-Loves of Tales-


Semenjak pertarungan terakhir yang terjadi di Eowyn beberapa waktu lalu dimana cukup sangat mengejutkan segala penghuni Istana, kini penjagaan oleh Prajurit Istana semakin ditingkatkan terutama saat para Putera Mahkota tidak berada di Istana. Hampir 24 jam Para Prajurit bersiaga, dengan lokasi penjagaan hampir mengelilingi setiap bagian Istana. Gerbang Utama, pintu utama, dan disemua tempat akses pintu masuk kedalam Istana. Tidak hanya itu, Menara-menara pengawas yang biasanya diisi oleh satu atau dua penjaga kini dipenuhi empat orang yang siap dengan busur panah dan pedang mereka, dan tentu saja setiap Tower Menara kini ditutup untuk siapapun kecuali Para Parjurit.

Bila sebelumnya Para Puteri Mahkota menepati dua kamar yang berbeda, dikarenakan kepergian para Putera Mahkota Glorfindel dan Lynkestis, mereka menepati satu kamar berukuran lebih luas yang berada tepat disamping kamar Puter Mahkota. Dua prajurit berjaga didepan pintu kamar mereka dan tentu saja Putera Mahkota Jongdae dan Sehun ikut bersiaga dari balik kamar mereka.

Langkah hentakkan sepatu yang tengah berlari jelas terdengar memecah keheningan didalam ruang Istana saat ini. Puteri Mahkota Lynkestis, Baekhyun—yang baru saja tiba setelah penjemputannya dari Dunia Luar.

"Luhaaann! Kyungsoo!" Teriakannya mulai terdengar ketika ia membuka pintu kamarnnya. "E-oh? Kenapa kosong." Baekhyun melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mereka sebelumnya dan mendapati tidak ada satu orang pun berada disana. Dengan cepat ia kembali menggerakkan kakinya untuk berlari turun menuju halaman Istana—mengabaikan panggilan para Pelayan dan Petugas Istana yang hendak memberitahukan keberadaan Para Puteri Mahkota yang lainnya.

Untungnya salah satu dari mereka melangkah cepat menuju Kamar Puteri Mahkota saat ini, sedangkan yang lainnya masih mengikuti gerak lari Baekhyun yang mana cukup cepat mengingat ukuran badannya yang kecil dan lebar kaki yang seharusnya tidak berlari secepat itu.

"Kemana dia sekarang?" Luhan lebih dulu menyahut ketika pelayan itu baru selesai bicara.

"Sepertinya Tuan Puteri mencari di sekitar halaman Istana—

"Aku akan menyusulnya, terima kasih informasinya." Yoora memotong ketika ia baru saja akan masuk kedalam kamar. Anggukkan dari pelayan Istana dan juga Luhan ia abaikan karena langkah kakinya ia percepat untuk menemui Puteri Mahkota kesayangan adiknya.

Luhan, Kyungsoo dan Tao kembali saling bercerita satu sama lain sepeninggalan Pelayan Istana, sedangkan Irene yang juga berada didalam kamar hanya bisa duduk diam menyaksikan ketiga Puteri Mahkota itu yang sama sekali tidak mengajak dirinya bicara satu kalimat pun.

"Apa menurutmu kita bisa pindah ke kamar yang lain? Aku tidak mau satu kamar dengannya. Dengan Krystal mungkin aku masih bisa menghadapinya, tapi tidak dengan Irene." Bisikan dari Tao diberi balasan tepukan tangan dari Luhan dan sekaligus mengisyaratkan untuk mengecilkan volume suaranya.

Sementara suasana kikuk dan cukup dingin menyelimuti ruangan kamar baru dari Puteri Mahkota, Yoora dengan sekuat tenaga mengerahkan tenaganya bersemangat menyusul Baekhyun yang semoga saja masih berada di halaman Istana.

"... ih! Cepat beritahu dimana kekasihmu itu!" Suara Baekhyun mulai terdengar dan Yoora sudah tentu mengetahui dengan siapa Baekhyun tengah berbicara.

"Cari sendiri sana!"

"ISH DASAR PELIT! AKU AKAN ADUKAN PADA CHANYEOL KALAU ADIKNYA TIDAK MAU MEMBANTU!"

"Uhhh~ sekarang kau mengadunya pada Kakakku hm?" Sehun menggoda dengan tangannya yang begitu gemas meraup kedua pipi Baekhyun dan diputar-putar hingga membuat Bakehyun kini sulit berbicara dan hanya memperlihatkan sorot matanya yang tentu menjelaskan bahwa gadis itu tengah marah. Minseok, Jongdae dan juga Krystal yang berada didekat mereka tidak ada yang melarang dan membantu untuk melerai Sehun dan Baekhyun hingga saat Yoora muncul, Sehun melepaskan raupan tangannya dan membiarkan Baekhyun menginjak kaki dan memukul lengannya—bahkan untuk mengeluh sakit atas perbuatan Baekhyu, Sehun harus menahan diri untuk tidak terlihat lemah dihadapan Yoora.

"Aku akan pastikan Chanyeol akan mengetahui kejadian ini dengan cukup jelas."

"Yaaa Noona! Aku hanya mengerjai Baekhyun—mmm." Sehun menahan rasa sakitnya lagi karena jari-jari lentik Baekhyun mencubit perutnya dengan cukup keras.

"Yoora-Na! Sehun tidak mau memberitahuku dimana Luhan!" setelah sebuah julurna lidah ditunjukkan pada Sehun, Baekhyun menyusul kearah Luhan dengan sebuah senyuma ciri khas anak kecil yang menggemaskan.

"Mereka ada dikamar—

"Aku kesana!" Belum selesai Yoora menjelaskan, Baekhyun sudah berlari kencang kembali menuju Istana.

"MEREKA ADA DI RUANGAN SEBELAH KAMAR PUTERA MAHKOTA!" Yoora berteriak memberi tahu dan hanya dibalas dengan lambaian tangan oleh Baekhyun dimana pada akhirnya badan mungil itu tersungkur dengan tanah halaman Istana tapi dengan sebuah senyuman lebar ia bangkir berdiri lagi dan berlari lebih kencang kedalam Istana.

"Dia pasti malu." Sehun menahan tawanya sedangkan Jongdae dan Minseok sudah tertawa kencang tepat saat Baekhyun tersungkut ke tanah.

"Ku rasa tidak. Percayalah, dia akan terlihat sangat mengagumkan nantinya." Yoora menjelaskan meskipun dirinya juga tengah menahan rasa tawa.

"Ya.. ya.. hanya kau yang bisa melihat masa depannya." Sehun memeluk Yoora dari belakang serta menggerak-gerakkan badannya hingga kakaknya merasa risih dan pada akhirnya mereka saling mengejek satu sama lain. Yoora tak henti-hentinya mengatai Sehun karena tingkahnya masih kadang terlihat seperti anak kecil –sama seperti Baekhyun—dan Sehun merasa tidak terima karena disamakan dengan Baekhyun yang bagi dirinya lebih terlihat seperti anak kecil sungguhan dibandingkan dirinya. "Jelas-jelas aku sudah terlihat dewasa." Sehun membanggakan dirinya.

"Ya, tentu saja dewasa dengan sudah berani memerawani kakakku." Pukulan pada kepala Sehun dilakukan oleh Jongdae yang melayangkan protest mengingat apa yang telah dilakukan Sehun kepada kakaknya.

"Ya, aku kira Chanyeol atau Jongin uhmm.. atau bisa saja Kris yang akan menikmati Luhan lebih dulu. Ternyata.." Minseok memperhatikan Sehun dari atas kebawah dengan tatapan curiga bahkan terlihat seakan-akan kedua matanya tengah menelanjangi Sehun saat itu juga.

"O-oh? Kau sudah tahu?" Yoora membelakkan matanya terkejut bahwa berita dan kejadian itu ternyata sudah diketahui oleh yang lainnya.

"Ck." Sehun meringis kesal. "Tentu saja ia sudah tahu."

"Kau yang menceritakannya?" Yoora bertanya lagi.

"Bukan! Aku memergoki mereka saat berciuman di balkon Tower, setelah itu mereka berdua menjelaskan semuanya hingga saat di kamar—

"OH—STOP! Tidak perlu dijelaskan panjang lebar dan luas hingga mendetail." Sahutan Minseok terhenti oleh Jongdae.

"Ya, kita sudah bisa membayangkannya." Krystal ikut mengomentari dan terlihat pandangannya seakan-akan menelanjangi badan Sehun dari atas kepala hingga ujung kakinya.

"Hindari pikiran kotormu sebelum kekasihku menghempaskan dirimu keluar dari Istana hingga ke dunia luar." Kekehan Sehun jelas mengejek kearah Krystal diikuti dengan suara gelegar tawa dari yang lainnya, terutama Jongdae dan Sehun. Suara tawa mereka berdua cukup keras bahkan tak memperdulikan raut wajah Krystal yang sudah memerah menahan rasa kesal.

"Sebaiknya kita masuk kedalam." Minseok menggandeng Krystal guna memintanya untuk ikut melangkah masuk kedalam Istana.

"Cuaca mulai tidak menentu." Yoora menatap gumpalan awan gelap yang berada jauh di sisi barat Istana. Kalimat yang diucapkan membuat Sehun dan Jongdae terdiam dan memandangi pemandangan yang sama dengan Yoora.

"Itu benar karena cuaca 'kan? Bukan karena kawanan mereka?"

"Aku berharap seperti itu."

"Kalian masuklah, segera berkumpul di kamar." Jongdae memerintahkan Minseok dan Krystal, mereka berdua mengangguk bersama dan melangkah cepat masuk seperti yang diperintahkan.

"Kau juga harus masuk kakakku sayang." Sehun berbicara dengan nada yang menggoda, bermaksud mengalihkan pandangan Yoora yang mulai terlihat serius menatap kearah kumpulan awan hitam tersebut. "Kami akan berjaga disini, tidak usah takut." Bisikan dan usapan tangan Sehun menyentuh lengan Yoora hingga pada akhirnya Sehun menuntun Yoora yang masih terdiam kaku untuk masuk kedalam Istana.

"Chanyeol..


-Loves of Tales-


Olympus menyambut kedatangan dua Putera Mahkota Glorfindel dan Lynkestis, Chanyeol dan Kris melangkahkan kakinya dengan mantap menuju ruangan selamat datang yang dimana menjadi tempat berkumpulnya para Keturunan dan juga pengawal Dunia Malaikat saat berkunjung di dunia suci Para Dewa dan Dewi. Kris dan Chanyeol sama-sama mengenakkan setelan Kerajaan mereka yang senada berwarna putih demi menyamakan dengan suasana di Olympus yang selalu berwarna putih dan gold.

Makanan kecil dan beberapa santapan sudah tersedia di meja kecil dalam ruangan itu, tapi pandangan kedua pria itu tidak tertuju pada meja dan makanan tersebut. Mata mereka tertuju dengan salah satu foto gadis yang berada tepat ditengah dinding ruangan, foto tersebut berukuran cukup besar—hampir sama dengan foto Dewa Zeus dan para Dewa lainnya yang berada disekelilingnya.

"Bukankah itu—

"Baekhyun."

Chanyeol menyahuti dan langkahnya pelan-pelan mendekat kearah foto itu, pandangannya masih tertuju kearah senyum dan mata bulan sabit yang terbentuk disana. Rambut panjang wanita itu berwarna silver namun mendekati warna abu-abu, simbol pada keningnya terlihat bercahaya bahkan sinarnya mengalahkan mahkota yang ia kenakkan.

"Aku tahu adikku sangat cantik, setidaknya jangan kau pandangi seperti itu terkesan kau ingin menciumnya saat ini juga." Kris merusak suasana. Menghampiri Chanyeol sambil memberikan tepukan, tak hanya itu Kris kini berada diantara pandangan mata Chanyeol dan foto Baekhyun hingga kini punggungnya Kris menjadi pandangan bagi Chanyeol.

"Tunggu. Kenapa fotomu tidak ada? Lalu fotoku juga tidak ada." Kris berbalik.

"Mungkin kita tidak dianggap oleh para Dewa, lagipula—

"Phoenix adalah Raja Terhormat Ketiga Dunia, Yang Mulia!"

Kris dan Chanyeol terdiam, pandangan mereka terarah pada salah satu Dewi muda yang masuk kedalam ruangan dimana sedari tadi mereka menunggu. Kedua Putera Mahkota itu menatap bingung ketika memandang sosok tersebut. Badannya yang mungil, dengan bentuk tubuh yang proporsional. Wajahnya masih terlihat seperti anak kecil berumur 7-10 tahun, mata bulatnya berkedip teratur dengan iris berwarna biru langit, senyuman dari bibir tipis mungilnya terlihat manis karena pipinya ikut merona dan bentuk matanya seperti bulan sabit ketika dirinya tersenym lebar.

"Halo! Perkenalkan, aku Luna. Aku adalah Puteri—um Keturunan Dewi—Bulan." Gadis yang mengaku bernama Luna membungkukkan badan, memberikan pernghormatan kepada Keturunan Kerajaan. "Foto Yang Mulia ikut terpajang didalam ruangan ini. Hanya saja letakknya itu.. oh dimana ya.. ah! tepat berseberangan dengan arah pandangan Ma—ah! Yang Mulia Cahaya ." Luna menunjukkan arah dimana ternyata terdapat foto Chanyeol dalam wujud Phoenix. Rambutnya berwarna merah, dengan kedua bola matanya yang memperlihatkan warna berbeda, tatapannya tajam terarah lurus kearah foto Baekhyun dengan senyuman yang—

"Senyummu sangat menggoda." Kris berkomentar setelah melihat foto Chanyeol dengan suara tawa –nya yang terdengar mengejek Chanyeol.

"Tampan bukan?" Chanyeol dan Kris beradu pandang mendengar apa yang Luna katakan. "Dewa Zeus mengatakan, ia hanya bisa mengabadikan kedua foto ini sebelum Yang Mulia terlibat peperangan puluhan tahun yang lalu, mereka mengatakan kalian akan kembali dan bisa mengalahkan Hades serta dunianya di lain waktu, mungkin kehidupan kali ini atau um.. entahlah." Luna menambahkan penjelasan dan memperlihatkan beberapa ukiran-ukiran pada dinding ruangan yang ternyata bergerak ketika tangan Luna menyentunya, seakan-akan relief itu tengah menceritakan sedikit cerita dari perang besar yang terjadi saat itu.

"Jadi reinkarnasi itu benar-benar terjadi?" Kris berdiri mematung dan Luna mengangguk sebagai jawaban.

"Hanya Pa—mm maksudku Phoenix dan Elayne yang bisa mengalahkan Hades, Dewa Zeus dan Pencipta tidak mungkin membuat sebuah kekuatan biasa saja dan tidak bisa mengalahkan Hades, hanya saja semua itu butuh waktu untuk pemegang kekuatan api abadi dan cahaya abadi memiliki kekuatan sepenuhnya. Saat perang terakhir yang terjadi, Kekuatan Cahaya belum terbentuk sempurna karena suatu alasan, untuk itu saat ini kami sangat berharap pemegang kekuatan Cahaya terlahir kembali dan memiliki kekuatan sempurna. Walaupun mereka akan kembali berperang melawan Hades, harapan kami kali ini Hades bisa dimusnahkan."

Luna terdiam setelah menyelesaikan rentetan kalimat sebagai penjelasan atas pertanyaan Kris, pandangannya melihat kearah Chanyeol yang berdiri di tempat yang sama seperti sebelumnya dengan keheningan, wajahnya terlihat tersenyum manis menatap Putera Mahkot Glorfindel itu.

"Yang kau sebut Elayne, apakah maksudmu—

"Pemegang kekuatan Cahaya Abadi, atau saat ini ia memiliki nama Puteri Mahkota Lynkestis, ah.. atau aku boleh memanggil namanya.. Baekhyun?" Luna menyebutkan dengan suara mantap namun nada riang menggemaskan masih tersirat dalam pada vocalnya.

"A-apa Dewa tahu bagaimana menyempurnakan kedua kekuatan itu?" Kris kembali menjadi sang interogasi.

Luna tersenyum disertai sebuah gelengkan kepala.

"Ah, sayang sekali." Anggukkan kepala Kris lakukan dan senyuman yang sangat kaku. "Aku kira para Penghuni Olympus tahu bagaimana menyempurnakan—

"Tidak ada yang tahu."

"Bahkan yang menciptakan juga tidak tahu." Luna dan Kris terdiam mendengarkan sahutan Chanyeol yang terkesan jelas pria itu merendahkan Para Dewa dan Sang Pencipta. "Mereka yang membuat sebuah kekuatan dan tidak tahu bagaimana untuk menyempurnakan. Hanya reinkarnasi dan reinkarnasi? Sampai kapan akan berakhir!" Suaranya melengking tinggi di akhir kalimat. Kris bahkan telah menahan tangan Chanyeol yang mulai terkepal keras agar sahabatnya itu masih sadar untuk menahan emosinya.

"Tahan amarahmu Yang Mulia." Sebuah suara lembut terdengar dari arah balik punggung Iris.

"Mama!." Luna bergetar gugup dan membungkukkan badannya memberikan hormat kepada sosok bayangan dengan gaun putih berkilau terang. Rambutnya berwarna silver tergurai ombak panjang hingga kebagian pinggangnya, meskipun terlihat hanya sebuah bayangan halus, Kris bahkan terpesona ketika iris matanya sama-sama beradu pandang dengan sosok tersebut. tatapan matanya begitu lembut berwarna biru muda layaknya warna langit dengan tersirat dengan rasa kebahagian membuat siapapun yang melihat kearahnya akan ikut tersenyum—seperti yang dilakukan oleh Kris. Berbeda dengan Chanyeol yang terpaku memandangi sosok tersebut bahkan lututnya terasa lemas hanya untuk melangkah hingga pada akhirnya ia lunglai jatuh dengan posisi berlutut.

"Apa kehadiranku membuat kalian gugup?" Chanyeol masih terdiam, matanya memandangi dengan jelas sosok tersebut dan dengan air matanya turun membasahi pipi dan membuat pandangannya semakin kabur. Rasa sesak dan kesedihan menyelimuti ruang hatinya ketika sentuhan tangan sosok tersebut membelai rambut Luna seakan-akan ingin menunjukkan rasa sayangnya terhadap seorang anak.

"Dia Dewi Bulan?" Kris berbisik dengan pelan kearah Chanyeol, sedangkan sosok yang tengah ia ajak bicara itu masih terpaku melihat pemandangan sosok yang mereka kira Dewi Bulan dan juga Luna.

"Mama sangat cantik kan?" Luna bersuara membanggakan sosok Mamanya yang berada disampingnya.

"I-iya." Kris yang menjawab dengan gugup.

"Aku tidak secantik adikmu Yang Mulia." Sosok itu menjawab. "Benarkan, Yang Mulia Glorfindel?" Kali ini kalimatnya ditunjukkan kepada Chanyeol yang masih memandangi mereka.

"Jangan menangis Yang Mulia. Seorang Raja tidak boleh menangis, itu yang Papa katakan pada Luna." Kali ini suara Luna yang terdengar lagi. Tapi kalimat itu tidaklah membuat air matanya terhenti, melainkan kembali mengalir lebih deras, tangannya menggenggam keras bagian dadanya dengan yang terasa sesak dan sakit. Raungan yang ia lontarkan bahkan membuat panik Kris yang mengira Chanyeol tengah kerasukkan atau mengalami luka dengan sendirinya.

"Ya-ya.. Chanyeol.. kau kenapa?" Kris ikut berlutut, lengannya menjaga Chanyeol yang hampir tersungkur diatas lantai. "Apa yang terjadi?" ia menanyakkan pada Luna dan Dewi Bulan yang berdiri tak jauh darinya.

"Papa?" Luna mendekat kearah Chanyeol, menempelkan kedua telapak tangannya yang berukuran kecil pada kedua pipi wajah Chanyeol sambil memperlihatkan senyuman manisnya. Chanyeol membelakkan matanya merasakan getaran halus serta kulit dingin milik Luna yang sangat terasa.

"Chanyeol.." suara Baekhyun yang ia rindukkan terdengar memanggil namanya, matanya terpejam merasakan kehangatan dari telapak tangan Luna dan juga pendengarannya masih terngiang-ngiang dengan suara Baekhyun.

Sebuah bayangan kehidupan yang dulu pernah ia jalani terulang dalam pikirannya, bagaimana ia bertemu dengan Baekhyun untuk pertama kalinya hingga waktu dimana mereka berciuman untuk pertama kalinya diatas mobil pada salju pertama, bahkan rekaman ulang saat mereka percintaan mereka lakukan untuk saat pertama hingga pada akhirnya segala rekaman ulang tersebut memperlihatkan ingatan terakhir ketika peperangan melawan Hades berakhir dengan Baekhyun yang lebih dulu terrenggut nyawanya.

"Mamaaaa! Mamaaaaaa! Aku ingin bersama Mammaaa!" Teriakan anak kecil terdengar oleh telinganya. "Papaaaa! Papaaa bangun paa! Papaaa! Papa, bantu Luna untuk membangunkan Mamaaaaa!" kini suara itu berada didekat badannya, wajah manis cantik dan mungil milik Luna berada tepat disamping tubuh Papa-nya. Bahkan dalam detik-detik menjelang roh jiwanya menjauh dari dalam tubuhnya, tangannya masih terangkat hanya untuk mengusap air mata pada Puteri kecilnya.

"Pa-pa?"

"Jangan menangis, Seorang Ratu tidak boleh menangis—sayang." Luna memejamkan matanya dengan gerakan gelengan kepala menjawab seuntaian kalimat yang sangat terasa sulit untuk Chanyeol ucapkan.

"Jangan tinggalkan Luna.. hiks.. Papa.. pa.. papa.." Luna memukul-mukul badan Papa-nya dengan air mata yang semakin mengalir deras, genggaman tangannya pada tangan Papa-nya mulai terlepas secara perlahan ketika hembusan nafas terakhir terlepas dari raganya.

"Luna?" mulut Chanyeol menyebutkan nama Luna diiringi dengan isakan tangisnya.

Jentikan jari dengan cepat terdengar hingga dalam sekejap seluruh ruangan terasa sangat hampa karena pergerakan waktu yang terhenti disekelilingi lingkaran Cahaya terang. Sosok bayangan yang sedari tadi memperhatikan segala yang dilakukan Luna kepada Chanyeol dan tatapan curiga dari Kris yang mengamati seluruh wujudnya berjalan mendekat kearah Luna.

"Luna tidak boleh melakukan itu."

"Oh? Kenapa?"

"Belum waktunya untuk Papa mengetahui kehadiran Luna disini, kita masih harus menunggu lebih lama sayang."

"Tapi Luna sudah rindu." Luna menunduk sedangkan tangannya memeluk badan Chanyeol yang terdiam kaku. "Luna ingin bertemu dengan Papa dan Mama, Luna ingin seperti dulu.."

"Semua sudah berubah sayang.. Luna harus lebih bersabar lagi, dan dirimu tidak boleh ada di Olympus terlalu lama Tuan Puteri. Kita harus kembali ke Langit." Senyuman manis dan suara penuh kasih sayang itu pada akhirnya bisa meluluhkan hati seorang puteri mungil dihadapannya. Luna mulai melepaskan pelukannya dan meraih uluran tangan Mamanya, namun selang hitungan detik ia melepaskannya lagi dan memeluk Chanyeol dengan singkat dan memberikan sebuah ciuman di kedua pipinya barulah ia kembali lagi kearah Mamanya dengan sebuah senyuman bahagia.

"Mama tidak ingin mencium Papa?" Luna mendongakkan kepalanya.

"Haruskah?"

Luna menganggukkan kepala. Sosok bayangan itu membelai wajah Luna dan kemudia melangkah mendekat kearah Chanyeol yang masih terdiam membeku oleh waktu, lebih dulu memainkan surai rambutnya pria itu sebelum pada akhirnya kecupan bibirnya ia hadiahkan pada kening Chanyeol dengan begitu lembut.

"Lakukan yang ada dalam pikiranmu, jangan menahannya lagi. Kau tidak akan mengingat apapun tentang saat ini, karena memang begitulah jalannya." Sosok itu berbisik sebelum akhirnya kembali menggenggam tangan Luna.

"Papa tidak akan mengingat Luna?"

"Untuk saat ini tidak, tapi Luna pasti akan kembali kepada Papa dan Mama. Bersabarlah sayang." Luna menganggukkan kepala meskipun wajahnya terlihat murung dan raut kesedihan jelas nampak di wajahnya.

"Nah, Dewi Bulan. Bisakah kau mengembalikan waktunya kembali?"

Luna tersenyum lebar. Tangannya terangkat keatas dengan semangat dalam sebuah jentikkan singkat jari-jarinya pergerakkan waktu mulai bergerak kembali diiringi dengan menghilang sosok dirinya dan juga bayangan Mama-nya.

Sedangkan pada tubuh Chnayeol dan Kris yang sudah mulai tersadar kembali, masih dalam posisi yang sama tepat sebelum sosok bayangan itu menghentikkan waktunya.

"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol mendorong badan Kris yang berada disamping seakan-akan ingin memberikan pelukan pada badan Chanyeol. Kris ikut mengernyitkan alisnya, mendorong badannya jauh kebelakang untuk menjauhi Chanyeol meskipun ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka bisa dalam posisi tersebut.

"Bukankah tadi kita sedang menikmati foto Baekhyun? Kenapa kau bisa berlutut begini?"

Chanyeol tidak menjawab dan melihat sekeliling ruangan itu, perasaannya mengatakan ada sesuatu hal yang ia lewatkan dan entah kenapa ia juga tidak bisa mengingatnya dengan jelas.


-Loves of Tales-


Sejak Baekhyun masuk kedalam kamar para Puteri Mahkota dan mendapati ketiga temannya—Luhan, Tao dan Kyungsoo—duduk bersama diatas ranjang entah milik siapa. Niatannya untuk langsung mengutarakan ceritanya tertahan karena kedua matanya menangkap sosok Irene terduduk manis diatas ranjangnya dengan sebuah buku yang terbuka diatas paha putihnya yang terlihat karena gaun yang ia gunakkan jelas terlihat sangat minim. Beruntungnya Luhan dengan cepat mengalihkan suasana kikuk itu dengan meminta Baekhyun membersihkan diri karena gaun yang dikenakan jelas tercetak noda tanah dan pasir serta beberapa luka pada siku tangannya.

"Apa Jongin menjatuhkanmu disembarang tempat atau bagaimana hingga kau terlihat seperti habis terjatuh diatas tanah?" suara Kyungsoo yang memutar-mutar badan Baekhyun untuk mencari leatk dimana luka pada badan mungil itu.

"Dia memang jatuh diatas tanah, Kyung." Luhan yang menjawab.

"Aku terlalu bersemangat berlari untuk bertemu kalian dan pada akhirnya terjatuh karena menjawab sahutan dari Yoora-na."

"YAAK! Kenapa kau masih saja ceroboh sih!" kali ini Tao yang melayangkan kekesalannya setelah mendengar penjelasan Baekhyun.

"Ya.. aku kan ingin bercerita." Baekhyun menundukkan kepalanya, bibirnya melengkung kebawah dengan sebagian bibirnya yang terlihat manyun.

"Ingin bercerita keromantisanmu dengan Chanyeol? Kau membuat kami iri tahu!" Kyungsoo mencubit pipi Baekhyun cukup keras hingga jeritan melengkin terdengar. Luhan menahan tangan Kyungsoo dan memukul pelan supaya gadis yang berbadan mungil kedua setelah Baekhyun itu melepaskan cubitannya sedangkan Tao bukannya ikut membantu ia duduk terdiam dan tertawa keras melihat ketiga orang dihadapannya.

Suara tawa dan teriakan dari ketiga Puteri Mahkota berakhir ketika pada akhirnya Luhan terjungkal jatuh karena terdorong badan Kyungsoo—yang dimana ukuran badannya cukup terlihat lebih besar dibandingkan yang lain. Seluruh pakaian mereka jelas basah akan cipratan air yang Tao lemparkan kearah mereka dan keringat menjadi satu, yang berhujung dengan keempat Puteri Mahkota itu berada dalam satu bak mandi untuk berendam bersama diselingi dengan mendengarkan cerita Baekhyun.

"Kau sudah melakukan semuanya seperti yang ku katakan?" Luhan yang bersuara lebih dulu ketika Baekhyun selesai bercerita bahwa hampir saja ia dan Chanyeol melakukan sebuah hubungan yang hanya boleh dilakukan oleh para Puteri Mahkota yang sudah dewasa—kalimat yang Luhan katakana beberapa waktu lalu saat mereka mengetahui bahwa Baekhyun dan Chanyeol sudah menjadi sepasang kekasih.

"Sudah."

"Apa yang kau lakukan?" Luhan bertanya lagi.

"Hm, menggodanya.. bahkan aku sepenuhnya bertelanjang dihadapannya."

"Lalu?"

"Dia hanya menciumku."

"Kasihan sekali. Mungkin badanmu kurang menarik bagi Chanyeol—ah." Satu pukulan pada kepala Tao dilakukan Luhan dengan cukup keras.

"Bukannya kurang menarik, mungkin Chanyeol membayangkan bagaimana menghadapi Kris dan juga Raja Lynkestis bila mengetahui Puteri Mahkota bungsu mereka sudah kalah oleh pesona Calon Raja Glorfindel." Baekhyun, Luhan dan Tao terdiam menyimak kalimat yang diucapkan Kyungsoo, Puteri Mahkota Eowyn itu tidak banyak berkomentar sedari tadi, tapi entah kenapa kali ini ucapannya bisa dianggap masuk akal sebagai alasan Chanyeol menahan dirinya untuk tidak berbuat terlalu jauh.

"Karena waktunya belum yang tepat."

Mereka berempat menoleh kearah sumber suara yang tiba-tiba terdengar, Yoora melangkah masuk dengan santainya diiringi gerakkan tangan melepas satu persatu bagian helai pakaian yang ia kenakkan dan masuk kedalam bath tub bergabung dengan keempat orang lainnya.

"Ya! Yoora-na ini tidak akan muat!" Teriakan dari Luhan memprotest kehadiran Yoora di tempat yang sama dengannya, ditambah keadaan bath tub yang sebenarnya tidak muat untuk menampung dengan jumlah 5 orang seperti saat ini.

"Geser sedikit!" Yoora mendorong badan Luhan.

"Ya! pahaku sakit."

"A-aaahh."

Suara rengekkan manja Baekhyun pada akhirnya membuat yang lain berhenti bergerak dan langsung tertawa sebagai respondsnya. Nada yang terdengar jelas seperti anak kecil yang tengah merajuk akan sesuatu hal pada ibu-nya, namun saat ini yang mereka lihat adalah Baekhyun. Memiliki tinggi badan yang memang mungil dan kecil tapi jelas mereka tahu gadis itu sudah berusia 20 tahun dan bahkan sudah memiliki kekasih. Bahkan dari postur badan jelas sudah terlihat gundukkan sintal pada bagian dadanya dengan ukuran sedang—bukti lain yang jelas bisa dikatakan Baekhyun adalah seorang gadis dewasa.

"Pantas saja Chanyeol belum boleh menyentuhmu. Tingkahmu masih seperti anak kecil Baekhyun." Tao lebih dulu menjelaskan alasan dirinya tertawa, dan itu malah semakin membuat Baekhyun memanyunkan bibirnya—semakin terlihat seperti anak kecil.

"Aku bukan ANAK KECIL!"

"KAU IYA!" Yoora dan ketiga Puteri lainnya tertawa dengan tangan-tangan mereka yang ikut menggoda pipi Baekhyun.


-Loves of Tales-


"Aku tidak menyangka reinkarnasi Phoenix benar-benar jelas terlihat sangat mirip." Zeus, Sang Dewa tertinggi memuji keberadaan Chanyeol ketika dirinya memasuki ruangan rapat para Dewa dan Dewi. "Aura Athena dan Phoenix sangat cocok untukmu." Pujian yang lainnya masih diberikan kearah Chanyeol, sedangkan dirinya kini masih menunduk memberikan hormat—begitu juga Kris yang mengikuti gerakkannya tepat disamping dirinya.

"Terima kasih atas Pujian Yang Mulia, itu sangat menyanjungkan." Nada suaranya terdengar sangat sopan hingga pada akhirnya semua Dewa dan Dewi tertawa kecil mendengarnya.

"Jangan merendahkan dirimu Yang Mulia." Suara merdu dari Dewi Athena terdengar, "Phoenix menepati tempat yang cukup tinggi di hirarki Keturunan kami." Chanyeol terdiam dan pelan-pelan mengangkat wajahnya untuk diperlihatkan dihadapan semua para Dewa dan Dewi. Seketika jelas terlihat bahwa raut wajah para kedua Putera Mahkota Glorfindel dan Lynkestis saat ini terlihat shock melihat bagaimana wajah Para Dewa dan Dewi atau lebih tepatnya bagaimana wujud Para Dewa dan Dewi.

"Aku yakin ini pertama kalinya buat kalian mengetahui wujud kami yang sebenarnya." Suara lembut milik Dewi Aphrodite terdengar.

"M-ma-maafkan kami Yang Mulia." Suara Chanyeol terdengar bergetar, bukan suara ketakutan sebenarnya. Hanya saja sering kali mereka selintas melihat para Dewa dan Dewi dalam wujud postur tubuh yang setara dengan manusia, sedangkan kali ini untuk pertama kalinya Chanyeol dan Kris diundang masuk kedalam Ruang Pertemuan dan diperlihatkan dihadapan kedua mata mereka bagaimana indahnya wujud Dewa dan Dewi Olympus yang sesungguhnya. Postur badan yang hampir menyerupai raksasa dengan perbandingan mungkin hampir 100 hingga 1000 kali lebih besar dibandingkan badan Chanyeol dan juga Kris. Namun meskipun postur-postur tubuh mereka, raut wajah Para Dewa dan Dewi sama sekali tidak ada perubahan, mereka tetap terlihat gagah, tampan, cantik, menawan dan sangat bercahaya khususnya Dewi Aphrodite.

"Jangan menatapku seperti itu Yang Mulia." Dewi Aphrodite menyadarkan lamunan Chanyeol yang terdiam tertuju kepada Dewi Kecantikkan itu. "Aku tidak mau Baekhyun cemburu dan menghancurkan Olympus dalam sekejap." Dewi Aphrodite dan Athena tertawa bersama diikuti dengan para Dewa dan Dewi lainnya. Chanyeol yang pada awalnya masih terdiam kaku pada akhirnya sebuah senyuman terlihat diwajahnya dengan gelengan kepala.

"Ingatlah apa yang belum pernah kalian lakukan di kehidupan yang lalu. Jangan buat penyesalan lainnya. Kami tidak sanggup melihat adanya airmata yang terlihat pada wajah cantik manis nan lembut milik Baekhyun dan juga wajahmu sedihmu Yang Mulia—

"Seperti waktu itu."

Chanyeol terdiam menyimak setiap perkataan yang dikatakan oleh Dewi Aphrodite dan juga Dewa Zeus, kerja otak dan pikirannya belum bisa memahami apa yang dimaksudkan dari setiap kalimat yang mereka bicarakan kepadanya. Terdiaman dirinya bahkan hanya diberikan sebuah senyuman dari Para Dewa lainnya.

"Aku rasa Phoenix butuh waktu untuk mencerna semua yang kita bicarakan." Dewi Athena menghampiri Chanyeol tepat berada dihadapanya—dengan wujud ukuran manusia normal dan setara dengan tinggi Chanyeol.

Chanyeol menundukkan kepalanya. "Maafkan aku Yang Mulia, pembicaraan ini masih perlu aku pahami dalam keadaan tenang."

"Apa yang membuatmu tidak tenang?" kali ini Dewi Aphrodite menyusul menghampirinya, kedua mata indah milik Sang Dewi dengan cepat menatap tajam dan dalam kearah Chanyeol seakan-akan kedua mata itu membaca segala hal yang terlihat dari kedua mata besarnya. "Aaahhh.. kau khawatir padanya?" Dewi Aphrodite tersenyum nakal. "Cepatlah kembali, kau akan memberikan kejutan kepadanya bukan?"

"Hah—

"Apa yang kau pikirkan segera lakukan, jangan menunda terlalu lama Yang Mulia. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya karena semua garis kejadian sudah berubah terlalu banyak." Dewi Athena memotong sahutan Chanyeol, kedua Dewi itu saling melempar sebuah senyuman ketika jari-jari tangan Athena bergerak mengambil seuntai rentetan rantai berlian dari mahkota yang ia kenakkan, Aphrodite ikut menggerakkan jari-jari indahnya gerakkan melingkar serta menyematkan sebuah ciuman ketika rantai berlian itu membentuk sebuah lingkaran kecil. Kedua Dewi saling melempar sebuah senyuman sebelum memberikan benda lingkaran yang kini terlihat bercahaya langsung kepada Chanyeol yang sekarang saling bertukar pandang dengan Kris disebelahnya.

"Aku tahu tatapan kalian!" Dewi Athena menunjuk kearah Chanyeol dan Kris. "Kenapa cara kerja otak kalian tidak bisa memahami yang wanita inginkan sih. Simpan ini baik-baik." Chanyeol menerima benda itu dalam genggaman tangannya. Fokusnya berpusat padan benda tersebut, lingkaran kecil dengan yang dikelilingi berlian disekeliling sisinya.

"C-cin-cincin?" Kris dan Chanyeol saling menatap dengan kedua alis mereka mengernyit satu sama lain seakan-akan menyatu bahkan kerutan pada kening mereka terlihat berbentuk lipatan dengan jumlah yang cukup banyak.

"Tolong dengan sangat, gunakan pikiran kotormu Yang Mulia." Aphrodite memberikan kedipan mata sebelum ia kembali pada kursi tempat duduk yang jauh berada pada jangkauan dimana Chanyeol dan Kris berdiri.

Zeus tertawa keras dari tempatnya memperhatikan segala kejadian yang terjadi, tidak ada bantahan dan kalimat lainnya keluar dari mulut sang Dewa Tertinggi.

"Pergilah, segera kembali ke Glorfindel dan rayakan perayaan ulang tahun Kerajaan dengan penuh sukacita. Kali ini tugas kami yang akan melakukan penjagaan."

Zeus berdiri, menegakkan tirtulanya keatas langit-langit ruangan mereka berada hingga terbuka menampakkan pemandangan langit yang diselimuti bintang-bintang. Chanyeol dan Kris ikut memperhatikan bagaimana sinar petir yang keluar dari Tritula tersebut bergetar dan mengeluarkan suara gelegar yang cukup keras dan tak lama beberapa barisan pasukan langit turun dengan kuda putih yang mereka tunggangi. Pasukan Malaikat.

"Mereka semua yang akan berjaga diseluruh Istana." Zeus mengarahkan Tritula kearah salah satu pemimpin. "Prostatépste tin asfáleia tou Palatioú." Seluruh pasukan memberikan hormat dan mengarahkan pedang mereka ke udara dengan serentak sebelum beranjak pergi keluar melalui pintu utama di ruangan tersebut.

"Pergilah, kembali ke Kerajaan kalian. Aku rasa para Raja sudah menunggu terlalu lama diluar sana." Chanyoel dan Kris menganggukkan kepala, mengucapkan kalimat undur diri dan tentunya memberikan hormat kepada seluruh Dewa dan Dewi disana sebelum mereka melangkah pelan menuju pintu keluar.

"Sebenarnya apa makna yang ingin mereka sampaikan padamu didalam sana?" Kris mengusak rambutnya dengan kasar dan mulai melepaskan beberapa ikatan syal pada lehernya dimana terasa membuatnya sulit bernapas.

"Dan, itu.. cincin? Mereka memberikanmu cincin seakan-akan ingin dirimu cepat menikah. Haha." Chanyeol menghentikkan langkahnya. Sedangkan Kris masih berjalan terus kedepan dengan suara tawa dan beberapa kalimat yang bila ditarik kesimpulan ia mengatakan bahwa tidak mungkin adiknya—Baekhyun. Menikah dengan Chanyeol dalam waktu dekat.

"... kau tahu dia itu masih terlihat seperti anak lima tahun. Tidak mungkin akan menjadi istri yang cocok untukmu. Hah! Bahkan saat diriku mengambil boneka miliknya dia bisa cemberut dan merengek seperti anak kecil. Ckck, ya kan? Kau sudah mengetahuinya kan—loh. Chanyeol?"Kris melihat ke kanan dan ke kiri sisinya dan tidak menemukan Chanyeol, sedangkan sosok yang dicari berdiri jauh dibelakangnya dengan wajah cukup serius tengah berpikir keras dengan genggaman cincin berlian di tangannya.

"Tidak ada yang tidak mungkin kan?" Balasan dari Chanyeol membuat Kris menganggukkan kepala—tanda setuju—tapi pada akhirnya pria itu membelakkan matanya dan kemudian berteriak memaki kearah Chanyeol, kakinya bergerak untuk mengejar Chanyeol dan memberikan beberapa pukulan pada tubuh sang Phoenix dengan cukup keras.

"YAAAKK! AKU TAK AKAN MERESTUI PERNIKAHAN KALIAN!"

-Loves of Tales-