Anu... Author minta maaf ya kalau misalnya aku update lama banget. Masalah nya gini lho... Kalian mau cerita panjang atau pendeknya nih?
Yang pendek aja ya? Biar cukup wordnya *(dia yang bertanya, dia yang menjawab)
Jadi begini... Aku ni bukan malas ngetik. Masalahnya kemarin laptop author error (lagi).
Dan masalahnya lagi yang rusak itu hardware nya. Jadi otomatis harus diganti (Lagi) (maklum lah laptop tua) dan akibatnya datanya hilang, padahal kemarin sudah ku ketik sampai seperempat. (Aku juga kesal, dataku semuanya hilang)
Okelah lupakan curhatan author diatas TT-TT, langsung aja.
Chapter 12
Kenyataan dan Kebohongan (Part 2)
.
Malam harinya, setelah apa yang terjadi pada Blaze sebelumnya hingga menyebabkan satu lingkungan sekolah terbakar, para pasukan SHAMAN dari sektor Tokyo pun berkumpul disana untuk mengurus sisa-sisanya. Memadamkan kebakaran, merapikan tempat itu seperti semula dan menghapus semua jejak yang tertinggal. Sementara anak itu sudah lebih dulu diamankan oleh Kakaknya.
"Maaf kami terlambat!" dari kejauhan tampak seorang bocah berambut hitam kelabu sedang terburu-buru menuju ke sana. Tak jauh di belakangnya seorang gadis ikut berlari mengekornya. Gadis itu memakai jaket hijau bertudung, rambutnya panjang berwarna kecoklatan dan dikepang dengan rapi.
Kedatangan keduanya sontak membuat seisi regu itu menoleh pada mereka.
"Senpai! Shielda-san! Disini!" sambut seorang gadis anggota SHAMAN berambut navy, Lucky dengan begitu ceria.
Dengan cepat keduanya pun langsung menghampiri si gadis serta pemuda berambut pirang yang merupakan rekannya satu timnya tersebut.
"Maaf... aku tidak membaca pesan lebih awal" ujar Shielda membungkuk meminta maaf pada senior-seniornya tersebut.
Lucky hanya tersenyum lembut padanya. "Tidak pa-pa, Tidak pa-pa~ Yang penting kau sudah disini sekarang" hiburnya.
"Bagaimana keadaannya?" kali ini Totoitoy angkat bicara untuk menanyakan kondisi sekolah yang terbakar hebat tersebut. Karena saking berbahaya nya bahkan beberapa meter dari tempat ini sampai dipasangi garis polisi.
"Tidak bagus. Kebakarannya sangat besar. Dan karena angin kencang, api mulai merambat sampai ke fasilitas sekolah yang lain." Jawab Zero.
Jawaban tersebut sontak saja membuat dua orang yang baru datang itu melongo lebar saking kaget dan paniknya.
Totoitoy menoleh pada gadis di sampingnya dengan tatapan penuh kepercayaan. "Shielda-san, kuserahkan padamu" ucapnya.
Gadis berambut kepang satu itu mengangguk mantap. Kemudian ia merentangkan satu tangannya tinggi ke udara dan mulai merapalkan 'mantra'(?). Kedua manik gioknya secara pelan berubah menjadi kemerahan seperti warna darah.
"Dengan penuh hormat atas perjanjian yang kita buat dengan ini aku memanggilmu...
Datanglah! Dewa penjaga gerbang utara! Sang Kura-kura Hitam!
GENBU!"
Ribuan gelembung air tampak bermunculan dan melayang-layang di udara, terbang ke atas menuju satu titik dan berkumpul menjadi satu kesatuan. Perlahan tapi pasti benda-benda itu mulai membentuk suatu wujud hewan.
Setelahnya air-air itu memadat dan dengan sempurna memunculkan sosok seekor kura-kura raksasa dengan ekor berupa ular hitam. Makhluk dengan dua spesies dalam satu tubuh itu melirik pada sang gadis yang sudah memanggil mereka kesana.
"Halo Shielda-chan~ Ada perlu apa hingga kau memanggil kami?" sapa Sang kepala berbentuk kura-kura itu lembut. Dari suaranya sepertinya dia perempuan.
"Katakan saja kami akan langsung melaksanakannya" timpal ekornya yang berbentuk ular tersebut dengan nada suara cempreng kekanak-kanakan.
Shielda yang belum lama kenal dengan keduanya karena baru mengetahui tentang kekuatannya tentu dibuat canggung dan gugup. Bahkan ini adalah pertama kalinya ia mendapat misi bersama dengan seniornya yang lain. Memang anggota yang bukan atau setengah manusia sudah ada sejak dulu, namun kasusnya ini berbeda, Shielda baru saja menyadarinya beberapa bulan lalu jika dia hampir bukan manusia.
"Anu... Genbu! Bisakah kalian menolong kami memadamkan apinya?" tanyanya.
"Baik~ Dengan senang hati~" jawab sang kepala dan ekor secara bersamaan dengan begitu ramah padanya.
Setelahnya makhluk itu pun terbang sangat tinggi, lebih tinggi daripada gedung utama berlantai empat di lingkungan sekolah tersebut. Keduanya mulai berkonsentrasi mengumpulkan air dari udara di sekitarnya.
Gelembung air yang berhasil dikumpulkan pun dibentuk sedemikian rupa hingga terlihat seperti lapisan dinding tebal dan kemudian dijatuhkan dari atas layaknya hujan yang sangat deras. Saking derasnya hingga mampu memadamkan kebarakan besar tersebut hanya dalam hitungan detik.
Setelah memastikan tak ada lagi bagian yang dilalap oleh sang jago merah, perlahan makhluk itu turun menghampiri tuannya, memutari gadis itu dan mengusap-usap kan pipi mereka padanya. Shielda membalas balik dengan mengelus kepala mereka. Lalu tubuh mereka pun memudar dan pecah menjadi butiran air dan lenyap di udara.
Shielda pun menghela nafas lega setelah berhasil menjalankan misi pertamannya dengan sukses tanpa kekacauan sedikitpun.
"Kau melakukannya dengan sangat baik. Selamat ya~" puji Lucky padanya. Dan sukses membuat wajah gadis berambut coklat itu memerah karena malu.
"Syukurlah kita bisa menemukan ninja vampir lain yang masih tersisa" ucap Zero.
"Ya walaupun hanya setengah." Tambah Totoitoy berkomentar seraya menyilangkan kedua lengannya ke depan dada. "Ngomong-ngomong Shielda-san. Mengenai Kakakmu, karena kalian anak kembar jadi apa mungkin Sai itu juga..." ucapannya terhenti di tengah jalan, namun gadis itu sudah tahu apa pasti kelanjutannya.
Dia menunduk lesu sambil mendengus. "Tidak, Sai tidak sama sepertiku. Meskipun kami dilahirkan dari orang tua yang sama, dia hanya manusia biasa. Sai bahkan tidak tahu apapun tentang tentang dunia gaib. Meskipun hampir sering mengalaminya" jelasnya panjang. Setelahnya ia menempelkan satu tangannya ke pipi dan mulai bicara lagi. "Tapi jujur saja aku merasa sedikit bersalah padanya, karena sering memanipulasi ingatannya dengan kemampuan vampirku dia jadi agak... bloon begitu"
"Jadi itu ulahmu?" komentar bocah berambut abu-abu di hadapannya.
Dan sukses membuat gadis itu kalang-kabut mencari alasan yang meyakinkan. "Bu–Bukan begitu Senpai! Aku tidak bermaksud buruk padanya! Aku hanya tidak ingin dia berurusan dengan dunia kita yang berbahaya" ucapnya panik.
"Aku mengerti kok..." namun kepanikannya segera mereda ketika anak di depannya mengatakan hal tersebut. Sontak Shielda menatap wajahnya dengan cengo, karena perubahan ekspesinya yang tadinya begitu dingin menjadi agak sendu. "Jika aku jadi kau, aku pasti akan melakukan hal yang sama"
"Senpai..." gumam gadis itu khawatir.
"Walah... kacau banget disini"
Hingga komentar dari mulut seorang pria yang tiba-tiba saja muncul membuat perhatian mereka teralihkan. Secara serempak keempatnya menoleh pada orang itu. Dan tampaklah dihadapannya mereka seorang pemuda berjaket jingga tengah menatap ke arah bangunan yang terbakar sambil berkacak satu pinggang. Sepasang mata karamelnya nampak fokus memperhatikan kerusakan yang ada, rambut pendek kecoklatannya berayun lembut ditiup oleh angin malam itu.
Kalian mungkin mengenali sosoknya sebagai Kakak tingkat yang menolong Yaya mengumpulkan lembaran catatannya tempo hari.
"K–Komandan!" seru si pria berambut pirang begitu kaget saat melihat pimpinan sektor tempatnya bekerja tiba-tiba muncul tanpa aura keberadaannya sama sekali.
Puas memperhatikan bangunan sekolah, si pemuda berambut coklat yang dipanggil 'komandan' itu pun menoleh pada pemuda itu dan yang lain dengan senyuman dan tatapan lembut seribu makna. "Kerja bagus semuanya" pujinya pada semua yang ada disana saat itu.
Sementara itu Lucky tengah menatap bingung sambil memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki. "Anu... Komandan, tumben pakai baju biasa" celetuknya.
Boboiboy sontak menoleh padanya. "Ah... Aku ketiduran dan baru saja membaca pesannya, jadi tidak sempat ganti baju. Lagipula seragamku sedang dicuci" katanya enteng seraya mengelus belakang kepalanya yang tidak gatal, diikuti dengan cengiran gaje setelahnya.
"Gak bakalan ditegur sama atasan begitu?" sahut Lucky lagi.
"Nggak pa-pa, nggak pa-pa." Jawab Boboiboy sambil mengibaskan satu tangannya seperti orang mengusir nyamuk. "Ngomong-ngomong, sebaiknya kita segera membetulkan kembali tempat ini. Dan juga... Aku minta keterangan untuk laporan tentang ini nanti, ya?" sambungnya dibarengi senyuman manis sejuta watt.
~M.A~
Keesokan paginya, di apartemen Shinwa, tepatnya kamar nomor tiga milik Ryuuketsu bersaudara.
Pagi yang biasa, keduanya bangun dan menyantap sarapan bersama-sama seperti hari-hari biasanya. Seolah tidak terjadi apapun kemarin.
Terutama Blaze, hari ini dia bangun dengan begitu tenang dan dengan santainya menyuap nasi ke dalam mulutnya. Sementara di hadapannya, Kakaknya yang sudah lebih duluan menghabiskan sarapannya memperhatikan ia dengan tatapan heran.
Halilintar tampak asik menyenderkan kepalanya pada kepalan tangan dan mengernyit bingung padanya. "Dia benar-benar tidak ingat apapun tentang yang kemarin?" gumamnya pelan, hingga lebih terdengar seperti sedang berbisik.
Dan samar-samar terdengar oleh Blaze "Hm? Kau mengatakan sesuatu, Aniki?" tanyanya.
"Nggak." Jawab Halilintar singkat. Setelahnya pemuda dengan manik delima itu pun mengembalikan posisi duduknya, tegak seperti sedia kala. "Ngomong-ngomong Blaze, kau ingat kenapa orang tua kita bisa meninggal?" dan mengganti topik pembicaraan mereka. Kelihatannya ia hanya ingin mengetes sejauh mana ingatan adiknya.
Mendengar pertanyaan itu, Blaze pun sontak mempercepat sesi mengunyah di mulutnya agar bisa menjawab. "Ayah dan Ibu? Mereka kecelakaan saat menjalankan misi keluar negeri kan? Bukannya kau yang bilang sendiri?" katanya.
"Benar juga... ya." Gumam si Kakak menyipit dengan tatapan agak sendu.
"Kenapa tiba-tiba nanya itu?"
"Bukan apa-apa" sahut Halilintar begitu tenang. Tak lama pemuda ini pun membuang nafas dan bicara lagi. "Bekalmu sudah kumasukkan ke tas, kantungnya di tempat biasa. Kalau tidak cukup hubungi aku. Darah biar aku saja yang carikan, jadi kau jangan pakai taring–"
"Ah~ Aku tau, Aku tau! Emang aku anak kecil apa, harus diingatkan terus!" penjelasan Halilintar pun terpaksa terputus ketika Blaze yang terlihat memasang wajah jengkel menyelanya.
Halilintar hanya membuang nafas. Dia tahu adiknya ini memang tipikal pemberontak, tidak suka diperintah, sok tahu, seenaknya dan manja. Namun dengan sabar dia tetap meladeninya. "Blaze... Aku bilang begini karena khawatir. Kau itu mudah sekali terpengaruh insting vampirmu"
'Brakk'
Tak lama tabungan kesabaran Blaze pun habis, ia menggebrak meja dan memicingkan mata tajam pada Kakaknya. "Emang selama ini aku pernah menggigit makhluk lain!? Kau pernah lihat!? Atau ada pernah yang lihat!? Kau tahu betapa tersiksanya aku saat berada di tengah banyak orang, tapi aku tetap menahan diri! Sudahlah, aku berangkat!" puas menyembur Kakaknya dengan semua kedongkolannya ia sontak saja berdiri, meraih tas sekolahnya dan langsung lari ke pintu depan dengan sangat kesal. Bahkan sampai membanting pembatas ruangan tak bersalah itu dengan sangat keras.
Sekali lagi pemuda barmanik ruby itu membuang nafas berat. Hari ini rasanya dia malas sekali berdebat dengan adiknya. Memang biasanya mereka selalu bertengkar, tapi kali ini dia takut jika terbawa emosi bisa saja dia kelepasan membicarakan kejadian semalam maupun sepuluh tahun yang lalu.
Tapi disisi lain, Halilintar bersyukur adiknya itu bersikap normal. Berarti kejadian semalam hanya merusak dan tidak menghancurkan segelnya.
~M.A~
Jam istirahat makan siang di SMA Utara.
Seorang bocah berambut abu-abu sedang berjalan cepat menuju kelas 1-2 yang terletak tak jauh dari kelasnya. Begitu ia masuk sontak saja para siswa yang ada di kelas itu mengalihkan perhatian padanya.
Anak itu nampak mencari seseorang disana. Kedua bola matanya sibuk menyisir seisi ruangan dan menemukan orang itu tengah duduk di bangkunya yang terletak di deret kedua dekat jendela sambil menikmati bekal makan siangnya.
Sontak bocah itu pun menghampirinya dengan tatapan menuntut. Sementara anak yang dihampiri itu hanya menatapnya balik dengan wajah datar. "Ada apa?" tanya bocah bermanik aquamarine tersebut.
"Kau melihat Ryuuketsu?" tanya Totoitoy balik.
"Kenapa kau tanya aku...? Kalian kan sekelas, harusnya kau tahu..." komentar Ice. Yang kemudian mengacuhkannya sambil asik meneruskan makan bekal.
Mendengar sahutan Ice bocah tersebut pun sontak mengernyit dan bersedekap. "Dia belum kembali ke kelas dan aku tidak bisa menemukannya dimanapun. Ada yang harus kubahas dengan kalian berdua, ini tentang kejadian kemarin" ketusnya.
Ice pun sukses dibuat menghela nafas begah. Dengan agak malas ia terpaksa menanggapi bocah bermanik karamel di sampingnya. "Biasanya jam istirahat dia akan pergi ke kantin untuk jajan atau makan bekal di atap. Lalu setelah itu dia akan ke..."
.
.
Jadi setelah menunggu Ice menghabiskan makan siangnya, mereka pun langsung bergerak menuju tempat yang dimaksud, dimana Blaze selalu pergi kesana setiap selesai makan. Sebuah ruangan yang terletak paling ujung dari koridor.
Toilet cowok.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan bocah itu di dalam toilet laki-laki yang selalu terkesan sepi. Berbeda dengan toilet perempuan yang selalu saja penuh. Begitu sampai keduanya pun segera mendatangi bilik WC yang berada paling ujung dan setelahnya pintu penyekat tak bersalah itu pun dibanting dengan keras oleh anak berambut kelabu itu.
Hingga sukses membuat orang yang tengah duduk santai di dalamnya kaget setengah mati. Hampir saja dia menyemburkan cairan berwarna merah yang sedang disedotnya dari kantung darah berlabel jus tomat.
Totoitoy menggeleng seraya sambil bersedekap saat melihat tingkah bocah bermanik fire opal di depannya. "Jadi benar kau selalu minum darah disini. Dasar jorok." Kritiknya agak ketus.
"Iya... jorok" bahkan Ice disebelahnya pun sampai ikut menimpali dengan wajah tembok khasnya.
Blaze hanya mendelik ke arah lain dengan reaksi nervous bercampur kesal, dia seperti ingin membalas dan sedang memikirkan kata-kata yang tepat. "Ha–Habisnya, aku kan nggak mungkin minum darah di depan orang banyak. Apa yang akan mereka pikirkan nanti" belanya dongkol.
"Apa? Paling mereka pikir kau hanya sedang minum jus tomat. Ngomong-ngomong itu darah ayam? Nggak heran kau agak letoy kalau cuma minum darah burung atau ayam, nggak ada nutrisinya" sahut Totoitoy yang dteruskan dengan komentar sarkartis.
"BERISIK!" Hingga membuat Blaze di depannya kesal, sampai-sampai melemparkan kantung darah yang sudah kosong tersebut dan sukses mendarat di atas kepalanya.
Totoitoy pun sontak meraup sampah itu dari kepalanya, jujur dia ingin sekali membentak si pelaku, namun tak jadi ketika dilihatnya anak itu dengan ekspresi murung sudah melipat lutut ke atas kloset yang sedang didudukinya untuk melingkarkan tangan sambil menenggelamkan separuh wajahnya sela-sela kakinya itu.
"Kau pikir dapat darah manusia itu gampang? Darah manusia itu mahal tahu. Terlebih lagi rumah sakit itu penuh bau darah, vampir gak akan bisa masuk, hanya berdiri di depan pintunya saja sudah membuat pusing." gerutu bocah bermata merah tersebut amat kesal. Dari pagi mood nya sudah tidak baik sekarang jadi lebih buruk lagi karena ulah adiknya Yaya.
"Aku mengerti. Akan kubicarakan dengan para pimpinan untuk membantu kalian" kata Totoitoy.
"Eh?" sontak Blaze pun mengerjap padanya dengan heran.
"Tapi ada syaratnya." sambung bocah itu lagi. "Kalian dekat dengan Hitougami Shiella kan? Aku dikirim kesini untuk mengawasinya dan sekarang dia menghilang semenjak kejadian kemarin? Bantu aku menyelidiki keberadaannya" jelasnya.
"Aku nggak mau" jawab Blaze cepat. Terlihat ia mulai pundung dan kembali mengangkupkan wajahnya, bahkan semakin menunduk hingga tinggal separuh jidatnya saja yang masih tampak. Matanya bergetar ketakutan saat mengingat kejadian yang begitu mengerikan kemarin. Pokoknya dia tidak ingin lagi berurusan dengan Shiva atau apapun itu namanya.
Totoitoy pun dibuat menghela nafas untuk kesekian kalinya. "Aku bayar deh. Kau sukanya apa? A? B? O? AB? Ntar ku kasih sepuluh kantung" rayunya. Seolah sedang menawari permen pada anak kecil.
"Deal" Tanpa banyak cincong Blaze pun sepakat dengan penawaran tersebut, bahkan secepat kilat ia sudah menjabat tangan kanan bocah tesebut.
Ice yang memperhatikan kelakukannya hanya bisa bergumam secara datar, melontarkan pendapatnya. "Harga dirimu bisa dibayar pakai kantong darah... Aku punya teman potongannya begini banget, malu-maluin"
~M.A~
Jadi setelah transaksi yang berlangsung cukup lama, ketiganya pun mulai berkeliling di area sekolah. Mencari petunjuk apapun yang bisa digunakan untuk melacak keberadaan si gadis berambut biru yang tempo hari bertindak aneh–tidak, berubah total hingga menyerang Blaze juga Ice, bahkan punya niatan untuk menghancurkan sekolah.
Sebelum jam istirahat berakhir.
"Jadi, kita mau melakukan apa dulu?" tanya Blaze kepada bocah bersurai kelabu yang terlihat memimpin di depan tersebut.
"Pertama-tama kita coba bertanya pada orang yang benar-benar akrab dengannya di sekolah" jawab Totoitoy agak datar.
Dua orang di belakang samping kanan serta kirinya sontak saling bertatapan satu sama lain dengan agak bingung. Memang ada orang lain yang jauh lebih akrab dengan Shiella selain mereka berdua? Setahu mereka anak cewek yang satu itu sangat pendiam juga tertutup pada orang lain, bisa dibilang dia sukar bergaul.
Ya... tapi kita lihat saja siapa orang yang dimaksud itu.
.
Tak lama mereka pun sampai di atap sekolah. Berbeda dengan saat kejadian semalam, sekarang matahari bersinar dengan terang hingga terlihat jelas seperti apa area khusus di gedung sekolah ini sebenarnya. Namun entah kenapa bulu kuduk Blaze merinding ketika menginjakkan kakinya di tempat ini.
"Nah, itu dia" kata Totoitoy sambil memandang ke arah dinding pembatas area tersebut.
Rupanya disana ada orang lain selain mereka, seorang perempuan dengan rambut keriting berwarna pirang kejinggaan tengah asik menyenderkan tubuhnya di dinding pembatas yang menghadap ke halaman sekolah sambil menikmati tiupan angin lembut nan sejuk.
Baik si bocah vampir maupun Nekomata itu mengenali sosok itu sebagai teman sekelas Ice yang paling cerewet dan emosian.
"Alice?" gumam Blaze seraya mengernyit heran.
Gadis SMA itu berbalik pada saat mereka bertiga menghampirinya, dan nampaklah wajahnya yang cukup manis dan kalem lengkap dengan dua bola mata coklat kejinggan, pipi tirus dan hidung mancung.
"Yo Shinonozaki. Sendirian aja" Sapa bocah laki-laki bermanik merah seperti warna senja itu padanya.
"Ngapain kalian kesini?" balas gadis itu ketus seraya menyilangkan kedua lengannya ke depan dada.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu. Kau itu akrab dengan Hitougami Shiella bukan?" ujar Totoitoy padanya.
"Terus kenapa?" ketus Alice padanya.
"Kau tahu dimana dia sekarang?" lanjut Bocah berambut kelabu itu lagi.
"Hah! Buat apa aku memberitahumu!? Kau ngobrol dengannya aja juga nggak pernah, sok-sok an nanya dia dimana lagi" protes si gadis dengan begitu kasarnya.
Dan membuat Totoitoy membuang nafas berat untuk kesekian kalinya, entah sudah berapa kali ia mendesah berat dalam satu hari ini. "Kalau gitu boleh kupermudah hal ini? Shinonozaki Alice atau boleh kupanggil nona rubah berekor dua, bisakah kau membantuku?" hingga ia pun terpaksa mengancam gadis di depannya dengan membocorkan kedok aslinya yang ternyata juga bukan manusia.
Sontak dua bocah di belakang mereka pun tercengang saat mengetahuinya. "Eh? Shinonozaki, kau itu siluman rubah?" Selidik Blaze cengo.
"Terlebih lagi ekornya sudah dua. Kalau gitu kira-kira umurnya seratusan sudah nyampai" tambah Ice berkomentar.
"Woah... Tua ya?" komentar Blaze.
Alice pun sukses dibuat tertohok oleh ucapan nyelekit dari dua bocah yang kesannya asal ngomong dan nggak pakai otak itu. Kalau ini anime mungkin sekarang sudah ada panah bertuliskan kata 'Tua' yang menancap menembus dadanya dan membuatnya muntah darah. Tau kan? Mana ada perempuan suka dibilang tua.
"Te–Terus kenapa!? Kalau di keluargaku seratus tahun itu masih muda tahu! Lagipula aku ini anak bungsu!" kelitnya begitu kesal dan tak mau kalah lengkap dengan sebuah pertigaan besar di jidatnya.
"Anak bungsunya aja tua begini, gimana anak sulungnya?" ejek Ice datar dan masih dengan pose wajah temboknya.
"KENAPA KAU JADI BAWA-BAWA KELUARGAKU SEKARANG!?"
Alice yang memang tipe emosian sontak membentak. Namun dengan cepat segera ditengahi oleh Totoitoy dengan sebuah pertanyaan. "Shinonozaki Alice-san. Biar kutanya sekali lagi, kau tahu dimana Hitougami Shiella berada?" yang terdengar seperti ancaman.
Menyerah, Alice hanya pasrah dan mendesah dengan lesu. Kalau melawan lagi bisa-bisa dia bisa kembali menjadi bahan olokan oleh kedua teman konyolnya tersebut. "Kalau soal itu, kenapa kau tidak tanya pada dua orang disampingmu? Soalnya mereka juga ada disana saat mengantar kepergian Shey keluar negeri" jawabnya.
"Eh?" Mendengar penjelasan Alice sontak kedua orang yang sudah bersahabat sejak kecil tersebut terhenyak kebingungan. Tentu saja mereka bingung, kapan itu terjadi?
"Apa maksudmu?" tanya Blaze.
"Lho, masa kalian lupa? Shey keluar dari sekolah sudah seminggu yang lalu. Orang tuanya ada urusan penting di Spanyol makanya mereka pindah. Bukannya kalian juga ikut ke bandara waktu itu?" jelas Alice yang tak kalah keheranannya.
~M.A~
Begitulah. Setelah sekolah berakhir, maka berakhir juga lah penyelidikan tahap pertama mereka. Dan dari sini hasil yang mereka dapat.
Nihil.
Mereka sudah coba bertanya-tanya pada teman sekelas atau orang yang akrab dengan Shiella. Semuanya jawaban mereka sama dengan Alice, gadis berambut biru muda sebahu itu pindah ke luar negeri sejak seminggu yang lalu.
Tentu saja ini membingungkan mengingat dia masih bersekolah dengan normal juga bicara dengan Ice dan Blaze kemarin.
Yang ada sekarang ketiganya justru kelelahan dan berakhir dengan duduk-duduk malas sambil menelungkupkan wajah di atas meja lesehan dalam kamar apartemen urutan ketiga milik si bocah vampir. Kemana Halilintar? Dia kuliah sore sampai malam ditambah kerja sambilan sampai siang, jadi seharian Kakaknya itu tidak ada di rumah.
"Pada akhirnya kita nggak dapat apa-apa, ya?" gerutu Ice malas.
"Daripada dapat petunjuk kita justru mendapatkan kebingungan" tambah Blaze.
"Nggak juga, sepertinya aku paham kondisinya." Sahut Totoitoy sambil mencoba bangkit dan duduk tegak. Ucapannya sontak membuat dua orang di depannya menoleh padanya dengan malas dan kondisi kepala masih direbahkan di meja. "Kurasa dia memanipulasi ingatan orang disekitarnya dan membuat mereka berpikir jika dia pindah sejak minggu lalu, tidak mengherankan jika tidak ada yang mencarinya. Kebanyakan dewa punya kemampuan seperti itu, itu hal mudah bagi mereka. Bahkan kemampuannya ini terlalu kuat sampai bisa memanipulasi pikiran seekor siluman kelas tinggi seperti rubah" Lanjutnya mengedepankan pendapatnya.
"Tapi kenapa kami aman-aman saja? Aku bahkan masih ingat jelas kemarin Shey memberikanku sekantong kue?" protes Blaze.
"Mungkin karena terlalu mendadak makanya dia tidak sempat melakukannya pada kalian. Ngomong-ngomong, kue?" kata bocah berambut kelabu itu.
"Ouh... Kue buatan rumah, enak banget. Masih ada sisanya kusimpan, mau?" Tanpa diminta, anak itu langsung saja bangkit berdiri dan melangkahkan kedua kakinya menuju dapur dengan sedikit ogah-ogahan karena rasa malas dan penat yang dirasakannya.
"Kau ini memang keterlaluan ya? Kalau ada cewek yang ngasih barang begituan harusnya langsung kau habiskan, dan jangan bagi-bagi sama orang lain"
Namun langkahnya segera terhenti karena ucapan dari Totoitoy. Sontak saja ia berbalik menatap pada adik laki-lakinya Yaya dengan sebuah kernyitan di dahi tanda bingung "Habisnya aku kenyang. Lagian kenapa?" tanyanya.
"Karena itu dibuat dengan ketulusan hati dan bukti tanda cinta dari seseorang" yang segera dijawab oleh orang lain yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
"Nee-san?!"
Gadis manis dengan kerudung pink itu tampak berdiri di sana dengan sebuah senyuman manis terpampang di bibir tipisnya. Sementara satu tangannya sibuk memegangi sebuah rantang makanan bertingkat tiga.
Sampai sesaat kemudian ekspresinya berubah terheran-heran ketika melihat adik laki-laki satu-satunya ada disini, bahkan terlihat asik duduk-duduk santai di dekat Ice. "Lho? Toto ada disini? Kok nggak bilang-bilang?" ucapnya agak kaget.
Bocah itu terhenyak dengan kehadiran Kakak perempuannya tersebut secara tiba-tiba. Kedua maniknya mulai berotasi kesana-kesini dengan gusar, mencari-cari jawaban tepat untuk berkelit. "A–Akak sendiri, kenapa ada disini?" pada akhirnya dia kehabisan ide dan hanya bisa mengalihkan pembicaraan.
"Aku? Oh iya, Ice-kun ini jatah makan malammu. Kupikir kenapa kau tidak datang ke kafe, ternyata kau sedang asik ngumpul dengan teman-teman ya?" kata gadis itu seraya menyodorkan rantang itu ke udara yang ditujukan untuk bocah bermanik permata aquamarine tersebut. Sepertinya ia bahkan sudah tidak bertanya lagi kenapa adik kandungnya itu datang tidak bilang-bilang. Entah karena lupa, mengabaikannya atau sudah menemukan jawabannya sendiri.
Yang diajak bicara hanya menggangguk pelan. "Iya. Terima kasih ya Nee-san, maaf merepotkan" sahut anak itu.
Yaya hanya tersenyum, sambil melangkah pelan ia pun menghampiri meja makan tersebut lalu mengambil posisi duduk di area kosong yang masih tersisa di meja kayu tradisional khas Jepang tersebut. Tak lupa langsung menaruh rantang itu diatasnya untuk disodorkan pada Ice.
"Kau dengar kan kata Kakakku tadi? Begitu saja nggak paham. Jangan bilang kau nggak pernah pacaran?" tak berselang lama Totoitoy menoleh lagi pada Blaze dan kembali mengungkit pembicaraan mereka yang sempat terpotong dengan kehadiran Kakaknya, Yaya.
"Jangankan pacar, dia gebetan aja nggak punya" sahut Ice, mendengus malas sambil menyenderkan kepalanya pada kepalan tangan.
"Enak aja! Sekarang aku udah punya cewek yang kutaksir tahu!" seru Blaze membentak karena tidak terima.
"Siapa?" Ice menaikkan satu alisnya dengan pandangan penuh selidik padanya.
Sontak Blaze panik, keringat dingin mulai mengucur di dahinya, ucapannya barusan itu semata-mata hanya karena dia keceplosan. "Wah~ Aku jadi penasaran. Siapa? Siapa!?" dan bertambah parah saat Yaya juga ikut menanyakannya, bahkan dengan sangat bersemangat.
Sementara Totoitoy hanya diam, dia mendengus dengan sebuah senyuman yang cukup elegan. Sepertinya ia menebak siapa orang yang dimaksud oleh bocah itu, tidak terlalu sulit membaca pikirannya yang cukup sederhana. "Sudahlah. Coba sini, aku lihat kuenya" kali ini saja, ia akan membantunya dengan mengalihkan pembicaraan ke topik awal.
"Oh iya" Membuat Blaze teringat, segera ia menuju dapur untuk mengambil kue kering pemberian Shiella yang sejak kemarin disimpannya dalam lemari pendingin. Setelah itu kembali lagi ke depan dan langsung duduk ke tempatnya semula sambil meletakan bungkusan yang sudah cukup acak-acakan itu. Bahkan pita cantik yang jadi pengikatnya sudah hilang hingga terpaksa bagian atasnya dipelintir agar bisa diikat.
Keterlaluan.
"Woah cantiknya! Apa itu temanmu yang membuatnya Blaze?" tanpa memperdulikan kondisi bungkusannya, Yaya terlihat terpesona dengan bentuk kue-kue kering yang begitu bagus tersebut.
Blaze hanya menjawab dengan anggukan singkat.
"Dia masih ada disini?" tanya gadis berhijab itu lagi.
Kali ini Blaze menggeleng pelan dengan ekspresi yang begitu sendu. "Anu... Nee-san" hingga akhirnya ia mulai menjelaskan keadaan yang sebenarnya, mulai apa yang terjadi pada teman perempuannya yang sudah membuatkan kue itu untuknnya sampai hari ini dimana mereka coba mencari keberadaannya dan justru menemukan sebuah kejanggalan.
Yaya memperhatikannya dan mendengarkan penjelasan itu dengan seksama, sesekali ia akan memanggutkan kepalanya tanda paham juga memutar mata untuk memikirkan pemecahannya.
"Begitu, kurasa aku sudah mengerti sebagian besar jalan ceritanya. Jadi Shiella ini, apa dia anak yang baik?" tanyanya sembari tersenyum manis pada mereka yang ada disana.
Sontak ketiganya tersentak kemudian saling bertatapan satu sama lain dengan wajah cengo.
"Kurasa... dia anak yang baik." Jawab Ice.
"Dia itu sangat pemalu jadi tidak terlalu akrab dengan siapapun." tambah Blaze.
"Kalau begitu mungkin dia terpaksa melakukannya karena diperintah seseorang. Bisa saja orang tuanya kan?" jelas Yaya mengedepankan pendapatnya dengan begitu tenang dan lembut bahkan masih bisa tersenyum.
Tototoitoy membelalak, benar juga tidak terpikirkan sejak tadi. Kalau tidak salah sebelumnya Alice bilang kalau orang tua Shiella pindah karena urusan di luar negeri. Sejenak ia menoleh pada dua rekan barunya tersebut. "Ryuuketsu, Nekomiya. Kalian pernah ketemu dengan orang tuanya Shiella?" selidiknya.
Blaze menatapnya balik. "Pernah. Kami sering main ke rumahnya dulu saat mengerjakan tugas kelompok, kalau tidak salah dia punya seorang ayah... uhm...?" beberapa saat kemudian dia mulai terlihat kebingungan dengan penjelasannya sendiri, seperti ada yang janggal. "Ice, ayahnya Shey itu kerjanya apa ya? Kau ingat?" dan minta petunjuk dari bocah berwajah teduh di sampingnya.
"Eh? Emang kita pernah ketemu ayahnya? Orangnya kayak gimana? Dan juga rumahnya Shey itu dimana?" Sama halnya dengan Blaze, Ice pun terlihat kebingungan.
"Kita kan udah temenan dari kelas satu SMP, bukannya kita selalu sekelas bahkan satu kelompok!?"
"Biar pun begitu mana ada hal yang seperti itu!"
Dan sukses membuat kakak-beradik yang menyaksikan tingkah aneh keduanya sama herannya. Kok bisa dua orang yang berteman lama dan akrab dengan seseorang bisa berbeda pendapat satu sama lain. Yang satu bilang pernah, yang satu lagi bilang tidak. Jadi yang mana yang benar?
Muak mendengarkan pertengkaran konyol mereka yang takkan ada ujungnya, Totoitoy segera saja berinisiatif melerai keduanya. "Sudah! Membahas yang begituan tidak akan ada habisnya! Bisa-bisa part ini nggak selesai-selesai sampai chapter depan!" walau terdengar lebih membentak.
Sontak keduanya bungkam saat itu juga. Sementara Kakaknya hanya bisa bersweat drop riadenganucapan adiknya itu.
Di ujung sana tampak Ice sedang memasang wajah kecut, sementara Blaze. "Ya sudahlah emang nggak penting. Mau bapaknya hakim kek atau polisi kek... ang hending sei hefat hetemu (Yang penting Shey cepat ketemu)" dengan agak ngambek ia menggerutu sambil menikmati sisa kue yang ada di bingkisan tersebut.
Yang melihatnya hanya bisa memasang tampak datar persis seperti wajah M*shimaro.
Telan dulu baru ngomong.
Dan waktu bocah itu akan memasukkan satu lagi makanan kecil itu kemulutnya, tepat saat itu juga Yaya segera menghentikannya dengan mencengkram tangannya. Anak itu melirik pada si gadis dengan wajah bingung dan penuh tanya.
"Tunggu sebentar, Blaze-kun. Kuperhatikan dari tadi cuma kue ini yang bentuknya berbeda" ia pun cepat merebut kue kering yang satu-satunya berbentuk hati tersebut. Diperhatikannya dengan jeli memang ada yang janggal, selain bentuknya tidak kotak atau bulat seperti yang kue lain dalam kantongan tersebut, teksturnya juga lebih keras dan lebih tebal, seperti biskuit buatannya dulu.
Gadis itu pun langsung inisiatif untuk membelahnya, agak sulit karena terlalu keras, tapi masih bisa.
Setelah diremukkan mereka menemukkan bungkusan plastik klip yang aneh, di dalamnya ada sebuah kartu memori ponsel dan selembar kertas yang terlipat-lipat.
Penasaran, Yaya cepat-cepat membongkar isinya tanpa perlu izin lebih dahulu. Dibukanya lipatan kertas putih tersebut, disaat yang sama ketiga bocah yang ada di dekatnya langsung berkerumun untuk melihat isinya. Tidak ada apa-apa selain sebuah tulisan kecil dengan tinta hitam yang hampir luntur.
"Adu...? Adju?" desir Blaze saat mencoba membaca tulisan buram tersebut, ia kelihatan kesulitan melakukannya.
"Adiuva me." tegas Yaya membacakan itu untuknya bahkan semua yang tengah ada disana. "Itu bahasa latin, artinya 'Tolong aku'" tambahnya menjelaskan.
Ketiga pun kembali saling tatap, mencoba untuk bertukar pikiran hanya dengan membaca ekspresi wajah. Kelihatannya kali ini mereka sepikiran, jika mungkin Shiella yang membuat pesan ini dan sengaja menyembunyikannya dalam kue kering agar sulit ditemukan atau mungkin agar hanya mereka yang bisa menemukannya.
Lalu kartu memori ini mungkin petunjuk untuk mereka.
Tapi kenapa?
Kenapa dia butuh bantuan? Kenapa tidak minta tolong secara langsung?
Mungkinkah benar yang dikatakan oleh Yaya jika dia dipaksa oleh seseorang untuk melakukan hal buruk?
"Pokoknya, pertama kita cek dulu isi memori ini" ujar Totoitoy. Ia pun mematikan ponsel pintar miliknya, setelah itu membuka case belakangnya dan memasukan micro SD tersebut ke dalamnya. Barulah setelah itu merakit kembali ponselnya seperti semula agar bisa dinyalakan.
Saat gadget itu sudah hidup kembali ia langsung membongkar isi-isi file yang ada di dalamnya. Yang ternyata hanya berupa folder berisi foto-foto yang terlihat acak, beberapa kabur juga gelap. Puluhan foto menampilkan berbagai gambar yang hampir serupa, seperti papan jalan, gorong-gorong, stasiun bawah tanah tua dan jalur pipa pembuangan. Ada beberapa hal juga yang kelihatan cukup menarik hingga dipotret seperti anak-anak yang bermain di taman dan...
Ada foto Blaze yang sedang berpose candid karena tidak sadar sedang diambil gambarnya.
Sepertinya gadis itu lupa menghapusnya. Mungkin karena sayang, atau mungkin karena lupa.
Tentu saja Blaze tidak menyadarinya karena yang sejak tadi mengeceknya hanya Adik kandung Yaya itu saja. Bocah itu tampak mendelik padanya sambil mendengus dan tersenyum tipis.
"Kelihatannya ini memang petunjuk untuk kita agar bisa menemukannya dan juga komplotan yang memaksanya" katanya. Setelahnya ia langsung mengantongi ponselnya tersebut. "Pertama-tama aku akan coba mengecek lokasinya dengan mencocokan berbagai tempat dari gambar-gambar yang ada di dalam sini. Kelihatannya bantuan dari kalian cukup sampai sini saja, terima kasih ya sudah menolongku untuk mencari petunjuk" lanjutnya lagi. Tak lama ia pun coba berdiri dari tempatnya duduk untuk berpamitan.
"Tunggu. Jangan bilang kau ingin meneruskan ini sendirian?" cegat Blaze dan sukses membuatnya terdiam di tempat, hampir tak bergerak dengan mata membulat sepenuhnya. Tumben-tumbenan tebakan bocah ini benar.
Totoitoy pun menutup matanya sejenak lalu membukanya kembali sembari membuang nafas. "Apa boleh buat, aku tidak bisa melibatkan kalian lebih jauh dalam misi penuh resiko begini. Terutama Akak" desirnya pelan. Kedua permata hazelnya bergulir menatap mereka satu persatu hingga berhenti pada Yaya.
Si gadis yang mendengar ucapan adiknya pun tersentak dengan begitu tercengang. Sejak awal dia sudah sadar, adiknya ini bersikap begitu dewasa berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa umurnya masih 14 tahun. Mungkinkah ini karena sejak kecil dia sudah dibebani berbagai misi? Dimana anak-anak seumurnya masih menikmati masa-masa sekolah, belajar dan bermain bersama sebayanya.
"Kalau kau tau misi ini begitu beresiko seharusnya kau tidak boleh bergerak sendiri" ujar Ice kalem.
"Shiella itu teman kami. Jauh sebelum dirimu kami sudah terlibat banyak hal dengannya, tentu saja kali ini kami juga harus ikut" timpal Blaze nyengir sembari mencoba membujuk anak itu dengan cukup halus.
"Itu benar Toto, sebaiknya jangan bertindak sendirian" Yaya pun akhirnya angkat bicara, mengedepankan argumennya setelah sejak tadi hanya diam dan memperhatikan.
Menyerah, Totoitoy hanya mengela nafas berat, entah berapa kali dia sudah melakukannya hari ini. "Aku mengerti, kalian boleh ikut" sahutnya sambil bertopang dagu malas dan mengizinkan ketiganya membantunya.
"Yeay!" ketiganya pun langsung tos satu sama lain karena begitu senang.
~MA~
Keesokan harinya, hari sabtu dengan pagi yang begitu cerah. Dimana matahari bersinar dengan terang dan begitu hangat serta burung-burung saling bersahutan dengan begitu ceria.
Sementara itu di dalam sebuah apartemen kecil seorang anak berjaket merah terlihat bersiap keluar dari rumah dan sekarang sedang duduk di area depan sambil sibuk memasang sepatunya.
Tak lama kemudian Kakaknya pun datang dari belakang dan memergokinya. "Mau kemana kau?" tentu saja dia langsung mengintrogasi adiknya tersebut dengan sebuah pertanyaan biasa.
"Emangnya kenapa?" yang dijawab oleh si adik dengan cukup ketus.
"Aku cuma tanya kau mau kemana, pulangnya kapan. Kenapa kau menjawab seperti itu?" tegas Halilintar terdengar agak jengkel.
"Aku mau belajar di rumah teman, sebentar lagi kan musim ujian. Dan kayaknya aku juga bakal menginap disana" jawab Blaze menggerutu tanpa berbalik sedikitpun pada Kakaknya itu.
"Rumah siapa?" selidik Halilintar lagi sambil bersedekap.
Kali ini Blaze berdiri. Jengah dengan pertanyaan Kakaknya tersebut ia sontak membalikkan badan, sebiasa mungkin dicobanya untuk tidak membuat raut wajah yang mencurigakan. "Ya rumah temanku lah, emangnya Aniki tahu siapa aja temanku? Ice juga ikut, nggak usah khawatir" katanya.
Malas beradu agrumen dengan adiknya yang pasti akan berujung panjang nanti, Halilintar hanya pasrah sambil membuang nafas berat. Kali ini terpaksa ia mengizinkan adiknya, toh dia cuma ke rumah teman nggak mungkin jauh-jauh lagipula Ice juga ikut sepertinya tidak akan ada masalah. "Ya sudah. Hati-hati" katanya.
"Aku berangkat" ucap Blaze sambil membuka pintu depan tersebut dan langsung lari keluar sementara Kakaknya terlihat mash berdiri menungguinya di sana.
Sebenarnya soal belajar di rumah teman itu bohong. Hari ini dia bersama Yaya dan yang lain akan mencari lokasi komplotan penjahat, Blaze sengaja tidak bilang ke Kakaknya agar tidak diomeli atau bahkan tidak diizinkan.
Ya... walaupun begitu, rasanya dia akan tetap diomeli saat pulang nanti.
TBC
.
Ya sampai sini aja dulu. Buat adegan BlazeYa nya kita simpan dulu buat chapter selanjutnya ya? Wordnya kayaknya udah kelebihan (ntar kalo korupsi disini gak cukup buat part 3)
Jadi tunggu dengan sabar aja. Diusahakan secepatnya kok
Ah ada yang tanya begini, gimana kalau Kaizo jadi siluman serigala aja.
Uhm.. gini. Aku bocorin ya? Kaizo disini tetap jadi Kakaknya Fang cuma dia munculnya nanti. Awalnya juga sama, Fang mau kubikin serigala, Cuma setelah kupikir lagi Serigala Jepang itu udah punah. Mungkin emang di Wolf Child ya? Serigala itu udah kecampur ras sama manusia, tapi tetap aja rasanya jadi nggak murni.
Satu lagi. Mungkin kayaknya ada satu yang sudah tahu konsep awal dari fiction ini, kalau mau ku ceritain bisa kok nanti. Itu kalau kalian mau.
Udah itu aja dulu.
Sekarang jawab review
.
NoorWardah :
Iya makasih ding lah ^^ Ketuju banar kah lwn kisahnya nih.
makasih reviewnya, kena kesini lagi lah.
.
Nao tomori :
Siapa yang berantem dek!? = 0
Iya satu chapter lagi ya. Santai aja plotnya masih banyak kok.
Salam sayang juga buat Nao.
.
Dead hunter :
Tak. Nak hemat word je.
Kau duduk manis je lah, tak payah susah-susah. Author dah aturkan semuanye.
Nanti datang sini lagi tau^^
.
Nisa ;
Iya sayang. Sabar, habis arc Blaze ya.
Tapi nanti jangan kaget atau shock ya.
Siap bosque nanti kesini lagi ya?
.
Guest :
Buset sabar bosque. Nggak usah ngegas, Ntar nabrak. Takut saya
Kita kenalan dulu, nama saya Mei. Umur kepala dua. Status jomblo dari lahir. Gebetan satu, gak peka-peka.
Maaf lagi mood bercanda. Kalau anda gimana?
Nanti kesini lagi ya ^^ Makasih buat reviewnya.
