Matahari pagi masih enggan untuk menyinari langit biru di atas tanah Kerajaan Eowyn, gumpalan awan putih menutupi setiap sinar yang berhasil lolos dari bayangannya. Desiran angin lembut menggerakkan hiasan langit itu namun tak berhasil menyingkirkan dari hadapan Sang Matahari. Pagi ini hanya kicauan burung dan juga suara – suara hewan lainnya terdengar dari balik hutan Eowyn, beberapa petugas Istana dan para prajurit yang sudah memulai aktifitas pagi mereka mulai berlalu lalang disekitar Istana demi menjalankan sebuah tugas. Sementara sebagian para Putera dan Puteri Mahkota masih berada didalam kamar mereka larut dalam alam mimpi, kecuali Baekhyun—sang Puteri Mahkota Lynkestis—kini tengah menikmati waktu olahraga paginya seorang diri.
Gerak kakinya bergerak cukup stabil dengan kecepatan normal membelah isi hutan Eowyn, pandangannya terarah kedepan difokuskan untuk melihat arah tujuan gerak kakinya dan juga memastikan setiap langkah yang ia gerakkan berada dalam posisi jalan yang aman. Gerak ikatan rambutnya terayun mengikuti arah angin, kaki mungilnya yang dilapisi celana hitam cukup ketat membentuk porsi bagian kaki yang sempurna. Sedangkan bagian atas badannya hanya ditutupi jaket hitam yang cukup kebesaran menutupi badannya dan terlihat sport bra berwarna senada dengan jaket dan celananya.
Deru nafasnya semakin terdengar tak beraturan menandakan gerak jantungnya terpompa terlalu cepat, tangannya bahkan sudah mengepal kencang dan kini langkahnya larinya semakin ia percepat setelah pendengarannya sepintas mendengar deru kencang suara gemuruh air terjun yang sudah dari awal menjadi tujuannya.
Sebuah senyuman terbentuk diwajahnya ketika melihat pemandangan air terjun itu dari dekat, tangannya mengusap beberapa keringat di kening dan pipinya diiringi langkah pijakan kakinya menapaki bebatuan dibawah sana.
"Lebih indah di pagi hari." Gumamannya dengan suara bahagia kagum akan pemandangan pagi hari melihat bagaimana gemuruh suara air terjun dan juga biasan Cahaya Matahari yang terlihat bertabrakan dengan kabut yang ada disekitar air terjun.
Baekhyun mulai membuka sepatu dan jaket yang menutupi badannya satu – satu, setelahnya ia melangkah lebih dekat dan duduk disekitar bebatuan yang cukup dimana air terjun itu jatuh. Pandangan matanya terpejam, pendengarannya terfokuskan pada suara gemuruh sementara kaki – kaki mungilnya bermain dengan air di sungai.
Untuk sementara waktu pikirannya terpenuhi dengan sebuah ketenangan dan keindahan yang mengisi pikirannya, hingga beberapa saat suara kicauan burung mengusik ketenanganya. Yang ia dapatkan saat matanya terbuka secara perlahan betapa indahnya sebuah biasan Cahaya dan titik air terbentuk menjadi sebuah pelangi yang indah diatas kepalanya. Baekhyun beranjak berdiri dan melihat setiap warna yang terbentuk, pandangan matanya jelas menunjukkan kebahagian yang mendalam dari dirinya, dua mata yang terbentuk layaknya bulan sabit terlihat menambah sisi kelembutannya.
"Pelangi."
Setelah ia mengucapkan sebuah keajaiban yang terjadi diatas kepalanya, kakinya berpindah menuju ke tempat bebatuan lainnya bermaksud melihat lebih jelas bagaimana pelangi yang terjadi diatasnya kepalanya itu bisa terjadi. Anehnya, langkahnya terhenti ketika pandangan matanya semkin jelas melihat sosok yang tengah duduk diatas bebatuan yang berjarak cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Seorang anak kecil.
Anak kecil itu memiliki tinggi yang cukup pendek dari Baekhyun, rambutnya hitam panjang dengan porsi badannya yang cukup proporsional atau bagi Baekhyun sosok yang membelakangi dirinya terlihat sedikit berisi dibandingkan dirinya. Baekhyun tengah berpikir bagaimana anak kecil ini bisa berada di tempat yang sama dengannya—padahal seingatnya tidak ada satu pun orang lain selain dirinya di sekitaran air terjun ini.
"Halo."
Sosok itu berbicara kearah Baekhyun, dan berhasil membuat dirinya diam terkejut mendengar suaranya yang merdu dan lembut serta bernada riang.
"Aku datang dari Langit." Kembali mulut anak kecil itu memberi tahu.
"Dari langit? Kau anak Dewi atau Dewa?" Baekhyun menggigit bibirnya tengah berpikir apakah mungkin anak kecil yang berhadapannya benar – benar berasal dari langit. Berarti ia keturunan Dewa atau Dewi bukan?
"Hum, aku keturunan Dewi—dan Dewa."
"Aaahh.. kau tinggal di Olympus?" Baekhyun bertanya lagi dan anak kecil dihadapannya menggelengkan kepala.
"Aku dari Langit." Suaranya memperjelas dengan agak kesal. "Mama mengatakan belum saatnya aku kembali ke Olympus, tapi aku bisa datang kapan saja kesana kalau aku ingin, tapi tidak bisa bertahan lama."
Baekhyun mendengarkan dan kini duduk dihadapan gadis itu. "Lalu, kenapa kau bisa datang kemari?"
"Tidak tahu, mungkin Mama mengijinkan aku bermain denganmu." Anak kecil itu tersenyum manis kearah Baekhyun yang juga membalas senyumnya.
"Senyummu manis."
"Iya, ini senyuman Papa."
"Papa? Hahah, benarkah? Siapa yang mengatakan?"
"Mama tentu saja. Mama mengatakan senyuman milik Papa membuatnya bahagia."
"Ahh.." Baekhyun menyetujui meskipun ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh anak kecil itu.
"Kalau Mama rindu dengan Papa, Mama akan membuat Luna tersenyum terus, jadi Mama bisa membayangkan Papa berada didekat kita."
"Tunggu, namamu Luna?"
"Um. Namaku Luna."
"Seperti nama Dewi Bulan."
"Mama menamaiku dengan nama yang sama dengan nama Dewi Bulan."
Baekhyun menganggukkan kepala dan membiarkan Luna bermain dengan air disekelilingnya dengan kaki yang bergerak – gerak menendang setiap aliran air.
"Apa Mama dan Papa-mu terpisah?" Luna menganggukkan kepala.
"Mereka terpisah beberapa tahun lalu, dan Dewa tidak bisa menyatukan mereka bersama dalam satu tempat. Bahkan aku juga tidak bisa bersama dengan mereka."
Baekhyun semakin tidak mengerti. "Ke-kenapa? Apa yang terjadi?"
Luna tersenyum nakal dan menggerakkan tangannya untuk memegang wajah Baekhyun. "I'll show you, Mama."
"Dia bergerak." Suara sang Phoenix terdengar memberi tahu bagaimana telapal tangannya merasakan pergerakan didalam perut buncit sang Elayne yang kini tengah mengandung buah hati kesayangan mereka.
"Dia menyukai suaramu." Elayne mengusap perutnya merasakan pergerakan dari tendangan kaki bayi mereka didalam sana.
"Tentu saja dia menyukai suaraku, bahkan dirimu juga menyukai hal yang sama. Benarkan?"
Elayne menganggukkan kepala, salah satu tangannya mengusap pipi sang Phoenix dengan begitu lembut serta mengarahkan wajah itu untuk mendekat ke hadapan wajahnya. "Aku menyukai semuanya." Sebuah ciuman mendarat lembut pada bibir tebal sang Phoenix dan langsung ia sambut dengan senang hati. Sebuah ciuman yang selalu ia rindukkan meskipun kenyataannya setiap saat mereka bisa lakukan di berbagai kesempatan dan dimana saja.
"Luna."
Elayne terdiam dengan bibirnya yang mulai menjauh dari bibir Phoenix. "Lu-luna? Siapa Luna?" nada suaranya mengarahkan penuh pertanyaan akan sebuah nama yang diucapkan Phoenix disela – sela ciuman mereka.
"Nama Puteri-mu kelak Yang Mulia." Phoenix memberikan sebuah kecupan pada pipi Elayne. "Nama Puteri-mu yang akan menjadi Dewi Bulan bagi dunia ini."
"Aku suka nama itu." Elayne tersenyum malu mendengar penjelasannya.
"Tentu saja." Phoenix memberikan sebuah ciuman lagi pada kening dan pipi yang lainnya. "Dia akan mewarisi semua kelembutannmu dan juga menjadi Puteri yang tangguh seperti aku. Benarkan?"
"Tapi jangan mewarisi tingkat kemesuman dari Chanyeol—
Chanyeol memejamkan matanya sedangkan Baekhyun menahan suara ketawanya mendengar Dewi Athena berkomentar tak jauh dari tempat mereka berdua yang tengah berbagi pelukan dan sebuah ciuman.
Luna melepaskan sentuhan tangannya, senyumannya mengembang lebar menghiasi wajahnya yang putih. "Papa yang memberikan nama itu untukku, bagus bukan?"
Baekhyun terdiam dengan seluruh badannya yang bergetar seusai tangan Luna menjauh darinya.
"Aku merindukan Mama." Luna memeluk badan Baekhyun secara tiba – tiba dan itu malah membuat Baekhyun lebih ketakutan.
"Ka-k-kau." Tangan Baekhyun menutup mulutnya, airmata mulai mengalir sedikit demi sedikit mengingat apa yang baru saja ia lihat dalam pikirannya setelah Luna menyentuh pipinya. Luna terdiam dalam posisinya dan kembali menyentuhkan telapak tangannya pada pipi Baekhyun. "Ini belum selesai." Ia berbisik, kedua tangannya menyentuh pipi halus hingga ia memejamkan matanya bersamaan dengan Baekhyun yang melakukan hal yang sama.
Baekhyun tengah menjerit kesakitan merasakan pergejolakan dari dalam perutnya, kedua kakinya tengah terbuka lebar sedangkan kepalanya berkali-kali ia hentakkan pada bantal yang menjadi alasnya karena merasakan sakit yang luar biasa dibawah perutnya.
"Chanyeeeeeoolllllll!" mulutnya sudah berulang kali memanggil nama itu namun belum ada tanda – tanda kehdiran dari sosok yang dipanggil olehnya. Hanya beberapa keturunan Dewa dan Dewi yang berlalu lalang untuk melihat kondisinya dan juga keadaan didalam perutnya. Athena dan Aphrodite memaksa tidak kan menunggu terlalu lama lagi untuk segera membantu Baekhyun melahirkan anak mereka didalam sana namun perintah sang Dewa tertinggi—Zeus yang meminta bahwa Papa dari sang Anak yang dikandung Baekhyun haruslah ada dalam proses kelahiran keturunan mereka.
"Apa Yoora tidak bisa membawa Chanyeol hanya dalam sekejap?"
"Hey Elayne, tenang sayang.. dia pasti datang. Kau harus tenang supaya Luna tidak takut didalam sana." Athena mengusap kening Baekhyun serta menggenggam tangannya yang kini menjadi remasan untuk tangan Baekhyun.
"Ke-keluarkan dia.. dia ingin keluar!"
"I-iya.. kami akan mengeluarkannya." Aphrodite yang menyahut. "Kau harus tenang sayang, belum waktu yang tepat untuk Luna."
"Aaaarrrgghhhh!" Baekhyun berteriak lagi dan bersamaan cairan putih membasahi pahanya yang sontak membuat panik Kedua Dewi yang berada di dekatnya.
Salah satu dari mereka melangkah cepat keluar dan memangil nama Yixing sekuat tenaga—Dewi Athena. Aphrodite menjadi pihak yang memberikan kekuatan pada Baekhyun dengan kata – kata penguat mengatakan bahwa Phoenix akan berada bersamanya dalam waktu dekat dan keadaan Puteri mereka yang akan baik – baik saja hingga proses kelahiran.
"Waktunya sudah hampir tiba. Bulan akan mencapai titik penuhnya dalam waktu dekat dan Puteri mereka akan lahir disaat yang sama." Yixing masuk dalam ruangan dan mulai menyiapkan segala perlengkapan untuk proses kelahiran Baekhyun.
"Bisakah menunggu Chanyeol sebentar lagi?" Athena menahan tangan Yixing.
"Dia belum kembali dari perang disana Athena!" Yixing berbisik namun dengan suara tegasnya jelas penuh penekanan.
"Aku minta sebentar lagi, mereka harus berada bersama dalam kondisi seperti ini—
"Baekhyun!" suara dorongan keras dari arah pintu terdengar.
"Chan—" Baekhyun melepaskan pegangan tangan Aphrodite dan langsung mengarah pada tangan Chanyeol yang langsung disambut dan digenggam sepenuhnya.
"Aku disini." Chanyeol mengusap wajah Baekyun
"Aku takut."
"Aku akan menjagamu disini."
"Okey—sekarang sudah waktunya." Yixing memberi tahu dan memposisikan diirnya mendekat kearah Baekhyun. "Buka lebih lebar kakimu sayang." Yixing membantu Baekhyun melebarkan kakinya dan juga menaikkan kain gaunnya hingga keatas pinggang.
"Tugasmu memberikan kekuatan pada Baekhyun, dan kami yang akan membantu kelahiran Luna." Athena menunjuk Chanyeol memberikan tugas yang harus dilakukan olehnya.
"Jangan takut sayang, ia akan terlahir sempurna." Aphrodite berbisik pada Baekhyun dan memberikan ciuman dikepala Baekhyun.
Kedua Dewi itu berada pada sisi Yixing tengah memeriksa keadaan dibalik selimut yang menutupi keadaan bagian intim Baekhyun yang akan menjadi pintu keluar bayi yang dikandungnya. Perintah yang ia ucapkan hanya meminta Baekhyun untuk menahan nafas dan juga mendorong keras perut bagian dalamnya yang sangat tidak dimengerti oleh Chanyeol—karena pandangannya hanya melihat wajah kesakitan Baekhyun dan juga tarikan nafas yang tidak teratur dilakukan oleh Baekhyun. ketika ia berulang kali mengerang mendorong bagian perutnya hingga menahan nafas cukup panjang. Ketiak Chanyeol hendak menoleh kearah ketiga wanita dibalik punggungnya, sebuah pukulan keras dari Sang Dewi ia terima dan pada akhirnya ia hanya bisa memberikan dorongan pada Baekhyn untuk bertahan. Kalimat – kalimat klise yang ia ucapkan pada wanita dihadapannya bahkan mungkin tidak terdengar karena Baekhyun terus berteriak kesakitan.
Ketika terdengar suara tangisan kencang yang melengking hingga menggetarkan seluruh lantai, Chanyeol terdiam kaku merasakan hatinya terasa dipanggil oleh suara bayi tersebut.
"Dia sangat cantik." Aphrodite yang memberikan gambaran lebih dulu sementara Athena menjadi pihak pertama yang menggendong bayi mungil itu.
Fokus Chanyeol terbelah berusaha dibagi untuk tetap berada didekat Baekhyun dan melanjutkan memberikan ciuman pada seluruh wajah Baekhyun atau melihat secara langsung tangisan sang bayi yang terdengar nyaring di telinganya.
"Tahan Yang Mulia, biarkan Luna merasakan dekapan Mama-nya." Athena membersihkan seluruh badan Luna dengan cepat dan meletakkan bayi mungil itu didekat dada Baekhyun.
Baekhyun yang masih berusaha menahan kesadarannya memaksakan sebuah senyuman diwajahnya ketika meihat bayi mungilnya yang selama ini berada didalam rahim perutnya kini ada didalam dekapannya. Jari –jari tangannya bergerak bermain dengan jari –jari kecil milik bayinya, bahkan membiarkan bibir mungil sang bayi bergerak buka tutup ketika merasakan jari Baekhyun menyentuh bibir kecil bayinya.
"H-hei baby.." Baekhyun menyapa untuk pertama kalinya dan Luna—sang bayi memggeliat merengek dan tangisannya kembali pecah melengking keras.
Chanyeol masih terdiam menyaksikan dua orang dihadapannya yang kini tengah berinteraksi satu sama lain. Baekhyun—wanita yang ia cintai sepenuhnya tengah mendekap bayi perempuan mungilnya yang menjadi bukti tanda cinta mereka berdua. Air matanya mengalir pelan tanpa ada perintah dari sang empunya karena dari dalam hati dan dirinya jelas ia merasakan sebuah kebahagian yang tidak bisa diperlihatkan dan diungkapkan oleh kata – kata dengan bibirnya.
"Dia cantik." Satu kalimat berhasil ia ungkapkan. Tangannya bergetar ingin menyentuh jari –jari kecil yang bermain dengan jari lentik milik Baekhyun.
"Duduklah disini." Baekhyun menggerakkan tangannya menunjuk tempat disampingnya yang bisa menjadi tempat Chanyeol duduk dan melihat anak perempuan mereka—dan tentu Chanyeol dengan gerak cepat berpindah duduk tepat disamping Baekhyun. Pandangannya kini lebih leluasa melihat bagaimana raut wajah Puteri mereka yang bergerak aktif serta tangisannya yang masih terdengar nyaring sesekali menunjukkan ia butuh asupan eneri dari Mama-nya.
Sementara keluarga baru itu menikmati waktu mereka memandangi Luna, Kedua Dewi Olympus itu menikmati pemandangan penampakkan bulan yang terlihat berwarna biru teran.
"Bluemoon kali ini nampak sempurna."
"Tentu saja, karena Luna terlahir kembali." Athena menambahkan.
Kebahagiaan jelas terpancar pada wajah kedua Dewi Olympus itu, menyambut reinkarnasi Dewi Bulan yang tidak disangka akan menjadi Puteri dari Phoenix dan Elayne—Chanyeol dan Baekhyun
"Tapi aku tidak yakin akan kesempurnaan kekuatan mereka berdua." Suara bisikan pelan dari Yixing masuk dalam perbincangan dengan Athena dan Olympus. "Bahkan Baekhyun terlihat lebih lemah setelah proses melahirkan—
BOOM!
Dentuman kencang terdengar dari arah jauh dari Istana Glorfindel yang sontak membuat perbincangan antara Athena, Aphrodite dan seketika Yixing terhenti. Hal yang sama juga berlaku bagi Chanyeol dan Baekhyun. Senyuman yang sebelumnya melebar pada wajah Chanyeol kini menghilang dan menampakkan wakah marah dan juga kekesalannya—karena ia tahu apa yang terjadi pada sumber bunyi dentuman besar itu.
"Chan!" Yoora membuka pintu dengan kasar, Chanyeol beranjak berdiri tanpa satu kata menjawab panggilan Yoora—bahkan suara teriakan Baekhyun yang memohon pada Chanyeol untuk tetap berada disampingnya tidak dihiraukan.
Sang Phoenix pergi berhadapan dengan Kronos dan Hades, melindungi Elayne dan juga keturunan mereka yang baru saja lahir.
-Loves of Tales-
Angin kencang yang bertiup disekitar tempat dimana Baekhyun dan Luna yang masih dalam posisi duduk berhadapan dengan tangan kecil milik Luna masih menempel erat pada kedua pipi wajah Baekhyun. Luna tersenyum bahagia untuk pertama kalinya dapat memegang kulit wajah halus milik Baekhyun—reinkarnasi dari sang Mama, pemilik Kekuatan Cahaya Abadi—sang Elayne.
"Ingatlah Luna ada disin, Ma." Luna berbisik halus dan masih membiarkan kekuatan yang ia miliki memberikan berbagai kenangan yang tersimpan dalam memori otaknya.
"Mama.. menikah itu apa?" Luna menghampiri Baekhyun yang terduduk merangkai berbagai bunga untuk ia bawa saat upacara pernikahannya dengan Chanyeol.
Baekhyun memberikan senyumannya, ia masih duduk terdiam menyelesaikan rangkaian bunganya sebelum menjawab pertanyaan Luna—puterinya yang kini seharusnya berusia lima tahun dalam bentuk badannya namun pertumbuhan anak itu semakin hari semakin berkembang cepat dan kini terlihat layaknya anak berusia sepuluh tahun. Menurut Para Dewa dan juga beberapa Malaikat yang memperhatikan pertumbuhan dari Luna hal itu disebabkan karena Luna terlahir dari dua kekuatan kuat yang dimiliki oleh Chanyeol dan Baekhyun dimana sebagai pemegang kekuatan Api Abadi dan juga Cahaya Abadi. Ditambah kedua orang tuanya adalah keturunan Malaikat dan Dewi Olympus.
"Menikah itu.. Mama dan Papa akan mengenakkan pakaian putih layaknya para Dewa dan Dewi." Baekhyun mulai memberikan penjelasan. "Dan Yang Mulia Zeus akan memberkati Mama dan Papa sebagai orang tuamu yang sah. Pengikatan sebuah janji untuk selalu mengasihi dan mencintai seumur hidup dan juga melindung satu sama lain."
"Apa Luna boleh menikah juga? Luna mau menikah dengan Jackson."
Bekhyun tersontak tertawa mendengar nama Jackson disebut oleh Luna, bagaimana tidak, Jackson adalah keturunan Poseidon yang sudah memasuki dunia remaja dan kini lebih memilih tinggal di dunia luar atau dunia manusia karena ia tidak mau ikut bergabung untuk berperang dengan Kaum Hades mengingat Ibunya tewas ketika diculik oleh Hades beberapa tahun yang lalu.
Dan entah kenapa Luna selalu senang ketika waktu kepulangan Jackson ke Olympus.
"Luna akan terlihat cantik saat menikah kan Ma?"
"Tidak, Luna tidak akan terlihat cantik."
"PAPA!" Luna langsung merengek tidak setuju dengan ucapan Papanya yang tidak mau mengakuinya kecantikkan Puterinya.
"Mama! Papa selalu begitu! Tidak pernah mengatakan Luna cantik." Luna merengek berjalan mendekat kearah Baekhyun dan memeluk pinggang Baekhyun dengan wajahnya yang tenggelam dalam pelukannya, Baekhyun hanya bisa tersenyum dan mengusap kepala Luna sementara tangannya yang lain memukul pelan bahu Chanyeol sebagai tanda kepada calon suaminya itu untuk berhenti menggoda puteri kecil mereka.
Ingatan itu berlalu dengan cepat memperlihatkan beberapa memori yang lebih bahagia lainnya, Elayne dan Phoenix melangsungkan pernikahan mereka dengan sorak sorai para Dewa dan Dewi serta keturunan mereka dan tak lupa Kerajaan Malaikat yang menjadi saksi dari peristiwa yang sudah dinantikan mereka sejak lama. Olympus benar – benar merayakan penyatuan Phoenix dan Elayne menjadi sepasang suami istri dengan meriah, seluruh Kerajaan Malaikat bahkan ikut berpesta dan menyuarakan berita bahagia dengan meniupkan sangkakala kebahagiaan.
Phoenix diresmikan menjadi Raja Ketiga Dunia, dengan Glorfindel sebagai takhta tertinggi dari setiap Kerajaan yang ada. Penobatannya bahkan mendapatkan sambutan dari Dunia Luar yang menerima Raja baru ketiga dunia dengan penuh kebahagian. Tapi semua itu tidak bertahan lama, Pesta meriah Pernikahan dan juga penobatan Phonix menjadi Raja mendapatkan sambutan lain dari Kerajaan Bawah Tanah yang tidak mendapatkan undangan—Hades dan Kronos.
Peperangan terbesar dimulai ketika Mahkota Kerajaan Ketiga Dunia tepat melingkar diatas kepala Sang Phoenix.
Luna menjauhkan telapak tangannya dari pipi Baekhyun, ia mengusap aliran air mata pada pipi wajahnya dan juga pipi Baekhyun setelahnya. "Mama mengatakan, Luna tidak boleh melanjutkan hingga ke bagian yang paling menyedihkan. Maafkan Luna, Mama." Anak itu memeluk Baekhyun setelahnya sedangkan sosok yang kini tengah dipeluk masih menatap kosong kedepan tanpa bisa berkata sepatah kalimat sedikit pun.
"Maafkan aku Mama, tapi Luna harus menghapus ingatan sebelumnya untuk saat ini." Luna menjentikkan jarinya tepat di tengah pandangan mata Baekhyun.
Gerakan kedipan mata perlahan –lahan dilakukan oleh Baekhyun, menyadari dirinya tengah terduduk diatas bebatuan dengan kedua kakinya yang terendam didalam air entah sejak kapan. Pemandangannya dihadapannya kosong dan entah ia juga merasakan suasana yang berbeda kali ini.
"Baekhyun!"
Baekhyun menoleh mendapati namanya dipanggil. "Yo—Yoorana!" Baekhyun beranjak berdiri menghampiri Yoora dan Jongin yang mana tengah melangkah mendekata kearahnya.
"Apa yang kau lakukan disini? Kami mencarimu diseluruh Istana—
"YAA! Chanyeol Hyung bahkan memarahi kami semua karena kau dianggap hilang!" Jongin membentak kesal.
"Chanyeol kembali ? benarkah?!" Baekhyun tidak memperdulikan wajah kesal Jongin dan wajah datar Yoora yang melihat kearahnya.
"Ck! Chanyeol dalam perjalanan menuju Glorfindel! Dan kita juga harus kesana Tuan Puteri!" Jongin menjelaskan lagi dengan wajahnya masih terlihat kesal dan Baekhyun memamerkan senyuman riangnya tepat kearah Jongin tidak peduli bahwa pria itu tengah marah dan kesal kepadanya.
"Jongin, bisa kau bawa Baekhyun ke Istana ntuk bersiap? Aku akan berada disini untuk sementara waktu." Yoora berucap tanpa menoleh sedikit pun kearah Jongin dan Baekhyun, pandangannya masih menatap kearah aliran air terjun yang jauh dihadapannya. "Aku hanya sebentar." Yoora kembali bersuara dan tanpa menoleh kearah mereka.
Jongin menganggukkan kepala dan menarik tangan Baekhyun sambil berucap tanpa suara mengajak Baekhyun untuk melangkah pergi dari tempat itu.
"Y-yoorana.." Jongin menahan Baekhyun untuk tidak melanjutkan kalimatnya, mereka melesat hilang dari sekitaran Yoora menuju Istana secepat mungkin. Suasana sekitaran air terjun itu kembali hanya disekelilingi suara deru air dan juga gesekan pepohonan serta gerak angin yang bertiup disana. Yoora melangkah pelan menapakai bebatuan menuju tempat dimana Baekhyun sebelumnya tengah terduduk disana dengan sosok gadis mungil yang terlihat seperti sebuah bayangan dari dirinya.
"Kau tahu aku bisa melihatmu dengan sangat jelas 'kan, Yang Mulia Puteri Mahkota Luna, Daughter of Elayne, The Princess of the Moon."
Luna duduk disana—ditempat yang sama seperti sebelumnya dihadapan Baekhyun—masih menundukkan wajahnya dalam lututnya.
"Aku bisa melihatmu Luna, kekuatanmu tidak sama dengan kekuatan yang dimiliki-nya saat ini. Ia lebih kuat dibandingkan—
"Mama akan kembali kan?" Luna mengintip kearah Yoora.
"Luna, sayang.." Yoora menghampirinya dengan langkah perlahan. "K-kau akan kembali bersama mereka suatu hari nanti, itu akan terjadi. Bersabarlah sayang, mereka akan kembali." Yoora berusaha menyentuh pucuk kepala Luna dengan gerakkan ragu karena jelas ia masih takut melihat secara langsung bagiamana wujud Dewi Bulan yang menjadi Puteri di masa depan bagi Chanyeol dan Baekhyun. Rumit dan penuh pertanyaan. Tapi tidak terasa sama seperti yang ia rasakan sebelumnya ketika Yixing begitu bahagia menceritakan kedatangan Luna turun ke tanah Eowyn hanya untuk melihat Baekhyun untuk pertama kalinya.
Sentuhan tangannya pada pucuk kepala Luna jelas menjelaskan banyak hal mengenai apa yang terjadi beberapa tahun lalu, dan juga apa yang akan terjadi untuk beberapa waktu kedepan yang melibatkan Baekhyun, Chanyeol dan tentunya bagi setiap Para Putera dan Puteri Mahkota yang memiliki kekuatan yang dihadiahkan dari Zeus dan juga sang Pencipta.
"Luna.."
-Loves of Tales-
"Yaaaa! Tidak bisakah kau lebih pelan menurunkan badanku yang kecil ini!" Baekhyun memukul – mukul badan Jongin dengan cukup keras sebagai balasan karena Putera Mahkota Glorfindel itu telah menjatuhkan badannya saat tiba di depan pintu Istana dengan begitu kasar hingga. "Aku akan adukan pada Chanyeol dan juga Kris kau berusaha membunuhku!"
"YAK! SIAPA YANG MENJATUHKAN DIRIMU DENGAN KASAR! KAU SAJA YANG TIDAK BISA MENJAGA KESEIMBANGAN BADAN KECIL MUNGILMU SENDIRI!" Jongin membalas dengan suara teriakan yang lebih kencang dan tentu terdengar sangat marah pada Baekhyun. "Apa – apaan juga kau mengadukan kepada Chanyeol? Cih!" Jongin melihat Baekhyun dari atas kepala hingga kebawah kakinya. "Yang benar saja, kenapa Chanyeol bisa tertarik padamu dengan keadaan seperti ini?"
"YAK!" Teriakan ini bukanlah berasal dari Baekhyun, bukan juga dari mulut Jongin. Melainkan dari sosok yang namanya tengah dibicarakan oleh Baekhyun sebelumnya. Kris—sang kakak yang sedari tadi tengah membuka pintu Istana dan melihat bagaimana Baekhyun dan Jongin saling memaki satu sama lain.
"K-kris?" Jongin dan Baekhyun baru menyadari kehadiran Kris disana.
"K-kau datang!" Baekhyun membawa dirinya menghampiri kakaknya dan langsung memeluk Kris dengan sigap. "Aahhh! Aku rindu. Apa Chanyeol menjemputku juga?"
Kris memukul kepala Baekhyun hingga adiknya itu mengaduh kesakitan. "Tidakkah kau merasa cukup senang bahwa kakakmu yang datang." Baekhyun membalas dengan cengiran lebar di wajahnya namun matanya masih tettap mencari – cari tanda dari kehadiran sang kekasih hatinya.
"Dia tidak ada." Kris berdecak kesal. "Cepat masuk dan bersiap, yang lain sudah berangat tinggal dirimu yang tertinggal dan juga—oh dimana Yoora?" Kris bertanya pada Jongin yang duduk dengan tenang bersandar pada tiang tinggi Istana dekat mereka tengah berdiri saat ini.
"Dia masih di air terjun tadi."
"Heeehh? Kau meninggalkannya disana?" Kris terdengar khawatir.
"Hm, dia mengatakan untuk membawa Baekhyun lebih dulu."
"Apa terjadi sesuatu?"
Jongin menggedikkan bahunya. "Kau tahu kan, hanya dia, Dewa dan Pencipta yang tahu."
Baekhyun tertawa mendengarnya dan Kris langsung menoleh kearahnya. "Yak! Cepat bersiap!"
"O-oh iya." Adik mungilnya itu segera berlari masuk kedalam Istana menuju kamarnya dan mempersiapkan segala perlengkapannya.
Kris menghela nafas melihat tingkah adiknya dan Jongin melakukan hal yang sama dengan gerakkan kepala yang menggeleng menandakkan ia tidak ingin mencampuri untuk ikut berkomentar mengenai tingkah adik bungsu dari Kris.
"Dia pacar kakakmu."
Jongin tidak berkomentar memberikan jawaban.
"Dan akan menjadi istri kakakmu."
"No way!" Barulah Jongin bangkit berdiri, terkejut akan sebuah pernyataan yang diberikan oleh Kris dan juga rasa tidak percaya akan maksud dari kalimat yang diucapkan.
"Walaupun kau menolak setidaknya terima kenyataan itu karena dalam satu hari kedepan adikku akan resmi menjadi istri Kakakmu, atau lebih tepatnya Permaisuri Calon Raja Glorfindel."
"Tidak – tidak – tidak. Tidak mungkin kan. Tidak mungkin secepat itu 'kan?"
"Sayangnya memang secepat itu."
Jongin terpaku berdiri menatap kosong kearah Kris. "Percayalah memang ini akan terjadi, jadi terima saja kenyataannya. Seharusnya bukan kau yang merasa tidak percaya! Aku yang menjadi kakak dari bocah itu saja masih tidak menyangka kakakmu rela berlutut menunduk memohon restu dari kedua orang tuaku dan tentu juga kedua orang tua kalian."
"Wuah! Chanyeol benar – benar melakukannya."
Krsi menganggukkan kepala. "Kau seharusnya melihat bagaimana wajah Kakakmu memohon disana, hahahah! Seperti bukan Chanyeol."
"Apa Yoora tahu mengenai hal ini?"
"Apa kau harus bertanya tentang itu." Kris mendengus dengan maksud mengejek Jongin yang menanyakkan hal yang seharusnya tidak perlu ditanyakkan karena mereka berdua sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan itu.
"AH!" Jongin menganggukkan kepala.
"Tapi jangan beritahu yang lainnya, ini akan menjadi rahasia bagi Lynkestis dan juga Glorfindel." Kris menatap kearah Jongin dengan tatapan serius. "Bahkan Luhan tidak boleh mengetahui ini, terlebih para Puteri Eleanor—
"Karena Hades?"
"Ya, karena Hades."
"Aku pikir memang sudah seharusnya hal ini dirahasiakan, demi keamanan adikmu."
"Ya, demi dia."
Percakapan mereka tidak berlanjut karena keheningan menemani jarak diantara mereka berdua, tatapan yang kosong dan entah memiliki arti apa terpancar dari mereka menerawang jauh dengan segala pikiran yang ada dalam benak mereka masing – masing. Langkah lari Baekhyun menjadi pengalih bagi mereka, membuat wajah masing – masing yang sebelumnya terlihat datar dan tanpa arti kini menampakkan sebuah senyuman yang terkesan dipaksakan. Kecuai Jongin yang memandang Baekhyun dengan raut kekesalan mengingat kejadian ia menerima omelan dari Chanyeol hanya karena tidak bisa menjaga pacar mungilnya yang sangat nakal ini.
Jongin mengatakan akan menjemput Yoora yang belum juga kembali ke Istana, namun baru saja kakinya hendak melangkah sorot mata Kris tengah menemukan Yoora tengah berjalan kearah mereka dengan begitu santainya tidak memperdulikan Kris dan Jongin yang sudah berteriak memintanya untuk berjalan cepat kearah posisi mereka saat ini. bahkan ketika Jongin melakukan teleportasi-nya, Yoora masih mengacuhkan dan tetap berjalan santai.
"Lama menunggu ya?"
"Kau sudah tahu jawabannya Yang Mulia." Kris memberikan sahutan.
"Ada hal lain yang ingin aku lakukan disana." Senyuman lebar diperlihatkan kearah Kris. "Oh, Baekhyun kau sudah siap?" Yoora kini bertanya pada Baekhyun yang sudah tenggelam di balik mantel Kerajaannya yang ia pakai saat ini.
"Hm, aku sudah siap." Jawabannya terdengar bersemangat.
"Kau tidak mau berbagi hal apa yang membuatmu terlihat senang sekali sekarang?" Kris masuk di tengah – tengah pembicaraan antara Yoora dan juga Baekhyun.
"Hm, sayangnya tidak. Belum saatnya kau tahu mengenai hal ini." Yoora tersenyum menggoda sebagai penutup kalimatnya. "Ayo kita berangkat, Chanyeol tengah menunggu bukan?"
Baekhyun menjadi pihak yang bersemangat mendengar nama Chanyeol disebutkan dan ia bahkan menjadi orang pertama yang mengikuti Yoora berjalan kearah helicopter Glorfindel yang terparkir di halaman Istana disusul Kris dan Jongin yang menyusul jauh dibelakang dengan pandangan malasnya.
Kris menjadi navigator dan pihak yang menerbangkan benda hitam dengan baling – baling besar yang kini tengah mengudara diatas langit, Jongin duduk disampingnya sebagai pihak mendampingi dan juga pemantau kondisi sekitar disisinya mengingat kali ini mereka pergi tanpa ada perlindungan dan penjagaan dari pihak Istana maupun pasukan Olympus karena semuanya sudah berkumpul disekitaran Istana Glorfindel. Yoora dan Baekhyun duduk diam pada kursi penumpan dibelakang dan benar – benar menikmati waktu perjalanan masing – masing. Yoora terdiam dan memperhatikan pemandangan dibawah langit sana, sementara Baekhyun tengah menyadarkan kepalanya pada jendela dengan kondisi kedua mata yang terpejam karena dirinya tengah tertidur pulas tak lama setelah helicopter itu melesak terbang.
Kris memperhatikan sesekali kondisi adiknya dan ia hanya bisa tertawa kecil melihat bagaimana kondis mulut Baekhyun yang ternagh terbuka kecil dan bergerak menggumamkan kata –kata—terlihat seperti mulut ikan yang bergerak buka tutup didalam akuarium.
"Jongin." Kris bersuara pada saluran Headphone yang sedang ia gunakkan saat ini di kepalanya.
Jongin berpaling kearah Kris sebelum pada akhirnya menjawab panggilan itu. "Wae?"
"Mau melihat sesuatu hal yang lucu?"
Jongin tidak memberikan jawaban dengan alisnya yang mengernyit pada keningnya.
"Perhatikan kondisi belakangmu." Kris tersenyum dan membawa stir helicopter ditangannya berbelok kearah kiri sehingga membuat badan helicopter itu berbelok kearah yang sama begitu juga setiap badan mereka yang berada didalamnya. Badan Baekhyun semakin menempel pada jendela sisi kirinya, sedangkan Yoora yang merasa kondisi helicopter itu terlalu condong ke kiri pada akhirnya memperhatikan kearah Kris dan Jongin yang ada didepannya.
"Ada apa?" Yoora menanyakkan takut apabila mungkin ada sesuatu yang terjadi, namun tak lama Kris mengarahkan kembali helicopter mereka kearah kanan dan badan mereka kembali mengikuti kearah yang sama—dan kemudian Kris kembali membelokkan kearah kiri dengan cepat hingga membuat bunyi dentuman suara yang dihasilkan dari benturan kaca jendela dan kepala seseorang serta suara ringisan kesakitan yang diteriakkan Baekhyun.
Jongin dan Kris sama – sama tertawa lebar dan bahagia sementara Baekhyun masih mengeluh sakit dan tak henti – hentinya memaki kakaknya sendiri.
"AKU AKAN ADUKAN PADA AYAH DAN IBU!" Baekhyun berteriak dan menahan air matanya yang akan keluar karena ia sungguh merasakan sakit dikepalanya. "AKU AKAN ADUKAN PADA CHNAYEOL JUGA!" ia melanjutkan lagi dengan suara kekesalan. Sementara Yoora sudah melampiaskan sebuah pukulan kencang pada kepala Kris dan juga Jongin sebagai balas dendam untuk Baekhyun.
"Aku tidak percaya kau rela membuang waktu hanya untuk mengganggu adikmu, benar – benar kalian berdua ini." Yoora memberikan tanggapan dalam pikiran mereka berdua, suaranya jelas marah dan kesal melihat apa yang terjadi.
"Oh, ayolah. Itu cukup sebagai hiburan dalam perjalanan kita menuju ke Glorfindel. Lagipula aku dan Baekhyun sudah biasa melakukan hal itu, dia terlalu berlebihan dalam meresponnya."
Jongin tidak ikut menyahuti namun ia masih berusaha menahan suara tawanya yang sudah ingin ia lepaskan mengingat kejadian beberapa saat itu.
"Berani kau tertawa, aku benar – benar akan memberi tahu Ayah dan Ibu apa yang kau lakukan kali ini." Yoora mengancam kearah Jongin dan berhasil membuat adiknya duduk diam kembali memandangi kondisi langit sekitar. "Dan kau Putera Mahkota, segeralah bawa kami tiba di Glorfindel!"
"Ne, Yang Mulia."
.
.
Glorfindel,
Istana yang megah dan kokoh jelas terlihat berdiri diatas tanah dengan bangunan menjulang tinggi yang bangun dengan bebatuan besar dan nampak tidak akan mudah untuk meruntuhkan bangunan utama Istana mengingat tembok pertahanan tinggi sebagai bagian penjagaan berada menjaga sebelum bangunan Istana utama. Dikelilingi dengan nuansa hitam dan motif api warna merah pada bendera yang menghiasi disepanjang jalan menuju istana utaman jelas menggambarkan kekuatan dan ciri khas kegelapan yang memang sudah dilahirkan sejak dahulu sebagai warna dari Glorfindel—kekuatan dan pertahanan terkuat.
Khusus untuk hari ini dimana menjadi perayaan ulang tahun Kerajaan, bendera – bendera Kerajaan diubah menjadi warna merah sesuai dengan warna Phoenix sebagai ikonik pelindung Kerajaan dan juga menunjukkan bahwa Putera Mahkota Pertama mereka yang akan menjadi Raja kelak.
"Mereka sudah masuk wilayah Istana, mungkin sekitar beberapa menit lagi mereka akan tiba di Istana." Yixing menghampiri Chanyeol yang sedari tadi menunggu di balkon kamarnya dimana menghadap kearah utara Kerajaan. Pemandangannya terfokus kearah utara untuk memastikan lebih dulu ketika seseorang yang kini masih dalam perjalanan menunju ke Istananya akan tiba dalam beberapa menit lagi—menurut informasi Yixing.
"Kau mengabaikan aku." Yixing memprotes karena kehadirannya sama sekali tidak dianggap oleh Chanyeol. Bahkan ketika ia mengatakan kalimat tersebut, Chanyeol masih sama seperti sebelumnya terdiam terpaku memandang lurus kedepan tanpa satu kata pun diucapkan sebagai balasan untuk Yixing.
"Baiklah, Yang Mulia. Silahkan melanjutkan kegiatanmu disini." Yixing menyerah dan memutuskan untuk melangkah mundur menjauh dari tempat Chanyeol.
"A-aku gugup." Chanyeol seketika bersuara begitu Yixing hendak membuka pintu kamarnya. "Apa keputusan ini benar – benar yang terbaik?"
Yixing tidak menjawab tapi tetap memandangi punggung Chanyeol yang membelakanginya.
"Aku tahu kau berpikir mungkin aku tahu apa yang akan terjadi di masa depanmu dan juga Baekhyun beberapa tahun kedepan atau mungkin puluhan tahun lagi. Tapi sudah kukatakan bukan.. setiap kejadian yang akan terjadi yang berhubungan denganmu dan Baekhyun tidak akan pernah sama seperti sebelumnya."
Chanyeol menyimak di posisi yang sama enggan untuk berbalik untuk bisa saling memandang dengan Yixing.
"Seperti yang Athena dan Aphrodite katakan, jangan mengulangi kejadian yang sama. Lakukan apa yang ingin kau lakukan bersamanya. Sebelum saatnya—
Yixing tidak melanjutkan, terlalu sulit baginya untuk menjelaskan lebih detail kondisi yang sudah sangat diketahui oleh siapapun termasuk Chanyeol.
"Aku rasa lebih baik kau mempercepat membawanya pergi dari Glorfindel, mengingat isi pikiranmu sudah dipenuhi dengan Baekhyun dan Baekhyun." kali ini ia tertawa keras dan keluar dari kamar Chanyeol.
Suara deru gerak baling – baling dari helicopter miliknya terdengar semakin mendekat, pandangannya masih terfokus pada benda itu, semakin mendekat kearahnya senyuman di wajahnya semakin melebar karena matanya menangkap pergerakan tangan mungil yang melambai – lambai kearahnya. Baekhyun-nya. Gadis itu membuka jendela pada helicopter dengan begitu lebar mengeluarkan sebagian kepalanya dan melambaikan tangan kearah Chanyeol yang masih berdiri ditempatnya. Teriakan yg dilontarkan gadis jelas tidak terdengar olehnya karena suara mesin dan gerak baling – baling yang masih bergerak memutar diatas sana. Chanyeol pada awalnya masih menahan diri untuk tidak terpancing memberikan senyuman atau tertawa lebar kearah gadisnya. Tapi melihat bagaimana gerak gadis itu yang terus bertingkah disana ditambah Jongin yang mengeluarkan kepalanya dan berteriak kearah Baekhyun—dapat dipastikan adiknya itu pasti tengah memarahi Baekhyun—karena tak lama setelahnya Jongin menutuo kaca dengan kencang lalu terlihat Baekhyun yang tengah memberontak seakan – akan menolak badannya untuk ditarik kedalam.
"Tak perlu kujelaskan bagimana keadaan didalam sini bukan?" Yoora lebih dulu masuk dan berbicara di dalam pikirannya.
"Hm, apa dia belum mau duduk diam pada tempatnya?" Chanyeol berbicara langsunh.
"Dia mengatakan kenapa kau hanya diam saja, makanya dia berteriak – teriak mengatakan dia rindu padamu. Lalu dia juga mengatakan Chanyeol aku rindu! Well suaranya cukup kencang asal kau tahu."
Chanyeol terdiam menataPhelicopter itu yang masih belun turun dari posisi ya karena ya keadaan didalam sana susah untuk ditenangkan.
"Katakan pada Kris tahan posisi itu sebentar. Ada yang ingin aku lakukan." Chanyeol turun dari atas balkon kamarnya yang terletak di lantai teratas pada Istana tersebut. Begitu kakinya mendarat dengan baik diatas tanah dan rerumputan, ia bergegas masuk kedalam ruangan kontrol udara dan menyalakan saluran hubungan jaringan telepon untuk terhubung dengan helicopter yang dikendarai Kris.
"Baekhyun."
Suara Chanyeol terdengar pada headphone yang dikenakan Kris.
"Bukan! Aku kakaknya!"
"BUKAN! AKU ADIKMU" Dua suara milik Kris dan Jongin menyahuti.
"Tidak usah diperjelas aku sudah tahu suara kalian. Pasangkan headphone di kepala Baekhyun supaya aku bisa berbicara dengannya."
"Ck. Baiklah Yang Mulia." Kris yang menjawab dan mengisyaratkan Jongin untuk memberikan headphone pada Baekhyun. Dan bukan Baekhyun namanya bila tidak membuat Jongin merasa kesal dan emosi karena gadis itu menolak memakainya karena tidak mau terlihat mirip dengan Jongin dan Kris karena memakai benda yang sama sampai pada akhirnya Yoora mengatakan kalau Chanyeol yang memintanya untuk memakai benda itu karena ingin berbicara dengannya.
"Halo? Chanyeol?"
"Hai."
"CHANYEOL AKU MERINDUKANMU!" suara melengkingnya terdengar memecah masuk kedalam oendengaran Chanyeol.
"Pelankan suaramu sayang, aku masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas."
"Oh. Hehe. Pokoknya aku merindukanmu." Baekhyun menyahut namun kini suaranya terdengar lebih lembut.
"Hanya merindukanku?"
"E-eoh?" suaranya terdengar bingung.
"Kau hanya merindukanku saja? Padahal aku mencintaimu."
"Ah itu.." suara Baekhyun terdengar berbisik. "Aku juga menchi—mu." Baekhyun bergumam cepat.
"Kau mengatakan apa Baek?"
"Aku men-cintai-mu." Chanyeol tertawa mendengarnya karena suara Baekhyun terdengar sangat pelan dan bahkan kata yang ia ucapkan terdengar dieja.
"Kau mengatakan dengan pelan pun Kris dan Jongin bahkan Yoora bisa mendengarnya Baek."
"HAH! Iyakah?"
"Aku tidak dengar, telingaku berdengung."
"Aku juga tidak, pendengaranku terganggu akan suara aneh tadi."
"Yaaa! Itu suaraku yang kau bicarakan!" Baekhyun kembali berteriak yang tentu saja diarahkan pada Jongin dan Kris yang menyahuti ucapan Chanyol sebelumnya.
"Tenang dalam posisimu sayang, cepatlah mendarat karena aku merindukanmu." Chanyeol berkata sebelum pada akhrinya sambungan itu terputus dan Kris segera menurunkan badan helicopter tepat pada tempat landasan yang sudah tersedia dan Baekhyun benar – benar menuruti apa yang Chanyeol katakan, duduk manis pada tempatnya dan tesenyum – senyum pada wajahnya mengingat apa yang dikatakan oleh Chanyeol.
Tepat saat mesin Helicopter dimatikan, Baekhyun berusaha membuka pintu helicopter dan segera berlari kearah Chanyeol yang sudah menunggunya. Senyuman lebar dan suara ketawanya terdengar sangat bahagia hingga ketika kedua badan mereka saling bertemu Baekhyun bahkan tidak berhenti tertawa sambil mengatakan betapa dirinya sangat merindukkan sosok sang kekasih.
"Aku benar – benar merindukanmu. Aku tidak bohong! Yoora tidak pernah mengatakan bagaimana keadaanmu disana, dan itu membuatku khawatir." Baekhyun mengadu dan masih memeluk Chanyeol dengan erat.
"Aku lebih merindukanmu." Chanyeol menyerukkan wajahnya pada perpotongan leher Baekhyun dan mengecupi leher dan pipi gadis itu. Hingga kedua wajah mereka saling bertemu dan saling memandang satu sama lain, Baekhyun lebih dulu mendekatkan wajahnya dan mencium belah bibir tebal yang telah ia rindukkan selama beberapa hari belakangan ini. Lumatan demi lumatan merekan lakukan dengan sangat pelan hingga Chanyeol beralih mengambil dominasi pada bibir Baekhyun. Tubuh Baekhyun ia angkat sedikit demi menyamakan posisi badan mereka—itu memudahkan Chanyeol untuk lebih memperdalam ciumannya dan juga membelai tubuh bagian belakang Baekhyun dengan lembut.
"Kami masih menunggu disini." Kris sengaja bersuara didekat mereka untuk menghentikkan segala kegiatan percintaan yang mungkin saja akan bisa terjadi lebih dari sekedar sebuah ciuman.
Mendengar suara itu Baekhyun terdiam dengan kedua matanya yang mulai terbuka memperhatikan pemandangan dibalik punggung Chanyeol, sedangkan sang kekasih masih tetap melanjutkan kegiatan bibir mereka.
"Chanyeol." Kali ini suara Yoora, namun Chanyeol masih tidak memperdulikan dan tetap melanjutkan ciumannya pada bibir Baekhyun. "Kita harus bersiap, ingat rencanamu Yeol." Yoora mengingatkan lagi. Dan barulah Chanyeol dengan perlahan – lahan menyudahi ciumannya meskipn dengan berat hati, badan kecil Baekhyun perlahan – lahan ia turunkan meskipun pelukan tangannya masih tetap melingkar di pinggang Baekhyun.
"Kita harus bersiap." Chanyeol mengusap pipi halus itu dengan begitu lembut. "Temui aku kembali di tempat ini pada pukul delapan malam, dan jangan masuk kedalam ballroom acara. Kris akan mengantarmu langsung ke tempat ini."
Baekhyun mengerjapkan matanya masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh Chanyeol. "Ke-kenapa? Apa kita tidak akan ikut pesta perayaan?"
"Tidak, ada pesta yang lain yang harus kita hadiri." Chanyeol tersenyum menggoda. "Jam delapan malam, di tempat ini dan gunakkan baju yang sudah aku siapkan di kamarmu."
Baekhyun masih menatap bingung dan berusaha mengerti apa yang dimaksudkan dengan Chanyeol. Hingga Yoora dan Kris membawanya masuk kedalam Istana untuk mengantarkan pada kamarnya Baekhyun masih terdiam terpaku dan berpikir keras mengenai semua yang Chanyeol katakana, Kris bahkan tertawa kencang melihat wajah Baekhyun yang dianggap seperti anak balita yang hilang.
"Kau punya waktu dua jam untuk bersiap." Yoora yang mengalihkan pikirannya dan memberikan satu kotak dimana terdapat gaun putih yang terlipat rapi didalam sana. Baekhyun mengucap kagum akan keindahan gaun putih yang panjang dengan model minimalis yang ia percaya akan terlihat sangat cantik ketika ia pakai nanti.
"Aku jadi seperti calon pengantin ya?" Baekhyun tersenyum lebar memamerkan gaunnya sementara Yoora dan Kris saling menatap dalam diam dan hanya sebuah senyuman yang terbentuk diwajah mereka sebagai balasan akan apa yang dikatakan Baekhyun.
