Chanyeol duduk tenang didalam kursi penumpang dan enggan untuk berkomentar apapun karena pemandangan dan perilaku yang dilakukan oleh istrinya—Baekhyun. Gadis berusia dua puluh tahun yang sudah resmi menjadi istrinya saat ini tengah tidur diatas pahanya bukan dengan mata terpejam melainkan kini sibuk memandangi cincin berlian yang terlihat sangat cantik tengah melingkari jari manisnya.
Seusai pemberkatan dan acara penutup ciuman mereka yang kini sudah resmi menyandang pasangan suami istri dan tersadar bahwa kedua kakak mereka Kris dan Yoora membawa helicopter yang mereka gunakkan tadi dan itu berarti Chanyeol dan Baekhyun ditinggal di Kota Vatican tanpa ditemani oleh siapapun.
Seharusnya Chanyeol bahagia bukan?
Chanyeol tidak mengatakan apapun lagi dan pada akhirnya memperhatikan Baekhyun yang masih bermain –main dengan cincinnya. Pemandangan tingkah laku menggemaskan yang sedari tadi istrinya lakukan nyatanya lebih menarik dibandingkan pikirannya yang memikirkan bagaimana ia bisa pulang kembali ke Istana Glorfindel.
Chanyeol mengingat kembali saat mereka masih berada di Gereja, istri mungilnya benar – benar bertingkah seperti anak kecil, menikmati bermain dengan sekumpulan burung merpati di halaman Gereja. Ya, Baekhyun-nya, istrinya. Tepat ketika mereka melangkah keluar dari pintu Gereja setelah pemberkatan, Chanyeol masih berbincang dengan Sang Pastor sebentar mengenai terima kasih atas bantuannya untuk pemberkatan pernikahan mereka dan lain sebagainya—dan saat itulah Chanyeol luput untuk memperhatikan Baekhyun—saat ia menyadari istrinya itu tengah berlarian untuk mengganggu para kawanan burung merpati yang tengah berkumpul di halaman Gereja. Baekhyun berlarian dengan masih menggunakan gaun pengantinnya dan juga sepasang sepatu heels yang masih bertengger manis di kakinya. Tangannya yang memegang bouquet bunga pun masih berada digenggamannya itu digunakkan untuk membantu mengusir para burung merpati hingga berterbangan disekitar badannya, suara teriakan bahagia pada akhirnya menjadi rengekkan karena pada akhirnya tubuhnya dikerumuni hempakkan sayap burung – burung merpati.
Baekhyun bahkan merengek hingga membuat Sang Pastur tertawa geli tidak percaya bahwa gadis dihadapannya merengek seperti anak kecil karena tatanan rambutnya yang dirusak oleh kawanan burung – burung yang ia ganggu tadi. Chanyeol yang melihat wajah Baekhyun saat itu jujur saja ingin tertawa, tapi ia masih bisa menahannya sambil membenarkan ikatan dan jepit rambut Baekhyun.
Senyuman kecil terbentuk pada wajah Chanyeol dan kini ia kembali memandangi Baekhyun yang sudah tertidur di pahanya—oh tepatnya benar – benar lelap tertidur. Tangan Chanyeol mengusap rambut halus hitam legam milik Baekhyun serta membenarkan posisi tangan gadis itu yang jatuh lunglai turun kebawah.
Tak lama, mobil yang mereka tumpangi berhenti pada sebuah bangunan hotel yang sebelumnya dipesan oleh Chanyeol dengan bantuan Pastur dan Biarawati di gereja tadi. Supir yang mengantarkan membukakan pintu untuk Chanyeol sementara dirinya berusaha memikirkan cara bagaimana membawa Baekhyun yang sudah terlelap tidur.
"Mungkin sebaiknya Tuan menggendong Nona untuk dibawa masuk kedalam kamar. Terlihat tidurnya sudah sangat lelap." Suara supir yang berada di daun pintu mobilnya memberi tahu.
Dalam hati Chanyeol menjawab bahwa ia sendiri sudah memikirkan hal yang sama, hanya saja ia butuh melakukannya dengan sungguh hati – hati karena takut Baekhyun akan mudah terbangun ketika ia akan memindahkan pada gendongannya.
Perlahan – lahan Chanyeol menggeser badannya, tangannya perlahan memindahkan kepala Baekhyun dan kemudian ia menarik bagian atas badan gadis itu untuk bisa ia angkat dan kemudian barulah ia mengait kakinya. Ruang gerak yang sempit menjadikan alasan begitu lamanya Chanyeol bisa berhasil membawa badan Baekhyun keluar dari mobil dan kini berada di pelukan dan gendongan tangannya dengan tanpa hambatan kecuali Chanyeol yang mengalami sedikit kejadian karena kepalanya terpantuk dengan bagian atas mobil dan juga kakinya yang tersandung saat berhasil keluar.
Salah satu petugas hotel mengantarkan Chanyeol menuju ruangan kamarnya dengan pemandangan terpesona melihat bagaimana sikap romantis yang Chanyeol lakukan disepanjang perjalan menuju kamar hotel yang tetap menggendong Baekhyun—padahal Baekhyun sempat menggeliat sebentar dalam tidurnya namun nyatanya gadis itu hanya memindahkan tangannya untuk memukul pipi wajah Chanyeol sebentar dan kembali tidur lelap.
"Silahkan masuk Tuan." Petugas hotel membuka pintu kamar ruangan hotel serta mengikuti Chanyeol untuk membantu membukakan pintu kamar yang didalam.
Chanyeol meletakkan Baekhyun dengan pelan dan memberikan selimut untuk menutupi sebagian badannya.
Setelah petugas hotel pamit undur diri kini Chanyeol yang terlihat bingung akan melakukan apa mengingat ia tidak punya rencana sebelumnya akan menghabiskan waktu di Kota ini. Rencana awal yang Chanyeol buat sebelumnya adalah, membawa Baekhyun kembali ke Istana Glorfindel setelah?" itu ia akan membawa istrinya untuk Camping di Bukit Riverna mengingat pada mimpi yang ia milik dan juga Baekhyun miliki mereka memiliki kenangan manis disana—dan Chanyeol ingin merasakan bagaimana kenyataan yang sesungguhnya.
Tapi pada kenyataannya, terima kasih sekali lagi pada Yoora dan Kris yang meninggalkan dirinya dan Baekhyun disini, di kamar hotel ini pada sebuah Kota kecil.
Chanyeol duduk termenung pada sofa diruangan hotel itu, memandangi sedikit pemandangan Kota yang bisa ia lihat dari tempat duduknya dan juga memikirkan apa yang akan ia lakukan sekarang.
"Yoora.. kau dengar aku?" Chanyeol mencoba kembali memanggil Yoora dalam pikirannya dan hasilnya masih sama seperti sebelumnya—tidak ada jawaban.
"Aku benar – benar tidak percaya kau tidak tahu harus berbuat apa ditinggal bersama Baekhyun yang bahkan saat ini sudah menjadi istrimu, Yang Mulia."
Chanyeol menegakkan posisi duduknya. "Yi—Yixing?"
"Ya, aku, kenapa?"
"Ah! Baguslah! Bisa kau minta Jongin atau Sehun untuk menjemputku dan Baekhyun sekarang? Gunakkan saja—
"Chanyeol? Kau benar – benar mau pulang?" Yixing bertanya dengan nada sedikit kesal. "Kau tidak tahu mengapa Yoora membawa Kris pergi dari sana dan bahkan sampai saat ini belum kembali hanya karena untuk membiarkanmu menikmati waktu berbulan madu?"
"Ya tentu saja aku mau pulang—tunggu! Apa maksudnya membiarkanku menikmati waktu bulan madu?"
"Oh astaga! Kau ini benar – benar Phoenix atau bukan sih?! Tentu saja kami membiarkanmu menikmati bulan madumu disana, kau kira kalian akan bisa menikmati waktu berdua setelah kembali ke Glorfindel atau Eowyn? Tidak Yang Mulia! Ingat hanya beberapa orang yang tahu pernikahan ini, jadi saat kalian kembali tidak ada keistimewaan untuk kalian bisa menikmati menjadi suami istri yang romantis."
Chanyeol menggigit bibirnya mendengarkan penjelasan Yixing.
"Tidak usah membayangkan Bukit Riverna saat ini, apa bedanya bercinta di Bukit dan didalam kamar Hotel, Kau melakukannya dengan orang yang sama. Oh, akan lebih terasa intim di kamar hotel, ini sebagai informasimu saja." Yixing tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Peramal mesum."
"Kau lebih mesum Chanyeol, percayalah." Yixing menyahut lagi dan setelahnya ia menghilang dari dalam pikiran Chanyeol.
Chanyeol beranjak dari posisi duduknya menghampiri kamar dimana Baekhyun masih terlelap tidur. Wajah tenang layaknya anak kecil yang tengah tertidur pulas jelas terlihat disana dan bahkan kini ia menggeliat mencari sesuatu yang bisa ia peluk—Chanyeol yang melihatnya membalikkan badan Baekhyun untuk kesamping kearahnya—Chanyeol tepat tidur disamping Baekhyun dan membiarkan gadis itu menjadikan dadanya sebagai bantal dan kakinya sebagai guling. Sedangkan Baekhyun juga menikmati saat badannya dipeluk erat untuk menemani Chanyeol terlelap tidur.
- Loves of Tales-
"Mereka menikmati tidur siangnya."
"Ck! Astaga, terkadang aku ingin memukul Chanyeol atau mengembalikan ingatannya kalau ia adalah Phoenix yang sangat mesum."
"Sebenarnya aku juga ingin, hanya saja aku lebih suka Phoenix yang saat ini. Lebih menawan dan penuh charisma—
"Perlu diingat mereka orang yang sama, hanya berbeda—Luna bersihkan mulutmu." Athena memberikan sebuah tissue kecil kepada Aphrodite agar Dewi Cantik itu membersihkan salah satu anak kecil yang kini duduk ditengah – tengah mereka dan tengah menikmati makan siang bersama.
Sang gadis kecil itu pun terdiam membiarkan ketiga orang dewasa yang berada didekatnya mengurusi sisa – sisa makanan pada bibirnya. Aphrodite membersikan noda di pipi dan sekeliling bibirnya, Athena merapika sisa kue yang sudah diacak – acak oleh Luna sedangkan Yixing memberikan segelas susu kearah Luna.
"Kalian benar – benar terlihat seperti baby sitter." Yoora tiba ditengah – tengah meja yang mereka duduki, Kris masih bersamanya dan berjalan pelan bingung karena ia tidak tahu alasan Yoora membawanya untuk ikut serta adalah bertemu dengan Yixing, seorang anak kecil, dan juga dua Dewi Olympus dimana mereka terlihat dalam wujud manusianya.
"Halo Yang Mulia." Athena lebih dulu menyapa Kris.
"A-ah, halo." Sahutannya terdengar gugup.
"Dia tidak tahu kalau akan bertemu kalian semua disini." Yoora menjelaskan pada semuanya mengenai wajah bingung yang Kris masih tunjukkan kepada kedua Dewi dan juga sosok anak kecil yang berada di tengah – tengah mereka. "Namanya Luna, Dewi Bulan." Yoora memberikan gerak tangan menggoda Luna dan dibalas dengan sebuah senyuman lebarnya.
"Kenapa mirip dengan Baekhyun saat ia masih kecil." Kris berbisik pada Yoora, pandangannya masih melihat kearah Luna dengan sangat teliti seakan – akan memeriksa seluruh bagian wajah dan juga badannya untuk memastikan sebuah argumen yang baru saja ia katakan.
"Hm." Yoora membalas singkat, ia memilih duduk disamping Dewi Athena dan Kris pada akhirnya mengikuti untuk bisa duduk disampingnya.
"Chanyeol berusaha memanggilmu?" Yixing berucap kearah Yoora.
"Iya, seperti biasanya."
"Dan kau tidak menjawab—
"Apa mereka sudah selesai?" Kris masuk dalam perbincangan mereka berdua, Yoora menggelengkan kepala memandangi Kris yang menunggu sebuah jawaban dari dirinya dan juga Yixing.
"Kau mau tahu apa yang terjadi pada adikmu dan Chanyeol saat ini?" Yoora mengangkat tangannya hendak ia tempelkan pada tangan Kris—
"YA! Kalau kau mau memperlihatkan mereka tengah bercinta aku tidak mau—
"Yang Mulia, bahasamu tolong." Athena menginterupsi yang kini tengah menutup kedua telinga Luna. "Ada anak kecil disini." Sekali lagi Dewi Olympus itu meyakinkan.
Kris membuang nafasnya pelan. "Beritahu saja kapan mereka akan kembali ke Glorfindel?" bisikannya terarah pada Yoora yang masih tersenyum lebar menggoda Kris dengan tangan – tangannya yang bergerak mendekat dan menjauh pada tangan pria itu. "Stop! Hentikkan!" Kris menepis tangan Yoora, dan itu membuat sosok kecil dihadapan mereka tertawa ketika melihatnya.
"Setidaknya salah satu dari kita sangat bahagia hari ini." Aphrodite menunjuk Luna yang masih tersenyum dan memperlihatkan tawa lebar di wajahnya.
"Benar – benar mirip Baekhyun." Kris mendekatkan wajahnya pada Luna, sedangkan sosok kecil itu menundukkan wajahnya malu untuk menatap Kris.
"Dia Dewi Bulan, Yang Mulia." Athena meyakinkan lagi. "Satu-satunya Keturunan Elayne, dimana kita kenal saat ini bernama Baekhyun—Puteri Mahkota Lynkestis."
Kris tercengang menyemburkan minumannya yang baru saja ia tegak masuk kedalam kerongkongannya dan kini membasahi tangannya sendiri dan perlengkapan makan diatas meja.
"D-di-dia?!"
"Luna, tunjukkan pada Yang Mulia." Athena mengarahkan tangan Luna untuk menyentuh pipi wajah Kris. Senyuman lebar masih Luna perlihatkan sementara Kris merasa takut disentuh olehnya.
"Ba-bagaimana bisa?" Tangan Luna lebih dulu menyentuh pipinya dan dalam hitungan sepersekian detik pikiran Kris dipenuhi dengan berbagai kejadian masa lalu yang terjadi secara acak. Begitu banyak kejadian yang dipenuhi oleh suara tawa Baekhyun dan juga Chanyeol ketika mereka berlatih bersama, tak jarang beberapa moment kebersamaan mereka lainnya terekam dan diperlihatkan masuk dalam pikirannya. Hingga pandangan kegelapan masuk dan Kris dapat melihat bagaimana peperangan yang terjadi beberapa tahun lalu secara langsung—bukan dari cerita – cerita yang diceritakan oleh Yixing atau pun orang tuanya.
"Kau harus memutuskan Phoenix, nyawamu dikorbankan atau Elayne yang akan merasakan panasnya Api Neraka berserta jiwa – jiwa yang tidak tenang disana." Suara Kronos menggelegar kearah Phoenix yang kini tengah tersungkur terbaring lemah dengan Hades menginjak badannya. Tirtula yang dimiliki Hades bahkan tengah menusuk kearah jantungnya perlahan demi perlahan membuat dia semakin mengiris kesakitan—
"Chanyeol.."
Chanyeol berusaha bangkit berdiri tapi tidak bisa ia lakukan mengingat Hades menginjak badannya dan juga menusukkan ujung Tritula semakin dalam kearah jantungnya.
"Masih keras kepala hm?" Kronos semakin mencekik leher Elayne hingga wanita itu meringis. Kulit putihnya serta gaun putih yang melekat pada tubuhnya kini tengah berlumuran darah hingga mengubah warna gaunnya menjadi merah, sekujur tubuhnya penuh luka hingga ke wajah cantiknya dimana itu semakin membuat Chanyeol merasakan kesedihan mendalam melihat sosok yang dicintainya menderita dan tersiksa.
"Aku mencintaimu." Baekhyun menyambungkan pikirannya dengan Chanyeol.
"Luna, sayang.."
"Mama.. hiks.. Mama kenapa tidak kembali.."
"Luna, denganrkan Mama. Jadilah Dewi Bulan yang baik, dengarkan apa yang dikatakan oleh para Dewa dan Dewi, mengerti."
"Mamaa.."
"I give you my power, baby." Baekhyun berucap dan mengangkat tangannya keatas langit, kilatan Cahaya terang menyilaukan semuanya hingga membuat Kronos berteriak dan sekuat tenaga mencekik leher Baekhyun tapi pada akhirnya wanita itu menancapkan sebilah pisau kecil pada jantungnya sendiri dan membuat Hades dan juga Kronos semakin murka.
Chanyeol menjerit meringis merasakan ujung runcing Tritula itu masuk menembus kulit hingga jantungnya berdetak tidak sama seperti sebelumnya, pandangnya dialihkan kearah Baekhyun yang tengah terkapar di tanah dengan kedua matanya yang terpejam. Wujud wanita yang selama ini dicintainya tidak lagi terlihat bercahaya dan putih bersinar, rambutnya tengah berubah menjadi hitam panjang dan warna kulitnya bahkan memudar.
"Mamaaaa! Mamaaaaaa! Aku ingin bersama Mammaaa!" Teriakan anak kecil terdengar oleh telinganya. "Papaaaa! Papaaa bangun paa! Papaaa! Papa, bantu Luna untuk membangunkan Mamaaaaa!" kini suara itu berada didekat badannya, wajah manis cantik dan mungil milik Luna berada tepat disamping tubuh Papa-nya. Bahkan dalam detik-detik menjelang roh jiwanya menjauh dari dalam tubuhnya, tangannya masih terangkat hanya untuk mengusap air mata pada Puteri kecilnya.
"Pa-pa?"
"Jangan menangis, Seorang Ratu tidak boleh menangis—sayang." Luna memejamkan matanya dengan gerakan gelengan kepala menjawab seuntaian kalimat yang sangat terasa sulit untuk Chanyeol ucapkan.
"Jangan tinggalkan Luna.. hiks.. Papa.. pa.. papa.." Luna memukul-mukul badan Papa-nya dengan air mata yang semakin mengalir deras, genggaman tangannya pada tangan Papa-nya mulai terlepas secara perlahan ketika hembusan nafas terakhir terlepas dari raganya.
"Paappppaaaaa!"
Kris beranjak bangun dari tempat duduknya sontak membuat tangan mungil Luna terlepas dan gadis kecil itu kembali pada posisi duduknya dan langsung memeluk Dewi Athena disebelahnya. Yoora menahan badan Kris untuk duduk kembali dan memberikan kalimat-kalimat penenang agar pria itu bisa berpikir dan bernafas dengan tenang tanpa rasa takut yang masih berada dipikirannya.
"Ini aku.. hei Kris.. tenangkan dirimu, tarik nafas pelan – pelan.." Yoora mengusap lengan Kris dengan lembut.
"Ini aku.." Kris menganggukkan kepala dan matanya berkedip cepat masih memandangi Luna yang terdiam bersembunyi dibalaik punggung Athena.
"Dia.. benar – benar anak Chanyeol dan Baekhyun?" Mereka semua terdiam dan menganggukkan kepala mengiyakan.
"Bagaimana bisa?"Kris memandangi Yoora. "Aku masih tidak mengerti—bagaimana—
"Kekuatan Perisai." Yixing menyahut lebih dulu menahan Yoora yang akan memberikan penjelasan. "Luna diberikan kekuatan penuh milik Elayne tepat sebelum Baekhyun menusukkan belati kecil pada jantungnya, itu yang membuat Hades dan Kronos saat itu tidak mengetahui kehadiran Luna, karena Baekhyun memberikan perlindungan sepenuhnya pada Luna, dan ketika Baekhyun meninggal saat itu—
"Tolong gunakkan nama Elayne. Aku tidak mau membayangkan Baekhyun sudah meninggal." Kris memejamkan matanya, kepalanya bertumpu dengan kedua tangan yang menopangnya.
"Ketika Elayne meninggal, Luna menerima kekuatannya dan karena itulah ia bisa memiliki kekuatan perisai yang dimiliki Elayne untuk melindunginya, Perisai adalah kekuatan tambahan yang dimiliki Elayne dan itu bisa diberikan oleh seseorang yang merupakan keturunannya, sedangkan kekuatan asli dari Cahaya Abadi masih melekat pada dirinya meskipun ia meninggal saat itu."
"Lalu kenapa dia." Kris menggerakkan tangannya menggambarkan sosok Luna yang duduk manis dihadapannya. "Bisa berada disini saat ini."
"Keturunan Elayne dan Phoenix memiliki darah manusia-dewa- dan malaikat, sama seperti kedua orang tuanya. Luna masih bisa hidup bebas di dunia Luar meskipun tubuhnya tidak bisa berkembang tapi usianya berjalan, begitu juga ketika dirinya berada di Olympus, kehadirannya tidak bisa terlalu lama karena ia seharusnya tidak berada di tempat itu. Tempatnya ada di langit, tapi kekuatan yang dimilikinya harus kembali pada pemiliknya. Dan saat ini, kami menunggu dirinya untuk kembali ke langit, bukan tubuhnya, melainkan jiwanya."
Kris mendengarkan baik – baik apa yang dikatakan Yixing, sesekali pandangannya melihat kearah Luna yang masih menunduk dan memakan buah – buah strawberry dengan begitu tenang—persis ketika ia melihat Baekhyun saat kecil tengah memakan buah yang sama dimana menjadi kesukaannya.
"Elayne telah sepenuhnya kembali, Baekhyun sudah sepenuhnya memiliki kekuatan Cahaya Abadi, untuk itulah kami membawa Luna kedunia luar karena waktunya sudah tiba. Ia tidak bisa hidup pada ketiga dunia di waktu yang bersamaan." Yoora menjelaskan lebih singkat pada Kris agar pria itu lebih bisa mengerti keadaan saat ini.
"Itu mengapa kalian semua berkumpul disini? Lalu untuk apa aku berada disini juga?"
"Oh, itu karena Yoora tidak mau kau mengganggu adikmu dan Phoenix menikmati waktunya." Aphrodite yang berucap sedangkan yang lain mengalihkan diri dan melakukan hal – hal untuk mengsibukkan diri agar tidak perlu menatap dan diberikan pertanyaan lain oleh Kris.
"Astaga, aku bisa gila." Kris mendengus bingung, menjatuhan kepalanya pada meja makan dengan cukup keras dan terdiam cukup lama.
- Loves of Tales-
Baekhyun menggeliat dengan posisi matanya terpejam dan badannya masih berbaring begitu nyaman pada ranjang dimana ia tidur selama beberapa jam belakangan. Tangannya bergerak keatas hingga menyentuh ujung tempat tidur sementara kakinya menendang – nendang dengan begitu asal mengenai selimut yang berada di ujung kakinya. Matanya berkedip pelan dan terbuka kecil berusaha melihat situasi dimana dirinya berada, menangkap kondisi yang begitu asing dan juga kosong secara cepat kedua matanya terbuka lebar dan badannya bangkit duduk untuk melihat lebih jelas dimana dirinya berada.
Baekhyun memeriksa badannya yang masih memakaian pakaian yang sama sebelum dirinya terlelap, gaun putih yang ia kenakkan pada upacara pemberkatan pernikahannya dengan Chanyeol, bahkan ia masih bisa melihat jari manis lentiknya masih dihiasi dengan cincin yang mengkilap disana. Hanya satu yang kurang. Chanyeol tidak berada di ruangan yang sama denganya, bahkan ruangan kamar yang cukup besar ini jelas menunjukkan tidak ada tanda – tanda kehadiran Chanyeol bersamanya.
Baekhyun bangkit dan berjalan pelan mengelilingi seisi kamar, dimulai dari ruangan kamar mandi yang jelas masih terlihat rapi dan bersih, begitu juga ruangan lain yang ternyat adalah lemari pakaian masih sama kosong. Baekhyun berjalan pelan menuju pintu kamarnya, dengan gerakkan tangan yang sangat pelan dan hati – hati membuka kamar melihat bagiamana kondisi diluar kamarnya—dalam artian ia takut mendapati sosok lain yang menyambutnya.
"Chanyeol?" Baekhyun memanggil nama itu dengan suara lembut dan pelan ketika mendapati ruangan luar sama kosongnya seperti ruangan dalam kamarnya. Kakinya bergerak cepat untuk memeriksa dua ruangan lain yang ada disana dan masih ia dapati kosong dan hampa—tidak ada siapapun.
"Hm." Baekhyun melipat kedua tangannya didepan dada dan berjalan sepanjang jendela pembatas yang memperlihatkan pemandangan luar kota. Merasa kesepian dan jenuh pada akhirnya ia membaringkan diri disebuah sofa dengan posisi badannya menghadap kearah pintu utama. Badannya terlungkup dengan kedua tanganya yang tertekuk bertumpu disofa dan menopang wajahnya, kaki – kaki mungilnya bergerak naik turun seirama dengan kepalanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri sementara mulutnya bersenandung sebuah lagu untuk menghilangkan kejenuhannya.
Cukup lama ia bersenandung dan menahan matanya untuk kembali terpejam padahal ia cukup tahu saat ini masih memasuki waktu sore hari dan bukanlah waktu tidur, tapi karena ia merasa bosan hawa mengantuk cepat menguasai dirinya. Posisi kepalanya kini berbaring pada bantal sofa dan matanya perlahan – lahan mulai menutup rapat dan enggan untuk terbuka lagi—
"Baekhyun?"
Baekhyun memaksa matanya terbuka dengan sigap badannya beranjak bangun dan beralih menyusul Chanyeol yang baru saja selesai menutup pintu ruangannya.
"Kau kemana saja ih! Meninggalkan aku sendirian." Baekhyun memukul badan tegap itu dengan cukup kencang serta menunjukkan wajah kesal dan marah.
"Aku bangun dan mendapati kau tidak ada, aku bahkan menunggumu cukup lama sampai aku merasa mengantuk lagi, baru saja aku mau terpejam tapi kau kini kembali—ish menyebalkan! Kenapa meninggalkan aku sendirian sih!" Chanyeol masih memperhatikan bagaimana Baekhyun yang meluapkan emosinya tapi juga merangkul tangannya dan bersandar pada lengannya. "Aku kan takut.. kalau aku tiba – tiba hilang bagaimana?" Baekhyun bergelung dan juga merengek.
"Maafkan aku." Chanyeol melingkarkan tanganya pada bahu Baekhyun dan membawa gadis itu untuk duduk disofa sementara dirinya berlutut dihadapan Baekhyun. "Maaf karena meninggalkanmu sendirian disini, aku berpikir kau butuh istirahat, sementara aku berbelanja untuk mencarikanmu baju dan beberapa perlengkapan untuk kita menginap disini. Lihat ini—
"Itu apa?" Baekhyun mulai ingin tahu beberapa barang bawaan yang Chanyeol lepaskan dari tangannya.
"Aku membelikan kita beberapa baju dan juga makanan kecil untukmu."
Baekhyun menerima salah satu kantongan belanja yang diberikan Chanyeol dan mulai mengeluarkan beberapa baju yang ada didalamnya. "Wow.. ini sangat lucu." Baekhyun mengomentari salah satu gaun pendek dengan motif bunga – bunga yang tidak begitu mencolok.
"Aku mau memakai ini sekarang, apa kita akan pergi keliling Kota? Boleh aku memakainya?" Baekhyun memberikan pertanyaan pada Chanyeol tanpa jeda dan pada akhirnya pria itu hanya menganggukkan kepala mengiyakan dan bahkan tidak menahan Baekhyun yang berlari masuk kekamar untuk mandi dan berganti pakaian.
Chanyeol menggigit bibirnya dan menunduk lemas mengingat ia harus menghadapi sendiri situasi Honeymoon yang diluar perkiraannya, terlebih istrinya saat ini masih bertingkah polos dan sulit untuk ditebak.
"Chanyeooolll~" Baekhyun merengek dari dalam ruangannya. "Tidak ada handuk disini." Chanyeol tertawa kecil dan menggeleng kepala sebelum ia beranjak untuk membantu istrinya mencari sebuah handuk, sementara dalam pikirannya ia berharap Baekhyun tidak perlu handuk untuk menutupi tubuhnya.
.
"Aaahh.. jadi nama Kota ini Vatican.." Baekhyun menganggukkan kepala membaca sebuah brosur yang baru saja ia dapati dari orang lain yang berada di pinggir jalan. Salah satu tangannya yang lain memegang tempat es krim dimana ia nikmati secara langsung dengan lidahnya tanpa menggunakkan sendok yang sudah ia sediakan.
"Apa disini ada air mancur atau tempat wisata yang bisa kita lihat malam hari?"
"Setahuku hanya ada di halaman gereja, tempat kau berlarian sebelumnya dan bermain dengan para burung merpati." Chanyeol tertawa setelahnya dan memperhatikan Baekhyun yang sudah melirik tajam kearahnya.
"Disini tidak ada air mancur seindah di Baercelona, tapi.." Chanyeol berpindah posisi yang sebelumnya disamping Baekhyun kini pria itu berada di hadapannya—menghalangi sepenuhnya badan Baekhyun yang akan melangkah berjalan kedepan. "Kau memiliki pemandangan yang cukup indah dihadapanmu." Chanyeol menundukkan badannya hingga wajah tampan miliknya berhadapan langsung dengan wajah Baekhyun yang tengah merona mendengar apa yang dikatakan olehnya.
"Yaaa~" Baekhyun melompat dan memeluk Chanyeol setelah mencuri ciuman singkat dari bibir tebal pria itu yang sampai saat ini masih belum juga ia ingat telah menjadi suaminya. "Berapa lama kita berada di Kota ini?" Baekhyun bertanya, kali ini badannya berada dalam gendongan Chanyeol dengan jari – jari tangannya yang masih bermain dengan surai legam pria itu.
"Sampai Yoora dan Yixing mengijinkan kita pulang."
Baekhyun menautkan kedua alisnya. "Kenapa? Kenapa harus menunggu mereka mengijinkan kita pulang?"
"Karena.. aku tidak akan bisa menikmati waktu berdua denganmu bila kita sudah berada di Eowyn." Chanyeol menutup kalimatnya dengan mencium bibir Baekhyun secara perlahan – lahan. Gerakkan bibirnya yang melumat bibir tipis itu masih pelan dan sangat lembut seakan – akan takut bila sang pemilik merasakan kesakitan dengan apa yang ia lakukan.
Badan Baekhyun seketika menegang kaku merasakan ciuman Chanyeol yang berbeda dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Dengan posisinya yang masih berada pada gendongan Chanyeol, tangannya meremas bagian rambut belakang pria itu dan memejamkan matanya untuk lebih menikmati bagaimana bibir dan lidah Chanyeol melumat, menyesap dan bermain dengan bibir dan lidahnya. Chanyeol mulai bermain lebih dalam, tangannya memeluk pinggang Baekhyun dalam gendongannya guna memperat hingga badannya mereka semakin menempel satu sama lain. Kaki Baekhyun sudah melingkar dengan sempurna pada pinggangnya, berjaga agar tidak terlepas. Tangan Chanyeol meraba naik menuju ke tekuk leher Baekhyun, menekannya sedangkan bibirnya juga ikut menekan ciuman mereka.
Mereka bertahan berciuman di tengah – tengah jalanan dengan gerakkan yang semakin memanas, tak peduli akan beberapa pandangan mata yang merasa malu untuk menyaksikan kegiatan mereka berdua—karena hal itu sudah menjadi pemandangan umum disana. Bahkan ketika hujan sedikit demi sedikit mulai turun dan membasahi setiap bagian Kota. Baekhyun melenguh merasakan dingin tapi masih menahan wajah Chanyeol agar tidak melepaskan ciumannya.
Chanyeol membawa Baekhyun untuk bersandar pada tembok bangunan yang berada didekat mereka guna berteduh sementara dan juga melanjutkan ciuman pada bibir Baekhyun—turun menuju leher dan bagian bahu serta dada gadis itu.
"Aku menginginkanmu." Nafas Chanyeol memburu, tangannya membelai setiap bagian wajah Baekhyun terlebih bagian bibir gadis itu yang tengah terbuka kecil guna menyalurkan deru nafasnya. Baekhyun tidak menjawab iya ataupun memberikan penolakkan, matanya terkunci memandangi mata Chanyeol yang begitu dalam menatapnya dan juga pikirannya terfokuskan pada tangan Chanyeol yang tengah menarik dagunya dan ibu jari tangannya bermain memutari bibir tipis milik Baekhyun.
Baekhyun menarik wajah Chanyeol guna mendominasi bibir tebal itu dengan bibirnya, gerakkannya tidak sepandai yang dilakukan Chanyeol tapi cukup dianggap sebagai jawaban untu Chanyeol menahan Baekhyun dan beralih menjadi bibirnya yang kini bergerak dengan bebas bermain dengan setiap bagian bibir Baekhyun dan juga rongga mulutnya. Lenguhan kecil yang Baekhyun lontarkan nyatanya semakin membuat Chanyeol semakin memburu bergerak melumat bibir Baekhyun dan tidak memperdulikan siapa pun yang melihatnya dirinya berubah dalam wujud Phoenix sama halnya dengan Baekhyun yang berubah dalam wujud Elayne disekelilingi Cahaya memancar dari setiap bagian tubuhnya—dan seketika mereka menghilang.
.
"Apa ini cukup?"
"Ku rasa cukup." Yixing melihat sekeliling Kota yang tengah terguyur hujan dengan intensitas cukup kuat, bahkan pandangannya yang melihat kedepan terasa sulit untuk menebak apa yang ada dihadapannya.
"Kau terbaik, terima kasih sudah membantu." Yixing menoleh kearah Suho yang masih berdiri disampinya dan bermain – main dengan air pada kedua tangannya. "Kemana Jongdae, aku membutuhkannya saat ini—
"Aku datang." Jongdae menyahut melangkah mendekat pada Yixing dan juga Sehun turut berjalan mengikuti dibelakangnya.
"Ah, kau juga sudah datang." Yixing mengalihkan pandangannya pada Sehun yang kini berada didekatnya. "Oh, Jongdae-ya, kau bisa memulainya, jangan terlalu besar dan jangan terlalu kecil, dan buat durasinya tidak terlalu panjang." Yixing memberikan informasi pada Jongdae sebelum pria itu mulai mengarahkan tangannya mengeluarkan kilatan – kilatan kecil.
"Aku mengerti."
Yiixng menganggukkan kepala dan pada akhirnya memperhatikan Jongdae melepaskan kilatan – kilatan itu keatas langit, tangannya meregang berjauhan dan terlihat kilatan petir mulai terdengar bergemuruh diatas sana.
"Cukup?" Jongdae bertanya pada Yixing.
"Oke, cukup." Begitu jawaban terdengar ia menutup tangannya sementara dilangit sana suara petir dan gemuruh masih saling bersahutan meskipun tidak begitu kencang dan dahsyat layaknya badai petir yang mengamuk.
"Nah, giliranmu." Yixing menarik badan Sehun untuk mendekat dan bertukar posisi dengan Jongdae. "Sedikit saja Sehunnah.. buat suasana malam ini cukup dingin." Yixing menjelaskan keinginannya.
"Ck, kenapa kau tidak minta Minseokkie yang melakukannya." Sehun membantah.
"Kalau Minseok yang melakukannya, cuaca akan berubah menjadi musim salju. Aku hanya ingin cuaca dingin sedikit –dan kekuatan anginmu bisa membuatnya." Yixing memandang Sehun dengan tatapan memohon dan terus memaksa tangan pria itu untuk bergerak mengeluarkan kekuatannya.
"Baiklah, baiklah." Sehun mengangkat satu tangannya yang dalam seketika pusaran angin kecil mulai terbentuk dan ia melepaskannya ke udara untuk bergabung masuk dalam rintikkan hujan dan kilatan – kilatan disana. Sehun mempehatikan pergerakkan pusaran angin itu hingga terlihat semakin besar pada akhirnya dia menutup tangannya.
"Cukup?" Sehun bertanya pada Yixing yang memperhatikan sekitar dan menengadahkan tangannya.
"Apa sudah terasa? Bagaimana aku tahu perubahannya."
"Ck! Gunakkan saja penglihatanmu untuk melihat kondisi mereka berdua semakin bergelung panas atau tidak." Sehun tertawa dan melakukan high five dengan Jongdae. Mereka berdua tertawa keras dan melangkah pergi masuk kedalam ruangannya sementara Yixing menatap sinis punggung mereka yang mulai menjauh.
- Loves of Tales-
Chanyeol mengarahkan jarinya untuk masuk menyingkap kedalam bagian intim Baekhyun dibawah sana yang masih tertutupi dengan celana dalam yang Baekhyun kenakan. Jari – jari besar tangannya mengusap lembut dan mulai turun pada lipatan yang masih begitu rapat hingga pada akhirnya ia melesakkan salah satu jarinya untuk berada lebih dalam dan bermain – main dengan lipatan kecil yang mencuat—
"Ngh." Baekhyun menggeliat dan mendesah tertahan pada ciuman bibir mereka yang masih berlangsung sedari tadi.
Keadaan gelap dan juga basah karena hujan dan petir diluar sana yang mengamuk seakan –akan membuat keadaan bagi mereka berdua terasa lebih intim dan memanas. Baekhyun melepaskan ciuman pada bibir Chanyeol dan beralih menciumi pipi wajah pria itu dan juga bagian lehernya, mengikuti apa yang dilakuakn Chanyeol padanya juga. Sementara ia bagian bawahnya semakin terasa bergetar hebat dengan apa yang dilakukan tangan dan jari milik pria itu disana.
"Aaah!" teriakan desahan Baekhyun terdengar bersamaan dengan badannya yang berusaha bangkit untuk melihat apa yang tengah dilakukan Chanyeol yang sedang merangkan turun dengan terus memberikan ciuman pada bagian tubuhnya sedari tadi. Chanyeol menarik celana dalam itu dengan gigitan bibirnya, tangannya mengusap paha Baekhyun yang sangat dingin dan tentunya ia kembali memberikan kecupan – kecupan singkat dimana berhasil membuat Baekhyun kembali merebahkan badannya dan menutup matanya dengan kedua tangan sementara Chanyeol mulai mendekat untuk mencium bagian intimnya yang sudah terasa lembab.
"Aku boleh melanjutkan?" Chanyeol menanyakkan pada Baekhyun, wajah pria itu bertumpu perut Baekhyun, menunggu jawaban kembali dari sang istri dan tetap memberikan ciuman pada kulit perutnya.
Baekhyun masih mengabaikan pertanyaan itu, matanya ia tutup dengan kedua tangannya merasakan godaan yang masih Chanyeol lakukan pada seluruh bagian tubuhnya. Chanyeol kembali bergerak menciumi bagian perutnya dan kini turun menuju bagian intimnya.
"A-aahh!" Badan Baekhyun bangkit bangun saat Chanyeol dengan begitu tiba – tibanya melesakkan jarinya masuk kedalam lubang Baekhyun sementara mulut panasnya menciumi bagian yang lainnya.
Baekhyun menahan desahannya, mulutnya ia tekuk kedalam agar bertahan untuk tidak menjerit lagi sementara matanya masih terpejam erat enggan untuk melihat jelas apa yang Chanyeol lakukan dibawah sana. Chanyeol benar – benar bisa membuatnya hanyut melayang tinggi hanya dengan permainan lidahnya dan juga gerakkan jarinya yang mengoyak bagian intim dalamnya.
"AH!" Baekhyun menjerit dan bangkit bangun bukan karena apa yang Chanyeol lakukan melainkan karena ia mendengar suara petir yang menggelegar diluar sana. Nafasnya memburu dan memeluk Chanyeol dengan cepat, wajahnya ia sembunyikan pada dada berkeringat itu. Tubuhnya bergetar hebart dan Chanyeol langsung memeluknya meyakinkkan bahwa ia tidak perlu takut.
"Hei, aku disini." Chanyeol mengusap punggung belakang Baekhyun.
"Aku takut."
Chanyeol menahan suara tawanya tapi Baekhyun masih bisa melihat jelas senyuman yang terbentuk di wajah pria itu.
"YA~! Jangan menertawakan aku." Baekhyun memukul bahu Chanyeol dengan pelan, posisinya kini berada diatas pangkuan Chanyeol dimana membuat dirinya sadar bahwa mereka berdua tengah sudah dalam keadaan tanpa sehelai benang pakaian yang menutupi tubuh masing – masing. Baekhyun menyadari bahwa dirinya kini tengah menduduki bagian intim milik Chanyeol dan ia bisa merasakan ketegangan yang terjadi dibawahnya.
Chanyeol tersenyum lagi. "Kau merasa takut akan petir sedangkan kini kita sedang berusaha untuk bercinta untuk pertama kalinya."
Baekhyun bergedik menahan hawa geli karena bisikan Chanyeol, matanya terpenjam dan ia berusaha untuk kembali berbaring menjauh dari badan Chanyeol—namun gagal. Chanyeol lebih dulu membaringkan tubuhnya dengan sedikit kasar dan juga membuka lebar kaki mungil miliknya. Memposisikan dirinya berada diantara kedua kaki Baekhyun dan juga bagian intim mereka yang saling bersentuhan pelan.
"Hmmm." Baekhyun menggeliat lagi dan masih menutup matanya.
"Kau tidak mau membuka matamu?" Chanyeol menciumi setiap inchi bagian perutnya dan juga kedua payudara Baekhyun yang nampak begitu kenyal. Tidak ada jawaban dari sang istri mungilnya, hanya suara desahan yang tertahan dan juga gelengan kepala serta badannya yang menggeliat merespon gerakan yang Chanyeol lakukan ketika mengarahkan batang miliknya yang tengah mengeras kencang untuk masuk kedalam milik Baekhyun yang sudah basah.
Chanyeol membelai kedua tangan Baekhyun dan melebarkan ke sisi kanan dan kiri dan juga menggenggamnya dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain menuntun miliknya memasuki kedalam lubang Baekhyun dengan begitu pelan—
"AKH!" Baekhyun menjerit kesakitan dan meringis setelahnya. Matanya masih terpejam erat, air matanya lolos dengan sendirinya dan semakin deras ketika Chanyeol semakin menekan kedalam. Disaat dirinya masih berusaha menahan rasa sakit karena apa yang Chanyeol lakukan untuk pertama kali dengannya, suara petir terdengar bergemuruh dan saling bersahutan diluar sana yang sontak membuat Baekhyun semakin ketakutan dan bergetar hebat.
"Aku disini." Chanyeol membisikkan kalimat itu tepat didepan bibir Baekhyun yang bergetar. Ia memberikan ciuman pelan, menunggu Baekhyun untuk membalas ciumannya. Tangannya masih mencengkram kuat tangan Baekhyun sementara pinggulnya masih bertahan tertahan mendorong miliknya untuk tetap pada posisi yang sama agar Baekhyun terbiasa dengan kehadiran miliknya didalam lubangnya.
Chanyeol menarik miliknya keluar perlahan – lahan ketika Baekhyun mulai membalas ciumannya, ketika ia melesakkan miliknya kembali masuk dan Baekhyun melenguh pelan, ia melakukannya lagi dan semakin bersemangat untuk mencium bibir itu dan juga mulai bergerak lebih mengeluar masukkan miliknya.
Baekhyun masih menuntut ciuman pada bibir dan lehernya ketika ia merasakan kenikmatan yang Chanyeol lakukan dibawah sana meskipun matanya masih terpejam erat enggan untuk melihat apa yang dilakukan Chanyeol hingga bisa membuatnya melenguh nikmat.
"Aaaahhh—aahhh—ahh."
Suara mereka saling beradu kencang.
"Buka matamu sayang."
"Aaaahh—mmhhmm." Baekhyun masih bertahan menutup matanya tapi kini ia mencari bibir Chanyeol untuk ia lumat sebagai pelampiasan getaran yang sulit ia ungkapkan merasakan ketika titik dalamnya merasakan jelas milik Chanyeol yang terus masuk dan menyentuh bagian sensitive disana.
"Ngghhh." Chanyeol mengerang. Tangannya mencengkram keras papan ranjang diatas kepala Baekhyun, gerakkan semakin kasar dan juga bergerak cepat tak terkendali ditambah dengan suara lenguhan Baekhyun dan gerakkan yang dilakukan istrinya itu yang menggeliat dan merengkuh pinggulnya ketika Baekhyun mencapai pelepasannya.
"Chanyeol.." Baekhyun melenguh merasakan seluruh badannya terasa lemas. "Mmmhh.." Matanya mulai terbuka dan langsung berhadapan dengan manik mata Chanyeol yang masih bergerak berusaha mencapai kenikmatan untuk dirinya. Baekhyun mendongakkan kepalanya merasakan aliran dari dalam dirinya yang bergetar lebih hebat dan juga sesak merasakan milik Chanyeol bergetar didalam lubangnya sementara pria itu kini menjatuhkan kepalanya pada bahunya dengan nafas yang tidak teratur.
Baekhyun mengedipkan matanya berkali – kali dengan bibirnya yang ia gigit pelan. Tangannya bergerak mengusap punggung belakang Chanyeol, merasakan basah akan keringat dan juga begitu tegangnya otot – otot disana.
"Chanyeol..?"
"Hm."
"Apa sudah selesai?" Baekhyun bertanya pelan.
"Kenapa?" Chanyeol mengangkar badannya yang sebelum menindih badan Baekhyun, matanya melihat kearah mata kecil yang berkedip cepat dan memandanginya dengan begitu malu. Pipi Baekhyun yang begitu terlihat menggemaskan bahkan kini mulai merona dan ia tutupi dengan kedua tangannya.
"Kenapa? Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Baekhyun mengigit bibirnya lagi, menarik pelan wajah Chanyeol hingga semakin dekat dengan wajahnya. Tangannya mengusap pipi wajah Chanyeol, Baekhyun mengerutkan hidungnya yang mana semakin membaut Chanyeol yang melihatnya semakin gemas.
"Boleh lakukan lagi?"
- Loves of Tales-
Yixing bersandar pada jendela kamar hotel dimana ia tempati malam ini memandangi rintikkan hujan dan beberapa kilatan yang terlihat saling bergemuruh menghiasi gelapnya langit. Secangkir teh hangat masih berada pada genggaman tangannya yang sesekali ia sesap. Senyumannya terbentuk entah karena apa dan ia tidak peduli pada pasang mata dari Jongade, Sehun dan juga Suho yang memperhatikkannya sedari tadi.
"Kenapa dengan dia sebenarnya?"
"Biarkan saja, dia sama gila-nya dengan kakakku." Sehun yang menjawab pertanyaan yang diucapkan Suho.
"Ya, Yixing dan Yoora memiliki tontonan menarik untuk dirinya sendiri."
Mereka bertiga menganggukkan kepala mencoba mengerti dan mengabaikan Yixing dengan dunianya sendiri.
