Pervert Boy Chapter 1

Author : Bacon14

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life, Genderswitch

Rated : M

Main Cast :

- Byun Baekhyun

- Park Chanyeol

- Oh Sehun

Additional Cast :

- Xi Luhan

- Kim Minseok

- Kim Jongdae

Happy Reading😁

"Luhan noona, ayo kita makan! Aku membawakan bulgogi kesukaanmu." Sehun kembali menawarkan makanan pada Luhan untuk kesekian kalinya. Luhan hanya menggeleng dan kembali menatap jendela dengan tatapan kosong. Sehun menghela nafas panjang dan mendekati Luhan. Ia menatap lekat mata rusa Luhan. Mata rusa yang dulu akan selalu membuatnya nyaman bersamanya. Kini, mata rusa itu tak bersinar seperti dulu. Sinarnya redup dan tertutupi oleh kabut gelap. Sehun benar-benar hancur melihat seseorang yang ia sayangi hidup seperti zombie.

Sehun mengelus pipi Luhan. Pipinya semakin tirus tak se-chubby dulu. Sehun meringis saat melihat luka sayatan di pergelangan kiri Luhan. Luka sayatan yang dibuat oleh Luhan sendiri menggunakan pisau lipat. Bukan hanya di pergelangan tangan, perut dan bagian punggungnya juga terdapat banyak luka gores panjang. Luhan terlalu sering melakukan upaya bunuh diri. Oleh karena itu, Sehun menyewa beberapa maid untuk mengurus Luhan.

Sehun mendekap Luhan, membawanya ke pelukan yang menenangkan. Berharap Luhannya seperti dulu selalu membalas setiap pelukan hangat Sehun. Berharap Luhan akan mengusap rambutnya dan tersenyum hangat. Namun, Luhannya sekarang diam. Matanya kosong menatap jendela kamar. Tidak ada lagi sinar kehidupan di kedua mata rusanya. Hanya ada kesedihan, ketakutan, dan kesakitan yang begitu mendalam.

Sehun melepaskan pelukannya dan menatap mata kosong Luhan. Dalam mata kosongnya, tersimpan perih amat dalam. Sakit hati yang menohok, yang terus disimpannya sendiri. Sehun tidak bisa melakukan apapun untuk membahagiakan yeoja yang dicintainya ini. Hanya berdoa dan berharap Luhannya akan kembali menjadi Luhan yang hangat dan optimis akan kehidupan.

"Aku akan membalas perbuatan Chanyeol padamu, noona. Tunggu aku. Saranghae." Sehun melumat bibir cherry Luhan. Namun, tak ada respon yang berarti. Luhan diam bak patung. Sehun melepas tautan bibirnya dan mengusap rambut Luhan dengan lembut. Sekali lagi ia memeluk tubuh ringkih Luhan yang semakin hari hanya terlihat tulangnya saja.

"Tolong urus dia dengan baik." Beberapa maid mengangguk dan membungkuk hormat ke Sehun. Sehun menyerahkan piring berisi bulgogi ke tangan para maid dan beranjak pergi. Ia melirik sekali lagi Luhan yang tidak bergerak dari tempatnya sedikit pun. Tangannya mengepal dan urat-urat di area wajahnya mulai muncul. Kemarahan merasuki dirinya dan pikiran akan membalas dendam terngiang-ngiang di otaknya.

"Tunggu saja pembalasanku, Park Chanyeol."

#######

"Baekhyun sunbae." Sehun berlari-lari mengejar Baekhyun yang berjalan beriringan dengan Chanyeol. Baekhyun menoleh dan tersenyum manis pada hoobae yang paling dekat dengannya saat ini.

"Ne, Sehunnie? Ada apa?" Chanyeol terlihat tak suka saat Baekhyun tersenyum manis pada Sehun. Chanyeol akui dia cemburu ketika Baekhyun tersenyum begitu manis untuk Sehun. Baekhyun tidak tahu Sehun itu namja yang bisa menyakitinya kapan saja untuk menghancurkan dirinya. Sehun melirik sekilas ke arah Chanyeol. Ia melihat tatapan membunuh dari Chanyeol kepadanya. Namun Sehun tidak ambil pusing dan tetap tersenyum pada Baekhyun.

"Ehm...Begini, Baekhyun sunbae. Ada tugas yang aku tidak mengerti? Bisakah kau datang ke rumahku, dan membantuku belajar?" Sehun tersenyum malaikat pada Baekhyun yang dibalas dengan senyuman manis oleh Baekhyun. Chanyeol terlihat geram dan mempererat pelukannya pada Baekhyun. Baekhyun mulai merasa tidak nyaman dengan pelukan Chanyeol yang terlalu erat. Ia beberapa kali berusaha melepaskan tangan besar Chanyeol di pinggangnya tapi itu mustahil. Tangan besar Chanyeol memeluk pinggang sempitnya terlalu erat dan sesak.

"Jangan panggil aku Sunbae, Sehunnie. Panggil dengan Baekhyun noona atau Baekkie." Baekhyun mengabaikan Chanyeol yang semakin mempererat pelukannya. Ia malah menampilkan eye smile yang menawan pada Sehun. Sehun membalas senyum Baekhyun dan melirik tajam ke arah Chanyeol. Bibirnya membentuk seringai yang ditangkap oleh mata Chanyeol.

"Jangan panggil dia Baekkie. Panggil sunbae saja sudah cukup, kan?" Chanyeol menatap tajam Sehun yang tersenyum manis. Baekhyun cemberut dan malah memeluk Sehun dari samping, membuat Chanyeol makin geram. Chanyeol berusaha mengontrol amarah dalam dirinya saat Baekhyun terlihat sangat akrab dengan Sehun. Seolah-olah Chanyeol tidak nyata dan tidak ada disana. Baekhyun dengan asyiknya mengabaikan keberadaan Chanyeol dan mengobrol dengan Sehun.

"Panggil saja Baekkie tak apalah. Tak usah hiraukan namjachinguku ini." Baekhyun tersenyum manis. Chanyeol benar-benar kesal dan menarik rahang Baekhyun, lalu menciumnya kasar. Baekhyun meronta dalam ciuman kasar Chanyeol. Sebuah seringaian muncul di bibir Chanyeol sambil bibirnya dengan handal melumat bibir tipis Baekhyun. Memain-mainkan sang yeoja dengan handal menggunakan bibir kissablenya.

"Mmmpth.. Hen-... Mpth..tikan... Mptttthhhh..." Sehun hanya memutarkan bola matanya malas saat melihat adegan french kiss yang dilakukan mereka berdua. Ia hanya melipat dadanya dengan bosan. Apa dia sedang unjuk pamer sekarang? Sehun akan tunjukkan nanti betapa lihainya bibirnya dalam berciuman saat dia sudah berhasil merebut Baekhyun dari Chanyeol.

Baekhyun melepas paksa ciuman kasar itu. Ia tersenyum canggung pada Sehun yang mengerjap-ngerjapkan matanya polos. Chanyeol mendengus kesal saat melihat tatapan polos yang dibuat-buat Sehun untuk mengelabui yeojachingunya.

"Kita akan belajar di rumahmu nanti, Sehunnie. Siapkan pancake strawberry ya. Kabari aku kapanpun kau mau." Baekhyun tersenyum dan mengacak rambut namja yang dianggap adiknya sendiri ini. Sehun tersenyum dan berlari ke kelasnya. Tak lupa melambai-lambaikan tangannya pada Baekhyun. Chanyeol mendecih kesal dengan semua bualan yang dilakukan Sehun. Ia sangat tahu Sehun memiliki rencana untuk menghancurkannya lewat Baekhyun dan ia harus melindungi Baekhyun bagaimanapun caranya.

Chanyeol benar-benar ingin menghabisi namja albino itu dengan tangannya. 'Mau apa dia dengan Baekhyunku?' batinnya. Chanyeol tidak tahu apa yang akan dilakukan Sehun pada Baekhyun saat di rumahnya. Ia tidak mungkin ikut ke rumah itu karena Baekhyun akan menganggapnya pengganggu dan Baekhyun akan marah padanya. Ia tidak suka Baekhyun marah padanya.

Chanyeol menyenggol lengan Baekhyun, mencoba merayunya untuk tidak pergi ke rumah Sehun. Baekhyun menengok ke arah Chanyeol. Ia malah tersenyum manis sehingga Chanyeol tak jadi memarahi yeojachingunya. Ia tak tega memarahi yeoja imutnya. Tangan besarnya malah mengacak poni Baekhyun dan mencium keningnya. Pipi Baekhyun perlahan merona dengan tingkah manis namjachingunya.

"Ayo, kita pergi, Baekkie." Chanyeol merangkul bahu Baekhyun yang dibalas dengan pelukan Baekhyun di pinggang Chanyeol. Mereka saling tertawa satu sama lain sambil berjalan ke kelasnya.

Di balik tembok, Sehun menatap kepergian pasangan BaekYeol. Bibirnya menyeringai. Ia meneguk ludahnya saat melihat tubuh Baekhyun. Yah... Sehun akui Baekhyun sangat cantik dan badannya wow. Ia memang dekat dengan Baekhyun akhir-akhir ini karena pertemuan yang tidak sengaja. Tapi setiap bertemu Baekhyun ia selalu menghindar ketika Baekhyun ingin mempertemukannya dengan Chanyeol. Ia tidak mau rencananya rusak begitu saja. Ia ingin Chanyeol mengenalnya bukan sebagai orang yang dikenal Baekhyun tapi sebagai orang yang membalas dendamnya. Tujuannya agar Chanyeol tidak lupa akan dirinya karena biasanya Chanyeol melupakan orang yang baru dikenalnya.

"Apakah kau yakin Baekhyunmu akan tetap bersamamu? Apakah kau tak takut jika Baekhyunmu jatuh dalam pesona Oh Sehun? Hehe..."

#######

Sehun berjalan sendirian di jalan raya menuju rumahnya. Memang ia terbiasa sendiri tanpa teman-teman. Hanya Luhan noona yang biasanya menemani dirinya pulang tapi yeoja cantik itu sedang menderita karena Chanyeol. Sehun menghela nafas panjang saat memori Luhan terus menyerbu dirinya, membentuk rol film tanpa henti.

( Flashback On)

"Sehunnie.. Ayo kita pulang." Sehun menggeleng dan masih memantul-mantulkan bola basketnya. Kala itu dia masih kelas IX dan Luhan sudah menginjak kelas X. Luhan menghela nafasnya dan mendekati Sehun.

"Hey Bocah tampan tidak boleh menangis." Luhan mengambil tissue dalam tasnya dan mencoba memberinya kepada Sehun. Sehun tidak mengambil tissue dari Luhan dan malah tetap memantul-mantulkan bola basket. Dia melompat dan berhasil memasukkan bolanya ke dalam ring basket. Setelah itu dia terduduk sambil mengatur nafasnya, matanya tidak henti-henti menjatuhkan air mata.

"Ada apa denganmu, Sehunnie?" Sehun langsung menghambur dalam pelukan Luhan. Ia menangis sesenggukan dan memeluk Luhan dengan erat.

"Apa mereka menjahilimu lagi? Aku akan beri pelajaran pada mereka.." Sehun menggeleng dan menyamankan tubuhnya dalam pelukan Luhan.

"Sehun tidak mau kalau mereka menyakiti noona karena noona sangat berharga untuk Sehun. Noona hanya milikku dan aku tidak mau tangan-tangan mereka menyentuh noona." Luhan terkikik geli dengan kata-kata polos yang terucap dari bibir Sehun. Sehun bukanlah namja yang polos yang mengatakan sesuatu tanpa makna tersembunyi. Memang ucapannya benar kalau Luhan hanya miliknya. Luhan tidak boleh untuk orang lain. Luhan hanya milik Sehun..

"Ne... Ne... Luhan hanya milik Sehun." Luhan mengacak rambut Sehun dan menciumnya gemas. Sehun sangat tahu ucapannya hanya dianggap candaan belaka. Luhan hanya menganggapnya sebatas adik kecil dan sahabatnya. Yah... Hanya sebatas itu. Luhan tidak memiliki perasaan apapun pada Sehun. Tidak seperti Sehun yang sudah lama menyimpan perasaan pada Luhan.

"Yaksok? Noona hanya milik Sehunnie?" Luhan mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sehun. Bibirnya membentuk senyum manis dan matanya menyipit membentuk eye smile cantik. Sekali lagi Sehun terjatuh dalam pesona manis Luhan.

"Kajjaa..kita pulang." Sehun berdiri dan menggenggam tangan Luhan. Walaupun masih kelas IX, tubuh Sehun jauh lebih tinggi dari Luhan karena pertumbuhannya terlalu cepat. Mereka berdua berjalan beriringan sambil tertawa satu sama lain.

( Flashback Off)

Sehun menatap miris ke arah jalanan saat ingatan itu menyerangnya. Luhannya yang tersenyum manis padanya. Luhannya yang memeluknya dengan hangat saat dirinya menangis. Luhan terlalu berharga untuk Sehun. Sehun terlalu larut dalam pikirannya hingga tidak menyadari beberapa orang mulai mengerubungi dirinya.

"Xiumin hyung dan Chen maju dan tangkap dia. Bawa dia ke markas." ucap seseorang. Sehun yang menyadari dirinya mulai dikepung beberapa orang langsung bersiap siaga.

Sehun hanya menatap mereka datar. Sehun sudah hafal dengan wajah pengikut setia Genk Wolf pimpinan Chanyeol. Ck.. Menganggu saja. Apa tidak bisa dia pulang tanpa babak belur?

"Kenapa hyung? Mau menangkapku lagi eoh?" Sehun tersenyum miring. Xiumin dan Chen terkekeh menghadapi mangsa Genk Wolf. Yah... Akhir-akhir ini Sehun terlalu sering 'berkunjung'' ke markas Genk Wolf. Berkat tindakan beraninya yang menantang Chanyeol, Sehun rutin 'berkunjung' ke markas Chanyeol.

"Kalau iya.. Memang kenapa, Sehunnie?" Xiumin menjetikkan jarinya dan beberapa menit kemudian anak buahnya datang mengerubungi Sehun. Anak buahnya membentuk lingkaran sambil membawa beberapa pemukul di tangannya. Sehun mendengus saat melihat semua anak buah Chanyeol yang hanya berani keroyokan.

"Tangkap dia." Sehun mulai memasang kuda-kuda melawan semua anak buah Xiumin. Tapi, apadaya tenaganya kalah dengan anak buah Xiumin yang jauh lebih besar dari dia.

Anak buah Xiumin memborgol tangan Sehun dan menjatuhkannya di depan Xiumin. Xiumin dengan kasar menjambak rambut pirang Sehun. Membuat sang pemilik mengerang. Xiumin meludah di depan wajah Sehun sambil terkikik geli melihat wajah Sehun yang penuh memar.

"Bagaimana rasanya? Sakit?" Xiumin melepas rambut Sehun dan menjatuhkan tubuh Sehun yang sudah penuh lebam ke tanah. Sehun berusaha bangkit namun punggungnya ditekan dengan keras oleh salah satu kaki anak buah Xiumin. Entah berapa tulang rusuknya patah akibat perkelahian ini. Padahal beberapa hari yang lalu, luka lamanya baru saja sembuh.

"Chen, bawa ke markas." Chen mengangguk dan menyuruh beberapa anak buah mengangkat Sehun ke markas. Sehun mulai hilang kesadaran saat seseorang menyuntikkan bius ke dalam tubuhnya.

"Luhan..."

#######

"Tidak lelahkah kau Oh Sehun? Setiap hari merasakan pukulan di sekujur tubuhmu?" Chanyeol mengitari kursi dimana Sehun didudukkan dengan tangan terikat borgol. Sehun yang sudah tersadar dari obat bius menatap Chanyeol dengan tajam. Matanya tidak bisa fokus akibat hantaman pukulan di area matanya.

"Cukup beritahukan saja. Apa yang mau kau lakukan dengan Baekhyun? Dan kau akan bebas untuk selamanya." Chanyeol berlutut menyejajarkan wajahnya dengan wajah Sehun. Tangannya memegang dagu Sehun dengan kasar dan membiarkan mata Sehun melihat dirinya.

Sehun menggeleng keras dan menatap tajam Chanyeol. "Aku hanya ingin membalaskan dendam Luhan noona" Desis Sehun. Chanyeol menendang dada Sehun hingga kursi yang mengikay Sehun jatuh.

Tidak cukup dengan itu, Chanyeol menampar wajah Sehun. Ia sangat frustasi. Di pikirannya, kini hanya ada Baekhyun. Ia tak tahu jalan pikiran Sehun. Apa yang ingin dilakukan Sehun? Baekhyun itu tidak bersalah. Kenapa harus dilibatkan dalam pembalasan dendam Sehun?

"Aku tak tanya tentang pembalasan dendammu dengan yeoja jalang itu." Sehun melebarkan matanya saat Luhan dikatakan yeoja jalang oleh Chanyeol. Chanyeol tertawa dengan reaksi Sehun. Semua penyesalan yang beberapa hari menyergapnya langsung menghilang begitu saja. Sehun menggertakkan giginya kesal dengan ucapan kasar Chanyeol. Padahal dulu Chanyeol sangat mencintai Luhan dan sekarang lihatlah bajingan ini mengatakan Luhan yeoja jalang. Siapa yang brengsek disini hah?

"Kenapa dengan reaksimu?" Sehun mengepalkan tangannya erat-erat. Chanyeol menunduk dan menatap dingin ke arah Sehun. Semua terasa mencekam. Aura tidak mengenakkan keluar dari diri Chanyeol.

"Aku hanya bertanya satu kali. Apa yang akan kau lakukan kepada Baekhyun?" Sehun tersenyum miring. Ia menggelengkan kepalanya. Ia enggan menjawab pertanyaan Chanyeol. Tidak mungkin ia membocorkan rencananya pada Chanyeol. Walaupun dia bisa saja mati di tangan Chanyeol, tapi ia akan mati-matian membalaskan dendamnya pada Chanyeol.

Chanyeol sudah beberapa hari ini menyiksa Sehun sejak ia memberitahukan ingin menyakiti Baekhyun. Berbagai macam cara agar Sehun membuka mulut tapi tak ada hasil. Sehun terlalu keras kepala. Chanyeol tidak tahu bagaimana lagi cara untuk membuka mulut Sehun.

Chanyeol tak habis pikir. Apa yang akan dilakukannya pada Baekhyun? Baekhyun bahkan tak memiliki kesalahan apapun pada Sehun. Bahkan, ia sangat baik pada Sehun. Apa rencana Sehun kali ini? Chanyeol tidak membayangkan hal keji apa yang akan dilakukan Sehun padanya. Baekhyun adalah yeoja yang baik, lembut, dan manis. Ia harusnya tidak terlibat dalam permasalahan Sehun dan Chanyeol. Sekarang prioritas utama Chanyeol adalah melindungi Baekhyun sebaik mungkin dari Sehun.

"Baiklah... Aku tidak akan memaksamu. Hiduplah sesukamu. Tapi kuperingati kau... Aku akan melindungi apa yang menjadi milikku dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya termasuk bajingan kecil seperti kau." Chanyeol melirik ke arah dua anak buahnya dan meminta mereka melepas Sehun. Kedua anak buah Chanyeol melepas borgol Sehun dan membiarkan Sehun pergi. Chanyeol melihat kepergian Sehun dengan dingin. Tatapan yang menusuk dan tajam diarahkan ke arah Sehun yang berjalan tertatih-tatih.

"Aku akan lindungi Baekhyun apapun caranya.." Chanyeol mengepalkan tangannya erat, menahan amarah dalam dirinya yang mungkin saja meledak begitu saja.

#######

Sehun berjalan tertatih-tatih akibat luka yang diterimanya. Hanya satu tujuannya yaitu ke rumah Luhan. Matanya mulai mengabur seiring dengan perihnya luka menjalar di tubuhnya. Untungnya, Tuhan sangat baik pada dirinya. Ia berhasil sampai di depan gerbang rumah Luhan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari markas Chanyeol.

Tangannya memencet bel rumah sebelum tubuhnya tidak sadarkan diri. Salah seorang maid keluar dan terkejut dengan kondisi Sehun. Ia memanggil beberapa maid lain dan membawa Sehun ke dalam rumah.

Luhan tidak bergeming saat para maid membawa Sehun ke dalam kamarnya karena kamar lainnya sangat kotor dan penuh debu. Para maid tidak punya tempat lain untuk menaruh Sehun selain kamar Luhan. Luhan bahkan hanya duduk di kursi sambil menatap kosong jendela. Padahal Sehun tengah terluka parah dan mungkin saja sedang meregang nyawa di hadapannya.

"Nona.." Seorang maid menggoyang lengan Luhan dan Luhan menoleh sedikit ke arahnya. Hanya bertahan sebentar saja, sebelum Luhan kembali menatap kosong jendela tersebut. Maid tersebut menghela nafas. Yah.. Mustahil berbicara dengan Luhan untuk meminta ijin menggunakan kamarnya.

"Nona.. Aku minta izin memakai kamar ini." Luhan tidak bereaksi dan tetap menatap jendela kosong seakan itu merupakan kesenangannya saat ini. Para maid bertatapan satu sama lain dan beberapa mengambil air, handuk, dan kotak P3K.

"Ah...Tuan Sehun maafkan aku dengan kelancanganku ini." Salah seorang maid menggunting baju Sehun untuk mempermudah mereka dalam mengobati luka Sehun.

"Astaga.." Para maid bergidik ngeri dengan tubuh Sehun ( bagian dada). Banyak sekali luka gores, memar, bahkan beberapa tusukan pisau yang belum mengering menghiasi dada bidangnya. Dengan hati-hati, para maid mengobati luka Sehun lalu memberinya perban untuk menutupi lukanya.

"Lebih baik kita bawa ke rumah sakit. Jika keadaannya separah ini, kita tidak akan mampu mengurusnya. Kita bukan dokter." ujar salah satu maid. Maid-maid lainnya mengangguk setuju.

"Bagaimana dengan nona Luhan jika kita pergi ke rumah sakit?" Semua maid langsung menatap Luhan dengan sendu. Kondisi Luhan juga sangat buruk. Ia tidak bisa ditinggalkan sedetik saja karena jika dia ditinggalkan, Luhan akan mencoba bunuh diri.

"Kita panggil ambulance. Jung, tolong ambilkan ponselku." ujar kepala maid. Maid yang dipanggil Jung itu langsung bergegas mengambil ponsel milik kepala maid dan memberikannya kepadanya.

Setelah beberapa menit, ambulance datang dan membawa Sehun ke sebuah rumah sakit. Beberapa maid ikut dalam ambulance untuk mengetahui perkembangan Sehun. Beberapa maid lainnya menjaga Luhan.

#######

Baekhyun tengah berada di rumah sakit karena kakinya terkilir saat bermain voli. Dokter mengatakan kakinya akan sembuh dalam 1-2 minggu. Hal ini membuat Baekhyun sedih. Baekhyun tidak bisa mengikuti pertandingan voli yang diselenggarakan sekolahnya.

"Cepat! Bawa pasien ini ke UGD." Baekhyun merasa penasaran dengan suara teriakan dari salah satu suster. Ia melirik ke arah ranjang yang melewati dirinya dan terkejut dengan Sehun yang bersimbah darah serta penuh luka.

"Sehun... Sehun..." Baekhyun tidak bisa menahan lagi air matanya. Dengan terseok-seok ia mengikuti ranjang yang membawa Sehun ke UGD. Tubuh Baekhyun bergetar ketakutan. Memori lama terputar di otaknya saat Chanyeol berada di posisi Sehun terbaring dengan luka tembak di kaki, dan perutnya. Baekhyun masih ingat jelas saat Chanyeol harus koma dalam beberapa hari dan ditempeli berbagai selang untuk menunjang hidupnya. Saat itu Baekhyun ingin sekali menggantikan posisi Chanyeol agar Chanyeol bisa tetap hidup.

"Sehun... Sehun.." Baekhyun mengambil ponselnya dan menelepon Chanyeol cepat. Tangannya bergetar ketakutan. Hanya Chanyeol yang ada di pikirannya.

"Ne, chagi?" Bibir Baekhyun rasanya kelu dan kering hingga tidak bisa berucap satu kata pun.

"Waeyo, chagi? Gwenchanayo?" Baekhyun menggeleng seolah-olah Chanyeol akan tahu apa yang dilakukan Baekhyun. Tangannya bergetar tidak karuan dan tubuh mungilnya sudah merosot ke lantai. Nafasnya tersengal dan air mata tak kunjung kering dari kedua mata kecilnya.

"C-cepatlah kesini, C-chan. Sehun.. Sehun.." Chanyeol mematikan ponselnya dan langsung naik ke atas motor. Menghiraukan beberapa pertanyaan dari para anak buahnya. Chanyeol sangat tahu trauma yang dialami Baekhyun. Baekhyun akan kesulitan bernafas saat melihat darah dimana-mana. Suhu tubuhnya akan naik dan ia bisa saja pingsan.

"Kau dimana, Baek?" Chanyeol berusaha fokus dalam menyetir motor dan menunggu jawaban Baekhyun. Suara Baekhyun terdengar lemah dan parau. Chanyeol bisa mendengar suara isakan lemah dari bibir Baekhyun. Ia benar-benar ingin langsung terbang kesana dan memeluk yeojachingunya dengan erat.

"Rumah Sakit S-seoul." Chanyeol langsung mematikan ponselnya dan menancap gasnya lebih cepat. Ia benar-benar ingin cepat sampai disana.

Baekhyun benar-benar kalut. Ketika ia memejamkan matanya, suara alat detak jantung masuk ke telinganya dan suara dokter-dokter yang berteriak Chanyeol kehilangan detak jantungnya menusuk telinganya perlahan. Trauma itu seakan membayangi dirinya dan membuatnya ketakutan setengah mati.

"Sehunnie..Sehun.." ucapnya lemah. Baekhyun berusaha bangkit berdiri, memegang dinding sebagai penyangga tubuhnya dan berjalan ke arah pintu UGD. Ia melihat para dokter mulai menjahit satu persatu tubuh Sehun. Baekhyun menangis untuk kesekian kalinya melihat hoobae kesayangannya meregang nyawa di UGD. Sekelebat bayangan Chanyeol yang berada disana menghantam kepala Baekhyun.

"Baek... Gwenchanayo?" Tepat saat tubuh Baekhyun oleng ke samping, Chanyeol menangkap tubuhnya tepat waktu. Ia menggendong Baekhyun dan mendudukkannya di kursi. Chanyeol benar-benar merasa khawatir melihat yeojachingunya terlihat lemah.

"Sehunnie.. Kenapa? Hiks.. Kenapa dia seperti itu?" Chanyeol memeluk tubuh mungil Baekhyun dan menggosok-gosokkan tangannya ke punggung sempit Baekhyun. Ia benar-benar merasa menyesal memukuli Sehun karena Baekhyunnya menangis saat melihat Sehun seperti ini. Katakanlah Chanyeol takut akan yeojachingunya tapi memang seperti itulah kenyataannya. Ia benar-benar sangat mencintai yeoja dalam dekapannya ini.

"Dia akan pulih kembali okay? Jangan khawatir. Aku disini. Yeolliemu disini." Baekhyun menelusupkan kepalanya ke dalam dada Chanyeol, mencari secercah kehangatan dalam diri namjachingunya. Setelah Chanyeol datang, Baekhyun merasa lebih baik. Trauma yang tadi menyerangnya mulai menghilang sedikit demi sedikit.

"Apa ada wali Sehun disini?" Salah seorang maid yang ikut mengantar Sehun mengangkat tangannya. Baekhyun pun ikut berdiri dari kejauhan, mengambil jarak yang cukup untuk mendengar pembicaraan dokter dengan maid Sehun.

"Kami menemukan banyak memar dalam tubuhnya. Baik luar maupun dalam. Untungnya tidak mengenai bagian-bagian yang vital jadi anda bisa bernafas lega. Kami sudah menjahit beberapa luka yang menganga dan beberapa hari lagi dia bisa keluar setelah jahitannya kering." Maid itu membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Baekhyun juga bernafas lega. Matanya melirik ke arah Chanyeol yang menatapnya kaku.

"Waeyo? Apa kau tidak suka Sehunnie baik-baik saja?" Ucapan Baekhyun menohok hatinya, menyindir keinginan jahat Chanyeol untuk menyingkirkan keberadaan Sehun. Tangan Chanyeol menyingkirkan beberapa helai poni di dahi Baekhyun. Bibirnya membentuk senyum tipis.

"Aku senang, chagi. Ah ya... Bagaimana dengan kakimu? Maaf aku tidak bisa menemanimu tadi." ucap Chanyeol. 'Aku tidak bisa menemanimu karena bajingan yang kau khawatirkan itu, Baek' batin Chanyeol.

Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal. Dengan sabar, Chanyeol mendengarkan ocehan Baekhyun mengenai dirinya yang tidak bisa ikut dalam pertandingan. Baekhyun mengangkat kakinya yang terkilir tinggi-tinggi hingga dirinya akan jatuh.

"Hati-hati Baek." Chanyeol memeluk pinggang sempit Baekhyun dan menariknya lebih dekat, menjadikan posisi mereka lebih intim. Baekhyun meneguk ludahnya saat matanya bertubrukan dengan iris coklat terang Chanyeol. Begitu seksi dan menggairahkan di matanya. Chanyeol menghimpit tubuh Baekhyun ke tembok dan mengurung tubuh mungilnya menggunakan dua tangan kekarnya. Baekhyun tidak menolak saat Chanyeol mengurungnya. Walaupun dikurung 1000 tahun pun asal yang mengurung Chanyeol pun, Baekhyun sangat bersedia.

"Chan.. Ini tempat umum jadi.." Baekhyun mengigit bibirnya dengan sensual, membangkitkan gairah dalam diri Chanyeol untuk mengeksplor lebih dalam bibir Chanyeol yang bagai candu untuknya. Bibir tebal Chanyeol menabrak bibir tipis Baekhyun dan melumatnya perlahan seperti menghisap permen lollipop yang manis. Tangan Chanyeol bertumpu pada dinding kokoh di belakang Baekhyun. Badannya menghimpit tubuh Baekhyun menjadi lebih intim dari sebelumnya.

Baekhyun menyukai setiap sisi dari Chanyeol. Sisi liar, sisi lembut, sisi manja dari Chanyeol. Tapi Baekhyun sangat menyukai sisi liar Chanyeol saat menyentuh dirinya. Rasanya tubuh Baekhyun terbakar dan dingin dalam satu waktu.

Chanyeol memainkan bibir Baekhyun dengan melumat bagian atas dan bawah bibir tipis Baekhyun. Baekhyun berusaha mengimbagi permainan liar Chanyeol yang semakin tidak sabar. Hanya dalam satu detik saja lidah Chanyeol berhasil masuk dalam gua hangat Baekhyun. Lidah Chanyeol dengan lihai membelit lidah Baekhyun dan memainkan daging tidak bertulang itu dengan lihai.

"Ngggh.. Chan.." Chanyeol sangat menyukai saat Baekhyun menyebut namanya dengan sensual dan seksi. Dia tidak hanya memagut bibir Baekhyun tapi menandai leher Baekhyun yang terekspos bebas. Membiarkan tangan nakal Baekhyun meremas rambut coklat Chanyeol yang sudah berantakan akibat ulah yeojachingu nakalnya.

"Ekhem.." Salah seorang suster yang lewat menatap sinis ke arah Chanbaek. Chanyeol terpaksa menghentikan aktifitasnya di leher Baekhyun termasuk Baekhyun. Pipi Baekhyun merona sempurna sambil menundukkan kepalanya. Sentuhan Chanyeol membuatnya lupa dimana dirinya berada. Shit...ini masih rumah sakit.

"Tolong ini rumah sakit!" tegur suster tersebut. Chanyeol dapat menangkap rona merah di pipi suster itu. Ide jahil terlintas di pikiran Chanyeol.

"Apa kau tidak pernah dicium seperti itu sebelumnya?" ucap Chanyeol dengan frontalnya. Pipi suster tersebut semakin merona dengan ucapan frontal Chanyeol. Sebelum dirinya semakin hilang kendali dan kehilangan fokus kerja, suster itu langsung permisi sambil menutupi kedua pipinya.

"Ya! Chan! Harusnya kau tidak seperti itu." Baekhyun memukul pelan lengan kekar namjachingunya dengan pipi merona merah. Chanyeol mendekatkan tubuhnya dan mencubit pelan hidung Baekhyun.

"Aku tahu kau juga menyukainya dari caramu meremas rambutku dan memanggilku dengan desahanmu.. AHH YA! BAEK!" Baekhyun menarik rambut coklat Chanyeol dengan kencang sambil menutupi pipinya yang memerah sempurna. Astaga.. Baekhyun memang menyukai sisi liar Chanyeol tapi memang sisi liar Chanyeol ini terlalu frontal.

"Aku mau menjenguk Sehun. Aku tidak mau bertemu Chanyeol. Aku benci Chanyeol." Baekhyun membalikkan badannya dan berlari ke arah UGD sambil berusaha menahan malunya. Astaga... Bagaimana mungkin Chanyeol bisa sesantai itu mengucapkannya? Chanyeol terkikik geli dengan reaksi malu Baekhyun. Ia mengekori Baekhyun masuk ke ruang UGd untuk menjenguk bajingan kecil itu.. Ups... Sehun maksudnya.

"Astaga... Badannya penuh perban." Baekhyun menutup mulutnya, terkejut dengan semua perban yang menutupi tubuh Sehun. Sehun masih belum sadarkan diri dan tampaknya belum ada tanda-tanda sadar. Chanyeol mengambil tempat duduk di kursi sambil memperhatikan gerak-gerik Baekhyun. Sesekali ia menguap karena ini cukup membosankan.

"Uh.. Kenapa kau seperti ini? Apa kau berkelahi atau semacamnya? Astaga.." Baekhyun menggenggam tangan Sehun erat. Matanya menatap khawatir ke arah Sehun.

"Walaupun kau genggam seperti itu, dia tidak akan sadar Baek." Baekhyun menghiraukan keberadaan Chanyeol dan memilih fokus pada Sehun. Sepertinya Baekhyun masih marah dengan Chanyeol.

"Ya! Jangan mendiamkanku seperti ini. Aku minta maaf, Baek." Baekhyun menoleh dan menghela nafasnya panjang. Ia tahu dirinya tidak bisa terlalu lama 'ngambek'' dengan Chanyeol. Chanyeol mendekati Baekhyun dan menariknya dalam ciuman lembut. Tanpa kesan menuntut seperti yang tadi mereka lakukan. Chanyeol melumat bibir Baekhyun dengan perlahan, seperti melumat permen yang mudah pecah.

Jari-jari Sehun mulai bergerak dan mata Sehun mulai terbuka. Satu pemandangan yang pertama dia lihat adalah Chanyeol yang berciuman dengan Baekhyun. Matanya yang masih buram berkilat marah dan tanpa sadar tangannya terkepal erat.

'Aku akan merebut Baekhyunmu, Park Chanyeol.'

TBC