Tradisi bagi setiap Kerajaan yang merayakan Peringatan Ulang Tahun Kerajaan, mereka akan mengundang berbagai tamu undangan yang tentu saja adalah seorang Raja dan Ratu Kerajaan yang lainnya, Kerajaan Dunia Olympus atau Dunia Luar akan datang berkunjung dalam acara tersebut. Jenis perayaan yang dilakukan sama seperti Perayaan yang lainnya, jamuan makan malam, acara pesta dansa atau mungkin ada hal – hal khusus yang diumumkan dari sebuah Kerajaan mengenai Calon Raja yang akan bertakhta selanjutnya atau mungkin pertunangan salah satu Putera dan Puteri Mahkota mereka.
Untuk Perayaan Peringatan Kerajaan Glorfindel kali ini tentu saja semua tamu undangan mengharapkan berita bahagia mengenai Calon Raja mereka—Chanyeol. Apakah Chanyeol akan dijodohkan dengan Kerajaan dari Dunia Olympus atau mungkin dari Kerajaan Dunia Luar, hanya saja hal ini semakin menarik karena seluruh Kerajaan dan Pemerintahan Dunia Luar sudah mengetahui bahwa Chanyeol adalah pemilik Kekuatan Api Bumi—Sang Phoenix—yang bisa diartikan bahwa pasangan untuk Chanyeol adalah wanita yang memiliki kekuatan Cahaya Abadi—Sang Elayne—yang sampai saat ini belum ditemukan.
Atau belum diketahui oleh pihak lainnya.
Ruangan Ballroom Istana Glorfindel sudah dipenuhi dengan berbagai tamu undangan, beberapa Putera dan Puteri Mahkota dari enam Kerajaan Olympus sudah meramaikan ruangan dengan gaun dan setelan jas Kerajaan masing – masing. Semua Raja dan Ratu bahkan sudah menduduki kursi khusus yang sudah disediakan oleh pihak Istana. Suasana riuh penuh pembicaraan dari setiap orang yang datang tengah membicarakan Calon Raja Glorfindel, yaitu Chanyeol yang kini belum terlihat menghadiri acara sama halnya dengan Puteri Mahkota I Glorfindel dan juga Putera Mahkoya Lynkestis yang belum nampak didalam ruangan itu.
"Putera Mahkota mereka mungkin masih bersiap – siap."
"Apa Chanyeol tidak akan menghadiri Pesta Perayaan Kerajaannya sendiri? Dia adalah Calon Raja sudah seharusnya ia berada di tempat ini sesegera mungkin."
"Aku rasa Raja Glorfindel tengah mempersiapkan pengumuman penting kali ini."
"Ya, sepertinya akan ada pertunangan yang special malam ini."
Beberapa suara yang berbisik saat ini sudah mulai bisa terdengar oleh tamu yang lain dan itu semakin membuat mereka semakin riuh meskipun beberapa mulut dan tangan mereka kini tengah sibuk untuk menyantap makanan, tapi membicarakan Chanyeol adalah hal yang tidak bisa dilewatkan.
Hentakkan langkah yang keras terdengar menggema dari luar ruangan Ballroom hingga membuat semau tamu undangan yang mendengar suara langkah itu memfokuskan pendengaran mereka dan keheningan seketika terjadi disekitarnya. Saat pintu masuk utama Ballroom terbuka lebar pengawal Istana dengan mengenakkan setelan merah senada dengan warna bendera Kerajaan terlihat memasuki ruangan membentuk barisan hingga sampai pada barisan terakhir barulah terlihat sosok Chanyoel melangkah tegap dan dingin. Pandangannya sama sekali tidak berpaling untuk melihat para tamu yang lainnya dimana mereka semua memuji bagaimana penampilan Chanyeol saat ini. Setelan hitam Kerajaan dengan jubah merah yang menutupi bagian punggungnya jelas memperlihatkan dirinya terlihat gagah, ditambah tatanan rambutnya yang tertata rapi menonjolkan keningnya dan tatapan matanya yang tajam.
"Yang Mulia Putera Mahkota I Glorfindel, Chanyeol. Memohon ijin untuk menghadap Yang Mulia Raja." Ucapan keras terdengar dari salah satu pengawal Kerajaan yang berlutut memberikan hormat kepada sang Raja, Yunho.
"Aku memberikan ijin." Yunho membalas, sang Raja beranjak dari posisi duduknya, sementara sang Ratu, Jaejoong masih duduk pada Kursi Takhta- nya dengan ditemani beberapa Raja dan Ratu dari Kerajaan yang lainnya yang duduk dengan tenang pada kursi mereka.
Barisan pengawal Istana bergerak memberikan ruang bagi Chanyeol untuk melangkah mendekat kearah sang Raja, penghormatan tundukkan kepala Chanyeol lakukan sebelum pada akhirnya ia berdiri disamping Yunho dan menghadap kearah para undangan yang sudah memperhatikan mereka sedari tadi.
"Selamat malam!" Yunho berbicara kearah mereka. "Terima kasih atas waktu dan kedatangan kalian dalam acara Peringatan Berdirinya Glorfindel yang telah beribu – ribu tahun berada diatas tanah ini." Yunho memperhatikan seluruh sudut ruangannya yang terpenuhi dengan tamu undangan. "Aku ingin menyampaikan beberapa pengumuman mengenai kondisi Kerajaan saat ini dan juga untuk selanjutnya."
Mendengar hal itu beberapa tamu undangan mulai berdesas desuh mengasumsikan pengumuman ini berkaitan dengan Putera Mahkota Pertama mereka dan mungkin akan mengumumkan berita pertunangan, perjodohan atau hal apapun yang berkaitan dengan para Putera dan Puteri Mahkota mereka.
"Aku, Sebagai Raja Glorfindel.. dengan ini mengumumkan.." Sang Ratu, Jaejoong dan kedua Putera Mahkota yang lainnya beranjak berdiri menyusul untuk berdampingan dengan Sang Raja dan juga Chanyeol. "Keputusan mengenai pertunangan serta perjodohan untuk Putera Mahkota I Chanyeol atau Phoenix.." baru saja Yunho menjeda kalimatnya, para tamu undangan khususnya kaum hawa segera melangkahkan kakinya mendekat dimana Sang Raja dan seluruh keluarga Glorfindel berkumpul—kecuali sang Puteri Mahkota Yoora.
"Sehubungan dengan itu, aku meminta maaf kepada seluruh Raja dan Ratu yang menginginkan Putera Mahkota-ku ini menjadi calon suami dari Puteri Mahkota kalian, karena Chanyeol atau Phoenix hanya boleh menikah dengan Pemegang Kekuatan Cahaya Abadi atau Reinkarnasi dari Elayne." Chanyeol memperlihatkan sebuah senyuman lebar kearah para undangan sementara para kaum hawa disana mengeluh akan keputusan itu dan menampakkan wajah sedihnya.
"Dan untuk Putera Mahkota III Glorfindel, Sehun." Yunho masih melannjutkan, wajahnya berpaling melihat kearah anaknya itu yang mengernyitkan alisnya dan nampak bingung karena namanya disebutkan. "Melalui keputusan yang telah kami rundingkan bersama dengan Kerajaan Tiranis—
"Ayah!" Sehun memotong.
"Putera Mahkota III Glorfindel akan bertunangan dengan Puteri Mahkota I Luhan." Yunho berucap cukup keras dan disambut dengan sebuah tepukan tangan dari Chanyeol dan para Putera dan Puteri Mahkota lainnya serta para tamu undangan sedangkan Sehun terdiam berdiri disana menatapa kearah ayahnya dan juga kedua kakaknya yang saling tertawa lebar. Bahkan ketika Raja Tiranis menghampiri dengan membawa Luhan disampingnya, Sehun masih terdiam mematung disana.
-Loves of Tales-
"Nah, sudah selesai." Yoora berucap setelah meletakkan kuas riasnya diata meja. Tangannya kini memutar kursi yang tengah diduduki Baekhyun untuk kembali menghadap kearah cermin disana. "Buka matamu." Yoora memberi tahu dan Baekhyun mengedip pelan sebelum kelopak matanya terbuka lebar menatap hasil riasan Yoora pada wajahnya yang kini terlihat lebih cantik—menurutnya.
"Yo-yoorana.. aku sangat cantik ya." Baekhyun tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya kearah cermin untuk memastikan lagi. "Aku benar- benar terlihat lebih cantik. Sungguh! Wuuaaahh daebak!"
Yoora tersenyum sebagai balasannya. "Kau memang sudah cantik Baekhyun, aku hanya menambahkan sedikit riasan pada matamu dengan warna yang mencolok agar terlihat lebih cantik."
Baekhyun menganggukkan kepala namun pandangannya masih mengarah pada cermin dimana ia menikwati hasil riasan Yoora pada wajahnya dengan terus menggumamkan kata 'Aku cantik'.
"Nah! Ayo kita coba gaunnya!" Yoora membawakan gaun yang sudah disediakan Chanyeol sebelumnya. "Cepat ganti, kau hanya punya waktu tiga puluh menit sebelum janji bertemu dengan Chanyeol, ingat?"
"Ah iya!" Baekhyun berteriak teringat akan janjinya dan setelah itu mengambil gaun yang berada ditangan Yoora dengan cepat sebelum ia masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Yoora duduk pada kursi dimana sebelumnya menjadi tempat duduk bagi Baekhyun dan kini dirinya yang ikut memandangi bagaimana wajahnya terlihat disana. Bukan ingin mengikuti Baekhyun untuk memuji kecantikkan dirinya melainkan ia duduk dengan tenang disana dengan pikiran dan penglihatannya menerawang kedepan untuk kejadian – kejadian yang terjadi beberapa waktu lagi.
"Rhea.. aku tahu dirimu akan kembali bukan?"
"Bukan.. aku bukan Rhea!"
"Kau tidak bisa menyangkalnya sayang.. aku tahu jelas bagaimana wujud dan dirimu nantinya!"
"AAAAAAARRGGGHHH!"
"BAEKHYUN!"
"Chanyeol! Hades membawanya!Mereka membawa Baekhyun!"
"Yoora!"
Penglihatan Yoora kembali kearah cermin dan Kris sudah berada disana dengan kedua tangan pria itu yang mencengkram kuat bahunya.
"Apa yang kau lihat?" Kris bertanya dan tatapannya masih terkunci kearah kedua mata Yoora yang sudah berair menahan air mata tangisannya. Yoora menggelengkan kepala kearah Kris, senyumannya melebar dan kemudian mengambil bedak yang berada tak jauh dari jangkauan tangannya.
"Aku sudah cukup lama mengenalmu dan tahu bagaimana dirimu ketika melihat pandangan masa depan—
"Aku membayangkan pernikahan nanti." Yoora menjawab dengan tangannya yang melanjutkan riasan wajahnya. "Aku ini wanita dan melihat sebuah pernikahan itu membuatku sangat sensitive, kau tahu." Kedipan mata ia lakukan kearah Kris hingga pria itu berdecih dan menjauh dari belakangnya untuk duduk diatas ranjang.
"Kemana mungil-ku? Aku penasaran bagaimana penampilannya."
"Ia sedang ganti baju, dan mungil-mu itu akan terlihat cantik hingga kau membelakkan matamu dengan lebar karena tidak percaya Baekhyun yang mungil bisa terlihat begitu menawan." Ucapan Yoora hanya dijawab oleh anggukkan kepala oleh Kris, kakak dari Baekhyun itu terlihat jelas tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yoora.
"Baekhyun benar – benar terlihat cantik, Kris."
"Hm." Kris berdeham.
Yoora memutar matanya malas dan melempar tempat tissue kearah pria itu dengan cukup keras.
"Aw."
"Kau benar – benar contoh kakak yang kejam."
"Tidak aku kakak yang ba— Kris membelakkan matanya hingga terlihat seperti akan melompat keluar ketika Baekhyun melangkah pelan keluar dari kamar mandi dengan gaun putih bersinar yang ia kenakkan sangat cantik terpasang ditubuh mungilnya dan kali ini menyetujui kalimat Yoora yang ia sangkal sebelumnya.
Baekhyun mungilnya benar – benar terlihat cantik.
"Kau benar – benar terlihat sangat cantik." Yoora menghampiri Baekhyun dan memberikan sentuhan terakhir untuk tatanan rambut Baekhyun. Sebuah mahkota yang terbuat dari rajutan bunga berwarna warni melingkar diatas kepalanya dengan sangat sesuai. "Kakakmu bahkan sampai terpesona melihatmu sekarang." Yoora menunjukkan kearah Kris yang masih terdiam mematung memandangi Baekhyun.
"Aku cantik 'kan?" Baekhyun bertanya pada Kris, dan kakaknya masih terdiam tidak memberikan jawaban.
"Dia benar – benar terpesona melihatmu."
"Chanyeol pasti akan terpesona melihatku."Baekhyun berucap dan memutar badannya hingga bagian bawah gaunnya mengembang naik.
"Ya-ya dia pasti terpesona, tapi kita harus segera bertemu dengannya sebelum ia menunggu terlalu lama." Yoora mengingatkan.
"Oh! Sudah jam delapan!" Baekhyun memekik panik. Yoora merapikan beberapa tatanan rambut dan gaunnya lalu menggandeng Baekhyun untuk segera keluar kamar, meninggalkan Kris yang masih terbengong didalam sana seorang diri hingga selang beberapa menit kesadarannya kembali dan menyusul Yoora dan Baekhyun tengah berlari kecil menuju landasan parkir helicopter dimana menjadi tempat bertemunya Baekhyun dan Chanyeol.
.
.
"Apa aku masih terlihat cantik?" Baekhyun menanyakkan lagi untuk keempat kalinya selama mereka menunggu kedatangan Chanyeol yang sudah terlewat tiga puluh menit dari jam yang sudah dijanjikan.
"Sekali lagi kau menanyakkan itu, aku akan menghapus dandanan wajahmu." Kris menjawab kesal dan Yoora seperti biasa memberikan pukulan pada bahu pria itu karena mengatakan sesuatu hal yang sangat tidak membantu.
Baekhyun terdiam menunduk dan memanikan sepatu yang ia kenakkan dengan rerumputan disana, tidak menanggapi lagi jawaban yang Kris katakan, bahkan dirinya enggan untuk berucap kesal atau pun melawan kakaknya.
"Chanyeol akan tiba sebentar lagi." Yoora memberi tahu kearah Baekhyun dan gadis itu menganggukkan kepala serta memberikan senyuman yang jelas ragu untuk diberikan karena Yoora yakin Baekhyun tengah risau menunggu kedatangan Chanyeol yang sudah sangat lewat dari jam yang ia janjikkan sebelumnya.
"Katakan sekali lagi kalau Chanyeol masih mencari cincin pemberian Dewi." Kris kembali berbicara dalam hatinya dan berharap Yoora akan mendengar ucapannya itu.
"Adikku yang bodoh itu sudah mendapatkan cincinnya dan kali ini ia benar – benar berlari untuk cepat sampai ketempat—
"Maafkan aku!" Chanyeol tiba dihadapan Baekhyun dengan nafasnya yang terengah – engah dan wajahnya yang penuh dengan bulir keringat. "Haa.. haa.." Chanyeol mengatur deru nafasnya secara perlahan. "Sungguh.. maafkan aku.. maaf." Chanyeol memegang tangan Baekhyun, gadisnya itu memandangin wajahnya namun dengan raut sedih. "A-aku kehilangan sesuatu yang ingin aku berikan padamu nanti.. jadi aku mencarinya dulu.. maafkan aku." Usapan lembut ia berikan pada Baekhyun.
Baekhyun menundukkan kepala sementara tangannya membalas genggaman tangan Chanyeol dan ia ayunkan pelan. "Aku kira kau tidak akan datang, tapi Yoora-na terus mengatakan kalau kau pasti akan datang. Aku mau menangis tapi aku takut merusak riasan Yoorana."
Chanyeol tidak bisa lagi mengatakan apapun karena demi Dewa—Baekhyun-nya benar – benar terlihat menggemaskan saat ini. Ia menarik tangan Baekhyun agar bisa memeluk badan kekasihnya namun Baekhyun menahan tanganya pada dada Chanyeol, hingga membuat Chanyeol berpikir bahwa mungkin saja Baekhyun masih marah padanya.
"Kenapa?"
Baekhyun menjauhkan wajahnya dari dekat Chanyeol. "Aku takut riasan wajahnya rusak, nanti tidak cantik."
Chanyeol tertawa keras lalu menarik badannya Baekhyun untuk masuk dalam dekapannya. "Aku ingin memelukmu dan tidak peduli mengenai riasan wajah atau apapun kau tetap yang paling cantik dibandingkan siapapun termasuk para Dewi." Sebuah kecupan Chanyeol berikan diatas kepala Baekhyun dan ia tahu kalau kekasihnya itu tengah terkikik bahagia membalas pelukannya.
"Kau tahu, kalau aku yang datang terlambat. Dia akan memakiku dengan berteriak – teriak setelahnya ia menangis kencang dan mengadu pada Ayah dan Ibuku." Kris menghampiri Yoora dan merangkul badan perempuan itu untuk mendekat kearahnya.
"Tentu saja kau patut diperlakukan seperti itu." Yoora menjauhkan badannya dan begeser beberapa langkah dari tempat dimana Kris berada. "Kakak yang kejam dan tidak perhatian dengan adiknya." Yoora menambahkan lagi.
"Ck! Aku penyayang disaat Baekhyun terlihat menggemaskan dan lucu, kalau tidak ya tidak."
Yoora menggelengkan kepala tidak mau memberikan tanggapan.
-Loves of Tales-
Terlepas dari kejadian yang sedikit drama sebelumnya, Chanyeol membawa Baekhyun pergi menaiki helicopternya dengan Kris dan Yoora yang turut ikut bersama mereka berdua dan kini duduk dengan tenang pada kursi penumpang dibelakang. Baekhyun sesekali melirik kearah Chanyeol dan memperhatikan bagaimana wajah kekasihnya itu yang tengah serius memegang kemudi dan menekan tombol – tombol pada panel dihadapannya, hingga pada akhirnya ia merasa malu memperhatikan Chanyeol sedari tadi dan segera mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Tatapannya semakin bingung karena ia melihat dibawah pemandangan sebuah bangunan gereja yang begitu megah yang halaman terbuka yang mengelilingi disekitarnya. Lampu – lampu putih bersinar menerangi setiap sudut halaman dan menyoroti langsung bangunan gereja terbesar itu hingga terlihat bagaimana indahnya bangunan saat malam hari. Baekhyun memperhatikan pemandangannya itu dengan sebuah senyuman terpatri di wajahnya sementara Chanyeol membawah helicopter itu untuk berkeliling sekitar bangunan karena ia sangat yakin Baekhyun-nya kini tengah menikmati pemandangan dibawah sana.
Pendaratan begitu sempurna tepat mendarat pada halaman bangunan gereja yang sudah disambut beberapa frater dan juga pasa suster yang tengah menunggu mereka. Chanyeol menggandeng tangan Baekhyun untuk mengikuti arahan dari Frater dan suster yang kini berjalan didepan mereka sementara Yoora dan Kris bersama – sama mengikuti juga dibelakang mereka berdua.
"Chanyeol.."
"Iya."
"Kita benar – benar ada di gereja?"
"Hm hm."
"Apa ada pesta disini? Siapa yang menikah?" Baekhyun masih menyerang Chanyeol dengan berbagai pertanyaan.
"Menurutmu siapa?" Chanyeol membalikkan pertanyaan. Baekhyun memandangi sekitaran ruangan dalam Gereja dimana dipenuhi dengan bunga – bunga yang bertaburan di lantai menghiasi jejak langkah mereka, sedangkan pada bagian altar didepan terlihat satu orang pastur yang berdiri disana seakan – akan bersiap memulai sebuah acara misa.
"OH!" Baekhyun menghentikkan langkahnya dan berbalik menghadapa Kris dan Yoora. "YAAA~! Kenapa kau tidak mengatakan akan menikah dengan Yoora-na!"
Seketika Chanyeol dan Kris terbatuk dengan kencang hingga mereka sama – sama beranjak menjauh dari tempat posisi mereka berdiri sebelumnya sementara Yoora menunduk malu dan juga menahan tawanya mendengar apa yang Baekhyun katakan kepadanya dengan suara yang cukup keras didalam gereja.
"O-ooh~? Aku salah ya?" Baekhyun menunduk malu dan menutup wajahnya, ia bahkan berbalik dan membungkukkan badan kearah altar dan mengucapkan kata maaf berkali – kali dan berpindah pada salah satu tempat duduk yang tersedia dengan kepala masih menunduk malu. Sedangkan Chanyeol dan Kris berusaha mengembalikan kesadaran mereka dan berusaha untuk tidak kembali tertawa lagi.
Yoora menghampiri kedua lelaki itu dan memukul pelan agar mereka berdua berhenti, terutama Chanyeol karena Yoora menggerakkan isyarat tangannya untuk segera duduk tepat disebelah Baekhyun. Chanyeol menghampiri Baekhyun dan duduk disamping gadis itu dengan gerakkan pelan, Baekhyun masih menunduk dengan bibir yang ia gigit menahan rasa malunya.
"Maaf aku tidak memberi tahumu tentang acara ini, aku tidak tahu—aku tidak tahu kau akan berpikir ini untuk Yoora dan Kris. Maaf."
Baekhyun menggelengkan kepala menggeser badannya mendekat kearah Chanyeol yang duduk tak jauh darinya. "Aku malu." Baekhyun berbisik sangat pelan sedangkan tangannya menutupi wajahnya.
"Kenapa kau malu?" Chanyeol ikut berbisik menyahuti.
"Apa mereka memperhatikan?"
"Tidak."
"Kau yakin?"
"Sangat yakin."
Baekhyun mengangkat wajahnya perlahan – lahan, kepalanya memutar melihat situasi sekelilingnya. Yoora dan Kris sudah berada kursi depan tak jauh dari altar. "Lalu siapa yang akan menikah? Temanmu?" Baekhyun berbisik, pandangan matanya masih melihat kesana kemari mencari jawaban mengenai siapa pemilik acara sesungguhnya."Kenapa baru kita yang berada di acara ini, apakah kita terlambat? Atau datang lebih awal?" Mulutnya yang kecil dan menggemaskan itu masih bergerak berucapkan berbagai pertanyaan kepada Chanyeol sedangkan pria itu diam memperhatikan tanpa memberikan jawaban.
"Ah! Bunganya bagus." Baekhyun menunjuk salah satu bouquet bunga yang baru saja dibawa oleh seseorang wanita dan diletakkan pada meja altar.
"Baekhyun." Chanyeol menyebutkan namanya dengan lantang dan sosok yang dipanggila namanya itu menoleh menghadapkan wajahnya mendekat kearah Chanyeol.
"Iya." Nada menjawabnya bernada diiringi dengan sebuah senyuman tipis namun itu berhasil membuat Chanyeol tersenyum lebar bahkan dirinya menerjang bibir Baekhyun dengan cepat dan melumatnya dengan lembut namun bergerak cepat.
"Mmhh."
Suara lenguhan yang terdengar dari Baekhyun semakin membuat Chanyeol menarik badan Baekhyun dalam dekapan tangannya. Melanjutkan pergerakan bibir dan lidahnya menikmati rasa manis bibir tipis milik Baekhyun. Tangan Chanyeol melingkari pinggang Baekhyun dan juga leher putih mulus gadis itu sedangkan tangan Baekhyun kaku terdiam meremas bagian dress bawahnya ketikan ciuman yang dilakukan Chanyeol terasa lebih memabukkan dibandingkan sebelumnya.
Pergerakkan bibir Chanyeol mulai terasa lebih pelan tapi masih bermain menggigit bagian atas dan bawah bibir tipis itu hingga sang empunya melenguh untuk kesekian kalinya. Mereka berdua masih menikmati kegiatan ciuman itu sementara Kris yang berada jauh didepan sana menutup matanya erat –erat dan berharap pendengarannya mengalami gangguan agar tidak mendengar jelas setiap suara lenguhan, desahan atau suara tawa dari adiknya dibelakang sana.
Entah siapa yang mengakhiri untuk menyudahi kegiatan ciuman itu, Chanyeol mengusap wajah Baekhyun dan masih memandangi begitu dekat wajah cantiknya. Bisa ia rasakan bagaimana deru jantung miliknya yang berdetak tak beraturan dan semakin cepat mengingat rentetan kalimat yang seharusnya ia katakan sedari tadi kepada Baekhyun. Pergerakan mengedip dan sebuah senyuman pada wajah Baekhyun justru semakin membuatnya tak berdaya dan melupakan segalanya yang harus ia lakukan.
"Baekhyun.." Chanyeol menyebutkan namanya lagi.
"Iya." Nada yang sama bernada dengan lembut menjawabnya.
Chanyeol terdiam menahan nafasnya sementara tangannya bergetar mengusap wajah Baekhyun, tangan gadis itu bahkan ikut mengusap pipi wajahnya dan bermain dengan surai rambut Chanyeol.
"Kenapa?" Baekhyun menatap Chanyeol.
Chanyeol memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas dalam – dalam, ketika kelopak matanya terbuka dan melihat lebih dalam mata indah milik Baekhyun. Sebuah senyuman seketika terbentuk diwajahnya dengan keberanian yang sepenuhnya telah kembali pada dirinya.
"Aku ingin menikah denganmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
###
.
"My love for you will outlast this beach, this ocean, this planet. When judgement comes and Heaven finally falls, I will take you back with me."
Scarlet Blackwell, I Am Fallen
.
###
.
"You don't know what it's like being in love with you. You know, when you and I were together, every single atom in my body told me that it was the right thing, that we were a perfect fit. And that kind of love, it can change your whole life."
Stefan Salvatore, The Vampire Diaries
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
###
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Elayne, Apa dirimu bersedia menjadi seorang Ratu dan mendampingi Phoneix memimpin sebuah Kerajaan dan mencintainya hingga maut memisahkan kalian? Suara tegas milik Zeus memberikan pertanyaan kepada Elayne dihadapannya sementara wanita itu berpegangan tangan erat dengan Phoenix dan tersenyum bahagia.
"Aku bersedia."
"Phoenix—
"Aku bersedia." Phoenix menjawab tanpa mendengarkan apa yang akan Zeus tanyakkan.
"Aku belum selesai." Suara berat Zeus terdengar kesal.
Phoenix menggelengkan kepala tidak menyetujui sementar kedipan mata kecil ia berikan pada Elayne dihadapannya dan menciumi punggung tangan wanita itu.
"Kalian!" Zeus menghentakkan tirtula yang ia genggam sedari tadi hingga menimbulkan sedikit getaran dimana mereka berpijak. "Tidak ada ciuman peresmian pernikahan dan segera berpindah untuk acara penobatan Raja!"
Semua tamu undangan yang menyaksikan seluruh kejadian tertawa sementara Phoenix tetap memberikan ciuman pada bibir Elayne dan itu semakin membuat riuh suasana pernikahan mereka. Sorak sorai terdengar dari seluruh undangan yang datang namun yang terdengar oleh pendengarana mereka adalah suara Puteri mereka yang kini sudah mendekat dan menarik jubah Phoenix karena mengharapkan sebuah gendongan dan pelukan.
"Papa! Cium Luna! Cium Luna!" Anak itu memberikan kedua pipinya dan juga bibir mungilnya yang tengah mengerucut untuk mendapatkan ciuman yang sama seperti yang didapatkan Mama-nya.
"Mama!" Sang Puteri meminta pelukan dan ciuman dari sang Mama dan tentunya sang Mama—Elyane memberikan hal yang sama seperti yang dilakuakn Phoenix.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
###
"Love's always going to require a huge leap of faith. A big, scary leap over a hot pit of lava. And, you might end up heartbroken, but you might be the happiest person on the face of the earth."
– Jo Parker
.
.
.
.
.
Baekhyun terdiam kaku memandangi wajah Chanyeol yang juga memandangi wajahnya dengan penuh pengharapan sebuah jawaban akan pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.
Aku ingin menikah dengamu.
Baekhyun mendengar jelas seluruh kalimat itu, tentu saja. Hanya kali ini ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya yang terdiam kaku karena sebetulnya yang ia ingin lakukan adalah berteriak memekik senang dan bahkan mungkin ia ingin melompat – lompat saat ini juga.
"Baek?" Chanyeol memanggil namanya lagi dan badannya masih kaku untuk bergerak, bahkan kini bibirnya yang terbuka kecil juga sama terasa kaku untuk menjawab iya.
"Baekhyun, kau baik – baik saja?" kini suara Chanyeol terdengar khawatir. "Baek?" usapan tangan hangat itu bergerak pada pipi wajahnya bahkan kini Chanyeol menggerakkan badan Baekhyun berharap gadis itu bisa menyahut atau menjawab panggilannya.
"Baekhyun.." suara kini terdengar sedikit lirih. "Kau tidak harus menjawabnya sekarang—
"AH!" Suara Baekhyun terdengar dan bahkan tangannya bisa mencengkram tangan Chanyeol yang menggenggam tangannya. Chanyeol terdiam tidak menanyakkan hal apapun, pria itu hanya memperhatikan Baekhyun dan menunggu jawaban yang akan dikatakan kepadanya. "A-aku.." Baekhyun menggigit bibirnya, pandangannya saling beradu dengan Chanyeol mencari sebuah jawaban yang ia harus katakan sebagai jawaban.
Jujur saja ia ingin mengatakan iya dan mereka akan menikah saat ini juga, di gereja ini. Tapi apakah itu diijinkan? Chanyeol adalah seorang calon Raja dan juga memiliki kekuatan Phoenix sementara dirinya? Apakah ia benar – benar memiliki kekuatan Cahaya Abadi didalam dirinya? Baekhyun masih mempertanyakkan semua hal itu dalam hatinya dengan pandangannya masih tertuju pada Chanyeol—
"Baekhyun?"
Baekhyun berkedip pelan dan menatap Chanyoel dihadapannya, sementara pria itu kini memandangi dirinya dengan wajah terkejut dan juga sebuah senyuman yang lebar.
"Ke-kenapa?"
"Elayne." Suara Yoora yang terdengar.
"E-elayne?" Baekhyun beralih memandangi Yoora dan Kris yang tengah berdiri di tempat mereka semula duduk.
"Kau benar – benar Elayne, Baekhyun."
Baekhyun terdiam mendengar apa yang dikatakan Chanyeol, ia beranjak berdiri untuk mencari cermin agar bisa melihat apa yang terjadi pada dirinya hingga Chanyeol dan Yoora mengatakan Elayne sedari tadi. Dan kini matanya terbelak lebar melihat bagaimana rambut hitamnya kini telah berubah warna menjadi silver pada setiap helainya, manik matanya berwarna biru laut terang diikuti setiap warna kulit pada tubuhnya kini bersinar layaknya cahaya yang menyelimuti setiap bagian tubuhnya. Sebuah symbol terlihat mencuat pada keningnya dan tentu saja berkilau terang seperti mahkota.
Baekhyun memperhatikan setiap perubahan pada tubuhnya tanpa mengucapkan satu kata pun mengenai perubahan itu hingga Chanyeol berada dibelakangnya menatap cermin yang sama dan kini mereka saling memandangi satu sama lain sebagai Elayne dan Phoenix. Chanyeol tersenyum kearah Baekhyun, tangannya menggenggam jari – jari lentik yang kini semakin bercahaya itu untuk ia tuntun agar melangkah bersama menuju altar Gereja.
"Aku tidak perlu menanyakkan lagi, karena aku ingin kau menikah denganku, Baekhyun." Baekhyun menganggukkan kepala dan memberikan senyuman manis kearah Chanyeol dan kini mereka siap untuk berikrar bersama dihadapan Pastor dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Yang Mulia, Puteri Mahkota Lynkestis Baekhyun. Bersediakah kau menerima Yang Mulia Putera Mahkota Glorfindel Chanyeol sebagai pasanganmu? Dengan penuh cinta kasih dan berjanji akan saling melindungi satu sama lain hingga maut memisahkan kalian?"
Baekhyun menganggukkan kepala dan tersenyum kearah Chanyeol. "Aku bersedia."
"Yang Mulia Putera Mahkota Glorfindel—
"Aku bersedia." Chanyeol menjawab langsung dan mendekatkan diri pada Baekhyun agar bisa mencium kembali bibir manis milik kekasihnya—atau kini sudah diresmikan menjadi istrinya.
Tidak ada tepukan tangan dan sorak kegembiraan ketika mereka berdua tengah berbagi ciuman yang bergairah dan panas dari altar sana. Hanya sebuah senyuman dan juga tatapan bahagia yang diberikan oleh Yoora dan Kris sebagai seorang Kakak yang ikut merasakan kebahagiaan melihat kedua adiknya menikah disana, belum lagi mengingat bahwa mereka adalah dua kekuatan yang selama ini dicari untuk melawan dan mengalahkan Kaum Hades agar perang yang terjadi sejak dahulu akan terselesaikan.
"Jadi.." Kris menoleh melihat Yoora yang tersenyum disebelahnya.
"Baekhyun pemilik kekuatan Cahaya Abadi sepenuhnya." Yoora langsung memberikan jawaban sebelum Kris menjelaskan pertanyaan yang ada didalam kepalanya.
"O-okey.."
"Dan mereka menikah." Yoora menambahkan.
"Ya, aku tahu itu.."
"Dan." Yoora menoleh kearah Kris. "Mungkin seseorang akan kembali." Yoora menatap Kris yang kebingungan dan beralih menatap sosok kecil yang duduk manis dengan kaki yang bergerak – gerak. Luna, gadis itu sedari tadi berada disana dan ikut menyaksikan bagaimana kedua orangtuanya kini telah kembali dan itu berarti kelahirannya akan terjadi di beberapa waktu yang akan datang.
"Seseorang?" Kris mengernyitkan alisnya.
"Hm, seseorang."
"Siapa?"
"Hanya aku, Dewa dan Pencipta yang tahu." Yoora menjawab singkat dan melangkah pergi menuju pintu keluar gereja meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol yang masih berciuman disana dan juga Kris yang kini tengah bingung akan melakukan apa—dan pada akhirnya ia memutuskan menyusul Yoora keluar dari gereja.
tbc.
