Eowyn
"Kau bahkan tidak mengatakan apapun padaku sebelumnya Yoora!" luapan kekesalan Chanyeol terdengar dan bisa dipahami oleh beberapa orang lain yang berkumpul dengannya di ruangan kamar Putera Mahkota.
"Aku memang tidak tahu ini akan terjadi—
"TIDAK MUNGKIN KAU TIDAK TAHU! DEWA MEMBERIKANMU KEKUATAN MELIHAT MASA DEPAN DAN KAU TIDAK TAHU INI BISA TERJADI?!"
"AKU MEMANG TIDAK TAHU CHANYEOL!"
Mereka kini saling meneriaki satu sama lain, sementara kedua saudara Glorfindel lainnya belum ada keinginan untuk melerai atau pun bahkan menenangkan satu atau keduanya mengingat mereka berdua yang kini saling berteriak dan mengumpat adalah tertua.
"Terserah kau akan marah padaku setelah ini, tapi aku benar – benar mendapatkan penglihatan tentang apa yang terjadi dengan Baekhyun tepat pada hari ini, dan aku bukanlah mendapatkan penglihatan mengenai dirinya. Aku mendapatkan penglihatan mengenai keadaan Elayne, lalu aku mencari Yixing dan menanyakkan padanya bahwa itu adalah kejadian yang tengah berlangsung di Olympus karena Luna sudah tidak ada. Luna meninggalkan raganya dan mengembalikan kekuatan yang pernah diberikan oleh Elayne padanya sebelum ia meninggal. Dan karena kekuatan itu harus kembali pada Elayne, para Ratu menusukkan belati pada jantungnya—sama seperti bagaiamana Elayne meninggal—untuk membuatnya terbunuh kedua kalinya agar Baekhyun bisa sepenuhnya menerima kekuatan Elayne yang seharusnya. Aku juga tidak mengerti.. tapi itulah yang terjadi."
Chanyeol mendengarkan semuanya, hanya saja Putera Mahkota itu masih dibalut rasa emosi yang menjulang tinggi hingga ia enggan memandang kakak perempuannya, memilih memberikan punggung tegap nan lebarnya sebagai pemandangan yang bisa dilihat Yoora.
"Maafkan aku sungguh, aku benar – benar tidak melihat semua ini terjadi tepat sebelum Baekhyun merasakan tadi. Dan aku bersyukur Jongin tiba tepat waktu ketika kau membutuhkannya." Yoora melanjutkan penjelasannya dan kini ia yang merasa canggung akan apa lagi yang harus ia katakan pada Chanyeol.
Sehun dan Jongin yang masih duduk disana belum ada niatan untuk bergabung dan membantu Yoora, mereka masih tetap duduk diam dengan kepala menunduk dengan harapan dalam hati perbincangan penuh emosi ini akan segera berakhir.
"Lynkestis tiba!" suara Jongdae terdengar tanpa ada ijin atau sapaan menginterupsi lebih dulu. "Maksudku, Raja dan Ratu Lynkestis berada disini—
Mendengar itu, Chanyeol melangkah lebar keluar tanpa mengatakan apapun meninggalkan Yoora dan lainnya didalam ruangan itu.
"Perang kecil Glorfindel." Sehun menjelaskan dalam bisiknya ketika ia menangkap pandangan Jongdae kearahnya yang menanyakkan apa yang terjadi diantara mereka berempat.
.
XXIII
.
Tak lama setelah informasi yang diteriakkan oleh Jongdae dan juga Luhan mengenai kedatangan Raja dan Ratu Lynkestis ke Istana Eowyn, seluruh Putera dan Puteri Mahkota segera berkumpul mendekat pada pintu masuk, membentuk barisan disekeliling jalan untuk melakukan penyambutan dan juga memberikan salam hormat kepada mereka. Yunho dan Zhoumi ikut bersiap dan kini kedua Raja itu berdiri pada pintu masuk menunggu kendaraan yang mengantarkan petinggi Kerajaan Lynkestis tiba. Chanyeol ikut berdiri disamping Yunho, mengingat kini status dirinya adalah menantu dari Kerajaan Lynkestis.
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun kepada mereka, karena Ibunya sendiri yang menusukkan pedang Phoenix pada jantung Elayne." Yunho berbisik. Berharap apa yang ia katakan bisa meredakan emosi yang masih terlihat pada wajah putera sulungnya.
Nyatanya apa yang diucapkan tidak diindahkan satu pun oleh Chanyeol.
Mobil yang ditumpangi oleh Raja dan Ratu Lynkestis mulai memasuki halanam Istana Eowyn, tidak seperti biasanya, hanya ada satu mobil yang tiba. Tidak ada pengawalan, tidak ada supir yang mengantar maupun satu orang yang melindungi kedatangan mereka ke Eowyn.
Yunho dan Zhoumi langsung melangkah mendekat menyapa dan memeluk Raja dan Ratu itu tepat ketika mereka keluar dari mobil dan berdiri berhadapan menunggu pelukan dan kata sambutan.
"Anggaplah Istanamu." Yunho melontarkan leluconnya.
"Well, ini Istana bersama." Kibum membalas dan menepuk bahu Yunho cukup keras.
Setelah membiarkan para orang tua bersendau gurau, Chanyeol memaksakan dirinya untuk sekedar memberikan hormat dan tentu menyapa kedua orang tua dari istri kecilnya.
"Yang Mulia." Chanyeol menunduk.
"Oh, Phoenix." Heechul lebih dulu menyergap tubuh besar Chanyeol, memeluk dan juga menyempatkan dirin mencium kedua pipi milik Chanyeol. Apa yang ia lakukan sebenarnya hanya untuk menenangkan menantu-nya tapi lain halnya dengan para Raja yang berada didekatnya merasa apa yang ia lakukan sangatlah tidak sopan.
"Hey! Kau sudah punya suami yang bisa kau cium." Zhoumi lebih dulu melayangkan protest.
"Perlukah kuingatkan dia adalah suami anakmu." Kalimat lain dikatakan oleh Yunho yang ikut turut menarik badan Heechul dari dekat Chanyeol.
"Aku hanya menyapa menantu -ku yang tampan, wuah pipimu memang sangat lembut Chanyeol-ah." Heechul berusaha membelai pipi wajah Chanyeol namun untungnya Kibum sebagai sang suami lebih dulu menahan tangannya.
"Kita berkunjung untuk Baekhyun." sang suami mengingatkan dan tentu mendapatkan persetujuan dari para Raja lainnya.
Kibum menggandeng Heechul untuk melangkah bersama memasuki Istana, dengan Yunho dan Zhoumi yang memimpin di depan mereka. Chanyeol berjalan tepat dibelakang kedua Petinggi Lynkestis.
Para Putera dan Puteri Mahkota lainnya menyapa dan menunduk memberikan hormat ketika mereka berjalan beriringan, kecuali Putera Mahkota Lynkestis dan juga Yixing yang saat ini berada di ruangan kamar tidur tempat Baekhyun berbaring disana.
.
.
"Para Dewa dan Dewi menyampaikan padaku mengenai proses ini mungkin akan memakan waktu berhari – hari. Bisa dikatakan Baekhyun tengah dalam keadaan transisi, menerima segala kekuatannya dan juga menyerap energi yang dimiliki oleh Elayne sebelumnya."
"Berapa lama?" Chanyeol lebih dulu melayangkan pertanyaan.
Heechul menggelengkan kepala, kedua tangannya kembali menggengga erat dan mengusap punggung tangan Baekhyun. "Puteriku kuat, ia akan terbangun ketika ia merasa sudah waktunya." Nyatanya apa yang dikatakan oleh Ratu Lynkestis sama sekali tidak berhasil meluluhkan kekhawatiran Chanyeol.
Mata tajam itu terus terarah pada tubuh Baekhyun yang terbaring tenang diranjangnya, alisnya mengerut dan tak mengendur sejak dirinya kembali kedalam Istana Eowyn. Pria yang tengah berstatus menjadi seorang suami itu benar – benar menunjukkan rasa kekhawatirannya yang besar untuk istri kecilnya. Lain halnya dengan Kris, Kakak dari istri kecil Chanyeol itu nampak tenang menemani dan menjaga adiknya disana. Ada rasa khawatir—mungkin. Tapi tak terlihat sebegitu jelas seperti apa yang digambarkan pada wajah Chanyeol.
"Bagaimana kabar Puteri yang lainnya?" suara Heechul kembali mengalihkan pandangan Chanyeol. Pertanyaan itu tertuju padanya namun ia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa.
"Kami baik – baik saja Yang Mulia, terima kasih." Yoora menjadi penolong memberikan jawaban pada Heechul. "Para Putera dan Puteri Mahkota masih melanjutkan latihan bersama dan juga kami bergantian menemani Kris dan Chanyeol yang menjaga Baekhyun dikamar ini." penjelasan itu didengarkan oleh Heechul dengan baik, Sang Ratu tersenyum kearah Yoora dan juga kembali mengusap tangan sang Puteri yang disana.
"Adikmu akan baik – baik saja, ketika ia pulih.. ia akan menjadi luar biasa." Penjelasan Heechul tertuju pada sosok Kris dan Chanyeol yang masih berada disampingnya.
"Kekuatan Elayne dan Luna telah menjadi satu dan kini kembali sepenuhnya pada Baekhyun." suara Yixing tiba – tiba terdengar dan menjelaskan lebih rinci apa yang dimaksudkan dari perkataan Heechul sebelumnya.
"Tubuh Elayne berada di Olympus sejak peperangan terakhir kala itu. Ia tidak dikuburkan, karena Athena dan Aphrodite menolaknya. Tubuh Elayne tergeletak kaku tapi sama sekali tidak terkikis layaknya seseorang yang telah meninggal, seakan – akan kala itu ia tengah tertidur dan larut dalam mimpinya." Yixing melanjutkan penjelasannya, sementara semua orang yang berada didalam ruangan kamar itu mendengarkan dengan seksama, kecuali Chanyeol. Pria itu membagi fokus atensinya pada penjelasan Yixing dan juga pada Baekhyun.
"Ketika Luna muncul, muncul dalam wujud dirinya ketika masih kecil serta menunjukkan kekuatannya, tubuh Elayne serta peti dimana ia dibaringkan menghilang tanpa ada yang tahu." Penjelasan yang tidak masuk akal ini sontak membuat semuanya melihat dan memandang kearah Yixing dengan segudang pertanyaan.
"Tidak mungkin itu terjadi."
"Itu terjadi." Yixing menjawab komentar Kris. "Itu benar – benar terjadi. Awalnya memang tidak ada satu pun yang percaya, bahkan seluruh penghuni Olympus tidak ada yang bisa memberikan penjelasan bagaimana ini terjadi. Semua ramalan dan juga buku – buku yang berisikan kehidupan tidak ada yang bisa menjelaskan kemunculan Luna kembali dalam wujud dirinya sama seperti ketika ia menerima kekuatan Elayne. Bahkan Clotho dan Lachesis tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi dengan Elayne."
"Luna adalah Puteri Bulan, betulkan?" Chanyeol mulai tertarik ikut hanyut dalam penjelasan yang Yixing sudah katakan sedari tadi. "Kita semua tahu bahwa Luna adalah Puteri Bulan lalu apa hubungan dia dan Baekhyun?"
Yixing tersenyum, menundukkan wajahnya sesaat lalu menatap Chanyeol yang masih memangdanginya dengan tatapan dingin. "Dia Puteri Bulan, Luna adalah Puteri Bulan, tapi dia adalah Putri Elayne—
Chanyeol memaku dalam diam. Mengunci pandangan matanya terhadap Yixing dan tak bergerak seinchi pun untuk meyakinkan tidak ada kebohongan ataupun penjelasan yang tidak berdasarkan sebuah kebenaran.—"Luna adalah Puteri Elayne dan Phoenix."
"A—apa?"
"Luna adalah Puteri Elayne dan Phoenix." Yoora menjelaskan lagi, mengatakan dengan lantang supaya adiknya yang kini masih terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Yixing dengan cepat menyadari betul apa yang tengah dibahas kali ini. "Luna adalah Putri mereka dulu dan Elayne memberikan kekuatannya pada Luna sebelum ia meninggal, itu yang membuat raganya tidak hancur dan kikis oleh waktu karena apa yang ia miliki berada bersama Luna. Seiring berjalannya waktu, karena kekuatan yang dimiliki Luna, Zeus menjadikan Luna sebagai Puteri Bulan, karena ia memiliki sebagian kecil kekuatan dari sumber Cahaya Abadi."
"Waktu terus berjalan dan terjadilah reinkarnasi selanjutnya dan kini kita dihadapkan pada masa saat ini, kau adalah Phoenix." Yixing menunjuk pada Chanyeol. "Dan Baekhyun adalah Elayne. Aku pernah mengatakan padamu kenapa kita tidak bisa menemukan Elayne? Dan ternyata itu karena kekuatan dari dalam diri Baekhyun yang menghalangi pikirannya untuk bisa dilihat dan juga karena Elayne belum sepenuhnya pergi. Itu juga yang menjadi alasan Yoora tidak bisa membaca bagaimana masa depan Baekhyun, karena kekuatan perisai dalam dirinya dan juga karena Elayne masih berada dalam bayang – bayang kehidupan ini."
Kris dan Chanyeol terlihat berpikir keras untuk mengerti rentetan penjelasan yang menyangkut Baekhyun dan jelas mereka terlihat masih belum memahami dengan apa yang coba Yixing dan Yoora katakan sedari tadi.
"Hal yang mengejutkan adalah ketika Luna turun mendatangi Olympus dan mengejutkan Para Dewa. Puteri Bulan berkunjung bukan dalam wujudnya sebagai seorang Puteri Bulan melainkan dalam wujud anak – anak. Kala itu hanya Athena dan Aphrodite yang menyadari bahwa kedatangannya adalah ada kaitannya dengan Elayne dan juga Baekhyun. Kemunculan Luna bersamaan dengan terlihat kembalinya wujud Elayne yang masih tertidur didalam peti dalam rupa dan bentuk yang sama, kemunculan simbol kekuatan Cahaya pada kening Baekhyun beberapa waktu lalu dan juga kemunculan pedang terkuat milik Phoenix didalam Istana Glorfindel."
Kibum melangkah mendekat pada Chanyeol dan memberikan pedang yang masih terbungkus dengan jubah Glorfindel di luarnya.
"Semua rentetan kejadian yang ada selama ini pada akhirnya menunjukkan bahwa kau adalah Phoenix, dan saat ini Baekhyun tengah dalam masa transisi menerima kekuatan Elayne sepenuhnya." Yixing mempersingkat penjelasannya karena ia tidak akan lagi bisa menjelaskan lebih detail dan menerima pertanyaan dari Chanyeol maupun Kris.
"Atau bisa aku perjelasnya, kalian sudah menikah maka segera berikan kami cucu yang lucu seperti Luna. Ia sudah tidak sabar untuk kembali reinkarnasi menjadi anak kalian berdua." Pernyataan Kibum yang diucapkan dengan santai membuat beberapa yang lainnya tertawa kecil kecuali Chanyeol yang masih terdiam dengan pikiran kosong disana.
Sontak suasana menjadi canggung kembali dan itu menjadikan alasan bagi para Raja dan Ratu Lynkestis untuk kembali ke Olympus, Kris, Yunho dan Zhoumi mengantarkan mereka kembali kearah pintu utama Istana Eowyn begitu juga Yixing yang memilih ikut mengantarkan. Hanya Yoora yang masih berada diruangan itu menemani Chanyeol.
"Pedang itu adalah milikmu sepenuhnya." Yoora mendekat dan memutuskan untuk duduk di ranjang dimana Chanyeol duduk dekat dengan tubuh Baekhyun. "Kau akan terlihat sangat Phoenix ketika menggunakkannya kelak."
Chanyeol tidak menyahuti, ia masih membungkam mulutnya namun pandangannya terarah pada pedang Phoenix itu yang masih berada di tangannya. Kedua kakak beradik itu kembali dalam keterdiaman, mengingat kejadian dimana Chanyeol membentaknya dengan teriakan keras itu pada sebelumnya membuat Yoora merasa sedikit canggung terhadap adiknya saat ini. Pandangannya ia alihkan pada pemandangan di luar jendela yang sama sekai tidak terlihat begitu menarik sama sekali.
"Maafkan aku."
Chanyeol menunduk ketika Yoora memusatkan pandangan kearahnya. Ia memang mengucapkan lebih dulu permintaan maaf itu tapi jelas ia merasa sedikit ragu untuk langsung melihat kearah Yoora.
"Seharusnya aku tidak berteriak seperti itu padamu hanya untuk menanyakkan—
"Aku mengerti." Senyuman hangat terbentuk di wajah Yoora dan tentu saja menular pada Chanyeol, mereka saling membalas senyuman dan kemudian tertawa kecil setelahnya. Chanyeol mendekat pada Yoora dan memberikan pelukan pada sang kakak demi menunjukkan kesungguhan dari permintaan maafnya.
"Aku benar – benar minta maaf."
Yoora mengangguk paham, ia tahu Chanyeol memang sungguh mengucapkan permohonan maaf padanya sejak awal namun ia juga tahu adiknya tidak akan berhenti meyakinkan sampai Yoora sendiri yang mengatakan pada Chanyeol untuk berhenti memohon.
"Kau sudah mengatakan itu dua kali dalam selang beberapa menit. Sekali lagi kau mengatakan minta maaf aku akan meminta Jongin dan Sehun memukul wajah tampanmu."
Chanyeol tertawa mendengarnya dan tetap mengatakan permohonan maaf untuk ketiga kalinya. Yoora memukul perut Chanyeol lebih dulu dan memperlihatkan wajah kesal pada adiknya itu karena ancaman palsu yang ia layangkan tadi ternyata tidak dipedulikan oleh Chanyeol.
"Sehun dan Jongin bahkan tidak akan pernah bisa memukul wajah tampanku ini Yoora." bibir Chanyeol mencium kepala Yoora sementara tangannya masih mendekap erat badan kakaknya itu.
Yoor a tersenyum dengan kepalanya mengangguk setuju didalam dekapan Chanyeol. "Aku rasa mereka yang akan babak belur bila melawanmu." Kepalanya mendongak untuk melihat bagaimana raut wajah Chanyeol ketika mendengar apa yang ia katakan., nyatanya Chanyeol tersenyum dengan kesan meremehkan pada dua adik bungsunya itu dengan bangga.
"Aku akan membuat mereka babak belur, lalu setelahnya Luhan akan melempar badanku jauh – jauh untuk membalaskan dendam karena kekasihnya aku habisi."
Yoora mengangguk setuju. "Lalu Baekhyun akan menghabisi Luhan juga."
Ucapannya membuat Chanyeol tersenyum namun terlihat senyuman itu tertahan mengingat nama yang disebutkan masih berbaring lemah tak sadarkan diri.
"Dan hanya Jongin yang tidak memiliki siapapun untuk membalaskan dendamnya." Yoora melanjutkan lagi untuk membuat Chanyeol melupakan kalimat sebelumnya, cukup berhasil walaupun masih terlihat Chanyeol sedikit memandang kearah Baekhyun disana.
"Krystal dan Kyungsoo mungkin... mereka berdua terlihat selalu berada di sekitar Jongin."
Salah satu alis Yoora terangkat, mendengar dua nama yang disebutkan oleh Chanyeol dimana memang ia sadari selalu berada disekitar Jongin. "Aku rasa aku akan memilih Kyungsoo dibandingkan Krystal." Yoora memberikan jawaban kearah Chanyeol sementara adiknya
"Hm.. hanya kau yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya sister."
Yoora tersenyum bangga. Chanyeol mengajaknya untuk keluar dari kamar dan berkumpul bersama dengan yang lainnya.
"Aku memiliki pertanyaan untukmu."
"Apa itu?" Yoora menoleh pada Chanyeol.
"Kau bisa tahu masa depan, aku penasaran dengan siapa yang akan menjadi suamimu kelak." Chanyeol memperhatikan Yoora yang melangkah bersama disampingnya, tidak ada jawaban yang didapat namun senyuman terbentuk disana dan Yoora hanya menoleh sebentar kearahnya, melangkah mendului Chanyeol yang masih terlihat bingung.
-LOVES OF TALES-
Hari telah berganti dengan cepat namun suasana di dalam Istana Eowyn belum juga terlihat kembali cerah seperti apa yang langit tunjukkan pada hari ini. Para Putera dan Puteri Mahkota masih menghabiskan waktu berlatih bersama kecuali Putera Mahkota Glorfindel yang memilih untuk duduk termenung mempehatikan sang istri yang masih tertidur dalam empat hari belakangan. Chanyeol memang masih bisa berinteraksi normal seperti biasanya, makan, minum, dan mungkin sedikit melontarkan candaan untuk Sehun atau Luhan tapi ia enggan untuk berada jauh dari dalam ruangan Baekhyun berbaring saat ini. Dan ketika yang lain tengah melanjutkan pelatihan mereka, Chanyeol akan memilih untuk menjaga Baekhyun seharian.
Tidak ada yang bisa melarang apa yang Chanyeol lakukan karena hampir seisi Istana mengetahui kenyataan bahwa Baekhyun adalah pemegang kekuatan Cahaya Abadi dan itu berarti Chanyeol adalah pasangannya.
"Aku akui itu adalah tindakkan suami yang sangat romantis, tapi jelas ia tidak baik – baik saja! Yixing, apakah tidak ada acara lain untuk membangunkan Baekhyun? Aku sungguh tidak bisa melihat keadaan Chanyeol seperti ini terus!"
Suara Luhan terdengar frustasi ditengah – tengah kegiatannya merapikan beberapa peralatan memanah dan juga pedang – pedang dimana sebelumnya mereka gunakkan untuk berlatih bersama. "Tak adakah cara yang bisa membuatnya bangun? Ini sudah terlalu lama, dan bahkan ia tidak makan atau minum apapun." Puteri Mahkota Tiranis itu melanjutkan lagi sementara lawan bicaranya berdiri tak jauh dari dirinya dan hanya berdiam diri.
"Aku penasaran bila nanti Baekhyun tersadar." Suara lain akhirnya ikut terdengar, Kyungsoo. "Apakah Ia akan benar – benar bercahaya seperti yang diceritakan?"
Luhan terdiam dan menoleh melihat kearah Kyungsoo. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, seperti yang diceritakan ketika kita masih kecil bawah Puteri Elayne selalu nampak bersinar dan bercahaya dan semua orang akan memukau melihatnya. Ratu menceritakan seperti itu dulu sebelum aku tidur."
"Ya, aku juga mendengar hal yang sama." Luhan menyahuti sebelum Kyungsoo melanjutkan apa yang ia ingin sampaikan kembali.
"Apakah Baekhyun akan menjadi menakjubkan seperti yang diceritakan?"
Luhan dan Kyungsoo tidak mengatakan apapun lagi, mereka berdua menunggu Yixing menjelaskan pertanyaan yang telah disampaikan padanya, meskipun terlihat seakan – akan ia tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Kyungsoo dan Luhan.
Merasa diabaikan, para dua Puteri Mahkota itu memilih diam dan kembali melanjutkan merapikan segala perlengkapan dan kembali masuk dalam Istana sementara Yixing masih berdiri di tempat yang sama, memandangi langit yang tengan berubah warna dan bahkan terlihat gumpalan awan gelap mulai memenuhi dan menghilangkan warna biru nan indah disana.
"Rhea..."
"Bawa kematian Phoenix kembali."
"Kematianmu akan membawa Rhea kembali.."
Sekilas bayangan yang didapat Yixing dalam sekejap membawa dirinya tersadar dalam ketakutan dan juga perasaan bingung diam dipenuhi pertanyaan. Ia jelas mendengar suara Kronos begitu dekat ditelinganya meskipun ia juga yakin itu hanyalah sebuah pertanda dari apa yang akan terjadi di masa yang akan datang—atau mungkin dalam waktu dekat. Pandangan matanya teralihkan melihat sekeliling dirinya berada tak ada satupun yang bersama dirinya saat ini, ia menghela nafas sebentar sebelum pada akhirnya memilih masuk kedalam Istana untuk membicarakan masalah ini dengan Yoora.
.
.
"Tidaaaakkk! Aku bukan Rhea! Aku bukan Rhea!"
"Tidak ada alasan untuk menyangkal, kau adalah Rhea!"
"Rhea.. aku berjanji akan membawamu kembali ke dunia ini.."
"Kematiannya akan membawa Rhea datang kembali, maka dari itu.. aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."
"BAEKHYUUUUNNNNN!"
.
.
"Yoora... Yooraaaa! Yooraaaa!"
Suara teriakan Kris memanggil Yoora dengan cukup keras tapi sosok yang tengan dipanggil dengan tubuh yang terguncang oleh kedua tangan Kris masih tidak sadarkan diri dan terus menerus meneriakkan nama Baekhyun berulang kali. Kris masih terus berusaha menyadarkan Yoora hingga Chanyeol lebih cepat menghampiri mereka berdua dan membantu menyadarkannya.
"Yoora!"
"Yoora bangunlah! Hey Yooraaa!"
"Yoora sadarlah!"
"YOORAA!"
Suara Chanyeol dan Kris saling bersahutan dan mereka juga tak hanya meneriakkan nama Yoora tapi juga tangan mereka menggerakkan badan dan juga tangan Yoora untuk supaya ia tersadar. Para Putera dan Puteri Mahkota bergabung melihat dari kejauhan dan tidak bisa melakukan apapun, hanya berharap penuh Yoora bisa tersadar dengan sesegera mungkin.
"Ada apa?" suara tegas lain terdengar, dan itu adalah suara Yunho, sang Ayah.
"Yoora—
"Aku tidak tahu ia mengalami mimpi apa, tapi sedari tadi tidak mau terbangun dan juga masih meneriakkan nama Baekhyun berulang kali." Chanyeol lebih dulu menjelaskan dengan lengkap kepada Yunho dibandingkan Kris yang masih tengah dilanda kepanikan.
"Biar aku saja." Yunho mendekat, membawa badan Kris untuk menjauh dari tempat dimana Yoora terbaring. "Aku minta kau menjaga Baekhyun diatas." Ia memerintahkan dengan maksud mengalihkan pikiran Kris sesaat. Putera Mahkota Lynkestis itu mengangguk atas perintah yang diberikan, langkahnya melebar dan bergerak cepat menyusuri tanggan untuk menuju dimana ruangan kamar Baekhyun berada.
"Temani Kris, kalian berdua." Kali ini Yunho menunjuk Sehun, puteranya dan juga Luhan. "Dan yang lain, ada yang bisa memanggil Raja Tiranis datang? Ia ada di ruang baca." Ucapan Yunho didengar oleh Kyungsoo dan Tao—mereka berdua langsung berlari menuju ruang baca untuk memanggil Zhoumi, diikuti oleh Minseok yang dibelakangnya.
"Dan kalian, tolong pantau penjagaan para pengawal Istana." Yunho menunjuk Jongdae, Jongin dan Suho disana, para pria itu segera menghilang menggunakkan kekuata Jongin menuju pos penjagaan.
Selagi Yunho memerintahkan para Putera dan Puteri Mahkota, Chanyeol membawa badan Yoora untuk berbaring lebih nyaman dan masih terus melanjutkan untuk menyadarkan Yoora kembali. Yunho membantu setelah ia memerintahkan Krystal dan Irene untuk mencari Yixing agar bisa membantu pemulihan Yoora.
"Ada apa?!" suara Zhoumi terdengar meskipun Raja Tiranis itu masih berada dalam jarak cukup jauh. "Kenapa dengan Yoora?" ia bertanya lagi tapi kini suaranya lebih pelan dan hampir terdengar seperti berbisik.
"Ia tidak sadarkan diri aku tidak tahu ia tengah tertidur atau memang pingsan seketika—
"Kau sudah coba menyalurkan kekuatan padanya?" Zhoumi dengan cepat memotong penjelasan Chanyeol.
Ia mengangguk, tangannya memang terlihat menggenggam tangan Yoora dengan erat sedari tadi. "Tapi ia masih tidak sadar." Ucapannya menjelaskan.
"Dimana Yixing?" Zhoumi bertanya disela ia menggulung lengan pakaiannya. Yunho tengah menggenggam tangan Yoora yang lain dan kini Zhoumi menyentuh bagian kepala Yoora untuk menyalurkan kekuataan pemulihan.
Kekuatan pemulihan dimilik oleh setiap keturunan Dewa dan Malaikat yang berguna untuk mereka semua memulihkan luka – luka atas apa yang terjadi pada tubuh masing – masing dari mereka namun tidak sekuat ramuan penyembuh yang Yixing miliki. Bila luka yang didapat cukup serius, maka butuh berhari – hari bagi mereka untuk sembuh hanya dengan kekuatan yang dimiliki, kadang kekuatan itu tidak berdampak bila luka yang mereka dapati mengenai organ vital dalam kondisi lemah.
Chanyeol, Yunho, Zhoumi masih menyalurkan kekuatan pemulihan mereka pada Yoora yang nampak mulai tenang dan tidak berteriak meneriakkan nama Baekhyun, disisi lain—Yixing terlihat berlari tergesa – gesa dengan membawa satu botol kecil yang sudah dapat ditebak bahwa itu adalah ramuan penyembuh yang ia miliki.
"Tetap berada dekat dengan tubuhnya." Ucapan Yixing didengar oleh mereka, ia meneteskan dua tetesan dalam mulut Yoora dan ikut menyalurkan kekuatan yang ada didalamnya dengan memegang dada Yoora. "Ia terlalu larut dalam penglihatan yang didapat." Ia berucap tanpa memandangi para Kedua Raja disampingnya dna juga Chanyeol yang berada dihadapannya. "Penglihatannya kali ini lebih terasa nyata dan sangat gelap, aku sempat mendapatkan sedikit gambaran—
"Apa yang ia lihat?" Chanyeol menanyakkan.
"Kronos. Hades. Rhea."
"Rhea?" Kedua Raja disampingnya bertanya bersamaan.
"Apa yang terjadi dengan Rhea?" lain hal dengan Chanyeol yang menginginkan jawaban lebih jelas.
"Kronos ingin membawa Rhea kembali."
"HAAAAAA—" Yoora tersadar dengan badannya yang terperanjak bangkit. Nafasnya tersenggal – senggal dengan keringat yang membasahi seluruh badannya, kedua matanya terbuka lebar seakan – akan ia baru saja terbangun dari mimpi buruknya.
"Yoora, sayang kau sudah sadar.." Yunho mengusap lengan puterinya secara perlahan.
"Apa yang kau lihat?"
"Baekhyun.." Yoora membalas pertanyaan Chanyeol. "Mereka mengincar Baekhyun.. dan.." Yoora masih berusaha menstabilkan nafasnya dan melihat sekelilingnya dimana beberapa Puteri Mahkota berada tak jauh darinya. "Mereka mengincar Irene." Pandangannya tertuju pada Irene yang berada diujung tangga, mendengar namanya disebut sontak membuat raut ketakutan terlihat jelas di wajahnya. Krystal dan Minseok berpindah mendekat pada Irene dan merangkul adik bungsu mereka. "Mereka menggunakkan kekuatan Dewi Kematian untuk mengembalikan Rhea kembali, dan untuk itu mereka menginginkan kekuatan yang belum didapat oleh Baekhyun dan Irene—masing – masing kekuatan akan membawa Kronos dalam wujud aslinya dan juga Rhea."
Penjelasannya yang diucapkan tidak mendapatkan tanggapan dari yang lain karena masing – masing dari mereka hanya merasakan rasa ketakutan akan apa yang dijelaskan dari penglihatan yang Yoora dapatkan. Apapun yang berhubungan dengan Dewi Kematian akan berakhir buruk oleh semua yang terlibat, meskipun selama ini eksistensi dari Dewi Kematian—atau Atropos.
Atropos sepenuhnya berada diantara Sang Pencipta dan Para Dewa karena kehadirannya terhubung oleh dua dunia itu. Atropos tidak tercipa seorang diri, ia termasuk dalam Dewi Takdir—Goddesses of Fate—dimana Atropos adalah yang tertua diantaranya. Ia adalah Dewi yang akan merenggut nyawa makhluk dua dunia kapan dan dimanapun dengan secara alami ataupun paksaan. Yang kedua adalah Dewi Lachesis, ia berperan penting dalam menyeimbangkan roda kehidupan yang ada, bila ada kematian yang dilakukan Atropos maka ia akan meminta Clotho—Dewi Termuda diantara ketiganya—untuk melahirkan mahkluk lainnya. Dan mereka bertiga melakukan tugasnya bersamaan dengan sepehuhnya tunduk pada Zeus dan juga Sang Pencipta. Apapun yang mereka lakuakn harusnya kehendak mereka.
"Kronos tidak mungkin bisa melakukannya, Atropos akan melanggar kehendak yang tercipta untuk dirinya—mereka bertiga akan mendapatkan peringatan keras dari Zeus bila melakukan itu—
"Bukan Atropos." Yoora berucap pelan. "Dewi Kematian yang dimaksud adalah Hela."
Yunho dan Zhoumi seketika mengendurkan bahu masing – masing dan duduk tak berdaya disana mendengar satu nama Dewi Kematian yang berasal dari dunia bawah tanah dan tidak pernah dianggap nyata akan wujudnya dan bentuknya.
"Dunia Bawah Tanah tengah bangkit karena Hades dan Kronos membangunkan mereka—
"Kapan mereka akan datang?" ucapan Yixing di sela oleh Chanyeol.
"Segera." Yoora menjawab. "Mereka sudah bergerak semakin dekat, Kronos, Hades dan seluruh kaumnya, fokus mereka saat ini mengutamakan membawa Rhea kembali hidup karena dengan begitu kekuatan Cahaya Abadi tidak akan terlahir—
"Tapi Baekhyun sudah memiliki kekuatan itu!" suara Chanyeol berteriak menegaskan.
"Irene belum mendapatkan kekuatannya."
"Kau tidak bisa membiarkan adikku diambil oleh mereka!" Krystal membalas Yixing dengan berteriak.
"TIDAK AKAN ADA YANG DIAMBIL OLEH HADES DAN KRONOS!" Yunho menengahi dengan tegas. Zhoumi mendekat pada Raja Lynkestis untuk memberikan ketenangan. "Kita akan melawan mereka. Bersama – sama. Dan juga melindungi siapapun. Siapapun itu tidak akan dibawa oleh mereka!"
"Minseok, bawa adikmu masuk kedalam ruangan Baekhyun—kalian juga. berkumpul disana." Giliran Zhoumi yang berucap pada Minseok dan juga Kyungsoo serta Tao. Mereka semua melangkah menurut menuju kamar Baekhyun sementara menyisakan kelima orang yang masih berada didalam tengah ruangan Istana Eowyn.
"Aku tidak akan meninggalkan Baekhyun tanpa penjagaan—
"Son, kita akan melawan bersama – sama." Yunho menyela Chanyeol. "Kita akan menjaga semuanya. Tidak ada yang akan diambil oleh mereka."
"Kita butuh Baekhyun, Ayah. Hanya perisainya yang bisa melindungi kita didalam Istana ini."
"Ia masih belum sadar Yoora." Yixing mengingatkan lagi.
Semuanya kembali dalam keterdiaman sesaat guna mencari jalan terbaik untuk memulai sebuah strategi pertahanan akan apa yang akan menyerang mereka.
"Mungkin Zeus bisa mengirimkan sedikit bantuan untuk membantu." Yixing memberikan solusi lainnya. "Bila mereka mengetahui apa yang akan menyerang kita terlebih terlibatnya Hela—Zeus akan membantu."
"Dan kita membutuhkan semua pengawal Istana, keenam Istana." Zhoumi menekankan dua kata terakhirnya. "Dan juga Para Raja." Ia menambahkan lagi.
"Dan.. Chanyeol." Yunho beralih memandang Chanyeol. "Kita akan berada di barisan terdepan."
"Tidak!"
"Chanyeol?!" Yunho menekankan nama Puteranya.
"Aku tidak akan meninggalkan Baekhyun tanpa perlindungan yang cukup kuat!" teriakannya terdengar ada rasa ketakutan disana. "Aku tidak akan meninggalkan ia tanpa perlindungan—tanpa perlindungan dariku!"
"Chanyeol.." suara lembut Yoora terdengar dan sontak membuat ketegangan yang tercipta diantara dua orang disana meredam, pandangan keduanya beralih melihat pada Yoora untuk mempersilakan dirinya melanjutkan apa yang ingin ia katakan. "Aku dan Jongin akan menjaga Baekhyun dan Irene, mereka akan berada didalam ruangan bawah tanah bersamaku. Aku akan meminta Jongin membawa mereka pergi ketika Eowyn terdesak."
"Yoora—
"Aku akan melindunginya. Apa pun yang terjadi." Yoora memberikan keyakinan lagi akan apa yang ia lakukan nantinya. "Kau harus melawan mereka dan membawa Kronos kembali lenyap dalam dunia ini—itu akan membantu melindungi Baekhyun dan Irene. Dan kita akan kembali fokus hanya untuk menghancurkan Hades."
Semuanya yang ada disana mendengar akan apa yang Yoora katakan dan memiliki pemikiran yang sama dengannya. Penyerangan kali ini adalah untuk menghancurkan Kronos dan melenyapkan sepenuhnya wujud Kronos dari Bumi. Membawanya kembali dalam kematian sepenuhnya.
"Percaya padaku.. aku akan melindunginya.. apa pun yang terjadi."
Bersambung..
