

Chanyeol yang memperhatikan wajah bingung Baekhyun bukannya menjawab melainkan memasang senyuman manis di wajahnya, tangannya bergerak lembut menutup kelopak mata Baekhyun dan gadis dihadapannya menuruti patuh meskipun bibirnya masih bergerak mengomentari segala hal dan pada akhirnya Chanyeol harus membungkamnya dengan sebuah ciuman.

"Jadi aku harus menciummu dulu supaya mau menutup mata?" Chanyeol berbisik disela ciuman mereka dan Baekhyun tersenyum dengan anggukkan kepalanya sedangkan matanya masih terpejam dengan rapat.

"Aku anak nakal."

"Anak kecil yang nakal harus dihukum dengan sebuah ciuman hum?" bisikkan Chanyeol disela-sela ciuman mereka membuat Baekhyun terkekeh dengan kedua tangannya menarik leher Chanyeol untuk kembali menciumnya.

"Aku sangat nakal." Baekhyun semakin menarik leher Chanyeol, memohon kepada kekasihnya untuk kembali memberikan sentuhan pada bibirnya.

Kedua bibir mereka kembali saling bersentuhan, pergerakan yang diawali dengan sebuah lumatan lembuh tapi dalam seketika bergerak penuh gairah karena si mungil kini sudah bisa mengikuti pergerakan dominan Chanyeol. Mereka bergerak seirama, menuntut dan membalas, melumat dan menggigit, bergerak ke kanan dan ke kiri merasakan betapa hangat dan panasnya sebuah ciuman. Kedua mata yang terpejam, sedangkan tangan mereka saling melekat pada masing-masing guna menarik dan mendekatkan tubuh keduanya hingga tanpa jarak sedikitpun.

"Buka matamu."

Chanyeol menyudahi ciuman mereka, membelai lembut pipi halus Baekhyun, sedangkan Baekhyun masi mengernyitkan alisnya dan pelan-pelan membuka kelopak matanya dan langsung dihadapkan dengan wajah Chanyeol tengah memandanginya dengan sebuah senyuman—dan kedua matanya yang menatap lembut kearah Baekhyun.

"Chan—warna matamu.." Baekhyun mengarahkan tangannya mendekat ke kedua mata Chanyeol yang sebelumnya berwarna merah dan biru kini kedua mata pria itu berwarna biru muda dan keterkejutan Baekhyun semakin bertambah ketika menyadari bahwa kedua kakinya tidaklah menapak pada dataran tanah di Kota Barcelona, melainkan pada kedua kaki Chanyeol yang kini melayang bersamanya diatas langit Kota tersebut. Baekhyun masih mengangga akan pemandangan dan hal yang terjadi padanya, bukan hanya dirinya melayang bersama Chanyeol yang kini sudah berubah wujud menampilkan bagaimana sosok Malaikat yang ada padanya.

"Ingat, aku adalah Keturunan Malaikat dan Dewi, Baek." Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya guna memberikan Baekhyun ketenangan karena gadis itu masih meremas kuat lengan Chanyeol dan belum memindahkan pandangannya dari wajah Chanyeol. Belum lagi kaki kecil Baekhyun yang bergetar karena ketakutannya semakin bertambah ketika menengok kebawah jarak dririnya dan Kota Barcelona cukup jauh.

"Aku merasa sedikit takut tapi pemandangannya indah." Baekhyun akhirnya bersuara setelah ia berdiam diri memeluk Chanyeol dengan mata kecilnya sesekali melihat pemandangan dibawahnya.

"Kenapa harus takut? Ada aku bukan." Chanyeol menjawab, tangannya mengusap punggung Baekhyun, membawa badan mereka berdua sedikit berputar diudara dan semakin terbang tinggi menyusul batas langit bumi.

Baekhyun berteriak kencang tapi setelahnya ia tertawa merasakan bagaimana adrenalin pada dirinya terpicu hanya setipa Chanyeol membawa badannya naik cepat dan kemudian melepas turun seakan-akan mereka berdua kini tengah terjun bebas tanpa harus memikirkan rasa sakit ketika mendarat di tanah.

"Aaaaaaaaaaaahhhhhhhh aku terbang!" Teriakan Baekhyun meluapkan rasa bahagiannya ketika kedua tangannya melebar, wajahnya dihadapkan pada kelap kelip lampu Kota Barcelona dan badannya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan Chanyeol yang berada di belakangnya, memeluk pinggang ramping Baekhyun. Chanyeol menahan senyumnya melihat tingkah Baekhyun yang benar-benar terlihat masih seperti bocah 5 tahun, bagaimana mudahnya menghilangkan ketakutan pada gadis itu hanya dengan menunjukkan beberapa trik yang bisa dilakukan diudara.

"Chanyeol chanyeol, kesana-kesana!" Tangan Baekhyun menunjuk sebuah monumen berbentuk kotak yang terletak di sudut Kota, cahaya pada monument tersebut cukup terang dan itu menarik Baekhyun untuk bisa melihatnya lebih jelas dari atas.

"Kau ingin kesana?"

"Uhm! Kesana-kesana!" kaki Baekhyun bergerak seakan-akan tengah berenang dan tangannya tetap menunjuk ke tempat itu.

"Baiklah, bersiap karena aku akan terbang dengan cepat."

"YEAY!"

Dan Chanyeol benar-benar membawa badan mereka berdua terbang dengan kecepatan yang tidak pelan hingga mereka benar-benar berada diatas monument tersebut hanya dalam hitungan detik. Baekhyun kembali bersorak mengucapkan kata-kata indah mengenai semua pemandangan yang ia lihat, melupakan bahwa mereka bisa saja dilihat oleh para manusia dibawah sana.

"Ahh.. aku seharusnya membawa kameramu." Baekhyun kembali memeluk Chanyeol karena kini pososi mereka sudah saling berhadapan kembali tapi tetap berada diatas langit.

"Kita bisa kembali lagi besok, dan membawa kameranya."

"Bolehkan? Besok kita masih di Kota ini?"

Chanyeol mengangguk. "Aku meminta dua hari untuk bersamamu, dan Kris mengijinkan."

"Kris mengijinkan? Tumben sekali." Baekhyun memandangi Chanyeol tidak percaya. "Biasanya dia pasti akan menanyakkan dengan jelas kemana aku akan pergi berapa lama dan dengan siapa." bibir gadis itu sudah mengerucut menunjukkan kekesalan, meskipun seharusnya ia tidak perlu merasa kesal karena pada kenyataannya mereka sudah mendapatkan ijin berkencan.

Chanyeol yang memperhatikan mengubah posisinya berada di belakang Baekhyun dan memeluk gadis itu, dagunya ia topangkan pada bahu Baekhyun sedangkan kedua tangannya memeluk erat badan Baekhyun dan bersimpul di perut gadis itu.

"Dia mengijinkan, karena aku yang mengatakan langsung padanya. Kau bersamaku dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena aku berjanji menjagamu dengan nyawaku sendiri." Sebuah kecupan Chanyeol berikan pada pipi Baekhyun, tanpa Chanyeol sadari gadis itu tersenyum malu dengan sebuah debaran hebat di jantungnya serta sebuah desiran aneh pada badannya merasakan bagaimana nafas hangat yang dilakukan Chanyeol terasa dekat di bahu dan lehernya.


-Loves of Tales-


Acara kencan mereka pada hari pertama sudah berakhir tepat pada bunyi lonceng yang terdengar di Kota Barcelona—menandakan bahwa hari sudah berganti dan tepat pada aturan waktu yang kembali pada angka nol. Pemandangan di Kota itu pun terlihat semakin lenggang dan tanpa keramaian seperti jam-jam sebelumnya, kali ini hanya menyisakkan segelintir orang dan beberapa pasangan yang berjalan bersama. Cahaya pada Kota itu pun perlahan-lahan mulai dimatikan, menyisakan kegelapan menunjukkan bahwa Kota itu akan menjemput jam istirahat hingga beberapa jam kedepan.

Berbeda dengan yang terjadi pada kediaman Glorfindel yang masih terdapat ruangan menyala terang di salah satu ruangan pribadi milik Putera Mahkota Pertama keluarga tersebut, Chanyeol. Setelah sudah beberapa jam lamanya dirinya dan Baekhyun menghabiskan waktu bersama berkeliling sebagian tempat di Barcelona dan juga menikmati pemandangan dari atas langit tinggi Kota tersebut, nyatanya sang kekasih mungilnya belum berniat beristirahat dan kini berada bersama dengan Chanyeol didalam ruangannya karena ingin melihat secara langsung bagaimana Chanyeol mencetakkan foto-foto yang ada pada kamera yang sempat Baekhyun gunakkan untuk mengambil beberapa gambar pemandangan waktu itu.

"Seperti ini?"

"Iya. Pelan-pelan, pindahkan pada tempat ke dua." Chanyeol berada di balik punggung Baekhyun dan mengarahkan gadis itu bagaimana cara mencetak foto dengan peralatan manual.

"Apa gambarnya benar-benar terlihat? Kalau gagal bagaimana?" Baekhyun menggoyang-goyangkan baki yang baru saja ia celupkan kertas yang akan tercetak fotonya namun mulutnya tidak berhenti menanyakkan hal kekhawatiran yang sama. Dan Chanyeol selalu mendengarkannya dan memeluk gadis itu dari belakang, menggunakkan bibirnya untuk menghentikkan gerak mulut Baekhyun karena bibirnya-lah yang kini bergerak pada bibir Baekhyun.

"Umm."

Mendengar suara desahan dalam dari Baekhyun, Chanyeol menghentikkan gerakan bibirnya dan sedikit menjauh tapi nyatanya Baekhyun meremas kaos yang Chanyeol gunakkan dan menariknya untuk tetap berada didekatnya.

"Kenapa berhenti?" Baekhyun merajuk dan memandangi Chanyeol dengan dua mata puppy eyes-nya yang entah kenapa terlihat lebih menggoda dibandingkan menggemaskan untuk saat ini.

Hal yang tidak diketahui Baekhyun bahwa semua hal yang dilakukan oleh gadis itu benar-benar membuat Chanyeol keringat dingin dan berusaha mati-matian menahan segala hasrat dan gairah yang ada pada dirinya.

"F-fotomu harus diselesaikan segera." Chanyeol berpindah tempat dan pada akhirnya memilih melanjutkan proses pencetakkan filmnya, tanpa menoleh kearah Baekhyun yang merenggut kesal, bibirnya sudah mengerucut dan matanya sudah berbinar menahan untuk tidak menitikkan air mata hanya karena kekesalan yang ia pendam.

Langkah kakinya bergerak mengarah keluar dari ruangan Chanyeol tanpa ada satu kata pun yang diucapkan kearah kekasihnya yang tidak menyadari kepergiannya. Baekhyun melangkah keluar menuju kamar Chanyeol—yang sekarang menjadi kamarnya selama ia berada disini—dengan sengaja menutup pintu dengan kasar tapi tidak menguncinya karena memang ia berharap Chanyeol akan menyusulnya dan membujuk dirinya supaya tidak lagi merasa kesal.

"Ish kenapa dia tidak peka sih!" Baekhyun menghentak-hentakkan kakinya setelah berbaring di atas ranjang milik Chanyeol, badannya berguling ke kanan dan ke kiri dan memukul-mukul bantal dan guling yang ada disekitarnya.

"Apa aku yang harus mengatakkannya lebih dulu?"

"Tidak-tidak. Luhan mengatakan bahwa pria yang harus memulainya lebih dulu."

Baekhyun masih bermonolog sendiri dan mulai berpikir kembali hingga pada akhirnya ia beranjak bangun dari ranjangnya dan berlari kecil menuju kamar mandi dengan terburu-buru.

"Semoga ini berhasil." Baekhyun melihat pandangan dirinya sebentar pada cermin besar di kamar mandi tersebut sebelum memutuskan untuk membuka pakaiannya dan masuk pada ruangan shower.

Sementara dirinya melakukan kesibukkan dengan berbagai rencana yang ada didalam pikirannya, lain halnya Chanyeol yang masih berdiam diri didalam ruangan pribadinya dan masih berusaha sekuat tenaga menyelesaikan beberapa cetakkan foto yang sebenarnya adalah pengalihan atas segala pikiran sedikit mesum di otaknya sedari tadi karena berdekatan dengan Baekhyun.

"Aaaaahhh! Baekhyun kau membuaTku gila!" Chanyeol melepaskan capitan di kertas fotonya dengan kasar dan memilih merebahkan badannya diatas sofa, memejamkan matanya dan mengatur nafas serta pikirannya agar bisa tenang karena jelas-jelas gairah dalam dirinya sudah sulit untuk ditahan terbukti dengan bagian pangkal pahanya yang terlihat sedikit menggembung. Chanyeol merasa geram dan membalikkan badannya menjadi posisi menelungkup, menghentakkan kedua kakinya dan juga kepalanya kearah sofa—

"KYAAAAA!"

Tanpa memperdulikan keadaannya yang menahan segela gejolak dan celana menggembung, Chanyeol beranjak bangun dan berlari menuju kamarnya yang menjadi pusat suara teriakan dari Baekhyun.

"Baekhyun!" Chanyeol berteriak memanggil nama gadis itu ketika masuk kedalam kamarnya dan pada akhirnya ia mendengar teriakan Baekhyun kembali dari arah kamarnya dan segera melesak masuk kedalam ruangan tersebut tanpa memperdulikan bahwa bisa saja gadis itu tengah bertelanjang badan seperti yang ia lihat saat ini.

Ya, Baekhyun tidak mengenakkan satu helai benang pada badannya dan tengah meringis menahan hujaman air shower yang berasal dari beberapa lubang shower disekelilingnya dan ia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya mematikannya. Chanyeol langsung membuka pintu ruangan shower dan memutar salah satu kran airnya dengan cepat, memeluk badan Baekhyun keluar dari tempat shower.

"Kau tidak apa-apa?" Chanyeol masih belum menyadari keadaan mereka berdua yang kini sama-sama dalam keadaan basah kuyup namun yang berbeda adalah Baekhyun sama sekali tidak mengenakkan apapun, sementara Chanyeol masih tertupi dengan kaos polos berwarna putih dan juga celana jeans hitam yang ia kenakkan.

Baekhyun mengangguk pelan dan meringkih memeluk kedua lengannya menahan hawa dingin serta rasa malunya karena Chanyeol memandangi dirinya dalam keadaan telanjang.

"Aku akan mengambilkan handuk." Chanyeol mengalihkan pandangannya lagi, berlari keluar ruangan kamar mandi dengan tergesa-gesa meskipun setelah tiba pada lemari pakaiannya ia menbuang nafas dengan cepat dan mengusak wajahnya dengan kasar. Jelas-jelas ia melihat secara langsung bagaimana Baekhyun memiliki tubuh yang sangat indah, kulit putihnya yang halus dan lembut dan juga bagian dadanya yang benar-benar terlihat sungguh menggoda untuk ia sentuh belum lagi bagian intim gadis itu yang sempat terlihat oleh matanya walau hanya dalam hitungan detik.

Chanyeol membawa dua handuk tebal dan menyusul Baekhyun kedalam ruangan kamar mandi dan beruntungnya gadis itu sudah duduk diatas closet dengan kedua lengannya yang masih saling memeluk. Tanpa ada kalimat yang keluar dari keduanya, Chanyeol memakaikan handuk yang ia bawa dan membungkus badan mungil Baekhyun dengan baik, tak lupa ia mengusapkan handuk yang lainnya pada rambut Baekhyun dan membungkus dengan rapi hingga handuk itu terlilit seperti sebuah kerucut es krim.

"Keringkan badanmu, aku akan mengambilkan beberapa pakaian." Chanyeol memaksakan senyuman hangatnya meskipun dalam dirinya tengah bergejolak hebat dan bahkan hampir menyerah melihat Baekhyun yang menganggukkan kepala dengan cepat dan senyuman merekahnya. Chanyeol mengusap sebentar lengan Baekhyun dan menggandeng gadis itu bersama-sama keluar dari dalam ruangan kamar mandi, mengarahkan Baekhyun untuk duduk pada ranjangnya sementara dirinya kembali masuk kedalam ruangan pakaiannya. Mencari baju untuk kekasihnya dan juga dirinya karena bukan hanya Baekhyun yang basah tersiram air, Chanyeol juga.

"Aku rasa kau bisa mengenakkan kaos milikku lebih dulu." Chanyeol keluar dari ruangan pakaiannya, pria itu sudah mengenakkan kaos hitam dan celana jeans yang lainnya dan terlihat ia membawa pakain hitam lainnya untuk Baekhyun.

Chanyeol memberikan kaos itu pada Baekhyun dan gadis itu beranjak dari duduknya, berdiri dihadapan Chanyeol. "Pakaikan bajunya." Baekhyun memohon, salah satu tangannya menahan lipatan handuk pada tubuhnya sementara tangan yang lain menarik-narik kaos Chanyeol. Dan keadaan pria itu tidak baik-baik saja melihat Baekhyun yang bergerak menggoyangkan badannya dengan keadaan hanya ditutupi sebuah handuk sebatas paha atasnya dan juga masih terlihat bagian tubuhnya yang basah karena cipratan air sebelumnya.

"A-aku harus mencari baju milik Yoora untuk kau pakai." Chanyeol memejamkan matanya, meninggalkan kaos yang ia pegang sedari tadi di atas ranjang sementara kakinya hendak melangkah menjauh dari hadapan Baekhyun namun pegangan tangan Baekhyun cukup kuat bahkan saat dirinya sudah melangkah satu langkah tidak cukup kuat melepaskan pegangan Baekhyun.

"Tidakkah kau ingin melakukannya?"

Baekhyun menunduk tidak menatap kearah Chanyeol tapi pegangannya semakin kuat.

"Setidaknya biarkan aku merasakannya sebelum kita berdua sama-sama dibunuh saat gagal melawan Hades."

Chanyeol menoleh dengan cepat ketika mendengar apa yang Baekhyun katakan, dia ingat dan sangat yakin bahwa kalimat yang dikatakan sama dengan mimpi yang pernah ia impikan, dan dengan jelas ia mengingat bahwa akhir dari mimpi mereka seterusnya adalah kematian di tangan Hades.

Chanyeol menarik tangan Baekhyun hingga gadis itu memekik kaget karena sesaat setelah badannya berhadapan dengan Chanyeol, pria itu langsung memberikan sebuah ciuman kasar. Bahkan badannya diangkat oleh pria itu dan diletakkan diatas ranjang, Chanyeol membuka kasar handuk yang Baekhyun kenakkan dan tidak ada satu pun penolakan dari gadis yang sudah berada dibawahnya.

"Jangan menahanku." Chanyeol berucap dan masih menciumi setiap inchi bagian badan Baekhyun, dan melepaskan satu-satu pakaiannya hingga tidak ada sedikitpun penghalang bagia kulit mereka untuk saling bersentuhan.

"Aku akan membunuhmu bila kau bertanya dan masih belum yakin melakukannya." Baekhyun menjawab dengan nafasnya yang mulai susah diatur karena Chanyeol tengah menyesapi setiap bagian tubuhnya dan kini pria itu mulai bergerak turun menuju bagian intimnya.

"Aku akan menghukummu bila kau menjadi nakal saat ini." Chanyeol menyahut dengan tenangnya sementara Baekhyun sedikit menahan tawanya.

"Aku akan menjadi nakal kalau kau tidak—akh." Baekhyun mendongakkan kepalanya keatas sedangkan kedua tangannya mencengkram kuat selimut diatas ranjang Chanyeol ketika bibir Chanyeol menciumi bagian dibawah sana dan mulai memasuki jari-jarinya kedalam lubang miliknya.

"Akh! Chanyeol."

Dan rasa sakitnya sama seperti yang ia alami dalam mimpi.

Badannya menggeliat mengikuti pergerakan jari Chanyeol yang bergerak keluar masuk hingga tubuhnya ikut naik turun, sementara bibir Chanyeol mengulum salah satu buah dadanya dengan penuh nafsu seakan-akan miliknya akan dirampas oleh orang lain bila ia tidak langsung mengulumnya dengan terburu-buru.

Chanyeol merangkak naik untuk mencari bibir Baekhyun yang tengah terbuka untuk membantunya bernafas, bibir mereka kembali saling melumat dengan kedua lidah masing-masing yang saling beradu didalam mulut.

"Apapun kenikmatan yang kalian lakukan, hentikan saat ini juga."

Chanyeol menghentikkan ciumannya dan membiarkan Baekhyun yang melumat bibir bawahnya sementara dirinya mencoba memikirkan suara Yoora yang terdengar didalam pikirannya.

"Jangan salahkan aku, kau terlalu lama bertindak."

"Yoora?" Chanyeol mengernyitkan alisnya dan membuat Baekhyun turut menatap bingung kearah Chanyeol yang terdiam.

"Yoora?" Baekhyun ikut bersuara bingung mendengar Chanyeol menyebut nama kakaknya sedangkan dirinya tengah bertelanjang bulat dibawah pria itu.

"Astaga Chanyeol! Hilangkan kemesumanmu sekarang karena Jongin dan Kris baru saja pergi dari bandara untuk menjemputmu dan Baekhyun. Ayah memanggil—

"Chanyeol!" suara Kris terdengar.

"Oh shit!" Chanyeol membelakkan matanya sedangkan Baekhyun masih bingung dengan keadaan yang terjadi, apalagi saat melihat Chanyeol mengenakkan kembali pakaian yang sudah ia lepas dan segera memakaikan kaos yang ia pilihkan untuk Baekhyun sebelumya kepada gadis itu yang masih termenung bingung.

"Kenapa?"

"Kakakmu datang." Chanyeol menyahut dengan cepat.

"WOOO?!" Baekhyun beranjak bangun dan berlari menuju kamar mandi sementara Chanyeol memilih keluar kamar dan menyusul Kris dan Jongin sebelum mereka berdua melihat keadaan kamarnya.

"Ckckck, untuk urusan kemesuman mungkin otakmu lebih unggul dibandingkan Sehun dan Jongin, tapi untuk mempraktekan secara langsung, kurasa Sehun dan Jongin akan lebih baik." Yoora menjelaskan dengan nada sedikit mengejek sementara Chanyeol berlari menuruni tangga menyusul Kris dan Jongin yang sudah sedari tadi memanggil namanya.

"Kau sama sekali tidak membantu Yoora!"

"Aku memang tidak ingin membantumu untuk berhubungan badan, itu bukan—

"Bukan itu! Sudah lupakan! Kenapa dengan Ayah?"

"Oh, mereka akan kembali ke Eowyn, dan tugas kalian para Putera Mahkota mengawal kepulangannya."

Chanyeol berhenti sebentar dan menghela nafas dengan gelengan kepalanya tidak percaya bahwa hanya karena kepulangan ayahnya kegiatannay dengan Baekhyun harus berhenti,

"Aku benar-benar akan membawanya camping di Riverna setelah ini."

"Ya, itu ide yang lebih baik." Yoora tertawa bahagia sedangkan Chanyeol merasa kesal mendengarnya. "Ingat, berhati-hatilah dan cepat pulang! Karena kepulanganmu kali ini akan ada kejutan yang mungkin disiapkan Baekhyun."

"Hah? Apa maksudmu?"

"Sampai bertemu di Eowyn!"

.

-Loves of Tales-