Chapter 11
Kenyataan dan Kebohongan (Part 1)
.
Tokyo terkenal sebagai ibukota dari negara Jepang, saat pertama kali mendengar nama Tokyo pasti yang muncul dalam bayangan adalah gedung-gedung tinggi, kantor-kantor pemerintahan atau pusat perbelanjaan.
Namun, Tokyo sebenarnya juga memiliki area hutan yang sangat luas. Tepatnya ada di sisi barat dari pusat kotanya, jika area tepinya biasanya digunakan untuk wisatawan maka saat masuk lebih dalam akan ada bagian yang lebih rimbun dan tak tersentuh manusia.
Dan disinilah...
.
.
Seorang bocah berusia sekitar 16 tahun dengan jaket merah khas nampak berdiri sambil berkacak pinggang di depan jejeran pohon-pohon berdaun lebat hingga sinar matahari pun tak mampu menembus sela-sela cabangnya. Beberapa saat kemudian ia mulai bersiap sambil merengangkan otot-otot lengan serta kakinya.
Saat dirasanya cukup ia pun menarik nafas dalam dan mengambil ancang-ancang. Lalu langsung berlari ke dalam hutan.
Dengan cepat langkah-langkahnya mulai menelusur di dalam hutan yang gelap dan disana ia sudah disambut oleh mesin penembak *shuriken yang terpasang pada beberapa pohon di sana dan langsung menembakan senjata berbentuk bintang empat berpinggir tajam tersebut ke arahnya.
Secara refleks Blaze pun terhenti dan langsung melompat untuk menghindar hingga akhirnya mendarat di atas cabang sebuah pohon. Dengan melompat dari satu cabang ke cabang lain ia pun terus masuk lebih dalam lagi ke hutan.
Tak dikira di atas sana pun juga ada dua buah penembak yang terpasang berseberangan. Saat bocah itu mengenai sensornya, secara otomatis satu dari dua pelempar itu pun menembakan tiga buah shuriken yang merupakan amunisinya.
Sontak bocah itu pun melompat mundur untuk menghindari serangan pertama. Serangan kedua datang, Blaze pun langsung menggigit jempolnya hingga mengeluarkan darah. Seketika butiran berwarna merah itu bergerak dan perlahan membentuk 3 buah Shuriken berwarna hitam.
Segera saja Blaze pun melemparkan senjata buatannya tersebut ke arah mesin pelempar. Ketiganya langsung terpental ketika beradu dengan dua senjata dari Blaze sedangkan satu buah lagi terus melesat dan menancap pada tombol yang terdapat di penembak kedua hingga membuat mesinnya mati.
Penembak yang satu lagi belum mati, tapi sayangnya tombol off nya di belakang pohon. Saat benda itu menyerang Blaze pun kembali menghindar dengan cepat dan langsung melompat ke atas tanah. Posisinya saat ini begitu sempurna untuk mengincar tombolnya, tanpa basa-basi ia pun kembali membuat beberapa buah piau itu lagi. Satu untuk dilemparkan ke tombol itu, sedang dua lagi untuk menangkis serangan dari arah belakangnya.
2 dari tiga piau terpental, satu lolos dan melesat dengan cepat ke arah anak itu. Namun dengan cepat pula Blaze menangkap dan melemparkannya balik ke mesin pelontar tersebut. Saat alat itu berhenti berfungsi Blaze pun kembali melangkahkan kedua kakinya dengan cepat melewati tiap sela batang pohon besar dengan akar-akar tebal yang menyembul keluar dari tanah.
Semakin lama langkahnya pun terus membawa ia masuk lebih dalam. Rasanya sedikit ganjil, harusnya masih ada beberapa perangkap yang terpasang disini. Apa dia salah jalan ya? Tidak mungkin kan hewan kecil seperti tupai atau semacamnya mengusik keberadaan jebakan-jebakan itu, kalau iya pasti sekarang ada jejaknya.
Sibuk melihat ke atas karna mencari pelontar Shuriken, dia tidak memperhatikan ke bawah hingga tak sengaja menginjak gundukan tanah basah yang cukup empuk. Sontak ia pun mengangkat kakinya, dan memperhatikan gundukan tanah tersebut. "Oh... sial..."
"ARGHH!" Seketika gundukan itu pun meledak saat itu juga hingga membuat bocah bermata merah itu terpental dan menabrak sebuah batang pohon besar, rupanya di dalam gundukan itu ditanami sebuah bola yang terbuat dari beberapa lembar kertas peledak.
Tak sampai itu saja, begitu ia coba berdiri setelah lemas karena punggungnya menabrak pohon, sebuah pelempar piau di depannya menyala dan menembakan beberapa buah shuriken yang terikat dengan benang kawat. Benda-benda tajam itu memang tak langsung mengenainya tapi benang-benang itulah yang jadi berbelit dan memutari batang pohon karena hasil dari momentum kecepatan lemparan.
Alhasil Blaze pun berakhir dengan terikat di pohon oleh benang-benang kawat tersebut. Agak lucu mengingat jika dia sendiri yang memasang semua jebakan yang ada disini. Sontak ia pun mencoba memberontak, namun sepertinya benang kawat itu terlalu kuat untuk diputuskan. Kesal, tubuhnya pun mulai mengeluarkan asap, bersiap untuk membakar kawat tersebut.
Jika saja ia tidak ingat kalau dia sedang terikat pada pohon. Yang berarti jika dia membakar pohon dengan dedaunan rimbun itu satu saja maka apinya akan menyebar dengan cepat dan memicu terjadinya kebakaran hutan. Tentu saja dia tidak ingin hal itu terjadi.
Jadi Blaze pun mencoba tenang dan memikirkan cara lain untuk mengatasi hal ini. Dan menemukan solusinya saat melihat jeratan kawat itu menghasilkan guratan merah pada kulit lengannya, kelihatannya bekas waktu dia memberontak tadi. Sambil meringis digesekkannya lagi lengannya tersebut hingga tergores.
Darah yang keluar dari lukanya tersebut pun melayang ke udara dan membentuk dua buah senjata berupa *Kunai di tangan Blaze. Lalu dengan cepat kawat yang mengikatnya langsung di potongnya menggunakan pisau hitam tersebut dan membuatnya bisa melepaskan diri.
Saat tali-tali itu terlepas secara otomatis dua buah pelontar Shuriken menjadi aktif, namun Blaze lebih dulu melemparkan dua pisau di tangannya kesana dan berhasil menggagalkan serangan. Setelah itu ia pun langsung melangkahkan kakinya dengan cepat, terus melangkah maju menembus hutan.
Dan akhirnya ia pun berhasil sampai dengan selamat di sisi lain belantara tersebut.
Yang berupa daerah bebatuan kapur dengan kolam besar berisi ribuan kubik air yang berasal dari sebuah air terjun beraliran deras diatasnya. Blaze berjongkok pada sisi kolam tersebut kemudian membasuh kedua kaki dan lengan serta mencelupkan kepalanya ke dalam air.
Setelahnya ia pun mengangkat wajahnya dan mengelapnya dengan telapak tangan. Poninya yang basah dinaikkannya ke atas dahi dengan tangan yang sama sembari membuang nafas panjang. "Masih belum ya?" desahnya pelan sambil menatap tangannya yang satu lagi dengan tatapan sendu.
'srek, srek.'
Tiba-tiba saja suara dari gesekan antara rumput-rumput tebal di dalam hutan pun mengalihkan perhatiannya, awalnya ia pikir itu cuma angin atau hewan yang memang menghuni kawasan hutan tersebut. Dengan cepat ia menoleh dan memperhatikan lekat-lekat sosok yang melewati rerumputan liar tersebut.
Seorang perempuan berjaket pink dan jilbab dengan warna yang seirama tengah melangkah tenang ke arahnya sambil menenteng sebuah kantong plastik kecil berwarna putih. "Blaze-kun." Gadis itu menyapanya dengan senyum manis yang cukup khas, dan ia pun membalas balik dengan senyum dan lambaian tangan pelan.
Namun tak lama senyuman itu menghilang ketika dia mendengar suara mesin, Blaze pun langsung celingukan mencari sumber suara itu. Dan benar saja tak jauh dari lokasi Yaya berdiri sebuah pelontar piau tengah aktif menyala karena mendeteksi keberadaannya dan saat ini tengah bersiap melontarkan senjata berbentuk bintang tersebut kepada gadis itu.
Panik, sontak saja anak bermata jingga kemerahan tersebut lari menghampiri Yaya. "NEE-SAN AWAS!" dan mendorongnya hingga mereka berdua sama-sama jatuh ke atas tanah. Lalu dengan lihainya Blaze yang ada di posisi atas langsung menangkap piau-piau tersebut dengan cara menjepitnya di sela-sela jari.
Ia pun menghela nafas lega begitu berhasil melakukannya. Hampir saja gadis berhijab itu celaka karena alat latihan yang dipakainya.
"A–Anu... Blaze-kun... itu..."
"Hm?" Desahan Yaya barusan pun membuat Blaze bertanya-tanya, dan entah kenapa sepertinya tangan kanannya menyentuh sesuatu yang hangat dan kenyal. Ia pun menggulirkan matanya ke bawah dan menemukan tangan kanannya tengah menyentuh...
Kantungan plastik putih yang sejak tadi dibawa gadis itu.
"Bakpao nya jadi gepeng..." lanjut Yaya melirik pada kantung plastik berisi bakpao yang tak sengaja terhimpit oleh tangan Blaze.
.
.
Jadi sebenarnya Yaya memang datang untuk menengok Blaze yang sedang latihan dan untuk berjaga-jaga ia sengaja membelikan anak itu makanan kalau-kalau dia lapar. Dan benar saja, sambil duduk di sebuah batu besar anak itu pun memakan Bakpao yang dibawakan gadis itu dua-duanya(Biar sajalah gepeng yang penting masih bisa dimakan).
Sementara Yaya yang duduk di sebelahnya hanya memperhatikan sambil tersenyum. "Kau itu rajin sekali berlatih ya, Blaze-kun" dan tiba-tiba saja melontarkan sebuah komentar.
Blaze sontak membulatkan mata. Cepat-cepat ditelannya makanan yang ada dimulutnya agar bisa menyahut. "Ti-Tidak juga. Hanya... Aku ingin jadi lebih kuat, itu saja... Aku... ingin bisa melampaui Aniki..." jelasnya perlahan.
"Hali-kun?" Yaya memiringkan kepalanya, tanda bingung.
Blaze pun menunduk dengan kedua pipi memerah, sejujurnya dia malu memberitahukan ini. "Sebenarnya... semenjak aku masih kecil... aku kagum padanya. Aniki itu sangat pintar, kuat juga berbakat, semua orang bahkan memujinya" hingga tiba-tiba saja dia berdiri, menatap Yaya dengan mengerutkan kening dan wajah yang merah padam. "Dengar ya! Pokoknya Nee-san jangan beritahu siapapun kalau aku bilang begitu, apalagi Aniki!" gertaknya keras hingga mengagetkan gadis itu.
"K–Kenapa?" tanya Yaya syok.
"Habisnya memalukan tau!"
Awalnya Yaya agak bingung, beberapa kali ia bahkan mengerjapkan mata saking herannya. "Baiklah... Tidak akan kukatakan pada siapa-siapa" sahutnya agak nervous
Blaze langsung berjongkok dan memandanginya dengan tatapan tak yakin, seperti anjing yang sedang curigaan pada majikannya "Janji?"
"Janji~" Yaya pun membalasnya dengan sebuah senyuman lembut. Sejenak kemudian gadis itu pun berdiri sambil mengibaskan belakang celananya kalau-kalau ada kotoran yang menempel dari batu yang didudukinya. "Nah, ayo kita pulang" barulah setelahnya ia mengajak anak itu.
Blaze pun mengangguk sambil tersenyum dan mengikuti kemana gadis itu melangkah untuk keluar dari area hutan tersebut.
.
.
Tak terasa hari semakin senja, matahari pun semakin condong ke arah barat dan menampilkan cahaya kejinggan. Disaat yang sama Blaze dan Yaya pun hampir sampai ke apartemen mereka sambil asyik mengobrol ini itu hingga tidak menyadari ada yang sedang memperhatikan mereka dari jauh..
Seorang anak laki-laki dengan rambut kelabu dan manik kecoklatan terlihat tengah menanti mereka sambil berdiri bersender di depan pagar rumah susun tersebut
Setelah mereka sudah cukup dekat sontak anak itu pun segera menghampiri Yaya dengan tatapan penuh kejelian hingga membuat gadis itu termasuk Blaze yang ada di sampingnya terheran-heran. "Jadi benar..." gumam anak kecil itu terlihat begitu tertarik pada si gadis. "A..."
"A?" Blaze mengernyit bingung saat ia hanya menyebutkan satu huruf.
"A... AKAK!" Dan tiba-tiba saja anak itu dengan begitu girang langsung memeluk Yaya dengan sangat erat.
"Eh!? Jadi ini beneran Totoitoy ya!?" seru Yaya kaget
"EH! Nee-san... kau kenal?" tapi diantara mereka bertiga justru Blaze yang tidak tahu menahu urusan lah yang lebih dibuat kaget dan bingung.
~MA~
Jadi setelah hal mengejutkan barusan mereka pun masuk ke apartemen untuk membicarakannya. Saat ini di kamar milik gadis itu baik Halilintar, Ice, Thorn dan Blaze sedang berkumpul disana. Setelah penjelasan panjang lebar tentang berbagai hal yang terjadi dengan tambahan konfirmasi dari Yaya barulah mereka semua paham dan bisa dipastikan jika anak itu memang benar-benar adik dari gadis berhijab pink khas tersebut.
"Jadi dia ini Adiknya Yaya?" tanya Thorn seraya memperhatikan anak berumur 14 tahunan yang sedang duduk bersimpuh di lantai itu.
"Memang kalau diperhatikan mereka berdua sangat mirip, terutama bentuk matanya" Halilintar tampak mengerutkan dahi seraya menempelkan tangan ke dagu.
"Tidak bisa dipungkiri lagi dia memang adiknya Nee-san" komentar Ice menimpali pendapat Halilintar sebelumnya.
Sementara Totoitoy yang dikelilingi hanya bisa tertunduk dengan wajah memerah karena malu. "Anu... Tolong jangan memandangiku seperti itu, rasanya seperti di interogasi..." pintanya memohon.
"Lah.. Bahkan sifatnya juga sama" gumam Halilintar.
"Hei, hei. Berhentilah mengelilinginya seperti ini, kalian membuatnya gugup" hingga tiba-tiba Yaya datang dan menegur sambil membawakan minuman untuk adiknya. Hingga terpaksa membuat para lelaki itu menjauh dan memilih duduk diam di pojokan. "Maaf kan mereka ya? Mungkin mereka hanya penasaran, jujur saja mereka biasanya tidak seperti ini kok." Ujar gadis itu coba menenangkan anak berambut abu-abu tersebut.
"Nggak apa-apa, Kak..." sahut Totoitoy sambil tersenyum nervous.
"Jadi ada urusan apa kau kesini? Padahal terakhir kali kau mencincangku sampai hampir tidak berbentuk." Ketus Halilintar, melipat kedua lengan di pojokan sana.
"Hali-kun" sontak Yaya pun menoleh untuk menegurnya karena bicara kasar seperti itu pada tamu.
"Kau masih kesal karena waktu itu ya? Maafkan aku... Aku tidak tahu kalau kau kenalan Kakakku. Dan juga... ini kedua kalinya aku bertemu dengan Akak setelah lima tahun kami terpisah." Jelas Totoitoy dengan tatapan sendu dan perasaan bersalah.
"Ya sudah, kumaafkan..." ucap pemuda bermata ruby itu melirik ke arah lain dengan wajah bersungut-sungut, kelihatannya dia memang seperti tidak ikhlas mengatakannya tapi percayalah itu ikhlas.
Pakai banget.
Dan Yaya yang sudah terbiasa lebih dulu dengan kebiasaan pemuda itu pun hanya bisa dibuat menyengir gaje. Sesaat ia kembali menoleh pada adiknya. "Ngomong-ngomong, sekarang kau tinggal dimana?" tanyanya.
"Aku? Sekarang aku tinggal di asrama khusus milik SHAMAN. Jangan khawatir, aku baik-baik saja disana kok" jawab Totoitoy.
"Begitu ya... Syukurlah..." gumam gadis berhijab tersebut.
"Aku... senang sekali bisa bertemu dengan Akak. Awalnya aku sedikit khawatir padamu tapi syukurlah, kau hidup dengan nyaman, punya banyak teman yang bisa diandalkan dan bahkan sedang kuliah di universitas negeri ternama. Kurasa tidak ada yang harus ku khawatirkan" ucap anak itu dengan raut wajah begitu bahagia.
"Kalau kau se khawatir itu... kenapa tidak tinggal disini saja? Dengan begitu kau bisa mengawasi Kakakmu dari dekat kan? " ujar Blaze mengemukakan pendapatnya secara enteng dan terkesan blak-blakan.
Dan sukses membuang anak berambut abu-abu itu pundung. "Aku ingin, tapi tidak bisa. Organisasi tidak menginzinkanku, ada aturan yang melarang anggota kami tinggal bersama dengan para siluman" jelasnya begitu lesu.
"Karena disini kontrakannya para siluman makanya tidak boleh?" simpul Yaya terlihat begitu kecewa dan hanya dijawab dengan anggukan pelan dari adik laki-lakinya tersebut. "Apa boleh buat..." lanjut si gadis menggumam dengan begitu lesu.
Untuk beberapa saat suasana pun berubah menjadi canggung karena aksi diam diantara mereka.
Namun itu tak berlangsung lama hingga Totoitoy tiba-tiba berdiri. "Kayaknya sudah cukup, aku hanya datang untuk mengecek Akak sebentar saja. Maaf kalau aku sudah membuat keributan kali ini" ucapnya.
"Eh? Sudah mau pulang?" Yaya pun sontak berdiri ketika adiknya berpamitan.
"Iya... Jangan khawatir, aku akan sering-sering menengok kesini" jawab anak itu dengan tatapan lembut yang mirip seperti Yaya. Karena mereka saudara kandung tentu saja pasti ada kemiripan baik sikap maupun kebiasaannya, walaupun tidak ada yang mengajarinya.
Setelahnya anak itu pun keluar dari kamar apartemen tersebut sambil digiring oleh Kakak perempuan satu-satunya tersebut. Sebelum benar-benar jauh dia sempat melambaikan tangan dari depan gerbang. Dan Yaya yang saat itu tengah memperhatikannya sambil bersandar pada teras besi di depan kamarnya pun langsung membalas lambaian tersebut.
Sementara cowok-cowok yang tadi ikut berkumpul di kamarnya langsung saja berpencar pulang ke kamar masing-masing.
~MA~
Keesokan harinya.
Di SMA Utara para siswa dan siswinya masuk ke sekolah untuk belajar seperti biasa. Ini sebenarnya akan jadi hari biasa jika saja tidak ada murid baru yang masuk pada awal semester. Seorang anak laki-laki dengan jas hitam seragam khas sekolah menengah atas ini nampak tengah berdiri di depan kelas didampingi oleh seorang wali kelas dan guru yang tengah mengajar di kelas 1-4 saat itu.
Tapi diantara seluruh siswa di kelas itu, Blaze lah yang paling dibuat kaget. Karena murid baru itu adalah anak yang kemarin sore mampir ke apartemen mereka.
Benar, adik laki-lakinya Yaya masuk ke sekolahnya dan ada di kelasnya.
"Perkenalkan aku Totoitoy. Mohon bantuannya ya?" kata anak itu memperkenalkan diri dengan gaya yang sedikit cuek dan terkesan sombong. Berkebalikan dengan sifatnya saat bertemu dengan Kakaknya kemarin.
"Mulai hari ini dia akan bergabung dengan kelas kita. Perlu kalian ketahui, jika dia dulu mengambil kelas akselerasi, jadi usianya setahun dibawah kalian. Kalian harus bersikap baik padanya, mengerti" jelas si wali kelas melanjutkan perkenalan di depan kelas. "Silahkan duduk di bangku yang kosong" dan meminta si murid baru itu untuk mengambil tempat duduk.
Si anak berambut abu-abu itu pun melangkah dengan santai diantara jejeran bangku yang sudah terisi oleh siswa-siswi lain. Hingga akhirnya berhenti dan mengambil bangku paling belakang pada baris kedua dari jendela luar tepat di belakang si anak berambut hitam lebat dan berbola mata merah kejinggan tersebut.
Blaze pun sontak membalikkan badan dan memperhatikannya dengan tatapan 'Kenapa dia ada disini?' Namun, itu tidak lama ketika guru yang mengajar di depan menegur untuk seluruh siswanya untuk fokus ke depan memperhatikan pelajaran.
Sementara itu dari depan ruang kelas tersebut, Ice yang saat itu keluar dari kelasnya, kelas 1-2 karena tidak ada guru yang mengajar pun mengintip ke dalam secara diam-diam dan mengirimkan pesan pada Halilintar tentang kejadian ini.
.
.
Dan di kafe Halilintar baru saja menerima pesan singkat dari Ice. Yang diteruskannya pada Yaya secara langsung.
Tahu komentar Yaya seperti apa?
"Terus kenapa kalau Totoitoy masuk ke SMA?" gadis itu menoleh sejenak pada Halilintar di bawahnya setelah sebelumnya sibuk membersihkan debu di atas lemari wadah penyimpanan gelas. Dan kembali melanjutkan bersih-bersihnya.
"Ya habisnya dia kan beda lima tahun denganmu, berarti umurnya baru empat belas dong" sahut Halilintar berkacak pinggang dan memperhatikan Yaya, berjaga-jaga kalau gadis itu jatuh dari sana jadi dia sudah siap siaga menangkap dibelakang.
"Yang seperti itu tidak mengherankan di keluarga kami" ujar gadis itu membalikkan tubuhnya. "Bahkan Ayah kami pernah lima kali mengambil kelas akselerasi" lanjutnya lagi selagi Halilintar menggendong dan membantunya untuk turun.
"Kenapa kelas akselerasi seperti dijadikan tradisi keluarga?" cerocos pemuda bermata ruby tersebut.
"Entahlah. Jujur saja Ayah dan Ibu tidak pernah memaksakan kami untuk ikut akselerasi. Kalau mampu dan mau ya sudah, ikut. Kalau tidak juga, ya sudah" sahut gadis itu kalem sambil mengelap meja bar di dekatnya dengan lap barusan.
Sementara Halilintar di belakangnya hanya mendengus seraya tersenyum sinis mendengar keajaiban yang diceritakan si gadis dalam keluarganya.
~MA~
Ding Dong... Ding Dong...
Ding Dong... Ding Dong...
Waktunya jam istrirahat di sekolah SMA Utara. Dan ini juga saatnya seluruh murid dari kelas 1-4 beraksi, mengintrogasi si anak baru. Hanya pertanyaan biasa seperti...
'Kau dari sekolah mana?' 'Apa kau juga suka bla bla...?' sampai pertanyaan 'Ikut akselerasi itu bagaimana rasanya?'
Terkecuali Blaze yang sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan keberadaan adik laki-lakinya Yaya di kelasnya, dengan masa bodohnya dia langsung lari ke kantin untuk jajan. Padahal Totoitoy justru malah memperhatikannya, sebelum akhirnya ia terpaksa harus menanggapi pertanyaan anak-anak lain yang tidak ada habisnya.
.
.
Beberapa saat kemudian, waktu istirahat pun hampir habis. Sementara di depan kelas tersebut tampak ada seorang anak perempuan yang tengah berdiri di depan pintu. Ia memakai seragam dan jas hitam seperti yang murid-murid lain, rambutnya pendek sebahu berwarna biru muda dan matanya ungu. Ditangannya ada sebuah bungkusan yang dipegangnya begitu erat. Dia kelihatannya sedang mencari seseorang tapi takut masuk ke kelas yang bukan kelasnya dan juga malu bertanya pada murid lain sehingga dia pun hanya bisa berdiri disana.
"Yo, Sheilla! Sedang apa berdiri disini?" hingga tiba-tiba teguran dari seorang anak laki-laki pun sukses mengejutkan dan membuatnya kalang kabut. Dengan gemetaran ia pun membalikkan tubuhnya menatap si anak laki-laki.
"B–Blaze-kun... kau disana rupanya...?" katanya gadis SMA bernama Shiella tersebut terlihat gugup dengan wajah memerah.
"Ouh. Aku habis dari toilet tadi. Apa kau sedang mencari seseorang?" sahut Blaze pada teman perempuannya tersebut.
"T–Tidak. Itu... Umm... Aku belajar membuat kue semalam, kalau kau mau... silahkan dicoba." Ucap gadis berambut biru bernama Sheilla itu menjelaskan dengan begitu malu-malu dan tergagap sebelum akhirnya menyerahkan kantung plastik tembus pandang yang diikat dengan pita cantik berwarna pink.
Di dalamnya ada beberapa buah kue kering yang begitu cantik dan kelihatannya sangat enak.
Dengan senang hati kantung itu pun diterima oleh Blaze, tanpa canggung ia pun membuka bungkusan tersebut dan menyuap salah satu dari kue yang ada di dalamnya. Campuran rasa manis dan tekstur renyah yang pas langsung terasa di lidahnya hanya dalam satu gigitannya saja. "Enak" komentarnya sambil menyengir polos.
"Benarkah!? Syukurlah..." Dan sukses membuat si gadis merasa begitu senang. Usahanya belajar memasak tidak sia-sia rupanya. "Anu... begini, Blaze-kun... Kalau sempat apa kau mau–"
"Oi, sedang apa kalian?" sayangnya ucapan Sheilla pun harus terpotong karena Ice yang tiba-tiba muncul dan menegur mereka berdua.
"Oh. Shey bikin kue, enak lho, cobain deh" tawar Blaze dengan enteng menyodorkan bingkisan pemberian gadis di depannya pada teman masa kecil bermanik aquamarine tersebut.
Ice hanya menatap kantong berisi kue itu secara datar dan ganti melirik pada Shiella. Gadis itu terlihat menunduk, dia seperti ingin protes tapi tidak berani. "Nggak makasih. Aku kenyang." Katanya singkat. "Sudah ya, sebentar lagi jam istirahat habis, aku duluan" sambil melambai ia pun meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju kelasnya.
Sementara itu baik Blaze maupun Shiella nampak asik memperhatikannya.
"Ngomong-ngomong Shey, kau mau ngomong apa tadi?" hingga Blaze pun kembali buka suara dan mengagetkan gadis itu sekali lagi.
Sontak Shiella pun menggulirkan manik kecubungnya ke bawah saking panik dan gugupnya. Bahkan bicaranya pun sampai terbata-bata. "T–Tidak jadi, lain kali saja kita bicarakan itu... A–Aku juga masuk kelas dulu ya" lalu dengan buru-buru gadis itu pun pergi(kabur) menuju kelasnya yaitu kelas yang sama dengan Ice.
Sementara Blaze hanya memperhatikannya dengan ekspresi bingung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
~MA~
Hari semakin sore dan hampir menjelang malam, para murid yang bersekolah di SMA Utara pun sudah banyak yang pulang ke rumah. Tak terkecuali bocah Nekomata bermanik aquamarine berwajah tembok yang satu ini, sambil melangkah santai ia pun berjalan menuju kelas Blaze yang berada pada ruang kedua dari ujung koridor dekat tangga.
Saat sampai disana ia pun langsung menggeser pintu. Cahaya kejinggan yang menerobos masuk dari jendela luar bangunan bertingkat tiga itu langsung menyilaukan matanya begitu ia pintu itu terbuka, dan di dalam kelas yang sunyi itu ia bisa melihat sosok seorang bocah laki-laki yang tengah duduk di bangkunya sambil asik menulis pada lembaran putih bergaris di buku tulisnya.
"Blaze." Panggilnya pada anak tersebut.
Sontak si bocah bermanik jingga kemerahan seperti batu permata fire opal itu pun menoleh pada temannya tersebut. Tatapannya terus menggiring hingga Ice duduk tepat di depannya sambil melipat kedua lengan dan merebahkan dagu pada sandaran kursi.
"Udah mau pulang nih? Bentaran ya? Dikit lagi kok" ujar Blaze lanjut menulis pada bukunya.
Ice hanya menatapnya bosan seraya membuang nafas. "Kenapa sih senang banget ngerjain PR di sekolah?" sungutnya datar.
"Karena lebih mudah berkonsentrasi~" sahut Blaze sambil menatap Ice dengan sebuah cengiran polos kekanak-kanakan.
Bocah bermanik aquamarine itu hanya memutar mata, meng'iya'kan saja kelakuan teman masa kecilnya tersebut. Lagipula di dunia ini cara orang belajar pasti berbeda-beda, bukan?
"Yey~ Selesai!" hingga tak terasa akhirnya PR Bahasa yang dikerjakan oleh bocah berjaket merah khas itu pun beres. Saking girangnya ia sampai mengangkat bukunya tinggi ke udara, dan kemudian sambil bersenandung riang dia pun segera mengambil tas untuk memasukan segala buku catatan maupun alat tulis di mejanya.
Ice yang memperhatikannya hanya tersenyum tipis. Namun sesaat kemudian senyuman itu hilang karena pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benaknya. "Blaze." tegurnya pelan.
"Hm?" Blaze pun hanya menyahut tanpa melirik sedikitpun padanya.
"Apa mungkin kau juga..."
Pertanyaan Ice yang terhenti di tengah jalan pun sukses membuat bocah di depannya terheran-heran. "Kenapa?" tanya Blaze sambil melirik pada siluman kucing berwujud manusia di depannya.
"Nggak, bukan apa-apa. Lupakan saja" kelit Ice kalem.
Sebenarnya Blaze penasaran dengan kelanjutan dari pertanyaan Ice, namun ia memilih untuk diam dan tidak mempertanyakannya. Sambil mendengus pelan ia pun terus melanjutkan merapikan barang-barang miliknya.
"Anu lho, Blaze... Kemarin... aku nembak Nee-san." Tapi tak lama ia tersentak dan gerakan tangannya seolah membeku ketika temannya itu menceritakan atau lebih tepatnya curhat tentang sesuatu yang sangat menarik baginya.
Blaze pun terdiam sejenak, kelihatannya dia sedang memirkan respon apa yang harus diberikannya. "Oh... Terus gimana?" sahutnya. Jujur, ekspresinya saat ini tidak terlalu jelas saat ini karena minimnya cahaya di ruangan kelas tersebut akibat sang surya yang semakin tenggelam dan hanya menyisakan sedikit sinar temaram berwarna kemerahan di ufuk barat.
Dan Ice di depannya hanya memasang tampang dingin seraya menyipitkan mata dengan cukup sendu. "Aku ditolak. Sebenarnya tidak ditolak secara mentah-mentah, hanya... Nee-san bilang dia belum siap" jawabnya pelan.
"Gitu? Sayang banget ya..." komentar Blaze datar. Secara samar kelihatannya ada senyum tipis yang menyiratkan rasa lega di bibirnya.
Untuk beberapa saat terjadi aksi diam-diam an diantara kedua sahabat dengan sifat bertolak belakang bagaikan api dan air tersebut. Tapi itu tak berlangsung lama ketika Blaze tiba-tiba saja menggeser kursi yang di dudukinya dan langsung berdiri, hingga Ice pun secara otomatis menatap padanya.
Terlihat anak bermanik fire opal tersebut tengah tersenyum dan menatap lembut padanya. "Ayo kita pulang" ajaknya dengan begitu ceria.
Ice hanya mengangguk dan langsung berdiri dari kursi yang didudukinya, setelah mengambil tas yang terparkir di samping kakinya ia pun segera menyusul Blaze yang sejak tadi sudah melangkah lebih dahulu dan nampak tengah menunggunya di depan pintu kelas. Sambil ngobrol keduanya pun berjalan beriringan menuju koridor tangga untuk turun kebawah.
"Nah, kau tau kan adiknya Nee-san pindah ke sekolah kita?" kata Blaze mengawali pembicaraan mereka sambil menyilangkan kedua lengannya ke belakang kepala dengan santai. Dan Ice disampingnya hanya mengangguk singkat menjawab pertanyaan tersebut. "Dia itu, ngapain sih disini?" lanjutnya menggerutu.
"Entahlah... Tapi kurasa ini ada hubungannya dengan SHAMAN" jawab bocah bermanik aquamarine di sebelahnya datar.
"Apa yang mereka rencanakan? Jangan bilang dia datang untuk mengawasi kita?"
Tepat ketika Blaze baru saja mengucapkannya, entah kenapa di sekitar mereka muncul udara dingin dari arah belakang yang membuat suasana begitu mencekam. Mereka pun sontak mendelik satu sama lain seperti sedang memberi kode atau malah melakukan telepati.
Sambil terus berjalan seolah tidak menyadari apa-apa Ice pun berkomentar. "Kurasa... bukan itu"
Dan benar saja tak lama setelahnya dari arah belakang tampak beberapa buah bongkahan es berujung tajam melayang dengan cepat ke arah mereka. Dengan gesit keduanya langsung melompat untuk menghindar. Ice mendarat sambil berputar balik dan Blaze mengerem setelah melakukan salto untuk menghadapi sang pelaku.
"Siapa itu!? Kami tahu kau ada disana, keluarlah!" seru Blaze yang terlihat begitu emosi sekarang, keras.
"Jadi kalian memang sudah menyadarinya" sahut seseorang di dalam koridor kelas yang begitu panjang dan gelap tersebut. Suaranya itu terdengar begitu dingin namun berwibawa, dia pun semakin mendekat diikuti bunyi langkah sepatu yang bergesekan dengan lantai koridor dari marmer tersebut. Disaat yang sama Blaze dan Ice pun nampak memasang ancang-ancang untuk bertarung kalau misalnya musuh mereka tersebut menyerang secara tiba-tiba seperti sebelumnya.
Dan beberapa saat kemudian kira-kira satu meter, sosok itu pun diam di tempat hingga menghasilkan jarak yang sangat renggang, namun cukup bagi mereka untuk melihat wujudnya.
Sontak keduanya membulatkan mata dengan mulut menganga saat melihat seorang gadis belia nampak tengah berdiri hadapan mereka sambil menyilangkan kedua lengannya di depan perut. Kedua bola matanya masih berwarna sama, ungu seperti permata kecubung, namun tatapannya tajam penuh keangkuhan. Dan sekarang rambutnya memanjang berwarna putih, sementara warna birunya tersisa meng ombre di bagian bawah.
Orang yang sama namun tampak berbeda.
Blaze pun terlihat begitu kaget saat melihatnya. "Kau itu...!
.
.
Siapa ya...?" ia pun langsung mengeryit bingung, tak mengenali siapa gadis di depannya.
Hingga sukses membuat Ice menepuk jidatnya sendiri sembari membuang nafas. "Kau bego apa!? Mau dilihat bagaimana pun jelas-jelas itu Sheilla tau!" bentaknya pada temannya yang bermata jingga tersebut.
"EH!? Sheilla!?" Blaze sontak menoleh padanya dengan ekspresi penuh keterkejutan. Lalu kembali melirik kepada si gadis. "Kok rasanya dia agak berbeda?" komentarnya memicingkan mata dan mulai memperhatikan dengan jeli.
"Elo tu emang dari dulu nggak pernah peka ya!" omel bocah dengan sepasang manik aquamarine tersebut. "Gue kasian banget sama Sheilla karena suka sama orang kayak loe" lanjutnya menggumam dengan lesu dan begitu pelan hingga tidak terdengar siapa-siapa sambil memijit-mijit keningnya.
"Hmm... Jadi nama anak ini Sheilla ya? Apa kalian yang menamainya, atau dia sendiri yang menyebutnya seperti itu?" tak lama gadis di depan mereka pun menyela dengan sebuah pertanyaan, sambil asik memutar-mutar beberapa helai rambutnya yang panjang.
Blaze tampak mengerutkan dahi tak mengerti maksud si gadis. "Apa maksudmu? Kau sendiri siapa? Kau bukan Sheilla?" tanyanya.
Dengan begitu tenang sambil berkacak satu pinggang gadis itu mulai menjelaskan. "Ah, kalau gitu maaf karena tidak memperkenalkan diri sebelumnya. Aku Shiva, dan anak yang kalian panggil Sheilla itu pasti tubuh yang menjadi wadahku. Maaf saja, tapi dia sudah tidak ada sekarang. Lagipula dari awal tubuh ini memang diciptakan untukku. Anak itu–Sheilla... dia palsu"
Ucapannya pun sontak membuat Blaze dan Ice yang mendengarnya tercengang dengan mulut menganga.
"Shiva? Kenapa makhluk sepertimu ada disini?" sidik Ice.
"Pertanyaan yang cukup bagus." Komentar gadis yang menyebut dirinya Shiva tersebut. "Tujuanku disini hanya satu. Yaitu... menghancurkan tempat ini. Tapi pertama, aku harus menyingkirkan pengganggu seperti KALIAN LEBIH DULU!" tanpa peringatan apa-apa ia pun menyerang dengan menciptakan beberapa buah bongkahan es besar berujung tajam yang langsung dilemparkan pada dua bocah SMA di depannya.
Benda berbahaya itu melesat dengan sangat cepat hingga membuat keduanya berteriak panik. Namun terhenti secara tiba-tiba dan hanya melayang-layang di udara ketika Ice memajukan kedua tangannya ke depan dan membuat semacam barrier berkekuatan telekinesis.
Yup, kemampuan yang hampir mirip dengan Kakaknya.
Blaze yang sedari tadi hanya sanggup berlindung dengan tangan karena saking paniknya pun sontak dibuat kagum saat melihatnya. "Keren Ice! Kapan kau belajarnya!? Kemampuanmu mirip banget sama Taufan Nii! Jadi kau itu benar-benar adiknya, hebat!" sanjungnya dengan begitu berbinar-binar.
Namun Ice yang dipuji justru merasa terganggu dengan ocehan sahabatnya tersebut. "Berisik, aku harus konsentrasi tahu!" omelnya keras hingga membuat Blaze bungkam seketika itu juga. Saat anak bermata merah itu terdiam, Ice pun mulai mengerahkan kemampuannya–mengendalikan bongkahan-bongkahan es–memutar baliknya ke arah Shiva dan melemparkannya dengan cepat.
Sayangnya serangan balik itu tidak mempan, bongkahan-bongkahan itu hanya berhenti dan hancur berkeping-keping saat berada di hadapan sang pemilik serangan asli. Gadis itu bahkan tak bergeming sedikitpun dari sana.
Melihat tak ada harapan untuk mereka, Ice pun lekas menarik tangan Blaze dan melarikan diri dari sana. Dengan cepat ia berlari sambil menyeret anak itu menuju tangga, tapi sayang...
Jalannya tertutup oleh es tebal yang membeku dengan amat sangat cepat. Bahkan api Blaze mungkin tidak akan cukup untuk mencairkannya. "Kesini!" mereka pun tak punya pilihan selain mendaki anak tangga menuju lantai atas daripada terus berhadapan dengan 'penyihir es' tersebut.
.
.
"Tunggu! Kenapa kita kabur!?" protes Blaze kebingungan.
"Jangan gila! Dia itu dewa tahu, kita nggak bakalan menang ngehadapin dia!" Ice menjawab tanpa menoleh, masih berkonsentrasi menaiki anak tangga untuk menuju atap.
"Dewa!?"
"Uhm... Shiva, dewi salju dan musim dingin. Sering disebut juga sebagai ratu es" jelas Ice singkat dan datar.
"Apa maksudmu Shiva itu karakter makhluk panggilan yang ada di f*nal fantasy itu?" tanya Blaze lagi.
Awalnya Ice ingin protes, namun sejenak ia terdiam sembari menerawang ke atas, setelah dipikir-pikir lagi ada benarnya juga. "Tapi sebenarnya, kenapa makhluk seperti itu membutuhkan inang untuk mempertahankan keberadaannya?" gumamnya pelan.
Tak terasa akhirnya mereka pun tiba di atap gedung sekolah. Dan tidak terduga disana mereka sudah disambut oleh si gadis berambut putih panjang, yang entah bagaimana caranya ia bisa lebih dahulu sampai disini.
"Akhirnya kalian sampai juga" sambutnya dingin.
Sontak kedua makhluk mistis berbeda spesies tersebut mundur selangkah sembari memasang kuda-kuda bertarung.
"Oi, Ice... Gimana nih?" bisik Blaze sambil menggeretekkan giginya dengan tubuh gemetaran, menyakan pendapat teman siluman kucingnya tersebut.
Ice memicingkan mata, membaca kondisi dan mencoba menyusun rencana. "Kayaknya kita terpaksa harus...
.
"CABUT DARI SINI!" ia sontak berbalik dan lari secepat kilat menuju ke arah pagar pembatas.
Dan secara otomatis Blaze mengekornya walau dengan keadaan sangat terheran-heran.
"Kalian pikir aku akan membiarkan kalian kabur!" Gadis berambut putih panjang itu pun menghempaskan kedua tangannya ke depan. Dan secara luar biasa dari arah belakangnya udara dingin bertiup dengan sangat kencang, membekukan apapun yang dilewatinya.
Tapi dengan cepat juga Blaze dan Ice langsung berpencar ke belakang dua buah tong air besar dan menggunakan benda tersebut untuk berlindung dari badai mengerikan itu. Dada mereka kembang kempis, entah takut, entah lega saat berhasil merapatkan punggung disana.
Setelah badai itu berlalu, keduanya secara bersamaan mengintip pada sang pengendali hawa dingin tersebut kemudian saling tatap satu sama lain. Ice tampak memberikan kode, menggerakkan lengan, tangan dan jari-jari sebelah kirinya. Blaze memperhatikannya dengan seksama, menerjemahkan isyarat tersebut dan mengangguk mantap setelah memahami maksudnya.
Kemudian keduanya pun berpencar ke arah yang berbeda. Ice maju, ia menyerang langsung secara terang-terangan dengan sebuah lemparan tombak dari patahan es tajam didekatnya secara lurus dan cepat.
Tentu saja secara hampa seperti itu bisa dengan mudah dihindari oleh sang ratu es. Namun dibelakangnya sudah ada Blaze yang langsung menendang balik tombak tersebut ke arahnya, ditambah...
"Teknik api! Shurikenberapi!"
Dengan cepat ia pun membuat beberapa buah piau dari darahnya. Dan melemparkannya pada kobaran api yang sebelumnya dihembuskan melalui mulutnya. Suhu api yang begitu panas itu pun membuat kobaran berwarna merah itu merekat pada permukaan senjata dari besi berwarna hitam tersebut.
Sayang, serangan itu pun bisa dihindari ketika Shiva melompat dari sana. Tapi sekali lagi di belakangnya Ice sudah bersiap menyerang dengan sebuah tendangan keras (Dan entah sejak kapan kuping dan ekor kucingnya muncul) yang langsung ditangkis oleh si gadis berambut putih.
"Hehh... Nekomata ya? Tidak heran tendanganmu berasa. Kalau aku manusia biasa mungkin sekarang aku sudah terlempar keluar dari pagar itu. Tapi serangan seperti tentunya tidak akan berpengaruh pada Dewi sepertiku" komentarnya sembari menampilkan senyum dan wajah psikopat yang cukup mengerikan.
Bukannya takut, Ice justru menyahutnya dengan sangat tenang dan masih belum bisa lepas dari posisinya itu. "Kau benar... Tapi kau lupa aslinya tubuhmu itu sangat lemas. Karena nya aku dapat gambaran jika kau itu hanya seperti orang yang sedang kerasukan, ditambah lagi kemampuanmu adalah es yang berarti..."
"KELEMAHANMU ADALAH API!"
Ice menyengir, dengan cepat ia melepaskan tendangannya dan menyingkir ketika Blaze melompat ke udara tepat di belakangnya dan bersiap melemparkan serangan pada sang dewi musim dingin.
"Teknik api! Tarian burung layang-layang!"
Sambil memposisikan jari telunjuk dan tengah di depan mulut ia pun segera menghembuskan udara panasa sekencang-kencangnya dari mulutnya. Api besar itu memecah menjadi beberapa potongan dan berubah bentuk layaknya burung bersayap lebar yang bisa terbang tanpa perlu mengepakan sayapnya.
Kobaran-kobaran kecil itu mulai terbang memutari si gadis dan membuat semacam lingkaran yang tidak akan membiarkannya lolos dengan mudah. Dan di dalam sana sangat panas.
Setelahnya kedua sahabat itu tampak memperhatikan dengan harap harap cemas. Inilah sebenarnya rencana mereka, mengusir sang dewa jahat dari tubuh temannya karena tahu kelemahan es pastilah api.
Tapi...
Kelihatannya rencana mereka gagal, terbukti karena dia tak bergeming sama sekali dan terlihat begitu tenang sembari memperhatikan jurus yang dikeluarkan oleh Blaze tersebut. Sesaat kemudian ia menoleh pada mereka berdua. "Menarik juga, jurusmu ini terlihat begitu cantik sampai aku sayang untuk merusaknya. Tapi..."
Tak lama kemudian gadis itu pun lenyap dari sana. Dan muncul secara tiba-tiba di belakang Blaze sebagai kabut yang kemudian memadat kembali membentuk wujud cantik si gadis. Tangan dinginnya menyentuh pundak anak itu dengan halus hingga membuat bulu kuduknya berdiri. "Kau justru kelihatan lebih menarik. Aku melihat ada kekuatan besar dalam dirimu, tapi sayang kekuatan itu tersegel... bersama hal buruk di dalamnya" bisiknya pelan.
Blaze yang merasa ngeri sontak saja menepisnya agar menjauh. Dan lagi-lagi gadis itu berubah wujud menjadi kabut tipis dan bergerak bebas menuju posisi awal ia berdiri sebelumnya. Ia menapakkan kakinya ke tanah dan berputar menghadap mereka dengan gaya sok imut.
"Apa kau ingin coba membangkitkannya? Akan kubantu. Dengan kekuatan seperti itu kau bisa bertambah kuat, bahkan melampaui saudaramu" tawarnya.
Dan sukses membuat Blaze melongo, dia terlihat cukup tertarik dengan tawaran sang dewi salju. Namun masih agak ragu–lebih tepatnya tidak mengerti apa kekuatan yang dimaksud olehnya.
"Jangan dengarkan dia Blaze! Kau lupa apa yang dikatakan oleh Hali Nii!?" tegur Ice kencang. Menyadarkan temannya yang seperti dihipnotis dan sedang diberi sugesti tersebut.
Namun sepertinya tidak didengarkan oleh Blaze. "Benarkah itu...?" tanyanya pada gadis tersebut, datar.
"Benar. Kalau gitu lihat saja sendiri" jawab Shiva sembari melemparkan sesuatu yang berkilauan kearah anak bermata jingga tersebut.
Blaze pun mengangkapnya. Jujur, aa ragu melepaskan kepalan tangannya untuk melihat apa yang akan didapatkannya dari benda itu. Tapi entah mengapa seperti ada semacam dorongan yang membuatnya mau mau membuka tangan kanannya tesebut.
Saat dibuka tampaklah sebuah kelereng berwarna putih dengan aurora di dalamnya. Di mata orang lain mungkin itu hanya bola kaca biasa tapi saat Blaze yang melihatnya...
Samar-samar ada sesuatu yang muncul di penglihatannya, hingga membuatnya terpaku menatapnya.
Mulai kesal Ice pun langsung merebut kelereng tersebut dan melemparkannya sejauh mungkin. "Blaze jangan percaya dengan ucapannya! Kau yang sekarang pun sudah kuat tanpa perlu kekuatan yang tersegel itu!" seru bocah bertelinga kucing itu keras, coba memperingatkan. Namun tak mendapat respon apapun dari temannya itu, hingga membuatnya gelisah. "Blaze...?"
Anak itu hanya diam mematung di tempat. Pikirannya menerawang, sepertinya sedang menggali informasi yang hilang dari kepalanya. Sedikit demi sedikit ingatannya muncul layaknya puzzle yang berhamburan dan belum disatukan.
Desa? Kebakaran? Jubah hitam? Gunung? Sungai? Pedang? Darah? Api?
P–Phoenix...?
Deg.
Seketika Blaze pun lemas hingga jatuh bersujud ke permukaan lantai dengan gemetar. "Uhg..." Ia mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Sekujur tubuhnya terasa panas, jantungnya berdetak kencang dan darahnya seperti mengalir dengan sangat cepat.
Ice yang melihatnya tentu saja khawatir, dengan panik ia segera jongkok dan menepuk bahunya. "O–Oi Blaze, apa yang terjadi...? K–Kau tidak apa-ap–ARGGH!"
Dan tiba-tiba saja tubuh bocah vampir itu mengeluarkan energi yang sangat besar dengan bentuk cahaya yang begitu panas hingga mementalkan Ice sampai menabrak ujung pagar pembatas. Nekomata itu pun mencoba bangkit walau dengan tubuh gemetar karena kesakitan. Dan saat matanya terbuka ia pun dibuat tercengang dengan apa yang terjadi pada Blaze.
"S–Sayap...?" gumamnya pelan.
Benar, dari punggung bocah vampir itu muncul semacam sepasang sayap burung yang begitu besar dan sangat lebar. Walaupun bentuknya agak sedikit kasat atau tembus pandang tapi itu benar sayap, dan itu terbuat dari kobaran api. Sepertinya Blaze sendiri tidak sadar mengeluarkannya.
Sementara itu Shiva yang berada di depannya tak kalah tercengangnya. "Apa ini? Panas sekali." Katanya, ia merasa cukup terganggu dengan suhu mengerikan yang dihasilkan benda tersebut. Hingga beberapa saat kemudian ada yang bicara padanya melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
"Shiva-sama, sudah cukup, tolong kembali"
"Lalu bagaimana yang disini?" balas gadis berambut putih tersebut.
"Untuk sementara kita mundur dulu. Aku punya rencana lain"
"Baiklah..." tanpa basa-basi si gadis pun berputar balik dan kabur dengan melompati pagar dari atap sekolah yang tinggi tanpa masalah sedikitpun.
Disaat yang sama Ice yang sudah berpindah ke belakang tong air nampak sibuk mengetik di ponselnya dan mengirimkan pesan darurat melalui SMS pada Halilintar agar segera menuju kemari untuk mengatasi adiknya yang mungkin sedang mengamuk.
.
Tak lama kemudian, seperti kilat, Halilintar sudah tiba di halaman SMA Utara dan menemukan seluruh sekolah hampir sudah hampir terbakar habis. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanyanya lebih ke diri sendiri.
Dia segera melongo ke atas gedung dan sontak terkejut saat menemukan sesuatu yang cukup dikenalnya. Ia masih sulit percaya tapi ini sungguhan. Itu adalah...
"Datanglah! BYAKKO!"
Dengan cepat Halilintar pun langsung memanggil familiarnya. Harimau bengal berbulu putih itu pun muncul kembali di belakangnya dengan begitu anggun.
"Bisa kau antarkan aku ke atas sana, Byakko?" perintah pemuda bermata ruby tersebut.
"Dengan senang hati~" jawab sang harimau putih bermata biru tersebut. Sesaat kemudian ia menoleh ke atas dan melihat pemandangan yang cukup mengejutkan. "Lintar, apa mungkin itu..." lanjutnya bertanya.
"Ya, tidak salah lagi. Itu Phoenix, familiar milik Blaze." Jawab pemuda itu cepat. "Kita harus bergegas." Sambungnya sambil melirik pada makhluk panggilannya.
Tanpa bertanya maupun basa-basi Byakko langsung mendekat dan mencengkram hoodie jaket yang sedang dipakai oleh host nya tersebut dengan mulutnya. Halilintar menoleh padanya dengan tatapan ingin protes.
"Oi, kau ini ngapain sih!?" bentak pemuda itu dengan sebuah triple crush di kepalanya.
"Lah? Tadi katanya mau naik ke atas?" jawab familiarnya tersebut dengan wajah polos.
"Nggak gini caranya juga kali! Kau kira aku anakmu apa!? Terus tu punggung lebar buat apaan!?"
"Bilanginnya gak usah pakai marah-marah. Galak amat. Ntar berat jodoh lho"
"Bodo amat! Turunin aku sekarang!"
Jadi setelah memarahi peliharaannya yang baginya mengesalkan itu (Nggak, pada dasarnya Halilintar memang susah akur dengan kucing), harimau itu pun langsung menurunkannya. Siapa sangka familiar itu bisa memadatkan wujudnya hingga punggungnya bisa dinaiki oleh sang pengguna petir merah.
Dengan cepat keduanya pun melesat ke udara dan tiba di atap gedung sekolah bertingkat empat tersebut. Begitu sampai pemuda bermanik delima itu langsung turun dari punggung sang harimau putih dan menemukan adiknya dalam masalah besar.
Dari tubuh adiknya, lebih tepatnya punggungnya, Phoenix muncul dengan mengembangkan sayapnya. Walau hanya sepsang sayap itu cukup untuk membuat satu sekolah terbakar dan menghasilkan hawa panas yang membuat siapapun tidak akan bisa mendekat. Bahkan Blaze sendiri pun dibuat kesakitan oleh ulah familiarnya tersebut.
Dan disini Byakko yang punya kaitan dan bisa berkomunikasi dengannya lah yang mencoba untuk menghentikannya. "Flame emperor, apa yang kau lakukan!? Kenapa kau memaksa pemilikmu seperti itu!?"
Namun sepertinya tidak didengarkan oleh burung penguasa elemen api tersebut.
Belum menyerah harimau itu pun mencoba lagi. "Kau dengar aku tidak!? Sudah hentikan, kau ingin membuatnya terbunuh!?"
Kali ini usahanya berhasil, pergerakannya terhenti dan hawa panas di sekitarnya menghilang. Secara perlahan sepasang sayap itu mulai menyusut hingga lenyap sama sekali.
Disaat yang sama Halilintar langsung melenyapkan Byakko setelah sebelumnya berterima kasih pada familiarnya tersebut. Dengan cepat ia pun langsung menghampiri adiknya yang tampak masih bersujud lemas di atas lantai itu. Sambil berlutut ia pun coba memastikan keadaannya "Blaze, Blaze! Kau baik-baik saja!?" tanyanya cemas sembari mengguncang tubuh adiknya tersebut. "Ini aku, kau dengar?"
"Nii... chan...?"
"Heh...?" Halilintar pun mengernyit bingung ketika Blaze memanggilnya dengan panggilan lama. Karena terakhir kali adiknya memanggilnya seperti itu saat Halilintar sudah masuk SMP. Dan seterusnya... begitulah...
Anak SMA itu pun bangkit, memandang pada Kakaknya. Tatapannya kosong dan wajahnya habis berlinang air mata. "Nii-chan... Blaze... Blaze gak sengaja... Blaze gak sengaja melakukannya... Blaze gak salah! Kan...?" rutuknya sambil sesenggukan dan terlihat menunggu jawaban Halilintar.
Halilintar menunduk, tatapan terlihat menyendu. Ia mengerti apa yang sedang terjadi pada adiknya sekarang. Kelihatannya segel yang ada ditubuhnya rusak hingga membawa pikirannya ke masa lalu, 10 tahun yang lalu. "Iya... kau tidak salah..."
Mendengar jawaban Kakaknya, hati anak itu pun menjadi sedikit lega. Setelahnya ia langsung pingsan karena tekanan mental yang dialaminya sebelumnya.
Halilintar pun dengan cekatan langsung menahan tubuhnya agar tidak sampai mencium lantai.
.
To Be Continued
