Berita pada acara televisi local berulang kali menayangkan bagaimana kondisi cuaca hari itu yang masih diguyur hujan leba, gemuruh petir dan juga angin kencang meskipun tidak ada tanda – tanda akan adanya badai yang akan menerjang Kota mereka saat ini. Tapi situasi ini adalah kejadian langka yang baru pertama kali terjadi diatas langit Kota mereka, sebelum – sebelumnya belum pernah terjadi dan beberapa ahli mulai berspekulasi bahwa ini adalah tanda – tanda dari Global Warming.

"... sudah jelas ini adalah efek dari kerusakan lingkungan yang terjadi. Bukan hanya di Kota ini, tapi seluruh dunia pasti akan mengalami dampaknya.."

"Bukan! Semua itu kami yang buat, dan hanya karena sepasang suami istri tengah honeymoon di Kota-mu!" ucapan Sehun berakhir sementara Jongdae dan Suho ikut tertawa bersama mendengar apa yang dikatakannya.

"Dasar manusia." Sehun menambahkan lagi. Tangannya menekan tombol power para remote yang ia pegang dan mematikan acara yang ditayangkan pada televisi di hotel mereka saat ini. "Aku bosan." Lagi ia mengeluhkan kondisi didalam hotel yang hanya bisa duduk dan juga menunggu karena mereka juga tidak bisa kembali ke Istana sebelumnya cuaca membaik. Sayangnya, cuaca akan membaik bila Yixing mengatakan pada mereka bertiga untuk menarik kembali kekuatan yang dilemparkan pada langit dan itu tidak mungkin akan terjadi dalam waktu dekat mengingat Yixing merencanakan ini untuk memberikan waktu pada Chanyeol dan juga Baekhyun ber-Honeymoon.

"Kapan kita kembali?" Suho yang menanyakkan kearah mereka berdua.

"Tanyakkan pada Yixing." Jongdae menyahut, masih menikmati waktunya bersandar santai dan memainkan games yang ada pada handphonenya.

"Aku benar – benar bosan!" Sehun meregangkan tangannya dan beranjak mulai mencari makanan lainnya yang bisa ia makan.

"Ngomong – ngomong, kemana Kris?"

"Bersama Kakakku." Sehun menyahut pertanyaan Jongdae.

"Aku kira Yoora yang akan bertunangan dengan Kris, bukannya dirimu dan Luhan." Suho yang melemparkan pernyataan dan Jongdae ikut berdecak tawa.

"Aku saja tidak tahu bila Raja Glorfindel akan mengumumkan pertunangannku—

"Yeah, aku juga!" Jongdae menambahkan lagi.

"Dan yang mengejutkan adalah.. kakakku lebih dulu menikah tapi tidak ada yang boleh mengetahuinya."

Suho dan Jongdae mengubah posisi duduk mereka saling berhadapan dan mendengarkan apa ang dikatakan oleh Sehun. "Dia sudah resmi menjadi Raja, tapi tidak akan ada penobatan, tidak ada upacara, tidak ada resepsi pernikahan.. yeah.. semuanya tidak ada."

Mereka terdiam dan hanya terdengar suara gerak mulut Sehun yang tengah memakan kacang dari bungkusan yang ia pegang.

"Kita belum siap bila perang tiba – tiba mencuat datang." Suho berbicara serius. "Para Raja sungguh mengkhawatirkan kita semua karena bila perang terjadi, Olympus bahkan tidak bisa membantu—

"Kenapa?"

"Karena mereka sudah membuat jalannya seperti itu, hanya Api Bumi dan Cahaya Abadi yang bisa mengalahkan Hades. Mereka kalah? Reinkarnasi akan terjadi lagi."

"Mereka kalah, kita akan mati." Sehun menambahkan.

"Itulah mengapa kita dikumpulkan dalam satu Kerajaan supaya kita bisa membantu kedua kekuatan itu untuk mengalahkan Hades dan Kronos. Semakin banyak kekuatan yang berkumpul semakin besar peluang kita untuk menang mengalahkan mereka."

"Ya, Ayahku mengatakan itu pada kami." Sehun membenarkan.

"Papa juga mengatakan hal yang sama." Jongdae ikut menyetujui.

Mereka bertiga kembali terdiam bersama dan hanya saling menatap dan juga membayangkan hal – hal dalam pikiran masing – masing.

"Ya.. ya .. ya..!" Yixing keluar dari kamarnya dan mendatangi mereka bertiga satu per satu. "Sudah saatnya menghentikkan kekuatanmu."

"Sudah?" Sehun dan Suho menanyakkan berbarengan.

"Iya. Cepat – cepat! sebelum Zeus menanyakkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Kota ini." Yixing memaksa Jongdae bangkit dari tempatnya dan meminta pria itu mengambil kembali kilatan petir yang ia keluarkan keatas langit. Sehun mengikuti dan juga melakukan hal yang sama, sedangkan Suho dengan pelan – pelan menghentikkan gerakan air hujan dan kini terlihat di luar saa keadaan mulai tenang tidak seperti sebelumnya.

"Mereka sudah selesai?" Sehun menanyakkan pada Yixing yang tengah mengecheck keadaan langit malam itu.

"Belum. Kau tahu sendiri bagaimana mesumnya Chanyeol." Yixing menjawab tanpa peduli bahwa ada tiga orang lainnya yang mendengar pernyataannya itu ditambah Kris yang kini sudah bergabung dengan mereka.

"YAAAKK! Adikku bisa – bisa tidak bisa berjalan nanti!"

Kris berteriak kencang kearah Yixing sementara tiga orang lainnya tertawa melihat langsung wajah pria itu yang merah padam dan juga menunjukkan raut kekesalan

.


-Loves Of Tales-

For the First Time

.


Langit selalu berlaku adil, tidak pernah sekalipun egois dikuasai oleh kegelapan badai hujan dan petir yang menghiasi pemandangannya terbukti dengan pemandangan pagi ini yang sungguh sangat indah. Matahari telah diijinkan menyinari setiap sudut Kota, sinar hangatnya seakan – akan membuka setiap lapisan langit untuk memberikan jalan baginya agar siapa saja dibawah sana menerima sentuhan sinarnya. Langit Biru terang dengan dikelilingi gumpalan awan putih menjadi teman sang Matahari pagi ini, tak luput desiran angin yang bergerak lembut menggerakkan setiap helai daun pepohonan sehingga menghasilkan desiran suara merdu mengiringi cuitan burung – burung kecil disekitarnya.

Biasan cahaya Sang Mentari tak hanya menembus setiap bangunan atau apapun yang menghalangi pergerakkannya, kini sinar hangat tengah membelaai kulit putih nan halus dan lembut milik Baekhyun—Sang Elayne—yang masih tertidur pulas pada ranjangnya. Gerakkan badannya mulai terlihat ketika merasakan hangat sang sinar mentari mengganggu waktu tidurnya. Tubuhnya masih dibalut dengan lilitan selimut putih, sekelilingnya dihiasi dengan kelopak bunga mawar putih dan juga beberapa helaian bulu – bulu angsa berserakkan menutupi bagian ranjang dimana ia berbaring.

Matanya mulai terbuka bersamaan dengan gerakkan tangannya menutupi pantulan sinar Mentari yang masuk.

Baekhyun mengerjapkan matanya sesekali untuk meyakinkan tak ada sosok yang tengah ia cari sebagai sambutan dari tidur malamnya, badannya berguling untuk melihat kondisi dibelakangnya yang sama kosong dengan pandangannya tadi. Tangan Baekhyun mengusap bagian ranjangnnya dan bermain dengan kelopak - kelopak bunga dan juga helaian bulu – bulu angsa yang berasal dari dalam bantalnya.

"Aah.." Baekhyun meringis merasakkan nyeri dari bagian bawah dan juga kakinya namun tak lama garis bibirnya tercipta sebuah senyuman kecil ketika ia melihat sekeliling kondisi kamar hotel dimana dirinya dan Chanyeol menghabiskan malam bersama. Bibirnya ia gigit tak begitu dalam sementara tangannya mengencangkan lilitan kain selimut putih pada badannya. Setelahnya ia menggerakkan tangannya bermain dengan sekumpulan kelopak bunga mawar dan juga bulu – bulu angsa ditemani dengan suara tawanya yang terdengar bahagia.

"Boleh lakukan lagi?"

Chanyeol membalasnya dengan sebuah seringai sambil menahan badannya untuk tidak menindih badan Baekhyun dibawahnya. Perlahan – lahan Chanyeol melepaskan tautan diantara bagian intim mereka berdua dan Baekhyun mendesah dengan suara hampir meringis merasakan bagian lubangnya kini terasa hampa tanpa ada milik Chanyeol didalamnya dan juga nyeri yang cukup terasa.

Chanyeol membawa badan Baekhyun untuk berbaring disampingnya, lebih tepatnya membiarkan lengannya dijadikan bantal oleh kepala Baekhyun dan dadanya sebagai sandaran wajah Baekhyun.

"Tidak boleh ya." Baekhyun bergumam pelan menurut berbaring di lengan Chanyeol. Kakinya meringkuk tertekuk dan ketika Chanyeol menarik selimut untuk menutupi badan mereka Baekhyun semakin tenggelam didalamnya karena merasa permintaanya ditolak dan jugasuara petir diluar sana masih bersahut – sahutan.

"Bukannya tidak boleh, ini pertama kalinya kita melakukan—" Chanyeol menahan diri untuk tidak melanjutkan kalimatnya karena sungguh ini sangat canggung membicarakan hal – hal berbau seksual dan dihadapkan dengan wajah polos sang istri. "Kita bisa melakukannya lagi.. besok atau mungkin—ya setidaknya tidak sekarang." Chanyeol menganggukkan kepala meyakinkan diirnya sendiri menahan segala hasrat dalam dirinya dan membawa badan Baekhyun dalam pelukannya.

"Tapi.." Baekhyun mendongakkan kepalanya supaya ia bisa menatap Chanyeol. "Luhan melakukan dengan Sehun lebih dari sekali tiap malamnya." Baekhyun dengan polosnya menjelaskan hal yang pernah Luhan katakan mengenai percintaan yang selalu ia lakukan dengan Sehun di berbagai kesempatan. "Mereka sering melakukannya." Baekhyun menjelaskan lagi dengan lebih singkat.

Chanyeol menghela nafas pelan dan merutuki Luhan serta Sehun dimana sudah mengotori pikiran Baekhyun yang ia yakin sebelum ini bahkan Baekhyun tidak mengerti bagaimana berciuman dengan pria.

"Jangan dengarkan mereka." Chanyeol mengusak kepalan Baekhyun dan memeluk Baekhyun lagi. "Ucapan mereka tidak bisa dipercaya."

"Benarkah?"

"Hm, Sehun tidak mungkin sanggup bercinta lebih dari dua kali. Itu menguras tenaga." Chanyeol tertawa membayangkan adiknya yang kelelahan mencapai klimaksnya—okey ini adalah pikiran kotor setiap pria yang membandingkan seberapa tangguh dan kuat mereka bertahan hanya demi pencapaiannya.

"Apakah bercinta itu melelahkan? Kenapa? Tapi itu terasa..." Baekhyun menggit bibirnya dan juga dua jari miliknya kedalam mulut kecilnya.

"Terasa apa ?" Chanyeol berusaha melihat kearah wajah Baekhyun yang dimana kini sudah tertutup oleh sebagian jari – jari tangan Baekhyun.

"Aniya.. tidak terasa apa – apa."

"Kau mengatakan ingin melakukannya lagi tadi.. berarti kau merasakan sesuatu tadi."

"Aniyaa.. aku tidak merasakan apa – apa hanya.."

"Hanya apa?" Chanyeol memaksakan sebuah jawaban lagi. Posisi badannya yang kini sudah setara dengan badna Baekhyun dan memudahkan dirinya untuk melihat langsung wajah sang istri yang tengah merona serta gugup setengah mati memikirkan jawaban yang harus ia jawab kepada dirinya menjadi pemandangan yang cukup menghibur dan mengelikkan. Baekhyun sangat imut, Ia masih polos namun terkadang bisa bertingkah layaknya wanita dewasa dan menggoda tapi sejujurnya wanita ini benar – benar bertingkah menggemaskan. Dan Chanyeol menyukainya.

"Yaa.. aku malu." Baekhyun menutup kedua wajahnya dan membalikkan badannya kini memunggui Chanyeol—pria itu tengah tertawa keras melihat tingkah Baekhyun dan berusaha keras menahan badan istrinya itu untuk tetap berada di dekatnya.

"Kemari Baek.. aku ingin melihat wajahmu."Chanyeol menarik badan Baekhyun dan memeluknya dari belakang.

"Tidak mau... kau menertawakan aku." Baekhyun menutup wajahnya rapat dengan kedua tangan tapi membiarkan Chanyeol memeluknya dari belakang dan mendekatkan kembali badan mereka.

"Aku tidak akan menertawakanmu."

Baekhyun masih menggeleng. "Kau pasti berbohong."

"Tidak. Aku berkata jujur, aku ingin mencium bibirmu." Chanyeol memeluk badan Baekhyun semakin erat dan menciumi bahu Baekhyun serta leher belakang wanita itu. Tangannya mengusap perut Baekhyun serta menyingkirkan rambut panjang hitam milik Baekhyun hingga ia lebih leluasa menciumi punggung belakang wanita itu. "Aku ingin mencium bibirmu, lehermu dan seluruh badanmu." Chanyeol berucap dengan suara beratnya yang mana membuat Baekhyun semakin dalam mengigit bibirnya dengan mata terpejam merasakan gerakan basah mulut Chanyeol dan juga lidah pria itu.

Bukan hanya mencium, Chanyeol menggigit, menyesap bagian kulitnya dan itu membuat sensasi baru untuk Baekhyun. Bahkan tanpa ia sadari badannya menurut ketika Chanyeol menariknya lebih dekat dan membuat kepalanya menoleh kebelakang dan mendapatkan sebuah ciuman tepat dibibirnya. Chanyeol melumat bibirnya dengan gerakan lembut diawalnya tapi setelahnya lumatan itu semakin kasar mengoyak bagian mulutnya hingga terbuka dan membiarkan kedua lidah mereka beradu saling bertukar saliva. Tangan Baekhyun bahkan dengan reflek sendirinya bergerak kearah kepala Chanyeol dan menarik sedikit helaian rambut pria itu, meremasnya dengan perlahan begerak naik turun.

Posisi ini menguntungkan Chanyeol. Ia hanya akan mencium bibir Baekhyun dan membelai setiap bagian tubuh wanita itu tanpa harus merasakan siksa pada bagian intimnya yang mengeras akan sentuhan dan gerakkan Baekhyun.

Mereka berdua menikmati setiap gerakkan lidah dan belah bibir masing – masing dan terlihat enggan mengakhiri.

Tiupan angin yang masuk kedalam ruangan mereka menjadi pemicu Baekhyun menyudahi ciuman itu dan kini berbalik kearah Chanyeol tapi masih menginginkan sebuah ciuman dari pria itu. Chanyeol meringis merasakan gerakkan kaki Baekhyun dimana kini mengapit badannya hingga Chanyeol bis merasakan sesuatu yang lembab milik Baekhyun terasa tepat diatas perutnya.

"Dingin.." Baekhyun mengeluh dan merapatkan badan mereka tak lama setelah belah bibirnya terlepas. Kepalanya mendekat pada dada Chanyeol dan memeluk badan pria itu dengan begitu erat, serta menjadikan bagian perut pria itu sebagai guling baginya.

"Aku tidak akan tergoda Baek." Chanyeol berucap dan memperat pelukannya tapi tangan pria itu bergerak membelai kaki Baekhyun dan membawanya keatas perutnya menghindari Baekhyun untuk menggesek miliknya dengan kaki mungil itu.

"Aku tidak menggoda Chanyeol, aku merasa dingin." Baekhyun merajuk, suaranya merengek tapi gerak badannya semakin melekat kearah Chanyeol. Kakinya berusaha merangkak untuk naik kebadan suaminya itu tapi Chanyeol dengan cepat menahan. Baekhyun bahkan tidak percaya ketika Chanyeol menggeser badannya agar ia bisa bangkit dari tempat tidur untuk menutup jendela dan tirai – tirai dikamar hotel itu serta membawa piyama dari hotel untuk Baekhyun kenakkan.

Chanyeol benar – benar memberikan piyama hotel berwarna putih itu untuk Baekhyun kenakkan sedangkan wanita yang duduk dan menutupi sebagian tubuhnya itu menatap Chanyeol dengan penuh kekesalan dan juga tidak percaya terhadap apa yang dilakukan Chanyeol.

Bayangan dan ingatan malam percintaan yang Luhan katakan akan dipenuhi dengan gerakkan panas sensual serta rasa kenikmatan yang sulit dideskripiskan oleh siapapun kecuali orang itu merasakannya sendiri jelas berbanding terbalik dengan kondisi dirinya malam ini. Kenikmatan bercinta yang dilakukan oleh Chanyeol hanya sebentar dan itu yang Baekhyun bisa ingat hanyalah rasa nyeri dan sedikit rasa ngilu dibagian bawahnya—anehnya ketika ia merasakan dimana Chanyeol bergerak rasa sakit itu berkurang sedikit—ya hanya itu yang bisa Baekhyun ingat.

"Tidurlah. Kau pasti lelah." Chanyeol berbisik, tangannya mengusap rambut hitam Baekhyun yang kini tengah berbaring diatas badanya. Tubuh mereka saling melekat dan berkat Chanyeol yang mengambil piyama hotel sebelumya, kali ini terdapat penghalang yang cukup aman diantara sentuhan kulit mereka. Meskipun begitu, Baekhyun tidak kehabisan akal jari –jarinya bermain di sela – sela bagian piyama pada badan Chanyeol yang sedikit terbuka. Membuat lingkaran atau pola bintang dan juga bentuk hati seirama dengan usapan tangan Chanyeol pada rambutnya.

Tapi semua sia – sia, karena tembok pertahan Chanyeol cukup tangguh dan Baekhyunlah yang menjadi pihak kalah tertidur lebih dulu pada sebuah bantal yang hangat dan nyaman-dada bidang milik Chanyeol.

.


-Loves Of Tales-


.

Baekhyun memandangi cermin didalam kamar mandi dimana kini dirinya berada, menatap bayangan dirinya yang tenggelam pada lilitan selimut putih dengan rambutnya yang terlihat sedikit kusut dan beberapa bercak merah serta biru pada kulit leher dan lengan tangannya. Terasa sakit ? tidak untuk Baekhyun. dia bahkan kembali menyugingkan senyuman diwajahnya melihat beberapa warna menghiasi kulit putihnya.

Tangannya bergerak membuka lilitan selimut itu dengan perlahan – lahan dan menjatuhkannya ke lantai, kini seluruh badannya terpampang jelas pada cermin dihadapannya. Matanya melihat setiap bagian tubuhnya dan tentu saja menangkap jejak lebam dan juga tanda yang Chanyeol tinggalkan pada tubuhnya. Hampir di seluruh bagian badannya terdapat tanda itu, bahkan ketika badannya memutar bagian punggungnya yang sebelumnya putih mulus dan halus kini terdapat beberapa cakaran dan juga bercak merah dibeberapa bagian.

Dan itu semua karena Chanyeol.

Mereka berdua terlelap masih dalam posisi yang sama, Baekhyun terlelap tidur diatas badan Chanyeol dan tidak berpindah atau bergerak gelisah sedikit pun. Chanyeol pun masih tetap memeluk badan wanita itu dengan pelukan kedua tangannya yang semakin erat.

Beberapa jam telah berlalu dan nampaknya mereka berdua benar – benar terlelap dan menikmati mimpi malam yang mungkin terasa indah dialam sana hingga beberapa menit kedepan, Baekhyunlah menjadi pihak yang bergerak gelisah diiringi suara isakan tangis, bahkan badannya bergetar membuat Chanyeol sedikit tersadar dan melihat kondisi Baekhyun saat ini.

"Baekhyun?" Chanyeol mengusap rambut Baekhyun sebelum membawa badan wanita itu berbaring disebelahnya. Baekhyun belum terbangun ketika ia dipindahkan tapi isakan tangisnya masih terus dikeluarkan darinya dan bahkan linangan air mata mengalir turun membasahi pipi wajahnya dna itu semakin membuat Chanyeol panik melihatnya.

"Baekhyun! Hei—hei." Tanganya mengusap aliran air mata itu serta menepuk kedua pipi wajahnya dengan pelan agar Baekhyun terbangun. "Baekhyun bangunlah.. hei sayang.." kepanikan pada dirinya terus menguar ditambah dengan cara apapun ia menggerakkan badan Baekhyun agar terbangun nyatanya istri mungilnya itu masih terlelap dan terisak.

"Baekhyun.." Chanyeol mencoba lagi untuk membangun Baekhyun dari tidurnya dan mungkin mimpi buruk atau apapun itu yang tengah terjadi pada Baekhyun hingga ia terisak penuh kesedihan mendalam. "Baby.. please.." Chanyeol menciumi kedua pipi Baekhyun dan juga keningnya dengan lembut serta masih berbisik memanggil nama Baekhyun agar terbangun.

"Chanyeol.." Baekhyun bersuara masih dengan keadaan matanya yang terpejam.

"Aku disini.. jangan takut." Chanyeol menghela nafas lega mendengar namanya disebut dan lengan kecil memeluk badannya serta remasan kecil dilakukan pada bagian piyama yang ia kenakkan. "Itu hanya mimpi.." kembali ia meyakinkan apapun yang membuat istri mungilnya kini ketakutakan hanyalah bayangan buruk yang berada didunia mimpinya.

Baekhyun masih terisak dan semakin erat meremas bagian dadan Chanyeol, badannya bahkan masih bergetar dalam dekapan Chanyeol. Meskipun ia tahu semua yang ada dalam pikirannya tadi hanya mimpi tapi semua itu membuatnya sedih dan bahkan kesedihan itu terasa nyata.

"Kau memimpikan peperangan?" Chanyeol mulai bertanya secara langsung tanpa menunggu Baekhyun untuk sedikit lebih tenang.

Gelengan kepala Baekhyun berikan sebagai jawaban dan Chanyeol kembali dibuat bingung dengan itu, hal apa yang membuat istrinya terisak dan nampak ketakutann selain memimpikan peperangan seperti yang selalu ia impikan entah sejak kapan.

"Lalu.. apa yang membuatmu ketakutan seperti ini?" pertanyaan kedua Chanyeol lontarkan.

Baekhyun mulai menghapus jejak – jejak air matanya dan memindahkan posisi badannya kini berbaring disebelah Chanyeol, wajahnya terarah memandangi langit – langit kamar namun tangannya masih mengusap tangan Chanyeol yang memeluk perutnya.

"Mimpinya sedikit sedih, tidak menakutkan.. hanya.. terlalu sedih." Baekhyun memejamkan matanya membiarkan air matanya lolos keluar mengalir kembali.

"Sssstt Baekhyun.." Chanyeol menenangkan lagi. mengusap air mata itu. Ia memposisikan badannya sedikit menindih Baekhyun dan kepalanya berbaring pada perut istrinya guna menciumi bagian itu sesekali sambil menggumamkan kalimat sayang.

Baekhyun menatap kosong langit diatasnya dan kini kedua tangannya mengusap kepala Chanyeol dan memainkan surai hitam pria itu. "Aku melihat seorang bayi kecil." Penjelasan itu sontak membuat Chanyeol seketika berhenti mencium perut Baekhyun. "A-aku tidak tahu bayi siapa yang aku lihat.. hanya saja ia cantik. Sungguh sangat cantik Chanyeol, senyumnya, matanya bahkan kulitnya sangat indah untuk dilihat.. dia menggemaskan."

Suara Baekhyun terdengar bahagia ketika menjelaskan sedikit detail mengenai mimpi yang ia alami, bagaimana penggambaran mengenai sosok bayi itu yang ada dalam mimpinya, suaranya yang menurut Baekhyun sangat merdu bahkan ketika bayi itu tertawa melihat Baekhyun berada didekatnya dan mengajaknya bermain.

"Mulutnya terlihat menggemaskan, tipis dan imut ketika ia mengocehkan beberapa suara itu sangat menggemaskan." Baekhyun menggerak – gerakkan tangannya ke udara melakukan hal yang sama ia lakukan pada sosok bayi yang ada dalam mimpinya.

"Tapi.."Chanyeol masih memandangi Baekhyun, mendengarkan dengan seksama apa yang terjadi selanjutnya.

"Tapi?" suara Chanyeol menyahut dan menunggu kelanjutan dari yang Baekhyun akan katakan.

"Tapi.. kau mengambilnya." Mulut kecil milik Baekhyun berubah mengerucut kesal bahkan ia juga melayangkan pukulan pelan dibahu Chanyeol.

"AH! Kenapa aku mengambilnya? Aku bahkan tidak tahu itu bayi siapa." cubitan kecil Chanyeol layangkan pada perut Baekhyun diakhiri dengan sebuah ciuman.

"Kau mengambilnya.. kau menggendongnya dan membawanya pergi dari dekatku! "Baekhyun kembali meluapkan kekesalannya. "Bayi itu jadi tertawa karenamu, bahkan dia memelukmu erat dan meminta pergi dariku. Ia tidak mau aku ajak bermain lagi."

Hal yang membuat Chanyeol hampir tertawa adalah Baekhyun yang kini kembali terisak karena ia mengingat mimpinya mengenai bayi yang Chanyeol bawa pergi dari dekatnya—ini sangat menggelikan.

"Dia menggemaskan dan kau mengambilnya dariku." Baekhyun menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangannya tidak mau memperlihatkan bagaiman raut wajahnya saat ini.

Chanyeol tidak tahu harus berkomentar apa dan bahkan melakukan apa karena jelas ia sudah cukup bingung dengan Baekhyun yang terisak ketakutan dan hanya karena mimpi mengenai bayi menggemaskan dan Chanyeol membawanya pergi—sedangkan kenyataanya Chanyeol bahkan enggan untuk bermain dengan bayi – bayi—tepatnya ia tidak pernah melihat bayi secara langsung, so yeah.. ini aneh.

Baekhyun masih merajuk padanya dan menutup kedua wajahnya, wanita itu bahkan memaksa Chanyeol untuk beranjak dari atas perutnya dan kembali tidur seperti yang saat sebelumnya. Sayangnya Chanyeol enggan untuk beranjak. Seberapa kuat dan keras Baekhyun mencoba, Chanyeol tetaplah berbaring diatas perut Baekhyun dengan senyaman mungkin. ketika pukulan –pukulan pelan dilayangkan Baekhyun pada badanya, Chanyeol tetap diposisi yang sama. Hingga pada akhirnya, Baekhyun menjadi pihak yang menyerah dan membiarkan Chanyeol disana, terbaring dan mungkin terlelap tidur.

Cukup lama mereka berdiam tanpa ada suara sahutan atau pun layangan protes seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Baekhyun. Chanyeol tidak tertidur sebenarnya, ia hanya memejamkan matanya dan berpikir mengenai mimpi yang Baekhyun alami sementara Baekhyun tengah memejamkan matanya masih dengan raut kesal dan berusaha untuk tidur senyaman mungkin meskipun Chanyeol kini masih berbaring diatas badannya.

"Aku berharap bayi itu adalah anakmu—anak kita." Chanyeol melontarkan kalimat yang ada dalam pikirannya dan itu cukup berhasil membuat Baekhyun membuka kelopak matanya dan melihat langsung kearah dua mata miliki Chanyeol yang sudah lebih dulu menatapnya.

"Akan terlihat lebih menggemaskan bukan. Seorang bayi yang memiliki kemiripan denganmu dan juga denganku.. senyumnya akan manis sepertimu, suaranya bahkan lembut sepertimu . Memiliki sifat nakal yang kau miliki dan mungkin sedikit dariku—

"Pffttt." Baekhyun tertawa mendengarnya. Sejujurnya ia berhasil mendapatkan bayangan dengan apa yang Chanyeol katakan.

"Dia memiliki tinggi badan dariku, dan semua charisma dariku mungkin akan ada dalam darahnya." Kini Chanyeol yang tersenyum ikut membayangkan bagiamana wujud seorang bayi—anak mereka suatu saat nanti.

Mereka berdua terdiam hanyut dalam bayangan masing – masing memikirkan mengenai seorang anak yang pastinya atau akan mereka miliki beberapa tahun kedepan. Terlepas dari masalah peperangan yang akan mereka hadapi, tentu saja sebuah keluarga kecil yang dikelilingi oleh keturunan yang mereka miliki tetap masuk disetiap harapan dan doa dari masing – masing mengingat sebuah masa depan itu adalah gambaran sempurna sebuah keluarga.

"Itu pasti akan indah." Baekhyun tersenyum kearah Chanyeol yang masih memandanginya.

"Yeah.. pasti akan sangat indah." Chanyeol membalas. Tatapannya tidak berpindah dari kedua mata kecil Baekhyun dan juga bibir tipis kecil berwarna pink yang begitu menggemaskan melontarkan beberapa kalimat disana yang tidak Chanyeol pedulikan dan dengar dengan baik karena fokusnya hanya pada bibir tipis kecil manis itu.

Chanyeol bergerak cepat menyusul Baekhyun dan menyentuh bibir itu dengan bibir tebalnya, menyentuhnya dengan lembut diawalnya tapi pada akhirnya dia menjadi pihak yang melumat kasar membuat Baekhyun melenguh kesulitan mengikuti gerakkan bibirnya. Belah bibirnya mendominasi membuai bibir Baekhyun sementara tangannya membuka satu persatu kancing piyama yang ia gunakkan hingga terbuka bebas dan juga kini beralih pada piyama miliknya. Tak puas dengan bibir Baekhyun kini ia berpindah menciumi bagian leher, bahu, tulang selangkan dan kedua payudara wanita itu dengan leluasa—tanpa ada penolakan atau permintaan untuk berhenti dari sang pemilik tubuh.

Chanyeol bergerak menjamah semua bagian badan atas milik Baekhyun tanpa terkecuali dan yang ia lakukan bukanlah hanya menciumi, menyesap atau menjilati. Gigitan serta lumatan cukup dalam Chanyeol lakukan dan ia yakin nantinya itu akan berbekas melekat pada tubuh Baekhyun—dan dia tidak pedulikan. Gerakkan kini berpindah pada bagian atas perut Baekhyun yang sontak membuat sang empunya tersontak menahan gerakkan mulut Chanyeol hingga mendesah dan meremas sedikit rambut Chanyeol.

Baekhyun yakin yang dilakukan Chanyeol mungkin sama seperti pria – pria lain diluar sana lakukan untuk memberikan rasa nikmat bagi setiap pasangan, tapi ia merasa special karena Chanyeol yang melakukannya pada tubuhnya, bukan pria lain. Bagaimana Chanyeol bergerak dengan pelan hingga membuatnya sedikit frustasi menantikkan apa lagi yang pria itu akan lakukan untuk memberikan kenikmatan.

Tangan hangat yang membelai pahanya, lidah basah yang menjilat setiap bagian kulitnya, bibir tebal yang menciumi dan melumat serta gigitan kecil yang dilakukan Chanyeol jelas memberikan perasaan aneh yang juga kenikmatan pada Baekhyun karena jelas tubuhnya menerima semua perlakuan it, menikmatinya dan bahkan menginginkan lebih. Ia ingin merasakan bagaimana sesuatu masuk keras dan besar masuk kedalam tubuhnya, hentakkan yang dilakukan Chanyelol dan juga perasaan aneh yang menjalar diseluruh pusat tubuhnya hingga sebuah keinginan akan pelepasan kenikamtan ia rasakan lagi.

Baekhyun menatap sayu kearah Chanyeol kini tengah merangkak menyamakan posisi badannya dengan dirinya yang berbaring tak berdaya dibawah kukungan pria itu. Chanyeol sempat menciumnyalagi bersamaan dengan salah satu tangan pria itu yang membuka kedua pahanya terbuka lebar dan Chanyeol menempatkan dirinya di tengah – tengah badannya. Baekhyun jelas merasakan keintiman milik pria yang bisa ia sebut suaminya itu bergesekkan dengan keintiman wanitanya.

Ini aneh. Baekhyun yakin rasanya aneh hingga ia menutup matanya dengan erat ketika Chanyeol kembali mencium bibirnya dan meminta ijin akan memasukkan sesuatu yang besar dan tumpul itu. Baekhyun hanya mengangguk mengijinkan, kedua tangannya meremas erat sprei ranjang yanga ada didekatnya perlahan –lahan bersamaan dengan milik Chanyeol yang tengah masuk kedalam lubangi intimnya.

"Aarrgh—"

Chanyeol menghentikkan gerakkannya. Miliknya belum sempurna masuk menyentuh bagian terdalam Baekhyun, tapi mendengar jeritan dari istrinya itu menyadarkan pikirannya bahwa Baekhyun masih belum terbiasa dengan miliknya. Ia bahkan merasakan siksaan cukup berat bagaimana lubang sempit itu mengapit milikinya didalam sana.

"Baekhyun.." usapan tangan pada pipi Baekhyun ia lakukan agar istrinya tidak merasakan sakit atas apa yang ia lakukan.

"Baekhyun sayang, buka matamu.." Chanyeol membawa kedua tangan Baekhyun memeluk lehernya dan mencengkram bahunya, ia masih berdiam kaku diatas badan Baekhyun sama halnya dengan badan Baekhyun yang cukup tegang dibawahnya. Perlahan – lahan matanya mulai terbuka dan enggan menatap yang lain kecuali tatapan mata milik Chanyeol dihadapannya.

"Tatap aku dan katakan bila ini terasa menyakitkan." Chanyeol meyakinkan lagi dan Baekhyun mengangguk ragu, kedua tangannya menekuk kaku dan mencengkram bahu Chanyeol yang kini sudah terasa sedikit lebih berkeringat dibandingkan sebelumnya.

"Hmmm." Baekhyun menahan desahannya saat Chanyeol menekan keintimannya untk melesak masuk lebih dalam. Matanya terpejam sebentar tapi ia paksakan untuk menatap Chanyeol kembali, ia bisa rasakan milik Chanyeol tengah memenuhinya dengan penuh dan sedikit berkedut didalam sana—dan ini membuat Baekhyun menggeliat bergerak dengan sendirinya.

Chanyeol bergerak pelan, menghentak berulang kali dan menekan lebih dalam atau pun mengeluarkan miliknya sedikit dan memasukkannya kembali hingga apa yang ia lakukan mulai teratur dan memiliki ritme gerakkan yang bisa Baekhyun nikmati bersamaan dengan ciuman dan lumatan pada bibir dan bagian leher mereka masing – masing. Ya masing – masing. Karena kini Baekhyun mulai menikmati dan bahkan melakukan apa yang Chanyeol lakukan pada tubuhnya. Chanyeol menggigit—Baekhyun menggigit, Chanyeol mencengkram pinggangnya –Baekhyun mencengkram lengan pria itu dengan kuat, rintihan dan desahan mulai saling membalas dan mereka berdua benar – benar menikmati apa yang dilakukan malam itu, bukan hanya dengan gerakkan lembut tapi pergerakkan kasar.

Baekhyun bahkan mulai merasa nyaman ketika Chanyeol mengangkat badanya dan mendudukkannya pada pangkuannya—tentu saja dengan keadaan keintiman mereka yang masih saling mengisi didalam sana. Ketika badan Baekhyun bergerak naik turun diatas sana dengan kepalanya yang Chanyeol tarik agak mendongak dan menghisap setiap lapisan kulitnya itu sangat menggairahkan. Baekhyun bahkan memohon berulang kali agar Chanyeol bergerak lebih keras menghujam miliknya didalam sana ketika ia merasakan pelepasan lainnya tengah dekat.

Keadaan ranjang yang yang sebelumnnya tertata rapi bahkan kini terlihat sangat berantakan yang diakibatkan atas apa yang tengah pasangan pegantin baru itu lakukan. Tangan Baekhyun bahkan cukup kuat membuat satu bantal disana terkoyak hanya karena ia meremas terlalu kuat ketika ia dan Chanyeol mendapatkan pelepasan disaat yang bersamaan dan pada akhirnya mereka kembali bergelung dengan bulu – bulu angsa yang sengaja ia lemparkan pada Chanyeol ketika mereka tengah tergulai tak berdaya setelah beberapa kali percintaan yang dilakukan—

"Mengingat hal semalam?"

Baekhyun mengerjapkan matanya dengan cepat mendengar suara dari belakang punggungnya dan pantulan diri Chanyeol dari cermin didepannya.

"Kalau kau menginginkannya lagi pagi ini aku tidak akan mengabulkan." Chanyeol memeluk badan Baekhyun yang masih dalam keadaan telanjang dengan sebuah handuk, diakhiri dengan sebuah ciuman pada pipi wanita itu yang tengah menggembung karena senyuman yang ia lakukan. "Kau menguras tenagaku semalam, dan kita butuh istirahat." Kini kedua tangannya melingkar dengan erat memeluk perut Baekhyun.

Baekhyun membelai dekapan tangan itu dan menyandarkan badannya pada badan depan Chanyeol, matanya terpejam merasakan deru nafas dan aroma pria itu yang kini benar – benar memabukkan baginya.

Mereka bertahan dalam posisi itu dan menikmati damainya pagi hari yang cerah dengan dan juga sebuah ingatan tentang malam indah yang mereka lakukan sebelumnya. Chanyeol sangat ingin waktu yang ada saat ini benar – benar berhenti berputar dan ia bisa menikmati semuanya seorang diri, tanpa mengingat tugas dan tanggung jawab yang ia miliki. Tanpa mengkhawatirkan masa depan yang mungkin akan berakhir buruk bagi dirinya dan juga Baekhyun—atau mungkin tidak terlalu buruk, atau bisa lebih buruk dari ingatan mimpi dan penglihatan yang dimiliki Yoora—atau—entahlah, Chanyeol hanya menginginkan ia dan Baekhyun bisa menikmati seluruh waktu mereka dengan sebaik mungkin.

"Terima kasih untuk semalam." Baekhyun berucap dan mencium sedikit bagian sudut bibi Chanyeol yang bisa ia jangkau.

Chanyeol tersenyum dan membalasnya dengan kecupan lainnya. "Terima kasih kembali."

.


-Loves Of Tales-


.

"Bisa ada yang jelaskan kekacauan apa yang kalian lakukan di dunia luar sana?!"

Suara keras dan lantang milik Yunho terdengar mengisi satu ruangan besar pada istana Glorfindel dan tidak ada yang berniat untuk mengeluarkan sepatah katapun menjawab apa yang dikatakan Sang Raja.

"Kalian pergi meninggalkan pesta dan tidak kembali! Lalu membuat sebuah pertunjukkan cuaca disana?! Kau tahu apa yang pimpinan Dunia sana tanyakkan pada para Dewa saat ini hah?!

"Yang Mulia—"

Yunho menghela nafas panjang dan beralih kepada sosok Yixing yang kini beranjak berdiri dari tempat duduknya meskipun kepalanya masih menunduk dan takut untuk bertatapan langsung dengan Sang Raja.

"Mengenai.. masalah.. cuaca.. kemarin itu..."

"Bicara yang jelas Yixing! Kau memiliki tingkat setara dengan para Raja disini tapi kau bertingkah seolah – olah posisimu berada dibawah kami!" Yunho masih terdengar kesal dan marah—itu sudah jelas.

"I-iya Yang Mulia.. Maafkan aku. Mengenai masalah cuaca kemarin itu.." Yixing masih menunduk. "Aku sengaja meminta Para Putera Mahkota untuk membuat pertunjukkan cuaca... karena.." suaranya masih enggan terlontar lebih keras dan menjelaskan seluruh kejadian yang Yunho tanyakkan sedari tadi.

"Yang Mulia!"

Suara pintu ruangan tersebut terdengar terbuka dengan kasar serta suara Yoora yang memanggil dari balik daun pintu—dan juga sosok Kris ikut muncul dibaliknya. Mereka berjalan menyusul tempat dimana Putera dan Puteri Mahkota lainnya duduk dengan patuh dihadapan para Raja dan Ratu yang masih berkumpul disana menanti sebuah jawaban akan apa yang telah diperbuat oleh beberapa Putera dan Puteri Mahkota.

"Kau!" Yunho menatap Puteri Mahkota Glorfindel itu dengan tatapan bingung dan juga marah melihat bahwa puterinya baru kembali ke Istana setelah menghilang dan berpergian tanpa memberikan kabar sekali pun.

"Maafkan aku, aku tahu kami seharusnya kembali ke Istana secepat mungkin tapi ada sesuatu terjadi dan kami tidak bisa kembali begitu saja ke Istana." Yoora menjelaskan secara cepat ketika langkahnya semakin mendekat ke tempat dimana Yunho berada. "Aku akan menjelaskan apa yang terjadi tapi tidak aku ucapkan.." Yoora mengarahkan tangannya pada Yunho—seperti biasa.

"Aku benar – benar bersyukur kalian kembali tanpa ada keributan dengan kaum Hades atau apapun itu. Dan aku berharap ini semua bukan karena niatan nakal dan bodoh kalian!" Yunho menatap satu per satu para wajah Putera dan Puteri Mahkota sebelum ia menangkup tangan Yoora dan membiarkan puterinya memberikan penghlihatan atas hal apapun yang terjadi sebagai alasan kekacauan yang mereka lakukan di Dunia Luar sana.

.

.

.

.

.

.


-Loves Of Tales-


.

.

.

.

.

"Aku bisa merasakannya!" Suara Kronos terdengar diseluruh kobaran api disana sementara Hades bermain – main dengan para serigala dan juga burung gagak yang mereka miliki.

"Mereka telah kembali didunia ini dan bahkan kekuatan yang dimiliki telah menyatu dengan sempurna! Aku tahu itu!"

Hades menganggukkan kepala mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kronos. "Walaupun mereka telah kembali ke dunia ini dan bersatu dengan kekuatan yang dimiliki, Kekuatanmu dan wujudnya tidak akan kembali dengan sempurna."

"Cih! Untuk itu aku memintamu mencari reinkarnasi belahan jiwaku! Hanya dia yang bisa membawaku kembali dalam wujud Kronos dengan sempurna! Bukan abu dan api yang mudah hancur karena Phoenix!" Kronos membentak lagi dan meluapkan api pada wujudnya saat ini yang membakar hampir seluruh bagian tanah dimana ia tapaki saat ini—meskipun sebenarnya semua yang tapaki adalah api Dunia Bawah.

"Temukan belahan jiwaku! Dan kita akan memiliki dunia seutuhnya dengan sempurna tanpa ada perlawanan dari Phoenix!" Kronos memohon pada Hades—puteranya. Yang masih menatap sendu pada Sang Ayah yang hanya bisa ia lihat dalam wujud abu dan api.

"Aku akan mengerahkan anak buahku untuk mencari keberadaan mereka lagi."

"Dan temukan anak itu."

Kronos mendekat pada Hades dan menatapnya begitu dekat.

"Anak itu?"

"Sang Puteri Bulan."