Chapter 10
Jangan berpikir (Last part)
.
Oktober, Musim gugur, 10 tahun yang lalu.
"Heh Kucing!"
Seorang anak kecil berumur antara 5 sampai 6 tahun nampak berkacak pinggang pada anak lain yang juga kelihatan seumur dengannya. Seorang bocah kecil dengan manik berwarna biru laut dan rambut silver, di atas kepalanya terdapat sepasang kuping kucing. Saat ini ia tengah berjongkok di belakang semak-semak di halaman apartemen itu setelah sebelumnya mencoba untuk bersembunyi disana.
Bocah dengan manik merah kejinggan itu menatapnya dengan wajah menuntut setelah kepergok mengintip dan mengikutinya sejak ia keluar kamar hingga keluar pagar. "Kenapa kau mengikutiku?" ketusnya pada bocah tersebut.
Bocah bertelinga kucing itu pun lantas berdiri, dengan wajah tertunduk ia pun mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya. "Itu... Aku... Aku ingin bicara denganmu... Ada... yang ingin kutanyakan..."
Sontak bocah bermata merah itu pun mengernyitkan dahi dan memasang tampang bingung. "Tanya apa?" ujarnya.
"K–Kalau di sekolah itu... ada apa? Terus... apa disana kau bisa dapat banyak teman?" balas anak bermata aquamarine itu agak guguk dan malu-malu.
Bocah bermanik merah itu pun menyentuh dagunya dan melirik ke arah lain untuk memikirkan jawabannya. "Ya tergantung sih, kalau ada yang mau berteman denganmu. Tee? Emang kau gak pernah ke sekolah? Oh iya, kalau tidak salah Kakakmu ke sekolah kan? Kau tidak tanya dia?" katanya yang dilanjutkan dengan pertanyaan balik pada bocah berkuping kucing itu.
Anak itu hanya menggeleng pelan dan membuat Blaze semakin terheran-heran. Namun rasa penasarannya segera terjawab oleh penjelasan Ice yang terkesan malu-malu "Karena aku belum bisa menyembunyikan telinga dan ekorku aku tidak bisa kemana-mana. Nii bilang lebih baik aku bertanya denganmu... Dan juga karena kita seumuran... Nii bilang aku harus berteman denganmu..."
"Jadi kau memang tidak pernah sekolah? Jangan bilang... kau juga tidak bisa baca tulis. Kalau menulis namamu sendiri bagaimana?"
Sekali lagi bocah itu memberikan jawaban berupa gelengan kecil. Ia terus menunduk dengan wajah yang begitu sendu. Mengetahui keadaannya separah itu si anak bermata merah pun iba dibuatnya.
"Baiklah!"
"Heh...?" Sontak si anak bermata biru pun mengangkat wajahnya dengan agak kebingungan saat mendengar jawaban dari lawan bicaranya itu.
"Aku akan mengajarimu membaca dan menulis. Tidak hanya itu, aku juga akan mengajarkan padamu apa yang ku dapat di sekolah. Oh iya aku Ryuuketsu Blaze, kalau kau?" ucap anak dengan manik merah kejinggan itu dengan begitu bersemangat. Ia pun mengulurkan tangannya pada untuk bersalaman dengan si bocah berkuping kucing.
Awalnya si bocah bermanik aquamarine itu agak ragu, tapi setelahnya secara perlahan ia pun membalas uluran tangan itu. "Aku... Ice." Katanya memperkenalkan diri.
"Ice ya? Mulai sekarang kita berteman ya, Ice?" ujar Blaze yang diikuti dengan cengiran polos khasnya. Ice yang melihatnya hanya menatap bingung, namun akhirnya ia pun ikut tersenyum. Saat itu dia benar-benar sangat bahagia.
"Uhm!"
~MA~
Kembali ke waktu sekarang, tepatnya di Universitas Tokyo, seorang gadis dengan hijab pinknya yang khas terlihat sedang sibuk mengumpulkan lembaran-lembaran kertas yang beberapa saat lalu dibuat beterbangan karena angin yang lumayan kencang.
Itu bukan kertas sembarangan, tapi kertas dari buku binder milik Yaya dan berisi catatan kuliah penting yang tidak boleh hilang.
Saat ini Yaya sudah berhasil mengumpulkan 7 dari 8 lembar yang terbang. Tunggu, mana yang satu lagi?
Sontak gadis itu pun mulai celingukan kesana-sini mencari satu lembar terakhir yang copot dari bukunya tersebut. Dan ketika menoleh ke atas tercenganglah Yaya mendapati kertas itu tersangkut pada ranting sebuah pohon besar di halaman kampusnya.
Waduh... Sekarang harus gimana nih? Lempar batu?
Jangan, nanti kertasnya robek.
Jadi gadis itu pun berinisiatif dengan mencoba meraih ranting terendah yang cukup dekat dengan posisi dimana kertas itu tersangkut. Ia melompat-lompat untuk mengumpulkan momentum dan dilompatan yang terakhir dia pun berhasil meraih ranting tersebut.
Tunggu sebentar, rasanya ada yang aneh, entah mengapa tubuhnya terasa ringan dan tidak menapak pada tanah.
Sontak gadis itu pun melirik ke belakang dan menemukan sosok pemuda pemuda berambut coklat dan manik karamel tengah menggendongnya dari belakang sambil menyunggingkan sebuah senyuman lembut. Laki-laki yang dikenalnya sebagai kakak tingkat yang beberapa hari lalu tak sengaja kena timpukan kaleng bekas di kepala. " BOBOIBOY-SENPAI!" jeritnya kaget.
"Udah dapat kertasnya?" tanya pemuda itu.
Dan mengingatkan Yaya kembali pada benda yang ingin diambilnya. "Eh? T–Tu–Tunggu sebentar..." dengan cepat ia pun menjumput lembaran tipis putih yang penuh tulisan di hadapannya tersebut.
Setelahnya Boboiboy pun menurunkan gadis itu dengan perlahan. Begitu kedua kakinya menapak tanah sontak saja Yaya membungkuk "Maaf jadi merepotkanmu, Senpai. Tapi terima kasih sudah membantuku mengambilnya, berkat Kakak aku tertolong." katanya berterima kasih karena sudah menolongnya mengambil kertas catatannya.
"Enggak, justru aku yang harusnya minta maaf menggendongmu sembarangan seperti itu" Boboiboy tampak tersipu dan menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tak gatal sambil mengibaskan tangan.
"Nggak bukan masalah. Tapi... Kok Senpai bisa ada disini? Ada kuliah hari sabtu ya?" tanya Yaya penasaran.
"Nggak, cuma ada yang diurus di Sekretariat BEM tadi. Kalau kamu?" sahut Boboiboy.
BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)
"Dosenku yang izin kemarin minta pergantian jadwal hari ini. Jujur aku agak kaget karena dikabari begitu tadi malam" jawab Yaya.
"Ya itu sudah biasa, malah kadang dosen itu bisa memberi kabar dua jam sebelumnya dan bisa saja saat kami sudah masuk kelas tiba-tiba beliau malah mendadak membatalkan kuliah." kata Boboiboy sedikit terkekeh.(Kok seperti pengalaman author nya sendiri?)
"Terus ini sudah?" sambungnya bertanya.
"Sudah kok"
"Jadi habis ini mau kemana? Pulang? Mau jalan bareng sampai depan gerbang?" tawar Boboiboy lembut.
"Boleh" sahut Yaya sambil tersenyum manis.
Dan akhirnya mereka berdua pun berjalan beriringan sampai gerbang depan, sambil bercanda dan bercerita macam-macam. Kadang soal diri sendiri, kadang tentang kuliah, tentu saja pada sesi ini Boboiboy yang lebih banyak punya pengalaman di dunia perkuliahan banyak memberikan saran pada adik tingkatnya itu dan masih banyak lagi hingga tidak bisa disebut satu-persatu.
Hingga akhirnya mereka berpisah di depan gerbang dan kembali ke urusan masing-masing.
~MA~
Sementara itu di apartemen Shinwa, seorang bocah SMA nampak keluar dari kamar apartemennya yang bernomor 5. Penampilannya sedikit rapi dengan gaya kasual berupa kaos oblong putih yang dilapisi dengan cardigan berwarna biru muda.
"Hai Ice-kun" Disaat yang sama ketika ia menguci pintu, Yaya yang baru sampai pun langsung menyapanya.
"Hai juga, Nee-san..." balas Ice balik.
"Tumben pakai baju begitu? Mau kemana?" tanya gadis berhijab di depannya.
Sambil tertunduk Ice pun menjawab. "Um... Aku... mau pergi jalan-jalan ke Shinjuku..." katanya agak ragu.
"Sendirian?"
Ice hanya mengangguk dan setelahnya kembali menjelaskan. "Minggu depan adalah ulang tahun Nii-san..."
Seketika Yaya pun langsung paham dengan tujuan anak itu. "Oh begitu. Jadi kau mau pergi mencari hadiah untuknya ya?" serunya bersemangat sambil menepuk kedua telapak tangannya di depan dada. Dan hanya dibalas Ice dengan sebuah anggukan yang begitu canggung. "Kalau begitu, mau kutemani?" tawar gadis itu.
"Eh...?" Ice pun mengerjap bingung dengan tawaran Yaya untuk menemaninya mencari kado. "Nggak apa-apa nih...? Nee-san nggak capek...? Nee-san kan baru saja pulang...?" lanjutnya bertanya untuk memastikan.
Yaya menggeleng sambil tersenyum dengan lembut. "Nggak kok. Lagipula aku khawatir kalau kau jalan sendirian?" jawab gadis itu.
Jadi pada akhirnya mereka berdua pun meninggalkan apartemen dan menuju ke Shinjuku untuk mencarikan hadiah bagi Kakaknya Ice. Kenapa disana? Ya karena disana adalah pusat perbelanjaan, banyak toko dan mall yang menjual berbagai jenis barang berjejer disana sini.
Dan saat ini mereka sedang menaiki kereta untuk menuju kesana. Keduanya berdiri di dekat pintu keluar dalam kereta yang begitu lenggang tersebut tanpa saling bicara sepatah kata pun.
Hingga akhirnya Yaya yang merasa jenuh pun menoleh pada Ice dan mengajaknya bicara. "Ice-kun
, kau tidak mau duduk saja?" tanya gadis itu pada bocah yang saat ini tengah berpegangan pada besi melengkung di dekat pintu keluar tersebut.
Ice menggeleng. "Tidak aku disini saja. Biasanya juga aku berpegangan disini" jawabnya datar.
Yaya pun menatapnya dengan agak heran. "Jangan bilang... kau tidak sampai meraih pegangan diatas ya?" selidik gadis itu.
Dan sukses membuat Ice bergidik kaget dengan mata setengah membelalak. Sepertinya tebakan Yaya benar, dengan tinggi Ice yang hanya setengah telinga gadis itu sudah dipastikan dia tidak sampai menjangkau ring yang tergantung diatas. Ia pun hanya bisa terdiam dengan wajah memerah karena malu.
"Eh, beneran ya?!" ucap Yaya agak kaget begitu menebak pikiran anak itu dari ekspresinya.
"J–Jangan salahin aku kalau tubuhku kecil... kalau umurku dikonversi ke wujud kucing aku sama seperti anak kucing berumur lima bulan. Nanti aku juga akan bertambah tinggi dengan sendirinya" bela Ice dengan suara bergetar dan terdengar cukup cempreng walaupun tidak nyaring.
Sontak Yaya pun kembali dibuat cengo dengan ucapannya, tidak biasanya anak satu ini akan mengoceh seperti itu, karena setahu Yaya Ice itu sangat kalem bahkan jarang bicara. Tawanya pun tidak terbendung lagi melihat betapa menggemaskannya sikap Ice hari ini. Sayangnya karena takut mengganggu kenyamanan penumpang lain gadis itu hanya bisa terkekeh pelan.
"Apa...an sih...?" ujar Ice seraya menahan malu melihat Yaya mentertawakannya.
"Maaf... Kau lucu sekali saat mendumel seperti itu... Kenapa kucing itu menggemaskan sekali, bahkan dengan wujud manusia? Aku jadi tambah 'suka' deh" sahut Yaya menjelaskan sambil mencoba untuk menghentikan tawanya. Dan tanpa sadar dia mengucapkan sesuatu yang membuat Ice begitu senang sekaligus malu.
"S–Suka...?" gumam Ice tertunduk dengan wajah yang semakin memerah. Kalau ini anime mungkin kepala Ice sudah beruap sekarang. Dia tidak tahu yang dimaksud Yaya adalah kalau dia menyukai kucing.
Hingga beberapa saat kemudian kereta pun berhenti karena mereka sampai di statiun, ada beberapa yang orang naik juga ada turun disana. Tapi ini bukan stasiun tujuan Yaya dan Ice, mereka baru turun di stasiun selanjutnya jadi mereka pun lanjut berbincang untuk mengisi waktu.
"Ngomong-ngomong Ice-kun, Kakakmu itu menyukai hal apa?" Ice pun menatap pada Yaya sambil mengerjap bingung dengan pertanyaan itu. "Maksudku, supaya kita lebih gampang mencari hadiah yang cocok untuknya" tambah gadis itu untuk memperjelas pertanyaan sebelumnya.
"Sejujurnya aku juga kurang tahu Nii-san itu suka apa. Nii-san itu tipe orang yang mudah sekali bosan pada sesuatu, dia punya banyak hobi dan kegiatan tapi kebanyakan sudah tidak dilakukan karena jenuh. Terkadang Nii-san membeli beberapa buku, kadang beli video game, kadang juga membeli kaset film, tapi pada akhirnya semuanya tidak dibaca, dimainkan atau ditonton dan hanya jadi tumpukan barang bekas di gudang"
Yaya yang mendengar penjelasan Ice tentang Kakaknya pun hanya bisa dibuat menyengir gaje. "Jelek sekali kebiasaannya..." batinnya berkomentar. "Terus ada lagi?" tanya gadis itu lagi dan hanya dijawab dengan sebuah gelengan kepala dari Ice. Yaya pun menempelkan tangannya ke dagu dan bergumam. "Hmm... Jadi kita memang harus keliling ya?"
"Sepertinya begitu..." sahut Ice.
Tanpa dirasa kereta yang mereka tumpangi sudah sampai dan berhenti di statiun yang mereka tuju. Segera keduanya pun turun melalui pintu otomatis di depan mereka. Sambil menapaki kawasan stasiun percakapan kembali terjadi diantara mereka.
"Pertama-tama kita kemana dulu ya?"gumam Yaya selagi kedua matanya asyik melihat-lihat sekeliling statiun.
"Nee-san..."
"Uhm?" Yaya sontak menoleh ketika bocah di belakangnya memanggilnya.
"Boleh... aku pegang tanganmu...?" lanjut bocah bermanik aquamarine itu malu-malu.
Yaya diam dan berpikir sejenak, namun sesaat kemudian tanpa ragu ia langsung menggenggam tangan Ice. "Boleh."
Ice dibuat tersentak, sekali lagi wajahnya pun memerah.
"Bisa susah nanti kalau kita sampai terpisah dalam kerumunan orang sebanyak ini." Lanjut Yaya kembali menoleh ke depan sembari menuntun anak tersebut berjalan keluar dari stasiun dan melihat-lihat berbagai jejeran toko yang tersusun rapi di sekitar stasiun.
Dan entah kenapa setelah mendengarnya ekspresi Ice langsung berubah menjadi kecewa "Oh..." desah Ice pelan seraya membuang nafas dengan lesu.
~MA~
Penjelajahan keduanya dimulai dari sebuah toko besar yang menjual berbagai macam buku. Semua jenis buku sepertinya tersedia disini, mulai dari buku-buku pelajaran, dongeng, novel, sampai majalah bisnis, tersusun rapi di rak-rak juga pajangan. Bahkan ada bagian yang dikhususkan untuk komik atau manga.
Saat ini keduanya tampak melihat-lihat pada sudut khusus berisi kumpulan novel.
Ice mengambil sebuah novel yang cukup menarik hatinya dan memperhatikannya dengan detil, mulai dari sampul depan hingga isi sinopsisnya. Sementara Yaya disampingnya pun juga ikut-ikutan melihat buku tersebut hingga kemudian beralih melirik pada novel-novel yang lain.
"Hmm... Jadi Kakakmu juga suka baca novel ya?" komentar gadis berhijab tersebut.
Ice mengangguk. "Iya... Aku pernah memperhatikan Nii-san beberapa kali pulang sambil membawa buku novel" jawabnya seraya menatap Yaya.
"Heh~ Dia suka genre apa?" tanya Yaya lagi sambil menyunggingkan sebuah senyuman lembut.
Ice nampak membuang nafas dengan lesu, sambil meletakkan buku itu ke tempat semula ia pun menjelaskan. "Sebenarnya aku kurang tahu apa jenis genre yang sering dibaca Nii-san, dia juga melarangku untuk menyentuh buku-bukunya dan menyembunyikannya di tempat yang aku tidak ketahui. Nii-san cuma pernah sekali membawaku kesini, waktu itu dia memarahiku saat ingin mengikutinya dan menyuruhku melihat-lihat yang lain saja. Kalau tidak salah Nii-san pergi ke sana waktu itu"
Anak itu pun menunjuk ke suatu bagian dari toko buku tersebut dan secara refleks gadis itu pun menggerakan lehernya mengikuti ke arah tunjukkan bocah itu. Sebuah sudut dimana terdapat beberapa anak tangga untuk naik ke bagian atas.
"Coba kita cari kesana" tanpa ragu dan tanpa diperintah apapun Ice langsung saja melangkahkan kedua kakinya menuju anak-anak tangga itu. Yaya agak kaget namun tetap mengikutinya kesana.
Beberapa saat kemudian setelah menaiki tangga mereka sampai ke area atas. Tidak jauh berbeda dengan area bawah disini pun juga terpajang berbagai novel dan komik, hanya saja jumlahnya lebih sedikit daripada yang dibawah. Pengunjung yang ada disini selain mereka berdua pun tidak banyak, paling dua atau tiga orang.
Sementara Ice melenggang disana dengan begitu santai, Yaya justru merasakan ada aura yang aneh dari tempat ini. Dan entah kenapa orang-orang yang ada disana memperhatikan mereka dengan wajah kecut hingga membuat gadis itu mengernyitkan dahi kebingungan.
Ia langsung celingukan sambil mencuri-curi pandang pada jejeran buku-buku yang ada disana dan menyadari memang ada yang tidak beres. "Tunggu dulu ini, kan?" sontak saja wajahnya pun memucat.
Saat mengetahui jika novel-novel dan komik yang terpajang disana memiliki tanda R18+ di sampulnya. Yang berarti buku itu hanya ditujukan untuk orang yang sudah dewasa karena mengandung konten yang tidak pantas untuk dibaca oleh anak dibawah umur, seperti kekerasan atau pornografi.
Tidak disadari oleh Yaya, Ice kini tengah berdiri di depan suatu rak berisi susunan novel dengan konten R18+ tersebut. Tanpa tahu apa-apa ia pun hampir mencomot salah satu novel disana "Kelihatannya ini genrenya roman–"
Namun ia segera terhenti ketika Yaya dengan tepat waktu menahan tangannya. Ice pun menoleh pada gadis yang terlihat sedang terengah-engah itu dengan wajah bingung dan polos.
"Ice-kun... Gimana kalau kita cari hadiah lain saja? Kalau tidak salah kau pernah bilang kalau Kakakmu sudah bosan baca novel kan?" ujar Yaya tersenyum nervous dan mencoba untuk meyakinkan anak itu sambil menjauhkan tangannya dari buku tersebut
Si bocah bermata aquamarine itu pun diam dan terlihat berpikir sejenak. "Benar juga, kalau kubelikan novel mungkin tidak akan dia baca dan lagi-lagi berakhir di dalam gudang" tapi pada akhirnya dia sepakat dengan alibi yang dilontarkan oleh Yaya barusan.
Safe.
"Benar kan? Ya sudah ayo kita menjauh dari sini" Yaya pun segera saja mencengkram bahu dan mendorong tubuh bocah itu untuk pergi menjauh dari tempat berbahaya tersebut. 'Kakaknya Ice-kun... kau benar-benar pria sejati, karena dengan beraninya kau melangkahkan kakimu ke daerah terkutuk ini'
~MA~
Dari toko buku mereka pun berpindah ke tempat yang menjual berbagai mainan mulai dari mainan untuk anak kecil sampai orang dewasa.
Keduanya terlihat memilih-milih pada set koleksi video game, menimbang-nimbang kira-kira yang mana yang akan diberikan sebagai hadiah nantinya.
"Hmm... kita belikan kaset game mungkin tidak akan dia mainkan, yang ada nanti malah dibuang atau tercecer kemana-mana" gumam Yaya mengernyitkan dahi.
"Benar juga, zaman sekarang orang lebih suka mendownload game di smartphone, kalau bosan tinggal di uninstallsaja, beres." Sahut Ice berkomentar.
Yaya pun hanya bisa mendengus dan mengangguk menyadari betapa cepatnya perkembangan teknologi dan pola hidup masyarakat. Beberapa saat kemudian sebuah gagasan lain pun terbesit di benaknya. "Oh iya, aku punya ide"
Ice pun kembali menatap Yaya sembari mengedipkan mata dengan ekspresi datar.
"Daripada memberikan apa yang dia suka, bagaimana kalau kita carikan sesuatu yang berbeda dari biasanya? Siapa tahu saja setelah ini Kakakmu jadi punya hobi baru?" usul gadis itu.
"Misalnya?"
"Uhm... misalnya?" Kedua manik berwarna kecoklatan milik Yaya pun mulai bergerak, menyisir seluruh area dan sudut-sudut toko mainan tersebut. Hingga akhirnya pandangannya terfokus pada mainan pistol dan senapan mesin yang berada di area khusus di sudut toko tersebut. Ia pun langsung menunjuk ke arah sana dan kepala Ice pun mengikuti arah tunjukkan Yaya. "Seperti mainan senapan mesin itu. Siapa tahu Kakakmu juga suka main survival game?"
Dengan enteng gadis itu melangkahkan kakinya menuju kesana dengan niat melihat-lihat, jika saja Ice tidak menghentikannya dengan menarik pelan ujung lengan jaket yang dipakai Yaya. "Jangan... bahaya..."
Yaya berbalik dan melihat anak itu terlihat memucat dan memasang wajah ketakutan seperti baru saja melihat hantu. Tentu saja hal ini membuatnya keheranan. "Tidak apa-apa Ice-kun, itu bukan senapan sungguhan pelurunya pun plastik, tidak akan sakit kalau ditembakkan" dalih gadis itu.
"Tidak. Pokoknya Nii-san tidak boleh punya senjata" tegas Ice dengan tubuh yang semakin gemetar.
"B–Begitu... ya?" Melihat reaksi Ice yang dirasa sedikit berlebihan Yaya pun hanya bisa pasrah, ia menyerah dan tidak jadi melihat-lihat senapan mainan tersebut.
Dan pada akhirnya mereka pun tidak mendapat apapun disana alias keluar dengan tangan hampa. Tidak ada mainan yang cocok dijadikan hadiah untuk Kakaknya Ice.
~MA~
Karena sudah cukup lelah berkeliling akhirnya mereka pun beristirahat sambil menyantap makan di sebuah restoran cepat saji.
"Pada akhirnya kita nggak dapat apa-apa ya?" gumam Yaya lesu sambil bertumpu kepala dengan tangan.
Ice hanya mengangguk dalam diam sambil menyendok es krim vanila di depannya dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Ngomong-ngomong Ice-kun, Kakakmu sebenarnya kemana? Kenapa dia belum pulang juga sampai sekarang?" Yaya pun bertanya. Ia sudah lebih dulu selesai menghabiskan makanannya sejak tadi dan sekarang tengah memutar-mutar sedotan di gelasnya.
"Nii-san... saat ini sedang bekerja sebagai nekomata sewaan" jawab Ice pelan.
"Nekomata sewaan?"
"Ah, Nekomata itu sebenarnya adalah peliharaan dewa kematian, tugasnya adalah mengantar para roh. Seorang dewa kematian biasanya memilki dua atau tiga ekor Nekomata bahkan lebih. Namun terkadang ada kasus kematian massal seperti kecelakaan atau wabah epidemik yang menyebabkan banyak roh yang harus ditangani dan disaat itulah biasanya dewa kematian akan menyewa nekomata dari dewa lain maupun yang tinggal bebas di jalanan, salah satunya Nii-san." Jelas Ice panjang lebar sambil melanjutkan menghabiskan es krim di piring miliknya yang hanya tinggal sedikit lagi.
"Kakakmu itu orangnya seperti apa? Kutebak dia pasti sangat baik sampai kau mau membelikan hadiah ulang tahun untuknya" ujar Yaya lagi.
Ice mengangkat bahu dan mendengus kecil. "Begitulah... Nii-san itu sangat menyayangiku, apapun akan dia lakukan untukku." katanya pelan.
Yaya tersenyum saat mendengarnya. "Hmm~ Ice-kun juga pasti sangat menyayanginya kan?" komentar gadis itu.
Dan hanya dijawab dengan sebuah anggukan pelan yang diikuti senyuman tipis.
"Aku jadi ingin cepat ketemu dengannya?"
Ucapan Yaya sontak membuat Ice membuat kedua mata Ice membulat, senyum tipisnya pun menghilang seketika itu juga. Entah kenapa dia justru terlihat takut dan khawatir jika nanti Yaya dan Kakaknya bertemu.
Yaya yang menyadari perubahan ekspresi Ice itu pun tentu saja dibuat keheranan. "Kenapa?" tanyanya.
Ice tertunduk, namun tetap berusaha menjawab. "Nggak. Cuma... aku takut Nee-san berekspetasi terlalu tinggi tentang Nii-san. Nii-san itu... gimana aku bilangnya? Agak sedikit rusak..."
"Rusak?" tentu saja Yaya bingung dengan maksud yang disampaikan oleh Ice. Apa maksudnya Kakaknya rusak? Memang Kakaknya itu robot atau semacamnya? Kok bisa rusak?
"Ya... pokoknya nanti Nee-san juga akan tahu sendiri saat ketemu langsung dengan Nii-san. Dan sepertinya semua akan baik-baik saja asal jangan sembarangan bicara padanya" saran bocah bermata aquamarine tersebut pada gadis di depannya.
Awalnya si gadis berhijab agak merinding mendengarnya, tapi bukan Yaya namanya kalau tidak positive thinking. Dia pun hanya menanggapinya dengan tenang dan tersenyum tipis. Kalau dipikir-pikir lagi bukankah mereka berdua agak mirip? Ice tidak suka disebut pendek atau kerdil, mungkin Kakaknya juga punya kata-kata yang tidak disukainya. "Begitu ya? Asal jangan sembarangan bicara saja kan? Terima kasih sarannya ya." sesaat kemudian ia pun berdiri dari bangku restoran itu. "Ayo, kita masih belum menemukan hadiah untuk Kakakmu kan?" ajaknya pada bocah tersebut.
"Uhm..." Ice mengangguk, dia yang memang sudah cukup lama menghabiskan es krimnya pun langsung berdiri ketika Yaya mengajaknya untuk berkeliling sekali lagi.
~MA~
Sekali lagi mereka berkeliling di dekat stasiun berpindah dan melihat-lihat dari satu toko ke toko lain.
Mereka pun asik melihat-lihat barang yang terpajang di seluruh etalase toko. Yaya fokus pada toko-toko yang menjual baju sedang Ice lebih beragam, sepertinya dalam pikiran bocah itu cuma satu–hadiah untuk Kakaknya.
Hingga tiba-tiba dia menemukan sesuatu yang sangat menarik pada salah satu toko yang ada disana. Ia pun berhenti untuk memperhatikan barang tersebut dengan lebih jeli.
Yaya yang tepat berada di sebelahnya juga otomatis berhenti dan mengikuti arah pandangan si bocah bermanik aquamarine tersebut. Dan ternyata yang dilihatnya adalah...
Sebuah jam tangan digital berwarna biru tua yang terdapat di dalam sebuah toko jam. Arloji itu tampak menawan–tidak, keren dan terkesan begitu maskulin. Sepertinya Ice merasa benda itu cocok dengan Kakaknya.
Gadis itu terus memperhatikan ekspresi Ice yang begitu terkagum-kagum. Ia pun tersenyum padanya. "Mau lihat?" tawar gadis itu.
Kali ini Ice mengangguk dengan pasti dan setelahnya keduanya pun masuk ke dalam toko jam tersebut. Nuansa klasik langsung terasa begitu mereka memasuki tempat tersebut, dindingnya yang dicat merah, kursi dari kayu dan berbagai jam-jam yang terpajang disana sini begitu menambah kesan seperti di era abad pertengahan.
"Selamat datang, Ada yang bisa dibantu" sambut pria tua pelayan toko tersebut ramah.
Yaya pun membalas dengan sebuah senyuman dan menghampirinya. "Anu, boleh kami lihat jam tangan yang ada di depan itu?" tunjuk si gadis pada barang incaran mereka tadi.
"Baiklah, tunggu sebentar ya?"
Si pria tua pun lekas berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan ke depan untuk mengambilkan barang yang diminta oleh Yaya.
Beberapa saat kemudian sang penjaga toko kembali dengan membawa sebuah arloji digital berwarna navy yang masih berdiri tegak di atas penyangganya. Benar ini dia jam tangan incaran mereka, sesuai ekpetasi arloji itu memang sangat bagus terutama bahan dan mesinnya.
"Kau suka Ice?" tanya Yaya pada bocah yang terlihat masih meneliti jam tangan tersebut dengan begitu fokus.
"Jam tangan ini bagus sekali, banyak yang sudah menawar untuk mendapatkannya. Nak, kelihatan benda ini cocok denganmu dan karena kau masih pelajar aku akan berikan diskon untukmu" kata si pelayan toko memberikan promosi pada Ice.
Ice yang mendengarnya pun mengangkat wajahnya menatap si pemilik toko "Terima kasih tapi ini bukan untukku. Aku ingin membelinya sebagai hadiah ulang tahun untuk Kakakku" jelasnya pelan.
Saat mendengar alasan Ice membeli barangnya si pemilik toko sontak berdiri. "Hadiah!? Kalau begitu aku akan berikan kau diskon tambahan lagi!?" serunya begitu bersemangat.
"Benarkah!?" Yaya sampai dibuat kelabakan dan tidak percaya yang dia dengar.
"Iya. Kebaikan itu harus diapresiasi, kau pasti sangat sayang pada Kakakmu" sahut si pemilik toko.
"Kalau begitu... aku ambil" ujar Ice sepakat dengan tawaran si pemilik toko.
Dan dengan sigap pria tua itu pun langsung mengeluarkan jam itu dari pajangannya dan mencari-cari kotak pembungkusnya di dalam lemari bawah etalase itu.
Yaya tersenyum pada anak itu kemudian beralih pada pemilik toko untuk meminta sesuatu. "Ah, bisakah anda membungkusnya dalam tas bingkisan dan menuliskan ucapan selamat ulang tahun ke... Berapa?" ucapnya beralih pada Ice.
"Dua puluh satu..." sahut Ice pelan.
"Beres!" jawab sang pria tua bersemangat.
Anak itu terlihat begitu senang, akhirnya ia bisa menemukan hadiah untuk ulang tahun Kakaknya. Setelah ini dia berniat mengirimnya lewat pos karena minggu depan Kakaknya masih belum bisa pulang. Setidaknya dia ingin Kakaknya bisa mendapatkan hadiah tepat di hari ulang tahunnya.
~MA~
Tidak terasa matahari sudah semakin jatuh terbenam ke arah barat dan membuat warna langit menjadi merah kejinggaan. Karena akhirnya misi mereka berhasil keduanya pun pulang menuju apartemen mereka. Setelah turun dari kereta mereka pun mengambil jalan pintas menuju perumahan melalui sebuah gang besar yang disampingnya terdapat sebuah pembangunan gedung baru.
Yaya menoleh pada Ice di sampingnya. Ia kelihatan sangat senang, di tangannya saat ini terdapat tas bungkusan cantik berwarna biru dengan motif kembang api yang berisi arloji hadiah untuk Kakaknya. Dan dia tidak pernah melepaskan bungkusan itu sejak keluar dari toko hingga sekarang.
"Syukurlah kita bisa menemukan hadiah untuk Kakakmu" ucap Yaya mengawali percakapan diantara mereka.
"Iya..." sahut Ice pelan.
"Aku harap dia suka hadiahmu ini" ujar Yaya lagi.
Ice diam tak menjawab dan tiba-tiba saja menghentikan langkahnya hingga menghasilkan sebuah jarak yang cukup renggang diantara mereka. "Nee-san..." panggilnya pada gadis di depannya.
Yaya sontak membalikkan tubuhnya ketika anak itu memanggilnya. Kelihatannya ada yang ingin dikatakan olehnya, jadi gadis itu hanya menebak-nebak kira-kira apa yang ingin diucapkannya.
"Ada yang ingin kukatakan..." benar kan? Seperti dugaan, memang sesuatu yang ingin dibicarakannya.
Yaya pun menunggunya dengan sangat sabar.
"Aku... Aku...
.
.
Aku suka padamu..."
Yaya sontak membelalak lebar ketika mendengar kalimat terakhir itu. Namun setelahnya ia mencoba untuk sedikit rasional, paling Ice menyukainya hanya sebagai teman atau justru menganggapnya sebagai Kakak yang bisa diandalkan.
Benar, hanya sebatas teman.
"Oh... B–Begitu...? Uhmm... Aku juga suka pada Ice-kun ko–"
"Bukan begitu!" Selaan Ice pun sukses membuat gadis itu tersentak kaget dan semakin kebingungan. "Bukan suka yang seperti itu... Aku menyukai Nee-san bukan sebagai teman apalagi tetangga. Dan aku tidak mau dianggap sebagai adik. Aku menyukai Nee-san... dan aku melihatmu sebagai seorang perempuan."
'Ice itu agak pemalu untuk mengungkapkan sesuatu' tapi ini pertama kalinya dia mengatakan perasaannya langsung dengan mulutnya sendiri.
"Kalau Nee-san... kalau Nee-san melihatku sebagai apa?" Ice menatap begitu dalam pada Yaya, dengan sabar ia pun menunggu jawaban dari gadis itu.
"Aku..."
'kriit...'
Ice tersentak dengan suara deritan panjang tersebut. Yaya mungkin tidak bisa mendengarnya tapi Ia bisa, suara itu sangat jelas, itu suara baja yang saling bergesekan satu sama lama lain. Makin lama suaranya semakin besar dan panjang hingga membuat ngilu pendengaran anak itu.
Sementara itu Yaya di depannya terlihat kebingungan harus memberikan jawaban seperti apa. "Aku..."
"NEE-SAN AWAS!"
Segera kata-kata Yaya terputus karena tiba-tiba saja Ice mendorongnya dengan cukup keras hingga gadis itu terjungkal ke belakang dan berakhir dengan tubuh tergeletak serta terkulai lemas di atas tanah. Disaat yang sama beberapa buah material baja yang tergantung di atas mereka langsung berjatuhan dengan cepat hingga menimpa Ice yang berada di bawahnya, sepertinya tali baja yang mengikatnya putus karena tidak kuat menahan beban yang berlebihan.
Yaya membuka kedua matanya, ia tidak begitu ingat kenapa sekarang dirinya bisa terbaring di permukaan tanah. Penglihatannya agak kabur dan tubuhnya sakit, butuh beberapa saat baginya untuk memproses keadaan. Dan beberapa saat kemudian saat penglihatannya pulih ia bisa melihat tumpukan besi berhamburan di depannya.
Dia ingat beberapa saat yang lalu tubuhnya didorong ke belakang oleh Ice dengan sangat keras dan Ice...
"Ice-kun!" Dengan panik Yaya pun langsung memaksakan tubuhnya untuk bangkit dan mendatangi tumpukan material yang berceceran di atas tanah itu. Ia tidak percaya, anak itu mengorbankan dirinya agar ia tidak ikut terkena hantaman besi-besi yang sangat berat tersebut.
Namun langkahnya segera terhenti ketika melihat tumpukan besi itu bergerak, Ice tampak keluar dari sana dan bangkit berdiri setelah menyingkirkan baja yang menindihinya dengan satu tangan sementara tangan yang satunya sibuk memegang bungkusan kado.
"Apa-apaan sih bikin kaget aja... Untuk bingkisannya gak rusak..." gerutunya sambil menyibak debu dari kaos dan cardigannya dengan santai.
Yaya memperhatikannya dengan tatapan 'krik-krik', anak itu baik-baik saja tidak ada bagian tubuh yang hancur, patah maupun terluka sedikit pun seolah dari awal memang tidak terjadi apa-apa. "Oh iya kok aku bisa lupa? Yang begitu kan tidak akan berpengaruh apa-apa pada Ice-kun" batinnya berkomentar.
"Nee-san kau baik-baik saja?" dan justru anak itulah yang terlihat khawatir padanya.
Yaya tertawa kecil. "Tidak apa-apa, hanya sedikit kaget saja" jawabnya selagi Ice tampak sibuk dan mencoba keluar dari tumpukan material itu.
"Syukurlah..." Ice menatap pada Yaya dengan sebuah senyuman lembut. "Ayo kita pulang, sebelum ada yang melihat kita disini" lanjutnya mengajak Yaya untuk kabur dengan begitu terburu-buru.
"Ice-kun, mengenai pertanyaanmu tadi" tegur Yaya dan sontak membuat bocah bermata biru laut itu berbalik menatapnya. "Aku..."
"Tidak dijawab sekarang juga tidak apa-apa, aku tahu Nee-san pasti butuh waktu untuk memikirkan jawabannya." potong Ice datar dan kedua manik yang digulirkan ke arah lain. Setelahnya ia pun melangkah kedua kakinya untuk maju lebih dahulu.
"Maaf! Untuk saat ini aku hanya menganggap Ice-kun sebagai teman!" pernyataan dari Yaya pun sukses membuat Ice membelalak karena saking kecewanya. "Tapi aku akan mencoba mengembangkan perasaanku. Dan mungkin suatu saat nanti aku nggak akan cuma menganggap Ice-kun sebagai teman saja, tapi juga sebagai pacar" namun kelanjutannya membuat hatinya agak sedikit lega.
Dengan senyum mengembang dan kedua pipi yang mem-blushing "Kalau begitu akan kutunggu... sampai saat itu tiba" ia pun menyahut. "Sebagai gantinya... boleh aku memegang tanganmu?" pintanya dengan lembut.
Yaya agak ragu untuk melakukannya, dengan perasaannya yang tidak karuan seperti sekarang rasanya sangat sulit untuk mengabulkan permintaan kecil seperti itu.
"Jangan khawatir... anggap saja aku ini adikmu" tapi sesaat ia pun dibuat kembali tenang dengan ucapan anak itu.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum, perlahan dengan lembut ia pun menggenggam tangan dengan kulit seputih salju tersebut.
"Hari ini menyenangkan sekali Nee-san, lain kali kita jalan-jalan lagi ya?" ucap Ice dengan suara cempreng dan wajah polos layaknya adik kecil, kelihatannya ia sengaja bertingkah seperti ini agar Yaya merasa nyaman.
"Iya... Nah, ayo kita pulang" balas Yaya sambil tersenyum padanya seperti biasa dilakukannya.
Jadi keduanya pun segera beranjak dari tempat itu sambil berpegangan tangan, tubuh Ice yang lebih kecil membuat mereka terlihat seperti Kakak-beradik yang sedang berjalan bersama-sama.
~MA~
Malam pun semakin larut, sementara itu di tempat yang sangat jauh dari Tokyo. Terdapat sebuah jembatan dengan aliran sungai yang tidak begitu deras karena banyaknya tanaman dan rumput liar yang tumbuh lebat di sekitarnya, sangat cocok untuk menjadi habitat serangga maupun kunang-kunang yang terlihat beterbangan kesana-kemari.
Di atasnya seorang pria nampak duduk disana dengan satu kaki terangkat. Dengan kedua mata tertutup ia pun menikmati semilir angin pedesaan yang begitu segar dan belum tercemar polusi layaknya di perkotaan.
Di atas kepalanya terdapat sepasang telinga kucing yang diselimuti oleh bulu halus berwarna hitam, jika diperhatikan sekilas wajahnya agak mirip dengan Ice, bedanya tubuhnya lebih besar dan buntutnya yang juga berwarna hitam itu pun terbelah dua di pangkalnya seolah dia punya dua buah ekor.
Ciri khas dari Nekomata dewasa.
Ketika mata itu terbuka tampaklah sepasang manik indah berwarna biru langit.
Sang pemilik mata mendongkakan wajahnya menatap langit cerah penuh dengan bintang-bintang dan bersenandung kecil hingga akhirnya menyanyi dengan begitu pelan.
"Aku tak bisa melihat perasaanmu.
Semakin ku berharap, aku semakin terluka.
Meskipun begitu aku tidak bisa membencimu"
"Yo Taufan!"
Hingga beberapa saat kemudian nyanyiannya pun dibuat buyar oleh teguran seorang laki-laki. Dari ekor dan telinga kucing berwarna kuning kejinggaannya miliknya, kelihatannya ia juga merupakan Nekomata yang disewa untuk bekerja disini.
Sang pria bertelinga kucing itu pun mengambil posisi duduk tepat di sebelah orang bernama Taufan tersebut. Ia mengeluarkan dua kotak susu dari kantong belanjaan miliknya. "Kau mau?" dan menawarkan salah satunya pada si kucing hitam.
Dan dengan senang hati diterima olehnya. "Terima kasih. Dapat dimana?" kata Taufan bertanya.
"Tadi aku beli di depan" jawab temannya tersebut seraya memasukkan sedotan ke lubang yang disediakan di atas kotak susu tersebut.
Taufan menggumam setelahnya ia pun ikut menusukkan sedotan ke kotak tersebut dan menyedot isinya sedikit.
Keduanya memandang ke depan, dari kejauhan mereka bisa melihat sebuah bangkai kereta yang teronggok tidak terurus, bahkan kepalanya yang berada dalam terowongan bekas terjepit oleh bebatuan gunung pun belum dikeluarkan.
Benar, kira-kira dua bulan yang lalu terjadi kecelakaan yang menimpa alat tranportasi umum tersebut. kereta terjebak oleh longsoran gunung diatas terowongan. Banyak orang yang menjadi korban jiwa dalam insiden tersebut, penyebabnya karena pendarahan hebat akibat luka dan benturan keras juga terjepit oleh material gunung yang begitu berat.
Ini merupakan kasus kematian massal yang cukup mengerikan.
"Nganggur ya?" kata si kucing kuning belang itu mengawali pembicaraan.
"Sebenarnya kerjaan kita itu sudah beres, karena sebagian besar roh sudah banyak yang ditangani" sahut Taufan agak datar.
"Terus kenapa si Bos nggak memulangkan kita aja sih? Daripada kita jadi nganggur gini dan malah ngenggosip" gerutu temannya itu.
"Entahlah... buat jaga-jaga aja kali, siapa tau aja masih ada roh yang belum ditangkap"
Tepat setelah mengatakannya si pria bermata saphire itu pun tersentak, dari jauh dia bisa melihat ada sebuah cahaya berwarna biru kelam berputar di sekitar bangkai kereta api tersebut. Ia mengedutkan dahinya dan memastikan jika anggapannya tidak salah. Mungkinkah masih ada roh yang belum diantar kepada Dewa Kematian?
Sontak sang Nekomata pun berdiri dari tempatnya dan langsung memasang ancang-ancang untuk melompat.
"Jadi Taufan, kemarin si Chloe nanya padaku apa kau– Kenapa?"
"Aku pergi dulu. Abisin aja punyaku kalau mau" Dengan gesit ia pun lompat dari jembatan dan mendarat pada dahan pohon yang ada di dekatnya. Dia berpindah dari satu pohon ke pohon lain hingga temannya tidak bisa melihat lagi sosoknya yang terus masuk lebih dalam ke hutan.
"Ya ampun..." kucing belang itu hanya menggeleng sambil menyedot susu kotak miliknya.
~MA~
Mari kita lihat sebenarnya apa bentuk asli dari cahaya biru kelam yang dilihat oleh Taufan.
Itu adalah seorang pria, usianya mungkin sekitar 40 tahun an, memakai kemeja rapi berwarna ungu dan dasi yang agak longgar. Dia terlihat asik berlari-lari dan mencoba untuk mencari jalan keluar dari hutan.
"Nyahahahaha! Mau kemana cuy? Buru-buru banget."
Hingga tiba-tiba sebuah suara melengking dan bergema di sepanjang hutan pun membuatnya ketakutan dan menghentikan langkahnya. Ia nampak memucat dan memutar-mutar kepalanya mencari sumber dari suara tersebut. Disaat yang sama entah darimana muncul kabut di dalam hutan itu hingga membuat apapun yang ada disana hampir tidak terlihat dengan jelas lagi dan membuat suasana semakin mencekam.
Sosok itu pun akhirnya menampakkan diri di atas sebuah dahan pohon besar di depannya, berjongkok dengan kedua lengan disatukan ke depan persis seperti cara duduk seekor kucing. Ia tampak menyunggingkan sebuah senyuman dengan kedua ekornya berayun-ayun ke kanan dan ke kiri.
Sontak sang pria tua itu pun pucat pasi begitu melihatnya. "Ne–Nekomata..." gumamnya panik.
"Selamat malam~" dengan begitu ceria si kucing hitam pun menyapa roh pria yang tengah mencoba melarikan diri tersebut.
"K–Kenapa kau bisa ada disini!?"
Dari jongkok sekarang Taufan pun berganti posisi menjadi duduk dan menyamankan diri di atas dahan tersebut. "Kenapa? Pertanyaan yang cukup menarik. Kalau gitu boleh tanya juga, kenapa kau masih ada disini sedangkan roh lain sudah berada di tempat seharusnya?"
"Kenapa kau malah bertanya balik, jawab dulu pertanyaanku! Tidak sopan sekali pada orang yang lebih tua!"
Saat mendengarnya Taufan sontak dibuat cengo, namun setelahnya ia malah tertawa geli. "Nyahahaha! Heh... Manusia itu kalau sudah mati, mau tua muda, pria wanita dimata kami semuanya sama" ujarnya bergidik menahan tawa.
"Minggir! Aku harus keluar dari sini dan pergi menjumpai istriku!"
"Untuk minta maaf karena sudah berselingkuh darinya?" ucapan Taufan pun sukses membuat si pria membulatkan mata karena saking terkejutnya. "Yamajima Kijiki, lahir tanggal 7 juli, bekerja sebagai manajer pada perusahaan tekstil, sudah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki, meninggal di usia 44 tahun dalam kecelakaan kereta saat menuju Kyoto."
Pemuda bermata saphire itu pun berdecak dan menggeleng "Manusia, manusia... Kalau sudah mati baru menyesal, mau minta maaf pun sudah terlambat. Sudahlah lupakan saja itu! Lebih baik sekarang kau ikut aku menemui Dewa Kematian! Lagipula kau juga tidak akan menemukan jalan keluar dari sini kalau tidak dipandu oleh Nekomata!"
"Jangan bercanda, aku tidak mau!"
Taufan mengangkat bahu dengan ekspresi cuek. "Terserah. Kalau gitu silahkan cari jalan keluar sendiri, tapi biar kuberitahu duluan, ujung dari hutan ini adalah neraka lho, kalau terjun dari sini bisa langsung jadi daging panggang kau" ancamnya datar.
"KAU PIKIR AKU PERCAYA DENGAN HAL ITU!?"
"Kalau gitu buktiin aja sendiri" sahut Taufan santai dan saat ini terlihat sedang mengayunkan kedua kakinya.
Dan si pria pun langsung saja berlari meninggalkan tempat itu beserta Taufan yang nampak menoleh dan memperhatikannya dengan senyuman licik.
.
Sementara itu si pria terlihat sibuk mencari jalan keluar dari hutan gelap dan berkabut tersebut melalui jalan setapak kecil yang ada disana. "Hmph... Tidak bisa keluar? Neraka? Apanya? Lihat saja aku pasti akan segera pergi dari sini dan menemui keluargaku" gerutunya sendirian selagi tangannya sibuk menepis ranting dan akar-akar gantung di dekatnya agar ia bisa lewat.
Dan beberapa saat kemudian tampaklah seberkas cahaya di depannya yang ia yakini sebagai ujung dari hutan ini. Dengan begitu senang dan bangga si pria sontak mendatangi arah cahaya tersebut.
"Aku berhasil... Aku selamat! Aku selamat! Aku sela–" namun alangkah kecewanya dia begitu mendapati asal cahaya itu merupakan kawasan hutan yang sama.
"Udah nyerah ya? Cepat juga"
Si pria sontak dibuat terkejut begitu mendengar seseorang bicara padanya. Dengan cepat ia menoleh pada sumber suara dan mendapati pemuda bertelinga kucing sebelumnya tengah duduk selonjor di atas dahan pohon dan menyenderkan punggung pada batangnya sambil mengemut sebuah lolipop.
"K–Kok kau juga ada disini!? Kau mengikutiku ya?" seru si pria terlihat begitu kesal.
Taufan pun membuang nafas sambil memainkan bahunya. "Ngomong apa sih? Aku udah dari tadi duduk disini nggak pindah kemana-mana. Bukannya justru kau yang balik lagi kesini?" sanggahnya kalem.
Mendengar pernyataan tersebut tentu saja pria itu dibuat bingung, tapi memperhatikan dengan jeli sekelilingnya barulah dia sadar jika yang dikatakan kucing hitam itu sungguhan, pepohonan dan tanaman disini memang sekilas mirip namun ini benar posisi awalnya tadi.
Tanpa disuruh si pria pun kembali melangkahkan kakinya menerobos gelap dingin dan suramnya area hutan tersebut. Hingga ia mendapati kembali sebuah cahaya di ujung jalan tersebut. Dan dia pun kembali lagi ke tempat itu semula.
Ia melihat si kucing masih duduk di dahan itu dengan posisi yang sama hanya kali ini dia terlihat asik mengasah kuku-kukunya yang panjang dengan sebuah kikir."Gimana, udah ketemu jalan keluarnya? Terus ceritanya balik lagi kesini buat nyombong gitu?" ucapnya tanpa menoleh.
Belum menyerah, si pria pun berputar balik dari dari arahnya datang dan kembali menjelajah di dalam hutan, mencoba dan menelusur setiap belokan yang berbeda secara acak.
Namun hasilnya nihil, pada akhirnya ia hanya berputar-putar dan tetap kembali ke tempat itu lagi. Dia sudah sangat lelah dan kakinya pegal, sementara si kucing terlihat sangat santai menyenderkan kepalanya pada batang pohon dengan kedua telapak tangan sebagai bantalan sambil menutup mata. "Sudahlah menyerah saja, tadi kan sudah kubilang kau akan tidak bisa keluar dari sini kalau nggak dituntun oleh kucing iblis."ujarnya.
Pria itu pun hanya bisa tertunduk dan berlutut lemas di tanah. "Mustahil..."
Taufan pun membuka satu matanya dan mengintip pada si pria. "Lagian kau gak capek apa, keliling-keliling ujung-ujungnya malah balik kesini? Keliling, balik lagi kesini. Keliling, balik lagi kesini! Aku yang ngelihat aja capek tau."
"K–Kau tahu dimana posisiku?"
"Ya iyalah... Ini kan wilayah teritory ku, aku pasti tahu apapun yang ada disini" sahut Taufan dan membuat si pria syok karena ketakutan. "Jadi gimana? Aku beri kau empat pilihan. Menyerah dan ikut denganku menemui dewa kematian atau terjebak disini selamanya. Kau juga bisa mencari ujung hutan ini dan langsung melompat ke neraka atau... mau kumakan disini? Aku suka loh yang banyak dosa kayak gini, gurih banget kayak banyak micinnya gitu" jelasnya yang diakhiri dengan ancaman.
"Tidak... Kenapa aku harus berakhir seperti ini... Aku belum berhasil membahagiakan istri dan anakku... Setidaknya aku ingin memastikan mereka baik-baik walaupun tanpaku!" si pria pun mendongkak ke atas menyeru pada Taufan, siapa tahu mungkin dia berubah pikiran dan mengizinkannya melihat keluarganya barang sebentar.
Sayangnya, si kucing hitam sudah menghilang dari sana. "Heh?" sontak si pria pun dibuat terheran-heran.
Seperti memotong angin, dengan begitu cepat Taufan sudah berpindah ke belakang pria tersebut dengan posisi mengambil ancang-ancang layaknya seekor predator yang tengah bersiap untuk menerkam mangsanya. Keduanya matanya yang tajam memancarkan cahaya berwarna kebiruan. Sebuah seringai licik pun tak lupa menghias kedua bibirnya.
Si pria tua yang merasakan kehadirannya sontak menoleh, namun tak ada apa-apa disana. Tapi dia yakin jika kucing hitam itu masih ada di sekitarnya. Dengan panik dia segera mengambil langkah seribu dan masuk lebih dalam ke hutan .
Sambil terengah-engah dikerahkannya sisa-sisa kekuatan untuk menggerakan kaki-kakinya. Selama berlari ia bisa mendengar, melihat dan merasakan walau secara sekilas jika si kucing tengah mengintai dirinya, entah itu dari balik semak-semak, diatas pohon atau bahkan terkadang di tepat dibelakangnya.
Seperti saat ini, barusan dia merasakan jika kucing itu berada dekat sekali dengannya, bisa dibilang di sampingnya. Jadi ia pun berhenti sejenak untuk menoleh, tapi tentu saja tidak ada apapun di belakangnya.
Dan ternyata Taufan aslinya tengah berjongkok di atas dahan sebuah pohon tepat di depan pria tersebut. Matanya mengintai dan penuh kewaspadaan dan ekornya terus bergerak-gerak. Tahu si pria lengah ia pun langsung melompat dan menerjang dari sana.
Lalu...
.
.
.
"Jun! Aku masuk ya!?"
Seorang pria dengan usia penampilan 20-an dan jas hitam lengkap pun dibuat kaget ketika seekor nekomata dengan telinga dan ekor berwarna hitam membanting pintu ruang kerjanya dengan keras, hampir saja catatan penting yang saat itu ditulisnya tercoret.
Sang nekomata yang diketahuinya bernama Taufan itu tampak datang sambil menggendong seorang pria di bahunya. "Aku menangkap satu roh lagi. Dia mencoba kabur, jadi kujebak dia dalam hutan kematian" kata si kucing.
"Kau itu memang keterlaluan" komentar pria bernama Jun tersebut.
"J–Jangan kumohon... Tolong lepaskan aku... Aku hanya ingin melihat istri dan anakku sebentar saja" ucap si pria paruh baya yang sebelumnya dikejar oleh Nekomata tersebut memohon dengan ketakutan ketika ia tahu sudah berhadapan dengan seorang dewa kematian.
Taufan mendelik tajam padanya. "Kalau semua roh sepertimu ku biarkan, yang ada siluman bisa tambah banyak tahu" bentaknya seraya menurunkan si pria dan melemparkannya hingga orang itu terduduk di atas lantai dengan pantat mendarat lebih dahulu.
"Kau urus sisanya, aku pergi dulu ya" ucap Taufan pada si dewa kematian sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu sambil menutup pintu rapat-rapat.
Sementara laki-laki paruh baya yang masih duduk di lantai itu pun hanya memucat di tempat, ia tampak bingung, panik dan tidak tahu harus melakukan apa saat yang ada di hadapannya sekarang adalah Dewa kematian.
"Selamat datang~ Silahkan duduk." Sapa si Dewa lembut dan penuh senyuman pada tamunya tersebut.
.
Ice Arc
Completed.
