Pervert Boy Chapter 2

Author : Bacon14

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life, Genderswitch

Rated : M

Main Cast :

- Byun Baekhyun

- Park Chanyeol

- Oh Sehun

Additional Cast :

- Xi Luhan

- Kim Minseok

- Kim Jongdae

Happy Reading😁

"Chan, Sehun sudah sadar!" Baekhyun menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol dan mendekati tubuh Sehun yang masih terbaring dengan selang infus di tangannya. Sehun mengulas senyum lemah, tapi di mata Chanyeol senyuman itu terlihat seperti senyum meremehkan. Beberapa kali Chanyeol terlihat menahan kesalnya saat Baekhyun begitu memperhatikan Sehun. Tangan Sehun juga beberapa kali menyentuh tangan Baekhyun secara sengaja. Semua ditangkap oleh mata Chanyeol seteliti mungkin. Membuat rasa cemburunya menguar begitu saja.

"Apa ada yang sakit?" Baekhyun menyingkirkan rambut poni Sehun yang berkeringat dan mengelus wajah tampannya. Sesekali bibir mungilnya meloloskan ringisan saat melihat secara dekat memar-memar di wajah Sehun. Sehun tidak menanggapi tangan Baekhyun yang masih memperhatikan wajahnya, matanya masih menatap wajah cantik di depannya. Mata kecil, hidung mancung, bibir mungil, pipi yang merona, semua yang ada di diri Baekhyun sempurna. Chanyeol terlalu beruntung memiliki Baekhyun hingga dirinya mencampakkan Luhannya begitu saja.

"Apa kupanggilkan dokter okay? Chanyeol tolong panggil dokter!" Mendengar permintaan dari Baekhyun yang menyuruhnya begitu saja membuat Chanyeol tidak terima dan tidak mau melakukannya. Sayangnya Chanyeol terlalu mudah ditaklukkan dengan puppy eyes milik Baekhyun dan senyuman manis terpatri di bibirnya. Dengan cibiran di bibir tebalnya Chanyeol keluar dari kamar, menyisakan Baekhyun dan Sehun dalam ruangan putih itu.

"Apa tidak apa-apa menyuruh pacar sunbae seperti itu?" Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya dan mengatakan 'tidak apa-apa''. Tangannya kembali memegang tangan Sehun yang dipasangi infus. Matanya menatap sedih ke arah Sehun.

"Siapa yang memukulimu seperti ini? Astaga... Kenapa mereka tega sekali? Ini pasti sakit sekali hiks..." Sehun benar-benar gelagapan saat Baekhyun mulai menangis sesenggukan. Astaga... Ingin sekali ia lepas infus sialan itu dan memeluk tubuh mungil itu. Membawanya ke pelukan hangat yang menenangkan. Sayangnya Sehun masih sadar diri kalau Chanyeol masih memiliki hak penuh pada Baekhyun dan Sehun tidak cukup bodoh untuk dipukuli lagi oleh Chanyeol.

"Sudah sunbae.. Sudah...uljima jangan menangis lagi." Sehun menepuk-nepuk tangan Baekhyun dan memintanya berhenti menangis. Setelah beberapa menit, Baekhyun berhenti menangis. Untungnya Chanyeol tidak melihat kalau Baekhyun menangis. Jika dia melihatnya entah sampai kapan Sehun akan diperbolehkan keluar rumah sakit karena dipukuli lagi.

"Panggil aku noona.. Tidak ada penolakan... Sehunnie tidak mau memanggilku Baekkie sih." rajuk Baekhyun manja. Sehun mengulas senyum manis dan tangannya dipaksakan untuk mengacak surai coklat Baekhyun. Membentuk rona merah di kedua pipi gembul Baekhyun.

"Ya! Jangan dipaksakan jika tidak sampai. Aku takut infusmu lepas!" Sehun hanya terkikik geli saat Baekhyun memarahinya dengan muka memerah seperti kepiting rebus. Dengan gemas, tangannya meraih pipi gembul Baekhyun dan mencubitnya pelan.

"Ya! SEHUN!" Astaga...Baekhyun sangat manis sekali. Kalau Sehun tidak mencintai Luhan pasti Sehun mati-matian mengejar Baekhyun. Dengan bibir yang dimajukan Baekhyun berkali-kali lipat lebih manis dan imut. Aigoo... Apa benar dia manusia atau boneka?

"Ekhemm..." Chanyeol masuk ke kamar dengan seorang dokter di sampingnya. Matanya menatap tajam ke arah Sehun tanpa disadari Baekhyun. Jari tengahnya mengacung ke arah Sehun dengan bibir yang mengucapkan sumpah serapah. Sehun hanya mengangkat bibirnya dan menatap remeh Baekhyun.

"Saya periksa dahulu." Baekhyun menjauh dari Sehun dan membiarkan dokter memeriksa keadaan Sehun. Tangan Chanyeol meraih pinggang Baekhyun dan memerangkapnya dalam pelukan. Kepala Baekhyun mendongak dan mendapati Chanyeol menatap ke arahnya. Satu kecupan singkat dihadiahi Chanyeol melihat Baekhyun yang sangat menggemaskan. Aww... Lihatlah pipi Baekhyun merona kembali dengan kecupan singkat di bibirnya.

"Pasien tidak mengalami masalah serius untuk organ vitalnya. Memar-memar di tubuhnya akan kami beri antibiotik untuk mempercepat penyembuhannya. Selama 2-3 hari biarkan pasien dirawat disini setelah itu kalian boleh membawanya pulang." ucap dokter dengan name tag . Chanyeol dan Baekhyun membungkuk bersamaan lalu mengucapkan terima kasih. ikut mengangguk dan keluar dari ruang rawat Sehun. Sebenarnya ada yang salah disini. Mereka bukan wali Sehun tetapi mereka seperti diberi beban untuk menjaga Sehun. Kemana semua maid tadi ya?

Baekhyun melepaskan diri dari pelukan Chanyeol dan kembali mendekati ranjang Sehun. Chanyeol kembali mendecak kesal. Astaga... Dirinya seperti nyamuk disana. Suara tawa Baekhyun dan Sehun rasanya mengganggu telinganya sejak tadi. Bahkan Chanyeol tidak dilibatkan sama sekali dalam obrolan mereka. Wow... Hanya sesaat saja Chanyeol melepas Baekhyun langsung saja Baekhyun dekat dengan namja lain. Yah... Ini salah satu alasan Chanyeol super posesif pada yeojachingunya karena Baekhyun terlalu baik pada semua orang termasuk orang yang akan memanfaatkannya.

"Baek... Ini sudah sangat larut. Apa kau tidak pulang? Eomma appamu meneleponku sejak tadi. Ponselmu kenapa kau matikan?" Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dan mengambil ponselnya yang mati. Tangannya mengacak-acak tasnya dan mengambil power bank yang dibawanya kemana-mana. Ternyata Baekhyun tidak sadar baterai ponselnya habis. Chanyeol bersumpah ini pertama kalinya Baekhyun menoleh ke arahnya sejak tadi karena dirinya terlalu larut mengobrol dengan Sehun. Setelah ponselnya hidup kembali, Baekhyun asyik dengan ponselnya. Kembali mengabaikan Chanyeol yang malang.

"Aku sudah bilang ke eomma appa kalau aku menginap disini. Eomma appa sudah mengijinkan kok. Kalau Yeollie mengantuk, Yeollie bisa pulang. Aku ingin menjaga Sehun." Senyuman bak evil terbit di bibir Sehun. Tidak seperti Chanyeol yang rasanya ingin menyeret Baekhyun pulang dan mengurungnya dalam kamar lalu bergumul panas di ranjang besarnya. Chanyeol menghembuskan nafasnya, menetralisir rasa marahnya yang hampir menguasai dirinya. Dirinya sangat tahu betapa keras kepalanya Baekhyun kalau sudah mengambil keputusan.

"Ani... Aku akan menginap disini juga. Aku tidak akan membiarkanmu berduaan dengan dia. Ck... Bagaimana bisa eomma appa mengijinkanmu berdua dengan namja tidak jelas seperti itu?" sindir Chanyeol. Baekhyun hanya memanyunkan bibirnya lalu menatap kesal ke arah Chanyeol. Matanya kembali fokus pada ponsel. Keheningan menyergap ruangan itu saat Baekhyun masih asyik dengan ponselnya. Sedaritadi memang Baekhyun lebih banyak berbicara daripada Sehun.

"Noona..." Baekhyun menoleh ke arah Sehun sedangkan Chanyeol menatap horror ke arah Sehun. Astaga... Daritadi Sehun itu memanggil Baekhyunnya dengan sebutan noona. Chanyeol benar-benar kecolongan saat ini.

"Apa noona tidak tidur? Soalnya... Hm.. Aku mengantuk tapi tidak apa-apa kok kalau noona masih mau mengobrol." Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ia menaikkan selimut Sehun sampai dada. Tangannya mengelus kepala Sehun seperti kakak yang mengurus adiknya dengan baik.

"Sini Baek.. Tidurlah bersamaku." Chanyeol merentangkan tangannya dan disambut oleh tubuh Baekhyun yang memeluknya. Sofanya cukup sempit jadi tidak bisa menampung dua orang. Akhirnya, Chanyeol mengorbankan tubuhnya untuk ditiduri Baekhyun. Baekhyun tertidur nyenyak di atas tubuh Chanyeol.

"Sial." desis Chanyeol. Tubuh Baekhyun terus bergesekan dengan celananya, membuat hormonnya meledak begitu saja. Bayangkan saja jika tubuh seorang yeoja terus bergesekan di atasmu untuk menyamankan posisinya lalu kedua payudara sintalnya terus menggesek dadamu. Yah.. Chanyeol itu namja dan sangat sulit untuk menahan hormon remajanya.

"Ahh.. Tahan Chan. Hanya sampai pagi kok." gumam Chanyeol. Tangannya memeluk pinggang Baekhyun erat dan akhirnya dirinya masuk ke dalam mimpinya. Sedangkan Sehun yang hanya beralasan saja mengantuk, menatap pasangan di hadapannya dengan cebikan kasar di bibirnya.

"Baekhyun itu mudah untuk direbut, Park Chanyeol!"

Sinar matahari pagi menelusup masuk ke sela-sela tirai jendela besar di ruang rawat Sehun. Chanyeol terbangun lebih dahulu. Ia menguap lebar sambil berusaha mengumpulkan nyawanya. Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah Baekhyun yang tertidur di atasnya dengan wajah polos dan menggemaskan. Dirinya tidak pernah bosan melihat malaikat manis ini tertidur. Sekian menit terlewati dengan Chanyeol yang tetap menatap Baekhyun. Sungguh anugerah yang terindah baginya memiliki Baekhyun di sisinya.

Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun dan mengangkatnya hingga mereka berada di posisi duduk dengan Baekhyun masih tertidur. Kepalanya terkulai di bahu Chanyeol dan kakinya melingkari pinggang Chanyeol. Dengan hati-hati, Chanyeol menggendong Baekhyun dengan Baekhyun yang masih setia memeluknya seperti koala. Tangan Chanyeol menempatkan Baekhyun di sofa yang tadi dia tiduri sedangkan Chanyeol berdiri, merenggangkan tubuhnya yang cukup kaku. Tangannya membuka jaket tebal yang ia kenakan dan menyelimuti tubuh Baekhyun. Baekhyun itu yeoja yang tidak akan terganggu sama sekali dengan gerakan apapun saat tidur sekalipun itu gempa bumi.

Chanyeol mendudukkan tubuhnya di lantai. Matanya menatap wajah Baekhyun dari dekat. Astaga... Bagaimana mungkin ada yeoja seperfect ini? Mata sipitnya yang lucu, hidungnya yang akan memerah saat marah, pipinya yang gembul dan selalu merona merah saat Chanyeol menggodanya, bibir yang membuat Chanyeol candu. Bibir Baekhyun melebihi ekstasi, sensasi yang memabukkan dan manis, membuat Chanyeol selalu ingin mengecupnya dari waktu ke waktu. Sikap lucunya yang membuat Chanyeol semakin jatuh, jatuh, jatuh semakin dalam pada Baekhyun. Well.. Bisa dibilang Chanyeol cinta mati pada yeoja bermarga Byun ini.

Wajahnya mendekati Baekhyun dan bibir tebalnya menempel pada bibir ranum Baekhyun. Menghadiahi bibir manis itu dengan banyak kecupan. Cukup banyak kecupan hingga kedua mata sipit itu perlahan terbuka. Mata indah yang menenggelamkan Chanyeol dalam pesonanya yang unik.

"Chan?" Baekhyun mengucek-ngucek kedua matanya dan pipinya merona merah saat Chanyeol menatap wajahnya secara dekat. Hanya beberapa cm saja mereka bisa berciuman. Hembusan nafas hangat Chanyeol dapat dirasakan Baekhyun dengan baik. Tangan Chanyeol mengusap pipi Baekhyun dan bibirnya memberi sebuah kecupan manis di bibir si mungil.

"Aku suka melihatmu merona merah..oh god..kau sangat menggemaskan, Baek." Chanyeol mengacak-acak gemas rambut coklat Baekhyun. Ia menempelkan dahi mereka dan bibirnya kembali tertarik membentuk senyum.

"Berjanjilah kau hanya milikku seorang dan jika ada yang menyukaimu aku akan patahkan lengan mereka karena Byun Baekhyun itu milik Park Chanyeol! Titik!" Suara tawa Baekhyun pecah begitu saja mendengar keposesifan Chanyeol. Ia mencubit kedua pipi Chanyeol dengan keras sambil tertawa memamerkan deretan giginya yang rapi.

"Ne... Ne.. Giantku. Saat ini dan sampai kapanpun Byun Baekhyun milik Park Chanyeol dan Park Chanyeol itu milik Byun Baekhyun." Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan memagut bibir merah mudanya yang menggoda. Bibirnya melumat bibir atas dan bawah Baekhyun bergantian. Tidak membiarkan si mungil mendominasi. Saat ada kesempatan, Chanyeol memasukkan lidahnya dan menggoda bibir Baekhyun dengan sensual. Lidahnya membelit lidah Baekhyun dengan erat namun bukan Baekhyun namanya jika tidak memberi perlawanan sepadan. Jelas sekali Baekhyun berusaha mengimbangi permainan liar Chanyeol. Ia sangat tahu Chanyeol itu bak dewa dalam berciuman dan Baekhyun benar-benar takluk dengan dewa tampannya itu. Tangannya mengusap punggung Chanyeol dengan sensual. Jari-jari lentiknya menyusup ke rambut coklat Chanyeol dan mengusapnya dengan pelan. Membangkitkan semangat Chanyeol untuk memagut lebih dalam lagi bibir ranum Baekhyun. Kalau Chanyeol itu dewanya artinya Baekhyun adalah dewinya saat berciuman karena mereka berdua sama-sama liar dan panas.

"Nggh~ Chan~ Yeol~" desah Baekhyun. Chanyeol memindahkan ciumannya ke arah leher. Meniup leher sensitif Baekhyun dan menjilatnya dengan gerakan memutar. Membuat tubuh Baekhyun menggelinjang kenikmatan. Bibir Chanyeol juga mengulum cuping telinga Baekhyun dengan seksi, membuat si empunya mendesah lebih keras lagi. Akhirnya, Chanyeol meninggalkan sebuah tanda kepemilikan di leher jenjang Baekhyun setelah berhasil mengerjai kekasih mungilnya ini.

"Kau keterlaluan.. Tidak perlu membuat kissmark, giant bodoh!" marah Baekhyun. Tanpa melihatnya pun Baekhyun tahu kissmark yang ditinggalkan Chanyeol, tangannya mengusap lehernya yang basah akibat Chanyeol. Ck... Ini kebiasaan yang Baekhyun tidak sukai dari Park Chanyeol. Membuat kissmark sembarangan dan selalu saja berakhir dengan Baekhyun yang ditanyai oleh orangtuanya lalu Baekhyun akan menjawab kalau itu digigit nyamuk. Alasan konyol bukan? Salahkan Park Chanyeol yang terlalu mesum! Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Baekhyun sangat menikmati saat Chanyeol memainkan daerah sensitifnya menggunakan lidahnya yang lihai.

"Hehe.. Kelepasan.. Kau terlalu menggairahkan, Baek." Chanyeol memasang V-signnya sambil menatap Baekhyun memohon-mohon. Helaan nafas keluar dari mulut Baekhyun disertai dengan senyuman yang timbul di bibirnya. Lebih tepatnya seringaian yang membuat Chanyeol bergidik. Dengan tiba-tiba, Baekhyun mengigit leher Chanyeol dengan keras. Bukan seperti Chanyeol yang lembut, Baekhyun menggigitnya dengan keras seperti vampir yang akan mengoyak mangsanya.

"Aaaaaargh! BAEKHYUN!" Chanyeol mengusap lehernya yang memerah akibat ulah Baekhyun. Ia melihat Baekhyun tersenyum puas dengan apa yang dilakukannya. Bahkan Baekhyun menjulurkan lidahnya dan mengejeknya.

"Kita impas, Park Chanyeol!" Baekhyun berdiri dan mendapati Sehun sudah bangun. Buru-buru ia mendekati Sehun dan menanyakan keadaannya. Pipinya merona malu karena Sehun kemungkinan melihat mereka yang berciuman dan desahan Baekhyun yang aarghhhh... Baekhyun benar-benar malu untuk mengungkapkannya.

"Apa kau melihat semuanya?" Sehun mengangguk sambil tersenyum dan berujar 'tidak apa-apa kok'. Baekhyun merasa sangat malu. Jadi Sehun juga mendengar desahannya saat Chanyeol mengerjai lehernya. Ugh~ mau ditaruh mana wajahnya saat ini.

"Ah. Hun.. Harusnya kau tidak mendengarkannya. Maaf menganggumu. Aish.. Ini semua gara-gara Park Chanyeol. Sudahlah... Apa kau mau sarapan? Bagaimana dengan apel? Aku akan mengupaskannya untukmu." Sehun mengangguk dan melihat dari ekor matanya Chanyeol memberengut kesal. Bibirnya mengulas senyum seringai. Bahkan ini baru permulaan dari semua rencananya dan Chanyeol sudah cemburu setengah mati, bagaimana jika Chanyeol melihat Baekhyun akan menjadi miliknya nanti?

"Jaa~ sudah. Sini buka mulutmu...Aaaa~" Chanyeol bangun dan menahan tangan Baekhyun. Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dan bertanya kenapa.

"Biar aku suapi namja ini. Kau duduk disana. Kemarin kau sudah terlalu lama mengurusinya kan? Sana..." ucap Chanyeol dingin. Baekhyun hanya menurut saja saat Chanyeol mulai berujar dingin. Ini artinya keputusan Chanyeol tidak bisa diganggu gugat dan Baekhyun harus mematuhinya. Ia tidak mau Chanyeolnya marah karena Baekhyun sulit diatur dan seenaknya sendiri.

"Buka mulutmu!" Sehun menerima suapan Chanyeol dengan cibiran di bibirnya. Chanyeol memasukkan apelnya dengan kasar bahkan tanpa memotongnya kecil-kecil. Dalam hatinya Chanyeol sangat puas, akhirnya dia bisa mengerjai Sehun yang terus mendekati Baekhyunnya. Beberapa kali Sehun tersedak dan Baekhyun langsung mengoceh memarahi Chanyeol yang tidak hati-hati. Chanyeol hanya mengangguk dan mengulangi hal yang sama hingga rasanya Baekhyun lelah memberitahu Chanyeol. Akhirnya setelah beberapa menit penuh penderitaan, Sehun berhasil menghabiskan apel itu dengan selamat. Matanya menatap tidak suka ke arah Chanyeol yang tersenyum mengejek.

"Hunnie.. Setelah ini aku pulang ya. Kita harus sekolah. Cepatlah sembuh! Nanti kita belajar bersama. Pulang sekolah kami akan mengunjungimu lagi." Baekhyun berdiri dan mengambil tasnya lalu melangkah keluar bersama Chanyeol. Tinggalah Sehun sendiri yang terdiam menatap pintu yang tertutup.

"Andaikan Luhan noona menengokku kesini... Andaikan saja.." gumam Sehun. Semua pengandaian yang sia-sia karena Luhan tidak mungkin kesini dengan keadaan mentalnya yang masih terguncang. Sehun merindukan Luhan yang merawatnya saat sakit. Memeluknya saat Sehun merengek sakit. Menatapnya khawatir saat Sehun bergerak kesakitan. Rasanya menyakitkan saat kali ini Sehun yang merawat Luhan dalam keadaan mentalnya yang buruk. Sedangkan pelaku kejahatannya bersenang-senang dengan yeojachingunya dan bahagia dengan kehidupannya kini. Seperti tidak ada sebersit rasa penyesalan dalam dirinya. Menyedihkan... Kenapa hanya Luhan yang merasakannya? Harusnya Park Chanyeol brengsek itu juga merasakannya? Perasaan menderita, kehilangan, rasa sakit, terluka, dan kegelapan yang menyergap kehidupanmu secara tiba-tiba.

( Flashback On)

Malam yang dingin di Seoul dengan salju yang lebat, Sehun tengah frustasi setelah kalah bermain basket. Ia memantul-mantulkan bola basketnya dengan asal dan memasukkannya ke ring. Suhu malam itu sekitar -2°C dan Sehun tidak mengenakan pakaian tebal. Hanya selembar kaos basket dan celana pendek. Sehun tidak memungkiri betapa dinginnya malam itu. Rasa dinginnya menusuk ke tulangnya dan nyeri di sekujur tubuhnya. Sayangnya suhu dingin itu tidak menghentikan Sehun melampiaskan kemarahannya. Ck.. Bagaimana bisa dia kalah dengan Park Chanyeol?

Saat itu Sehun duduk di kelas IX dan ditawari bermain melawan tim Chanyeol kelas X. Saat itu Sehun belum tahu kalau Chanyeol belum berpacaran dengan Luhan dan Chanyeol tidak pernah tahu tentang Sehun karena Luhan tidak pernah menceritakannya. Mereka bermain dan sayangnya tim Sehun kalah. Dengan perasaan kesal dan dongkol, Sehun menerima kekalahannya. Ini pertama kalinya ada seseorang yang berhasil mengalahkannya. Sehun masih ingat jelas dengan ejekan yang dilontarkan bibir kapten basket itu.

"Kau berbakat sayangnya kau tidak bisa mengontrol emosimu, bocah!" ejek Chanyeol dengan senyuman yang mencibir. Tangannya mendorong kepala Sehun lalu mengajak teman-temannya makan malam. Harga diri Sehun terinjak-injak dan diremehkan begitu saja. Ia membalikkan tubuhnya dan berteriak balik

"Park Chanyeol! Ingat aku, Oh Sehun, akan mengalahkanmu suatu hari nanti. Entah dalam basket atau apapun itu. Kecamkan itu!" Chanyeol hanya menatap sebelah mata Sehun dan bergegas pergi. Ini pertama kalinya Sehun bertemu dengan Chanyeol.

"OH SEHUN!" teriak Luhan. Ia mendekati Sehun dan membuyarkan lamunannya tentang pertandingan tadi. Dengan tergesa-gesa Luhan memakaikan Sehun jaket tebal dan syal berwarna hitam. Matanya menatap khawatir Sehun yang tidak bergerak.

"Dasar bocah jelek! Aku takut tadi kau jadi patung karena kedinginan. Kenapa kau bermain basket sedingin ini eoh? Kau mau mati beku?!" Luhan memukul-mukul lengan Sehun lalu menangis. Astaga... Namja ini benar-benar membuatnya khawatir setengah mati. Ponselnya mati dan dia tidak ada di rumahnya. Bagaimana mungkin Luhan tidak khawatir?

"Mian, noona." Luhan menghembuskan nafasnya dan memeluk Sehun erat. Tangisnya semakin keras. Bahu kecilnya bergetar. Tangan Sehun balas memeluk tubuh Luhan dan menenangkan dirinya.

"Janji jangan seperti ini. Aku tidak mau kau sakit. Entah bagaimanapun kau tidak boleh sakit. Jangan membuat noona mati muda karena khawatir, Oh Sehun!" Sehun mengusap air mata Luhan dan memeluknya kembali.

"Noona.. Aku ingin memberitahumu sesuatu."

"Aku juga.. Aku mau memberitahumu sesuatu. Aku duluan ya." ucap Luhan dengan berbinar-binar. Sehun mengangguk.

"Aku berpacaran dengan Park Chanyeol. Kau tahu kapten basket dari Gangnam International School. Aaaahh... Setelah berbulan-bulan aku mengejarnya. Dia membalas perasaanku. Aku senang sekali, Sehunnie. Sehun?" Sehun tidak dapat berkata-kata. Rasanya ada yang menghadiahkan ribuan jarum ke dalam hatinya. Terlalu menusuk dan menyakitkan. Sehun tidak tahu harus memasang ekspresi apa atas kebahagiaan Luhan. Harusnya dia senang mendengar kabar ini tapi ia tidak tahu rasanya akan semenyakitkan ini. Selama berbulan-bulan Luhan terus membicarakan Chanyeol dan Sehun hanya tersenyum menanggapinya. Tapi tidak disangka hari ini tiba juga... saat Sehun harus melepas Luhan untuk orang lain. Orang yang akan lebih berhak atas diri Luhan.

"Ah...ne...Selamat, noona." ucap Sehun kaku. Ia memaksa senyum terbit di bibirnya. Luhan yang melihat Sehun terus berbicara dengan nada menggebu-gebu tentang Chanyeol. Bagaimana Chanyeol menembaknya di depan banyak orang, bagaimana Chanyeol memberinya bunga dan menatapnya penuh cinta, bagaimana Chanyeol memperlakukannya secara istimewa. Luhan menceritakannya secara detail pada Sehun sedangkan Sehun seperti kaset rusak. Suara Luhan tidak terdengar di telinganya. Hanya kehampaan dan kegelapan yang menyakitkan.

"Ahh.. Noona.. Sepertinya a-aku harus pulang. Aku belum mengerjakan tugas. Selamat ya..." Sehun harusnya tidak melarikan diri saat ini tapi hatinya terus mengajaknya berlari dari kenyataan. Kenyataan bahwa Luhan hanya sebatas noona. Kenyataan bahwa Luhan hanya menganggapnya sebatas adik. Padahal Sehun ingin mengungkapkan perasaannya hari ini. Sayangnya Luhan telah memiliki namjachingu yang baru saja mengalahkannya tadi.

"Ah.. Begitu ya. Mau aku antar pulang?" tanya Luhan.

'Jangan tersenyum begitu, Noona. Rasanya menyakitkan saat mengetahui senyum itu sepenuhnya milik orang lain bukan untukku' batin Sehun. Sehun menggeleng dan meminta Luhan cepat pulang karena cuaca semakin dingin. Kakinya melangkah, meninggalkan Luhan di belakangnya yang menatapnya aneh.

'Noona... Ini terlalu menyakitkan.'

( Flashback Off)

Sehun hanya tersenyum pahit saat kenangan itu muncul kembali. Ia sudah mengira Chanyeol tidak mengingat wajahnya dan beruntunglah Luhan tidak pernah mengenalkan dirinya secara langsung pada Chanyeol dahulu saat mereka berpacaran. Rasa sakitnya masih tidak berkurang dan semakin bertambah melihat keadaan Luhan. Harusnya Sehun mencegah Luhan berpacaran dengan namja brengsek itu. Tapi apa yang diperbuatnya? Mengucapkan selamat padanya dan tersenyum. Kalau Luhan tidak berpacaran dengan Chanyeol, dia tidak mungkin sakit. Sayangnya Sehun harus menerima pil pahit atas 'kekalahan' keduanya setelah basket.

"Baek... Ayolah kita ke kantin. Daritadi kau hanya melihat buku itu terus. Apa kau tidak bosan?" Baekhyun menggelengkan kepalanya dan terus membolak-balikkan lembar demi lembar. Ayolah... Chanyeol benar-benar bosan. Demi apa... Mereka sudah di perpustakaan selama 2 jam karena Kang sosaengnim tidak masuk dan Baekhyun meminta Chanyeol menemaninya ke perpustakaan. Chanyeol kira Baekhyun akan meminjam buku lalu mereka bisa bermesraan. Ekspektasinya terlalu tinggi. Baekhyun duduk di pangkuannya lalu membaca buku dengan santai.

"Kalau kau mau keluar silahkan, aku tidak memaksamu kesini kok. Kau kan yang mau ikut?" Baekhyun berdiri dan kembali ditarik duduk oleh Chanyeol. Tangan Chanyeol menggeser buku Baekhyun menjauh ke tengah meja besar dan memeluk pinggang Baekhyun. Tidak ada yang melihat mereka karena perpustakaan sedang sepi dan tempat mereka di pojok.

"Karena aku tidak bisa makan di kantin bagaimana kalau menuku diganti dengan dirimu, cantik?" goda Chanyeol. Baekhyun tersenyum merona dengan godaan Chanyeol. Jari-jari lentiknya memegang bahu Chanyeol dengan erat. Matanya menatap memuja ke arah Chanyeol. Mata besar, hidung mancung, bibir tebal, tampan luar dalam, pintar bermain basket. Bagaimana mungkin Baekhyun tidak tergoda dengan Chanyeol? Sayangnya Chanyeol sangat mesum.

"Ini masih di sekolah, Chan. Ck.. Kau mesum!" bisik Baekhyun. Chanyeol terkekeh dengan ucapan Baekhyun yang malu-malu. Ia tahu Baekhyun juga menyukai jiwa nakalnya ini.

"Tapi kau menyukai aku yang mesum ini kan?" Pipi Baekhyun semakin merona dan kepalanya mengangguk membenarkan ucapan Chanyeol. Chanyeol benar-benar gemas dan ingin 'memakan'' Baekhyun segera. Baekhyun super duper imut... Tidak bisa dideskripsikan lagi karena Baekhyun sangat imut dan menggoda.

"Hanya pemanasan saja... Aku tidak mungkin bermain inti disini kan?" bisik Chanyeol di telinga Baekhyun. Tubuh Baekhyun bergetar dengan suara rendah Chanyeol yang menggodanya.

"But no kissmark okay? Aku tidak mau berbohong lagi dengan orangtuaku. Kau tahu kan eomma appa bagaimana?" Chanyeol mengedipkan matanya setelah mendengar persetujuan dari bibir Baekhyun. Dengan gerakan gesit Chanyeol meraup bibir pink Baekhyun dan melumatnya. Lumatan yang cukup kasar dan nikmat. Bagian atas dan bawah bibir Baekhyun benar-benar dimanjakan oleh Chanyeol. Tidak ada satupun dari bibir Baekhyun yang terlewati.

Lidah Chanyeol dengan lihai bermain-main dalam bibir Baekhyun. Setelah puas, daging tidak bertulang itu menelusuri leher jenjang Baekhyun. Menjilatnya, memutarinya, menimbulkan sensasi geli dan tubuh Baekhyun menggelinjang atas kenikmatan yang diterimanya. Baekhyun harus akui kalau lidah Chanyeol itu adalah lidah yang sangat diberkati Tuhan karena kelihaiannya bermain.

Tangan Baekhyun membuka satu persatu seragam Chanyeol. Jari lentiknya menelusuri dada Chanyeol perlahan naik dan turun secara teratur. Menimbulkan sensasi yang berbeda saat sentuhan jari Baekhyun membelai dadanya. Tangan Chanyeol juga membuka satu persatu seragam Baekhyun. Tidak membukanya dengan penuh, hanya beberapa kancing teratas. Sebuah bra berwarna merah muda terpampang jelas di depan Chanyeol.

"Bolehkah?" Baekhyun mengangguk. Chanyeol memasukkan tangannya dan membuka bra Baekhyun. Ia tidak melepaskan bra itu dan hanya menurunkannya. Kedua payudara sintal Baekhyun terpampang jelas di depan Chanyeol dan membuat Chanyeol semakin bernafsu untuk menyusu pada mereka.

Chanyeol memainkan nipple Baekhyun dan menggigitnya gemas. Kedua nipple Baekhyun menegang dan semakin mengeras saat Chanyeol menghisapnya dengan kuat. Seperti bayi besar yang tengah menyusu. Satu tangan Chanyeol lainnya meremas-remas payudara Baekhyun yang lain.

"Nggh~ Chan!" Racau Baekhyun. Tangan Baekhyun meremas kasar rambut Chanyeol untuk melampiaskan kenikmatannya. Sayangnya Chanyeol tidak pernah menepati janjinya, sebuah kissmark terbentuk di salah satu payudara Baekhyun. Baekhyun berusaha keras menahan desahannya karena mereka sedang ada di perpustakaan. Tangan Chanyeol terus memainkan payudaranya dengan lihai.

"S-sudah Chan! Cukup! Ini di sekolah! Ngggh.. Chan!" Baekhyun mendorong kepala Chanyeol yang masih betah di dadanya. Tangannya membetulkan branya dan mengancingkan seragamnya. Chanyeol mencebik kesal karena tidak puas dengan permainan tadi. Ia juga mengancingkan seragamnya yang berantakan.

"Kau harus tanggung jawab, Baek. Adikku bangun tahu." Baekhyun melirik celana Chanyeol dan ada yang menggembung darisana. Ia terkikik geli dan mengambil bukunya yang didorong jauh ke tengah meja.

"Kau sudah janji hanya pemanasan. Kau tahu sendiri aku tidak mau melakukannya sampai kita menikah. Salahmu sendiri kan kalau adikmu selalu bangun saat kita melakukannya. Aku tahu kau membuat kissmark di dadaku. Anggap saja itu hukuman untukmu. Bermain sololah sendiri, Chanyeollie." ucap Baekhyun sambil terkikik geli. Chanyeol semakin merengut kesal mendengar suara kikikan geli dari Baekhyun.

"Kita masih lama sekali menikah, Baek. Tidak bisakah kita lakukan saat ini juga? Kau tahu aku tidak bisa menahan hasratku saat melihatmu seperti itu. Damn! Kau sangat menggoda, Baek." umpat Chanyeol. Baekhyun hanya memeletkan lidahnya dan kembali fokus membaca buku.

"Kan aku tidak tahu mungkin saja aku tidak menikah denganmu... Mungkin saja dengan yang lain. Kalau aku tidak perawan lagi memang mereka mau denganku?" canda Baekhyun. Sayangnya candaan Baekhyun dianggap serius oleh Chanyeol.

"Aku yang akan menikah denganmu. Tidak ada yang boleh menikah denganmu selain aku. Jangan mengatakan seperti itu lagi, Baek. Aku tidak suka." ucap Chanyeol dingin. Baekhyun menghembuskan nafasnya dan mengangguk. Mood Chanyeol gampang sekali berubah. Padahal Baekhyun itu bercanda dan Baekhyun juga tidak mau menikah dengan orang lain selain Park Chanyeol.

"Aku memang milikmu, Yeol." ucap Baekhyun. Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut yeojachingunya. Ia menaruh kepalanya di bahu Baekhyun dan kembali tersenyum.

'Tidak akan kubiarkan Sehun memilikimu karena kau hanya milikku, Byun Baekhyun.'

TBC