Chapter 13

Kenyataan dan Kebohongan (Part 3)

.

Jadi setelah meninggalkan kamar apartemennya Blaze pun bergegas turun ke bawah secepat mungkin. Siapa sangka Ice yang biasanya mageran ternyata sudah lebih dulu menunggunya di sana. Sembari menyamakan langkah keduanya secepatnya keluar dari dalam halaman rumah susun bertingkat dua tersebut untuk menuju tempat perjanjian mereka hari ini.

Yaitu halte bus yang terletak tepat di depan kompleks perumahan mereka.

Untuk menghindari kecurigaan mereka berangkat terpisah-pisah. Lalu Yaya yang sudah lebih duluan ada di sana bersama adiknya terlihat tengah menanti kedatangan dua bocah dengan penampilan kontras, biru dan merah itu.

Derap langkah keduanya pun segera memecah keheningan di sana, hingga membuat gadis dengan kerudung pink itu membalikkan tubuhnya. Ia pun tersenyum begitu mengetahui itu adalah Blaze dan Ice yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu kehadirannya. "Blaze-kun! Ice-kun! Selamat pagi!" sapanya ceria sembari melambaikan tangannya dengan tinggi ke udara.

"Pagi Nee-san!" yang segera dibalas oleh kedua anak itu dengan tak kalah bersemangatnya.

Sembari tersenyum gadis berjilbab itu langsung menghampiri keduanya. "Wah... Kau benar-benar bisa ikut hari ini, kupikir tadinya kau akan tinggal Blaze-kun. Ngomong-ngomong kau sudah izin dengan Kakakmu kan?" dan menanyakan hal yang sangat tidak terduga.

Blaze bergidik seketika itu juga, bulu kuduknya sampai merinding saat Yaya bertanya soal itu. "S–Sudah kok... Katanya nggak pa-pa" jawabnya terbata-bata

Yaya nampak mengernyit sembari menempelkan tangannya ke dagu dan memasang pose berpikir. "Tumben sekali Hali-kun ngasih izin." Gumam gadis itu.

"E–Entahlah... Mungkin dia kesambet sesuatu kali" sahutnya bocah bermata merah itu lagi.

Sementara itu, Ice di sampingnya hanya bisa memperhatikan dengan tatapan yang seperti berkata 'yang bener aja loe'. "kayaknya gak izin sama sekali deh" batinnya berkomentar.

~M.A~

Beberapa saat kemudian, setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka sampai pada terminal pertama menuju tujuan mereka.

"Oi, ini seriusan kita mesti lewat sini?" ujar Blaze penuh keraguan menatap pada adik dari Yaya yang ada di hadapannya.

Mereka berempat tampak berdiri mengelilingi sebuah penutup saluran air limbah bawah tanah pada sebuah pojokan gedung yang begitu sepi.

"Mau gimana lagi, menurut petunjuk dari foto-foto acak yang ada di memory card, markas komplotan itu ada di dalam gunung dan satu-satunya jalan ke sana harus lewat bawah tanah. Yang terakhir, petunjuk itu mengarahkan kita kesini" sahut Totoitoy menganggapi dengan agak malas sambil membuang nafas berat.

"Memang sih, kalau dilihat dari posisinya tidak akan ada yang memperhatikan jika seseorang keluar masuk lewat sini" timpal Yaya berpendapat.

Blaze pun meluruskan punggung dan berbalik menghadap arah lain. "Tapi apa nggak ada jalan lain? Terowongan gitu. Kita nggak bisa seenaknya ngebongkar fasilitas umum" protesnya dengan begitu cerewet.

"Udah kebuka tuh" Namun kemudian Blaze sukses dibuat bungkam, ketika ia berbalik dan mendapati Ice sudah memegangi piringan besi bulat berat yang merupakan penutup dari lubang menganga di bawah. Sepertinya selagi Blaze asik mengoceh ini itu, Ice justru sibuk berjongkok dan mengutak-atik penutup got di bawahnya. "Penutupnya longgar, sepertinya karena sering dibuka tutup. Tidak salah lagi, pasti ada orang yang lewat sini" tambah Ice dengan wajah datar.

"Tunggu apa lagi? Ayo kita masuk" ajak Totoitoy. Tanpa ragu bocah itu duluan memijakkan kakinya pada panjatan besi yang tertempel pada dinding beton gorong-gorong tersebut.

Disusul oleh Yaya, dan kemudian Ice.

"Ayo cepat, ntar kami tinggal lho" ancam Ice pada Blaze yang nampak masih termenung di sana.

Bocah bermanik jingga kemerahan itu pun tersentak di tempat dan sontak tersadar. "T–Tungguin dong!" dengan terburu-buru ia pun langsung menyusul ketiga orang yang sudah lebih dulu turun darinya.

Begitu sampai ke bawah, tampaklah sebuah lorong besar dengan selokan lebar pada bagian tengah yang dialiri oleh air keruh yang cukup berbau menyengat. Sebenarnya gorong-gorong itu bersih, hanya saja beberapa sudut licin karena ditumbuhi lumut dan kondisinya gelap total, membuat tempat ini begitu mencekam.

Namun semua hal-hal mengerikan itu diabaikan oleh Totoitoy. Seperti tak ada masalah apa pun dia pun menyalakan senter dan berjalan lebih dulu memimpin rombongan mereka. "Ayo." Perintahnya dengan tegas. Yang lain termasuk Kakaknya pun hanya menurut, mengikuti langkah kakinya menyusuri tepian saluran got dengan sebuah senter sebagai penerangan di tangan masing-masing. Ice di urutan kedua, Yaya ketiga dan Blaze berada di paling belakang.

"Toto, kau tahu kita mau kemana?" tanya Yaya.

"Tau kok. Petunjuk berupa foto yang diberikan oleh Hitougami-san itu sudah menunjukkan rutenya dengan sangat jelas. Aku mencocokkannya dengan peta dari saluran air bawah tanah. Dan dapatlah jalan menuju markas rahasia itu" jelas Totoitoy.

"Dan kau melakukannya hanya dalam satu malam? Hebat..." sanjung Kakaknya.

"Ya... Aku dibantu beberapa orang dari timku sih. Aku yakin sekali mereka sudah tepar sekarang" sahut bocah itu lagi. Sedangkan gadis di belakangnya hanya bisa menyengir gaje mendengar ceritanya.

Setelah beberapa saat aksi diam pun terjadi. Keempatnya terus fokus untuk tetap berjalan, hingga tiba-tiba...

KLAANG!

Ada suara benda terjatuh yang begitu keras dan sukses mengagetkan mereka semua "Apa itu! Hantu!?" Panik, Blaze langsung menoleh ke belakang dan menyorotkan cahaya lampu senternya ke segala arah. Hingga akhirnya ketemulah asal muasal dari suara keras tersebut.

Rupanya hanya seekor tikus got besar yang barusan terjatuh dan menimpa pipa stainless pada dinding. Makhluk itu berdecit kaget ketika sinar dari lampu senter itu menyorot langsung ke arahnya. Tanpa ancang-ancang lagi ia langsung meloncat ke dalam selokan di hadapannya.

"Cih..." decih Totoitoy yang melihat reaksi berlebihan dari Blaze, ia bahkan sampai tersenyum sinis. "Makhluk gaib yang aneh" sambungnya berkomentar tentang bocah vampir bermata merah di belakangnya tersebut dengan sarkastis seraya memunggungi dengan cuek.

"Ughh..." sedangkan yang dipunggungi cuma bisa menggerutu lemah, malu dengan kejadian barusan.

~M.A~

Kemudian perjalanan pun dilanjutkan. Agar tidak mengulang kejadian konyol yang cukup menghambat barusan, posisi mereka pun ditukar menjadi Ice di depan, disusul oleh Blaze, Yaya dan terakhir Totoitoy.

Jangan khawatir meskipun tidak tahu arahnya ke mana, sensor dari panca indra milik Ice jauh lebih berguna. Penciumannya tajam, ia bisa mendengar bahkan walau hanya sebuah jarum yang jatuh di seberang tembok, penglihatannya bagus di dalam gelap, dan insting mencari arahnya kuat. Makanya sekarang dia memakai wujud separuh silumannya.

"Oi Ice, kau beneran tau harus ke mana?" selidik Blaze kurang yakin.

"Jangan ngeremehin aku. Begini-begini aku masih bisa mendengar dan mencium sesuatu dari jarak jauh. Jadi tolong diam, kau mengganggu konsentrasiku" Sahut Ice agak sarkartis

"Iya, Iya..." ujar Blaze yang kemudian dengan seenaknya meremas ekor putih milik Ice.

"Gyaa!" Kucing yang memang secara tipikal kurang suka dipegang bagian buntutnya pasti merasa terganggu. Dan karena Ice itu kucing secara refleks dia berbalik, memasang wajah garang sambil mengayunkan kedua tangannya untuk mencakar. Dengan cepat Blaze pun melepaskan pegangannya demi menghindar dari serangan kuku-kuku tajam tersebut. "Berapa kali kubilang jangan pegang ekorku! Kau selalu saja begitu, dasar tidak sopan! Aku udah nggak bisa tolerir kali ini, kalau kau lakukan itu lagi aku akan mencakar hidungmu, ngerti!" seru bocah bermanik aquamarine itu terdengar begitu marah.

Namun, bukannya takut Blaze justru terlihat cengengesan, dia seperti senang sekali menjahili sahabatnya itu. Sementara kakak-beradik di belakang mereka cuma bisa nyengir dan memasang wajah datar melihat tingkah keduanya.

.

.

Setelah perkelahian konyol beberapa saat sebelumnya, mereka pun melanjutkan penelusuran pada gorong-gorong tersebut. Rasanya sudah cukup lama, bahkan beberapa jam mereka berada di tempat lembab dan gelap tersebut.

"Ice, masih jauh ya?" keluh Blaze.

"Sebentar lagi sepertinya kita sampai." Sahut Ice datar.

"Kau sudah mengatakan itu sepuluh menit yang lalu!" protes bocah berjaket merah itu lebih lanjut.

"Oi bisa nggak kau tenang? Kalau sampai kita ketahuan gimana?" omel Totoitoy padanya.

"Udah dong, kalian jangan berantem" lerai Yaya menengahi perkelahian para bocah-bocah SMA tersebut.

Blaze dibuat kembali menggerutu lesu, sampai tidak melihat arah depan hingga tak sengaja menabrak orang di depannya. Bocah itu sontak mengaduh kesakitan sembari mengusap kepalanya yang barusan terantuk dengan kepala Ice. Diperhatikannya jika Ice sudah berhenti berjalan dan malah melihat ke arah atas.

"Di sini..." gumam Ice.

Yup, mereka sudah sampai. Di atas sana nampak sebuah piringan penutup selokan dari besi. Beda dengan grating yang mereka jumpai di awal, yang ini punya lubang udara.

.

Pelan-pelan piringan besi itu didorong dan digeser ke arah luar oleh bocah bermanik aquamarine tersebut. Setelahnya dia pun memanjat ke luar, disusul tiga orang lain yang masih berada di bawah. Begitu sampai mereka menemukan sebuah lorong besar yang dibuat dari hasil galian tanah di bawah gunung. Karena terdapat lampu dengan kondisi menyala sepertinya memang ada orang yang hidup disini.

(PS : Saat Ice keluar dari sana, dia sudah memakai wujud normalnya)

Tapi kondisinya sunyi sekali, mungkin pemiliknya sedang tidak ada di markas.

"Ayo..." desir Totoitoy pelan. Dengan isyarat tangan ia pun mengajak yang lain maju perlahan, dan sebisa mungkin untuk tidak membuat suara yang berarti.

Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan besar di ujung lorong tesebut, terdapat puluhan buah komputer pada satu sisi dinding bahkan sampai ke langit-langitnya. Yang melihatnya tentu terkagum-kagum sekaligus merasa ganjil, sebenarnya proyek apa yang dikerjakan hingga dibutuhkan perangkat elektronik sebanyak ini.

Tidak ada waktu untuk memikirkan itu, selagi masih sepi mereka harus bergerak. Totoitoy pun dengan cepat menyalakan salah satu perangkat tersebut kemudian coba membongkar datanya.

Selagi adiknya sibuk menghacking komputer seseorang, Yaya lalu lalang di sekitar ruangan tersebut, hingga menemukan sebuah pintu menuju ruangan lain. Karena penasaran akhirnya ruangan itu pun dimasuki olehnya. Tempat itu minim sekali akan cahaya, namun ia terus masuk ke sana tanpa memedulikan ancaman yang bisa saja datang.

Di saat bersamaan Totoitoy tampaknya sudah berhasil membongkar data dalam software komputer itu. Ia pun menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. "Ini..." gumamnya kaget.

Blaze yang sejak tadi mendampinginya pun sampai dibuat syok saat secara tidak sengaja ikut melihatnya. "Tidak mungkin..."

.

Sedangkan Yaya yang saat itu berada di dalam ruangan aneh barusan hampir dibuat pingsan sambil berdiri ketika melihat apa yang sebenarnya ada di dalam sana. "Apa... ini?" gumam gadis itu dengan reaksi jijik dan ketakutan.

Karena di depannya ada puluhan tabung besar berisi cairan, di tengahnya ada sesuatu yang berbentuk seperti janin manusia namun memiliki anggota tubuh tambahan layaknya siluman. Jumlahnya pun tak sedikit, ada puluhan tabung dengan isi yang sama. Kondisinya tak bergerak dan tak bernapas, lebih mirip mumi. Kemungkinan mereka merupakan objek percobaan yang gagal.

.

Lalu yang dilihat oleh Totoitoy serta Blaze pada data komputer tersebut adalah.

"Proyek X. Uji penciptaan. Nomor eksperimen 110. Sukses." Gumam Adik dari Yaya tersebut membaca tulisan yang tertera pada layar komputer tersebut. Data itu bukan hanya berisi tulisan namun juga foto dan riwayat secara mendetail. Yang mengejutkan eksperimen itu baru berhasil menciptakan gadis yang berupa kloning dari makhluk gaib tersebut baru satu tahun yang lalu.

"Shiella...?" desir Blaze, sungguh tak percaya jika temannya merupakan hasil percobaan ilegal berupa makhluk buatan. Terlebih lagi ia adalah hasil uji yang berhasil setelah 109 kali kegagalan selama 9 tahun sejak 10 tahun yang lalu. Kalau begitu 3 tahun ingatan mereka selama masa SMP itu apa?

.

"Kejam..." gumam Yaya gemetaran seraya menangkupkan kedua tangannya di depan mulutnya. "Kenapa... ada orang yang melakukan sesuatu sampai sejauh ini...?"

Terlalu fokus pada apa yang ada di hadapannya, si gadis pun tidak menyadari sosok lain yang juga sedang berada di ruangan tersebut. Seorang pria tiba-tiba muncul dari belakang salah sebuah tabung, tubuhnya tinggi besar dan amat berotot selain itu pada punggungnya terpasang semacam alat besar dengan beberapa buah tangan mekanik yang entah untuk apa fungsinya. Secara perlahan ia mendekat hingga sampai tepat di belakang si gadis berjilbab yang terlihat masih cukup syok, dan bersiap menghantamnya dengan sepasang tangan besar miliknya.

"NEE-SAN AWAS!" jika saja Ice tidak datang tepat waktu dan berhasil menubruknya hingga terpental.

Yaya kaget dan dengan refleks menoleh. Saat disadarinya, orang itu sudah terlempar kencang sampai menabrak dinding di ujung ruangan tersebut.

"Nee-san, kau nggak pa-pa!?" seru Ice di sampingnya begitu panik. Karena masih agak kebingungan, Yaya hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kikuk.

'GUSRAK'

Sesaat kemudian karena suara tersebut, baik Yaya maupun si bocah bermanik aquamarine itu dibuat menoleh ke arah tembok tadi. Dapat dilihat jika si pria mulai bangkit keluar dari dalam bolongan tembok yang tak sengaja terbentuk sebelumnya. "Bocah sialan, berani sekali kau menyerangku seperti tadi" ujarnya memaki-maki pada Ice sembari menepis debu pada sekujur tubuhnya dengan amat kesal.

Di saat yang sama Ice pun tampak memasang posisi siaga untuk melindungi orang yang ada di sampingnya. Tanpa menoleh ia pun berujar kepada Yaya. "Nee-san... Maaf. Bisakah kau tutup matamu sebentar? Aku tidak ingin membuatmu... melihat sesuatu yang menyeramkan" saat itu ia mendelik, hingga Yaya bisa melihat jika bintik hitam pada matanya sudah berubah, menyempit runcing layaknya mata kucing.

Ia pun berlutut sambil menumbuhkan kembali ekor serta telinganya, dan membuat gestur tubuh setengah merangkak. "MEAOWRRR! grrr... HIISSS!" Dia mengeong kencang, selain itu juga menggeram dan mendesis dengan sangat keras. Tingkahnya benar-benar seperti kucing jantan yang sedang berkelahi saja.

Bahkan Yaya saja dibuat tercengang. Sejauh yang ada, belum pernah dia melihat bersikap selayaknya hewan seperti ini.

Dari ujung sana si musuh bertubuh besar nampak menyengir remeh, ia melakukan peregangan sejenak dari tangan sampai leher. Diikuti sebuah teriakan kencang dia pun berlari dengan cepat ke arah si bocah kucing. Ice yang sengaja tak menghindar pun akhirnya jadi beradu tubuh karena bertabrakan.

Si pria melempar tubuh mereka berdua sampai keluar, menyebabkan mereka menabrak dinding dan membuat pembatas ruangan itu hancur. Alhasil yang ada di ruangan sebelah, Totoitoy dan Blaze dibuat terkejut, padahal saat itu si adik dari Yaya tengah sibuk menyalin data dari komputer ke flashdisk miliknya.

"Ada apa!?" kaget Blaze.

Saat mereka berbalik, mereka mendapati Ice tengah bertarung dengan sosok bertubuh besar, parahnya dia terjepit di bawah.

"Nekomiya!?" seru Totoitoy tak kalah terkejutnya.

Sementara itu, lawan dari bocah nekomata itu sibuk mengunci gerakannya sampai Ice tidak berdaya membalikkan posisi mereka. Si musuh menyengir puas sampai secara tiba-tiba bocah di bawahnya mulai mencengkeram kerah baju yang dipakainya, lalu dengan sekuat tenaga melemparnya ke samping hingga akhirnya menabrak dinding kembali.

Ice bangun, memaksakan tubuhnya berdiri tegak walaupun sekujur kakinya terasa sangat lemas.

Tak lama kemudian musuhnya pun ikut bangkit kembali. Pria itu menatap sekitarnya dan tak sengaja mendapati layar komputer dengan kotak yang di dalamnya ada garis hijau, itu berarti sedang ada proses pemindahan data ke perangkat lainnya. "Kalian bocah-bocah sialan!" geramnya. Sekarang dia sangat marah sampai ingin menyerang dua bocah SMA yang sedang berdiri tepat di depan komputer tersebut.

"Mampus kita!" seru Blaze panik.

Sayangnya, Ice berhasil menahannya. Alhasil bocah kecil itu pun harus beradu ketahanan dengan orang yang bertubuh besar darinya layaknya sebuah permainan gulat "Aku akan menahannya, teruskan!" serunya kencang.

"Biar kubantu, Ice!" sahut Blaze tak kalah nyaringnya.

"Ughh... Seranganmu kuat, tapi damage nya kecil! Nggak banyak pengaruh buat serangan fisik! Mending kau diam aja di sana!" tolak Ice keras, lengkap dengan penjelasan logisnya. Hingga Blaze sukses dibuat memanyunkan bibirnya dengan kesal.

Namun kemudian hal yang ditakutkan pun datang. Ice mulai kehabisan tenaga. Perlahan sedikit demi sedikit tubuhnya terseret mundur karena tak kuat melawan dorongan berkekuatan penuh dari tubuh lawannya. Tapi dia tidak boleh menyerah. Jika dia sampai kalah maka mereka semua akan hancur di sini. "ARGGH!" Bocah itu menjerit keras. Sesaat kemudian warna hitam pada rambutnya luntur tergantikan oleh warna keperakan, namun tak sampai keseluruhan dari helai rambutnya, hanya pada ujung dari bawah sampai ke bagian tengah. Sepertinya Ice terpaksa harus menggunakan cadangan energi yang ia simpan pada tiap helai rambut di atas kepalanya.

Hasilnya kekuatannya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Dengan tenaga sebesar itu, ia pun mengangkat tubuh si pria besar di hadapannya lalu melemparkannya ke udara. Dan untuk ketiga kalinya orang itu terhempas dan menabrak dinding.

Totoitoy yang sedari tadi memperhatikan pun serasa dibuat tak mampu berkata-kata. "H–Hebat..."

"Mantap jiwa..." begitu pun Blaze yang ada di sampingnya, hanya bisa berkomentar singkat.

Sayang, seperti tidak kenal rasa sakit pria itu kembali berdiri tegak dan bersiap menyerang kembali. Namun Ice lebih cepat, bocah itu menerjangnya hingga mereka berdua terguling di tanah. Posisinya sekarang berada di atas dimana kedua tangannya mencengkeram kuat leher si pria besar. Tapi sesaat kemudian keadaan dibuat berbalik saat orang itu dengan satu tangan ikut mencengkram leher bocah di atasnya. Ice yang kalah dari segi ukuran dengan mudah diangkat oleh pria berotot besar tersebut. Tubuhnya pun dibanting dengan keras ke tanah.

"ICE-KUN!" jerit Yaya panik.

Bocah kucing itu terlihat semakin dalam masalah, cekikan kuat pada lehernya membuatnya kesulitan bernafas. Kalau hanya rasa sakit masih bisa ditahan, tapi beda ceritanya kalau kehabisan nafas. Perlahan tubuhnya yang awalnya tegang mulai lemas.

Melihat kawannya dalam bahaya, sang sahabat pun tak tinggal diam. Walau sudah dilarang Blaze tetap menyerang dengan melemparkan beberapa bola berpijar panas ke punggung pria tersebut. Dia berharap perhatian orang itu teralih hingga Ice bisa melepaskan diri.

Sayangnya, orang yang satu ini benar-benar tidak tahu rasa sakit, seolah kulitnya itu keras layaknya badak. Serangan Blaze bahkan tak berarti apapun baginya.

"Mustahil! Seranganku gak mempan!" kaget Blaze tak percaya.

Yaya pun sama, tak mau hanya diam di tempat membiarkan bocah itu terbunuh pelan-pelan. Gadis itu pun melesat ke arah si pria bertubuh besar. Dengan begitu marah dia bersiap mengayunkan pedang sabernya. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya asalkan anak itu bisa selamat.

Namun belum sempat ia berhasil mendaratkan serangan, orang itu lebih dulu menangkapnya, mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya ke udara. Gadis itu pun tidak berkutik karena senjatanya sudah terlepas dari tangannya beberapa saat yang lalu.

Karena fokus pada si gadis, cengkeraman pada leher bocah itu sedikit melonggar dan membuat Ice bisa bernafas dengan sedikit lega. Tapi sesaat kemudian bocah itu melihat ke arah Yaya yang malah jadi korban selanjutnya menggantikan dirinya.

Tentu dia amat sangat terkejut. Ingin dia melepaskan diri untuk menolong gadis tersebut, namun tubuhnya begitu lemas, mengangkat kepala pun rasanya tak sanggup.

Tapi kalau begini terus Yaya bisa...

Ini salahnya.

Ini karena dia lemah.

Sehingga gadis yang ia cintai malah mengorbankan diri untuknya.

Dalam kepanikan yang menghampiri sedikit demi sedikit kesadarannya mulai memudar, semakin tenggelam pada kegelapan alam sadarnya.

Dan sesaat kemudian, tiba-tiba saja bocah itu mencengkeram lengan si pria, kemudian menggigitnya dengan sangat kuat hingga kulitnya robek. Si pria pun kaget dan sontak menjauh. Darah mengalir cukup deras dari luka terbuka pada lengannya.

Sementara Yaya yang tertangkap sebelumnya langsung ia lempar ke sembarang arah dan dengan cepat ditangkap oleh Blaze.

"Nee-san!" seru anak itu panik.

Yaya mengernyit lemah. Saat matanya terbuka ia menemukan Blaze tengah memangku tubuhnya dengan tatapan begitu risau. Kemudian secara bersamaan mereka menoleh pada Ice dan dibuat terkejut setengah mati.

Bocah di depannya itu tampak bangkit dengan gumpalan darah masih tertempel pada mulutnya, bahkan barusan ia menelannya. Dan sekarang ia tampak memasang posisi tubuh setengah merangkak, telinganya sejajar kepala dan ekornya tegak mengembang yang merupakan posisi bertarung seekor kucing.

Aneh bukan? Padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini.

Rupanya Ice pingsan hingga tak disadarinya sesuatu mengambil alih kontrol tubuhnya.

Apa itu?

Mungkin bisa dibilang itu naluri alamiahnya sebagai hewan yang agresif.

Lalu insting yang mengambil alih bocah itu mengerahkan si pemilik tubuh untuk menyerang. Bocah itu seketika menerjang dan menerkam orang besar di depannya. Si pria sempat melawan sebelum akhirnya kehabisan tenaga yang disebabkan juga karena menahan sakit. Kesempatan itu digunakan Ice untuk mencengkeram lehernya dan mendorong orang itu hingga kembali menabrak dinding. Dua tangan pada leher mencekik dengan erat hingga tak kan bisa dilepaskan lagi. Keadaan seolah berbalik drastis dengan lepas kendalinya bocah kucing itu

Tapi ini sudah berlebihan, jika diteruskan ia bisa membunuh orang itu.

"Nekomiya, hentikan! Kau akan membuatnya terbunuh!" peringat Totoitoy keras

"Ice!" seru Blaze tak kalah nyaring tuk coba menyadarkan anak itu.

Namun telinganya seolah tertutup, dia tidak mendengarkan kata-kata dari teman-temannya. Yang ada ia justru menyengir panjang dengan wajah begitu puas. Kedua manik aquamarine miliknya tampak memancarkan sinar kebiruan. Jika kalian melihat ekspresinya sekarang, kalian tidak akan percaya jika ia adalah Ice.

Benar, dia bukan Ice.

Yaya pun tidak tahan jika melihatnya. Dengan sekuat tenaga gadis itu berteriak coba memanggil namanya

"ICE-KUN! SUDAH!"

Seolah terpanggil seketika itu juga sang bocah kucing terdiam. Benar-benar keajaiban, kata-kata itu sampai ke alam bawah sadarnya dan dengan cepat menarik akal sehat anak itu keluar.

Setelah kesadarannya kembali, kenyataan yang ditemukan Ice sangat mengejutkan. Ia menemukan dirinya tengah mencengkeram leher seseorang dengan begitu ganas sampai tak mampu bernapas dan urat-uratnya menegang. Cepat-cepat dibukanya kepalan tangannya dan dilepaskannya genggamannya. Tubuh pria itu merosot dengan begitu lemah, sedangkan ia mundur dengan teratur.

Dengan begitu syok Ice menjatuhkan badannya hingga terduduk di atas tanah. Diperhatikannya kedua belah tangan dengan kuku-kuku tajam miliknya, penuh baret dan berlumuran darah, entah itu darah miliknya atau musuhnya, ia pun tidak tahu.

Tatapan beralih pada orang yang menjadi lawannya sebelumnya. Dia melihat pada Ice dengan wajah ketakutan seperti melihat sesuatu yang sangat mengerikan, sebelum akhirnya lari tunggang lantang keluar dari dalam ruangan tersebut. Dan membuat Ice yakin jika dia benar-benar adalah monster.

Yaya yang khawatir mendekat dan menghampirinya. Gadis itu mengulurkan tangan coba menyentuh bahunya. "Ice-kun..." panggilnya pelan.

Ice yang menyadari panggilannya dengan segera memalingkan wajahnya menjauh "Jangan dilihat! Jangan mendekat! Jangan sentuh aku!" serunya.

"A–Ada apa denganmu, Ice-kun?!" tanya Yaya agak terkejut.

"Nee-san... Kau nggak takut denganku...?" sahut Ice dengan suara bergetar hampir menangis.

Yaya menggeleng sambil tersenyum dengan begitu lembut. "Aku tidak takut kok. Habisnya, apa pun yang terjadi Ice-kun tetaplah Ice-kun"

Ice sontak menoleh padanya dengan kedua mata terbelalak lebar. Siapa sangka Yaya langsung mengelus kepalanya sambil berjongkok untuk menyamakan ketinggian mereka. "Tenang ya...? Sudah tidak apa-apa." Katanya coba menenangkan bocah di depannya.

Anak itu diam sejenak, merasakan nyamannya pijatan kepala yang diberikan oleh gadis berkerudung itu. Tubuhnya mulai rileks dan perlahan senyuman kembali terukir pada bibirnya.

"Nee-san–"

Namun belum lama mereka bisa bersuka cita, bocah itu kembali kehilangan kesadaran.

"Ice-kun?" Yaya pun dengan sigap menangkap tubuhnya agar tidak menghantam lantai dengan keras. Penyebabnya kali ini bukan seperti tadi, melainkan bau aneh yang ada di seluruh ruangan itu. Bahkan Totoitoy dan Blaze sudah terkapar di ujung sana.

Yaya mengendus dan coba mengenali apa penyebabnya, lalu dengan cepat menangkupkan tangannya pada hidung "Bau eter? Jangan-jangan ini... Kloroform..." Gadis yang merupakan mahasiswi jurusan kimia ini tentu kenal dengan bahan pembuat obat anestesi tertua ini. Pada pengaplikasiannya senyawa ini akan bekerja setelah dihirup selama 5 menit, yang berarti uapnya memang sudah sedari tadi disemprotkan.

Sayangnya efek bius ini mulai bekerja padanya, tubuh gadis itu pun ambruk dan perlahan mulai kehilangan kesadarannya.

~M.A~

Beberapa saat kemudian Yaya pun mulai sadar kembali. Samar-samar ia bisa merasakan tubuhnya terbaring pada sesuatu yang empuk dan agak kasar, ia juga melihat langit biru dan pepohonan, terdengar pula suara deburan ombak memecah karang. Kebingungan untuk mencerna keadaan, gadis itu bangkit dengan kepala yang masih agak pening, mungkin karena efek bius itu masih sedikit bekerja.

"Eh?" Begitu membuka matanya, ia pun terkejut menemukan dirinya sudah berada di pantai dengan lautan luas terhampar di hadapannya. Tak hanya itu saja, adik serta bocah-bocah tetangganya pun juga ada di sini bersamanya dengan keadaan masih terlelap.

Gadis itu pun cepat-cepat bangkit dan langsung membangunkan mereka satu persatu. Dia pun mulai dengan membangunkan adiknya lebih dahulu. "Toto! Toto! Bangun!" katanya panik sambil menggoyangkan tubuh bocah itu. Saat anak itu merespons panggilannya dan mulai tersadar, Yaya beralih membangunkan Blaze dan Ice secara bergantian.

Totoitoy bangun sembari mengusap kepalanya yang masih terasa sakit. "Ugh... Kita ada di mana ini, Kak?" ringisnya.

"Entah lah. Saat sadar kita semua sudah ada di sini" jawab Yaya seadanya.

"Gawat... Kelihatannya sekarang kita sangat jauh dari kota. Pertama-tama kita coba cari bantuan dulu" katanya. Bocah itu pun langsung mengeluarkan ponsel pintarnya dari kantong. Tapi saat melihat layarnya ia malah berdecak. "Tidak ada sinyal..." gumamnya. Tidak ada harapan untuk handphone nya Totoitoy pun ganti melihat pada yang lain.

Yaya menatapnya balik dengan kening berkerut. "Punyaku juga" ujarnya.

Berganti dari Yaya mereka menoleh pada dua bocah di ujung sana. Namun sama saja, Ice hanya bisa menggeleng lemah dan Blaze...

"Ha Pe ku mati." katanya enteng, tanpa beban.

"Pasti karena nggak kau charge kan tadi malam? Kebiasaan." sindir Ice.

"Aku lupa!" bentak Blaze tak mau kalah.

"Sudah, Sudah! Jangan bertengkar dalam keadaan seperti ini!" tegas Totoitoy menengahi keduanya sebelum mereka berkelahi terlalu jauh.

"Biarku periksa dulu tempat ini" sambil mengatakan itu ia mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari balik jaketnya. Asap langsung mengepul ketika ia membukanya lalu dari gumpalan asap putih itu muncul sebuah boneka kayu berbentuk burung dengan paruh bengkok. Makhluk itu pun bertengger pada lengan bocah itu. "Tolong ya. Togo!" perintah bocah itu sambil melemparkan si boneka kayu ke udara.

Benda buatan itu pun melesat cepat ke langit dan terbang memutari tempat itu hingga beberapa kali, sebelum akhirnya kembali bertengger pada lengan pemiliknya. Makhluk itu seperti bicara dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti olehnya dan Totoitoy saja.

"Togo bilang kita berada di pulau terpencil yang jauh dari tempat tinggal manusia" terang Totoitoy.

"APA!"

"J–Jadi kita harus gimana sekarang?" tanya Blaze panik.

"Sepertinya kita terpaksa harus tetap bertahan hidup di sini sampai ada bantuan yang datang" jawab Totoitoy.

"Apa tidak bisa kita mengirim pesan darurat dengan boneka Kakaktua itu?" ucap Yaya bertanya.

"Mustahil. Jarak kendali bonekaku hanya sampai lima ratus meter, di luar dari itu mereka tak kan bisa bergerak" jelas Totoitoy.

"Sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Tapi aku penasaran, dari tadi kuperhatikan sepertinya di atas tebing sana ada benda buatan manusia" ujar Ice sambil menengok ke arah atas menuju tengah pulau, dimana terdapat sebuah gunungan curam di tengah lebatnya pepohonan hutan. "Apa harus kita periksa?" sambungnya bertanya.

~M.A~

Jadi setelah berunding beberapa saat, keputusan akhirnya bulat dengan pilihan untuk memeriksa bangunan buatan manusia yang dimaksud oleh Ice sebelumnya. Mereka berempat pun harus melewati medan yang cukup sulit, menerobos rimbunnya hutan dan mendaki jalanan terjal untuk menuju puncak tebing.

Saat hampir mencapai ke sana, tiba-tiba Ice berhenti dan membuat semua orang di depannya terdiam.

"Ada apa, Ice?" tanya Yaya.

Ice diam, hidungnya seperti mengendus sesuatu dan saat ini tengah mencari sumbernya. "Ada bau air..." katanya.

"Itu sudah pasti kan. Secara saat ini kita dikelilingi oleh laut" sanggah Totoitoy.

Namun Ice menggeleng. "Bukan... Yang ini tawar" sangkalnya.

Sontak tiga orang yang lain saling berpandangan satu sama lain dengan wajah keheranan. Benarkah ada sumber air di tengah pulau tak berpenghuni seperti ini? Tapi kalau melihat adanya kehidupan flora dan fauna disini, berarti ada kemungkinan.

Kemudian mereka pun mengganti rute sesaat, untuk mengecek benar tidaknya sumber air yang ditangkap oleh indra pembau milik Ice. Dan tak lama kemudian dari balik semak-semak muncul sesuatu yang berkilauan diterpa sinar matahari dan itu adalah...

"Hebat! Beneran ada kolam di sini, tambah lagi airnya jernih banget" seru Blaze terkagum-kagum. "Boleh juga hidungmu itu Ice" gantinya memuji pada bocah berwajah teduh tersebut.

Ice hanya mengangguk dengan wajah datar khasnya.

"Kau hebat sekali Ice-kun!" sanjung Yaya padanya. Ia kembali mengangguk tapi kali ini ekspresinya lain, dia tersenyum dan memblushing selain itu juga mengalihkan pandangan dengan malu-malu.

.

.

Sehabis melihat sumber air dan memastikannya bisa digunakan, perjalanan menuju puncak tebing pun dilanjutkan. Setelah mendaki selama beberapa saat mereka pun akhirnya tiba di atas sana. Apa yang mereka lihat cukup mencengangkan, benar yang dikatakan Ice sebelumnya, memang ada benda buatan manusia di tempat ini.

Bentuknya seperti kubah setengah lingkaran dengan moncong panjang yang menyembul keluar dari dalamnya, dibuat dengan campuran antara semen dan baja. Keadaannya tak bisa dibilang bagus, luarnya berlumut dan bajanya sudah karatan karena dimakan usia. Seperti bekas peninggalan sejarah saja. Dan jumlahnya ada dua buah. Berdiri berdampingan.

"Apa itu?" gumam Blaze bertanya-tanya.

Totoitoy di sampingnya tampak menyentuh dagunya untuk berpikir "Kalau dilihat dari bentuknya sepertinya ini kubah artileri." ujarnya.

"Artileri?" Blaze menatap Totoitoy dengan raut penasaran, baru pertama kalinya ia mendengar istilah itu.

"Kau bisa menyebutnya meriam, misil atau senjata berat apa pun yang bisa digunakan untuk menembak dari jarak jauh." terang bocah berambut abu-abu itu. Blaze mengangguk masih separuh mengerti, hingga Totoitoy pun harus kembali menjelaskan. "Jadi meriamnya diletakkan di sana, lalu satu atau dua orang akan berjaga di dalamnya. Begitu ada kapal musuh terdeteksi mendekati garis pantai mereka akan langsung menembaknya dari sini"

"Woah~ Keren!" seru bocah vampir itu terkagum-kagum.

"Kalau dilihat dari kondisinya mungkin ini sisa dari perang pasifik, bisa juga perang dunia kedua. Entahlah" lanjut adik Yaya itu bergumam.

"Gila, di dalamnya luas banget!"

Hingga tanpa disadarinya jika separuh tubuh Blaze sudah masuk ke dalam kubah penyimpanan senjata perang tersebut. Anak itu keluar masuk seenak jidatnya seolah-olah tempat itu adalah taman bermain.

"HOI! Jangan masuk ke sana seenaknya!" Totoitoy pun sukses dibuat kesal dan mulai mengomelinya.

"Kenapa?"

"Bagaimana kalau meriamnya masih aktif dan kau tidak sengaja menyalakan pemicunya?! Kita bisa dalam masalah besar tahu!"

Namun Blaze hanya memandang santai sambil menangkupkan dagunya. "Eh~ Tapi di dalam sini kosong kok"

Menyerah menghadapi Blaze, Totoitoy pun mendesah keras seraya menepuk dahinya "Apa boleh buat, tadi kau bilang kubah itu kosong kan? Kita bisa itu sebagai pengganti kemah." Ujarnya. "Berarti tinggal masalah makanan saja" lanjutnya bergumam seraya berkacak pinggang.

"Gimana kalau kita memancing? Di sekitar teluk ada banyak ikan" usul Ice padanya.

"Begitu... Tapi kau tahu dari mana?" tanya Totoitoy.

"Burung camar... Burung camar yang bilang begitu" jawab Ice.

"Burung camar? Kau mengerti mereka bilang apa?!" pekik Yaya, kaget. Dan hanya dijawab dengan sebuah anggukan singkat dari Ice.

Totoitoy tampak menyilangkan kedua lengannya dan mulai berpendapat. "Memang sih, tidak seperti manusia, hewan punya cara tersendiri untuk berkomunikasi pada sesamanya. Mengeong, mengaum, melolong, mendecit, berkicau, adalah salah satu caranya. Tapi bukan berarti mereka tidak punya bahasanya sendiri, kita saja yang terlalu dangkal untuk mengerti. Mereka bicara dengan hati nurani, melalui bahasa alam. Benarkan?" tatapnya pada Ice sambil tersenyum.

Dan anak itu pun dibuat mengangguk sekali lagi.

"Kalau begitu, nunggu apaan lagi!? Ice ayo kita lomba lari sampai teluk, yang terakhir sampai adalah telur busuk!" tanpa perlu ancang-ancang bocah api yang satu ini bergegas saja keluar dari pintu masuk dome artileri itu dan lari secepat kilat menuruni tebing menuju ke arah teluk. Sementara Ice menggiring untuk menyusulnya. Sebenarnya bocah kucing ini tidak benar-benar termakan pernyataan dari Blaze, hanya ia ikut saja agar temannya itu punya permainan.

"HOI!" Totoitoy yang melihat tingkah keduanya pun sukses dibuat kembali merutuk amat kesal. "Astaga... Rasanya kayak lagi ngejagain anak TK. Tungguin woi!" tidak peduli lagi dengan apa yang ada di belakangnya dia langsung bergegas menyusul dua bocah yang larinya sudah sangat jauh dan secepat kuda pacuan itu.

Dia sampai lupa dengan Kakak kandungnya sendiri yang sejak tadi hanya diam, tidak tahu harus mengerjakan apa. "Terus fungsinya aku disini itu apaan?" komentar Yaya sambil menatap datar ke arah tiga bocah yang sudah jauh di depannya.

~MA~

Tak butuh waktu lama, Blaze dan Ice sudah sampai di pantai kembali, pada daerah perairan yang diapit oleh dua tebing bebatuan. Ini lah yang namanya teluk, laut yang menjorok ke arah daratan. Hari ini ombaknya besar, biasanya ikan-ikan kecil akan berenang dan terus berdiam diri di area teluk. Persis seperti informasi yang diberikan oleh burung-burung laut tersebut.

Tak berselang Totoitoy juga sampai di sana dengan nafas tak karuan dan dada kembang kempis setelah kelelahan untuk menyamakan kecepatannya dengan dua bocah yang kemampuannya di atas rata-rata manusia(Memang bukan manusia sih).

"Yeay! Adiknya Nee-san yang terakhir! Kau jadi telur busuk!" ejek Blaze padanya.

"Sejak kapan aku jadi ikut permainan kalian?" gerutu adik Yaya itu ngos-ngosan sambil membungkuk memegangi lututnya "Kalian itu minum Lithium ya? Kok nggak ada capek-capeknya gitu" lanjutnya bergumam sendiri.

(Note. Lithium : Isi Baterai/Aki)

"Yosh! Ayo kita menangkap ikan!" seru Blaze begitu bersemangat sampai-sampai mengabaikan pertanyaan Totoitoy, yang memang tidak terlalu penting sih. Ia pun bersiap-siap melepaskan jaket untuk langsung bercebur. Namun ketika ia hendak melepaskan sepatu yang tengah dipakainya, Totoitoy dengan cepat mencegat sambil menarik kerah belakang baju kaosnya, persis seperti sedang menangkap seekor kucing yang mau melompat kabur.

"Eit~ Tidak secepat itu, Tuan terlalu bersemangat. Kita punya pembagian tugas di sini" cegah Totoitoy dengan gaya bak seorang pemimpin regu.

Blaze pun langsung berbalik menatapnya bingung, namun ia tetap mendengarkan arahan yang akan disampaikan oleh bocah berumur lebih muda dua tahun darinya tersebut. Ice pun ikut diam memperhatikan ketika Totoitoy mulai mengarahkan mereka dengan tugas masing-masing.

"Dengar, kita akan berpencar. Nekomiya yang akan bertugas untuk memancing ikan, dengan instingnya dia pasti bisa menangkap ikan dengan cepat. Kau tidak keberatan kan?" konfirmasinya. Ice mengangguk mengiyakan dengan raut yang bisa dipercaya. "Aku akan mengumpulkan kayu dan daun kering di sekitar pantai."

"Terus, aku?"potong Blaze, padahal Totoitoy masih belum selesai dengan ucapannya.

Totoitoy menatap padanya. "Ryuuketsu, kau..." tepat berhenti di sana, anak itu mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang sebelumnya dipakai untuk memunculkan boneka burung kayu miliknya. Saat gulungan itu dibuka, di hadapannya langsung muncul asap beserta teko air di dalamnya. "Nah" Langsung saja barang itu pun diserahkan ke tangan Blaze.

"Apa?" tanyanya tak mengerti.

"Ambil air, terus masak. Kalau mau nyalain api, tungguin aku selesai ngumpulin kayu dulu" tegas Totoitoy memperjelas maksud sebelumnya.

"Udah, gitu doang?"

"Iya. Gampang kan?"

Blaze tampak mengerjap sejenak sambil memikirkan sesuatu. "Ngomong-ngomong kertas itu bisa dipakai untuk menyimpan apa aja ya? Kayak kantung Dor**mon. Ada benda ajaibnya juga nggak?" katanya mengalihkan pembicaraan.

"Nggak usah ngubah topik, cepetan" namun sayang, Totoitoy sudah seperti membaca rencana di kepalanya.

Mendesah cukup keras, Blaze berbalik arah menuju tebing di mana terdapat laguna berisi air tawar sebelumnya. Bisa dibayangkan betapa malasnya ia mengerjakan hal tersebut. Sudah terlanjur turun, disuruh naik lagi. Kan kampret?

.

.

Jadi mereka mulai mengerjakan tugasnya masing-masing. Dan setelahnya...

Beberapa saat kemudian. Totoitoy kembali dengan setumpuk kayu bakar di tangannya yang nantinya dipakai membuat api unggun untuk memasak. Sedangkan Blaze tampak menanti dengan sangat lama, sehingga selagi mengisi waktu ia duduk di pinggir pantai sambil sibuk menusuk beberapa ekor ikan hasil tangkapan Ice dengan tongkat kayu berujung tajam agar mudah saat dibakar nanti.

"Lama banget, kau nyari kayu di mana? Papua?" sindirnya pada Totoitoy.

"Kalau aku sampai ke Papua, daripada nyari kayu mending aku nyari emas" sahut Totoitoy tak mau kalah. Langsung saja tumpukan kayu bakar tadi dilemparkannya sembarangan ke atas pasir dan mulai disusun dengan rapi. Selain itu ia juga mendirikan sebatang kayu yang kemudian ujungnya diikat dengan kayu lain sebagai pegangan teko nantinya.

Blaze menjentikkan jarinya dan muncullah kobaran api pada tangannya, api itu didekatkan pada ranting-ranting yang sudah disusun sebelumnya dan langsung membakar tumpukan kayu tersebut hingga menimbulkan kobaran yang lebih besar. Secepatnya saja itu pun dimanfaatkan untuk memasak air pada teko.

Sementara itu selagi mereka merebus air sekaligus menjaga api, di tengah teluk sana Ice terlihat membenamkan separuh tubuhnya dengan keadaan telanjang dada, bajunya sengaja dicopot supaya tidak basah. Dia terus fokus diam menatap ke dalam air. Tak bergerak seinci pun seperti meniru batu, cukup bola matanya saja mengikuti gerak-gerik ikan yang terbilang sangat gesit. Begitu mangsanya lengah dia langsung menghempaskan makhluk itu ke permukaan air, dengan cepat pula ia mencengkeramnya menggunakan kedua tangan serta mulut sebagai bantuan.

Begitulah caranya, bagaimana dalam sekejap seekor ikan sudah berada dalam genggamannya.

"Nekomiya!" tak lama seseorang memanggilnya dari arah pantai. Ice pun langsung menengok ke sana. "Itu sudah cukup, cepat naik!" lanjut bocah berambut abu-abu tersebut. Dia menurut, lalu melangkahkan kakinya ke arah daratan sambil mengumpulkan air liur dan meludahkannya untuk membuang kelebihan garam dari air laut yang beberapa kali tak sengaja masuk ke mulutnya.

Sambil mengelap sudut bibirnya, ikan hasil tangkapannya barusan langsung dioper pada Blaze, temannya itu dengan refleks menangkap hasil buruan itu dan langsung menusuknya dengan tongkat kayu seperti ikan lain sebelumnya. Sementara itu Ice mengambil baju kaos putihnya yang ia taruh di atas batu dan memasangnya kembali dengan rapi.

"Nekomiya!" Berselang waktu kemudian Totoitoy kembali memanggilnya hingga Ice dibuat kembali menoleh. "Maaf kalau ngerepotin. Apa kau bisa panggilkan Kakakku? Biar kita bisa makan bareng." Pintanya secara halus.

Sekali lagi Ice mengangguk, langsung saja dirinya masuk ke dalam hutan, menuju ke arah tebing di mana kubah artileri tempat mereka berkemah malam ini berada. Langkahnya sangat cepat hingga kurang dari tiga menit dia sudah sampai k esana. Tapi entah kenapa Yaya menghilang dari sana. Ia menoleh ke sana-sini namun tidak menemukan Yaya di tempat mereka meninggalkannya sebelumnya. "Nee-san!?" panggilnya cukup keras.

Tak terduga, gadis itu memunculkan dirinya sambil mengintip dari pintu masuk dome. "Ada apa ya Ice-kun?" tanyanya sambil tersenyum.

"Ayo turun, kita makan sama-sama" ajak anak itu.

.

.

Setelahnya tanpa banyak bertanya, Yaya ikut turun dari atas tebing dengan Ice berjalan di sampingnya. Gadis itu melirik pada celana jeans yang tengah dipakai bocah itu, penglihatannya saja atau memang celana Ice itu basah. Karena penasaran ia pun basa-basi bertanya. "Ice-kun, celanamu basah ya?"

"Iya... tadi aku nyebur nangkap ikan" jawab Ice datar.

Yaya hanya memanggutkan kepala paham. Benar juga sih, mereka bilang ingin memancing kan tadi. Berarti menu makanannya adalah ikan, dan bisa ditebak sepertinya dibakar.

Sesaat kemudian gadis ini mulai kehabisan topik untuk dibahas, hingga terjadi lah aksi diam-diaman diantara keduanya. Tapi itu tak lama, Yaya mulai berpikir kembali dan menemukan sebuah bahan bincangan. Sesuatu yang mungkin sudah lama ingin ditanyakannya. "Nah Ice-kun, aku mau tanya. Apa mungkin sebelum pindah ke apartemen, kau dan Kakakmu berasal dari Yamagata?" ujarnya.

"Bukan... Aku dan Nii-san berasal dari Ise, sama seperti Gempa-nii" sahut bocah bermanik aquamarine itu secara cepat.

Yaya yang mendengarnya sontak kaget. "Eh? Gitu ya? Ku pikir karena nama kalian Nekomiya kalian berasal dari Kuil Nekonomiya" katanya.

"'Nekomiya' dan 'Nekonomiya' itu memang mirip ya?" Komentar Ice, sebelum kemudian ia mulai bercerita asal muasal nama keluarga miliknya. "Nama itu diberikan oleh Gempa-nii setelah kami tinggal di apartemen Shinwa. Kemungkinan idenya muncul karena Gempa-nii pertama kali menemukan kami di kuil. Itu pun kuil bulan" jelasnya.

"Kok kalian bisa ada di situ?" tanya gadis yang lagi-lagi dibuat terkejut itu.

"Oh... itu karena–"

"Hoi kalian!" saat masih asik bercerita, tiba-tiba ucapan Ice harus terpotong ketika Blaze menegurnya dari jauh lengkap dengan sebuah lambaian tangan. Rupanya karena terlalu asik ngobrol mereka sampai tidak sadar jika langkah kaki mereka sudah membawa sampai ke dekat teluk. "Cepetan kesini! Ikannya hampir matang!" tak berhenti sampai sana, dia pun menyuruh mereka bergegas untuk mendatangi dirinya dan Totoitoy yang saat ini tengah memasak ikan di atas api unggun.

"Iya!" sahut Ice padanya. Sejenak kemudian ia menoleh pada Yaya sambil tersenyum manis. "Maaf ya Nee-san, nanti lanjut kuceritakan lagi" ucapnya. Dan hanya dijawab Yaya dengan sebuah anggukan ditambah senyuman yang kalah manis dengan milik Ice.

Yaya mendekat. Di saat yang sama Totoitoy membagi jatah untuknya. Seekor ikan bakar yang cukup besar. Gadis itu mencicipi sedikit ikan yang baru saja matang dan langsung dibuat kagum oleh hasil kerja tangan dari adik dan bocah-bocah yang sudah dianggapnya adik sendiri. "Enak. Ini semua kalian yang buat?" tanyanya bersemangat.

"Iya!" jawab Blaze ceria. Dia pun juga sedang menikmati jatah miliknya.

"Ya... walaupun harus diberi arahan sedikit sih" sindir Totoitoy terdengar sarkastis walaupun datar.

"Apanya? Kau kan cuma ngumpulin kayu doang. Nggak usah capek naik-naik buat ambil air" balas Blaze tak kalah sengit.

"Masih mending daripada harus basah-basahan nangkap ikan" komentar Ice yang malah merasa tersinggung.

Masih tak mau kalah Blaze pun kembali menyolot. "Ceh... Kalau aku nggak bikin api juga, kalian nggak bisa masak"

Untuk sejenak terjadilah pertengkaran kecil di antara ketiga bocah itu. Masing-masing adu mulut tentang siapa yang paling bekerja keras menyiapkan segalanya dalam kegiatan bertahan hidup di pulau terpencil yang jauh dari segala kemudahan buatan manusia.

"Makasih ya semuanya..." Namun itu tak berlangsung lama hingga Yaya mulai bicara dan mengalihkan perhatian ketiganya pada gadis berkerudung yang saat ini nampak tertunduk cukup lesu. "Padahal kalian semua udah repot-repot begitu. Aku bahkan nggak bisa bantu apa-apa sama sekali, tapi justru ikut duduk di sini dan menikmati hasilnya saja. Aku jadi ngerasa nggak enak. Aku itu... emang nggak berguna sama sekali ya?" dia terlihat begitu kecewa pada dirinya sendiri. Wajahnya sendu, matanya berkaca-kaca, bahkan bisa saja ia menangis saat itu juga.

Sampai membuat adik-adiknya panik seketika. Wajar bukan, sebagai laki-laki mereka bisa dianggap keterlaluan bahkan gagal dan tidak ada harga dirinya sama sekali jika membuat seorang wanita menangis.

"N–Nggak kok! Mana mungkin Akak nggak berguna!" kata Totoitoy coba untuk menenangkannya.

"I–Ini memang kewajiban kami sebagai laki-laki untuk melindungi perempuan!" hibur Blaze pada Yaya.

"B–Benar tuh! Meskipun bukan di sini, tapi setiap saat Nee-san selalu membantu kita di mana pun dan bagaimanapun keadaannya!" timpal Ice menambahkan.

"J–Jangan nangis dong, Nee-san... Ambil aja deh jatahku kalau mau" ucap Blaze masih mencoba menghiburnya.

"Jangan. Kau itu makannya banyak, aku nggak mau tanggung jawab kalau kau ngeluh kelaparan" protes Ice.

"Emangnya kau kira aku nggak bisa nangkap ikan sendiri!" bentak Blaze padanya.

Yaya yang mendengar dan melihat kepanikan dari tiap adik laki-lakinya menjadi cengo, terbersit rasa kasihan namun juga gemas begitu melihat ekspresi mereka. Hingga tanpa sadar dia malah tidak jadi menangis, sebaliknya gadis itu justru tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Dan membuat adik serta para bocah tetangganya kebingungan.

"Nee-san?"

"Maaf... Aku malah jadi ketawa." Kata Yaya, masih bergidik bahu mencoba meredakan tawanya. "Benar juga. Maafkan aku ya, sudah membuat kalian khawatir" sambungnya lagi sambil menutup kedua mata dan bibir membentuk lengkungan ke atas berupa senyuman terbaik miliknya. Yang melihatnya sontak terpana dengan kedua pipi memerah, rasanya seperti ada pancaran aura yang begitu kuat berwarna merah muda di sekitar gadis itu. Sungguh berkilau.

Seperti bidadari saja.

.

.

Perut kenyang hati pun senang. Selesai makan, keempat orang itu pun kembali ke kemah mereka. Namun, mereka dikejutkan karena tempat itu entah sejak kapan sudah didekorasi. Sederhana saja, hanya penambahan tirai dari kumpulan daun kelapa yang dikaitkan di depan pintu masuk untuk menghalangi angin dan serangga. Juga, ada tikar di dalam sebagai alas tidur di malam hari. Tapi yang hebat disini tikar tadi dibuat dengan cara menganyam helai daun kelapa menjadi satu kesatuan.

Sesuatu yang sangat mustahil dikerjakan seseorang hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Pengrajin handal pun butuh waktu paling sedikit 3 hari.

"Hebat... ini semuanya Nee-san yang kerjakan?" kagum Blaze.

Di belakangnya gadis itu terlihat tengah mengusap kepala belakangnya yang tidak gatal sambil terkekeh kecil, tidak enak merasa dipuji. "Karena tidak tahu harus mengerjakan apa, jadi aku inisiatif sendiri. Ku pikir sebaiknya jika membuat tempat ini lebih nyaman untuk ditempati walau hanya sementara." Jelasnya. "Maaf ya, seadanya" sambungnya lagi.

Adiknya, Totoitoy menggeleng padanya dan tersenyum. "Nggak. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih Akak" ucapnya.

~M.A~

Malam menjelang, saat bagi semuanya untuk beristirahat melepas penat seharian sekaligus mengisi energi untuk esok hari. Dome yang ada di sana dua buah, para anak laki-laki tidur dalam satu tempat, terpisah dengan Yaya yang merupakan satu-satunya perempuan di sini pada kubah yang berbeda.

Namun udara dingin malam hari di sini cukup menusuk tulang, hingga membangunkan gadis yang sebelumnya sudah terlelap tidur. Perempuan berjilbab pink khas itu bangkit dari pembaringan, dengan tubuh menggigil ia pun memeluk diri sendiri. "Dingin..." ringisnya pelan. Tidak tahan berada terus-menerus di dalam dome yang suasananya seperti kulkas itu, Yaya memutuskan keluar di tengah malam untuk berjalan-jalan menghangatkan diri.

Malam ini bulan bersinar terang dan bintang terlihat amat jelas bertaburan di langit. Mungkin karena tidak ada lampu maupun cahaya terang yang bisa mengganggu layaknya di perkotaan besar. Tidak tahu sampai mana kaki-kakinya itu akan membawanya, ia terus menyusuri jalan dan sepanjang pantai hingga sampai di ujung teluk. Matanya dibuat tercengang dengan penampakan sosok lain di sana. Seorang bocah SMA dengan jaket merah khas miliknya tampak duduk di pinggir pantai sambil mengangkat kedua kaki dan melingkarkan lengannya, ia duduk di atas sebuah bongkahan kayu yang mungkin berasal dari laut, melalui ombak kencang yang menyeretnya sampai ke pinggir pantai.

Wajahnya sendu dan terlihat sedang melamun memikirkan banyak hal.

Yaya yang heran pun langsung saja menghampirinya. "Blaze-kun..." tegur gadis itu.

Dan sukses mengagetkan si pemilik nama. Bocah yang sebelumnya tengah menundukkan kepala itu sontak mendongkak dan menemukan Yaya tengah menatapnya dengan raut penuh tanya.

"Nee-san...? Sedang apa di sini?" tanya Blaze padanya.

"Aku hanya jalan-jalan sebentar menghangatkan badan. Di sini dingin sekali" jawab Yaya. "Boleh aku duduk di sebelahmu?" gantinya bertanya. Blaze mengangguk mengiyakan sambil menggeser posisinya agar bisa memberikan ruang yang cukup luas untuk gadis itu duduk. "Blaze-kun, sendiri sedang apa di sini?" Yaya pun kembali bertanya selagi dia menaruh pantat dan menyamankan diri sebisanya.

"Aku mimpi buruk. Jadi susah tidur lagi" balas Blaze agak lesu.

"Mimpi apa?" tanya Yaya lagi.

"Entahlah... Tidak jelas seperti apa detailnya tapi aku sering memimpikannya akhir-akhir ini. Dan entah kenapa, mimpi itu terasa begitu nyata, seolah-olah memang pernah terjadi sebelumnya." Jelas anak itu.

Yaya di sampingnya mendengarkan dan hanya merespons dengan sebuah gumaman tanda mengerti, jika Blaze tidak ingin menjelaskan lebih jauh tentang mimpi buruk yang dialaminya. Mungkin dia takut jika cerita dia bisa memimpikannya lagi saat kembali tertidur nanti.

Tak lama kemudian, tanpa diminta anak itu mulai bercerita lagi. "Nah Nee-san, aku pernah bilang kan sebelumnya, jika sejak dulu aku kagum pada Aniki?"

"Benar juga. Jadi kenapa kalian sering bertengkar seperti itu? Padahal kalau diperhatikan masalahnya cuma sepele" sela Yaya. Ia baru ingat ingin menanyakan itu sejak kemarin. Tapi kelihatannya itu akan segera terjawab sebentar lagi.

"Sebenarnya... aku nggak punya ingatan masa kecil, setidaknya sampai umur enam tahun. Mungkin bisa dibilang sebagian besar kenangan itu lenyap. Yang paling membuatku penasaran adalah bagaimana orang tua kami meninggal? Dan dari mana kami berasal? Saat aku coba mengingatnya, semuanya gelap. Aku sering menanyakannya pada Aniki, tapi jawabannya selalu sama. Bila kucoba menanyakan lebih lanjut karena terasa janggal, dia justru menghindar atau membicarakan hal lain. Aku kesal padanya! Semenjak pindah ke apartemen sifatnya berubah. Dia jadi begitu dingin, kalau ngomong pun cuma karena ada hal penting. Aku nggak ngerti kenapa Nii-chan jadi berubah! Yang seperti itu BAHKAN NGGAK PANTAS BUAT KUPANGGIL KAKAK!"

"Jangan ngomong gitu!" terbawa emosi, gadis di sampingnya mulai ikut-ikutan membentak. "Hali-kun pasti punya alasan makanya jadi begitu. Dia memang jarang bicara, tatapannya tajam dan kata-katanya menohok. Tapi bukan berarti dia gak perhatian padamu!"

Blaze sukses membelalak lebar saat diberi wejangan oleh gadis satu itu. Tapi setelahnya ia kembali menunduk, pikirannya mulai menerawang. Jika dipikirkan lagi memang benar, Kakaknya itu, walaupun sibuk selalu menyempatkan diri untuk memasak sarapan dan makan malam untuknya, sejak SMA pun sudah bekerja part-time agar bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Ponselnya pun bahkan Halilintar yang membelikan dengan uangnya sendiri. Kakaknya memang sudah berkorban banyak untuknya, tapi dia malah tidak menghargainya.

Karena rasa sayang itu tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata.

"Nee-san itu memang suka ikut campur urusan orang lain ya?" ujar Blaze berkomentar.

Yaya langsung merasa tertohok saat itu juga. Alhasil dia mulai panik mencari jawaban untuk berkelit. "B–Bukan gitu. Aku cuma ngerasa hubungan kalian agak merenggang akhir-akhir ini. K–Kemarin pagi juga! Aku dengar kalian bertengkar. Memang kalian sering ribut begitu, tapi kali ini beda. Kalian itu kayak lagi bertengkar serius gitu. A–Aku nggak menguping kalian, tapi suara kalian memang kedengaran sampai–"

"Aku ngerti. Kalau kita bisa pulang nanti, aku akan ngomong baik-baik dan minta maaf pada Aniki" sela Blaze.

Tadi Blaze, sekarang gantian Yaya lah yang dibuat tercengang. "Benarkah!?" katanya terdengar senang.

Blaze menjawab dengan sebuah anggukan, setelah itu dibarengi oleh senyuman polos cerianya yang begitu khas. Tentu Yaya begitu senang mendengarnya, ternyata Blaze itu tidak sekeras kepala yang dia pikirkan. Ada saatnya anak ini akan bersikap dewasa dan mau mengambil langkah lebih dulu.

Malam semakin larut, angin malam bertiup cukup kencang dari arah daratan menuju ke laut sehingga membuat daratan lebih dingin. Yaya yang tidak tahan kembali menggigil dan meringis kedinginan. "Ternyata aku emang gak tahan. Sebaiknya aku jalan lagi, menghangatkan badan." gumamnya, mungkin lebih ke diri sendiri.

Blaze mendengarnya, tidak ingin gadis di sampingnya kedinginan dia langsung inisiatif dengan melepaskan jaket miliknya. Ia bangkit berdiri dan mengaitkan jaket merahnya ke bahu Yaya. Hasilnya sekarang Yaya memakai dua jaket.

"Eh? Blaze-kun nggak usah, nanti kau kedinginan" tolak Yaya sambil menatap kaget padanya.

"Pakai aja. Aku kuat kok, jadi nggak apa-apa" protes Blaze. Namun belum berselang satu detik bicara, dia langsung bersin karena kedinginan. Wajar, siapa yang akan tahan dengan udara sedingin ini hanya menggunakan kaos hitam tipis?

Yaya sontak terkekeh kecil saat melihat tingkah sok kuat Blaze barusan. "Kelihatannya kau lebih membutuhkan ini daripada aku" ucapnya sembari mencoba mengembalikan jaket itu pada Blaze.

"Nggak usah" Blaze langsung saja menolak sambil membuang wajahnya yang saat ini sedang merah padam karena malu. Dengan agak kesal dia pun kembali duduk dengan menghempaskan pantatnya pada batang kayu tersebut. Setelahnya dia tampak menangkupkan kedua tangan dan meniupkan udara hangat dari mulut ke atasnya. Kobaran api kecil langsung saja terbentuk di atas kedua telapak tangan Blaze tanpa melukainya.

Yaya tampak terkagum-kagum saat melihatnya. Sudah sejak dulu dia memang begitu tertarik dengan api milik Blaze. Terlihat meliuk-liuk seperti sedang menari dan membawa rasa hangat bagi sekitarnya.

Blaze hanya tersenyum melihat ekspresi si gadis. "Mendekatlah" ajaknya.

Yaya pun menggeser posisi duduknya ke arah Blaze, hingga tinggal satu jengkal lagi bagian tubuh mereka akan bersentuhan. "Hangatnya..." gumamnya berkomentar dengan pelan.

Blaze mendelik padanya, dan tanpa sengaja ia justru mulai memperhatikan wajah gadis itu. Bulu mata lentik, hidung mancung, bibir tipis, kulit putih mulus dan bola mata berwarna coklat gelap. Sungguh menarik semuanya. Begitu cantik, hampir membuatnya terbuai menatapnya terus-menerus. Tapi dengan cepat Blaze langsung menyadarkan dirinya. "Nee-san... Kau suka dengan api?" ia pun mencari topik untuk mengalihkan dirinya sendiri.

Yaya menggeleng. "Nggak. Aku nggak suka api. Tapi bukan berarti aku membencinya. Hanya... pada dasarnya kita memang memerlukannya. Seperti sekarang, kita membutuhkan api untuk menghangatkan diri." Jawabnya. Sesaat gadis itu menoleh ke atas di mana ribuan bintang nampak bertaburan memenuhi angkasa. "Tapi kalau yang kau maksud adalah milikmu... Jujur saja, aku suka dengan apinya Blaze. Begitu hangat dan bersinar terang. Aku masih ingat dulu kau menyelamatku saat pertama aku pindah ke apartemen Shinwa. Waktu itu aku berada di dalam apimu, tapi aku sama sekali tidak terluka. Itu pasti karena Blaze yang membuatnya" ia pun menoleh dan tersenyum pada Blaze.

Mata anak itu membulat, rasanya dadanya seperti ingin meledak saat itu juga. Sudah tidak bisa ditahannya lagi perasaannya. Tangannya yang saat itu tengah meremas kaos yang dipakainya bergerak menyentuh tangan gadis di sampingnya.

"Blaze-kun?" tatap Yaya bingung saat Blaze mulai mengangkat tangannya dan menggenggamnya erat.

"Kalau begini... Kalau begini apa juga terasa hangat?" tanya anak itu.

Yaya hanya mengangguk kikuk saat ia menanyakan itu.

"Bagaimana dengan pelukan?" ujarnya lagi. Membuka lengannya luas-luas bersiap mendekap gadis di depannya.

"K–Kurasa itu agak berlebihan" Yaya sontak merosot mundur menjauh secara perlahan. "Blaze-kun, tunggu. Tunggu!" mundur dan terus mundur sampai di ujung dari kayu dudukan tersebut. Gadis itu menjerit ketika dirinya hampir jatuh dari sana. Namun di saat yang sama Blaze sempat menangkap tubuhnya sehingga pantatnya tidak jadi mencium pasir.

Sekarang ia tidak tahu, harus berterima kasih atau takut pada anak yang tengah memeluknya itu.

"B–Blaze-kun..."

"Kenapa Nee-san menjauh...? Aku cuma ingin menghangatkanmu"

"I–Itu karena–"

"Padahal aku melakukan ini hanya untuk orang yang benar-benar kusukai"

Yaya sontak terbelalak ketika mendengarnya. "Tadi kau bilang apa?" dia langsung bertanya untuk memastikan tidak salah dengar. Sayang, tak ada jawaban dan anak itu hanya diam dengan posisi yang sama. "Blaze-kun? Blaze-kun!" kali ini gadis itu memanggilnya. Namun yang dipanggil masih tak menyahut.

Ada yang aneh. Anak ini ngomongnya mulai ngawur, tingkahnya juga tidak seperti biasanya. Masa sih?

Dan benar dugaannya, tak disangka diam-diam bocah itu malah membuka mulut dengan sepasang taring runcing, bersiap menusukkannya pada leher si gadis. Yaya cepat menyadarinya. Sebelum terlambat secara refleks dia langsung mendorong dengan kencang tubuh bocah itu agar menyingkir. "JANGAN!"

Blaze pun sukses jatuh terjerembap ke tanah dan terdiam selama beberapa saat di sana dengan wajah kaget.

.

.

Beberapa waktu berselang.

Posisi keduanya berubah. Yaya masih duduk di batang pohon itu sedangkan Blaze duduk di sebelahnya, agak menjauh, mungkin sekitar satu meter. Untuk sementara hanya segitu jarak aman yang ada, kalau lebih dekat takutnya kejadian tadi terulang lagi.

Suasana canggung pun tak ayal terjadi di antara keduanya.

Jujur saja terkadang gadis berjilbab itu lupa jika Blaze itu vampir sama seperti Kakaknya. Mungkin karena auranya berbeda, tidak sesuram Halilintar. Blaze itu ceria, selalu tersenyum, dan membawa kehangatan ke mana pun dia pergi.

Di ujung sana Blaze nampak menunduk lesu sambil bertumpu dahi pada kepalan tangan, kecewa pada dirinya sendiri. "Maaf... aku mabuk" desahnya.

Yaya berdeham tak nyaman sembari mengusap lengan jaketnya "Iya... aku ngerti kok. Hali-kun juga kadang suka begitu kalau dekat-dekat denganku. Kayak waktu di perpustakaan... Dia hampir menggigit tanganku" ujar gadis itu.

Blaze menoleh padanya, kembali dibuat kaget. "T–Terus habis itu gimana?" tanyanya.

"Gimana ya? Karena kaget, refleks aja kujedukkan kepalanya ke rak buku" jawab gadis itu jujur. Dia masih ingat jelas yang terjadi waktu itu, di mana dia begitu panik setelahnya dan Halilintar yang sangat syok sampai tidak sanggup mengangkat kepalanya.

Saat mendengar jawaban itu, Blaze sontak memucat sambil menelan ludah paksa. Rupanya Yaya memang tidak bisa dianggap remeh, kalau berani macam-macam gadis itu bisa saja membela dirinya sendiri. Berbeda sekali saat pertama kali datang ke apartemen.

Malam semakin larut, secara tiba-tiba gadis itu berdiri dari sana dan mengagetkan Blaze. "Udah larut banget, sebaiknya kita balik ke kemah. Aku udah ngantuk banget nih" ujarnya memecah keheningan.

Blaze awalnya bingung. Namun akhirnya ia tetap ikut mengikuti Yaya dari belakang untuk menuju tempat kemah mereka di atas tebing sana.

~M.A~

Pagi hari datang, membawa cahaya terang dari ufuk timur, mengubah langit yang semula gelap menjadi kebiruan. Awan putih tipis tampak menggumpal dan kemudian menghilang secara bergantian tertiup angin lembut.

Seorang bocah berambut hitam dengan manik biru layaknya lautan yang mengitari pulau itu terbangun lebih awal. Dia keluar dari dalam kubah sembari meregangkan tubuh dan menikmati udara sejuk nan segar di pagi hari tersebut. Pandangannya fokus ke arah lautan luas terhampar di depannya. Namun tak lama, pemandangan itu rusak dengan datangnya bayangan gelap dari arah lautan. Ice memicingkan mata memastikan benda apa yang bergerak mendekati pantai. Sepertinya sih kapal, kapal selam tepatnya.

Namun ini bukanlah kabar baik.

Bocah itu pun bergegas kembali ke dome untuk mengabari bocah lain yang barusan terbangun dan saat ini sedang duduk-duduk santai memainkan ponsel, walaupun tidak ada sinyalnya. "Adiknya Nee-san..." tegur bocah nekomata tersebut.

Mendengar julukan yang diberikan padanya Totoitoy menjadi risih dan mulai menggosok kepala belakangnya sambil mendesah keras. "Lagi-lagi memanggilku seperti itu. Emangnya aku itu nggak punya nama apa? Panggil Totoitoy saja, kenapa sih?" gerutunya.

"Mereka datang" mengabaikan omelannya, Ice pun langsung bicara to the point. Totoitoy yang awalnya kesal malah dibuat tercengang sambil menoleh pada Ice.

Jadi, setelah mendapat kabar jika ada sebuah kapal yang mendekat, semuanya pun bergegas keluar dari kemah, termasuk dua orang tersisa yang sebelumnya masih terlelap karena tidur terlalu larut tadi malam. Saat ini keempatnya tampak berdiri di ujung tebing memperhatikan kapal selam yang secara perlahan semakin mendekat dan hampir mencapai pantai.

"Cih... Akhirnya para belut keluar dari lubang persembunyiannya ya." Sindir Totoitoy dengan kedua lengan bersedekap.

"Siapa maksudmu?" tanya Yaya tak mengerti.

"Komplotan yang bertanggung jawab membuat kita terjebak disini. " Jawab Totoitoy.

"Kau sudah tahu rupanya. Apa anak bernama Shiella itu yang memberitahukan semuanya? Kalau gitu orang berbadan besar itu juga anggota komplotan itu?" ujar gadis itu lagi.

"Ya. Dan sebenarnya yang kemarin itu adalah markas lama mereka, yang asli berada dalam gua di bawah pulau ini. Kelihatannya mereka sengaja membawa kita kesini agar tidak membeberkan kegiatan mereka kepada orang-orang diluar sana. Tapi yang aku heran, daripada menjebak kita di pulau tak berpenghuni, bukankah akan lebih mudah untuk menghilangkan jejak dan bukti jika mereka menghabisi kita. Pasti ada alasan lain"

"Lalu sekarang kita harus gimana?" kata Yaya mulai panik.

Berkebalikan dari Yaya, adiknya justru terlihat sangat tenang, mungkin agak sedikit kesal juga sampai dia jadi menyengir. "Benar juga... Kalau gitu gimana jika kita sambut mereka di pantai. Ada banyak hal yang harus kutanyakan pada orang-orang sialan itu" ujarnya dengan nada sarkastis.

.

.

Seperti yang dikatakan oleh Totoitoy, akhirnya mereka pun menanti di tepi pantai, bersiap siaga kalau-kalau mereka akan mendapat serangan. Sedangkan kapal selam yang tadi telah merapat. Terlihat beberapa orang keluar dari dalam kabin dan saat ini tengah berdiri di atas kapal tersebut.

Ada tiga orang di sana. Yang pertama dari paling ujung, seorang pria bertubuh kurus kerempeng dengan jas putih panjang, dari penampilannya kelihatannya dia adalah seorang ilmuwan. Mungkin dia juga lah yang membuat penelitian gila tentang penciptaan makhluk hidup. Di tengah-tengah ada pria berbadan kekar dengan sekujur tubuh penuh bekas luka bakar yang menyebabkan warna kulitnya agak kemerahan. Lalu yang terakhir adalah pria bertubuh besar yang mereka jumpai pertama tempo hari.

"Wah~ Rupanya kalian sudah tahu kami akan datang kesini. Tadinya kami pikir kalian akan bersembunyi, rupanya tidak ya?" sapa si pria dengan tubuh kurus tersebut.

"Kalau gitu sayang sekali, perkiraan kalian salah" balas Totoitoy.

"Ya sudahlah... Kalau begitu kami akan memperkenalkan diri dulu"

"Nggak perlu repot-repot. Aku sudah tahu identitas kalian dari penyimpanan data SHAMAN." Tolak Totoitoy.

Dengan suasana hati yang kurang baik, anak itu mulai menyebut dan menerangkan identitas dari tiga orang tersebut "Orang besar di sana adalah mantan pegulat bernama Gaga naz, dia dikabarkan menghilang dan tidak ada kabar selama 5 tahun lamanya. Kau sendiri, Yoyo Oh, adalah mantan tim peneliti dari organisasi SHAMAN. Dan yang terakhir, pria yang ada di tengah itu, namanya kalau tidak salah Bora Ra, dulunya merupakan anggota militer berpangkat letnan, namun dia diberhentikan karena malah memihak dan membantu teroris. Membuat percobaan ilegal dengan menggunakan nyawa makhluk hidup. Tidak heran, kalian merupakan buronan paling dicari oleh organisasi. Sekarang biar kutanya. Apa yang ingin kalian lakukan dengan kode subjek 110 yang sukses itu?"

"DIMANA SHEILLA!?" seru Blaze menimpali di sampingnya

Suasana semakin memanas, hingga Bora Ra mengangkat tangannya, coba mengambil alih jalannya diskusi. "Sebelum aku menjawab semua pertanyaan itu, ada yang ingin menyapa kalian lebih dulu" ujarnya begitu tenang.

Tak lama kemudian terdengar derap langkah sepatu yang berasal dari dek kapal tersebut. Dan kemudian seorang gadis berambut putih panjang tampak berdiri di samping orang-orang tersebut dengan menyunggingkan sebuah senyuman angkuh. Benar, wanita yang tempo hari bertarung dengan Blaze dan Ice di atap sekolah.

Sheilla–bukan. Gadis itu hanya wadahnya. Jadi yang benar Shiva, sang dewi salju dan musim dingin.

Kagum. Heran. Kaget. Mungkin itulah beberapa reaksi yang mereka tunjukkan saat gadis berambut putih panjang itu menampilkan dirinya di atas dek kapal selam tersebut. Tak terkecuali Blaze yang terlihat cukup terkejut sekaligus marah padanya. "Kau!? Masih saja memakai tubuhnya! Cepat kembalikan Shiella!" seru anak itu.

"Apa yang kau bicarakan? Konyol sekali." Tanpa segan, gadis itu menggubris pembicaraannya dan berpendapat dengan sarkastis. "Entah kau itu pelupa atau memang sangat bodoh. Bukankah dulu sudah kubilang, tubuh ini dibuat untukku, sedangkan gadis itu hanyalah kepribadian lain yang muncul sebagai efek dari kecacatan pada tahap awal. Kesimpulannya dia memang tidak pernah ada" lanjutnya menjelaskan pada Blaze.

Namun sepertinya Blaze tidak percaya. Habis kesabaran, tak ayal dia pun langsung melemparkan bongkahan berpijar panas ke arah wanita tersebut. Tak tanggung-tanggung, ukurannya pun tidak main bisa dikatakan. Besar sekali.

Dengan cepat bola api raksasa itu melesat cepat, hingga menimbulkan kepanikan dari kedua kubu.

Namun sayang, serangannya tak mampu menggapai sang penyihir es di hadapannya. Karena ketika gadis berambut putih itu mengibaskan satu lengannya ke atas, kobaran api itu seketika lenyap. Layaknya memadamkan sebuah lilin, bola berpijar panas itu benar-benar tertiup oleh udara dingin dan menghilang di saat dan di tempat itu juga.

Yang menyaksikan tentu dibuat melongo dengan kehebatan dari kekuatan sang ratu es.

Merasa direndahkan karena sudah berani menyela penjelasannya dengan cara menyerangnya, Shiva pun menatap tajam pada Blaze sambil memasang mimik wajah tak suka. "Menjengkelkan..." ia mengedepankan satu tangannya dan memunculkan beberapa buah bongkahan es berujung tajam, yang langsung melesat ke arah si bocah vampir.

Blaze tahu pasti, walaupun serangannya kuat tapi pertahanannya buruk. Karena itu jika sampai menerima serangan dia memilih untuk lari atau menghindar. Tapi apa yang terjadi? Tubuhnya seperti kaku, tak mau bergerak menuruti keinginannya. Gemetar dan takut, ia hanya bisa terdiam menunggu serangan itu sampai dan menghunjam dirinya sambil menutup matanya rapat-rapat.

Namun hal itu tidak terjadi, ketika tombak es itu dibelokkan ke sisi lain. Bocah vampir itu membuka mata, coba melihat keadaan. Dan dibuat terkejut melihat Yaya ada di depannya, berdiri tegak sambil memegang sebilah pedang laser yang sebelumnya digunakan untuk menepis serangan barusan. Tanpa komando gadis berkerudung pink itu melompat ke atas kapal selam sambil bersiap untuk menghunuskan pedang bercahaya magenta miliknya pada si gadis berambut perak.

Sayangnya serangannya tertahan ketika Shiva menghadapinya dan melingkupi dirinya sendiri dengan sebuah barrier udara dingin.

Di dalam hukum fisika terdapat fenomena bergetarnya suatu benda yang memiliki frekuensi sama atau kelipatan bilangan bulat yang sama dengan frekuensi tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai...

"Resonansi?" batin Yaya berujar.

Tak tahan dengan suara berderit panjang yang muncul, gadis itu memilih mundur kembali ke posisinya semula.

"Lumayan juga. Dia bisa mengimbangi kemampuan dari Shiva." Pria bertubuh besar bernama Bora Ra pun berkomentar ketika kedua gadis itu beradu kekuatan sebelumnya. Ia tampak cukup tertarik dengan kekuatan yang dimiliki oleh gadis berjilbab pink itu, atau lebih tepatnya senjata yang digunakan oleh Yaya. Benda itu mampu mengalirkan energi milik si gadis dengan kekuatan hampir sama besarnya dengan subjek percobaan mereka. "Pedang itu... Lalu bentuk energi itu... Oh begitu! Itu Kusanagi" katanya.

Mendengar pernyataan yang diberikan oleh pria dengan luka bakar tersebut, semuanya yang ada di sana pun sontak tercengang dan langsung alih menatap pada saber yang tengah dipegang oleh Yaya dengan begitu lekat-lekat.

Kusanagi?

Pedang legendaris milik dewa lautan dan badai ada di sini?

"Ya... Dilihat dari bentuknya sepertinya itu bukan yang asli. Tapi... bisa dibilang pedang itu lumayan untuk sebuah ukuran tiruan." Ujar Bora ra. Sejenak ia memejamkan mata dan mengambil nafas, lalu mulai bicara kembali sambil menyilangkan kedua lengannya. "Sayangnya kali ini kami tidak ada urusan sama sekali dengan gadis berkekuatan dewa itu."

"Tujuan kami sebenarnya adalah penjaga gerbang mata angin selatan, atau Phoenix yang berada dalam tubuh bocah vampir itu" Sela Yoyo oh secara cepat. Ia bicara sambil terkekeh geli dan mengusap-usapkan kedua telapak tangannya satu sama lain. "Kalau Shiva-sama bisa mengalahkannya maka itu akan menaikkan level kekuatannya. Jadi maukah kau bekerja sama, Ryuuketsu-kun?"

Sesuai dugaan, Blaze sama sekali tidak paham dengan jalan pembicaraan mereka. Anak itu tampak mengerutkan dahi bingung, "Apa yang kalian bicarakan?! Phoenix apa?! Aku nggak tau sama yang begituan!" sahut anak itu nyaring.

Tak kalah dibuat bingungnya, Gaga Naz mendekat dan membisikkan sesuatu pada Bora Ra. "Bos, sepertinya dia seriusan tidak tahu" ujarnya. Yang dibisiki sontak mengernyit bingung hingga...

"Tou-sama..." gadis berambut perak dengan ombre biru pada ujungnya itu menegurnya dan sukses membuatnya tersentak di tempat. "Perlukah aku memancingnya?" tanya si gadis.

Pria itu berdeham. Mengatur nada bicaranya agar terdengar cukup berwibawa seperti biasa. "Baiklah... Selanjutnya kuserahkan padamu" katanya.

Shiva tampak tersenyum tipis beberapa saat sebelum mengubah kembali ekspresi wajahnya, dengan tatapan memicing dan senyum merendahkan ia pun bicara langsung dengan Blaze yang akan menjadi lawan tandingnya. "Baiklah bocah, dalam hitungan kesepuluh aku akan membuat tempat ini menjadi neraka bagimu. Tentu saja bukan berarti teman-temanmu tidak akan terkena dampaknya. Jadi gunakan kesempatan sebelum aku selesai menghitung untuk mengamankan mereka." Jelasnya. "Kalau begitu kita mulai saja. Satu... dua..."

Sebenarnya Blaze tidak mengerti. Tapi saat dia bilang 'neraka' itu berarti akan ada sesuatu yang buruk datang. Jauh lebih mengerikan daripada serangan-serangannya sebelumnya. "CEPAT LARI!" Anak itu lantas menoleh ke belakang dan memerintahkan teman-temannya untuk menjauh dari sana. Menyingkir dari pesisir pantai.

"Lima..." Ketika empat orang itu berlarian, selagi itu juga si ratu es masih sibuk menghitung. "Enam... tujuh... delapan... sembilan..."

SEPULUH.

"Ya, waktu habis" gadis itu menyengir sambil mengerahkan lengan kirinya tinggi ke udara. Lalu di langit muncul gumpalan awan hitam yang tebal dan sangat besar. Jika diperhatikan awan itu bukanlah awan hujan biasa. Segera saja gumpalan itu ia lemparkan ke arah lawannya yang masih berada di garis pantai karena tak sempat menjauh.

Akhirnya sebuah awan hitam pun terhampar tinggi di atas keempat orang itu. Tak ayal benda itu pun menumpahkan segala isinya jatuh ke bawah, yang ternyata berupa sekumpulan bongkahan es raksasa berujung runcing, lebih cocok disebut pilar. Benda-benda berbahaya itu menukik dengan cepat dan langsung menancap di atas tanah.

Dua buah nyaris mengenai Totoitoy jika saja anak itu tidak sempat mengerem. Pasir-pasir yang mengenai permukaan senjata itu langsung membeku seperti habis terkena nitrogen cair. "Begitu rupanya. Jadi ini yang dia bilang neraka itu?" komentarnya seraya tersenyum sinis.

"Jangan bengong, Totoitoy Yah!" Selagi terdiam, dia tidak menyadari jika masih ada pilar yang melesat cepat ke arahnya. Beruntung Ice cepat menolongnya dengan membuat sebuah barrier tembus pandang yang cukup mampu menghalau serangan mendadak barusan.

Anak itu terdiam sejenak dengan wajah bingung. Bukan karena Ice yang tiba-tiba saja berada di belakangnya, melainkan karena bocah itu menyebut namanya barusan daripada menjulukinya sebagai 'adiknya Yaya' seperti biasa. Ada apa tiba-tiba?

Ice menoleh dengan masih mengerahkan kedua lengan ke atas untuk memblok serangan demi melindungi anak yang ada di dekatnya. "Kau nggak pa-pa?" tanyanya untuk memastikan keadaan.

Bak pinang dibelah dua dengan Yaya, Totoitoy yang syok dan kebingungan hanya mengangguk kikuk sebagaimana kebiasaan sang Kakak. "Makasih..." ujarnya pelan.

Di sisi lain, Blaze bersama dengan si gadis berkerudung melaju lebih dulu menuju ujung dari awan hitam mengerikan itu. Yaitu sisi pantai yang tidak terlindungi oleh sekumpulan awan gelap, dimana cahaya matahari bersinar di atas pasir pantai. Mereka hampir sampai. Asal bisa sampai ke sana mereka sudah selamat.

Namun ketika tinggal sedikit lagi mencapai ke sana, sebuah pilar es meluncur dengan cepat tepat di atas Yaya. Blaze yang menyadarinya sontak mendorong punggung si gadis agar lebih cepat sampai ke daerah yang bercahaya. Gadis berjilbab itu pun terjerembap jatuh, tapi dia selamat karena sudah keluar dari zona berbahaya tersebut.

Lalu Blaze...

Saat Yaya menoleh ke belakang ia menemukan anak itu tengah terduduk dengan kedua kaki terbuka lebar. Sementara pilar es yang barusan menancap di tengahnya. Kelihatannya tepat setelah mendorong Yaya, ia sempat mundur menghindar, namun kehilangan keseimbangan hingga ambruk ke tanah. Nyaris mengenai kedua betisnya dia sontak membuka selangkangannya lebar-lebar. Dan yang lebih beruntung lagi pilar es itu tidak sampai menyentil 'harta keramat' miliknya. Blaze sendiri tampak memucat dan menelan ludah.

Dan si gadis terlihat membuang nafas lega melihat bocah itu baik-baik saja. "Syukurlah..." ujarnya.

Blaze mendengarnya, ia pun berdiri sambil mengibaskan debu yang menempel pada celananya dan mendekat pada Yaya. "Yang tadi hampir saja. Jangan khawatir aku–"

Tepat di sana kalimatnya terputus saat tiba-tiba saja dadanya tertikam dari belakang oleh sebuah tombak es. Tak elak benda dingin, keras dan berujung tajam itu langsung menembus dadanya. Blaze pun sukses memuncratkan darah dari mulutnya. Sedangkan Yaya yang melihat langsung kejadian itu tercengang sampai tidak bisa berkutik apa-apa.

Pelakunya tidak lain tentu saja Shiva. Dengan liciknya di saat orang lain lengah dia melemparkan tombak pembekunya dari dek kapal tersebut. Ia pun kelihatan tidak merasa bersalah. Justru malah tersenyum picik. "Selamat~ Sudah berhasil melewati tahap pertama. Silahkan, itu adalah hadiah untukmu" katanya.

Saat tubuh bocah itu tumbang ke depan, Yaya masih saja terdiam karena begitu syok. "B–Blaze-kun..."

Yang dipanggil namanya merespons. Tubuhnya bergetar hebat karena menahan sakit, namun ia tetap memaksakan dirinya mengangkat wajah demi menatap si gadis. Wajahnya mulai memucat, darah tampak mengalir keluar dari sudut mulutnya, nafasnya memendek dan udara yang ia hembuskan membentuk uap dingin seperti di pegunungan. Tapi anehnya sebuah senyuman malah terbentuk dari bibirnya yang memerah karena dihias oleh cairan merah kental itu. Senyuman yang memiliki dua makna sekaligus.

Yang pertama dia ingin mengatakan 'jika dia akan baik-baik saja'. Lalu yang kedua tersirat jika dia sedang ketakutan karena tubuhnya mulai mati rasa.

Secara alamiah ketika seseorang mengalami kesakitan atau rasa takut, dia cenderung akan coba mencengkeram apa pun yang ada di dekatnya. Fungsinya menstimulasi otak untuk memberikan rasa aman. Mungkin itu sebabnya saat ini Blaze berusaha untuk meraih tangan Yaya.

Gadis itu menangkap isyarat tersebut dan coba memegang tangan Blaze. Sayangnya belum sempat jari keduanya bersentuhan bocah itu semakin melemah dan kehilangan kesadarannya secara total.

"Blaze-kun?" Yaya coba memanggilnya, namun tak ada jawaban.

Yaya tahu, jika saat Blaze bilang jika dia sudah dapat izin, itu semua bohong. Tapi dia membiarkannya karena melihat betapa tulus niatnya untuk menolong temannya. Sebagai gantinya ia berjanji pada dirinya sendiri akan membawa anak itu pulang pada Kakaknya dengan keadaan selamat.

Tapi apa yang dilakukannya?

Lagi-lagi hanya bisa menyusahkan. Dia benar-benar seperti pembawa sial. Pasalnya, karena bahkan tanpa melibatkan diri pun dia sudah membuat masalah bagi orang yang ada didekatnya.

Apa dia masih bisa memperbaikinya? Dulu Halilintar juga seperti ini. Blaze juga begitu kan? Dia bisa memulihkan dirinya. Asalkan tombak itu dicabut.

Pelan, gadis itu bergerak ke sisi tubuh bocah yang saat ini dalam posisi tengkurap tersebut. Kemudian kedua tangannya pun ia arahkan pada bagian tengah bongkahan es yang menancap pada punggung Blaze. Lalu...

"Hentikan Kak! Jangan sentuh itu!"

Totoitoy berlari menghampiri dengan niat ingin menghentikannya karena tahu apa yang akan terjadi jika sampai si gadis menyentuh benda itu. Sayangnya karena mungkin posisinya terlalu jauh makanya suaranya tidak terdengar jelas di telinga Yaya. Namun beruntungnya Ice di sampingnya mampu bergerak lebih cepat. Bocah Nekomata itu langsung lari mendahului Totoitoy lalu dengan secepat kilat menerjang si gadis hingga keduanya jatuh terguling dan berakhir dengan posisi Yaya berada di bawah.

Yaya berontak, tidak terima Ice menghalanginya menolong Blaze. Dan Ice mengerti jika saat ini gadis itu sedang tidak bisa berpikir jernih. Jadi dia inisiatif untuk mencoba menenangkannya. "Shh...Shh... Tenang lah, Nee-san. Lihat aku. Semua akan baik-baik saja" ucapnya sambil menghadapkan wajah si gadis kepadanya.

Si gadis berkerudung yang awalnya melawan, terdiam begitu melihat mata bocah yang menatapnya dengan begitu dalam itu. Begitu biru. Begitu nyaman. Dan sangat menenangkan. Perlahan dia mulai bisa mengontrol nafas dan sedikit demi sedikit tubuhnya mulai rileks.

Di saat yang sama Totoitoy sampai. Tanpa jeda apa pun dia langsung menarik gulungan kertas miliknya "Datanglah, Salamander!" dan memanggil salah satu boneka kayunya. Sebuah benda berwujud kadal raksasa pun muncul di antara tebalnya kepulan asap putih. Tanpa menunggu perintah makhluk itu mengulurkan ekornya untuk mencabut tombak es yang menancap pada punggung si bocah vampir. Lalu membuangnya bersama dengan ujung ekor yang dia putuskan.

Benda itu menabrak batu dan hancur berikut dengan potongan ekor yang membeku karena bersentuhan secara langsung dengan bongkahan tersebut.

Yaya yang melihatnya tak ayal segera menghampiri Blaze dan membalikkan posisinya. Yang pertama dirasakannya saat menyentuh kulit anak itu adalah rasa dingin. Tubuhnya pun pucat seolah darahnya tidak mengalir. Karena khawatir cirinya seperti hipotermia, ia langsung memeriksa keadaannya. Dia pun sontak terkejut menyadari jika Blaze sudah tidak bernafas dan denyut nadinya menghilang.

Tapi detak jantungnya masih ada. Itupun semakin lemah.

"Tidak... Blaze-kun? Blaze-kun!" merasa putus asa, gadis itu menitikkan air mata dan mulai menangis dengan kencang.

.

Sementara itu dari atas dek kapal selam, salah satu anggota komplotan yang bertanggung jawab atas kejadian ini tampak memperhatikan mereka dengan wajah tak puas. Pria besar dengan sekujur tubuh berotot. "Udah, gitu aja? Itu yang namanya host dari salah satu lima familiar terkuat. Lemah amat, sekali serang langsung K.O. Ngebosenin. Buang waktu aja" cibirnya sambil bersedekap tangan.

Bora ra pun tampak menghela nafas, terlihat sangat kecewa. "Ayo pergi. Kita masih punya hal yang lebih penting untuk diselesaikan" ajaknya pada anak buahnya itu sambil memutar punggung untuk menuju pintu masuk kapal selam tersebut.

Di saat sama si gadis berambut putih masih berdiam diri, belum beranjak dari tempatnya sambil memperhatikan dari jauh bocah yang terlihat sebentar lagi akan mati secara perlahan itu. Matanya menyipit tanpa ekspresi, mungkin jauh dalam dirinya ada sedikit rasa bersalah. Terutama karena pada akhirnya mereka akan meninggalkan kelompok itu begitu saja di pulau terpencil seperti ini. Tapi pada akhirnya ia mengabaikan perasaan berkecamuk itu dan melangkahkan kakinya menyusul yang lain masuk.

Namun saat baru melangkahkan kaki, seketika itu juga dia pun jatuh berjongkok akibat nyeri teramat sakit yang diterima kepalanya.

Hal itu sontak membuat Bora Ra menoleh karena saking terkejutnya. "A–Ada apa?" tanyanya.

Shiva tak menjawab. Dia terus mencengkeram kepalanya kuat sekaligus menggertakkan susunan giginya. "Gadis sialan ini..." geramnya bergumam sendiri.

Sepertinya pikirannya jadi berontak dan memancing kepribadian yang satu lagi untuk keluar. Kepribadian lembut yang terbentuk karena perasaan bersalah akibat sering menyakiti orang lain. Si jahat tidak terima dan melawan balik, lalu terjadilah pertarungan untuk memperebutkan tubuh dan kesadaran.

Yang rupanya berdampak pada kemampuannya dalam mengontrol kekuatan miliknya. Energi besar itu mengamuk dan menciptakan bencana besar seketika. Salju turun dengan deras di seluruh area pulau itu. Angin dingin bertiup dengan kencang dan menciptakan badai yang membekukan apa pun di sekitarnya dalam sekejap. Sungguh suatu anomali besar.

Dilanda kepanikan, segera saja anggota geng Bora Ra itu masuk ke dalam kapal selam untuk menyelamatkan diri. Mereka memisahkan bagian kapal itu menjadi dua lalu berlayar menjauh. Sedangkan Shiva mereka tinggalkan di luar mengamuk sendirian.

Disisi lain, Yaya dan lain terlihat dilanda kebingungan dan kepanikan karena angin dingin yang bertiup terlalu kuat dan bisa membuat mereka ikut membeku.

Demi melindungi teman-temannya Ice dengan energinya yang masih tersisa pun membuat pelindung demi menghalau serangan membabi-buta milik penyihir salju itu. Tapi karena tenaganya banyak yang sudah terkuras akibat serangan pertama dan dia pun tidak sempat memulihkan diri, akhirnya Ice pun oleng. "Berat..." gumamnya, masih bertahan walau hanya bertumpu sebuah lutut.

Tahu jika si bocah Nekomata itu hampir mencapai batasnya, Totoitoy tidak tinggal diam dan langsung turun tangan. "Tahan sebentar, Nekomiya!" serunya. Gulungan kertas pemanggil miliknya pun ia jatuhkan ke tanah. "BANTU KAMI! ALDABRA!" saat ia mengucapkan itu, benda itu justru terbenam masuk ke dalam tanah seperti tenggelam ke dalam air. Ketika ia menyatukan kesepuluh jarinya beberapa potongan kayu keluar dari dalam tanah dan langsung menutupi mereka seperti kubah iglo yang sering dipakai orang eskimo untuk berlindung dari terpaan badai. Bedanya ini terbuat dari kayu.

Dan Shiva saat ini terlihat mengurung dirinya di dalam menara es tinggi yang tidak akan bisa dijangkau oleh siapa pun. Dia akan terus berdiam diri di sana sampai kedua kepribadiannya selesai dengan urusan mereka.

TBC

Itu... maaf banget ya, kalau aku baru update. *(udah berapa lama sih emangnya?) Banyak hal yang terjadi dan aku salah perhitungan sampai wordnya jadi 10.000 lebih.

Tapi sudahlah, asal kalian puas aja.

Satu lagi. Jujur aku lagi malas balas review, tapi mungkin untuk red rider kayaknya bakal tetap kujawab *(soalnya anda bertanya). Dan kayaknya aku udah pernah cerita ini sama... siapa kemarin? Nuzla? Iya kan? Maaf ya aku jadi cerita lagi.

Jadi begini... sebenarnya Mystic Apartment ini inspirasi awalnya dari Tokyo Ghoul. Makanya latar tempat dan adegan sadisnya masih bersisa. Aku mau bikin kayak gitu, tapi setelah kupikirkan lagi konsepnya gak cocok sama pameran utamanya. Akhirnya aku bikin alternatif lain. Jalan ceritanya diset ulang, konsepnya diubah lalu sedikit di fusion dengan adegan anime lain. Salah satunya InuxBoku. Itu pun cuma di akhir arc Yaya, awal arc Halilintar dan awal arc Ice. Sisanya... begitulah.

Kayaknya segitu aja jawabanku. Sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya.