Chapter 14

Kenyataan dan Kebohongan (Part 4)

.

Sebelumnya kita ketahui jika Shiva mengamuk karena duel yang terjadi diantara kedua kepribadiannya. Akibat itu terjadilah badai es besar yang menyebabkan seluruh pulau membeku dan tertutupi salju. Bahkan tempat berlindung terbuat dari boneka kayu Totoitoy pun ikut membeku dan membuat mereka terjebak di dalam sana. Tapi beruntung suhu dingin itu tidak mencapai bagian dalam dari kubah tersebut.

Lagipula, masih tidak aman jika ingin keluar sekarang.

"Apa ini?" tanya Yaya, mungkin lebih ke dirinya sendiri.

"Ini adalah bagian dalam dari cangkang boneka kura-kura raksasa milikku. Untuk saat ini kita aman di dalam sini" jawab Totoitoy menjelaskan.

Tangannya tampak ia arahkan ke depan untuk mengambil gulungannya yang tadi terbenam ke tanah. Dengan sedikit perintah benda itu keluar dengan sendiri dan terlihat melayang-layang di hadapannya. Saat dia memegangnya, ia pun mulai mengganti topik pembicaraan yang lain. "Yang lebih penting bagaimana keadaan Ryuuketsu?"

Yaya tersentak dan sedikit mengerjap kaget, lalu mulai mengecek kembali keadaan Blaze. Dia memeriksa dengan sangat detil, dari suhu tubuh, detak jantung sampai denyut nadi. "Itu... Setelah kejadian tadi, tiba-tiba saja Blaze kembali bernafas, tubuhnya mulai menghangat dan denyut nadinya perlahan kembali normal, luka di dadanya pun pulih dengan sangat cepat. Tapi dia masih belum siuman" jelas gadis itu.

Totoitoy mendekat, terlihat bocah vampir itu tengah terbaring diam dengan dua buah jaket sebagai pengganti selimut untuk menghangatkan dirinya. Satu milik Ice dan yang satu lagi punya Yaya. Adik dari Yaya itu berjongkok dan mengamatinya lekat-lekat. Memang benar, kulitnya sudah tidak sepucat tadi, dia pun terlihat bernafas normal menggunakan pernafasan perut. Wajahnya damai sekali. Dilihat bagaimanapun dia hanya seperti tertidur saja.

Tapi itulah yang jadi membingungkan sampai membuat Totoitoy mengernyitkan dahi.

"Kenapa?" Yaya tampak terheran-heran melihat wajah kecut adiknya.

Masih fokus, tanpa menoleh pada Yaya, anak itu mulai menjelaskan. "Tidak. Yang kutahu tombak es itu bisa membuat apapun yang menyentuhnya beku dengan cepat. Jika dia menerima serangan langsung seperti tadi maka organ dalamnya akan membeku dan harusnya dia sudah mati sekarang. Mungkinkah... Begitu rupanya..."

"Apa?"

"Sepertinya dalam hal ini Phoenix ikutturun tangan. Ya wajar, dia tidak pasti nggak akan membiarkan tuannya sampai mati." Ujar Totoitoy.

"Phoenix itu... adalah yang diincar oleh orang-orang tadi kan? Apa itu familiarnya Blaze-kun?" tanya gadis itu lagi.

"Begitulah. Setahuku Phoenix itu adalah familiar yang sangat langka. Mitos yang kudengar dan dipercaya oleh ninja vampir, phoenix hanya muncul sekali saat seribu tahun yang lalu. Dia lumayan pemilih dalam menentukan hostnya. Memang tidak separah Seiryuu, tapi Phoenix itu sangat setia. Jika tuannya mati maka dia akan menyusul dan ikut mengantarkannya ke alam baka. Setelah itu dia akan dilahirkan kembali bersama dengan host yang baru. Kalau Flame emperor itu sampai memilih Ryuuketsu berarti ada sesuatu yang spesial padanya. Dan kelihatannya familiarnya ini sangat kuat hingga bisa menghentikan kekuatan Shiva. Itu berarti tidak ada satupun diantara kita yang menghadapinya selain Ryuuketsu."

"Tapi gimana caranya? Dia aja nggak bisa bangun. Selain itu, yang kudengar dari Hali-Nii kalau Phoenix sudah lama disegel. Dia terpaksa melakukannya karena Blaze nggak mampu mengendalikannya." komentar Ice terhadap pendapat Totoitoy sebelumnya.

"Aku sudah dengar. Kebakaran di sekolah kemarin itu terjadi karena familiarnya mengamuk. Tapi itu tidak bangkit sepenuhnya kan?" kata Totoitoy sambil bersedekap. Dan Ice mengangguk pelan menanggapi ucapannya. "Jadi apa kau tahu kira-kira kenapa segelnya sempat terbuka waktu itu?" lanjutnya bertanya.

"Sepertinya... karena waktu itu kita membicarakan tentang kekuatannya. Mungkin Blaze teringat sesuatu yang berkaitan dengan itu" jawab Ice agak ragu-ragu.

"Jadi intinya, kuncinya ada di ingatan" simpul Totoitoy. Setelahnya dia mulai kembali bersedekap lalu melontarkan gagasannya. "Yah... pertama-tama kita coba bangunkan dia dulu, baru setelahnya kita bahas itu dengannya?" sarannya. "Hmm... Ada apa?" saat dia melihat pada Kakaknya, tampak Yaya tengah memperhatikan Blaze dengan tatapan sedikit menerawang.

Gadis itu tersentak kaget dan sempat menoleh pada Adiknya beberapa detik sebelum kembali memandang wajah bocah yang sedang tertidur lelap di hadapannya. "Tidak... Hanya... Saat dia diam begini, dia terlihat seperti Hali-kun" tutur Yaya.

Totoitoy membuang nafas panjang. "Yah... Darah itu lebih kental daripada air. Sebenci apapun dirimu pada Kakak atau Adikmu, itu tidak akan mengubah fakta jika kalian bersaudara" komentarnya.

"Darah...?" Yaya berdesir pelan setelah mendengar penjelasan Adiknya. Kalau dipikir-pikir lagi waktu itu kejadian yang dialami Halilintar hampir seperti ini. Dia seperti kehabisan tenaga untuk memulihkan diri, bahkan untuk berdiri saja hampir tidak bisa. Mungkin jika diberikan darah, Blaze bisa bangun kembali.

"Kau memikirkan apa yang kupikirkan?" tanya Adiknya, menatapnya dengan satu alis terangkat.

Yaya menjawab dengan mengganggukan kepalanya secara singkat.

"Aku yang akan melakukannya, jadi kita nggak perlu khawatir kalau vampir ini akan berbuat macam-macam pada Akak" Totoitoy berujar dengan santai. Tangannya terlihat merogoh-rogoh ke balik jaketnya, mencari bilah pisau yang sengaja ia bawa dan sembunyikan. Sebelumnya benda itu dia pakai untuk memotong ranting dan kayu-kayu kering, karena tidak mungkin kan dia membawanya dengan ukuran besar seperti itu.

"Aku nggak keberatan kok kalau cuma ngasih darah" tukas Yaya dengan begitu polosnya. Dan sukses membuat sebuah pertigaan muncul di dahi adiknya tersebut

"AKU YANG KEBERATAN! SEENAK JIDATNYA SAJA MAU PEGANG-PEGANG KAKAKKU! TIDAK AKAN KUBIARKAN ITU TERJADI! Dan satu lagi. Cowok manapun yang mau menikah denganmu harus bisa melangkahi mayatku dulu!"

Bocah itu mengomel dengan begitu keras hingga membuat Yaya tertegun di tempat. Dia tidak sadar saat mengatakannya ada orang lain di dalam sana yang ikut merasa terintimidasi.

Yaya tahu dan sengaja mengatakannya karena pernah merasakan seperti apa sakitnya digigit seekor vampir. Sampai sekarang dia tidak akan lupa bagaimana nyeri dan panas leher bahkan sekujur tubuhnya ketika Halilintar menghisap darahnya. Tentu dia tidak ingin adiknya merasakan hal yang sama. Tapi sebaiknya dia tidak perlu keceplosan untuk membicarakan itu atau tidak Totoitoy akan berpikir untuk mencincang vampir satu itu sampai benar-benar tidak berbentuk.

Sehingga gadis itu pun coba memikirkan alasan lain. "Toto, biar aku saja yang melakukannya." Adiknya sontak menoleh padanya dengan dahi berkerut. Tapi Yaya belum selesai. "Blaze-kun jadi begini karena aku. Kalau misalnya saja dia tidak menolongku waktu itu, dia nggak akan terkena serangan"

"Nggak. Itu karena dia sendiri yang lengah. Lagipula memang lebih baik jika dia yang menerima serangan dibandingkan Akak, karena tahu dia pasti bisa memulihkan diri. Dia membuat keputusan yang tepat" sanggah adiknya masih tidak terima seperti apapun alasan Kakaknya itu.

"Tapi! Tetap saja–"

"Baiklah! Dari dulu Akak itu memang selalu keras kepala. Kau merasa berhutang nyawa padanya kan? Lakukan saja semaumu" menyerah dengan keinginan Kakaknya yang sangat bersikeras itu, dia pun memberikan izin. Dia sudah nggak mau tahu lagi jika sampai kenapa-napa, tanggung saja sendiri. Toh dia sudah memperingatkan sejak tadi, gadis berkerudung itu saja yang tidak mau dengar.

Dengan berat hati dia menyiapkan pisau yang akan digunakan untuk mengiris sedikit kulit Yaya agar darahnya mengalir keluar. "Kemarikan tanganmu" perintahnya.

Seperti tanpa beban, Yaya mengulurkan lengannya dan membuka lebar-lebar telapak tangannya. Totoitoy pun langsung mengarahkan bilah besi tajam itu sejajar dengan ibu jari, mungkin agak menyerong beberapa derajat.

Masih ragu-ragu, dia pun kembali menatap Kakaknya. "Kau yakin?" tanyanya. Yaya mengangguk mantap. Tatapannya begitu serius, tidak terbersit sedikitpun rasa takut di wajahnya. Dan itu membuat adiknya sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Dengan begitu terpaksa dia pun langsung menggerakan pisau itu.

Lalu setelahnya suara baretan besi tajam bergema dan memecah kesunyian di dalam ruangan tersebut.

~MA~

Ada yang pernah bilang, ketika seseorang mengalami kematian otaknya masih berfungsi selama beberapa menit. Dan selama beberapa menit itu kita akan diajak untuk membongkar keseluruhan memori yang tersimpan di dalamnya dalam bentuk mimpi.

Di dalam mimpi itu kita akan melihat perjalanan hidup kita secara berurutan layaknya susunan adegan film, dimana kita adalah tokoh utamanya dan kita sendiri juga lah penontonnya.

Mungkin yang dialami oleh Blaze saat ini mirip seperti itu, hanya sedikit berbeda.

.

.

(Sedikit catatan, yang ditengah diketik miring itu narasi dari Blaze)

Saat kedua mata dengan manik fire opal itu terbuka, ia pun mendapati dirinya sudah berada di tempat berbeda. Tentu saja hal ini membuatnya bingung, bagaimana bisa dia tiba-tiba berpindah dari pulau terpencil tak berpenghuni ke dalam sebuah bangunan rumah bergaya tradisional Jepang.

"Dimana ini?"

Jujur saja, Blaze tidak tahu dimana dirinya sekarang, namun tempat ini tak terasa asing baginya. Dia terus memperhatikan sekelilingnya hingga tak sengaja ia dibuat kaget bukan kepalang saat melihat badannya sendiri.

Tangan dan keseluruhan anggota tubuhnya...

Transparan.

Bahkan garis dari sela-sela kayu lantai bisa terlihat jelas, menembus dari kakinya.

"Kenapa dengan tubuhku!?"

Selagi anak itu kebingungan dengan pertanyaan yang terus berdatangan dari benaknya sendiri, tak lama kemudian pintu depan rumah itu terbuka ketika ada seseorang yang menggesernya.

"Aku pulang!" seru orang itu.

Blaze sampai terbelalak saat melihat siapa yang barusan membuka pintu tersebut. Seorang anak laki-laki dengan kisaran umur antara 8 atau 9 tahunan dengan jaket berwarna hitam dan corak khas petir merah ditambah aksesoris berupa topi beraksen serupa tengah berdiri di depan pintu masuk sembari menggeser kembali pintu tersebut rapat seperti semula.

Dia mengenali anak itu sebagai sosok kakak kandungnya yang punya imej galak dan dingin. Tanpa sadar mulutnya mulai bergerak ingin memanggilnya.

"Ani–"

"Nii-chaaaaan!"

Sayang, ucapannya harus terputus oleh sebuah raungan yang begitu nyaring. Dia pun sukses dibuat melongo sekali lagi, ketika sesaat kemudian seorang anak laki-laki lain datang dari dalam rumah untuk menghampiri si anak yang notaben umurnya lebih tua.

Anak berumur 5 tahunan dengan manik merah kejinggan nampak berjalan lesu dengan membawa sebuah boneka beruang besar sambil asik menyeka air matanya, kelihatannya sejak tadi ia terus menangis hingga matanya bengkak.

Melihat kondisi anak itu si bocah berjaket hitam pun segera melepas sepatu dan naik ke beranda kemudian berjongkok untuk menyamakan tingginya yang terkesan cukup bongsor dibandingkan anak lain seumurannya dengan tubuh adiknya tersebut. "Ada apa?" tanyanya lembut dengan wajah penuh kecemasan.

Sambil terisak bocah kecil itu pun coba menjelaskan semampunya. "Aku merusak mainan teman perempuanku... hiks... habis itu kami marahan... Dia udah gak mau ngomong lagi denganku. Dia membenciku... Gimana ini!" dan tak lama kemudian air matanya kembali mengucur keluar meskipun ia sudah sebisa mungkin mencoba menahannya.

Mendengar penjelasan adiknya si kakak pun segera berinisiatif untuk menenangkannya. Diusapnya kepala adiknya yang tertutupi oleh helaian rambut tebal berwarna hitam kecoklatan itu dengan penuh kasih sayang. Bocah kecil itu sontak mendongkak dan menemukan sang Kakak yang punya wajah berparas sama dengannya tengah tersenyum dengan tatapan yang begitu lembut.

"Blaze... Serahkan padaku" ucap anak bermanik ruby itu.

Hal itu pun sukses membuat tangisannya mereda, sebagai gantinya ia hanya mampu menatap bingung pada anak yang lebih tua 3 tahun darinya tersebut.

.

Blaze ingat sekarang.

Ini kejadian 10 tahun yang lalu.

Dan ini adalah rumahnya yang dulu terletak jauh di tengah-tengah lembah pegunungan.

.

.

Beranjak dari pintu depan keduanya pindah ke ruangan tengah, dimana biasanya keluarga mereka berkumpul entah untuk makan bersama atau sekedar bersantai. Saat ini Halilintar nampak sibuk melakukan operasi kecil, dengan peralatan seadanya berupa benang dan jarum dari kotak jahit milik ibu mereka. Ia pun mulai memperbaiki bagian yang sobek dari boneka teddy bear yang tak sengaja dirusakkan oleh adiknya tersebut.

Sang adik pun tampak memperhatikan dengan begitu seksama ketika jari-jari Halilintar dengan begitu terampil memasukkan dan mengeluarkan jarum serta benang tersebut. "Bisa diperbaiki...?" tanyanya pelan.

"Tidak apa-apa, ini bukan masalah serius. Sebentar lagi juga beres, jadi jangan khawatir. Setelah ini aku juga akan menemanimu untuk minta maaf" sahut Halilintar, terlihat begitu fokus mengerjakan kegiatannya tersebut. Si adik pun hanya mengangguk pelan, menurut dengan apa yang diucapkan oleh Kakaknya.

Sewaktu masih kecil, aku adalah anak yang sangat penurut pada Kakakku.

Aku kagum padanya karena dia bisa melakukan apapun yang aku tidak bisa.

"Sip! Selesai!" seru Halilintar girang sembari mengacungkan boneka beruang berbulu putih tersebut ke udara. Bangga pada hasil kerjanya sendiri.

Melihatnya membuatnya Blaze kecil begitu senang dan kembali ceria. Dengan tatapan berbinar, senyum lebar pun segera mengembang di wajahnya. "Nii-chan hebat!" serunya. Saking girangnya ia bahkan sampai naik ke atas meja dan melompat-lompat disana.

"Hei turun! Bahaya tahu, nanti jatuh!" tegur Halilintar begitu panik. Namun sepertinya tak terlalu didengarkan oleh si adik. "Turun kataku!" kali ini Halilintar coba sedikit membentak. Dan di percobaan kedua ini Adiknya itu mau menurut untuk turun dari meja. Ia melompat dan menjadikan Kakaknya sasaran pendaratan seolah ia adalah kasur atau matras yang empuk.

Halilintar pun dengan cepat langsung menangkapnya. Alhasil mereka pun berakhir tersungkur di lantai dengan posisi Blaze menindihi tubuh Kakaknya. "Dasar kau ya. Rasakan ini" gemas dengan tingkah adiknya, bocah bermanik ruby itu secara spontan membuat sebuah permainan kecil dengan menggelitiki ketiak serta pinggang Blaze.

Blaze sontak tertawa kegelian dan coba menyingkirkan tangan Halilintar, bahkan membalas balik. Namun apalah daya seorang anak kecil berumur 5 tahun dibandingkan dengan Kakaknya yang bertubuh lebih besar, sudah pasti dia kalah. Tawa Kakak beradik tersebut pecah ketika permainan itu membuat keduanya berguling di lantai, dan baru berhenti saat Halilintar melepaskan gelitikannya. Hingga akhirnya kakak-adik itu hanya bisa rebahan di lantai rumah tersebut dengan nafas terengah sambil sesekali tertawa kecil jika mengingat candaan mereka sebelumnnya.

Tapi bukan hanya aku saja.

Nii-chan adalah kebanggan bagi seluruh warga desa.

Karena di umurnya yang masih begitu muda dia sudah mampu memanggil dan mengendalikan familiar dengan begitu baik.

Bahkan bukan familiar sembarangan.

Melainkan Byakko, sang Harimau putih. Familiar legendaris setingkat dewa.

.

Di waktu yang berbeda, di sebuah tanah lapang yang begitu luas, terlihat jika si Kakak tengah berhadapan dengan ayah mereka untuk menjalankan sesi latihan. Sementara si kecil hanya mampu mengintip kegiatan itu secara diam-diam dari balik sebuah pohon besar.

"Datanglah, Shuiro!"

Tak lama setelah di panggil seekor harimau bengala berbulu coklat dengan loreng hitam muncul dengan melayang di udara. Tubuhnya berlapis api yang membara terutama pada bagian leher dan tapak-tapak kakinya.

Sosok familiar milik sang ayah yang begitu gagah itu pun telak membuat yang melihatnya serasa dihipnotis, terutama Blaze yang sedari tadi memperhatikan walau hanya dari jauh saja.

"Lintar!"

"Baik!"

Hanya dengan satu teguran singkat dari ayahnya, Halilintar sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Satu tangannya langsung diarahkan ke atas, ia pun berkonsentrasi penuh. Sesaat kemudian muncul kabut tebal di sekitarnya diikuti dengan kilat listrik dan suara menggelegar. Dari dalam kabut itu muncul sesosok harimau putih berukuran raksasa.

Benar, familiar milik Halilintar. Sang harimau putih, dewa penjaga gerbang barat. Byakko.

Tak lama dua ekor makhluk mistis berwujud harimau jantan dengan warna bulu berbeda pun saling berhadapan satu sama lain. Namun berbeda dengan harimau milik sang ayah yang terlihat siap siaga menerima perintah apapun dari sang majikan, Harimau milik Halilintar justru terlihat begitu tenang dan agak sedikit menyengir menganggap remeh musuh di depannya, entah dia pikir ini main-main atau bagaimana.

"Shuiro, serang!" perintah pria paruh baya tersebut pada makhluk panggilannya. Sang harimau bengal mengikuti perintah dan maju melangkahkan keempat kakinya ke arah lawan tandingnya.

"Maju, Byakko!" Halilintar tak mau kalah. Tanpa gentar ia langsung saja mengerahkan peliharaannya untuk melawan balik, tak tersirat sedikitpun keraguan di matanya untuk menyerang, sekalipun itu adalah familiar milik ayahnya sendiri.

Segera saja pertarungan antara dua elemen alam berbeda pun tidak terhindarkan lagi. Petir menggelegar dan Api berkobar dengan kencang secara bersamaan ketika dua makhluk itu mengaum juga mengeram dengan ganasnya, beradu kekuatan dan saling baku hantam satu sama lain. Pertarungan heboh ini tentu banyak menarik perhatian warga desa hanya karena sekedar ingin menonton sang kepala desa melatih putra sulungnya yang merupakan penerus klan Ryuuketsu, klan tertinggi disana.

Pertandingan ini tidak memakan waktu lama, karena beberapa saat kemudian harimau jantan berbulu coklat itu dibuat kalah telak setelah dibantai oleh sang harimau putih hingga membuat makhluk itu tumbang dan seketika lenyap di udara.

Yang menonton sontak tercengang bahkan hampir dibuat tak bisa menangkupkan mulut.

"He–Hebat..." gumam salah seorang penonton.

"Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, putra kepala desa memang luar biasa" sahut orang yang ada di dekatnya.

Tak lama kemudian sorak-sorai begitu riuh dari para penonton pun memecah keheningan yang terjadi sesaat itu. Dengan perasaan kagum dan bangga mereka serentak mengelu-elukan nama Halilintar.

Bocah yang sedari tadi terlalu fokus bertarung hingga tidak menyadari puluhan pasang mata yang menyaksikan aksinya sontak bingung. Sementara adiknya masih memperhatikan dari kejauhan, tidak berani mendekat karena warga desa langsung saja berbondong-bondong menghampiri kakak maupun ayahnya. Sehingga ia hanya bisa tersenyum sambil terus mengintip dan menyembunyikan dirinya.

Benar. Bagi warga desa Kakakku adalah seorang pahlawan di masa depan.

Dia dicintai oleh semua orang.

Tapi meski begitu...

Beberapa saat kemudian tanpa disadari oleh si kecil, Kakaknya tersebut berhasil memergoki keberadaannya. Sembari mengabaikan para warga desa ia langsung saja mendekat ke arah pohon besar tersebut dan berhenti tepat saat berjarak kurang lebih satu setengah meter. "Blaze, sedang apa kau disana?" tanya anak itu.

Si adik tersentak dan agak malu-malu memunculkan dirinya dari balik pohon itu.

"Ayo sini" Halilintar merentangkan kedua lengannya dengan begitu luas, siap menyambut adiknya itu kapanpun. Blaze pun sukses dibuat tersenyum lebar. Tanpa rasa canggung ia berlari ke arahnya dan langsung memeluknya.

Begitupun dengan Halilintar yang tanpa ragu segera membalas pelukan adiknya dengan begitu erat.

Dia tidak pernah lupa diri dan selalu memikirkanku.

.

.

Pagi hari di waktu yang berbeda lagi, dengan agak terburu-buru anak sulung dari keluarga Ryuuketsu itu memasang sepatunya dan langsung membuka pintu depan.

"Aku berangkat dulu, Ayah." Salamnya pada pria paruh baya yang tengah duduk di ruang tengah sembari asik membawa koran.

Pria yang dipanggilnya ayah itu pun tampak menurunkan bahan bacaan tersebut dan beralih menatap pada putra sulungnya. "Pagi sekali kau ke sekolah" katanya dengan nada bicara yang berat dan tegas.

Ayahnya atau berarti Ayah mereka adalah seorang pria besar bertubuh tinggi tegap. Rambutnya berwarna merah seperti nyala api dan bola matanya senada dengan warna rambutnya.

"Aku ada piket hari ini" jawab Halilintar singkat.

Si ayah hanya menggumam maklum lalu kembali lanjut membaca berita yang tertera pada surat kabar tersebut pada bagian yang terhenti sebelumnya. "Ya sudah, hati-hati" ujarnya.

Dan beberapa saat kemudian muncullah suara gaduh berupa hentakan sepasang kaki mungil yang berasal dari dalam rumah. Si pemilik anggota tubuh nampak terburu-buru menuju pintu depan sambil menenteng tas selempang miliknya."Nii-chan, tunggu! Kita berangkat bareng!" Ia mencoba menyusul Kakaknya yang sudah lebih dulu berada di ambang pintu, padahal seragam TK berwarna biru yang dikenakannya masih belum rapi hingga membuat Ibunya terpaksa harus menangkapnya agar ia berhenti.

"Eit, kamu belum siap!" cegat wanita muda berambut coklat dan sepasang bola mata berwarna magenta tersebut.

"Tapi Nii-chan–" protes bocah itu sebelum akhirnya ia melihat jika si Kakak sudah berangkat tanpa menyadari kehadirannya. Tentu saja hal ini membuatnya begitu kecewa. Matanya sampai berkaca-kaca, ingin menangis.

Dengan cepat sang ibunda pun langsung memeluk untuk menenangkan putra bungsunya tersebut. "Kau mau berangkat dengan Kakak ya? Maaf ya, kalau Ibu tahu pasti Ibu akan mempersiapkanmu lebih cepat. Kau masih bisa berangkat bareng dengan Kakakmu lain kali kok. Jadi sekali ini tidak apa-apa kan?" bujuknya begitu lembut dan terkesan sedikit memanjakan.

Blaze hanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Ibunya tersebut dengan pasrah.

"Kalau gitu kita sarapan dulu ya?" kali ini perempuan muda tersebut berdiri dari sana sembari menuntun buah hati kesayangannya menuju meja makan. Putra kecilnya pun hanya menurut ketika tangannya digenggam dengan sentuhan lembut sang bunda yang menuntunnya ke ruangan tengah.

Waktu itu aku jadi berpikir.

'Aku ingin cepat tumbuh besar agar bisa masuk ke sekolah yang sama dengan Kakak.

Jadi kami selalu bisa berangkat bersama'.

~MA~

Hari-hari berlalu begitu cepat. Pernah suatu siang ketika Halilintar baru saja pulang ke rumah setelah kembali dari sekolah, tahu-tahu begitu membuka pintu dia sudah disambut oleh si kecil. Adiknya itu nampak begitu girang hanya dengan melihat kedatangannya saja.

"Nii-chan, ayo kita main!" ajaknya seraya menarik-narik lengan si Kakak dengan tak sabaran. "Ayo, ayo!" lanjutnya merengek. Padahal Halilintar baru saja datang, bahkan belum melepas sepatu apalagi menaruh tas dan ganti baju.

"Iya, Iya. Tunggu sebentar" tegas Halilintar, coba memberi pengertian untuk si adik.

"Cepat~!" rengek bocah berbola mata merah itu lagi dan semakin menghentak tangan Halilintar.

"Blaze, jangan ganggu Kakakmu!" hingga teguran sang ayah pun sukses membuatnya terdiam. Kedua Kakak-beradik itu sontak menoleh kepada pria paruh baya yang saat ini tengah bersantai di ruang tengah itu. Kelihatannya beliau merasa sedikit terganggu dengan ocehan dari putra bungsunya yang begitu cerewet dan manja tersebut. "Kau ada PR kan? Kerjakan dulu baru boleh pergi main" gantinya bicara pada putra sulungnya.

Halilintar melirik ke arah Blaze. Ia nampak menunduk dengan bibir berkerut dan mata berkaca-kaca. Jujur, sebenarnya adiknya itu memang tidak bernyali jika berhadapan ayah mereka, bahkan hanya untuk bertatapan mata saja, apalagi jika bicara. Mungkin Blaze sadar jika dia tidak punya hal yang bisa dibanggakan bagi sang ayah hingga menjadi begitu rendah diri. Ditambah lagi ayah mereka itu orangnya sangat gala –tegas.

Bocah berumur 9 tahun itu pun menghela nafas lalu memasang senyum sembari memandang ayahnya. "Tidak apa-apa Ayah, aku bisa kerjakan itu nanti. Kemarin aku janji pada Blaze untuk mengajarinya melempar shuriken." Ujarnya membuat alasan.

Si Ayah sontak mendelik tajam pada anak tertuanya itu beberapa saat sebelum akhirnya berdeham kencang dan kembali fokus pada pertandingan baseball yang disiarkan di televisi dan sejak tadi ia tonton. "Lakukan sesuka hatimu" gerutunya agak cuek, namun tetap memberikan izin.

Sementara itu Blaze hanya melongo ke arah Halilintar, ia hampir tidak percaya Kakaknya itu berani berbohong pada ayah mereka hanya agar bisa menemaninya bermain. Tapi yang lebih membuatnya heran ayahnya percaya dengan ucapan Kakaknya. Halilintar yang menyadari tatapan si adiknya hanya membalas balik dengan senyuman dan memberikan isyarat berupa kedipan mata. Segera saja senyum Blaze pun mengembang dengan lebar saking senangnya.

.

Tak lama kemudian kedua kakak-beradik itu pun pergi ke tanah lapang luas dengan rerumputan hijau dan pohon-pohon lebat nan begitu teduh dimana anak-anak lain biasanya suka bermain dan berlatih disana setiap sore.

Sebuah baja berkilau nampak melesat melewati batang-batang pepohonan rimbun, berputar arah dengan cepat hingga mendarat pada titik merah di sebuah bull eye yang tergantung pada sebuah pohon yang letaknya agak lebih dalam. Yang melempar senjata barusan tak lain dan tak bukan adalah si putra sulung keluarga Ryuuketsu, Halilintar. Sontak saja kawan-kawannya yang sedari tadi melihat aksinya bertepuk tangan kagum, karena ia berhasil membelokkan arah lemparan shuriken hingga bisa menukik tajam dan tepat mengenai sasaran.

"Hebat banget, Hali! Gimana caranya membelokkan sampai sejauh itu?" puji salah seorang temannya.

"Nggak heran kau dijulukin anak ajaib. Kalau aku sih kayaknya gak bakalan bisa" timpal anak yangg satu lagi.

"Nggak juga kok, kalau rajin latihan pasti juga bisa" sahut Halilintar agak merendah.

Beberapa saat kemudian mereka mulai merasakan ada yang janggal.

"Ngomong-ngomong Hali, adikmu mana?"

"Eh?"

Dan benar saja, entah sudah berapa lama karena asik bermain si Kakak pun tidak menyadari jika adiknya sudah lepas dari pengawasannya. Seketika itu juga Halilintar mulai dibuat panik dan langsung saja mengerahkan pandangan untuk mencari si adik.

"Nah itu kan..."

Namun kekhawatirannya segera hilang ketika salah satu temannya sudah lebih dulu menemukannya, anak laki-laki itu tampak menunjuk ke arah si bocah kecil yang entah sedang apa berjongkok di dekat sebuah pohon paling besar yang ada disini.

Rupanya di dekat pohon itu ada seekor kelinci kecil yang sedang asik mengunyah rumput tanpa menyadari jika Blaze sedang mengintainya dengan tatapan tajam layaknya seekor predator yang sedang mengincar mangsanya. Secara perlahan bocah kecil itu mengendap-endap agar bisa mendekat dan menangkapnya.

"Blaze, sedang apa kau disini?"

Sayangnya aksi perburuan itu hancur seketika gara-gara Halilintar yang tiba-tiba saja muncul dan menegurnya hingga membuat si kelinci terkejut dan sadar dengan adanya kehadiran makhluk lain di dekatnya. Binatang menggemaskan berbulu putih itu sontak melompat dan kabur secepatnya dari sana, masuk lebih dalam ke hutan.

Bisa dibayangkan betapa kecewanya Blaze ketika mangsanya berhasil melarikan diri waktu itu. Tapi kelihatannya ia tidak mau menyalahkan Kakaknya, dia terlalu sayang untuk melakukannya. Masih dengan posisi berjongkok, Blaze memanyunkan bibirnya menahan kesal. "Nii-chan, aku lapar" keluhnya, menatap wajah Halilintar dengan tatapan memelas.

"Eh? Kalau gitu mau pulang dan makan? Mungkin ibu sudah selesai masak sekarang" tanya Halilintar.

Blaze menggeleng. "Aku mau darah." rengeknya.

Halilintar sukses dibuat terhenyak oleh permintaan adiknya. Itu kan berarti mereka harus berburu dan sebisa mungkin menangkap hewan berdarah panas yang ada. Merepotkan saja.

Dan kasihan juga.

Bocah bermata ruby itu dibuat kebingungan, ia pun coba memutar otak mencari alternatif lain untuk ditawarkan "Uhm...? Tapi hari ini Ibu masak hat–"

"Darah! Darah! Aku maunya darah!" dan dengan cepat ditolak oleh Blaze yang mulai rewel. Bahkan Kakaknya sampai kehabisan akal dan dibuat mendesah sambil mengusap kepala belakangnya.

"Berikan sajalah, dia kan masih kecil. Masih belum bisa menahan nafsunya" saran seorang temannya.

Halilintar hanya menghela nafas, pasrah. "Apa boleh buat" ujarnya. Terpaksa daripada adiknya terus-terusan merengek. "Tunggu sebentar ya? Biar kucarikan dulu" ia mengelus kepala Blaze lembut lalu setelahnya langsung melompat ke atas pohon dan bergerak masuk ke dalam hutan dengan secepat kilat. Saking cepatnya sampai kedua temannya itu dibuat terdorong mundur oleh kibasan angin yang dihasilkannya saat bergerak.

"Ke–Keluarga Ryuketsuu itu memang sakti ya?" komentar bocah itu. Coba pikir baik-baik, anak berumur sembilan tahun mana yang tenaga maupun kemampuannya seperti orang dewasa begitu.

Untuk versi vampir sih.

"Tapi mereka diberi kelebihan begitu memang untuk melindungi desa kan?" sahut anak yang satu lagi.

"Iya juga sih, pasti susah sekali agar bisa menjadi seperti yang diharapkan orang-orang. Kalau aku sih lebih suka jadi biasa-biasa saja"

Tak lama kemudian saat mereka masih asik berbincang, yang dibicarakan datang. Seolah-olah baru saja terbang, bocah itu terjun dari atas, lalu mendarat ke atas permukaan tanah hingga menimbulkan bunyi dentuman yang kuat serta debu yang beterbangan kemana-mana. Tak ayal dua temannya kembali dibuat syok sekali lagi dengan aksi mengejutkannya.

Halilintar berdiri dengan tangan kanan menenteng seekor elang yang cukup besar hasil tangkapannya. Setelahnya langsung menghampiri adiknya yang nampak menatap bingung atau mungkin kagum padanya. "Nah, tapi sedikit saja nanti kau kekenyangan. Kasihan Ibu kan kalau kau tidak mau makan masakannya?" ujarnya menyodorkan hewan buruan tersebut pada Blaze.

Blaze mengangguk, kemudian mencengkram kepala burung tersebut dengan lembut. Tanpa ragu ia langsung membuka mulutnya lebar, dimana terdapat sepasang taring kecil namun tajam dan langsung menusukkan benda itu ke leher korbannya. Elang itu mengelepak kesakitan, coba melepaskan diri. Sayangnya Halilintar sudah siaga dan memegangnya dengan kencang selagi adiknya sibuk menghisap darah si burung penguasa langit itu.

Mengernyitkan dahi, si Kakak mulai merasa jika Blaze sudah mulai kelepasan dalam menyantap darah hewan tersebut. Segera saja dijauhkannya leher si elang dari mulut si adik, namun tetap lembut agar tidak merobek kulitnya.

Blaze sempat merengek saat kakaknya melakukan hal tersebut, persis seperti anak kecil yang mainannya direbut secara paksa. Namun tatapan tajam Halilintar padanya membuatnya bergidik ngeri dan enggan untuk protes.

Halilintar yang sadar jika Blaze mulai canggung padanya pun langsung melengkungkan bibir ke atas membuat senyuman lembut. Dengan penuh pengertian ia pun menjelaskan pada adiknya. "Aku tidak marah padamu kok, kita memang memerlukannya untuk tetap bertahan hidup. Hanya saja... seperti kita pun, elang ini juga berhak untuk hidup." Ujarnya seraya bergerak menuju ke suatu pohon, disana ia menenggerkan burung besar tersebut. "Makanya kita harus menghargainya. Setidaknya itu yang dikatakan Ibu" lanjutnya sambil mengusap-usap kepala burung itu dengan perlahan. Si elang nampak tak mencoba kabur maupun mematuk dan hanya duduk diam diatas dahan. Mungkin lemas setelah darahnya dihisap oleh Blaze.

"Terima kasih, Elang..." Halilintar sontak berbalik saat ungkapan terima kasih itu terlontar keluar dari mulut adiknya. Dilihatnya anak itu tampak menatap polos kearahnya serta sang burung. Awalnya ia dibuat tercengang namun setelah beberapa saat Halilintar terlihat menunjukkan senyuman bangga.

"Kita pulang yuk" ajaknya. Kali ini Blaze menurut, mengikuti sang Kakak yang menuntunnya melewati jalan setapak tak beraspal menuju arah pulang.

~MA~

Malam pun menjelang, sementara itu di kediaman keluarga Ryuuketsu, dimana terdapat sebuah kamar kecil tempat kedua kakak beradik itu beristirahat. Terlihat si adik tengah terlelap dengan nyaman dibawah hangatnya selimut tebal dan empuk.

Klik...

Sret...Sret...

Sruk...

Hingga tidurnya pun terganggu oleh suara yang cukup berisik dari dalam kamarnya. Ia mengerutkan kening tak nyaman dan secara perlahan membuka mata. Yang pertama dilihatnya adalah cahaya temaram dari lampu kecil yang ada di meja belajar.

Sret...Sret...

Suara itu muncul lagi.

Ternyata asalnya dari goresan pensil yang tengah dipegang oleh orang yang duduk di depan meja tersebut. Sosok anak kecil yang harusnya tidur di futon sebelahnya justru masih bangun dan sibuk berkutat mengerjakan sesuatu.

"Ugghh... Nii-chan...?" lenguh Blaze yang setengah bangkit sembari mengucek matanya.

Halilintar melirik padanya. "Maaf... Apa aku membangunkanmu?" katanya.

Yang segera dijawab adiknya dengan gelengan pelan. "Nii-chan, kau tidak tidur?" tanya Blaze agak lemas.

"Tidur kok, tapi setelah kuselesaikan ini" jawab Halilintar sambil tersenyum sebelum kembali fokus pada buku tulisnya.

Mata bocah kecil itu menyipit, terlihat begitu bersalah. Jika saja tadi siang ia tidak memaksa Kakaknya untuk bermain bersamanya, dia tidak akan tetap berjaga mengerjakan pekerjaan rumahnya sampai selarut ini. "Maaf... Karena aku Nii-chan jadi..."

"Tidak apa-apa... Kebetulan aku juga ingin main denganmu kok" sela Halilintar memotong ucapannya tanpa menoleh sedikitpun. Blaze sampai terbelalak mendengarnya, perasaannya campur aduk antara senang dan bingung.

Rasa kantuk kembali mendatanginya hingga tak sadar dia pun kembali tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi sedang berada di sebuah ruangan yang begitu luas, tapi semuanya berwarna hitam. Tak lama kemudian api berkobar di dalam sana, hingga membuatnya terkejut. Pada awalnya apinya kecil dan berwarna merah, tapi lama-lama semakin besar dan berubah warna menjadi biru. Samar-samar muncul sesosok makhluk yang mengintipnya dari balik pijaran api-api tersebut. Tidak jelas itu makhluk apa, karena saat Blaze coba mendekat dia malah terbangun dengan tubuh penuh peluh.

Saat dia menoleh terlihat Kakaknya masih sibuk dengan tugas sekolahnya. Berarti dia baru tertidur sebentar, mungkin satu jam belum ada.

.

Beberapa saat kemudian Halilintar pun selesai mengerjakan PR. Dia meregangkan punggungnya setelah penat karena duduk terlalu lama, sesekali juga menguap sambil mengucek matanya. Cepat-cepat dirapikannya segala macam buku serta alat tulis yang berceceran diatas meja belajar tersebut lalu dimasukkan ke dalam tas agar besok pagi dia tidak perlu repot mengatur perlengkapan yang ingin dibawa.

KLIK

Lampu kecil diatas meja itu seketika padam dan Halilintar segera beranjak menuju selimut miliknya.

Ketika ia hendak masuk ke dalam selimutnya itu. "Eh?" dia dibuat kaget oleh tatapan polos dari sepasang mata bermanik senja diseberangnya. "Blaze... Kau nggak balik tidur lagi?" celetuk Halilintar spontan. Blaze hanya diam sambil sesekali melirik ke berbagai arah yang ada. Kakaknya sampai mendengus pelan melihat tingkahnya itu. Dan Halilintar tahu jika Blaze seperti ini pasti sebelumnya dia bermimpi buruk.

Ia berpikir sejenak apa yang harus dilakukannya untuk memancing adiknya itu.

Hingga terpikirlah sebuah ide.

"Mau tidur bareng?" tawar Halilintar, tampak menepuk-nepuk salah satu sisi selimutnya.

Blaze sontak bangun dari pembaringannya dan dengan cepat menarik bantalnya. Sementara di saat yang sama Halilintar bergeser untuk memberikan ruang yang cukup agar adiknya itu bisa berbaring. Bantal kecil itu pun diletakkan di samping kepala Kakaknya dan bocah kecil tersebut langsung saja mengambil posisi tidur di sebelah Halilintar. Ia mencoba menyamankan diri selagi si Kakak menyelimuti tubuh mereka dengan selimut tebal yang lembut, namun tidak membuat kepanasan orang yang memakainya. Justru malah sejuk untuk udara panas di musim seperti ini.

"Nii-chan..." panggil Blaze pelan.

"Hm?" Halilintar menyahutnya dengan sebuah gumaman. Membuat bocah bermanik ruby itu harus membuka mata kembali.

"Aku benar-benar minta maaf... Aku tau kalau Nii-chan sibuk, tapi aku tetap memaksamu bermain denganku... Akhir-akhir ini juga kita mulai jarang ngobrol... Aku kesepian..." jelas bocah kecil yang merupakan adik Halilintar itu. Matanya terlihat sendu dan berkaca-kaca.

Halilintar membuang nafas panjang. Secara lembut dielusnya kepala adiknya tersebut. "Aku ngerti kok..." Tak lama ia pun menemukan sebuah solusi, yang secara cepat langsung dibahas dengan si adik. "Nah... Hari minggu ini kau mau tinggal? Kita bisa main bareng seharian. Akan kuajari kau berbagai macam hal" ujar Halilintar menawarkan.

Blaze yang tidak tahu menahu perkara tentu dibuat bingung. "Apa kita mau pergi ke suatu tempat?" tanyanya.

Halilintar tersenyum dan kembali mengusap kepalanya. "Kalau itu tanyakan saja sendiri pada Ayah dan Ibu" katanya. "Sudah ya, ayo kita tidur. Nanti Ibu marah kalau tahu kita masih bangun" ujar bocah itu mengalihkan perbincangan mereka yang sudah terlalu larut.

Blaze mengangguk, menuruti kata-katanya. "Selamat malam, Nii-chan..."

Yang langsung dibalas Halilintar "Selamat malam..."

Dan akhirnya obrolan singkat yang pelan hingga terdengar seperti berbisik diantara Kakak-adik itu pun berakhir ketika kedua saudara itu memejamkan mata dan semakin terlarut hingga terbawa ke dalam alam mimpi masing-masing. Di dalam selimut dan tempat tidur yang sama malam itu keduanya tidur dengan begitu tenang hingga pagi menjelang di keesokan harinya.

.

.

Keesokan harinya, ketiga anggota keluarga Ryuuketsu berkumpul di ruang tengah, menyantap hidangan untuk sarapan.

Kemana Halilintar?

Dia sudah berangkat duluan ke sekolah.

Semuanya makan dengan begitu tenang terkecuali si anak bungsu di keluarga ini. Sesekali ia akan melirik pada kedua orang tuanya, seperti ada yang ingin dibicarakan tetapi dia agak takut.

"Ada apa? Kalau ada hal penting jangan ragu untuk bicara" Sang ayah yang sadar dengan tingkah putra kecilnya itu pun sontak menegur. Walau dengan nada bicara yang tegas dan agak menyeramkan, seperti biasa.

Blaze sontak saja tersentak kaget dan membulatkan mata. "Anu... itu..." ia pun mulai bicara dengan kikuk karena sangat gugup. Kebingungan, secara refleks ia menoleh dan menatap pada ibunya, yang saat itu juga sedang memperhatikannya. Sang Ibunda hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala, seperti memberi isyarat jika semua akan baik-baik saja.

Seolah mendapatkan keberanian Blaze pun mencoba untuk bicara langsung to the point. "Ayah dan Ibu, apa kalian ingin pergi ke suatu tempat hari minggu ini?" ujarnya.

"Iya. Kami ingin pergi ke ibukota, kau mau ikut?" jawab si ayah.

Mendengar kata ibukota pasti yang terbayang di benak adalah gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan besar dan tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi juga terang benderangnya lampu di malam hari sepanjang jalan kota. Berbeda sekali dengan di desa dimana jarak antar rumah penduduk masih begitu renggang dan tidak ada apapun yang bisa dilihat. Tentu saja kunjungan kesana menjadi hal ini menarik bagi bocah kecil tersebut.

Namun, niatnya ia urungkan ketika ingat jika Kakaknya ingin tinggal disini saja. "Nggak deh. Soalnya Nii-chan bilang ingin tinggal" jawabnya.

"Oh~ Jadi Hali yang bilang padamu soal ini" simpul sang ibunda.

Yang segera dijawab Blaze dengan anggukan singkat. "Nii-chan bilang dia mau mengajariku banyak hal" katanya begitu bersemangat.

"Ya sudah jika maumu seperti itu, kami tidak bisa memaksa. Hanya saja, hati-hati dan dengarkan kata-kata Kakakmu" ujar sang Ayah menasihatinya sambil kembali menyuap nasi ke dalam mulutnya.

"Jangan khawatir, nanti kami bawakan oleh-oleh kok" timpal sang Ibu. Terlihat sebuah senyum mengembang di wajahnya yang masih awet muda meski umurnya sudah sampai kepala tiga.

"Baik!" Mendengarnya membuat Blaze begitu girang, selain mereka akan membawakan oleh-oleh dari kota, ini pertama kalinya juga ayahnya setuju dengan permintaannya, mungkin karena percaya anak sulungnya mampu menjaga si bungsu. Mungkin juga karena Blaze bilang ingin belajar banyak hal. Apapun itu yang jelas bocah itu sangat senang sekarang. "Terima kasih! Ayah! Ibu!" serunya riang.

Sang Ibu yang melihat senyum cerah dari putranya yang begitu menggemaskan pun hanya bisa tertawa pelan, baru pertama kali ini ia melihat Blaze sangat ceria meskipun ada sang ayah yang ditakutinya duduk di samping. Sementara itu Sang Ayah sendiri, walaupun tidak ditunjukkan beliau terlihat sangat senang dengan ucapan putra bungsunya tersebut. Seraya mendengus tampak sebuah senyum tipis terukir pada bibir beliau.

~MA~

Hari Minggu yang ditunggu pun datang. Di pagi hari yang cerah kedua orang tua dari kakak-beradik keluarga Ryuuketsu itu terlihat tengah berdiri di ambang pintu depan dengan menggandeng beberapa barang bawaan. Bersiap pergi stasiun untuk menaiki kereta menuju ibukota.

Namun sebelum berangkat, sang ibu sudah menyiapkan wejangan panjang lebar ketika akan meninggalkan kedua putranya di rumah. "Hati-hati ya, baik-baik dirumah. Kalau keluar jangan lupa kunci pintu. Dan jika ada orang yang tidak dikenal datang, jangan diizinkan masuk. Ibu sudah tinggalkan makanan, kalau kalian lapar panaskan saja. Ada sedikit uang di laci buat kalian jajan, tapi jangan jajan banyak-banyak. Hali jaga adikmu baik-baik ya. Blaze juga, menurut dengan kakakmu ya? Jangan berkelahi."

"Baik~" sahut kedua putranya itu.

"Ingat pesan ibu kalian tadi ya? Kami berangkat dulu." tambah ayah mereka. Sesaat kemudian beliau menggeser pintu dan berjalan keluar diiringi oleh sang istri dibelakangnya.

"Selamat jalan~" seru kedua anak laki-lakinya berbarengan diiringi dengan lambaian tangan saat menyalami keberangkatan kedua orang tua mereka yang sudah berada di balik pintu. Tepat saat sang ayah maupun ibu mereka sudah sangat jauh bahkan langkahnya tak terdengar, keduanya pun saling pandang dan mulai cengengesan.

Yang terjadi selanjutnya...

Si kakak beradik itu sudah berendam dalam bak mandi berisi air hangat. Tapi mereka bukan cuma sekedar mandi...

"Rasakan serangan tamparan ombak!" Seru Blaze seraya mengguyur Halilintar dengan percikan air dari dalam bak.

Mereka mandi sambil bermain air hingga membuat isi bak itu merembes keluar dan membasahi lantai kamar mandi. Kalau Ibu mereka ada di rumah, sudah pasti sekarang mereka dimarahi. Tapi berhubung orang tua mereka sedang tidak ada, mereka bebas melakukan apa saja.

Halilintar tertawa seraya menangkis serangan dari Blaze. "Awas kau ya. Terima ini!" tak mau kalah ia pun mengibaskan tangannya ke dalam air berkali-kali hingga menimbulkan gelombang besar yang pecah ketika menghantam tubuh serta wajah Blaze.

Blaze tertawa kencang, hingga "Ugh..." tiba-tiba ia merintih kesakitan sambil menangkupkan telapak tangannya ke mulut.

Dan membuat Halilintar, kakaknya panik. "Ada apa!?" seru bocah berbola mata ruby tersebut.

Si adik menoleh padanya dengan mata agak sembab. "hidahgu hegigit... (Lidahku kegigit)" katanya, dengan artikulasi yang kurang jelas karena ia menggulung lidahnya ke dalam.

"Mana, coba kulihat" dengan agak takut Halilintar segera menghampiri Blaze dan menghadapkan wajahnya ke arahnya. Blaze pun membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan lidahnya yang barusan tak sengaja tergigit. Setelahnya Halilintar tampak menghela nafas lega melihat tak ada luka atau hal berbahaya yang terjadi pada adiknya itu.

Hanya...

Ketika ia memperhatikan barisan gigi milik adiknya, terlihat jika kedua pasang taring bocah itu sudah mulai panjang melebihi ukuran seharusnya. "Udah mulai panjang... Habis ini taringnya kita kikir ya?" ujar Halilintar.

"Nggak mau... Sakit..." tolak Blaze.

"Tapi kan cuma sebentar. Lebih sakit mana sama kegigit lidah?" bujuk Kakaknya lagi dengan halus.

Blaze menggerutu panjang. Antara enggan dan terpaksa mau tidak mau, pokoknya harus.

Taring yang panjang itu bukan hal aneh bagi vampir. Justru itulah ciri khas mereka. Hanya untuk ukuran anak-anak taring yang terlalu panjang bisa berbahaya. Anak-anak vampir biasanya mudah sekali untuk tergigit lidah mereka sendiri, salah-salah kejadiannya bisa seperti barusan, beruntung bukan tergigit oleh taringnya. Makanya untuk mencegah mereka terluka karena menggigit lidah sendiri, secara rutin taring mereka harus dipotong atau dikikir. Kegiatan ini berlangsung sampai gigi taring susu mereka tanggal dan digantikan oleh gigi dewasa.

"Aduh, airnya jadi surut. Udahan yuk" kata Halilintar mengajak adiknya untuk mengakhiri sesi berendam mereka. Blaze hanya menurut dan segera berdiri dari sana.

.

.

Setelah keluar dari kamar mandi, mengeringkan diri dan berpakaian lengkap, si Kakak-beradik tadi pun pindah ke pelataran luar yang menghadap kebun dimana terdapat simbol keluarga Ryuuketsu terlukis pada bagian dinding tembok taman tersebut. Bentuk lambangnya seperti angka 8 horizontal atau lebih dikenal sebagai simbol infinity, simbol yang artinya 'tak terbatas'.

Sebuah ceper berisi segelas teh dan susu serta cemilan nampak tertata di atas lantai teras tersebut, siap menemani pemilik rumah di waktu santainya.

Sementara itu, selagi Blaze membuka mulutnya, Halilintar secara pelan dan berhati-hati menggerakan kikir untuk merapikan taring si adik agar tidak terlalu tumpul, terlalu tajam ataupun malah menjadi asimetris.

"Sudah" Setelah cukup lama berkonsentrasi, akhirnya pekerjaan itu selesai. Halilintar pun menyingkirkan kikir tersebut dari mulut adiknya dan mengembalikan alat itu ke tempatnya semula. Sementara itu Blaze tampak mengatup-ngatupkan mulutnya tak nyaman. Sebenarnya tidak terlalu sakit, hanya ada sensasi ngilu-ngilu sedap dan perasaan janggal di rongga mulut.

Setelah beberapa saat, dilihatnya si Kakak nampak sudah berada di ujung teras sambil asik menyeruput teh dengan begitu santai. Blaze pun mendekat, duduk di sampingnya sembari mengayunkan kedua belah kakinya naik-turun secara bergantian.

"Nah, upahnya" kata Halilintar sambil menyodorkan sebungkus camilan untuk adiknya.

"Asik, madu!" girang Blaze langsung mengambil bungkusan plastik kecil itu, menyobek pinggirnya dan menyedot isi yang berupa cairan manis itu. Dia terlihat begitu senang. Tentu saja, anak kecil mana yang tidak suka makanan manis?

Halilintar pun hanya memperhatikannya sambil tersenyum gemas sebelum kembali menyeruput tehnya kembali. Untuk sejenak tidak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya.

Hingga Halilintar mulai buka suara. "Nah Blaze..." panggilnya pada Adiknya, pelan.

Yang dipanggil hanya menyahut dengan sebuah gumaman singkat.

"Apa kau tahu kenapa lambang keluarga Ryuuketsu itu Infinity?" sambungnya.

Blaze menggeleng menanggapi pertanyaan dari sang kakak.

Halilintar tersenyum tipis padanya sebelum menoleh ke arah dinding pagar bergrafiti di depannya. "Kalau diartikan nama keluarga kita berarti 'aliran darah'. Darah itu di dalam tubuh tidak pernah berhenti mengalir bukan? Selalu bersiklus dari jantung, dipompa ke seluruh tubuh, lalu kembali lagi ke jantung. Bahkan saat tidur sekalipun jantung tidak pernah berhenti memompa darah yang membawa zat penting di dalamnya." Jelasnya, sambil kembali menoleh pada Blaze. "Sama pentingnya seperti darah, sebagai anggota inti kita juga harus berperan penting bagi desa dan penduduk yang ada di dalamnya. Tanpa henti dari generasi ke generasi." Lanjutnya.

"Kalau gitu... Menurut Nii-chan, apa yang bisa kulakukan agar bisa berperan penting disini?" pertanyaan Blaze sontak membuat kedua mata Halilintar membulat. "Habisnya, aku lemah dan nggak bisa apa-apa. Ayah juga kelihatannya meremehkanku" ucapnya mencibir.

"Jangan ngomong gitu" Yang tak elak langsung disela oleh Halilintar. "Ayah itu sayang sekali padamu. Tahu nggak, kalau lagi latihan hanya berdua sama kakak, Ayah selalu saja membicarakanmu" lanjutnya sembari tersenyum.

Sementara Blaze hanya bisa terbelalak, hampir dibuat tak percaya ketika mendengarnya.

Halilintar pun mengelus kepalanya dengan lembut. "Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Nanti potensimu juga akan muncul dengan sendirinya" ujarnya. Yang langsung dijawab si adik dengan sebuah anggukan penuh raut gembira.

~MA~

Beberapa hari setelahnya bocah itu tampak menghampiri sang ibunda yang saat itu tengah sibuk berdiri di depan wastafel. Mencuci sayur, daging dan bahan masakan lain untuk menu makan malam sekeluarga. Blaze terlihat mengutarakan keinginannya sehingga membuat wanita berumur 30-an itu sontak terkejut.

"Heh? Familiar? Kau ingin memanggil familar?" celetuk sang ibunda, tampak mengernyit bingung padanya.

"Iya!" jawab Blaze singkat.

Jawaban dari putra kecilnya itu sontak membuat Ibunya bertambah kebingungan. Bagaimana caranya untuk menjelaskan secara baik-baik tanpa perlu melukai perasaannya. Pasalnya, familiar itu adalah kemampuan tingkat tinggi yang hanya bisa dikuasai oleh vampir ninja seperti mereka. Yang namanya kemampuan tingkat tinggi harus dibarengi dengan stamina besar dan fisik yang optimal. Kalau tuannya lemah bisa-bisa si kekuatan si familiar akan merusak tubuh tuannya atau bahkan yang lebih buruk lagi, familar bisa bertindak tidak terkendali dan menghancurkan segalanya.

Terlihat wanita paruh baya dengan iris berwarna ungu magenta itu menempelkan telapak tangan pada salah satu pipinya, menyusun kata-kata yang akan dilontarkannya. Beberapa saat berpikir ia pun menemukan jawaban yang sepertinya tepat.

Sambil membungkuk si ibu mulai menjelaskan. "Begini sayang. Ibu bukannya tidak mau mengajarimu, tapi kamu tahu sendiri kan, Ibu tidak bisa memanggil familiar? Untuk bisa kau harus belajar dari dasar-dasarnya dulu, terutama penggunaan elemen. Kakakmu saja butuh tiga tahun untuk menyempurnakannya. Coba minta tolong saja pada Ayah untuk mengajarimu."

"Tapi..."

"Tidak apa-apa. Ayah tidak akan marah, justru dia pasti senang kalau kau mau belajar" potong Ibunya sambil tersenyum lembut. Blaze menurut dan segera meninggalkan dapur, ia berjalan dengan pelan dan sedikit lesu coba untuk menemui ayahnya yang saat itu tengah berada di beranda depan sambil bersiap berangkat ke kantor desa.

.

"Ayah..." tegur anak itu, pelan.

Pria paruh baya yang merupakan orang tuanya itu sontak menoleh dan menggumam singkat. "Ada apa?" tanyanya dengan suara berat berwibawa.

Putranya sedikit terhenyak, namun dia tetap memberanikan diri mengutarakan keinginannya walau agak takut-takut. "Itu... Bisakah Ayah mengajariku cara memanggil familiar?" ucapnya.

Ayahnya terlihat terdiam selama beberapa saat, memandanginya dengan wajah begitu serius hingga membuat anaknya semakin takut dan gemetaran. Tapi pada akhirnya ia hanya memejamkan mata sambil kembali memalingkan wajah. "Tidak sekarang" katanya.

Dan membuat Blaze kecewa sampai ingin protes. "Kenapa?!" seru bocah itu mengerutkan dahi tak mengerti.

"Dengar. Kita para vampir ninja sejak lahir memang sudah ditentukan akan menjalin ikatan dengan familiar yang mana. Dan sekali kau memanggilnya, itu sama seperti kau sudah menandatangani persetujuan kontraknya. Yang berarti kalian akan berbagi segalanya. Kekuatan, tubuh dan pikiran. Untuk itu dibutuhkan fisik dan mental yang kuat, karena jika tidak hostnya sendiri yang akan hancur oleh familiarnya. Masih belum waktunya bagimu untuk memanggil familiar. Berlatihlah dulu sendiri dan perkuat tubuhmu." Jelas si ayah dengan begitu tegasnya. Blaze bahkan sampai tidak berani menyela ucapannya. "Kalau sudah mengerti, Ayah pergi dulu" lanjut beliau yang segera melangkahkan kakinya melewati pintu depan dan meninggalkan putra bungsunya yang masih terdiam ditempat dengan wajah tertunduk sambil mengepal kuat kedua tangannya.

.

Bisa ditebak, Blaze merajuk dan akhirnya mengadu pada kakaknya. Dia langsung saja keluar dari rumah dan menghampiri Halilintar yang saat itu sedang berada di tengah jalan menuju arah pulang. Karena Adik kecilnya menangis, dia pun dibuat kebingungan. Sehingga mereka terpaksa menepi ke taman lapang, di bawah pohon rindang yang dibawahnya ada tunggul dari sisa pohon besar. Saking lebarnya sampai bisa dipakai duduk 4 sampai 5 orang.

Setelah duduk sejenak sambil Halilintar coba menenangkannya, akhirnya tangisan si adik mereda. Dengan sesenggukan Blaze pun bercerita tentang alasan dia menangis, yaitu karena ayahnya tidak mau mengajarinya memanggil familiar. Halilintar mendengarkan dengan seksama kemudian mengunggapkan pendapatnya.

"Kalau Ayah bilang tidak, berarti jangan dulu. Ayah ngomong gitu juga pasti ada alasannya" ujarnya.

Masih agak sesenggukan, Blaze pun protes. "Tapi tetap aja, ini gak adil... hiks... Dulu waktu Nii-chan masih seumuranku... Ayah udah mulai melatih Nii-chan, kan?"

Halilintar agak terkekeh sambil menggaruk salah satu pipinya yang tak gatal "Yah... Memang sih. Tapi aku belajar juga mulai dari dasar." Sahutnya. Sayangnya kata-katanya sepertinya tidak cukup untuk menghibur Blaze. Padahal jika adiknya itu tahu latihan yang diberikan oleh ayahnya sangat keras mungkin nyalinya juga ciut.

Sang ayah melatih Kakaknya itu tidak setengah-setengah, mulai latihan fisik sampai mental. Dalam satu minggu setiap hari dia harus jalan kaki naik-turun gunung. Ada saatnya ia harus berlatih mengendalikan kekuatan listriknya. Mulai dari hanya membuat cahaya berpijar, mengalirkannya pada medium lain, sampai membelokkan arah tembakan petirnya. Karena Halilintar adalah keturunan pertama dalam silsilah klan Ryuketsuu yang memiliki elemen lain selain api, alhasil sang Ayah pun harus ekstra dalam menemukan metode yang cocok untuk melatihnya. Berbagai jenis latihan sudah pernah dirasakan oleh bocah berbola mata Ruby tersebut.

Setelah berpikir cukup jauh, sebuah ide pun terbesit di benaknya. Sesuatu yang mungkin bisa meredakan kekesalan adiknya. Hal yang dulu pernah dilakukan ayahnya ketika Halilintar pertama kalinya belajar pengendalian elemen. "Ini mungkin nggak banyak membantu, tapi gimana kalau kita coba pancing sedikit untuk melihat elemen punyamu?" usulnya.

Blaze diam sambil mengerjap tak mengerti kepadanya.

"Coba kemarikan tanganmu." Pinta Kakaknya. Adiknya pun hanya menurut sembari mengulurkan tangannya. "Sekarang fokus pada telapak tanganmu, bayangkan diatasnya ada pusaran air" lanjutnya memberikan arahan.

Blaze pun menatap dengan serius permukaan tangannya. Tidak terlalu sulit baginya membayangkan sebuah pusaran air, dia sering melihatnya saat mencuci tangan di wastafel atau saat menyiram toilet bahkan juga saat bermain di sungai.

Disaat adiknya tengah fokus, Halilintar diam-diam menjentikkan jari untuk menciptakan listrik statis pada ujung telunjuknya. "Bagus, fokus begitu terus." dan kemudian kumparan berwarna kuning tadi langsung disentuhkan pada energi kasat mata yang terbentuk pada permukaan tangan Blaze secara cepat ketika anak itu tidak sadar.

BWOOSH

Sebuah kobaran api kecil tercipta diatas telapak tangan Blaze. Anak itu terlihat tertegun sampai mendekatkan percikan kecil itu ke wajahnya hanya untuk melihat lebih detail kekuatannya tersebut. "Nii-chan... ini..." bahkan saat menoleh pada Kakaknya, dia sampai tidak mampu berkata-kata karena begitu kagumnya.

Halilintar tersenyum padanya sejenak, sebelum kembali memperhatikan kobaran kecil yang terbentuk karena pancingan dari petirnya. "Api lagi ya? Apa cuma aku sendiri yang punya kelainan di keluarga kita ya?" gerutu anak bermata ruby itu. Dilanjutkan dengan desahan lesu sambil menangkupkan dagunya pada kedua telapak tangan.

Adiknya menatap bingung, tak mengerti 'kelainan' apa yang dimaksud oleh Haliliintar.

Tanpa disadari keduanya api yang saat itu ada ditangan Blaze–yang sekarang harusnya sudah padam, justru bertambah besar dan berubah bentuk menjadi wujud hewan bersayap dan berparuh. Sontak hal ini membuat mereka terkejut.

"Woah, Nii-chan! Lihat! Lihat!" girang Blaze.

Namun Halilintar yang melihatnya justru bingung. "Bu–Burung?" gumam anak itu terheran-heran.

"Ada apa?" tanya adiknya ikut kebingungan.

"Blaze. Apa mungkin kita berdua itu suatu anomali di keluarga ini?" sahut Halilintar, masih bergumam sendiri karena Blaze sama sekali tidak paham dengan yang dibicarakan oleh Kakaknya.

Padahal yang dimaksud Halilintar adalah elemen dan wujud familiar yang dimiliki oleh Kakak-beradik itu. Karena klan Ryuketsuu itu dikenal dalam sejarah, keturunannya hanya memiliki familiar dengan spesies kucing berelemen api. Halilintar yang lahir dengan harimau berkekuatan petir saja sudah berupa kejanggalan, ditambah lagi sekarang adiknya yang punya familiar berwujud burung.

Darimana asalnya?

Saat keduanya terdiam tanpa sadar kobaran api tadi kembali bertambah besar. Blaze yang panik refleks saja menyentak tangannya dan membuat benda panas itu terlepas. Anehnya, bukan malah jatuh ke tanah pijaran panas itu justru terbang dengan mengepakkan kedua sayapnya menuju langit. Selagi itu pula ukurannya semakin besar hingga akhirnya pecah, tercerai-berai di udara.

Belum selesai sampai sana, seolah-seolah waktu diputar kembali, tiba-tiba saja kobaran api tadi kembali menyatu dan membentuk bola berpijar raksasa. Dari sana lahir sesosok burung raksasa dengan sekujur tubuh terbuat dari api. Wujudnya begitu anggun dengan leher dan kaki yang begitu jenjang, sayap besarnya membentang dengan lebar, bulu ekornya sangat halus dan indah. Kakak-beradik yang belum pernah melihat wujud makhluk itu dimanapun langsung saja terkagum-kagum.

"L–Langsung bisa memunculkan dengan ukuran sebesar ini dalam sekali coba, kau pasti berbakat Blaze" komentar Halilintar, masih tertegun di tempat.

"Benarkah!?" ujar Blaze terlihat bersemangat.

"Ouh!" sahut sang Kakak yang berarti 'iya'.

"Kalau gitu, misalnya kukasih tahu, apa Ayah akan berubah pikiran?"

"Sepertinya begitu" Halilintar kembali tersenyum padanya. Hingga tiba-tiba ia tersentak saat matanya menangkap secara sekilas sebuah pijaran cahaya mendekat ke arah mereka. Ia menoleh ke atas dan menemukan segumpal api tengah mengarah cepat pada keduanya. Dengan panik segera saja ia menyeret tangan adiknya agar ikut menghindar bersamanya. "BLAZE AWAS!"

Serangan itu sangat kuat sampai membuat keduanya terpental. Sebuah dekapan kuat diberikan dan sang Kakak pun menjadikan tubuhnya sebagai pengganti matras untuk mencegah adiknya terluka.

Beberapa detik kemudian Halilintar kembali bangkit sambil memegang bahu adiknya, untuk berjaga-jaga jika mereka akan mendapat serangan kembali. Dia menatap pada makhluk panggilan itu dengan wajah keheranan. Dan saat ini pun di kepalanya penuh dengan berbagai pertanyaan.

"Nii-chan, apa yang terjadi?" tanya Blaze bingung.

"Harusnya aku yang tanya. Kenapa familiarmu menyerang kita?" balas Halilintar.

"A–Aku juga gak tahu." jawab Adiknya itu, terlihat mulai panik.

Tak lama berselang makhluk itu kembali menyerang dengan bola api yang sama. Halilintar langsung berdiri sambil menyiapkan bogem dan menangkisnya dengan lemparan listrik berwarna kekuningan. Bola api itu hancur, tapi saat nyaris mengenai mereka karena kekuatan petir yang dikeluarkan jauh lebih lemah.

Anak bertopi hitam itu pun kembali menoleh pada adiknya. "Blaze! Aku akan tetap disini untuk menahannya, kau cepat pergi bilang sama Ayah!" perintahnya.

"Eh? Aku?" tanya Blaze, menunjuk dirinya sendiri.

"Terus siapa lagi!?" seru Kakaknya dengan tegas.

Dalam benak Blaze saat itu juga, karena itu familiarnya maka ini semua kesalahannya. Jadi dia yang harusnya bertanggung jawab. Tapi ia pun bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Satu-satunya yang dia bisa sekarang hanya pergi dan meminta bantuan pada Ayahnya secepat mungkin. Selagi Kakaknya masih berusaha menahan makhluk berbentuk seekor burung itu dengan segenap kekuatannya.

~MA~

Langkah kaki anak itu membawanya mendaki jalan menanjak menuju kantor kepala desa, tempat Ayah mereka bekerja. Dengan begitu terburu-buru dia menerobos masuk langsung ke ruangan kerja Ayahnya hingga mengejutkan semua orang yang ada disana saat itu.

Tidak mudah bagi seorang anak kecil berlari secepat dan sejauh ini, alhasil begitu sampai dia jadi sangat kelelahan sampai harus menyenderkan punggung ke dinding. Nafasnya menderu kencang dan keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya.

"Blaze, sedang apa kau disini? Kenapa kau lari-larian begitu?" panik sang Ayah yang sontak langsung berdiri dari kursi kerjanya.

Dengan nafas masih tersengal, putranya pun berusaha sebisa mungkin untuk menjelaskan. "Ayah... Aku... Aku minta maaf... Ini terjadi karena aku tidak menuruti kata-kata Ayah tadi"

"Jangan bilang..." Sontak kedua mata Ayahnya pun terbelalak. Dari ekspresinya, sepertinya beliau sudah paham apa yang tengah dibicarakan putra bungsunya tersebut. "Dimana makhluk itu sekarang?" lanjutnya bertanya.

"Ada di lapangan. Nii-chan sedang menahannya sebisa mungkin saat ini" jawab Blaze.

Tanpa basa-basi lagi Ayahnya yang seorang kepala desa itu pun langsung bergerak dan menurunkan perintah pada semua bawahnnya. "Jonathan!" panggil pria itu pada asistennya yang saat itu juga ada disana dan ikut mendengarkan penjelasan putra dari pimpinannya. "Arahkan warga untuk segera melakukan evakuasi keluar desa, utamakan wanita dan anak-anak! Para pria tetap tinggal untuk membantu! Kerahkan para pemilik familiar dengan elemen air untuk mengatasi makhluk itu!"

"BAIK!" pria itu menyahut dan bergegas keluar ruangan, menjalankan perintah dan menyampaikan pesan kepada bawahan yang lain.

Sementara itu sang kepala desa terlihat menghampiri putranya yang saat itu tengah takut dan kebingungan. Dalam bayangan Blaze, ayahnya itu pasti marah besar dan akan memukulinya nanti. Namun, ternyata tidak. Beliau justru menyentuh bahunya dan berjongkok untuk menyamakan ketinggian agar bisa menatap wajah anaknya. "Kau baik-baik saja?" tanya ayahnya padanya.

Jelas hal ini membuatnya bingung. Tapi dia tetap menjawab dengan menganggukkan kepalanya.

"Baguslah" kata sang Ayah. Pria paruh baya itu pun kembali berdiri sambil menggenggam kuat tangan sang putra terkecil. "Sekarang ikut aku" lalu membawanya keluar dari ruangan tersebut. Blaze hanya menurut dan mengikuti kemana orang tuanya ingin membawanya.

Selagi berjalan di lorong, Ayahnya mulai bercerita tentang rahasia dirinya yang tak pernah diberitahukan bahkan pada Halilintar sekalipun. "Dengar. Alasan aku tidak mau melatihmu seperti Lintar adalah karena kondisimu yang khusus. Kau terlahir dengan kemampuan istimewa dan diramalkan akan menjadi pengendali api terkuat di klan kita. Sedikit pancingan saja kekuatanmu akan bangkit sepenuhnya, jadi aku memutuskan akan melatihmu saat tubuhmu sudah lebih kuat menampung kekuatan besar itu."

Blaze membelalak, hampir tidak percaya saat mendengarnya. Persis seperti yang dikatakan oleh Kakaknya, ayahnya memang sangat peduli padanya.

Selagi itu pula ayahnya terus membawanya semakin cepat menuju pintu keluar. Di sana terlihat seorang pria dengan rambut merah tengah menyambut mereka. Blaze sangat kenal siapa orang itu. Dia tidak lain adalah adik kandung dari ayahnya atau berarti pamannya.

Sang Ayah pun melepaskan genggamannya dan menyerahkan putranya pada sang adik. Kembali dia menyentuh pundak Blaze sambil berpesan. "Cepat pergi temui ibumu. Dia memang tidak bisa memanggil familiar, tapi dia bisa menutup aliran mana kalian untuk sementara." Dan setelahnya beliau kembali menatap pada adiknya. "Jaga dia ya, Tara" pintanya.

Sang adik mengiyakan dengan sebuah anggukan mantap sebelum akhirnya menarik lengan keponakan kecilnya secara lembut. "Ayo Blaze" katanya mengajak anak itu pergi.

Blaze hanya bisa menurut ikut dengan pamannya walau sesekali ia akan menoleh ke belakang untuk melihat sang ayah dengan wajah cemas. Firasatnya tidak enak, seolah ini adalah terakhir kalinya dia bisa melihat orang tuanya itu.

~MA~

Menapaki jalan desa, si paman terus membawa keponakannya secepat mungkin menuju ke perbatasan. Jaraknya masih sangat jauh jika menuju kesana, tapi hanya disitu lah tempat teraman bagi keponakannya saat ini. Tidak akan ia biarkan keponakan yang disayanginya itu sampai terluka.

Diantara padatnya penduduk desa yang tengah bergegas menuju ke luar ia menuntun si keponakan agar tidak jatuh saat terdorong-dorong. Hingga dari arah berlawanan seeorang menabrak pamannya itu dan membuatnya terhenti sejenak. Tak lama orang itu kembali menghampirinya.

"Ah~ Maaf, aku tidak sengaja. Aku sedang terburu-buru" ujar orang itu.

"Oh tidak apa-apa." Sahut Tara. Dia baru sadar jika orang yang diajaknya bicara adalah kenalannya. "Lho? John-san, sedang apa disini?" lanjutnya bertanya.

"Ah itu, masih ada perintah kepala desa yang harus kulaksanakan" jawab Jonathan.

"Jangan. Anda mengungsi saja duluan. Manusia tidak boleh mengurusi ini terlalu lama"

"Tidak masalah. Aku tidak bisa membiarkan warga desa ini dalam bahaya"

"Baiklah... Tapi anda harus tetap ikut mengungsi setelahnya"

"Jangan khawatir"

Tepat setelah mengatakannya, Jonathan bergegas saja meninggalkan mereka untuk masuk dan menyelamatkan lebih banyak korban yang masih tersisa. Disaat yang sama Blaze dan pamannya pun kembali bergerak menuju selatan, keluar dari desa.

Saat mereka sudah sangat jauh, tiba-tiba saja orang bernama Jonathan itu bertingkah aneh, karena bukannya pergi menyelamatkan warga dia malah lari menuju ke arah hutan pegunungan. Dia berhenti sejenak dan terlihat sedang menghubungi seseorang melalui perangkat yang terpasang di telinganya. "Ini aku. Ada informasi baru, target terlihat terakhir kali bergerak menuju arah jam enam. Dia bersama seseorang, kusarankan membereskan orang yang bersamanya dulu."

.

Sementara itu Blaze dan pamannya terlihat sudah melewati beberapa bangunan, bahkan gedung sekolah TK tempat Blaze bersekolah sudah terlewati, tinggal sedikit lagi mereka akan berhasil keluar dari desa.

Sang Paman menatap pada keponakannya dan memastikan keadaanya, bisa dilihat wajah anak itu begitu cemas dan ketakutan. "Tidak apa-apa. Sebentar lagi kita sampai ke tempat Ibunya Blaze" katanya coba menenangkan bocah kecil itu.

Blaze tak menyahut dan hanya mengangguk pelan, hingga membuat pamannya cuma bisa mendengus lesu.

Mereka terus berjalan, hingga tiba-tiba dihadang oleh sekelompok orang. Salah seorang dari kelompok itu maju ke depan menghadapi keduanya, dia menenteng sebilah pedang besar di punggungnya dan dua senapan terikat pada pinggang. Tubuhnya besar sepertinya orang itu pemimpinnya. "Maaf menghalangi kalian, tapi bocah itu tidak boleh maju lebih dari ini" ujar orang tersebut.

Melihat kehadiran orang-orang asing yang terlihat mencurigakan di depannya, Paman dari Blaze dan Halilintar itu langsung saja bersiap siaga sambil menyembunyikan sang keponakan di belakang tubuhnya. "Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan?"

"Tidak penting tahu siapa kami, yang kami inginkan hanya anak itu. Kalau kau masih sayang nyawa, lebih baik serahkan dia baik-baik" jawab orang itu.

"Anak ini adalah anggota penting di dalam klan kami. Kalau kalian tidak punya alasan bagus jangan harap aku akan menyerahkannya"

"Itu pilihanmu?" orang itu menutup matanya sejenak sambil membuang nafas panjang, kecewa. "Serang dia!" dan tak lama ia mulai memerintahkan anak buahnya untuk menyerang paman dari Blaze itu.

Tentu pemuda berambut merah itu tidak tinggal pasrah. Dia terlihat mengedepankan tangannya, dan dari sana muncul kobaran api besar yang cukup ampuh memukul mundur beberapa orang dari kumpulan berjubah hitam tersebut. Namun, kelihatannya meski diberi ancaman pertama seperti barusan tak membuat mereka menyerah untuk menangkap Blaze.

Hingga si paman pun terpaksa mengeluarkan kartu terakhirnya. "Terlahir dari kobaran api yang membara. Atas kontrak yang mengikat kita, dengan ini aku memanggilmu. Datanglah Akagane!" setelah membaca mantra dia memanggil keluar familiar miliknya. Seekor macan tutul dengan bulu coklat kemerahan muncul dari dalam nyala api, bersiap menyerang dan menghadang serangan demi melindungi tuannya yang ada di belakang.

"Om Tara!" seru anak kecil bermanik senja tersebut

"Blaze, pergilah dari sini selagi aku menahan mereka. Kakak ipar pasti sekarang sudah ada di perbatasan desa" ujar pamannya.

"Terus Om gimana!"

"Jangan pedulikan aku, cepatlah!"

Awalnya Blaze ragu ketika diminta untuk melarikan diri, tapi dia sendiri tahu jika dia takkan membantu dan hanya jadi beban pamannya jika terus-terusan ada disana. Walaupun merasa bersalah sontak saja anak itu berbalik arah, ada jalan alternatif lain untuk keluar menuju perbatasan desa di selatan. Dia tahu pasti itu.

"Kapten, anak itu lari!" ujar seorang anggota itu, coba mengejar Blaze.

Namun sayang niatnya dihalangi oleh paman dari anak itu dengan sebuah lemparan bola api besar. "Tidak akan kubiarkan"

"Bagaimana ini, kapten?"

"Tidak masalah, lagipula dia tidak akan bisa kemana-mana" kata pria yang sebelumnya dipanggil kapten barusan.

Sementara disaat itu, Halilintar dan ibunya terlihat sudah diamankan keluar dari desa beserta dengan penduduk lain yang notabennya kebanyakan wanita dan anak-anak.

Si Kakak dari Blaze itu terlihat sangat gelisah, karena sudah selama ini tapi tak terlihat tanda-tanda jika Adiknya akan muncul.

Saking paniknya dia sampai menatap ke arah ibunya. "Ibu, sudah hampir gelap begini, kenapa Blaze tidak datang juga bersama Paman" tanyanya.

Jujur dalam hatinya, sang ibu pun cemas. Namun ia tidak ingin membuat putranya semakin panik. Sambil mencoba terlihat tenang wanita itu pun menatap balik pada anaknya. "Kita tunggu sebentar lagi, mereka pasti sudah dekat sekarang" jawab wanita tersebut.

Mendengar kata-kata ibunya, Halilintar hanya bisa terdiam. Tapi perasaan khawatir ini benar-benar mengganggunya. Sesekali anak bermata merah itu akan menoleh ke depan, belakang, kiri dan kanan. Pokoknya semua arah ditelusurinya, mencari tanda-tanda jika adiknya sudah berada di sana.

Namun nihil.

Anak itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya. Halilintar semakin gelisah, tidak tahan lagi akhirnya dia melepas tangan ibunya dan menjauh dari area aman tersebut.

"HALI! Kau mau kemana, sayang!?" sang ibunda terkejut dan sontak berteriak memanggilnya untuk kembali.

"Aku mau mencari mereka!" sahut Halilintar.

"Jangan, bahaya! Lagipula bagaimana kalau nanti kalian malah berselisihan!?"

"Kalau kami selisihan pasti sudah ketemu di tengah jalan kan?!" jawab Halilintar lagi. Ibunya hanya mampu terdiam di tempat saat mendengarnya. "Aku tidak akan lama. Kalau dalam lima belas menit atau keadaannya semakin berbahaya aku masih tidak menemukan mereka, aku janji akan kembali"

Diamnya sang Ibu pun dianggap Halilintar sebagai ucapan 'iya', bergegas dia pun bergerak melewati jalan setapak beraspal tersebut untuk menuju ke dalam desa.

Saat Halilintar memasuki pedesaan, terlihat disana semua bangunan rumah, sekolah, kantor dan pondok sudah habis dilalap oleh si jago merah asap hitam pun terlihat mengepul di langit. Diantara bangunan yang sudah terbakar terlihat ada beberapa orang yang sudah terbujur lemas dengan luka disekujur tubuh yang masih mengalirkan darah segar.

Dia berhenti sebentar mengecek keadaan salah seorang disana dengan menyentuh tenguk dan memeriksa udara di sekitar lubang hidung. Tidak ada nafas dan denyut. Mereka sudah meninggal? Bagaimana bisa? Setahunya vampir ninja hanya bisa dibunuh dengan senjata sesama vampir ninja. Itupun cuma memperlambat regenerasi tubuh mereka.

Itu tidak penting untuk dipikirkan sekarang. Yang terpenting baginya adalah menemukan adiknya yang masih terjebak dan tertinggal di antar kebakaran yang melanda desa mereka. Seperti tidak peduli dengan kobaran api yang semakin membesar dan para mayat korban yang bergelimpangan di sekitarnya, dengan berani dia terus maju menerobos segala rintangan di depannya.

Tapi tak lama kemudian langkahnya terhenti saat sesosok makhluk maju menyerangnya secara tiba-tiba dari arah depan. Halilintar reflek melompat mundur untuk menghindari terkaman makhluk tersebut. Dia tidak bisa lihat dengan jelas hewan besar apa yang ada di depannya, tapi yang jelas makhluk itu menghalanginya untuk terus maju.

Hingga tiba-tiba sebuah rumah kobaran api meletup keluar dengan kuat dari atap rumah salah seorang warga desa. Berkat cahaya yang ditimbulkannya, walau hanya beberapa saat itu cukup menampilkan wujud dari makhluk di hadapannya. Seekor macan tutul berbulu coklat kemerahan menghadapinya dan takkan membiarkan dia lewat selangkahpun.

"Akagane...?" gumamnya begitu syok. Halilintar mengenalinya sebagai peliharaan gaib milik pamannya, dan saat ini terlihat menggeram padanya. Membuatnya bertanya-tanya kenapa familiar dari adik ayahnya malah menyerangnya.

Macan tutul itu menyerang kembali, kali ini gerakannya lebih gesit. Halilintar tidak akan sempat jika ingin menangkis ataupun menghindari serangannya.

Tapi dewi keberutungan sepertinya masih berpihak padanya, karena secara tiba-tiba makhluk itu terpental. Sesosok makhluk dengan tubuh berselimut cahaya putih muncul dihadapannya menghalau serangan, itu tidak lain adalah familiarnya sendiri. Sang harimau putih, Byakko.

"Kau baik-baik saja?" harimau itu tersenyum padanya.

Halilintar mengangguk kikuk sesaat sebelum akhirnya tersadar, jika peliharaannya keluar tanpa seijinnya. "Kau keluar seenaknya" komentar anak itu.

"'Tapi berkatku kau selamat kan?' Gimana yang barusan? Keren kan?"

"Apa-apaan itu?" sahut Halilintar sambil tersenyum geli.

"Sudahlah, jangan buang-buang waktu. Kau harus menemukan adikmu kan? Aku akan menahannya, kau pergilah"

Halilintar mengangguk sekali lagi dengan mantap. Lalu ia pun kembali melangkahkan kakinya secepat mungkin dari sana, masuk dan terus masuk lebih dalam ke desa.

Hingga akhirnya dia menemukan sosok anak kecil berusia 5 atau 6 tahun berjaket merah tersebut di depan sebuah bangunan sekolah yang separuh bagiannya sudah habis di lahap api. "BLAZE!" panggilnya pada adiknya itu.

Bocah itu tersentak dan segera menoleh pada kakaknya dengan wajah sembab karena menangis "Ni-Nii-chan…" panggilnya lirih, membuat si kakak merasa sedikit lega. Tapi seketika senyumannya pun lenyap ketika menyadari adiknya sedang di kepung oleh sekelompok orang berjubah hitam yang tengah menodongkan senjata pada si bocah kecil beriris jingga kemerahan tersebut.

Salah satu dari orang-orang itu yang sepertinya adalah pemimpinnya terlihat menyunggingkan sebauh seringai mengerikan sambil mengangkat pedangnya dan bersiap mengayunkannya untuk menebas bocah kecil tak bersalah tersebut. Sontak si kakak pun berlari menuju adiknya, dia segera mendekapnya dan coba melindunginya dengan menggunakan tubuhnya.

"NII-CHAN!" si adik menjerit panik begitu sabetan pedang itu semakin dekat saja mereka.

Tapi tiba-tiba...

BWOOSSHHH

Sebuah semburan api besar muncul membakar pedang tersebut hingga melebur dan tak berbentuk

Tak lama seekor harimau besar pun datang hingga membuat orang-orang yang sebelumnya mengelilingi mereka mundur serentak. Si Harimau tampak berdiri gagah sambil membelakangi keduanya dengan posisi siap siaga melindungi mereka.

Halilintar kenal sekali dengan harimau berbulu coklat keemasan tersebut. Itu Suiro, familiar milik ayahnya. Dan benar saja, tak lama orang tuanya itu benar-benar, datang bahkan bersama ibu mereka.

"Ayah!? Ibu!?" seru Halilintar kaget dan terheran-heran melihat keduanya dengan tergopoh-gopoh coba menghampiri mereka.

Tak ayal setelahnya ibu mereka langsung memeluk erat keduanya dan sang ayah berdiri melindungi mereka bertiga.

"Syukurlah kalian baik-baik saja..." ucap si ibu terlihat begitu lega.

Blaze menatap pada ibunya. "Ibu..." dia mendesir sangat pelan.

Dan ibunya mendengarnya. Wanita itu menatap balik dirinya sambil tersenyum. "Sebentar, Blaze..." katanya sembari mengacungkan telunjuk kanannya ke depan.

Cahaya kecil berwarna putih muncul dari ujung jarinya, yang kemudian disentuhkan pada kening putra terkecilnya. Tidak ada rasa sakit, tapi yang ajaib setelahnya phoenix lenyap dari tempatnya bertengger saat itu dan membuat api diseluruh desa perlahan-lahan padam dengan sendirinya.

Tapi keadaan mereka masih belum aman.

Ayah dari kedua bocah itu pun bicara tanpa menoleh. "Melisa! Bawa anak-anak ke tempat yang aman! Aku akan tetap disini menahan mereka"

Sang istri menyahut. "Tapi Tera, bagaimana denganmu nanti!?"

"Aku akan menyusul nanti, pergilah!"

Walaupun berat harus meninggalkan suaminya sendirian, tapi wanita bernama Melisa itu tetap menurut. Sambil mengenggam kuat tangan Halilintar dan menggendong Blaze dia pun membawa kedua anaknya lari ke arah bukit di sebelah barat. Tidak ada jalan lain untuk keluar dari desa selain mendaki gunung terjal itu, karena arah selatan sudah diblokade oleh pasukan berjubah hitam itu.

Bahkan para vampir yang mengungsi disana telah dihabisi hingga tak tersisa seorang pun yang selamat. Beruntung ibu mereka bisa meloloskan diri dan bertemu dengan suaminya di tengah jalan.

Tak habis sampai sana, pasukan berjubah hitam itu jumlahnya banyak dan sangat terlatih untuk menghadapi para vampir hingga mampu membantai habis seisi desa tersebut. Jika separuhnya sedang berhadapan dengan ayah dari dua anak itu, maka separuhnya lagi tengah mengejar ibu beserta anak-anaknya.

Tak lama sampailah mereka di bukit sebelah barat, hanya tinggal melintasi gunung ini maka mereka akan selamat, karena manusia tidak akan mau masuk kesana. Kecuali jika mereka mau hilang dan tersesat tanpa tahu sudah berapa lama mereka berjalan di gunung mistis tersebut. Tapi anehnya hal itu malah tak berlaku pada makhluk gaib.

"Masuk ke hutan!" seru sang ibu pada kedua putranya.

Sayang, niat mereka terhalang oleh sebuah lemparan api raksasa tepat dihadapan mereka. Saat mereka berbalik seekor macan kumbang berukuran besar tengah melayang diatas pasukan tersebut.

Mata Halilintar dibuat membelalak saat melihat makhluk tersebut. "Kuroishi? Ibu, jangan bilang kakek juga... " Belum selesai Halilintar menyambung ucapannya makhluk itu kembali menyerang dengan api berwarna ungu gelap.

Kepanikan pun terjadi. Kakak beradik itu menjerit kencang saat tembakan bola api itu semakin dekat.

Namun tak lama serangan itu padam seolah ada yang menahannya. Saat Halilintar menyingkirkan lengannya dari depan mata, ia melihat seekor makhluk besar berbentuk burung berleher panjang dan sekujur tubuh tertutupi bulu berwarna putih tengah membentangkan ekornya untuk melindungi ibu serta kedua anaknya. Tidak hanya itu kilatan cahaya seperti listrik berwarna keunguan juga mengitari tubuhnya.

"Merak putih?" gumam anak bermata rubi itu bingung. Tatapannya tak henti menatap sang makhluk panggilan kemudian ganti melihat ibunya. Ibunya ke makhluk panggilan. Makhluk panggilan ke ibunya. Begitu terus sampai dia paham apa yang terjadi.

Ibunya terbatuk dan wajahnya agak memucat, tubuhnya mulai melemah, tapi ia tetap coba menjelaskan pada putranya. "Kamu kaget ya...? Maaf ibu tidak bilang-bilang, jika penyebab kejanggalan pada kalian berdua adalah ibu."

Rupanya elemen petir dan wujud burung dari familiar kedua putranya tidak serta merta kelainan semata, tapi memang diturunkan dari sang ibunda.

"Ini pertama kalinya ibu memanggil familiar milik ibu. Merak putih itu memang kuat, tapi Damagenya sangat keras, penggunanya bisa sakit-sakitan jika memanggilnya."

Mendengar penjelasan dari ibunya, raut wajah Halilintar pun berubah dari bingung menjadi kaget dan khawatir.

Melisa tersenyum pada anaknya. "Tidak apa-apa, sayang. Jika itu untuk melindungi kalian, ibu tidak keberatan." ujarnya menenangkan putra sulungnya tersebut. Dan tak lama kemudian dia kembali terbatuk, bahkan lebih keras dari yang sebelumnya.

Hingga membuat kedua putranya semakin khawatir.

Melihat keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk terus berada di sisi anak-anaknya, Melisa pun menurunkan Blaze dari gendongannya. Dan menyerahkan anak itu kepada si putra sulung.

Setelah itu wanitu itu mengelus pipi putra tertuanya. "Hali... Ibu titipkan Blaze padamu, tolong jaga dia baik-baik".

Walaupun sedikit tersirat, namun Halilinta tahu maksud dibalik kata-kata ibunya itu. Kurang lebih ibunya ibunya ingin bilang 'Ibu mungkin tidak akan selamat disini dan tidak bisa menemani kalian lagi. Jadi tolong jaga dan rawat Blaze. Ibu serahkan semuanya padamu.'

Halilintar menyentuh tangan ibunya, matanya agak sembab menahan tangis, namun ia tetap mengangguk mengiyakan permintaan terakhir dari sang ibunda. Dengan berat hati dia berdiri sambil menggenggam tangan adiknya. "Ayo Blaze" ajaknya pada adiknya itu.

Namun Blaze agak menolak dan mulai merengek. "Tapi Ibu... "

Sang Ibunda tersenyum padanya. "Tidak apa-apa, sayang. Kamu ikut dengan kakak dulu ya, nanti ibu menyusul." tuturnya coba menenangkan putra kecilnya.

"Ayolah Blaze" Halilintar mulai tak sabaran dan menyeret adiknya.

"Ibu! Ibu! "

"SUDAH BLAZE!" tidak kuasa terus membohongi adiknya, mencari alasan dan menahan gejolak emosinya. Halilintar berteriak keras, dia langsung menggendong adiknya dan membawanya lari mendaki bukit di dalam dekapannya.

"Nggak mau! IBU!" tidak peduli seberapa keras pun adiknya menjerit dan menangis, dia tidak akan berbalik lagi.

"Berhenti! Kalian juga, jangan biarkan mereka lari!"

"Tidak akan kubiarkan!" ketika orang-orang itu ingin mengejar anaknya, Melisa tidak tinggal diam dan langsung menghalangi mereka dengan sebuah tembakan petir berwarna ungu tepat di hadapan mereka.

Usahanya berhasil, walau akibatnya penyakitnya semakin parah, hingga ia mulai memuntahkan darah. Tubuhnya perlahan mulai digerogoti hingga hancur, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keselamatan anak-anaknya.

Dengan tegar wanita itu berdiri dan melangkah untuk berdiri di samping familiarnya.

"Kau baik-baik saja, Melisa-sama?"

"Abaikan keadaanku. Yang lebih penting sudah sampai mana persiapannya?"

"Hanya tinggal menunggu perintah dari anda"

"Kalau begitu tahan sebentar"

Seorang ibu punya naluri kuat tentang keberadaan anak-anaknya. Jika firasatnya benar kedua putranya sekarang sudab berada di dekat pohon besar pembatas bagian dalam bukit yang mengarah ke desa. Asal mereka sudah berada di sisi luar saja itu sudah cukup dan mereka akan terlindung dari serangan besar yang akan dilepaskannya karena terhalang batuan gunung yang keras.

Sedikit lagi.

"Sekarang!"

Dengan satu perintah cahaya di sekitar tubuh familiarnya semakin benderang seolah akan ada sesuatu yang meledak dan membuat para fraksi tudung hitam itu panik, namun sesaat kemudian sinarnya padam seketika.

Tapi tunggu, setelahnya tanah disekitar mereka runtuh dan melebur, debu hitam beterbangan dan menutup seluruh desa. Apapun yang dilewati oleh gumpalan debu itu tersapu bersih dan lenyap terbakar seperti terkena efek bom hidrogen.

Melisa pun tak luput dari serangan yang ia buat sendiri. Namun sebelum tubuhnya hancur dan lenyap dari dunia ini, dia sempat menatap ke arah gunung.

Anak-anak...

Tetaplah hidup dan carilah kebahagiaan untuk kalian.

Maaf jika Ibu dan Ayah hanya bisa mengantarkan kalian sampai sini.

Kalian adalah harta kami yang sangat berharga.

Kami sayang pada kalian...

Halilintar... Blaze...

Setelahnya debu panas pun menghilang beserta desa yang sebelumnya pernah merasakan kedamaian tersebut. Tempat itu seketika berubah menjadi kawah raksasa tandus tanpa satu pun yang tersisa di dalamnya.

Mimpi ini masih berlanjut

TBC

Dan terjadi lagi. 10K lebih terulang kembali. Tetap aja lama banget selesainya walau udah kusiapin dari 7 bulan yang lalu.

Dan ini baru sampai separo ceritanya. Plotnya masih banyak. Kenapa arc Blaze ini panjang sekali?/(emangnya siapa yang bikin?)

Dan kali ini datanya selamat dari ke error an laptop author. Untung udah bikin cadangannya.

Lupakan soal ini. Saya mau balas review saja.

Nao tomori:

Iya dek, aku juga kangen sama kamu.

Uhm... Logika aja gini, kalau misalnya Blaze itu suka sama Yaya bukan murni karena perasaan, tapi cuma karena pengen darahnya. Mungkin dari awal dia udah mikir pengen ngisep darahnya Yaya.

Tenang. Atas kehendak author Blaze pun selamat.

Mungkin segitu aja yang bisa kujawab. Salam sayang juga.

Ghani

Kissing scene? Sepertinya ada, mungkin di chapter terakhir tapi gak semuanya dapat.

Ini emang rate nya M tapi itu buat adegan vampir dan Yaya pakai jilbab... Masa...

Sorry ya? Jangan marah. Kalau ada adegan ciuman sedang Yaya belum nikah, ntar ane dimarahin lagi... Serba salah.

Nevyandini

Kalau bisa gimana? Kagak jadi ding. Kagak berani ane nantangin.

Tenang. Dia tidak akan mati semudah itu. Kalau Blaze mati ya udah kita kubur aja. The end. Lanjut ke arc selanjutnya.

Btw makasih udah review, nanti mampir lagi ya?

J. K

Mantannya ga usah diingat dek, cukup kenangannya aja.

Jeniferjeje

Siap.

Nor wardah

Terimakasih selalu menanti dan mengingatkan.

Amin..

Sekian untuk chapter kali ini, sampai jumpa di chapter depan. See you~