Pervert Boy Chapter 3

Author : Bacon14

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life, Genderswitch

Rated : M

Main Cast :

- Byun Baekhyun

- Park Chanyeol

- Oh Sehun

Additional Cast :

- Xi Luhan

Author Note :

Sorry Banget update chapter selanjutnya lama banget karena ini liburan sekolah jadi aku make waktunya buat liburan dulu hehe... Tapi masih pada setia kan nunggu ni ff? Jadi ChanBaek bakal lebih parah hotnya ya... Aku juga update siang lagi. Yeay... Kalian bisa baca sepuasnya deh.

Happy Reading😁

Setelah beberapa hari Sehun diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Baekhyun dan Chanyeol menjemput Sehun. Sebenarnya sih Baekhyun yang merengek ke Chanyeol untuk menemaninya menjemput Sehun. Baekhyun bahkan melakukan aksi mogok bicara dengan Chanyeol karena Chanyeol mengacuhkannya. Chanyeol mengatakan Sehun sudah besar dan tidak perlu dijemput. Akhirnya Baekhyun tidak mau berbicara dengan Chanyeol selama sehari penuh. Berbagai cara Chanyeol lakukan agar Baekhyun berbicara mulai dari mengajaknya makan es krim, mengajaknya ke restoran kesukaannya, mengajaknya ke bioskop, mengajaknya kencan, semua hal yang disukai Baekhyun. Sayangnya Baekhyun terlalu kukuh dengan pendiriannya. Yeoja keras kepala yang sangat dicintai Chanyeol. Dengan berat hati Chanyeol mengiyakan permintaan Baekhyun.

"Hunnie sekarang tidak apa-apa kan? Apa masih sakit? Kalau masih sakit aku akan menginap di rumah Hunnie hari ini." Chanyeol langsung melotot kaget dengan ucapan Baekhyun. Astaga... Kenapa yeojachingunya bisa berkata seperti itu pada namja lain selain dirinya? Sehun hanya tersenyum menanggapi ucapan Baekhyun. Entah Baekhyun yang terlalu baik hati atau Sehun yang terlalu beruntung karena rencana Sehun sangat mulus tanpa usaha yang berarti.

"ANIYA! Jangan menginap di rumahnya, Baek. Kau tidak lihat sekarang dia sudah sangat sembuh. Lihat wajahnya.. Ck.. Kau terlalu baik, Baek." Baekhyun memutarkan bola matanya malas, jengah dengan semua ucapan Chanyeol. Dia mengacuhkan ucapan Chanyeol dan tetap memutari tubuh Sehun. Mengecek apakah Sehun benar-benar baik-baik saja.

"Aahh...syukurlah kau baik-baik saja, Hunnie. Aku akan mengantarmu ke rumah. Hm... Selama ini aku juga belum pernah mengunjungi rumahmu. Mungkin aku bisa bertemu eommamu atau appamu begitu?" Chanyeol semakin mendecak kesal. Demi CD Chanyeol yang jarang dicuci, Baekhyun itu sangat menyebalkan sekali tapi sayangnya dia terlalu manis. Chanyeol hanya memasang muka datar atas perilaku palsu Sehun di depan Baekhyun.

"Appa dan eommaku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku tinggal dengan seorang yeoja. Dia cantik dan aku menyukainya. Sayangnya dia sedang sakit karena seseorang yang brengsek..." Sehun melirik Chanyeol yang berdiri tegang di tempatnya.

"Namanya Xi Luhan. Nanti aku akan perkenalkan padamu, noona. Dia lebih tua dariku. Umurnya sama seperti Baekhyun noona. Mungkin noona bisa bertemu dengannya tapi dia tidak bisa berbicara." kata Sehun.

"Namja brengsek siapa yang membuatnya sampai tidak bisa bicara seperti itu. Astaga... Jahat sekali. Jika aku bertemu dengannya aku akan mematahkan semua tulangnya dengan taekwondoku." ucap Baekhyun. Sehun tertawa remeh sambil berulang kali melihat Chanyeol. Wajah Chanyeol pucat pasi seperti mayat. Matanya terus melihat ke arah Baekhyun yang mengepalkan tangannya. Dalam hati ia terus berdoa agar Sehun tidak memberitahu namanya sekarang. Ia tidak mau kehilangan Baekhyunnya sekarang juga.

"Namja brengsek itu mungkin noona pernah mengenalnya. Yahh... Tapi aku tidak bisa mengungkapkannya. Ini masalah pribadiku dengannya. Noona tidak perlu ikut campur karena aku tidak mau noona ikut terluka juga." Chanyeol menghembuskan nafasnya lega saat Sehun tidak mengungkapkan namanya. Sedangkan Sehun tertawa kemenangan melihat Chanyeol menunjukkan wajah lega. Ini bahkan baru permulaan dari semua rencananya dan Chanyeol sudah secemas itu? Bagaimana kalau Sehun benar-benar sudah memiliki Baekhyun sepenuhnya? Bagaimana reaksi Chanyeol?

"Yahh... Padahal aku sudah penasaran. Aku ingin memamerkan taekwondoku dan juga judoku. Aku baru belajar judo kemarin dan aku berhasil membanting DO. Hebat bukan?" pamer Baekhyun. Chanyeol semakin menegukkan ludahnya berat. Ia sangat tahu Baekhyun itu sangat ahli dalam bidang olahraga. Ia menguasai thai boxing, taekwondo, dan baru-baru ini ia menekuni judo. Chanyeol memang namja yang juga gemar berolahraga dan mahir dalam beberapa bela diri. Tapi untuk mengalahkan yeoja kecilnya ini, ia perlu berpikir dua kali. Baekhyun bukan yeoja yang mudah ditaklukkan bahkan dengan Chanyeol yang mahir bela diri.

"Wow.. Kau hebat noona. Mungkin nanti aku akan mengenalkanmu dengannya dan kau bisa menghajarnya hingga rusuknya patah okay?" Sehun mengacak poni Baekhyun sebentar. Chanyeol hanya menatap tajam ke arah Sehun tanpa berbuat apa-apa. Jika ia melakukan sesuatu mungkin saja Sehun bisa membongkar rahasianya bukan? Sehun hanya tersenyum miring sambil melihat Chanyeol. Uh~ lihatlah seberapa takutnya Chanyeol saat Sehun hendak membocorkan rahasianya.

"Janji ya kau akan mengenalkanku padanya? Aku akan tingkatkan kemampuan judoku dan menekuni bela diri lain. Jadi saat aku menemuinya aku bisa membuatnya babak belur hehe." Sehun hanya tersenyum mendengar ucapan ceria keluar dari bibir Baekhyun. Andaikan Baekhyun tahu pelakunya adalah namjachingunya sendiri, apa Baekhyun bisa memamerkan keahlian bela dirinya?

"Apa kalian mau disini seharian? Ini hampir siang." Baekhyun dan Sehun melihat ke arah Chanyeol bersamaan. Akhirnya mereka terpaksa menyudahi obrolan dan berpindah ke kafe terdekat karena Baekhyun mengeluh lapar.

"Baek...Kau mau makan apa?" Baekhyun membuka menu makanan dan membacanya dari atas ke bawah. Sesekali ia menggelengkan kepalanya, mengernyit, menggigit bibirnya, menjilat bagian bawah bibirnya. Segala tingkah laku yang membuat Chanyeol gemas dengan yeojachingunya.

"Aku mau pancake saja deh... Aku tidak mau makan nasi. Kemarin aku naik 2 kg. Aku nanti gendut, Yeol." ucap Baekhyun sambil memanyunkan bibirnya. Tangan besar Chanyeol menghampiri kepalanya dan mengusaknya perlahan.

"Mau kau gendut mau kau kurus. Kau tetap cantik, chagi." Baekhyun tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih cemerlang. Suara dengusan lirih terdengar dari Sehun. Untungnya Baekhyun tidak mendengarnya dan hanya Chanyeol yang mendengarnya. Ekor matanya melirik Sehun tajam dan mengisyaratkan 'kau diam saja bodoh'.

"Hunnie mau pesan apa? Hunnie harus banyak makan biar cepat sembuh." Sehun mengangguk. Baekhyun kembali mengoceh memperkenalkan beberapa makanan yang baik untuk kesehatan sedangkan Sehun hanya mengiyakan saja perkataan Baekhyun. Melihat antusiasme Baekhyun memilihkan makanan untuknya cukup membuat Chanyeol cemburu.

"Dari yang aku sebutkan tadi Hunnie mau yang mana atau aku yang pilihkan?" Sehun memasang mimik berpikir dan menjawab 'terserah kau saja noona'

"Hunnie pesan Seolleongtang dan Bibimbap. Harus dihabiskan ya. Kalau tidak habis bagi berdua dengan Chanyeol." Chanyeol langsung melotot ke arah Baekhyun. Berbagi makanan dengan Sehun? Lebih baik ia bertemu dengan Hitler daripada melakukan hal itu. Tampaknya Baekhyun tidak mengindahkan tatapan tajam yang diarahkan ke arahnya dan tetap setia mengobrol dengan Sehun.

"Baek apa tidak ada pilihan lain? Kau sangat tahu aku tidak suka makanan yang terbuat dari sapi." Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dan hanya tersenyum. Sepertinya Baekhyun memang sengaja melakukan itu. Ia kembali mengobrol dengan Sehun, mengabaikan protes dari Chanyeol.

"Kuberitahu ya, Yeollie. Daging sapi itu bagus dan enak. Kalau kau tidak mau makan, aku saja yang makan berdua dengan Hunnie." Lagi dan lagi Chanyeol melotot. Tampaknya setelah ini matanya akan lebih lebar dari telinganya. Sepertinya Chanyeol tidak ada pilihan lain selain berbagi makanan dengan Sehun daripada melihat Baekhyun berbagi makanan dengan Sehun.

"Yasudah aku yang makan berdua dengan dia." kata Chanyeol disertai dengan dengusan keras. Baekhyun hanya terkikik geli dengan semua tingkah kekanak-kanakan Chanyeol. Pacarnya memang yang terbaik dalam hal keposesifannya.

"Yeol.. Aku sudah membicarakan hal ini dengan Sehun... Ck.. Ah aku takut kau cemburu. Sehun memintaku menjadi guru privatnya. Apa boleh?" Chanyeol hampir tersedak jusnya sendiri. Matanya langsung melotot lebar. Ck.. Sehun sangat licik dalam memanfaatkan kepolosan yeojachingunya.

"Memangnya dia tidak bisa mencari guru privat lain selain dirimu hah? Aku tidak setuju Baekhyun." Chanyeol melirik Sehun yang menunduk. Ck... Dia pasti beracting lagi di depan Baekhyun. Lihatlah.. Tatapan iba Baekhyun pada Sehun, membuat Chanyeol benar-benar muak.

"Aku sudah membicarakan hal ini dengan eomma dan appa. Mereka menyetujuinya dan mendukungku. Lalu apa masalahnya? Aku kasihan dengan Sehun, Yeol. Dia tidak memiliki teman akrab yang bisa diminta bantuan. Lalu mencari guru privat itu sulit dan mahal. Kalau aku bisa membantunya kenapa memanggil guru privat kan? Bukankah saat ini kau harusnya mendukungku Yeol? Kenapa kau malah jadi orang yang menentang keputusanku?" Chanyeol hanya memutar bola matanya malas. Entah sihir apa yang dipakai Sehun untuk membuat yeoja manisnya mau menjadi guru privatnya.

"Baek, aku tidak suka kau bersama namja lain. Tidak bisakah kau mengerti tentang aku sedikit saja? Dia itu... Aish aku tidak mau menjelaskannya. Dia itu bajingan. Kau harusnya tidak pernah percaya apapun yang keluar dari mulutnya." Baekhyun menatap Chanyeol tidak terima.

"Kau selalu begitu Yeol. Posesif. Aku tidak akan pernah berselingkuh darimu. Niatku hanya membantu. Apa itu salah? Kadang aku menyukai keposesifanmu tapi keposesifanmu kali ini keterlaluan. Sehun itu sahabatku. Ck... Kau tidak pernah mengerti diriku. Aku bukan hewan yang bisa kau penjarakan. Aku juga punya kebebasan. Duniaku tidak berputar di sekitarmu terus menerus. Aku punya kehidupan lain selain bersamamu." Chanyeol memijit keningnya pelan. Lelah dengan semua pertengkarannya dengan Baekhyun. Apalagi dengan tatapan congkak dari Sehun yang terlihat telah memenangkan Baekhyun darinya.

"Terserah Baek. Aku tidak akan ikut campur lagi. Kau benar... Aku memang posesif. Aku tidak mau kehilanganmu. Apalagi ini karena namja yang kau anggap sahabatmu. Tapi percayalah ini demi kebaikanmu sendiri. Aku melarang bukan untuk diriku sendiri tapi untuk dirimu. Nanti kau akan tahu."

Baekhyun semakin menatap tajam mata coklat Chanyeol.

"Apa yang tidak kuketahui hah? Ini semua hanya karena keposesifanmu itu. Bukan untuk kebaikanku tapi untuk kepuasanmu sendiri. Kepuasan untuk memilikiku seutuhnya. Kau memang tidak mau aku dekat dengan namja lain kan? Walaupun namja itu sahabatku sendiri. Awalnya aku mengerti keposesifanmu itu untuk melindungiku dari namja nakal tapi lama kelamaan rasa posesifmu itu seperti mencekikku. Aku lelah Yeol dengan semua keposesifanmu. Tidak bisakah kau percaya kalau aku hanya milikmu seorang?" Bulir-bulir air mata tidak dapat ditahan lagi oleh Baekhyun. Kristal-kristal bening itu terus meluncur bebas di pipinya tanpa dapat ditahan. Melihat Baekhyun yang begitu rapuh membuat Chanyeol ingin memeluknya. Sayangnya perkataan Baekhyun tadi menusuknya perlahan dan membuat tubuhnya seakan mati rasa.

"Noona.. Sudahlah.." Sehun berpindah posisi dan mengusap punggung Baekhyun. Bibirnya menerbitkan senyum licik. Pertengkaran pasangan ini sangat ditunggu olehnya sejak tadi.

"Baekhyun maafkan aku. Aku percaya kau tidak akan mengkhianati aku. Sayangnya aku tidak pernah percaya dengan namja di sampingmu itu. Aku minta maaf dengan segala keposesifanku dan keegoisanku. Hanya dengan cara itulah aku bisa menunjukkan kau hanya milikku. Aku tidak mau orang lain menyentuh milikku..." Ekor mata Chanyeol melirik Sehun yang masih menepuk-nepuk punggung Baekhyun. Lirikan menakutkan dan dingin.

"Baek... Kau tahu kan aku sangat mencintaimu? Maafkan aku. Sungguh maafkan aku dengan keegoisanku yang menyakitimu. Hhh~ aku akan mengijinkanmu menjadi guru privatnya. Asal dengan satu syarat." Kepala Baekhyun terangkat. Kedua matanya yang basah menatap lurus ke arah Chanyeol.

"Kau harus ada di sebelah ponselmu setiap saat. Setiap 30 menit aku akan meneleponmu. Maafkan aku memilih cara ini. Aku hanya memastikan dirimu tidak diapa-apakan oleh dia. Kalau kau tidak menjawabnya walau hanya semenit saja, aku akan kirimkan anak buahku kesana dan membuat namja ini babak belur. Okay? Kapan kau akan memulai les itu?" Baekhyun menghapus air matanya dan sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Walaupun Chanyeolnya sangat posesif tapi Chanyeolnya adalah orang yang sangat pengertian. Chanyeol tidak sampai hati membuat Baekhyun menangis berjam-jam. Ia akan menemukan cara tercepat membuat Baekhyun berhenti menangis. Yah... Itulah Chanyeol yang dia cintai.

Baekhyun tidak masalah setiap saat ditelepon oleh Chanyeol karena ia menyukai saat suara serak Chanyeol menyapa telinganya. Menggetarkan sekujur tubuhnya sesaat dengan suara seraknya yang menggairahkan. Ia mendekatkan kepalanya dan memberikan sebuah kecupan manis di pipi Chanyeol. Suara manisnya menyapa telinga Chanyeol dan ia mengucapkan 'terima kasih chagi'.

"Kami akan memulai lesnya besok karena Sehun tertinggal banyak pelajaran. Bolehkan?" Chanyeol menghembuskan nafasnya perlahan lalu mengangguk. Apa boleh buat? Dia tidak bisa melihat Baekhyun menangis terlalu lama lagi. Toh.. Anak buahnya selalu stand by jika Baekhyun tidak mengangkat teleponnya. Tapi ia yakin Baekhyun tidak akan mengkhianatinya. Sayangnya ia tidak pernah percaya dengan Sehun. Sehun bisa melakukan cara apapun termasuk cara terlicik untuk merebut Baekhyun darinya.

"Jaga dirimu baik-baik. Besok aku akan mengantarmu kesana. Hey bocah berikan aku alamatnya." Sehun menuliskan sebuah alamat di secarik kertas beserta nomor teleponnya karena Chanyeol meminta nomornya untuk jaga-jaga jika Baekhyun diapa-apakan. Chanyeol membaca alamat yang diserahkan Sehun. Bibirnya membentuk senyum sedih.

'Alamatnya tidak berubah.' pikirnya.

Chanyeol sangat tahu alamat ini. Bahkan alamat ini sering ia kunjungi sebelum menjalin hubungan dengan Baekhyun. Sebenarnya tanpa diberitahu Sehun, Chanyeol sudah tahu alamat ini karena dulu ia selalu berkunjung kesana. Mengunjungi seseorang yang sempat ia cintai dahulu.

"Kenapa Yeol dengan alamatnya? Apa kau pernah kesana?" Chanyeol menggeleng dan langsung memasukkan kertas itu ke dalam sakunya. Tangan besarnya mengusap kepala Baekhyun dan bibirnya memberikan sebuah kecupan di kening Baekhyun. Air matanya tidak sengaja lolos dan langsung diseka oleh tangannya.

'Maaf Baek aku membohongimu dan membuatmu terseret dalam masalahku.'

"Hunnie... Apa ini rumahmu?" Sehun mengangguk. Sebenarnya ini adalah rumah Luhan tapi daripada menjelaskan panjang lebar ke Baekhyun lebih baik mengakui kalau ini rumahnya. Baekhyun, Chanyeol dan Sehun keluar dari mobil. Mereka kesini untuk mengantar Sehun karena Sehun tidak ada yang menjemput. Tidak mungkin kan Baekhyun membiarkan Sehun naik bus saat tubuhnya masih kurang fit?

"Apa noona dan Chanyeol-ssi mau masuk ke dalam?" Sehun melirik Chanyeol yang terdiam. Senyuman licik terbit di bibirnya. Ia tahu Chanyeol pasti mengalami flashback ketika melihat rumah ini. Rumah dengan sejuta kenangannya dengan Luhan.

"Yeol.. Apa kau baik-baik saja? Sejak tadi kau hanya diam saja. Apa masalah pertengkaran tadi? Maafkan aku karena berbicara kasar seperti tadi. Apa Yeollie marah padaku?" Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun dan berkata bahwa ia tidak apa-apa.

"Ini bukan salahmu, Baek. Mungkin ini pengaruh Seolleongtang tadi. Maaf ya membuatmu khawatir." Tangan Chanyeol mengacak rambut Baekhyun, membuat Baekhyun kembali tersenyum.

"Apa kau ingin masuk? Kasihan Sehun berdiri sejak tadi." Chanyeol sejenak berpikir. Jika dia masuk bisa saja kan dia bertemu Luhan? Bagaimana reaksinya jika bertemu Chanyeol sekarang? Apalagi dengan Baekhyun di samping Chanyeol? Pikiran-pikiran itu terus mengudara dalam kepalanya.

"Lebih baik kita pulang biarkan dia beristirahat. Besok kan kau kesana juga. Aku tidak enak badan." Tangan mungil Baekhyun menyentuh kening Chanyeol. Kepalanya menggeleng dengan lucu.

"Aish.. Kau tidak sakit. Bilang saja kau tidak mau masuk kesana karena ada yeoja cantik di dalam kan? Kau takut tergoda dan meninggalkanku kan? Kau jahat, Yeol!" Chanyeol hanya tertawa geli dengan semua hipotesis yang dilontarkan Baekhyun. Bahkan sebelum ia menjalin hubungan dengan Baekhyun, ia sudah terlebih dahulu menjalin hubungan dengan pemilik rumah ini.

"Aaa benarkah? Aku jadi mau masuk kesana. Mungkin yeoja itu lebih cantik darimu kan?" Dengan kasar Baekhyun memelintir tangan Chanyeol dan membuatnya seperti tawanan. Kepala Chanyeol didorong ke mobil ( persis kayak adegan terakhir Chanyeol ditangkap sama polisi di MV Lotto).

"Sakit Baek! Sakit! Lepaskan!" Baekhyun semakin mengencangkan pegangan tangannya. Kepalanya menoleh ke arah Sehun yang berdiri di sampingnya. Bibirnya membentuk senyum dengan kesusahan.

"Kau tidak perlu terkejut. Kita biasa melakukan ini.. Mungkin benar kata Chanyeol lebih baik kau istirahat. Aku titip salam dengan Luhan." Sehun mengangguk dan dengan gerakan kaku masuk ke dalam. Benar kata teman-temannya di sekolah, pasangan Chanbaek adalah pasangan yang paling seram. Baik namja atau yeojanya sangat mengerikan.

"Sekarang kita hanya berdua Yeol. Apa katamu tadi? Yeoja di dalam lebih cantik? Beritahu aku kurangnya aku apa sampai kau bisa berkata seperti itu?" Chanyeol meneguk ludahnya berat. Sumpah.. Tadi ia hanya menggoda Baekhyun tapi ia tidak tahu reaksi yeojachingunya akan seperti ini. Tangan mungilnya sangat kuat mencengkram tangannya.

"B-baek.. Tadi aku hanya menggodamu. Kau itu yeoja yang paling sempurna." Baekhyun mendengus kecil dengan gombalan yang diucapkan Chanyeol. Tangan mungilnya semakin mencengkram tangan Chanyeol.

"Kalau kau berani menggoda yeoja lain kupastikan tulang rusukmu patah seperti Yeojin." Yeojin adalah yeoja yang sempat dekat dengan Chanyeol. Saat Chanyeol sudah berpacaran dengan Baekhyun, Yeojin mendekati Chanyeol bahkan mencuri satu ciuman dari Chanyeol. Sayangnya Chanyeol membalas ciuman itu. Baekhyun melihat semuanya. Dengan membabi buta, ia menendang Yeojin dengan kakinya. Sebanyak 3 tulang rusuk Yeojin patah dan Baekhyun sempat diskors. Sejak itu tidak ada yeoja yang berani mendekati Chanyeol termasuk namja yang mendekati Baekhyun karena Chanyeol juga namja yang tidak kenal ampun dengan namja yang mendekati Baekhyun. Karena ketahuan berciuman dengan Yeojin, Chanyeol tidak berbicara dengan Baekhyun selama 3 bulan sebagai hukumannya. Chanyeol benar-benar kapok mendekati yeoja lain sejak saat itu karena akibatnya sangat fatal.

"Mianhae, Baek. Aku tidak akan seperti itu lagi." Baekhyun mengendurkan cengkraman tangannya. Dengan sigap Chanyeol membalikkan keadaan. Tangan Chanyeol memenjarakan Baekhyun. Tubuhnya dihimpit oleh tubuh tinggi Chanyeol. Wajah Chanyeol juga terlampau dekat dengan Baekhyun.

"Aku tahu kau cemburu, Baek. Kau tidak bisa pungkiri hal itu." Nafas Chanyeol menerpa wajah Baekhyun perlahan. Menimbulkan kesan seksi yang membuat sekujur tubuhnya bergetar.

"Tapi aku suka itu. Aku suka Baekhyun yang liar dan... Posesif." Kali ini bibir Chanyeol berpindah tepat di samping telinga Baekhyun. Bulu kuduk Baekhyun merinding dan rasanya kakinya mulai melemah.

'Damn! Chanyeol you're fucking hot shit!' pikir Baekhyun.

"Baek, may I taste your sexy lips?" Baekhyun mengangguk. Bibir Chanyeol langsung meraup bibir tipis Baekhyun. Menarik daging kenyal itu dengan ganas, menggigit-gigitnya dengan giginya yang rapi. Satu kata yang mendeskripsikan Chanyeol saat ini adalah ganas dan liar. Mata Baekhyun tertutup seiring dengan panasnya ciuman mereka. Bibir Chanyeol terus melumat bibirnya tanpa ampun. Oh My God Chanyeol is the best kisser ever that she know. Tangan Baekhyun melingkar erat di belakang leher Chanyeol. Kepala mereka berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya, mencari posisi yang pas untuk memperdalam ciuman mereka.

Karena kehabisan nafas, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol menjauh darinya. Pipinya berubah merah hingga ke telinga. Matanya menatap sayu ke arah Chanyeol. Membangunkan gairah panas yang sedang tertidur dalam diri Chanyeol. Lagi dan lagi Chanyeol menangkup kedua pipi Baekhyun dan memberi lumatan di kedua belah bibirnya. Kupu-kupu terus menggelitik perut Baekhyun, membuatnya diliputi rasa bahagia.

"Thanks to be my girlfriend, Baek." Chanyeol mengakhiri ciuman panjang itu dengan sebuah kecupan di kening. Dengan rona merah Baekhyun mengangguk dan memeluk tubuh Chanyeol erat.

"Kau kira kau bisa mempertahankan Baekhyun di sisimu, Park Chanyeol?" gumam Sehun dari kamarnya. Ia menutup jendela kamarnya dan berjalan ke kamar Luhan.

"Noona, besok yeojachingu Park Chanyeol akan datang kesini. Gwenchana?" Luhan terdiam tidak memberi respon. Matanya masih menatap kosong ke arah jendela. Sehun menghembuskan nafasnya putus asa. Luhan tidak pernah menjawab perkataannya lagi setelah keluar dari rumah sakit pada hari itu.

( Flashback On)

"Luhan lebih baik kita putus. Aku rasa aku menyukai yeoja lain." Luhan kehabisan kata-kata. Kristal-kristal bening itu terus berdesakan turun di kedua pipinya yang putih. Tangan Chanyeol menangkup kedua pipi Luhan namun tak lama kemudian melepasnya dengan pelan.

"Bagaimana mungkin kau memutuskanku secepat ini? Kita baru berpacaran selama 8 bulan, Chan. Siapa yeoja yang berhasil merebutmu dariku hah? Siapa? Katakan padaku! Aku akan membunuhnya sekarang juga." Chanyeol menarik tangan Luhan dengan kasar. Matanya menatap lurus ke arah Luhan. Tatapan dingin dan menusuk.

"Jangan sampai kau sentuh dia karena aku sangat mencintainya. Jangan sampai tanganmu menyentuhnya bahkan hanya sehelai rambutnya pun. Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi." Luhan semakin menangis menjadi-jadi. Ia menarik tangannya dari cengkraman Chanyeol. Matanya balas menatap tajam ke arah Chanyeol.

"Aku sangat mencintaimu. Lebih dari yeoja itu mencintaimu. Aku sudah mengejarmu selama 2 tahun sejak kita di bangku kelas VIII. Tidak bisakah kau hargai pengorbananku dan tetap di sisiku, Chan? Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tahu selama menjalani hubungan ini kau hanya... Hiks... Memanfaatkan tubuhku. Kau tidak pernah melihatku sebagai seorang yeoja yang mencintaimu sepenuh hati tapi hanya... Pelampiasan amarahmu saja. Aku selalu menerima perlakuanmu walaupun hanya tubuhku yang kau cintai. Aku terima semua itu. Aku tidak apa jika kau tetap memanfaatkan tubuhku. Asal jangan putuskan aku, Yeol." Dengan nada putus asa Luhan berlutut di depan Chanyeol. Bahunya bergetar hebat.

"Aku tidak mau menyakitimu lebih jauh Lu. Kau harusnya mengerti itu. Aku juga tidak mau menyiksamu lagi. Tolong, Lu. Tolong lepaskan aku dan biarkan aku bahagia dengan pilihanku. Maafkan aku selama ini menjadikanmu pelampiasan amarahku saja dan menganggapmu hanya yeoja yang kumanfaatkan tubuhnya saja. Maafkan aku. Lebih baik kita berpisah, Lu." Luhan memeluk kaki Chanyeol dan semakin menangis sesenggukan. Kepalanya terus menggeleng dan bergumam 'jangan pergi'.

"Kau tahu aku menerimamu sebagai yeojachinguku karena aku kasihan padamu. Kau juga tahu itu kan? Aku tidak pernah memperlakukanmu seperti yeojachingu kebanyakan. Lebih baik kau bersama namja yang mencintaimu. Jangan bersamaku jika itu hanya menyakiti perasaanmu saja. Sampai kapan pun aku tidak bisa membalas perasaanmu, Lu."

"Yeol, sungguh aku tidak apa jika kau tidak membalas perasaanku. Asalkan aku berada di sisimu itu lebih dari cukup. Tidak bisakah kau melakukan hal itu? Bahkan untuk anakmu yang sedang aku kandung saat ini." Chanyeol menoleh ke arah Luhan yang tengah mengusap perutnya yang masih rata. Dengan setengah percaya Chanyeol ikut berlutut. Tangannya yang bergetar memegang perut Luhan dan menatap mata Luhan. Tidak ada kebohongan di kedua mata rusa miliknya.

"Ya benar di dalam perutku ada anakmu, Chan." Chanyeol menggeleng tidak percaya. Ia berdiri dan menutup matanya sejenak.

"Gugurkan saja. Aku tidak mau memiliki seorang anak sekarang." Luhan menatap tidak percaya ke arah Chanyeol. Ia tidak percaya Chanyeol menyuruhnya membunuh anak mereka sendiri.

"Ani. Aku tidak akan menggugurkannya. Kalau kau tidak mau bertanggungjawab biarkan aku yang merawatnya. Biarkan anak ini menjadi saksi bisu buah cinta kita." Chanyeol menunduk dan menampar pipi Luhan.

"Sadarlah, Lu. Kau masih memiliki masa depan yang panjang. Jangan karena anak yang belum lahir ke dunia ini masa depanmu rusak begitu saja. Aku masih beritikad baik saat ini. Gugurkan saja." Luhan mendorong tubuh Chanyeol dan mempererat pelukannya pada perutnya.

"Aku tidak peduli, Yeol. Kalau anak ini bisa membuatmu tetap bertahan di sisiku. Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan janin ini." Chanyeol menghembuskan nafasnya kesal dengan Luhan.

"Terserah kau saja. Jangan harap aku akan mengakui anak itu adalah anakku. Kita tetap putus." Chanyeol berdiri dan pergi meninggalkan Luhan yang masih menangis.

"Chanyeol..." Dengan mata kabur Luhan mencoba berdiri. Sayangnya ia terjatuh dan pingsan.

"Ngh~" Kedua mata Luhan perlahan terbuka. Hanya ada dinding putih dengan aroma khas obat-obatan. Ia tahu dirinya ada di rumah sakit. Tangannya terangkat dan ia melihat infus terpasang di tangan kanannya. Kepalanya pusing sekali. Tangan kirinya memegang perutnya yang sedikit nyeri.

"Ternyata anda sudah bangun. Saya ingin memberitahukan sesuatu. Maafkan saya sebelumnya mengatakan hal ini. Tapi anda keguguran akibat stres berat dan anda sepertinya memakan makanan yang kurang dianjurkan bagi kehamilan. Kandungan anda masih rentan dan anda mengalami stres serta depresi berat. Lebih baik anda sekarang beristirahat dengan baik karena kondisi anda sedang lemah." Luhan hanya menatap kosong ke arah dokter. Semua kata-kata dokter tadi tidak terdengar lagi di telinganya. Tangannya meraba perut ratanya dengan perlahan. Air mata keluar setitik demi setitik dari matanya.

"Jaga kesehatan anda. Saya akan kembali lagi untuk mengecek kondisi anda. Saya ikut berduka atas kepergian janin anda." Dokter itu membungkuk hormat dan membiarkan Luhan sendirian dalam keadaan kacau. Wajah Luhan tetap datar tapi air mata masih mengucur keluar dari mata rusanya. Ia terpukul dengan kehilangan janinnya. Ini bahkan baru 1 minggu ia mengetahui dirinya hamil dan ia sudah kehilangan anaknya. Sekarang tidak ada yang bisa menghalangi kepergian Chanyeol darinya. Chanyeol akan pergi untuk selamanya dari dirinya dan berbahagia dengan yeoja lain yang bukan dirinya. Fakta itu membuat Luhan sakit hati dan terpukul.

"Luhan noona! Noona?" Sehun membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa dan langsung memeluk tubuh Luhan. Ia lebih baik melihat Luhan berteriak dan menangis sekencang-kencangnya daripada Luhan yang terdiam seperti ini.

"Noona bicaralah sesuatu. Apa yang dikatakan dokter tadi? Noona kenapa? Noona..." Sehun menatap mata Luhan yang terlihat kosong dan dingin. Tangan Luhan terus meraba perutnya dan air matanya tetap meluncur bebas. Sehun melihat tangan Luhan yang terus meraba perutnya. Ia langsung mengerti dengan keadaan Luhan saat ini. Sehun berdiri dan hendak pergi menemui Chanyeol. Tapi tangan Luhan menahan tangan Sehun.

"Jangan pergi, Sehun. Tetaplah disini." Sehun kembali duduk dan menggengam tangan Luhan. Bibirnya terus mengecupi jari-jari Luhan. Berusaha menenangkan Luhan yang masih terguncang.

"Aku akan membalaskan dendammu padanya, noona. Aku tidak akan biarkan ada seorang yang menyakiti noona. Entah itu Park Chanyeol atau siapapun itu. Aku akan membunuhnya saat ini juga." Luhan langsung menggenggam erat tangan Sehun dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Ini bukan salah Chanyeol. Ini semua kesalahanku. Aku baik-baik saja, Hun." Luhan terpaksa tersenyum di sela-sela kesakitannya. Matanya menatap sedih ke arah Sehun. Ia tidak mau Chanyeol terluka. Hhh~ kenapa disaat seperti ini otaknya masih memikirkan Chanyeol yang sudah banyak menyakitinya?

"Jeongmal gwenchana?" Luhan mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya. Ia bersikap seolah dirinya baik-baik saja padahal hatinya hancur remuk. Ia harus bersikap tegar di depan Sehun karena Sehun sekarang bertumpu dengannya setelah orangtuanya meninggal. Sehun bergantung pada dirinya jadi ia harus tetap tegar dan bahagia.

"Aku benar-benar baik-baik saja Hun."

Setelah Luhan keluar dari rumah sakit, kenyataan bahwa Luhan baik-baik saja tidak benar sama sekali. Setiap malam Luhan berteriak dan memecahkan setiap benda di dalam kamarnya. Sehun kerap kali masuk ke dalam kamarnya dan menyuntikkan obat penenang pada Luhan karena Luhan terus menangis. Di siang hari, Luhan terus berupaya bunuh diri ketika Sehun lengah dan tidak mengawasi dirinya. Akhirnya Sehun menyewa beberapa maid untuk mengurus Luhan.

Beberapa sayatan baik di kaki dan tangan Luhan terus tercipta, membuat Sehun terluka secara tidak langsung. Ini lebih menyakitkan daripada melihat Luhan berpacaran dengan Chanyeol. Sehun kira Luhan bahagia dengan Chanyeol dan Sehun berinisiatif menjauh dari Luhan karena Sehun tidak mau mengganggu hubungan Luhan dengan Chanyeol. Sehun tidak pernah mencari tahu tentang hubungan mereka lagi.

Sehun kira dengan menjauh dari Luhan ia bisa menghilangkan perasaannya. Sayangnya hal itu terjadi dan perasaannya pada Luhan makin menjadi. Sesekali Luhan masih bertemu dengannya dan bercerita mengenai hubungannya dengan Chanyeol. Luhan selalu memasang wajah ceria seolah tidak ada masalah dan hubungan mereka berjalan lancar. Sehun tidak tahu kalau Luhan hanya berbohong padanya agar Sehun tidak khawatir padanya. Sehun merasa dirinya benar-benar bodoh karena tidak tahu kalau Luhan menyembunyikan masalahnya sendirian.

Kadang Sehun melihat langkah Luhan terseret-seret dan ketika ia bertanya Luhan hanya menjawab kakinya terkilir. Betapa bodohnya Sehun mempercayai semua perkataan Luhan. Kadang Sehun melihat leher Luhan dipenuhi bercak kemerahan dan bibirnya sangat bengkak. Ia tidak pernah bertanya dan hanya mendiamkannya saja. Luhan selalu tersenyum dan tidak pernah menunjukkan wajah sedih padahal ia diperlakukan dengan buruk oleh Chanyeol. Sehun juga pernah melihat Chanyeol berjalan dengan yeoja lain dan bermesraan dengannya. Saat ia memberitahukan hal itu pada Luhan, Luhan hanya menjawab bahwa yeoja itu temannya dan Luhan mengenalnya. Sangat banyak kebohongan yang diutarakan Luhan tapi Sehun hanya bisa menerimanya saja. Sehun juga pernah melihat Luhan pulang dengan memar di sekujur tubuhnya, make up yang berantakan, kissmark tersebar di sekujur tubuhnya dan darah yang mengucur dari pahanya. Luhan hanya menjawab kalau tasnya dicuri dan dia dipukuli. Sekali lagi Sehun percaya pada Luhan. Harusnya Sehun berpikir mungkin saja Luhan disetubuhi dengan kasar oleh Chanyeol. Sayangnya Sehun tidak pernah berpikir sejauh itu dan hanya mengobati tubuh Luhan dengan hati-hati. Sekilas ia melihat vagina Luhan robek lalu mengeluarkan darah yang terus mengucur hingga pahanya dan Luhan berkata tidak apa-apa.

Kembali pada keadaan Luhan, setelah Luhan berhenti melakukan hal gila, sekarang ia hanya duduk terdiam menatap jendela. Sesekali air mata masih menetes di kedua matanya. Hati Sehun sangat sakit melihat pujaan hatinya berada dalam keadaan seperti ini. Kadang jika para maid tidak mengawasi Luhan dengan ketat, Luhan diam-diam mengambil gunting dan menyayat nadinya sendiri. Darah mengucur deras tapi Luhan tidak bergeming dan tetap membisu.

"Luhan noona..."

( Flashback Off)

"Noona... Besok noona harus berdandan yang cantik, ne? Kita harus buktikan kalau noona lebih cantik daripada yeojachingu Chanyeol yang sekarang. Aku akan mengajak Chanyeol kesini dan memperlihatkan kecantikan noona yang dia sia-siakan begitu saja." Sehun mengacak rambut Luhan dan memberikan sebuah kecupan kilat di bibirnya.

"Saranghae, noona."

Keesokan harinya..

Baekhyun datang sesuai dengan janjinya. Ia datang diantar Chanyeol yang bersikap seperti bodyguardnya. Chanyeol berulang kali memberinya nasihat agar tidak dekat-dekat dengan Sehun. Sayangnya Baekhyun itu keras kepala sekali. Setiap nasihat yang dilontarkan Chanyeol selalu ia bantah. Chanyeol hanya bersikap sabar dengan yeojachingunya.

"Chan ayo masuk ke dalam sebentar. Kau harus meminta maaf atas sikap tidak sopanmu pada Sehun kemarin." Chanyeol menolak mentah-mentah ide Baekhyun. Jika dia masuk mungkin saja ia bertemu Luhan. Sejak dia putus dengan Luhan, ia tidak pernah mencari tahu kabar Luhan lagi dan lebih fokus pada Baekhyun.

"Lebih baik aku pulang, Baek." Baekhyun langsung merengut kesal. Tangannya dengan kasar menarik Chanyeol ke dalam rumah minimalis milik Sehun. Ia sudah diberitahu password rumah ini dan ia bisa masuk dengan bebas. Chanyeol terus meneguk ludahnya berat. Ia belum siap bertemu Luhan.

"Hunnie.. Aku datang bersama Chanyeol." Sehun turun dari tangga bersama Luhan yang didandani dengan cantik. Ia menggendong Luhan ala bridal style dan menaruhnya di sofa. Bibirnya menarik senyum seringai sambil melihat ke arah Chanyeol yang berubah pucat pasi. Luhan tampak cantik dengan dress pink yang terbuka bagian bahu dan punggungnya. Polesan make up tipis membuatnya makin sempurna. Sayangnya Luhan tidak berubah dan tetap membisu.

"Apa ini Luhan yang kau ceritakan?" Sehun mengangguk. Ia masih memperhatikan ekspresi Chanyeol yang pucat pasi. Baekhyun menunduk dan mencoba berkomunikasi dengan Luhan.

"Annyeong.. Aku Byun Baekhyun. Senang berkenalan denganmu. Kau cantik sekali." Luhan melirik ke arah Baekhyun dengan mata kosong. Wajahnya tetap menampilkan ekspresi kosong.

"Ya! Park Chanyeol! Cepat kesini! Kau harus berkenalan dengannya." Chanyeol bergerak kaku mendekat ke Baekhyun. Ia ikut menunduk dan menatap wajah Luhan. Ekspresi Luhan sedikit berubah sebelum kembali datar. Chanyeol merasa miris melihat Luhan saat ini. Ia tidak tahu dampak berakhirnya hubungan mereka akan seperti ini. Ia kira Luhan bahagia dengan Sehun atau namja lainnya. Walaupun penampilannya cantik tapi tidak ada aura ceria keluar dari dirinya. Hanya ada aura kesedihan dan kegelapan yang mencekik.

"Annyeonghaseyo... Aku P-Park Chanyeol. Senang bertemu denganmu." Luhan melirik ke arah Chanyeol dan Chanyeol dapat melihat rasa kesakitan di balik kedua mata Luhan. Luhan tersenyum kecut untuk pertama kalinya. Kedua air mata Luhan menetes dan semakin menganak sungai.

"Noona gwenchana? Ahh Baekhyun noona maafkan aku. Aku tidak tahu noona akan seperti ini. Aku kira dengan membawanya kesini dan bertemu kalian, noona akan merasa lebih baik. Aku akan membawanya ke dalam kamarnya lagi." Sehun menggendong tubuh kurus Luhan dan membawanya kembali ke kamarnya di lantai dua. Baekhyun melihat ke arah Chanyeol yang terdiam sejak tadi.

"Apa kau mengenalnya, Chan? Kenapa kau diam seperti itu? Sejak kemarin kau aneh, Chan. Ada apa?" Chanyeol memasang senyum seolah tidak ada yang terjadi.

"Aniyo.. Aku tidak mengenalnya."

'Maafkan aku membohongimu lagi, Baek.'

TBC

Chapter ini panjang ya dan ada flashbacknya Luhan dan Chanyeol. Nanti aku bakal buatin chapter khusus Luhan dan Chanyeol saat masih pacaran. Duhh pasti banyak yang kesel sama Chanyeol dan ngatain Chanyeol bajingan. Disini Baekhyun masih gak tau apa-apa dan bakal lebih seru di chapter selanjutnya. Jadi tetep stay baca FF Pervert Boy.

WARNING SPOILER CHAPTER SELANJUTNYA! 😈😈😈😈😈

"Noona... Aku ingin memberitahukanmu sesuatu." Sehun mendekati Baekhyun dan mendekatkan wajahnya. Nafas Sehun menerpa wajah Baekhyun.

"A-Apa yang mau kau b-beritahu, Hun?" Sehun mengecup bibir Baekhyun cukup lama. Baekhyun benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Sehun.

"Aku menyukaimu, Baekhyun noona." Baekhyun benar-benar syok dengan apa yang dikatakan oleh Sehun.

"Lalu bagaimana dengan Luhan?"

"Aku menyukainya hanya sebatas dia noonaku. Aku tidak memiliki perasaan lebih setelah dia mencampakkan aku dulu." kata Sehun sambil menyeringai.

"Noona apa kau mau menjadi yeojachinguku?"

"Baekhyun noona... Ini minumlah.." Sehun memberikan jus pada Baekhyun yang diterima senang hati oleh Baekhyun. Apalagi jus ini jus strawberry kesukaannya.

"Wahh.. Ini enak Hunnie." Baekhyun meminum jus itu sampai habis. Setelah beberapa menit pusing mulai mendera kepalanya. Senyum licik terbit di bibir Sehun.

"Gwenchana, noona?" Baekhyun terus berkata 'aku baik-baik saja' sebelum pandangannya mulai buram. Sehun segera mengangkat tubuh Baekhyun ke atas kasur dan mengubah posisi tubuhnyan menjadi tepat di atasnya.

"Akhirnya aku mendapatkanmu, Baek."

"Hiks...Chanyeol... Aku minta maaf." Baekhyun terus menangis di hadapan Chanyeol tapi Chanyeol tidak bergeming.

"Lebih baik kita merenungi sikap masing-masing. Apa kau masih pantas untukku?" Chanyeol melepas pegangan tangan Baekhyun dan mendorong tubuh Baekhyun menjauh.

( Cerita diatas masih bersifat acak dan tidak sesuai urutan waktu)

Widihhh segitu dulu ya spoilernya. Keliatan kan hubungan Chanbaek bakal keganggu abis sama Sehun. Di chapter selanjutnya Sehun bakal ngejebak Baekhyun habis-habisan dan hubungan Chanbaek mulai retak. Tetep baca kelanjutannya. Makasih buat like and commentnya❤️