Sebelum mulai, aku mau kasih peringatan dulu di awal.
Di chapter ini terdapat adegan psikopat. Kalau kalian tidak tahan, jangan dibaca dan langsung skip saja. (Ngerti kan sekarang kenapa ratingnya M?)
Dan juga saya mau minta maaf karena baru bisa update sekarang, karena ya… begitulah. Itu aja sih.
Terima kasih
Chapter 15
Kenyataan dan Kebohongan (Part 5)
Berkat Ibu, aku dan kakak berhasil melarikan diri.
Setelahnya kami pun berusaha untuk keluar menuju sisi yang lain dari hutan itu.
Kami terus berjalan semalaman penuh tanpa beristirahat.
"Wooh!" Blaze sontak memekik kaget ketika batu licin yang ia pijak membuatnya tergelincir. Tapi beruntung dengan sigap Halilintar menangkap tangannya dan menariknya tubuhnya.
"Kau nggak apa-apa?" Tanya Kakaknya.
Blaze menjawab dengan sebuah anggukan pelan. Dia melihat pada Halilintar. "Nee Nii-chan… kita balik aja yuk" ujarnya dengan nada memelas.
Mendengarnya sontak membuat Halilintar terdiam. Dengan tatapan menyendu dia membalas adiknya. "Kita udah nggak boleh balik lagi."
"Kenapa?"
"Pokoknya nggak boleh"
"Tapi–"
Tidak tahan terus mendengar ocehan adiknya, Halilintar pun memalingkan wajah dan menyela ucapan Blaze. "Sudahlah. Ayo, kita harus secepatnya keluar dari hutan ini"
"Tapi… Kita udah jalan semalaman… Blaze capek, kakiku sakit…" keluh adiknya lemah.
Halilintar tersentak dan kembali menoleh pada bocah kecil itu dengan raut wajah sedikit bersalah. Benar juga, karena terlalu ingin cepat pergi dari tempat itu, dia sampai mengabaikan kondisi adiknya. Padahal anak itu masih kecil, memanjat gunung pun belum pernah, tentu saja dia mengalami kesulitan untuk mengiringi langkah Kakaknya yang memang sudah mahir.
Ia pun berjongkok membelakangi Blaze. "Naiklah. Kita harus terus jalan" ujarnya menawarkan punggung kepada adiknya.
Awalnya Blaze ragu karena merasa tidak enak pada Kakaknya. Dia juga pasti lelah, tapi terpaksa harus menggendongnya karena ia mengeluh lelah dan terlalu lambat. Tapi pada akhirnya dia tetap menurut dan menaiki punggung si kakak. Sambil berpegangan erat, Blaze pun dibawa oleh Halilintar kembali mendaki dan melintasi belantara dari pegunungan itu.
Saat itu aku sadar, jika kami sudah tak punya tempat untuk kembali.
Tapi…
Kami pun tidak punya tempat untuk dituju.
~MA~
Lama berjalan, semakin jauh pula keduanya dari desa. Tak lama saat melintasi hutan terdengar suara air. Dari bunyinya sepertinya itu sungai. Seperti melihat secercah harapan dengan semangat Halilintar berlari menuju asal suara tersebut.
Seperti dugaannya, memang ada sungai. Dengan cepat dia menurunkan Blaze dari punggungnya, lalu secara perlahan menuntunnya turun menuju tepi sungai. Tanah yang mereka pijak saat ini cukup terjal juga licin jadi mereka harus berhati-hati menempatkan kaki-kaki mereka diantara akar-akar pohon.
Setelah berhasil turun, mereka langsung mendekat pada aliran sungai. Airnya jernih dan belum tercemar oleh apapun. Akhirnya setelah lelah berjalan mereka bisa melepas dahaga dan beristirahat sejenak. Halilintar menadahkan tangannya membentuk mangkuk untuk menampung air yang kemudian disodorkan pada Blaze disampingnya. Tanpa ragu bocah kecil itu pun meminum air yang diberikan oleh kakakknya.
Setelah adiknya barulah giliran Halilintar yang minum demi memuaskan dahaganya. Dia kembali menampung air untuk mencuci wajah serta sebagian lengannya.
Kalau dipikir-pikir lagi…
Sungai ini ukurannya lebar, airnya mengalir deras, bebatuannya tidak terlalu besar, dari cirinya sepertinya ini daerah pertengahan. Berarti hulunya ada di puncak gunung. Di desa mereka juga ada sungai tapi alirannya datang dari arah timur, sedangkan gunung ini ada di daerah barat jadi kalau mereka ikuti arus sungai ini sampai ke hilir mereka bisa dari keluar hutan setidaknya sampai di pemukiman penduduk, desa lain mungkin.
'Krucukkkk'
"Hm?" Halilintar menoleh pada adiknya, dan terlihat anak itu sedang memegangi perutnya. "Blaze, kau lapar?" tanyanya. Dengan cepat adiknya menggeleng, tapi perutnya memang tidak bisa diajak kompromi, karena tak lama suaranya semakin keras. Wajar, hampir satu hari mereka belum makan dan hanya minum air sedikit.
Halilintar pun berdiri. "Sebentar, biar kucarikan sesuatu yang bisa dimakan. Kau tunggu disini, jangan kemana-mana" ujarnya.
Bocah kecil disebelahnya mengangguk pelan dan setelahnya Halilintar langsung masuk kembali ke dalam hutan untuk mencari tanaman atau binatang, pokoknya apa saja yang bisa mereka gunakan untuk mengisi perut.
Blaze pun duduk sembari berpagut lutut selagi menunggu kakaknya kembali. Sesekali tangannya usil mengutip batu-batu kecil untuk ia lemparkan ke dalam sungai. Riakan muncul dari permukaan air yang ia lempar batu, semakin besar batunya semakin besar pula riaknya dan semakin bosan juga dirinya yang sedari tadi hanya menunggu sambil melakukan hal yang tidak ada faedahnya.
Tapi tak lama kemudian, muncul suara kecil melengking tinggi yang asalnya dari seberang sungai. Karena penasaran Blaze sontak berdiri dan coba untuk mendekati asal bunyi tersebut. Sayangnya sungai itu terlalu lebar untuk dia seberangi. Ia pun menengok ke segala arah dan menemukan bagian sungai yang alirannya terbelah dua, lantas saja Blaze melompat pada bagian gundukan yang kering hingga sampai di seberang sungai.
Suara itu masih ada, terdengar dari arah semak-semak. Saat anak itu menyibaknya dia menemukan jika sumber bunyi itu berasal dari racauan seekor anak burung. Blaze sampai bertanya-tanya dalam hati, kenapa bisa ada seekor bayi burung di dalam semak. Induknya pun sepertinya tidak terlihat.
Tapi pertanyaan itu segera terjawab ketika ia melihat ke atas, dimana terdapat sebuah sarang yang posisinya miring. Sepertinya ada angin kencang yang meniup sarang tersebut. Dan kemungkinan saat itu bayi burung berada di pinggir, karena tubuhnya kecil dan ringan angin pun dengan mudahnya menghempaskannya jatuh.
Makhluk ini terlalu kecil untuk dihisap darahnya, dimakan pun tidak akan kenyang. Lebih baik dikembalikan ke atas pohon. Namun ketika ia hendak meraih bayi burung itu…
"Anak burung yang malang… jatuh dari sarangnya"
Blaze membelalak saat mendengar suara berat seorang pria tepat berada di belakangnya. Dengan cepat ia pun membalikkan tubuh dan mendapati jika orang yang bicara padanya adalah seorang pria dengan rambut hijau muda dengan beberapa helai memutih karena uban.
"Paman John!" serunya girang.
"Hai Blaze-kun. Kelihatannya kau selamat ya?" ujar orang bernama Jonathan tersebut.
"Uhm! Nii-chan juga!" sahut Blaze.
"Hee… Halilintar-kun juga selamat ya?" komentar pria yang sedari tadi terlihat melipat kedua lengannya ke belakang punggung. "Nah Blaze-kun, apa kau tahu? Ketika seekor anak burung jatuh dari sarang ketika induknya tidak menyadarinya, biasanya si induk tidak akan mencarinya lagi. Dan kalau sudah begitu maka anak burung itu akan… Mati…"
Pria itu pun mengeluarkan pedang yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
*(Dari sini)*
Hal itu terjadi dengan sangat cepat, saat Blaze sadar darah tampak berceceran di tanah dan ia sudah kehilangan lengan sebelah kanannya.
"AAAAARRGGGGGGHHHHH"
Halilintar yang saat itu berada tak terlalu jauh dari sungai langsung dibuat tersentak kaget karena mendengar suara jeritan adiknya. Dengan begitu panik dan sangat tergesa-gesa dia pun bergegas kembali. Tak butuh waktu lama bagi bocah itu tiba kesana, namun begitu sampai dia kembali dibuat terkejut melihat adiknya duduk meringkuk di tanah dengan lengan kanan yang sudah tak utuh. "BLAZE!" panggilnya keras.
Adiknya segera menyadari kehadirannya dan bergegas lari ke arahnya, sambil menahan sakit dan air mata mengalir deras serta langkah yang terseok-seok "Nii-chan! Nii-chan!"
Begitupun Halilintar yang berusaha secepat mungkin menghampirinya.
Adiknya masih menjerit memanggil dirinya. Sementara pria tua dibelakang bocah kecil itu, karena tidak ingin mangsanya kabur, ia pun kembali mengayunkan pedangnya tersebut. Dengan cepat dipotongnya salah satu bagian tubuh si bocah yang digunakan untuk berjalan. Hasilnya Blaze pun jatuh terjerembab dengan keras.
Dalam kepanikan bocah kecil itu masih menjerit, memanggil si kakak, meminta tolong sambil mengulurkan lengan kirinya yang masih utuh. Makin keras tangis si adik semakin cepat pula langkah Halilintar untuk menghampirinya. Di detik-detik akhir dia sampai dan berhasil memegang tangan bocah kecil tersebut, sekarang dia hanya tinggal menarik adiknya dan membawanya kabur. Namun, disaat yang sama pria tua itu menyengir panjang, dia kembali mengayunkan pedangnya dan membuat Blaze kehilangan lengannya yang satu lagi.
Halilintar dibuat syok seketika dan berakhir jatuh dengan posisi terduduk, jari-jari tangannya pun masih berkaitan erat dengan jari-jari dari potongan lengan adiknya. Pria itu menyeringai menatap bocah bermanik merah di depannya, tanpa bicara ia menarik bocah kecil di depannya.
Kakaknya tahu apa yang akan dilakukan orang itu terhadap adiknya, namun ia hanya bisa duduk lemas melihatnya, sepasang mata itu bergetar hebat karena ketakutan. "Tidak. Hentikan. Kumohon!" ucapnya, memohon agar adiknya tidak diapa-apakan.
Orang itu memasang wajah psikopat, setelahnya tubuh bocah kecil itu ia hempaskan ke udara. Pedang besar itu diangkat ke atas dan siap menikamnya ketika gaya gravitasi membuat tubuh bocah kecil itu kembali ke bumi.
"JANGAN!"
Terlambat. pria itu tidak peduli dengan ucapan Halilintar, meski sekeras apapun dia berteriak keras sedari tadi, dia tetap akan membunuh Blaze agar keinginannya tercapai.
Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati Halilintar saat itu. Dia yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat pemandangan yang ada di depan matanya, dimana dada kiri adiknya ditikam menggunakan sebilah pedang, tubuhnya sempat mengejan merasakan sakit yang luar biasa hingga akhirnya tak bergerak dan terkulai lemas dengan anggota tubuh sudah tak lengkap. Bocah beriris merah itu menunduk sembari mengepalkan tangan.
*(Sampai sini)*
"Kenapa? Apa kau sudah merasa sangat putus asa sekarang?" Tanya pria di depannya.
"Kembalikan…" Halilintar berdesir pelan.
"Huh?"
Ia mengangkat wajahnya. "KEMBALIKAN ADIKKU!" seru anak itu keras dengan air mata menempel di sudut pelupuk.
"Yah… Aku juga sudah tidak membutuhkannya. Kalau kau menginginkannya silahkan ambil sendiri" ujar pria itu sembari melepaskan tubuh Blaze dari tusukan pedangnya dan kemudian melemparkan sekuat mungkin ke seberang sungai.
Halilintar kembali dibuat tercekat, secepat mungkin dia berdiri, berlari dan melompati sungai demi menyelamatkan tubuh adiknya. Beruntung ia sempat menangkapnya sebelum adiknya jatuh ke tanah dan menghantam bebatuan besar di dekat sungai, namun Halilintar sempat terseret saat menahan tubuh Blaze, mengakibatkan lengan jaketnya robek dan luka lecet pada kulit yang ada dibaliknya.
Tapi hal itu tak jadi permasalahan baginya. Ia bangkit sambil memeluk tubuh adiknya. Tubuhnya menggigil kuat. Sementara wajah adiknya yang ia peluk tampak memucat, matanya tertutup dan darah segar mengalir lewat sudut bibirnya, seolah ia sudah pergi jauh dan menemukan kedamaian di tempat lain.
Ketika Halilintar tengah berduka, pria bernama Jonathan itu masih sempat mengoceh. "Wah… Hanya tinggal kau yang tersisa ya? Berarti setelah ini kau kesepian dong. Kalau begitu… lebih baik kau segera menyusul yang lain saja." Ia melemparkan beberapa belah pisau kearah bocah tersebut. Pisau-pisau tajam itu melesat cepat menuju punggung si anak vampire bermata merah.
Semakin dekat.
Hingga tiba-tiba… saat jaraknya hanya tinggal 30 sentimeter…
Muncul aliran listrik berwarna kebiruan, seolah membentuk barrier di sekitar tubuh Halilintar dan mementalkan pisau-pisau perak tersebut ke segala arah. Kelihatannya itu semacam bentuk perlindungan dari Byakko. Dan untuk petir milik Halilintar sendiri...
Beberapa saat kemudian terlihat kumparan listrik berwarna kekuningan ditubuhnya, ukurannya membesar, menyambar ke segala arah dan berputar-putar mengelilingi dirinya layaknya sebuah bola plasma dengan Halilintar sebagai intinya. Tak cukup sampai sana, warnanya mulai berubah, dari kuning terang kemudian jingga hingga akhirnya menjadi merah menyala.
Bersamaan dengan itu tubuh adiknya yang sudah tak utuh itu ia baringkan perlahan dan dia pun berdiri sembari menyeka matanya yang sedikit sembab. Dia membalikkan wajahnya mengadap pria tua pembunuh adiknya, bola matanya berkilat kemerahan, tatapannya amat tajam seolah berkata 'Aku akan membunuhmu'. Listik merahnya masih terlihat menyambar dan siap dia lemparkan kepada siapapun dan apapun yang ada disekitarnya.
"Kalian membantai warga desaku, kalian menghabisi keluargaku, dan kalian lenyapkan rasku. APA SEMUA ITU BELUM CUKUP SAMPAI KAU JUGA MEMBUNUH ADIKKU?!" satu tembakan petir penuh amarah dilepaskan tepat disamping tubuh orang itu dan saat itu juga satu gunung terbelah oleh pilar cahaya. Untuk pertama kalinya potensinya muncul dan langsung mengamuk saat digunakan "Kenapa…? Kenapa? Kenapa kalian ingin melenyapkan kami semua!? Kami berusaha hidup berdampingan dengan kalian para manusia. Kami tidak menyerang kalian, tapi kenapa kalian menyerang kami!? Apa salah kami!? JAWAB!" kilat-kilat itu semakin menggelegar dan semakin mengintimidasi.
Pria itu mendengus dan berdecih pelan. Dengan sedikit gelisah ia menatap Halilintar, karena jika salah menjawab siap saja dia menerima tembakan mengerikan yang akan menghanguskan tubuhnya. "Kalian semua tidak salah. Yang salah adalah kekuatan kalian yang tidak cocok untuk dunia ini. Suatu saat nanti, sengaja atau tidak, kalian akan membahayakan manusia"
Satu penjelasan yang sangat menohok, tapi Halilintar tidak peduli, dia benar-benar kesal. "AARGGGH!" Dalam satu teriakan anak itu melepaskan kembali petir itu. Kali ini tepat mengenai pria tersebut, namun dengan cepat serangan itu ditahan oleh pedangnya. Orang itu selamat dari luka serius, tapi dia terpental sampai ke sisi gunung yang lain. Puas menyerang dan kehabisan tenaga, bocah itu sontak menjatuhkan diri lemas dan menundukkan kepalanya untuk yang kesekian kali. Seolah amarahnya sedikit mereda, gulungan badai petir merah disekitarnya pun menipis hingga akhirnya lenyap tak membekas.
Ia merangkak mendekati tubuh adiknya, memeluknya dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya ke dalam dekapan tersebut. Samar terdengar isakan dari balik wajahnya. "Ibu… Maaf… aku nggak bisa menepati janjiku… Aku sudah kehilangan Blaze… Maafkan aku…"
'BOOOMMM'
Masih dalam keadaan berduka, tak lama muncul suara yang sangat keras dari arah tebing di belakangnya. Cukup membuat Halilintar tersentak kaget dan membulatkan mata lebar-lebar. Dengan cepat anak itu menoleh ke arah sumber suara. Disana ada seekor kerbau berukuran raksasa, besarnya sama seperti sebuah rumah, anggapannya kalau makhluk itu disembelih cukup untuk hajatan tiga kampung–bukan, satu kota. Lalu selain kerbau yang tadi ada seorang pria dewasa dengan rambut ungu raven tengah sibuk memegangi kedua tanduk makhluk itu untuk menahan pergerakannya.
"Bagus sekali. Mantap! Mantap!" pria itu berteriak kegirangan seperti orang kesetanan saat melawan makhluk itu. Dengan perbandingan ukuran tubuhnya dan si kerbau rasanya mustahil jika pria itu manusia, lagipula dia punya tanduk di dahinya. Oni kah?
Tidak seberapa adu gulat tangan melawan tanduk itu berlangsung, "Tahan sebentar, Fang!" muncul seorang wanita berambut hitam panjang dengan kimono putih, melompat dari tebing. Dia mengarahkan tangannya ke bawah dan secara ajaib bongkahan es muncul membentuk seluncuran untuk perempuan tersebut. Dengan menggunakan gunungan es tersebut dia mengelilingi tubuh si kerbau, meniupkan udara dingin dari mulutnya dan membekukan kaki-kaki makhluk raksasa itu agar tidak bisa bergerak.
"Sekarang, Gempa-san!" wanita itu kembali menyeru ke arah hutan.
Kemudian dari tebing yang sama seseorang muncul. Pria dewasa dengan sebilah pedang tipis di tangannya, dia pun melompat dari tebing tersebut sembari mengayunkan senjata beberapa kali hingga ujung mata pedangnya menghadap ke bawah. Tanpa ragu, senjatanya itu tancapkan di atas kepala makhluk besar berwujud kerbau tersebut, ia bahkan menekannya sampai dalam.
Makhluk itu sempat meronta beberapa saat hingga akhirnya terdiam tak bergerak dan lenyap menjadi cahaya yang hilang di udara.
"Berhasil! Gempa-san emang hebat!" seru perempuan itu girang, karena akhirnya misi mereka dalam melenyapkan siluman yang mengganggu ketenangan hutan dan warga sekitarnya sudah selesai.
Orang yang dipanggil Gempa itu berdiri sembari memangku pedang satu sisinya ke bahu. "Berkat bantuan kalian juga" jawabnya seraya tersenyum lembut.
Gempa melihat ke arah sungai, ada seorang bocah kecil duduk bersimpuh disana sambil memeluk anak yang lebih kecil darinya, bisa dilihat dari ekspresinya anak itu sedang dalam masalah. Ia pun perlahan mendekat padanya. "Nah… Kamu…"
Bocah kecil itu mendeham, dia terlihat menghindar dan waspada terhadapnya. Tatapannya begitu tajam dan tubuhnya condong menjauh, mungkin sebentar lagi dia akan meloncat kabur, jadi Gempa pun menjaga jarak agar tak membuatnya panik. "Anak itu…" tunjuk Gempa pada bocah kecil yang dipeluk olehnya. "Dia masih hidup…?" lanjutnya.
"He…?" lantas bocah kecil itu membelalak, terheran-heran. Dengan segera ditempelkannya daun telinganya ke dada si adik. Benar, jantungnya masih berdetak, memang kecil tapi ada. Halilintar tidak percaya ini, adiknya masih bertahan hidup setelah mendapat serangan fatal seperti tadi.
"Kita harus bergegas menyelamatkannya" tanpa seijin Halilintar, Gempa langsung mengambil alih dekapan pada tubuh adiknya tersebut. Pria itu berdiri di hadapan sungai dengan agak panik. "Fang, Ying! Ayo cepat!" tegurnya kepada dua orang lain yang ada disana "Kamu ikut juga!" serunya pada Halilintar, meminta mengikuti dirinya. Tentu Halilintar bergegas berdiri dan langsung mengambil posisi di sebelah pria tesebut.
Tanpa ancang-ancang dia lantas menyeret tangan Halilintar dan melompat ke dalam sungai, diikuti pria serta wanita yang juga bersamanya. Namun aneh, sungainya menjadi sangat dalam. Meskipun mereka di dalam air yang dalam tapi Halilintar sama sekali tidak merasa sesak ataupun tenggelam. Hingga beberapa saat kemudian, mereka keluar dari dalam sebuah kolam pemandian. Gempa dengan cepat keluar dari dalam kolam dengan masih menggendong tubuh seorang bocah kecil. Halilintar memang agak bingung namun ia cepat keluar untuk menyusulnya, ajaib meskipun dia keluar dari dalam air namun bajunya sama sekali tidak basah.
"Solar!?" Gempa membanting pintu geser yang menjadi pembatas ruangan dengan panik dan tak kalah membuat kaget penghuni yang ada disana, bisa dilihat jika tempat ini merupakan villa penginapan di dekat pegunungan.
"G–Gempa-sama!? Kenapa anda anda datang dari arah pemandian?" seorang pria berambut pirang serta mata biru cerah yang saat itu tengah duduk di ruang tengah lantas menyahutnya dengan terheran-heran.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Dimana Solar?" kata Gempa.
"Solar-dono* tadi pergi ke arah selatan. Sudah lumayan lama, ada yang diurus katanya" jawab seorang pria dengan rambut oranye yang ada disana.
"Anak itu… disaat genting begini apa yang dilakukannya?" gerutu Gempa. Ia mengulum bibir dengan begitu kecut, berpikir keras, tidak ada waktu menunggu medis datang, jika terlambat anak ini akan mati kehabisan darah, terlebih lagi mereka tidak bisa membawa anak vampir ke rumah sakit manusia. "Sudah tidak banyak waktu lagi, kita harus cepat. Ocho, Card, bantu aku. Bell dan Ying cari perban atau kain seberapa yang ada."
"Baik!"
Saat itu juga mereka berpencar mengerjakan tugasnya masing-masing. Gempa membawa tubuh Blaze ke kamar lain dan langsung menutup pintunya. Halilintar tentu kebingungan, dia ingin ikut melihat adiknya, dia takut jika mereka melakukan sesuatu yang buruk padanya. Namun langkahnya dicegat oleh pria berambut raven yang sedari tadi berada di sampingnya dengan sebuah tepukan bahu. "Kau kesini" Orang itu pun menyeretnya dari sana.
Tentu anak bertambah bingung, terutama ketika pria itu membawanya kembali ke kolam pemandian. "Kenapa kau membawaku kesini!? Minggir, aku mau lihat adikku!" protes Halilintar.
Pria berambut ungu raven acak-acakkan itu memanyunkan bibirnya dan mulai berkomentar. "Hmm… Jadi bocah itu adikmu? Jangan khawatir kami tidak akan melakukan hal buruk padanya. Yang jelas kau bisa mempercayai kami. Dan jauh lebih penting sekarang, sebaiknya kau bersihkan tubuhmu itu. Oh… Atau kau perlu bantuan?"
"Tidak perlu. Aku bisa mandi sendiri" yang dengan cepat ditolak oleh Halilintar.
"Ya sudah." Sahut orang bernama Fang itu sembari menutup pintu pemandian tersebut. Beberapa langkah menjauh dari kamar mandi, dia pun teringat sesuatu. "Oh iya. Aku lupa menanyakan namamu."
Bocah yang saat itu tengah melepas kaos yang dipakainya itu menyahut. "Halilintar… Ryuuketsu Halilintar…"
"Dan adikmu?" Fang bertanya kembali.
"Blaze…" jawab Halilintar kembali.
"Halilintar dan Blaze ya? Tidak perlu waspada begitu, kami bukan musuh dan kami pun sama seperti kalian"
~MA~
Beberapa saat yang lama kemudian Gempa dan yang lain dengan keadaan begitu letih, terlihat terkapar di ruang tengah tersebut. Beberapa bagian dari pakaian yang mereka kenakan kotor terkena bercak darah. Para perempuan yang melihat mereka dengan membawakan pakaian ganti sampai terheran-heran.
"Ba–Bagaimana keadaan anak itu, Gempa-san?" tanya wanita berambut hitam dengan kuncir ganda itu sambil bersweat drop ria.
Orang yang dia panggil Gempa itu lantas bangkit dari pembaringannya dan coba untuk duduk tegap. Dia membuang nafas panjang, entah lega ataupun karena kelelahan. "Pemulihan dirinya sangat cepat. Berkat itu kami berhasil menolongnya. Pendarahannya sudah berhenti sekarang, sisanya biar kita serahkan pada Solar nanti." Jelasnya. "Ngomong-ngomong, anak yang bersama dengannya kemana? Karena tergesa-gesa aku lupa menanyakan namanya" Dia pun mengganti pembicaraan.
"Ryuuketsu Halilintar dan juga Blaze" Fang masuk keruangan itu sambil menyela sekaligus menjawab pertanyaan Gempa. "Aku tadi menyuruh anak itu untuk mandi, walaupun harus sedikit kubentak karena dia ingin melihat adiknya. Yah… dia pasti khawatir."
Mendengar nama keluarga yang dimiliki oleh kedua anak tersebut membuat si pria berambut pirang langsung bangkit duduk. "Ryuuketsu, katamu?"
"Kau tahu, Ocho?" tanya Gempa, menatapnya dengan mengernyitkan dahi.
"Ryuuketsu adalah nama sebuah klan vampir ninja dari desa Yamagakure. Mereka ras vampir murni, ciri khasnya adalah mata berwarna merah menyala meskipun mereka tidak memasuki mode vampirnya. Dan juga mereka dikenal sebagai para pengendali kucing api. Tapi yang kudengar, gosipnya dari para penghuni hutan disini jika desa mereka sudah hancur. Semuanya lenyap dalam satu malam dan tidak ada yang bertahan hidup dari sana."
"Jangan bilang, pilar cahaya yang semalam itu…" Ying menyela penjelasan dari Ocho karena teringat kejadian semalam. Ada cahaya terang berwarna ungu dari arah timur, kemudian menghilang, lalu setelahnya terdengar suara gemuruh seolah terjadi longsor di suatu tempat.
"Kalau begitu, apa berarti hanya mereka berdua selamat dari insiden itu?" Bell menyahut diskusi ini dengan nada penasaran.
"Kemungkinan begitu." Jawab Ocho.
"Kalau benar, kita bisa menanyakan pada Halilintar, apa sebenarnya pilar cahaya yang kemarin itu" kata Gempa.
"Kalau aku jadi Gempa, aku sih tidak akan menyarankan itu" seseorang terdengar menyahut ucapan Gempa. Suaranya bukan berasal dari salah satu anggota yang ikut berdiskusi di dalam ruangan tersebut. Sontak saja dengan begitu terkejut semua hadirin yang ada disana segera menoleh ke asal pemilik suara.
Dan disana seorang pria dewasa, dengan penampilan umur 20 an tengah berdiri di depan pintu. Senyumnya mengembang, tatapan tajam namun lembut tersorot dari kedua mata dengan warna keperakkan miliknya. "Anak-anak itu mentalnya belum stabil. Kejadian tidak mengenakkan bisa meninggalkan bekas berupa trauma. Kalau kau memintanya bercerita ada kemungkinan malah membuatnya stress. Kusarankan tunggu saat dia lebih tenang, baru kau bisa membantunya bercerita."
"Solar! Kemana saja kau sejak tadi!?" Gempa langsung saja menggebrak meja karena segitu terkejutnya.
"Ada yang harus kulakukan, sebentar saja. Dan coba tebak, siapa yang ada disini." Solar menjawab sambil memiringkan tubuhnya, memperlihatkan orang yang sejak tadi bersembunyi dibelakangnya.
Terlihat seorang anak kecil dengan tubuh mungil sedang asik berpagut tangan pada lengan baju yang tengah dipakai Solar. Wajahnya tidak nampak begitu jelas karena sebagian besar tertutupi oleh poni dan rambut hitam panjang yang acak-acakannya. Hanya sebuah matanya yang terlihat, berwarna hijau terang bak dedauan pohon rimbun yang menyejukkan.
"Halo… Siapa namamu?" Gempa coba menyapanya dengan seramah mungkin, walau dia sedikit kebingungan.
Namun anak itu hanya terdiam, memiringkan kepala dengan raut wajah bingung, dia seperti tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Gempa. Yang ada dia malah jadi was-was dan semakin meremas kuat kain pada lengan baju Solar.
"Solar… Siapa anak itu?" tanya Gempa mengerutkan dahinya karena merasakan kejanggalan barusan.
Disini Solar berusaha untuk meluruskan masalahnya, dengan menjelaskan segala "Aku menemukannya berada di dalam jurang diantara dua tebing gunung. Dan entah kenapa auranya mirip dengan pohon raksasa itu"
"Jangan bilang anak itu…" Gempa membelalak lebar. Tak ayal ia berdiri tidak percaya apa yang didengarnya. "Tunggu sebentar kalau anak ini ada disini, pilarnya bagaimana?" tanyanya agak panik.
"Seperti yang kau lihat, semuanya baik-baik saja. Lagipula kita belum bisa memastikan kalau anak ini adalah 'itu'. Ya walaupun ga pasti, kemunculannya saja sudah membuat masalah bagi penghuni hutan" jawab Solar.
"Kalau begitu artinya..."
"Benar. Dan demi menghindari masalah. Oleh para penghuni hutan dia dibuang ke tengah jurang dan diasingkan selama bertahun-tahun. Karena tidak ada yang menemui maupun mengajaknya bicara, sehingga dia tidak kenal bahasa dari dunia ini. Dia masih bisa mengeluarkan suara, tapi tidak mengerti ucapan kita. Kurang lebih seperti bayi yang baru saja belajar bicara." Penjelasan Solar berakhir dengan dirinya yang bersedekap sambil bersandar ke pintu geser tersebut dan mengambil posisi senyaman mungkin.
"Napa? Cuma itu saja masalahnya?" Ying pun mendekat dan terlihat menyela pembicaraan keduanya. "Jika dia sedang tahap belajar bicara, kita ajari saja dia. Aku yakin dia akan segera bisa berkomunikasi dengan kita nantinya" tambahnya kemudian.
"Begitu kah…? Iya juga sih" saat itu Gempa terlihat membuang nafas dengan lega. Beberapa saat terdiam, dia teringat sesuatu yang lain dan jauh sama pentingnya. "Oh iya, Solar! Ikut aku cepat!" tak ada ancang-ancang, dia langsung mencengkram tangan Solar dan menyeretnya.
"Eh? EH. Ada apa? Kenapa tiba-tiba!? Kita mau kemana!?" Solar yang tak tahu menahu perkara lantas saja dibuat kebingungan. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba diseret secara paksa.
Keduanya pun menghilang di ujung lorong. Sementara orang-orang yang tersisa disana tinggal para Regalia milik Gempa, Ying serta Fang tampak memperhatikan bocah kecil yang dibawa oleh Solar.
Fang terlihat asik menyentuh dagunya. "Coba kulihat. Sepertinya dia perlu dibersihkan, rambutnya juga harus dipotong. Ada beberapa baju ganti milik Moto-kun, kita bisa pinjam itu dulu" komentarnya.
"Kalau gitu aku mau masak dulu. Hari ini enaknya makan apa ya?" Ying menepukkan kedua telapak tangannya dan pergi ke dapur. Padahal itu hanya alasan agar dia bisa kabur dari saran yang diberikan oleh Fang. Mengurus bocah yang sama sekali tidak tahu kehidupan di luar hutan itu pasti merepotkan.
"K–Kak Ying, biar kubantu!" begitu pun anak perempuan bernama Bell yang satu ini. Melarikan diri dengan alasan membantu Ying bekerja di dapur, padahal dia sama sekali tidak tahu menahu soal urusan dapur.
"Aku mau ganti baju dulu." Ocho berdiri sambil membuang muka.
"Aku juga. Sekalian mau nyuci. Kalau dibiarkan terlalu lama noda darah bisa susah dihilangkan" Card pun menyusulnya melarikan diri dari ruangan itu.
Tersisa lah Fang yang harus bertanggung jawab dengan ucapannya sendiri. Terdiam cukup lama, dia berakhir dengan menepuk jidat. Mau tidak mau, terpaksa dia harus melakukannya sendiri. Ia pun segera menarik Thorn menuju ke pemandian, membersihkan tubuhnya dari lumpur dan tanah. Dan ketahuilah baunya sangat tidak sedap. Saat rambutnya basah, Fang pun langsung memangkasnya. Tidak disangka Thorn anak yang sangat kalem, dimandikan pun dia tidak melawan. Malahan dia keenakan sampai tertidur.
.
Beralih pada Gempa dan Solar yang tengah berada di kamar tengah, tempat mereka membaringkan Blaze yang sedang terluka parah. Solar tampak sibuk mengecek keadaannya, mulai dari mengukur suhu tubuh, tekanan darah dan denyut jantung, memeriksa gerakan pupil matanya dan semacamnya. Sementara Halilintar yang sejak tadi menemani adiknya hanya bisa memperhatikannya dari pojok ruangan tersebut.
Beberapa saat kemudian Solar pun selesai melakukannya. Ia lantas menghela nafas sambil melepas stetoskop yang ada di lehernya dan merapikannya kembali ke tempat asal.
"Bagaimana?" ujar Gempa.
"Selain kedua tangan dan kakinya, kondisi tubuhnya menunjukkan keadaan baik, tidak ada tanda-tanda kerusakan fatal, pendarahannya juga sudah berhenti. Dia hanya kehilangan darah dan sedikit dehidrasi. Tapi yang lainnya normal, pemulihannya benar-benar sangat cepat. " Jawab Solar, melihat Halilintar dengan tatapan sedikit mengintimidasi. Setelahnya ia pun membongkar isi tas medisnya dan mengeluarkan sebuah kantong berisi cairan. "Sementara ini aku akan memasangkan infus untuk menggantikan cairan tubuhnya."
Gempa menoleh pada Halilintar yang saat itu tengah menundukkan kepala sambil duduk bersimpuh. "Kamu kakaknya? Jangan merasa bersalah seperti terus menerus. Kejadian yang sebelumnya itu bukan salahmu. Kau sudah berusaha melindunginya, itulah yang terpenting."
Mendengarnya sontak membuat Halilintar tercengang seraya menatap balik Gempa. Padahal dia belum cerita apa-apa pada siapapun.
Menjawab keheranan Halilintar, Gempa lantas menatapnya lembut sambil tersenyum. "Maaf ya? Aku mengintip ingatanmu sedikit. Tidak semua kok, jadi akan lebih baik kalau kau cerita sendiri nanti. Tidak usah buru-buru, tenangkan dulu pikiranmu. Kami akan menunggu kapanpun jika kau sudah siap."
~MA~
Tiga hari kemudian.
"Kyaaa!"
Pagi hari yang sejuk oleh udara gunung diawali sebuah teriakan keras seorang wanita. Asalnya dari kamar tengah tempat Blaze dirawat. Sontak saja seisi villa itu kalang kabut dan bergegas menuju ruangan tersebut. Saat tiba mereka menemukan Ying terduduk di lantai seperti habis jatuh dan wajah pucat pasi.
"Ying!" seru Fang panik dan segera menghampiri istrinya tersebut.
"Ada apa!?" Gempa yang tiba beberapa saat kemudian tak kalah dibuat heran dengan reaksi milik wanita berambut hitam itu.
Ying memang sangat syok saat itu, walaupun sedikit tergagap dia berusaha menjelaskan apa yang terjadi. "G-Ge-Gempa…san... Anak itu… Anak itu… le-lengannya…" katanya seraya menunjuk-nunjuk pada bocah yang dimaksud.
Gempa lantas mendekat, ia berjongkok dan secara pelan membuka selimut yang menutupi keseluruhan tubuh kecuali kepala dan leher bocah kecil tersebut. "I–Ini..." Tak ayal Gempa dan yang lain pun tak kalah dibuat terkejut. Reaksi mereka kurang lebih hampir seperti Ying.
Bagaimana bilangnya?
Ini sebuah keajaiban.
Lengan… juga Kaki milik Blaze yang sebelumnya putus… secara tiba-tiba bisa utuh kembali seolah sebelumnya tidak terjadi apapun.
.
.
Beberapa saat berselang. Solar pun datang dan memeriksa kembali tubuh Blaze, karena hal yang barusan terjadi terlalu janggal untuk diterima secara rasional sekalipun oleh para siluman seperti mereka. Pelan serta lembut, Solar pun menyentuh dan menekan beberapa bagian anggota gerak yang tumbuh kembali secara misterius tersebut. Hingga akhirnya ia berhenti sambil membuang nafas panjang.
"Bagaimana?" Tanya Gempa, terlihat memasang wajah cemas.
"Tidak bisa dipercaya… Lengan dan kakinya ini sungguhan. Selain itu jumlah tulang serta susunannya juga lengkap. Sendi-sendinya pun bergerak dengan arah yang sesuai. Tapi… kita masih belum tahu sarafnya berfungsi atau tidak karena anak ini belum siuman. "jelas Solar secara lugas sementara Gempa hanya bisa menghela nafas panjang disebelahnya.
Pria dengan bola mata keemasan itu menjumput kain bekas yang digunakan untuk mengerat tangan serta kaki bocah yang mengalami pendarahan berat tempo lalu "Perbannya… terbakar?" Solar berujar kembali.
Gempa diam menerawang, mencoba mengingat kembali memori yang dilihatnya di kepala Halilintar. Memang dia tidak melihat semuanya, namun ingatan tentang Blaze menghubungkannya pada sosok makhluk besar berselimut api. "Burung raksasa berselimut api merah keemasan? Phoenix….?" ia bergumam dan membuat semua yang ada diruangan itu tersentak. "Itu familiar anak ini" lanjutnya.
"Phoenix? Pantas saja… Begitu rupanya" sahut Solar kembali.
"Kau tahu sesuatu?"
Setelahnya ia mulai menjelaskan apa yang diketahuinya. "Dalam mitologi manapun phoenix selalu digambarkan sebagai simbol keabadian karena setiap kali mati dia akan membakar dirinya hingga hangus, lalu dari abunya akan lahir phoenix muda yang merupakan dirinya yang baru. Air matanya maupun darahnya bisa menyembuhkan luka, pemulihan dirinya sangat kuat, berkali-kali mati pun dia akan bangkit kembali. Sebagai familiar dari ninja vampir, phoenix dikenal sangat setia dan loyal pada hostnya, dia seperti cinta mati pada orang yang sudah dia tetapkan sebagai tuannya. Seperti itulah dia. Jika tuannya terluka sampai seperti ini, wajar jika dia tidak akan tinggal diam."
"Begitu ya... Pantas saja orang-orang berjubah hitam itu ingin menangkapnya" Gempa bergumam.
Membuat Solar menatapnya datar. "Kau ini... sebenarnya seberapa jauh mengintip ingatan anak itu?" komentarnya.
"Eh?" Gempa menatapnya balik. "Nggak banyak kok. Cuma sampai saat aku menemukannya di hutan" jawab pria itu seadanya.
"Itu sih bukan ngintip lagi, tapi memang melihat semuanya" komentar Solar agak sarkastis. Beberapa saat terdiam, dia mulai menggumam sendiri sembari memegang dagunya. Ini kebiasaan Solar, saat dia sedang merencanakan sesuatu yang aneh-aneh. "Tapi phoenix ya…? Kalau aku bisa dapat sampel darah anak ini lalu mengembangkannya, kemudian disintesiskan itu bisa menjadi obat segalanya…"
"Solaaarr…." Yang sayangnya didengar jelas oleh Gempa. Tampak pemuda itu tengah memasang senyum manis namun ada aura mencekam disekelilingnya.
"Maaf…" lantas Solar pun bergidik ngeri dan langsung mengurungkan niat gilanya tersebut.
Gempa membuang nafas begah. "Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Kakak dari anak ini?" tanyanya.
Fang pun menyahutnya. "Tidak lebih baik. Semenjak datang kesini dia terus menerus murung. Makannya sangat sedikit, saat diajak bicara hanya diam, kalau ditanya cuma mengangguk atau menggeleng."
"Sepertinya dia benar-benar terpukul. Semua klannya tewas, desanya hancur, ditambah lagi adiknya ditusuk di depan matanya sendiri." Ujar Gempa sendu.
Tak ada angin apapun, sontak Solar berdiri dan melangkahkan kakinya dengan cepat. Membuat Gempa heran, sambil memandanginya ia bertanya. "Ada apa?"
Solar menoleh dengan agak dingin. "Gempa, kau juga ikut" tak memberitahu maksud sebenarnya, ia hanya menyuruh Gempa untuk berdiri dan mengikutinya. Tanpa bertanya pria dengan mata berwarna hazel-gold itu pun menurut dan berdiri mengikutinya.
Selang berjalan beberapa langkah mereka pun sampai di teras pekarangan belakang dari villa kecil tersebut.
"Sejak saat itu, kelinci tinggal bersama sang dewa. Ia melayani sang dewa dan mengawasi bumi dari kejauhan. Bila monyet dan rubah merindukan sahabatnya, mereka memandang bulan di langit untuk melihatnya." Tampak di pelataran belakang tersebut Ying tengah asik memangku bocah yang dibawa oleh Solar tempo hari sambil membacakan dongeng tentang kelinci bulan. Sekalian mengajarinya bicara.
"Ici~" anak itu terihat bersemangat sambil menunjuk-nunjuk gambar binatang berbulu putih dan bertelinga panjang yang menggemaskan dalam buku cerita tersebut.
"Iya kelinci. Thorn anak yang pintar ya~" puji Ying seraya mengelus kepalanya dengan lembut. Tak hanya wanita itu saja, ketiga pria–Gempa, Solar dan Fang–yang baru sampai pun dibuat gemas oleh anak yang kemarin lusa mereka namai Thorn itu. Sungguh pemandangan yang sangat menenangkan.
Tak berapa lama, Ying menoleh dan baru menyadari kehadiran ketiganya. Dia tersenyum dan menepuk lembut bahu bocah itu. "Thorn coba lihat, itu Papah" ujarnya menunjuk Fang.
Thorn mengikuti arah tunjukkan tersebut. Kemudian menatap Ying dengan ekspresi bingung. "Papa?" Ying mengangguk padanya dan anak itu kembali menoleh pada Fang. "Papa! Papa!" meskipun sepertinya dia tidak tahu artinya, ia tetap berseru dan tersenyum lebar.
Tak ayal kedua pipi Fang sontak memerah.
Gempa menepuk bahu pria tersebut. "Bro… Selamat buat lahiran anaknya" candanya.
"Amplopnya nyusul ya?" timpal Solar ikut menepuk punggung Fang yang saat itu masih terdiam karena syok. Fang agak kesal diajak bercanda seperti itu, tapi rasanya dia juga sedikit senang.
Berbeda dengan sisi teras yang lain, disana bocah bernama Halilintar itu tengah asik duduk di ujung teras sambil memeluk kedua lututnya. Dia hanya diam memandang kedepan, tatapannya begitu sunyi seperti melihat dunia yang berbeda. Sudah hampir tiga hari dia terus begitu, tidak ada lagi keceriaan terlukis di wajahnya bahkan sepertinya nyaris tidak memiliki emosi.
Gempa yang melihatnya hanya bisa membuang nafas lesu. Namun, ketika ia ingin menghampirinya…
Solar sudah lebih dulu mengambil langkah mendekat pada Halilintar.
"Hoi, bocah!" tegurnya dengan wajah masam. "Mau sampai kau murung begini? Ayo berdiri" dan dengan agak kasar Solar memaksa anak itu dengan menarik lengannya.
Seperti tersadar Halilintar sontak menepis tangan pria tersebut.
Dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan!? Jangan sentuh aku!" dia membentak dan menatap Solar dengan dahi berkerut serta tatapan yang tajam.
Solar berdecak sesaat sebelum menyedekapkan kedua lengannya di depan dada. "Lah baguslah, kupikir kau melamun. Khawatirnya kalau pikiranmu kosong nanti dimasuki makhluk gaib" ujarnya dengan nada dan cengiran mengejek.
Halilintar sontak mengepalkan tangan, tanda kesal. "Yang benar saja! Mana mungkin makhluk gaib bisa dirasuki makhluk gaib!" sahutnya keras.
"Itu kau tahu"
"Cukup kalian berdua." Melihat keadaan semakin memburuk, Gempa sontak bergerak menengahi keduanya. "Terlebih lagi Solar, berhenti mengganggunya, dia cuma anak kecil" ujarnya dengan nada agak memaki pada pria dewasa bermanik keemasan seperti buah citrus itu.
"Anak kecil ya?" gumam pria tersebut. "Kalau begitu akan kuajari dia agar menjadi dewasa saat ini juga"
Setelah berkata demikian Solar pun tak ayal segera menarik lengan Halilintar dan menyeretnya dengan kasar. Gempa sempat mengomel padanya, namun pria itu hanya menoleh dan menatapnya agak dingin sambil mengajaknya untuk ikut. "Gempa juga, ikutlah" katanya.
.
.
Solar membawa keduanya menuruni tangga yang menghubungkan villa yang mereka diami dengan area parkir. Menyuruh Halilintar duduk di kursi belakang mobil miliknya. Gempa pun diajak, duduk di samping kursi pengemudi.
"Kita mau kemana?" tanya Gempa pada pria yang kadang jalan pikirannya sulit ditebak itu.
"Gempa ikut saja dulu, nanti kau akan tau sendiri" jawabnya singkat sambil sibuk menyalakan mesin mobilnya. Selagi mesin kendaraan itu tengah dipanaskan Solar kembali meracau pada Halilintar di belakangnya. "Hoi bocah, ada sesuatu untukmu di kantong yang ada didepanmu itu, ambil." Perintahnya.
Dengan sedikit ogah-ogahan namun tanpa komplain Halilintar merogoh kantong di belakang kursi pengemudi di hadapannya kemudian menarik isinya keluar. Ia lumayan terkejut saat menemukan barang yang dimaksud adalah sekantong infus dengan cairan berwarna merah di dalamnya.
Benar, itu kantong darah.
Dengan agak bingung ia memandang Solar. Pria itu bisa melihat ekspresi bocah itu dari refleksi cermin yang ada di depannya. "Katanya kau hampir tidak makan selama tiga hari. Minum itu. Perjalanan kita lumayan jauh, kau harus persiapkan staminamu" katanya.
~MA~
Beberapa saat kemudian. Solar pun memacu mobilnya melintasi jalan raya, namun sayang di jalan pegunungan yang berkelok-kelok, penuh tikungan dan tanjakan dia bertindak memacu adrenalin dengan membawa kendaraan menggunakan kecepatan tinggi.
Tentunya ini membuat dua penumpang yang ikut bersamanya tercekat dan panik seolah sedang menaiki roler coaster.
Pantas dia bilang untuk mempersiapkan stamina. Nggak hanya stamina, sepertinya mental pun juga harus dipersiapkan disini.
"Solar! Ada tikungan di depan! Rem! Injak Rem!" panik Gempa.
Tanpa mengurangi kecepatan pria itu membanting setir tepat di tikungan tersebut, ajaib dengan mulus dia berhasil berbelok tanpa menabrak pembatas jalan.
Tentu saja Gempa sejak tadi kelabakan hanya bisa ngos-ngosan dibuatnya. "Solar tolong menyetir lebih pelan. Ini jalan gunung, banyak tikungan dan tanjakan sepanjang jalan" ujar Gempa mengomelinya.
Dan dengan sangat bodoh amatnya Solar menyahutnya. "Lebih cepat kita sampai tujuan, akan lebih baik. Iya kan, Bocah" sambil membalikkan tubuhnya menghadap Halilintar di belakangnya. Tentunya tanpa menurunkan kecepatan mobilnya.
"LIHAT KEDEPAN!" seru Gempa panik.
Sekali lagi Solar hampir membuat jantung milik Gempa lepas dari tempatnya saat mereka nyaris bertabrakan dengan mobil lain yang melintas dari arah berlawananan. Tentu saja pemilik mobil itu langsung memaki mereka dengan keras dari kejauhan.
"Solar, menyetirlah dengan benar! Kau ingin membunuh kita semua yang ada disini!?" bentak Gempa.
Dan lagi-lagi hanya ditanggapi Solar dengan tenang, bahkan dia sempat tertawa. "Kenapa kau panik sekali? Kecelakaan di jalan raya tidak akan membuat dewa sepertimu mati. Bocah vampir dibelakang kita pun juga sama. Paling dia hanya sedikit terluka dan pulih kembali dalam beberapa saat"
"KAU INI! JANGAN JADIKAN HAL INI SEBAGAI BAHAN CANDAAN! TIDAK LUCU TAHU!"
.
.
Setelah beberapa saat Gempa mulai bisa menenangkan dan membiasakan diri dengan kecepatan mengemudinya Solar. Sambil membuang nafas panjang dia menyenderkan kepalanya pada kursi penumpang itu dan bersedekap. "Jadi… Kita sebenarnya mau kemana sampai kau menyetir dengan buru-buru seperti ini?" tanyanya dengan nada agak kesal.
Pria dengan mata kuning cerah itu sempat terdiam, sebelum akhirnya menjawab Gempa dengan nada yang cukup halus. "Kita akan pergi ke desa Yamagakure"
"Hah!? Solar, apa yang kau pikirkan jadi membawa kita kesana!?"
"Letaknya di dekat lembah tepat di seberang gunung ini"
"Yang itu aku juga tahu! Masalahnya tempat itu sudah hancur!" tepat setelah mengatakan Gempa sontak langsung membungkam mulutnya sendiri. Dia lupa jika mereka membawa Halilintar di kursi belakang. Habis sudah, dia dengar yang barusan.
Seperti yang diduga oleh Gempa, saat ia menoleh ekspresi anak itu terlihat begitu syok. Selama tiga hari ini belum ada yang memberitahunya tentang kondisi dari desanya. Halilintar juga tidak bertanya, mungkin karena dia pikir tidak ada yang tahu. Dan beberapa saat kemudian ekspresi syok itu berubah menjadi sendu, anak itu menunduk dan mencengkram kuat celana yang tengah dipakainya hingga kainnya mengkerut.
Melihatnya membuat pria dengan iris berwarna hazel-gold itu merasa bersalah. Dengan nada berbisik dia kembali bicara pada Solar. "Apa yang sedang kau rencanakan? Bukannya kau yang bilang sendiri anak-anak itu mentalnya belum stabil. Membawanya kesana, kau ingin membuat mentalnya jatuh?"
Masih fokus menyetir, tanpa menoleh Solar menjawab Gempa."Nah Gempa, sebelum bisa berjalan dengan lancar, bukankah manusia belajar lebih dahulu. Perlahan melangkahkan kaki dan menjaga keseimbangan. Adakalanya mereka jatuh…Namun mereka tidak menyerah dan mencoba lagi, jatuh kembali dan berdiri lagi. Perjalanan saat menjadi dewasa pun seperti itu bukan? Ada masa disaat kau jatuh dan putus asa, lalu kemudian kau bangkit kembali dan mencari jalan mengatasi masalahmu."
Gempa termenung mendengar ucapan yang dilontarkan Solar barusan. Halilintar pun yang awalnya menunduk sampai mengangkat kepalanya dan mencoba memahami maknanya.
"Jadi maksudmu tidak masalah meskipun jatuh, asalkan masih bisa berdiri lagi?" simpul Gempa. "Tumben sekali kau mengeluarkan kata-kata motivasi seperti itu" tambahnya berkomentar.
"A...Tidak… Aku hanya tiba-tiba teringat ucapan dari salah seorang pasienku dulu. Dia manusia yang luar biasa, menurutku." Kata Solar sambil menatap Gempa sebelum pandangannya kembali fokus pada jalanan yang sedang dilewati. "Kurasa sudah lima puluh tahun berlalu. Kira-kira kakek itu sedang apa ya saat ini?" lanjutnya bergumam sendiri.
~MA~
Beberapa menit setelah berkendara melewati jalur gunung, mereka pun tiba di lokasi tujuan.
Bisa dibayangkan betapa leganya Gempa bisa menapakkan kaki kembali ke tanah setelah melewati pengalamannya menyetir ugal-ugalan yang membuatnya merasa seperti dibawa pesawat bermesin jet. Dari sini mereka tinggal berjalan lurus menuju titik ledakan yang merupakan desa asal Halilintar.
Namun belum lama mereka berjalan mendekat, tampak di pertengahan jalan menuju kesana ditutup oleh garis polisi, bahkan ada beberapa aparat keamanan berjaga di sekitarnya. Ada warga dari desa lain juga beberapa reporter yang berdiri di dekat sana untuk melihat dan merekam di lokasi kejadian, memang terlihat tidak terlalu banyak, namun demi menjaga keselamatan, mereka tetap tidak diijinkan masuk.
Begitupun Solar yang saat itu langsung dihadang oleh salah seorang yang berjaga disana.
"Berhenti. Selain petugas dan yang berkepentingan dilarang mendekat ke lokasi ledakan" katanya.
"Hmm… betul rupanya, seperti yang kuduga. Kita tidak bisa lewat semudah itu" gumam Solar terlihat asik memegangi dagunya.
Buru-buru Gempa menghampirinya dan menarik pria itu mundur. "Kau kan sudah tahu kita pasti tidak diijinkan masuk. Tolong maafkan dia. Dia memang kadang suka lancang seperti ini"
Tidak terpengaruh kata-kata Gempa, Solar nampak tersenyum tenang. "Benarkah?" kemudian ia berkecak pinggang dan bicara sekali lagi pada petugas itu. "Ngomong-ngomong, apa inspektur Hiinawa ada?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu, si petugas terlihat keheranan. "Eh beliau memang ada, tapi kenapa anda bisa kenal dengan–"
"Ahh…ada apa disini?" panjang umur, baru ditanyakan orangnya muncul. Seorang pria paruh baya, wajahnya kelihatan seperti pengangguran dengan tubuh jangkung serta jenggot tipis tak terurus. Dan selalu membuat ekspresi malas.
"Anu… inspektur itu…"
Pria itu menolehkan wajahnya dan menemukan orang yang paling dia ingin temui di situasi seperti ini.
"Yo… Sa-kun, lama tidak bertemu" salam Solar seraya mengayunkan tangannya.
Orang itu nampak menggaruk kepala belakangnya dengan sangat malas saat melihat keberadaan Solar. "Apaan dah, rupanya kau."
"Jangan jutek gitu dong sama teman masa kecilmu. Padahal saat kau kecil aku tidak pernah seharipun mengabaikanmu. Kau kan yang selalu datang padaku, sambil panggil, 'dokter…dokter'."
"Itu dulu. Yah kuakui aku kagum karena kau bisa menyembuhkan ayahku disaat dokter lain sudah menyerah padanya. Bisa dibilang aku berhutang padamu" ujar orang itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau begitu, mau bayar hutangmu sekarang?" tanya Solar. Matanya nampak berkilatan, tanda jika dia sedang serius. Tak ayal orang itu pun mau tak mau harus menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Pria dengan mata kuning keemasan itu menepuk pelan punggung Halilintar, memintanya maju. "Anak ini adalah korban selamat dari ledakan yang melenyapkan desa di depan sana."
"Maksudmu dia…"
"Yup… Dia adalah Vampir."
Orang itu membuang nafas panjang. "Sepertinya aku mulai paham apa yang terjadi. Tapi membawanya kembali kesini juga apa gunanya, tidak ada yang tersisa dari ledakan itu, semuanya hancur, satu rumah pun tidak ada yang selamat" Katanya.
"Ya kalau tidak dicari kita tidak tahu, bukan?" sahut Solar, ia menaikkan bahunya.
Lelah beradu mulut dengan orang satu itu, inspektur itu kembali membuang nafas berat dan sedikit meringis. Membalas ucapan Solar itu tidak akan ada habisnya, hanya membuang-buang tenaga. "Terserahlah. Pergi kesana dan lihat sendiri" ujarnya.
"Terima kasih" Solar pun tersenyum manis seraya menutup kedua matanya. Kemudian berjalan dan menggandeng tangan Halilintar membawanya melewati pos penjagaan.
Namun belum beberapa langkah. "Ngomong-ngomong, selesai dari sana, apa bisa aku minta kronologi kejadiannya dari anak itu?" inspektur itu bertanya.
Solar pun membalikkan tubuh. Kemudian menjawab. "Ah~ Kalau itu, aku sudah menyiapkan seorang pencerita. Orang yang ikut denganku itu, namanya Gempa. Kau tanyakan saja padanya, dia tahu betul semua yang terjadi disini."
Inspektur itu menoleh pada Gempa yang saat itu terlihat melongo dengan mulut setengah terbuka. Tak lama pria itu pun protes. "Oi Solar! Jangan bilang kau sengaja membawaku ikut hanya untuk ini!? Kau sudah merencakan ini sejak awal!"
Dan hanya ditanggapi dengan santai oleh yang diomeli "Hello~ Aku ini juga orang sibuk, aku tidak bisa lama-lama disini hanya untuk mengurus masalah seorang bocah ingusan. Kalau ada kau yang menjelaskan, kita bisa mengefisienkan waktu."
"Dasar licik…" Gempa bergumam
"Terus satu lagi, Sa-kun, hutang untuk pengobatan ayahmu memang sudah lunas, tapi bayaran untuk konsultasi dirimu setiap hari selama 13 tahun masih ada. Jadi kau masih berhutang padaku"
"HAHH!? Apa-apaan! Sejak kapan yang seperti itu disebut konsultasi!?"
"Ya~ Kau datang padaku, lalu curhat, bertanya, dan aku memberikan saran. Bukankah itu namanya konsultasi"
"Dasar rubah…" inspektur itu terdengar menggumam sambil menahan kesal.
"Aku itu bukan rubah. Jangan samakan aku dengan makhluk setengah-setengah begitu. Ya sudah kami pergi dulu" dalam satu lambaian tangan, ia berbalik dan kembali menuntun Halilintar bersamanya menuju desa yang ada di depan sana.
~MA~
Tak butuh waktu lama menuju lokasi desa tersebut. Setelah mendaki sebuah bukit kecil mereka sampai di sana. Namun bukan sebuah desa asri yang terlihat di hadapan mereka melainkan sebuah pemandangan tak mengenakkan hati berupa kawah tandus yang luas, tak ada yang tersisa dari tempat yang dulunya merupakan sebuah desa. Bukit yang saat ini mereka pijak pun dulunya adalah sebuah gunung tinggi, namun lebih dari separuhnya lenyap terkena efek dari ledakan besar tempo hari.
Kalau sudah seperti ini, jelas pasti tak ada satu pun makhluk hidup yang masih selamat, termasuk kedua orang tua dari Ryuuketsu bersaudara.
Bisa dilihat betapa syoknya Halilintar, hanya menatap kawah tandus itu nafasnya sudah mulai tidak karuan. Tapi dia terlihat berusaha menguatkan hatinya, karena selama dijalan dia sudah bertekad apapun yang akan ditemuinya nanti dia harus tetap tegar.
Solar mendelik pada anak itu. Ekspresinya agak menyendu, seperti merasa bersalah membawanya kesini. Tapi menurutnya cara untuk menyembuhkan mental anak ini adalah dengan menerima kenyataan, mau mundur sekarang pun sudah tidak bisa "Kau mau turun?" katanya, menawarkan Halilintar untuk menuruni kawah tersebut, menjelajahi puing-puing dari desa.
Halilintar mengangguk setuju dan kembali melangkahkan kakinya.
Mereka pun terus berjalan, selama menjelajah di sana banyak terlihat sisa-sisa dari bangunan yang kebanyakan terbuat dari beton, terlempar ke segala arah dan tertancap dalam di tanah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan bahkan sebatang pohon pun tidak ada. Mereka terus bergerak dari arah selatan, memutari tempat tersebut hingga saat berada di salah satu ujung anak itu berhenti.
Bukan tanpa alasan, Halilintar berhenti saat melihat tumpukan puing-puing tembok beton. Di salah satu puing itu terdapat mural bergambar infinity. Gambar di dinding itu utuh walau sedikit retak, sepertinya tembok yang menghadap hutan ke arah timur di belakang rumahnya hanya terkena sedikit dampak karena berada paling jauh dari titik ledakan.
Hutan dibelakangnya pun sepertinya baik-baik saja, walau terbakar sedikit namun mereka masih berdiri tegak dan tumbuh subur, terutama pohon kesemek itu–
Tunggu sebentar pohon kesemek lalu dinding yang ini…
Mungkinkah
"Ada apa?" Solar tiba-tiba saja dibuat kaget ketika saat itu bocah di depannya itu tiba-tiba saja berjongkok dan berusaha mengintip ke bawah runtuhan tembok tersebut. Belum habis sampai situ, beberapa saat kemudian dia mencoba mengangkat puing tersebut. Sayangnya Halilintar yang biasanya mampu bergerak cepat dan mengangkat barang berat, karena kurang makan dia jadi melemah, tenaganya tak kurang layaknya anak manusia biasa.
Saat nafas anak itu mulai tak karuan, Solar mendekat dengan niat membantu. "Awas" ujarnya memperingatkan untuk minggir. Hanya dalam satu tendangan tembok itu dengan mudahnya terangkat kemudian terbalik ke sisi lainnya.
Pria itu pun terkejut saat menemukan apa yang ada di bawah dinding yang runtuh tersebut. Sekumpulan semak kecil dengan bunga berwarna ungu tumbuh subur diatas hijaunya rerumputan. Di tanah tandus tanpa sisa-sisa kehidupan tanaman kecil itu selamat dari ledakan besar yang menghancurkan seisi desa hanya karena tertimbun di bawah puing-puing tembok beton. "Cuphea hyssopifolia?" desirnya menyebut nama tanaman tersebut.
Namun belum lama Solar dapat menikmati memandang tanaman cantik itu, Halilintar bergerak menggali tanah di dekat akar tanaman tersebut. Membuatnya terus bertanya-tanya. "Sebenarnya apa yang kau cari?" dia mendekat bertanya, namun tak dijawab. Anak itu terlalu fokus menggali tanah dan mengabaikannya.
"Tsk… ada apa sih dibawah ini. Sini kubantu" Solar memang kesal karena sedari tadi pertanyaannya tidak disahut. Namun dengan baik hatinya dia ikut berjongkok dan membantu Halilintar menggali tanah tanpa diminta, bahkan rela tangannya kotor oleh tanah dan debu.
Kira-kira satu tahun yang lalu.
"Blaze, kau sedang apa?" Halilintar menegur adiknya yang saat itu tengah asik menghadap tembok dan berjongkok di dekat tanaman bunga milik ibu mereka.
Adiknya yang ditegur itu sontak saja bergidik kaget dan langsung menoleh ke belakang. Halilintar mendekatinya dan kemudian ikut duduk berjongkok. Matanya bergerak turun dan melihat bocah kecil itu sedang asik menggali lubang dengan tongkat kayu dari dahan pohon.
"Blaze, kenapa kau menggali disini? Nanti dimarahi ibu. Ayo cepat kembalikan lagi tanahnya" Tak ayal ia langsung mengomeli adiknya tersebut.
Namun bukannya panik, Blaze hanya diam kemudian menyahut si kakak. "Tapi Blaze sudah ijin sama ibu buat mengubur ini disini" katanya.
"Ini?"Halilintar memiringkan kepalanya, tak mengerti apa yang dimaksud oleh si adik.
Tak lama bocah TK itu melepas pegangannya pada tongkat tersebut dan bergerak mengambil sesuatu di samping tubuhnya. "Kotak ini…" ujarnya memperlihatkan sebuah kotak persegi besi yang sepertinya bekas kue kering.
"Untuk apa kotak itu?" tanya Halilintar lagi.
"Nii-chan tau tidak, hari ini ibu cerita tentang kapsul waktu. Ibu bilang Blaze bisa coba menyimpan barang berharga milik Blaze dalam suatu wadah lalu kemudian dikubur, nanti suatu hari saat Blaze sudah dewasa lalu ngelihat lagi barang yang Blaze kubur rasanya bakal seperti menemukan harta karun." Jelas bocah kecil berumur empat tahun tersebut panjang lebar.
"Wah… hebat ya?" komentar Halilintar terdengar kagum dengan penjelasan adiknya. Kemudian dia pun mengelus kepala Blaze dengan lembut.
Blaze pun tersenyum. Bisa dilihat bagaimana senangnya dia mendapat pujian dan elusan lembut dari kakaknya. "Nii-chan juga mau memasukkan sesuatu ke dalam sini?" tanyanya kemudian.
Halilintar menggeleng pelan. "Tidak usah. Kau saja" jawabnya.
Blaze terlihat menggembungkan pipinya, sedikit kecewa dengan penolakkan dari kakaknya. Namun beberapa saat kemudian ia tersenyum lebar. "Kalau begitu, saat sudah besar nanti Blaze dan Nii-chan lihat sama-sama, bagaimana?" tawarnya.
Kali ini Halilintar menggangguk men'iya'kan permintaan bocah itu. "Oke. Nanti kita lihat sama-sama, saat kita dewasa nanti"
Blaze jelas sangat senang saat mendengarnya "Yang benar!? Janji ya!" katanya bersemangat.
"Iya… aku janji"
Mereka terus menggali hingga akhirnya salah satu tangan Halilintar menyentuh sesuatu yang rata dan keras. Ia menggali lebih dalam sampai akhirnya bisa mengeluarkan kotak besi itu dari dalam tanah. "Ini dia" anak itu bergumam seraya menepis tanah dan debu yang menempel pada barang tersebut. Dulu saat mereka menguburkannya dia tidak bertanya apa yang Blaze masukkan dalam kapsul waktunya, setelah dikubur lama-lama dia lupa terhadap kotak itu.
Beruntung dia tiba-tiba ingat saat melihat pohon kesemek yang dulu tumbuh di belakang pekarangan rumahnya.
Dia pun meminggir dari tempat itu kemudian meletakkan kotak itu ke atas sebuah puing beton yang rata dan langsung saja membukanya. Sekali lagi Halilintar benar-benar terkejut dengan isi dari kotak aluminium tersebut.
Penuh lembaran kertas. Dari atas ada gambar-gambar coretan buatan anak TK. Pertama ada gambar rumah, lalu dinosaurus, kemudian gambar ayam jantan dengan tulisan 'Krispi', memang sejak dulu Blaze ingin sekali memelihara ayam. Halilintar sedikit terkekeh saat melihat gambar yang itu.
Beberapa saat tawanya berubah jadi senyuman saat melihat gambar manusia tongkat berisi dua anak kecil dan orang dewasa, tulisannya ayah, ibu, Nii-chan dan Blaze. Disini dia bingung saat Blaze menggambarkan dirinya dengan kaki yang panjang. 'Memang kakiku sepanjang itu ya?' seperti itu mungkin dalam batin Halilintar.
Halilintar terdiam saat menemukan hal lain dibawah tumpukan gambar krayon. Foto sebanyak tiga lembar, pantas saja di album keluarga mereka ada foto yang hilang.
Yang pertama, saat mereka berdua pergi ke festival musim panas, itu adalah festival pertamanya Blaze, waktu itu mereka berdua memakai yukata berwarna merah yang sama. Foto kedua, saat mereka mandi bersama di bak mandi, kalau tidak salah waktu itu Blaze baru berumur tiga tahun.
Lalu yang terakhir…
Foto mereka duduk di pelataran rumah yang ada di taman belakang, bersama ibu dan ayah mereka. Blaze yang baru berumur 8 bulan digendong ayah mereka lalu Halilintar yang saat itu berumur 4 tahun berdiri di depan ibu mereka, semuanya sama-sama memandang ke arah kamera.
Halilintar sadar kehidupannya sebelum ini benar-benar sempurna. Dia lahir dalam sebuah klan yang terhormat, punya dua orang tua yang menyayanginya, seorang adik lucu yang kagum padanya, teman-teman serta warga desa yang sangat baik, dia tidak menyangka hari-hari penuh kebahagiaan itu suatu hari akan lenyap hanya dalam satu malam.
Tes..
"Hiks…" hanya memikirknya saja membuat dadanya sesak. Tanpa disadari Halilintar air matanya jatuh dan mengalir membasahi kedua pipinya. Ia langsung menyekanya tapi air yang keluar dari kedua buah matanya itu tak kunjung hilang dan terus mengalir. "Hiks…"
Solar membuang nafas panjang dan langsung menepuk punggung Halilintar. Tangan kanannya berpindah menuju kepala anak itu dan mengelus helaian rambut halus itu dengan lembut. "Tidak apa-apa, menangis bukan berarti dirimu lemah. Keluarkan semuanya, amarahmu, kesalmu dan kesedihanmu. Lepaskan saat ini juga."
"Hiks… Hnggh…Hiks…Arggh…Huwaaaaaaa!" Saat itu juga Halilintar menangis sejadi-jadinya. Tidak pernah dia menjerit sekeras itu sebelumnya. Bahkan sampai membuat detektif bahkan ahli forensik yang ada di dekat mereka tercengang dan kebingungan sambil memandang ke arah keduanya.
.
.
Cukup lama menangis keduanya pun kembali dari dalam kawah tersebut. Halilintar masih sempat terisak saat mereka menemui Gempa yang saat itu sudah selesai menjelaskan kronologi kejadian di desa Yamagakure kepada detektif kenalan Solar. Pria itu sempat memasang wajah seribu tanya saat melihat keduanya kembali dengan wajah Halilintar yang memerah serta mata sembab seperti habis menangis. Namun sayangnya saat ingin bertanya, Solar langsung memotong ucapan Gempa dengan beralasan bahwa hari sudah semakin tinggi. Mereka harus secepatnya pulang sebelum waktunya makan siang.
Saat menaiki mobil Gempa sudah memasang ancang-ancang jika Solar akan mengebut seperti sebelumnya.
Tapi sepertinya hal itu tidak terjadi kali ini. Solar memacu mobilnya dengan kecepatan normal bahkan hampir pelan.
"Walah… Ternyata kau juga bisa menyetir dengan normal?" Komentar Gempa melirik kepada orang di kursi pengemudi tersebut.
"Ya… Tidak enak kan rasanya saat sedang tidur tiba-tiba terguling dan jatuh?" sahut Solar.
Gempa membelalak dan sontak menoleh ke bangku belakang. Ia menemukan Halilintar tengah tertidur nyenyak, tangan kirinya memegangi kaleng biskuit kecil yang tak jauh letaknya dari kepalanya, seolah sedang menjaga benda itu agar tidak jatuh. Sepertinya dia kelelahan setelah datang dari tempat itu, mungkin juga kurang tidur karena selalu bermimpi buruk. Gempa melihat selama tiga hari, anak itu terus terbangun di tengah malam dan mendatangi kamar adiknya.
~MA~
Empat hari kemudian.
Secara rutin Solar mengecek kondisi kesehatan Blaze. Saat sudah selesai pria itu menggelengkan kepalanya sambil melihat kearah Gempa dan Halilintar. Seperti kemarin tidak ada kemajuan, apakah Blaze akan membuka matanya.
Halilintar yang ikut melihatnya langsung kecewa dan kembali memasang ekspresi sendu.
"Sudah seminggu dan dia sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda siuman. Ada apa sebenarnya? Apa ada luka di bagian dalam?" tanya pria bermanik hazel-gold itu.
Solar menegakkan bahunya dan bersedekap, sambil membuang nafas panjang ia mulai menjelaskan. "Sama sekali tidak ada. Secara fisik dia sembuh total, tidak ada kerusakan sedikitpun. Mungkin… yang jadi masalah adalah psikisnya. Kejadian buruk bisa meninggalkan bekas berupa trauma. Mungkin saja anak ini menolak untuk bangun, karena dia tidak mau berhadapan dengan kenyataan. Bisa saja alam bawah sadarnya lebih menyenangkan jadi dia tidak mau keluar dari sana. Kondisi terburuk mungkin dia tidak akan mau bangun lagi sampai mati."
Sontak saja Gempa dan Halilintar terhenyak mendengarnya. Tergambar jelas raut wajah takut di wajah anak kecil bermanik mata delima itu.
"Kasihan sekali. Padahal dia masih kecil begini, tapi sudah menghadapi kejadian tidak menyenangkan dalam hidupnya" gumam Gempa pelan. Ia membuang nafas panjang dengan lesu dan menyibak poni yang menutupi dahi bocah kecil itu. "Padahal aku enggan melakukan ini, tapi sepertinya tidak ada pilihan lain" lanjutnya.
"Gempa, jangan bilang kau–" Solar tercekat. Saking tak percayanya dia sampai tak bisa berkata-kata.
Tampak lelaki bernama Gempa tersebut menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi Blaze. "Benar. Aku akan menyegel phoenix beserta keberadaannya dari ingatan anak ini. Demi kebaikannya juga. Saat dia bangun nanti, dia tidak akan mengingat kejadian itu lagi."
Saat Gempa melakukan ini Blaze sedikit melenguh, ia terlihat tidak nyaman seperti sedang melihat mimpi buruk. Tapi saat Gempa melepas tangannya ia berhenti dan terlihat membuang nafas lega, tubuhnya kembali rileks bahkan tersenyum di dalam tidurnya.
Pria itu mendengus, kelihatannya ia sudah beres dalam melakukan penyegelan. Tatapannya beralih kepada Halilintar, dan anak itu menatapnya balik, diam seribu bahasa. Dengan nada suara yang lembut Gempa mulai menjelaskan. "Dengarkan ini, Halilintar. Ketika nanti Blaze terbangun dia tidak akan mengingat semua tentang kejadian baik sebelum maupun setelah ledakan itu terjadi. Phoenix ataupun familiar sudah tidak ada lagi dalam ingatannya. Jadi berhati-hatilah untuk tidak menunjukkan Byakkodi depannya, ataupun menceritakan hal yang kuucapkan sebelumnya. Sedikit pancingan akan merusak segelnya. Jika ingin melakukannya, tunggu setelah menurutmu dia siap. Mengerti?"
Halilintar mengangguk menyanggupi tanggung jawab besar tersebut. Dia sudah bersumpah kepada ibunya akan melindungi anggota keluarganya yang terakhir. Kesempatan ini tidak akan disia-siakannya lagi.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Kondisi Halilintar terlihat membaik, dia sudah tidak murung seperti tempo hari. Nafsu makannya kembali normal, tidak ada lagi tatapan kosong, diajak bicara pun tidak sungkan. Walaupun dia masih belum terlalu mengakrabkan diri dengan orang-orang di villa tersebut. Bahkan sekarang setelah menyantap pagi dia duduk dengan santai di teras sambil mengayunkan kedua kakinya bergantian ke udara.
Halilintar yang sekarang terlihat seperti anak kecil pada umumnya.
"Yah… Aku melihat aura yang sangat bahagia. Kupikir darimana asalnya" Halilintar berhenti mengayunkan kakinya dan seketika menoleh saat Solar datang menyapanya. "Bagaimana, sudah agak baikkan sekarang? Sepertinya 'terapi air mata'nya berhasil" lanjut pria mengambil tempat duduk di dekat bocah tersebut, ia mengatakannya sambil menyengir.
Dengan wajah kecut secepatnya Halilintar memalingkan wajahnya sambil menutup mata dan mendengus pelan. Dia agak kesal, karena dibuat menjerit sekeras itu. "Hmph… Aku sama sekali ga minta diterapi jadi sayang banget, kalau kau mengharapkan ucapan 'terima kasih' karena hal itu aku tidak akan melakukannya." ketusnya.
"Bocah tengik…" gerutu Solar agak kesal. Ingin sekali rasanya dia menjitak kepala anak ini.
"Tapi ya…" Halilintar membuka matanya agak menyipit. "Perasaanku agak lega, dan kepalaku terasa ringan. Terlebih lagi… kau sudah dengan senang hati mau mengobati Blaze." Dia mengulum bibirnya dan terdiam beberapa detik, kemudian melanjutkan ucapannya lagi. "Terima kasih ya…"
Satu kalimat yang cukup membuat Solar membelalakkan matanya lebar. Tapi kemudian tatapannya melembut "Sama-sama…" dan ia pun menyahutya seraya tersenyum.
Tak lama Thorn terlihat turun dari teras sambil membawa sebuah bola dan mulai berlarian di sekitar halaman tersebut bersama satu anak remaja berambut hijau dan bermata biru, namanya kalau tidak salah Moto, salah seorang regalia Gempa.
Bocah berambut hitam kecoklatan dan bermata layaknya permata emerald itu lantas menghampiri Halilintar dan membuat anak itu sontak terkejut. "Aita! Ain yu! (Halilintar! Main yuk!)" serunya mengajak Halilintar untuk ikut bermain walau dengan keterbatasan kosakata yang bisa ia ucapkan, sambil menyentak tangan lawan bicaranya.
"Oh oke… ayo kita main…" Halilintar agak kebingungan menerjemahkannya secara langsung. Saat dia mengerti dan Thorn terlihat sangat ingin bermain dengannya, langsung saja ia menurut dan turun dari teras kemudian ikut bermain bola.
Beberapa saat kemudian Gempa datang dan mengajak Solar bicara. "Hari yang indah ya?" ujarnya.
"Iya kau benar" sahut Solar singkat.
Belum lama menikmati pemandangan seperti ini, tak lama terdengar derap langkah kaki. Dari hentakannya sepertinya orang itu tengah berlari. "Gempa-sama, Solar-dono!" benar saja, seorang gadis berambut kuninf keemasan mendatangi mereka dengan terburu-buru sampai kehabisan nafas untuk bicara.
Gempa sampai tercengang melihatnya. "Bell? Ada apa? Sampai lari-larian begitu." tanyanya. Tangannya tampak berayun naik-turun mencoba menenangkan anak perempuan kecil itu.
Setelah mengatur nafas, sontak Bell mendongkak sambil mengepalkan kedua tangan ke dekat kepala. "Anak itu sudah bangun!" itulah yang dikatakannya dalam satu tarikan nafas.
Mendengar hal itu langsung membuat Gempa dan Solar membulatkan mata saking terkejutnya, tanpa basa-basi lagi keduanya langsung berlari menuju kamar tempat dimana Blaze dirawat. Kabar yang sangat mengagetkan sekaligus membahagiakan bagi yang mendengarnya, tak terkecuali Halilintar yang langsung terdiam sehabis mengoper bola ke arah Moto. Dengan cepat dia berbalik, melepas sepatu dan berlari menuju ke dalam villa.
Saat tiba di kamar tersebut, terlihat Blaze hanya duduk diam di atas futonnya dan nampak kebingungan dengan keadaan sekitarnya.
"Blaze!" seru Halilintar yang tak ayal langsung berlari ke arah adiknya.
Bocah kecil itu menoleh ketika mendengar suara yang dikenalinya. "Nii-chan!" dia nampak membuka lebar kedua lengannya ingin meraih kakaknya.
Halilintar pun langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan yang amat sangat erat seolah sudah lama sekali mereka berpisah "Syukurlah, syukurlah… akhirnya kau bangun."
Blaze agak bingung namun tetap membalas pelukan tersebut. Tapi semakin lama pelukan itu semakin erat hingga membuatnya susah bernafas. "Nii-chan, aku sesak!" keluhnya.
Halilintar cepat merespon dan segera melepas pelukan tersebut. "Ah… Maaf." ujarnya.
"Ne, Nii-chan… ini dimana?" Blaze segera bertanya karena sudah terlalu kebingungan.
"Ah sekarang kita ada di villa dekat gunung." Jawab Halilintar. "Orang-orang yang ada disini sudah menyelamatkan kita sewaktu kita tersesat di gunung." tambahnya menjelaskan.
"Tersesat di gunung…?"
Celaka. Halilintar lupa jika ingatan adiknya baik sebelum kejadian kebakaran maupun setelahnya sudah di segel.
"Kenapa kita bisa ada di gunung…? Ayah dan ibu… masih belum pulang…?"
Begitu rupanya. Ingatannya terhapus sampai di kejadian dua minggu lalu, saat kedua orang tuanya pergi ke ibukota. Kalau sudah begini, mau tidak mau dia terpaksa harus berbohong. Demi melindungi Blaze juga. "Maaf Blaze, harusnya aku bilang ini lebih cepat. Ayah dan ibu… kecelakaan saat menaiki pesawat keluar negeri. Jadi–"
"Tapi mereka kan hanya pergi ke ibukota." Tidak percaya Blaze protes dan memotong penjelasan Halilintar.
"Eh…? Kau lupa? Setelah mereka pulang, tiba-tiba saja mereka mengatur jadwal secara mendadak" yang secepat kilat disanggah oleh kakaknya.
Penjelasan Halilintar membuat Blaze syok dan semakin bertambah bingung. Tubuhnya bergetar, dia melepas pegangan tangannya pada sang kakak dan memegang kepalanya. "Eh…? Kenapa?"
"Blaze…?" melihat reaksi si adik, Halilintar langsung terlihat panik.
"Aku ga ingat…Aku ga ingat apa-apa… Nii-chan, aku mau pulang. Tapi pulang itu… kemana?" anak itu bergumam sendiri dengan kepala tertunduk.
Hingga akhirnya gumaman itu berhenti ketika tiba-tiba saja bahunya ditepuk oleh Solar. Seketika itu juga pikiran Blaze terasa kosong, dia sontak mendongkak dan memperhatikan pria bermata keemasan itu, diam dengan tatapan agak kosong.
"Tenanglah, jangan terlalu dipirkan. Darimana asalmu dan keadaan orang tuamu sekarang sudah tidak terlalu penting." ia bicara seperti sedang memberikan sugesti. Seolah-olah memerintah jika Blaze coba mengingatnya, dia akan menemui jalan buntu. "Karena mulai sekarang kami adalah keluargamu yang baru" satu tepukan tangan, anak itu berkedip seperti baru saja tersadar.
Gempa sempat terdiam saat melihat Solar melakukan hipnotis dan memasukkan sugesti pada anak kecil sekecil itu. Tapi dia mengerti pria itu punya alasan kuat melakukannya. Pada akhirnya, mau tidak mau, dia hanya bisa mengikuti permainannya saja.
Dia pun mendekat sembari menyunggingkan senyuman serta tatapan lembut. "Itu benar sekali. Halilintar, Blaze. Kami bisa jadi keluarga baru kalian. Itu jika kalian tidak keberatan. Bagaimana? Mau ikut dengan kami?" tawarnya.
Blaze memandang kakaknya seperti menyerahkan semua keputusan pada Halilintar. "Tidak apa-apa, Blaze. Mereka orang-orang baik. Mereka pasti akan menjaga kita dengan baik" katanya.
"Baiklah! Kalau Nii-chan bilang begitu, aku juga ikut" sahut bocah kecil itu terlihat bersemangat. Tak ayal, senyum Halilintar seketika mengembang saat mendengarnya. "Karena Nii-chan tidak pernah berbohong padaku" tapi kelanjutannya malah membuatnya mematung dengan mulut setengah terkatup.
Perlahan ia menundukkan wajah dan menghindari tatapan mata adiknya. "Ngomong-ngomong, apa keadaanmu sudah lebih baik. Sebaiknya kau istirahat sedikit lebih lama lagi. Kakak mau keluar sebentar" ujarnya.
"Baik!"
Setelah adiknya menjawab, lantas Halilintar berdiri. Dengan perlahan dan agak berat ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut. Ia sempat melihat sebentar jika Solar melakukan pemeriksaan kesehatan pada Blaze.
.
.
Berpindah dari lorong ke ruang tengah menghadap teras belakang. Halilintar duduk termenung sambil merebahkan kepalanya di atas meja persegi dan membuang nafas panjang. Bisa dilihatnya, di halaman Thorn masih bermain bersama Moto dengan begitu riang.
Namun Halilintar sama sekali tidak tertarik ikut dengan mereka. Kata-kata adiknya barusan terus saja terngiang-ngiang di benaknya. Dia merasa bersalah sudah berbohong pada Blaze mengenai orang tua mereka, padahal adiknya sebegitu percayanya dengan dirinya. Dan dia memanfaatkan kepercayaan itu, rasanya dia sudah seperti orang jahat.
Tak lama, Fang datang dari dapur sambil membawa beberapa piring berisi puding karamel. Jangan salah, itu bukan untuk dia makan sendiri. Ying membuatnya untuk dibagikan kepada anak-anak. Dia melongo melihat Halilintar asik menghela nafas dengan pipi dempet ke atas meja. Bahkan anak itu sudah terlihat seperti mau meleleh"Ada apa? Beberapa saat yang lalu kau kelihatan membaik, kenapa sekarang jadi murung lagi?" tegurnya.
Halilintar memutar lehernya, sekarang bukan pipinya lagi dempet ke permukaan meja, tapi dagunya. Dia menggerutu. Wajahnya saat cemberut kelihatan menggemaskan juga.
Melihat pemandangan lesu seperti ini membuatnya jadi tidak bersemangat juga. Dia pun duduk di dekat anak itu. "Nah makanlah. Ying membuatkannya untukmu" dan langsung memberikan salah satu piring berisi makanan kenyal tersebut berserta sendoknya.
Sambil membuang nafas berat, anak itu bangun, mengambil sendok dan menyuap puding itu sedikit demi sedikit.
Enak.
Mungkin itu yang terpikir di batin Halilintar saat memasukkan hidangan penutup itu ke dalam mulutnya. Rasa dingin, kenyal namun tidak terlalu manis itu langsung melekat di lidahnya dan ingin membuatnya menyantap terus menerus.
"Nah mau cerita? Ada masalah apa?" melihat Halilintar sepertinya sudah luluh karena makanan manis. Fang pun inisiatif, agar anak itu lebih terbuka padanya. Halilintar sempat mendelik padanya, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan menjauh dengan sendok yang masih menggantung di antara bibirnya.
"Kak Fang…"
Dan berhasil. Pada akhirnya dia mau bicara dan bercerita. Anak kecil manapun kalau sudah diberi imbalan dan iming-iming hadiah pasti akan melakukan apa yang disuruh. 'Sedewasa apapun, kau tetaplah anak-anak. Dasar bocah.' Begitulah yang ada di dalam batin Fang saat itu.
.
.
Jadi beberapa saat kemudian Halilintar selesai bercerita. Pudingnya pun sudah habis dia makan.
Sekarang giliran Fang yang menjawab curhatnya. "Begitu rupanya. Intinya kau merasa sudah menipu Blaze bukan?" katanya. Halilintar mengangguk menanggapi ucapan Fang. "Nak, kau pernah dengar ada bohong yang diperbolehkan?" lanjutnya bertanya.
Halilintar menatap Fang dan mengangguk singkat sekali lagi. "Boleh berbohong jika itu demi kebaikan" ia mengatakan apa yang dia tahu.
"Benar. Demi agar tidak membuat orang lain tersinggung dan menyakiti hatinya, demi menghindari hal buruk yang tidak diinginkan, itu tidak masalah. Dalam kasusmu ini, kau berbohong pada Blaze demi melindunginya, jadi kau tidak salah. Tapi… kau harus berhati-hati, yang namanya kebohongan pasti akan terbongkar suatu saat nanti. Satu kebohongan akan menghasilkan kebohongan lain, kebohongan yang lain menghasilkan kebohongan yang lainnya lagi. Terus menerus hingga akhirnya menjadi sebuah lingkaran setan. Ketika sudah tidak ada celah untuk berbohong lagi… BOOM!" tepat disana Fang langsung menusuk salah satu puding dengan sendok tepat ditengahnya dan membuat benda lunak itu hancur terberai-berai. "Semuanya akan langsung terbongkar dalam satu ledakan"
Ucapan Fang sontak membuat Halilintar terdiam mematung sambil meneguk liur.
"Yah… sepertinya kau sudah mengerti sekarang" ujar pria di depannya itu tersenyum dan membaringkan kepalanya pada kepalan tangan.
Saat Fang bicara Ying lewat setelah barusan datang dari dapur. Awalnya dia hanya tersenyum saat melihat suaminya terlihat akrab dengan anak yang dibawa oleh Gempa tempo hari. Tapi senyumnya hilang saat melihat Fang merusak salah satu puding buatannya dengan menusuknya menggunakan sendok.
Dengan kesal ia pun langsung menghampiri Fang. "Sayang…!" dan memberinya salam hangat berupa sebuah jeweran pada daun telinganya.
"Aduh, Aduh! Ying!" sontak saja pria itu langsung mengaduh kesakitan.
"Puding itu jatahnya Thorn, kenapa kau tusuk sampai rusak begitu!?" geram wanita muda tersebut.
"Maaf, maaf. Aku tidak bermaksud merusaknya, aku hanya memakainya sebagai contoh – Arggh!"
"Jadi maksudmu, kau memainkan masakanku gitu!?" Tidak terima alasan dari suaminya, dia malah semakin memperlintir kuping sebelah kiri Fang. "Keterlaluan. Aku tidak mau, kau harus ganti dengan yang baru, ikut aku" dan berakhir dengan Ying menarik kerah belakang baju Fang dan menyeretnya ke dapur dengan penuh cinta(?).
"Ampuni aku…"
Sementara itu Halilintar yang melihatnya, sampai tak mampu berkata-kata dan hanya diam mematung. Ketika keduanya lenyap dari pandangan matanya, tatapannya beralih pada puding yang dihancurkan oleh Fang sebelumnya. Karena sudah hancur, berarti tidak ada yang makan bukan.
Anak itu pun menggeser piring berisi puding berantakan itu ke dekat dirinya. Tangan kanannya meraih sendok yang ia gunakan sebelumnya, dan mulai menyendok makanan tersebut masuk ke mulutnya.
"Enak…"
~MA~
Dua hari kemudian.
Akhirnya waktu liburan bagi kelompok itu selesai. Keadaan Blaze juga sudah membaik, bahkan kemarin bisa bermain-main seharian dengan kakaknya serta anak-anak lain. Pagi hari itu mereka semua membereskan semua barang bawaan mereka dari villa dan bersiap untuk pulang menuju Tokyo.
Maaf, ralat. Hanya Solar serta kedua suami-istri Fang dan Ying. Anak-anak seperti Halilintar, Thorn dan Blaze tidak punya barang bawaan, tapi mereka tetap dibawa ikut ke Tokyo.
"Fang!" Solar memanggil pria berkacamata tersebut ketika Fang hendak memasukkan barang ke mobilnya.
Sontak saja yang dipanggil menolehkan pandangan.
Dan Solar pun mendekat padanya. "Barang bawaanmu sebagian taruh ke mobilku. Biar anak-anak bisa duduk dengan nyaman." Ujarnya.
"Baiklah kalau kau tidak keberatan" sahut Fang cepat.
Sementara itu Gempa tampak memandangi keduanya dari halaman villa tersebut. Dia terus diam sampai Ying datang menghampiri dan bicara padanya. "Gempa-san, kalian yakin tidak ikut dengan kami sekalian?" tanyanya yang dimaksudkan pada pria itu serta beberapa orang regalia nya
"Tidak apa-apa. Kalian duluan saja, setelah kami ini harus ke pergi Ise. Begitu membereskan urusan disana, aku akan langsung menyusul ke Tokyo. Dalam sekerlip mata" sahut Gempa tenang.
Ying terkekeh, mengerti maksud pria itu. Karena bisa melakukan teleport dia bisa dengan sesuka hati pergi kemanapun yang dia mau.
Gempa kembali tersenyum pada wanita itu. "Kalau gitu, aku titip anak-anak pada kalian berdua." Pintanya.
"Baik~!"
.
.
Setelah memberi salam perpisahan dengan Gempa dan yang lain. Dua mobil itu pun berjalan keluar meninggalkan area parkir villa tersebut.
Ini akan menjadi perjalanan jauh menggunakan mobil untuk menuju ibu kota Negara tersebut. Kira-kira makan setengah hari lebih jika tidak ada halangan apapun.
Sekitar 1 jam berjalan. Ying menoleh ke kursi belakang mobil yang mereka naiki. Dan terkekeh dengan apa yang dia lihat. "Fang coba lihat!" katanya sembari mencolek suaminya tersebut.
Fang menoleh dengan cepat karena sedang sibuk menyetir. "Imut banget" gumamnya seraya tertawa geli. Dibelakang anak-anak sedang tertidur nyenyak dengan bersandar satu sama lain.
Terkecuali Halilintar dan Blaze, meskipun tanpa ikatan darah, mereka terlihat seperti saudara yang sudah akrab satu sama lain.
~MA~
Setelah hari itu Ryuuketsu bersaudara dipindahkan ke apartemen Shinwa. Mereka diberi kamar nomor 3, mereka bebas melakukan apapun di kamar tersebut. Mereka juga semakin akrab dengan para penghuni lainnya. Bahkan pada penghuni lainnya, yang merupakan kakak-beradik seperti mereka dan pindah setelah mereka. Persis seperti yang dikatakan Gempa. Orang-orang di apartemen Shinwa, bukan hanya sekedar kenalan maupun tetangga. Tapi keluarga, yang saling melindungi satu sama lain.
Waktu berlalu dan tak terasa sudah tahun lamanya.
Awal Desember, musim dingin semakin dekat. Yang berarti ujian kenaikan kelas juga hampir tiba-tiba, tahun depan Halilintar sudah kelas 5. Nilainya akan mempengaruhi peringkatnya, jadi dia harus belajar giat. Dia sengaja, karena mengincar beasiswa saat masuk SMP nanti. Dia tidak mau terus memberatkan Gempa.
"Nii-chan, Nii-chan!" hingga adiknya memanggilnya dengan begitu bersemangat dan terlihat membawa secarik kertas penuh warna.
"Hmm?" Halilintar pun menyahutnya tanpa menoleh.
"Coba lihat! Hari ini aku dapat bintang saat pelajaran kesenian!" kata anak itu terlihat memamerkan gambar buatannya pada si kakak. "Kata bu guru lukisanku bagus, mungkin aku berbakat menjadi pelukis" lanjutnya.
"Iya, Blaze kalau melukis memang selalu bagus" Sahut kakaknya tapi matanya fokus pada buku catatan dan pelajaran. Dia sama sekali tidak melihat ke arah adiknya.
Adiknya pun mulai menggerutu karena merasa diabaikan. "Nah, Nii-chan lihat dong…" celotehnya.
"Aku lihat kok" kata Halilintar, masih berkutat dengan buku dan pensilnya.
"Nii-chan sama sekali ga lihat!"
"Ya sudah nanti kulihat"
Terus ditanggapi dengan dingin oleh kakaknya, Blaze pun terdiam dengan mulut setengah terbuka. Mungkin dalam pikirannya saat itu, kakaknya sudah tidak sayang padanya lagi. Dia pun jadi kesal dan merajuk, ingin rasanya dia menangis, tapi ia menahannya dan membuat pipinya mengembung.
"AKU BENCI SAMA NII-CHAN!" seketika itu juga dia langsung meremas kertas gambarnya dan membuangnya ke lantai. Setelahnya berbalik dan lari keluar dari kamar apartemen mereka sambil membanting pintu. Tentu saja Halilintar kaget dan syok mendengarnya. Untuk pertama kalinya, Blaze bilang jika dia membenci kakaknya.
Anak itu pun langsung berdiri dari kursi belajarnya dan berjongkok untuk memungut kertas yang barusan dilempar sembarangan oleh adiknya. Dia terdiam saat melihat gambar milik Blaze tersebut. Garisnya rapi, warnanya juga apik. Bagus sekali, untuk sebuah gambar yang dibuat oleh anak kelas 1 SD.
.
.
"Ngeselin. Ngeselin! NGESELIN!" Bocah kecil yang barusan membanting pintu itu pun lari menuju taman yang terletak tak jauh dari apartemen mereka dan melampiaskan kekesalannya pada sebatang pohon yang tak salah apa-apa dan menendangnya berkali-kali. "Apanya yang 'nanti-nanti'!? Bisa-bisanya mengabaikanku!" lelah menendang pohon tersebut, dia pun berhenti. "Padahal Nii-chan tidak pernah begitu padaku sebelumnya…" dan bergumam pelan. Tapi kemudian dia kembali kesal dan kembali menginjak batang pohon itu lagi. "SIALAN!"
"Wah Wah. Kupikir ada gempa bumi, pohonnya sampai bergoyang." Gerutuan Blaze harus berakhir ketika ada yang menegurnya dari atas pohon tersebut.
Sontak bocah kecil itu menengadah dan menemukan dua orang anak saat ini sedang duduk di atas dahan pohon itu. Blaze kenal dengan mereka, yang satu adalah bocah seumuran kakaknya dengan mata hijau emerald dan yang satu lagi (Tahun depan sudah masuk SMP) remaja laki-laki berambut hitam dengan mata kebiruan seperti warna permata sapphire.
Keduanya sontak terjun dari atas sana saat Blaze melihat mereka.
"Taufan-Nii? Thorn? Sejak kapan kalian ada disana?" tanya Blaze agak panik.
Yang dipanggil 'Kak Taufan' itu nampak menyentuh dagunya dan terlihat sedang berpikir. "Eto… mungkin sebelum kau menendang pohon tidak bersalah itu." Jawabnya.
Saat mendengarnya, saat itu juga Blaze bergidik dan agak menyeret tubuhnya mundur. "Taufan-Nii, kau dengar semuanya?" ucapnya.
Taufan membungkuk, menyamaratakan garis pandangannya dengan Blaze. "Kenapa? Kau berantem dengan Hali?" tanyanya seraya menerka-nerka isi kepala anak itu.
Tebakan Taufan benar. Tapi karena benar, Blaze jadi bertambah merajuk. Dia langsung menggembungkan pipi dan membuang muka sambil mendengus. "Hmph… Itu bukan urusanmu, Taufan-Nii?" katanya.
Taufan pun hanya menanggapi ucapan anak itu dengan santai. "Yah memang bukan hakku sih mencampuri urusan persaudaraan kalian" ujarnya terlihat memainkan kedua bahunya. "Oh?" tak lama anak itu menoleh ke sisi taman lain. Dia melihat ke arah anak lain yang juga ada di taman itu.
Bocah kecil seumuran Blaze, tengah berjongkok sendirian di dekat pot bunga, memperhatikan semut-semut di tanah yang tengah mempersiapkan sarang mereka untuk menghadapi ekstremnya musim dingin tahun ini.
"Ais!" panggil Taufan akrab dengannya. Kakaknya itu langsung ikut berjongkok di dekatnya "Topimu jadi miring. Kamu harus lebih hati-hati untuk menyembunyikan telinga dan ekormu" katanya seraya membetulkan posisi topi rajut yang dipakai adiknya. Penutup kepala itu punya bagian mencuat tinggi karena membentuk telinga anak itu, tapi malah terlihat menggemaskan. "Hora… Syalmu juga longgar. Sebentar lagi musim dingin datang, kau harus menjaga tubuhmu tetap hangat." Lanjutnya lagi sambil merapikan ulang pakaian adiknya.
Berbeda dengan Taufan yang sangat bersemangat dalam melakukan apapun, adiknya jauh lebih kalem dan pendiam. Dia sangat penurut sehingga apapun yang dikatakan oleh kakaknya, dia hanya akan menganggukkan kepala dan melakukan apa yang disuruh. Dia juga jarang berekspresi, namun karena itu, jatuhnya malah membuat dia terlihat seperti boneka.
"Huwaaaa~! Ais, kamu imut sekali~! Dedekku memang yang terbaik~" Taufan saja sampai gemas padanya, dia sampai memeluknya dengan erat dan mengusapkan wajah pada pipi tembem milik adiknya. Sebenarnya adiknya itu merasa agak risih, namun ia biarkan saja kakaknya itu melampiaskan kegemasannya tersebut. Mungkin dia berpikir, lama-lama nanti Taufan juga bosan sendiri melakukan hal itu terus menerus.
Blaze melihat perlakuan seorang kakak kepada adiknya tersebut dari kejauhan. Terbesit sedikit perasaan iri di hatinya, kenapa kakaknya tidak seperti Taufan yang dengan terang-terangan menunjukkan rasa sayangnya kepada adiknya?
Thorn seperti membaca pikiran anak itu hanya dengan melihat ekspresinya. Dia mendekat dan menyamakan tinggi tatapan mereka. "Blaze, kalau kau udah bosan sama Halilintar, aku ga keberatan kok jadi kakakmu" godanya.
"Amit-amit! Lebih baik mati daripada memanggilmu 'kakak'" tolak Blaze dengan cepat. Thorn pun sontak terkekeh saat mendengar balasan bocah kecil tersebut.
Sementara itu, di kamar apartemen mereka, Gempa tampak mengunjungi Halilintar setelah melihat Blaze membanting pintu dan berlari menjauh dari apartemen. "Apa tidak apa-apa kau terlalu keras seperti itu padanya?" kata pria itu.
Halilintar nampak menunduk sambil mengusap-usap lengan kirinya. Sebenarnya dia merasa tidak nyaman dengan sikapnya pada adiknya, tapi… "Menurutku memang seharusnya begini. Aku terlalu memanjakannya, makanya Blaze jadi suka seenaknya dalam bertindak. Apa yang dilakukan Ayahku dulu sudah benar, aku memang harus tegas menghadapi dia" jelas anak itu. Dia begini setelah mendengar jika Blaze suka kasar dan memukul anak-anak lain yang lebih tua.
.
.
Tahun- tahun berlalu dengan cepat. Semakin lama hubungan kedua kakak-beradik ini pun semakin renggang. Namun Halilintar tidak mengubah cara didikannya sama sekali. Blaze pun semakin lama semakin berontak, dia sering sekali terlibat perkelahian dengan orang lain, entah apa penyebabnya. Hari ini pun anak itu pulang ke rumah, dengan seragam SMP yang kotor dan rambut acak-acakan, walaupun tidak bekas luka karena darah keturunan vampirnya serta sisa kekuatan Phoenix yang membuat regenerasinya sangat cepat.
Tapi Halilintar tau jika adiknya habis membuat masalah dan berkelahi lagi. Sontak saja saat anak itu masuk ke rumah, Kakaknya langsung menegurnya. "Blaze kau berantem lagi?" Seperti biasa anak itu hanya masuk dan mengabaikan kakaknya dengan wajah kesal. Halilintar berdecak, ia langsung menghampiri adiknya dan menahan bahunya. "Aku lagi ngomong denganmu, jangan menghindar!"
Blaze sontak menepis tangan kakaknya dari bahunya. "Aku lagi gak mood, jangan ajak aku ngomong. Lagipula sesukaku kan, mau ngapain?"
"Aku kan sudah bilang berkali-kali padamu, jangan membuat masalah dan berkelahi dengan manusia biasa!" Halilintar yang mendengar jawaban adiknya pun langsung naik darah dan menyolot.
Blaze yang merasa jika Kakaknya sama sekali tidak memihaknya pun naik pitam. Ia mengertakkan giginya dan langsung membalikkan badan, bertatapan muka dengan kakaknya yang terpaut tiga tahun lebih tua "Mereka yang mulai duluan! Tiba-tiba saja menarikku dan langsung menyerang. Terus aku gimana!? Diam aja gitu! Emangnya aku apaan!? Samsak tinju, pasrah aja gitu kalau dipukul!?"
Halilintar bersedekap dan mengulum bibirnya. "Tetap saja jika kita menyerang manusia itu salah. Kau bisa membuat kita semua dalam masalah." katanya.
"Sudah cukup! Mau sampai kita terus-terusan ngikutin peraturan bodoh begituan!? Demi melindungi kedamaian…? Jangan bergurau! Aturan berat sebelah yang sama sekali tidak memihak pada kaum vampir seperti kita cuma ada karena saat itu jumlah kita banyak! Coba lihat sekarang, ada berapa ninja vampir yang masih tersisa!? Cuma tinggal Aniki dan aku! Bahkan pak tua sialan itu sudah gak ada!"
"Pak tua sialan?" Dahi Halilintar berkerut, ketika mendengar Blaze dengan entengnya menyebut ayah mereka dengan panggilan yang sungguh tidak terhormat. "Sudah cukup aku mendengarnya. Mau sampai kapan kau berontak!? Dewasa lah sedikit. Kau itu tanggung jawabku, ayah tidak akan senang melihatmu bertingkah buruk seperti ini. Ibu bahkan mungkin sedang menangis di atas sana sekarang!" Lanjutnya menasihati.
Tapi memang dasarnya kepala batu, Blaze dinasehati malah semakin ngelunjak. "Cih… Pak tua sialan itu tidak pernah peduli dengan diriku. Selalu saja Aniki yang diperhatikan." Dia mendengus sambil tersenyum sinis. "Senang ya, jadi anak kesayangan. Selalu dipuji orang banyak. Ah~ Benar juga, sekarang aku paham. Kelihatan dari luar aja, kau selalu berusaha terlihat sempurna, tapi dalam hatimu sebenarnya kau cuma mau pamer, biar Pak tua itu hanya memperhatikanmu"
"Kau itu ngomong apa?"
"Yah… Sayang banget. Pak tua itu udah nggak ada. Berarti kau udah tidak disayang lagi. Dan lebih buruk lagi kau harus mengurus anak bermasalah sepertiku. Untung sejak awal dia nggak peduli padaku, jadi aku nggak merasa terlalu kehilangan. Syukur deh, pak tua itu udah mati, aku senang banget bisa bebas dari orang sialan seperti dia!"
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Blaze. Halilintar yang melakukannya, dengan keras, hingga menimbulkan bekas kemerahan pada pipi adiknya itu.
Blaze terdiam dengan mata membulat lebar. Itu adalah pertama kalinya, dalam seumur hidup, kakaknya memukulnya. Saat Halilintar bicara pun dia masih berdiam diri.
"Terserah kau bilang apa atau berpendapat apapun tentangku, aku tidak peduli. Tapi jangan pernah sekalipun kau mengatakan hal buruk tentang orang tua yang sudah membesarkanmu." Kata pemuda itu dengan wajah agak menunduk. Dia mengepalkan tangannya kuat dengan tubuh agak bergetar. Sesaat kemudian dia membalikkan badan menjauhi adiknya. "Sebentar lagi makan malam siap. Bersihkan diri dan ganti pakaianmu" sambungnya.
Blaze berbalik dan terlihat agak lesu. "Aku mengerti…" ujarnya merendahkan nada bicaranya seraya melangkah pergi, menuju kamar mandi yang ada di belakang.
Sementara itu sedari tadi ada yang memperhatikan pertengkaran mereka dan ada disana sejak lama. Dia adalah proyeksi diri *Blaze* yang tembus pandang dan saat ini sedang berkeliling melihat-lihat ingatannya. Dia ingat benar dengan adegan ini, dari sinilah asal muasal pertengkaran mereka berawal. Dia dan Kakaknya terus berkelahi, karena sepertinya hanya dengan cara ini mereka bisa tetap mempertahankan ikatan mereka. Jika mereka tidak berkelahi, mereka hanya diam-diam an, itulah kenyataannya.
"Aniki…?"
Diri *Blaze* yang itu mendekat dan mengintip sedikit untuk melihat raut wajah Halilintar. Dia melongo dengan apa yang dia lihat. Tatapan Halilintar tampak sendu, dia mengulum sambil memperhatikan telapak tangan kanan yang ia layangkan ke pipi adiknya.
Ada yang bilang jika kau menyakiti orang lain, dirimu juga akan ikut tersakiti. Halilintar menampar adiknya, tangannya bahkan hatinya juga ikut sakit. Tak lama ia melihat ke arah meja dimana foto keluarga mereka terpajang dalam bingkai.
Pelan, Halilintar mulai menggumam dengan suara kecil. "Ayah… Ibu… Maaf. Aku sudah berusaha sebisaku, tapi aku tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk mendidiknya. Bahkan aku juga tidak bisa bersikap sebagaimana seharusnya pada Blaze. Aku bukanlah kakak yang baik…"
Mendengar hal itu, *Blaze* sontak terkesiap. Dia menoleh ke arah koridor dan melihat dirinya yang ada dalam ingatan itu masih terus berjalan, semakin lama semakin jauh. "Tunggu! Kembali! Cepat minta maaf padanya! Minta maaf pada kakakmu! Katakan 'aku menyesal' sekarang juga!" Tanpa pikir panjang dia coba mengejar refleksi dirinya tersebut. Semakin dekat, hingga tinggal sejengkal lagi dia bisa menyentuh bahunya.
Tiba-tiba saja dia melihat sebuah retakan besar yang merusak pandangannya seolah apa yang dia lihat hanyalah sebuah layar kaca. Dia menembus retakan tersebut, dan seketika semua gambaran itu hancur berkeping-keping layaknya potongan cermin. Saat Blaze tersadar dia sudah berpindah ke tempat lain.
Ruangan luas tak berbatas dengan keseluruhan sisi berwarna hitam.
Blaze sontak mematung karena saking terkejut dan bingungnya.
Namun tak lama ia terkejut saat mendengar tempat itu mengeluarkan suara diringi dengan kemunculan api berwarna kehijauan yang entah dari mana asalnya. Benda itu menempel di langit-langit, dinding dan hampir keseluruhan lantai. Api itu sama sekali menyenangkan malah terkesan menakutkan karena membentuk wajah dengan dua mata dan satu mulut. Banyak suara yang keluar dari api tersebut.
"Ibu… sakit…" "Jangan bunuh aku!" "Ampuni nyawa kami!" "Ini semua karena anak itu ada di desa kita" "Kenapa anak kecil seperti dia yang mewarisi phoenix?" "Kalau saja dia tidak ada kita semua pemburu itu tidak akan datang kesini"
"Ini semua salah Blaze!"
Blaze nampak syok, suara itu adalah suara penduduk desanya yang mati karena pembantaian tersebut "Nggak… aku tidak bermaksud…" dia mundur perlahan, terus mundur hingga akhirnya terjatuh karena kakinya terasa lemas.
"Keegoisanmu itu menghancurkan segalanya" "Kenapa kau tidak ikut mati bersama kami waktu itu?" "Kenapa kami harus melindungi orang lemah sepertimu?" Kau juga membuat orang tuamu terbunuh"
"Maafkan aku…"
"Dan setelah itu kejadian kau dengan mudahnya melupakan semua!" "Cepatlah mati!" "Kau harus ikut ke neraka bersama kami!"
Blaze menggeleng ketakutan dan menutupi kedua matanya. Suara itu sangat banyak, terus berdengung di telinganya sampai menghalangi suara langkah kaki yang berjalan mendekat padanya.
Anak itu terus menutup mata, hingga tiba-tiba dia merasakan sepasang tangan bergerak menutup kedua telinganya. Dia terkejut dan langsung mengangkat kepalanya. Walaupun tanpa menoleh ataupun melihat, Blaze bisa tau siapa yang tengah bicara padanya
Suara ini…? Halilintar. Kakaknya datang membantunya walau hanya sebuah proyeksi pikiran Blaze "Jangan didengarkan. Semua yang ada disini hanya bentuk perasaan bersalahmu. Memang saat itu terjadi karena dirimu terlahir sebagai host phoenix. Tapi kami semua tidak pernah menyalahkanmu, justru kami semua sangat bahagia karena kau bagian dari klan dan desa"
Blaze menolehkan kepalanya ke belakang, air mata sudah mengalir deras membasahi pipinya. "Nii…chan…"
Tepat disana, dunia hitam itu kembali retak dan hancur berkeping-keping, bersamaan itu wujud Halilintar yang itu juga ikut lenyap seperti kabut tertiup angin. Dan sekali lagi Blaze pun berpindah ke tempat lain. Namun kali ini tempat yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Langit biru yang sangat terang dengan awan putih menghiasinya. Juga air yang sangat bening, layaknya cermin yang mampu merefleksikan sekitarnya. Blaze duduk di atas air tersebut, tapi dia tidak tenggelam maupun basah.
TBC
Sementara sampai sini dulu. Udah capek, saya mau kembali dulu ke dunia nyata.
Btw chapter depan terakhir buat arc Blaze.
Saya simpan dulu balasan reviewnya. Susah ngetiknya kalau di hp.
Terima kasih. Ketemu lagi di chapter selanjutnya ya~
