"Mereka akan datang ketika guguran daun pertama mencapai tanah."

Kedua Raja menyimak apa yang dikatakan oleh Yoora, Chanyeol berada disana dan juga Kris, mereka berlima telah berada di ruangan kerja Raja sejak tiga jam lamanya hanya untuk mengatur bagaimana strategi pertahanan yang akan dibentuk dalam menghadapi kedatangan kaum Hades untuk kedua kalinya di Istana Eowyn.

"Hades akan ikut dan juga—

"Kronos sudah pasti akan datang." Chanyeol menyahut, ia bangkit berdiri dari posisi duduknya dan melangkah mendekat kearah jendela. "Tidak mungkin ia tidak ikut dalam perang ini, ia menginginkan Irene, ia menginginkan Baekhyun."

"Fokus Kronos hanya untuk mengambil salah satu dari mereka, Son." Yunho menenangkan emosi yang terdengar dari suara putera-nya.

"Tidak dengan Hades. Ia sejak awal menginginkan pembalasan akan apa yang terjadi dengan Kronos, dan tentu saja ia juga menginginkan Ayah-nya kembali dalam wujud aslinya. Bukan hanya dengan percikan api Neraka. Hades menginginkan Kronos dan Rhea hidup kembali, bagaimana kalau kita menghancurkan semuanya tanpa harus memperlihatkan bahwa Elayne sudah hidup kembali? Menyerang Kronos dalam wujud rentan saat ini lebih mudah. Kenapa kita tidak menyerang mereka lebih dulu—

"Itu melanggar peraturan Chanyeol!" suara Zhoumi berteriak lantang. "Kita tidak akan pernah menyerang mereka lebih dulu!" ia mengingatkan.

"Kronos sudah mati saat itu, kali ini kita hanya melawan sebagian dirinya yang Hades masih pertahankan untuk terus bersamanya agar ia semakin kuat menyiapkan perang nantinya. Ini strategi mereka, termasuk mengorbankan dua nyawa untuk membawa dua orang yang ia inginkan. Membawa hidup Kronos dan Rhea kembali lalu ia akan menyerangmu lebih mudah karena Elayne berhasil ia rebut kembali darimu, kau mau itu terjadi lagi? Aku persilahkan kau menyerahkan diri langsung ketika mereka datang nantinya. Tapi kalau kau mau menyelesaikan perang ini untuk selama – lamanya.. maka kita berperang bersama! Jangan biarkan mereka mengambil Irene, dan terlebih Baekhyun! Biarkan mereka merasakan pengorbanan yang tidak ada gunanya hanya untuk mengembalikan dua orang yang sudah meninggal dan tidak pernah diberikan kesempatan untuk hidup kembali!" Yunho berucap panjang menjelaskan semuanya pada Chanyeol disana, harapannya apa yang ia ucapkan akan membuat anaknya itu menahan segala emosinya hingga peperangan nanti.

"Kita semua akan saling melindungi, itu yang terpenting." Zhoumi menambahkan kalimat penutupnya.


-Loves of Tales-
.
XXIV
.


Tidak ada yang merasakan ketenangan setelah beberapa hari lalu mereka semua mendengar mengenai penjelasan akan apa yang akan datang menghampiri mereka kembali. Istana bahkan mulai dipenuhi beberapa pengawal dari tiga Kerajaan dan masih ada dua Kerajaan yang belum tiba. Glorfindel dan Lynkestis menjadi yang pertama tiba selang sehari setelah Raja mereka memberikan perintah. Disusul Tiranis yang datang di hari berikutnya, dan hari ini Eowyn akan kembali dipenuhi oleh para pengawal Istana Eleanor dan juga Thalin. Para Raja dan juga Putera Mahkota menghabiskan waktu mereka sepenuhnya menyusun strategi dan juga berlatih bersama, menyiapkan senjata – senjata yang bisa dipergunakkan dan bahkan membuat beberapa jebakkan yang bisa menghambat pergerakkan penyerangan dari Hades nantinya. Sementara para Puteri Mahkota ditinggalkan didalam satu kamar berharap mereka bisa bersikap santai tanpa mengkhawatirkan apapun—yang pada kenyataan tidak seperti itu.

"Mereka sibuk berlatih dan kita tidak dianggap."

Sedari tadi Luhan tak berhenti memperhatikan dari arah jendela kamar dimana mereka berada, memperhatikan beberapa pengawal dan juga para Putera Mahkota saling berlatih.

Pemandangan yang dilihat sebenarnya hanyalah sekumpulan pria – pria bersenjata tengah bertarung satu sama lain dengan teriakan luapan geram, atau pemandangan sekumpulan lainnya yang tengah mengasah satu persatu pedang dan ujung tombak—persenjataan para pengawal, dan disisi lainnya para pemanah tengan menyiapkan busur dan juga anak panahnya.

"Pernahkah kalian berpikir bahwa perang yang akan kita lakukan tidak akan bisa dilawan dengan senjata – senjata mainan seperti itu?"

Pertanyaan yang diucapkan oleh Luhan tidak mendapatkan jawaban dari para Puteri Mahkota yang berada didalam satu ruangan dengannya., mereka mendengar jelas apa yang dikatakan olehnya tapi tidak cukup mengerti dengan apa yang dimaksud. Minseok, satu – satunya orang yang mendatangi tempat dimana Luhan berdiri.

"Maksudmu, melawan para Hades dengan senjata old seperti yang tengah disiapkan?" ia berucap berbalik menanyakkan pada Luhan dan wanita itu mengangguk.

"Kita memiliki kekuatan, dan para Hades bahkan adalah sekumpuluan monster buruk rupa penghuni Neraka, mereka tidak akan bisa dilawan dengan senjata kayu, besi dan timah seperti itu bukan?"

Minseok mengangguk. "Aku mengerti maksudmu.. tapi.. kenapa Para Raja masih meminta pengawal Istana datang dan ikut bergabung kalau pada hasilnya mereka sama sekali tidak membantu?"

Kini giliran Luhan yang menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa dirinya juga tidak mengerti dengan strategi yang disiapkan oleh Para Raja da Putera Mahkota.

"Kalian tidak pernah diceritakan bagaimana peperangan sesungguhnya dengan Hades?"
Semua kepala disana menengok terarah pada Yoora yang sudah bersandar pada dinding kamar tak jauh dari pintu masuk kamar disana.

"Aku tidak pernah mengetahui perang yang pernah terjadi." Irene yang menyahut lebih dulu dengan wajahnya yang dingin seakan – akan memberikan pernyataan meskipun keadaan bahaya bagi dirinya ia sama sekali tidak memperdulikan apapun dan siapap pun. "Eleanor tidak pernah mengikuti perang, dan kami tidak pernah diajarkan untuk itu—

"Kami?" kakaknya menyahuti, Krystal. "Hanya kau yang tidak pernah diajarkan untuk itu! Aku dan Minseokk yang selalu dipaksa untuk ikut berlatih perang karena kami memiliki kekuatan anugerah Dewa, sedangkan dirimu sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun." Nadanya sarat sarkatis mengintimidasi Irene, bukan hanya dari apa yang dikatakan oleh Krystal, melainkan juga karena tatapan dingin mata gadis itu yang seakan – akan melemparkan tatapan menindas.

"Krystal.. cukup." Minseok menengahi.

"Kau pikir aku tidak punya kekuatan dan dengan begitu aku sama sekali tidak membantu? Aku juga bisa—

"Apa yang kau bisa hah? Ibu bahkan meminta pengawalan khusus untuk dirimu hanya agar bisa tiba di Eowyn dengan selamat tapi nyatanya Chanyeol harus menyerahkan dirinya untuk mengalihkan fokus Hades pada dirimu dan.. yeah kau tahu bagaimana akhirnya karena kita semua disini melihat secara langsung bagaimana terjadinya! Krystal masih terus mengungkapkan kekesalannya pada Irene.

"Kenapa menyalahkan aku?! Ibu meminta pengawalan karena Kau dan Minseok bahkan tidak cukup bisa melindungi diri kalian sendiri—

"Itu karena dirimu yang lemah dan tidak berguna! Kau—"

"CUKUP!" Minseok kembali menjadi pihak yang berteriak lebih keras menengahi adu mulut yang dilakukan kedua adiknya. Puteri Mahkota yang lainnya terdiam sedari tadi dan tidak cukup berani untuk menengahi ataupun ikut berkomentar. "Tidak ada yang terkuat disini! Meskipun kekuatan kita semua digabungkan pun tidak cukup kuat untuk melawan Hades! Jadi tidak perlu ada pembuktian hanya dengan ucapan ataupun memamerkan kekuatan masing – masing!" ucapan yang Minseok ucapan sudah pasti ditujukan pada Krystal, adiknya itu membalas dengan tatapan kesal lalu bangkit berdiri, langkahnya bergerak cepat keluar dari ruangan kamar itu tanpa satu katapun.

"Dan kau." Minseok kini menatap Irene yang memandangnya acuh. "Kalau kau tidak memiliki rasa terima kasih sedikit pun pada kakakmu atas apa yang sudah kami lakukan untukmu setidaknya tutup mulut dan bersikap baik! Hanya dengan kehadiranmu saja sudah membuat berbagai masalah dan akan lebih membuat masalah kalau kau berbuat hal – hal yang menjengkelkan!"

Irene memutar bola matanya, posisi duduknya masih sama angkuhnya sejak ia beradu mulut dengan Krystal. Wajah sedingin es-nya bahkan masih tercipta disana.

"Dari kalian semua.." Yoora yang sedari tadi memperhatikan dalam diam kini bersuara. "Tidak ada yang terkuat. Kekuatan kalian tidak akan cukup bisa mengalahkan Hades seorang diri, bahkan kekuatan sebesar Chanyeol tidak cukup kuat melawan Hades. Jadi.. jangan merasa cukup bangga dengan apa yang kalian miliki saat ini. Karena bila kalian diposisikan menghadapi Hades seorang diri, yang tertinggal hanyalah jiwa kalian yang kembali pada sang pencipta."

Semuanya terdiam, mereka mungkin terlihat mendengarkan apa yang Yoora katakan, tapi mungkin ada yang tidak menyimaknya dengan sebaik mungkin. Yoora mengambil langkah dan berdiri tepat dihadapan mata Irene, tatapan dingin itu melembut, membalas tatapan Yoora yang terlihat lebih dingin dibandingkan tatapan matanya. Yoora menekuk kakinya hingga berlutut dihadapan Irene, wajahnya mengikis jarak, mendekat pada wajah Irene. "Aku ingatkan padamu.." Yoora berbisik. "Apa pun yang akan kau lakukan nantinya.. aku pastikan kau akan menyesal. Aku tahu akhir dari setiap pilihan yang ada didalam pikiranmu, dan aku memberikan peringatan keras untuk itu. Pikirkan lagi mengenai kedua kakakmu dan juga Ibu-mu. Karena ketika kau mengambil pilihan yang salah, mereka adalah orang pertama yang merasakan kesakitan dari siksaan Hades."

Irene menegangkan badannya secara langsung, menatap Yoora dengan tatapan bingung dan juga rasa takut akan apa yang diucapkan kearahnya. Luhan, Minseok dan juga Kyungsoo yang memperhatikan disana sama – sama saling melempar tatapan tidak mengerti dengan apa yang Yoora lakukan disana.

"Jadi.. persiapkan dirmu karena ketika perang dimulai, aku akan menjadi orang yang melindungimu dengan nyawaku." Yoora bangkit berdiri, berucap dengan lantang dan memberikan senyuman kearah Irene disana. "Jangan membuatku kesulitan untuk melindungimu." Yoora mengedipkan matanya dan beralih menatap yang lainnya. "Aku membutuhkan Luhan, Minseok dan juga Kyungsoo untuk ikut denganku menghadap Raja, shall we?"

Ketiga nama yang disebutkan sempat saling menatap satu sama lain namun pada akhirnya mengangguk patuh, dan melangkah cepat mengikuti Yoora yang sudah lebih dulu melangkah keluar.


-LOVES OF TALES-


"Akan lebih baik mengalihkan fokus mereka jauh di selatan Eowyn, Hades akan berada disana, sementara para anak buahnya berpencar mencari jalan masuk lain untuk mendekati Istana, dan untuk itulah kita semua harus tersebar dan berada di setiap titik pusat jalan dimana mereka bisa gunakkan mendekat dan menerobos masuk." Chanyeol menjelaskan apa yang ada didalam pikirannya dan juga memperhatikan denah peta Istana Eowyn dan tanah negeri itu. "Andai saja setiap pohon – pohon disekitar Istana ini hidup mungkin akan memudahkan kita menghalangi mereka—

Chanyeol terdiam ketika mendapati Yoora masuk kedalam ruangan dan berdiri tepat didepannya. "Apa yang kau lakukan dengan senyuman bahagiamu itu?"

Yoora masih mempertahankan senyumannya. "Kau tahu Chanyeol, terkadang aku sangat bangga padamu karena bisa mengetahui sedikit pun apa yang aku pikirkan dan dapatkan didalam kepalaku ini."

"Apa maksudmu?" suara Kris yang bertanya pada Yoora.

Wanita itu tersenyum dan beralih kebelakang tubuhnya dimana Kyungsoo, Luhan dan Minseok yang sedari tadi mengikuti dirinya, Yoora menarik tangan Kyungsoo dan menunjukkannya pada Chanyeol serta yang lainnya. Para Putera Mahkota dan juga Para Raja. "Kyungsoo bisa membantu."

"A-aku tidak…"

"Yeah.. kau bisa Kyungsoo." Jongin yang menjawab dan Kyungsoo menatap tidak suka pada pria itu. "Kyungsoo bisa membuat setiap pohon, tumbuhan dan apapun yang ada didalam hutan bergerak dan melakukan apa yang ia perintahkan."

"Benarkah?" tiga suara melayangkan pertanyaan yang sama. Chanyeol, Kris dan Sehun.

"Tidak.. kekuatanku tidak sebesar itu.. a-aku tidak bisa—

"Sampai kapan kau akan menyimpan kekuatanmu Kyungsoo-ya.." Jongin kembali melontarkan suara mengejeknya.

"Kyungsoo bisa melakukannya.. bahkan bisa lebih dari itu." Yoora melanjutkan lagi. "Kyungsoo bisa membuat semua pohon dan tumbuhan apapun bergerak dan melakukan apa yang ia perintahkan.. dan bahkan membuat dinding pertahanan yang berasal dari akar – akar pepohonan.. dan yang lebih hebatnya lagi.. ia bahkan bisa menghancurkan Istana Eowyn, menghancurkannya dan meratakan bangunan megah ini tanpa ledakan sedkitpun.

Semuanya tercengang kagum mendengar apa yang Yoora katakan, Para Raja bahkan berulang kali menatap Kyungsoo dari kepala hingga ujung kakinya. Membayangkan gadis yang memiliki tinggi lebih kecil dari Yoora dan terlihat layaknya gadis berusia belasan tahun itu bisa melakukan semua yang Yoora katakan.

"Aku pernah melihatnya membuat salah satu Pohon besar hidup dan menunjukkan jalan keluar dari Hutan ketika kami berada dalam satu tim yang sama mencari bendera."

"Aaahh.. pertandingan itu." Yunho ikut membenarkan.

Kyungsoo masih nampak begitu kesal pada Jongin karena mengatakan hal yang pernah ia minta untuk dirahasiakan pada siapapun, namun kini pria itu bahkan mengatakannya dihadapan banyak orang.

"Jadi.. Puteri Mahkota Eowyn, maukah kau membantu kami?" Yunho memohon secara langsung dihadapan gadis itu. Kyungsoo masih terdiam, dengan mengigit bibir bawahnya dan juga memperhatikan para Putera Mahkota dan Raja – Raja disana, ketika tatapannya beradu kembali dengan Jongin, pria itu menganggukkan kepala padanya dengan maksud membuat Kyungsoo mengatakan iya dan bersedia membantu.

"A-a-aku mungkin.." Kyungsoo bersuara gugup dan bahkan masih menahan kalimatnya, ia bahkan menahan nafas dan menghela dengan berat dan gelengan kepala ia lakukan yang membaut bingung semua orang disana. "Aku mungkin akan membutuhkan banyak latihan sebelum membuat para pohon – pohon di Eowyn bisa hidup." Kyungsoo tertawa kecil dan malu – malu setelahnya, sementara yang lainnya tertawa lebar.

"Aku akan membantumu!" Jongin menjadi pihak yang menjawab lebih dulu dan sontak Chanyeol dan Sehun melihat kearahnya dengan tatapan sinis.

"Kenapa kau yang mau membantunya?" Yunho melayangkan pertanyaan lebih dulu, merangkul bahu Jongin dan menariknya keras terkunci dalam kukungan lengannya.

"A-ah.. itu karena.." suaranya menjawab dengan terserak – serak karena ia sulit untuk bersuara dan bernapas karena kukungan lengan sang Ayah.

"Aku yang akan membantu Kyungsoo, Minseok dan juga Luhan." Yoora bersuara.

"Kau yakin?" Sehun menanyakkan pada Luhan. "Kita tidak bisa bersama dalam satu tempat, aku tidak bisa melindungimu bila—

"Aku bisa Sehun." Luhan menjawab. "Aku bahkan bisa membawamu berada didekatku dalam hitungan detik." Senyumannya tercipta dengan maksud yang tersirat sedikit menggoda.

Semuanya kembali tersenyum malas mendengar apa yang baru saja dikatakan dalam pembicaraan antara dua orang yang sudah bertunangan.

"Ini sedikit ambigu." Kris berbisik pada Chanyeol tanpa diketahui oleh yang lainnya, Zhoumi dan Yunho tengah menanyakkan apa yang Yoora rencanakkan dengan meminta Luhan ikut turun serta dalam peperangan. Jongin, Jongdae dan Sehun bahkan memfokuskan pendengaran mereka bergabung sepenuhnya terlibat dalam pembicaraan itu.

"Bayangkan ketika mereka tengah akan bercinta.."suara Chanyeol ikut berbisik.

"Kau tahu.. aku membayangkan Luhan membawa badan Sehun di dinding dan Luhan memulai lebih dulu, menggodanya.."

"Mereka bisa saja langsung bercinta pada saat itu dan kemudian Luhan membawa badan mereka berdua keatas ranjang dengan kasar dan keras."

"Uuhh.." masih dalam berbisik Chanyeol dan Kris melanjutkan perbincangan tanpa arti dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan strategi peperangan.

"Itu akan sangat panas." Kris menyimpulkan.

"Yeah.. panas dan kasar." Chanyeol menyetujui. "Mungkin aku harus mencobanya dengan Baekhyun kelak." Chanyeol mengangkat wajahnya, bermaksud membayangkan apa yang ada didalam pikirannya setelah pembicaraan itu sementara Kris memukul badannya dengan keras. Mereka saling menatap dalam diam sesaat dan menyudahi pembicaraan itu, kembali terfokus pada apa yang dibicarakan oleh yang lainnya disana.

Yoora sempat memperhatikan kedua orang itu, sudah sedari tadi ia ingin memukul kepala kotor dari adiknya dan juga kepala Kris tapi ia tidak mungkin tiba – tiba melakukannya sementara fokusnya tengah menjelaskan rencana yang ada untuk pertahanan perang yang akan datang.

"…Luhan tidak perlu berada diluar Istana, ia ditempatkan di Tower Utara Eowyn dan menyingkirkan setiap pasukan yang mendekat dari sana." Sehun menunjuk titik pada peta dimana Tower Utara yang ia maksudkan.

"Jangan terpusat di Utara." Yunho menginterupsi. "Akan lebih baik Luhan berada disisi Barat. Dan Kyungsoo di Selatan karena hutan Eowyn membentang luas di Selatan, itu memudahkan kekuatannya berdampak disana, dan sisi Barat berada dalam kuasa Luhan."

"Aku menyetujui ide itu." Zhoumi mengangguk setuju.

"Aku juga berpikiran yang sama." Siwon bergabung menyuarakan pendapatnya. "Utara Eowyn akan menjadi tugas Suho menjaganya. "Air laut akan sepenuhnya berada dibawah komandonya." Raja Thalin itu berucap mantap dan memandang puteranya yang menyetujui apa yang ia ucapkan.

"Aku bisa meluluhkan mereka dengan mudah di Utara."

"Dan yang tersisa adalah sisi Timur." Yoora melanjutkan dan membawa Minseok kedepan. "Minseok bisa berada disana dan menggunakkan dinding es nya menghalangi penyerbuan disana."

Yunho tersenyum bangga terhadap Yoora. "Tembok es dari Eleanor.. aku yakin mereka akan membeku dalam hitungan detik.. bukan begitu Puteri Mahkota?" pertanyaan ia tunjukkan pada Minseok disana yang masih terdiam berusaha memahami tujuan dirinya dibawa menghadap para Raja.

"A-aku bisa saja melakukannya.. tapi aku tidak mungkin bisa sendiri disana.."

Yoora menepuk bahu Minseok. "Kita tidak akan membiarkanmu sendirian disana. Para Putera Mahkota akan mendampingi kalian.. dan aku tidak akan memasangkan dirimu dengan Luhan, Sehun." Yoora lebih dulu memberikan penjelasan ketika pandangan matanya tertuju pada Luhan dan juga memamerkan senyuman nakalnya.

Sehun mendengus kesal sementara Jongin dan Jongdae menertawai dirinya disana. Para Raja disana bahkan tidak bisa ikut bergabung mengutarakan strategi selanjutnya melihat beberapa Putera Mahkota mereka yang terfokus dengan urusan percintaan masing – masing.

"Kalian.." Yunho menunjuk pada Kris dan Chanyeol yang terkikik geli disudut sana. "Apa yang kalian rencanakkan?"

Kris dan Chanyeol berdeham bersamaan dan mereka menghentikkan perbincangan yang terjadi diantara keduanya.

"Aku setuju dengan apapun yang Yoora rencanakkan." Chanyeol lebih dulu bersuara.

"Aku juga." Kris ikut menjawab disertai anggukkan kepala.
Yunho menatap diam dan memperhatikan mereka berdua, sementara Yoora menggelengkan kepala dengan tatapan kesal pada kedua orang itu yang sama sekali tidak menyimak apapun yang ia katakan karena mereka lebih mementingkan membayangkan percintaan yang panas dan kasar.

Bajingan.—Yoora merutuki dalam hati.

.

.

"Kalian akan ikut berperang?"
Itu adalah suara Tao yang diucapkan tertuju pada Luhan dan Kyungsoo, mereka bertiga duduk bersama dalam ruangan kamar setelah acara makan malam selesai beberapa waktu lalu. Baekhyun berada juga berada didalam kamar itu, hanya saja dirinya masih berbaring tak sadarkan diri.

"Awalnya aku takut.." Kyungsoo memulai memberikan jawaban. "Tapi mungkin aku bisa sedikit membantu untuk melindungi Istana-ku sendiri.. dan juga membuat para Putera Mahkota tidak terlalu terbebani harus menjaga Istana dan juga kita semua."

Luhan mengangguk dan tersenyum kepada Kyungsoo. "Jadi.. hanya Jongin yang pernah melihat kekuatanmu?" dan seketikan pertanyaan yang ia ucapkan berhasil membuat Kyungsoo tergagap bersuara dan menggeleng cepat.

"Ti-tidak.. Ibu-ku juga mengetahuinya.."

Tao memicingkan matanya. "Jadi maksudmu hanya Ibu-mu dan Glorfindel ke II yang mengetahuinya? Wow.. itu menjelaskan banyak hal." Tao mendorong badan Luhan yang juga tersenyum dan memiliki pemikiran yang sama dengannya.

"Bu-bukan.. itu tidak menjelaskan apapun.. kami hanya berada dalam satu tim dan aku secara tidak sengaja menunjukkan kekuatanku padanya.." Kyungsoo berusaha mengelak lagi.

"Ya.. ya.. kami bisa mengerti." Luhan menganggukkan kepala begitu juga dengan Tao.

"Yaaa! Jangan berpikir yang macam – macam!"

Luhan dan Tao tertawa bersama mengabaikan Kyungsoo yang masih berusaha menyakinkan ketidak benaran dari apa yang terjadi antara dirinya dan Jongin seperti yang dipikirkan oleh Luhan dan Tao.


-LOVES OF TALES-


Perang adalah perang, sebuah pertikaian yang dilakukan untuk saling membunuh dan untuk mempertahankan apa yang harus dijaga dan dilindungi. Strategi sudah dimantapkan dengan keyakinan segala rencana yang mereka susun akan menghasilkan sebuah kemenangan. Banyak yang mengatakan perang yang akan terjadi bukanlah perang akhir yang banyak diceritakan sejak dulu kala, tapi diluar apa yang diharapkan.. Penyerangan yang akan mereka lakukan bukanlah peperangan mudah, semua yang akan bergabung dalam penyerangan mengetahuinya bahwa mereka akan berakhir pulang hanya dengan sebuah nama.

Hari demi hari berlalu dan waktu peperangan yang diperikrakan semakin dekat, guguran daun pertama diperkirakan akan terjadi esok hari dan itu semakin membuat semua yang akan bergabung nanti merasa semakin diliputi perasaan was –was—teruntuk siapa saja tanpa terkecuali, termasuk Chanyeol, sang Phoenix.

Ketakutannya yang ia rasakan masih sama sejak hari dimana Yoora mengatakan akan keinginan Kronos dan juga Hades mengambil Baekhyun dan juga Irene hanya untuk menukar nyawa mereka demi mengembalikan Kronos dan juga Hera. Ia berharap strategi yang telah disusun mampu menghadang penyerangan yang mereka lakukan, dan tentu saja menyelamatkan Baekhyun dan juga Irene meskipun Ia tahu bahwa tanpa kekuatan yang dimiliki Baekhyun, mereka tidak akan mampu mengalahkan Hades seutuhnya.

Chanyeol masih menjaga matanya untuk tetap terjaga memandangi Baekhyun yang masih terbaring tak sadarkan diri disampingnya, masih dengan posisi yang sama, masih dengan wajah yang begitu tenang dan damai seakan – akan istrinya itu tengah mengalami mimpi indah dalam alam bawah sadarnya.

Tangan Chanyeol bergerak menggenggam kedua tangan Baekhyun yang menaut satu sama lain diatas perut, mengusap pelan dengan ibu jarinya sementara badannya ia lebih dekatkan lagi agar bisa merasakan tubuh Baekhyun lebih dalam. Kepalanya ia rebahkan pada bahu Baekhyun dan Chanyeol merasakannya, aroma tubuh Baekhyun masihlah sama seperti biasanya.

"Aku merindukanmu.." lirihan Chanyeol terdengar pelan, kelopak matanya kini tengah terpejam. "Aku takut." Ia berucap lagi. "Aku takut bila apa yang akan kami lakukan nanti justru sebaliknya mempermudah kawanan Hades mendapatkanmu." Pandangannya terkunci masih dengan wajah tenang Baekhyun sebagai fokusnya. "Aku takut… aku merasa takut bila mengingat kembali di saat kau—"

Rentetan kalimatnya tidak ia lanjutkan keluar dari mulutnya, suara tertahan seketika ketika dalam pikirannya ingatan akan waktu dimana ia melihat Baekhyun menusukkan belati pada jantungnya ketika peperangan terakhir mereka terjadi berputar ulang disana. Wajahnya ia bawa tenggelam pada bahu Baekhyun, menyamankan dirinya untuk berbaring bersama sang istri pada malam ini sebelum mungkin esok hari ketika perang dimulai, tidak akan ada lagi kesempatan untuk dirinya sekedar melihat wajah damai Baekhyun tertidur.

"Aku mencintaimu.." satu kalimat lirih sempat Chanyeol ucapkan sebelum matanya terpejam lebih erat menjemput penggalan mimpi yang menjadi bunga tidurnya.

Fajar menyingsing telah terlihat dibalik bukit – bukit pegunungan Eowyn, langit gelap malam mulai terkikis warnanya digantikkan oleh jingga terang yang terpancar dari Cahaya Matahari dimana mulai bergerak naik demi menyinari dunia, pergerakkan para hewan dan tumbuhan merambat terlihat beriringan dengan gesekkan angin yang mengiringi. Dan tak hanya makhluk hutan dan pepohonan yang mulai beraktifitas, Istana Eowyn bahkan sudah menunjukkan aktifitas pergerakkan manusia sebelum pagi menjemput.

Para penjaga Istana lebih dulu bergerak siaga menuju pos – pos titik dimana mereka ditempatkan seperti pengarahan yang diberikan oleh Para Raja dan Putera Mahkota beberapa waktu sebelumnya, sementara Para Putera Mahkota tengah menyiapkan persenjataan yang akan mereka bawa bersama menyambut peperangan nanti.

Chanyeol dan Kris sudah selesai menyiapkan semuanya, pedang Phoenix terlihat berayun dalam genggaman tangan Chanyeol sementara Kris menyiapkan beberapa anak panah yang lebih banyak untuk persediaannya. Salah satu dari pengawal Istana membawakan pedang Lynkestis yang menjadi pedang miliknya dan Kris dengan sigap mengamankannya.

"Bila Baekhyun terbangun saat ini, sudah pasti ia akan mengambil alih menggunakkan busur panah." Ucapannya diselingi suara tawa kecil yang terdengar dipaksakan.

Dan meskipun Chanyeol mendengar jelas apa yang dikatakan Kris, ia lebih memilih diam dan hanya tersenyum kecil dibalik wajahnya.

"Hyung! Ayah minta kita siap pada posisi." Jongin bersuara tepat ketika dirinya secara mengejutkan hadir bersama disana.

Kris yang sempat hampir melonjak kaget hanya bisa berdecak kesal, mengikuti langkah Chanyeol mendekat pada Jongin untuk ber-teleport menuju tempat pos – pos dimana mereka ditugaskan.

"Semua sudah siap?" Yunho angkat bicara tepat ketika Kris, Chanyeol dan Jongin bergabung disana. Mata tajamnya memperhatikan satu per satu Para Raja yang akan turun ke medan perang dan juga Para Putera dan Puteri Mahkota—dimana mereka kini tengah siap mengenakkan setelan perang berwarna hitam yang sudah menjadi setelan wajib sejak dulu kala—"Yoora?" Yunho mencari Puteri-nya yang belum terlihat diantara yang lainnya.

"Yoora sedang melihat situasi diluar bersama Yixing." Jongin menjawab cepat.

"Bawa kakakmu dan Yixing untuk berkumpul bersama sebentar—" Belum selesai Yunho berucap Jongin lebih dulu melakukan teleport menyusul dimana Yoora dan Yixing berada. Wajah Yunho terlihat sedikit kesal karena sepertinya ia belum juga usai berucap namun puteranya sudah menghilang.

"—well.. Bagaimana dengan Irene?" Yunho mengalihkan pertanyaan pada Minseok dan Krystal—yang nampak lebih dingin karena mereka mengenakkan setelan hitam namun warna wajah dan raut mukanya masih sedingin es.

"Irene tengah bersama Baekhyun dan Tao di kamar, kami sudah meminta ia mengenakkan setelan perang dan juga membawa persenjataan yang bisa ia gunakkan." Minseok menjadi pihak yang menjawab.

"Baiklah—"

"Tak bisakah kau melakukan pendaratan dengan cukup baik?!" suara Yixing yang berkomentar berkumpul disana memotong ucapan Yunho lagi. Kini semuanya sudah berkumpul bersama, selain Baekhyun dan Irene yang berada di kamar menunggu saat Yoora dan Jongin membawa mereka ke tempat persembunyian yang sudah direncanakan jauh – jauh hari sebelumnya.

"Mereka akan datang." Yoora berucap langsung dan berdiri tepat disebelah Yunho. "Guguran pertama sudah terjadi dan mereka tengah bersiap menuju kemari—

"Dan itu adalah pertanda kita harus siap apapun yang akan kita hadapi nantinya." Siwon menyimpulkan.
Semuanya terdiam gugup dan takut, khususnya para Puteri Mahkota yang untuk pertama kalinya akan bergabung dalam peperangan melawan Hades.

"Ingat latihan kita sebelumnya, lindungi Kerajaan, lindungi diri kalian masing – masing, apa pun yang mereka lakukan lakukan penyerangan terbaik untuk menghadangnya. Kalian tidak sendiri, kita berjuang dan melawan bersama – sama." Zhoumi memberikan keyakinan pada masing – masing disana, khususnya para Puteri Mahkota. "Kalian memiliki kekuatan yang diperuntukkan menghabiskan mereka semua, lakukan apapun dengan penuh keyakinan, mengerti?" Keempat Puteri Mahkota menganggukkan kepala.

"Krystal?" kini giliran Yunho yang berbicara kearah Krystal. "Kau yakin akan ikut bergabung dengan kami?" pertanyaan yang sama ia tanyakkan ketika Krystal mengajukan diri untuk ikut bergabung.

Puteri Mahkota Eleanor itu mengangguk mantap tanpa ada keraguan dimatanya. "Aku tidak akan mati oleh apapun termasuk api Hades." Ucapannya terdengar penuh rasa kedendaman.

"Tidak akan ada yang terbunuh saat ini." Yunho memberikan keyakinan. "Kita tidak akan semudah itu membiarkan siapapun bisa terbunuh di tangan Hades hanya untuk perang ini." pandangan matanya menatap Chanyeol disana. "Tidak ada satu pun dari kita yang akan terbunuh, ataupun dibawa oleh Hades, aku tidak akan membiarkan itu terjadi—

"Kita tidak akan membiarkan itu terjadi. Pada siapapun." Siwon dan Ki Bum ikut bersuara.

"Sudah saatnya." Yoora memperingati. "Buka pikiran kalian agar aku bisa membuat komunikasi langsung untuk semuanya."

Mereka berkumpul dan memejamkan mata membiarkan pikiran mereka masuk dan terhubung oleh Yoora dan juga yang lainnya, setelah itu Jongin mulai membawa satu per satu pada posisi dimana mereka ditempatkan.

Suho lebih dulu dibawa oleh Jongin menuju Tower Utara Istana Eowyn, keturunan Thalin dengan kekuatan pengendali air akan menghanyutkan kawanan Hades yang menyerang dengan dengan mudah.

Dan untuk kakak beradik Tiranis—Luhan dan Jongdae bertugas di Tower Barat , seperti yang sudah diketahui kekuatan telekinesis Luhan jelas bisa memporak porandakan kumpulan penyerangan kawanan Hades dan dengan kekuatan petir yang dimiliki Jongdae tentu mampu meluluhkan mereka semua dalam sekejap.

"Kau siap?" Jongin yang baru saja kembali setelah membawa Luhan dan Jongdae, ia menanyakkan pada Kyungsoo disana dan juga memandang sekilas pada Sehun dimana adiknya itu akan berada dalam posisi yang sama dengan Kyungsoo.

"Aku siap kapanpun mungil bulat ini siap." Sehun masih sempat melontarkan guyonannya sementara yang lainnya nampak tak ada niatan untuk ikut tertawa mendengar apa yang ia katakan. Bahkan Kyungsoo yang dimaksudkan Sehun tidak mendengarkan karena jelas di wajahnya nampak kegugupan dan rasa takut yang bercampur.

"Hey.. " Jongin mendekati. "Kita berperang bersama ingat, pikirkan ini adalah latihan perang yang pernah kita lakukan."

Kyungsoo mengangguk paham, mata bulatnya masih tersirat ketakutan tapi kini dirinya lebih mudah untuk menghilangkan rasa takutnya.

"O-okey.. aku siap." Jongin menggandeng tangannya dan Sehun menghampiri dan mereka ber-teleport menuju Tower Selatan Istana Eowyn.

Yang tersisa disana hanyalah Chanyeol, Kris, Yunho, mereka bertiga akan berada di garis terdepan pertahanan untuk menyambut dan juga melakukan penyerangan terdepan menghadang kawanan Hades. Sementara ketiga Raja lainnya sudah berada di posisi masing – masing yaitu membantu pertahanan pada sisi Selatan, Timur dan juga Barat.

"Mereka tidak akan melakukan mediasi atau perbincangan sedikit pun."

"Aku tahu." Yunho menjawab dan melangkah mendekat untuk mengusap kedua lengan Yoora. "Tetap bersama Baekhyun.. apapun yang terjadi." Bisiknya pelan sembari memberikan usapan pada wajah Yoora yang mulai nampak sendu disana.

Chanyeol dan Kris tidak berucap apapun pada Yoora sebelum mereka dibawa Jongin untuk berada pada posisinya, hanya sebuah pandangan dalam yang diberikan keduanya dan pemikiran yang disampaikan pada Yoora tepat sebelum mereka menghilang.

Lindungi Baekhyun, apapun yang terjadi.


-LOVES OF TALES-


Kedatangan para mahkluk bawah tanah tidak pernah diiringi oleh suara nyanyian merdu layakanya pasukan langit dan penghuni surgawai menjajakan diri di Bumi, ketika mereka mulai merangkak naik keluar dari tanah, guncangan tanah adalah pertanda awalnya. Kerberos, adalah sebutan untuk mahkluk tersebut, menyerupai serigalan dan monster yang memiliki tiga kepala dalam satu tubuh mereka merangkak dan meraung – raung, berlarian kesembarang arah dan hanya mengandalkan penciuman juga komando dari Hades maupun Kronos.

Para pengawal Olympus yang berada di sisi Utara mulai meniupkan sangkakala, pertanda Pintu Utara Eowyn tengah dikerumuni oleh Kerberos disana.

"Kerberos sudah berada di Utara." Yoora berucap memberikan informasi pada semuanya.

Dan setelah itu sangkakala ditiupkan dari sisi Selatan dan Barat secara bersamaan, dan semuaya tahu Kerberos sudah terlihat disana.

"Aku benci mahkluk itu." Kris berucap, menancapkan pedangnya pada tanah dan bersiap memposisikaan panahnya untuk melesat.

"Kau yakin masih mau menggunakkan panah itu?" Chanyeol menanyakkan meskipun pandangannya masih menatap tajam melihat dihadapannya.

"Setidaknya ini bisa membantu meluluh lantahkan barisan depan mereka."

"Aku yakin Dragon-mu lebih mudah menghancurkan mereka dalam sekejap." Kini Chanyeol menatap Kris dengan senyuman nakalnya disertai kehadiran Phoenix yang muali terlihat di belakang tubuhnya. "Kita lihat seberapa hebat Dragon-mu melawan Phoenix."

"Kalian berdua masih sempat bertaruh tentang itu?" Yoora menginterupsi.

"Tentu saja." Kris yang menyahut.

"Unbelieveable."

Tiupan sangkakala terdengar bersamaan dari seluruh penjuru Istana, raungan dan gemuruh nampak terlihat dibalik hempasan tanah yang terguncang, para pengawal Olympus bahkan sudah terlihat berada di ketinggian langit bersiap untuk melakukan serangan awal tepat ketika Kerberos mendekat.

"Suara mereka terdengar menyeramkan." Kyungso berucap takut dengan kedua tangannya terkepal disamping badannya.

Sehun mengangguk, "Sangat menyeramkan dan karena itu kau harus menghentikkan mereka ketika menginjak perbatasan Istana." Ucapannya guna menyemangati sementara tangannya mulai bergerak pelan membiarkan pusaran angin berada dibawah kendalinya.

Jongdae yang berada ditempat berbeda juga ikut melakukan hal yang sama menciptakan beberapa kilatan petir kecil ditangannya, sementara Suho menatap tajam pada kerumunan Kerberos dengan kedua tangannya yang siap membawa pusara air yang sudah ia siapkan untuk menghadang mereka.

"Luhan, kau bisa membawa mereka semua masuk kedalam pusaran air yang aku lepaskan atau kearah Minseok supaya mereka bisa membeku dalam sekejap." Suho bersuara dan berharap Luhan bisa mendengarnya dalam pikirannya.

"This is it—" Yoora memberikan pengarahan. Sementara pandangan semuanya tertuju fokus pada suara raungan dan teriakan dari arah datangnya para Kerberos disana.—It's begin.."

To be continued…