(Silahkan baca Chapter sebelumnya)
"H-hai." Sapaan canggung satu kata itu diucapkan oleh si mungil yang kini tengah menjelma menjadi seorang wanita yang terlihat lebih bercahaya dan bahkan menakjubkan, bukan hanya Chanyeol yang merasa kagum takjub dibuatnya, semua mata yang berada disana bahkan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sang Phoenix disana.
Chanyeol benar – benar kehabisan kata –kata untuk diucapkan sebagai balasan sapaan dari Elayne meskipun raut wajahnya sangat jelas menggambarkan apa yang ia rasakan tetapi tetap saja semuanya menunggu bagaimana reaksi dirinya melihat secara langsung wujud dari Elayne yang sudah lama dinantikan kedatangannya.
"Lukamu sudah sembuh." Rasa rindu akan sentuhan halus lembut dari tangan istri mungilnya kembali ia bisa rasakan hingga membuat nafasnya tertahan bersamaan dengan gerakkan kelopak matanya yang menutup rapat demi bisa menghayati sentuhan itu dengan begiu nyata, Chanyeol masih berharap semua ini bukanlah mimpi.
"Kau terlihat lebih tampan, hm." Sebuah suara tawa kecil dan pelukan pada pinggangnya secara tiba – tiba seharusnya sudah menjawab keraguan Chanyeol saat ini, namun nyatanya masih belum cukup kuat hingga ia menggerakkan kedua tangannya untuk membawa dekapan tangan Baekhyun terlepas dan kini ia mengarahkan wajahnya untuk melihat dengan kedua matanya yang terbuka lebar disana menatapi wajah Baekhyun.
"K-ka-katakan ini sunguh dirimu!" suaranya menggebu, ada perasaan takut dan juga pengharapan penuh disana, dan Baekhyun yang sebelumnya sempat merasa aneh karena secara tiba – tiba badannya dijauhkan kini tersenyum kecil dengan kedua tangannya bergerak menarik pinggan sang suami untuk berada didekatnya.
"Apakah ini terasa nyata bagimu?" pelukannya tererat dengan kuat. "Bagaimana dengan ini? Dan kini usapan dari tangan si mungil menjamah bagian punggungnya.
Chanyeol masih tidak menjawab, matanya masih terpejam erat dan dirinya terlihat kaku merasakan itu semua meskipun dalam hatinya sungguh merindukkan apa yang dilakukan oleh Baekhyun.
"Aku merindukanmu.." bisikan Baekhyun terdengar lirih dalam eratan pelukan disertai kecupan pada leher Chanyeol disana. "Jangan katakan kalau kau melupakan ciuman—
"Aku lebih merindukanmu!" pada akhirnya pertahanan Chanyeol runtuh seketika, tidak ada lagi keraguan dalam dirinya karena sangat jelas dalam lubuk hatinya ia sungguh merindukan Baekhyun mengalahkan apapun, sentuhan dan suara rendah lembut yang selalu terngiang dalam pikirannya kini bisa ia dengan secara nyata dan tentu saja Chanyeol tidak bisa lagi menahan diri menunggu jawaban dari keraguan dalam hatinya.
Sebuah pelukan erat dan juga sedikit isakan tangis adalah sambutan berikutnya yang Chanyeol berikan pada Baekhyun, gumamannya yang terdengar dari mulut sang Phoenix dianggap sebuah hal yang langka karena semua telinga yang mendengar baru pertama kali menyaksikan kelemahan hati sang Putera Mahkota Glorfindel disana.
"Aku merindukanmu.. aku takut kau tidak bangun.. aku takut kau meninggalkan—
Dan Baekhyun tersenyum dan bahkan tertawa kecil mendengarnya. "Kau sungguh sangat merindukanku, ya?" ia bahkan menanyakkan dengan tatapan menggoda dan itu membuat Chanyeol frustasi dibuatnya.
"Sangat! Aku sangat – sangat merindukanmu." Kini tangannya mengunci wajah mungil istirnya untuk tetap terus memandanginya, "Aku mencintaimu."
Baekhyun tersenyum untuk kesekian kalinya, tangannya tergerak untuk meraih wajah Chanyeol hanya untuk memberi sedikit usapan lembut dari tangannya namun berakhir dengan sebuah kecupan singkat yang sangat berarti bagi Chanyeol disana.
"Okey, adikku mulai berani mencium pria dihadapan banyak orang—
"Chanyeol suaminya, Kris!"
Mengabaikan perdebatan antara Yoora dan Kris yang masih bisa didengar oleh Chanyeol, ia menggenggam tangan Baekhyun pada pipinya dan menyatukan keningnya dengan kening Baekhyun masih dengan matanya yang terpejam rapat, merasakan deru nafas dari sang Istri dan juga sentuhannya,
"Aku berhak mencium istriku bukan?" Chanyeol memang sengaja mengatakan pernyataan itu dalam hati dan pikirannya hanya untuk membuat Kris disana yang bisa mendengarnya dengan jelas akan merasa kesal.
Tanpa memperdulikan suara kekesalan dan gelak tawa dari Kris serta yang lainnya, Chanyeol bergerak cepat hanya mencium bibir Baekhyun yang tentu ia rindukan dengan sangat, perasaannya bahkan semakin membaik karena Baekhyun membalas perasaan rindu yang sama dengannya. Sentuhan bibir mereka saling bertemu dan melumat dalam meluapkan rasa cinta dan rindu yang mendalam satu sama lain.
"Oh, hallo? boleh aku ingatkan bahwa kita masih dalam kondisi berperang disini? Karberos terlihat mulai menyerang—
Suara Jongdae menginterupsi kegiatan dua pasangan yang tengah meluapkan kerinduan dengan mengingatkan keadaan sekeliling mereka yang masih dalam kondisi berperang melawan Hades dan juga pasukannya.
"Hyung! Ayolah!" Sehun berniat membantu karena baik Chanyeol maupun Baekhyun belum ada yang berniat menyudahi kegiatan mencium mesra.
"Astaga Adikku." Kris mengeluh, hendak bergerak cepat menuju dimana tempat Chanyeol dan adiknya saat ini namun sebelum ia mendarat sempurna disana, gerakkan tangan Baekhyun bergerak bebas ke udara melepaskan perisai pelindung yang ia miliki untuk melingkupi bagian Istana keseluruhannya.
Pandangan mata mereka jelas bisa melihat bagaimana perisai itu melindungi seluruh bagian Istana dan cukup kuat meskipun beberapa Karberos tengah berusaha mencabik – cabik untuk menghancurkan perisai itu.
"Wow, seharusnya Baekhyun melakukannya sejak awal." Minseok berkomentar, ia mencoba melesakkan tombak es-nya untuk menerobos lapisan perisai yang pada akhirnya gagal. "Bahkan tajamnya es tidak bisa menembus perisai ini.."
Bukan hanya Minseok yang dengan sengaja melakukan uji coba pertahanan betapa kuatnya perisai yang Baekhyun miliki untuk melindungi Istana dan keberadaan mereka saat ini, sang Kakak bahkan melakukan hal yang sama dengan melemparkan bola api yang berasal dari Sang Naga yang ia miliki, tapi pada akhirnya tidak ada yang bisa menembus kekuatan perisai disana.
"Well.. kita aman." Kris menyimpulkan, meskipun dalam hatinya masih merasa kesal mendapati adiknya masih begitu nyaman dicumbui oleh Chanyeol disana.
"Geez.. get a room please!" Sehun berteriak dan sengaja melemparkan kekuatan anginnya dalam kecepatan minimum kearah kedua pasangan disana dan hasilnya Chanyeol cukup terhempas jauh dari Baekhyun, gelak tawa terdengar dari semuanya karena Baekhyun-lah yang merasa cukup kesal dan membalasnya secara langsung.
Saat itulah semua orang disana menjadi saksi pertama kalinya melihat bagaimana kekuatan Cahaya bekerja. Sekujur badan Baekhyun dilingkupi oleh sinar Cahaya layaknya Matahari dan tidak ada satupun yang bertahan lama untuk menatapnya, terlebih ketika tangannya mengarahkan sinar – sinar itu untuk bergerak mendekat pada Sehun, pria itu tergeletak menggeliat untuk menghindari hawa panas dan nyeri yang mengelubungi seluruh tubuhnya hanya dalam hitungan detik, belum lagi Baekhyun bisa bergerak cepat dan berpindah tempat tanpa ada yang menyadari, semuanya menatap bingung ketika mendapati Chanyeol dan Baekhyun kini tidak nampak dalam pandangan mata mereka, meninggalkan Sehun yang terengah – enggah setelah Baekhyun tak lagi menggunakkan kekuatannya untuk menyiksa pria itu.
XXVI
"Aku tidak tahu kau bisa melakukan hal seperti tadi.." Chanyeol memiliki banyak pertanyaan dan juga bayangan pemikiran takjub atas apa yang baru saja dilakukan oleh Istrinya hanya untuk membalaskan perbuatan Sehun pada mereka, dan juga mencari kesempatan bagi mereka berdua untuk bisa menikmati waktu singkat ini untuk saling meluapkan perasaan rindu dan juga gairah yang tengah memuncak dalam diri masing – masing.
"Kekuatanku hebat 'kan." Baekhyun membalas dalam jeda ciuman mereka berdua dan setelahnya ia melanjutkan kembali, perasaan tergesa – gesa untuk melepaskan seluruh helai pakaian yang membalut badan Chanyeol menjadi target utama dan ia sungguh tidak sabar akah hal itu.
Chanyeol bahkan tidak berniat membantu karena mendapati Baekhyun saat ini tengah bergairah serta tidak sabaran adalah hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Kita tengah berperang sayang, Hades bisa saja menyerang.." Chanyeol menggoda, menyiumi leher dan bahu istrinya dan pada akhirnya berakhir dengan menghisap rakus salah satu payudara Baekhyun disana yang masih ditutupi oleh gaun yang dikenakan Baekhyun.
"Mmmhh.." Chanyeol jelas merindukan desahan yang tertahan dalam diri Baekhyun.
"Jangan mendesah keras.. mereka bisa mendengar kita.." Chanyeol mengingatkan lagi saat desahan Baekhyun terdengar cukup keras dibandingkan sebelumnya.
Sebenarnya semua itu bisa disalahkan pada apa yang Chanyeol tengah lakukan, ia dengan sengaja menggigit bagian puting payudara Baekhyun yang tengah ia hisap diiringi dengan tangannya yang tengah melesak masuk mengoyak bagian intim Baekhyun dibawah sana. Lalu pada akhirnya Chanyeol menjadi pihak yang tidak lagi bisa menahan diri, sama seperti Baekhyun, ia kini memaksakan melepaskan seluruh pakaian yang ia kenakkan, bahkan tidak memperdulikan bagian gaun Baekhyun yang sengaja ia sobek hanya untuk mempermudah membuat istrinya dalam kondisi telanjang secepat kilat.
Mereka kembali menyatu dengan gairah memuncak yang siap dilepaskan kapan saja, Baekhyun tidak lagi mengingat untuk menahan desahannya dibawah kuasa Chanyeol sama halnya dengan Chanyeol yang lebih terbuai dengan kenikmatan merasakan getaran pada pusatnya mengingat momen ini adalah hal yang paling ia rindukan.
"Aku kira kalian hanya bercumbu.. tapi wow.. kalian menyempatkan untuk bercinta hm?"
Dan tentunya percintaan mereka kembali diganggu oleh sosok Yoora yang bisa bergabung meskipun hanya suaranya disana.
Baekhyun yang bisa mendengar suara Yoora disana sontak menutup membelakkan matanya yang tengah bergerak kekanan dan kekiri, mulutnya bahkan ia gigit pelan, menunggu sahutan yang mungkin akan dilemparkan oleh Chanyeol yang kini tengah menundukkan kepalanya bersandar pada bagian dada Baekhyun.
"Y-yoorannaa.." cicit Baekhyun terdengar lebih dulu. "A-aku kan sudah membuat perisai untukku dan Chanyeol.." bibirnya mengerucut menandakkan kekesalan, matanya kini beralih memandangi sekitarnya untuk memastikan bahwa perisai yang melingkup dirinya dan Chanyeol saat ini masih terbentuk seperti sebelumnya.
"Hihi." Yoora terkikik disana. "Memang terbentuk dengan baik.. hanya saja ketika kau mendesah dalam klimaks yang baru saja terjadi, perisaimu sempat menghilang sesaat—mungkin karena perhatianmu lebih kepada proses bercinta saat itu—dan saat itulah aku masuk kedalam perisaimu ketika ia kembali menyelubungi kalian."
"Noona.. bisakah kau keluar sesaat." Chanyeol akhirnya menyahut meskipun ia masih menunduk lemas diatas dada Baekhyun, tapi setelahnya ia memandangi wajah sang istri yang tengah terlihat takut dan bingung dan bagi Chanyeol, Baekhyun masih –lah terlihat menggemaskan seperti sebelum – sebelumnya.
"Cepat diselesaikan, aku akan masuk dalam pikiran kalian bila dalam 30 menit kalian tidak juga muncul. Temui kami dihalaman depan Istana." Yoora menyahut cepat, Chanyeol dan Baekhyun masih memandangi satu sama lain, sama – sama memastikan bahwa suara Yoora tidak akan terdengar pada detik berikutnya.
"Yoorana sudah pergi?"
Chanyeol mengangguk, "Hanya sesaat, suaranya bisa muncul tiba – tiba." Chanyeol meyakinkan. Ia bahkan tidak bisa menahan diri untuk menjawil hidung Baekhyun dihadapannya dan juga mencium cepat belah bibir Baekhyun yang masih mengerucut.
"Ah.." sementara Baekhyun membalasnya dengan sebuah desahan spontan, mengingat tubuh mereka masih menyatu dengan sempurna dan gerakkan mencium yang Chanyeol lakukan tentu saja membuat bagian lain yang masih bersarang didalam tubuh Baekhyun ikut tergerak lebih dalam yang dimana merangsan Baekhyun akan kegiatan mereka yang sempat tertunda.
Chanyeol menyeringai disana, menekan kembali miliknya lebih dalam yang tentunya mengundang desahan lain keluar dari mulut istrinya dibawah kuasa badannya. Mereka tak lagi bertukar kata ucapan menyangkut permasalahan apakah suara Yoora akan terdengar kembali dipikiran mereka, karena saat ini yang terpenting adalah bagaimana menyelesaikan pelepasan gairah yang sudah tengah terlanjut muncul kembali didalam diri mereka berdua.
Loves of Tales
Olympus tidak tinggal diam diatas langit tinggi disana ketika mendapati kenyataan yang baru saja diucapkan oleh Yixing bahwa Elayne sudah kembali dan kekuatannya sepenuhnya dimiliki oleh Baekhyun—dan tentunya peperangan yang menjadi akhir dari semua perjalanan kehidupan mereka saat ini bisa dikatakan sudah mencapai pada batas akhirnya. Bila mereka tidak bisa mengalahkan Hades, tentunya kematian adalah apa yang akan mereka dapatkan. Sementara bila mereka berhasil memenangkan peperangan ini, akan menjadi sebuah kemenangan dan akhir bahagia untuk semuanya meskipun kehilangan tetap akan dirasakan karena perang yang akan terjadi adalah perang besar.
Dan Yixing disana bukan hanya menyampaikan mengenai perang yang akan terjadi, penglihatannya dan juga apa yang Yoora lihat ia jelaskan dihadapan dua belas para Dewa dan Dewi Olympus disana.
"Secepat itu?" Athena bukanlah satu – satunya dari kedua belas Dewa Olympus yang menyimak secara keseluruhan, tapi ia salah satu dari mereka disana yang membalas pernyataan Yixing dengan cepat dibandingkan yang lain.
"Bukankah ini seharusnya pertanda hal baik? Perang akan segera usai." Ares menyahuti.
"Ya, Perang akan usai dan itu berarti kehidupan mereka berakhir." Dewi lainnya ikut bersuara dan kali ini Hera sang Istri dari Penguasa Olympus.
"Reinkarnasi akan terjadi—
"Mereka akan mengalami kembali kisah ini pada reinkarnasi berikutnya! Dipisahkan kembali oleh kematian dan tidakkah kau merasa ini semakin tragis?" Athena masih dengan penuh amarahnya memotong ucapan Ares disana.
"Mereka belum merasakan indahnya kehidupannya." Athena dan Hera mengangguk setuju dengan ucapan Aphrodite.
"Mereka dianugerahi kekuatan untuk menyelesaikan perang tentu mereka sudah dibekali mental untuk menghadapi apapun kondisinya dan bagaimana akhir dari kehidupan yang mereka jalani." Lagi – lagi ucapan Dewa penguasa peperangan dan pertikaian mendapat sorotan tajam dari para Dewi lainnya disana.
Sementara satu per satu dari mereka saling melayangkan protes dari ketidak pedulian Ares mengenai perang yang akan terjadi dalam waktu yang cukup dekat dan tentunya menjadi perjalanan akhir bagi para keturunan Dewa dan Dewi Olympus—Zeus sang Dewa Tertinggi, Penguasa Olympus tidak bergeming sedikit pun dari kursi takhtanya dan diam beribu bahasa seakan – akan baginya tidak ada yang perlu ia lontarkan menanggapi apa yang Yixing sampaikan.
"Elayne adalah keturunanku!" suara Aphrodite meninggi. "Dia adalah keturunanku dan tidak mungkin aku menginginkan dia kembali merasakan kematian dan reinkarnasi berulang kali. Setelah perang ini usai meskipun mereka kalah, aku tetap menginginkan mereka merasakan kedamaian dan indahnya hidup—
"Layaknya manusia." Athena menyambung. "Ini tidak adil ketika mereka kalah dan harus kembali untuk terlahir dan merasakan perang kembali, mengalami kehilangan dan juga kejamnya sikap Hades."
Hera yang sebelumnya ikut berkomentar pada akhirnya beralih melihat kearah Sang Suami yang masih termenggu dalam diam, tangannya tergerak untuk mengusap lengan Sang Dewa Petir itu sebagai ungkapan bahwa keputusan apapun yang akan ia tentukkan pada akhirnya, semua penghuni Olympus akan mematuhinya, sekali pun keputusan itu akan merugikan keturunan mereka yang tengah mempertaruhkan nyawanya didaratan Eowyn.
Athena dan Aphrodite masih melanjutkan perseteruan dengan Ares, Apollo dan Artemis juga ikut bergabung ketika mengetahui bahwa Elayne memiliki kekuatan yang berasal dari kekuatannya mulai memojokkan Ares yang hanya berpikir bagaimana menghadapi perang tanpa memikirkan apa yang akan terjadi bagi para keturunan mereka disana.
"Kita bisa ikut turun bergabung di medan perang dan tentunya dengan mudah mengalahkan Hades disana, bahkan ketika Kronos akan bangkit kembali—kita bisa dengan mudah mengalahkannya." Poseidon memberikan jalan tengah dengan suaranya yang terdengar berat.
"Tidakkah kau ingat? Kakakmu itu melarang kami para Olympus ikut membantu mereka semua." Athena menunjuk kearah Zeus disana. "Zeus tidak mengijinkan kami membantu, untuk itulah hanya para penjaga Kerajaan yang turun tangan."
Yixing mengangkat tangannya sesegera mungkin ketika menyadari ada hal yang bisa menjadi alasan mengapa Olympus turut bergabung dalam peperangan nanti. "Yoora mengatakan Hela berada di pihak Hades dan berusaha mengambil nyawa Phoenix—
"He-Hela?" Hera terlihat tidak percaya mendengar nama Dewi Kematian bawah tanah itu disebutkan oleh Yixing.
"Iya, Yang Mulia."
"Dia tidak memiliki kepentingan disana." Athena menambahi, "Kerajaan bawah tanah tidak ikut andil dalam urusan ini."
Hera berbisik memanggil nama Zeus hanya untuk menyadarkan suaminya disana bahwa sudah saatnya Sang Penguasa Olympus itu ikut angkat bicara mengenai permasalahan yang sedang diperdebatkan saat ini.
"Brother.. kita bisa membantu mereka saat ini." Poseidon adalah Dewa tertinggi kedua setelah Zeus dan apa yang diucapkannya sering kali didengarkan dan dipertimbangkan oleh Zeus.
Semuanya kini menunggu langkah apa yang akan diambil oleh Zeus, semua mata memandangi Dewa tertinggi itu dengan penuh pengharapan tinggi termasuk Yixing disana.
"Yixing.. perlihatkan aku penglihatan apa yang kau dan Yoora dapati mengenai perang nanti." Tangan Zeus terjulur untuk menarik Yixing agar berpindah tepat dihadapannya. "Perlihatkan padaku semuanya." Perintahnya, sementara tangan Yixing kini berusaha mendekat untuk menyentuh kedua pelipis Sang Dewa dengan penuh kehati – hatian, ketika ujung tangannya menyentuh disana, penglihatan apa yang ia dapat tepat ketika Elayne terbangun dari tidur panjangnya, tersaksikan dengan jelas pada pikiran Zeus layaknya sebuah roll film, semua kejadian itu terasa nyata baginya dan bahkan terasa begitu dekat dipastikan akan terjadi.
Air matanya bahkan tak kuasa ikut mengalir karena sesungguhnya ia jelas merasakan seluruh kesedihan dan kesusahan yang dialami para Keturunan mereka dalam menghadapi Hades.
Athena dan Aphrodite yang tidak mendapatkan apa yang diperlihatkan Yixing pada Zeus seharusnya tidak perlu ikut menangis disana, namun kedua Dewi itu sudah mengerti bahwa akan ada akhir yang tidak bahagia bagi kedua keturunan mereka, yaitu Phoenix dan Elayne.
Setelah Yixing memperlihatkan semuanya, Ia berangsur melangkah mundur untuk kembali pada tempat Ia berdiri sebelumnya. Sementara Zeus masih terlihat terdiam kaku dalam posisi duduknya namun beberapa detik kemudian pada tangan kirinya terlihat kilatan – kilatan yang terbentuk sempurna menjadi sebuah tongkat tinggi, bunyi kilatan petir itu bahkan menggema diseluruh ruangan dimana mereka berada saat ini.
Tak hanya Zeus yang mengeluarkan kekuatan dan juga senjata yang dimiliki, Trisula Poseidon bahkan terlihat dalam genggamannya, sontak seluruh Dewa dan Dewi yang tengah berada disana membungkuk patuh termasuk Yixing.
"Bersiaplah untuk mengunjungi Eowyn!" Zeus akhirnya memberikan perintah yang sontak semuanya mengangguk patuh dan tentu saja bersemangat terutama Ares dan juga Athena disana. "Aku dan Poseidon akan menemui Sang Pencipta, dan Yixing.. aku perintahkan kau untuk membawa para ketiga Dewi takdir ke Eowyn sekarang juga."
Hera menjadi satu – satunya yang memejamkan matanya ketika Zeus menjelaskan perintah pada Yixing, memanggil ketiga Dewi Takdir—Goddess of Fate—menandakkan sesuatu kematian atau pun kelahiran bisa saja terjadi seusai perang ini dan bagi Hera penglihatan yang didapatkan oleh Yixing dan Yoora ia anggap adalah kejadian yang benar – benar akan terjadi.
Loves of Tales
Para Putera dan Puteri Mahkota kini tak lagi berada pada pos – pos penjagaan mereka sebelumnya. Perisai kekuatan yang dimiliki Baekhyun nampaknya sangat berandil besar hingga bisa melindungi mereka dari serangan – serangan Karberos dluar sana dan juga hempasan bola – bola api dalam jumlah besar yang diperintahkan oleh Hades.
"Apa ini cukup kuat menahan serangan – serangan bertubi mereka?" Krystal yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangan matanya melihat kearah hadapannya dimana benturan – benturan bola api yang terpecah meledak diluar sana ketika menghantam dinding perisai Baekhyun.
"Perisai ini tidak akan hancur oleh mereka." Yoora meyakinkan, memberikan jawaban pasti dari penglihatan yang ia dapat sebelumnya. "Semuanya dikendalikan oleh Elayne, ia yang bisa mengendalikan perisai miliknya sendiri—kecuali dalam keadaan tertentu." Seringai menggelikan terlihat di wajahnya yang mana dianggap sedikit aneh oleh Krystal disana yang tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kalimat akhir yang diucapkan oleh Yoora.
"Yoora-na!" keduanya menoleh mendengar panggilan Sehun yang tengah berlari menghampiri mereka. "Ayah meminta Chanyeol cepat kembali, Olympus berniat datang dan meminta perisai pelindung dibuka." Penjelasan selanjutnya dari Sehun tentunya sudah bisa Yoora bayangkan sebelumnya, ia bahkan hanya mengangguk paham dan meraih lengan Sehun untuk bisa ia rangkul sebagai sanggahan dirinya berjalan bersama.
"Dimana Ayah?"
"Seperti biasa, berkumpul dengan Para Raja, Kris dan Jongdae juga ada disana." Sehun menjawab seiring dengan pergerakkan langkah mereka yang saling berirama berjalan bersama. "Para Puteri Mahkota tengah duduk santai di ruangan tidur mereka, Luhan nampak lelah. Apa kau tahu apa yang terjadi olehnya? Aku menanyakkan padanya dan ia hanya mengatakan baik – baik saja."
Yoora tidak langsung menjawab apa yang tengah dikatakan kearahnya, ia memandangi Sehun sesaat lalu kembali melihat pada pandangan dihadapannya.
"Tidakkah menurutmu kali ini Para Puteri Mahkota bisa dipindahkan ke Olympus atau mungkin Jongin bisa membawanya bersama dengan Irene, bersembunyi di Dunia Luar." Sehun kembali memberikan komentar.
"Itu yang akan kita bicarakan dengan Olympus nantinya, Perang sesungguhnya akan dimulai Sehun, dan jawaban diakhirnya adalah siapa yang akan selamat, siapa yang akan bertahan, siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah."
Yoora memang mengatakannya secara tersirat, tapi Sehun bukanlah orang lain yang tidak mengerti apa yang dimaksudnya dengan kata – kata tersebut. Perlahan – lahan langkah kakinya tergerak untuk berhenti melangkah dan tentu saja Yoora terikut untuk menghentikkan gerak langkahnya sama dengan apa yang Sehun lakukan.
Adiknya tengah menunduk memandangi pijakan kaki yang terbentuk ditanah, wajahnya bisa dikatakan tergambar sempurna kekhawatiran dari pemikiran yang ia miliki saat ini.
"Apa aku dan Luhan akan selamat?" satu pertanyaan lengkap ia layangkan pada Yoora, dan ya, Yoora sudah tahu bahwa ada satu waktu Sehun memang menanyakkan hal itu padanya. Apakah Yoora memiliki jawabannya? Jawabannya adalah.. iya. Dia sudah mengetahui akhir dari perang yang akan terjadi, namun ada hal yang belum ia mengerti karena semuanya terlihat berbeda pada nantinya.
Yoora melepaskan rangkulan tangannya pada lengan Sehun, Ia berpindah tepat dihadapan sang Adik dan dengan sengaja menaikkan wajah milik Sehun untuk membalas pandangan matanya.
"Sesungguhnya aku tidak bisa mengatakan semuanya padamu, Penglihatanku memperlihatkan semua yang akan terjadi tapi aku tidak punya kuasa untuk mengatakannya padamu, Dewa yang memiliki kuasa itu.. bila aku mengatakan semuanya saat ini.. apabila semuanya berjalan tidak seperti apa yang aku katakan.. harapan yang aku berikan hanyalah sebuah omong kosong bukan?"
Sehun kembali menunduk lemas mendengar jawaban yang diberikan oleh Yoora padanya, "Setidaknya biarkan Luhan selamat.." dan kini isakan tangis mengiringi kalimatnya yang terucap disana. "Biarkan ia selamat dan bila aku dilahirkan kembali.. bisakah Dewa mengijinkan aku untuk bertemu dengannya dikehidupan baru, tanpa ada Hades, tanpa ada kekuatan yang kita miliki saat ini."
"Kita akan melewati kehidupan ini bersama – sama dan apapun yang terjadi pada akhirnya.. percayalah kehidupan kita akan lebih baik dari saat ini."
Sehun berbalik memandang Yoora disana, tatapan kakaknya itu terlihat sendu menerawang jauh kedepan dan sebagai adiknya, Sehun tahu bahwa Yoora tengah melihat kembali pandangan masa depan yang sudah ia dapat mengenai bagaimana akhir dari perang saat ini.
"Noona.. kenapa aku merasa bahwa kita benar – benar akan berakhir tragis saat ini?" Sehun menggenggam erat tangan Yoora dan menariknya untuk mendekat, sebuah pelukan secara spontan dilakukan oleh Yoora disana, dan hanya isakan tangis yang terdengar jelas dibalik wajah yang tenggelam sempuran pada bahu Sehun.
"Tidak apa.. ssstt.. tenanglah Noona.." meskipun Sehun sejujurnya juga merasakan kepedihan yang begitu mendalam karena pemikiran mengenai semua orang yang ada disana akan mengalami hal tragis pada akhirnya, ia masih berusaha terlihat tegar dan untuk membuat perasaan Yoora lebih tenang. "Kita akan bertemu lagi dikehidupan lain.. kita pasti akan bertemu dan aku janji akan menjadi adik yang lebih baik, hm bagaimana.." suara tawa kecil ia keluarkan untuk menggoda Yoora mengingat selama ini dirinya selalu membuat masalah terhadap ketiga kakaknya. "Mungkin aku ingin nantinya Jongin menjadi adik supaya dia merasakan bagaimana ditindas oleh kedua kakak laki-lakinya." Suara tawa renyahnya terpecah tapi Yoora tetap tidak ikut tertawa disana, gerakkan yang ia lakukan hanyalah sebuah gelengan kepala yang entah bisa diartikan sebagai jawaban setuju atau tidak.
Hingga pada hitungan menit kesekian, Yoora menegakkan kembali kepalanya, menghapus jejak air mata yang masih mengalir, bendungan air mata di kedua kelopak bawahnya bahkan masih terlihat disana. Kedua tangannya mengusap bergantian sisi kanan dan kiri pipinya, ia menormalkan kembali alur nafasnya yang masih terputus – putus dan kemudian memberikan pukulan singkat pada lengan Sehun disana.
"Aku tidak mau memiliki adik sepertimu dan Jongin." Sebuah senyuman kecil kembali terbentuk dan nampak pada wajah Yoora meskipun aliran air mata masih sedikit mengalir pada pipi wajahnya. "Bila pada kehidupan yang lain aku dilahirkan kembali, aku menginginkan memiliki adik seperti Chanyeol." Mendengar apa yang dikatakan oleh Yoora padanya, Sehun membalas dengan memberikan tatapan sinis, mulutnya bahkan mengumpat tanpa suara. Lain halnya dengan Yoora yang tertawa lepas melihat tingkah laku adiknya disana.
"Kalian disini!" dan perbincangan keduanya harus terputus karena Kris dan Yunho menyapa menghampiri mereka disana. "Yoora, dimana Chanyeol? Para Dewa akan datang sebentar lagi."
"Dia masih bersama dengan Baekhyun."
Kris mengerutkan alisnya dan tanpa disebutkan apa yang tengah dipikirkannya saat itu Yoora tentu mengetahuinya lebih dulu. "Mereka butuh waktu.. untuk melepas rindu." Ia menjawab santai tanpa memberikan arti tersirat dalam kalimatnya dan Kris hanya menggelengkan kepala.
"Melepas rindu menghasilkan baby.."
Yunho melirik jengah pada Sehun yang berkomentar disana sementara Kris menatap sinis dalam seketika.
"O-okey.. kita harus berkumpul. Sehun, panggil Luhan dan yang lainnya, Ayah, dan kau—" tangan Yoora menarik lengan Kris secara paksa dan pria itu nyatanya menuruti. "Ayo kita keruangan." Ajakannya diiyakan oleh kedua pria yang berdampingan dengannya.
...
"Apa ini akhir dari semuanya?" Baekhyun berucap pelan, masih dalam posisi terbaring nyaman diatas badan Chanyeol dan juga menikmati usapan tangan suaminya di kepalanya.
Setelah kegiatan melepas rindu dan juga percintaan mereka yang memakan waktu lebih dari tiga puluh menit—pastinya. Chanyeol masih membiarkan Baekhyun berbaring ditas badannya guna mengembalikkan kembali tenaga mereka berdua yang hampir terkuras habis mengingat keduanya sungguh sangat menggila pada sesi kegiatan bercinta sebelumnya. Dan mendengar apa yang Baekhyun tanyakkan kepadanya mengingatkan kembali pada dirinya bahwa mereka tidak akan memiliki waktu seperti saat ini setelahnya.
"Aku masih mau menikmati waktu bersama denganmu.. tapi setelah kita keluar dari ruangan ini.. perang-lah tersajikan disana, iya kan?"
Chanyeol masih belum menjawab. Tangannya masih tergerak mengusap helai demi helai rambut silver yang dimiliki Baekhyun dan pandangannya masih menatap kosong pada langit – langit ruangan Istana disana.
Baekhyun tidak lagi menanyakkan mengenai masalah peperangan yang akan mereka hadapi, wanita itu membungkam mulutnya seketika meskipun pemikirannya kembali membayangkan kemungkinan yang bisa terjadi nantinya, sama halnya dengan Chanyeol disana.
"Bila nanti kita tidak bisa mengalahkan Hades.." akhirnya Chanyeol berucap, masih dengan membelai helaian rambut istrinya serta pandangan matanya masih tertuju pada langit – langit ruangannya. "Aku menginginkan kau berada disampingku dan kita berdua tetap bersama saat Hades mengakhiri semuanya."
Baekhyun mendongakkan wajahnya berpaling untuk melihat langsung wajah suaminya disana, ia tidak menunjukkan raut wajah sedihnya, sebuah senyuman manis ia berikan kearah Chanyeol karena pria itu bahkan turut tersenyum kearahnya.
"Jangan berada jauh dariku.. nantinya." Baekhyun mengangguk.
"Aku akan mencarimu dimanapun kau berada.. menggenggam tanganmu. Seperti ini." Ia menunjukkan genggaman tangannya pada tangan Chanyeol, "Dan aku mau kau menciumku, seperti ini." Kini ia memaksa wajahnya untuk mendekat dan mencuri ciuman pada belah bibir Chanyeol.
Mereka berdua pada akhirnya kembali larut dalam pagutan penuh gairah yang berujung pada luapan nafsu di tengah – tengah keadaan hati yang sejujurnya dibalut rasa takut akan kehilangan dan juga takut menghadapi kematian yang siap menyambut mereka dalam beberapa jam kedepan. Desahan yang terdengar dari keduanya bahkan berbeda seperti sebelumnya, Baekhyun mendesah dalam kenikmatan namun diiringi dengan aliran air mata yang bukan berasala dari rasa sakit yang Chanyeol berikan padanya melainkan karena ungkapan perasaan Chanyeol dan juga keadaan hatinya yang belum siap meninggalkan suaminya disana. Sementara lain halnya dengan Chanyeol yang tidak berniat membuka matanya sedikit pun untuk melihat wajah Baekhyun disana, pria itu menahan diri agar hatinya tidak merasa sakit mengingat pemandangan wajah Baekhyun kali ini yang mungkin saja menjadi pemandangan terakhir baginya.
Loves Of Tales
Semuanya kembali berkumpul bersama, berbaur dan berbincang seakan – akan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Jongdae dan juga Sehun bahkan terlihat larut dalam perbincangan mereka hingga membuat Minseok, Luhan dan Tao disana tertawa lepas dibuatnya. Kris sebenarnya menginginkan berkumpul bersama mereka semua namun mengingat dirinya adalah Putera Mahkota Lynkestis, ia memaksakan dirinya untuk berada disekeliling para Raja, membicarakan kemungkinan yang akan terjadi saat perang kembali dimulai nantinya. Krystal bahkan ikut bergabung disana, gadis itu terlihat sangat bersemangat membahas strategi penyerangan terhadap kaum Hades.
Bunyi petir yang menggelegar diatas langit seketika membuat semuanya terdiam dan terlihat panik, Para pria disana bersiap memegang pedang mereka terlebih Kris yang melepaskan Sang Dragon dan mengirimnya ke udara hanya untuk memeriksa apa yang terjadi disana. Jongdae ikut bersiap, ditangannya telah tergenggam kilat berukuran sedang yang siap kapan saja untuk ia lepaskan. Dan Minseok juga melakukan yang sama, kulitnya kembali dibalut dengan kristal – kristal es dan tentunya tangannya tak juga nampak kosong karena tombak es sudah ada digenggamannya.
"Tetap bersamaku." Luhan menarik Tao, adiknya yang terlihat ketakutan karena hanya adiknya lah disana yang tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi para kawanan Hades.
"Bagaimana?" Zhoumi berbisik menanyakkan pada Kris disana apa yang didapat dari penglihatan Sang Naga yang sedari tadi ia lepaskan.
"Olympus sudah datang." Tapi Yoora yang baru saja masuk bersama dengan Chanyeol dan juga Baekhyun lebih dulu menjawab, dan tentunya apa yang ia sampaikan membuat semuanya kembali tenang. Terlebih Kris yang melupakan mengenai urusan naga-nya karena pria itu melangkah lebar kearah Baekhyun disana hanya untuk memberikan pelukan erat dan juga ciuman pada pipi adiknya. Ki Bum sang Raja Lynkestis juga turut melakukan yang sama, memeluk puterinya dan juga menciumi seluruh wajah Baekhyun, mereka berdua melupakan bahwa adik dan puterinya kini sudah memiliki suaminya yang sedari tadi memperhatikan dengan canggung.
"Kita harus menemui mereka." Yunho menyela, menghampiri ketiga pria disana yang berada didekat Baekhyun. "Baekhyun sayang.." ia juga menyempatkan memberikan pelukan singkat, "Kau terlihat menawan tadi." Pujiannya pada Baekhyun tentu membuat wanita itu tersenyum kecil bangga pada dirinya.
"Semuanya, kita harus bersiap." Lagi Yunho mengajak.
Mereka melangkah bersamaan dalam barisan yang teratur, Yunho, Yoora, Zhoumi berada pada barisan didepan disusul Kris, Chanyeol dan juga Baekhyun dibelakangnya. Kibum, Siwon dan Suho pada barisana ketiga dan barisan keempat diisi oleh Sehun, Jongdae dan juga Minseok, Luhan dan Tao berada di barisan kelima.
Bunyi kilatan petir terus berkumandang terdengar saling berbalasan mengelilingi Istana Eowyn disana, meskipun kilatan itu tidak masuk ke area Istana karena perisai yang dimiliki Baekhyun masih melindungi sekelilingnya, namun mendengar bunyi dari suara yang dihasilkan tentu bisa membuat semuanya membayangkan keadaan diluar Istana porak poranda akibatnya.
"Jongdae.. apa kekuatanmu sebanding dengan Zeus?" Sehun mengungkapkan pertanyaan dalam benaknya sedari tadi ia mendengar dan melihat langsung betapa kuat kilatan yang dihasilkan disana.
Sementara Jongdae menggeleng diawalnya, "Aku Putera Mahkota Lightning, dan Zeus adalah Rajanya." Jawabannya diucapkan dengan suara tawa kecil diakhirnya dan Sehun ikut tertawa dibuatnya.
"Zeus memang memberikan kekuatannya padamu, hanya sedikit." Kibum ikut masuk dalam percakapan disana.
"Wow.. benarkah?"
"Aku tidak tahu kalau Zeus memang memberikannya secara langsung." Sama seperti Sehun yang tidak percaya akan hal itu, Jongdae ikut menanyakkan kepada Kibum bagaimana bisa ia diberikan kekuatan oleh Zeus secara langsung.
"Ayahmu tidak menceritakan padamu?" kini Siwon berbalik bertanya pada Jongdae disana.
"Aku bahkan tidak tahu kekuatanku pemberian Dewa atau Dewi siapa.." Luhan ikut menyahuti.
Kibum dan Siwon saling melempar senyuman satu sama lain, "Tanyakkan pada Ayah kalian.. dan Luhan.. Dewa Ares yang memberikannya padamu."
Semuanya membelakkan matanya secara tiba – tiba, Sehun juga melakukan hal yang sama karena tidak mengira Ares adakah yang memberikan kekuatannya pada Luhan.
"Wow, Daebak." Jongdae berucap kagum.
Mereka menikmati perbincangan kecil itu dengan tentunya ungkapan – ungkapan kagum mendengar penjelasan Kibum da Siwon mengenai bagaimana Keturunan Tiranis mendapatkan kekuatan dari para Dewa Inti karena mereka salah satu keturunan para Dewa Murni, tidak ada campuran darah Malaikat, berbeda seperti Glorfindel dan juga Lynkestis yang memiliki campuran darah itu.
Semakin mereka larut dalam perbincangan, semakin juga mereka melupakan bahwa disekitarnya saat ini yang lain tengah menyaksikan bagaimana kedatangan para Dewa dan Dewi Olympus secara langsung, langit benar – benar terbelah layaknya pintu yang terbuka lebar mempersilahkan sang empunya rumah untuk berjalan keluar dari Istananya, bunyi petir dan juga gemuruh angin mengiringi kedatangannya dan tentunya guncangan tanah kali ini yang terasa bukanlah berasal dari penyerangan yang dilakukan oleh Hades, pijakan para kaki Dewa dan Dewi adalah penyebabnya.
"Aku akan memberitahumu kapan kau harus membuka celah perisai itu untuk mereka." Yoora menoleh pada Baekhyun guna memberi tahu kapan ia harus membuka perisai itu.
Chanyeol ikut menoleh, menggenggam tangan sang istri dengan begitu erat sebagai penenang karena ia jelas bisa melihat rasa gugup yang tengah dirasakan oleh Baekhyun saat ini. Kris ikut melakukan hal yang sama, dan itu semakin membuat Baekhyun mengukir senyuman diwajahnya terlebih ketika Kris membisikkan bahwa Ibu-nya turut akan datang saat ini.
Semakin dekat jarak para Dewa dan Dewi disana, guncangan tanah semakin terasa begitu hebat.
"Kau bisa membukanya sekarang Baek," Yoora memberikan isyaratnya dan Baekhyun menganggukkan kepala. Tangannya tidak terarahkan pada perisi didepannya, pikirannya lah yang mengendalikan perisai itu untuk terbuka sedikit demi sedikit membukakan jalan bagi para Dewa untuk masuk ke wilayah Istana Eowyn.
Zeus, Poseidon dan Hera lebih dulu masuk dengan wujud yang terlihat berubah pada ukuran manusia pada umumnya, disusul dengan Athena, Aphrodite, Demeter dan juga Hestia berada dibelakangnya, sementara para Dewa lainnya berurutan berada dibelakang para keempat Dewi disana. Ares, Hermes, Hefaistos, Apollo dan Artemis masing – masing memegang senjata mereka seakan – akan bersiap untuk menyambut perang kapanpun bila dimulai.
Semua menyambut dengan membungkuk memberikan hormat kepada para Dewa dan Dewi tanpa terkecuali, Baekhyun lebih dulu menegakkan badannya mengingat ia melupakan belum menutup dengan sempurna perisai yang melindungi Istana Eowyn dan sontak apa yang ia lakukan membuat para Dewi dan Hera tersenyum dibuatnya. Heechul sang Ibu bahkan tidak bisa mengendalikan untuk menahan tawa dan juga aliran matanya.
"Selamat datang kembali Ratu Eowyn." Yunho membungkuk ketika matanya melihat Yuri berada pada barisan bersama dengan para sang Istri.
Zeus dan Poseidon masih memandangi satu persatu para keturunan mereka yang terlihat dihadapannya, Poseidon lebih dulu melihat dimana Chanyeol dan Baekhyun berada dan ketika itu ia sontak berbisik pada Zeus disana. Tongkat petir yang ia pegang diketukkan pada tanah secara tiba – tiba namun bukan lah guncangan atau kilatan petir yang dihasilkan melainkan penampilan Chanyeol dan Baekhyun lah yang mengalami perubahan, pakaian mereka bukan lagi pakaian Kerajaan untuk berperang melainkan kini mereka berdua mengenakkan pakaian yang bisa dikatakan adalah wujud asli yang seharusnya dari Phoenix dan juga Elayne.
Jubah yang Chanyeol kenakkan terbalut warna merah gelap layaknya bara api yang terbakar sempurna, pedangnya terlihat menyala terang bukan dari api Phoenix, tapi itu adalah warna terang yang sama seperti cahaya yang tengah Baekhyun perlihatkan saat ini. Sementara gaun berwarna putih yang Baekhyun kenakkan semakin terlihat bersinar sempurna dan tentunya itu menutupi seluruh badannya membuat setiap mata yang melihat kearahnya harus menahan sakit karena silau cahaya yang menghalangi.
"Sudah seharusnya kalian menunjukkan siapa diri kalian saat ini." Zeus berucap pelan namun demikian wajahnya jelas terlihat keseriusan, "Perang sudah didepan mata." Kalimat berikutnya yang ia ucapkan sontak membuat suasana yang sebelumnya tengah mencair hangat kini kembali penuh ketegangan. Senyuman dari wajah Sehun dan Jongdae bahkan seketika menghilang.
"Kami tidak bisa membantu kalian secara penuh untuk mengalahkan Hades.." kini Poseidon yang angkat bicara memotong ucapan Zeus. "Ini adalah perang kalian.. ini adalah sesuatu yang harus kalian kalahkan."
Baekhyun mendengarkan sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Poseidon disana sementara Chanyeol, ia lebih memilih memperhatikan Baekhyun yang berada disampingnya, masih menggenggam tangan mungil itu dalam pegangan tangannya dan memperhatikan seksama setiap bagian dari wajah istrinya yang nampak bersinar sempurna dan hanya ia yang bisa melihatnya secara langsung tanpa harus menahan sakit karena silau cahaya yang menutupi.
"Kami sudah memanggil The Goddes of Fate.. dan biarkan mereka bertiga menyelesaikan urusannya dengan Hela dan juga Kronos."
"Kalian hanya perlu berurusan dengan Hades disini, kami akan mengurusi segala kekacuan yang terjadi di dunia luar karena anak buah Hades dan Lucifer lebih dulu memporak porandakkan keadaan disana dengan mengakibatkan perang nuklir dan juga segala kekacauan yang sulit dijelaskan." Poseidon menyelesaikan dengan cepat dan membawa kakaknya, Zeus untuk melangkah mundur.
"Masih ada waktu untuk kalian bercengkrama sedikit.. dengan para Ratu." Ia sempat berucap menoleh pada Putera dan Puteri Mahkota yang memperhatikan dirinya dan juga para Ratu mereka yang berdiri dibelakang para Dewi Olympus disana, dan setelah mendapatkan ijin, Para Ratu lebih dulu bergegas melangkah lebar untuk memeluk satu per satu anak – anak mereka.
Heechul tentu saja melayangkan pelukan pada puterinya disana, Kris dan Kibum menyusul dan memeluk mereka bedua. Tak berbeda dengan Heechul, Jaejoong disana ikut menyusul dimana Chanyeol berada, memeluk badan puterannya dengan begitu erat dan juga memanggil Yoora, Sehun serta sang suami yang sedari tadi memperhatikan ibu dan anak itu berpelukan.
"Jongin tidak berada disini." Jaejoong menyadari ketidakhadiran dari salah satu puteranya.
"Ia dijauhkan oleh Yoora, bu. Puterimu itu mengasingkan Jongin.. tapi itu berita bagus, dia pasti akan merengek kalau mengetahui Ibu ada disini." Sehun menjawab asal dan tentunya Jaejoong tersenyum melihat tingkah sang anak yang tidak ada perubahan sama sekali terhadap kakaknya itu.
"Kalian harus bisa menjaga satu sama lain. Yunho, kau harus menjaga Yoora sebaik mungkin, Sehun kau juga ikut andil disini, jaga Ayahmu, kakakmu, dan juga calon istrimu disana.."
"Aku yang akan menjaga mereka Bu." Chanyeol memotong, memeluk kembali sang Ibu dari belakang, mencium salah satu pipinya hingga akhirnya memberikan senyuman lebar diman aitu membuat Jaejoong ikut tersenyum namun dalam hatinya merasa semakin pilu mengingat kabar dari apa yang didapat oleh penglihatan Yoora bukanlah akhir yang bahagia untuk semuanya.
Jaejoong membalasnya dengan senyuman kaku ia kembali memeluk badan Chanyeol dengan begitu erat layaknya tidak ada kesempatan lain baginya untuk bisa kembali memeluk badan putera pertamanya itu.
Bukan hanya kedua keluarga terbesar yang menikmati reuni keluarga kecil mereka, Sang Ratu Eleanor dan Ratu Eowyn, Jessica dan Yuri ikut menghampiri Puteri mereka. Kyungsoo lebih dulu berlari menghampiri Yuri, memeluk badan Ibu-nya seperti yang lainnya dengan suara tangisan yang pecah dalam dekapan Yuri disana.
"It's okey.. Ibu bangga melihatmu membantu mereka disana.. kau memiliki Kekuatan yang hebat dear.."
Lain halnya dengan sang Ratu 'Es' Jessica disana, ia memang menghampiri kedua puterinya namun menutupi segala rasa kesedihan di hatinya dengan memasang wajah dingin seperti yang biasanya. Meskipun salah satu dari kedua anaknya disana sudah memperlihat rasa haru dan sedih yang terlihat jelas, Jessica sekuat tenaga menahan semuanya.
"Ibu tidak perlu repot – repot datang, sejujurnya." Krsytal menyapa, membalas raut dingin dari sang Ibu dengan memberikan raut wajah yang sama disana.
"Aku sejujurya tidak berkeinginan datang, Puteri-ku.. hanya saja ini waktu kita untuk terakhir kalinya.. tidak mungkin aku tidak meluangkan sedikit waktu untuk melihat kalian berdua."
"Hm."
"Irene tidak berada disini.. ia dibawa kedunia luar." Minseok mengakhiri sahutan keduanya dengan memberitahukan dimana salah satu anggota keluarga mereka yang terakhir. "Ia bersama Jongin."
"Adikmu tidak membantu banyak hal disini.. setidaknya mungkin ia dan Jongin bisa selamat disana.. bila ia ada disini mungkin ia lebih dulu tiada dibandingkan kalian berdua."
Suara gemuruh dan ledakan gunung – gunung berapi terdengar dari jarak cukup jauh dari Istana Eowyn namun suara – suara itu jelas membuat semuanya yang berada disana saling terdiam dan beralih untuk melihat kearah sumber terjadinya.
"Itu adalah Hades." Suara Ares memberitahukan mereka, "Ia membawa seluruh pasukan dunia bawah tanah untuk menyerang kalian." Dan penjelasan selanjutnya tidaklah membantu begitu banyak karena hanya menimbulkan isakan tangis dari para Ratu yang kini kembali memeluk putera puteri mereka satu per satu.
Chanyeol melepaskan pelukan Ibunya lebih cepat dan menyusul dimana Baekhyun berada setelah wanita itu melepaskan pelukan dari Heechul.
"Berjanji satu hal padaku." Chanyeol berucap cepat merengkuh wajah istrinya yang masih terlihat bingung disana. Baekhyun mengangguk, bersiap mendengarkan apa yang Chanyeol akan katakan padanya.
"Bila keadaan kita.. sama seperti apa yang Yoora perlihatkan saat itu.." Baekhyun lebih dulu menggerakkan kepalanya untuk menggeleng, raut wajahnya sontak berubah muram, binar matanya bahkan bisa Chanyeol lihat dengan jelas ada sebersit perasaan sedih tergambar disana hanya karena ucapannya yang belum sepenuhnya diungkapkan.
"Jangan katakan apapun lagi." Baekhyun memohon. "Seperti yang aku katakan sebelumnya, ketika semuanya memang berakhir tidak seperti yang kita inginkan, genggam tanganku dengan erat dan berikan aku ciuman terakhir. Aku ingin berakhir tetap berada didekatmu." Baekhyun mengulangi lagi permohonan yang ia inginkan sebelumnya dan Chanyeol mengangguk mengiyakan permohonan yang dikatakan Baekhyun.
"Kau berjanji 'kan..?" Baekhyun masih ingin memastikan suaminya itu mendengar apa yang ia ucapkan dan tentunya akan melakukan hal yang ia inginkan nantinya.
Pria itu menatap wajah Baekhyun dengan tegap, mengusap bagian pipi dari wajahnya dengan begitu lembut sebelum ia memberikan sebuah ciuman singkat di bibir istrinya, "Aku berjanji." Ucapannya tegas dan penuh pengharapan.
.
.
Para Pengawal Istana Olympus menyerukan kepada Para Ratu untuk bersiap kembali menuju Olympus mengingat kedatangan Hades dan para kawanannya kembali menyerang Istana Eowyn sudah hampir mendekati lokasi mereka saat ini, setelah mereka kembali berpamitan, memberikan pelukan terakhir para Ratu lekas ditarik pergi menuju Olympus dalam sekejap dan kini semuanya kembali dihadapkan pada kenyataan perang tengah siap menyambut mereka.
"Apa ada yang memikirkan strategi untuk perang kali ini?" Kris menanyakkan pada siapapun disana yang mendengarnya karena ia tahu semua fokus pandangan mata dan pikiran tengah dipusatkan pada suara deru langkah dan juga raungan dari pasukan Hades yang masih berada cukup jauh dari lokasi Istana mereka berada.
"Yoora, Luhan dan Tao, kalian harus selalu bersama, Baekhyun akan melindungi kalian dengan perisainya." Ucapan Chanyeol baru saja selesai terucap namun Baekhyun sudah menyelesaikan membuatkan perisan untuk ketiga orang disana.
"Aku bisa membuatkan perisai untuk kalian semua." Suara sang Istri terdengar sombong, raut wajahnya bahkan terlihat seolah – olah ia tengah membanggakkan kekuatan yang ia miliki saat ini meskipun pada kenyataannya Baekhyun menang bisa melindungi satu per satu dari mereka dengan perisainya.
"Ini sangat membantu kami Baekhyun," Siwon mengucapkan pujian setelah ia melihat bagaimana perisai yang dimiliki Baekhyun melingkupi dirinya.
Perbincangan mereka kembali berakhir ketika merasakan guncangan tanah yang lebih dahsyat dibandinkan sebelumnya, guncangan itu bahkan kembali merusak pepohonan dan juga bukit – bukit yang terlihat disekeliling Istana Eowyn.
Tidak perlu dijelaskan lebih rinci bagaimana raut wajah dari semuanya yang berada disana karena ketakutan jelas tergambar pada siapapun termasuk para keempat Raja mereka.
"Siapapun yang menanyakkan strategi penyerangan untuk perang kali ini.." Zhoumi melangkah untuk berada diposisi terdepan dibandingkan yang lain. "Tidak ada strategi khusus seperti sebelumnya." Pandangan matanya menatap satu per satu seakan – akan mengingatkan bahwa sudah seharusnya mereka merasa takut menghadapi apapun nantinya. "Kita tidak butuh strategi seperti sebelumnya karena sejujurnya yang harus kita pikirkan bagaimana caranya untuk menyerang dan membunuh apapun-siapapun yang ingin membunuh kita." Ucapannya kini penuh dengan tekad dan semangat, tangannya bahkan terkepal kuat.
Ia berbalik kembali memandangi gemuruh dimana pasukan Hades tengah mengarah kearah mereka, "Gunakkan kekuatan kita untuk menghabisi mereka dan.. saling melindungi dan menjaga satu sama lain."
Yunho melangkah maju untuk menyamakan posisi bersama Raja Tiranis itu, disusul dengan Kibum dan juga Siwon yang berada disamping kanan dan kiri, keempat Raja itu jelas siap melawan siapapun yang tertangkap pada pandangan mata mereka, sayap Yunho dan Kibum bahkan terbuka pada punggung mereka sementara Siwon mulai menggerakkan tangannya untuk mengeluarkan pedang yang ia miliki dan sama halnya seperti yang dilakukan Zhoumi disana.
Sementara itu Chanyeol dan Kris ikut menyiapkan Phoenix dan juga Sang Naga mereka, dimana masing – masing kini berada dibelakang sang tuan yang tengah melangkah untuk berdiri berdampingan dengan para Raja lainnya. Ada pemandangan lain yang cukup menarik dilihat disana, Phoenix bukan lagi menurut dengan apa yang diperintahkan oleh Chanyeol, melainkan kini burung api itu ikut membawa Baekhyun berada disampingnya dan bagi setiap mata yang melihat perpaduan kekuatan itu dibuat takjub melihatnya karena cahaya yang berada dibelakang Phoenix membuat api yang dimilikinya berubah warna menjadi biru terang bukan lagi berwarna api merah padam.
Yoora yang masih berada dibelakang barisan mereka menatap satu per satu dan kembali mengulang penglihatan yang sebelumnya ia dapati mengenai bagaimana akhir dari peperangan kali ini, dan hasil yang ia dapati masihlah sama dengan apa yang ia lihat sebelumnya dan tentu membuat dirinya kembali berusaha keras menahan diri untuk tidak meluapkan apa yang ia rasakan dan membuat yang lainnya putus asa sebelum berperang.
Air matanya berusaha ia tahan sekuat tenaga namun tepat ketika pandangan mata Chanyeol tertangkap oleh matanya, air matanya mengalir begitu pelan membasahi pipi wajahnya. Chanyeol bukanlah menatap dirinya dengan raut wajah kesedihan, adiknya disana menoleh dan menatap kearahnya dengan sebuah senyuman yang Yoora tahu itu adalah senyuman kebohongan untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya.
"Jangan bersedih, perang baru saja akan dimulai."
"Chanyeol.."
"Seharusnya kau bangga, kita semua bisa memenangkan peperangan melawan Hades."
...
"Bila itu adalah takdirnya.. kita harus menerimanya Yoora."
...
"Asalkan Baekhyun hidup setelah ini, aku menerima semua takdir itu dengan senang hati. Aku memberikan dia kehidupan lebih baik bukan? Tidak ada Hades dan semuanya bisa hidup dengan tenang, lagipula ada satu bagian dariku yang akan hadir nantinya.."
...
...
"Luna."
Pejaman matanya semakin erat menahan kesedihannya, nafasnya bahkan ia tahan dengan sekuat tenaga diiringi dengan genggaman tanganya yang erat tertahan didada. Fokusnya bahkan tidak bisa terpusatkan sepenuhnya saat Yunho memerintahkan penyerangan bagi pengawal Istana untuk membantai pasukan Karberos disana.
Ia hanya tahu pasti ketika Chanyeol mengarahkan sang Phoenix keudara, Kris membawa Naga-nya menghabisi paskan terdepan Hades, Sehun membawa badai topan memporak porandakan sekeliling mereka dan juga membawa pasukan Hades terombang – ambing diiringi dengan kilatan petir yang Jongdae berikan, juga ketika Luhan dan Kyungsoo bekerja sama menggunakkan kekuatan mereka untuk membunuh siapapun yang terlihat disana, Minseok yang menghujami hujan es dengan runcing tajam dan semaunya terfokus memberikan perlawanan dengan kekuatan yang mereka miliki—mereka sudah menyambut perang akhir dunia.
.
.
.
To be continued...
