Olympus
"Bagaimana keadaannya?"
Heechul menoleh sebentar ketika suara Jessica terdengar bergabung dalam keheningan didalam salah satu ruangan dalam Kerajaan Olympus dimana tersimpan salah satu peti kaca dan kini dikelilingi oleh para Ratu Seluruh Kerajaaan Keturunan Dewa yang bertugas menjaga dan memiliki tugas disana.
"Masih tetap sama." Ratu Jaejoong memberikan jawaban. Mulutnya berbicara namun pandangannya tidak teralihkan untuk melihat kearah Ratu Eleanor itu. "Apa sudah ada kabar dari Athena dan Aphrodite mengenai keadaan disana?" ia kembali bersuara memberikan pertanyaan.
Jessica menggelengkan kepala. "Kabar terakhir mereka masih berusaha menunggu waktu sampai Luna siap—"
Heechul lebih dulu mengarahkan tangannya pada punggung tangan Jessica yang bermaksud menghentikkan kalimat yang akan dikatakan selanjutnya. Jessica terdiam dan menganggukkan kepala—mengerti apa yang tersirat dari pandangan yang Heechul berikan padanya.
"Semua akan baik – baik saja." Heechul berucap. Memandangi kembali pada sosok yang berada didalam peti kaca disampingnya, menatap wajah cantik dan bercahaya meskipun ia tahu yang tengah berbaring disana hanyalah sebuah raga tanpa nyawa.
Raga yang tidak bisa terkikis oleh waktu dan akan selalu bercahaya sampai pada waktu yang tidak bisa ditentukan. Bahkan hampir beratus – ratus dan berpuluh tahun semenjak ia dinyatakan meninggal, kesempurnaanya masih bisa terlihat. Rambutnya yang berwarna hitam berkilau serta kulit putihnya yang hampir sama dengan warna putih salju masih nampak memukau disana. Wajah cantiknya bahkan masih bisa dibayangkan begitu sempurna karena masih nampak betapa indah semuanya terhias diwajahnya walaupun dengan mata yang terpejam erat.
Raga seseorang Ratu Dunia Ras Nephilim-Malaikat dan Dewa. Ratu Tertinggi yang memimpin seluruh dunia Keturunan Dewa—Elayne.
"Dia masih terlihat sangat cantik." Jessica tersenyum melihat lebih dekat bagaimana wujud Sang Elayne yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. "Cantik dan memukau." Ia menambahkan lagi.
"Elayne adalah wujud kesempurnaan, dan aku masih tidak percaya Puteri-ku adalah reinkarnasi dari dirinya." Heechul menambahkan .
"Takdir dari Tuhan dan Dewa tidak ada yang bisa kita perkiraan."
"Ya, dan aku tidak tahu apakah Puteriku akan bernasib sama seperti dirinya atau tidak—
"Heechul!" Jaejoong memperingati. "Jangan mengatakan hal buruk yang belum tentu terjadi."
"Aku tahu, hanya saja.. seperti yang Jessica katakan, Takdir dari Tuhan dan Dewa tidak ada yang bisa memperkirakan."
"Maka dari itu kita seharusnya berusaha dan berdoa agar takdir menyedihkan itu tidak kembali terulang." Jaejoong mendekat pada Heechul dan memberikan pelukan pada Ratu Lynkestis itu. "Semuanya berubah dan kekuatan mereka lebih kuat dibandingkan sebelum – sebelumnya, kita hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik bukan?"
Jessica dan Heechul menganggukkan kepala, berusaha memberikan sebuah senyuman dengan penuh kekuatan dan keyakinan pada masing – masing.
"Jadi.. siapa yang berminat melakukannya?" Jaejoong memberikan pertanyaan lagi dan menyerahkan sebuah pedang dengan logo burung Phoenix.
"Well.." Jessica mengangkat kedua tangannya menandakkan ketidaksediaan dirinya menerima tawaran dari apa yang Jaejoong katakan. "Ini menyangkut dua Kerajaan kalian, jadi aku rasa lebih baik antara kau dan Heechul yang melakukannya, bukan—
"Kenapa aku? Jaejoong bisa mewakilkan. Itu adalah pedang milik Phoenix atau perlu aku perjelas bahwa pedang itu akan dimiliki Chanyeol, Puteramu!"
"Tapi Baekhyun adalah Reinkarnasi Elayne! Dan Baekhyun adalah Puterimu!" sahutan dari Jaejoong terdengar lebih keras dibandingkan sebelumnya.
"Tidak! Kau saja!" Heechul masih menolak.
"YAA! Kekuatan Elayne akan diberikan pada Baekhyun sepenuhnya dan itu berarti kau sebagai orang tua seharusnya melakukannya!"
"Tidak! Aku tidak pernah menancapkan belati pada jantung seseorang—
"Maksudmu aku pernah?" suara kekesalah Jaejoong semakin menjadi.
"Queens!" Suara tegas yang terdengar membuat Ketiga Ratu yang tengah terlibat dalam perseteruan terdiam dan menoleh memandangi sosok pria yang kini melangkah masuk kedalam ruangan dimana mereka berada. Siwon—Sang Raja Thalin—melangkah dengan mantap diikuti dengan beberapa pengawal dan Raja Lynkestis—Ki Bum.
"Aku tidak tahu kalian bertiga bisa berdebat hanya untuk memutuskan siapa yang akan menancapkan pedang Phoenix pada tubuh kaku Elayne."
"Jaga ucapanmu Raja Lynkestis! Elayne adalah Ratu tertinggi perlu kau ingat." Jaejoong melayangkan protest tak lama setelah mendengar ucapan yang dikatakan Ki Bum.
"Oh—ayolah aku hanya mengatakan—
Suara pancaran sinar yang sangat menyilaukan pandangan mereka terdengar dan menyinari peti kaca dimana raga Elayne berada, sinar yang terpancar masuk kedalam peti kaca itu begitu menyilaukan dan bahkan membuat getaran hebat disana.
"Waktunya tiba, Luna telah tiada—
"Pedangnya! Cepat berikan pedangnya!" Jessica yang berteriak ketika melihat perubahan pada raga Elayne yang kini tengah berubah. Rambutnya tidak lagi berwarna hitam melainkan tengah berubah menjadi silver dan bahkan warna kulitnya semakin memutih dan berkilau layaknya biasana cahaya.
Jaejoong dengan cepat memberikan pedang itu dan Jessica dengan siap pada posisinya tanpa ragu memegang pedang itu dengan kedua tangannya dan berusaha mendekat pada badan Elayne dan menancapkan ujung pedang itu tepat pada jantung Elayne.
"Aku tidak bisa! Cahayanya menahan pedang itu!"
Mendengar apa yang dikatakan Jessica sontak membuat Heechul dan Jaejoong mendekat, memegang pedang itu bersamaan dan juga menekan kearah jantung Elayne.
"Lebih kuat!" Jessica berteriak.
"Aaaaarrrrgggghhhhhh!" suara ketiga Ratu itu menggelegar—
PRAAAANGG!
BRAK!
"Argh!"
Badan Ki Bum dan Siwon terlempar jauh menabrak dinding dalam ruangan itu, sama halnya dengan ketiga badan Ratu lainnya yang juag terlempar pada sisi lainnya. Semenara peti kaca yang sebelumnya berada disana tengah terpecah berserakan pada lantai tanpa menyisakan raga sang Elayne yang telah lenyap dan sama sekali tidak meninggalkan jejak kehadirannya.
Kelima orang disana menahan rasa sakit pada badan mereka namun sama – sama saling memandangi satu sama lain dengan sebuah pertanyaan yang sama.
"Apakah berhasil?"
.
.
.
.
Loves of Tales
XXII
.
Langit siang diatas Kerajaan Eowyn terasa berbeda, tidak ada gumpalan awan atau pun sedikit kehadiran bentuk dari Matahari disana. Hanya warna cerah dari langit biru. Hembusan angin bahkan terasa sangat pelan dan tidak begitu terasa pergerakkannya namun masih mampu memberikan rasa sejuk pada siapun yang merasakannya.
Para Putera dan Puteri Mahkota yang berada didalam Kerajaan Eowyn bahkan masih bisa beraktifitas dan melakukan pelatihan mereka dengan begitu semangatnya, mengabaikan dua orang dari mereka yang tidak ikut berkumpul karena tengah melakukan apa yang ini mereka lakukan, Yoora dan Yixing.
Langkah lari dari kedua kaki Yoora semakin melebar dan bergerak cepat melewati beberapa lorong dan juga anak tangga. Deru nafasnya dan kerja jantungnya yang kian terasa semakin melemah bahkan tidak ia pedulikan karena tujuan utamanya untuk bertemu Yixing lebih ia prioritaskan saat ini. ketikan pandangannya melihat sebuah pintu yang tengah terbuka diujung Tower dimana sedari tadi ia kelilingi dengan susah payah, saat itulah dorongan dalam dirinya semakin besar untuk lebih cepat berlari demi mencapai pintu itu.
Tangannya mendorong kasar pintu itu hingga terbuka lebar dan bahkan terbanting menabrak dinding.
"Kalau kau mencariku untuk menanyakkan apa yang terjadi, Elayne yang kau lihat adalah wujud aslinya pada jaman dahulu sebelum reinkarnasi—bukan Baekhyun pada saat ini. Dan apa yang terjadi adalah hanya prose pelepasan dan pengembalian kekuatan yang seharusnya dimiliki Baekhyun saat ini." Yixing berbalik dan melihat kearah Yoora yang masih melangkah pelan – pelan kearahnya dengan nafas yang tersenggal – senggal. "Luna sudah tidak ada." Kembali Yixing berucap. "Tapi tenang saja, ia akan kembali terlahir kembali—kalau itu yang mau kau tanyakkan lagi."
"Apa yang sebenarnya terjadi." Yoora menanyakkan suara yang susah payah ia kumpulkan.
"Kita sama – sama tahu Phoenix adalah pemegang Api Bumi dan Elayne adalah pemegang kekuatan Cahaya Abadi. Ketika mereka tewas dalam peperangan terakhir, Phoenix meninggal dan terbakar pada api yang menjadi kekuatannya. Sementara Elayne, ia memutuskan untuk membunuh nyawanya sendiri dan bahkan memberikan sisa kekuatan dirinya pada Puterinya. Ia tidak meninggal kembali dalam Cahayanya seperti yang seharusnya karena kekuatannya sebagian tidak ada dalam tubuhnya. Ia meninggal, maksudku jiwanya. Tidak dengan raganya."
Yoora berusaha mengatur nafasnya dan juga mencerna setiap rentetan cerita yang Yixing katakan padanya. "Jadi.. yang tadi aku lihat bukanlah penggambaran apa yang akan terjadi dimasa depan dari Baekhyun bukan?"
Yixing menganggukkan kepala. "Bukan, itu adalah kejadian beberapa waktu lalu."
Helaan nafas panjang lega Yoora lakukan, ia bahkan memilih duduk bersandar pada dinding tepat didekat posisi Yixing berdiri saat ini. "Lalu, apa yang terjadi?"
Yixing mengedikkan bahunya. "Elayne telah tiada—bukan Baekhyun." Ia mempertegas lagi "Luna, Elayne dan Phoenix telah kembali pada tempat yang seharusnya. Beristirahat dalam ketenangan dan kedamaian surgawi dengan para Pencipta. Dan kini kita hanya bisa berharap kekuatan Elayne sepenuhnya berada pada Baekhyun."
"Aku tidak bisa melihat masa depan apa yang akan terjadi pada Baekhyun., semua yang aku lihat adalah apa yang terjadi pada Chanyeol ketika bersamanya, ataupun apa yang terjadi pada Elayne."
"Perisai itu membuat dirinya tidak bisa dibaca dan bahkan meski kehadirannya diketahui oleh kaum Hades ataupun kita, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan olehnya dan apa yang dimiliki olehnya. Itu bagus bukan? Pertahanan yang seharusnya ia turunkan pada anaknya kelak kini ia miliki."
"Tapi Hades dan Kronos pasti bisa mengetahui pada akhirnya Baekhyun adalah Elayne, Baekhyun pemegang kekuatan Cahaya Abadi."
"Ya, mereka akan mengetahuinya cepat atau lambat tapi mereka tidak tahu pertahanan yang dimiliki Baekhyun."
Yoora kembali terdiam.
"Aku betul kan? Kau lihat apa yang kita lakukan ketika Kronos menyerang saat itu? Ia tidak tahu bahwa itu adalah kekuatan Baekhyun." kali ini suara Yixing berbisik . "Dan kita harus membuatnya selalu seperti itu."
Yoora menganggukkan kepala menyetujui apa yang Yixing katakan meskipun dalam dirinya masih ada rasa ketakutan yang menganjal mengenai hal apa saja yang bisa terjadi pada Baekhyun dan juga Chanyeol.
"Tenang saja, peperangan akhir yang akan kita hadapi masih terasa amat jauh." Yixing melangkah berniat meninggalkan Yoora yang masih terduduk disana, tapi ketika langkahnya bergerak pada gerakkan langkah keempat. Ia menoleh berbalik pada Yoora yang masih terduduk dalam diam dengan pandangannya yang jauh menerawang lurus kedepan.
"Baekhyun—
"Aku akan memanggil Jongin untuk menyusul mereka!" Yixing meninggalkan Yoora dan berlari secepat mungkin mencari dan menyusul dimana posisi Jongin saat ini.
Yoora masih duduk bersandar dengan pandangan matanya masih menerawang jauh ke masa depan yang ia dapatkan kali ini.
Chanyeol..
Ku mohon dengarkan aku saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cepat bawa Baekhyun kembali ke Eowyn secepatnya ketika Jongin tiba di Gracia.
.
.
.
.
.
.
Kota Gracia, Barcelona kini penuh sesak oleh para penduduk yang berjalan beramai – ramai dengan mengenakkan kostum – kostum layaknya Kerajaan atau pun rupa – rupa lucu dan aneh dari karakter buku di kota tersebut. Suara dentuman alat musik yang dibawa oleh pasukan marching band mengiringi para peserta pawai mengelilingi sudut kota. Suara – suara sorakan pujian akan indahnya atau pun keanehan yang ditampilkan ikut terdengar mengisis seluruh kebisingan yang ada.
Tak hanya keramaian di jalanan kota tersebut, para penduduk yang lain juga ikut meramaikan kedai – kedai jajanan yang berada di pinggir jalan dan mencicipi jenis makanan ringan yang ditawarkan atau pun bahkan membeli beberapa hiasana sesuai dengan tema acara parade yang dilakukan.
"Aku membawakanmu ini, hot chocolate dan bola kentang—ini makanan khas mereka—katanya." Chanyeol memberikan segelas cokelat itu pada Baekhyun dan menyuapkan satu bola kentang masuk kedalam mulut wanita itu yang sudah terbuka siap menyambut suapan pertamanya.
"Bagaimana? Enak atau terasa aneh?"
Baekhyun menggeleng, mulutnya terlihat tengah mengunyah apa yang masuk kedalam mulutnya dan menikmati rasa yang diciptakan disana. "Enak." Baekhyun mengangguk. "Rasanya manis, tapi gurih dan sangat terasa kentangnya."
"Oh, aku belum mencobanya." Chanyeol mengangguk dan kini giliran dirinya yang ikut memakan salah satu bagian bola kentang itu. "Hm.. kau benar. Ini manis dan gurih."
"Iya kan."
"Hm.. kau mau lagi?" Chanyeol menawarkan dan kembali memberikan suapan yang lainnya yang tentu saja dengan senang hati Baekhyun membuka mulutnya kembali namun pada akhirnya bola kentang itu masuk kedalam mulut Chanyeol.
"YAAA!" suara protestnya terdengar begitu keras hingga membuat orang – orang sekitar mereka memperhatikan apa yang terjadi dengan dua pasangan yang memiliki perbedaan tinggi badan sangat mencolok ini.
Chanyeol berusaha menahan rasa tawanya melihat bagaimana raut wajah Baekhyun yang sangat kesal merasa tertipu dan dibohongi, meskipun begitu ia tetap memberikan suapan yang lainnya—tidak lagi ingin menipu Baekhyun. Dan wanita yang kini bisa ia panggil istrinya juga tenagh bersiap dan menahan tangan Chanyeol agar tidak lagi melewatkan suapan bola kentang itu untuk dirinya.
Mereka kembali berjalan mengikuti pergerakan parade sepanjang jalan kota Gracia, masih menikmati setiap makanan yang didapati pada setiap kedai dan juga mencoba beberapa rasa minuman yang lain. Baekhyun bahkan tertarik untuk membeli satu hiasan dinding dimana itu adalah hasil olahan tangan penduduk sekitar namun mengingat padatnya yang mengunjungi kedai itu, pada akhirnya dia mengurungkan niatnya.
"Kenapa?" Chanyeol merangkul bahu Baekhyun dan mereka kembali melangkah bersama masuk dalam kerumunan parade.
"Aku ingin membelinya, tapi banyak orang yang mengantri."
"Kita bisa kembali lagi besok dan mengunjungi kedai itu langsung."
"Aku tidak yakin besok masih ada.."
"Pasti masih ada, acara ini masih berlangsung selama seminggu dan ini baru hari kedua, masih ada lima hari kedepan." Chanyeol menjelaskan dan bermaksud memberikan hiburan untuk Baekhyun yang jelas merasa kecewa dan sedih hanya karena tidak bisa mendapatkan sebuah hiasanya yang dijual tadi. "Besok kita akan kembali." Lagi Chanyeol meyakinkan dengan menambahkan kecupan pada kepala Baekhyun.
"Besok kita harus datang dan mencari kedai itu!" Baekhyun menegaskan. "Aku ingat lokasinya dan kita akan langsung menuju kesana!" ia bahkan menunjuk lokasi kedai sebelumnya yang sudah tidak terlihat karena badan mungilnya terhalangi oleh beberapa kerumunan warga yang memiliki tinggi badan lebih tinggi darinya. Chanyeol menahan tawanya melihat Baekhyun kembali mengerucutkan bibirnya.
Mereka kembali mengikuti keseluruh acara parade, menari bersama dan bahkan ikut bersorak – sorai. Chanyeol membawa Baekhyun untuk ikut berdansa bersama para penduduk lainnya dan bahkan mereka diajarkan tarian dansa yang menjadi ciri khas dari Kota kecil bagian dari kota Barcelona itu.
Tidak ada satu pun yang merasa perlu memikirkan kesedihan atau kesulitan apapun karena tujuan dari parade yang diadakan ini adalah memberikan sebuah penghiburan terlepas dari peperangan yang pernah terjadi di Gracia beberapa puluh tahun yang lalu.
Beberapa pasangan masih melakukan acara dansa dan berjoget bersama mengikuti alunan lagu yang dimainkan oleh beberapa marching band, para penari professional yang memakai gaun berawarna merah—ciri khas dari Kota Barcelona—ikut menari bersama seirama dengan lagu musik yang dimainkan. Bahkan tak jarang mereka menarik satu per satu warga lainnya untuk bergabung dan menari bersama. Sama halnya dengan dua anggota Kerajaan Glorfindel dan Lynkestis—Chanyeol dan Baekhyun—yang masih menikmati berdansa seiring para penari dan penduduk lainnya.
Melupakan mengenai dirinya yang kesal karena tidak mendapatkan hiasan buatan tangan kota Gracia, kini dirinya semangat menarik – narik tangan Chanyeol sambil melangkah cepat melewati beberapa kerumunan dalam parade hanya untuk melihat pertunjukkan musical yang menceritakan sejarah Kota Barcelona.
"Kau menarikku hanya untuk melihat pertunjukkan ini?" Chanyeol berbisik tepat disamping telinga kanan Baekhyun tepat ketika mereka berhenti dan mendapatkan penglihatan pertunjukkan musical itu dalam jarak cukup dekat.
"Mereka mengatakan pertunjukkan ini romantis dan menyedihkan." Baekhyun berucap sama berbisiknya namun enggan menoleh untuk melihat kearah Chanyeol. "Diceritakan bahwa sang wanita adalah Puteri Mahkota Kerajaan yang berada di Kota Barcelona dan sang pria adalah ksatria Kerajaan, Sang Puteri memiliki sifat keras kepala dan juga sangat angkuh. Hingga pada kepulangannya kembali ke Kerajaan, ia bertemu dengan sang ksatria itu dan mereka memiliki sifat yang bertolak belakang namun pada akhirnya Sang Puteri memiliki rasa cinta pada sang ksatria."
"Cerita yang sangat tepat dijadikan legenda." Chanyeol memutar bola matanya ketika pertunjukkan musical akan dimulai.
"Hm, mereka akan menayangkan ketika ada peperangan nantinya. Sang ksatria dikabarkan meninggal disana, dan itu membuat Sang Puteri merasakan kesedihan mendalam. Hanya sebuah kabar yang mengatakan Sang Ksatria meninggal sehingga ia tidak percaya sepenuhnya, namun pihak kerajaan tetap mengadakan upaca penghormatan dan Sang Puteri menghadirinya. Kau tahu apa yang terjadi?"
Chanyeol menggeleng dan memilih membaca synopsis cerita yang ada ditangan Baekhyun. "Sang Puteri menusukkan belati pada jantungnya dihadapan seluruh Kerajaan?—tunggu apa ini Sang Ksatria tidaklah meninggal dan ia kembali dengan selamat?" Chanyeol menunjukkan bagian adegan dimana dituliskan disana Sang Ksatria akan masuk kedalam ruangan dimana acara penghormatannya dilakukan.
"Hm, Sang Puteri memilih bunuh diri, namun pada kenyataanya Sang Ksatria tidaklah meninggal. Ia kembali, ia kembali dan menyaksikan orang yang dicintainya merenggut nyawanya sendiri. Pada akhirnya dia melakukan hal yang sama, dengan belati yang sama yang ditusukkan pada jantung Sang Puteri."
"Astaga Baek.. perlu kuingatkan kisah Phoenix dan Elayne lebih masuk akal dibandingkan kisah siapa ini—" Chanyeol membalik kertas yang ada ditangannya. "Ah, Alexander dan Anasthasia? Aku saja tidak tahu mereka siapa dan kisah mereka tidaklah masuk akal." Chanyeol melayangkan protest lagi dan itu semakin membuat Baekhyun menggerutu kesal.
"Ya sudah! Kalau tidak mau menontonnya sana kembali ke acara parade! Aku mau menontonnya sendiri!" Baekhyun melepaskan rangkulan tangan Chanyeol dan melangkah menjauh dari posisi ia dan Chanyeol sebelumnya.
Chanyeol menghela nafas pelan dan mengusak rambutnya sesaat, meskipun hatinya merasa enggan untuk tetap berada disana dan menonton acara musical romantis dan tidak masuk akal itu, setidaknya ia tidak bisa meninggalkan istri mungilnya sendirian saat ini. maka, mau tidak mau ia tetap berada dibelakang Baekhyun dan tetap memeluk badan wanita itu mendekat dalam dekapannya.
"Aku akan menemanimu, asal kau berjanji tidak menangis histeris ketika melihat adegan menyedihkan itu nantinya." Chanyeol berbisik dan Baekhyun membalasnya dengan gerakkan anggukkan kepala yang mantap.
Chanyeol tidak lagi menjadi suami yang terlalu banyak bicara hanya untuk melarang sang istri atau bahkan menganggu istrinya menikmati sebuah pentas musical yang tidak terlalu berbahaya ini contohnya. Sebenarnya Chanyeol cukup penasaran dengan cerita bersejarah itu, tapi melihat dandanan para pemain drama dan juga musik – musik serta beberapa nyanyian yang mengiringi pertunjukkan itu membuat niatan itu semakin lama semakin menurun, ditambah kenyataan hampir semua penontonnya adalah kaum wanita dan mereka semua terpesona dengan betapa gagahnya sang pemain utama yang menurut Chanyeol sama sekali tidak terlihat gagah sama sekali.
Selama pertunjukkan itu tak terhingga beberapa kali Chanyeol memutar bola matanya dan juga menguap, berbeda dengan Baekhyun dan para penonton yang lainnya dimana bahkan tidak bisa menutup mulut mereka dengan benar—entah karena rasa bingung atau takjub—dan Chanyeol sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan orang – orang disekitarnya. Ia sudah cukup bingung dengan melihat Baekhyun yang terdiam dan terlihat sangat memperhatikan jalan cerita yang ditampilkan dan istrinya itu benar – benar serius menyaksikan semuanya.
"Chanyeol..."
Suara Yoora terdengar dalam pikirannya dan berhasil mengusik fokusnya.
"Chanyeol.. ku mohon dengarkan aku saat ini.."
"Yoora?"
"Cepat bawa Baekhyun kembali ke Eowyn ketika Jongin tiba di Gracia—
"Apa yang terjadi?"
"Dengar dan lakukan, jangan minta aku menjelaskan semuanya karena ini sulit dijelaskan tanpa kau melihat apa yang sebenarnya terjadi—
"Akkkhhhh—Chanyeol—
Teriakan rintihan Baekhyun dan wajah kesakitan dari wanita itu menyadarkan fokus Chanyeol untuk kembali memperhatikan bagaimana wajah istrinya kini seakan – akan tengah berada di ujung ajalnya. Tak ada lagi rambut hitam gelapnya yang menjadi mahkota rambut wanita itu, bahkan tak ada senyum hangat dan pipi merona di wajahnya karena semua kini telah menjadi putih pucat. Seluruh badannya bahkan menjadi pucat dan bercahaya namun membuat Baekhyun merintih kesakitan memegangin bagian dadanya.
Simbol pada keningnya bahkan terlihat timbul dengan jelas, simbol lambang cahaya dan juga bulatan di tengah yang hampir mirip seperti simbol bulan bersinar terang.
"Baekhyun—hey—hey aku disini-kau kenapa?"
"Chan—aaakhh—jan—jantungku—"
"Baekhyun! Baekhyunn!" Chanyeol bahkan semakin panik menyadari suhu badan Baekhyun bukanlah suhu badan normal untuk ukuran manusia setengah Dewa. Badannya sedingin es sementara kesadarannya semakin hilang.
"Hei Big Bro!" suara Jongin yang tiba – tiba terdengar dengan sosoknya yang muncul seketika menyadarkan Chanyeol akan apa yang dibicarakan Yoora sebelumnya.
"Bawa kami cepat!" perintahnya terdengar mutlak dan tanpa ada bantahan atau kalimat basa – basi lainnya, Jongin dengan sigap menggenggam tangan Chanyeol setelah kakaknya itu membawa badan Baekhyun dalam dekapan eratnya.
Tbc.
